...

Berkenalan dengan Surat-surat Am

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Berkenalan dengan Surat-surat Am
Surat-surat Am
DR Wenas Kalangit
Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri
22 Januari 2008
Jakarta
1
Surat-surat Ibrani dan Am
Catatan Umum
Delapan surat terakhir dalam PB disebut juga dengan nama: Surat-surat Am atau Umum.
Disebut demikian karena alamat tulisan-tulisan ini bersifat umum (terbuka). Bila
diperhatikan, sebetulnya tidak semuanya berbentuk surat. Surat Ibrani disebut surat
karena memang ada bagian salam di sana. Secara keseluruhan, surat Ibrani lebih
menyerupai khotbah atau serangkaian khotbah. Surat I Yohanes malah tidak mempunyai
bagian salam. Isinya lebih merupakan nasihat kepada orang-orang Kristen yang
disampaikan secara pribadi.
Melalui surat-surat ini, kita bisa memperoleh informasi umum tentang gereja-gereja
mula-mula.
- Ada guru-guru palsu yang kepadanya jemaat harus berhati-hati (2Pet. 2:1-3;
1Yoh. 2:18-26; 4:1,2; Yud. 3-13).
- Jemaat perlu memperhatikan kehidupan kudus (Yak. 2:14-26; 1Pet. 1:13-16; 2Pet.
1:5-11).
- Jemaat perlu hidup dalam suasana saling mengasihi (Ibr. 13:1,2; 1Yoh. 3;11-19;
2Yoh.5;6).
- Orang-orang Kristen disebut umat pilihan Allah (Ibr. 3:1; 1Pet. 2:9,10).
- Umat harus siap menderita atau mengalami pengujian iman (Ibr. 13:3; Yak. 1:12;
1Pet. 1:5-7; 3:13-17; 4:12-14).
Surat Ibrani (sekitar tahun 70 (?)).
Dulu, surat ini pernah dimasukkan ke dalam kelompok surat-surat Paulus. Tetapi
sekarang, hampir tidak ada lagi yang mendukung penelompokan seperti itu, bukan hanya
karena nama Paulus tidak tertera di sana, tetapi juga karena dalam banyak hal, surat ini
tidak mengungkapkan gagasan-gagasan yang ada dalam surat-surat Paulus. Juga, corak
bahasa Yunaninya berbeda dengan corak bahasa Yunani surat-surat Paulus.
Surat Ibrani sebetulnya lebih merupakan sebuah khotbah yang kemudian dikembangkan
dan pada bagian akhirnya ditutup dengan kesimpulan dengan mengambil bentuk surat
(13:20-25). Penulisnya membayangkan bahwa pembaca surat ini sudah lama menjadi
Kristen dan sekarang sedang diperhadapkan dengan ancaman untuk meninggalkan iman
mereka. Surat ini dirancang untuk menjawab sejumlah persoalan mendasar seputar iman
Kristen dan untuk memberitahukan pembaca tentang betapa pentingnya Yesus itu.
Dikatakan bahwa Yesus itu jauh lebih penting daripada nabi manapun atau bahkan
malaekat (1L1-14), bahkan jauh lebih besar daripada Musa dan Yosua (2:1-4:14).
Siapa penulis surat ini? Tidak bisa dipastikan. Begitu juga dengan penerima atau umat
yang mau disapa oleh surat ini. Dalam 13:24, disebut tentang ‘saudara-saudara di Italia’.
Apakah ini menunjuk kepada lokasi penetima surat? Tidak jelas. Dari 10:32-34,
diperoleh informasi bahwa sebagian penerima surat ini pernah mengalami penganiayaan
dan menjadi tontonan masyarakat umum. Bahkan harta mereka dirampas. Ada juga
penerima yang telah menjauhkan diri dari persekutuan-persekutuan ibadah. Mungkin
karena mereka merasa bahwa kedatangan Yesus kembali sebagaimana diperdengarkan
kepada mereka, belum juga menjadi kenyataan (10:25). Memperhatikan gambaran
tentang keadaan jemaat yang seperti ini, maka sejumlah pakar memperkirakan bahwa
penerima surat ini adalah orang-orang Kristen generasi kedua.
Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri
2
Susunan surat Ibrani
- Tuhan Allah telah memilih Yesus untuk memurnikan dan memperbarui dunia
(1:1-14)
Dengarkan berita yang menyelamatkan (2:1-4)
- Cara Yesus menyelamatkan umat Tuhan lebih mulia dari cara Musa (2:5-3:6)
Teguhlah pada iman dan masuklah ke tempat peristirahatan (3:7-4:13)
- Yesus adalah Imam Besar Agung (4:14-5:10)
Bertobatlah dari perbuatan-perbuatan yang membawa kematian (5:116:12).
- Pengorbanan Yesus adalah perjanjian baru (6:13-10:18)
Bersiaplah untuk Hari Tuhan (10:19-39)
- Iman adalah jalan yang berkenan kepada Allah (11:1-40)
Berlarilah dalam perlombaan iman (12:1-13:25).
Surat Yakobus (sekitar 85 M).
Sama seperti Ibrani, surat Yakobus sesungguhnya bukanlah surat, melainkan sebuah
khotbah yang ditujukan kepada orang-orang beriman yang tersebar di wilayah kekaisaran
Roma (1:1). Isi khotbahnya adalah tentang bagaimana umat Tuhan itu seharusnya hidup
dan memperlakukan orang-orang lain. Khotbah itu disampaikan dalam bentuk nasihat,
dan isinya jelas dan langsung ke tujuannya. Bagi penulis surat Yakobus, iman berarti:
perbuatan (2:14).
Tulisan ini diedarkan dengan pengantar awal yang singkat menyerupai dan
mencantumkan Yakobus sebagai penulisnya. Yakobus yang mana? Tradisi gereja
menyatakan Yakobus ini adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus, karena banyak
pengajaran dalam surat ini mirip dengan pengajaran Yesus dalam kitab-kitab Injil.
Namun, sejumlah pakar yang mencermati corak bahasa Yunani surat ini dan
berkesimpulan bahwa penulisnya adalah orang yang mengenal baik istilah-istilah Yunani
yang dipergunakan secara umum dalam kebudayaan Yunani akhir abad pertama. Dengan
begitu, menurut mereka, penulisnya adalah orang yang hidup jauh sesudah masa hidup
Yakobus saudara Yesus (Mrk. 6:3).
Surat ini dialamatkan kepada ‘keduabelas suku di perantauan’ (1:1). Maksudnya tentu
saja bukanlah 12 suku Israel, tetapi ‘orang-orang Kristen’ yang memandang diri mereka
sebagai pewaris tradisi Yahudi.
Susunan Surat Yakobus
- Mintalah hikmat Tuhan dan hiduplah dengan setia (1:1-18)
- Tunjukkan bahwa imanmu itu hidup (1:19-2:26)
- Hati-hati dalam berbicara dan jadilah bijaksana (3:1-5:6)
- Sabarlah, jadilah orang yang baik, dan tekunlah berdoa (5:7-20).
Surat I Petrus (sekitar 90 M)
Kitab ini memang berbentuk ‘surat’, dalam arti dimulai dan diakhiri dengan salam (1:1,2
dan 5:12-14). Banyak tema yang ditemukan dalam kitab-kitab PB muncul dalam surat ini.
Sama dengan kitab-kitab Injil, surat ini memberi penekanan pada pentingnya kematian
Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri
3
dan kebangkitan Yesus. Sama dengan kitab Kisah Para Rasul, surat ini menyebut tentang
pekerjaan Petrus, Silas, dan juga Markus. Surat ini mendorong orang-orang percaya
supaya meneladani Kristus, termasuk dalam hal menderita. ‘Penderitaan’ adalah salah
satu tema dalam surat-surat Paulus.
Orang-orang Kristen yang menjadi alamat surat ini sedang mengalami penganiayaan dan
penghambatan. Penulis surat mengingatkan jemaat supaya hidup secara kudus agar pihak
yang menganiaya mereka dapat melihat bahwa mereka adalah orang baik (2:11-12; 3:1416; 4:4-5).
Secara tradisional, surat ini dikaitkan dengan nama Petrus murid Yesus (1:1). Dalam
ucapan salamnya, disebut juga orang-orang yang menjadi teman Paulus, yakni: Silas dan
Markus (5:12,13 bd. Kis. 15:37-40). Namun, oleh karena bahasa Yunaninya cukup baik
dan sulit dikatakan berasal dari seorang nelayan, dan oleh karena surat ini menyebutnyebut tentang penderitaan yang hebat sekarang dan nanti, maka banyak pakar
berpendapat bahwa surat ini ditulis sesudah masa hidup Petrus.
