...

Bahaya gas vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Bahaya gas vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 1 No. 2 Agustus 2010: 79 - 90
Bahaya gas vulkanik
Gunung Salak, Jawa Barat
N. Euis Sutaningsih, Isa Nurnusanto, Sukarnen, dan Suryono
BPPTK, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi,
Jln. Cendana No. 15, Yogyakarta
SARI
Aktivitas Gunung Salak saat ini mengambil tempat di Kompleks Cikuluwung Putri yang terdiri dari Kawah
Ratu, Kawah Hirup, dan Kawah Paeh. Aktivitasnya yang menonjol adalah emisi gas vulkanik dengan komponen utama adalah : H2O, CO2, SO2, H2S, NH3, HCl, H2, N2, dan O2+Ar. Dalam Juli 2007 sejumlah murid
sekolah yang sedang berkemah meninggal dunia karena keracunan gas yang secara tiba-tiba meningkat
konsentrasinya melampaui ambang batas normal. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa yang menjadi
penyebabnya adalah terjadi penurunan kadar air dan kenaikan gas belerang dioksida serta gas karbon di­
oksida yang tinggi sehingga mencemari udara sekitarnya. Udara yang mengandung racun tersebut kemudian terhirup oleh peserta perkemahan. Karena kawasan ini merupakan area perkemahan, maka pemantaua­n
kimia gas vulkanik mutlak dilakukan secara menerus untuk menghindari jatuhnya korban berikutnya.
Kata kunci: Cikuluwung Putri, gas vulkanik, keracunan gas, gas belerang dioksida, gas karbon dioksida
ABSTRACT
Mt. Salak activities are currently located at the Putri Cikuluwung Complex which consists of Ratu Crater,
Hirup Crater, and Paeh Crater. The dominant activity is the emission of volcanic gases with the major
components consisting of H2O, CO2, SO2, H2S, NH3, HCl, H2, N2, and O2 + Ar. In July 2007 a group of
school students who were camping died of gas poisoning in a sudden increase its concentration exceeded
the normal threshold. Based on the research it is found that the cause is the decline of water levels and
the increase in sulfur dioxide gas and carbon dioxide gas is so high that pollute the surrounding air. Air
containing toxins are then inhaled by the participants of the camp. Cause this area is camp area, so the
chemical monitoring of volcanic gases to be conducted continuously to prevent the next casualties.
Kata kunci : Cikuluwung Putri, Volcanic gases, gas poisoning, Sulfur dioxide gas, carbon dioxide gas
Naskah diterima 3 Maret 2010, selesai direvisi 26 Juli 2010
Korespondensi, email: [email protected]
79
80
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 1 No. 2 Agustus 2010: 79 - 90
PENDAHULUAN
Gunung Salak adalah salah satu dari 7 gunung api vulkanik tipe A yang terdapat di
Jawa Barat. Gunung api ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I
(2.211 m dpl.), Salak II (2.180 m dpl.), dan
Puncak Salak III atau dikenal juga dengan
Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m
dpl. serta beberapa komplek solfatara/fumarola, salah satu komplek yang besar adalah
Cikuluwung Putri. Gunung Salak masuk
dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, puncak
tertinggi, yaitu Salak I, secara geografis berada pada 6°43' Lintang Selatan dan 106°44'
Bujur Timur. (Kusdaryanto dan Wazil Efendi,
2000), (Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3).
Hasil penyelidikan geokimia khususnya gas
vulkanik di Gunung Salak telah dipresentasikan pada kesempatan Kolokium Badan Ge-
Gambar 1. Peta lokasi Gunung Salak yang terletak di
antara Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat.
ologi, 3 - 4 Pebruari 2010 di Bandung dengan
judul “Penyelidikan Geokimia Gas Vulkanik
Kawah Cikuwulung Putri, Gunung Salak”.
