...

PERUBAHAN AGENDA ACARA KONGRES HMI KE

by user

on
Category: Documents
32

views

Report

Comments

Transcript

PERUBAHAN AGENDA ACARA KONGRES HMI KE
PERUBAHAN AGENDA ACARA KONGRES HMI KE- XXVII
HARI/
TANGGAL
Jum’at, 5
November
2010
Sabtu, 6
November
2010
Minggu, 7
November
2010
WAKTU
08.00
18.00
20.00
22.00
22.00
23.30
07.00
09.00
–
–
–
–
AGENDA ACARA
Registrasi
Ramah-tamah (Welcome Dinner)
Pertemuan Ketua-Ketua Delegasi Kongres
XXVII
Checking Peserta
09.00 –
12.30
Pembukaan Kongres XXVII HMI
1. Pembukaan
2. Pembacaan Ayat Suci Al Quran
3. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan
Hymne HMI
4. Pagelaran Seni
5. Laporan Ketua Panasko XXVII HMI
6. Sambutan-sambutan
 Ketua Umum PB HMI
 Gubernur Jawa Barat
 Presiden Republik Indonesia
Sekaligus Membuka Kongres
XXVII HMI
7. Pagelaran Seni
8. Pembacaan Do’a
12.30 –
14.00
14.00 –
16.30
SHOLAT, ISTIRAHAT DAN MAKAN
 Stadium General
”Sinergi HMI untuk Indonesia yang
Bermartabat”
Oleh: Prof. BJ. Habibie
16.30 –
20.00
SHOLAT, ISTIRAHAT DAN MAKAN
13.00 –
17.00
SIDANG PLENO I
1. Absensi Peserta
2. Pengesahan Agenda Acara dan Tata
Tertib Kongres XXVII HMI
3. Pemilihan Presidium Sidang XXVII HMI
17.00 –
20.00
SHOLAT DAN ISTIRAHAT
Minggu
7 November
2010
20.00 –
24.00
Sidang Pleno II
1. Laporan Pertanggung Jawaban PB HMI
2. Pembacaan Hasil Pengawasan MPK
3. Pandangan Umum Ketua-Ketua Delegasi
Terhadap LPJ PB HMI
Senin, 8
November
08.00 –
24.00
Lanjutan Sidang Pleno II
1. Pandangan Umum Ketua-Ketua Delegasi
KET.
terhadap LPJ PB HMI
2. Tanggapan PB HMI atas Pandangan
Umum Ketua-ketua Delegasi
3. Pernyataan Demisioner PB HMI 2008 –
2010
24.00 –
08.00
SHOLAT, ISTIRAHAT DAN MAKAN
08.00 –
17.30
Sidang Pleno III
Sidang - sidang Komisi
1. Pembahasan dan Penetapan AD/ART
HMI
2010
17.30 –
20.00
20.00 –
24.00
Selasa, 9
November
2010
2.
Pembahasan dan Penetapan PedomanPedoman Organisasi, Lembaga
Pengembangan Profesi, dan Pedoman
Kerja Nasional (PKN)
3.
Rekomendasi Kongres XXVII HMI
Istrahat, Sholat dan Makan
Lanjutan sidang pleno III
Rabu, 10
November
2010
24.00 –
08.00
SHOLAT DAN ISTIRAHAT
08.00 –
12.00
Sidang Pleno IV
1. Pembahasan Tata Tertib Pemilihan
Formateur/Ketua Umum PB HMI 2010 2012
2. Pembahasan Tata Tertib Pemilihan Mide
Formateur PB HMI 2010-2012
3. Pemilihan Formateur/Ketua
Umum PB HMI 2010-2012
a. Pencalonan Formatur/Ketum PB HMI
2010-2012
b. Uji Kriteria calon Ketum
c. Pemilihan Formateur/Ketua Umum
periode 2010-2012
12.00 –
13.00
13.00 –
17.30
17.30 –
20.00
20.00 –
24.00
Istrahat, Sholat, Makan
Pemilihan Mide Formateur
PB HMI 2010-2012
Istrahat, Sholat, Makan
a. Pencalonan Mide Formatur PB HMI
2010-2012
b. Uji Kreteria Calon Mide Formateur PB
HMI 2010-2012
c. Pemilihan Mide formateur PB HMI 20102012
 Stadium General
”Demokrasi dan Kepemimpinan Politik”
Oleh: Dr. Akbar Tandjung
Kamis, 11
November
2010
00.00 –
08.00
SHOLAT, ISTIRAHAT DAN MAKAN
08.00 –
17.00
Sidang Pleno V
1. Pembahasan Tata Tertib Pemilihan
Majelis Pengawas dan Konsultasi
Himpunan Mahasiswa Islam (MPK HMI)
2010-2012
2. Pembahasan Tata tertib Pemilihan Calon
Tuan rumah Kongres XXVIII HMI
3. Pemilihan MPK HMI 2010 – 2012
4. Penetapan Nama-Nama Cabang Calon
Tuan Rumah Kongres XXVIII
5. Pengesahan pembentukan dan
pembubaran Badan koordinasi (Badko)
6. Penyerahan Hasil-hasil Ketetapan
Kongres XXVII HMI Kepada ketua
Umum/Formateur PB HMI 2010-2012
17.00 –
20.00
SHOLAT DAN ISTIRAHAT
20.00 –
21.30
Penutupan Kongres XXVII HMI
1. Pembukaan
2. Pembacaan Ayat Suci Al Quran
3. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan
Hymne HMI
4. Laporan Ketua Panasko XXVII HMI
5. Sambutan-sambutan

