...

MENGGALI POTENSI BIOFARMAKA PAD A SCUTELLARIA

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

MENGGALI POTENSI BIOFARMAKA PAD A SCUTELLARIA
akalah Poster Topik : Pemanfaatan Sumberdaya Hayati
MENGGALI POTENSI BIOFARMAKA
PAD A SCUTELLARIA SLAMETENSIS SUDARMONO & BJ CONN (LAMIACEAE)
Sudarmono, Hartutiningsih M. Siregar, Subekti P. dan A. Agusta
Pusat Konservasi Tumbuhan - Kebun Raya Bogor, L1PI;
JI. Ir. H. Juanda No. 13, Bogor
e-mail : [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi sebagai bahan biofarmaka pad a ekstrc
Scutellaria slametensis (Lamiaceae) dengan menggunakan uji anti bakteri . Analisis fitokimia ekstrc
daun dilakukan dengan menggunakan larutan n-heksana, etil asetat dan metanol. Uji antibaktE
menggunakan bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Hasi lnya ekstrak dengan larutan I
heksana memperlihatkan aktivitas antibakteri melawan bakteri E. coli pada konsentrasi 200 1-19. Naml
pada ekstrak 50 I-1g dan 100 1-19 tidak terlihat reaksinya , begitu pula pada ekstrak etil asetat dan ekstrc
metanol semua konsentrasi (50 1-19, 100 1-19 dan 200 1-l9) juga tidak memperlihatkan adanya diamet,
daerah hambat (DOH) anti bakteri. Potensi spesies Scutellaria selanjutnya digali dengan pembahasc
pad a potensi Scutellaria spesies yang lain yang ada di dunia sebagai bahan biofarmaka. Scutellar
berpotensi sebagai bahan obat karen a men9andung scutellarein.
Kata kunci: antibakteri , bakteri Eschericia coli, biofarmaka, Scutellaria slametensis.
Pendahuluan
Jenis-jenis Scutellaria (Lamiaceae) termasuk tumbuhan yang mudah dikenali. Cil
ciri spesifiknya yaitu habitus berupa herba tegak dengan batang yang berair dan perse
empat. Scutellaria pad a umumnya hidup liar namun ada yang sudah dikenal masyarakat de:
banyak dibud idayakan . Anggota Keluarga Mentol mentolan atau famili Lamiaceae i
berpotensi dikembangkan sebagai tanaman obat dan hias. Jenis Scutellaria diketahl
mengandung zat yang dapat berfungsi sebagai obat. Potensi tumbuhan keluarga Lamiacee:
ini sangat penting bagi dunia kesehatan . Oi beberapa negara seperti China, India, Korei
Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Utara sejak lama mengenalnya sebag.
tanaman obat tradisional. Tom imori dkk. (1985) memeriksa kandungan bioaktifnya yan
terdiri dari senyawa flavone, flavonoid, chrysine, iridoids, neo-clerodanes, scutapins da
isoscutellarein. Bahan-bahan bioaktif ini banyak terdapat pada akar Scutellaria da
mempunyai sifat antibakteri bahkan mampu menghambat virus HIV-1 (Li dkk 1993). Uji cob
pada tikus oleh Konoshima dkk. (1992) senyawa tersebut mampu menghambat terjadiny
tumor kulit.
Scutellaria (Lam iaceae) merupakan marga terbesar dengan 360 species (Huan
1994; Paton 1990; Paton dalam Harley et al. 2004) . Marga ini tersebar luas, suI
kosmopolitan , tapi sed ikit terdapat di dataran rendah lembap tropis. Oikenal empat spesie
di Indonesia, yaitu; S. discolor Colebr., S. indica L., S. javanica Jungh. dan S. s/ametens.
Sudarmono & B.J.Conn (Backer & Bakhuizen van den Brink Jr 1965; Keng 1978; Steen
1972; Sudarmono & Conn 2010) . Analisis kimia terhadap Scutellaria sangat pentin
mengingat tumbuhan ini banyak terdapat di Indonesia dan tersebar cukup luas sehingg
perlu diuji potensinya. Uji kan9ungan kimia dilakukan untuk mengetahui bahan aktif da
tumbuhan yang diuji dengan anti bakteri. Tujuan penelitian ini mengungkap paten:
kandungan bahan aktif sebagai obat pada S. s/ametensis Sudarmono & B.J .Conn melali
penel itian uj i anti bakteri gram negatif (Eschericia coli) dan positif (Staphilococcus aureus).
l
Cara Kerja
Lokasi pengambilan sam pel dilakukan di wilayah Gunung Siamet, Kabupate
Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal, Jawa Tenngah. Untuk kelengkapa
data lapangan maka setiap pengambilan sampel di lapangan dicatat data klimatologi da
kondisi habitat yang meliputi kemiringan habitat, berbunga atau tidak, setiap mengamb
sam pel dilakukan pelabelan . Untuk bahan penelitian fitokimia j uga dilakukan pengambila
sam pel di lokasi eksplorasi. Waktu pelaksanaan dilakukan selama bulan April sampc
dengan bulan November 2009.