Tulisan ini selain mengemukakan keberadaan
gas vulkanik yang terdapat di Gunung Salak
juga bertujuan menyampaikan potensi bahaya gas tersebut, khususnya yang terdapat di
Komplek Kawah Cikuluwung Putri (Gambar
3 dan Gambar 4). Pada kondisi tertentu emisi
gas vulkanik Gunung Salak melampaui ambang batas sehingga bersifat racun dan berbahaya bagi mahluk hidup, termasuk manusia.
Berdasarkan catatan sejarah, letusan Gunung Salak yang pertama dikenal mengambil
tempat di Salak III yang berlangsung pada
1698/1699. Aktivitas berikutnya berupa letusan freatik (letusan gas) dari titik samping
(flank eruption). Letusan yang terakhir terjadi
berlangsung pada 1938 dari Komplek Cikuluwung Putri yang berupa letusan freatik. (Neumann Van Padang, 1951).
Gambar 2. Gunung Salak saat ini menjadi Balai Taman
Nasional Halimun - Salak yang berfungsi sebagai sarana
konservasi lingkungan, dan penelitian flora dan fauna.
Foto : Koleksi PVMBG.
Bahaya Gas Vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat - N. E. Sutaningsih
Komplek Kawah Cikuluwung Putri dapat dicapai dari 2 jalur pendakian, jalur pertama
dari arah timur yaitu dari Cimelati, Cicurug
atau dari Sukamantri, Ciapus, Bogor. Jalur
lainnya dari Cidahu, Sukabumi.
Latar Belakang
Kawasan Gunung Salak adalah salah satu
tempat yang sering dikunjungi oleh para pecinta alam dan dijadikan sebagai area perke-
81
mahan dan tempat pendidikan bagi klub-klub
pencinta alam. Selain itu kawasan ini menjadi
salah satu tujuan wisata karena berbagai alasan, antara lain; terdapat Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang
mempunyai kegiatan utama berupa Wana Wisata dan sarana pendidikan konservasi lingkungan, tempat penyelidikan maupun penelitian berbagai bidang ilmu seperti flora dan
fauna.
u
Gambar 3. Sketsa Gunung Salak dilihat dari sisi barat. Tampak Komplek Cikuluwung Putri yang berada di lembah
antara Puncak Salak I dan Puncak Salak II. (Modifikasi dari Hartmann, 1951).
Gambar 4. Kompleks Kawah Cikuluwung Putri. Foto: A.R. Sumailani, 1982, Koleksi PVMBG.
82
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 1 No. 2 Agustus 2010: 79 - 90
Saat ini kegiatan vulkanik yang paling menonjol di kawasan Gunung Salak adalah di
Komplek Cikuluwung Putri. Pada dasarnya
komplek ini berupa lapangan solfatara dan
di beberapa titik terdapat bualan lumpur dan
semburan air panas (geyser).
Sebagai gunung api yang hampir seluruh
aktivitas letusannya berupa freatik, maka
peran gas vulkanik sangat menonjol. Aktivitas vulkanik utama yang paling menonjol
hing­ga saat ini berupa kepulan asap yang
menga­n­dung unsur gas gunung api. Komponen utama dari gas yang terdeteksi adalah
H2O, CO2, SO2, H2S, NH3, HCl, H2, N2, dan
O2+Ar. deng­an konsentrasi tergantung atau
dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik secara
keseluruhan. Pada kondisi tertentu gas-gas ini
sangat membahayakan lingkungan sekitarnya
bahkan dapat menyebabkan kematian.
Pada 7 Juli 2007 murid-murid SMP 67 Jakarta melakukan kunjungan wisata ke Kawasan
Gunung Salak, mereka berkemah di sekitar
Cikuluwung Putri. Ketika itu tanpa mereka
sadari terjadi peningkatan kegiatan dan kandungan gas di Kawasan Salak, khususnya
sekitar Cikuluwung Putri meningkat kemudian mencemari udara sekitarnya. Peristiwa
naas menimpa mereka, ketika mereka sedang
berkemah, enam murid tiba-tiba kejang-kejang dan tidak tertolong hingga meninggal
dunia dan empat lainnya dalam kondisi kritis.