Ketua Umum Demisioner PB HMI
2008 -2010

Formateur/Ketua Umum PB HMI
Terpilih 2010 -2012
 Gubernur Jawa Barat

MENEGPORA RI Sekaligus
Menutup Kongres XXVII HMI
6. Pembacaan Do’a
7. Penutupan
TATA TERTIB KONGRES XXVII HMI
a.
Nama
Kongres HMI XXVII Himpunan Mahasiswa Islam
b.
Waktu dan Tempat
Kongres HMI XXVII dilaksanakan pada tanggal 6 November 2010 sampai
dengan tanggal 11 November 2010, bertempat di Graha Insan Cita,
Depok
c.
Status
1.
Kongres merupakan Musyawarah Cabang-Cabang
2.
Kongres Memegang Kekuasaan tertinggi Organisasi
3.
Kongres diadakan 2 (dua) tahun sekali
d.
Kekuasaan
1.
Membahas Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Besar
Himpunan Mahasiswa Islam
2.
Menetapkan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan GBHO
beserta penjabarannya
3.
Memilih Pengurus Besar dengan jalan memilih Ketua Umum yang
sekaligus merangkap sebagai formateur dan 2 orang mide
formateur.
4.
Memilih dan menetapkan anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi
(MPK) PB HMI
5.
Menetapkan calon-calon tempat penyelenggaraan kongres HMI
berikutnya
6.
Menetapkan Rekomendasi Internal dan Eksternal
7.
Menetapkan dan Mengesahkan Pengesahan dan Pembubaran
BADKO HMI
e.
Peserta
1.
Peserta Kongres terdiri dari Pengurus Besar, Utusan dan Peninjau
Pengurus
Cabang,
Kohati
PB
HMI,
Bakornas
Lembaga
Pengembangan Profesi PB HMI, Bakornas BPL, BALITBANG PB HMI,
BADKO HMI dan Anggota MPK
2.
BADKO HMI, KOHATI PB HMI, Bakornas Lembaga Kekaryaan,
Bakornas LPL, Anggota MPK dan Cabang Persiapan merupakan
Peserta Peninjau
3.
Peserta Utusan adalah Cabang Penuh yang mempunyai Hak suara
dan Hak bicara sedangkan peserta peninjau mempunyai hak bicara
f.
Sidang-Sidang
1.
Sidang Pleno
2.
Sidang Komisi
g.
Pimpinan Sidang
1.
Steering Committee sampai terpilihnya pimpinan sidang yang baru
yang berbentuk presidium
2.
Presidium Sidang yang dipilih dari peserta utusan atau peninjau
oleh peserta utusan, dengan ketentuan sebanyak 7 orang, yang
masing-masing dipilih dari peserta Kongres
h.
Tugas-Tugas Pimpinan Sidang
1.
Steering Committee
 Memimpin Sidang Pleno Kongres HMI sampai terpilihnya
Presidium Sidang
 Membantu tugas-tugas Presidium Sidang dan Pimpinan Sidang
Komisi
 Menyiapkan Draft ketetapan-ketetapan/ Konsideran Kongres HMI
 Mengarahkan jalannya persidangan selama Kongres HMI
2.
Presidium Sidang
 Memimpin Sidang Pleno Kongres HMI
 Membantu tugas-tugas pimpinan sidang komisi
3.
Pimpinan Sidang Komisi
 Memimpin Sidang Komisi
i.
Keputusan
1.
Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat
2.
Bila point 1 (satu) tidak tercapai, maka keputusan diambil
berdasarkan suara terbanyak atau voting
j.
Quorum
1.
Kongres dapat dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih ½ + 1
separuh jumlah utusan (cabang penuh)
2.
Bila Point 1 (satu) tidak terpenuhi maka sidang Kongres diundur
selama 1 x 60 menit dan setelah itu dinyatakan sah
k.
Penutup
Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan Tata Tertib ini akan diatur
kemudian berdasarkan musyawarah dan mufakat
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 01/K-27/11/1431
TENTANG
AGENDA ACARA DAN TATA TERTIB
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Untuk Kelancaran dan ketertiban mekanisme
Kongres XXVII HMI, maka dipandang perlu untuk
menetapkan Agenda Acara dan Tata Tertib
Kongres XXVII HMI
MENGINGAT
: 1. Pasal 12 Anggaran Dasar
2. Pasal 11, 12 dan 13 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno I Kongres HMI ke27
pada tanggal 30 Dzulqaidah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 07 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Agenda acara dan Tata Tertib Kongres XXVII
HMI sebagaimana terlampir
2. Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 30 Dzulqaidah 1431 H
07 November 2010 M
Waktu
: 15.10 WIB
STEERING COMMITTEE
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
ANDI MUH. ILHAM
KOORDINATOR
AGUS MARIYANTO
ANGGOTA
M. ZAKIRSANI
ANGGOTA
AHMAD NASIR SIREGAR M SYAHRIL WASAHUA
ANGGOTA
ANGGOTA
MUZAKIR
ANGGOTA
ZAINAL A LATAR
ANGGOTA
A. SUKMONO KUMBA
ANGGOTA
RAHMAT FIKRI
ANGGOTA
ARIF BUDIMAN
ANGGOTA
M. RIVAI MALAWAT SUARDI HERIK
ANGGOTA
ANGGOTA
SUKRI SM
ANGGOTA
BAMBANG M. FAJAR DEWITA H. SHINTA
ANGGOTA
ANGGOTA
KRISTIAWANTO
ANGGOTA
OKA ADITYA
ANGGOTA
ARI JUNIARMAN
ANGGOTA
A. SAHAL MAEMUN KHAIRUL AMRI
ANGGOTA
ANGGOTA
JUBIR DARSUN
ANGGOTA
BASRI DODO
ANGGOTA
DIAN HADIANA
ANGGOTA
M. ARBAYANTO
ANGGOTA
DWI JULIAN
ANGGOTA
TEGUH WIYONO
ANGGOTA
DODI IRAWAN
ANGGOTA
REYNOLD
ANGGOTA
RUSDI HIDAYAT
ANGGOTA
M. MAKMUM
ANGGOTA
MALIK MUSTHAFA
ANGGOTA
ERI MOCH. AR-ROFFI
ANGGOTA
ANDI ALFIAN Z
ANGGOTA
SYAMSIR
ANGGOTA
M. IZTAZKIYAH
ANGGOTA
M. ERPANDI DALIMUNTHE
ANGGOTA
M. FIRDAUSI B
ANGGOTA
RIJAL AKBAR T
ANGGOTA
RIDWAN L. BONA
ANGGOTA
RIZKI W. IDRIS
ANGGOTA
MARDAN M
ANGGOTA
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 02/K-27/11/1431
TENTANG
PRESIDIUM SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Untuk Kelancaran dan ketertiban mekanisme
Kongres XXVII HMI, maka dipandang perlu untuk
menetapkan Presidium Sidang Kongres XXVII HMI
MENGINGAT
: 1. Pasal 12 Anggaran Dasar
2. Pasal 11, 12 dan 13 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno I Kongres HMI ke27
pada tanggal 30 Dzulqaidah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 07 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Presidium Sidang Kongres HMI ke-27
terdiri dari :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
yang
Sudin Tamalene
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Mulyadi
Ahmad Ilfa HM
Agus Marianto
Riana
2. Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 30 Dzulqaidah 1431 H
07 November 2010 M
Waktu
: 17.30 WIB
STEERING COMMITTEE
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
ANDI MUH. ILHAM
KOORDINATOR
AGUS MARIYANTO
ANGGOTA
M. ZAKIRSANI
ANGGOTA
AHMAD NASIR SIREGAR M SYAHRIL WASAHUA MUZAKIR
ANGGOTA
ANGGOTA
ANGGOTA
ZAINAL A LATAR
ANGGOTA
A. SUKMONO KUMBA RAHMAT FIKRI
ANGGOTA
ANGGOTA
ARIF BUDIMAN
ANGGOTA
M. RIVAI MALAWAT
ANGGOTA
SUARDI HERIK
SUKRI SM
ANGGOTA
BAMBANG M. FAJAR
ANGGOTA
DEWITA H. SHINTA
ANGGOTA
KRISTIAWANTO
ANGGOTA
OKA ADITYA
M. FIRDAUSI B
ARI JUNIARMAN
ANGGOTA
A. SAHAL MAEMUN KHAIRUL AMRI
ANGGOTA
ANGGOTA
JUBIR DARSUN
ANGGOTA
BASRI DODO
ANGGOTA
M. ARBAYANTO
ANGGOTA
DWI JULIAN
ANGGOTA
DODI IRAWAN
REYNOLD
ANGGOTA
ANGGOTA
RIJAL AKBAR T
ANGGOTA
RUSDI HIDAYAT
ANGGOTA
M. MAKMUM
ANGGOTA
RIDWAN L. BONA
ANGGOTA
MALIK MUSTHAFA
ERI MOCH. AR-ROFFI RIZKI W. IDRIS
ANGGOTA
ANGGOTA
ANDI ALFIAN Z
ANGGOTA
SYAMSIR
ANGGOTA
M. IZTAZKIYAH
ANGGOTA
M. ERPANDI DALIMUNTHE
ANGGOTA
ANGGOTA
ANGGOTA
ANGGOTA
DIAN HADIANA
ANGGOTA
TEGUH WIYONO
ANGGOTA
ANGGOTA
MARDAN M
ANGGOTA
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 03/K-27/12/1431
TENTANG
PENGESAHAN LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PERIODE 2008-2010
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Besar
Himpunan Mahasiswa Islam periode 2008-2010
disampaikan dalam sidang Pleno II Kongres ke-27
HMI, telah memenuhi amanah Program Kerja
Nasional (PKN) HMI hasil Keputusan Kongres 26 di
Palembang
MENGINGAT
: 1. Pasal 12 Anggaran Dasar
2. Pasal 11, 12 dan 13 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno II Kongres HMI
ke-27
pada tanggal 03 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 10 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
:1. Mengesahkan
dan
menerima
Laporan
Pertanggungjawaban PB HMI periode 2008 2010
2. Pengurus
Besar
HMI
periode
2010 dinyatakan Demisioner.
2008 –
3.
Ketetapan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 03 Dzulhijjah 1431 H
10 November 2010 M
Waktu
: 22. 15 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 04/K-27/12/1431
TENTANG
ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa untuk mencapai tujuan organisasi perlu
ditetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah
Tangga
sebagai
pedoman
pokok
perjuangan HMI.
2. Bahwa terhadap Anggaran Dasar HMI, hasil
ketetapan Kongres ke-26 di Palembang dianggap
perlu diadakan perubahan didalam beberapa
pasal sesuai dengan gerak perkembangan
perjuangan HMI.
3. Bahwa terhadap Anggaran Rumah Tangga HMI,
hasil ketetapan Kongres ke-26 di Palembang
dianggap perlu diadakan perubahan didalam
beberapa
pasal
sesuai
dengan
gerak
perkembangan perjuangan HMI.
MENGINGAT
:1. Pasal 12 Anggaran Dasar
2. Pasal 11, 12 dan 13 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27
pada tanggal 05 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 12 November 2010
M,di Depok.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
:1. Mengukuhkan Anggaran Dasar HMI hasil Sidang
Pleno III Kongres HMI ke-27 di Depok.
2. Mengukuhkan Anggaran Rumah Tangga HMI
hasil
Sidang Pleno III Kongres HMI ke-27.
3. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 05 Dzulhijjah 1431 H
12 November 2010 M
Waktu
: 17.10 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 05/K-27/12/1431
TENTANG
PENJELASAN RANGKAP ANGGOTA DAN JABATAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Bahwa
dalam
rangka
menegakkan
tertib
anggota dan pengurus maka perlu dibentuk dan
ditetapkan Penjelasan Rangkap Anggota/Jabatan
dan Sanksi Anggota HMI.
MENGINGAT
: 1. Pasal 10 Anggaran Dasar
2. Pasal 9,dan10 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27, pada tanggal 05 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 12 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
:
1.Mengukuhkan tentang penjelasan Rangkap
Anggota Dan Jabatan HMI
2.
Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 05 Dzulhijjah 1431 H
12 November 2010 M
Waktu
: 21.57 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 06/K-27/12/1431
TENTANG
PENJELASAN MEKANISME PENGESAHAN PENGURUS
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Bahwauntuk memberikan kepastian prosedur
pengesahan Pengurus HMI maka perlu ditetapkan
Penjelasan Mekanisme Pengesahan Pengurus HMI.
MENGINGAT
: 1. Pasal 13 dan 19 Anggaran Dasar
2. Pasal 20 sd 41 dan 51 sd 56 Anggaran Rumah
Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27 pada tanggal 05 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 12 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Mengukuhkan tentang penjelasan Mekanisme
Pengesahan Pengurus HMI
2.
Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau
kembali kecuali terdapat kekeliruan dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 05 Dzulhijjah 1431 H
12 November 2010 M
Waktu
: 22.29 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Agus Marianto
Steering Committe
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR :07/K-27/12/1431
TENTANG
PENJELASAN ISLAM SEBAGAI AZAS
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Bahwa untuk menentukan arah perjuangan HMI
maka perlu ditetapkan Penjelasan Azas HMI
MENGINGAT
: 1. Pasal 3 Anggaran Dasar
2. Pasal 11 dan 12 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27 pada tanggal 05 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 12 November 2010 M,
di Depok.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Mengukuhkan penjelasan tentang Islam sebagai
azas HMI
2
Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 05 Dzulhijjah 1431 H
12 November 2010 M
Waktu
: 22.33 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 08/K-27/12/1431
TENTANG
TAFSIR TUJUAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
maka
: Bahwa untuk menentukan arah perjuangan HMI
perlu ditetapkan Tafsir Tujuan HMI
MENGINGAT
: 1. Pasal 4 dan 18 Anggaran Dasar
2. Pasal 11,dan 12 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres ke-27
HMI pada tanggal 05 Dzulhijjah 1431 H bertepatan
dengan tanggal 12 November 2010 M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Mengukuhkan Tafsir Tujuan HMI
2. Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 05 Dzulhijjah 1431 H
12 November 2010 M
Waktu
: 22.35 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Agus Marianto
Steering Committe
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 09/K-27/12/1431
TENTANG
TAFSIR INDEPENDENSI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Bahwa dalam mencapai tujuan organisasi secara
independen maka dipandang perlu adanya Tafsir
independensi HMI
MENGINGAT
: 1. Pasal 6 dan 18 Anggaran Dasar
2. Pasal 11, 12 dan 13 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27, pada tanggal 05 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 12 November 2010 M,
di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Mengukuhkan Tafsir Independensi HMI
2. Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 05Dzulhijjah 1431 H
12 November 2010 M
Waktu
: 22 . 38 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 10/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
KETENTUAN ATRIBUT – ATRIBUT ORGANISASI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: Bahwa untuk menjaga keseragaman Atributatribut
organisasi, maka dipandang perlu
menetapkan
Ketentuan
Atribut-Atribut
Organisasi HMI.
MENGINGAT
: 1. Pasal 1 dan 19 Anggaran Dasar
2. Pasal 59 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27 pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 13 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
sebagaiberikut :
:
1
Ketentuan
Atribut
–
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Lagu hymne HMI
Lambang HMI
Lencana / Badge HMI
Bendera HMI
Stempel HMI
Peci / Muts HMI
Salempang / Gordon HMI
Kartu Anggota HMI
Atribut
Organisasi
2. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau
kembali kecuali terdapat kekeliruan dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 00.30 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 11/K-27/12/1431
TENTANG
NILAI DASAR PERJUANGAN (NDP)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa untuk mendapatkan peran organisasi
HMI didalam menentukan, maka dipandang
perlu menetapkan penjelasan peran organisasi
yang terwujud dalam Nilai Dasar Perjuangan
(NDP) HMI.
2. Bahwa Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang
merupakan Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI
dianggap
memenuhi
kebutuhan
gerak
perjuangan HMI.
MENGINGAT
: 1. Pasal 3,9 dan 18 Anggaran Dasar
2. Pasal 11,dan12 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 13 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Mengukuhkan Nilai Dasar Perjuangan (NDP)
HMI
2. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau
kembali kecuali terdapat kekeliruan dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 01.20 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR :12/K-27/12/1431
TENTANG
PEDOMAN-PEDOMAN POKOK KEPENGURUSAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
:
1.
Bahwa
dalam
rangka
penyeragaman
pelaksanaan dan mekanisme penyelenggaraan
organisasi maka dipandang perlu adanya
Pedoman pedoman Pokok Kepengurusan.
2. Bahwa Pedoman-pedoman Pokok Kepengurusan
hasil Kongres ke-26 di Palembang perlu
disempurnakan pada beberapa bagiannya dalam
rangka pengembangan organisasi.
3. Bahwa untuk itu Pedoman-pedoman Pokok
Kepengurusan perlu diadakan perubahan pada
beberapa pasal dengan ketentuan-ketentuan
lainnya.
MENGINGAT
: 1. Pasal 12, 13, 16, dan 19 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, 59 dan 62 Anggaran Rumah
Tangga.
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI ke27, pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H bertepatan
dengan tanggal 13 November 2010 M di Depok.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Pedoman-pedoman Pokok Kepengurusan yang
terdiri dari
a.
Pedoman Kepengurusan
b.
Pedoman Administrasi Kesekretariatan
c.
Pedoman Keuangan dan Harta Benda HMI
d.
Ikrar Pelantikan Pengurus
e.
Ikrar Pelantikan Anggota
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
didalamnya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13November 2010 M
Waktu
: 16.12 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Agus Marianto
Steering Committe
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 13/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
PEDOMAN PERKADERAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dalam rangka pembinaan, pendidikan
dan latihan kader HMI, maka dipandang perlu
untuk menetapkan Pedoman Perkaderan HMI.
2. Bahwa seluruh perangkat Pedoman Perkadera
HMI yang ada saat ini dipandang perlu untuk
disempunakan.
MENGINGAT
: 1. Pasal 8, 12, 15 dan 18 Anggaran Dasar HMI
2. Pasal 11, 12, 13, 51, 52, dan 56 ART HMI
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27 pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 13 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Pedoman Perkaderan HMI
2.
Ketetapan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 16.15 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Agus Marianto
Steering Committe
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR :14/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
PEDOMAN DASAR BADAN PENGELOLA LATIHAN (BPL)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dalam rangka pembinaan, pendidikan
dan latihan kader HMI, maka dipandang perlu
untuk menetapkan Pedoman Perkaderan HMI.
2. Bahwa seluruh perangkat Pedoman Perkadera
HMI yang ada saat ini dipandang perlu untuk
disempunakan.
MENGINGAT
: 1. Pasal 8, 12, 15 dan 18 Anggaran Dasar HMI
2. Pasal 11, 12, 13, 51, 52, dan 56 ART HMI
MEMPERHATIKAN
: Hasil pembahasan Sidang Pleno III Kongres
ke-27 HMI pada tanggal 06 Zulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 13 November 2010
M,di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Pedoman Dasar Pengelola Latihan (BPL) HMI
2.
Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali terdapat kekeliruan didalamnya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13November 2010 M
Waktu
: 16.20 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Agus Marianto
Steering Committe
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 15/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
PEDOMAN BADAN-BADAN KHUSUS
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dalam rangka Efektifitas meknisme kerja
organisasi, khususnya Badan-Badan Khusus HMI,
maka dipandang perlu menetapkan Pedoman
Badan-Badan Khusus HMI.
2. Bahwa Pedoman Badan-Badan Khusus HMI Hasil
Kongres 26 di Palembang perlu diselesaikan
dalam rangka penyempurnaan dengan merubah
ketentuan
MENGINGAT
:
1. Pasal 12, dan 15 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, 13, 51 sd 56 Anggaran Rumah
Tangga.
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI ke27 pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H bertepatan
dengan tanggal 13 November 2010 M di Depok.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Pedoman Badan Khusus HMI yang terdiri dari :
a. Pedoman KOHATI
b. Pedoman Lembaga Pengembangan Profesi
(LPP), Juklak LPP, Struktur Organisasi Pengurus
LPP, dan Kurikulum Pelatihan Kewirausahaan
c. Pedoman Badan Pengelola Latihan (BPL) dan
Kode Etik Pengelola Latihan
d. Pedoman Badan Penelitan dan Pengembangan
(BALITBANG)
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
didalamnya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 16.53 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Agus Marianto
Steering Committe
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR :16/K-27/12/1431
TENTANG
PROGRAM KERJA NASIONAL
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa mencapai tujuan HMI, maka dipandang
perlu disusun suatu usaha yang teratur dan
berkesinambungan dalam bentuk Program
Kerja Nasional (PKN).
2.
Bahwa untuk itu perlu
Program Kerja Nasional (PKN).
menetapkan
MENGINGAT
: 1. Pasal 4,5 dan 19 Anggaran Dasar
2. Pasal 11,dan12 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27 pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 13 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Mengukuhkan Program Kerja Nasional (PKN)
HMI
2. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau
kembali kecuali terdapat kekeliruan dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 17. 17 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Agus Marianto
Steering Committe
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 17/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
REKOMENDASI KONGRES KE- 27
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
:
Bahwa Himpunan Mahasiswa Islam memandang
perlu memberikan sikap dan pandangan tentang
beberapa masalah nasional dan internasional di
bidang
IPOLEKSOSBUD,
Perguruan
Tinggi,
Kemahasiswaan dan Kepemudaan serta masalah
lainnya, maka dipandang perlu menetapkan
Rekomendasi HMI.
MENGINGAT
: 1. Pasal 4,5 dan 19 Anggaran Dasar
2. Pasal 11,dan12 Anggaran Rumah Tangga
MEMPERHATIKAN
: Hasil pembahasan Sidang Pleno III Kongres HMI
ke-27
pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 13 November 2010
M, di Depok
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
:
1.
2.
Mengesahkan Rekomendasi Kongres Ke–27
HMI
Ketetapan
ini
berlaku
sejak
tanggal
ditetapkannya dan tidak akan ditinjau kembali
kecuali
terdapat
kekeliruan
dalam
penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 10.15 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 18/K-27/12/1431
TENTANG
TATA TERTIB PEMILIHAN KETUA UMUM/FORMATEUR
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dengan berakhirnya masa kepengurusan
Pengurus Besar HMI Periode 2008-2010, maka
perlu membentuk dan menyusun Kepengurusan
Pengurus Besar Periode 2010-2012
2.
Bahwa Untuk membentuk dan menyusun
Kepengurus Pengurus Besar HMI Periode 20102012 perlu dipilih Formateur/ Ketua Umum
MENGINGAT
:
1. Pasal 12, dan 13 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, dan 13, Anggaran Rumah Tangga.
MEMPERHATIKAN
:
Hasil Pembahasan Sidang Pleno IV Kongres HMI
ke-27 pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 13 November 2010 M
di Depok.
MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN
: 1. Tata Tertib Pemilihan Formatuer/ Ketua Umum
Pengurus Besar HMI Periode 2010-2012.
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 21.11 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
Agus Marianto
Steering Committe
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 19/K-27/12/1431
TENTANG
TATA TERTIB PEMILIHAN MIDE FORMATEUR
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dengan berakhirnya masa kepengurusan
Pengurus Besar HMI Periode 2008-2010, maka
perlu membentuk dan menyusun Kepengurusan
Pengurus Besar Periode 2010-2012
2.
Bahwa Untuk membentuk dan menyusun
Kepengurus Pengurus Besar HMI Periode 20102012 perlu dipilih Mide Formateur
3. Bahwa untuk membantu Tugas Formateur maka
dipandang perlu memilih mide formateur.
MENGINGAT
:
1. Pasal 12, dan 13 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, dan 13, Anggaran Rumah Tangga.
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pembahasan Sidang Pleno IV Kongres HMI ke27 pada tanggal 06 Dzulhijjah 1431 H bertepatan
dengan tanggal 13 November 2010 M di Depok.
MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN
: 1. Tata Tertib Pemilihan Mide Formatuer Pengurus
Besar HMI Periode 2010-2012.
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 21.37 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
KETETAPAN
Agus Marianto
Steering Committe
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 20/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
BAKAL CALON KETUA UMUM/FORMATEUR
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM PERIODE 20102012
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dengan berakhirnya masa kepengurusan
Pengurus Besar HMI Periode 2008-2010, maka
perlu membentuk dan menyusun Kepengurusan
Pengurus Besar Periode 2010-2012
2.
MENGINGAT
:
MEMPERHATIKAN
Bahwa Untuk membentuk dan menyusun
Kepengurus Pengurus Besar HMI Periode 20102012 perlu dipilih Formateur/ Ketua Umum
1. Pasal 12, dan 13 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, dan 13, Anggaran Rumah Tangga.
: Hasil verifikasi bakal calon ketua umum/formateur
yang ditetapkan oleh MPKPB dan dilaksanakan
oleh stering comittee kongres ke XXVII di Depok,
MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN
:
1.
Nama bakal calon fourmateur/ketua umum
PBHMI periode 2010-2012:
1. M. SYAHRIL WASAHUA
2. ANDI SUKMONO KUMBA
3. ARI JUNIARMAN
4. JUBIR DARSUN
5. SUARDI HERIK
6. BAMBANG M. FAJAR
7. ZAINAL A. LATAR
8. NOER FAJRIEANSYAH
9. M. RIVAI MALAWAT
10. AHMAD NASIR SIREGAR
11. RAHMAT FIKRI
12. AULIA KOSASIH
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
13 November 2010 M
Waktu
: 23.50 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 21/K-27/ 12/ 1431
TENTANG
BAKAL CALON KETUA UMUM/ FORMATEUR
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM PERIODE 20102012
YANG LOLOS PADA PEMILIHAN PUTARAN PERTAMA
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dengan berakhirnya masa kepengurusan
Pengurus Besar HMI Periode 2008-2010, maka
perlu membentuk dan menyusun Kepengurusan
Pengurus Besar Periode 2010-2012
2.
MENGINGAT
MEMPERHATIKAN
:
Bahwa Untuk membentuk dan menyusun
Kepengurusan Pengurus Besar HMI Periode
2010-2012 perlu dipilih Formateur/ Ketua Umum
1. Pasal 12, dan 13 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, dan 13, Anggaran Rumah Tangga.
: Hasil pemilihan putaran pertama calon ketua
umum/formateur pada Kongres ke XXVII di Depok,
MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN
: 1. Nama bakal calon Formateur/Ketua Umum PB
HMI periode 2010-2012 yang lolos pada
pemilihan tahap pertama:
a. Noer Fajrieansyah
b. Andi Sukmono Kumba
c. Ahmad Nasir Siregar
d. Jubir Darsun
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 06 Dzulhijjah 1431 H
14 November 2010 M
Waktu
: 08.01WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 22/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
KETUA UMUM/FORMATEUR
PENGURUS BESAR HMI PERIODE 2010-2012
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dengan berakhirnya masa kepengurusan
Pengurus Besar HMI Periode 2008-2010, maka
perlu membentuk dan menyusun Kepengurusan
Pengurus Besar Periode 2010-2012
2.
Bahwa Untuk membentuk dan menyusun
Kepengurus Pengurus Besar HMI Periode 20102012 perlu dipilih Formateur/Ketua Umum
MENGINGAT
:
1. Pasal 12, dan 13 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, dan 12, Anggaran Rumah Tangga.
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pemilihan Ketua Umum Formatuer/ Ketua
Umum PB HMI pada Sidang Pleno IV Kongres HMI
ke-27 pada tanggal 7 Dzulhijjah 1431 H bertepatan
dengan tanggal 14 November 2010 M di Depok.
MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN
: 1. Saudara NOER FAJRIEANSYAH Sebagai Ketua
Umum/Formateur PB HMI Periode 2010-2012.
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 7 Dzulhijjah 1431 H
14 November 2010 M
Waktu
: 12.25 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 23/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
MIDE FORMATEUR
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM PERIODE 20102012
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dengan berakhirnya masa kepengurusan
Pengurus Besar HMI Periode 2008-2010, maka
perlu membentuk dan menyusun Kepengurusan
Pengurus Besar Periode 2010-2012
2. Bahwa Untuk membantu tugas-tugas Formateur
maka perlu dibantu oleh mide formateur
MENGINGAT
:
1. Pasal 12, dan 13 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, dan 12, Anggaran Rumah Tangga.
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pemilihan Mide Formateur pada Sidang Pleno
IV Kongres HMI ke-27 pada tanggal 07 Dzulhijjah
1431 H bertepatan dengan tanggal 14 November
2010 M di Depok.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Saudara :
1. ANDI SUKMONO KUMBA
2.
M. SYAHRIL WASAHUA
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 07 Dzulhijjah 1431 H
14 November 2010 M
Waktu
: 12.33.WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 24/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
NAMA-NAMA ANGGOTA MAJELIS PENGAWAS DAN KONSULTASI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM PERIODE 2010-2012
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa dengan berakhirnya masa kepengurusan
Majelis Pekerja dan Konsultasi (MPK) HMI Periode
2006-2010, maka perlu dipilih dan ditetapkan
Anggota MPK HMI Periode 2010-2012.
MENGINGAT
:
1. Pasal 12, dan 14 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, 42, 43 dan 44 Anggaran Rumah
:
1. Hasil Pemilihan Calon Anggota MPK PB HMI
Periode 2010-2012 pada Sidang Pleno V
Kongres HMI XXVII pada tanggal 07 Dzulhijjah
1431 H bertepatan dengan tanggal 14
November 2010 M di Depok.
Tangga.
MEMPERHATIKAN
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
:
1. Nama-Nama Calon Angota MPK HMI periode
2010-2012 sebagaimana terlampir.
2.
Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan
akan ditinjau kembali bilamana terdapat
kekeliruan dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 07 Dzulhijjah 1431 H
14 November 2010 M
Waktu
: 12.35 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
LAMPIRAN
NAMA-NAMA ANGGOTA MAJELIS PENGAWAS DAN KONSULTASI
HMI PERIODE 2010-2012
1. M. Rivai Malawat
2. Bambang M. Fajar
3. Syamsuddin Rajab
4. Oka Aditya
5. Muh. Makmun
6. Robby Marpaung
7. Kristiawanto
8. Arip Mustopha
9. Mulyono
10. Umar Lessy
11. Mahya Ramdani
12. Mustahid
13. A. Muh. Ilham
14. Muhzairi
15. Sultan Hamid
KETETAPAN
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOMOR : 25/ K-27/ 12/ 1431
TENTANG
NAMA-NAMA CALON TEMPAT PENYELENGGARAAN KONGRES XXVIII
HMI
Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam Dengan senantiasa mengharap
Rahmat dan Ridha Allah SWT, setelah
MENIMBANG
: 1. Bahwa untuk melaksanakan KONGRES ke-27
HMI, maka dipandang perlu untuk menetakan
Calon tuan rumah penyelenggaraan Kongres HMI
ke-27
MENGINGAT
:
MEMPERHATIKAN
: Hasil Pemilihan Calon Tuan Rumh Penyelenggaran
Kongres HMI ke-28 pada Sidang Pleno V Kongres
HMI XXVII pada tanggal 07 Dzulhijjah 1431 H
bertepatan dengan tanggal 14 November 2010 M
di Depok.
1. Pasal 12, Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, dan 12 Anggaran Rumah Tangga.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1. Calon Tempat Penyelenggaraan Kongres HMI ke28 sebagaimana terlampir
2. Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan
ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan
dalam penetapannya.
Billahi Taufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di
: Depok
Pada Tanggal
: 07 Dzulhijjah 1431 H
14 November 2010 M
Waktu
: 12.45 WIB
PIMPINAN SIDANG
KONGRES XXVII HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Sudin Tamalene
Badko Mal-malut
Mulyadi
Badko Kalbar
Asyari
Zulfan Effendi Rambe
Badko Jabodetabeka – Banten
Badko Sumut
Ahmad Ilfa HM
Badko Jatim
Riana
Cabang Palu
Agus Marianto
Steering Committe
LAMPIRAN
NAMA-NAMA CALON TEMPAT PENYELENGGARAAN KONGRES XXVIII
HMI
1. Malang
2. Mataram
3. Samarinda
4. Medan
5. Sorong
6. Ambon
7. Manado
8. Palangkaraya
9. Solo
10.Batam
11.Sanana
12.Kendari
13.Pontianak
14.Ternate
15.Bandar Lampung
16.Aceh
ANGGARAN DASAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
MUKADDIMAH
S
esungguhnya Allah Subhanahu wata‘ala telah mewahyukan Islam sebagai
ajaran yang haq lagi sempurna untuk mengatur umat manusia berkehidupan
sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi dengan kewajiban
mengabdikan diri semata-mata kehadirat-Nya.
Menurut iradat Allah Subhanahu wata‘ala kehidupan yang sesuai dengan
fitrah-Nya adalah panduan utuh antara aspek duniawi dan ukhrawi, individu
dan sosial serta iman, ilmu, dan amal dalam mencapai kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat.
Berkat rahmat Allah Subhanahu wata‘ala Bangsa Indonesia telah berhasil
merebut kemerdekaan dari kaum penjajah, maka umat Islam berkewajiban
mengisi kemerdekaan itu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
menuju masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata’ala.
Sebagai bagian dari umat Islam dunia, maka umat Islam Indonesia memiliki
kewajiban berperan aktif dalam menciptakan Ukhuwah Islamiyah sesama
umat Islam sedunia menuju masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
Subhanahu wata’ala.
Mahasiswa Islam sebagai generasi muda yang sadar akan hak dan
kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia, umat
muslim dan Bangsa Indonesia bertekad memberikan dharma bhaktinya
untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman demi terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata‘ala.
Meyakini bahwa tujuan itu dapat dicapai dengan taufiq dan hidayah Allah
Subhanahu wata‘ala serta usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh
kebijaksanaan, dengan nama Allah kami Mahasiswa Islam menghimpun diri
dalam satu organisasi yang digerakkan dengan pedoman berbentuk
anggaran dasar sebagai berikut:
BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT
Pasal 1
N a m a
Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat HMI.
Pasal 2
Waktu dan Tempat kedudukan
HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan
dengan tanggal 5 Februari 1947 untuk waktu yang tidak ditentukan dan
berkedudukan di tempat Pengurus Besar.
BAB II
A Z A S
Pasal 3
HMI berazaskan Islam
BAB III
TUJUAN, USAHA DAN SIFAT
Pasal 4
Tujuan
Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan
bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah Subhanahu wata’ala.
Pasal 5
U s a h a
a. Membina pribadi muslim untuk mencapai akhlaqul karimah.
b. Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.
c. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi
kemaslahatan masa depan umat manusia.
d. Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan Dienul Islam dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
e. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah sesama umat Islam sedunia.
f. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan
kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional.
g. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan huruf (a) s.d. (e) dan
sesuai dengan azas, fungsi, dan peran organisasi serta berguna untuk
mencapai tujuan organisasi.
Pasal 6
S i f a t
HMI bersifat independen.
BAB IV
STATUS, FUNGSI DAN PERAN
Pasal 7
Status
HMI adalah organisasi mahasiswa.
Pasal 8
Fungsi
HMI berfungsi sebagai organisasi kader.
Pasal 9
P e r a n
HMI berperan sebagai organisasi perjuangan.
BAB V
KEANGGOTAAN
Pasal 10
a. Yang dapat menjadi anggota HMI adalah Mahasiswa Islam yang terdaftar
pada perguruan tinggi dan/atau yang sederajat yang ditetapkan oleh
Pengurus HMI Cabang/Pengurus Besar HMI.
b. Anggota HMI terdiri dari :
1. Anggota Muda.
2. Anggota Biasa.
3. Anggota Kehormatan.
c. Setiap anggota memiliki hak dan kewajiban.
d. Status keanggotaan, hak dan kewajiban anggota HMI diatur lebih lanjut
dalam ART HMI
BAB VI
KEDAULATAN
Pasal 11
Kedaulatan berada di tangan anggota biasa yang pelaksanaannya diatur
dalam Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan penjabarannya.
BAB VII
STRUKTUR ORGANISASI
Pasal 12
Kekuasaan
Kekuasaan dipegang oleh Kongres, Konferensi/Musyawarah Cabang dan
Rapat Anggota Komisariat.
Pasal 13
Kepemimpinan
a. Kepemimpinan organisasi dipegang oleh Pengurus Besar HMI, Pengurus
HMI Cabang dan Pengurus HMI Komisariat.
b. Untuk membantu tugas Pengurus Besar HMI, dibentuk Badan Koordinasi.
c. Untuk membantu tugas Pengurus HMI Cabang, dibentuk Koordinator
Komisariat.
Pasal 14
Majelis Pengawas dan Konsultasi
A. Ditingkat Pengurus Besar HMI dibentuk Majelis Pengawas dan
Konsultasi PB HMI.
B. Ditingkat Pengurus Cabang HMI dibentuk Majelis Pengawas dan
Konsultasi PC HMI.
C. Ditingkat Pengurus Komisariat HMI dibentuk Majelis Pengawas dan
Konsultasi PK HMI.
Pasal 15
Badan–Badan Khusus
Dalam rangka memudahkan realisasi usaha mencapai tujuan HMI maka
dibentuk Korp-HMI-wati, Lembaga Pengembangan Profesi, Badan Pengelola
Latihan dan Badan Penelitian Pengembangan.
BAB VIII
KEUANGAN DAN HARTA BENDA
Pasal 16
Keuangan dan Harta Benda
a. Keuangan dan harta benda HMI dikelola dengan prinsip transparansi,
bertanggungjawab, efektif, efisien dan berkesinambungan.
b. Keuangan dan Harta benda HMI diperoleh dari uang pangkal anggota,
iuran dan sumbangan anggota, sumbangan alumni dan usaha-usaha lain
yang halal dan tidak bertentangan dengan sifat Independensi HMI.
BAB IX
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN
Pasal 17
a. Perubahan Anggaran Dasar dan pembubaran organisasi hanya dapat
dilakukan oleh Kongres.
b. Harta benda HMI sesudah dibubarkan harus diserahkan kepada Yayasan
Amal Islam.
BAB X
PENJABARAN ANGGARAN DASAR DAN PENGESAHAN
Pasal 18
Penjabaran Anggaran Dasar HMI
a. Penjabaran pasal 3 tentang azas organisasi dirumuskan dalam Memori
Penjelasan tentang Islam sebagai Azas HMI.
b. Penjabaran pasal 4 tentang tujuan organisasi dirumuskan dalam Tafsir
Tujuan HMI.
c. Penjabaran pasal 5 tentang usaha organisasi dirumuskan dalam Program
Kerja Nasional.
d. Penjabaran pasal 6 tentang sifat organisasi dirumuskan dalam Tafsir
Independensi HMI.
e. Penjabaran pasal 8 tentang fungsi organisasi dirumuskan dalam Pedoman
Perkaderan HMI.
f. Penjabaran pasal 9 tentang peran organisasi dirumuskan dalam Nilai
Dasar Perjuangan HMI.
g. Penjabaran Anggaran Dasar tentang hal-hal di luar point a hingga f di atas
dirumuskan dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 19
Aturan Tambahan
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar dan Penjabaran Anggaran
Dasar dimuat dalam Peraturan-Peraturan/Ketentuan-ketentuan tersendiri
yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Penjabaran Anggaran
Dasar HMI.
Pasal 20
Pengesahan
Pengesahan Anggaran Dasar HMI ditetapkan pada Kongres III di Jakarta,
tanggal 4 September 1953, yang diperbaharui pada :
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
Kongres
IV di Bandung, tanggal 4 Oktober 1955,
V di Medan, tanggal 31 Desember 1957,
VI di Makassar, tanggal 20 Juli 1960,
VII di Jakarta, tanggal 14 September 1963,
VIII di Solo, tanggal 17 September 1966,
IX di Malang, tanggal 10 Mei 1969,
X di Palembang, tanggal 10 Oktober 1971,
XI di Bogor, tanggal 12 Mei 1974,
XII di Semarang, tanggal 15 Oktober 1976,
XIII di Ujung Pandang, tanggal 12 Februari 1979,
XIV di Bandung, tanggal 30 April 1981,
XV di Medan, tanggal 25 Mei 1983,
XVI di Padang, tanggal 31 Maret 1986,
XVII di Lhokseumawe, tanggal 6 Juli 1988,
XVIII di Jakarta, tanggal 24 September 1990,
XIX di Pekanbaru, tangal 9 Desember 1992,
XX di Surabaya, tanggal 29 Januari 1995,
XXI di Yogyakarta, tanggal 26 Agustus 1997,
XXII di Jambi, tanggal 3 Desember 1999,
XXIII di Balikpapan, tanggal 30 April 2002,
XXIV di Jakarta, tanggal 23 Oktober 2003,
XXV di Makassar, tanggal 20 Februari 2006.
XXVI di Palembang, tanggal 28 Juli 2008.
XXVII di Depok, tanggal 5 November 2010.
ANGGARAN RUMAH TANGGA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
BAB I
KEANGGOTAAN
BAGIAN I
ANGGOTA
Pasal 1
Anggota Muda
Anggota Muda adalah Mahasiswa Islam yang menuntut ilmu di perguruan
tinggi dan/atau yang sederajat yang telah mengikuti Masa Perkenalan Calon
Anggota (Maperca) dan ditetapkan oleh Pengurus Cabang.
Pasal 2
Anggota Biasa
Anggota Biasa adalah Anggota Muda atau Mahasiswa Islam yang telah
dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader I (Basic Training).
Pasal 3
Anggota Kehormatan
a.
Adalah orang yang berjasa kepada HMI.
b. Mekanisme penetapan Anggota Kehormatan diatur dalam ketentuan
tersendiri.
BAGIAN II
SYARAT–SYARAT KEANGGOTAAN
Pasal 4
a.
Setiap Mahasiswa Islam yang ingin menjadi anggota harus mengajukan
permohonan serta menyatakan secara tertulis kesediaan mengikuti
Anggaran dasar, Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan /peraturan
organisasi lainnya.
b. Apabila telah memenuhi syarat pada ayat (a) dan yang bersangkutan
telah dinyatakan lulus mengikuti Maperca, maka dinyatakan sebagai
Anggota Muda.
c.
Mahasiswa Islam yang telah memenuhi syarat (a) dan/atau Anggota
Muda HMI dapat mengikuti Latihan Kader I dan setelah lulus dinyatakan
Anggota Biasa HMI.
BAGIAN III
MASA KEANGGOTAAN
Pasal 5
Masa Keanggotaan
a.
Masa keanggotaan Anggota Muda berakhir 6 (enam) bulan sejak
Maperca.
b. Masa keanggotaan Anggota Biasa adalah sejak dinyatakan lulus LK I
(Basic Training) hingga 2 (dua) tahun setelah berakhirnya masa studi S0
dan S1, dan hingga 1 tahun untuk S2 dan S3.
c.
Anggota Biasa yang habis masa keanggotaannya saat menjadi pengurus
diperpanjang
masa
keanggotaannya
sampai
selesai
masa
kepengurusannya (dinyatakan demisioner), setelah itu dinyatakan habis
masa keanggotaannya dan tidak dapat menjadi pengurus lagi.
d. Anggota Biasa yang melanjutkan studi ke strata perguruan tinggi yang
lebih tinggi atau sama lebih dari dua tahun sejak lulus dari studi
sebelumnya dan tidak sedang diperpanjang masa keanggotaan karena
menjadi pengurus (sebagaimana dimaksud ayat c) maka masa
keanggotaan tidak diperpanjang lagi (berakhir).
e.
Masa keanggotaan berakhir apabila:
1. Telah berakhir masa keanggotaannya.
2. Meninggal dunia.
3. Mengundurkan diri.
4. Menjadi anggota Partai Politik.
5. Diberhentikan atau dipecat.
6. Tidak Terdaftar lagi di perguruan tinggi sesuai dengan poin a sampai
dengan d
BAGIAN IV
HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 6
Hak Anggota
a.
Anggota muda mempunyai hak bicara dan hak partisipasi.
b. Anggota Biasa memiliki hak bicara, hak suara, hak partisipasi dan hak
untuk dipilih.
c.
Anggota Kehormatan memiliki hak mengajukan
pertanyaan kepada pengurus secara lisan dan tulisan.
Pasal 7
Kewajiban Anggota
a.
Setiap anggota berkewajiban menjaga nama baik HMI.
saran/usul
dan
b. Setiap anggota berkewajiban menjalankan Misi Organisasi.
c.
Setiap anggota berkewajiban menjunjung tinggi etika, sopan santun dan
moralitas dalam berperilaku dan menjalankan aktifitas organisasi.
d. Setiap anggota berkewajiban tunduk dan patuh kepada AD dan ART serta
berpartisipasi dalam setiap kegiatan HMI yang sesuai dengan AD dan
ART.
e.
Setiap anggota biasa berkewajiban membayar uang pangkal dan iuran
anggota.
f.
Setiap anggota berkewajiban menghormati simbol-simbol organisasi.
BAGIAN V
MUTASI ANGGOTA
a.
Pasal 8
Mutasi anggota adalah perpindahan status keanggotaan dari satu cabang
ke cabang lain.
b. Dalam keadaan tertentu, seorang anggota HMI dapat memindahkan
status keanggotaannya dari satu cabang ke cabang lain atas persetujuan
cabang asalnya.
c.
Untuk memperoleh persetujuan dari cabang asal, maka seorang anggota
harus mengajukan permohonan secara tertulis untuk selanjutnya
diberikan surat keterangan.
d. Mutasi anggota hanya dapat dilakukan jika yang bersangkutan pindah
studi dan/pindah domisili.
e.
Apabila seorang anggota HMI studi di 2 (dua) perguruan tinggi yang
berbeda wilayah kerja cabang, maka ia harus memilih salah satu cabang.
BAGIAN VI
RANGKAP ANGGOTA DAN RANGKAP JABATAN
Pasal 9
a.
Dalam keadaan tertentu anggota HMI dapat merangkap menjadi anggota
organisasi lain atas persetujuan Pengurus Cabang.
b. Pengurus HMI tidak dibenarkan untuk merangkap jabatan pada organisasi
lain sesuai ketentuan yang berlaku.
c.
Ketentuan tentang jabatan seperti dimaksud pada ayat (b) di atas diatur
dalam ketentuan tersendiri.
d. Anggota HMI yang mempunyai kedudukan pada organisasi lain di luar
HMI, harus menyesuaikan tindakannya dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan-ketentuan organisasi lainnya.
BAGIAN VII
SANKSI ANGGOTA
Pasal 10
Sanksi Anggota
a.
Sanksi adalah bentuk hukuman sebagai bagian proses pembinaan yang
diberikan organisasi kepada anggota yang melalaikan tugas, melanggar
ketentuan organisasi, merugikan atau mencemarkan nama baik
organisasi, dan/atau melakukan tindakan kriminal dan tindakan melawan
hukum lainnya.
b. Sanksi dapat berupa teguran, peringatan, skorsing, pemecatan atau
bentuk lain yang ditentukan oleh pengurus dan diatur dalam ketentuan
tersendiri.
c.
Anggota yang dikenakan sanksi dapat mengajukan pembelaan di forum
yang ditunjuk untuk itu.
BAB II
STRUKTUR ORGANISASI
A. STRUKTUR KEKUASAAN
BAGIAN I
KONGRES
Pasal 11
Status
a.
Kongres merupakan musyawarah utusan cabang-cabang.
b. Kongres memegang kekuasaan tertinggi organisasi.
c.
Kongres diadakan 2 (dua) tahun sekali.
d. Dalam keadaan luar biasa, Kongres dapat diadakan menyimpang dari
ketentuan pasal 11 ayat (c).
e.
Dalam keadaan luar bisa Kongres dapat diselenggarakan atas inisiatif
satu cabang dengan persetujuan sekurang-kurangnya melebihi separuh
dari jumlah cabang penuh.
Pasal 12
Kekuasaan / Wewenang
a.
Meminta laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar.
b. Menetapkan AD, ART, Pedoman-Pedoman Pokok dan Pedoman Kerja
Nasional.
c.
Memilih Pengurus Besar dengan jalan memilih Ketua Umum yang
sekaligus merangkap sebagai formateur dan dua mide formateur.
d. Memilih dan Menetapkan Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPK PB HMI)
e.
Menetapkan calon-calon tempat penyelenggaraan Kongres berikutnya.
f.
Menetapkan dan mengesahkan pembentukan dan pembubaran Badan
Koordinasi (Badko).
Pasal 13
Tata Tertib
a.
Peserta Kongres terdiri dari Pengurus Besar (PB), Utusan/Peninjau
Pengurus Cabang, Kohati PB HMI, Bakornas Lembaga Pengembangan
Profesi, Badan Pengelola Latihan (BPL), Badan Penelitian Pengembangan
(Balitbang), Badko, Anggota MPK PB HMI dan Undangan Pengurus Besar
HMI.
b. Kohati
PB HMI, Bakornas Lembaga Pengembangan Profesi, Badan
Pengelola Latihan, Balitbang, Badko, Anggota MPK PB HMI dan Undangan
Pengurus Besar merupakan peserta peninjau.
c.
Peserta Utusan (Cabang Penuh) mempunyai hak suara dan hak bicara,
sedangkan peninjau mempunyai hak bicara.
d. Banyaknya utusan cabang dalam Kongres dari jumlah Anggota Biasa
Cabang penuh dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Sn = a.px-1
Di mana :
X adalah bilangan asli {1,2,3,4,…..}
Sn = Jumlah Anggota Biasa
a = 150 (Seratus Lima Puluh)
p = Pembanding = 4 (empat)
x = Jumlah utusan
Jumlah anggota
Jumlah Utusan
150 s/d 600
:1
601 s/d 2.400
:2
2.401 s/d 9.600
:3
9.601 s/d 38.400
:4
Dan seterusnya……………..
e.
Jumlah peserta peninjau ditetapkan oleh Pengurus Besar.
f.
Pimpinan Sidang Kongres dipilih dari peserta (utusan/peninjau) oleh
peserta utusan dan berbentuk presidium.
g. Kongres baru dapat dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari
separuh jumlah peserta utusan (Cabang Penuh).
h. Apabila ayat (g) tidak terpenuhi maka Kongres diundur selama 2 x 24 jam
dan setelah itu dinyatakan sah.
i.
Setelah menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan dibahas
oleh Kongres maka PB HMI dinyatakan Demisioner.
BAGIAN II
KONFERENSI CABANG/MUSYAWARAH ANGGOTA CABANG
Pasal 14
Status
a.
Konferensi
komisariat.
Cabang
(Konfercab)
merupakan
musyawarah
utusan
b. Konfercab/muscab merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di
tingkat Cabang.
c.
Bagi Cabang persiapan diselenggarakan Musyawarah Anggota Cabang
(Muscab)
d. Konfercab/Muscab diselenggarakan satu kali dalam setahun.
Pasal 15
Kekuasaan dan Wewenang
a.
Meminta Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepada Pengurus Cabang.
b. Menetapkan Pedoman Kerja Pengurus Cabang.
c.
Memilih Pengurus Cabang dengan jalan memilih Ketua Umum yang
merangkap sebagai Formateur dan dua Mide Formateur.
d. Memilih dan Menetapkan Majelis Pengawasan dan Konsultasi Pengurus
Cabang (MPK PC).
Pasal 16
Tata Tertib Konferensi Cabang/Musyawarah Anggota Cabang
a.
Peserta Konfercab terdiri dari Pengurus Cabang, Utusan/Peninjau
Komisariat, Kohati Cabang, Badan Pengelola Latihan, Lembaga
Pengembangan Profesi, BALITBANG, Koordinator Komisariat (Korkom),
Anggota MPK PC dan undangan Pengurus cabang.
b. Pengurus Cabang adalah penanggung jawab Konferensi/Musyawarah
Anggota Cabang; Komisariat Penuh adalah peserta utusan; Kohati
Cabang, Lembaga Pengembangan Profesi, BALITBANG, Badan Pengelola
Latihan, Korkom, Komisariat Persiapan, MPK PC dan undangan Pengurus
Cabang adalah peserta peninjau.
c.
Untuk Muscab, Pengurus Cabang adalah penanggung jawab
penyelenggara Muscab, anggota biasa adalah utusan, Kohati Cabang,
Lembaga Pengembangan Profesi, Badan Pengelola Latihan MPK PC dan
undangan Pengurus Cabang adalah peserta peninjau.
d. Peserta utusan (komisariat penuh/anggota biasa) mempunyai hak suara
dan hak bicara sedangkan peserta peninjau mempunyai hak bicara.
e.
Banyaknya utusan Komisariat dalam Konfercab ditentukan dari jumlah
Anggota Biasa dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Sn = a.px-1
Di mana :
x adalah bilangan asli (1,2,3,4,……)
Sn = Jumlah Anggota Biasa
a = 150 (seratus lima puluh)
p = Pembanding = 3 (tiga)
x = Jumlah Utusan
Jumlah Anggota
Jumlah Utusan
50 s/d 149
:1
150 s/d 449
:2
450 s/d 1.349
:3
1.350 s/d 4.049
:4
4.05 s/d 12.149
:5
12.150 s/d 36.449
:6
Dan seterusnya ………………….
f.
Pimpinan sidang Konfercab/Muscab dipilih dari peserta utusan/peninjau
oleh peserta utusan dan berbentuk presidium
g. Konfercab/Muscab baru dapat dinyatakan sah apabila di hadiri lebih dari
separuh (50 % + 1) jumlah peserta utusan Komisariat/Komisariat penuh
h. Apabila ayat (g) tidak terpenuhi, maka Konfercab/Muscab diundur 1 X 24
jam setelah itu dinyatakan sah.
i.
Setelah menyampaikan Laporan pertanggungjawaban (LPJ) dan dibahas
oleh konfercab/muscab maka pengurus cabang dinyatakan demisioner.
BAGIAN III
RAPAT ANGGOTA KOMISARIAT
Pasal 17
Status
a.
Rapat Anggota Komisariat (RAK) merupakan musyawarah Anggota Biasa
Komisariat.
b. RAK dilaksanakan satu kali dalam satu tahun.
Pasal 18
Kekuasaan/Wewenang
a.
Meminta Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepada Pengurus Komisariat.
b. Menetapkan Pedoman Kerja Pengurus Komisariat.
c.
Memilih Pengurus Komisariat dengan jalan memilih Ketua Umum yang
merangkap sebagai Formateur dan dua Mide Formateur.
d. Memilih dan Menetapkan Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi
Pengurus Komisariat (MPK PK)
Pasal 19
Tata Tertib Rapat Anggota Komisariat
a.
Peserta RAK terdiri dari Pengurus Komisariat, Anggota biasa Komisariat,
Pengurus Kohati Komisariat, Anggota Muda, Anggota MPK PK dan
undangan Pengurus Komisariat.
b. Pengurus Komisariat adalah penanggung jawab penyelenggara RAK;
Anggota Biasa adalah utusan; Anggota Muda, anggota MPK PK dan
undangan Pengurus Komisariat adalah peserta peninjau.
c.
Peserta utusan mempunyai hak suara dan hak bicara sedangkan peserta
peninjau mempunyai hak bicara.
d. Pimpinan sidang RAK dipilih dari peserta utusan/peninjau oleh peserta
utusan dan berbentuk presidium.
e.
RAK baru dapat dinyatakan sah apabila dihadiri lebih dari separuh jumlah
(50% + 1) Anggota Biasa
f.
Apabila ayat (e) tidak terpenuhi, maka RAK diundur 1 X 24 jam setelah
itu dinyatakan sah.
g. Setelah menyampaikan Laporan pertanggungjawaban (LPJ) dan dibahas
oleh RAK maka pengurus Komisariat dinyatakan demisioner.
B. STRUKTUR PIMPINAN
BAGIAN IV
PENGURUS BESAR
Pasal 20
Status
a.
Pengurus Besar (PB) adalah Badan/Instansi kepemimpinan tertinggi
organisasi.
b. Masa jabatan PB adalah dua tahun terhitung sejak pelantikan/serah
terima jabatan dari PB demisioner.
Pasal 21
Personalia Pengurus Besar
a.
Formasi Pengurus Besar sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua Umum,
Sekretaris Jenderal, dan Bendahara Umum.
b. Formasi
Pengurus Besar harus mempertimbangkan efektifitas dan
efisiensi kinerja kepengurusan.
c.
Yang dapat menjadi personalia Pengurus Besar adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader III
5. Pernah menjadi pengurus Komisariat, pengurus Cabang dan/atau
Badko
6. Tidak menjadi personalia Pengurus Besar untuk periode ketiga kalinya
kecuali jabatan Ketua Umum
d. Yang dapat menjadi Ketua Umum/Formateur Pengurus Besar adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader III
5. Pernah menjadi pengurus Komisariat, pengurus Cabang dan/atau
Badko
6. Tidak sedang diperpanjang masa keanggotaannya karena sedang
menjadi pengurus
7. Sehat secara jasmani maupun rohani
8. Ketika mencalonkan diri, mendapat rekomendasi tertulis dari Cabang.
e.
Selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah kongres, personalia
Pengurus Besar harus sudah dibentuk dan Pengurus Besar Demisioner
sudah mengadakan serah terima jabatan.
f.
Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan dalam point e,
formateur tidak dapat menyusun komposisi kepengurusan karena
meninggal dunia atau berhalangan tetap lainnya, maka formateur
dialihkan kepada mide formateur yang mendapat suara terbanyak.
g. Apabila Ketua Umum tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, maka
dapat dipilih pejabat ketua umum.
h. Yang dimaksud dengan tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, adalah:
1. Meninggal dunia
2. Sakit yang menyebabkan tidak dapat menjalankan tugas selama 6
(enam) bulan berturut-turut.
3. Tidak hadir dalam Rapat Harian dan/atau Rapat Presidium selama 2
(dua) bulan berturut-turut.
i.
Ketua Umum dapat diberhentikan dan diangkat Pejabat Ketua Umum
sebelum Kongres apabila memenuhi satu atau lebih hal-hal berikut:
1. Membuat pernyataan publik atas nama PB HMI yang melanggar
Anggaran Dasar pasal 6.
2. Terbukti melanggar Anggaran Dasar pasal 16 dan Anggaran Rumah
Tangga pasal 58.
3. Tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana diatur Anggaran Rumah
Tangga pasal 21 ayat d.
j.
Pemberhentian Ketua Umum dan pengangkatan/pengambilan sumpah
jabatan Ketua Umum sebelum Kongres hanya dapat melalui:
1. Keputusan sidang Pleno Pengurus Besar yang disetujui minimal 50%
+1 suara utusan Sidang Pleno Pengurus Besar apabila pemberhentian
Ketua Umum diusulkan melalui Keputusan Rapat Harian Pengurus
Besar yang di setujui oleh 2/3 jumlah Pengurus Besar.
2. Keputusan Sidang Pleno Pengurus Besar atau Rapat Harian Pengurus
Besar yang disetujui 50%+1 jumlah suara utusan Sidang Pleno
Pengurus Besar atau 50%+1 jumlah Pengurus Besar apabila Ketua
Umum diusulkan oleh minimal ½ jumlah Cabang penuh.
k.
Usulan pemberhentian Ketua Umum harus disampaikan secara tertulis
disertai alasan, bukti dan saksi disertai tanda tangan pengusul. Usulan
ditembuskan kepada Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar
Himpunan Mahasiswa Islam (MPK PB HMI).
l.
Ketua Umum dapat mengajukan gugatan pembatalan atas putusan
pemberhentiannya kepada Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus
Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPK PB HMI) selambat-lambatnya
satu minggu sejak putusan pemberhentiannya di tetapkan. Putusan
Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa
Islam (MPK PB HMI) yang bersifat final dan mengikat dikeluarkan paling
lambat dua minggu sejak pengajuan gugatan pembatalan diterima.
m. Dalam hal Ketua Umum mangkat atau mengundurkan diri, Sekretaris
Jendral Pengurus Besar secara otomatis menjadi Pejabat Sementara
Ketua Umum hingga dipilih, diangkat dan diambil Sumpah Jabatan
Pejabat Ketua Umum dalam Rapat Harian Pengurus Besar terdekat.
n. Bila Sekretaris Jendral tidak dapat menjadi Pejabat Sementara Ketua
Umum karena mangkat, mengundurkan diri atau berhalangan tetap
hingga 2 kali Rapat Harian yang terdekat dari mangkat atau mundurnya
Ketua Umum maka Pejabat Sementara Ketua Umum diangkat otomatis
dari Ketua Bidang Pembinaan Aparat Organisasi hingga dipilih, diangkat
dan disumpah jabatan Pejabat Ketua Umum dalam Rapat Harian
Pengurus Besar yang terdekat.
o.
Sebelum diadakan Rapat Harian Pengurus Besar untuk memilih Pejabat
Ketua Umum, Pejabat Sementara Ketua Umum memberitahukan mangkat
atau pengunduran diri Ketua Umum kepada Majelis Pengawas dan
Konsultasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPK PB HMI) dan
untuk selanjutnya mengundang sebahagian atau keseluruhan anggota
Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa
Islam (MPK PB HMI) menjadi saksi dalam Rapat Harian Pengurus Besar.
p. Rapat Harian Pengurus Besar untuk memilih Pejabat Ketua Umum
langsung dipimpin oleh Pejabat Sementara Ketua Umum. Pejabat Ketua
Umum dapat dipilih melalui Musyawarah atau pemungutan suara dari
calon-calon yang terdiri dari Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, dan
Ketua Bidang.
q. Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Ketua Umum dilakukan oleh
koordinator Majelis Pengawas dan Konsultasi Himpunan Mahasiswa Islam
atau anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Himpunan Mahasiswa
Islam yang ditunjuk berdasarkan kesepakatan Majelis Pengawas dan
Konsultasi Pengurus Besar.
r.
Ketua Umum dapat melakukan Reshuffle atau pemberhentian atau
penggantian personalia Pengurus Besar dengan mempertimbangkan halhal sebagai berikut:
1. Keaktifan yang bersangkutan dalam Rapat-rapat PB HMI
2. Realisasi program kerja di bidang yang bersangkutan dalam 1 (satu)
semester
3. Partisipasi yang bersangkutan dalam Program Kerja PB HMI (diluar
bidang yang bersangkutan).
Pasal 22
Tugas dan Wewenang
a.
Menggerakan organisasi berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga
b. Melaksanakan ketetapan-ketetapan Kongres
c.
Menyampaikan ketetapan dan perubahan penting yang berhubungan
dengan HMI kepada seluruh aparat dan anggota HMI
d. Melaksanakan Sidang Pleno Pengurus Besar setiap semester kegiatan,
selama periode berlangsung.
e.
Melaksanakan Rapat Harian Pengurus Besar minimal dua minggu sekali,
selama periode berlangsung.
f.
Melaksanakan Rapat Presidium Pengurus Besar minimal satu minggu
sekali, selama periode berlangsung.
g. Memfasilitasi
Sidang Majelis Pengawas dan Konsultasi Himpunan
Mahasiswa Islam dalam rangka menyiapkan draft materi Kongres atau
Sidang Majelis Pengawas dan Konsultasi Himpunan Mahasiswa Islam
lainnya ketika diminta.
h. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban melalui kongres.
i.
Mengesahkan dan melantik pengurus Cabang dan pengurus Badko.
j.
Meminta laporan kerja pengurus Badko.
k.
Mengawasi proses pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) di tingkat
Badko.
l.
Menaikkan dan menurunkan status
perkembangan cabang melalui Badko.
cabang
berdasarkan
evaluasi
m. Mengesahkan pemekaran Cabang berdasarkan rekomendasi Konfercab
Induk dan menetapkan pembentukan Cabang Persiapan berdasarkan
usulan Musyawarah Daerah (Musda) Badko.
n. Menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tingkatan pengurus cabang,
jika dianggap Badko tidak mampu menyelesaikan dan atau Badko
merekomendasikan penyelesaiannya melalui Pengurus Besar
o.
Memberikan sanksi
anggota/pengurus.
dan
merehabilitasi
secara
langsung
terhadap
BAGIAN V
BADAN KOORDINASI
Pasal 23
Status
a.
Badan Koordinasi (Badko) HMI adalah badan pembantu Pengurus Besar.
b. Badko
HMI dibentuk
koordinasinya.
c.
untuk
mengkoordinir
HMI
cabang
dibawah
Masa jabatan Pengurus Badko disesuaikan dengan masa jabatan
Pengurus Besar
Pasal 24
Personalia Pengurus Badko
a.
Formasi Pengurus Badko sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua Umum,
Sekretaris umum, dan Bendahara Umum.
b. Yang dapat menjadi personalia Pengurus Badko adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader III
5. Pernah menjadi pengurus Komisariat, pengurus Cabang dan/atau
Badko
6. Tidak menjadi personalia Pengurus Badko untuk periode ketiga
kalinya kecuali jabatan Ketua Umum
c.
Yang dapat menjadi Ketua Umum/Formateur Pengurus Badko adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader III
5. Pernah menjadi pengurus Komisariat, pengurus Cabang dan/atau
Badko
6. Tidak sedang diperpanjang masa keanggotaannya karena sedang
menjadi pengurus
7. Sehat secara jasmani maupun rohani.
8. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai
Insan Akademis yakni karya tulis ilmiah.
9. Ketika mencalonkan diri, mendapat rekomendasi tertulis dari Cabang.
d. Selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah Musda, personalia
Pengurus Badko sudah dibentuk dan Pengurus Badko Demisioner sudah
mengadakan serah terima jabatan.
e.
Apabila Ketua Umum tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, maka
dapat dipilih pejabat ketua umum.
f.
Yang dimaksud dengan tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, adalah:
1. Meninggal dunia
2. Sakit yang menyebabkan tidak dapat menjalankan tugas selama 6
(enam) bulan berturut-turut.
3. Tidak hadir dalam Rapat Harian dan/atau Rapat Presidium selama 2
(dua) bulan berturut-turut.
g. Ketua Umum dapat diberhentikan dan diangkat Pejabat Ketua Umum
sebelum Musda apabila memenuhi satu atau lebih hal-hal berikut:
1. Membuat
pernyataan publik atas nama Pengurus Badko yang
melanggar Anggaran Dasar pasal 6.
2. Terbukti melanggar Anggaran Dasar pasal 16 dan Anggaran Rumah
Tangga pasal 58.
3. Tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana diatur Anggaran Rumah
Tangga pasal 21 ayat d.
h. Pemberhentian Ketua Umum dan pengangkatan Pejabat Ketua Umum
sebelum Musda hanya dapat dilakukan melalui:
1. Keputusan sidang Pleno Pengurus Badko yang disetujui minimal 50%
+1 suara utusan Sidang Pleno Pengurus Badko apabila
pemberhentian Ketua Umum diusulkan melalui Keputusan Rapat
Harian Pengurus Badko yang di setujui oleh 2/3 jumlah Pengurus
Badko.
2. Sidang Pleno Pengurus Badko yang disetujui 50%+1 jumlah suara
utusan Sidang Pleno Pengurus Badko apabila pemberhentian Ketua
Umum diusulkan oleh minimal setengah jumlah Cabang penuh.
i.
Usulan pemberhentian Ketua Umum harus disampaikan secara tertulis
disertai alasan, bukti dan saksi disertai tanda tangan pengusul. Usulan
ditembuskan kepada Pengurus Besar
j.
Ketua Umum dapat mengajukan gugatan pembatalan atas putusan
pemberhentiannya kepada Pengurus Besar selambat-lambatnya satu
minggu sejak putusan pemberhentiannya di tetapkan. Pengurus Besar
yang bersifat final dan mengikat dikeluarkan paling lambat dua minggu
sejak pengajuan gugatan pembatalan diterima.
k.
Dalam hal Ketua Umum mangkat atau mengundurkan diri, Sekretaris
Umum Pengurus Badko secara otomatis menjadi Pejabat Sementara
Ketua Umum hingga dipilih, diangkat dan diambil Sumpah Jabatan
Pejabat Ketua Umum dalam Rapat Harian Pengurus Badko terdekat.
l.
Sebelum diadakan Rapat Harian Pengurus Badko, Sekretaris Umum
selaku Pejabat sementara Ketua Umum memberitahukan mangkat atau
pengunduran diri Ketua Umum kepada Cabang dab Pengurus Besar.
m. Ketua Umum dapat melakukan Reshuffle atau pemberhentian atau
penggantian personalia Pengurus Badko dengan mempertimbangkan halhal sebagai berikut:
1. Keaktifan yang bersangkutan dalam Rapat-rapat Pengurus Badko
2. Realisasi program kerja di bidang yang bersangkutan dalam 1 (satu)
semester
3. Partisipasi yang bersangkutan dalam Program Kerja PB HMI (diluar
bidang yang bersangkutan).
Pasal 25
Tugas dan Wewenang
a.
Melaksanakan dan mengembangkan kebijaksanaan Pengurus Besar
tentang berbagai masalah organisasi di wilayahnya.
b. Mewakili Pengurus Besar dalam mengawasi proses Konfrensi/Musyawarah
ditingkat cabang.
c.
Mewakili Pengurus Besar menyelesaikan persoalan intern di wilayah
koordinasinya tanpa meninggalkan keharusan konsultasi dengan
Pengurus Besar. Dan apabila Badko tidak mampu menyelesaikan
persoalan internal diwilayahnya, maka dilaporkan ke Pengurus Besar
untuk menyelesaikan dan secepat mungkin menjalankan hasil keputusan
Pengurus Besar.
d. Melaksanakan segala ketetapan Musyawarah Daerah (Musda)
e.
Melaksanakan Sidang Pleno setiap semester.
f.
Membantu menyiapkan draft materi Kongres.
g. Mengkoordinir
koordinasinya.
dan
mengawasi
kegiatan
Cabang
dalam
wilayah
h. Meminta
laporan
koordinasinya.
perkembangan
Cabang-Cabang
dalam
wilayah
i.
Menyampaikan laporan kerja pengurus setiap semester kepada Pengurus
Besar.
j.
Menyelenggarakan Musda selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah
Kongres.
k.
Memberikan laporan pertanggungjawaban kepada Musda
l.
Melaksanakan LK III minimal 1 tahun sekali.
Pasal 26
Musyawarah Daerah
a.
Musyawarah daerah (Musda) adalah Musyawarah utusan Cabang-Cabang
yang ada dalam wilayah koordinasi Badko.
b. Penyelenggaraan Musda selambat-lambatnya 3 (Tiga) bulan setelah
Kongres.
c.
Apabila ayat b tidak terpenuhi maka PB HMI menunjuk carateker untuk
melakukan MUSDA.
d. Kekuasaan dan wewenang Musda adalah menetapkan program kerja dan
memilih calon-calon Ketua Umum/Formateur Badko maksimal 3 (tiga)
orang dan diusulkan pengesahannya pada PB HMI dengan
memperhatikan suara terbanyak untuk ditetapkan 1 (satu) sebagai Ketua
Umum/Formateur.
e.
Tata Tertib Musda disesuaikan dengan pasal 13 ART.
Pasal 27
Pembentukan Badan Koordinasi
a.
Pembentukan Badko direkomendasikan di Kongres dan disahkan di pleno
1 PB HMI
b. Satu Badan Koordinasi mengkoordinir minimal 5 (lima) Cabang Penuh.
BAGIAN VI
CABANG
Pasal 28
Status
a.
Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Cabang merupakan satu
kesatuan organisasi yang dibentuk di Kota Besar atau ibukota
Propinsi/Kabupaten/Kota yang terdapat perguruan tinggi.
b. Diluar Negara Kesatuan Republik Indonesia, Cabang merupakan satu
kesatuan organisasi yang dibentuk di Ibukota Negara atau Kota Besar
lainnya di negara tersebut yang terdapat mahasiswa muslim.
c.
Masa jabatan pengurus cabang adalah satu tahun
pelantikan/serah terima jabatan dari pengurus demisioner.
semenjak
Pasal 29
Personalia Pengurus Cabang
a.
Formasi Pengurus Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua Umum,
Sekretaris umum, dan Bendahara Umum.
b. Yang dapat menjadi personalia Pengurus Cabang adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader II
5. Pernah
menjadi Pengurus Komisariat,
Komisariat, dan/atau Pengurus Cabang.
Pengurus
Koordinator
6. Tidak menjadi personalia Pengurus Cabang untuk periode ketiga
kalinya kecuali jabatan Ketua Umum
c.
Yang dapat menjadi Ketua Umum/Formateur Pengurus Cabang adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader II
5. Pernah menjadi pengurus Komisariat, Korkom dan/atau Pengurus
Cabang
6. Tidak sedang diperpanjang masa keanggotaannya karena sedang
menjadi pengurus
7. Sehat secara jasmani maupun rohani
8. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai
insan akademis.
9. Ketika
mencalonkan diri,
Pengurus Komisariat Penuh.
mendapat
rekomendasi
tertulis
dari
d. Selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah KONFERCAB/MUSCAB,
personalia Pengurus Cabang harus sudah dibentuk dan Pengurus Cabang
Demisioner sudah mengadakan serah terima jabatan.
e.
Apabila dalam jangka waktu telah ditentukan dalam point d, formateur
tidak dapat menyusun komposisi kepengurusan karena meninggal dunia
atau berhalangan tetap lainnya, maka formateur dialihkan kepada mide
formateur yang mendapat suara terbanyak.
f.
Apabila Ketua Umum tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, maka
dapat dipilih pejabat ketua umum.
g. Yang dimaksud dengan tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, adalah:
1. Meninggal dunia
2. Sakit yang menyebabkan tidak dapat menjalankan tugas selama 6
(enam) bulan berturut-turut.
3. Tidak hadir dalam Rapat Harian dan/atau Rapat Presidium selama 2
(dua) bulan berturut-turut.
h. Ketua Umum dapat diberhentikan dan diangkat Pejabat Ketua Umum
sebelum Konfercab/Muscab apabila memenuhi satu atau lebih hal-hal
berikut:
1. Membuat pernyataan publik atas nama Cabang yang melanggar
Anggaran Dasar pasal 6.
2. Terbukti melanggar Anggaran Dasar pasal 16 dan Anggaran Rumah
Tangga pasal 58.
3. Tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana diatur Anggaran Rumah
Tangga pasal 29 ayat c.
i.
Pemberhentian Ketua Umum dan pengangkatan/pengambilan sumpah
jabatan Ketua Umum sebelum Konfercab/Muscab hanya dapat melalui:
1. Keputusan sidang Pleno Pengurus Cabang yang disetujui minimal 50%
+1 suara utusan Sidang Pleno Pengurus cabang.
2. Usulan pemberhentian Ketua Umum hanya dapat diajukan melalui
Keputusan Rapat Harian Pengurus Cabang yang di setujui oleh 2/3
jumlah Pengurus Cabang atau minimal ½ jumlah Komisariat penuh
j.
Usulan pemberhentian Ketua Umum harus disampaikan secara tertulis
disertai alasan, bukti dan saksi disertai tanda tangan pengusul. Usulan
ditembuskan kepada Pengurus Badko
k.
Ketua Umum dapat mengajukan gugatan pembatalan atas putusan
pemberhentiannya kepadaPengurus Badko selambat-lambatnya satu
minggu sejak putusan pemberhentiannya di tetapkan. keputusan
Pengurus Badko dikeluarkan paling lambat dua minggu sejak pengajuan
gugatan pembatalan diterima.dalam hal masih terdapat keberatan atas
keputusan Pengurus Badko maka dapat diajukan gugatan ulang kepada
Pengurus Besar selambat-lambatnya satu minggu sejak keputusan
Pengurus Badko ditetapkan. Keputusan yang bersifat final dan mengikat
dikeluarkan paling lambat 2 minggu sejak gugatan ulang diterima.
l.
Dalam hal Ketua Umum mangkat atau mengundurkan diri, Sekretaris
Umum Pengurus Cabang secara otomatis menjadi Pejabat Sementara
Ketua Umum hingga dipilih, diangkat dan diambil Sumpah Jabatan
Pejabat Ketua Umum dalam Rapat Harian Pengurus Cabang terdekat.
m. Bila Sekretaris Umum tidak dapat menjadi Pejabat Sementara Ketua
Umum karena mangkat, mengundurkan diri atau berhalangan tetap
hingga 2 kali Rapat Harian yang terdekat dari mangkat atau mundurnya
Ketua Umum maka Pejabat Sementara Ketua Umum diangkat otomatis
dari Ketua Bidang Pembinaan Aparat Organisasi hingga dipilih, diangkat
dan disumpah jabatan Pejabat Ketua Umum dalam Rapat Harian
Pengurus Cabang yang terdekat.
n. Sebelum diadakan Rapat Harian Pengurus Cabang untuk memilih Pejabat
Ketua Umum, Pejabat Sementara Ketua Umum memberitahukan mangkat
atau pengunduran diri Ketua Umum kepada Badko dan menjadi saksi
dalam rapat harian Pengurus cabang.
o.
Rapat Harian Pengurus Cabang untuk memilih Pejabat Ketua Umum
langsung dipimpin oleh Pejabat Sementara Ketua Umum. Pejabat Ketua
Umum dapat dipilih melalui Musyawarah atau pemungutan suara dari
calon yang terdiri dari Sekretaris Umum, Bendahara Umum, dan Ketua
Bidang.
p. Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Ketua Umum dilakukan oleh
Pengurus Besar, dan/atau Pengurus Badko yang di tunjuk untuk itu.
q. Ketua Umum dapat melakukan Reshuffle atau pemberhentian atau
penggantian personalia Pengurus Cabang dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
1. Keaktifan yang bersangkutan dalam rapat – rapat HMI Cabang.
2. Realisasi program kerja di bidang yang bersangkutan dalam 1 (satu)
semester
3. Partisipasi yang bersangkutan dalam program kerja Cabang (di luar
bidang yang bersangkutan).
4. Memperhatikan hasil sidang pleno dan rekomendasi MPK PC
Pasal 30
Tugas dan Wewenang
a.
Melaksanakan hasil-hasil ketetapan Konferensi/Musyawarah Cabang,
serta ketentuan/kebijakan organisasi lainnya yang diberikan Pengurus
Besar atau Pengurus Badko.
b. Menetapkan dan mengesahkan pendirian KORKOM.
c.
Membentuk Koordinator Komisariat
mengesahkan kepengurusannya.
(Korkom)
bila
diperlukan
dan
d. Mengesahkan Pengurus Komisariat dan Badan Khusus di tingkat cabang.
e.
Membentuk dan mengembangkan badan-badan khusus.
f.
Melaksanakan sidang pleno sekurang-kurangnya sekali dalam 4 (empat)
bulan atau 2 (dua) kali selama satu periode berlangsung.
g. Melaksanakan Rapat Harian Pengurus Cabang minimal satu minggu
sekali, selama periode berlangsung.
h. Melaksanakan Rapat Presidium Pengurus Cabang minimal satu kali dalam
sebulan.
i.
Menyampaikan laporan kerja kepengurusan dan database anggota 4
(empat) bulan sekali kepada Pengurus Besar melalui Pengurus Badko.
j.
Memilih dan mengesahkan 1 (satu) orang Formateur/Ketua Umum dan 2
(dua) orang Mide Formateur dari 3 (tiga) calon anggota Formateur
Korkom yang dihasilkan dari Musyawarah Komisariat dengan
memperhatikan suara terbanyak dan mengesahkan susunan Pengurus
Korkom Formateur Ketua Umum Korkom.
k.
Mengusulkan pembentukan dan pemekaran cabang melalui Musyawarah
Daerah.
l.
Menyelenggarakan Konferensi/Musyawarah Anggota Cabang.
m. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Anggota Biasa
melalui Konferensi/Musyawarah Anggota cabang.
Pasal 31
Pendirian dan Pemekaran Cabang
a.
Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, pendirian Cabang Persiapan
dapat diusulkan oleh 200 (dua ratus) orang anggota biasa kepada
Pengurus Badko setempat yang selanjutnya diteruskan kepada Pengurus
Besar.
b. Di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia, pendirian Cabang Persiapan
dapat diusulkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) orang anggota bisa
langsung kepada Pengurus Besar.
c.
Usulan disampaikan secara
pendukungnya.
tertulis
disertai alasan dan
dokumen
d. Pengurus Besar dalam mengesahkan Cabang Persiapan menjadi Cabang
Penuh harus meneliti keaslian dokumen pendukung, mempertimbangkan
potensi anggota di daerah setempat, dan potensi-potensi lainnya di
daerah setempat yang dapat mendukung kesinambungan Cabang
tersebut bila disahkan dengan mempertimbangkan pendapat dari Badko
dalam forum pleno PB HMI.
e.
Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekurang-kurangnya setelah
1 (satu) tahun disahkan menjadi Cabang Persiapan, mempunyai minimal
300 (tiga ratus puluh) anggota biasa dan mampu melaksanakan minimal
2 (dua) kali Latihan Kader I dan 1 (satu) kali Latihan Kader II di bawah
bimbingan dan pengawasan Pengurus Badko setempat, memiliki Badan
Pengelola Latihan dan minimal 1 (satu) Lembaga Pengembangan Profesi
aktif serta direkomendasikan Pengurus Badko setempat dapat disahkan
menjadi Cabang Penuh.
f.
Di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekurang-kurangnya setelah
1 (satu) tahun disahkan menjadi Cabang Persiapan, mempunyai minimal
75 (tujuh puluh lima) anggota biasa dan mampu melaksanakan minimal 1
(satu) kali Latihan Kader I dan 1 (satu) kali Latihan Kader II di bawah
bimbingan dan pengawasan Pengurus Besar, memiliki Badan Pengelola
Latihan dapat disahkan menjadi Cabang Penuh.
g. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, 1 (satu) Cabang Penuh
dapat dimekarkan menjadi 2 (dua) atau lebih Cabang Penuh apabila
masing-masing Cabang yang dimekarkan tersebut memiliki minimal 150
(seratus lima puluh) anggota biasa, memiliki Badan Pengelola Latihan
dan minimal 1 (satu) Lembaga Pengembangan Profesi aktif,
direkomendasikan dalam konferensi Cabang asal dan disetujui dalam
Musyawarah Badko setempat, serta tidak dalam satu wilayah
administrative Kabupaten/Kota.
h. Di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia, 1 (satu) Cabang Penuh
dapat dimekarkan menjadi 2 (dua) atau lebih Cabang Penuh apabila
masing-masing Cabang yang dimekarkan tersebut memiliki minimal 25
(dua puluh lima) anggota biasa, memiliki Badan Pengelola Latihan dan
direkomendasikan konferensi Cabang asal.
i.
Dalam mengesahkan pemekaran Cabang Penuh, Pengurus Besar harus
mempertimbangkantingkat dinamika Cabang penuh hasil pemekaran,
daya dukung daerah tempat kedudukan Cabang-Cabang hasil
pemekaran, potensi keanggotaan, potensi pembiayaan untuk menunjang
aktifitas Cabang hasil pemekaran, dan potensi-potensi lainnya yang
menunjang kesinambungan Cabang.
j.
Untuk pemekaran Cabang Penuh yang berkedudukan di Kota Besar, 2
(dua) atau lebih Cabang penuh yang telah dimekarkan dapat berada
dalam 1 (satu) wilayah administrative kota bila memiliki potensi
keanggotaan, potensi pembiayaan, dan potensi-potensi penunjang
kesinambungan Cabang lainnya yang tinggi.
Pasal 32
Penurunan Status dan Pembubaran Cabang
a.
Cabang Penuh dapat diturunkan statusnya menjadi Cabang Persiapan
apabila memenuhi salah satu atau seluruh hal berikut :
1. Memiliki anggota biasa kurang dari 300 (tiga ratus) orang (dalam
NKRI) yang tersebar dalam 3 (tiga) komisariat dan/ atau lebih serta 25
(dua puluh lima) orang (di luar NKRI).
2. Tidak lagi memiliki salah satu atau keduanya dari Badan Pengelola
Latihan dan 1 (satu) Lembaga Pengembangan Profesi.
3. Dalam satu periode kepengurusan tidak melaksanakan Konferensi
Cabang selambat-lambatnya selama 18 (delapan belas) bulan.
4. Tidak melaksanakan Latihan Kader II sebanyak 2 (dua) kali dalam 2
(dua) periode kepengurusan berturut-turut atau tidak melaksanakan 4
(empat) kali Latihan Kader I dalam 2 (dua) periode kepengurusan
berturut-turut.
5. Tidak melaksanakan Sidang Pleno minimal 4 (empat) kali selama 2
(dua) peride kepengurusan berturut-turut atau Rapat Harian dan
Rapat Presidium minimal 20 (dua puluh) kali selama 2 (dua) periode
kepengurusan berturut-turut.
b. Apabila Cabang Persiapan dan Cabang Penuh Yang diturunkan menjadi
Cabang Persiapan dalam waktu 2 (dua) tahun tidak dapat meningkatkan
statusnya menjadi Cabang Penuh maka Cabang tersebut dinyatakan
bubar melalui Keputusan Pengurus Besar.
BAGIAN VII
KOORDINATOR KOMISARIAT
Pasal 33
Status
a.
Koordinator Komisariat (korkom) adalah instansi pembantu Pengurus
Cabang.
b. Pada perguruan tinggi yang dianggap perlu, Pengurus Cabang dapat
membentuk Korkom untuk mengkoordinir beberapa Komisariat.
c.
Masa jabatan Pengurus Korkom disesuaikan dengan masa jabatan
Pengurus Cabang.
Pasal 34
Personalia Pengurus Korkom
a. Formasi Pengurus Korkom sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua Umum,
Sekretaris umum, dan Bendahara Umum.
b. Yang dapat menjadi personalia Pengurus Korkom adalah:
1 Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader II
5 Pernah menjadi pengurus Komisariat.
6. Tidak menjadi personalia Pengurus Korkom untuk periode ketiga
kalinya kecuali jabatan Ketua Umum
c. Yang dapat menjadi Ketua Umum/Formateur Pengurus Korkom adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader II
5. Pernah menjadi pengurus Komisariat
6. Tidak sedang diperpanjang masa keanggotaannya karena sedang
menjadi pengurus
7. Sehat secara jasmani maupun rohani
8. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai
insan akademis.
9. Ketika
mencalonkan diri,
Pengurus Komisariat Penuh.
mendapat
rekomendasi
tertulis
dari
d. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah Musyawarah Komisariat,
personalia Pengurus Korkom harus sudah dibentuk dan Pengurus Korkom
sudah mengadakan serah terima jabatan.
e.
Apabila Ketua Umum tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, maka
dapat dipilih pejabat ketua umum.
f.
Yang dimaksud dengan tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, adalah:
1. Meninggal dunia
2. Sakit yang menyebabkan tidak dapat menjalankan tugas selama 2
(dua) bulan berturut-turut.
3. Tidak hadir dalam Rapat Harian dan/atau Rapat Presidium selama 1
(satu) bulan berturut-turut.
g. Ketua Umum dapat diberhentikan dan diangkat Pejabat Ketua Umum
sebelum Musyawarah Koordinator Komisariat apabila memenuhi satu
atau lebih hal-hal berikut:
1. Membuat pernyataan publik atas nama Pengurus Korkom yang
melanggar Anggaran Dasar pasal 6.
2. Terbukti melanggar Anggaran Dasar pasal 16 dan Anggaran Rumah
Tangga pasal 58.
3. Tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana diatur Anggaran Rumah
Tangga pasal 34 ayat c.
h. Pemberhentian Ketua Umum Korkom dan pengangkatan Pejabat Ketua
Umum Korkom hanya dapat melalui:
1. Keputusan Rapat Harian Pengurus Cabang yang disetujui minimal
50%+1 suara peserta Rapat Harian Pengurus cabang.
2. Rapat Harian Pengurus Cabang hanya membahas usulan
pemberhentian Ketua Umum Korkom yang diusulkan oleh minimal ½
jumlah komisariat di wilayah Korkom tersebut atau ½ jumlah
Pengurus Cabang atau 2/3 jumlah Pengurus Korkom.
i. Usulan pemberhentian Ketua Umum harus disampaikan secara tertulis
disertai alasan, bukti dan saksi disertai tanda tangan pengusul. Usulan
ditembuskan kepada Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Cabang
dan Komisariat.
j. Ketua Umum dapat mengajukan gugatan pembatalan atas putusan
pemberhentiannya kepada
Pengurus Cabang selambat-lambatnya satu
minggu sejak putusan pemberhentiannya di tetapkan. keputusan
Pengurus Cabang dikeluarkan paling lambat dua minggu sejak pengajuan
gugatan pembatalan diterima.dalam hal masih terdapat keberatan atas
keputusan Pengurus Cabang maka dapat diajukan gugatan ulang kepada
Pengurus Cabang selambat-lambatnya satu minggu sejak keputusan
Pengurus cabang ditetapkan. Keputusan yang bersifat final dan mengikat
dikeluarkan paling lambat 2 minggu sejak gugatan ulang diterima.
k. Dalam hal Ketua Umum mangkat atau mengundurkan diri, Sekretaris
Umum Korkom secara otomatis menjadi Pejabat Sementara Ketua Umum
hingga dipilih, diangkat dan diambil Sumpah Jabatan Pejabat Ketua
Umum dalam Rapat Harian Pengurus Cabang terdekat.
l. Sebelum diadakan Rapat Harian Pengurus Cabang, Sekertaris Umum
Korkom selaku Pejabat Sementara Ketua Umum memberitahukan
mangkat atau pengunduran diri Ketua Umum kepada Komisariat dan
Pengurus Cabang.
m. Ketua Umum dapat melakukan Reshuffle atau pemberhentian atau
penggantian personalia Pengurus Korkom dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
1. Keaktifan yang bersangkutan dala Rapat-rapat Pengurus Korkom
2. Realisasi program kerja di bidang yang bersangkutan dalam 3 (tiga)
bulan
3. Partisipasi yang bersangkutan dalam program kerja Korkom (di luar
bidang yang bersangkutan).
Pasal 35
Tugas dan Wewenang
a.
Melaksanakan dan mengembangkan kebijaksanaan Pengurus Cabang
tentang berbagai masalah organisasi di wilayahnya.
b. Mewakili Pengurus Cabang menyelesaikan persoalan intern di wilayah
koordinasinya dan berkonsultasi serta berkoordinasi dengan Pengurus
Cabang.
c.
Melaksanakan Ketetapan-ketetapan Musyawarah Komisariat.
d. Menyampaikan laporan kerja di Sidang Pleno Pengurus Cabang dan di
waktu lain ketika diminta Pengurus Cabang.
e.
Membantu menyiapkan draf materi Konferensi Cabang.
f.
Mengkoordinir dan mengawasi kegiatan Komisariat dalam wilayah
koordinasinya.
g. Meminta laporan Komisariat dalam wilayah koordinasinya.
h. Menyelenggarakan
Musyawarah Komisariat selambat-lambatnya dua
bulan setelah Konferensi Cabang.
i.
Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Pengurus Cabang
melalui Rapat Harian Pengurus Cabang selambat-lambatnya 1 minggu
sebelum Musyawarah Komisariat dan menyampaikan laporan kerja
selama periode kepengurusan di Musyawarah komisariat.
j.
Mengusulkan kenaikan dan penurunan status Komisariat di wilayah
koordinasinya berdasarkan evaluasi perkembangan Komisariat.
k.
Mengusulkan
Persiapan.
kepada
Pengurus
Cabang
pembentukan
Komisariat
Pasal 36
Musyawarah Komisariat
a.
Musyawarah Komisariat (Muskom) adalah musyawarah perwakilan
komisariat-komisariat yang ada dalam wilayah koordinasi Korkom.
b. Muskom dilaksanakan selambat-lambatnya 2 bulan setelah Konferensi
Cabang.
c.
Kekuasaan dan wewenang Muskom adalah menetapkan Pedoman Kerja
Pengurus Korkom, program kerja, mengusulkan pemekaran Komisariat
serta Rekomendasi Internal dan Eksternal Korkom dan memilih caloncalon Formateur Korkom sebanyak 3 orang dan diusulkan kepada
Pengurus Cabang untuk dipilih dan disahkan 3 orang dandiusulkan
kepada Pengurus Cabang untuk dipilih dan disahkan 1 orang sebagai
Formateur dan 2 orang sebagai mide Formateur dengan memperhatikan
suara terbanyak.
d. Tata Tertib Muskom disesuaikan dengan pasal 16 Anggaran Rumah
Tangga.
BAGIAN VII
KOMISARIAT
Pasal 37
Status
a.
Komisariat merupakan satu kesatuan organisasi di bawah Cabang yang
dibentuk di satu perguruan tinggi atau satu/beberapa fakultas dalam satu
perguruan tinggi.
b. Masa
jabatan Pengurus Komisariat adalah satu tahun
pelantikan/serah terima jabatan setelah Pengurus Demisioner.
c.
semenjak
Setelah satu tahun berdirinya dengan bimbingan dan pengawasan
Korkom/Cabang yang bersangkutan serta syarat-syarat berdirinya
Komisariat Penuh telah dipenuhi, maka dapat mengajukan permohonan
kepada Pengurus Cabang untuk disahkan menjadi Komisariat Penuh
dengan rekomendasi Korkom.
d. Dalam hal tidak terdapat Korkom pengajuan Komisariat penuh langsung
kepada Pengurus Cabang.
Pasal 38
Personalia Pengurus Komisariat
a. Formasi Pengurus komisariat sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua
Umum, Sekretaris umum, dan Bendahara Umum.
b. Yang dapat menjadi personalia Pengurus Komisariat adalah:
1 Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader I minimal 1 (satu) tahun
setelah lulus.
5. Tidak menjadi personalia Pengurus Komisariat untuk periode ketiga
kalinya kecuali jabatan Ketua Umum
c. Yang dapat menjadi Ketua Umum/Formateur Pengurus Komisariat adalah:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT
2. Dapat membaca Al Qur`an
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader I minimal 1 tahun.
5. Pernah menjadi pengurus Komisariat
6. Tidak sedang diperpanjang masa keanggotaannya karena sedang
menjadi pengurus
7. Sehat secara jasmani maupun rohani
8. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai
insan akademis.
d
Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah Rapat Anggota
Komisariat, personalia Pengurus Komisariat harus sudah dibentuk dan
Pengurus Demisioner sudah mengadakan serah terima jabatan.
e. Apabila dalam jangka waktu telah ditentukan formateur tidak dapat
menyusun komposisi kepengurusan karena meninggal dunia atau
berhalangan tetap lainnya, maka formateur dialihkan kepada mide
formateur yang mendapat suara terbanyak.
f.
Apabila Ketua Umum tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, maka
dapat dipilih pejabat ketua umum.
g. Yang dimaksud dengan tidak dapat menjalankan tugas/non aktif, adalah:
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
1. Meninggal dunia
2. Sakit yang menyebabkan tidak dapat menjalankan tugas selama 2
(dua) bulan berturut-turut.
3. Tidak hadir dalam Rapat Harian dan/atau Rapat Presidium selama 1
(satu) bulan berturut-turut.
Ketua Umum dapat diberhentikan dan diangkat Pejabat Ketua Umum
sebelum Rapat Anggota Komisariat apabila memenuhi satu atau lebih
hal-hal berikut:
1. Membuat pernyataan publik atas nama Pengurus Korkom yang
melanggar Anggaran Dasar pasal 6.
2. Terbukti melanggar Anggaran Dasar pasal 16 dan Anggaran Rumah
Tangga pasal 58.
3. Tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana diatur Anggaran Rumah
Tangga pasal 38 ayat c.
Pemberhentian Ketua Umum dan pengangkatan Pejabat Ketua Umum
hanya dapat melalui:
1. Keputusan Rapat Harian Pengurus Komisariat yang disetujui minimal
50%+1 suara utusan Rapat Harian Pengurus Komisariat.
2. Usulan pemberhentian Ketua Umum harus disampaikan secara
tertulis disertai alasan, bukti dan saksi (bila dibutuhkan) dan tanda
tangan pengusul. Usulan ditembuskan kepada Pengurus Cabang.
3. Usulan pemberhentian Ketua Umum dapat diajukan melalui
Keputusan Rapat Harian Pengurus Komisariat yang disetujui oleh
minimal 2/3 jumlah Pengurus Komisariat.
Ketua Umum dapat mengajukan gugatan pembatalan atas putusan
pemberhentiannya kepada Pengurus Cabang selambat-lambatnya satu
minggu sejak putusan pemberhentiannya di tetapkan. putusan Pengurus
Cabang yang bersifat final dan mengikat dikeluarkan paling lambat 2
minggu sejak pengajuan gugatan pembatalan diterima.
Dalam hal Ketua Umum mangkat atau mengundurkan diri, Sekretaris
Umum Pengurus Komisariat secara otomatis menjadi Pejabat Sementara
Ketua Umum hingga dipilih, diangkat dan diambil Sumpah Jabatan
Pejabat Ketua Umum dalam Rapat Harian Pengurus Komisariat terdekat.
Bila Sekretaris Umum tidak dapat menjadi Pejabat Sementara Ketua
Umum karena mangkat, mengundurkan diri atau berhalangan tetap
hingga 2 kali Rapat Harian yang terdekat dari mangkat atau mundurnya
Ketua Umum maka Pejabat Sementara Ketua Umum diangkat otomatis
dari Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan dan Pembinaan Anggota
hingga dipilih, diangkat dan disumpah jabatan Pejabat Ketua Umum
dalam Rapat Harian Pengurus Komisariat yang terdekat.
Sebelum diadakan Rapat Harian Pengurus komisariat untuk memilih
Pejabat Ketua Umum, Pejabat Sementara Ketua Umum memberitahukan
mangkat atau pengunduran diri Ketua Umum kepada Pengurus Cabang
dan menjadi saksi dalam rapat harian Pengurus Komisariat.
Rapat Harian Pengurus Komisariat untuk memilih Pejabat Ketua Umum
langsung dipimpin oleh Pejabat Sementara Ketua Umum. Pejabat Ketua
Umum dapat dipilih melalui Musyawarah atau pemungutan suara dari
calon yang terdiri dari Sekretaris Umum, Bendahara Umum, dan Ketua
Bidang.
Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Ketua Umum dilakukan oleh
Pengurus HMI Cabang.
p. Ketua Umum dapat melakukan Reshuffle atau pemberhentian atau
penggantian personalia Pengurus Komisariat dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
1. Keaktifan yang bersangkutan dala Rapat-rapat Pengurus Komisariat
2. Realisasi program kerja di bidang yang bersangkutan dalam 3 (tiga)
bulan
3. Partisipasi yang bersangkutan dalam program kerja Komisariat (di luar
bidang yang bersangkutan).
Pasal 39
Tugas dan Wewenang
a.
Melaksanakan
hasil-hasil
Rapat
Anggota
Komisariat
dan
ketentuan/kebijakan organisasi lainnya dan diberikan oleh Pengurus
Cabang.
b. Membentuk dan mengembangkan Badan-Badan Khusus.
c.
Melaksanakan Rapat Harian Pengurus Komisariat minimal satu bulan 1
(satu) kali.
d. Melaksanakan Rapat Presidium Pengurus Komisariat minimal 1 dalam
seminggu.
e.
Menyampaikan laporan kerja pengurus 4 (empat) bulan sekali kepada
Pengurus Cabang.
f.
Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Anggota biasa
melalui Rapat Anggota Komisariat.
Pasal 40
Pendirian dan Pemekaran Komisariat
a.
Pendirian Komisariat Persiapan dapat diusulkan oleh sekurang-kurangnya
25 (dua puluh lima) Anggota Biasa dari satu perguruan tinggi atau
satu/beberapa fakultas dari satu perguruan tinggi langsung kepada
Pengurus Cabang atau melelui Pengurus Korkom yang selanjutnya
dibicarakan dalam sidang Pleno Pengurus Cabang.
b. Usulan
disampaikan secara
pendukungnya.
c.
tertulis
disertai alasan dan
dokumen
Pengurus Cabang dalam mengesahkan Komisariat Persiapan harus
meneliti keaslian dokumen pendukung, mempertimbangkan potensi
anggota di perguruan tinggi, dan potensi-potensi lainnya di daerah
setempat yang dapat mendukung kesinambungan Komisariat tersebut
bila dibentuk.
d. Sekurang-kurangnya setelah 1 (satu) tahun disahkan menjadi Komisariat
Persiapan, mempunyai minimal 50 (lima puluh) anggota biasa dan
mampu melaksanakan minimal 1 (satu) kali Latihan Kader I dan 2 (dua)
kali Maperca di bawah bimbingan dan pengawasan Cabang/Korkom
setempat, serta direkomendasikan Korkom setempat dapat disahkan
menjadi Komisariat Penuh di Sidang Pleno Pengurus Cabang.
e.
Dalam mengesahkan pemekaran Komisariat Penuh, Pengurus Cabang
harus mempertimbangkan tingkat dinamika Komisariat penuh hasil
pemekaran, daya dukung fakultas/perguruan tinggi tempat kedudukan
Komisariat-Komisariat hasil pemekaran, potensi keanggotaan, potensi
pembiayaan untuk menunjang aktifitas Komisariat hasil pemekaran, dan
potensi-potensi lainnya yang menunjang kesinambungan Komisariat.
f.
Pemekaran Komisariat Penuh dapat dimekarkan menjadi dua atau lebih
Komisariat penuh apabila masing-masing Komisariat yang dimekarkan
tersebut memiliki minimal 50 (lima puluh) Anggota Biasa.
Pasal 41
Penurunan Status dan Pembubaran Komisariat
a. Komisariat Penuh dapat diturunkan statusnya menjadi Komisariat
Persiapan apabila memenuhi salah satu atau seluruh hal berikut :
1. Memiliki anggota biasa kurang dari 50 (lima puluh) orang.
2. Dalam
satu periode kepengurusan tidak melaksanakan Rapat
Anggota Komisariat selambat-lambatnya selama 18 (delapan belas)
bulan.
3. Tidak melaksanakan Latihan Kader I sebanyak 2 kali dalam 2 periode
kepengurusan berturut-turut atau tidak melaksanakan 3 (tiga) kali
Maperca dalam 2 periode kepengurusan berturut-turut.
4. Tidak melaksanakan Rapat Harian minimal 10 (sepuluh) kali selama 2
periode kepengurusan berturut-turut atau Rapat Presidium minimal
30 (tiga puluh) kali 2 periode kepengurusan berturut-turut.
b. Apabila Komisariat penuh yang diturunkan menjadi Komisariat Persiapan
dalam waktu 2 (dua) tahun tidak dapat meningkatkan statusnya menjadi
Komisariat Penuh maka Komisariat tersebut dinyatakan bubar melalui
keputusan pengurus cabang.
C. MAJELIS PENGAWAS DAN KONSULTASI
BAGIAN IX
MAJELIS PENGAWAS DAN KONSULTASI
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Pasal 42
Status, Fungsi, Keanggotaan dan Masa Jabatan
a.
Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa
Islam adalah Majelis Pengawas dan Konsultasi HMI di tingkat Pengurus
Besar.
b. Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa
Islam berfungsi melakukan pengawasan terhadap kinerja Pengurus Besar
dalam melaksanakan AD/ART dan aturan dibawahnya dan memberikan
penilaian konstitusional yang bersifat final dan mengikat atas perkara
konstitusional di tingkat Pengurus Besar.
c.
Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar berjumlah 15
(lima belas) orang yang dipilih dan ditetapkan oleh peserta Kongres.
d. Anggota
Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar adalah
anggota atau alumni HMI yang memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT.
2. Dapat membaca Al Qur`an.
3. Tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi karena melanggar AD/ART.
4. Dinyatakan lulus mengikuti Latihan Kader III.
5. Pernah menjadi Presidium Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa
Islam atau presidium pengurus Badan Khusus di tingkat Pengurus
Besar.
6. Sehat secara jasmani maupun rohani.
7. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai
Insan Akademis yakni karya tulis ilmiah.
8. Tidak menjadi anggota MPK PB HMI untuk yang ketiga kalinya.
9. Ketika mencalonkan mendapat rekomendasi dari 5 (lima) Cabang
Penuh.
10. Sanggup mengikuti rapat-rapat dan sidang anggota MPK PB HMI.
e.
Masa jabatan Majelis Pengawas Dan Konsultasi Pengurus Besar adalah 2
(dua) tahun dimulai sejak terbentuknya di Kongres dan berakhir di
Kongres periode berikutnya.
f.
Apabila salah satu anggota MPK PB meninggal, mengundurkan diri, maka
akan diganti dengan calon MPK PB HMI dengan nomor urut berikutnya
dan dipilih berdasarkan pengurus setempat berdasarkan suara
terbanyak.
g. Apabila hasil pengawasan dan putusan MPK PB HMI tidak dijalankan
maka MPK PB HMI memanggil Ketua Umum PB HMI untuk dimintai
keterangan. Keterangan yang diperoleh selanjutnya dijadikan bahan oleh
MPK PB HMI untuk diberikan penilaian dengan berpedoman pada AD/ART
HMI.
Pasal 43
Tugas dan Wewenang MPK PB HMI
a.
Menjaga tegaknya AD/ART HMI di tingkat Pengurus Besar.
b. Menyampaikan
hasil pengawasannya dalam Sidang MPK PB HMI
kemudian disampaikan dalam Pleno Pengurus Besar dalam Kongres.
c.
Mengawasi pelaksanaan AD/ART dan ketetapan-ketetapan Kongres oleh
Pengurus Besar.
d. Memberikan
masukan dan saran kepada Pengurus Besar dalam
melaksanakan AD/ART dan ketetapan-ketetapan Kongres baik diminta
maupun tidak diminta.
e.
Menyampaikan hasil pengawasannya dalam Sidang Pleno Pengurus
Besar.
f.
menyiapkan draft materi Kongres.
g. Memberikan putusan yang bersifat final dan mengikat atas perkara
konstitusional yang diajukan anggota biasa dan struktur organisasi
lainnya.
Pasal 44
Struktur, Tata Kerja dan Persidangan MPK PB HMI
a.
Struktur MPK PB HMI terdiri dari 1 (satu) orang Koordinator dan komisikomisi.
b. Koordinator, dan ketua komisi dipilih dari dan oleh anggota MPK PB HMI
dalam rapat MPK PB HMI.
c.
Komisi-komisi ditetapkan berdasarkan pembagian bidang Pengurus Besar
dan di pimpin oleh seorang ketua komisi yang di pilih dari dan oleh
anggota komisi tersebut.
d. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, MPK PB HMI difasilitasi
oleh Pengurus Besar.
e.
MPK PB HMI bersidang sedikitnya 4 (empat) kali dalam 1 (satu) periode.
f.
Sidang MPK PB HMI dianggap sah bila dihadiri oleh minimal 2/3 anggota
MPK PB HMI dan dipimpin oleh Koordinator MPK PB HMI.
g. Putusan MPK PB HMI diambil secara musyarah mufakat dan bila tidak
dapat dipenuhi dapat diambil melalui suara terbanyak (50%+1).
BAGIAN X
MAJELIS PENGAWAS DAN KONSULTASI
PENGURUS CABANG HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Pasal 45
Status, Fungsi, Keanggotaan dan Masa Jabatan
a.
Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa
Islam adalah Majelis Pengawas dan Konsultasi HMI ditingkat Pengurus
Cabang.
b. Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa
Islam berfungsi melakukan pengawasan terhadap kinerja Pengurus
Cabang dalam melaksanakan AD/ART dan aturan penjabarannya,
Keputusan Pengurus Besar dan Pengurus Badko dan hasil-hasil
Konfercab/Muscab.
c.
Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Cabang Himpunan
Mahasiswa Islam (MPK PC HMI) berjumlah 7 (tujuh) orang.
d. Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Cabang Himpunan
Mahasiswa Islam adalah anggota/alumni HMI yang memenuhi syarat
sebagai berikut:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT.
2. Dapat membaca Al Qur’an.
3. Tidak pernah dijatuhi sangsi organisasi karena melanggar AD/ART.
4. Dinyatakan telah lulus mengikuti Latihan Kader II.
5. Pernah menjadi Presidium Pengurus Cabang atau Presidium Pengurus
Badan Khusus di tingkat Pengurus Cabang atau Ketua Umum Korkom.
6. Sehat secara jasmani maupun rohani.
7. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai
insan akademis yakni karya tulis ilmiah.
8. Ketika mencalonkan mendapatkan rekomendasi tertulis dari Korkom/
Komisariat.
9. Tidak menjadi anggota MPK PC HMI untuk yang ketiga kalinya.
e.
Masa Jabatan Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Cabang
Himpunan Mahasiswa Islam adalah 1 (satu) tahun dimulai sejak
terbentuknya di Konferensi Cabang dan berakhir pada Konferensi Cabang
berikutnya.
Pasal 46
Tugas dan Wewenang MPK PC HMI
a.
Menjaga tegaknya AD/ART HMI di semua tingkatan struktur Cabang
hingga Komisariat.
b. Mengawasi pelaksanaan AD/ART dan penjabarannya, keputusan Pengurus
Besar dan Pengurus Badko, serta ketetapan-ketetapan Konferensi Cabang
oleh Pengurus Cabang dan badan khusus di tingkat Cabang.
c.
Memberikan saran dan masukan atas pelaksanaan keputusan Pengurus
Besar dan Pengurus Badko, dan ketetapan-ketetapan Konferensi Cabang
oleh Pengurus Cabang dan badan khusus di tingkat Cabang ketika
diminta maupun tidak diminta.
d. Menyampaikan hasil pengawasannya kepada Sidang Pleno Pengurus
Cabang.
e.
Menyiapkan draft materi Konferensi Cabang.
Pasal 47
Struktur, Tata Kerja dan Persidangan MPK PC HMI
a.
Struktur MPK PC HMI terdiri dari 1 (satu) orang Koordinator dan KomisiKomisi
b. Koordinator dipilih dari dan oleh anggota MPK PC HMI.
c.
Komisi-Komisi ditetapkan berdasarkan pembagian bidang Pengurus
Cabang dan dipimpin oleh seorang Ketua Komisi yang dipilih dari dan
oleh anggota Komisi tersebut.
d. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, MPK PC HMI difasilitasi
oleh Pengurus Cabang.
e.
MPK PC HMI bersidang sedikitnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) periode.
f.
Sidang MPK PC HMI dianggap sah bila dihadiri oleh minimal 2/3 anggota
MPK PC HMI dan dipimpin oleh Koordinator MPK PC HMI.
g. Putusan MPK PC HMI diambil secara musyawarah mufakat dan bila tidak
dapat dipenuhi dapat diambil melalui suara terbanyak ( 50%+1).
BAGIAN XI
MAJELIS PENGAWAS DAN KONSULTASI
PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Pasal 48
Status, Fungsi, Keanggotaan dan Masa Jabatan
a.
Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Komisariat Himpunan
Mahasiswa Islam adalah Majelis Pengawas dan Konsultasi HMI ditingkat
Pengurus Komisariat.
b. Majelis
Pengawas dan Konsultasi Pengurus Komisariat Himpunan
Mahasiswa Islam berfungsi melakukan pengawasan terhadap kinerja
Pengurus Komisariat dalam melaksanakan AD/ART dan aturan
penjabarannya, keputusan Pengurus Cabang dan Korkom, dan ketetapan
Rapat Anggota Komisariat.
c.
Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Komisariat Himpunan
Mahasiswa Islam berjumlah 5 (lima) orang.
d.
Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Komisariat
Himpunan Mahasiswa Islam adalah anggota/alumni HMI yang memenuhi
syarat sebagai berikut:
1. Bertaqwa kepada Allah SWT.
2. Dapat membaca Al Qur’an.
3. Tidak pernah dijatuhi sanksi organisasi karena melanggar AD/ART.
4. Dinyatakan telah lulus mengikuti Latihan Kader II.
5. Pernah menjadi Pengurus Komisariat dan Pengurus Badan Khusus di
tingkat Komisariat minimal sebagai Presidium.
6. Sehat secara jasmani maupun rohani.
7. Berwawasan keilmuan yang luas dan memiliki bukti nyata sebagai
insan akademis yakni karya tulis ilmiah.
8. Tidak menjadi anggota MPK PK HMI untuk yang ketiga kalinya.
e.
Masa Jabatan Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Komisariat
Himpunan Mahasiswa Islam adalah 1 (satu) tahun dimulai sejak
terbentuknya di RAK dan berakhir pada RAK periode berikutnya.
Pasal 49
Tugas dan Wewenang MPK PK HMI
a.
Menjaga tegaknya AD/ART HMI ditingkat Komisariat.
b. Mengawasi pelaksanaan AD/ART dan penjabarannya, keputusan Pengurus
Cabang dan Korkom serta ketetapan-ketetapan Rapat Anggota Komisariat
oleh Pengurus Komisariat dan badan khusus di tingkat Komisariat.
c.
Memberikan saran dan masukan atas pelaksanaan keputusan Pengurus
Cabang dan Korkom dan ketetapan-ketetapan Rapat Anggota Komisariat
oleh Pengurus Komisariat dan badan khusus di tingkat Komisariat ketika
diminta maupun tidak diminta.
d. Menyampaikan hasil pengawasannya kepada Sidang Pleno, rapat harian
Pengurus Komisariat dan RAK.
e.
Menyiapkan draft materi Rapat Anggota Komisariat.
Pasal 50
Struktur, Tata Kerja dan Persidangan MPK PK HMI
a.
Struktur MPK PK HMI terdiri dari 1 (satu) orang Koordinator dan Komisi
Komisi.
b. Koordinator dipilih dari dan oleh anggota MPK PK HMI.
c.
Komisi-Komisi ditetapkan berdasarkan pembagian bidang Pengurus
Komisariat dan dipimpin oleh seorang Ketua Komisi yang dipilih dari dan
oleh anggota Komisi tersebut.
d. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, MPK PK HMI difasilitasi
oleh Pengurus Komisariat.
e.
MPK PK HMI bersidang sedikitnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) periode.
f.
Sidang MPK PK HMI dianggap sah bila dihadiri oleh minimal 2/3 anggota
MPK PK dan dipimpin oleh Koordinator MPK PK HMI.
g. Putusan MPK PK HMI diambil secara musyawarah mufakat dan bila tidak
dapat dipenuhi dapat diambil melalui suara terbanyak (50%+1).
D. BADAN–BADAN KHUSUS
Pasal 51
Status, Sifat dan Fungsi Badan Khusus
a.
Badan Khusus adalah lembaga yang dibentuk/disahkan oleh struktur
pimpinan sebagai wahana beraktifitas di bidang tertentu secara
professional di bawah koordinasi bidang dalam struktur pimpinan
setingkat.
b. Badan Khusus bersifat semi otonom terhadap struktur pimpinan.
c.
Badan Khusus dapat memiliki pedoman sendiri yang tidak bertentangan
dengan AD/ART dan ketetapan-ketetapan Kongres lainnya.
d. Badan Khusus berfungsi sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan
wahana pengembangan bidang tertentu yang dinilai strategis.
Pasal 52
Jenis Badan Khusus
a.
Badan Khusus terdiri dari korps HMI-Wati (Kohati), Badan Pengelola
Latihan, Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) dan Badan Peneliti dan
Pengembangan (Balitbang).
b. Badan Khusus dapat dibentuk di semua tinggkat struktur HMI.
c.
Badan Khusus sebagaimana yang tersebut dalam point a dan b di atas
memiliki pedoman sendiri yang tidak bertentangan dengan AD/ART HMI &
Ketetapan– Ketetapan Kongres lainnya.
d. Badan Khusus berfungsi sebagai wadah pengembangan minat dan bakat
anggota di bidang tertentu.
e.
Di tingkat Pengurus Besar dibentuk Kohati PB HMI, badan Pengelola
Latihan (BPL), Bakornas Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) dan
Balitbang PB HMI.
Pasal 53
Korps HMI – Wati
a.
Korps HMI-Wati yang disingkat Kohati adalah badan khusus HMI yang
berfungsi sebagai wadah membina, mengembangkan dan meningkatkan
potensi HMI-Wati dalam wacana dan dinamika gerakan keperempuanan.
b. Di tingkat internal HMI, Kohati berfungsi sebagai bidang keperempuanan.
Di tingkat ekternal HMI, berfungsi sebagai organisasi keperempuanan.
c.
Kohati terdiri dari Kohati PB HMI, Kohati Badko HMI, Kohati HMI Cabang,
Kohati HMI Korkom dan Kohati HMI Komisariat.
d. Kohati bertugas :
1. Melakukan pembinaan, pengembangan dan peningkatan potensi
kader HMI dalam wacana dan dinamika keperempuanan.
2. Melakukan advokasi terhadap isu-isu keperempuanan.
e.
Kohati memiliki hak dan wewenang untuk :
1. Memiliki Pedoman Dasar Kohati.
2. Kohati berhak untuk mendapatkan informasi dari semua tinggkatan
struktur kepemimpinan HMI untuk memudahkan Kohati menunaikan
tugasnya.
3. Dapat melakukan kerjasama dengan pihak luar, khususnya dalam
gerakan keperempuanan yang tidak bertentangan dengan AD/ART
dan pedoman organisasi lainnya.
f.
Personalia Kohati :
1. Formasi Pengurus Kohati sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua,
Sekertaris Umum dan Bendahara Umum.
2. Struktur pengurus Kohati berbentuk garis Fungsional.
3. Pengurus Kohati disahkan oleh struktur kepemimpinan HMI setingkat.
4. Masa kepengurusan Kohati disesuaikan dengan masa kepengurusan
struktur kepemimpinan HMI.
g. Yang dapat menjadi Ketua/Pengurus Kohati PB HMI adalah HMI-Wati yang
pernah menjadi Pengurus Kohati Cabang/Badko/Kohati PB HMI,
berprestasi, yang telah mengikuti LKK dan LK III. Yang dapat menjadi
Ketua/Pengurus Kohati Badko adalah HMI-Wati yang telah menjadi
Pengurus Cabang, berprestasi, yang telah mengikuti LKK dan LK II atau
training tingkat nasional lainnya. Yang dapat menjadi Ketua Pengurus
Kohati Cabang adalah HMI-Wati yang pernah menjadi Pengurus
Kohati/Bidang Pemberdayaan Perempuan Komisariat/Korkom, berprestasi
dan telah mengikuti LKK dan LK II. Yang dapat menjadi Ketua/Pengurus
Kohati Korkom adalah HMI-Wati yang pernah menjadi Pengurus
Kohati/Bidang Pemberdayaan Perempuan Komisariat, berprestasi dan
telah mengikuti LKK dan LK I. Yang dapat menjadi Ketua/Pengurus Kohati
Komisariat adalah HMI-Wati berprestasi yang telah mengikuti LKK dan LK
I.
h. Musyawarah Kohati :
1. Musyawarah
Kohati merupakan instansi pengambilan keputusan
tertinggi pada Kohati.
2. Musyawarah Kohati merupakan Forum laporan pertanggung jawaban
dan perumusan program kerja Kohati.
3. Tata Tertib Musyawarah Kohati diatur tersendiri dalam Pedoman Dasar
Kohati.
Pasal 54
Lembaga Pengembangan Profesi
a.
Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) adalah lembaga perkaderan untuk
pengembangan profesi di lingkungan HMI.
b. Lembaga Pengembangan Profesi terdiri dari :
1. Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI).
2. Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI).
3. Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI).
4. Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI).
5. Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI).
6. Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI).
7. Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSMI).
8. Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI).
9. Lembaga Pertanian Mahasiswa Islam (LPMI).
c.
Lembaga Pengembangan Profesi bertugas :
1. Melaksanakan perkaderan dan program kerja sesuai dengan bidang
profesi masing-masing LPP.
2. Memberikan laporan secara berkala kepada struktur HMI setingkat.
d. Lembaga
Pengembangan Profesi (LPP) memiliki hak dan wewenang
untuk :
1. Memiliki pedoman dasar dan pedoman rumah tangga.
2. Masing-masing Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) di tingkat
Pengurus Besar berwenang untuk melakukan akreditasi Lembaga
Pengembangan Profesi (LPP) di tingkat cabang.
3. Dapat
melakukan kerjasama dengan pihak luar yang
bertentangan dengan AD/ART dan pedoman organisasi lainnya.
tidak
4. Dapat melakukan penyikapan fenomenal eksternal sesuai dengan
bidang profesi masing-masing Lembaga Pengembangan Profesi (LPP).
e.
Personalia Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) :
1. Formasi pengurus Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) sekurang-
kurangnya terdiri dari Direktur, Direktur Administrasi dan Keuangan,
dan Direktur Pendidikan dan Pelatihan.
2. Pengurus
Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) disahkan oleh
struktur kepemimpinan HMI setingkat.
3. Masa
kepengurusan Lembaga Pengembangan Profesi
disesuaikan dengan masa kepengurusan HMI setingkat.
(LPP)
4. Pengurus Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) adalah anggota biasa
yang telah mengikuti pendidikan dan latihan (Diklat) di masingmasing lembaga profesi.
f.
Musyawarah
Musyawarah Lembaga merupakan instansi pengambilan
keputusan tertinggi di Lembaga Pengembangan Profesi (LPP), baik di
tingkat Pengurus Besar HMI maupun di tingkat HMI Cabang.
1.
Di tingkat Pengurus Besar di sebut Musyawarah Nasional di
hadiri oleh Pengurus Lembaga Pengembangan Profesi Cabang dan di
tingkat Cabang di sebut Musyawarah Lembaga dihadiri oleh Anggota
Lembaga Pengembangan Profesi Cabang.
2.
Musyawarah Lembaga menetapkan program kerja dan memilih
formateur dan mide formateur.
3.
Tata tertib Musyawarah Lembaga diatur
Pedoman Lembaga Pengembangan Profesi.
4.
tersendiri
dalam
g. Rapat Koordinasi Nasional
Rapat Koordinasi
Nasional (Rakornas) dilaksanakan oleh
Lembaga Pengembangan Profesi di tingkat Pengurus Besar dan
diadakan sekali dalam satu masa periode kepengurusan.
1.
Rapat Koordinasi Nasional dilaksanakan oleh Lembaga
Pengembangan Profesi di Tingkat Pengurus Besar HMI dan Lembaga
Pengembangan Profesi di tingkat Cabang.
2.
Rapat Koordinasi Nasional
program–program
kerja
di
Pengembangan Profesi.
3.
berfungsi untuk menyelaraskan
lingkungan
lembaga-lembaga
h. Pembentukan Lembaga Pengembangan Profesi (LPP):
Pembentukan Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) di Tingkat
Pengurus Besar dapat dilakukan sekurang-kurangnya telah memiliki
10 (sepuluh) Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) di tingkat
Cabang.
1.
Pembentukan Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) di tingkat
cabang dapat dilakukan oleh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang
anggota biasa berdasarkan profesi keilmuan atau minat dan bakat.
2.
Pasal 55
Badan Pengelola Latihan
a. Badan Pengelola Latihan (BPL) adalah lembaga yang mengelola
aktivitas pelatihan di lingkungan HMI.
b. Badan Pengelola Latihan terdiri dari Badan Pengelola Latihan yang
terdapat di tingkat Pengurus Besar dan yang terdapat di tingkat
Badko/Cabang.
c. Badan Pengelola Latihan bertugas :
1.
Mengelola aktivitas pelatihan di lingkungan HMI.
Memberikan
laporan
secara
kepemimpinan HMI setempat.
2.
berkala
kepada
struktur
d. Badan Pengelola Latihan (BPL) memiliki hak dan wewenang untuk :
1.
Memiliki pedoman dasar dan pedoman rumah tangga.
Badan Pengelola Latihan (BPL) berwenang untuk melakukan
akreditasi Badan Pengelola Latihan di tingkat Badko/Cabang.
2.
Dapat melakukan kerjasama dengan pihak luar, khususnya yang
di bidang perkaderan yang tidak bertentangan dengan AD/ART dan
pedoman organisasi lainnya.
3.
e. Personalia Badan Pengelola Latihan (BPL):
Formasi pengurus Badan Pengelola Latihan (BPL) sekurangkurangnya terdiri dari Kepala, Sekertaris dan Bendahara.
