...

Evaluasi Plasma Nutfah Kacang Tunggak (Vigna unguiculata L.) di

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Evaluasi Plasma Nutfah Kacang Tunggak (Vigna unguiculata L.) di
Evaluasi Plasma Nutfah Kacang Tunggak (Vigna unguiculata L.) di Lahan Masam
Mamik Setyowati* dan Sutoro
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jl. Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111
Telp. (0251) 8337975; Faks. (0251) 8338820; *E-mail: [email protected]
Diajukan: 5 Oktober 2009; Diterima: 30 April 2010
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Evalution of Cowpea (Vigna unguiculata L.) Germplasm in
Acidic Soil. Plant genetic resources are as a source of genetic
variability and can be used to develop new varieties tolerant to
abiotic and biotic stress. Evaluation of cowpea germplasm to
abiotic stress, such as acidic soil has to be done to obtain
information of their tolerance. Cowpea germplasm collection
held in ICABIOGRAD was tested under acidic soil condition
in Jasinga, West Java and Bogor as control during March-June
2007. The criteria of tolerance to acidic soil was determined
when the grain yield of cowpea under acidic soil more than
80% compare to those yield under non acidic soil, while
susceptible to acidic soil when lower than 25%. Result of
experiment showed that accession of LO-3-38, Ces-41-6,
TVX-4661-01D-A, IT82-889-A, TV.3381-0-2j-B and Kacang
Tolo Loreng were tolerant to acidic soil, while Kacang Dadap
dan Kacang Tolo were susceptible. These accessions could be
used as parent materials for genetic study related to acidic soil
stress.
Plasma nutfah merupakan sumber genetik
yang penting dalam program perakitan varietas baru. Berbagai karakteristik tanaman kacang-kacangan minor, seperti kacang tunggak, merupakan sumber keragamaan genetik yang dapat dimanfaatkan
untuk perbaikan genetik dalam pemuliaan tanaman.
Keberadaan plasma nutfah kacang tunggak di sebagian daerah sudah hampir punah. Oleh karena itu,
koleksi plasma nutfah kacang tunggak yang ada
perlu dipertahankan (Trustinah, 1998).
Kacang tunggak dapat beradaptasi dengan
baik pada lingkungan yang cukup luas, di daerah
dengan ketinggian hingga 1.500 m dari permukaan
laut, toleran terhadap kekeringan, mampu mengikat
nitrogen dari udara, dan mampu pula meningkatkan
efisiensi penggunaan pupuk pada pertanaman tumpangsari (Oroka dan Omoregie, 2007). Kacang
tunggak juga toleran terhadap tanah marjinal
(Anonim, 2005). Umur berbunga kacang tunggak
beragam, berkisar antara 43-54 hari, umur panen
66-75 hari, dengan hasil biji kering antara 1,03-1,24
t/ha (Kasno dan Trustinah, 1998).
Kacang tunggak merupakan tanaman kacangkacangan yang umum ditanam di dunia. Dalam bentuk segar, daun kacang tunggak, dan polong muda
dapat dikonsumsi sebagai sayuran, sedangkan biji
dikonsumsi sebagai makanan kecil maupun lauk
pauk (Bernhardt, 1976). Di Indonesia, kacang tunggak merupakan tanaman potensial dan memerlukan
perhatian dalam pengembangannya. Kacang tunggak merupakan tanaman semak (herbaceous), bentuk tanaman beragam dari tegak kecil berumur genjah (60-70 hari) hingga relatif besar dan berumur
panjang. Keragaman kacang tunggak tercermin dari
tipe determinate dan undeterminate (Astuti et al.,
2004), biji, dan polong. Kacang tunggak memiliki
Keywords: Cowpea, acidic soil, tolerance.
ABSTRAK
Plasma nutfah merupakan sumber keragaman genetik yang
diperlukan dalam pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas baru berdaya hasil tinggi dan toleran cekaman abiotik
dan biotik. Untuk mendapatkan informasi toleransi kacang
tunggak terhadap kemasaman tanah dilakukan evaluasi ketahanan tanaman terhadap lahan masam di Jasinga dan Bogor
sebagai pembanding, pada MT 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa askesi LO-3-38, Ces-41-6, TVX-4661-01D-A,
IT82-889-A, TV.3381-0-2j-B, dan Kacang Tolo Loreng toleran terhadap kemasaman tanah. Aksesi plasma nutfah kacang
tunggak yang peka terhadap cekaman lahan masam adalah
Kacang Dadap dan Kacang Tolo. Aksesi-aksesi tersebut dapat
digunakan sebagai tetua dalam perakitan varietas toleran kemasaman tanah.
Kata kunci: Kacang tunggak, lahan masam, toleran.
