...

hubungan variasi pakan terhadap mutu susu segar di

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

hubungan variasi pakan terhadap mutu susu segar di
Hubungan Variasi Pakan Terhadap Mutu… (Iis Soriah Ace & Wahyuningsih)
HUBUNGAN VARIASI PAKAN TERHADAP MUTU SUSU SEGAR
DI DESA PASIRBUNCIR KECAMATAN CARINGIN
KABUPATEN BOGOR
Oleh:
Iis Soriah Ace dan Wahyuningsih
Dosen Jurusan Penyuluhan Peternakan, STPP Bogor
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui mutu susu sapi segar dan menganalisis
hubungan variasi pakan dengan mutu susu yang berada di desa Pasirbuncir Kecamatan
Caringin
Pengujian kualitas susu, dilakukan terhadap 5 ekor sapi untuk masing-masing
peternakan dan diulang sebanyak 4 kali setiap 2 hari sekali, dilakukan pada pemerahan susu
pagi dan sore hari. Pengujian mutu susu dilakukan melalui pengukuran kadar lemak, SNF,
Laktosa, Protein dan titik beku.
Hasil penelitian menunjukkan kadar Laktosa, Protein dan titik beku antara 3
peternakan rakyat dipilih sebagai sample. Peternakan 2 dan 3 berbeda sangat nyata, antara
peternakan 1 dan peternakan 2 tidak berbeda terhadap kadar lemak dan SNF antara
peternakan 1, 2, dan 3 tidak berbeda. Berdasarkan Analisis Korelasi Pearson ternyata
Variasi pakan ternak secara signifikan mempengaruhi kadar lemak (0,31) dan sangat
signifikan mempengaruhi kadar SNF (0,59), laktosa (0,59), protein (0,50) dan titik beku
(0,62).
Rataan mutu susu segar di peternakan desa Pasirbuncir memenuhi Standar Nasional
Indonesia (SNI) susu segar No. 01-3141-1998. ditinjau dari kadar lemak, kadar protein,
kadar laktosa tetapi terhadap kadar SNF dan titik beku tidak memenuhi standar.
Kata kunci: Susu segar, kadar lemak, SNF, laktosa, protein, titik beku.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan peternakan Indonesia
mengalami kemajuan dari tahun ke tahun.
Sektor peternakan mempunyai peran
strategis dalam mencerdaskan kehidupan
masyarakat Indonesia, terutama dalam
penyediaan protein hewani melalui
penyediaan produk-produk peternakan
(daging, susu dan telur). Oleh karena itu
berbagai
upaya
dilakukan
untuk
meningkatkan produksi peternakan agar
masyarakat dapat mengkonsumsi produk
ini dalam jumlah cukup dan kualitas baik.
Mutu susu segar ditingkat peternak
pada umumnya berbeda-beda. Hal ini
disebabkan oleh pemberian pakan yang
berbeda. Berdasarkan Standar Nasional
Indonesia (SNI) 01-3141-1998 syarat mutu
susu segar adalah berat jenis (pada suhu
27,5°C) minimal 1.0280. Kadar Lemak
minimal 3,0%, kadar bahan kering tanpa
lemak 8,0%, kadar protein minimal 2,7%.
Warna, bau, rasa dan kekentalan tidak ada
perubahan. Derajat asam 6 - 7°SH. Uji
Alkohol (70%) negatif, uji katalase
67
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 5 No. 1, Mei 2010
maksimal 3 cc. Angka refraksi 36 – 38,
angka reduktase 2 -5 jam (Deptan, 2006).
Potensi
peternakan
di
Desa
Pasirbuncir ada beberapa macam antara
lain adalah sapi perah, sapi potong,
kambing, domba, ayam broiler, ayam
kampung, entok, dan kelinci (Monografi
Desa Pasirbuncir, 2008). Rata-rata produksi susu 12 liter/ekor/hari. Permasalahan
yang dihadapi oleh peternak di Kecamatan
Caringin adalah pemberian pakan penguat
dan pakan tambahan yang berbeda-beda,
sehingga mengakibatkan mutu susu dan
produksi yang dihasilkan berbeda pula.
Harga susu sapi pada umumnya ditentukan
oleh kadar lemak dan kadar protein, harga
tertinggi di Koperasi Peternak Sapi (KPS)
Bogor mencapai Rp 3.600 dan harga
terendah Rp 2.800. Dengan adanya standar
harga yang ditentukan KPS Bogor maka
peternak akan terpacu untuk meningkatkan
kualitas bagi yang rendah dan mempertahankan kualitas bagi yang tinggi.
Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan
penelitian tentang “Variasi Pemberian
Pakan terhadap Mutu Susu Sapi Segar di
Desa Pasirbuncir Kecamatan Caringin
Kabupaten Bogor.”
Peubah yang diamati meliputi kadar
lemak, SNF, laktosa, protein dan titik
beku. Peubah ini penting karena
menentukan kualitas susu.
Tujuan
1.
2.
Menganalisis mutu susu sapi segar
yang berada di desa Pasirbuncir
Kecamatan Caringin.
Menganalisis hubungan variasi pakan
dengan mutu susu.
Bahan dan Alat
Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah susu sapi segar
sebanyak 7,5 liter yang berasal dari semua
peternak sapi perah di desa Pasir buncir (3
peternakan rakyat). Dari masing-masing
peternak diambil sampel susu 2,5 liter.
Peralatan yang digunakan adalah alat
pengukur kadar mutu susu berupa
lactoscan.
Metoda
Prosedur Pengambilan Sampel Susu
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pengamatan dan pengambilan sampel
untuk memperoleh data primer dalam
penelitian ini dilakukan dengan
kuesioner kepada pemilik ternak
tentang variasi pakan.
Pemerahan susu/pengambilan sampel
dilakukan pada pagi hari jam 5.00
WIB dan sore hari jam 14.00.
Pada saat pemerahan susu ditampung
dengan menggunakan kantong plastik
ukuran ¼ liter ditutup, kemudian
dimasukkan
ke
dalam
termos
pendingin.
Pengambilan sampel dan pengujian
kualitas susu dilakukan terhadap 5
ekor sapi untuk masing-masing
peternak dan diulang sebanyak 4 kali
setiap 2 hari sekali, dilakukan pada
pemerahan susu pagi dan sore hari.
Tanpa penyimpanan dan perlakuan,
sampel susu di periksa mutunya
dengan menggunakan lactoscan.
Pengujian mutu susu diukur sesuai
dengan peubah yang diamati.
Peubah yang diamati
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Agustus sampai dengan Nopember
2009, bertempat di Desa Pasirbuncir
Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor.
68
Peubah
yang
diukur
dalam
penelitian ini adalah kadar lemak, kadar
SNF, kadar protein, kadar laktosa, dan titik
beku susu.
Hubungan Variasi Pakan Terhadap Mutu… (Iis Soriah Ace & Wahyuningsih)
Analisis Data
Data nilai gizi dianalisis dengan Uji
F dan Korelasi Pearson, pembahasan
dilakukan secara deskriptif, selanjutnya
dibandingkan dengan SNI 01-3141-1998
tentang syarat mutu susu segar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Propil peternakan sampel dapat
dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1
tersebut, peternakan 1 memiliki rata-rata
kadar
lemak tertinggi,
selanjutnya
peternakan 3 dan yang paling rendah pada
peternakan 2. Akan tetapi secara
keseluruhan kadar lemak tersebut lebih
tinggi dibandingkan dengan SNI 31411998. Sedangkan kadar SNF dan kadar
laktosa tertinggi dicapai oleh Peternakan 2,
selanjutnya peternakan 1 dan yang
terendah peternakan 3. Hal ini disebabkan
oleh pengaruh pemberian pakan yang
berbeda.
Pemberian pakan hijauan di
peternakan 1, 2 dan 3 menggunakan
rumput gajah dan rumput lapangan serta
air secara adlibitum. Sedangkan pemberian
konsentrat berbeda-beda.
Di
Peternakan
1 pemberian
konsentrat sebanyak 9 kg/ekor/hari berasal
dari pabrik Ciherang, sedangkan di
peternakan 2 konsentarat diberikan
sebanyak 3 kg/ekor/hari ditambah dengan
singkong afkir 5 kg/ekor/hari dan di
peternakan 3 diberi konsentrat berasal dari
pabrik Ciherang sebanyak 5 kg/ekor/hari.
Konsentrat tersebut diberikan 2 kali sehari
pagi dan sore hari.