1.
Pengurus Badan Pengelola Latihan (BPL) disahkan oleh struktur
kepemimpinan HMI setingkat.
2.
Masa kepengurusan Badan Pengelola Latihan (BPL) disesuaikan
dengan masa kepengurusan HMI setingkat.
3.
Pengurus Badan Pengelola Latihan (BPL) di tingkat Pengurus
Besar dan Badko adalah anggota biasa yang telah lulus LK III dan
Senior Course dan di tingkat Cabang telah lulus LK II dan Senior
Course.
4.
f. Musyawarah Lembaga :
Musyawarah Lembaga merupakan instansi
keputusan tertinggi di Badan Pengelola Latihan (BPL).
1.
pengambilan
Musyawarah Lembaga menetapkan program kerja dan calon
Kepala BPL sebagai formateur yang kemudian diajukan kepada
pengurus struktur kepemimpinan HMI setingkat untuk ditetapkan.
2.
Tata tertib Musyawarah Lembaga
Pedoman Badan Pengelola Latihan (BPL).
3.
diatur
tersendiri
dalam
Pasal 56
Badan Penelitian dan Pengembangan
a. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) adalah lembaga yang
mengelola aktivitas penelitian dan pengembangan di lingkungan HMI.
b. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) hanya terdapat di
tingkat Pengurus Besar.
c. Badan Penelitian dan Pengembangan bertugas :
Melaksanakan
dan
Mengelola
pengembangan di lingkungan HMI.
1.
Memberikan
laporan
secara
kepemimpinan HMI setempat.
2.
aktivitas
berkala
penelitian
kepada
dan
struktur
d. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) memiliki hak dan
wewenang untuk :
1. Memiliki pedoman dasar dan pedoman rumah tangga.
2. Badan
Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) berhak untuk
mendapatkan informasi dari semua tingkatan HMI untuk keperluan
penelitian dan pengembangan di lingkungan HMI.
3. Dapat melakukan kerjasama dengan pihak luar, khususnya yang di
bidang penelitian dan pengembangan yang tidak bertentangan
dengan AD/ART dan pedoman organisasi lainnya.
e. Personalia Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang):
1. Formasi pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)
sekurang-kurangnya terdiri dari Kepala, Sekertaris dan Bendahara.
2. Pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) disahkan
oleh Pengurus Besar HMI setingkat.
3. Masa kepengurusan struktur kepemimpinan Badan Penelitian dan
Pengembangan (Balitbang) disesuaikan dengan masa kepengurusan
HMI setingkat.
4. Pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) adalah
anggota biasa dan telah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh
Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) HMI.
f. Musyawarah Lembaga :
1. Musyawarah Lembaga merupakan instansi pengambilan keputusan
tertinggi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang).
2. Musyawarah Lembaga menetapkan program kerja dan calon Kepala
Balitbang sebagai formateur yang kemudian diajukan kepada struktur
HMI setingkat.
3. Tata tertib Musyawarah Lembaga diatur tersendiri dalam Pedoman
Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)
BAB III
ALUMNI HMI
Pasal 57
Alumni
a. Alumni
HMI adalah
keanggotaannya.
anggota
HMI
yang
telah
habis
masa
b. HMI dan alumni HMI memiliki hubungan historis, aspiratif.
c. Alumni HMI berkewajiban tetap menjaga nama baik HMI, meneruskan
misi HMI di medan perjuangan yang lebih luas dan membantu HMI dalam
merealisasikan misinya.
BAB IV
KEUANGAN DAN HARTA BENDA
Pasal 58
Pengelolaan Keuangan dan Harta Benda
a. Prinsip halal maksudnya adalah setiap satuan dana yang diperoleh tidak
berasal dan tidak diperoleh dengan cara-cara yang bertentangan dengan
nilai-nilai islam.
b. Prinsip transparansi maksudnya adalah adanya keterbukaan tentang
sumber dan besar dana yang diperoleh serta kemana dan besar dana
yang sudah dialokasikan.
c.
Prinsip bertanggungjawab maksudnya adalah setiap satuan dana yang
diperoleh dapat dipertanggungjawabkan sumber dan keluarannya secara
tertulis dan bila perlu melalui bukti nyata.
d. Prinsip efektif maksudnya adalah setiap satuan dana yang digunakan
berguna dalam rangka usaha organisasi mewujudkan tujuan HMI.
e.
Prinsip efisien maksudnya adalah setiap satuan dana yang digunakan
tidak melebihi kebutuhannya.
f.
Prinsip berkesinambungan maksudnya adalah setiap upaya untuk
memperoleh dan menggunakan dana tidak merusak sumber pendanaan
untuk jangka panjang dan tidak membebani generasi yang akan datang.
g. Uang pangkal dan iuran anggota bersifat wajib yang besaran serta
metode pemungutannya ditetapkan oleh Pengurus Cabang.
h. Uang pangkal dialokasikan sepenuhnya untuk Komisariat.
i.
Iuran anggota dialokasikan dengan proporsi 60 persen untuk Komisariat,
40 persen untuk Cabang.
BAB V
LAGU, LAMBANG DAN ATRIBUT ORGANISASI
Pasal 59
Lagu, Lambang dan Atribut organisasi lainnya diatur dalam ketentuan
tersendiri yang ditetapkan Kongres.
BAB VI
PERUBAHAN ANGGARAN RUMAH TANGGA
Pasal 60
Perubahan Anggaran Rumah Tangga
a.
Perubahan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan pada
Kongres.
b. Perubahan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan melalui
Kongres yang pada waktu perubahan tersebut akan dilakukan dan
disahkan dihadiri oleh 2/3 peserta utusan Kongres dan disetujui oleh
minimal 50%+1 jumlah peserta utusan yang hadir.
BAB VII
ATURAN TAMBAHAN
Pasal 61
Struktur kepemimpinan HMI berkewajiban melakukan sosialisasi Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan ketetapan–ketetapan kongres lainnya
kepada seluruh anggota HMI.
Pasal 62
a.
Pasal tentang Rangkap Anggota kehormatan/Jabatan dan Sanksi Anggota
dalam Anggaran Rumah Tangga dijabarkan lebih lanjut dalam Penjelasan
Rangkap Anggota/Jabatan dan Sanksi Anggota.
b. Pasal-pasal tentang Struktur Kepemimpinan dalam ART dijabarkan lebih
lanjut dalam Pedoman Kepengurusan HMI, Pedoman Administrasi
Kesekertariatan, dan Penjelasan Mekanisme Pengesahan Pengurus HMI.
c.
Pasal-pasal tentang Badan Khusus dalam ART dijabarkan lebih lanjut
dalam
Pedoman
Dasar
Kohati,
Pedoman
tentang
Lembaga
Pengembangan Profesi, Pedoman Badan Pengelola Latihan dan Kode Etik
Pengelolaan Latihan, dan Pedoman Balitbang.
d. Pasal-pasal tentang Keuangan dan Harta Benda dalam ART dijabarkan
lebih lanjut dalam Pedoman Keuangan dan Harta Benda HMI.
BAB VIII
ATURAN PERALIHAN
Pasal 63
a.
Pedoman-pedoman pokok organisasi dibahas pada forum tersendiri dan
disahkan di Pleno PB HMI.
b. Pedoman-pedoman Pokok Organisasi yang dimaksud adalah :
1. Islam sebagai asas HMI.
2. Tafsir Tujuan.
3. Tafsir Independensi.
4. Nilai-nilai dasar perjuangan HMI.
5. Pedoman Kerja Kepengurusan.
6. Pedoman Administrasi dan Kesekertariatan.
7. Pedoman Keuangan dan Perlengkapan.
8. Pedoman Perkaderan.
9. Pedoman Kohati.
10. Pedoman Balitbang.
11. Pedoman Lembaga Pengembangan Profesi.
12. Pedoman Badan Pengelola Latihan.
13. Ikrar Pelantikan Anggota dan Pengurus.
14. Atribut Organisasi.
15. Pedoman Mekanisme Penetapan.
PENJELASAN RANGKAP ANGGOTA/JABATAN DAN SANKSI ANGGOTA
I. PENDAHULUAN
Dalam rangka mengatur rangkap anggota/ jabatan maka diperlukan
adanya penjelasan khususnya apa yang dijelaskan pada pasal 9 art HMI
tentang rangkap anggota dan rangkap jabatan.
Untuk itu adanya penjelasan mengenai hal ini, khususnya apa yang
telah digariskan pada pasal 10 ART HMI tentang keanggotaan dan rangkap
jabatan.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berstatus sebagai organisasi
mahasiswa berfungsi sebagai organisasi kader berperan sebagai sumber
insani pembangunan bangsa. Mengantarkan HMI pada kenyataan :
1. Besarnya produk pengkaderan baik secara kualiatif maupun secara
kuantitatif yang tidak seimbang dengan penyediaan lapangan
kegiatan/aktifitas.
2. Kecenderungan output yang lebih berorientasi kepada struktur
kekuasaan/kepemimpinan daripada orientasi kegiatan.
3. Timbulnya kecenderungan rangkap anggota pada organisasi lain yang
pada gilirannya mengarah pada rangkap jabatan. Kecenderungankecenderungan di atas, pada akhirnya akan berbenturan dengan
ketentuan-ketentuan organisasi yang dirasa kurang jelas, kurang
memadai dan belum menjawab persoalan secara tuntas, yang
mengakibatkan timbulnya masalah-masalah penafsiran produk
kelembagaan HMI.
1.
PENJELASAN TENTANG RANGKAP ANGGOTA DAN RANGKAP
JABATAN
Pasal 9 ART HMI menyebutkan :
a. Dalam keadaan tertentu anggota HMI dapat merangkap menjadi
anggota organisasi lain atas persetujuan Pengurus HMI Cabang.
b. Pengurus HMI tidak dibenarkan untuk merangkap jabatan pada
organisasi lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
c. Ketentuan rangkap jabatan seperti dimaksud pada ayat (b) diatas,
diatur dalam ketentuan/peraturan tersendiri
d. Anggota HMI yang mempunyai kedudukan pada organisasi lain di luar
HMI harus menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan AD/ART dan
ketentuan-ketentuan lainnya.
1.
Pengertian Rangkap Anggota
1.1.
Yang dimaksud dengan rangkap anggota adalah seorang anggota
HMI yang juga menjadi anggota organisasi lain diluar HMI dalam
waktu yang bersamaan.
1.2.
Organisasi yang dapat dirangkap adalah :
a. Organisasi sosial kemasyarakatan yang identitas, azas tujuan
dan usahanya tidak bertentangan dengan identitas, azas, tujuan
dan usaha HMI.
b. Badan-badan lain diluar HMI, seperti instansi lembaga-lembaga
pemerintah atau swasta dengan ketentuan-ketentuan tersebut
pada point (a).
1.3.
Pada prinsipnya rangkap anggota dilarang, kecuali atas
persetujuan pengurus HMI Cabang dengan ketentuan-ketentuan
tersebut diatas.
2.
Pengertian Rangkap Jabatan
2.1.
Yang dimaksud dengan rangkap jabatan adalah anggota HMI yang
sedang menduduki suatu jabatan struktural kepengurusan pada
organisasi lain.
2.2.
Jabatan yang dimaksud (2.1) diatas adalah jabatan struktural,
bukan
jabatan
fungsional
dan
dengan
memperhatikan
pertimbangan-pertimbangan tertentu. Jabatan struktural adalah
jabatan yang bersifat struktural (hierarchi) seperti; Pengurus
Komisariat, Cabang, Pengurus Besar dan semacam Dewan
Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I (DPD
Tingkat Propinsi), Dewan Pimpinan Cabang dan semacamnya (OKP
atau Organisasi Partai Politik). Jabatan fungsional adalah jabatan
tanpa hierarchi vertikal seperti jabatan profesi, jabatan ex officio
jabatan yang secara otomatis dimiliki karena jabatan tertentu)
dengan
memperhatikan
pertimbangan-pertimbangan
organisatoris. Seperti Ketua Senat/ Presiden Mahasiswa, Ketua
lembaga penelitian, dan lain-lain.
2.3.
Anggota HMI yang tidak menduduki suatu jabatan distruktur
kepengurusan / kepemimpinan organisasi atau anggota HMI yang
tidak menduduki suatu jabatan di struktur kepengurusan HMI
(bukan Pengurus HMI) tetapi menduduki suatu jabatan
distruktur/kepemimpinan organisasi atau bdan-badan lain diluar
HMI tidak termasuk kategori rangkap jabatan.
2.4.
Demikian pula sebaliknya pengurus HMI yang menjadi anggota
(bukan pengurus organisasi atau badan-badan lain diluar HMI).
SANKSI-SANKSI ATAS RANGKAP ANGGOTA DAN RANGKAP
JABATAN
a.
Pasal 10 ART HMI Menyebutkan :
Anggota dapat diskor atau dipecat karena :
a. Bertindak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
oleh HMI
b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik HMI
Pasal 5 ayat (b) ART
Anggota telah kehilangan keanggotaannya karena :
a. Telah habis masa keanggotaannya
b. Meninggal dunia
c. Atas permintaan sendiri
d. Menjadi anggota partai politik
e. Diberhentikan atau dipecat
1.
2.
Sanksi Rangkap Anggota :
1.1.
Anggota HMI yang menjadi anggota organisasi lain dengan
persetujuan Pengurus HMI Cabang dengan ketentuan-ketentuan
yang ditetapkan terdahulu tidak dikenakan sanksi.
1.2.
Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang dimaksud di atas
diberikan peringatan yang berisi saran agar yang bersangkutan
memilih salah satu organisasi yang dikehendaki
1.3.
Apabila yang bersangkutan tidak mengindahkan peringatan yang
diberikan sebanyak-banyaknya tiga kali peringatan, maka
kepadanya akan dikenakan sanksi, tuduhan pelanggaran ART HMI
dan selanjutnya dapat diskor/dipecat sesuai dengan ketentuanketentuan yang berlaku.
1.4.
Anggota HMI yang dikenakan skorsing/pemecatan diberikan
kesempatan untuk mengadakan pembelaan did dalam forum yang
diatur secara tersendiri.
Sanksi Rangkap Jabatan
2.1.
Seorang yang sedang menduduki suatu jabatan distruktur
kepengurusan HMI (Pengurus HMI) dalam waktu bersamaan juga
menduduki jabatan dalam struktur/kepemimpinan organisasi lain
diluar HMI, diberikan peringatan, saran agar yang bersangkutan
memilih salah satu jabatan yang dikehendaki
2.2.
Apabila yang bersangkutan tidak mengindahkan peringatan yang
diberikan kepadanya (sebanyak-banyaknya 3 kali peringatan)
kepadanya dapat dikenakan tuduhan melanggar pasal 10 ART
HMI, dan selanjutnya dikenakan sanksi skorsing/pemecatan
dengan ketentuan yang berlaku.
2.3.
Skorsing/pemecatan dikenakan kepada yang bersangkutan atas
statusnya sebagai anggota bukan atas kedudukannya sebagai
Pengurus.
Instansi
yang
berwenang
mengeluarkan
surat
skorsing/pemecatan adalah Cabang dan Pengurus Besar
3.
keputusan
Akibat Skorsing
3.1. Anggota yang terkena sanksi skorsing/pemecatan harus ditinjau
dahulu kedudukannya di dalam kepengurusan HMI
3.2.
Peninjauan terhadap kedudukannya di dalam kepengurusan HMI
dilakukan oleh :
a. Pengurus Besar HMI apabila yang bersangkutan menduduki
jabatan yang ditetapkan oleh/dengan Surat Keputusan Pengurus
Besar HMI.
b. Pengurus Cabang, apabila yang bersangkutan menduduki jabatan
yang ditetapkan oleh/dengan Surat Keputusan Pengurus Cabang.
c. Sidang Pleno dan/atau Kongres, apabila yang bersangkutan
menduduki Pengurus Besar.
3.3. Pengurus HMI yang dikenakan skorsing/pemecatan diberikan
kesempatan untuk mengadakan pembelaan diri (ART HMI Pasal 10
ayat c).
i.
PENUTUP
Peraturan ini disusun untuk menjadi pegangan dalam mengambil
keputusan. Keputusan dimaksud diambil melalui forum musyawarah untuk
mufakat sebagai upaya pertama. Peraturan ini hendaknya dipatuhi secara
kreatif dan dimanis serta memperhatikan dan mengutamakan azas
kepentingan organisasi HMI.
PENJELASAN SANKSI ANGGOTA
A.
SANKSI
1. Sanksi Anggota
Dalam rangka mengatur tentang sanksi anggota maka diperlukan
adanya penjelasan sebagaimana yang tercantum di dalam pasal 10 ART.
Sangsi adalah bentuk hukuman sebagai bagian proses pembinaan yang
diberikan organisasi kepada anggota yang melalaikan tugas, melanggar
ketentuan organisasi, merugikan atau mencemarkan nama baik organisasi,
dan/atau melakukan tindakan kriminal dan tindakan melawan hukum
lainnya.
a. Sangsi dapat berupa teguran, peringatan, skorsing, pemecatan atau
bentuk lain yang ditentukan oleh pengurus.
b. Anggota biasa yang pernah mendapatkan sangsi skorsing tidak dapat
menjadi pengurus.
c. Anggota yang dikenakan sangsi dapat mengajukan pembelaan di
forum yang ditunjuk untuk itu.
2. Anggota dapat diskor atau dipecat
2.1.
Bertindak dan bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang
telah ditetapkan HMI
2.2.
Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik HMI
2.3.
Anggota yang dipecat/diskorsing, dapat melakukan pembelaan
dalam forum ditunjuk untuk itu.
2.4.
melakukan tindakan kriminal.
3. Tata Cara Skorsing Pemecatan
Tuntutan skorsing/pemecatan dapat diajukan oleh pengurus Komisariat
atau pengurus Cabang
a. Skorsing/ pemecatan dapat dilakukan oleh Pengurus Cabang atau
PengurusBesar
b. Skorsing/ pemecatan dapat dilakukan dengan tiga kali peringatan
terlebih dahulu
c. Dalam hal-hal luar biasa, skorsing/pemecatan dapat dilakukan secara
langsung terhadap anggota
d. Skorsing/ pemecatan pengurus, terlebih dahulu dilakukan pencabutan
jabatan sebagai pengurus oleh instansi yang berwenang.
B. PEMBELAAN DIRI
1.
Ketentuan Umum
a. Anggota yang dikenakan skorsing/ pemecatan diberikan kesempatan
membela diri dalam Konferensi/ Kongres
b. Apabila yang bersangkutan tidak menerima keputusan Konferensi,
maka dapat mengajukan/meminta banding dalam Kongres sebagai
pembelaan terakhir.
2.
Komisi Khusus Pembelaan Diri
a. Komisi khusus adalah komisi untuk pembelaan diri yang dibuat
berdasarkan
pengaduan
penolakan
ketidak
setujuan
atas
skorsing/pemecatan.
b. Komisi ini merupakan hak yang bersangkutan dan merupakan intern
organisasi
c. Komisi ini diselenggarakan oleh Pengurus Cabang dibantu oleh
Pengurus Badko.
d. Komisi ini diselenggarakan dalam Komisi khusus seperti Muscab /
Konferensi Cabang atau Kongres.
3.
Syarat Sahnya Komisi Khusus adalah :
a. Berdasarkan
permintaan/pengaduan
dari
yang
bersangkutan,
ditujukan kepada Pengurus HMI Cabang dengan tembusan kepada
Pengurus Korkom dan Komisariat yang bersangkutan.
b. Berdasarkan
permintaan/pengaduan
dari
yang
bersangkutan,
ditujukan kepada Pengurus Besar HMI dengan tembusan kepada
Pengurus Badko, Pengurus HMI Cabang dan HMI Komisariat
bersangkutan.
c. Surat permintaan/pengaduan paling lambat diterima 2 (dua) minggu
sebelum Konferensi cabang atau kongres
d. Dihadiri oleh pengurus cabang, seluruh ketua umum korkom, ketua
umum komisariat yang bersangkutan dan anggota yang mengadu.
e. Dihadiri oleh pengurus besar, seluruh ketua umum Badko, Ketua
Umum Cabang yang bersangkutan dan anggota yang mengadu.
f. Dipimpin oleh seorang presidium sidang Muscab / konferensi/kongres
dan dibantu oleh seorang sekretaris.
4.
a.
b.
c.
d.
5.
Tugas Pimpinan Komisi Khusus
Mengambil sumpah seluruh peserta
mengucapkan “Demi Allah “(Wallahi)”
/
saksi
hidup,
dengan
Mendengarkan keterangan – keterangan dari semua unsur yang hadir
dalam komisi.
Mengajukan saksi – saksi, fakta – fakta apabila diperlukan/diminta oleh
unsur-unsur yang hadir.
Mengambil keputusan secara adil dan jujur tanpa dipengaruhi oleh
siapapun kecuali tunduk kepada AD/ART, pedoman organisasi dan
peraturan lainnya, disertai tanggung jawab kepada Allah SWT.
Keputusan
a. Keputusan komisi khusus disyahkan oleh Muscab / Konferensi /
kongres dengan persetujuan paling sedikit 2/3 dari jumlah peserta
muscab/konferensi / kongres.
b. Apabila keputusan komisi khusus konfernsi tidak tercapai maka
persoalan tersebut dibawa ke kongres melalui pengurus besar untuk
naik banding dengan disertai rekomendasi cabang.
C. PENUTUP
Prosedur ini dilakukan penyelesaian dengan musyawarah dengan
berdasarkan ukhuwah Islamiyah tidak menghasilkan keputusan.
PENJELASAN MEKANISME PENGESAHAN PENGURUS
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENDAHULUAN
Dalam rangka menyeragamkan/menertibkan aparat organisasi khususnya
berkenaan dengan penerbitan surat keputusan, maka diperlukan adanya
suatu pedoman/tata cara pengesahan pengurus HMI hendaknya
memperhatikan aspek kebutuhan organisasi, dokumentasi dan dapat
dipertanggung jawabkan keabsahannya
a. PENGESAHAN PENGURUS BESAR
1.
2.
3.
4.
Susunan personalia disyahkan berdasarkan surat keputusan formateur,
ketua umum dan Mide Formateur Kongres.
Jumlah personalia pengurus besar disesuaikan dengan kebutuhan
pembidangan kerja ditingkat pengurus besar.
Setiap personalia pengurus besar menyatakan kesediaannya menjadi
pengurus dengan disertai biodata pribadi dan menjadi arsip PB HMI.
Selambat- lambatnya setelah berakhirnya kongres formateur/ketua
umum dan Mide Formateur kongres harus sudah dapat menyusun
penyusun susunan personalia pengurus, dan 30 (Tiga Puluh) hari setelah
pengurus terbentuk pengurus besar demisioner harus mengadakan serah
terima jabatan kepada pengurus besar yang baru.
II. PENGESAHAN PENGURUS KOHATI PB HMI, BAKORNAS LEMBAGA
PENGEMBANGAN PROFESI DAN BADKO
1. Untuk KOHATI PB HMI setelah terbentuknya susunan pengurus besar,
maka ketua umum /formateur bersama Mide Formateur Kohati PB HMI
dalam waktu 30 ( Tiga Puluh ) hari sudah dapat menyusun personalia
pengurus disesuaikan dengan kebutuhan pembidangan kerja KOHATI
Nasional dan masing-masing personalia harus menyatakan kesediaannya
sesuai dengan biodata pribadi.
2. Selambat-lambatnya selama 30 (Tiga Puluh) hari Munas Lembaga
Kekaryaan/Musda Badko HMI, pengurus BAKORNAS/Badko HMI Demisioner
harus menyampaikan hasil-hasil ketetapan Munas/Musda kepada PB HMI.
Hendaknya pelaksanaan Munas Musda dirangkaikan dengan Kongres HMI.
Hasil-hasil ketetapan Munas/Musda yang harus disampaikan kepada HMI,
terdiri dari :
a) Surat keputusan Munas/Musda tentang :
 Agenda acara dan tata tertib Munas/Musda.
 Presidium/Pimpinan sidang Munas/Musda.
 Pengesahan Laporan Pertanggung jawaban Pengurus dan Pernyataan
Demisioner Pengurus.
 Program Kerja, Rekomendasi Intern dan Rekomendasi Ekstern
Organisasi
 Tata tertib pemilihan ketua umum/formateur dan Mide Formateur.
 Ketua Umum/Formateur dan Mide Formateur.
b) Surat Keputusan Ketua Umum/Formateurdan Mide Formateur tentang
susunan personalia pengurus (asli dan ditanda tangani langsung)
minimal oleh salah satu Mide Formateur.
c) Jumlah Pengurus Bakornas/Badko dikaitkan dengan kebutuhan sesuai
dengan pembidangan kerja Bakornas/Badko.
3. Setiap Pengurus Bakornas/Badko HMI harus menyatakan kesediaannya
disertai dengan biodata pribadi dan menjadi arsip PB HMI.
4. Pengurus Besar HMI menerbitkan surat keputusan HMI tentang Susunan
Personalia Pengurus Bakornas/Badko HMI selambat-lambatnya 15 (lima
belas) hari setelah diterbitkannya surat keputusan PB HMI tentang
Susunan Personalia Bakornas/Badko HMI, maka harus segera mengadakan
pelantikan oleh pengurus Besar HMI.
III. PENGESAHAN PENGURUS CABANG
1. Periodesasi kepengurusan HMI Cabang adalah 1 (satu) tahun terhitung
semenjak pelantikan/serah terima jabatan dan setelah itu Pengurus HMI
Cabang menyelengarakan Konferensi/Musyawarah Anggota Cabang.
2. Selambat-lambatnya 30 (Tiga Puluh) hari setelah Pelaksanaan Konferensi
Cabang/Musyawarah Anggota Cabang Pengurus Cabang Demisioner
harus menyampaikan hasil-hasil Konferensi Cabang/Musyawarah Anggota
Cabang Kepada PB HMI yang terdiri dari :
2.1. Surat Keputusan Konfercab/Muscab tentang :
1 Agenda Acara dan Tata Tertib Konfercab/Muscab
2 Presedium/Pimpinan Sidang Konfercab
3 Pengesahan Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus HMI Cabang
dan Peryataan Demisioner Pengurus HMI.
4 Program Kerja, Rekomendasi Intern dan Rekomendasi extern
organisasi
5 Musyawarah Anggota KOHATI Cabang
6 Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum/Formateur dan Mide Formateur
7 Ketua Umum/Formateur dan Mide Formateur
8 Nama-nama Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus
Cabang (MPK PC)
2.2. Surat Keputusan Ketua Umum/Formateur dan Mide Formateur tentang
Susunan Personalia Pengurus (asli) dan (ditandatangani langsung)
minimal oleh salah satu Mide Formateur.
2.3. Biodata pengurus dan tanda kesediaan menjadi Pengurus HMI Cabang
2.4. Berkas pada point (2.1), (2.2) dan (2.3) disampaikan kepada PB HMI
dengan surat pengantar dari pengurus demisoner.
2.5. Dalam keadaan tertentu point (2.4) dapat ditangani langsung oleh
Presidium
Konfercab/Muscab
yang
diketahui
oleh
Ketua
Umum/Formateur dan Mide Formateur
2.6. Pelantikan HMI Cabang dilaksanakan oleh PB HMI.
Pengesahan Pengurus KOHATI Cabang dengan Surat Keputusan Pengurus
Cabang dan tata cara pengesahan KOHATI Cabang disesuaikan dengan tata
cara pengesahan Pengurus KOHATI PB HMI.
IV. PENGESAHAN
PENGURUS
KORKOM
PENGEMBANGAN PROFESI CABANG
DAN
1. Pengesahan
Pengurus
Lembaga
Pengembangan
Cabang/Korkom dilakukan oleh Pengurus HMI Cabang.
LEMBAGA
Profesi
HMI
2. Tata Cara Pengesahan/Prosedur pengesahan pengurus lembaga
kekaryaan/korkom disesuaikan dengan tata cara/prosedur pengesahan
pengurus Bakornas.
2.1. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari, Musyawarah Lembaga
Pengembangan Profesi / Muskom / Pengurus Lembaga-lembaga
Pengenbangan Profesi /Korkom Demisioner harus menyampaikan
hasil-hasil ketetapan musyawarah kepada HMI Cabang terdiri dari :
a) Surat Keputusan Musyawarah tentang :
1. Agenda acara dan tata tertib Musyawarah
2. Presidium/Pimpinan Sidang Musyawarah
3. Pengesahan Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus dan
Pernyataan Demisioner Pengurus
4. Program Kerja, Rekomendasi intern dan Rekomendasi extern
organisasi
5. Tata
tertib
formateur
pemilihan
ketua
umum/formateur
dan
Mide
6. Ketua Umum/Formateur dan Mide formateur
b) Surat Keputusan Ketua Umum/Formateur dan Mide Formateur
tentang Susunan Personalia Pengurus (asli dan ditanda tangani
langsung) paling tidak oleh salah satu Mide Formateur.
2.2. Hendaknya pelaksanaan musyawarah lembaga/muskom dirangkaikan
dengan pelaksanaan Konferensi Cabang
2.3. Jumlah Personalia Pengurus Lembaga Pengembangan Profesi HMI
Cabang/Korkom disesuaikan dengan pembidangan kerja dan
kebutuhan
2.4. Setiap pengurus lembaga/korkom harus menyatakan kesediaannya
disertai dengan biodata pribadi dan menjadi arsip bagi Pengurus HMI
Cabang
Pengurus HMI Cabang mengeluarkan Surat Keputusan Tentang susunan
personalia Lembaga Kekaryaan/Korkom dan selambat-lambatnya 15 (lima
belas) hari setelah diterbitkannya Surat Keputusan, maka harus segera
dilakukan pelantikan oleh Pengurus HMI Cabang yang bersangkutan.
V. PENGESAHAN PENGURUS KOMISARIAT
1.
2.
3.
Pengesahan Pengurus HMI Komisariat dilakukan oleh Pengurus HMI
Cabang
Periodesasi kepengurusan Komisariat adalah 1 (satu) tahun terhitung
semenjak pelantikan/serah terima jabatan, setelah itu Pengurus HMI
Komisariat harus mengadakan Rapat Anggota Komisariat (RAK).
Tata cara/prosedur pengesahan Pengurus Komisariat disesuaikan dengan
tata cara/prosedur pengesahan Pengurus HMI Cabang sebagaimana di
bawah ini :
3.1. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah pelaksanaan Rapat
Anggota Komisariat (RAK) Pengurus Komisariat Demisioner harus
menyampaikan hasil-hasil ketetapan RAK kepada HMI cabang terdiri
dari :
3.1.1. Agenda Acara dan Tata tertib RAK
3.1.2. Presidium/Pimpinan Sidang RAK
3.1.3. Pengesahan Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus HMI
Komisariat dan pernyataan Demisioner
3.1.4. Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum Formateur dan Mide
Formateur
3.1.5. Ketua Umum/Formateur dan Midel Formateur
3.1.6. Nama-nama Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi
Pengurus Komisariat (MPK PK).
3.2. Surat Keputusan Ketua Umum/Formateur dan Mide Formateur
tentang Susunan Personalia Pengurus Komisariat dan ditanda
tangani langsung oleh formateur dan minimal oleh satu mide
formateur.
3.3. Biodata pengurus dan tanda kesediaan menjadi Pengurus HMI
Komisariat.
Dalam keadaan tertentu 3.1.3 dan 3.1.4 dapat ditanda tangani oleh
presidium RAK dengan diketahui oleh Ketua Umum/formateur dan Mide
Formateur.
Pelantikan Pengurus HMI Komisariat dilaksanakan oleh HMI Cabang atau
oleh HMI Korkom setelah mendapat mandat dari pengurus HMI Cabang.
PENUTUP
Demikianlah pedoman ini dibuat agar menjadi pegangan setiap aparat
Pengurus HMI dalam rangka menyelenggarakan penyeragaman pengurus
HMI.
MEMORI PENJELASAN TENTANG
ISLAM SEBAGAI AZAS HMI
“Hari ini telah Kusempurnakan bagi kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu: (QS. Al-Maidah : 3).
“Dan mereka yang berjuang dijalan-Ku (kebenaran), maka pasti Aku
tunjukkan jalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada
orang-orang yang selalu berbuat (progresif) (QS. Al-Ankabut : 69).
Islam sebagai ajaran yang haq dan sempurna hadir di bumi
diperuntukkan untuk mengatur pola hidup manusia agar sesuai fitrah
kemanusiaannya yakni sebagai khalifah di muka bumi dengan kewajiban
mengabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya.
Iradat Allah Subhanu Wata’ala, kesempurnaan hidup terukur dari
personality manusia yang integratif antara dimensi dunia dan ukhrawi,
individu dan sosial, serta iman, ilmu dan amal yang semuanya mengarah
terciptanya kemaslahatan hidup di dunia baik secara individual maupun
kolektif.
Secara normatif Islam tidak sekedar agama ritual yang cenderung
individual akan tetapi merupakan suatu tata nilai yang mempunyai
komunitas dengan kesadaran kolektif yang memuat pemaham/kesadaran,
kepentingan, struktur dan pola aksi bersama demi tujuan-tujuan politik.
Substansi pada dimensi kemasyarakatan, agama memberikan spirit
pada pembentukan moral dan etika. Islam yang menetapkan Tuhan dari
segala tujuan menyiratkan perlunya peniru etika ke Tuhanan yang meliputi
sikap rahmat (Pengasih), barr (Pemula), ghafur (Pemaaaf), rahim
(Penyayang) dan (Ihsan) berbuat baik. Totalitas dari etika tersebut menjadi
kerangka pembentukan manusia yang kafah (tidak boleh mendua) antara
aspek ritual dengan aspek kemasyarakatan (politik, ekonomi dan sosial
budaya).
Adanya kecenderungan bahwa peran kebangsaan Islam mengalami
marginalisasi dan tidak mempunyai peran yang signifikan dalam mendesain
bangsa merupakan implikasi dari proses yang ambiguitas dan distorsif.
Fenomena ini ditandai dengan terjadinya mutual understanding antara Islam
sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi. Penempatan posisi yang
antagonis sering terjadi karena berbagai kepentingan politik penguasa dari
politisi-politisi yang mengalami split personality.
Kelahiran HMI dari rahim pergolakan revolusi fisik bangsa pada tanggal
5 Februari 1947 didasari pada semangat mengimplementasikan nilai-nilai keIslaman dalam berbagai aspek ke Indonesian.
Semangat nilai yang menjadi embrio lahirnya komunitas Islam sebagai
interest group (kelompok kepentingan) dan pressure group (kelompok
penekanan). Dari sisi kepentingan sasaran yang hendak diwujudkan adalah
tertuangnya nilai-nilai tersebut secara normatif pada setiap level
kemasyarakatan, sedangkan pada posisi penekan adalah keinginan sebagai
pejuang Tuhan (sabilillah) dan pembelaan mustadh’afin.
Proses internalisasi dalam HMI yang sangat beragam dan suasana
interaksi yang sangat plural menyebabkan timbulnya berbagai dinamika keIslaman dan ke-Indonesiaan dengan didasari rasionalisasi menurut subyek
dan waktunya.
Pada tahun 1955 pola interaksi politik didominasi pertarungan
ideologis antara nasionalis, komunis dan agama (Islam). Keperluan sejarah
(historical necessity) memberikan spirit proses ideologisasi organisasi.
Eksternalisasi yang muncul adalah kepercayaan diri organisasi untuk
“bertarung” dengan komunitas lain yang mencapai titik kulminasinya pada
tahun 1965.
Seiring dengan kreatifitas intelektual pada Kader HMI yang menjadi
ujung tombak pembaharuan pemikiran Islam dan proses transformasi politik
bangsa yang membutuhkan suatu perekat serta ditopang akan kesadaran
sebuah tanggung jawab kebangsaan, maka pada Kongres X HMI di
Palembang, tanggal 10 Oktober 1971 terjadilah proses justifikasi Pancasila
dalam mukadimah Anggaran Dasar.
Orientasi aktifitas HMI yang merupakan penjabaran dari tujuan
organisasi menganjurkan terjadinya proses adaptasi pada jamannya.
Keyakinan Pancasila sebagai keyakinan ideologi negara pada kenyataannya
mengalami proses stagnasi. Hal ini memberikan tuntutan strategi baru bagi
lahirnya metodologi aplikasi Pancasila. Normatisasi Pancasila dalam setiap
kerangka dasar organisasi menjadi suatu keharusan agar mampu mensuport
bagi setiap institusi kemasyarakatan dalam mengimplementasikan tata nilai
Pancasila.
Konsekuensi yang dilakukan HMI adalah ditetapkannya Islam sebagai
identitas yang mensubordinasi Pancasila sebagai azas pada Kongres XVI di
Padang, Maret 1986.
Islam yang senantiasa memberikan energi perubahan mengharuskan
para penganutnya untuk melakukan invonasi, internalisasi, eksternalisasi
maupun obyektifikasi. Dan yang paling fundamental peningkatan gradasi
umat diukur dari kualitas keimanan yang datang dari kesadaran paling
dalam bukan dari pengaruh eksternal. Perubahan bagi HMI merupakan suatu
keharusan, dengan semakin meningkatnya keyakinan akan Islam sebagai
landasan teologis dalam berinteraksi secara vertikal maupun horizontal,
maka pemilihan Islam sebagai azas merupakan pilihan dasar dan bukan
implikasi dari sebuah dinamika kebangsaan.
Demi tercapainya idealisme ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, maka HMI
bertekad Islam dijadikan sebagai doktrin yang mengarahkan pada
peradaban secara integralistik, transendental, humanis dan inklusif. Dengan
demikian kader-kader HMI harus berani menegakkan nilai-nilai kebenaran
dan keadilan serta prinsip-prinsip demokrasi tanpa melihat perbedaan
keyakinan dan mendorong terciptanya penghargaan Islam sebagai sumber
kebenaran yang paling hakiki dan menyerahkan semua demi ridho-Nya.
TAFSIR TUJUAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
I.
PENDAHULUAN
Tujuan yang jelas diperlukan untuk suatu organisasi, hingga setiap
usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan
teratur. Bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh suatu motivasi
dasar pembentukan, status dan fungsinga dalam totalitas dimana ia berada.
Dalam totalitas kehidupan bangsa Indonesia, maka HMI adalah organisasi
yang menjadikan Islam sebagai sumber nilai. Motivasi dan inspirasi bahwa
HMI berstatus sebagai organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi
kader dan yang berperan sebagai organisasi perjuangan serta bersifat
independen.
Pemantapan fungsi kekaderan HMI ditambah dengan kenyataan bahwa
bangsa Indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki
keseimbangan hidup yang terpadu antara pemenuhan tugas duniawi dan
ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum
intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan
yang paling mendasar.
Atas faktor tersebut, maka HMI menetapkan tujuannya sebagaimana
dirumuskan dalam pasal 4. AD HMI yaitu :
“TERBINANYA INSAN AKADEMIS, PENCIPTA, PENGABDI YANG
BERNAFASKAN ISLAM DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS
TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL MAKMUR YANG DIRIDHOI
ALLAH SUBHANAHU WATAALA”.
Dengan rumusan tersebut, maka pada hakekatnya HMI bukanlah
organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara
kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat
dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggotaanggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang
benar dan efektif.
II.
MOTIVASI DASAR KELAHIRAN DAN TUJUAN ORGANISASI
Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan Islam sebagai agama
yang Haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia agar berkehidupan
sesuai dengan fitrahnya sebagai Khalifatullah di muka bumi dengan
kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadiratnya.
Kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia tersebut adalah
kehidupan yang seimbang dan terpadu antara pemenuhan jasmani dan
kalbu, iman dan ilmu, dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
ukhrowi. Atas keyakinan ini, maka HMI menjadikan Islam selain sebagai
motivasi dasar kelahiran juga sebagai sumber nilai, motivasi dan inpirasi.
Dengan demikian Islam bagi HMI merupakan pijakan dalam menetapkan
tujuan dari usaha organisasi HMI.
Dasar Motivasi yang paling dalam bagi HMI adalah ajaran Islam.
Karena Islam adalah ajaran fitrah, maka pada dasarnya tujuan dan mission
Islam adalah juga merupakan tujuan daripada kehidupan manusia yang fitri,
yaitu tunduk kepada fitrah kemanusiaannya.
Tujuan kehidupan manusia yang fitri adalah kehidupan yang menjamin
adanya kesejahteraan jasmani dan rohani secara seimbang atau dengan
kata lain kesejahteraan materil dan kesejahteraan spirituil.
Kesejahteraan yang akan terwujud dengan adanya amal saleh (kerja
kemanusiaan) yang dilandasi dan dibarengi dengan keimanan yang benar.
Dalam amal kemanusiaan inilah manusia akan dapatkan kebahagian dan
kehidupan yang sebaik-baiknya. Bentuk
kehidupan yang ideal secara
sederhana kita rumuskan dengan “kehidupan yang adil dan makmur”.
Untuk menciptakaan kehidupan yang demikian. Anggaran dasar
menegaskan kesadaran mahasiswa Islam Indonesia untuk merealisasikan
nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Easa, Kemanusian Yang Adil dan Beradab,
Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Dalam
Kebijaksanaan/Perwakilan serta mewujudkan Keadilan Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Perwujudan daripada pelaksanaan nilai-nilai tersebut adalah berupa
amal saleh atau kerja kemanusiaan. Dan kerja kemanusiaan ini akan
terlaksana secara benar dan sempurna apabila dibekali dan didasari oleh
iman dan ilmu pengatahuan. Karena inilah hakekat tujuan HMI tidak lain
adalah pembentukan manusia yang beriman dan berilmu serta mampu
menunaikan tugas kerja kemanusiaan (amal saleh). Pengabdian dan bentuk
amal saleh inilah pada hakekatnya tujuan hidup manusia, sebab dengan
melalui kerja kemanusiaan, manusia mendapatkan kebahagiaan.
III. BASIC DEMAND BANGSA INDONESIA
Sesunguhnya kelahiran HMI dengan rumusan tujuan seperti pasal 4
Anggaran Dasar tersebut adalah dalam rangka menjawab dan memenuhi
kebutuhan dasar (basic need) bangsa Indonesia setelah mendapat
kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 guna memformulasikan dan
merealisasikan cita-cita hidupnya. Untuk memahami kebutuhan dan tuntutan
tersebut maka kita perlu melihat dan memahami keadaan masa lalu dan
kini. Sejarah Indonesia dapat kita bagi dalam 3 (tiga) periode yaitu:
a) Periode (Masa) Penjajahan
Penjajahan pada dasarnya adalah perbudakaan. Sebagai bangsa terjajah
sebenarnya bangsa Indonesia pada waktu itu telah kehilangan kemauan
dan kemerdekaan sebagai hak asasinya. Idealisme dan tuntutan bangsa
Indonesia pada waktu itu adalah kemerdekaan. Oleh karena itu timbullah
pergerakan nasional dimana pimpinan-pimpinan yang dibutuhkan adalah
mereka yang mampu menyadarkan hak-hak asasinya sebagai suatu
bangsa.
b) Periode (Masa) Revolusi
Periode ini adalah masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa serta didoorong oleh keinginan
yang luhur maka bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada
tanggal 17 Agustus 1945. Dalam periode ini yang dibutuhkan oleh
bangsa Indonesia adalah adanya persatuan solidaritas dalam bentuk
mobilitas kekuatan fisik guna melawan dan menghancurkan penjajah.
Untuk itu dibutuhkan adanya “solidarity making” diantara seluruh
kekuatan nasional sehingga dibutuhkan adanya pimpinan nasional tipe
solidarity maker.
c) Periode (Masa) Membangun
Setelah Indonesia merdeka dan kemerdekaan itu mantap berada
ditangannya maka timbullah cita-cita dan idealisme sebagai manusia
yang bebas dapat direalisir dan diwujudkan. Karena periode ini adalah
periode pengisian kemerdekaan, yaitu guna menciptakan masyarakat
atau kehidupan yang adil dan makmur. Maka mulailah pembangunan
nasional. Untuk melaksanakan pembangunan, faktor yang sangat
diperlukan adalah ilmu pengetahuan.
Pimpinan nasional yang dibutuhkan adalah negarawan yang “problem
solver” yaitu tipe “administrator” disamping ilmu pengetahuan
diperlukan pula adanya iman/akhlak
sehingga mereka mampu
melaksanakan tugas kerja kemanusiaan (amal saleh). Manusia yang
demikian mempunyai garansi yang obyektif untuk menghantarkan
bangsa Indonesia ke dalam suatu kehidupan yang sejahtera adil dan
makmur serta kebahagiaan. Secara keseluruhan basic demand bangsa
Indonesia adalah terwujudnya bangsa yang
merdeka, bersatu dan
berdaulat, menghargai HAM, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan
dengan tegas tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 dalam alinea kedua.
Tujuan 1 dan 2 secara formal telah kita capai tetapi tujuan ke-3 sekarang
sedang kita perjuangkan. Suatu masyarakat atau kehidupan yang adil
dan makmur
hanya akan terbina dan terwujud
dalam suatu
pembaharuan dan pembangunan terus menerus yang dilakukan oleh
manusia-manusia
yang
beriman,
berilmu
pengetahuan
dan
berkepribadian, dengan mengembangkan nilai-nilai kepribadian bangsa.
IV. KUALITAS INSAN CITA HMI
Kualitas Insan Cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud
oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu
pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas
tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 5 AD HMI) adalah sebagai
berikut :
a. Kualitas Insan Akademis
a) Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif,
dan kritis.
b) Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang
diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi
suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
c) Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai
dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan
sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara
bertahap, teratur,
mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.
b. Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta
a) Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari
sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentukbentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa
yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan
kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
b) Bersifat independen, terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari
dengan sikap demikian potensi, sehingga dengan demikian kreatifnya
dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah.
c) Dengan memiliki kemampuan akademis dan mampu melaksanakan
kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.
c. Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi
a) Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan ummat dan bangsa.
b) Sadar
membawa tugas insan pengabdi, bukan hanya sanggup
membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya
menjadi baik.
c) Insan akdemis,
pencipta dan pengabdi adalah insan yang
bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan
ilmunya untuk kepentingan umat dan bangsa.
d. Kualitas Insan yang bernafaskan Islam : Insan Akademis, pencipta dan
pengabdi yang bernafaskan Islam
a) Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola
lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman
dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal
Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.
b) Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam
dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah
dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai
warga negara dan dirinya sebagai muslim. Kualitas insan ini telah
mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa
kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.
e. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi oleh Allah SWT
a) Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam dan
bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi oleh Allah SWT.
b) Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat dari perbuatannya dan
sadar
dalam menempuh jalan yang benar diperlukan adanya
keberanian moral.
c) Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi
persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
d) Rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah
untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan
masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
e) Evaluatif dan selektif terhadap setiap langkah yang berlawanan
dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
f) Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai
“khallifah fil ard” yang harus melaksanakan tugas-tugas
kemanusiaan.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “man of future” insan
pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersikap
terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi
cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara
kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Tipe ideal dari hasil
perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara
“idea of progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis,
dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT.
Mereka itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan mampu beramal
saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil)
Dari lima kualitas insan cita tersebut pada dasarnya harus memahami
dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas insan akademis, kualitas insan
pencipta dan kualitas insan cita. Ketiga insan kualitas pengabdi tersebut
merupakan insan islam yang terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung
jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah
SWT.
V. TUGAS ANGGOTA HMI
Setiap anggota HMI berkewajiban meningkatkan kualitas dirinya
menuju kualitas insan cita HMI. Untuk itu setiap anggota HMI harus
mengembangkan sikap mental pada dirinya yang independen untuk itu :
a. Senantiasa memperdalam hidup kerohanian agar menjadi luhur dan
bertaqwa kepada Allah SWT.
b. Selalu tidak puas dalam mencari kebenaran
c. Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional menghadapi pendirian
yang berbeda.
d. Bersifat kritis dan berpikir bebas kreatif
e. Selalu haus
kebenaran
terhadap
ilmu
pengetahuan
dan
selalu
mencari
Hal tersebut akan diperoleh antara lain dengan jalan :
a. Senantiasa meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam
yang dimilikinya dengan penuh gairah.
b. Aktif berstudi dalam Fakultas yang dipilihnya.
c. Mengadakan tentor club untuk studi ilmu jurusannya dan club studi
untuk masalah kesejahteraan dan kenegaraan
d. Selalu hadir dan pro aktif dalam forum ilmiah
e. Aktif dalam mengikuti karyaseni dan budaya
f.
Mengadakan halaqah-halaqah perkaderan di masjid-masjid kampus
Bahwa tujuan HMI sebagaimana yang telah dirumuskan dalam pasal 4
AD HMI pada hakikatnya adalah merupakan tujuan dalam setiap Anggota
HMI. Insan cita HMI adalah gambaran masa depan HMI. Suksesnya anggota
HMI dalam membina dirinya untuk mencapai Insan Cita HMI berarti dia telah
mencapai tujuan HMI.
Insan cita HMI pada suatu waktu akan merupakan “Intellectual
community” atau kelompok intelegensi yang mampu merealisasi cita-cita
umat dan bangsa dalam suatu kehidupan masyarakat yang religius,
sejahtera, adil dan makmur serta bahagia (masyarakat adil makmur yang
diridhoi Allah Subhanahuwataala).
Wabillahittaufiq wal hidayah.
TAFSIR INDEPENDENSI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
A. PEDAHULUAN
Menurut fitrah kejadiannya, maka manusia diciptakan bebas dan
merdeka. Karenanya kemerdekaan pribadi adalah hak yang pertama. Tidak
ada sesuatu yang lebih berharga dari pada kemerdekaan itu. Sifat dan
suasana bebas dan kemerdekaan seperti diatas, adalah mutlak diperlukan
terutama pada fase/saat manusia berada dalam pembentukan dan
pengembangan. Masa/fase pembentukan dari pengembangan bagi manusia
terutama dalam masa remaja atau generasi muda.
Mahasiswa dan kualitas-kualitas yang dimilikinya menduduki kelompok
elit dalam generasinya. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis adalah ciri
dari kelompok elit dalam generasi muda, yaitu kelompok mahasiswa itu
sendiri. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis yang didasarkan pada
obyektif yang harus diperankan mahasiswa bisa dilaksanakan dengan baik
apabila mereka dalam suasana bebas merdeka dan demokratis obyektif dan
rasional. Sikap ini adalah yang progresif (maju) sebagai ciri dari pada
seorang intelektual. Sikap atas kejujuran keadilan dan obyektifitas.
Atas dasar keyakinan itu, maka HMI sebagai organisasi mahasiswa
harus pula bersifat independen. Penegasan ini dirumuskan dalam pasal 6
Anggaran Dasar HMI yang mengemukakan secara tersurat bahwa "HMI
adalah organisasi yang bersifat independen"sifat dan watak independen bagi
HMI adalah merupakan hak azasi yang pertama.
Untuk lebih memahami esensi independen HMI, maka harus juga
ditinjau secara psikologis keberadaan pemuda mahasiswa Islam yang
tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam yakni dengan memahami
status dan fungsi dari HMI.
B. STATUS DAN FUNGSI HMI
Status HMI sebagai organisasi mahasiswa memberi petunjuk dimana
HMI berspesialisasi. Dan spesialisasi tugas inilah yang disebut fungsi HMI.
Kalau tujuan menunjukan dunia cita yang harus diwujudkan maka fungsi
sebaliknya menunjukkan gerak atau kegiatan (aktifitas) dalam mewujudkan
(final goal). Dalam melaksanakan spesialisasi tugas tersebut, karena HMI
sebagai organisasi mahasiswa maka sifat serta watak mahasiswa harus
menjiwai dan dijiwai HMI. Mahasiswa sebagai kelompok elit dalam
masyarakat pada hakikatnya memberi arti bahwa ia memikul tanggung
jawab yang benar dalam melaksanakan fungsi generasinya sebagai kaum
muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari
ini dan ke masa depan. Karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis itu
mahasiswa dan masyarakat berperan sebagai "kekuatan moral" atau moral
forces yang senantiasa melaksanakan fungsi "social control". Untuk itulah
maka kelompok mahasiswa harus merupakan kelompok yang bebas dari
kepentingan apapun kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi
kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Dalam
rangka penghikmatan terhadap spesialisasi kemahasiswaan ini, maka dalam
dinamikanya HMI harus menjiwai dan dijiwai oleh sikap independen.
Mahasiswa, setelah sarjana adalah unsur yang paling sadar dalam
masyarakat. Jadi fungsi lain yang harus diperankan mahasiswa adalah sifat
kepeloporan dalam bentuk dan proses perubahan masyarakat. Karenanya
kelompok mahasiswa berfungsi sebagai duta-duta pembaharuan masyarakat
atau "agent of social change". Kelompok mahasiswa dengan sikap dan watak
tersebut di atas adalah merupakan kelompok elit dalam totalitas generasi
muda yang harus mempersiapkan diri untuk menerima estafet pimpinan
bangsa dan generasi sebelumnya pada saat yang akan datang. Oleh sebab
itu fungsi kaderisasi mahasiswa sebenarnya merupakan fungsi yang paling
pokok. Sebagai generasi yang harus melaksanakan fungsi kaderisasi demi
perwujudan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat, bangsa dan negaranya
di masa depan maka kelompok mahasiswa harus senantiasa memiliki watak
yang progresif dinamis dan tidak statis. Mereka bukan kelompok tradisionalis
akan tetapi sebagai "duta-duta pembaharuan sosial" dalam pengertian harus
menghendaki perubahan yang terus menerus ke arah kemajuan yang
dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran. Oleh sebab itu mereka selalu mencari
kebenaran dan kebenaran itu senantiasa menyatakan dirinya serta
dikemukakan melalui pembuktian di alam semesta dan dalam sejarah umat
manusia. Karenanya untuk menemukan kebenaran demi mereka yang
beradab bagi kesejahteraan umat manusia maka mahasiswa harus memiliki
ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai kebenaran dan berorientasi pada
masa depan dengan bertolak dari kebenaran Illahi. Untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran demi mewujudkan
beradaban bagi kesejahteraan masyarakat bangsa dan negara maka setiap
kadernya harus mampu melakukan fungsionalisasi ajaran Islam.
Watak dan sifat mahasiswa seperti tersebut diatas mewarnai dan
memberi ciri HMI sebagai organisasi mahasiswa yang bersifat independen.
Status yang demikian telah memberi petunjuk akan spesialisasi yang harus
dilaksanakan oleh HMI. Spesialisasi tersebut memberikan ketegasan agar
HMI dapat melaksanakan fungsinya sebagai organisasi kader, melalui
aktifitas fungsi kekaderan. Segala aktifitas HMI harus dapat membentuk
kader yang berkualitas dan komit dengan nilai-nilai kebenaran. HMI
hendaknya menjadi wadah organisasi kader yang mendorong dan
memberikan kesempatan berkembang pada anggota-anggotanya demi
memiliki kualitas seperti ini agar dengan kualitas dan karakter pribadi yang
cenderung pada kebenaran (hanief) maka setiap kader HMI dapat berkiprah
secara tepat dalam melaksanakan pembaktiannya bagi kehidupan bangsa
dan negaranya.
C. SIFAT INDEPENDEN HMI
Watak independen HMI adalah sifat organisasi secara etis merupakan
karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di
dalam bentuk pola pikir, pola sikap dan pola laku setiap kader HMI baik
dalam dinamika dirinya sebagai kader HMI maupun dalam melaksanakan
"Hakekat dan Mission" organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi
bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Watak independen HMI yang
tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan pola laku setiap kader
HMI akan membentuk "Independensi etis HMI", sementara watak independen
HMI yang teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi HMI
akan membentuk "Independensi organisatoris HMI".
Independensi etis adalah sifat independensi secara etis yang pada
hakekatnya merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Fitrah
tersebut membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung
pada kebenaran (hanief). Watak dan kepribadian kader sesuai dengan
fitrahnya akan membuat kader HMI selalu setia pada hati nuraninya yang
senantiasa memancarkan keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran
adalah ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA. Dengan demikian melaksanakan
independensi etis bagi setiap kader HMI berarti pengaktualisasian dinamika
berpikir dan bersikap dan berprilaku baik "hablumminallah" maupun dalam
"hablumminannas" hanya tunduk dan patuh dengan kebenaran.
Aplikasi dari dinamika berpikir dan berprilaku secara keseluruhan
merupakan watak azasi kader HMI dan teraktualisasi secara riil melalui
watak dan kepribadiaan serta sikap-sikap yang :
 Cenderung kepada kebenaran (hanief)
 Bebas terbuka dan merdeka
 Obyektif rasional dan kritis
 Progresif dan dinamis
 Demokratis, jujur dan adil
Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang
teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika HMI baik dalam
kehidupan intern organisasi maupun dalam kehidupan masyarakat
berbangsa dan bernegara.
Independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan
nasional HMI secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif,
konstruktif, korektif dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala
usaha pembangunan demi mencapai cita-cita semakin hari semakin
terwujud. Dalam melakukan partisipasi-partisipasi aktif, konstruktif, korektif
dan konstitusional tersebut secara organisasi HMI hanya tunduk serta komit
pada prinsip-prinsip kebenaran dan obyektifitas.
Dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris
tidak pernah "committed" dengan kepentingan pihak manapun ataupun
kelompok dan golongan manapun kecuali tunduk dan terikat pada
kepentingan kebenaran dan obyektifitas kejujuran dan keadilan.
Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan
prinsip-prinsip independensi organisatorisnya maka HMI dituntut untuk
mengembangkan "kepemimpinan kuantitatif" serta berjiwa independen
sehingga perkembangan, pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi
mampu diemban selaras dengan hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI
harus mampu menciptakan kondisi yang baik dan mantap bagi pertumbuhan
dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI. Dalam rangka menjalin
tegaknya
"prinsip-prinsip
independensi
HMI"
maka
implementasi
independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut :
 Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan
tugasnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta
membawa program perjuangan HMI. Oleh karena itu tidak
diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan dengan membawa
organisasi atas kehendak pihak luar manapun juga.
 Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan
bentuk apapun dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah
diputuskan secara organisatoris.
 Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif berjuang meneruskan
dan mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka
berada dan berfungsi sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka
membawa hakikat dan mission HMI. Dan menganjurkan serta
mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya secara
tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi
profesional, kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi
politik, lembaga pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang
semata-mata hanya karena hak dan tanggung jawabnya dalam rangka
merealisasikan kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah SWT. Dalam menjalankan garis independen HMI dengan
ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata
adalah untuk memelihara mengembangkan anggota serta peranan
HMI dalam rangka ikut bertanggung jawab terhadap negara dan
bangsa. Karenanya menjadi dasar dan kriteria setiap sikap HMI
semata-mata adalah kepentingan nasional bukan kepentingan
golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap
independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan
menempuh resiko. Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda.
Mahasiswa yang kritis terhadap masa kini dan kemampuan dirinya
untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan negara.
D. PERANAN INDEPENDENSI HMI DI MASA MENDATANG
Dalam suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia ini
maka tidak ada suatu investasi yang lebih besar dan lebih berarti dari pada
investasi manusia (human investment). Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir
tujuan, bahwa investasi manusia yang kemudian akan dihasilkan HMI adalah
adanya suatu kehidupan yang sejahtera material, spiritual, adil dan makmur
serta bahagia.
Fungsi kekaderan HMI dengan tujuan terbinanya manusia yang
beriman, berilmu dan berperikemanusiaan seperti tersebut di atas maka
setiap anggota HMI di masa datang akan menduduki jabatan dan fungsi
pimpinan yang sesuai dengan bakat dan profesinya.
Hari depan HMI adalah luas dan gemilang sesuai status fungsi dan
perannya dimasa kini dan masa mendatang yang menuntut kita pada masa
kini untuk benar-benar dapat mempersiapkan diri dalam menyongsong hari
depan HMI yang gemilang.
Dengan sifat dan garis independen yang menjadi watak organisasi
berarti HMI harus mampu mencari, memilih dan menempuh jalan atas dasar
keyakinan dan kebenaran. Maka konsekuensinya adalah bentuk aktifitas
fungsionaris dan kader-kader HMI harus berkualitas sebagaimana
digambarkan dalam kualitas insan cita HMI. Soal mutu dan kualitas adalan
konsekuensi logis dalam garis independen HMI harus disadari oleh setiap
pimpinan dan seluruh anggota-anggotanya adalah suatu modal dan
dorongan yang besar untuk selalu meningkatkan mutu kader-kader HMI
sehingga mampu berperan aktif pada masa yang akan datang.
Wabilahittaufiq Wal Hidayah
ATRIBUT ORGANISASI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
I.
LENCANA / BAGDE HMI
Lencana adalah lambang HMI yang pemakaiannya di baju, oleh karena
itu
gambar, ukuran, bentuk warna dan isinya sama persis dengan
lambang HMI. (lihat lampiran).
II.
BENDERA
Gambar
Bentuk
Warna
Isi
III.
STEMPEL
Gambar
Bentuk
Warna
: Lihat lampiran.
: Panjang : Lebar = 3 : 2
: Hijau dan Hitam dalam perbandingannya yang
seimbang
: Lambang HMI sepenuhnya (lihat gambar)
: Lihat lampiran
: Oval Garis
Ditengah lambang HMI
Separuh sebelah bawah nama badan
: Hijau
IV.
MUTS (PECI) HMI
Gambar
: Lihat gambar
Bentuk
: Perbandingan berimbang
Warna
: Bagian atas : hitam dan hijau (hitam sebelah kanan,
hijau sebelah kiri)
Bagian samping kiri : hijau : hitam (1 : 2)
Bagian samping kanan : hijau : hitam (2 : 1)
Bagian samping kiri diberi pita warna putih :
panjang setinggi muts dan lebar 3,5 cm dan
guntingan 17 helai
V.
KARTU ANGGOTA
Gambar
Bentuk
Ukuran
Warna
Isi
:
:
:
:
:
Lihat gambar
Empat persegi panjang
9,5 x 6,5 cm
Kertas (dasar) : putih, tulisan : hitam
Halaman muka :
a. Lambang HMI sebelah kiri atas
b. Tulisan kartu anggota dan nama Cabang sebelah
tengah atas
c. Kalimat syahadat, sebelah bawah dan dikurung
dengan segi empat
d. Nomor anggota
e. Masa berlaku
Halaman belakang :
a. Nama
b. Tempat / Tanggal Lahir
c. Alamat
d. Perguruan Tinggi / Komisariat
e. Jenis Kelamin
f. Jabatan
g. Pas foto, sebelah kiri bawah (ukuran 2 x 3)
h. Tanggal pembuatan
i. Pengurus
HMI
Cabang
yang
membuat
(ditandatangani langsung)
VI.
PAPAN NAMA HMI
Gambar
: Lihat gambar
Ukuran
: Untuk PB HMI 200 x 150 cm
Untuk BADKO HMI 180 x 135 cm
Untuk HMI Cabang 160 x 120 cm
Isi
: - Lambang HMI
- Nama tingkat kepengurusan
- Alamat
Warna
: - Dasar Papan : Hijau
- Tulisan : Putih
VII.
GORDON (SELEMPANG) HMI
Gambar
: Lihat gambar
Ukuran
:
Hitam dan hijau dalam perbandingan yang
seimbang
Pemakaian
: Dilakukan pada leher dan dipakai pada acara–acara
yang
bersifat ekstrim (umum)
Lambang / Lencana
: Digantungkan pada ujung selempang dengan
ukuran yang
seimbang
VIII.
BARET HMI
Gambar
Bentuk
Warna
: Lihat gambar
: Bundar
: Bagian atas hijau dan hitam berbanding sama
Isi
(dilihat dari depan hitam sebelah kiri)
: Lambang HMI sepenuhnya (lihat gambar)
besar
GAMBAR 1
LAMBANG HMI
GAMBAR 2
LENCANA / BADGE HMI
GAMBAR 3
GAMBAR 4
GAMBAR 5
PECI / MUTS
GAMBAR 6
GAMBAR 7
GAMBAR 8
GAMBAR 9
PENGANTAR PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
‫حـيــــــــ ِم‬
ِ ‫ن الَّر‬
ِ ‫حــَمــــــــ‬
ْ‫ســــــــ ِم الَّلــــــــ ِه الَّر ــ‬
ْ‫ ِب ــ‬
Bismillahir-Rahmanir-Rahiem.
Anggaran Dasar Himpunan Mahasiswa Islam pasal 3 menyebutkan
“Organisasi ini berazazkan Islam”.
Dasar organisasi merupakan Sumber motivasi, pembenaran dan
ukuran bagi gerak-langkah organisasi itu. Karena kwalitas inilah maka HMI
selain merupakan oganisasi kemahasiswaan jang memperhatikan “students
need & students interest” djuga merupakan suatu organisasi perdjuangan
jang mengemban suatu “mission sacree”. Setjara ringkas dapat dikatakan
bahwa tugas sutji HMI ialah berusaha mentjiptakan masjarakat jang adil dan
sedjahtera. Secara ringkas jang mendjadi dasar perdjuangannja memuat
adjaran pokok bahwa “Sesungguhnja Allah memerinahkan akan Keadilan dan
Ihsan (usaha perbaikan masjarakat)”.
Dasar perdjuangan itu diuraikan dalam buku ketjil “Nilai2 Dasar
Perdjuangan” (NDP) ini. NDP merupakan perumusan tentang adjaran2 pokok
Agama Islam, jaitu nilai2 dasarnja, sebagaimana tertjantum dalam Al-Kitab
dan As-Sunnah.
Semula sebagai kertas kerdja PB HMI periode 1966-1969 kepada
Kongres IX di Malang, perumusan NDP ini kemudian mendapatkan
pengesahan dari Kongres tersebut, dan atas mandat Kongres itu pula tiga
orang telah ditundjuk untuk menjempurnakannja. Ketiga mereka itu, ialah
sdr2 Nurcholish Madjid, Endang Saifuddin Anshari dan Sakib Mahmud. Jang
ada sekarang ini adalah hasil penjempurnaan itu.
Kepada setiap anggota HMI, terutama para akivisnja, diharapkan
membatja NDP. Pemahaman terhadap nilai2 itu diharapkan dapat menafasi
perdjuangan kita dewasa ini dan seterusnja.
Sistematika dalam mentjeramahkan NDP ini kepada para trainees
(peserta2 latihan atau training) tergantung kepada tingkat pengetahuan
peserta tersebut dan kepada metode pendekatan jang dipiih oleh
pentjeramah sendiri. Oleh sebab itu dimintakan kreativitas setiap
pentjeramah atau instruktur latihan2 untuk dapat membuat sendiri
sistematika itu sesuai dengan keperluan. Dan mengingat perumusan NDP ini
dibuat begitu rupa sehingga sedjauh mungkin merupakan se-mata2
pegangan “normatif”, maka kepada para instruktur atau pentjeramah djuga
diharapkan ketrampilannja untuk dapat mengemukakan tjontoh2 njata
dalam kehidupan se-hari2, baik jang positif (jaitu bersesuaian dengan nilai
jang dimaksud) ataupun jang negatif (jaitu jang bertentangan). Dengan
begitu penghajatan norma2 itu akan semakin mendalam.
Dua sjarat utama suksesnja perdjuangan ialah:
1.
Keteguhan iman atau kejakinan kepada dasar, jaitu idealisme
kuat, jang berarti harus memahami dasar perdjuangan itu.
2.
Ketepatan penelaahan kepada medan perdjuangan guna dapat
menetapkan langkah2 jang harus ditempuh, berupa program
perdjuangan atau kerdja, jaitu ilmu jang luas.
Maka perumusan NDP ini adalah suatu usaha guna memenuhi sjarat
pertama tersebut. Sedangkan sjarat kedua lebih bersifat dinamis, artinja
disesuaikan dengan keadaan. Untuk ini Kongres IX telah memutuskan
tentang Program Kerdja Nasional (PKN). Maka diharapkan kepada setiap
warga Himpunan memahami kedua dokumen itu se-baik2-nja.
Achirnja semoga Allah menganugerahkan kepada kita keteguhan Iman
dan keluasan Ilmu-pengetahuan.
Wabillahit-taufiq wal-hidajah,
4 Zulhidjah 1390 H
Djakarta,
31 Djanuari 1971 M
Pengurus Besar
Himpunan Mahasiswa Islam
Nurcholish Madjid
Ketua Umum
Ridwan Saidi
Sekdjen
LATAR BELAKANG PERUMUSAN NDP HMI1
Nurcholish Madjid
Sebetulnya tidak ada masalah apabila kita sebagai orang muslim
berpedoman pada ajaran Islam, memandang segala segala sesuatu dari
sudut ajaran Islam, termasuk terhadap masalah-masalah kemasyarakatan,
kenegaraan Pancasila.
Saya disebut-sebut sebagai orang yang merumuskan NDP, meskipun
diformalkan oleh Kongres Malang. Itu terjadi 17 tahun lalu. Jadi sebagai
dokumen organisasi, apalagi organisasi mahasiswa, NDP itu cukup tua. Oleh
karena itu, ada teman berbicara tentang NDP dan kemudian mengajukan
gagasan misalnya untuk tidak mengatakan mengubah-mengembangkan dan
sebagainya, maka saya selalu menjawab, dengan sendirinya memang
mungkin untuk diubah dalam arti dikembangkan.
Values (nilai-.nilai) tentu saja tidak berubah-ubah. Kalau disitu
misalnya ada nilai Tauhid, tentu saja tidak berubah-ubah. Akan tetapi
pengungkapan dan tekanan pada impliksi NDP itu mungkin bahkan bisa
diubah. Sebab, sepanjang sejarah, Tauhid wujudnya sama, yaitu paham pada
Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi tekanan implikasinya itu berubahubah.
Kita bisa lihat tekanan misi pada rasul-rasul, itu berubah. misalnya Isa
Al-Masih (Yesus Kristus) datang untuk mengubah Taurat. (Agar aku halalkan
bagi kamu sebagian yang diharamkan bagi kamu). Nabi Isa datang
menghalalkan sebagian yang haramkan pada Perjanjian Lama. Jadi, implikasi
Tauhid itu berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Sebab itu juga
menyangkut masalah interpretasi. Pengungkapan nilai itu sendiri memang
tidak mungkin berubah, tetapi harus dipertahankan apalagi nilai seperti
Tauhid. Akan tetapi karena ada kemungkinan mengubah tekanan dan
implikasinya, maka ada ruang untuk pengembangan-pengembangan. Tidak
hanya namanya saja diubah NDP ke NIK (lalu NDP kembali-pen).
Pengembangan adalah tugas/pikiran yang sah dari adik-adik HMI. Maka dari
itu saya persilahkan, kalau misalnya memang ada yang ingin menggarap
bidang ini.
NDP, Kesimpulan Suatu Perjalanan
Saya ingin bercerita sedikit. Mungkin ada gunanya walaupun cerita
ringan saja. Yaitu bagaimana NDP itu lahir.
Ahmad Wahib dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam yang sangat
kontroversial itu menulis bahwa saya dalam tahun 1968 diundang untuk
mengunjungi universitas-universitas di Amerika yang waktu itu merupakan
pusat-pusat kegiatan mahasiswa. Dan kepergian saya ke Amerika itu
mengubah banyak sekali pendirian saya, begitu kata Wahib dalam bukunya
1 Disadur dari Buku Islam Mazhab HMI, Drs. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag
itu, maaf saja, tidak benar. Jadi di sini Ahmad Wahib salah. Memang
perlawatan yang dimulai dari Amerika itu banyak sekalii mempengaruhi
saya, tetapi bukan pengalaman di Amerika yang mempengaruhi saya,
melainkan justru di Timur Tengah.
Begini ceritanya. Waktu itu terus terang saja sebetulnya pemerintah
Amerika sudah lama melihat potensi HMI disini (tentu saja pemerintah
Amerika seperti yang diwakili oleh Kedutaan Amerika di sini). Mereka sudah
tahu situasi politik Indonesia pada zaman Orde Lama, ketika Bung Karno
mempermainkan atau sebetulnya boleh saja dikatakan melakukan politik
devide et impera, antara komunis dan ABRI terutama AD. Bagaimana AD itu
sangat banyak bekerja dengan kita. Ini banyak dibaca oleh pemerintah
seperti Amerika. Dan karena itu banyak sekali pendekatan-pendekatan dari
orang kedutaan Amerika itu ke PB HMI. Sebetulnya sudah lama mereka
menginginkan supaya ada tokoh-tokoh HMI yang melihat-lihat Amerika,
tetapi memang waktu itu beluin banyak orang yang bisa berbahasa Inggris,
sehingga saya menjadi orang mendapat kesempatan pertama.
Kunjungan saya ke Amerika, sesuai dengan Undangan, hanya
berlangsung satu bulan seminggu atau satu bulan dua minggu. Sistemnya
semua dijamin; ada uang harian, uang perdien. Waktu itu dolar belum inflasi;
sehingga uang yang saya peroleh cukup besar, dan saya tentu bisa
menghemat. Uang inilah yang saya pergunakan untuk keliling Timur Tengah.
Saya lakukan itu, secara sederhana.
Kita di Indonesia selama ini selalu mengaku muslim dan mengklaim
diri sebagai pejuang-pejuang Islam. Untuk terlaksananya ajaran Islam,
sekarang perlu melihat sendiri bagaimana wujud Islam dalam praktik.
Begitulah motif saya pergi ke Timur Tengah. Meski kita tahu, Indonesia
memang negara Muslim yang terbesar di bumi, secara geografis paling jauh
dari pusat-pusat Islam, yaitu Timur Tengah, sehingga mghasilkan beberapa
hal, misalnya Muslim Indonesia itu adalah termasuk yang paling sedikit
ter”arab”kan.
Barangkali kita tidak menyadari banyak keunikan kita, sebagai bangsa
Indonesia. Boleh dikatakan inilah bangsa Asia satu-satunya yang menuliskan
bahasa nasionalnya dengan huruf latin. Semua bangsa Asia menggunakan
huruf nasionalnya masing-masing. Hanya kita yang menggunakan huruf
latin. Filipina memang, tetapi Filipina belum bisa mengklaim mempunyai
bahasa nasional. Bahasa Tagalog masih merupakan bahasa Manila saja.
Kemudian Indonesia satu-satunya bangsa Muslim juga yang
menggunakan huruf latin untuk bahasa nasionalnya. Semua bangsa muslim
itu menggunakan hurup Arab, kecuali tiga: Turki disebabkan revolusi Kemal,
Bangladesh karena seperti bangsa Asia lain mempunyai huruf sendiri yaitu
huruf Bengali dan Indonesia dikarenakan penjajahan. Jadi kita itu unik. Dari
sudut pandangan dunia Islam, Indonesia unik. Inilah bangsa Muslim yang
kurang tahu huruf Arab, kira-kira begitu. Jangankan orang Islam Pakistan,
Afganistan dan sebagainya, sedangkan orang India yang Islamnya minoritas,
di sana pun mereka menggunak huruf Arab untuk menuliskan bahasa Urdu,
bahasa mereka. Semuanya begitu. Dari situ saja boleh kita ambil satu
kesimpulan bahwa ke-Islaman di Indonesia itu masih demikian dangkal
sehingga masih ada persoalan yaitu bagaimana menghayati nilai-nilai Islam
itu. Itulah yang mendorong saya pergi ke Timur Tengah.
Waktu saya hendak ke Amerika, saya merasa ogah-ogahan. Akan
tetapi biarlah barangkali dari Amerika saya bisa ke Timur Tengah. Oleh
karena itu biarpun di Amerika, sudah kontak dengan orang-orang dari Timur
Tengah, yang kelak ketika saya ke Timur Tengah memang banyak sekali yang
menolong saya. Kunjungan saya ke Timur Tengah saya mulai dari Istanbul,
kemudian ke Libanon. Waktu itu tentu saat Libanon masih aman. Lalu ke
Syiria, kemudian Irak, sehingga baru pertama kalinya saya bertemu
Abdurrahman Wahid. Dia yang menyambut. Karena terus terang, walaupun
untuk kemudian sibuk untuk merealisir janji dari Mentri Pendidikan Saudi
Arabia itu untuk naik haji yang waktu itu jatuh bulan Maret. Berarti Cuma
ada waktu satu bulan, jadi habislah waktu saya untuk menyiapkan temanteman naik haji. Sampai di sana, semua teman ikut sakit karena tidak cocok
dengan makanan kecuali saya. Kebetulan saya sudah terbiasa dengan
masakan orang sana. Sampai Zaitun yang disebut di dalam Al-Qur’an saya
makan. Karena perlu diketahui bahwa buah walaupun tidak enak dan agak
pahit bagi yang belum biasa gizinya tinggi sekali dan dapat menghilangkan
rasa mual sebagainya. Dan saya mendapat service dan seseorang di
kedutaan San Fransisco, seorang novelis yang terkenal di Amerika bernama
John Ball, yang salah satu bukunya difilmkan dan mendapat hadiah besar.
Dia mengatakan begini, “Saudara harus tahu, berkat Zaitun inilah orang
Yunani dahulu berfilsafat. Karena Zaitun itu tanaman yang tahan lama sekali
dan tetap berbuah.” Pohon itu bisa ribuan tahun bertahan, dengan buahnya
yang begitu tmggi, sehingga orang Yunani itu dulu boleh dikatakan tidak lagi
memikirkan masalah sumber gizi yang tinggi. Cukup menanam zaitun saja
dan sampai sekarang zaitun merupakan komoditi yang penting negaranegara seperti Italia Yunani dan sebagainya.
Setelah pulang dan haji, saya ingin menulis sesuatu tentang nilai-nilai
dasar Islam. Seluruh keinginan saya untuk bikin NDP saya curahkan pada
bulan April, untuk bisa dibawa ke Malang pada bulan Mei. Jadi NDP itu
sebetulnya merupakan kesimpulan saya dan perjalanan yang macammacam di Timur Tengah selama tiga bulan lebih itu. Jadi sama sekali salah
kalau Ahmad Wahib mengatakan itu adalah pengaruh kunjungan di Amerika.
Begitulah singkatnya cerita. Namanya saja NDP, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan.
Tentu saja bahannya itu macam-macam. Saya ingin menceritakan, mengapa
namanya NDP. Sebetulnya teman-teman pada waktu itu dan saya sendiri
berpikir untuk memberikan nama NDI, Nilai-Nilai Dasar Islam, Akan tetapi
setelah saya berpikir, kalau disebut Nilai-Nilai Dasar Islam, maka klaim kita
akan terlalu besar. Kita terlalu mengklaim inilah Nilai-nilai Dasar Islam. Oleh
karena itu, lebih baik disesuaikan dengan aktivitas kita sebagai mahasiswa.
Lalu saya mendapat ilham dari beberapa sumber. Pertama adalah Willy
Eicher, seorang ideolog Partai Sosial Demokrat Jerman yang membikin buku,
The Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Socialism. Nilainilai Dasar dan Tuntutan-tuntutan Asasi Sosialisme Demokrat. Nah, ini ada
“nilai-nilai dasar”. Kemudian “perjuangan”-nya dari mana? Dan karya Syahrir
mengenai ideologi sosialisme Indonesia yang termuat dalam Perjuangan
Kita. Dan ternyata Syahrir juga tidak orisinal. Dia agaknya telah meniru dari
buku Hitler, Mein Kamf. Jadilah Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) itu.
Kemudian saya bawa ke Malang, ke Kongres IX, Mei 1969. Tetapi di sana
tentu saja agak sulit dibicarakan karena persoalannya demikian luas hingga
tidak mungkin suatu Kongres membicarakannya. Lalu diserahkan pada kami
bertiga; Saudara Endang Saifudin Anshari, Sakib Mahmud dan saya sendiri.
Nah, itulah kemudian lahir NDP, yang namanya diubah lagi oleh Kongres ke16 HMI menjadi NIK (Nilai Identitas Kader).
Inti NDP : Beriman, Berilmu, Beramal
Kalau teman-teman melihat NDP, tentu saja dibagi-bagi menjadi
beberapa bagian. Yang pertama “Dasar kepercayaan”, Kemanusiaan”,
“Kemerdekaan Manusia”, “Ikhtiar dan Takdir”. ini tentu saja banyak sekali
unsur dan tulisan H. Agus Salim; Filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawakal
misalnya. Kemudian “Ketuhanan Yang Maha Esa dan Prikemanusiaan”, atau
“Individu dan Masyarakat”, “Keadilan Sosial” dan “Keadilan Ekonomi”,
“Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan”, lalu kesimpulan dan penutup. Saya
tidak akan menerangkan semua NDP. “Dengan demikian sikap hidup
manusia menjadi sangat sederhana. Yaitu beriman, berilmu dan beramal”.
Ya, biasa, kalau suatu ungkapan yang sudah menjadi klise, itu tidak
menggugah apa-apa. Apa makna beriman, berilmu, beramal, saya kira itu
telah menjadi kata-kata harian.
Saya kira hidup beriman, tentu saja personal, pribadi sifatnya. Setiap
manusia itu harus menyadari, tidak bisa tidak harus punya nilai. Oleh karena
itu iman adalah primer. Iman adalah segalanya. Oleh karena iman disitu
adalah sandarn nilai kita. ini kemudian diungkapkan secara panjang lebar
dalam bab Dasar-dasar Kepercayaan. Kenapa manusia memiliki
kepercayaan. Di situ, misalnya, kita menghadapi satu dilema; satu dilema
pada manusia, yang dikembangkan dalam Syahadat La illaha ilallah. Tiada
Tuhan melainkan Allah. Di sini kita bagi dalam dua, nafyu dan itsbat. Artinya
negasi dan afirmasi. Jadi tidak ada Tuhan melainkan Allah. Mengenai soal ini,
saya prnah terlibat dalam polemik tentang Allah ini, bisa tidak diterjemahkan
dengan Tuhan? Saya berpendapat bisa, tapi banyak sekali orang
berpendapat tidak bisa. Kemudian ada polemik yang saya tidak begitu suka.
Memang para ulama berselisih mengenai makna Allah ini. Maksudnya
ada yang berpendapat bahwa Allah ini suatu isim jamid, yaitu bahwa
memang Allah itu begitu adanya yang berpendapat bahwa ini sebetulnya
berasal dan al-ilaah. kemudian menjadi Allah. Jadi menurut mereka yang
berpendapat isim jamid tidak dapat diterjemahkan Allah. Allah tetap Allah.
Dan itu banyak pengikutnya.
Buya Hamka juga pernah mempunyai persoalan, ketika ditanya orang,
“Mengapa Buya Hamka suka bilang Tuhan, kan tidak boleh? Dan mengapa
suka bilang sembahyang, bukan sholat?” Hamka menjawab, “boleh, sebab
Allah itu memang Tuhan, dan sholat juga bisa diterjemahkan menjadi
sembahyang”. Beliau mengutip bahwa dulu di Malaya, Allah itu
diterjemahkan dengan Dewata Raya dan para ulama tidak keberatan.
Tapi sebelum Buya Hamka atau orang Indonesia, yang menghadapi
masalah terjemahan ini ialah orang Persi sebetulnya. Sebab bangsa Muslim
yang pertama bukan orang Arab itu yang besar adalah orang Persi. Memang
sebelum itu orang Syiria, Mesir, semua bukan Arab. Tetapi mungkin karena
latar belakang kultural mereka itu tidak begitu kuat, maka mereka terArabkan sama sekali. Sehingga orang Mesir sekarang sudah tidak ada lagi.
Mereka semua menjadi orang Arab. Termasuk Khadafi yang keturunan
Kartago, itu juga menjadi orang Arab. Kalau dari sejarah, Khadafi itu lebih
dekat dengan orang-orang Yunani, orang Romawi dan sebagainya sebagai
keturunan Kartago. Libya bukan tempatnya orang-orang Kartago dulu dan
mereka itu lebih banyak orang-orang Quraisy. Tetapi mereka menjadi Arab
dan berbahasa Arab. Maka yang disebut bangsa-bangsa Arab itu, secara
darah sebetulnya sebagian besar bukan orang-orang Arab, tetapi orang yang
berbahasa Arab.
Bangsa Muslim yang pertama bukan Arab dan sampai sekarang tidak
berhasil di-Arabkan adalah bangsa Persi. Padahal secara geografis itu paling
dekat dengan dunia Arab. Mengapa? karena latar belakang kebudayaan Persi
yang besar itu, sehingga mereka tidak bisa di-Arabkan. Oleh karena itu,
bangsa Persilah yang pertama kali menghadapi masalah terjemahan ini
Sebab Islam datang dengan berbahasa Arab. Sehingga mazhab Hanafi yang
Abu Hanifah itu sendiri orang Persi—berpendapat, sembahyang dalam
terjemahan itu boleh. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Persi selalu
menggunakan Khoda untuk Allah. Kita mengetahui bahwa bahasa Persi itu
adalah satu rumpun dengan bahasa Jerman, Inggris dan Sansekerta.
Sehingga Baitullah misalnya, mereka terjemahkan menjadi Khanih-e Khoda.
Maka dari itu, ketika zaman modern sekarang ini dan umat Islam mulai
menyebar ke mana-mana termasuk ke negeri-negeri Barat, maka ada
persoalan, yaitu kalau Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,
misalnya, bagaimana menerjemahkan? Apakah Allah harus diterjemahkan
menjadi God, ataukah tidak. Itu sudah ada dua pendapat. Misalnya, The
Meaning of the Glorious Qur’an tidak menerjemahkan perkataan AlIah. Sama
sekali tidak. Tetapi sebaliknya Yusuf Ali yang orang Pakistan, yang tafsirnya
juga diterbitkan oleh Rabithah Alam Islami di Mekkah, menerjemahkan Allah
dengan God Sehingga dalam terjemahan dia, itu tidak ada sama sekali
perkataan Allah, karena jadi “God” semua. Dan Khomaeni yang sekarang
mendirikan negara Islam di Iran, Konstitusinya dalam versi bahasa Inggris,
menerjemahkan la ilaaha illa-Allah dengan “there is no god but God.” Ini
penting, mengapa ulasan ini agak panjang karena ada implikasinya. Yaitu
salah satu problem kita di Indonesia ini ialah bahwa tradisi intelektual Islam
kita masih muda sekali, sehingga orang sering kehilangan jejak, akhirnya
bingung. Buku Yusuf Ali yang saya beli di Mekkah yaitu ketika saya
mengadakan kunjungan ke beberapa negara ke Timur Tengah diberi
pengantar dari sekjen Rabihtah Alam Islami. Kita bisa melihat sekarang di
sini misalnya perkataan Ia ilha iila-Allah bagaimana diterjemahkan. Begitu
juga dalam tafsir Muhammad Asad atau dalam Konstitusinya Khomeini. Kita
boleh tidak setuju dengan ajaran Syi’ah, tetapi jangan phobi. Justru bobot
NDP sebetulnya untuk menghilangkan itu. Sedangkan Islam itu sendiri
berada di tengah umat manusia. Jadi kita ini harus Muslim di tengah umat
Islam itu sendiri. Oleh karena itu, mungkin saudara-saudara juga tahu bahwa
saya selalu mengatakan tidak setuju dengan sensor. Orang boleh tidak
dengan tidak setuju dengan suatu paham, tetapi jangan menyensor.
Karena itu sebenamya, di Indonesia kata Allah itu diterjemahakan
menjadi kata Tuhan. Menurut saya bisa. Khomeini saja bisa kok, mengapa
kita tidak bisa. Itu Yusuf bisa, bahkan itu diterbitkan oleh Rabitah Alam
Islami. Jadi tiada Tuhan dengan t kecil (tuhan), kecuali Tuhan itu bisa. Waktu
itu saya tidak tahu, bahwa Buya Hamka pernah menerangkan hal ini,
sehingga ketika saya terlibat dalam polemik itu ada seorang teman yang
bersuka rela memberikan kepada saya copy dari polemik Buya Hamka
dengan seseorang melalui surat menyurat. Dan sekarang sudah diterbitkan
dalam sebuah buku, yaitu Hamka Menjawab Masalah-masalah Agama.
Dalam psikologi agama ada yang disebut convert complex. Convert
artinya orang yang baru saja memeluk agama. Lalu kompleks, perasaan
sebagai agamawan baru. Misalnya, di masyarakat ada saja bekas tokoh yang
kurang senang pada agama, lalu menjadi fundamentalistik sekali.
Nah, karena tradisi intelektual kita itu begitu muda, begitu rapuh, kita
sering kehilangan jejak. Kemudian bingung. Ada cerita menyangkut dua
orang Minang: H. Agus Salim dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sudah tahulah
Takdir Alisyahbana, seorang yang mengaku sebagai orang yang modern dan
sangat rasionalistik, oleh karena itu, dia pengagum Ibnu Rusd. Dia selalu
bilang, dunia ini kan persoalan pertengkaran antara Ghazali dan Ibnu Rusd.
Karena di dunia Islam Ghazali yang menang dan di dunia Barat Ibnu Rusd
yang menang, maka akhirnya Ibnu Rusd yang menjajah Ghazali. Jadi
Indonesia dijajah Belanda itu sebetulnya Ghazali dijajah Ibnu Rusd, menurut
Takdir Alisyahbana. Karena apa? Ghazali mewakili mistisisme, intuisisme,
sedangkan Ibnu Rusd mewakili rasionalisme.
Ada betulnya juga, meskipun tidak seluruhnya. Suatu saat pak Takdir
konon menggugat H. Agus Salim. Katanya begini, “Pak Haji, pak haji ini kan
orang terpelajar sekali, masa masih biasa sembahyang. Artinya, kok masih
mempercayai agama?” Lalu dibilang oleh H. Agus Salim, “Maksud saudara
apa?“. “Maksud saya, sebagai orang terpelajar saya tidak nembenarkan
sesuatu kecuali kalau saya paham betul”. Betul, memang begitu. Qur’an
sendiri menyatakan begitu. Akan tetapi begini, kita kan terbatas, karena
terbatas kalau rasio kita sudah pol begitu, maka sebagian kita serahkan
kepada iman.” Jadi masalah iman itu adalah bagian dari pada hidup dan itu
adalah kewajiban dari pada rasional kita. Rupanya Takdir belum puas dengan
jawaban itu. Lalu Salim membuat jawaban yang lucu dan benar. Dia bilang
begini, “Begini aja deh, Takdir kan orang Minang. Kan suka pulang ke
Minagkabau, pulang ampung, naik apa?” “naik kapal” jawab Takdir. Rupanya
waktu itu belum bisa naik pesawat, pesawat belum begitu banyak. “Nah kata
Agus Salim, “Kamu naik kapal itu menyalahi prinsipmu “Kamu tidak akan
menerima sesuatu kecuali kalau paham seluruhnya. Jadi asumsinya, kalau
kamu naik kapal, adalah kalau sudah paham tentang seluruhnya yang ada
dalam kapal itu. Termasuk bagaimana kapal dibikin, bagaimana
menjalankannya bagaimana kompasnya, bagaimana ini dan sebagainya. Nah
begitu ketika kamu menginjakkan kaki ke geladak kapal Tanjung Priok, itu
kan sudah ada masalah iman. Kamu percaya kepada nakhoda, kamu percaya
kepada yang bikin kapal ini bahwa ini nanti tidak pecah di Selat Sunda dan
kamu kemudian tenggelam. Percaya, percaya dan semua deretan
kepercayaan
Agus Salim melanjutkan, “Sedikit sekali yang kamu ketahui tentang
kapal. Paling-paling bagaimana tiketnya dijual di loketnya saja yang kamu
tahu. Pembuatan tiket juga kamu tidak tahu” katanya. Lalu Salim bilang
begini, “Seandainya kamu konsisten dengan jalan pikiran kamu hai Takdir,
mustinya kamu pulang ke Minang itu berenang. Ya, begitu, sebab berenang
itu yang paling memungkinkan usahamu. Itu saja masih banyak sekali
masalah. Bagaimana gerak tangan kamu saja mungkin kamu tidak paham,”
katanya. Lalu ini yang menarik, “nanti kalau kamu berenang, di Selat Sunda
kamu di ombang-ambing ombak dan kamu akan berpegang pada apa saja
yang ada. Dalam keadaan panik, kamu akan berpegang pada apa saja yang
ada. Untung kalau kamu ketemu balok yang mengambang. Akan tetapi kalau
kamu ketemu ranting, itupun akan kamu pegang. Ketemu barang-barang
kuning juga kamu pegang”. Itu kata Agus Salim.
Nah inilah yang saya maksudkan. Dalam keadaan panik orang sering
kehilangan jejak, sering kita berpegang kepada suatu masalah secara harga
mati. Padahal itu ranting, kalau kita pegang akan tenggelam lagi kita nanti.
ini maksud saya. Jadi kembali lagi pada laa ilaaha illa-Allah di sini memang
ada diIema. Dilemanya, sebagaimana sudah menjadi kenyataan, manusia itu
hidup tidak mungkin tanpa kepercayaan. Terlalu banyak Tuhan. Itu
problemanya. Jadi sebetulnya kalau kita membaca al-Qur’an, problemnya itu
bukan bagaimana membikin manusia percaya pada Tuhan, tetapi bagaimana
membebaskan manusia dari percaya kepada terlalu banyak Tuhan. Karena
itu memang ada tema ateisme dalam al-Qur’an yaitu dahriyyah tapi kecil
sekali. Ateisme itu satu hal yang tidak mungkin. Justru yang ada dan sangat
banyak terjadi pada manusia ialah politeisme. Problema manusia sebetulnya
bukan ateisme yang utama, tetapi politeisme. Oleh karena itu tema-tema alQur’an itu yang dicerminkan dalam perkataan laa ilaaha ila-Allah, ialah
usaha dan ajaran menghancurkan politeisme. Dan kalau nenghancurkan
politeisme kita pergunakan politeisme dalam bahasa sekarang, akan
berbunyi, “bebaskan dirimu dan belenggu-belenggu yang menjerat dirimu
sendiri.” Sebab semua kepercayaan dan sistem kepercayaan itu
membelenggu. Tetapi kalau manusia tidak memiliki kepercayaan sama sekali
juga tidak mungkin. Oleh karena itu harus ada kepercayaan, tetapi
kepercayaan itu harus sedemikian rupa sehingga tidak membelenggu kita,
bahkan nenyelamatkan kita. Itulah kepercayaan kepada Allah, satu-satunya
Tuhan, yang Allah ini adalah the High God, Tuhan Yang Maha Tinggi. Tuhan
Yang Maha Esa. Karena itu Allah lain dengan Zeus dan Indra yang merupakan
mitologi. Orang Yunani kuno itu dulu percaya pada Zeus. Dan Zeus itu nama
dewa dalam mitotologi mereka. Orang Mesir, Ra, kemudian orang India,
Indra.
Jadi masalahnya begini, manusia ini tidak mungkin hidup kecuali kalau
mempunyai kepercayaan. Akan tetapi kalau terlalu banyak yang dipercayai,
akan menjerat manusia sendiri, dan tidak akan banyak membuat kemajuan.
Sementara itu manusia tidak mungkin hidup tanpa kepercayaan. Oleh
karena itu dari sekian banyak kepercayaan harus disisakan yang paling
benar, yaitu la ilaaha ha-Allah ini. Ini keterangan yang banyak sekali, akan
tetapi saya mau meloncat sedikit kepada isolasi agama.
Agama Islam itu satu rumpun dengan agama Yahudi dan Kristen yang
disebut agama Ibrahim. Nah, kita masih mewarisi ajaran Nabi Ibrahim, yaitu
Inni Wajjahtu wajhia lillàdzi Fatharassamawati wal ardha, Hanifam muslima
wama ana minal musyrikin. Itu suatu pernyataan Ibrahim setelah
“eksperimennya” dalam mencari Tuhan. Itu dalam aI-Qur’an yaitu ketika
Ibrahim melihat bintang itu hilang, dia bilang, ah, tidak mungkin Tuhan kok
tenggelam, ini bukan Tuhan.. Setelah melihat bulan, kemudian mendapatkan
matahari itu lebih besar. Dia pun bilang inilah Tuhan. Pokoknya setelah
eksperimen melalui bintang, bulan, matahari, yaitu gejala-gejala aIam. Kalau
di sini ada masalah pembebasan, masalah negatif, masalah karena manusia
itu cenderung untuk menjadikan apa saja yang memenuhi syarat sebagai
misteri/sebagai Tuhan; sesuatu yang mengandung misteri, sesuatu yang
mengandung kehebatan sesuatu yang mengandung rasa ingin tahu. Kalau
sebuah gunung yang setiap kali meletus dan membawa bencana tidak bisa
diterangkan oleh orang, maka mereka melihatnya sebagai misteri dan
kemudian menyembahnya. Inilah akar tentang syirik sebetulnya.
Jadi, syirik itu sebetulnya kelanjutan mitologi. Barangkali kita sudah
mempelajari bagaimana lahirnya mitologi. Oleh karena itu, mitologi secara
bahasa lain boleh dikatakan sebagai kecenderungan manusia untuk menuju
sesuatu yang tidak dipahami. Begitulah kira-kira. Pemimpin yang kita agungagungkan, akhirnya berkembang menjadi mitologi terhadap pemimpin kita
itu. Nah, kalau kita menganut mitologi, maka suatu mitos itu pasti menjerat
kita. Kalau misalnya, kita memitoskan gunung, maka tertutup kemungkinan
bagi kita mempelajari apa sebetulnya hakikatnya. Gunung itu mengandung
sebuah kekuatan misterius, yang setiap kali meletus akan menghancurkan
sekian banyak orang, sawah ladang dan sebagainya. Oleh karena itu
pendekatan kita kepada gunung itu mengarah kepada pendekatan
keagamaan; disembah. Nah, itulah contoh mitologi yang menyeret kita.
Jadi artinya, suatu mitologi menutup kemungkinan suatu objek untuk
diteliti secara ilmiah. Seorang ahli vulkanologi misalnya, melihat itu sebagai
sesuatu yang biasa, tidak lagi mengandung misteri. Begitulah kira-kira.
Sebab untuk syarat sebagai tuhan haruslah misteri, tidak bisa dipahami.
Jangan lupa bahwa kita masih banyak mewarisi mengapa hari itu tujuh. Dan
Tuhan itu diandaikan bintang-bintang atau benda-benda langit. Jadi yang
paling besar adalah matahari, kemudian yang kedua adalah rembulan,
kemudian bintang seperti mars, venus dan sebagainya. Itu sebabnya
kemudian orang-orang Babilonia menyediakan setiap hari satu tahun. Nah,
itu masih bisa dilihat sampai sekarang. Misalnya namanya dalam bahasa
Inggris, seperti Sunday, itu artinya hari matahari. Waktu itu orang
menyembah matahari. Monday artinya hari rembulan. Kalau dalam bahasa
Francis itu lebih kentara lagi: Mardi (hari mars), Mercredi (hari merkurius),
Jeuvi (hari jupiter), Vendredi (hari venus), Saturday (hari saturnus).
Baru ketika bangsa Semit, bangsa Semit yang sudah bertauhid yang
dimulai oleh Ibrahim mengambil alih, mitos itu dihapus dan kemudian nama
hari yang tujuh diganti dengan angka. Ahad, Senin, Selasa, itu maksudnya
satu, dua, tiga, dst. tapi hari Sabtunya tetap dipertahankan. Jadi artinya
kalau Ibrahim dahulu itu ada pikiran atau usaha begitu, ada pikiran untuk
menyembah bintang, itu sebetulnya karena ia memang orang Babilonia. Tapi
kemudian lihat kesimpulannya, ketika matahari tenggelam, dia bilang “ah
masa tuhan tenggelam “Nah, lalu diapun bilang, “Inni wajjahtu wajhia lilladzi
fatharassamaawaati wal ard”. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku
kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini. Jadi, “Janganlah kamu
bersujud kepada matahari dan rembulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang
menciptakannya.”
Nah, jadi meskipun matahari itu sampai sekarang belum seluruhnya
kita pahami, artinya masih mengandung misteri, ada potensi untuk paham.
Karena itu matahari tidak akan memenuhi syarat sebagai Tuhan, karena
suatu saat akan dipahami manusia. Begitu juga seluruh alam ini. Di situlah
kita bisa melihat mengapa Allah menjanjikan: “Kami akan perlihatkan tandatanda-Ku seluruh cakrawala dan dalam diri mereka sendiri, sehingga terlihat
bagi mereka bahwa Allah itu benar”. Artinya, orang akan haqqul yaqin
bahwa Allah itu benar bila seluruh alam ini sudah dipahami, bisa dipahami,
sehingga tidak tersisa misteri lagi. Dengan perkataan lain bahwa Allah itu
Allah, oleh karena itu yang tidak bisa dipahami manusia. Tuhan itu adalah
yang tidak mungkin dipahami manusia, dan sebetulnya konteks ketuhan
menurut Tauhid itu adalah konteks mengenai misteri, laisa kamislihi syai’un
(tiada sesuatu yang sebanding dengan Dia). Jadi Dia tidak bisa digambarkan,
tidak dapat dipahami. Sebab Allah itu mutlak. Perkataan memahami Tuhan
itu kontradiksi inter-minus. Sebab memahami berarti mengetahui batasbatasnya. Jadi, kalau memahami Tuhan berarti sudah apriori bahwa Tuhan
terbatas, terjangkau oleh kita.
Oleh karena itu, kalau Allah itu memang mutlak, maka dia tidak dapat
dipahami. Sebetulnya ini kontroversi yang lama di kalangan umat Islam.
Yaitu antara Mu’tazilah dan Asy’ary mengenai isu mengenai apakah manusia
itu bisa melihat Tuhan atau tidak, di surga nanti. Menurut Mu’tazilah tetap
tidak bisa, sedangkan menurut asy’ariyah bisa, meskipun selalu ditutup
dengan bila kaifa, tanpa bagaimana. Jadi sebetulnya antara keduanya tidak
ada perbedaan. Kalau tanpa bagaimana berarti tanpa bisa diketahui sendiri.
Mengetahui tanpa bisa diketahui. Mengetahui tanpa bisa mengetahui
bagaimana mengetahui itu. Itu bila kaifa dari sistem Asy’ariyah yang banyak
dianut sebagian dari kita yang berpaham Sunni.
Yang jelas adalah bahwa dalam al-Qur’an, ajaran yang dominan itu
bukan tentang mengetahui Tuhan, tapi mendekatkan. Jadi taqarrub itu,
mendekati Tuhan. Allah asal tujuan dan segala yang ada dalam hidup ini.
Oleh karena itu, perjalanan hidup kita sebetulnya menuju kepada Allah. Maka
dan itu sebutlah di sini dalam bahasa yang sedikit kontemporer : kesadaran
mengorientasikan hidup kepada Allah. Oleh karena itu, seluruh perbuatan
kita haruslah Lillaahi ta‘ala. Jadi justru harus menuju pada Allah Subhanahu
Wata’ala. Dan ini yang kita ungkapkan dengan berbagai ungkapan, termasuk
ridha, ridhallah. Dalam al-Qur’an disebutkan “mencari muka Tuhan”. Jadi kita
itu memang mencari muka, yaitu mencari muka Tuhan, artinya bagaimana
melakukan sesuatu yang berkenan pada Tuhan, mendapatkan ridha-Nya.
Kita menuju kepada Allah, jadi selalu mendekat, taqarrub kepada Allah.
Nah, kita mendekati Tuhan itu adalah dinamis; iman itu dinamis, bisa
berkurang dan bisa bertambah. Artinya dinamis, sebab manusia itu dengan
segala keterbatasannya kemungkinan besar dia membuat kesalahan. Oleh
karena itu dia harus mengikuti garis yang lurus membentang antara dirinyya
dan Allah, yaitu Al-shshirot al-mustaqiim. Jalan yang lurus, lurus itu terhimpit
dengan hati nurani kita, dengan fitrah kita. Sudah banyak sekali diterangkan
dalam NDP tentang peranan hati nurani yang kadang-kadang disebut juga
dhamier dan sebagainya itu. Dhamier, fitrah atau hati nurani itu adalah
kesadaran yang dalam pada diri kita tentang apa yang baik dan buruk, dan
apa yang benar dan salah. Itu tentu saja tidak bisa dibiarkan sendirian, tapi
harus ditolong oleh suatu ajaran. Di sini kemudian ajaran agama untuk
menguatkan apa yang ada pada hati nurani. Oleh arena itu menurut Ibnu
Taymiyyah agama itu tiada lain adalah fitrah yang diwahyukan, atau fitrah
yang diturunkan. Selain ada fitrah yang diciptakan pada diri kita, juga ada
fitrah yang diwahyukan. Itulah agama. Jadi artinya agama itu adalah fitrah
yang diturunkan dari langit oleh Allah Subhanahu Wataala, untuk
memperkuat fitrah yang ada dalam diri kita sendiri. Mungkin teman-teman
juga pernah mendengar Robinson Cruso.
Robinson Cruso adalah novel yang dikarang Daniel Deboe,
menceritakan tentang seseorang yang terdampar di pulau dan hidup sendiri
dengan segala romantikanya. Itu sebetulnya adalah plagiat dari seorang
filsuf muslim, namanya Ibn Thufayl Yaitu suatu karya yang namanya Al-Hay,
Ibnu Yaqdzan. ” Orang Hidup, Anak kesadarannnya sendiri.”. Ini sebetulnya
sebuah kisah filosofis berdasarkan konsep tentang fitrah itu. Karena manusia
itu—seperti dikatakan oleh hadits “alwaladu yuladu ‘ala al-fitra”‘ dilahirkan
dalam keadaan suci. Maka seorang filsuf Muslim ini membuat hipotesa kalau
seandainya manusia itu hidup dengan konsisten mendengarkan
kesadarannya sendiñ dan bebas dan polusi budaya, polusi kultural (orang ini
dikatakan bagai hidup di sebuah pulau sendirian). Kalau orang ini masih
seperti itu, dia akan menjadi manusia sempurna: insan kamil, maka
sebetulnya novel ini yang berurusan dengan persoalan insan kamil dalam
konsep sufi itu. Inilah yang diplagiat oleh Daniel Deboe dan menjadi
Robinson Cruso. Sebetulnya ada urusannya dengan fitrah ini.
Jadi fitrah itu kemudian diperkuat oleh agama. Nah agama ini yang
kemudian memberi kesadaran tentang bagaimana Allah itu harus dipersepsi,
misalnya dengan ayat-ayat dan Tauhid dan sebagainya itu. Dan manusia
harus berjalan pada jalan ini menuju kepada Allah. Tapi karena Allah itu
mutlak, maka Dia bakalan tidak bisa dicapai. Kita tidak akan bisa mencapai
Tuhan dalam arti menguasai. Sebab itu akan berarti Tuhan itu terbatas. Jadi
kontradiksi lagi dengan pemutlakan Tuhan. ini mempunyai implikasi bahasa
kebenaran yang ada pada benak manusia itu tidak pernah merupakan
kebenaran mutlak, sebab keterbatasan kita. Akan tetapi, tidak berarti bahwa
kebenaran yang ada dari kita itu lalu kita buang begitu saja, karena relatif.
Itu tidak bisa tidak. Misalnya saja kita dari Jakarta mau ke Bandung. Tentu
saja sebagai analogi, Bandung menjadi tujuan kita. Tapi dari Jakarta tidak
bisa begitu saja kita loncat ke Bandung. kita harus melalui Cibinong, melalui
Bogor, melalui Puncak dan sebagainya. Nah itulah yang kita alami dalam
hidup, yaitu Cibinong, Bogor, Cianjur, sampai Padalarang dan sebagainya.
Akan tetapi tidak berarti karena itu kita tahu Cibinong bukan Bandung maka
sudahlah kita tak usah ke Cibinong karena tujuannya Bandung. Soalnya ialah
Bandung tidak bisa dicapai, kecuali melalui Cibinong. Kebenaran mutlak
tidak bisa dicapai kecuali dengan eksperimen relatif, kecuali dengan
mengalami kebenaran-kebenaran relatif. Jadi kebenaran relatif apa pun yang
kita alami, itu harus kita pegang, tetapi karena pada waktu yang sama kita
tahu bahwa ini kebenaran yang relatif, maka kita harus nemegangnya
sedemikian rupa sehingga harga tidak mati. karena kita tahu Cibmong bukan
tujuan kita, Cibinong harus kita lewati, tetapi kita harus segera menuju
Bogor, segera menuju ke Puncak, ke Padalarang dan seterusnya.
Nah, oleh karena itu dinamis. Di sini lalu kemudian bergerak terus
menerus. Itulah sebabnya mengapa agama itu, agama Islam terutama,
selalu dilukiskan sebagai jalan. Ini penting sekali. Kita melihat, agama Islam
itu dulu selalu disebut sebagai jalan. Shirat itu artinya jalan. Kalau ada
dongeng al-shirot al-mustaqim itu adalah titian rambut dibelah tujuh yang
membentang dintara dunia dan surga dan di bawahnya api neraka, itu
berasal dari Persi, dan agama Zoroaster. Kemudian tadi syari’ah itu juga
jalan. Kemudian ada lagi, maslak itu juga jalan. Jadi agama itu dilukiskan
sebagai jalan oleh karena mendekati Tuhan itu tidak harus sekali jadi, tetapi
harus berproses. Dalam proses inilah pentingnya ijtihad. Maka dari itu
kemudian ijtihad harus terus menerus dilakukan. Karena, Tuhan tidak pernah
bisa untuk dicapai tapi kita harus dituntut untuk mendekatkan diri pada
Tuhan, semakin dekat, maka ada proses dinamis, dan itu jadi ijtihad.
SebetuInya akar ijtthad itu ialah j, h, dan d. Jadi sama dengan jihad.
Satu akar kata dengan jihad. Satu akar juga dengan juhd, juga dengan
mujahadah, yang semua itu sebetulnya sama dengan jihad. Jadi
mengandung makna bekerja keras, bekerja dengan sungguh-sungguh.
Mujahadah. Lalu di sini, “walladziina jaahadu fina lanah diyannahum
subulana “, Barang siapa bersungguh-sungguh berusaha untuk mendekatai
Tuhan, maka akan Tuhan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan. Nah
kebetulan ke Cibubur ini tadi saya melewati Jagorawi sedikit Jagorawi ini
jalan ashshirotolmustaqim, tetapi di situ banyak jalur. Misalnya yang sudah
matang dalam Islam, itu ada jalur sufi, jalur fiqh, dll. Orang yang versi keIslamannya itu sufisme apakah anda akan mengatakan bahwa orang-orang
sufi itu sesat? Saya kira kita tidak berhak mengatakan begitu. Ada yang
persepsinya kepada Islam itu hukum.
Jadi, masalah agama adalah masalah hukum. Ada yang persepsinya
teologis, mutakallimun, ada yang persepsinya masalah filsafat dan banyak
sekali jalan-jalannya menuju Tuhan ini. Juga disebutkan, jalan menuju Tuhan
itu subulussalam “berbagai jalan menuju keselamatan”. Mengapa begitu’
.Jadi dengan iman kita mengorientasikan hidup kita kepada Allah Inna lillahi
wainna ilaihi rojiun.
Kemudian, berilmu, karena perjalanan menuju Allah itu meskipun
mengikuti al-shirot al-mustaqim dan berhimpit dengan hati nurani kita, tapi
disitu ada masalah perkembangan. Oleh karena itu harus berilmu, harus
mujahadah. Jihad atau mujahadah di sini ada kaitannya dengan ilmu
pengetahuan. Semua itu tentu saja tidak mempunyai arti apa-apa, sebelum
kita amalkan, kita wujudkan dalam amal perbuatan itu. Maka dari itu
ideologi misalnya, tidak bisa menjadi mutlak. Ideologi itu berkembang, ilmu
pengetahuan pun berkembang, tidak ada yang benar-benar mutlak. Lihat
saja itu dulu, pada zaman sahabat, itu tidak ada sifat dua puluh. Maka sifat
dua puluh itu muncul oleh Asy’ari oleh karena ada persoalan yaitu
bagaimana membendung pengaruh dari hellenisme melalui filsafat Yunani,
yang pada waktu itu mulai gejala mengancam Islam itu sendiri. Maka
kemudian dia tampil dengan sifat dua puluh itu.
Saya terangkan begitu, dengan kata lain kita harus menyejarah,
bersatu dengan suatu konsep historis dan karena itu kita menjadi dinamis,
terus berkembang, tidak ada yang harga mati. Oleh karena itu, orientasi
hidup kepada Allah yang dalam bahasa agamanya beriman kepada Allah itu
sering kali dalam al-Qur’an itu dikontraskan dengan beriman kepada
Thaghut. Thaghut itu siapa? Thaghut itu tiada lain adalah tirani, sikap-sikap
tirani. Tiranisme. Kenapa disebut tirani? Yang disebut tirani adalah sikap
memaksakan suatu kehendak kepada orang lain. Oleh sebab itu, Nabi atau
Rasulullah sendiri sudah diingatkan, kamu jangan jadi tiran. “Innama anta
muzakkir, lasta alaihim biimushaitir” Hai Muhammad, kamu itu cuma
memperingatkan, tidak untuk mengancam orang, memaksa orang.
Muhammad itu manusia biasa, maka itu suatu saat juga tergoda untuk
memaksakan pahamnya kepada orang lain. Lalu Allah pun turun dengan
Firmannya yang berat sekali pada surat Yunus ayat 101. “Kalau seandainya
Tuhanmu mau hai Muhammad, menghendaki semua manusia tanpa kecuali
akan beriman, apakah kamu akan memaksa setiap orang supaya menjadi
beriman?” Tidak boleh, sebab walaupun dia rasul Allah, kalau dia sudah
memaksa, dia sudah terjerembab ke dalam tirani. Thaghut. Tentu saja tirani
yang paling berbahaya ialah tirani politik. Artinya tirani yang asasi betul.
Oleh karena itu tokoh simbol dari pada tiranisme dalam al-Qur’an itu selalu
Fir’aun. Agama Islam adalah agama yang sama sekali tidak membenarkan
tirani, oleh karena itu salah satu konsekuensi berorientasi hidup kepada Allah
itu adalah sikap-sikap demokratis, sikap bermusyawarah dan sebagainya.
Jadi, begitu kira-kira cakupan seluruhnya itu. Titik berat argumen dalam NDP
itu sebetulnya demikian. Di dalam NDP kita tidak berbicara mengenai
bagaimana orang sholat, bagaimana orang zakat dan sebagainya, tetapi kita
membatasi pembicaraan kepada hal-hal prinsipil dan strategis, yaitu nilainilai dasar yang akan langsung mempengaruhi cara berpilkir kita,
pandangan hidup kita.
NILAI-NILAI DASAR PERJUANGAN (NDP)
I. DASAR-DASAR KEPERCAYAAN
Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan
melahirkan tata nilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa
percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain
kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga
harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula
benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan
tetapi bahkan berbahaya.
Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita
temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan
masyarakat. Karena bentuk- bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan
yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah
atau salah satu saja diantaranya yang benar. Disamping itu masing-masing
bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur kebenaran dan
kepalsuan yang campur baur.
Sekalipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu
melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradis-tradisi
yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang
mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi untuk tetap mempertahankan
diri terhadap kemungkinan perubahan nilai-nilai, maka dalam kenyataan
ikatan-ikatan tradisi sering menjadi penghambat perkembangan peradaban
dan kemajuan manusia. Disinilah terdapat kontradiksi kepercayaan
diperlukan sebagai sumber tatanilai guna menopang peradaban manusia,
tetapi nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan mengikat,
maka justru merugikan peradaban.
Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan
kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk
kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan
yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya
sumber nilai dan pangkal nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran
merupakan asal dan tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak
adalah Tuhan Allah.
Perumusan kalimat persaksian (Syahadat) Islam yang kesatu : Tiada
Tuhan selain Allah mengandung gabungan antara peniadaan dan
pengecualian. Perkataan "Tidak ada Tuhan" meniadakan segala bentuk
kepercayaan, sedangkan perkataan "Selain Allah" memperkecualikan satu
kepercayaan kepada kebenaran. Dengan peniadaan itu dimaksudkan agar
manusia membebaskan dirinya dari belenggu segenap kepercayaan yang
ada dengan segala akibatnya, dan dengan pengecualian itu dimaksudkan
agar manusia hanya tunduk pada ukuran kebenaran dalam menetapkan dan
memilih nilai-nilai, itu berarti tunduk pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa,
Pencipta segala yang ada termasuk manusia. Tunduk dan pasrah itu disebut
Islam.
Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Pendekatan ke
arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan
berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan
lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka
manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakekat
Tuhan yang sebenarnya. Namun demi kelengkapan kepercayaan kepada
Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya tentang Ketuhanan
dan tata nilai yang bersumber kepada-Nya. Oleh sebab itu diperlukan
sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak bertentangan dengan
insting dan indera.
Sesuatu yang diperlukan itu adalah "Wahyu" yaitu pengajaran atau
pemberitahuan yang langsung dari Tuhan sendiri kepada manusia. Tetapi
sebagaimana kemampuan menerima pengetahuan sampai ketingkat yang
tertinggi tidak dimiliki oleh setiap orang, demikian juga wahyu tidak
diberikan kepada setiap orang. Wahyu itu diberikan kepada manusia tertentu
yang memenuhi syarat dan dipilih oleh Tuhan sendiri yaitu para Nabi dan
Rasul atau utusan Tuhan. Dengan kewajiban para Rosul itu untuk
menyampaikannya kepada seluruh ummat manusia. Para rasul dan nabi itu
telah lewat dalam sejarah semenjak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa atau
Yesus anak Mariam sampai pada Muhammad SAW. Muhammad adalah Rasul
penghabisan, jadi tiada Rasul lagi sesudahnya. Jadi para Nabi dan Rasul itu
adalah manusia biasa dengan kelebihan bahwa mereka menerima wahyu
dari Tuhan.
Wahyu Tuhan yang diberikan kepada Muhammad SAW terkumpul
seluruhnya dalam kitab suci Al-Quran. Selain berarti bacaan, kata Al-Quran
juga bearti "kumpulan" atau kompilasi, yaitu kompilasi dari segala
keterangan. Sekalipun garis-garis besar Al-Quran merupakan suatu
kompendium, yang singkat namun mengandung keterangan-keterangan
tentang segala sesuatu sejak dari sekitar alam dan manusia sampai kepada
hal-hal gaib yang tidak mungkin diketahui manusia dengan cara lain (16:89).
Jadi untuk memahami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaranNya, manusia harus berpegang kepada Al-Quran dengan terlebih dahulu
mempercayai kerasulan Muhammmad SAW. Maka kalimat kesaksian yang
kedua memuat esensi kedua dari kepercayaan yang harus dianut manusia,
yaitu bahwa Muhammad adalah Rosul Allah.
Kemudian di dalam Al-Quran didapat keterangan lebih lanjut tentang
Ketuhanan Yang maha Esa ajaran-ajaranNya yang merupakan garis besar
dan jalan hidup yang mesti diikuti oleh manusia. Tentang Tuhan antara lain:
surat Al-Ikhlas (112: 1-4) menerangkan secara singkat; katakanlah : "Dia
adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia itu adalah Tuhan. Tuhan tempat menaruh
segala harapan. Tiada Ia berputra dan tiada pula berbapa”. Selanjutnya Ia
adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha
Kasih dan Maha Sayang, Maha Pengampun dan seterusnya daripada segala
sifat kesempurnaan yang selayaknya bagi Yang Maha Agung dan Maha Mulia,
Tuhan seru sekalian Alam.
Juga diterangkan bahwa Tuhan adalah yang pertama dan yang
penghabisan, Yang lahir dan Yang Bathin (57:3), dan "kemanapun manusia
berpaling maka disanalah wajah Tuhan" (2:115). Dan "Dia itu bersama kamu
kemanapun kamu berada" (57:4). Jadi Tuhan tidak terikat ruang dan waktu.
Sebagai "yang pertama dan yang penghabisan", maka sekaligus Tuhan
adalah asal dan tujuan segala yang ada, termasuk tata nilai. Artinya;
sebagaimana tata nilai harus bersumber kepada kebenaran dan berdasarkan
kecintaan kepadaNya, Ia pun sekaligus menuju kepada kebenaran dan
mengarah kepada "persetujuan" atau "ridhanya". Inilah kesatuan antara asal
dan tujuan hidup yang sebenarnya (Tuhan sebagai tujuan hidup yang benar,
diterangkan dalam bagian yang lain).
Tuhan menciptakan alam raya ini dengan sebenarnya, dan
mengaturnya dengan pasti (6:73, 25:2). Oleh karena itu alam mempunyai
eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum
yang tetap. Dan sebagai ciptaan daripada sebaik-baiknya penciptanya, maka
alam mengandung kebaikan pada dirinya dan teratur secara harmonis
(23:14). Nilai ciptaan ini untuk manusia bagi keperluan perkembangan
peradabannya (31:20). Maka alam dapat dan dijadikan obyek penyelidikan
guna dimengerti hukum-hukum Tuhan (sunnatullah) yang berlaku
didalamnya. Kemudian manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukumhukumnya sendiri (10:101).
Jadi kenyataan alam ini berbeda dengan persangkaan idealisme
maupun agama Hindu yang mengatakan bahwa alam tidak mempunyai
eksistensi riil dan obyektif, melainkan semua palsu atau maya atau sekedar
emansipasi atau pancaran daripada dunia lain yang kongkrit, yaitu idea atau
nirwana (38:27). Juga tidak seperti dikatakan filsafat Agnosticisme yang
mengatakan bahwa alam tidak mungkin dimengerti manusia. Dan sekalipun
filsafat materialisme mengatakan bahwa alam ini mempunyai eksistensi riil
dan obyektif sehingga dapat dimengerti oleh manusia, namun filsafat itu
mengatakan bahwa alam ada dengan sendirinya. Peniadaan pencipta
ataupun peniadaan Tuhan adalah satu sudut daripada filsafat materialisme.
Manusia adalah puncak ciptaan dan mahluk-Nya yang tertinggi (95:4,
17:70). Sebagai mahluk tertinggi manusia dijadikan "Khalifah" atau wakil
Tuhan di bumi (6:165). Manusia ditumbuhkan dari bumi dan diserahi untuk
memakmurkannya (11:61). Maka urusan di dunia telah diserahkan Tuhan
kepada manusia. Manusia sepenuhnya bertanggungjawab atas segala