44
Buletin Plasma Nutfah Vol.16 No.1 Th.2010
kandungan protein yang tinggi, berkisar antara 23,425,9% (Purwani dan Santosa, 1996).
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi
ketahanan aksesi koleksi plasma nutfah kacang
tunggak terhadap kemasaman tanah.
BAHAN DAN METODE
Plasma nutfah kacang tunggak koleksi BBBiogen dievaluasi pada lahan masam di Jasinga (pH
4,83) dan Bogor (pH 5,87) pada MT 2007. Pertanaman di Bogor digunakan sebagai pembanding.
Percobaan dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas
43 aksesi kacang tunggak. Setiap aksesi ditanam sebanyak 50 tanaman (dua baris), dengan jarak tanam
50 cm x 20 cm. Pupuk dan takaran 50 kg urea, 100
kg TSP, dan 100 kg KCl/ha diberikan pada waktu
tanam dengan cara dilarik di samping barisan tanaman. Penyiangan tanaman dilakukan pada umur
tiga dan enam minggu setelah tanam. Hama penyakit tanaman dikendalikan sesuai dengan kebutuhan
di lapang.
Data komponen hasil yang diamati adalah
jumlah polong tiap tanaman, jumlah biji tiap polong, panjang polong, dan bobot biji pada saat panen. Data pengamatan dari data kedua lokasi dianalisis dengan metode ANOVA. Hubungan keeratan
antarpeubah komponen hasil dan hasil dianalisis
dengan metode statistik korelasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komponen Hasil dan Hasil
Hasil analisis ragam komponen hasil dan hasil biji menunjukkan adanya pengaruh yang nyata
dari lokasi, varietas, dan interaksi lokasi dengan
varietas. Peubah komponen hasil dan hasil di lahan
masam Jasinga nyata lebih rendah dibandingkan dengan di Bogor. Perbedaan terbanyak terletak pada
bobot biji. Rata-rata hasil kacang tunggak di lahan
masam Jasinga 664 kg/ha, sedangkan di lahan relatif masam di Bogor 1.176 kg/ha (Tabel 1). Kacang
tunggak dapat tumbuh baik dan mampu beradaptasi
pada berbagai kondisi tanah, tetapi terbaik pada
tanah dengan drainase baik, tekstur berpasir, dengan
pH 5,5-6,5 (Davis et al., 1991). Pada percobaan ini,
kondisi lahan di Bogor lebih baik daripada Jasinga.
Hal ini menjadi salah satu penyebab lebih tingginya
hasil kacang tunggak di Bogor dibandingkan
dengan di Jasinga.
Hasil analisis korelasi antar komponen hasil
dan hasil biji menunjukkan bahwa makin banyak
jumlah polong tiap tanaman semakin panjang ukuran polong, semakin banyak jumlah biji tiap polong,
dan semakin banyak hasil/bobot biji tiap tanaman
(Tabel 2). Korelasi antar komponen hasil menunjukkan, makin panjang polong makin banyak jumlah biji tiap polong. Sebaliknya, semakin panjang
polong, semakin sedikit jumlah polong tiap tanam-
Tabel 1. Rata-rata komponen hasil dan hasil biji kacang tunggak di Bogor dan
Jasinga 2007.
Lokasi
Peubah tanaman
Jumlah polong/tanaman
Panjang polong (cm)
Jumlah biji/polong
Bobot biji (kg/ha)
Bogor
Jasinga
7,7 a
15,6 a
13,5 a
1.176 a
6,8 b
14,8 b
12,2 b
664 b
Angka pada satu lajur yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak ada perbedaan
yang nyata pada taraf uji 5% menurut ANOVA gabungan.
Tabel 2. Korelasi antarpeubah dan rata-rata komponen hasil dan hasil biji kacang tunggak.
Peubah tanaman
Jumlah polong/tanaman
Panjang polong
Jumlah biji/polong
Bobot biji
Jumlah polong/tanaman
Panjang polong
Jumlah biji/polong
Bobot biji
1,0000
-0,1748*
-0,0784
0,1467*
1,0000
0,4653*
0,3082*
1,0000
0,2896*
1,0000
*nyata pada taraf uji 5%.
Buletin Plasma Nutfah Vol.16 No.1 Th.2010
45
an. Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh kompensasi, yaitu polong panjang cenderung memiliki
jumlah polong sedikit, atau bila polong pendek
maka jumlah polong cenderung meningkat. Dengan
demikian, aksesi plasma nutfah kacang tunggak
yang memiliki polong relatif panjang dan jumlah
polong tiap tanaman banyak maka hasilnya lebih
tinggi.