Tabel 1. Profil mutu susu di peternakan sampel di Desa Pasirbuncir
Peternakan 1
Peternakan 2
Peternakan 3
Rataan
Rataan
Rataan
Kadar Lemak (%)
4,075A
3,495 A
3,661 A
A
A
Kadar SNF (%)
7,645
7,748
6,993 A
Kadar Laktosa (%)
4,048 A
4,105 A
3,703 B
A
A
Kadar Protein (%)
2,850
2,833
2,607 B
A
A
Titik Beku (- ºC)
0,480
0,481
0,434 B
Jumlah sapi laktasi (ekor)
44
15
6
Produksi susu/hari (liter)
440
170
70
Keterangan: Superskip huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan
yang sangat nyata (P<0.01).
Uraian
Harga konsentrat KPS Rp 1.600/kg,
sedangkan harga konsentrat pabrik
Ciherang Rp 1.700/kg dan harga singkong
afkir Rp 200/kg.
Produksi susu di peternakan 2 lebih
tinggi dibandingkan dengan peternakan 1
dan 3 dengan rata-rata sebesar 12 liter/
ekor/hari. Hal ini disebabkan oleh
pemberian pakan yang bervariasi yaitu
pemberian konsentrat dan singkong
sehingga meningkatkan produksi susu,
karena nutrisi yang terdapat pada singkong
untuk setiap 100 gram adalah : kalori 146
kal, porotein 1,2 gram, karbohidrat 34,7
gram, kalsium 33,0 mg, besi 0,7 dan fosfor
40,0 mg, Vitamin C 30,0 mg Vitamin B1
0,06 mg, air 62,6 gram, Bdd (Bahan dapat
dicerna) 75% (Departemen Kesehatan,
dalam Sosrosoedirdjo dan Samad, 1983).
Pendapat ini didukung oleh Retnani
(2008), singkong atau Cassava merupakan
bahan baku pakan ternak asal nabati yang
kaya akan sumber energi dan dapat
digunakan sebagai campuran formula.
69
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 5 No. 1, Mei 2010
Tabel 2. Analisis Korelasi Pearson variasi pakan dengan mutu susu di peternakan di Desa
Pasirbuncir
Pakan
Lemak
SNF
Laktosa
Protein Titik beku
Pakan
Korelasi
1
0.31*)
0.59**)
0.59**)
0.50**)
0.62**)
Lemak
Korelasi
0.31*)
1
0.17
0.16
0.25
0.29*)
SNF
Korelasi
0.59**)
0.17
1
0.99**)
0.76**)
0.98**)
Laktosa
Korelasi
0.59**)
0.16
0.99**)
1
0.76**)
0.98**)
Protein
Korelasi
0.50**)
0.25
0.76**)
0.76**)
1
0.75**)
Titik beku
Korelasi
0.62**)
0.29*)
0.98**)
0.98**)
0.75**)
1
Berdasarkan Tabel 2 ternyata pakan
ternak secara signifikan mempengaruhi
kadar lemak (0,31) dan sangat signifikan
mempengaruhi kadar SNF (0,59), laktosa
(0,59), protein (0,50) dan titik beku (0,62).
Kadar lemak (0,29) berpengaruh
signifikan terhadap titik beku dan kadar
SNF (0,98), Laktosa (0,98), dan Protein
(0,75) berpengaruh sangat signifikan
terhadap titik beku. Protein berpengaruh
sangat nyata terhadap kadar SNF (0,76),
dan Laktosa (0,76), sedangkan terhadap
lemak tidak berpengaruh.
Laktosa
berpengaruh sangat signifikan terhadap
SNF (0,99) sangat nyata dipengaruhi oleh
kadar protein dan laktosa. Sedangkan
kadar lemak tidak mempengaruhi kadar
SNF.
Kadar lemak
Rataan kadar lemak yang diperolah
pada penelitian di Peternakan Desa Pasir
Buncir disajikan pada Gambar 1, 2 dan 3.
kadar lemak
6
5.5
5
4.5
4
3.5
3
2.5
harian
Pagi
sore
Gambar 1. Kadar lemak di Peterkan 1
70
Hubungan Variasi Pakan Terhadap Mutu… (Iis Soriah Ace & Wahyuningsih)
kadar lemak
5
4.5
4
3.5
3
2.5
harian
Pagi
sore
kadar lemak
Gambar 2. Kadar lemak di Peternakan 2
5
4.5
4
3.5
3
harian
Pagi
sore
Gambar 3. Kadar lemak di Peternakan 3
Berdasarkan Gambar 1, 2 dan 3
kadar lemak di 3 peternakan di Desa
Pasirbuncir lebih tinggi dibandingkan
dengan SNI- 01-3141-1998. Hal ini
disebabkan pemberian pakan hijauan yang
diberikan pada sapi perah sangat baik dan
sudah sesuai dengan kebutuhan ternaknya.