perbuatannya di dunia. Perbuatan manusia ini membentuk rentetan
peristiwa yang disebut "sejarah". Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana
manusia menjadi pemilik atau "rajanya".
Sebenarnya terdapat hukum-hukum Tuhan yang pasti (sunattullah)
yang menguasai sejarah, sebagaimana adanya hukum yang menguasai alam
tetapi berbeda dengan alam yang telah ada secara otomatis tunduk kepada
sunatullah itu, manusia karena kesadaran dan kemampuannya untuk
mengadakan pilihan untuk tidak terlalu tunduk kepada hukum-hukum
kehidupannya sendiri (33:72). Ketidakpatuhan itu disebabkan karena sikap
menentang atau kebodohan.
Hukum dasar alami daripada segala yang ada inilah "perubahan dan
perkembangan", sebab: segala sesuatu ini adalah ciptaan Tuhan dan
pengembangan olehNya dalam suatu proses yang tiada henti-hentinya
(29:20). Segala sesuatu ini adalah berasal dari Tuhan dan menuju kepada
Tuhan. Maka satu-satunya yang tak mengenal perubahan hanyalah Tuhan
sendiri, asal dan tujuan segala sesuatu (28:88). Di dalam memenuhi tugas
sejarah, manusia harus berbuat sejalan dengan arus perkembangan itu
menunju kepada kebenaran. Hal itu berarti bahwa manusia harus selalu
berorientasi kepada kebenaran, dan untuk itu harus mengetahui jalan
menuju kebenaran itu (17:72). Dia tidak mesti selalu mewarisi begitu saja
nilai-nilai tradisional yang tidak diketahuinya dengan pasti akan
kebenarannya (17:26).
Oleh karena itu kehidupan yang baik adalah yang disemangati oleh
iman dan diterangi oleh ilmu (58:11). Bidang iman dan pencabangannya
menjadi wewenang wahyu, sedangkan bidang ilmu pengetahuan menjadi
wewenang manusia untuk mengusahakan dan mengumpulkannya dalam
kehidupan dunia ini. Ilmu itu meliputi tentang alam dan tentang manusia
(sejarah).
Untuk memperoleh ilmu pengetahuan tentang nilai kebenaran sejauh
mungkin, manusia harus melihat alam dan kehidupan ini sebagaimana
adanya tanpa melekatkan padanya kualitas-kualitas yang bersifat
ketuhanan. Sebab sebagaimana diterangkan dimuka, alam diciptakan
dengan wujud yang nyata dan objektif sebagaimana adanya. Alam tidak
menyerupai Tuhan, dan Tuhan pun untuk sebagian atau seluruhnya tidak
sama dengan alam. Sikap memper-Tuhan-kan atau mensucikan (sakralisasi)
haruslah ditujukan kepada Tuhan sendiri. Tuhan Allah Yang Maha Esa (41:37).
Ini disebut "Tauhid" dan lawannya disebut "syirik" artinya mengadakan
tandingan terhadap Tuhan, baik seluruhnya atau sebagian maka jelasnya
bahwa syirik menghalangi perkembangan dan kemajuan peradaban
kemanusiaan menuju kebenaran.
Kesudahan sejarah atau kehidupan duniawi ini ialah "hari kiamat".
Kiamat merupakan permulaan bentuk kehidupan yang tidak lagi bersifat
sejarah atau duniawi, yaitu kehidupan akhirat. Kiamat disebut juga "hari
agama", atau yaumuddin, dimana Tuhan menjadi satu-satunya pemilik dan
raja (1:4, 22:56, 40:16). Disitu tidak lagi terdapat kehidupan historis, seperti
kebebasan, usaha dan tata masyarakat. Tetapi yang ada adalah
pertanggunggan jawab individu manusia yang bersifat mutlak dihadapan
illahi atas segala perbuatannya dahulu didalam sejarah (2:48). Selanjutnya
kiamat merupakan "hari agama", yang maka tidak mungkin kita ketahui
selain daripada yang diterangkan dalam wahyu. Tentang hari kiamat dan
kelanjutannya/kehidupan akhirat yang non-historis manusia hanya
diharuskan percaya tanpa kemungkinan mengetahui kejadian-kejadiannya
(7:187).
II. PENGERTIAN-PENGERTIAN DASAR TENTANG KEMANUSIAAN
Telah disebutkan di muka, bahwa manusia adalah puncak ciptaan,
merupakan mahluk yang tertinggi dan adalah wakil dari Tuhan di bumi.
Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya
beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu
keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus
dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci
dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief) (30:30). "Dlamier"
atau hati nurani adalah pemancar keinginan pada kebaikan, kesucian dan
kebenaran. Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang mutlak atau
kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (51:56, 3:156).
Fitrah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang
secara asasi dan prinsipil membedakannya dari mahluk-mahluk yang lain.
Dengan memenuhi hati nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan
menjadi manusia sejati.
Kehidupan dinyatakan dalam kerja atau amal perbuatanya (19:105,
53:39). Nilai- nilai tidak dapat dikatakan hidup dan berarti sebelum
menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan amaliah yang kongkrit (61:2-3).
Nilai hidup manusia tergantung kepada nilai kerjanya. Di dalam dan melalui
amal perbuatan yang berperikemanusiaan (fitrah sesuai dengan tuntutan
hati nurani) manusia mengecap kebahagiaan, dan sebaliknya di dalam dan
melalui amal perbuatan yang tidak berperikemanusiaan (jihad) ia menderita
kepedihan (16:97, 4:111).
Hidup yang pernuh dan berarti ialah yang dijalani dengan sungguhsungguh dan sempurna, yang didalamnya manusia dapat mewujudkan
dirinya dengan mengembangkan kecakapan-kecakapan dan memenuhi
keperluan-keperluannya. Manusia yang hidup berarti dan berharga ialah dia
yang merasakan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kegiatan-kegiatan
yang membawa perubahan kearah kemajuan-kemajuan, baik yang mengenai
alam maupun masyarakat, yaitu hidup berjuang dalam arti yang seluasluasnya (29:6).
Dia diliputi oleh semangat mencari kebaikan, keindahan dan
kebenaran (4:125). Dia menyerap segala sesuatu yang baru dan berharga
sesuai dengan perkembangan kemanusiaan dan menyatakan dalam hidup
berperadaban dan berkebudayaan (39:18). Dia adalah aktif, kreatif dan kaya
akan kebijaksanaan (wisdom, hikmah) (2:269). Dia berpengalaman luas,
berpikir bebas, berpandangan lapang dan terbuka, bersedia mengikuti
kebenaran dari manapun datangnya (6:125). Dia adalah manusia toleran
dalam arti kata yang benar, penahan amarah dan pemaaf (3:134).
Keutamaan itu merupakan kekayaan manusia yang menjadi milik daripada
pribadi-pribadi yang senantiasa berkembang dan selamanya tumbuh kearah
yang lebih baik.
Seorang manusia sejati (insan kamil) ialah yang kegiatan mental dan
fisiknya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja rohani
bukanlah dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal
perbedaan antara kerja dan kesenangan, kerja baginya adalah
kesenggangan dan kesenangan ada dalam dan melalui kerja. Dia
berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri, menyatakan ke luar corak
perorangannya dan mengembangkan kepribadian dan wataknya secara
harmonis. Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individu dan
kehidupan komunal, tidak membedakan antara perorangan dan sebagai
anggota masyarakat. Hak dan kewajiban serta kegiatan-kegiatan untuk
dirinya adalah juga sekaligus untuk sesama ummat manusia.
Baginya tidak ada pembagian dua (dichotomy) antara kegiatankegiatan rohani dan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik
maupun dunia akhirat. Kesemuanya dimanifestasikan dalam suatu kesatuan
kerja yang tunggal pancaran niatnya, yaitu mencari kebaikan, keindahan dan
kebenaran (98:5).
Dia seorang yang ikhlas, artinya seluruh amal perbuatannya benarbenar berasal dari dirinya sendiri dan merupakan pancaran langsung dari
pada kecenderungannya yang suci yang murni (2:207, 76:89). Suatu
pekerjaan dilakukan karena keyakinan akan nilai pekerjaan itu sendiri bagi
kebaikan dan kebenaran, bukan karena hendak memperoleh tujuan lain yang
nilainya lebih rendah (pamrih) (2:264). Kerja yang ikhlas mengangkat nilai
kemanusiaan pelakunya dan memberinya kebahagiaan (35:10). Hal itu akan
menghilangkan sebab-sebab suatu jenis pekerjaan ditinggalkan dan kerja
amal akan menjadi kegiatan kemanusiaan yang paling berharga. Keikhlasan
adalah kunci kebahagiaan hidup manusia, tidak ada kebahagiaan sejati
tanpa keikhlasan dan keikhlasan selalu menimbulkan kebahagiaan.
Hidup fitrah ialah bekerja secara ikhlas yang memancar dari hati
nurani yang hanief atau suci.
III. KEMERDEKAAN MANUSIA (IKHTIAR) DAN KEHARUSAN UNIVERSAL
(TAKDIR)
Keikhlasan yang insani itu tidak mungkin ada tanpa kemerdekaan.
Kemerdekaan dalam arti kerja sukarela tanpa paksaan yang didorong oleh
kemauan yang murni, kemerdekaan dalam pengertian kebebasan memilih
sehingga pekerjaan itu benar-benar dilakukan sejalan dengan hati nurani.
Keikhlasan merupakan pernyataan kreatif kehidupan manusia yang berasal
dari perkembangan tak terkekang daripada kemauan baiknya. Keikhlasan
adalah gambaran terpenting daripada kehidupan manusia sejati. Kehidupan
sekarang di dunia dan abadi (external) berupa kehidupan kelak sesudah mati
di akherat. Dalam aspek pertama manusia melakukan amal perbuatan
dengan baik dan buruk yang harus dipikul secara individual, dan komunal
sekaligus (8:25). Sedangkan dalam aspek kedua manusia tidak lagi
melakukan amal perbuatan, melainkan hanya menerima akibat baik dan
buruk dari amalnya dahulu di dunia secara individual. Di akherat tidak
terdapat pertanggung jawaban bersama, tapi hanya ada pertanggung
jawaban perseorangan yang mutlak (2:48, 31:33). Manusia dilahirkan
sebagai individu, hidup ditengah alam dan masyarakat sesamanya,
kemudian menjadi individu kembali.
Jadi individualitas adalah pernyataan asasi yang pertama dan terakhir,
dari pada kemanusiaan, serta letak kebenarannya daripada nilai
kemanusiaan itu sendiri. Karena individu adalah penanggung jawab terakhir
dan mutlak daripada awal perbuatannya, maka kemerdekaan pribadi, adalah
haknya yang pertama dan asasi.
Tetapi individualitas hanyalah pernyataan yang asasi dan primer saja
dari pada kemanusiaan. Kenyataan lain, sekalipun bersifat sekunder, ialah
bahwa individu dalam suatu hubungan tertentu dengan dunia sekitarnya.
Manusia hidup ditengah alam sebagai makhluk sosial hidup ditengah
sesama. Dari segi ini manusia adalah bagian dari keseluruhan alam yang
merupakan satu kesatuan.
Oleh karena itu kemerdekaan harus diciptakan untuk pribadi dalam
kontek hidup ditengah masyarakat. Sekalipun kemerdekaan adalah esensi
daripada kemanusiaan, tidak berarti bahwa manusia selalu dan dimana saja
merdeka. Adanya batas-batas dari kemerdekaan adalah suatu kenyataan.
Batas-batas tertentu itu dikarenakan adanya hukum-hukum yang pasti dan
tetap menguasai alam - hukum yang menguasai benda-benda maupun
masyarakat manusia sendiri - yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung
kepada kemauan manusia. Hukum-hukum itu mengakibatkan adanya
"keharusan universal" atau "kepastian umum" dan “takdir” (57:22).
Jadi kalau kemerdekaan pribadi diwujudkan dalam kontek hidup di
tengah alam dan masyarakat dimana terdapat keharusan universal yang
tidak tertaklukan, maka apakah bentuk yang harus dipunyai oleh seseorang
kepada dunia sekitarnya? Sudah tentu bukan hubungan penyerahan, sebab
penyerahan berarti peniadaan terhadap kemerdekaan itu sendiri. Pengakuan
akan adanya keharusan universal yang diartikan sebagai penyerahan
kepadanya sebelum suatu usaha dilakukan berarti perbudakan. Pengakuan
akan adanya kepastian umum atau takdir hanyalah pengakuan akan adanya
batas-batas kemerdekaan. Sebaliknya suatu persyaratan yang positif
daripada kemerdekaan adalah pengetahuan tentang adanya kemungkinankemungkinan kreatif manusia. Yaitu tempat bagi adanya usaha yang bebas
dan dinamakan "ikhtiar" artinya pilih merdeka.
Ikhtiar adalah kegiatan kemerdekaan dari individu, juga berarti
kegiatan dari manusia merdeka. Ikhtiar merupakan usaha yang ditentukan
sendiri dimana manusia berbuat sebagai pribadi banyak segi yang integral
dan bebas; dan dimana manusia tidak diperbudak oleh suatu yang lain
kecuali oleh keinginannya sendiri dan kecintaannya kepada kebaikan. Tanpa
adanya kesempatan untuk berbuat atau berikhtiar, manusia menjadi tidak
merdeka dan menjadi tidak bisa dimengerti untuk memberikan pertanggung
jawaban pribadi dari amal perbuatannya. Kegiatan merdeka berarti
perbuatan manusia yang merubah dunia dan nasibnya sendiri (13:11). Jadi
sekalipun terdapat keharusan universal atau takdir manusia dengan haknya
untuk berikhtiar mempunyai peranan aktif dan menentukan bagi dunia dan
dirinya sendiri.
Manusia tidak dapat berbicara mengenai takdir suatu kejadian
sebelum kejadian itu menjadi kenyataan. Maka percaya kepada takdir akan
membawa keseimbangan jiwa tidak terlalu berputus asa karena suatu
kegagalan dan tidak perlu membanggakan diri karena suatu kemunduran.
Sebab segala sesuatu tidak hanya terkandung pada dirinya sendiri,
melainkan juga kepada keharusan yang universal itu (57:23).
IV. KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN PERIKEMANUSIAAN
Telah jelas bahwa hubungan yang benar antara individu manusia
dengan dunia sekitarnya bukan hubungan penyerahan. Sebab penyerahan
meniadakan kemerdekaan dan keikhklasan dan kemanusiaan. Tetapi jelas
pula bahwa tujuan manusia hidup merdeka dengan segala kegiatannya ialah
kebenaran. Oleh karena itu sekalipun tidak tunduk pada sesuatu apapun dari
dunia sekelilingnya, namun manusia merdeka masih dan mesti tunduk
kepada kebenaran. Karena menjadikan sesuatu sebagai tujuan adalah berarti
pengabdian kepada-Nya.
Jadi kebenaran-kebenaran menjadi tujuan hidup dan apabila demikian
maka sesuai dengan pembicaraan terdahulu maka tujuan hidup yang
terakhir dan mutlak ialah kebenaran terakhir dan mutlak sebagai tujuan dan
tempat menundukkan diri. Adakah kebenaran terakhir dan mutlak itu? Ada,
sebagaimana tujuan akhir dan mutlak daripada hidup itu ada. Karena
sikapnya yang terakhir (ultimate) dan mutlak maka sudah pasti kebenaran
itu hanya satu secara mutlak pula.
Dalam perbendaharaan kata dan kulturil, kita sebut kebenaran mutlak
itu "Tuhan", kemudian sesuai dengan uraian Bab I, Tuhan itu menyatakan diri
kepada manusia sebagai Allah (31:30). Karena kemutlakannya, Tuhan bukan
saja tujuan segala kebenaran (3:60). Maka dia adalah Yang Maha Benar.
Setiap pikiran yang maha benar adalah pada hakikatnya pikiran tentang
Tuhan YME.
Oleh sebab itu seseorang manusia merdeka ialah yang ber-ketuhanan
Yang Maha Esa. Keiklasan tiada lain adalah kegiatan yang dilakukan sematamata bertujuan kepada Tuhan YME, yaitu kebenaran mutlak, guna
memperoleh persetujuan atau "ridho" daripada-Nya. Sebagaimana
kemanusiaan terjadi karena adanya kemerdekaan dan kemerdekaan ada
karena adanya tujuan kepada Tuhan semata-mata. Hal itu berarti segala
bentuk kegiatan hidup dilakukan hanyalah karena nilai kebenaran itu yang
terkandung didalamnya guna mendapat pesetujuan atau ridho kebenaran
mutlak. Dan hanya pekerjaan "karena Allah" itulah yang bakal memberikan
rewarding bagi kemanusiaan (92:19-21).
Kata "iman" berarti percaya dalam hal ini percaya kepada Tuhan
sebagai tujuan hidup yang mutlak dan tempat mengabdikan diri kepada-Nya.
Sikap menyerahkan diri dan mengabdi kepada Tuhan itu disebut Islam. Islam
menjadi nama segenap ajaran pengabdian kepada Tuhan YME (3:19).
Pelakunya disebut "Muslim". Tidak lagi diperbudak oleh sesama manusia
atau sesuatu yang lain dari dunia sekelilingnya, manusia muslim adalah
manusia yang merdeka yang menyerahkan dan menyembahkan diri kepada
Tuhan YME (33:39). Semangat tauhid (memutuskan pengabdian hanya
kepada Tuhan YME) menimbulkan kesatuan tujuan hidup, kesatuan
kepribadian dan kemasyarakatan. Kehidupan bertauhid tidak lagi berat
sebelah, parsial dan terbatas. Manusia bertauhid adalah manusia yang sejati
dan sempurna yang kesadaran akan dirinya tidak mengenal batas.
Dia adalah pribadi manusia yang sifat perorangannya adalah
keseluruhan (totalitas) dunia kebudayaan dan peradaban. Dia memiliki
seluruh dunia ini dalam arti kata mengambil bagian sepenuh mungkin dalam
menciptakan dan menikmati kebaikan-kebaikan dan peradaban kebudayaan.
Pembagian kemanusiaan yang tidak selaras dengan dasar kesatuan
kemanusiaan (human totality) itu antara lain ialah pemisahan antara
eksistensi ekonomi dan moral manusia, antara kegiatan duniawi dan ukhrowi
antara tugas-tugas peradaban dan agama. Demikian pula sebaliknya,
anggapan bahwa manusia adalah tujuan pada dirinya membela
kemanusiaan seseorang menjadi: manusia sebagai pelaku kegiatan dan
manusia sebagai tujuan kegiatan. Kepribadian yang pecah berlawanan
dengan kepribadian kesatuan (human totality) yang homogen dan harmonis
pada dirinya sendiri: jadi berlawanan dengan kemanusiaan.
Oleh karena hakikat hidup adalah amal perbuatan atau kerja, maka
nilai-nilai tidak dapat dikatakan ada sebelum menyatakan diri dalam
kegiatan-kegiatan konkrit dan nyata (26:226). Kecintaan kepada Tuhan
sebagai kebaikan, keindahan dan kebenaran yang mutlak dengan sendirinya
memancar dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungannya dengan alam
dan masyarakat, berupa usaha-usaha yang nyata guna menciptakan sesuatu
yang membawa kebaikan, keindahan dan kebenaran bagi sesama manusia
"amal saleh" (harfiah: pekerjaan yang selaras dengan kemanusiaan)
merupakan pancaran langsung daripada iman (lihat Qur’an: aamanu
wa’amilushshaalihaat, tdk kurang dari 50 x pengulangan kombinasi kata).
Jadi Ketuhanan YME memancar dalam perikemanusiaan. Sebaliknya karena
kemanusiaan adalah kelanjutan kecintaan kepada kebenaran maka tidak ada
perikemanusiaan tanpa Ketuhanan YME. Perikemanusiaan tanpa Ketuhanan
adalah tidak sejati (24:39). Oleh karena itu semangat Ketuhanan YME dan
semangat mencari ridho daripada-Nya adalah dasar peradaban yang benar
dan kokoh. Dasar selain itu pasti goyah dan akhirnya membawa keruntuhan
peradaban (9:109).
"Syirik" merupakan kebalikan dari tauhid, secara harafiah artinya
mengadakan tandingan, dalam hal ini kepada Tuhan. Syirik adalah sifat
menyerah dan menghambakan diri kepada sesuatu selain kebenaran baik
kepada sesama manusia maupun alam. Karena sifatnya yang meniadakan
kemerdekaan asasi, syirik merupakan kejahatan terbesar kepada
kemanusiaan (31:13). Pada hakikatnya segala bentuk kejahatan dilakukan
orang karena syirik (6:82). Sebab dalam melakukan kejahatan itu dia
menghambakan diri kepada motif yang mendorong dilakukannya kejahatan
tersebut yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Demikian
pula karena syirik seseorang mengadakan pamrih atas pekerjaan yang
dilakukannya (Hadist, “sesunggunya sesuatu yang paling aku khawatirkan
menimpa kamu sekalian adalah syirik kecil, yaitu riya - pamrih”. Riwayat
Ahmad, hadist hasan). Dia bekerja bukan karena nilai pekerjaan itu sendiri
dalam hubungannya dengan kebaikan, keindahan dan kebenaran, tetapi
karena hendak memperoleh sesuatu yang lain.
"Musyrik"
adalah
pelaku
daripada
syirik.
Seseorang
yang
menghambakan diri kepada sesuatu selain Tuhan baik manusia maupun
alam disebut musyrik, sebab dia mengangkat sesuatu selain Tuhan menjadi
setingkat dengan Tuhan (3:64). Demikian pula seseorang yang
menghambakan (sebagaimana dengan tiran atau diktator) adalah musyrik,
sebab dia mengangkat dirinya sendiri setingkat dengan Tuhan (28:4). Kedua
perlakuan itu merupakan penentang terhadap kemanusiaan, baik bagi
dirinya sendiri maupun kepada orang lain.
Maka sikap berperikemanusiaan adalah sikap yang adil, yaitu sikap
menempatkan sesuatu kepada tempatnya yang wajar, seseorang yang adil
(wajar) ialah yang memandang manusia. Tidak melebihkan sehingga
menghambakan dirinya kepada-Nya. Dia selau menyimpan itikad baik dan
lebih baik (ikhsan). Maka ketuhanan menimbulkan sikap yang adil kepada
sesama manusia (16:90).
V. INDIVIDU DAN MASYARAKAT
Telah diterangkan dimuka, bahwa pusat kemanusiaan adalah masingmasing pribadinya dan bahwa kemerdekaan pribadi adalah hak asasinya
yang pertama. Tidak sesuatu yang lebih berharga daripada kemerdekaan itu.
Juga telah dikemukakan bahwa manusia hidup dalam suatu bentuk
hubungan tertentu dengan dunia sekitarnya, sebagai mahkluk sosial,
manusia tidak mungkin memenuhi kebutuhan kemanusiaannya dengan baik
tanpa berada ditengah sesamanya dalam bentuk-bentuk hubungan tertentu.
Maka dalam masyarakat itulah kemerdekaan asasi diwujudkan. Justru
karena adanya kemerdekaan pribadi itu maka timbul perbedaan-perbedaan
antara suatu pribadi dengan lainnya (43:32). Sebenarnya perbedaanperbedaan itu adalah untuk kebaikannya sendiri: sebab kenyataan yang
penting dan prinsipil, ialah bahwa kehidupan ekonomi, sosial, dan kultural
menghendaki pembagian kerja yang berbeda-beda (5:48).
Pemenuhan suatu bidang kegiatan guna kepentingan masyarakat
adalah suatu keharusan, sekalipun hanya oleh sebagian anggotanya saja
(92:4). Namun sejalan dengan prinsip kemanusiaan dan kemerdekaan,
dalam kehidupan yang teratur tiap-tiap orang harus diberi kesempatan untuk
memilih dari beberapa kemungkinan dan untuk berpindah dari satu
lingkungan ke lingkungan lainnya (17:84, 39:39). Peningkatan kemanusiaan
tidak dapat terjadi tanpa memberikan kepada setiap orang keleluasaan
untuk mengembangkan kecakapannya melalui aktifitas dan kerja yang
sesuai dengan kecenderungannya dan bakatnya.
Namun inilah kontradiksi yang ada pada manusia dia adalah mahkluk
yang sempurna dengan kecerdasan dan kemerdekaannya dapat berbuat
baik kepada sesamanya, tetapi pada waktu yang sama ia merasakan adanya
pertentangan yang konstan dan keinginan tak terbatas sebagai hawa nafsu.
Hawa nafsu cenderung kearah merugikan orang lain (kejahatan) dan
kejahatan dilakukan orang karena mengikuti hawa nafsu (12:53, 30:29).
Ancaman atas kemerdekaan masyarakat, dan karena itu juga berarti
ancaman terhadap kemerdekaan pribadi anggotanya ialah keinginan tak
terbatas atau hawa nafsu tersebut, maka selain kemerdekaan, persamaan
hak antara sesama manusia adalah esensi kemanusiaan yang harus
ditegakkan. Realisasi persamaan dicapai dengan membatasi kemerdekaan.
Kemerdekaan tak terbatas hanya dapat dipunyai satu orang, sedangkan
untuk lebih satu orang, kemerdekaan tak terbatas tidak dilaksanakan dalam
waktu yang bersamaan, kemerdekaan seseorang dibatasi oleh kemerdekaan
orang lain. Pelaksanaan kemerdekaan tak terbatas hanya berarti pemberian
kemerdekaan kepada pihak yang kuat atas yang lemah (perbudakan dalam
segala bentuknya), sudah tentu hak itu bertentangan dengan prinsip
keadilan. Kemerdekaan dan keadilan merupakan dua nilai yang saling
menopang. Sebab harga diri manusia terletak pada adanya hak bagi orang
lain untuk mengembangkan kepribadiannya. Sebagai kawan hidup dengan
tingkat yang sama. Anggota masyarakat harus saling menolong dalam
membentuk masyarakat yang bahagia (5:2).
Sejarah dan perkembangannya bukanlah suatu yang tidak mungkin
dirubah. Hubungan yang benar antara manusia dengan sejarah bukanlah
penyerahan pasif. Tetapi sejarah ditentukan oleh manusia sendiri. Tanpa
pengertian ini adanya azab Tuhan (akibat buruk) dan pahala (akibat baik)
bagi satu amal perbuatan mustahil ditanggung manusia (99:7-8). Manusia
merasakan akibat amal perbuatannya sesuai dengan ikhtiar. Dalam hidup ini
(dalam sejarah) dalam hidup kemudian - sesudah sejarah (9:74, 16:30).
Semakin seseorang bersungguh-sungguh dalam kekuatan yang bertanggung
jawab dengan kesadaran yang terus menerus akan tujuan dalam
membentuk masyarakat semakin ia mendekati tujuan (29:69).
Manusia mengenali dirinya sebagai makhluk yang nilai dan
martabatnya
dapat
sepenuhnya
dinyatakan, jika
ia
mempunyai
kemerdekaan tidak saja mengatur hidupnya sendiri tetapi juga untuk
memperbaiki dengan sesama manusia dalam lingkungan masyarakat. Dasar
hidup gotong-royong ini ialah keistimewaan dan kecintaan sesama manusia
dalam pengakuan akan adanya persamaan dan kehormatan bagi setiap
orang (49:13, 49:10).
VI. KEADILAN SOSIAL DAN KEADILAN EKONOMI
Telah kita bicarakan tentang hubungan antara individu dengan
masyarakat dimana kemerdekaan dan pembatas kemerdekaan saling
bergantungan, dan dimana perbaikan kondisi masyarakat tergantung pada
perencanaan manusia dan usaha-usaha bersamanya. Jika kemerdekaan
dicirikan dalam bentuk yang tidak bersyarat (kemerdekaan tak terbatas)
maka sudah terang bahwa setiap orang diperbolehkan mengejar dengan
bebas segala keinginan pribadinya.
Akibatnya pertarungan keinginan yang bermacam-macam itu satu
sama lain dalam kekacauan atau anarchi (92:8-10). Sudah barang tentu
menghancurkan masyarakat dan meniadakan kemanusiaan sebab itu harus
ditegakkan keadilan dalam masyarakat (5:8). Siapakah yang harus
menegakkan keadilan, dalam masyarakat? Sudah barang pasti ialah
masyarakat sendiri, tetapi dalam prakteknya diperlukan adanya satu
kelompok dalam masyarakat yang karena kualitas-kualitas yang dimilikinya
senantiasa mengadakan usaha-usaha menegakkan keadilan itu dengan jalan
selalu menganjurkan sesuatu yang bersifat kemanusiaan serta mencegah
terjadinya sesuatu yang berlawanan dengan kemanusiaan (2:104).
Kualitas terpenting yang harus dipunyainya, ialah rasa kemanusiaan
yang tinggi sebagai pancaran kecintaan yang tak terbatas pada Tuhan. Di
samping itu diperlukan kecakapan yang cukup. Kelompok orang-orang itu
adalah pimpinan masyarakat; atau setidak-tidaknya mereka adalah orangorang yang seharusnya memimpin masyarakat. Memimpin adalah
menegakkan keadilan, menjaga agar setiap orang memperoleh hak
asasinya, dan dalam jangka waktu yang sama menghormati kemerdekaan
orang lain dan martabat kemanusiaannya sebagai manifestasi kesadarannya
akan tanggung jawab sosial.
Negara adalah bentuk masyarakat yang terpenting, dan pemerintah
adalah susunan masyarakat yang terkuat dan berpengaruh. Oleh sebab itu
pemerintah yang pertama berkewajiban menegakkan kadilan. Maksud
semula dan fundamental daripada didirikannya negara dan pemerintah ialah
guna melindungi manusia yang menjadi warga negara daripada
kemungkinan perusakkan terhadap kemerdekaan dan harga diri sebagai
manusia sebaliknya setiap orang mengambil bagian pertanggungjawaban
dalam masalah-masalah atas dasar persamaan yang diperoleh melalui
demokrasi.
Pada dasarnya masyarakat dengan masing-masing pribadi yang ada
didalamnya haruslah memerintah dan memimpin diri sendiri (Hadist:
“kullukum raain wakullukum mas uulun ‘an raiyyatih” -Bukhari & Muslim).
Oleh karena itu pemerintah haruslah merupakan kekuatan pimpinan yang
lahir dari masyarakat sendiri. Pemerintah haruslah demokratis, berasal dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, menjalankan kebijaksanaan atas
persetujuan rakyat berdasarkan musyawarah dan dimana keadilan dan
martabat kemanusiaan tidak terganggu (42:28, 42:42). Kekuatan yang
sebenarnya didalam negara ada di tangan rakyat, dan pemerintah harus
bertanggung jawab pada rakyat.
Menegakkan keadilan mencakup penguasaan atas keinginan-keinginan
dan kepentingan-kepentingan pribadi yang tak mengenal batas (hawa
nafsu). Adalah kewajiban dari negara sendiri dan kekuatan-kekuatan sosial
untuk menjunjung tinggi prinsip kegotongroyongan dan kecintaan sesama
manusia. Menegakkan keadilan adalah amanat rakyat kepada pemerintah
yang musti dilaksanakan (4:58). Ketaatan rakyat kepada pemerintah yang
adil merupakan ketaatan kepada diri sendiri yang wajib dilaksanakan.
Didasari oleh sikap hidup yang benar, ketaatan kapada pemerintah termasuk
dalam lingkungan ketaatan kepada Tuhan (Kebenaran Mutlak) dan Rasulnya
(pengajar tentang Kebenaran) (4:59). Pemerintah yang benar dan harus
ditaati ialah mengabdi kepada kemanusiaan, kebenaran dan akhirnya
kepada Tuhan YME (5:45).
Perwujudan menegakkan keadilan yang terpenting dan berpengaruh
ialah menegakkan keadilan di bidang ekonomi atau pembagian kekayaan
diantara anggota masyarakat. Keadilan menuntut agar setiap orang dapat
bagian yang wajar dari kekayaan atau rejeki. Dalam masyarakat yang tidak
mengenal batas-batas individual, sejarah merupakan perjuangan dialektis
yang berjalan tanpa kendali dari pertentangan-pertentangan golongan yang
didorong oleh ketidakserasian antara pertumbuhan kekuatan produksi disatu
pihak dan pengumpulan kekayaan oleh golongan-golongan kecil dengan hakhak istimewa di lain pihak (57:20). Karena kemerdekaan tak terbatas
mendorong timbulnya jurang-jurang pemisah antara kekayaan dan
kemiskinan yang semakin dalam. Proses selanjutnya - yaitu bila sudah
mencapai batas maksimal - pertentangan golongan itu akan menghancurkan
sendi-sendi tatanan sosial dan membinasakan kemanusiaan dan
peradabannya (17:16).
Dalam masyarakat yang tidak adil, kekayaan dan kemiskinan akan
terjadi dalam kualitas dan proporsi yang tidak wajar sekalipun realitas selalu
menunjukkan perbedaan-perbedaan antara manusia dalam kemampuan fisik
maupun mental namun dalam kemiskinan dalam masyarakat dengan
pemerintah yang tidak menegakkan keadilan adalah keadilan yang
merupakan perwujudan dari kezaliman. Orang-orang kaya menjadi pelaku
daripada kezaliman sedangkan orang-orang miskin dijadikan sasaran atau
korbannya. Oleh karena itu sebagai yang menjadi sasaran kezaliman, orangorang miskin berada di pihak yang benar. Pertentangan antara kaum miskin
menjadi pertentangan antara kaum yang menjalankan kezaliman dan yang
dizalimi. Dikarenakan kebenaran pasti menang terhadap kebhatilan, maka
pertentangan itu disudahi dengan kemenangan tak terhindar bagi kaum
miskin, kemudian mereka memegang tampuk pimpinan dalam masyarakat
(4:160-161, 26:182-183, 2:279, 28:5).
Kejahatan di bidang ekonomi yang menyeluruh adalah penindasan
oleh kapitalisme. Dengan kapitalisme dengan mudah seseorang dapat
memeras orang-orang yang berjuang mempertahankan hidupnya karena
kemiskinan, kemudian merampas hak-haknya secara tidak sah, berkat
kemampuannya untuk memaksakan persyaratan kerjanya dan hidup kepada
mereka. Oleh karena itu menegakkan keadilan mencakup pemberantasan
kapitalisme dan segenap usaha akumulasi kekayaan pada sekelompok kecil
masyarakat (2:278-279). Sesudah syirik, kejahatan terbesar kepada
kemanusiaan adalah penumpukan harta kekayaan beserta penggunaanya
yang tidak benar, menyimpang dari kepentingan umum, tidak mengikuti
jalan Tuhan (104:1-3). Maka menegakkan keadilan inilah membimbing
manusia ke arah pelaksanaan tata masyarakat yang akan memberikan
kepada setiap orang kesempatan yang sama untuk mengatur hidupnya
secara bebas dan terhormat (amar ma'ruf) dan pertentangan terus menerus
terhadap segala bentuk penindasan kepada manusia kepada kebenaran
asasinya dan rasa kemanusiaan (nahi munkar). Dengan perkataan lain harus
diadakan restriksi-restriksi atau cara-cara memperoleh, mengumpulkan dan
menggunakan kekayaan itu. Cara yang tidak bertentangan dengan
kamanusiaan diperbolehkan (yang ma'ruf dihalalkan) sedangkan cara yang
bertentangan dengan kemanusiaan dilarang (yang munkar diharamkan)
(3:110).
Pembagian ekonomi secara tidak benar itu hanya ada dalam suatu
masyarakat yang tidak menjalankan prisip Ketuhanan YME, dalam hal ini
pengakuan berketuhanan YME tetapi tidak melaksanakannya sama nilainya
dengan tidak berketuhanan sama sekali. Sebab nilai-nilai yang tidak dapat
dikatakan hidup sebelum menyatakan diri dalam amal perbuatan yang nyata
(61:2-3).
Dalam suatu masyarakat yang tidak menjadikan Tuhan sebagai satusatunya tempat tunduk dan menyerahkan diri, manusia dapat
diperbudaknya antara lain oleh harta benda. Tidak lagi seorang pekerja
menguasai hasil pekerjaanya, tetapi justru dikuasai oleh hasil pekerjaan itu.
Produksi seorang buruh memperbesar kapital majikan dan kapital itu
selanjutnya lebih memperbudak buruh. Demikian pula terjadi pada majikan
bukan ia menguasai kapital tetapi kapital itulah yang menguasainya. Kapital
atau kekayaan telah menggenggam dan memberikan sifat-sifat tertentu
seperti keserakahan, ketamakan dan kebengisan.
Oleh karena itu menegakkan keadilan bukan saja dengan amar ma'ruf
nahi munkar sebagaimana diterapkan di muka, tetapi juga melalui
pendidikan yang intensif terhadap pribadi-pribadi agar tetap mencintai
kebenaran dan menyadari secara mendalam akan andanya Tuhan.
Sembahyang merupakan pendidikan yang kontinyu, sebagai bentuk formil
peringatan kepada tuhan. Sembahyang yang benar akan lebih efektif dalam
meluruskan dan membetulkan garis hidup manusia. Sebagaimana ia
mencegah kekejian dan kemungkaran (29:45). Jadi sembahyang merupakan
penopang hidup yang benar (Hadist: “sembahyang adalah tiang agama.
Barangsiapa mengerjakannya berarti menegakkan agama. Barangsiapa
meninggalkannya berarti merobohkan agama” -Baihaqi). Sembahyang
menyelesaikan
masalah-masalah
kehidupan,
termasuk
pemenuhan
kebutuhan yang ada secara instrinsik pada rohani manusia yang mendalam,
yaitu kebutuhan sepiritual berupa pengabdian yang bersifat mutlak (31:30).
Pengabdian yang tidak tersalurkan secara benar kepada tuhan YME tentu
tersalurkan kearah sesuatu yang lain. Dan membahayakan kemanusiaan.
Dalam hubungan itu telah terdahulu keterangan tentang syirik yang
merupakan kejahatan fundamental terhadap kemanusiaan.
Dalam masyarakat yang adil mungkin masih terdapat pembagian
manusia menjadi golongan kaya dan miskin. Tetapi hal itu terjadi dalam
batas-batas kewajaran dan kemanusian dengan pertautan kekayaan dan
kemiskinan yang mendekat. Hal itu sejalan dengan dibenarkannya pemilikan
pribadi (private ownership) atas harta kekayaan dan adanya perbedaanperbedaan tak terhindar dari pada kemampuan-kemampuan pribadi, fisik
maupun mental (30:37).
Walaupun demikian usaha-usaha kearah perbaikan dalam pembagian
rejeki ke arah yang merata tetap harus dijalankan oleh masyarakat. Dalam
hal ini zakat adalah penyelesaian terakhir masalah perbedaan kaya dan
miskin itu. Zakat dipungut dari orang-orang kaya dalam jumlah presentase
tertentu untuk dibagikan kepada orang miskin (9:60). Zakat dikenakan hanya
atas harta yang diperoleh secara benar, sah, dan halal saja. Sedang harta
kekayaan yang haram tidak dikenakan zakat tetapi harus dijadikan milik
umum guna manfaat bagi rakyat dengan jalan penyitaan oleh pemerintah.
Oleh karena itu, sebelum penarikan zakat dilakukan terlebih dahulu harus
dibentuk suatu masyarakat yang adil berdasarkan ketuhanan Tuhan Yang
Maha Esa, dimana tidak lagi didapati cara memperoleh kekayaan secara
haram, dimana penindasan atas manusia oleh manusia dihapuskan (2:188).
Sebagaimana ada ketetapan tentang bagaimana harta kekayaan itu
diperoleh, juga ditetapkan bagaimana mempergunakan harta kekayaan itu.
Pemilikan pribadi dibenarkan hanya jika hanya digunakan hak itu tidak
bertentangan, pemilikan pribadi menjadi batal dan pemerintah berhak
mengajukan konfiskasi.
Seorang dibenarkan mempergunakan harta kekayaan dalam batasbatas tertentu, yaitu dalam batas tidak kurang tetapi juga tidak melebihi
rata-rata penggunaan dalam masyarakat (25:67). Penggunaan yang
berlebihan (tabzier atau israf) bertentangan dengan perikemanusiaan
(17:26-27). Kemewahan selalu menjadi provokasi terhadap pertentangan
golongan dalam masyarakat membuat akibat destruktif (17:16). Sebaliknya
penggunaan kurang dari rata-rata masyarakat (taqti) merusakkan diri sendiri
dalam masyarakat disebabkan membekunya sebagian dari kekayaan umum
yang dapat digunakan untuk manfaat bersama (47:38).
Hal itu semuanya merupakan kebenaran karena pada hakekatnya
seluruh harta kekayaan ini adalah milik Tuhan (10:55). Manusia seluruhnya
diberi hak yang sama atas kekayaan itu dan harus diberikan bagian yang
wajar dari padanya (7:10).
Pemilikan oleh seseorang (secara benar) hanya bersifat relatif sebagai
mana amanat dari Tuhan. Penggunaan harta itu sendiri harus sejalan dengan
yang dikehendaki Tuhan, untuk kepentingan umum (57:7). Maka kalau terjadi
kemiskinan, orang-orang miskin diberi hak atas sebagian harta orang-orang
kaya, terutama yang masih dekat dalam hubungan keluarga (70:24-25).
Adalah kewajiban negara dan masyarakat untuk melindungi kehidupan
keluarga dan memberinya bantuan dan dorongan. Negara yang adil
menciptakan persyaratan hidup yang wajar sebagaimana yang diperlukan
oleh pribadi-pribadi agar diandan keluarganya dapat mengatur hidupnya
secara terhormat sesuai dengan kainginan-keinginannya untuk dapat
menerima tanggungjawab atas kegiatan-kegiatnnya. Dalam prakteknya, hal
itu berarti bahwa pemerintah harus membuka jalan yang mudah dan
kesempatan yang sama kearah pendidikan, kecakapan yang wajar
kemerdekaan beribadah sepenuhnya dan pembagian kekayaan bangsa yang
pantas.
VII. KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Dari seluruh uraian yang telah di kemukakan, dapatlah disimpulkan
dengan pasti bahwa inti dari pada kemanusiaan yang suci adalah Iman dan
kerja kemanusiaan atau Amal Saleh (95:6).
Iman dalam pengertian kepercayaan akan adanya kebenaran mutlak
yaitu Tuhan Yang Maha Esa, serta menjadikanya satu-satunya tujuan hidup
dan tempat pengabdian diri yang terakhir dan mutlak. Sikap itu
menimbulkan kecintaan tak terbatas pada kebenaran, kesucian dan kebaikan
yang
menyatakan
dirinya
dalam
sikap
prikemanusiaan.
Sikap
prikemanusiaan menghasilkan amal saleh, artinya amal yang bersesuaian
dengan dan meningkatkan kemanusiaan. Sebaik-baiknya manusia ialah yang
berguna untuk sesamanya. Tapi bagaimana hal itu harus dilakukan manusia?
Sebagaimana setiap perjalanan kearah suatu tujuan ialah gerakan
kedepan demikian pula perjalanan ummat manusia atau sejarah adalah
gerakan maju kedepan. Maka semua nilai dalam kehidupan relatif adanya
berlaku untuk suatu tempat dan suatu waktu tertentu. Demikianlah segala
sesuatu berubah, kecuali tujuan akhir dari segala yang ada yaitu kebenaran
mutlak (Tuhan) (28:88). Jadi semua nilai yang benar adalah bersumber atau
dijabarkan dari ketentuan-ketentuan hukum-hukum Tuhan (6:57).
Oleh karena itu manusia berikhtiar dan merdeka, ialah yang bergerak.
Gerakan itu tidak lain dari pada gerak maju kedepan (progresif). Dia adalah
dinamis, tidak statis. Dia bukanlah seorang tradisional, apalagi reaksioner
(17:36). Dia menghendaki perubahan terus menerus sejalan dengan arah
menuju kebenaran mutlak. Dia senantiasa mencari kebenaran-kebenaran
selama perjalanan hidupnya. Kebenaran-kebenaran itu menyatakan dirinya
dan ditemukan di dalam alam dari sejarah umat manusia.
Ilmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan
menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya, sekalipun relatif namun
kebenaran-kebenaran merupakan tonggak sejarah yang mesti dilalui dalam
perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Dan keyakinan adalah
kebenaran mutlak itu sendiri pada suatu saat dapat dicapai oleh manusia,
yaitu ketika mereka telah memahami benar seluruh alam dan sejarahnya
sendiri (41:53).
Jadi ilmu pengetahuan adalah persyaratan dari amal soleh. Hanya
mereka yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan dapat berjalan diatas
kebenaran-kebenaran, yang menyampaikan kepada kepatuhan tanpa
reserve kepada Tuhan Yang Maha Esa (35:28). Dengan iman dan kebenaran
ilmu pengetahuan manusia mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi
(58:11).
Ilmu pengetahuan ialah pengertian yang dipunyai oleh manusia secara
benar tentang dunia sekitarnya dan dirinya sendiri. Hubungan yang benar
antara manusia dan alam sekelilingnya ialah hubungan dan pengarahan.
Manusia harus menguasai alam dan masyarakat guna dapat mengarahkanya
kepada yang lebih baik. Penguasaan dan kemudian pengarahan itu tidak
mungkin dilaksanakan tanpa pengetahuan tentang hukum-hukumnya agar
dapat menguasai dan menggunakanya bagi kemanusiaan. Sebab alam
tersedia bagi ummat manusia bagi kepentingan pertumbuhan kemanusiaan.
Hal itu tidak dapat dilakukan kecuali mengerahkan kemampuan
intelektualitas atau rasio (45:13).
Demikian pula manusia harus memahami sejarah dengan hukumhukum yang tetap (3:137). Hukum sejarah yang tetap (sunatullah untuk
sejarah) yaitu garis besarnya ialah bahwa manusia akan menemui kejayaan
jika setia kepada kemanusiaan fitrinya dan menemui kehancuran jika
menyimpang daripadanya dengan menuruti hawa nafsu (91:9-10).
Tetapi cara-cara perbaikan hidup sehingga terus-menerus maju kearah
yang lebih baik sesuai dengan fitrah adalah masalah pengalaman.
Pengalaman ini harus ditarik dari masa lampau, untuk dapat mengerti masa
sekarang dan memperhitungkan masa yang akan datang (12:111).
Menguasai dan mengarahkan masyarakat ialah mengganti kaidah-kaidah
umumnya dan membimbingnya kearah kemajuan dan kebaikan.
VIII. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari seluruh uraian yang telah lalu dapatlah diambil kesimpulan secara garis
besar sbb:
1. Hidup yang benar dimulai dengan percaya atau iman kepada Tuhan.
Tuhan YME dan keinginan mendekat serta kecintaan kepada-Nya, yaitu
takwa. Iman dan takwa bukanlah nilai yang statis dan abstrak. Nilai-nilai
itu mamancar dengan sendirinya dalam bentuk kerja nyata bagi
kemanusiaan dan amal saleh. Iman tidak memberi arti apa-apa bagi
manusia jika tidak disertai dengan usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan
yang sungguh-sungguh untuk menegakkan perikehidupan yang benar
dalam peradaban dan berbudaya.
2. Iman dan takwa dipelihara dan diperkuat dengan melakukan ibadah atau
pengabdian formil kepada Tuhan. Ibadah mendidik individu agar tetap
ingat dan taat kepada Tuhan dan berpegang tuguh kepada kebenaran
sebagai mana dikehendaki oleh hati nurani yang hanif. Segala sesuatu
yang menyangkut bentuk dan cara beribadah menjadi wewenang penuh
dari pada agama tanpa adanya hak manusia untuk mencampurinya.
Ibadat yang terus menerus kepada Tuhan menyadarkan manusia akan
kedudukannya di tengah alam dan masyarakat dan sesamanya. Ia tidak
melebihkan diri sehingga mengarah kepada kedudukan Tuhan dengan
merugikan kemanusiaan orang lain, dan tidak mengurangi kehormatan
dirinya sebagai mahluk tertinggi dengan akibat perbudakan diri kepada
alam maupun orang lain Dengan ibadah manusia dididik untuk memilki
kemerdekaannya, kemanusiaannya dan dirinya sendiri, sebab ia telah
berbuat ikhlas, yaitu pemurniaan pengabdian kepada Kebenaran semata.
3. Kerja kemanusiaan atau amal saleh mengambil bentuknya yang utama
dalam usaha yanag sungguh-sungguh secara essensial menyangkut
kepentingan manusia secara keseluruhan, baik dalam ukuran ruang
maupun waktu. Yaitu menegakkan keadilan dalam masyarakat
sehingga setiap orang memperoleh harga diri dan martabatnya sebagai
manusia. Hal itu berarti usaha-usaha yang terus menerus harus dilakukan
guna mengarahkan masyarakat kepada nilai-nilai yang baik, lebih maju
dan lebih insani usaha itu ialah "amar ma'ruf”, disamping usaha lain
untuk mencegah segala bentuk kejahatan dan kemerosotan nilai-nilai
kemanusiaan atau nahi mungkar. Selanjutnya bentuk kerja kemanusiaan
yang lebih nyata ialah pembelaan kaum lemah, kaum tertindas dan
kaum miskin pada umumnya serta usaha-usaha kearah peningkatan nasib
dan taraf hidup mereka yang wajar dan layak sebagai manusia.
4. Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang besar kepada kemanusiaan
melahirkan jihad, yaitu sikap berjuang. Berjuang itu dilakukan dan
ditanggung bersama oleh manusia dalam bentuk gotong royong atas
dasar kemanusiaan dan kecintaan kepada Tuhan. Perjuangan
menegakkan kebenaran dan keadilan menuntut ketabahan, kesabaran,
dan pengorbanan. Dan dengan jalan itulah kebahagiaan dapat
diwujudkan dalam masyarakat manusia. Oleh sebab itu persyaratan
bagi berhasilnya perjuangan adalah adanya barisan yang
merupakan bangunan yang kokoh kuat. Mereka terikat satu sama
lain oleh persaudaraan dan solidaritas yang tinggi dan oleh sikap yang
tegas kepada musuh-musuh dari kemanusiaan. Tetapi justru demi
kemanusiaan mereka adalah manusia yang toleran. Sekalipun mengikuti
jalan yang benar, mereka tidak memaksakan kepada orang lain atau
golongan lain.
5. Kerja kemanusiaan atau amal saleh itu merupakan proses perkembangan
yang permanen. Perjuang kemanusiaan berusaha mengarah kepada yang
lebih baik, lebih benar. Oleh sebab itu, manusia harus mengetahui arah
yang benar dari pada perkembangan peradaban disegala bidang.
Dengan perkataan lain, manusia harus mendalami dan selalu
mempergunakan ilmu pengetahuan. Kerja manusia dan kerja
kemanusiaan tanpa ilmu tidak akan mencapai tujuannya, sebaliknya ilmu
tanpa rasa kemanusiaan tidak akan membawa kebahagiaan bahkan
mengahancurkan peradaban. Ilmu pengetahuan adalah karunia Tuhan
yang besar artinya bagi manusia. Mendalami ilmu pengetahun harus
didasari oleh sikap terbuka. Mampu mengungkapkan perkembangan
pemikiran tentang kehidupan berperadaban dan berbudaya. Kemudian
mengambil dan mengamalkan diantaranya yang terbaik.
Dengan demikian, tugas hidup manusia menjadi sangat sederhana,
yaitu beriman, berilmu dan beramal.
RUJUKAN NILAI DASAR PERJUANGAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
DASAR – DASAR KEPERCAYAAN
1. Al – qur’an. S. An – nahal (XVI) 89, artinya : “dan kami (Tuhan) telah
menurunkan kepada engkau (Muhammad) sebuah kitab (Al – qur’an)
sebagai keterangan tentang sesuatu serta sebagai petunjuk, rahmat dan
kabar gembira bagi orang – orang muslim.”
2. Al – qur’an. S. Al – Ikhlas (CXII) : 1 – 4 artinya : “Katakanlah : Dia adalah
Tuhan Yang Maha Esa dia adalah Tuhan, Tuhan segala tempat harapan.
Tiada ia berputar dan tiada pula berbapak serta tiada satupun baginya
sepadan.”
3. Al – qur’an. S. Al – Hadid (LVII) : 3, artinya : “Dia adalah yang pertama dan
terakhir dan yang lahir dan bathin.”
4. Al – qur’an S. Al – Baqarah (II) 115, artinya : “Maka kemanapun jua
berpaling, disanalah wajah Tuhan.”
5. Al – qur’an. S. Al – an’am (VI) : 73, artinya : “Dan dia (Tuhan) beserta
kamu dimanapun kamu berada.”
6. Al – qur’an. S. Al – an’am (VI) : 73, artinya : “Dan dia (Tuhan) menciptakan
segala sesuatu kemudian mengaturnya dengan peraturan yang pasti.”
7. Al – qur’an. S. Al – Mu’min (XXIII) : 14, artinya : “Maka Maha Mulialah
Tuhan, sebaik – baiknya pencipta.”
8. Al – qur’an. S. Luqman (XXXI) 20, artinya : “Tidaklah kamu
memperhatikan bahwa Allah menyediakan bagimu segala sesuatu yang
ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi dan melimpahkannya
kepada kami karunia – karunia mendatar-Nya baik yang nampak maupun
yang tidak nampak.”
9. Al – qur’an, S. Yunus (X) : 101, artinya : “Katakanlah : Perhatikan olehmu
apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tanda – tanda dan
peringatan itu tidak ada berguna bagi golongan manusia yang tidak
percaya.”
10. Al – qur’an, S. Shod (XXXVIII) : 27, artinya : “Tidaklah kamu (Tuhan)
menciptakan lagit dan bumi dan segala sesuatu yang ada diantara
keduanya itu secara palsu hal itu hanyalah prasangka orang – orang kafir
saja.”
11. Al – qur’an, S. Al – Tien (XCVO) : 4, artinya : “Sesungguhnya kami (Tuhan)
telah menciptakan manusia – manusia dalam bentuk yang sebaik –
baiknya.”
12. Al – qur’an, S. Al – Isra (XVII) : 70, artinya : “Dan kami lebih mereka itu
(umat manusia) di atas banyak dari segala sesuatu yang kami ciptakan
dengan kelebihan yang nyata.”
13. Al – qur’an, S. Al – an’am (VI) : 165, artinya : “Dan dialah (Tuhan) yang
menjadikan kamu sekalian (umat manusia) sebagai khalifa – khalifah
bumi, serta melebihkan sebahagian dari kamu atas sebagian yang lain
bertingkat – tingkat untuk menguji kamu dalam hal – hal yang telah
diuraikan kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan cepat siksanya (akibat
buruk daripadanya perbuatan manusia yang salah) dan dia pastilah Maha
Pengampun dan Maha Penyayang (memberikan akibat baik atas
perbuatan manusia yang benar).”
14. Al – qur’an, S. Hud (XI) : 16 artinya : “Dia (Tuhan) menumbuhkan kamu
(umat islam) dari bumi dan menyuruh kamu memakmurkannya.
15. Al – qur’an, S. Al – Ahzab (XXXIII) : 72, artinya : “Sesungguhnya kamu
(Tuhan) menawarkan semua amanah (akal pikiran) kepada langit, bumi
dan gunung – gunung, maka mereka itu menolak untuk menanggungnya
dan merasakan keberatan atas amanah itu, manusialah yang
menanggungnya, sesungguhnya manusia mempersulit diri sendiri dan
bodoh.”
16. Al – qur’an, S. Al – Ankabut (XXVII) : 20, artinya : “Katakanlah :
mengembaralah kamu ke muka bumi, kemudian perhatikanlah olehmu
bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya kemudian mengembangkan
pertumbuhan yang pertumbuhan sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa
atas segala sesuatu.”
17. Al – qur’an. S. Al – Qashash (XXVII) : 20, artinya : “Katakanlah :
Mengembaralah kamu ke muka bumi, kemudian perhatikanlah olehmu
bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya kemudian mengembangkan
pertumbuhan yang kemudian, sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”
18. Al – qur’an, S. Al – Isra (XVII) : 72, artinya : “Dan barang siapa disini
(dunia) buta (tidak berilmu), maka di akhirat nanti akan buta pula dan
lebih sesat lagi jalannya.”
19. Al – qur’an, S. Al – Isra (XVII) : 36, artinya : “Dan janganlah engkau
mengikuti sesuatu yang tidak engkau mempunyai pengertian tentang hal
itu, sebab sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani itu
semuanya pertanggung jawab atas hal tersebut.”
20. Al – qur’an, S. Al – Mujaadalah (LVII) : 11, artinya : “Allah mengangkat
orang – orang beriman diantara kamu dan berilmu bertingkat – tingkat.”
21. Al – qur’an, S. Fushilat (1) : artinya : “Janganlah kamu bersujud kepada
matahari ataupun bulan tetapi bersujudlah kepada Allah yang
menciptakan.”
22. Al – qur’an, S. Al – Fatihah (1) : artinya : “Janganlah kamu bersujud kepada
matahari ataupun bulan tetapi bersujudlah kepada Allah yang
menciptakan.”
23. Al – qur’an, S. Al – Hajj (XXII) : 56, artinya : “Kerajaan pada hari itu
hanyalah bagi Allah, Dia mengadili antara manusia (suatu lukisan
simbolis). “Bagi siapakah pekerjaan hari ini ? bagi Allah Yang Maha Esa
dan Maha Perkasa.”
24. Al – qur’an, S. Al – Baqarah (11) : 48, artinya : “Dan berjaga – jagalah
kamu sekalian terhadap massa dimana seseorang tidak sedikitpun
membela orang – orang lain dan dimana tidak di terima suatu
pertolongan dan tidak suatu tebusan serta tidak pula itu akan
dibantunya.”
25. Al – qur’an, S. Al – A’raf (II) : 187, artinya : “Mereka bertanya kepada
engkau (Muhammad) tentang hari kiamat kapan akan terjadi ? Jawablah :
sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya ada pada
Tuhan. Tidak seorangpun dapat menjelaskan selain dari Dia Sendiri.”
PENGERTIAN DASAR TENTANG KEMANUSIAAN
1. Al – qur’an, S. Ar – Rum (XXX) 30, artinya : “Hadapkan dengan seluruh
dirimu itu kepada agama (Islam) sebagaimana engkau adalah hanief
(secara kodrat melihat kebenaran, itulah fitrah Tuhan yang telah
memfitrahkan manusia padanya).”
2. Al – qur’an, S. Adz – Dzariyat (XVL) 56, artinya : “Aku (Tuhan) tidaklah
menciptakan jin dan manusia hanyalah untuk berbakti kepada-Ku.”
3. Al – qur’an, S. At – Taubah (IX) 105, artinya : “Katakanlah, bekerjalah
kamu sekalian ! Tuhan akan melihat kerjamu demikian juga Rasul-nya dan
orang – orang beriman (masyarakat).”
4. Al – qur’an, S. At – Taubah (IX) 2 – 3, artinya : “Hai orang – orang yang
beriman, mengapakah kamu mengadakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan ? besar dosanya bagi Tuhan jika kamu mengatakan sesuatu yang
tidak baik kamu kerjakan.”
5. Al – qur’an, S. An – Nahl (IV) 3, artinya : “Barang siapa siap berbuat baik
lelaki maupun perempuan sedangkan ia beriman, maka pastikan kami
(Tuhan) berikan kepadanya hidup yang bahagia dan pasti kami berikan
pahala bagi mereka dengan sebaik – baiknya apa yang telah mereka
perbuat.”
6. Al – qur’an, S. Al – Ankabut (XXIX) 6, artinya : “Barang siapa berjuang,
maka sebenarnya dia berjuang untuk dirinya sendiri.”
7. Al – qur’an, S. An – Nisa (IV), 125 artinya : “Siapakah yang lebih baik
agama daripada orang yang menyerahkan diri dengan agama dari
dengan seluruh pribadinya kepada Tuhan yang dan dia berbuat baik (cinta
kabikan) serta mengikuti ajaran Ibrahim secara Hanief.”
8. Al – qur’an, Az – Zumar (XXXIV) 18, artinya : ‘Mereka yang mendengarkan
perkataan (pendapat) berusaha mengikuti yang terbaik (benar)
daripadanya, mereka itulah yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan dan
mereka itulah yang orang – orang yang mempunyai fikiran.
9. Al- qur’an, S. Al-Baqarah (II) 28 artinya
: “Tuhan memberikan
keijaksanaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya . Maka barang
siapa yang mendapat kebijaksanaan itu sesungguhnya dia telah
memperoleh kebaikan yang melimpah . Dan tidak memikirkan hal itu
kecuali orang-orang yang berasal ”
10. Al-Qur’an . S. Al-An’am (VI) 269 . artinya : “Barang siapa yang tuhan
kehendaki untuk diberikan kepadanya petunjuk (kepada kebenaran),
tetapi barang siapa yang dikehendaki Tuhan untuk disesatkan maka
dadanya dijadikan sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang naik
kelangit”.
11. Al-Qur’an S.Ali-Imran (III) 123, artinya : “ ( orang yang bertaqwa itu )
mereka yang dapat menahan marah, suka memaafkan kepada sesama
manusia dan Tuhan cinta kepada orang orang yang selalu berbuat baik “.
12. Al-Qur’an. S. Baiynah ( XCVIII) 5. artinya : “ Mereka tidaklah diperintahkan
kecuali untuk berbakti kepada Tuhan dengan mengikhlaskan agama
(kebatinan) semata-mata kepada-Nya secara Hanief (mencari kebenaran)
menegakkan sembahyang mengeluarkan zakat,itulah jalan (agama) yang
benar.”
13. Al-qur’an, S. Al-Baqarah (II) 28 ,artinya : ’’Tuhan memberikan
kebijaksanaan kepada siapa saja yang dikenhendaki-Nya. Maka barang
siapa yang mendapat kebijaksanaan itu sesungguhnys dia telah
memperoleh kebaikan yang melimpah. Dan tidak memikirkan hal itu
kecuali orang-orang yang berasal “.
14. Al-Qur’an,S. Al-Insan (LXXVI) 8-9, artinya : “ Dan mereka itu memberikan
makan kepada orang miskin Anak-anak yatim dan orang tertawa atas
dasar sukarela mereka berkata : Kami memberi makan kepadamu
semata-mata hanya karena diri Tuhan (mencari ridho-Nya) bukan karena
mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih.
15. Dari kesimpulan dari gambaran surat Al-qura’an, S Al-baqarah (II) 263,
artinya :’’hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menggugurkan
sedekahnya dengan cacian dan celaan, sebagaimana orang yang
mendarmakan hartanya karena pamrih kepada sesama manusia serta
tidak percaya kepada Tuhan dan hari kemudian. Maka perumpamaan
baginya adalah seperti batu yang di atasnya ada debu dan kemudian di
sapu oleh hujan dan batu itu tertinggal licin. Mereka itu sedikitpun
menguasai apa yang telah mereka kerjakan.’’
16. Disimpulkan dari Al-qur’an, S. Fatir (XXXV), artinya : “ Barang siapa
menghendaki kemudian itu aada pada Tuhan, kpada-Nya ucapan yang
baik menuju pekerjaan yang diangkat-nya.
KEMERDEKAAN MANUSIA (IKHTIAR) DAN KEHARUSAN UNIVRSAL
(TAQDIR
1. Tersimpul dalam Al-qur’an, S. Al-Anfal (VIII) 23, artinya : “Berhati-hatilah
kau terhadap malapetaka yang benar-benar tidaknya mnimpa orangorang jahat diantara kamu.”
2. Al-qur’an, S. Al-Baqarah (II) 46, artinya : “ Berhati-hatilah kamu sekalian
akan hari (akhirat) dimana seseorang tidak dapat membela orang lain
sedikitpun dan tidak pula diterima pertolongan dan tebusan daripadanya
serta tidak pula orang-orang itu dibantu.”
3. Al-qur’an, S. Lukman (XXXI) 46, artinya : “Ingatlah selalu akan hari
(kiamat) dimana seorang ayah tidak menanggung anaknya dan tidak pula
seorang anak mennggung ayahny sedikitpun.”
4. Al-qur’an, S. Al-hadid (XVII) 22, artinya : “Tidaklah terjadi sesuatu
kejadianpun dimuka bumi ini dan pada diri kamu sekalian (masyarakat)
melainkan ada dalam catatan sebelum kamu beberkan. Sesungguhnya
hal itu bagi Tuhan prkara yang mudah.”
5. Al-qur’an, S.Ar-Ra’d (XII), artinya : “ Sesungguhnya Tuhan tidak
merubahsesuatu (nasib) yang ada pada suatu bangsa sehingga mereka
merubah sendiri apayang ada pada diri (jiwa) mereka.”
6. Al-qur’an, S. Al-Hadid, artinya : “ Agar kamu tidak putus asa kemalangan
yng menimpa dan tidak pula terlalu bersuka ria dengan kemajuan yang
akan datang padamu.”
KETUHANAN YANG MAH ESA DAN PERIKEMANUSIAAN
1. Al - qur’an, S. Lukman (XXXI) 30, artinya : “Demikianlah sebab
sesungguhnya Tuhan itulah kebenaran, sedang apa yang mereka suka
selain-Nya adalah kepalsuan dan sesungguhnya Tuhan itu Maha Tinggi
dan Maha Agung.
2. Al – qur’an, S. Ali – Imran (III) 6, artinya : “Tidak lagi seorangpun suatu
kebahagiaan itu dianugerahkan oleh-Nya (Tuhan) kecuali (Amal
perbuatan) semata – mata untuk mencari (ridho) Tuhan Yang Maha Tinggi,
dan tentulah ia akan meridhoinya.”
3. Al – qur’an, S. Ali – Imran (III) 19, artinya : “Sesungguhnya agama itu bagi
Tuhan adalah penyerahan diri (Islam).”
4. Al – qur’an, S. Al – Ahzab (XXXIII) 49, artinya : “Mereka yang
menyampaikan ajaran – ajaran Tuhan dan tidak menghambakan dirinya
kepada siapapun selain kepada Tuhan dan cukuplah Tuhan yang
memperhitungkan (amal mereka).”
5. Al – qur’an, S. Asy – Syu’ara (XXVI) 226, artinya : “Dan sesungguhnya
mereka itu mengatakan hal – hal yang mereka tidak kerjakan.”
6. Tentang rangkaian tak terpisahkan dari pada iman dan amal saleh dapat
dilihat dari pengulangan tidak kurang dari lima puluh kali kata – kata
Aamu wa’amilus shaihat dan terdapat dimana – mana di dalam Al –
qur’an.
7. Al – qur’an, S. Ann – Nur (XXVI) 39, artinya : ‘Orang – orang kafir itu amal
dan perbuatannya bagaikan fata morgana di satu lembah. Orang yang
kehausan mengirimnya air, tetapi setelah ditanda tanganinya tidak
didapatnya suatu apapun.”
8. Al – qur’an, S. Al – Baqarah (II) 109, artinya : “Apakah orang yang
mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa kepada Tuhan dan mencari
ridho-Nya itu lebih baik, ataukah orang yang mendirikan bangunannya
pada tepi jurang yang retak kemudian roboh bersamanya masuk neraka
jahanam.”
9. Al – qur’an, S. Lukman (XXXI) 13, artinya : “Sesungguhnya syirik itu
kesalahan yang besar.”
10. Imam tidak mungkin bercampur dengan kejahatan, sebagai mana
tersimpul dalam Al – qur’an, S. Al – An’am (VI) 84, artinya : ‘Mereka yang
beriman dan tidak mencampur iman mereka dengan kejahatan, mereka
itulah yang mendapat petunjuk.”
11. Hadist, artinya : “Sesungguhnya yang paling khawatirkan sekalian ialah
syirik kecil yaitu ria (pamrih).”
12. Disimpulkan dari titik perpisahan antara orang – orang kafir pemegang
Kitab Suci (Kristen dan Yahudi) dalam al – Qur’an, S. Ali Imran (111) 64,
artinya : “Katakanlah : Hai orang pemegang Kitab Suci Kristen dan Yahudi
marilah kamu sekalian menuju titik persamaan antara kami (ummat
Islam0 dan kamu, yaitu bahwa kita tidak mengabdi kecuali pada Tuhan
Yang Maha Esa kita tidak sedikitpun membuat syirik kepada-Nya dan tidak
pula sebagian kita mengangkat sebagian yang lain menjadri Tuhan –
tuhan (dengan kekuasaan dan wewenang seperti dan Tuhan Yang Maha
Esa) selain Tuhan Yang Maha Esa, Kemudian jika mereka mengejak
katakanlah : Jadilah kamu sekalian sebagai saksi kepada Tuhan saja”.
13. Al – Qur’an, S. An – Nahl (XVI) 90, artinya : “Sesungguhnya Tuhan
memerintahkan untuk menegakkan keadilan dan menguasahakan
perbaikan.”
INDIVIDU DAN MASYARAKAT
1. Al – Qur’an, S. Az – Zukhruf (XLII), artinya : “Kami (Tuhan) membagi–bagi
di antara mereka manusia kehidupan mereka di dunia.”
2. Al – Qur’an, S. Al – Maidah (V) : 48, artinya : “Bagi setiap golongan
diantara kamu ialah kami tetapkan suatu cara dan jalan hidup tertentu.”
3. Al – Qur’an, S. Al – Lail (XCII) : 4, artinya : “Sesungguhnya usahamu
sekalian (manusia) sangat beraneka ragam.”
4. Al – Qur’an, S. Al – Isra’ (XVII) : 84, artinya : “Katakanlah : Setiap orang
bekerja sesuai dengan pembawaannya. Sebenarnya Tuhanmulah Pula
yang lebih mengetahui siapa yang lebih benar kalau hidupnya.”
5. Al – Qur’an, S. Az – Zumar (XXXIX) 39, artinya : “Katakanlah : Hai Kaumku,
bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja
(Pula), maka kelak kamu akan mengetahuinya juga.”
6. Al – Qur’an, S. Yusuf (XII) 53, artinya : “Bengotong – royonglah kamu
sekalian dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu bergotong –
royong dalam kejahatan dan permusuhan.”
7. Al – Qur’an, SYAI – Maidah (V) 2, artinya : “Bergotong – royonglah kamu
sekalian dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu bergotong –
royong daam kejahatan dan permusuhan.”
8. Al – Qur’an, S. ZakZalah (XCIX) 7 – 8, artinya : “Barang siapa mengerjakan
seberat atom kebaikan dan akan menyaksikan (akibat baiknya) dan
barang siapa mengerjakan seberat atom kejahatan diapun akan
menyaksikan (akibat buruknya)”.
9. Al – Qur’an, S. At – Taubah (IX) : 75, artinya : “Dan jika orang – orang
(Jahat) itu bertaubat maka kebaikan bagi mereka, tetap jika mereka
membanggakan maka Tuhan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang
pedih di dunia dan akhirat.”
10. Al – Qur’an, S. An – Nahl 30, artinya : “Dan mereka yang be ang dijalan-Ku
(kebenaran), maka pasti Aku tunjukkan jalannya (mencapai tujuan)
sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada orang – orang yang selalu berbuat
baik (progresif).”
11. Al – Qur’an, S. Al – Hujarat (XLIX) 13, artinya : “Hai sekalian ummat
manusia, sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan kamu dari laki –
laki dan perempuan dan kami jadikan berbangsa – bangsa dan bersuku –
suku ialah agar kami saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia
diantara kamu bagi Tuhan ialah yang paling bertaqwa (cin kebenaran)
sesungguhnya Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha Meneliti.”
Al – Qur’an, S. Al – Hujarat (XLIX) 10, artinya : “Sesungguhnya orang –
orang yang beriman (cinta kebenaran) itu bersaudara, maka usahakanlah
adanya kerukunan dan diantara golongan saudaramu.”
KEADILAN SOSIAL DAN KEADILAN EKONOMI
1. Al - Qur’an, S. Al – lail (XCII) 8 – 9 – 10, artinya : “Adapun orang – orang
kafir tidak mau mengorbankan sedikitpun (dari haknya) dan merasa
cukup sendiri (engoistis) serta mendustakan (mencemoohkan) kebaikan,
maka ia kami licinkan jalan kearah kesukaran (kekacauan).”
2. Al – Qur’an, S. Al – Maidah (V) 8, artinya : “Janganlah sekali – kali
kebencian segolongan orang itu membuat kamu menyeleweng dan tidak
menegakkan keadilan, tegakkan keadilan itulah yang lebih mendekati
taqwa (kebenaran) dan bertaqwalah kamu kepada Tuhan.”
3. Al – Qur’an, S, Al – imran (11) 104 artinya : “Hendaklah diantara kamu
suatu kelompok yang mengajak kebaikan, memerintahkan yang maruf
(baik) sesuai dengan prikemanusiaan dan melarang yang munkar (Uahat)
dan bertaqwalah kamu kepada Tuhan.”
4. Hadist : “Tiap – tiap kamu adalah pemimpin dan tiap – tiap kamu
bertanggung jawab atas pimpinannya.”
5. Ditarik kesimpulan dari keterangan orang – orang beriman Al – Qur’an, S.
AS – Syura (XLII), artinya : “Urusan mereka diselesaikan melalui
musyawarah di antara mereka.”
Al – Qur’an, S. An – Nisa (IV) 59, artinya : “Sesungguhnya kesalahan
terletak pada mereka yang mendalami (bertindak tidak adil) kepada
manusia dan berbuat kekecauan di muka bumi tanpa ada alasan
kebenaran.”
6. Al – Qur’an, S. An – Nisa (IV) 59 : “hai orang – orang yang beriman, taatlah
kamu sekalian pada Tuhanmu agar kamu menunaikan amanat – amanat
kepada yang berhak dan jika kamu memerintahkan diantara manusia,
maka memerintahkan kamu dengan keadilan.”
7. Al – Qur’an, S. An – Nisa (IV) 59, artinya : “Hai orang – orang yang
berimanm, taatlah kamu sekalian kepada Rasul-Nya serta kepada yang
berhak dan jika’ kamu memerintah diantara manusia, maka
memerintahkan kamu dengan keadilan.”
8. Al – Qur’an, S. Al – Maidah (V) 59, artinya : “Barang siapa yang tidak
menjalankan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Tuhan (ajaran
kebenaran), maka mereka itu adalah orang – orang yang jahat.
9. Al – Qur’an, S. Al – Hadid (LVII) 20, artinya : “Ketahuilah bahwa
sesungguhnya hidup di dunia (sejarah) ini adalah permainan kesenangan
dan perhiasan serta saling memegang urusan (pemerintah) diantara
kamu.”
10. Al – Qur’an, S. Al – Isra (XVII) 16, artinya : “Dan jika kami hendak
membinasakan negeri, maka kami perintahkan kepada orang – orang
yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka
melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya
berfaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami) kemudian kami
hancurkan negeri itu sehancur – hancurnya.”
11. Ditarik kesimpulan firman Tuhan tentang orang – orang Yahudi yang
terkutuk (karena sifat – sifat kapitalis mereka yaitu Al – Qur’an, S. An –
Nisa 160 – 161, artinya : “Maka karena kejahatan orang – orang Yahudi
itulah kami menghalangi jalan kepada Tuhan (jalan kebenaran). Demikian
juga karena mereka mengambil riba padahal sudah dilarang, dan karena
mereka merampas harta kekayaan manusia dengan cara yang tidak
benar (batil).
Demikianlah juga dapat disimpulkan dari seruan Nabi Syu’ib kepada
rakhatnya Nabi Syu’ib adalah suatu prototype dari masyarakat yang tidak
adil atau kapatalis) tersebut di tiga tempat, antara lain ialah Al – Quran,
Surat Asy-Syu’ara (XXVI) 182 – 183, artinya : “Dan timbanglah dengan
ukuran yang betul (adil) serta janganlah merampas harta milik sesama
manusia dan janganlah kamu melakukan kejahatan di muka bumi ini
sambil membuat kekacauan.”
Terjadinya tindakan – tindakan atas sesama manusia (exploitation
del’homeper I’home) dipahamkan dari firman Tuhan dalam Al – Qur’an,
Surat Al – Baqarah (11) 279, artinya : “ ....... Dan jika kami tau’bat
(berhenti menjalankan riba atau penindasan kapitalis) maka kamu
memperoleh kembali capital – capitalmu kami tidak boleh mendalami
(memerlukan secara tidak adil, menindas) dan tidak pula boleh didzalimi
(diperlukan tidak adil, ditindas).”
“Jaminan kemenangan bagi kaum miskin dalam (Al – Quran juga disebut
secara khusus dengan Al – Mustaz afun adapun, artinya orang – orang
yang dilemahkan atau dijadikan hina – dina, ditindas), tersebut dalam
rangkaian cerita Fieaun yaitu S. Al Qashahs (XXVII) 5, artinya : “Dan Kami
(Tuhan) menghendaki untuk memberikan pertolongan kepada kaum
tertindas di bumi, untuk menjadikan pula mereka itu pewaris – pewaris.”
12. Pemberantasan kapitalisme harus dilakukan dengan konsekuen, bila perlu
dengan menyatakan perang kepada kaum kapitalis, sesuai dengan
perintah. Tuhan dalam Al – Qu’ran, S. Al – Baqarah (11) 278, artinya : “Hai
orang – orang yang beriman bertaqwalah kamu benar – benar beriman.
Jika tidak kamu kerjakan (perintah meninggalkan riba) maka bersiaplah
kamu sekalian terhadap adanya perang dari Tuhan dan Rasul-Nya (perang
suci jihad. Tetapi jika kamu taubat (berhenti dari penindasan kapitalis)
maka kamu dapat memperoleh kembali capital – Kapitalmu. Kamu tidak
menindas dan tidak pula ditindas.”
13. Al – Qur’an, S. Humazah (CIV) 1-2-3, artinya : Celakalah bagi setiap
pencerca (kaum sinis kepada kebenaran) yang suka mengumpulkan harta
dn
menghitung-hitungnya,
dia
mengira
hartanya
itu
bakal
mengekekalkannya.
14. Kaum muslimin yang seharusnya mempelopori tugas suci itu. Kaum
musimin digambarkan dalam Al – Qu’ran, S. Ali Imran (111) 110, artinya :
“Kamu adalah sebaik-baiknya golongan yang diketengahkan diantara
manusia karena kamu selalu menganjurkan pada kebaikan dan mencegah
daripada kejahatan dan kamu semua beriman kepada Tuhan.”
15. Al – Qu’ran, S. Ash-Shaf (LXI) 2-3, artinya : “Hai orang yang beriman,
mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak kerjakan.”
16. Al – Qu’ran, S. Al-Ankabut (XXIX) 45, artinya : “Sesungguhnya
sembahyang itu mencegah kekejian-kekejian dan sungguh selalu ingat
kepada Tuhan itu merupakan suatu Yang Agung.”
17. Hadist
:
“Sembahyang
adalah
tiang
agama,
barang
siapa
mengerjakannya berarti menegakkan agama dan barang siapa
meninggalkannya berarti merobohkan agama.”
18. Al – Qu’ran, S. Lukman (XYXI) 30, artinya : “Demikianlah, sebab
sesungguhnya Tuhan itulah dan sesungguhnya apa yang mereka pula
selain-Nya adalah kepalsuan dan sesungguhnya Tuhan itu Maha Tinggi
dan Maha Agung.”
19. Al – Qu’ran, S. Ar-Rum (XYX) 37, artinya : “Tidaklah mereka mellihat
bahwa Tuhan melapangkan rizki (ekonomi) bagi siapa saja yang Ia
kehendaki dan menyempitkannya, sesungguhnya dalam hal itu ada
pelajaran-pelajaran bagi orang yang beriman.”
20. Al – Qu’ran, S. At-Taubah (IX) 60, artinya : “Sesungguhnya sedekah (zakat)
itu untuk fakir miskin.’
21. Al – Qu’ran, S. Al-Baqarah (11) 188, artinya : “Dan janganlah kamu
memakan harta dengan cara yang batil (tidak benar) diantara kamu, dan
kamu mengadakan hal itu kepada hakim-hakim (pemerintah) agar kamu
dapat mengambil bagian dari harta orang lain dengan dosa, pada hal
kamu mengetahui.”
22. Al – Qu’ran, S. Furqan (XXV) 67, artinya : “Dan mereka yang apabila
mempergunakan hartanya tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan,
melainkan kepada dalam keseimbangan antara keduanya.”
23. Al – Qu’ran, S. Al-Isra (XVII) 67, artinya : “Berikanlah kepada keluarga itu
haknya (dari harta yang kami miliki) demikian juga kepada orang miskin
dan kepada orang terlantar dan janganlah berlebihan itu adalah kawankawan setan sedangkan setan ingkar kepada Tuhannya.”
24. Al – Qu’ran, S. Al-Isra (XVII) 16, artinya : “Apabila Kami (Tuhan)
menghendaki untuk menghancurkan suatu negeri. Kami berikan
kesempatan kepada orang-orang yang mewah di negeri itu untuk
memerintah, kemudian mereka membuat kecurangan-kecurangan di
negeri itu maka benar-benar terjadilah keputusan kata (vonis) atas negeri
itu, lalu kami hancurkan.”
25. Al – Qu’ran, S. Muhammad (XLVII) 38, artinya : “Demikianlah kamu orangorang yang diserukan untuk mempergunakan hartamu di jalan Tuhan
(untuk kebaikan kepentingan umum), maka diantara kamu ada yang kikir
dan barang siapa kikir maka sesungguhnya ia kikir pada dirinya sendiri.
Tuhan tidak memerlukan sesuatupun tetapi kamulah yang memerlukan
dan kalau kamu berpaling tidak mau mempergunakan harta untuk
kebaikan umum. Tuhan akan menggantikan kamu dengan golongan lain
kemudian mereka tidak lagi seperti kamu.”
26. Al – Qu’ran, S. Thaha (XX) 6, 63, 4, 123, 131, 132 artinya : “Ingatlah
bahwa sesungguhnya kepunyaan Tuhanlah segala sesuatu yang ada di
langit dan di bumu.”
27. Al – Qu’ran, artinya : “Adalah Kami (Tuhan) yang sesungguhnya
menempatkan kamu ke bumi dan membuat untuk kami sekalian di
dalamnya prikehidupan mata pencaharian.”
28. Al – Qu’ran, S. Al-Hadid (LVII) 7, artinya : “Berimanlah kamu kepada Tuhan
dan Rasulnya dan dermakanlah dari harga kamu jadikan oleh Tuhan untuk
mengurusnya.”
29. Al – Qu’ran, S. Al-Isra (XVII) 67, artinya : “Dan berikanlah kepada mereka
(orang-orang miskin) itu dari harta Tuhan yang telah diberkahkan-Nya
kepadamu.”
30. Al – Qu’ran, S. Al-Ma’aridi (LXX) 24-25, artinya : “Dan orang-orang pada
harta mereka terdapat hak yang pasti bagi orang miskin yang memintaminta maupun yang tidak minta-minta.”
KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN
1. Al – Qu’ran, S. At-Tien (XCV) 6, artinya : “Kecuali mereka yang beramal
saleh.”
2. Al – Qu’ran, S. Al-Qashash (XXVII) 8, artinya : “Segala sesuatu itu rusak
(berubah) kecuali dari padanya.”
3. Al – Qu’ran, S. Al-An’am (VI) 57, artinya : “Sesungguhnya hukum atau nilai
itu hanya kepunyaan Allah, Dia menerangkan keberatan dan Dia adalah
sebaik-baiknya pemutus perkara.”
4. Al – Qu’ran, S. Al-Isra (XVII), artinya : “Dan janganlah engkau mengikuti
sesuatu yang tidak mempunyai pengertian akan dia, sebab sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati nurani itu semuanya bertanggung
jawab atas hal tersebut”
5. Al – Qu’ran, S. Fathir (XLI), artinya : “Akan perhatikan kepada mereka
(manusia) tanda-tanda Kami diuar angkasa dan dalam diri mereka sendiri
sehingga menjadi jelas bahwa Al – Qur’an itu benar. Tidaklah cukup
dengan Tuhan bahwa Dia menyaksikan segala sesuatu”
6. Al – Qu’ran, S. Fathir (XXXV) 287, artinya : “Sesungguhnya yang bertaqwa
tidak hanya Tuhan melainkan Allah begitu pula pada Malaikat dan orangorang yang berilmu pengetahuan dengan tegak pada kejujuran”
7. Al – Qu’ran, S. Muhaddalah (LVIII) 11, artinya : “Allah mengangkat orangorang diantara kamu dan yang berilmu pengetahuan yang bertingkattingkat”
8. Al – Qu’ran, S. Al-Jatsiyah (XLV) 134, artinya : “Dan Dia (Tuhan)
menyediakan bagi kamu apa yang ada dilangit dan di bumi”
9. Al – Qu’ran, S. Al-Imran (III) 137, artinya : “Telah lewat setelah kamu
hukum-hukum sejarah, maka menggambarkan di muka bumi kamu
kemudian perhatikanlah olehmu bagian akibat orang-orang yang
mendustakan-Nya”
10. Al – Qu’ran, S. As Syam (XCI) 9-10, artinya : “Sungguh berbahagialah dia
yang membersihkannya, (sisinya) dan sungguh celakalah bagi mereka
yang mengotorinya (dirinya)”
11. Al – Qu’ran, S. Yusuf (XI) 111, artinya : “Sungguh dalam riwayat mereka
itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berfikir”
PROGRAM KERJA NASIONAL
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
A. Pengantar
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dilahirkan pada tanggal 14 Rabi’ul
awal 1366 H yang bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947, mempunyai
motivasi dasar untuk mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia
ini mempunyai derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan
mengembangkan ajaran Islam. Motivasi dasar inilah yang menjadi wawasan
dan komitmen kebangsaan dan ke-Islaman bagi pengembangan organisasi.
Sebagai organisasi berasas Islam maka setiap gerak langkah HMI senantiasa
dilandasi oleh ajaran Islam baik dalam kehidupan organisasi maupun yang
tercermin dalam sikap pola pikir, sikap dan tindak kader HMI sehingga ajaran
Islam tidak hanya menjadi sumber inspirasi dan motivasi tetapi sekaligus
menjadi tujuan yang harus diwujudkan.
Ajaran Islam bagi HMI harus diwujudkan dalam kehidupannya, baik dalam
rangka mengabdi kepada Allah SWT maupun dalam tugas kekhalifahannya.
HMI berusaha secara nyata untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia,
yaitu masyarakat adil dan makmur yang dirdhoi Allah SWT, serta mampu
menjaga eksistensi bangsanya di tengah interaksi bangsa-bangsa di dunia.
HMI merupakan wadah sekaligus instrumen harus mampu memberikan
sumbangan yang bermanfaat bukan hanya untuk para anggotanya namun
sekaligus untuk masyarakat, bangsa, negara dan agama serta mampu
menempatkan dirinya menjadi “Rahmatan lil ‘Alamin”.
Untuk mewujudkan tujuan HMI, maka perlu suatu penjabaran lebih lanjut
dalam bentuk Program Kerja Nasional (PKN).
B. Pengertian
a. Program Kerja Nasional (PKN) adalah penjabaran Pasal Usaha dalam
Anggaran Dasar yang penyusunannya ditujukan untuk mencapai tujuan
HMI dan diselimuti oleh asas Islam, status organisasi mahasiswa, sifat
independen, dan peran sebagai organisasi perjuangan.
b. Program Kerja Nasional (PKN) berfungsi sebagai pedoman bagi
penyusunan program kerja seluruh struktur HMI dan merupakan
inspirasi seluruh anggota HMI.
c. Program Kerja Nasional (PKN) terdiri dari program jangka panjang yang
ditinjau paling cepat empat tahun sekali dan jangka pendek yang
ditinjau tiap dua tahun sekali.
C. Maksud dan Tujuan
Program Kerja Nasional dimaksudkan dan ditujukan untuk memberikan
dasar-dasar, arah dan sasaran serta langkah-langkah kongkrit organisasi
dalam
pencapaian
tujuan
HMI
secara
terpadu,
bertahap,
dan
berkesinambungan antara periode sebelumnya dengan periode berikutnya.
D. Landasan
Program Kerja Nasional ini didasarkan pada:
a. Anggaran Dasar HMI khususnya pasal 5 tentang usaha
b. Anggaran Dasar HMI pasal 3, 4, 6, 7, 8, dan 9 beserta penjabarannya
E. Modal Dasar
Modal dasar Program Kerja Nasional adalah potensi yang dimiliki HMI yaitu :
a. Ide dasar kelahiran HMI Pertama mempertahankan Negara Republik
Indonesia dan mempertinggi harkat dan martabat Rakyat Indonesia;
Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam.
b. Status dan kedudukan HMI yang dijamin oleh pasal 28 UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
c. Modal rohaniah (iman, spiritual) dan mental, yaitu ajaran Islam yang
bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan pedoman
bagi kader HMI dalam berpikir, bersikap dan berperilaku dalam
melaksanakan aktivitasnya.
d. Potensi dalam tubuh HMI, yaitu ke-kaderan anggota HMI dari berbagai
disiplin ilmu, segenap perangkat organisasi serta budaya organisasi
yang telah ditanamkan sejak kelahirannya.
e. Potensi alumni HMI yang tersebar di berbagai sektor masyarakat.
F. Medan Berkiprah dan Pengabdian
S
ebagai organisasi mahasiswa Islam yang hidup dan berkembang di kampuskampus di Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun luar Negara
Kesatuan Republik Indonesia maka medan berkiprah dan pengabdian HMI
adalah kampus, umat Islam, masyarakat bangsa dan Negara Indonesia, dan
masyarakat bangsa dan Negara non Indonesia.
BAB II
PROGRAM JANGKA PANJANG
Program Kerja Nasional (PKN) Jangka Panjang meliputi kurun waktu 4 tahun
sebagai arah dan landasan bagi penyusunan program HMI secara
keseluruhan.
A. Pengertian
1. Program jangka panjang pada dasarnya adalah program umum HMI
yang disusun untuk jangka waktu tertentu (empat tahun) guna
memberi arah bagi penyusun program jangka pendek (per periode).
2. Program jangka panjang merupakan rangkaian program HMI yang
disusun sejak tahun 2006 untuk jangka waktu 2 kali periode
kepengurusan. Yang selanjutnya disusun untuk periode dari tahun
2010 sampai tahun 2014.
B. Arah dan Sasaran
Program jangka panjang ini diarahkan pada hal-hal sebagai berikut:
1. Program jangka panjang dilaksanakan dalam rangka memelihara
melanjutkan dan mewujudkan cita-cita dan misi organisasi dengan
melaksanakan kegiatan-kegiatan dibidang:
 Peningkatan kualitas ke-Islaman anggota HMI dan umat Islam
Indonesia.
 Peningkatan dan pengembangan sistem dan pelaksanaan pola
pembinaan anggota HMI.
 Restrukturisasi HMI, peningkatan kualitas aparat organisasi dan
mekanisme berorganisasi dengan penerapan teknologi informasi
dalam manajemen organisasi.
 Peningkatan dan pengembangan keberadaan HMI di dunia
perguruan tinggi (khususnya kampus excellent), kemahasiswaan
dan kepemudaan
 Peningkatan pengembangan intelektualitas dan profesionalitas
kader.
 Peningkatan dan pengembangan peran kritis HMI dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
 Peningkatan peran dan partisipasi HMI dalam menegakkan nilai-nilai
keadilan, demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).
 Mengawal dan memandu jalannya reformasi bangsa Indonesia.
 Peningkatan dan pengembangan kreativitas dan peran kritis HMIwati terhadap permasalahan perempuan Indonesia.
 Peningkatan dan pengembangan responsibilitas terhadap dinamika
internasional.
 Peningkatan peran dan partisipasi HMI dalam supremasi hukum di
Indonesia.
2. Pengembangan bidang-bidang lainnya dilaksanakan selaras dengan
hasil-hasil yang dicapai didalam bidang di atas. Sebaliknya
peningkatan yang dicapai diatas akan merupakan pendorong utama
bagi perkembangan bidang-bidang yang lain.
3. Dalam pelaksanaan Program Jangka Panjang HMI harus senantiasa
mengacu pada nilai-nilai ajaran agama Islam dan hakekat organisasi
sehingga dua faktor ini menjadi kerangka dasar dalam menentukan
langkah-langkah organisasi.
4. Sasaran utama Program Jangka Panjang adalah mewujudkan kehidupan
organisasi yang berkualitas dan mandiri sehingga partisipasi dalam
mewujudkan cita-cita bangsa indonesia yaitu masyarakat adil dan
makmur yang diridhoi Allah serta turut menjaga eksistensi bangsa
ditengah interaksi bangsa-bangsa di dunia.
5. Untuk mencapai tujuan Program Jangka Panjang perlu ditetapkan
pejabaran yang dilakukan secara terpadu, teratur, terencana dan
konsisten, meliputi :
Tahap I :
Dititik beratkan pada peningkatan implementasi ajaran
Islam bagi anggota; peningkatan sistem dan pelaksanaan
pembinaan anggota; restrukturisasi HMI dan peningkatan
kualitas aparat organisasi; peningkatkan intelektualitas dan
profesional kader dan peningkatan keberadaan HMI di dunia
perguruan
tinggi
(khususnya
kampus
excellent),
kemahasiswaan dan kepemudaan; dan peningkatan peran
kritis HMI-wati.
 Tahap II :
Dititik
beratkan
pada
aspek
peningkatan
dan
pengembangan peran kritis HMI dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; peningkatan
peran dan partisipasi HMI dalam menegakkan nilai-nilai
demokrasi dan hak asasi manusia (HAM); serta mengawal
dan memandu jalannya reformasi bangsa Indonesia.
 Tahap III :
Dititik beratkan pada penempatan dan pengembangan
semua bidang dalam proses aktualisasi organisasi dalam
penigkatan daya saing bangsa (national competence)
ditengah dinamika internasional.
BAB III
PROGRAM JANGKA PENDEK
A. Pengertian
1.
Program Kerja Nasional (PKN) Jangka Pendek meliputi kurun waktu 2
(dua) tahun sebagai arah dan landasan bagi penyusunan program
struktur HMI secara keseluruhan.
2.
Program jangka pendek merupakan rangkaian program HMI yang
disusun untuk kepengurusan seluruh struktur HMI tahun 2010-2012.
B. Fungsi PKN Jangka Pendek (2010-2012)
Program Kerja Nasional (PKN) HMI 2010-2012 berfungsi sebagai:
C.
1.
Pedoman atau acuan penyelenggaraan Program Kerja HMI secara
nasional oleh seluruh struktur HMI masa bakti 2010-2012.
2.
Instrumen pengawasan terhadap program kerja seluruh struktur HMI
dalam periode kepengurusannya (2010-2012).
Tujuan dan Prioritas PKN Jangka Pendek 2010-2012
Tujuan dan Prioritas Program Kerja Nasional Jangka Pendek 2010-2012
adalah:
a.
Mencapai Arah dan Sasaran Jangka Panjang Tahap I. Artinya program
diprioritaskan pada peningkatan implementasi ajaran Islam bagi
anggota; peningkatan sistem dan pelaksanaan pembinaan anggota;
restrukturisasi HMI dan peningkatan kualitas aparat organisasi;
peningkatkan intelektualitas dan profesional kader dan peningkatan
keberadaan HMI di dunia perguruan tinggi (khususnya kampus
excellent), kemahasiswaan dan kepemudaan; dan peningkatan peran
kritis HMI-wati
b.
Terciptanya peran kritis HMI dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara serta partisipasi dalam menegakkan nilainilai demokrasi dan memandu jalanya reformasi di Indonesia.
D. Program Bidang
1. Program Kerja Bidang Intern
1.1 Bidang Pembinaan Anggota
a. Konsolidasi pelaksanaan Pedoman Perkaderan hasil Lokakarya
tahun 2010 yang telah disahkan Kongres XXVII
b. Sosialisasi materi terurai LK I dan membuat materi terurai untuk
LK II dan LK III
c. Membuat LK I, LK II, dan LK III percontohan dengan memanfaatkan
media audio visual dan disosialisasikan kepada seluruh tingkat
struktur HMI sebagai upaya standarisasi kualitas LK di HMI secara
nasional.
d. Menyusun Silabus dan menyelenggarakan Pusdiklat.
e. Menertibkan pelaksanaan pelatihan dan pembinaan anggota di
semua jenjang.
f. Inovasi dalam masifikasi penghayatan Islam versi HMI (NDP)
kepada anggota.
g. Menyusun silabus pembinaan atau follow up LK I dan LK II.
h. Bekerjasama dengan bidang terkait untuk menyusun data base
anggota
i. Meningkatkan dan pelaksanaan AD/ART dan penjabarannya hasil
Kongres XXVI kepada anggota
1.2 Bidang Pembinaan Aparat Organisasi
a. Melakukan restrukturisasi HMI dan menerapkan manajemen
organisasi berbasis teknologi informasi.
b. Menegakkan disiplin regenerasi kepengurusan tepat pada
waktunya sesuai dengan AD/ART HMI dan penjabarannya
c. Menyusun sistem pada pola rekruitmen pengurus HMI
d. Melakukan akreditasi atas standar kelayakan keberadaan seluruh
struktur HMI, terutama struktur kepemimpinan.
e. Mengefektifkan pelaksanaan pembuatan laporan kegiatan.
1.3 Bidang Kesekretariatan
a. Menyempurnakan pedoman administrasi kesekretariatan yang
relevan dengan tuntutan dan perkembangan internal dan
eksternal organisasi
b. Mengusahakan tersedianya sekretariat/kantor HMI yang permanen
dan representatif di setiap Wilayah dan Cabang.
c. Melaksanakan
aktifitas
yang
mendorong
terwujudnya
kesekretariatan sebagai pusat dokumentasi dan informasi
organisasi.
d. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan pengelolaan
kesekretariatan melalui Up-Grading Kesekretariatan.
e. Melengkapi sarana dan pra sarana kesekretariatan dalam rangka
modernisasi organisasi.
f. Meningkatkan pengelolaan website HMI yang terintegrasi sebagai
representasi keberadaan dan aktifitas HMI di dunia maya.
1. 4. Bidang Keuangan, Harta Benda dan Perlengkapan
a. Menyusun sistem penggalangan, pengelolaan dan pengawasan
pendanaan organisasi
b. Mengaktifkan pengelolaan iuran anggota secara modern.
c. Mengusahakan terwujudnya kegiatan-kegiatan usaha sebagai
sumber dana untuk membiayai kegiatan organisasi.
d. Menegakkan tertib administrasi keuangan dan harta benda HMI.
e. Menyusun anggaran rutin dan anggaran kegiatan.
1.5. Bidang Kewirausahaan & Pengembangan Profesi
a. Mendorong Lembaga Pengembangan Profesi untuk melakukan
program kerjasama dengan berbagai instansi baik pemerintah,
swasta dan lembaga swadaya masyaraka
b. Mengembangkan Lembaga Pengembangan Profesi berdasarkan
potensi, minat dan bakat anggota di Wilayah dan Cabang
c. Membangun jaringan antar lembaga
pengembangan profesi
dalam rangka meningkatkan kemandirian organisasi.
1. 6. Bidang Pemberdayaan Perempuan
a. Sosialisasi dan pelaksanaan Pedoman dasar KOHATI.
b. Mengembangkan kajian-kajian/studi dasar keperempuanan.
c. Mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga yang
berkewajiban dalam rangka meningkatkan peran perempuan
dalam kehidupan masyarakat.
d. Melakukan advokasi atas isu-isu keperempuanan di seluruh
Indonesia.
e. Meningkatkan intelektualitas, religiusitas dan profesionalitas HMIwati
2.
Program Kerja Bidang Ekstern
2.1.
Bidang
Kepemudaan
Perguruan
Tinggi,
Kemahasiswaaan
dan
a. Melakukan gerakan HMI back to campus, khususnya kampuskampus
excellent
dimana
HMI
pernah
menguasainya.
Berpartisipasi dalam meningkatkan peran dan fungsi perguruan
tinggi yang telah dikuasai untuk menumbuhkan terciptanya
kehidupan kampus yang dinamis melalui peran kemahasiswaan
b. Mengusahakan terciptanya kehidupan kampus yang dinamis
melalui peran aktif dalam usaha membina dan mengmbangkan
aktifitas-aktifitas kemahasiswaan
c. Melakukan
disrtribusi
anggota-anggota
ke
lembaga
kemahasiswaan
intra
kampus
dalam
rangka
mengimplementasikan misi organisasi
d. Melakukan distribusi kader ke dalam organisasi kepemudaan dan
kemasyarakatan
e. Berperan aktif dalam mendinamisir kehidupan dalam rangka
meningkatkan kemadirian pemuda Indonesia
f. Mengadakan latihan-latihan yang dapat menumbuhkan advokasi
pemuda
dan
mahasiswa
terhadap
persoalan-persoalan
kemasyarakatan
g. Membentuk sistem jaringan organisasi dan gerakan mahasiswa.
2.2. Bidang Pemberdayaan Umat
a. Merumuskan pola pola hubungan kerja sama HMI dengan lembaga
dan organisasi kemasyarakatan Islam baik nasional maupun
internasional
b. Berperan aktif dalam menigkatkan fungsionalisasi nilai-nilai ajaran
Islam dalam kehidupan masyarakat
c. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan
pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai ke-Islaman di tengahtengah masyarakat.
d. Mengusahakan tersedianya media komunikasi antar generasi
muda Islam.
e. Mengupayakan adanya forum dialog lintas agama dan budaya
f. Melakukan kajian terhadap perkembangan pemahaman pemikiran
Islam.
2.3. Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional
a. Melaksanakan kajian terhadap berbagai aspek reformasi
pembangunan nasional di bidang pembangunan nasional.
b. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan
kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat (daerah).
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan otonomi daerah.
d. Meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan berbagai
kalangan, antara lain dengan pemerintah, lembaga legislatif,
Orsospol,
Ormas,
dan
lembaga-lembaga
pengembangan
kemasyarakatan serta melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
dapat mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang
demokratis dan berkeadilan.
e. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
keutuhan bangsa dan Negara Indonesia
dapat
meningkatkan
2. 4. Bidang Hubungan Internasional
a. Meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan berbagai
organisasi, mahasiswa dan pemuda Islam internasional.
b. Berperan aktif di berbagai aktifitas kemahasiswaan dan pemuda
internasional
c. Meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan perwakilan
negara sahabat dan berbagai lembaga internasional yang ada di
Indonesia
d. Menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga pendidikan luar
negeri
dan
mengadakan
pertukaran
antar
organisasi,
mahasiswa/pemuda
e. Melakukan kajian tentang masalah-masalah internasonal
f. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan anggota HMI tentang
berbagai masalah-masalah internasional
g. Merumuskan strategi rekruitmen untuk mahasiswa Islam yang ada
di luar negeri dan merintis kemungkinan didirikan Cabang HMI di
luar negeri
h. Melakukan kontrol terhadap kebijakan luar negeri pemerintah RI.
2.5. Bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Hidup
a. Melakukan kajian dan pengawasan atas berbagai aspek
perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan
hidup.
b. Melakukan kampanye pemanfaatan sumber daya alam yang
berkesinambungan dan perlindungan terhadap lingkungan hidup.
c. Melakukan advokasi atas pemanfaatan sumber daya alam yang
tidak sesuai dengan AMDAL.
d. Melakukan kerjasama dengan instansi atau lembaga terkait baik
pemerintah, swasta, maupun lembaga swadaya masyarakat
dalam rangka memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam
secara benar dan perlindungan terhadap lingkungan hidup.
2.6. Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia(HAM)
a. Melakukan kajian dan pengawasan atas berbagai aspek Hukum
dan HAM.
b. Melakukan penekanan kepada Pemerintah agar memprioritaskan
pembangunan nasional yang menekankan kepada terciptanya
Supremasi Hukum dan terlaksananya HAM.
c. Melakukan advokasi atas permasalahan di bidang Hukum dan
pelanggaran HAM.
d. Melakukan kerjasama dengan instansi atau lembaga terkait baik
pemerintah, swasta, maupun lembaga swadaya masyarakat
dalam rangka reformasi serta penegakan Hukum dan HAM.
2.7. Bidang Informasi dan Komunikasi
a. Melakukan kegiatan yang berkaitan dengan teknik komunikasi di
berbagai media informasi dalam rangka sosialisasi HMI baik
nasional atau lokal.
b. Melakukan kerjasama dengan instansi atau lembaga terkait baik
pemerintah atau swasta maupun Lembaga Swadaya masyarakat
dalam rangka memperkuat jaringan (network) dengan tujuan
membangun tali silaturrahmi.
c. Mengusahakan media informasi dan komunikasi diantara
organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan baik nasional
maupun internasional.
d. Membuat dan memaksimalkan fungís web site HMI atau portal
dalam dunia maya sebagai pusat informasi dan komunikasi kader–
kader HMI.
e. Memfasilitasi pusat informasi bebas pulsa untuk menampung
informasi di tingkatan badko dan cabang-cabang.
E.
PENJABARAN PROGRAM KERJA NASIONAL
Pada dasarnya PKN diperlukan secara nasional yang dalam penjabarannya
disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lingkungan masing-masing. Ini
berarti, bila hal ini dilaksanakan secara baik, maka dengan sendirinya akan
tercipta beragam program kegiatan untuk merealisasikannya. Keberhasilan
pelaksanaan program pada suatu periode memberikan landasan positif bagi
pelaksanaan PKN pada periode-periode selanjutnya.
Untuk selanjutnya agar rumusan PKN ini lebih bersifat teknis operasional dan
terkait maupun instansi pelaksanaannya maka akan dijabarkan lebih jauh
dalam rapat kerja maupun rapat koordinasi. Di tingkat PB HMI di susun
Program Kegiatan yang bersifat nasional sebagai penjabaran PKN, di tingkat
Wilayah disusun Program Kerja Regional, di tingkat Cabang disusun Program
Kerja Cabang dan di tingkat Komisariat disusun Program Kerja Komisariat.
Hal-hal ini perlu diperhatikan dalam penjabaaran pelaksanaan PKN adalah :
 Adanya konsistensi misi organisasi
 Adanya kesinambungan persepsi, konsepsi dan program organisasi
 Adanya pertimbangan situasi, kondisi, potensi dan masalah
lingkungan.
 Adanya pertimbangan implikasi terhadap mekanisme organisasi.
F.
EVALUASI PELAKSANAAN PKN
Pada tahap pelaksanaan program kerja akan diadakan Evaluasi (evaluasi
pelaksanaan) untuk mengetahui realisasi program dan kesesuaiannya
dengan arah dan sasaran yang telah ditetapkan, penyimpanganpenyimpangan yang terjadi, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan, serta
penetapan program kerja selanjutnya.
Hasil evaluasi merupakan petunjuk tambahan yang baru untuk mewujudkan
penyesuaian-penyesuaian usaha berdasarkan situasi, kesempatan serta
sumber daya yang ada. Dengan demkian pelaksanan program kerja
senantiasa realistis dan relevan serta dapat dicapai dengan hasil
Wabilahittaufiq wal hidayah
REKOMENDASI KONGRES XXVII
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENDAHULUAN
Sebagai sebuah entitas yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia,
mahasiswa adalah anak kandung sejarah yang mampu melahirkan
momentum-momentum perubahan demi menata arah perjalanan bangsa ke
arah yang lebih baik dari masa ke masa. Peran-peran kebangsaan
mahasiswa yang vital ini diperoleh karena posisi istimewa mereka sebagai
duta masa depan bangsa. Sebab, peran alamiah dari mahasiswa ialah
sebagai kelompok terpelajar yang memiliki kepeloporan dan kepemimpinan
untuk menggerakkan sumber daya dan potensi yang ada pada umat, bangsa
dan negaranya. Lewat serangkaian momentum perubahan sosial dalam
usaha untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita Indonesia sebagai bangsa
yang merdeka dan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin untuk
membentuk sebuah peradaban yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur
(dalam konteks mahasiswa muslim).
Keistimewaan tersebut pada awalnya diperoleh berasal dari kesempatan
mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan tinggi dari proses perkuliahan.
Dengan demikian, mereka memiliki kelebihan dalam hal ilmu dan
pengetahuan bila dibandingkan dengan anggota masyarakat lain. Inilah yang
menjadikan mahasiswa mendapatkan status elite modern di dalam struktur
sosial masyarakat. Keluasan ilmu dan pengetahuan tersebut yang menuntun
mahasiswa bertransformasi menjadi rausyan fikr (kaum yang tercerahkan),
sehingga berbekal ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, mahasiswa dapat
untuk melihat dengan jernih kondisi melingkupi bangsanya. Sehingga
mampu memberikan solusi bagi permasalahan kontemporer, serta
memberikan proyeksi bagi bangsanya agar siap untuk menghadapi
tantangan di masa depan.
Misi dari rausyan fikr ini adalah misi profetik (misi-misi kenabian) yaitu
sebuah tradisi progressif untuk mendorong perubahan struktural guna
mewujudkan peradaban manusia untuk menjadi lebih adil dan sejahtera
serta membebaskan manusia dari segala problematikanya. Misi ini
mewajibkan mahasiswa untuk selalu berada dalam kondisi
awas dan
waspada ketika mereka bersentuhan dengan kenyataan di lapangan
mengenai kondisi bangsanya, guna menangkap tanda-tanda pada zaman
yang selalu bergerak. Dengan demikian mahasiswa juga harus menjadi
intelektual organik (Gramscian) yang berfungsi sebagai agen perubahan
sosial yang tidak saja berkutat di menara gading sebagai pengamat dan
penghasil teori sosial belaka, namun turut serta berproses dalam
menggagas, merekayasa, dan melaksanakan perubahan sosial itu sendiri.
Dalam melaksanakan misi, peran dan fungsinya tersebut mahasiswa
membutuhkan wadah sebagai alat perjuangan, tempat untuk mengkreasikan
ide dan gagasan, serta menghimpun kekuataan dan sumber daya yang
dimilikinya. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu alat
perjuangan dari mahasiswa Indonesia, sebagai bentuk ijtihad dan rasa
tanggungjawab mahasiswa muslim dalam memenuhi basis demand bangsa
Indonesia untuk turut serta memperjuangkan terwujudnya sebuah bangsa
Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Karena, bagi HMI Indonesia dan Islam adalah dua entitas yang saling berjalin
dan berkelindan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sehingga
dalam mengekspresikan keIslamannya, HMI sekaligus telah menyatakan
keindonesiaannya. Karena, perjuangan HMI sebatas hendak mengamalkan
nilai-nilai luhur universal yang diserapnya dari ajaran-ajaran Islam dalam
wadah
tanah
air
Indonesia
tercinta,
bukan
perjuangan
untuk
memformalisasikan syariah Islam.
Maka dengan demikian, HMI pun tidak boleh bertentangan dengan Pancasila
dalam menjalankan misi, peran dan fungsinya tersebut. Karena, Pancasila
memiliki fungsi dan peran fundamental dalam tatanan kehidupan berbangsa
dan bernegara di Indonesia, sebagai dasar negara, sebagai konsensus dasar
dan kontrak sosial bangsa Indonesia, sebagai seperangkat nilai yang menjadi
identitas kultural, dan pada akhirnya merupakan pengejawantahan visi
bangsa Indonesia untuk menciptakan sebuah peradaban.
Bagi HMI, Pancasila merupakan objektifikasi dari nilai-nilai universal Islam
yang hidup dalam alam kebatinan masyarakat Indonesia. Jadi tidak ada
kontradiksi diantara keduanya yang bisa saling di pertentangkan, namun
justru saling hidup dan menghidupkan satu sama lain. Ini merupakan bukti
komitmen HMI terhadap keindonesiaan, sebagai kelanjutan dari sistem
keimanannya. Oleh karena itu, cita-cita peradaban Islam dan tujuan nasional
Indonesia merupakan dua hal pokok yang menjadi tujuan HMI untuk
diwujudkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Meskipun HMI seringkali mengalami proses metamorfosa dalam menjalankan
peran-peran kebangsaannya, tetap saja entitas HMI sebagai organisasi
mahasiswa yang menjadi pilar dalam mempertahankan nilai-nilai
kebangsaan. Wujud permulaannya adalah peran HMI sebagai organisasi
perkaderan, dengan segenap nilai dan metodologi yang dimiliki untuk
membina kader-kader umat dan bangsa (mahasiswa muslim Indonesia)
menjadi insan cita, untuk siap menjadi pemimpin di masa mendatang. Kaderkader insan cita ini memiliki kesamaan visi dan konsep tentang umat dan
bangsa yang dicita-citakanya, meskipun berbeda latar belakang dalam hal
manhaj, daerah asal, maupun bidang ilmu pengetahuan.
Kumpulan dari kader-kader insan cita tersebut membentuk sebuah jaringan
epistemic community yang merupakan wujud HMI sebagai kelompok
strategis yang memiliki sejumlah agenda untuk terus menggulirkan rekayasa
sosial hingga cita-cita dan tujuan dari Islam dan Indonesia tercapai. Derivasi
dari agenda tersebut adalah wujud HMI sebagai kelompok kepentingan yang
berperan mengadvokasi visi dan konsep kebangsaannya melalui jalur-jalur
agama, politik, ekonomi, sosial dan budaya di tengah sistem kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Dalam proses perjuangan mewujudkan cita-cita tersebut, maka peluang
keberhasilannya akan sangat berhubungan erat dengan tantangan dan
peluang yang terjadi pada saat itu. Dalam konteks wacana kontemporer,
globalisasi merupakan semangat zaman yang berkembang saat ini. Dengan
begitu, HMI harus dapat memberikan proyeksi dan solusi bagi bangsa
Indonesia, agar siap menghadapi berbagai konsekuensi yang akan di
hadapinya, sehingga bangsa ini tetap mampu bersaing dalam arena
kompetisi internasional serta tidak tergilas oleh roda zaman.
Globalisasi telah menghantarkan peradaban umat manusia ke dalam suatu
kondisi, di mana melalui pencapaian taraf teknologi komunikasi, informasi,
dan transportasi membuat ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan
signifikan bagi aktifitas kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi
sebagai faktor utama yang membangun kesejahteraan sebuah bangsa.
Dampaknya bagi hubungan internasional adalah lahirnya sebuah arena
kompetisi diantara bangsa-bangsa yang bernama pasar bebas. Norma dan
aturan yang berlaku dalam arena tersebut adalah survival of fittest, dimana
negara yang kuat akan berkuasa dan menjelma menjadi bangsa yang
memiliki peradaban besar, yang memiliki pengaruh besar dan
menghegemoni dunia dalam hal ekonomi, politik, militer maupun budaya.
Dengan
demikian,
negara
tersebut
pun
bisa
memaksimalkan
kepentingannya kepada negara lain yang jauh lebih lemah untuk
mempertahankan kekuasaaan dan hegemoninya tersebut.
Kondisi ini akan menjadi sumber ketimpangan di dunia, di mana akan ada
bangsa yang hanya akan sekadar menjadi lahan eksploitasi bagi bangsa lain
yang lebih kuat. Ini merupakan hasil dari mekanisme alamiah akumulasi
modal dari proses perdagangan bebas tersebut, dan juga merupakan tipikal
eksploitasi kemanusiaan (penjajahan) di masa mendatang yang dilegalkan
lewat perjanjian-perjanjian konspiratif internasional.
Eksistensi suatu negara dan bangsa untuk mampu bertahan dalam kondisi
seperti itu sangat di tentukan oleh penguasaan ideologi, teknologi,
penguasaan sumber daya alam, dan sumber daya manusia unggul yang
dimiliki. Dengan begitu, negara bangsa tersebut menguasai aspek material
maupun aspek non material sebagai modal kontestasi mereka di arena pasar
bebas.
Selain itu ada tiga pilar utama yang menentukan eksistensi dan superioritas
suatu bangsa. Pertama. Keyakinan atau pandangan bangsa itu tentang
kekuatan dan keunggulan bangsa tersebut atas bangsa lain. Kedua,
kemampuan bangsa tersebut dalam menginterprestasikan secara intelektual
dan saintifik atas kayakinan tersebut dalam realitas kehidupan. Ketiga,
adanya manusia par excellence yang berani dan cerdas untuk mendasarkan
hidupnya atas keyakinan tersebut secara penuh dan komprehensif.
Menghadapi kondisi tersebut HMI ingin melahirkan sebuah pemikiran
sebagai sebuah keyakinan HMI akan kebangkitan Indonesia, berupa visi
kebangsaan yang juga merupakan solusi sekaligus proyeksi bagi bangsa ini,
sebagai bentuk respon HMI terhadap tantangan yang akan dihadapi di masa
mendatang. Momentum Kongres HMI XXVII diharapkan mampu melahirkan
suatu kebulatan tekad untuk berbuat yang lebih baik, bagi umat manusia,
Bangsa dan Negara Indonesia.
Agar program aksi seluruh jajaran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
terkoordinasi dengan baik, perlu ditunjang oleh suatu pemahaman bersama
tentang kondisi perkembangan lingkungan strategis HMI, baik secara internal
maupun eksternal. Mengingat pentingnya kesamaan persepsi dalam
menyikapi perubahan-perubahan lingkungan strategis itulah, Kongres XXVII
Himpunan Mahasiswa Islam dengan ini mengeluarkan rekomendasi kepada
seluruh jajaran Himpunan Mahasiswa Islam periode 2010-2012 dengan
didasarkan pada; Al-Qur,an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, AD/ART HMI,
dan kebutuhan akan masa depan organisasi sebagai berikut:
I. Rekomendasi Internal
Memperhatikan kondisi internal HMI, kita patut prihatin dengan semakin
berkurangnya daya saing organisasi. Namun bukan berarti bahwa
kesempatan untuk melakukan pembenahan-pembenahan telah tertutup
sama sekali. Karena itu, Kongres XXVII merekomendasikan upaya-upaya
perbaikan internal organisasi dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Bahwa letak persoalan yang paling penting dihadapi oleh HMI berasal
dari kader-kader HMI sendiri. Dewasa ini, terlihat bahwa kader-kader
HMI terutama yang aktif di kepengurusan, semakin tidak antusias
mengembangkan kualitas individunya.
2. Militansi kader yang rendah, karena tidak didukung oleh daya nalar
dan skill yang kuat, sehingga mudah diombang-ambingkan oleh isu-isu
dari luar. Tentu tidak semua isu yang datang dari luar harus ditepis,
tapi setidaknya, respons atas sebuah isu hendaknya mampu dikritisi
secara intelektual sebelum diberi apresiasi.
3. Melaksanakan NDP HMI Hasil Kongres Malang dalam setiap jenjang
training HMI.
4. Membangun HMI sebagai Laboratorium Kajian Pembaharuan Pemikiran
Islam dan Tafsir Alternatif Al-Quran dan Al-Hadist.
5. Kurikulum Perkaderan: diarahkan untuk mendukung integrasi program
LK I (Basic training), LK II (Intermediate Training) dan LK III (Advance
Training),
serta
menjamin
kualitas
proses
sehingga
dapat
diwujudkannya academic excellence. Termasuk mengaitkan penelitian
dan pengembangan serta merekonstruksi sistem ilmu pengetahuan
umat Islam (natural science, social science dan religious science).
6. Kembali kepada Ilmu sebagai Basis Pengembangan Organisasi dan
Peningkatan Kualitas Kader.
7. Komposisi kepengurusan di seluruh tingkatan terlalu banyak, sehingga
ketua umum di seluruh tingkatan, tidak memiliki waktu yang cukup
untuk organisasi, tapi habis untuk mengurus ”masalah dapur”
pengurus. Dan lain-lain masalah yang perlu diantisipasi secepatnya.
Implikasi dari semuanya adalah, belum membaiknya citra organisasi
dimata anggota, maupun di kalangan stakeholders HMI. Untuk itu
Kongres XXVII HMI di Depok merekomendasikan agar:
1) Proses rekruitmen pengurus diperketat dengan memperhatikan
track record anggota yang akan diangkat sebagai pengurus.
2) Menugaskan kepada PB HMI untuk melaksanakan Up Grading
Instruktur Nasional untuk NDP sebanyak 4 angkatan selama 1
periode kepengurusan. Serta menugaskan HMI Cabang seluruh
Indonesia untuk melaksanakan Up Grading NDP masing-masing 2
angkatan dalam satu periode kepengurusan.
3) Menugaskan HMI komisariat untuk memperdalam NDP bagi setiap
kader-kader lepasan LK I HMI di wilayah kerjanya masing-masing.
4) Memberikan kesempatan kepada Ketua Umum PB HMI terpilih untuk
menyusun kepengurusan bersama Mide Formateur Kongres dengan
ketentuan maksimal 122 orang Pengurus Besar, yang di dalamnya
ada representasi 20 persen (mengikuti kecenderungan tuntutan
aktifis perempuan nasional) perempuan. Keseluruhan dari jumlah
kepengurusan merepresentasikan seluruh provinsi di Indonesia.
Dalam penyusunannya, tetap mengacu kepada Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga HMI.
5) Merekomendasikan kepada pengurus besar HMI untuk menyediakan
sekretariat permanen bagi sentra aktifitas PB HMI. Untuk
menghindari berlarut-larutnya persoalan di sekretariat PB HMI saat
ini, Kongres HMI memberikan keluasan kepada PB HMI untuk
mencari tempat baru yang representatif.
6) Merekomendasikan kepada Pengurus Besar HMI untuk menertibkan
proses data base kader HMI se-Indonesia dalam waktu 6 bulan
pertama kepengurusan.
7) Menugaskan kepada seluruh elemen HMI diseluruh tingkatan agar
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yg sifatnya terjadwal, terukur
serta sangat berdampak positif kepada organisasi.
8) Merekomendasikan kepada Pengurus Besar untuk menertibkan
Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Lembaga Profesi di tingkat PB
HMI, demi kesinambungan kinerja dan profesionalisme lembaga
Profesi yang di maksud.
9) Merekomendasikan kepada pengurus besar untuk segera
melaksanakan training instruktur minimal 6 bulan setelah
pelantikan.
10) Menugaskan kepada PB HMI untuk segera menindak lanjuti
usulan pemekaran dari cabang–cabang dan badko.
11)
Segera islah HMI dan HMI MPO.
12) Melakukan lokakarya NDP dengan mengundang seluruh cabang
di Indonesia.
II. Rekomendasi Eksternal
1. Kebijakan Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia,
Penguatan Sistem Nilai dalam kehidupan bermasyarakat serta
Kebangkitan Umat Islam.
Umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia merupakan ruh bagi setiap
perubahan di Indonesia. Dengan begitu keadaan umat Islam di Indonesia
menjadi parameter bagi keadaan bangsa Indonesia. Kebangkitan di sini
berarti umat Islam yang memiliki watak inklusif dan moderat sesuai
dengan nilai-nilai Islam, memiliki penguasaan teknologi dan ilmu
pengetahuan, memiliki akses terhadap sumber daya dan yang terpenting
memiliki akhlaqul karimah sebagai landasan prilaku dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Kepada Pengurus besar HMI agar terus
melakukan kajian dan membuat formulasi yang tepat tentang penguatan
kehidupan keagaman di Indonesia. Dengan mendorong secara terusmenerus terjadinya dialog kultural antar sesama pemeluk agama di
Indonesia. Kepada Badko HMI, HMI Cabang di seluruh Indonesia
diharapkan secara kontinyu melakukan monitoring terhadap kinerja Forum
Kerukunan Antara Umat Beragama (FKUB) di wilayah kerja masing-masing.
Kepada seluruh jajaran HMI diinstruksikan untuk menciptakan kondisi yang
kondusif dalam rangka memperkuat hubungan inter maupun antar umat
beragama, dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur,an dan Sunnah
Nabi Muhammad SAW. Kepada seluruh anggota/kader HMI di himbau untuk
memperdalam pemahaman keagamaannya dengan mengefektifkan
kegiatan-kegiatan pengajian maupun pengkajian terhadap Al-Qur,an dan
Hadits Nabi Muhammad SAW, agar nafas Islam sebagaimana termaktub
dalam tujuan HMI benar-benar bersenyawa dengan aktifi tas kader-kader
HMI.
2. Problematika
Sosial
Kemiskinan,
Pengangguran
dan
Tanggungjawab
Masalah kemiskinan merupakan persoalan yang tidak mungkin
dihilangkan seratus persen. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa dalam
setiap masyarakat akan ditemukan orang yang berkecukupan dan kurang
kekecukupan. Tetapi persoalan kemiskinan di Indonesia menjadi penting
untuk memperoleh perhatian mengingat masalah ini, telah berkembang di
luar batas-batas prikemanusiaan, di luar Sunnatullah. Di luar sunnatullah,
karena bangsa Indonesia oleh Tuhan dianugerahi begitu besar potensi
berupa kekayaan alam. Di luar sunnatullah, karena kemiskinan terjadi
dalam suatu masyarakat dengan populasi penduduk beragama Islam
terbesar di dunia, yang mestinya dapat hidup dengan tata cara yang lebih
beradab, tata cara yang Islami, di mana seseorang berdasarkan keyakinan
umat Islam memiliki tanggungjawab yang besar terhadap persoalan yang
dihadapi sesamanya, baik dengan tata cara yang telah diatur oleh Syar’i
seperti Zakat, Infaq dan Sadaqah, maupun berdasarkan naluri
kemanusiaan untuk saling bantu-membantu. Maka dalam Kongres XXVII ini
merekomendasikan untuk:
 Mendesak
kepada
Pemerintah
dan
DPR
dan
DPD
untuk
mengamandemen UUD 1945, dengan substansi merumuskan tata
kelola sumber-sumber kekayaan negara, yang berpihak kepada rakyat
Indonesia.
 Mengamandemen seluruh Undang-undang yang terkait dengan tata
kelola kekayaan negara agar benar-benar dapat berdampak langsung
bagi terjadinya distribusi ekonomi kepada mayoritas rakyat Indonesia,
secara adil.
 Menegakkan kedaulatan ekonomi bangsa, neoliberalisme dan
perdagangan bebas tidak boleh dijadikan alasan untuk menjadikan
perekonomian bangsa kita lemah dan tergantung pada perekonomian
bangsa lain. Ekonomi Indonesia harus berdikari, memanfaat setiap
potensi yang dimiliki baik sumberdaya alam, teknologi, maupun
sumber daya manusia yang ada, untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
 Melaksanakan pembangunan ekonomi Indonesia dimaksudkan untuk
mencapai keadilan sosial serta meningkatkan taraf kesejahteraan
seluruh bangsa Indonesia melalui pencapaian kedaulatan ekonomi
nasional, dengan jalan melindungi kepentingan nasional, serta
mengoptimalkan aset-aset strategis dan sumber daya milik negara.
 Melindungi perekonomian rakyat, perkonomian saat ini sangat
dipengaruhi oleh kekuatan modal, barang siapa yang memilili modal
kuat maka bisa memonopoli tiap sudut perkonomian yang
menghasilkan keuntungan. Bagi yang tidak memiliki modal kuat maka