Mereka telah menghirup udara yang telah tercemar gas beracun.
Karena Kawasan Gunung Salak beralih fungsi menjadi Taman Nasional Gunung Halimun
- Salak dan menjadi tujuan wisata gunung api
yang cukup potensial di Jawa Barat, maka
pemantauan emisi gas vulkanik terutama di
Komplek Cikuluwung Putri perlu, bahkan harus terus dilakukan. Konsentrasi gas sewaktuwaktu dapat meningkat tanpa dapat dideteksi
sebelumnya.
Metodologi
Untuk mengetahui potensi bahaya gas vulkanik Gunung Salak, BPPTK, Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,
Badan Geologi telah melakukan penyelidikan geokimia di Kawasan Gunung Salak,
khusussnya di Komplek Cikuluwung Putri.
Metodologi yang digunakan yaitu studi li­
teratur, pekerjaan lapangan dan laboratorium.
Pekerjaan lapangan antara lain dilakukan
pengamatan jenis manifestasi permukaan dan
pengukuran gas vulkanik di udara de­ngan
menggunakan detektor Gas Multiwarn II,
melakukan pengukuran suhu, dan mengambil
contoh gas di beberapa titik solfatara dengan
metode Giggenbach. Contoh gas dinalisis
secara kimia di laboratorium BPPTK, Yogyakarta dengan metode khromatografi gas,
gravimetri, titrimetri, dan spektrofotometri.
Bahaya gas vulkanik Gunung Salak
Potensi bahaya gas vulkanik di Gunung Salak
pada saat ini terutama terdapat di Komplek
Cikuluwung Putri, sering disebut dengan
Kawah Putri. Komplek ini terdiri dari Kawah
Hirup, Kawah Paeh, dan Kawah Ratu dengan
manifestasi permukaan berupa lapangan fumarola, solfatara, mata air panas (geyser), dan
bualan lumpur panas. Suhu hasil pengukuran
manivestasi permukaan di lokasi tersebut
Bahaya Gas Vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat - N. E. Sutaningsih
bervariasi dari 70°C hingga 155°C. Emisi gas
vulkanik yang terdapat di lapangan solfatara/
fumarola terjadi secara terus menerus, baik
pada saat kondisi aktif normal maupun pada
saat meningkat.
Komponen utama dari gas gunung api adalah:
H2O, CO2, SO2, H2S, HCl, dan H2. Komposisi kimia gas vulkanik dapat menyediakan
informasi kimia yang penting dari aktivitas
yang terjadi pada suatu gunungapi, dan dapat
dipakai untuk mengevaluasi lingkungan sekitarnya baik di lingkungan area vulkanik, geothermal maupun di tempat pemukiman penduduk atau di lokasi pariwisata. Komposisi
gas vulkanik sangat bervariasi yang antara
lain merupakan fungsi dari suhu, tekanan,
dan keseimbangan antara fase padat, cair dan
gas yang terjadi dalam sumbernya (kantong
magma). Gas di dalam magma mempunyai
viskositas yang sangat rendah dan ekspansi­
nya yang besar menyebabkan gas bergerak ke
atas jauh lebih cepat dibandingkan fase lainnya, sehingga gas vulkanik dapat digunakan
sebagai salah satu parameter dalam pemantauan aktivitas suatu gunungapi.
Untuk mengetahui potensi bahaya gas vulkanik Gunung Salak pertama harus meng­
etahui sifat-sifat gas secara umum kemudian
dihubungkan dengan jenis gas yang terdapat
dalam solfatara dan yang dikeluarkan dari
suatu gunungapi.
Gas vulkanik biasanya terdiri dari H2O, CO2,
SO2, H2S, HCl, dan N2 dengan konsentrasi yang semakin menurun. Adanya perubahan konsentrasi dari masing-masing gas sa­­­­­­
­
ng­at­­ dipengaruhi oleh suhu dan tekanan atau
83
tingkat aktivitas vulkanik yang sedang terjadi. (Tazieff H. dan Sabroux, 1983).