Toleransi terhadap Kemasaman Tanah
Diagram titik yang menunjukkan hubungan
antara hasil dan bobot biji di Bogor dan Jasinga
disajikan pada Gambar 1. Pada Gambar 1 terlihat
bahwa aksesi nomor 1 (TVx.2947-01D), 28
(TV.3381-0-2j), 35 (Lembayung A-2), dan 37
(Kacang Tolo Putih) menghasilkan biji lebih dari
1,5 t/ha di Bogor, lebih tinggi dibandingkan dengan
varietas KT-8 yang hanya menghasilkan biji 1,2
t/ha dan KT-4 yang mampu memberi hasil 0,9 t/ha.
Varietas KT-4 merupakan varietas yang memiliki
stabilitas hasil dan kemampuan adaptasi yang baik
(Trustinah et al., 2000). Aksesi yang menghasilkan
biji lebih dari 0,9 t/ha di Jasinga adalah aksesi
nomor 3 (LO-3-38), 13 (Ces-41-6), 16 (ICV-12C),
18 (KT-1), 25 (KT-86), dan 37 (Kacang Tolo
Putih), lebih tinggi daripada hasil varietas KT-8
Bobot biji (kg/ha) di Bogor
2.000
1
40
724 9 8
38 30
41
23 36 11
14
26 6 34 32 22
39
4333 21 4
20
17
1.500
27
1.000
35 28 37
15 25
12
18
31
16 3
5
10
13
19
42
29
2
500
500
1.000
Bobot biji (kg/ha) di Jasinga
1.500
Gambar 1. Titik bobot biji plasma nutfah kacang tunggak di lahan bukan masam (Bogor)
dan lahan masam (Jasinga). Angka dalam gambar menunjukkan nomor aksesi
yang diuji.
Bobot biji (kg/ha) di Bogor
2.000
35 28 37
40
15 25
724
9 8 12
38 30
18
11
31
41
23 36
14 32
16 3
34
26 6
39
5
22
10
33
43
21 4 20 19 29
42
17
1
1.500
27
1.000
13
2
500
0
10
20
30 40 50 60 70 80
Persentase bobot biji di Jasinga
90
100
Gambar 2. Titik bobot biji plasma nutfah kacang tunggak di Bogor dan persentase hasil biji
di lahan masam (Jasinga) dibandingkan dengan di Bogor. Angka dalam gambar
menunjukkan nomor aksesi yang diuji.
46
Buletin Plasma Nutfah Vol.16 No.1 Th.2010
(0,4 t/ha). Analisis hubungan antara bobot biji di
Bogor (Y) dan di Jasinga (X) menunjukkan korelasi
yang lemah rxy = 0,2118. Hal ini menunjukkan
bahwa bila suatu genotipe dapat menghasilkan biji
yang tinggi pada lahan bukan masam tidak selalu
memberikan hasil yang baik pada lahan masam.
Aksesi kacang tunggak yang toleran lahan
masam umumnya memberikan hasil yang tidak jauh
berbeda jika ditanam pada lahan bukan masam.
Hasil kacang tunggak toleran lahan masam minimal
80% dari yang ditanam pada lahan bukan masam.
Plasma nutfah yang toleran lahan masam dalam
pengujian ini adalah aksesi nomor 3 (LO-3-38), 13
(Ces-41-6), 5 (TVX-4661-01D-A), 17 (IT82-889A), 29 (TV.3381-0-2j-B), dan 42 (Kacang Tolo
Loreng) (Tabel 3).
Tabel 3. Hasil biji kacang tunggak di Bogor dan Jasinga.