akan tergusur dari arena persaingan dan kehilangan sumber-sumber
penghasilan mereka. Maka dari itu perekonomian rakyat yang levelnya
menengah ke-bawah harus dilindungi oleh sederet regulasi yang
menjamin keberadaan dan keberlangsungan roda perekonomian
mereka karena matinya perekonomian rakyat sama dengan bencana
bagi rakyat miskin di Indonesia.
Mendesak ditertibkannya berbagai peraturan daerah yang tidak
berpihak kepada UMKM, Koperasi dan Pasar Rakyat.
Mendesak kepada pemerintah supaya membuka lapangan kerja baru,
dan memberikan proteksi kepada hak-hak buruh.
Mendesak secara bersama-sama BPK, KPK, BPKP, untuk melakukan
audit terhadap program-program pengentasan kemiskinan, karena
ditengarai telah terjadi pengelolaan keuangan yang tidak sehat
terhadap berbagai program-program kemiskinan.
Mendesak pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM, menaikkan
pajak bagi perusahaan dan memperbesar porsi bagi hasil pemerintah
terhadap semua perusahaan asing, maupun swasta nasional yang
beroperasi pada sektor pertambangan dan perminyakan di Indonesia.
Mendesak agar seluruh kontrak karya pertambangan dievaluasi total,
dan bila perlu dilakukan nasionalisasi terhadap perusahaan
pertambangan asing yang tidak kooperatif dengan skema kontrak
karya yang menguntungkan pemerintah Indonesia.
Mendesak pemerintah merevisi UU No. 25 Tahun 2008 yang tidak pro
usaha mikro.
3. Penanganan Krisis Pangan, Global Warming, dan Pelestarian
Lingkungan Hidup
Dampak kesalahan penerapan kebijakan yang pro-kapitalis sejak 22 tahun
silam di Indonesia, dengan memberikan porsi besar terhadap saran dan
rekomendasi IMF, Bank Dunia maupun WTO, terbukti secara nyata telah
melumpuhkan kemampuan negara dan pemerintah dalam mengendalikan
ketersediaan pangan. Kebijakan pro-kapitalis yang menafi kan pentingnya
peran negara untuk mengatur regulasi ketahanan pangan mencapai
puncak absurditasnya ditandai tatkala (International Monetery Fund) IMF
berhasil mereduksi secara siginifi kan fungsi Bulog, Pertamina dan Bank
Indonesia untuk mengendalikan fungsi-fungsi regulasinya dalam rangka
mempertahankan ketahanan pangan. Secara global, kebijakan neoliberalisme yang memberikan proporsi kepada para pemilik modal, secara
signifi kan telah menyebabkan terjadinya destruksi massif terhadap
kelestarian lingkungan hidup, yang berdampak kepada terjadinya
pemanasan global (global warming). Kebijakan penguasaan hutan
misalnya; telah menyebabkan terjadinya penggundulan hutan secara
massif. Mentalitas aparat yang berkoalisi dengan penjahat hutan semakin
memperparah kerusakan hutan dan habitatnya. Sementara itu, potensi
hasil laut lebih banyak dinikmati oleh nelayan-nelayan asing yang
melakukan penangkapan ikan secara membabi buta, dengan teknologi
modern yang mereka gunakan tanpa mampu dicegah oleh pihak
keamanan laut.
Kebangkitan ekonomi Cina, India, Korea, Jepang telah berdampak pada
meningkatnya kebutuhan akan pangan dengan kualitas yang lebih baik.
Keadaan itu bersinergi dengan semakin banyak pengusaha ikan dari Cina,
Jepang maupun Korea yang menjarah ikan di perairan Indonesia.Faktor
pargmatisme aparat keamanan dipicu oleh rendahnya penghasilan
mereka, serta terbatasnya kemampuan aparat dengan alutista yang tidak
memadai, telah meningkatkan kuantitas maupun kualitas kegiatan illegal
fishing. Pada saat yang sama, daya saing nelayan pribumi untuk
memaksimalkan potensi ketersediaan bahan pangan dari sektor kelautan
semakin hari-semakin terbatas. Teknologi yang mereka gunakan, hampir
dipastikan bukan tandingan dari para nelayan asing yang melakukan
illegal fishing. Nelayan kita juga didesak oleh iklim yang kian tidak
bersahabat, akibat global warming. Para nelayan kita beberapa tahun
terkhir praktis lebih banyak tidak melaut dari waktu-waktu sebelumnya
karena cuaca yang semakin tidak bersahabat. Ironisnya, negara-negara
maju yang telah banyak skema kebijakan pro-kapitalisme yang
sebelumnya mereka ”paksa”kan kepada negara-negara berkembang, alihalih berfikir untuk memberikan insentif dalam rangka menjaga kelestarian
lingkungan di negara-negara miskin. Negara-negara kaya, justru melihat
keadaan yang dialami oleh negara miskin (yang telah mereka kuras
sumber dayanya) sebagai peluang untuk mempertegas hegemoni mereka.
Berbagai skema kebijakan dipaksakan oleh negara-negara kaya sebagai
pra syarat bagi negara miskin memperoleh pinjaman. Di Indonesia
misalnya, kita menyaksikan kebijakan sewa lahan hingga 100 tahun telah
diberlakukan; alih fungsi hutan lindung terus-menerus dilegalkan.
Kebijakan-kebijakan seperti ini dipastikan hanya menguntungkan pemilik
modal besar, dan merugikan masyarakat adat, serta mengancam masa
depan Bangsa. Hutan-hutan tropis sebagian besarnya telah punah,
digantikan dengan tanaman industri seperti Sawit, karet dan berbagai
keperluan industri lainnya. Ironisnya, umumnya alih fungsi lahan dari
hutan tropis menjadi hutan industri kelihataannya tidak memberi manfaat
yang lebih baik terhadap peningkatan kualitas kesejahteraan penduduk di
sekitarnya. Lebih ironis lagi, ara pengusaha yang diberi kuasa untuk
mengelola lahan, seringkali tidak bertanggungjawab.
Mencermati ancaman krisis ketahanan pangan nasional, sebagai dampak
dari semakin memburuknya iklim akibat perubahan cuaca, dan kerusakan
lingkungan hidup, Kongres XXVII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
merekomendasikan:
 Perlunya paradigma baru dalam membangun kebijakan ekonomi politik
yang mampu menciptakan keadilan perlakuan dan mendorong
percepatan tingkat kesejahteraan rakyat. Pemerintah harus mampu
merancang suatu blue print, kebijakan ekonomi politik yang
mencerminkan bahwa pemerintah dapat berlaku adil, ada
keberpihakan kepada rakyat yang sedang susah. Momentum
perubahan iklim yang mengancam kelamatan jiwa rakyat Indonesia,
menggerogoti daya saing ekonomi, menciptakan pengangguran,
kemiskinan, wabah penyakit, kerusakan infrastruktur, bahkan
mengancam keberlangsungan pranata sosial; semestinya menjadi
momentum untuk melakukan perubahan kebijakan ekonomi politik
secara radikal. Suatu perubahan kebijakan ekonomi politik yang
sejalan dengan amanat oleh UUD 1945 ”melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Suatu kebijakan yang
diharapkan menjauhkan rakyat Indonesia dari keharusan melakukan
praktek perbudakan akibat monopoli perusahaan multinasional; yang
mampu membebaskan masyarakat dari penghisapan alat-alat produksi
berskala besar. Suatu kebijakan yang tidak saja memberikan jaminan
perlindungan kepada rakyat, tetapi juga kepada sumber-sumber