Gas karbon dioksida (CO2) adalah gas tidak berwarna, tak berbau, tak terbakar, tidak
reaktif dan mempunyai berat jenis 1,53. Pada
konsentrasi rendah tidak bersifat racun, tetapi konsentrasi antara 3 - 5 % mengaktifkan
saluran pernafasan, dan sakit kepala. Pada
konsentrasi antara 8 – 15 % menimbulkan
sakit kepala, pening, muntah-muntah, bahkan
dapat mengakibatkan meninggal bila korban
tidak mendapat cukup oksigen. Konsentrasi
yang lebih tinggi secara cepat menyebabkan
koma dan kematian. Konsentrasi maksimum
di udara yang diizinkan sebesar 5.000 ppm
CO2. Di udara normal konsentrasinya 0,03
%. Pada tanaman CO2 dibutuhkan untuk fotosintesis (Tazieff H. dan Sabroux, 1983).
Gas belerang dioksida (SO2) adalah gas tidak berwarna, bersifat asam, sangat meng­
iritasi alat penciuman, berat jenis 2,26, tidak mudah terbakar, tidak eksplosif, dan
relatif stabil. Ambang batas penciuman 3
ppm. Sangat mengiritasi mata, tenggorokan
dan saluran pernafasan, dapat menimbulkan
pembengkak­an celah suara, dan menyebabkan penyakit paru-paru kritis. Konsentrasi
20 ppm menyebabkan batuk dan iritasi pada
mata. Konsentrasi maksimum yang diizinkan
oleh ahli kesehatan 5 ppm. Terhadap tanaman
sangat beracun, konsentrasi 0,3 ppm selama 8
jam menyebabkan kematian daun. Gas SO2 di
udara dengan adanya uap air segera bereaksi
membentuk asam sulfat, pembentukan asam
sulfat dikatalisir oleh adanya partikel padat
yang terdapat dalam atmosfir (Tazieff H. dan
Sabroux, 1983).
84
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 1 No. 2 Agustus 2010: 79 - 90
Gas hydrogen sulfida (H2S) adalah gas tidak berwarna, berbau telur busuk, berat jenis 1,19, beracun, dapat terbakar dan dengan udara dapat membentuk campuran yang
eksplosif. Pengaruhnya pada manusia dengan
konsentrasi rendah mengiritasi mata dan saluran pernafasan. Apabila konsentrasi mencapai 150 ppm dapat menyebabkan kehilangan
rasa penciuman, sedangkan konsentrasi 1000
ppm menimbulkan rasa sakit dan menyerang
pusat pernafasan. Nilai konsentrasi maksimum yang diizinkan oleh ahli kesehatan
sebesar 10 ppm, pada tanaman dalam tingkat
konsentrasi 1 – 5 ppm menghambat respirasi
dan fotosintesis.
pai dengan 155°C, Kawah Paeh antara 50 –
99 °C, dan Kawah Hirup antara 77°C sampai
dengan 95°C.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Koperasi RI, Nomor
Kep. 1026/Men/1976, menetapkan bahwa
nilai ambang batas udara dalam tempat kerja
untuk CO2 adalah 5000 ppm (0,05 %vol), SO2
sebesar 5 ppm, dan H2S sebesar 20 ppm.
Pembahasan
Hasil Penelitian
Secara morfologi Komplek Kawah Cikuwulung terletak pada ketinggian antara 1300
-1500 m dpl. di lereng barat-baratdaya Gunung Salak. Dalam komplek ini terdapat
Kawah Ratu, Kawah Hirup, dan Kawah
Paeh (Gambar 5) (Kusdaryanto drr., 2000)
dan merupakan bagian dari Kawasan Taman
Wisata Gunung Halimun–Salak. Manifestasi
permukaan yang ditemui adalah lapangan solfatara, fumarola, mata air panas, dan bualan
lumpur panas yang keluar dari celah bebatuan
(Gambar 6).