Sesuai dengan pendapat Sudono et al.
(2003), pakan hijauan menyebabkan kadar
lemak susu tinggi karena lemak susu
tergantung dari kandungan serat kasar
dalam pakan. Kadar lemak susu
dipengaruhi oleh pakan karena sebagian
besar dari komponen susu disintesis dalam
ambing dari substrat yang sederhana yang
berasal dari pakan (Maheswari, 2004).
Rataan kadar lemak susu sore hari
lebih tinggi dibandingkan dengan kadar
lemak susu pagi hari. Hal tersebut
disebabkan oleh jarak pemerahan antara
sore dan pagi berbeda. Semakin pendek
jarak
pemerahan
maka
akan
mengakibatkan kadar lemak semakin
tinggi.
Kadar SNF
Rataan kadar SNF yang diperolah
pada penelitian di 3 peternakan di Desa
Pasir Buncir disajikan pada Gambar 4, 5,
dan 6.
71
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 5 No. 1, Mei 2010
7.9
Kadar SNF
7.8
7.7
7.6
7.5
7.4
7.3
7.2
Harian
Pagi
sore
Gambar 4. Kadar SNF di Peternakan 1
8.1
Kadar SNF
8
7.9
7.8
7.7
7.6
7.5
7.4
harian
Pagi
sore
Gambar 5. Kadar SNF di Peternakan 2
kadar SNF
7.4
7.2
7
6.8
6.6
harian
Pagi
sore
Gambar 6. Kadar SNF di Peternakan 3
72
Hubungan Variasi Pakan Terhadap Mutu… (Iis Soriah Ace & Wahyuningsih)
Kadar Laktosa
Berdasarkan Gambar 4, 5 dan 6,
rataan kadar SNF penelitian lebih rendah
dibandingkan dengan SNI-01-3141-1998.
Kadar SNF yang terendah diperoleh pada
peternakan 3 dan yang tertinggi pada
peternakan 2. Hal ini disebabkan sapi di
peternakan 2 selain diberi konsentrat juga
diberi tambahan pakan singkong yang
mengakibatkan kadar SNF susu akan
semakin
baik,
karena
singkong
mengandung kalori dan karbohidrat yang
tinggi (Departemen Kesehatan dalam
Sosrosoedirdjo dan Samad, 1983).
Kadar laktosa
Rataan kadar laktosa yang diperolah
pada penelitian di 3 peternakan di Desa
Pasir Buncir di sajikan pada Gambar 7, 8
dan 9.
4.2
4.1
4
3.9
3.8
Harian
Pagi
sore
Kadar Laktosa
Gambar 7. Kadar laktosa di Peternakan 1
4.3
4.2
4.1
4
3.9
Harian
Pagi
sore
Gambar 8. Kadar laktosa di Peternakan 2
Kadar
Laktosa
4
3.5
Harian
Pagi
sore
Gambar 9. Kadar laktosa di Peternakan 3
73
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 5 No. 1, Mei 2010
Kadar laktosa mempengaruhi kadar
SNF susu. Jika kadar laktosa tinggi maka
mengakibatkan kadar SNF pula. Berdasarkan Gambar 7, 8 dan 9 kadar laktosa di
peternakan 1 dan 2 lebih tinggi dibandingkan kadar laktosa di peternakan 3. Hal ini
kemungkinan disebabkan di peternakan 1
jumlah pemberian konsentrat lebih banyak
dan di peternakan 2 walaupun jumlah
konsentrat yang diberikan lebih sedikit
akan tetapi ditambah dengan pemberian
singkong. Kandungan tertinggi dari
singkong adalah kalori dan karbohidrat
(Departemen Kesehatan dalam Sosrosoedirdjo dan Samad, 1983).
Kadar Protein
Rataan kadar Protein yang diperolah
pada penelitian di 3 peternakan di Desa
Pasir Buncir disajikan pada Gambar 10, 11
dan 12.
