...

Tampilan kualitas susu sapi perah akibat imbangan konsentrat dan

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

Tampilan kualitas susu sapi perah akibat imbangan konsentrat dan
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 25 (1): 42 - 46
ISSN: 0852-3581
E-ISSN : 9772443D76DD3
©Fakultas Peternakan UB, http://jiip.ub.ac.id
Tampilan kualitas susu sapi perah akibat imbangan konsentrat dan
hijauan yang berbeda
Suhendra, D1, G. T. Anggiati2, S. Sarah2, A. F. Nasrullah2, A. Thimoty2 dan D. W. C.
Utama2
1
Program Studi S-2 Magister Ilmu Ternak
2
Program Studi S-1 Peternakan
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro
[email protected]
ABSTRACT: The aim of this study was to assess the optimal balance ration of
concentrate and forage to improve dairy milk production. The research was conducted
at regional operational unit Mulyorejo, Barukan village, Tengaran Sub District,
Semarang Regency, and Banyu Aji Cooperative, Getasan Sub District, Semarang
Regency. Data was analyzed at Feed Nutrition Science Laboratory, Faculty of Animal
Husbandry and Agriculture, Diponegoro University Semarang. The research started
from June 29 to July 31, 2014. The materials of this research were 12 Friesian Holstein
dairy cows in second and third months of lactation with average estimated body weight
408.5±30.86 kg (Coefficient of Variance (CV) = 10.68%) with average milk production
around 9.3±1.01 liters (CV = 14.33%). The study was experimental research with
completely randomized design using three treatments, i.e. T0 (50% of concentrate and
50% of forage), T1 (45% of concentrate and 55% of forage) and T2 (40% of concentrate
and 60% of forage). The results showed that T2 had a significant effect on milk fat
content (P<0.05), solid non fat (SNF) content (P<0.05), milk protein content (P<0.01)
and milk lactose content (P<0.05). This study concluded that the optimal balance ration
of concentrate and forage to improve milk performance consisted of 40% of concentrate
and 60% of forage.
Keywords: Dairy cow, NDF, milk fat, solid non fat
PENDAHULUAN
Kualitas susu peternakan rakyat
di Indonesia sebagian besar belum
memenuhi persyaratan mutu yang telah
ditentukan oleh Badan Standarisasi
Nasional (BSN), sehingga banyak yang
kalah bersaing dengan susu produk
perusahaan besar. Salah satu penyebab
buruknya kualitas susu peternakan
rakyat adalah karena peternak tidak
memperhatikan
imbangan
antara
konsentrat dan hijauan dalam ransum
ternak sapi perah. Komponen makro
penyusun susu antara lain lemak dan
Solid Non Fat (SNF) yang terdiri dari
protein, laktosa, mineral, vitamin dan
bahan
lainnya.
Lemak
susu
menyebabkan rasa susu menjadi gurih,
sedangkan laktosa susu menyebabkan
susu terasa manis. Protein susu yang
sebagian besar berupa kasein berperan
untuk
meningkatkan
kecerdasan
konsumen susu. Hal ini yang
mendorong beberapa Industri Pengolah
42
J. Ilmu-Ilmu Peternakan volume 25(1):42 - 46
Susu (IPS) menentukan harga susu
Sebagian
besar
peternakan
rakyat di Indonesia, khususnya di Jawa
Tengah tidak memperhatikan imbangan
konsentrat dan hijauan dalam ransum
ternak sapi perah. Sapi perah laktasi
seharusnya mengkonsumsi hijauan lebih
banyak dibandingkan konsentrat untuk
menaikkan kualitas susunya, karena
hijauan mengandung serat kasar yang
tinggi. Salah satu kandungan serat kasar
yang berpengaruh dalam kualitas susu
adalah Neutral Detergent Fiber (NDF).
Keberadaan NDF dalam ransum sapi
perah sangat erat hubungannya dengan
tampilan lemak susu dan SNF sapi
perah.
Ransum
yang
memiliki
kandungan
NDF
terlalu
tinggi
menyebabkan
palatabilitas
pakan
menurun, sehingga ternak tidak
mengkonsumsi pakan secara optimal
sesuai
dengan
kebutuhannya.
