...

Komunitas Muslim di Taiwan Merasakan Kehangatan Rumah

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Komunitas Muslim di Taiwan Merasakan Kehangatan Rumah
2015/12/10
Rumah
Komunitas Muslim di Taiwan Merasakan Kehangatan
Muslim semakin sering hadir di beberapa berita utama dunia, seringkali
dikaitkan dengan segelintir penjahat jika dibandingkan 1.57 milyar
total penganutnya. Ketika komunitas Muslim memiliki pergolakan hubungan
dengan beberapa negara, baik dengan mayoritas ataupun minoritas Muslim,
Muslim di Taiwan merasakan kehangatan seperti di rumah.
Islam pertama kali datang ke Taiwan pada abad ke 17. Islam dibawa oleh
pejuang dari daratan Cina yang mengusir Belanda dari pulau ini. Tanpa
sengaja mereka berintegrasi dengan budaya dan agama di Taiwan, terlihat
dari beberapa peninggalan, seperti kuburan Islam yang dilindungi oleh
keluarga atau salinan Al-Quran yang disimpan di kuil doa leluhur.
Islam kembali ke Taiwan ketika pemerintah Republik Nasionalis Cina
direlokasi pada tahun 1949, sekitar 20.000 Muslim datang pada saat itu.
Islam mewakili sebagian kecil agama dan kepercayaan di Taiwan,
terhitung hanya sekitar 0.1% dari total 23 juta populasi di Taiwan.
Perhitungan ini tidak termasuk 200.000 imigran Muslim dari Indonesia.
Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya juga turut berkontribusi
bersama dengan para imigran lainnya.
Sebagian besar Muslim di Taiwan adalah Muslim Sunni dari Sekolah
Hanafi. Mereka tidak pernah bertikai dengan sekte yang berbeda di
Taiwan. Mereka tidak memfokuskan diri pada sekte tertentu di Islam dan
lebih memandang persaudaraan yang lebih luas.
Ada 6 masjid umum yang terdaftar di Taiwan dan 2 masjid yang merupakan
masjid pribadi. Terletak di samping Taman Da’an, Masjid Agung
Taipei merupakan yang terbesar di Taiwan. Masjid ini dibangun pada
tahun 1960 dan didesain oleh Yang Cho-cheng, arsitek dari Grand Hotel
Taipei, Chiang Kai-shek Memorial Hall, Teater Nasional dan Arena
Konser.
Jeff Tsai, humas dari Masjid Agung Taipei mengatakan, hanya sedikit
diskriminasi yang dialami umat Muslim di Taiwan, meskipun banyak
perbedaan budaya yang dapat membuat stress. Tidak mudah menemukan halhal yang halal, mengingat daging babi bebas di Taiwan dan karena
minoritas, sulit menemukan area untuk melaksanakan ibadah harian,
terutama pada hari Jumat.
Bagi Muslim Taiwan, memadukan kepercayaan mereka dengan tradisi
merupakan hal yang bersifat pribadi. Akan terlihat aneh jika tidak
membakar persembahan bagi leluhur dengan seluruh keluarga. Tsai
menambahkan, “Saya tidak tertekan, saya hanya merasa hidup di
ruang dan waktu paralel dengan mereka”.
Ia menjelaskan, sebagian besar orang Taiwan memahami Islam secara
terbatas, mereka tahu Muslim tidak makan daging babi dan tidak minum
alkohol, tetapi tidak tahu alasannya. Mereka penasaran, dan ia percaya
meskipun kaum radikal melakukan sesuatu di Taiwan, masyarakat Taiwan
akan mencari tahu kebenarannya.
Berjalan menyusuri masjid yang penuh dengan berbagai budaya, tampak
wajah-wajah warganegara Taiwan, Indonesia, Pakistan, Timur Tengah
(umumnya Turki dan Persia), dan Afrika. Banyak pihak berbicara mengenai
hangatnya Taiwan dan bagaimana mereka dapat beribadah dengan bebas
sesuai diri mereka masing-masing.
Orang-orang di masjid sangat bersahabat dan terbuka untuk membagi
pengalaman agama mereka. Sebagai tambahan, masjid juga melakukan dialog
antar agama, seperti berdialog dengan para penganut Gereja Katolik yang
berbeda satu blok letaknya agar lebihi memahami satu sama lain.
Fly UP