produksi yang diperlukan untuk keberlangsungan masyarakat
Indonesia.
Perubahan paradigma diharapkan tercermin dari blue print kebijakan
ekonomi politik pemerintah untuk: (1) membuat UU tentang Bulog
sebagai pemegang regulasi dalam rangka ketahanan pangan nasional
(2) Revisi terhadap UU pengelolaan Tanah, Air dan Hutan agar
sebesarbesarnya dalam penguasaan negara sebagaimana amanat
UUD 1945, agar sebesar-besar manfaatnya dapat dirasakan oleh
rakyat Indonesia. (3) memberikan dukungan kepada pemerintah untuk
memberikan proteksi terhadap hasil-hasil produk pertanian nasional,
termasuk membuat kebijakan pembatasan ekspor hasil pertanian
sampai stock untuk kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi dengan
harga yang terjangkau oleh masyarakat.
Perubahan
paradigma
dimaksudkan
agar
pemerintah
dapat
berhadapan dengan para koorporatokrasi yang seringkali melakukan
”pembajakan” terhadap pemerintahan demokratis. Membiarkan para
pembajak demokrasi terus-menerus beraksi, tanpa kemampuan
negara dalam mengendalikannya, dan atau secara sengaja
memberikan ruang, berarti negara telah melakukan pengingkaran
kepada Pancasila dan UUD 1945.
Melindungi lingkungan hidup, Indonesia merupakan paru-paru dunia,
namun tingkat kerusakan hutan yang besar mendorong terjadinya
bencana yang disebabkan oleh rusaknya kesimbangan alam yang
sangat menghancurkan efeknya bagi kehidupan rakyat. pembangunan
Indonesia harus menjaga kelestarian lingkungan, karena kemajuan
yang telah maupun akan dicapai akan sia-sia bila kita juga harus
kehilangan alam yang menjadi tempat kita hidup.
Mendesak kepada pemerintah agar menindak tegas perusahaanperusahaan yang beroperasi di seluruh Indonesia, tapi tidak memiliki
kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Mewujudkan kedaulatan pangan dan kedaulatan energi yang dapat
menigkatkan kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Mendesak pemerintah untuk membuat sistem penanggulangan
bencana alam yang lebih efektif dan memiliki standar kelayakan.
Sejalan dengan paradigma kelestarian lingkungan hidup, untuk
melepaskan ketergantungan Indonesia pada dominasi asing dan juga
menyelamatkan kelestarian lingkungan di Indonesia, maka pemerintah
harus
berani memutuskan ketergantungan tersebut dengan
membangun ekonomi rakyat yang ramah lingkungan. Ini berupa modal
yang digali dari potensi internal yang gradual dan terarah; kemampuan
teknologi, pengembangan skill teknis budidaya dan keterampilan
masyarakat; pasar domestik untuk memasarkan produk rakyat;
manajemen dan informasi guna menyokong kekuatan ekonomi rakyat.
Meminta PB HMI memberikan sikap secara resmi mengenai
pembangunan PLTN di Indonesia.
Menolak alih fungsi hutan di Indonesia.
4. Pendidikan Nasional
Mencermati sistem pendidikan nasional Indonesia yang belum mampu
menjawab dampak global, kurikulum yang masih banyak kelemahan dan
kekurangan, relevansi pendidikan dengan dunia kerja, kemerosotan
moralitas masyarakat (hilangnya budi pekerti) serta transparansi dalam
pengelolaan
dana
pendidikan
maka
dipandang
perlu
untuk
merekomendasikan:
 PB HMI harus terus memperjuangkan terealiasasinya amanat UUD
1945 untuk memenuhi 20% anggaran pendidikan, memperbanyak
program beasiswa, dan memberikan perhatian yang tinggi bagi
pengembangan riset dan alih teknologi.
 Mendesak pemerintah untuk memformulasikan kembali system Ujian
Nasional. Namun,dikembangkan kepada pemuda.
 Mendesak kepada pemerintah baik pusat maupun daerah agar
memberikan prioritas bagi pembangunan infra maupun suprastruktur
pendidikan.
 Mendesak pemerintah segera menindaklanjuti amanah UU pendidikan
yang mengharuskan adanya pengalihan lembaga-lembaga kedinasan
di bawah kendali departemen pendidikan nasional.
 Mendesak pemerintah untuk melakukan pemerataan pelayanan
berbasis IT serta memangkas beban birokrasi pendidikan.
 Program Life Skill. Memberi nilai tambah pada kompetensi standar
lulusan yaitu penguasaan pengetahuan, kemampuan dan sikap dengan
jiwa dan kemampuan kepemimpinan.
 Memasyarakatkan Budaya prestasi (Achievement Culture). Budaya
yang didasarkan pada dorongan individu dalam sekolah dalam suasana
yang mendorong eksepsi diri dan usaha keras untuk adanya
independensi keilmuan adalah keberhasilan dan prestasi kerja. Budaya
ini sudah seharusnya berlaku di dunia pendidikan tentang
independensi dalam belajar, penelitian dan pengabdian. Sehingga
lebih menekankan terciptanya manusia yang profesional, mandiri dan
berprestasi dalam melaksanakan tugasnya.
 National Character Building, melalui pembangunan manusia Indonesia
yang berlandasakan pada nilai-nilai luhur moral kebudayaan nasional
sebagai identitas bangsa yang dioperasionalisasikan melalui sistem
pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa dan melahirkan
manusia-manusia Indonesia yang unggul.
5. Pertahanan Keamanan,
Hubungan Internasional
Nasionalisme
Progresif
dan
Masalah
Strategi Menghadapi Kompetisi Global. Apabila Indonesia telah berhasil
menjalankan empat hal maka yang terakhir harus dipersiapkan adalah
strategi untuk berkompetisi di kancah globalisasi itu sendiri yaitu: pertama,
politik luar negeri yang menjadi ujung tombak diplomasi untuk melindungi
dan memaksimalkan peran kepentingan nasional dalam pergaulan
internasional. Kedua, produk-produk unggulan nasional yang bisa memiliki
nilai jual tinggi serta daya tawar yang kuat pada perdagangan internasional.
Sehingga produk-produk unggulan nasional ini tidak hanya dapat
memberikan keuntungan lebih bagi perekonomian nasional melainkan juga
mampu menjadi alat tawar yang ampuh bagi negoisasi dan diplomasi politik
internasional untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan melindungi
kepentingan nasional.
Mengingat demikian pentingnya persoalan pertahanan dan keamanan
Negara, dan demikian strategisnya fungsi dan peran diplomatik untuk
mensejahterakan rakyat Indonesia, HMI menilai bahwa:
 Diperlukan kontekstualisasi makna ”melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia” dalam UUD 1945