Bahan yang dikoleksi berupa daun jenis Scutellaria s/ametensis. S. s/ametensi
mempunyai batang persegi empat dan mahkota dengan dasar putih dan bag ian atas ungl
atau j ingga. S. s/ametensis juga mempunyai daun membundar. Semua bahan berupa daUi
dikeringkan di bawah sinar matahari kemudian digiling halus.
730
inar nasional : Peron Biosistimatika; Purwokerto, 12 Desember 2009
Gambar 1. Zona bening yang terbentuk sebagai indikator aktivitas antibakteri ekstrak uji
pada perlakuan ekstrak etil asetat Scutellaria slametensis
Penelitian fitokimia dilakukan di Laboratorium Fitokimia Bidang Botani Puslit Biologi
Cibinong dengan menggunakan bahan tanaman terpilih yang telah diambil dari lapangan.
Ekstraksi bahan tumbuhan dilakukan secara maserasi bertingkat yang menggunakan 3 jenis
pelarut yaitu n-heksana, etil asetat dan methanol. Bahan kering masing-masing seberat 15 9
direndam dengan 350 ml n-heksana selama 1 malam, kemudian disaring dengan
penyaringan kapas dan diikuti dengan .3 x 350 ml etil asetat serta terakhir dengan 3 x 350
ml metano!. Masing-masing jenis ekstrak tersebut selanjutnya dipekatkan dengan rotary
evaporator pada suhu 35°C.
Ekstrak dari setiap tumbuhan diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator dan
dikeringkan dengan gas N2 . Masing-masing ekstrak selanjutnya dilarutkan di dalam aseton
(untuk ekstrak n-heksana dan etil asetat) dan methanol (untuk ekstrak methanol) dengan
konsentrasi 100 mg/ml (1 0 ~gl ~I) . Uji aktivitas antibakteria dilakukan dengan metoda difusi
paper disc. Ke atas paper disc yang telah disterilkan , dipipet sebanyak 5 ~I (50 ~g ekstrak) ,
10 ~I (100 ~g ekstrak), 20 ~I (200 ~g ekstrak) masing-masing ekstrak tumbuhan sampel ,
kemudian dikering anginkan selama 30 menit pad a terperatur ruang di dalam laminar air flow
untuk menghilangkan pelarut. Setelah kering, lalu ditaruh diatas medium agar Mueller-Hinton
yang telah diinokulasi dengan bakteri uji Eschericia coli (NBRC 14237) dan S aphy/ococcus
aureus (NBRC 14276). Pengamatan aktivitas antibakteria diamati setelah 24 jam inkubasi
pada temperatur 37°C. Aktivitas antibakteria dari ekstrak uji ditandai dengan ada atau tidak
adanya zona bening yang terbentuk disekeliling paper disc.
Hasil dan P~mbahasan
Hasil Ekstraksi
Hasil ekstraksi yang dilakukan secara maserasi bertingkat menghasilkan jumlah
ekstrak sebagai berikut seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel1 . Jumlah ekstrak daun beberapa jenis tumbuhan Lamiaceae
Nama Tumbuhan
Ekstrak (9)
No
n-heksana
metanol
I Etil asetat I
Scutellaria s/ametensis
0,33 (22 %)
1.
I 0,58 (38,7 %) I 1,99 (13,3 %)
Hasil Uji Antibakteria
Tabel 2. Diameter daerah hambat hasil uji antibakteri ekstrak tumbuhan Scutellaria
slametensis.
Ekstrak
n-Heksana
50 ... 9
S. aureus
100 ... 9
E.coli
200 ... 9
50 ... 9
100 ... 9
200 ... 9
7mm
Scutellaria slametensis
Etil asetat
S. slametensis
Metanol
S. slametensis
Keterangan: "_" tidak memperlihatkan aktivitas antibakteri pada konsentrasi yang diuji.
Hasil uji antibakteri masing-masing ekstrak tumbuhan terhadap Eschericia coli dan
Staphylococcus aureus seperti terlihat pada Tabel 2. Secara umum ekstrak n-heksana
tumbuhan yang diuj i memperlihatkan aktivitas antibakteri pada konsentrasi 200
~g
dengan
731
Makalah Poster Topik : Pemanfaatan Sumberdaya Hayati
diameter daerah hambat (DOH) 7 mm . Ekstrak n-heksana daun Scutellaria s/ametensis tidak
memperlihatkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus pada semua konsentrasi , yaitu 50
I-Ig, 100 I-Ig dan 200 I-Ig.
Begitu juga dengan ekstrak daun S. s/ametensis tidak memperlihatkan aktivitas
antibakteri melawan E. coli pada ekstrak larutan etil asetat maupun methanol (Gambar 1).