Suhu solfatara Kawah Ratu antara 93°C sam-
Pengambilan contoh gas dilakukan untuk
pertama kalinya pada Mei 2003. Kali kedua
dilakukan pada Juli 2007, kemudian secara
berurut-turut pada Mei 2009 dan Agustus
2009. Hasil analisis gas yang dilakukan di
laboratorium disajikan dalam Tabel 1.
Kondisi udara di sekitar Komplek Kawah
Cikuluwung Putri pada 13 Juli 2007 yang di­
ukur dengan “Drager Multiwarm II” seperti
yang tersaji dalam Tabel 2.
Komposisi kimia gas di Komplek Cikuluwung Putri terdiri dari H2O berkisar dari 78
– 96 % mol, diikuti oleh CO2, SO2, H2S, dan
lain-lain dengan konsentrasi yang semakin
berkurang. Dari data-data hasil analisis terhadap beberapa contoh yang diambil pada
lokasi yang berbeda pada waktu yang sama
memberikan komposisi kimia yang relatif
sama, kondisi ini menunjukkan bahwa gas
solfatara di Kawah Ratu, Hirup dan Kawah
Paeh berasal dari sumber yang sama.
Solfatara Komplek Cikuluwung Putri pada
kondisi aktif normal mempunyai kandungan
gas H2O diatas 90 % mol, kemudian diikuti
oleh CO2, SO2, H2S dan lainnya. Pada Juli
2007, kandungan H2O turun menjadi 78,31
% mol sedangkan konsentrasi SO2 dan CO2
naik masing-masing mencapai 12,28 % mol
dan 9,30 % mol. Kadar H2O dalam gas solfatara Cikuluwung Putri turun karena kelarutan
Bahaya Gas Vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat - N. E. Sutaningsih
Gambar 5. Komplek Kawah Cikuluwung Putri dimana tardapat solfatara Kawah Hirup,
Paeh dan Kawah Ratu. Foto: Karnaen, BPPTK, 2007.
Gambar 6. Mata air panas (geyser) yang mengalir dalam Sungai Cikuluwung.
Foto: Suryono, BPPTK, 2007.
85
86
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 1 No. 2 Agustus 2010: 79 - 90
Tabel 1. Komposisi Kimia Gas Solfatara Cikuluwung Putri, Gunung Salak (% mol)
pada titik tetap)
Unsur
Mei 2003
Juli 2007
Mei 2009
Agustus 2009
H2
0,04
0,004
0,06
0,07
O2 + Ar
0,00
0,005
0,023
0,005
N2
0,05
0,001
0,077
0,075
CH4
4,41E-04
0,00
0,00
0,19
CO2
3,21
9,30
4,397
8,03
SO2
0,00
12,28
0,09
0,88
H2S
0,54
0,00
0,523
0,355
HCl
0,06
0,013
0,067
0,065
NH3
0,00
0,06
0,677
1,60
H2O
96,09
78,31
94,083
88,735
Gambar 7. Bualan lumpur panas yang terdapat di Kawah Paeh.
Foto: Suryono, 2007, BPPTK.
Tabel 2. Konsentrasi Gas Vulkanik di Udara Sekitar Komplek Cikuluwung Putri, 13 Juli 2007 Menggunakan Detektor Gas Multiwarn II
Lokasi
pengambilan
contoh
Kw. Ratu
1 m di atas
solfatara
1 m di atas aliran Kw. Ratu
1 m diatas aliran mendidih
Jalur Wanawisata Cangkuang
– G. Bunder
7,86
-
-
-
-
CH4 (ppm)
23
-
-
-
-
SO2 (ppm)
Over
Over
20
Over
Over
H2S (ppm)
Over
38
3
Over
Over
CO (ppm)
220
0
0
0
0
Unsur Gas
(satuan)
CO2 (% Vol)
Bahaya Gas Vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat - N. E. Sutaningsih
H2O dalam magma bertambah dengan naik­
nya tekanan, reaksi yang terjadi adalah :
H2O (uap)
H2O (cair)
Reaksi keseimbangan bergeser ke kanan akibatnya volume uap air dalam gas turun, sehingga kadar H2O dalam gas turun.