Kadar Protein
4.8
4.3
3.8
3.3
2.8
Harian
Pagi
sore
K adar Protein
Gambar 10. Kadar protein di Peternakan 1
3.2
3
2.8
2.6
2.4
Harian
Pagi
sore
Gambar 11. Kadar protein di Peternakan 2
74
Hubungan Variasi Pakan Terhadap Mutu… (Iis Soriah Ace & Wahyuningsih)
Kadar Protein
2.8
2.7
2.6
2.5
2.4
Harian
Pagi
sore
Gambar 12. Gambar protein di Peternakan 3
Titik beku
Berdasarkan Gambar 10, 11 dan 12
rataan kadar protein penelitian di 3
peternakan di Desa Pasirbuncir lebih tinggi
dari SNI-01-3141-1998. Menurut Winarno
(1993), kadar protein susu sapi segar
sekitar 3,5% dan berkisar antara 1,5 – 4%.
Jika dibandingkan dengan SNI 013141-1998 yang mensyaratkan kadar
protein 2,7%, terlihat bahwa peternakan 3
belum memenuhi standar SNI. Hal ini
kemungkinan diakibatkan oleh pemberian
pakan konsentrat yang belum memenuhi
standar yang ditetapkan. Menurut Sudono
et al. (2003), Jenis dan jumlah pakan yang
diberikan pada sapi perah terdiri atas
hijauan 10% dan konsentrat 5% dari bobot
badan.
Titik Beku
Rataan titik beku yang diperolah
pada penelitian di peternakan Desa Pasir
Buncir di sajikan pada Gambar 13, 14 dan
15.
0.49
0.47
0.45
Harian
Pagi
sore
Gambar 13. Titik beku susu di Peternakan 1
75
T itik b eku
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 5 No. 1, Mei 2010
0.49
0.47
0.45
Harian
Pagi
sore
Titik Beku
Gambar 14. Titik beku susu di peternakan 2
0.462
0.452
0.442
0.432
0.422
0.412
Harian
Pagi
sore
Gambar 15. Titik beku susu di Peternakan 3
Berdasarkan Gambar 13, 14 dan 15
rataan titik beku pada penelitian di desa
Pasirbuncir lebih rendah dibandingkan
dengan SNI-01-3141-1998.
laktosa. Terhadap kadar SNF dan titik beku
masih tidak memenuhi standar.
Untuk memperoleh mutu susu yang
baik, disarankan, selain memberikan pakan
hijauan dan konsentrat, juga dapat diberi
singkong sebagai pakan tambahan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Rataan mutu susu segar di 3
peternakan di desa Pasirbuncir memenuhi
Standar Nasional Indonesia (SNI) susu
segar N0. 01-3141-1998. ditinjau dari segi
kadar lemak, kadar protein, dan kadar
76
DAFTAR PUSTAKA
AAK.
1993. Beternak Sapi
Yogyakarta: Kanisius.
Perah.
Hubungan Variasi Pakan Terhadap Mutu… (Iis Soriah Ace & Wahyuningsih)
Adnan, M. 1984. Kimia dan Teknologi
Pengolahan Air Susu. Yogyakarta:
Andi Offset.
Sosrosoedirdjo, R.S. dan B. Samad. 1983.
Bercocok Tanam Ubi Kayu. Jakarta:
CV.Yasaguna.
[Deptan] Departemen Pertanian. 2006.
Pedoman
Umum
Penanganan
Pascapanen Produk Peternakan.
Jakarta: Deptan.
Steel R.G.D. dan J.H. Torrie. 1989. Prinsip
dan Prosedur Statistika. Jakarta: PT
Gramedia.
Maheswari, R.R.A. 2004. Penanganan dan
Pengolahan Hasil Ternak Perah.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Retnani, Y. 2008. Pelatihan pembuatan
ransum
yang
baik.
Bogor:
Laboratorium Industri Pakan Ternak
Fakultas Peternakan IPB.
SNI [Standar Nasional Indonesia]. 1998.
Standar Mutu Susu Segar No. 013141-1998. Jakarta: Departemen
Pertanian.
Sudono, A., F. Rosdiana dan B. Setiawan.
2003. Beternak Sapi Perah Secara
Intensif.
Jakarta:
Agromedia
Pustaka.
Winarno, F.G. 1993. Pangan Gizi,
Teknologi dan Konsumen. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Winarno, F.G. 1985. Limbah Pertanian.
Jakarta: Kantor Menteri Muda
Urusan
Peningkatan
Produksi
Pangan.
77
Fly UP