Kandungan NDF yang rendah dalam
ransum menyebabkan kebutuhan nutrisi
bagi ternak berkurang, terutama volatile
fatty acid (VFA) yang menghasilkan
asam asetat, butirat, propionat dan
energi sebagai bahan dasar lemak susu
dan SNF, terutama laktosa.
Kandungan NDF yang tinggi
dapat menghasilkan kadar lemak susu
yang tinggi, karena serat kasar didalam
rumen akan didegradasi oleh mikroba
rumen sehingga menghasilkan asam
asetat yang lebih tinggi dibandingkan
asam propionat (Pangestu dkk, 2003).
VFA digunakan sebagai sumber energi
dan kerangka karbon bagi pembentukan
protein (Ensminger, 1992). Asam asetat
dan asam butirat akan masuk ke
peredaran darah menuju hati untuk
diubah
menjadi
asam
lemak,
selanjutnya masuk kedalam sel-sel
sekresi ambing untuk sintesis lemak
susu (Mutamimah dkk., 2013). Asam
propionat cenderung digunakan untuk
sintesis
laktosa
susu,
sehingga
berpengaruh terhadap nilai bahan kering
berdasarkan kadar lemak dan protein.
tanpa lemak susu (Prawirokusumo,
1993). Asam propionat akan masuk
kedalam hati, lalu diubah menjadi
glukosa untuk prekursor laktosa susu.
Berdasarkan latar belakang
tersebut, maka penelitian ini bertujuan
untuk membandingkan imbangan antara
konsentrat dan hijauan dalam ransum
yang optimal untuk dapat memperbaiki
tampilan kualitas susu sapi perah . Hasil
penelitian
ini
diharapkan
dapat
memberikan
informasi
mengenai
imbangan konsentrat dan hijauan yang
optimal untuk meningkatkan kualitas
susu sapi perah, sehingga dapat
diaplikasikan oleh peternak sapi perah
rakyat.
MATERI DAN METODE
Penelitian mengenai tampilan
kualitas susu sapi perah akibat
imbangan antara konsentrat dan hijauan
yang berbeda telah dilaksanakan di Unit
Pelaksana Teknis Daerah Pembibitan
Ternak Mulyorejo Desa Barukan
Kecamatan
Tengaran
Kabupaten
Semarang dan Koperasi Banyu Aji
Kecamatan
Getasan
Kabupaten
Semarang selama 33 hari dimulai
tanggal 29 Juni hingga 31 Juli 2014.
Ternak yang digunakan sebagai
materi percobaan adalah sapi perah
freisian holstein (FH) sebanyak 12 ekor
yang terdiri dari sapi laktasi pada bulan
ke II dan III dengan pendugaan bobot
badan rata-rata 408,5±30,86 kg (CV =
10,68%) dan produksi susu rata-rata
9,3±1,01 liter (CV = 14,33%).
Perlakuan pakan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
T0= konsentrat 50% + hijauan 50%
T1= konsentrat 45% + hijauan 55%
T2= konsentrat 40% + hijauan 60%
Kebutuhan bahan kering (BK)
yang digunakan adalah 3,5% dari bobot
badan rata-rata (Yani dan Purwanto,
2006). Analisis bahan pakan dan susu
43
J. Ilmu-Ilmu Peternakan volume 25(1):42 - 46
hasil
percobaan
dilakukan
di
Laboratorium Ilmu Nutrisi Pakan,
Fakultas Peternakan dan Pertanian,
Universitas Diponegoro, Semarang.
Alat yang digunakan adalah timbangan
digital gantung, meteran, ember stainlis,
gelas ukur, botol dan kotak pendingin,
lactoscan milk analyzer buatan Bulgaria
dengan kepekaan dua digit di belakang
koma (1/100) dalam satuan persen
untuk menguji kualitas susu.
Rancangan percobaan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
Rancangan Acak Lengkap sesuai
dengan prosedur Hanafiah (1994),
dengan model matematika:
Keterangan:
Yij : Nilai percobaan ke-j yang
memperoleh perlakuan ke-i
µ : Nilai tengah (rata-rata)
τi : Pengaruh perlakuan ke-i
ɛijk : Pengaruh galat ulangan ke-j yang
memperoleh perlakuan ke-i
I : Perlakuan imbangan yang berbeda
(1,2,3)
J : Ulangan (1,2,3,4)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1 menunjukkan rataan
kualitas susu yang dilihat dari beberapa
parameter yakni lemak, SNF, protein
dan laktosa.