Dalam surat ini ditemukan juga bagian dari pengakuan iman (kredo) dan himnologi yang
dipergunakan di dalam ibadah-ibadah Kristen pada zaman itu (1:20; 2:21-25; 3:18-22).
Susunan surat I Petrus
- Dipilih, dilindungi, dan diselamatkan (1:1-12)
- Kehidupan sebagai umat Allah yang kudus (1:13-3:22)
- Melayani dan menderita sampai akhir (4:1-5:14)
Surat II Petrus (sekitar 110 M).
Sama dengan I Petrus, surat II Petrus ini juga ditulis dalam bentuk surat, yakni memakai
salam di bagian awal (1:1,2). Tetapi, bila diperhatikan, tulisan ini sebetulnya
dimaksudkan sebagai sebuah pesan perpisahan, atau ‘wasiat terakhir’. Penulisnya
memberikan kata-kata (nasihat dan pengajaran) terakhir karena ia ‘meninggalkan kemah
tubuhnya’ (1:13,14).
Meskipun nasihat dan pengajaran surat ini adalah untuk masa depan (1:12-15; 3:1-13),
namun pesan yang terdapat di dalamnya juga menunjuk kepada masalah-masalah actual
yang mempengaruhi iman orang-orang Kristen.
Ini merupakan salah surat PB termuda. Banyak bahannya yang sama dengan surat Yudas.
Tampaknya, beberapa orang yang memakai surat Paulus (3:16) telah mengajar kepada
orang-orang Kristen bahwa sama sekali tidak akan ada hari penghakiman. Penulis surat
ini menggarisbawahi ajaran bahwa Kristus akan datang kembali dalam kemuliaan. Ia
menunjuk pada cerita dalam kitab-kitab Injil tentang Tuhan Yesus dimuliakan di atas
gunung (1:16-21) untuk membuktikan ajaran ini.
Penulis surat ini menyebut dirinya dengan nama ‘Petrus’ (1:1). Murid Yesus dengan
nama Petrus ada di atas gunung dalam peristiwa ‘pemuliaan Tuhan Yesus’ (1:17, lihat
Mrk. 9:2-8). Sejumlah pakar berpendapat bahwa surat ini ditulis oleh seorang ‘pengikut’
Petrus sebagai caranya membela pengajaran-pengajaran para rasul mula-mula di hadapan
para penantang mereka.
Susunan Surat II Petrus
- Berpegang teguhlah kepada kebenaran (1:1-21)
Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri
4
-
Waspadalah terhadap nabi-nabi dan guru-guru palsu (2:1-22)
Siap sedialah sebab Tuhan akan datang kembali (3:1-18).
Surat I Yohanes (sekitar 100 M).
Meskipun disebut ‘surat’, kitab I Yohanes tidak memiliki ciri-ciri sepucuk surat
(misalnya: salam). Oleh karena dalam surat ini Yesus disebut ‘Firman’ (1:1), dan karena
ada penekanan supaya orang-orang Kristen hidup saling mengasihi, maka surat ini sering
dikaitkan dengan Injil Yohanes.
Surat I Yohanes (dan juga surat-surat Yohanes lainnya) sepetinya ditulis dengan maksud
untuk mendorong para pengikut Yesus supaya tetap setia terhada kebenaran ini: Yesus,
Anak Allah, adalah benar-benar manusia dan mencurahkan darah-Nya untuk
mengampuni dosa (1:7). Ada orang yang keliru memahami dengan mengatakan bahwa
Yesus hanya tampaknya merupakan sosok manusiawi, padahal sesungguhnya Ia adalah
sosok rohani (illahi). Orang-orang ini juga mengajarkan bahwa kehidupan rohani jauh
lebih berharga dari kehidupan-kehidupan moral dan pengetahuan rohani jauh lebih
berharga dari peraturan-peraturan moral. Penulis surat ini percaya bahwa Yesus Kristus
telah datang ke dunia sebagai manusia (4:2) dan bahwa Ia benar-benar Anak Allah (2:22;
3:23)..
Penulis surat ini dipandang sama dengan penulis Injil Yohanes dan berasal dari sekitar
tahun 100M. Ketika itu, gereja mula-mula sedang bergumul seputar isu bagaimana
menjadi anak-anak Allah yang sebenarnya. Ketika itu, ada banyak agama baru yang
bermunculan. Agama-agama ini mempunyai ciri gnostisisme, yakni sebuah gerakan yang
menyatakan bahwa dunia nyata (materi) ini jahat dan dunia rohani itu baik. Kaum
gnostik yakin bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memperoleh pengetahuan
khusus yang akan membebaskan mereka dari dunia materi ini.