Pada Juli 2007 konsentrasi SO2 melebihi kadar CO2 dan tidak mengandung H2S. Pelepasan senyawa volatil sulfur dalam gas gunung
api dipengaruhi oleh reaksi-reaksi yang terjadi di dalam tubuh gunung api berupa suhu,
tekanan, maupun keberadaan senyawa-senyawa gas lainnya. Dalam gas gunung api,
belerang terdapat dalam bentuk SO2, H2S,
maupun uap belerang (S) yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh suhu, fugasitas
oksigen dan adanya unsur/senyawa lain yang
dapat menjadi katalisator terjadinya reaksi.
Reaksi SO2 menjadi S adalah:
SO2 (gas) + O 2- (magma)
S2- (magma) +
3/2 O2 (gas)
(Rau H., Kutty T.R.N. dan Guedes De Carvalho J.R.F., 1973).
Bertambahnya fugasitas oksigen dalam magma akan mendorong pelepasan SO2. Dalam
kondisi ini reaksi bergeser ke kiri yang disebabkan dengan naiknya fugasitas oksigen
kelarutan belerang dalam magma berkurang
sehingga S banyak terdapat sebagai SO2 (Rau
H., Kutty T.R.N. dan Guedes De Carvalho
J.R.F., 1973). Rasio keseimbangan volatil
sulfur dalam gelembung-gelembung gas (di
dalam magma) diatur, baik oleh fugasitas oksigen maupun tekanan air. Kondisi tersebut
87
menurut reaksi :
SO2 + H2O
H2S + 3/2 O2
(Rau H., Kutty T.R.N. dan Guedes De Carvalho J.R.F., 1973).
Rasio SO2/H2S naik dengan turunnya tekanan
air dan bertambah dengan fugasitas oksigen.
Pengurangan tekanan di kedalaman akan menyebabkan keseimbangan bergerak ke arah
kiri sehingga gas SO2 dilepaskan.
Gas solfatara dari Cikuluwung Putri sebagian besar dilepaskan ke udara terbawa oleh
angin dan penyebarannya sangat dipengaruhi
oleh arah angin dan turbulensi udara. Dari
pengukuran konsentrasi gas CO2, SO2, H2S,
CO, dan CH4 dengan alat detector gas Drager
Multiwarn yang dilakukan pada 13 Juli 2007
diperoleh hasil yang mencengangkan (Tabel
2). Konsentrasi gas vulkanik dalam udara
sekitar solfatara sangat bervariasi, terutama
SO2 berada pada tingkat yang sangat membahayakan yaitu di atas 20 ppm (over). Konsentrasi SO2 yang diperbolehkan terdapat
dalam udara sebesar 2 ppm. Konsentrasi gas
SO2 yang mencapai nilai di atas ambang batas dalam udara terdapat di beberapa lokasi,
antara lain sepanjang jalan Jalur Wanawisata
Cangkuang – G. Bunder. Udara yang tercemar seperti inilah yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa 6 orang murid yang sedang
berlibur. Demikian pula dengan konsentrasi
gas H2S dalam udara pada beberapa lokasi
juga mempunyai konsentrasi di atas 100 ppm
(over). Hal ini juga berlaku untuk gas CO2.
Pada kondisi udara normal konsentrasinya
hanya 0,03 % vol, tetapi pada 13 Juli 2007
88
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 1 No. 2 Agustus 2010: 79 - 90
Gambar 8. Grafik perubahan komposisi kimia gas total, Kawah Cikuluwung Putri, Gunung Salak
dari tahun 2003 – 2009 (% mol).
Gambar 9. Grafik perubahan komposisi kimia gas kering, Kawah Cikuluwung Putri, Gunung
Salak dari tahun 2003 – 2009 (% mol).