dalam perspektif hukum, ekonomi, politik, dan tidak sebatas perspektif
pertahanan teritorial semata.
Diperlukan reorientasi peran diplomatik dalam kerangka kebijakan
politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, untuk lebih difokuskan
kepada ranah ekonomi politik, ketimbang hanya sebatas diplomatik ansich.
Agar hal ini dapat diwujudkan, Kongres HMI mendesak pemerintah
Republik Indonesia untuk membekali kemampuan analysis ekonomi
politik kepada semua diplomat Indonesia yang ditugaskan di luar
negeri.
Penterjemahan politik luar negeri yang bebas aktif dalam persepetif
ekonomi politik, diharapkan lebih mendorong terjadinya hubungan
people to people (P to P) dalam memperkuat hubungan Government to
Government (G to G) yang selama ini telah berlangsung baik.
Untuk memperkuat hubungan bilateral, maupun multilateral, serta
mendorong kearah peningkatan hubungan people to people, penting
bagi para diplomat Indonesia untuk terus-menerus memperkuat pola
niche diplomacy. Konsep niche diplomacy mengacu pada kemampuan
Negara (dan negara mitra) untuk mengidentifi kasi secara mendalam
kepentingankepentingan utamanya dalam hubungannya dengan
negara lain. Niche diplomacy, ditunjukkan dengan adanya kesamaan
karakter dan focus hubungan bilateral kedua negara. Karakter merujuk
pada kesamaan nilai,kepentingan dan kebutuhan strategis sedangkan
fokus bermakna sebagai lingkungan ekternal terdekat dari kedua
negara yang bermitra.
Menugaskan kepada PB HMI untuk mengkaji makna dari amanat UUD
1945 untuk ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan Seluruh
Tumpah Darah Indonesia”, dalam perfektip ekonomi politik sebagai
konsekuensi atas amanat UUD 1945 untuk ”ikut serta melaksanakan
ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
Nasionalisme Progresif, sebagai jalan untuk memperjuangkan
kepentingan bersama milik seluruh bangsa untuk mewujudkan
kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia dan merajut rasa solidaritas
nasionalisme di masa mendatang.
Mendorong dikeluarkannya PP turunan dari UU No. 11 tahun 2006.
6. Pemberantasan Korupsi dan Penegakan Hukum
Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Karena itu,
korupsi tidak bisa dibiarkan berkembang menjadi budaya dalam kehidupan
bermasyarakat, karena berdampak sangat negatif bagi suatu Bangsa.
Masalah pemberantasan korupsi ini, telah berkali-kali direkomendasikan oleh
Kongres HMI agar diberantas. Ironisnya, dalam banyak contoh kasus korupsi
yang terungkap,sejumlah pelakunya adalah mantan aktifis HMI, baik di
legislatif maupun dieksekutif. Karena itu, Kongres HMI kembali menegaskan:
 Bahwa korupsi dan semua pelaku korupsi adalah musuh bangsa,
musuh HMI, dan musuh masyarakat.
 Kongres HMI menginstruksikan kepada seluruh kader HMI, baik secara
kelembagaan, maupun secara individu, untuk bersama-sama
melakukan perlawanan terhadap para koruptor. Perlawanan terhadap
koruptor dilakukan dengan menjaga diri sendiri untuk tidak terlibat
dalam kegiatankegiatan korupsi. Perlawanan terhadap koruptor juga
dilakukan dengan tidak memberikan pembelaan dalam bentuk apapun