Penulis surat I Yohanes justru menyatakan bahwa Allah telah mencipta dunia ini dan
mengutus Yesus ke dalamnya supaya anak-anak Allah memperoleh kemenangan atas
dunia yang jahat ini.
Susunan Surat I Yohanes
- Hidup dalam terang (1:1-2:17)
- Antikris dan anak-anak Allah (2:18-3:10)
- Kasih yang berasal dari Allah (3:11-4:21)
- Iman yang mengalahkan dunia (5:1-21).
Surat II Yohanes (sekitar 100 M).
Ini adalah ‘surat’ dengan salam dan penutup. Isinya merupakan dorongan terhadap
pengikut-pengikut Kristus supaya mengasihi satu sama lain dan taat kepada kebenaran.
Selain mendorong orang-orang percaya, surat ini juga mengingatkan mereka supaya
waspada terhadap guru-guru palsu yang mengajarkan bahwa Yesus itu tidak dating ke
dalam dunia ini sebagai manusia (ay. 7). Penulis meminta supaya orang-orang percaya
tidak menerima guru-guru palsu ini di rumah mereka.
Susunan Surat II Yohanes
- Salam (1-3)
Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri
5
-
Taat kepada kebenaran dan hidup di dalam kasih (4-13).
Surat III Yohanes
Sama dengan surat II Yohanes, tulisan pendek ini juga hadir dalam bentuk surat, dalam
arti: ada salam dan penutup. Tetapi, yang satu ini ditujukan kepada seseorang yang
bernama: Gayus.
Penulis berdoa untuk dan berterima kasih kepada temannya yang bernama Gayus.
Temannya ini telah menerima baik para pengikut Tuhan yang telah mengadakan
perjalanan ke tempat di mana Gayus hidup. Mereka itu memberitakan kabar baik tentang
Yesus. Salah seorang pemimpin dalam komunitas Gayus (yang bernama: Diotrefes)
menolak para pengikut Tuhan itu. Ia juga meminta supaya teman-temannya juga menolak
mereka. Dengan begitu, Gayus didorong supaya tetap menunjukkan keramahtamahannya
dalam menyambut para pemberita yang mengadakan perjalanan.
Susunan Surat III Yohanes
- Salam (1-4)
- Tunjukkan keramahatamahan terhadap para pemberita (5-14).
Surat Yudas (waktunya tidak bisa dipastikan).
Isi surat ini adalah pernyataan singkat menentang orang yang menyesatkan orang
beriman. Penulis memakai sejumlah contoh dari Perjanjian Lama (Kitab Suci orangorang Yahudi). Ia bahkan mengutip dari 2 buku di luarnya (Asumsi Musa dan Henokh 1).
Dapat dilihat juga adanya kesamaan antara surat ini dengan surat 2 Petrus (lihat
khususnya 2 Pet. 2 dengan Yudas 4-18).
Penulis menyebut dirinya dengan nama ‘Yudas’. Siapa dia? Diduga, ia adalah seorang
pemimpin salah satu jemaat Kristen mula-mula di wilayah Palestina.
Susunan Surat Yudas
- Salam dan doa (1,2)
- Pembelaan (iman) melawan guru-guru palsu (3-25).
Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri
6
BIODATA SINGKAT
Nama: Wenas Kalangit
Pendidikan:
- Sarjana Teologi di UKIT (Tomohon), 1978
- Master Teologi di SEAGST (STT Jakarta), 1988
- Doktor Teologi di SEAGST (STT Jakarta), 1995, bidang studi PB
- Post-Graduate Studies bidang Linguistics, ANU, Canberra, 2002-2003.
Pekerjaan:
- Pendeta Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST), diteguhkan pada April
1980.
- Dosen tetap di UKIT, 1982-1998.
- Pembantu Dekan I Fakultas Teologi UKIT, 1996-1998.
- Pembina Penerjemahan di Lembaga Alkitab Indonesia, 1998 – sekarang.
- Kepala Pusat Pengkajian Alkitab LAI, 2003-2005
- Pemimpin Redaksi Jurnal Forum Biblika (2003-2005).
- Kepala Dept. Penerjemahan LAI, 2005 – sekarang.
Bogor, 1 November 2007
Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri
Fly UP