Selanjutnya, ekstrak eti l asetat maupun methanol daun S. s/ametensis tidak memperiihatkan
aktivitas antibakteri terhadap S. aureus maupun E. coli pada konsentrasi 50 I-Ig, 100 ~g dan
200 I-Ig .
Ekstrak n-heksana dan methanol daun S. s/ametensis pada uji bakteri secara in
dengan menggunakan anti bakteri gram negatif (E. coil) memberikan perlawanannya pada
konsentrasi perlakuan paling tinggi (200 I-Ig). Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak
200 I-Ig meningkatkan daya hambat pertumbuhan bakteri gram negatif (E. colt). Ekstrak etiI
asetat daun S. s/ametensis hanya menunjukkan perlawanannya pad a uji anti bakteri
menggunakan anti bakteri gram negatif (E. coil) . Hal ini disebabkan oleh meninnll~tnv~
konsentrasi senyawa yang bersifat antibakteri dengan konsentrasi ekstrak yang
(Harapini dan Praptiwi, 2005). Sedangkan Sifat anti bakteri ekstrak etil asetat berkaitan
dengan jenis senyawa terlarut (Praptiwi dan Harapini , 2002) . Menurut Cuilei (1984),
etil asetat mengandung senyawa flavonoida, lignan dan triterpenoida. Menurut R()~lin~n'l
(1991) beberapa triterpenoida telah digunakan untuk penyakit diabetes,
menstruasi dan kerusakan hati . Daya kerja anti bakteri pada ekstrak etil asetat kemu
melalui penghambatan sintesis asam nukleat karena flavonoida dapat menghambat
polimerase (Robinson, 1991).
Kesimpulan
Aktivitas anti bakteri pad a daun S. s/ametensis terhadap bakteri gram negatif
nyata pada konsentrasi 200 I-Ig . Karena flavonoida sebagai senyawa antioksidan maka
s/ametensis mempunyai potensi antioksidan pada konsentrasi yang tinggi.
Daftar Pustaka
Backer, CA and Backhuizen van den Brink Jr RC (1965) . Scutellaria, p. 620. In Flora of
(spermatophytes only). Vol. II Angiospermae, Families 111 -160. N oordl~olfll
Groningen .
Cuilei J (1984). Methodology for Analysis of Vegetables and Drugs. Fac.of Ph'=ll,",~_
Bucharest, Rumania.
Harapini M dan Praptiwi (2005). Uji anti bakteri ekstrak lenguran (;heI10pC)(/lun.
ambrosioides L.) dan penapisan fitokimianya. Laporan Teknik Pusat P~n,l=llltl~.
Biologi-LiPI. DIPA TA 2005. Puslit Biologi LlPI Bogor.
Keng H (1978). Labiatae. In Steenis CGGJ van (Ed .) Flora Malesiana.
Spermatophyta 8: 301-394.
Konoshima T , M Kokumai, M Kozuka, M linuma, M Mizuno, T Tanaka , H Tokuda, H
and A Iwashima (1992). Studies on inhibitors of skin tumor promotion. XI. Inh
effects of flavonoids from Scutellaria baicalensis on Epstein-Barr virus activation
their anti-tumor-promoting activities. Chem . Pharm . Bul. 40:531-533.
Li , B-Q , T. Fu, V-D. Van , N.W. Baylor, F.W. Ruscetti, and H.F. Kung (1993). Inhibition of
infection by baicalin- a flavonoid compound purified from Chinese herbal
Cell Mol. BioI. Res. 39: 119-124.Nei M 1978. Estimation of average hete
and genetic distance from a small number of individuals. Genetics 89: 583-590.
Paton AJ (1990). A global taxonomic investigation of Scutellaria (Labiatae). Kew Bulletin
399-450.
Paton AJ (2004). Scutellaria, pp. 21 1. In Harley RM, Atkins S, Budantsey AL, Cantino
Conn BJ, Grayer R, Harley MM, Kok R de, Krestovskaja T, Morales R, Paton
Ryding 0 and Upson T. Labiatae, pp. 167-275. In Kubitzki K (Ed.) The Families
Genera of Vascular Plants. In Kadereit JW (Ed .) Volume VII Flowering
Dicotyledons. Lamiales (except Acanthaceae including Avicenniaceae).
Berlin.
Praptiwi , M Harapini (2002) . Penapisan fitokimia dan ji anti bakteri secara in-vitro
kulit batang siu ri (Koordersiodendron pinnatum). Laporan Teknik Pusat
Biologi-LiPI. DIPA TA 2002. Puslit Biologi L1PI Bogor.
'4
732
5
ar nasional : Peran Biosistimatika; Purwokerto 12 Desember 2009
I
Robinson T (1991) Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITS Sandung.
Tomimori, T. , Y. Miyaichi, Y. Imoto, H. Kizu, and T. Namba. 1985. Studies on Nepalese
crude drugs. V. On the flavonoid constituents of the root of Scutellaria disc%r
Colebr. (1). Chem . Pharm. SuI. 33:4457-4463.
733
Fly UP