Bahaya Gas Vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat - N. E. Sutaningsih
konsentrasi di Kawah Ratu mencapai 7,86 %
vol. Tragedi 7 Juli 2007 di Komplek Kawah
Cikuluwung Putri disebabkan oleh karena
korban menghirup udara kawah yang sudah
tercemar oleh gas vulkanik berupa gas CO2,
SO2 maupun H2S dengan konsentrasi yang
melampaui ambang batas, jauh melebihi
konsentrasi maksimum yang diperbolehkan
untuk mahluk hidup sehingga menyebabkan
kematian.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Peningkatan aktivitas Kawah Cikuluwung
Putri, Gunung Salak ditunjukkan dengan
adanya penurunan kadar air dan kenaikan
gas belerang dioksida serta gas karbon di­
oksida yang tinggi.
2. Udara bebas di sekitar Kawah Cikuluwung
Putri sangat dipengaruhi oleh komposisi dan konsentrasi gas solfatara yang di­
emisikan dari Kawah Ratu, Kawah Hirup
dan Kawah Paeh. Kondisi tersebut dapat
berubah setiap saat tergantung emisi gas
solfatara dan kondisi cuaca di lokasi tersebut.
3. Pemantauan kimia gas vulkanik di Kawasan Gunung Salak, khususnya di Komplek Kawah Cikuluwung Putri perlu dilakukan secara menerus karena lokasi
tersebut adalah bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang ramai
didatangi pengunjung.
4. Apabila terdeteksi gejala konsentrasi gas
meningkat, sebaiknya lokasi perkemahan
ditutup terutama pada malam hari karena
kepekatan gas akan meningkat.
89
Ucapan terima kasih
Kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan
Gunung api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi, atas izin yang diberikan
untuk menggunakan fasilitas yang ada di Pos
Pengamatan Gunung Api (Pos PGA) Gunung
Salak.
2. Para Pengamat Gunung Api, Gunung Salak
yang telah membantu kami selama penelitian
berlangsung baik di Pos PGA, maupun di lapangan.
3. Kepala Balai Taman Nasional Gunung SalakHalimun beserta staf yang telah memberikan
izin bekerja di dalam Kawasan TNGHS.
4. Semua pihak yang telah membantu sehingga tulisan ini dapat diterbitkan.
ACUAN
Giggenbach, W.F., 1975, A Simple Method for
Collecting and Analysis of Volcanic Gas Sample,
Chemistry Division, Department of Scientific and
Industrial Research, Wellington, New Zealand.
Giggenbach, W.F., at al, 1996, Chemical Composition of Volcanic Gases, in Monitoring and
Mitigation of Volcanic Hazards, Springer Verlag,
Berlin Heidelberg.
Giggenbach, W.F., at al, 2001, Evaluation of Results from The Fourth and Fifth IAVCEI Field
Workshop on Volcanic Gases, Vulcano Island,
Italy and Java, Indonesia, Journal of Volcanology
and Geothermal Research 108 (2001), hal. 157172.
John Glyn Williams and Hazer Rymer, 2000, Hazards of Volcanic Gases, Encyclopedia of Volcanoes, Florida.
Kusdaryanto dan Wazil Efendi, 2000, Pemetaan
Geomorfologi Gunung Salak
90
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 1 No. 2 Agustus 2010: 79 - 90
M. Neumann Van Padang, 1951, Cataloque of the
Active Volcanoes of the world, Including Solfatara Field, Part I Indonesia. International Volcanological Association, Via Tasso 199, Napoli, Italia,
hal. 70 – 71.
Rau H., Kutty T.R.N. and Guedes De Carvalho
J.R.F., 1973, “Thermodynamics of Sulfur Vapor”,
J. Chem. Thermodynamics 5, h. 833-844.
Sukarnen, 2007, Laporan Penyelidikan Semburan
Gas di Kawah Ratu, Gunung Salak, Jawa Barat,
BPPTK, Yogyakarta
Tazieff H., Sabroux, J.C., 1983, Forcasting Volcanic Events, Chapter 29, Elseivier, AmsterdamOxford, New York, Tokyo.
Fly UP