Yij = µ + τi + ɛij
Tabel 1. Rataan kualitas susu sapi perlakuan T0, T1, dan T2.
Perlakuan
Parameter
T0
T1
T2
a
ab
Lemak (%)
3,28
3,45
3,51b
a
b
SNF (%)
7,31
7,75
7,83b
a
b
Protein (%)
2,53
2,68
2,69b
Laktosa (%)
3,82a
4,06b
4,12b
Keterangan : Superskrip dengan huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
berbeda nyata (P<0,05)
Kadar lemak susu
Analisis statistik menunjukkan
bahwa rata-rata kadar lemak susu pada
perlakuan T2 berbeda nyata dengan T0
(P<0,05). Kadar lemak susu mengalami
peningkatan pada perlakuan T2 sebesar
0,23%. Hal ini disebabkan karena serat
kasar yang dikonsumsi sapi berada pada
jumlah yang optimal yang kemudian
difermentasi oleh mikroba rumen
sehingga menghasilkan asam asetat
yang optimal sebagai bahan dasar lemak
susu.
Rata-rata tampilan lemak susu
pada T0 dan T1 tidak berbeda, demikian
juga T1 dengan T2. Kadar lemak pada
T1 tidak memiliki perbedaan yang nyata
dengan T0 diduga karena kandungan
serat kasar yang dikonsumsi oleh sapi
hanya sedikit, sehingga asam asetat dan
butirat yang dihasilkan juga sedikit.
Jumlah asam asetat dan butirat yang
sedikit ini berdampak terhadap kadar
lemak susu yang rendah.
Asam
asetat
dan
butirat
merupakan bahan dasar penyusun lemak
rantai panjang pada susu. Semakin
tinggi kadar serat kasar pakan, maka
semakin tinggi pula kadar asam asetat
dalam rumen hasil perombakan mikroba
rumen.
Tanuwiria
dkk
(2008)
menyatakan bahwa kadar lemak susu
dipengaruhi oleh serat pakan dan hasil
metabolismenya berupa asetat. Ransum
yang mengandung serat kasar tinggi
akan banyak menghasilkan asam asetat
yang merupakan prekursor sintesis de
44
J. Ilmu-Ilmu Peternakan volume 25(1):42 - 46
novo lemak susu di ambing. Lu et al.
(2005) menambahkan bahwa serat
pakan
secara
kimiawi
dapat
digolongkan menjadi serat kasar,
Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid
Detergent Fiber (ADF), Acid Detergent
Lignin
(ADL),
selulosa
dan
hemiselulosa.
Aisyah (2009) menambahkan
bahwa mikroba rumen dapat tumbuh
optimal dan berfungsi optimal dengan
enzim selulase yang dihasilkannya.
Menurut Tyler and Ensminger (2006),
sumber pembentukan lemak susu ada
tiga yaitu glukosa, triasilgliserol dari
bahan pakan atau asam lemak yang
disintesis oleh kelenjar ambing.
Kadar protein, laktosa dan solid non
fat susu
Analisis statistik menunjukkan
bahwa rata-rata kadar SNF susu pada
perlakuan T0 dengan T1 dan perlakuan
T0 dengan T2 berbeda nyata (P<0,05).
Kadar
SNF
susu
mengalami
peningkatan pada perlakuan T2 sebesar
0,52%. Hal ini disebabkan kandungan
serat kasar yang dikonsumsi sapi perah
pada T2 lebih banyak sehingga proses
fermentasi oleh mikroba rumen
menghasilkan VFA yang lebih banyak.
Salah satu bagian dari VFA adalah asam
propionat yang merupakan bahan dasar
laktosa susu. VFA juga digunakan
sebagai sumber energi dan kerangka
karbon bagi pembentukan protein,
dimana komponen penyusun SNF susu
antara lain protein dan laktosa.