Hasil (kg/ha)
No. Varietas
Lahan bukan masam, Bogor
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
TVX.2947-01D
SU76A
LO-3-38
VS-NO442-H
TVX-4661-01D-A
TVX-66-2-H
TVX-4661-O1O-B
KT5/191-91B-91
Vita4/191-91-442
AS-A-70-B
Acc-15A-2
Acc-15A-3
Ces-41-6
ICV-2A
ICV-12A
ICV-12C
IT82-889-A
KT-1
KT-4
KT-5
KT-6
KT-7
KT-8
KT.84B-2
KT.86
KT.87B
Kacang Dadap
TV.3381-0-2j
TV.3381-0-2j-B
TVX.2939-09D
TVX.3418-02
TVX.4667-01D-A
KT.84A
Lembayung A-1
Lembayung A-2
Lok. Kudus A-1
Kacang Tolo Putih
Kacang Tolo Merah
Allseasen
Kacang Dadap
Kacang Dadap
Kacang Tolo Loreng
Kacang Dadapan
1520,0
462,0
1179,0
947,0
1061,0
1049,0
1385,0
1347,0
1321,0
1006,0
1205,0
1325,0
971,0
1173,0
1443,0
1150,0
768,0
1269,0
930,0
877,0
894,0
1051,0
1178,0
1361,0
1456,0
1113,0
1226,0
1575,0
864,0
1279,0
1182,0
1109,0
995,0
1160,0
1573,0
1174,0
1524,0
1281,0
1093,0
1472,0
1197,0
886,0
953,0
Buletin Plasma Nutfah Vol.16 No.1 Th.2010
Lahan masam, Jasinga
Proporsi hasil di lahan masam terhadap
lahan bukan masam
443,3
235,7
1024,9
628,0
863,5
386,6
450,0
647,5
600,6
794,0
511,1
755,0
947,7
518,8
829,8
917,7
618,3
922,6
720,0
620,3
548,1
638,1
337,6
477,7
903,5
318,0
130,9
873,3
729,3
448,0
735,0
569,0
487,8
436,7
780,0
433,4
960,5
320,5
309,3
575,4
526,9
749,3
437,2
29,2
51,0
86,9
66,3
81,4
36,9
32,5
48,1
45,5
78,9
42,4
57,0
97,6
44,2
57,5
79,8
80,5
72,7
77,4
70,7
61,3
60,7
28,7
35,1
62,1
28,6
10,7
55,4
84,4
35,0
62,2
51,3
49,0
37,7
49,6
36,9
63,0
25,0
28,3
39,1
44,0
84,6
45,9
47
Plasma nutfah kacang tunggak yang peka terhadap cekaman lahan masam adalah aksesi nomor
27 (Kacang Dadap) dan 38 (Kacang Tolo merah)
yang hanya menghasilkan biji berturut-turut 10%
dan 25% dibandingkan dengan hasil biji pada lahan
bukan masam (Gambar 2). Dari Gambar 2 diketahui
bahwa genotipe kacang tunggak yang menghasilkan
bobot biji yang tinggi umumnya hanya mampu
menghasilkan biji 50-60% di lahan masam. Aksesi
yang relatif toleran pada lahan masam umumnya
memiliki potensi hasil biji 1.000-1.200 kg/ha.
KESIMPULAN
1. Aksesi plasma nutfah kacang tunggak yang memiliki potensi hasil tinggi adalah TVx.294701D, TV.3381-0-2j, Lembayung A-2, dan
Kacang Tolo Putih.
2. Aksesi yang menghasilkan biji tinggi pada lahan
masam adalah LO-3-38, Ces-41-6, ICV-12C,
KT-1, KT-86, dan Kacang Tolo Putih.
3. Aksesi kacang tunggak toleran lahan masam
adalah LO-3-38, Ces-41-6, TVX-4661-01D-A,
IT82-889-A, TV.3381-0-2j-B, dan Kacang Tolo
Loreng.
4. Aksesi plasma nutfah kacang tunggak yang peka
cekaman lahan masam adalah Kacang Dadap
dan Kacang Tolo.
48
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. Cowpea. http://www2.ctahr.hawaii.edu/
sustainag/GreenManures/cowpea.asp. [10 Desember
2005].
Astuti, A.F., Nasrullah, dan S. Mitrowihardjo. 2004.
Analisis pertumbuhan tiga kultivar kacang tunggak.
Ilmu Pertanian 11(1):7-12.
Bernhardt, C.F. 1976. The Legume Food Crops. ASEAN
Grain Legumes. CRIA. Bogor.
Davis, D.W., E.A. Oelke, E.S. Oplinger, J.D. Doll, C.V.
Hanson, and D.H. Putnam. 1991. Cowpea. http://
www. hort.purdue.edu/newcrop/afcm/cowpea.html
[15 Januari 2006].
Kasno, A. dan Trustinah. 1998. Pembentukan varietas
kacang tunggak. Dalam Kasno, A. dan A. Winarto
(ed.) Kacang Tunggak. Monograf Balitkabi No. 31998:20-58.
Oroka, F.A. and A.U. Omoregie. 2007. Competition in a
rice-cowpea intercrop as affected by nitrogen
fertilizer and plant population. Sci. Agric. 64(6).
Purwani, E.Y. and B.A. S. Santoso. 1996. Dehulling
characterics and chemical compotition of Four
Cowpea (Vigna unguiculata L.) cultivars in
Indonesia. Indon. J. Trop. Agric. 7(1):18-23.
Trustinah, A. Kasno, dan Mudjiono. 2000. Adaptasi dan
stabilitas hasil galur-galur kacang tunggak. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 19(3):91-97.
Trustinah. 1998. Biologi kacang tunggak. Dalam Kasno, A.
dan A. Winarto (ed.) Kacang Tunggak. Monograf
Balitkabi No. 3-1998:1-19.
Buletin Plasma Nutfah Vol.16 No.1 Th.2010
Fly UP