Sapi dengan perlakuan T1
diduga memiliki jumlah serat kasar
yang terkonsumsi sedikit sehingga
menghasilkan asam propionat dan
energi yang sedikit. Hal ini sesuai
dengan pendapat Ensminger (1992)
yang menyatakan bahwa asam lemak
terbang digunakan sebagai sumber
energi dan kerangka karbon bagi
pembentukan protein. Sarwiyono dkk,
(1990) menambahkan bahwa SNF atau
bahan kering tanpa lemak adalah semua
jumlah komponen penyusun susu
dikurangi air dan kadar lemak, yaitu
terdiri dari protein, laktosa, mineral dan
vitamin.
Prawirokusumo
(1993)
menyatakan bahwa asam propionat
mayoritas digunakan untuk sintesis
laktosa susu, sehingga berpengaruh
terhadap nilai bahan kering tanpa lemak
susu. Prihartini dan Khotimah (2011)
menambahkan bahwa degradasi VFA
yang
tinggi
seiring
dengan
meningkatnya produksi NH3 sehingga
NH3 dapat digunakan untuk sintesis
protein mikroba rumen.
KESIMPULAN DAN SARAN
Imbangan konsentrat dengan
hijauan yang paling optimal untuk
meningkatkan kualitas susu sapi perah
adalah 40% konsentrat dan 60%
hijauan. Oleh karena itu diperlukan
penelitian lebih lanjut mengenai metode
pemberian konsentrat dan hijauan yang
paling baik untuk meningkatkan
kualitas susu sapi perah sehingga dapat
lebih melengkapi hasil penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S. 2009. Tingkat produksi susu
dan kesehatan sapi perah dengan
pemberian Aloe barbadensis
miller. Gamma 7 (1) : 50-60.
Ensminger, M. E. 1992. The
Stockman’s Handbook. 7th Ed.,
The Interstate Printers and
Publishers,
Inc.
Danville,
Illinois.
Hanafiah, K. A. 1994. Rancangan
percobaan teori dan aplikasi. PT
Raja
Gramafindo
Persada,
Jakarta.
Lu, C. D., J. R. Kawas, dan O. G.
Maghoub. 2005. Fiber digestion
and utilization in goats. Small.
Rumin. Res 60: 45-65.
45
J. Ilmu-Ilmu Peternakan volume 25(1):42 - 46
Mutamimah, L., S. Utami dan A. T. A.
Sudewo. 2013. Kajian kadar
lemak dan bahan kering tanpa
lemak susu kambing Sapera di
Cilacap dan Bogor. J. Anim. Sci.
1 (3) : 874-880.
Pangestu, E., T. Toharmat, dan U. H.
Tanuwiria. 2003. Nilai nutrisi
ransum berbasis limbah industri
pertanian pada sapi perah
laktasi. J. Indon. Trop. Anim.
Agric. 28 (3): 166-171.
Prihartini, I., dan K. Khotimah. 2011.
Produksi
probiotik
rumen
berbasis bakteri lignochloritik
dan aplikasinya pada ternak sapi
perah. Gamma 7 (1): 27-31.
Prawirokusumo, S. 1993. Ilmu gizi
komparatif.
Edisi
pertama.
Badan
Penerbitan
Fakultas
Ekonomika
dan
Bisnis
Universitas
Gadjah
Mada,
Yogyakarta.
Sarwiyono, P., Surjowardojo dan T. E.
Susilorini. 1990. Manajemen
produksi ternak perah. Fakultas
Peternakan
Universitas
Brawijaya, Malang.
Tanuwiria, U. H., A. Yulianti, dan R.
Tawaf.
2008.
Pengaruh
imbangan jerami padi fermentasi
dan konsentrat dalam ransum
terhadap fermentabilitas dan
kecernaan
in
vitro
serta
performans produksi pada sapi
perah
laktasi.
Fakultas
Peternakan Unpad. Seminar
Nasional. (Diakses tanggal 16
Agustus 2014 pada situs
http://pustaka.unpad.ac.id/archiv
es/124784.pdf).
Tyler, H. D. and Ensminger, M. E.
2006. Dairy cattle science. 4th
Ed. Pearson Prentice Hall, Ohio.
Yani, A. dan B. P. Purwanto. 2006.
Pengaruh iklim mikro terhadap
respon fisiologis sapi peranakan
Fries Holland dan modifikasi
lingkungan untuk meningkatkan
produktivitasnya.
Media
Peternakan 29 (1): 35-46.
46
Fly UP