terhadap siapa pun, (termasuk kepada Alumni HMI) yang terlibat
korupsi.
HMI mendesak kepada pemerintah, dan seluruh jajarannya untuk
menghentikan prilaku korupsi diinstansinya masing-masing.
HMI mendesak kepada Pemerintah untuk lebih serius melakukan
pemberantasan korupsi.
HMI mendesak agar seluruh aparat negara yang ditugaskan melakukan
pemberantasan korupsi untuk memberikan teladan dengan menjauhi
praktek korupsi.
Mendesak penuntasan kasus bank century, mafia pajak dan praktekpraktek mafia hukum di dalam negeri.
Mendesak Pemerintah untuk memberikan advokasi yang massif dan
kongret terhadap korban-korban pelecehan yang terjadi pada warga
negara indonesia yang ada di luar negeri.
Mendesak disahkan RUU Tipikor yang baru , yang memuat prinsip Civil
Forfeil Cure.
Mendesak pemerintah untuk merevisi UU yang kontradiktif satu
dengan yang lain dan membentuk “Law Centre”. Yang sifatnya
independen dan tugasnya meverifikasi per Undang – Undangan
sebelum di bahas dan disahkan oleh pihak legislatif.
Mendesak kepada seluruh instansi pemerintah untuk segera dapat
mengurangi penyakit sosial seperti Judi, Togel, dan tempat – tempat
prostitusi di Republik Indonesia yang saat ini sedang marak.
Mendesak pemerintah untuk mengesahkan RUU tipikor .
Mendesak pemerintah membentuk law center agar tidak ada UU yang
tumpang tindih.
7. Sistem Pemerintahan Yang Efektif
Sistem pemerintahan demokrasi presidensial pasca reformasi, bukan saja
belum mampu mengembangkan ideologi alternatif yang lebih konsisten dan
koheran, juga belum mampu mengembangkan berbagai sistem pendukung
yang dibutuhkan. Walaupun demikian dalam beberapa hal sistem
pemerintahan demokrasi presidensial pasca reformasi ini telah meletakkan
dasar-dasar yang kuat, yang dapat dikembangkan lebih lanjut guna
membuka kesempatan yang lebih luas bagi partisipasi rakyat dalam politik
dan pemerintahan. Setidaknya ada lima penjelasan yang dapat
dikemukakan, kenapa system pemerintahan demokrasi presidensial yang
Pertama, proses reformasi politik dan pemerintahan belum seluruhnya
dirancang berdasar suatu grand design dan dilaksanakan secara konsisten,
sehingga terjadi kerancuan pada banyak bidang terutama dengan dianutnya
sistem multipartai bersamaan dengan sistem pemerintahan demokrasi
presidensial.
Kedua, Konsekwensinya, kewenangan presiden yang mestinya luas karena
dipilih langsung oleh rakyat dalam banyak hal, terkendala oleh kewenangan
DPR RI yang sangat besar.
Ketiga, kondisi ini menyebabkan konfl ikasi dalam bidang politik dan
pemerintahan yang lazimnya di negara lain, seperti prancis di atasi dengan
menerapkan system pemerintahan kohabitasi.
Keempat, kelemahan sistem pemerintahan demokrasi presidensial yang kita
anut dewasa ini juga dipengaruhi oleh belum adanya undang-undang yang
mengatur tentang lembaga kepresidenan yang mestinya secara
komprehensif dan integral mengatur aspek organisasi dan manejemen
kepresidenan serta demikian banyak lembaga pemerintahan dibawa kendali
kepresidenan.
Kelima, Tiadanya kekuatan ideologi yang mampu dikembangkan oleh
presiden untuk memayungi visi dan misinya, sehingga seringkali presiden
mengeluarkan kebijakan berdasarkan kecenderungan umum dari pendapat
yang berkembang yang menyebabkan kebijakan-kebijakan publik yang
dikeluarkan terkesan parsial dan reaktif. Misalnya dalam hal seringnya terjadi
perubahan design RUU APBN, soal kenaikan BBM, soal Ahmadiyah dan
beberapa kebijakan lainnya.
Mencermati kondisi seperti itu, Kongres HMI XXVII merekomendasikan :
 Mendesak sistem demokrasi yang lebih mapan dan stabil. Kehidupan
politik harus menjadi payung yang adil bagi semua pihak untuk
mengaspirasikan kepentingannya, tidak boleh menjadi tempat
hegemoni oligarki-oligarki yang menegasikan aspirasi dan kepentingan
rakyat dalam menjalankan pemerintahan. Maka dari itu sistem
demokrasi Indonesia harus ditata sedemikian rupa sehingga tercipta
suatu pemerintahan presidensil yang utuh dan stabil mengawal
jalannya pengelolaan negara serta mencegah proses liberalisasi dalam
sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang pada akhirnya akan
merusak kebudayaan politik Indonesia.
 Membangun sistem rekruitmen kepemimpinan nasional yang efektif
guna mengakhiri krisis kepemimpinan yang terjadi.
 Demokrasi dan Politik Nasionalisme, menciptakan sistem politik yang
demokratis, sebagai derivasi dari ideologi kebangsaan Indonesia yang
memiliki karakteristik melindungi kepentingan rakyat dan bangsa,
serta itu akan diwujudkan dalam kehidupan politik yang bercirikan
debat yang sehat, budaya berlogika dan rasional dalam mencari
kebenaran. Kesemua itu dalam rangka daya dan usaha untuk
mencapai tujuan nasional sebagai cita-cita Indonesia merdeka.
 Segera membuat UU tentang lembaga kepresidenan termasuk
mengatur sekretariat negara yang akan membantu presiden dan wakil
presiden dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.
 Memperluas jangkauan political appointie tidak hanya sebatas pada
jajaran menteri-menteri tapi sampai pada tingkat eselon satu dengan
maksud untuk memberi jaminan bagi efektifi tas dan efesiensi
kebijakan presiden dan wakil presiden pada tingkat operasional.
 Mensinergikan fungsi dan wewenang tiap-tiap lembaga negara agar
tidak menambah beban birokrasi.
8.
Evaluasi Terhadap Pelaksanaan Otonomi Daerah dan DaerahDaerah Perbatasan
Setidaknya ada tiga alasan pokok mengapa pemilihan kepala daerah
langsung ini harus dikaitkan dengan pemerintahan lokal yang demokratis.
Pertama, membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam
berbagai aktifitas politik di tingkat lokal. Kedua, mengedepankan pelayanan
kepada kepentingan publik. Ketiga, meningkatkan akselerasi pembangunan
sosial ekonomi yang berbasis kebutuhan masyarakat setempat. Untuk
maksud tersebut, Pemerintah memberikan kesempatan kepada rakyat di
daerah otonom untuk memilih langsung kepala daerah mereka. Hal ini
dimaksudkan agar; rakyat bisa memilih pemimpinnya sesuai dengan hati
nuraninya, sekaligus memberikan legitimasi yang besar bagi kepala daerah
yang terpilih; menghindari peluang distorsi oleh anggota DPRD untuk
mempraktikkan politik uang; terbuka peluang munculnya calon-calon kepala
daerah dari individu-individu yang memiliki integritas dan kapabilitas dalam
memperhatikan kepentingan rakyat, bukan berdasarkan kepentingan partai
tertentu; mendorong calon kepala daerah mendekati rakyat agar bisa
terpilih, sehingga tidak ada lagi orang yang tdak dikenal rakyat di suatu
daerah tiba-tiba menjadi kepala daerah tersebut; dan mendorong terjadinya
peningkatan akuntabilitas pertanggungjawaban kepala daerah kepada
rakyat.
Umumnya ahli politik pemerintahan di Indonesia melihat urgensi pilkada
langsung itu sebagai berikut: Pertama, pemilihan secara langsung diperlukan
untuk memutus mata rantai oligarki partai yang cenderung mewarnai
kehidupan-partai-partai di DPRD dewasa ini. Kepentingan partai-partai dan
bahkan kepentingan segelintir elite partai acapkali dimanipulasi sebagai
kepentingan kolektif masyarakat. Dengan demikian, pemilihan secara
langsung bagi kepala daerah diperlukan untuk memutus mata rantai
politisasi atas aspirasi publik yang cenderung dilakukan partai-partai dan
para politisi partai jika kepala daerah dipilih oleh elite politik DPRD saja.
Kedua, pemilihan secara langsung kepala daerah diperlukan untuk
meningkatkan kualitas akuntabilitas para elite politik lokal, termasuk kepalakepala daerah. Ketiga, pemilihan secara langsung kepala daerah diperlukan
untuk menciptakan stabilitas politik dan pemerintahan di tingkat lokal.
Pemberhentian atau pencopotan kepala daerah di tengah masa jabatannya
yang acapkali berdampak pada munculnya gejolak politik lokal, dapat
dihindari. Keempat, pemilihan kepala daerah secara langsung akan
memperkuat dan meningkatkan kualitas seleksi kepemimpinan nasional
karena makin terbuka peluang bagi munculnya pemimpin-pemimpin nasional
yang berasal dari bawah dan atau daerah. Kelima, pemilihan secara
langsung jelas lebih meningkatkan kualitas keterwakilan karena masyarakat
dapat menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya di tingkat lokal.
Karena itu, otonomi daerah dan pelaksanaan pilkada langsung di daerahdaerah otonom, dipandang ideal dan sesuai dengan keinginan dan
kebutuhan rakyat Indonesia dewasa ini. Hanya saja dalam pelaksanaannya,
utamanya dalam pemilihan langsung kepala daerah, ditemukan persoalanpersoalan tekhnis, seperti; tidak adanya stabilitas politik yang diperlukan
untuk membangun; seluruh kinerja elit terpecah untuk memikirkan pilkada
yang berlangsung sepanjang tahun.
Berdasarkan kondisi riil yang sedang terjadi dalam era otonomi daerah
ditemukan fakta bahwa: Pertama, tingkat kesejahteraan dan pemerataan
kesempatan
bagi
penduduk
di
suatu
daerah
otonom
belum
menggembirakan. Umumnya pemerintah daerah otonom belum memiliki
kemampuan serta terbatas dalam menemukan inovasi-inovasi untuk
mekasimalkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah masing-masing.
Lazimnya para bupati dan walikota masih menggantungkan harapan pada
pemerintah pusat, utamanya dalam soal pembiayaan. Ironisnya, tidak sedikit
pemda justru memarkir uang pembangunan mereka dalam bentuk kertas
berharga di Bank Indonesia (baik SBI maupun ORI). Padahal, infrastruktur di
daerah sangat buruk, dan mengganggu mobilitas warga untuk meningkatkan
produktifi tas ekonomi mereka.
Berdasarkan kenyataan tersebut, Kongres HMI XXVII, merekomendasikan:
 Agar pemerintah mengevaluasi kembali daerah-daerah otonom yang
ada, utamanya yang dihasilkan melalui pemekaran. Pemerintah diminta
untuk melakukan verifi kasi factual terhadap semua daerah otonom,
apakah masih diperlukan keberadaannya atau dikembalikan ke daerah
otonom induknya.
 Mendesak kepada pemerintah pusat, dan DPR untuk mengawal ketat
terjadinya pemekaran atas suatu daerah, mengingat umumnya daerahdaerah pemekaran yang ada, lebih merupakan akomodasi politik elit
tertentu, dan jauh dari semangat ideal dibentuknya suatu daerah
otonom.
 Untuk menguatkan point kedua di atas, HMI mendesak dimasukkannya
ketentuan referendum daerah sebelum pembentukan suatu daerah
otonom dilakukan, sehingga benar-benar kehadiran suatu daerah
otonom merupakan kehendak rakyat, dan bukan kehendak elit semata.
 Mengevaluasi sistem pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah yang
syarat dengan praktek-praktek demokrasi liberal serta mengancam
harmonisasi masyarakat.
 Mendesak pemerintah untuk membuat Peraturan berkenaan dengan
verivikasi calon legislatif kepada daerah yang lebih mengutamakan
kualitas.
 Mendesak pemerintah untuk melakukan pembangunan yang massif
dalam kontek demokrasi dan tata kelola daerah dalam bentuk asset dan
SDA di daerah-daerah perbatasan.
 Mendorong system otonomi agredatif yang
pancasilais dan
menghindari kebijakan deregulasi,privatisasi, liberalisasi , BUMN &
sumberdaya milik Negara lainnya.
 Mendorong penciptaan ruang public pada setiap pembentuk .regulasi
bersama pemerintah sebagai bentuk kekuatan civil society.
PEDOMAN KEPENGURUSAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Tujuan suatu organisasi hanya dapat diwujudkan dengan usaha-usaha yang teratur,
terencana dan kebijaksanaan yang dilingkupi dengan taufiq dan hidayah Allah SWT.
Salah satu perangkat yang dapat digunakan untuk menciptakan penyelenggaraan
usaha-usaha yang demikian itu adalah Pedoman Kepengurusan yang mendukung ke
arah tujuan tersebut. Adanya keharusan untuk bekerja secara terstruktur dan rapi
adalah sesuai dengan Firman Allah SWT. dalam Surat ash-Shaff ayat 4 yang artinya :
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya
dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang
tersusun kokoh”
I.
STRUKTUR PIMPINAN
A. PENGURUS BESAR
1.
Status Pengurus
Sesuai dengan ketentuan yang termaksud pada Bagian IV Pasal 20 ART HMI
mengenai status PB HMI dalam struktur pimpinannya adalah sebagai berikut:
a. Pengurus Besar adalah badan/instansi kepemimpinan tertinggi organisasi.
b. Masa Jabatan Pengurus Besar adalah 2 (dua) tahun terhitung sejak
pelantikan/serah terima jabatan dari Pengurus Besar Demisioner.
2.
Tugas dan Wewenang
Sesuai dengan Bagian IV Pasal 22 ART HMI, tugas dan wewenang PB HMI adalah
sebagai berikut :
 Menggerakkan organisasi berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga.
 Melaksanakan ketetapan-ketetapan Kongres.
 Menyampaikan ketetapan dan perubahan penting yang berhubungan
dengan HMI kepada seluruh aparat dan anggota HMI.
 Melaksanakan Sidang Pleno Pengurus Besar setiap semester kegiatan,
selama periode berlangsung.
 Melaksanakan Rapat Harian Pengurus Besar minimal dua minggu sekali,
selama periode berlangsung.
 Melaksanakan Rapat Presidium Pengurus Besar minimal satu minggu sekali,
selama periode berlangsung.
 Memfasilitasi sidang Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar
dalam rangka menyiapkan draft materi Kongres atau sidang Majelis
Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar lainnya ketika diminta.
 Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Anggota biasa melalui
Kongres.
Mengesahkan Pengurus Cabang dan Pengurus Badko.
Menerima laporan kerja Pengurus Badko.
Mengawasi proses pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) di tingkat
Badko
Menaikkan dan menurunkan status Badko dan Cabang berdasarkan evaluasi
perkembangan Badko dan Cabang.
Mengesahkan pemekaran Cabang berdasarkan rekomendasi Konfercab
Induk dan menetapkan pembentukan Cabang Persiapan berdasarkan usulan
Daerah/ Pleno Badko.
Memberikan sanksi dan merehabilitasi secara langsung terhadap
anggota/pengurus.






3.
Struktur Organisasi
Struktur
organisasi adalah kerangka antar hubungan dari satuan-satuan
organisasi atau bidang-bidang kerja yang di dalamnya terdapat pimpinan,
wewenang dan tanggungjawab serta pada masing-masing personel dalam
totalitas organisasi.
Lazimnya struktur organisasi akan kelihatan semakin jelas dan tegas, apabila
digambarkan dalam bagan struktur organisasi. Ditinjau dari struktur organisasi
maka bentuk organisasi yang dipergunakan dalam Pengurus Besar HMI adalah
bentuk organisasi fungsional.
Dalam organisasi yang berbentuk fungsional, wewenang dari Ketua Umum
didelegasikan kepada satuan-satuan organisasi atau bidang-bidang kerja yang
dipimpin oleh para Ketua, Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum.
Pimpinan dari setiap satuan organisasi atau bidang kerja itu mempunyai
wewenang dan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas bidangnya masingmasing.
Kemudian
secara
fungsional
tanggungjawab
itu
dipertanggungjawabkan oleh pimpinan masing-masing kepada Ketua umum.
Struktur organisasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam dengan
pembanding dalam program kerja nasional, terdapat 12 bidang utama :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Pembinaan Anggota
Pembinaan Aparat Organisasi
Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan
Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
Partisipasi Pembangunan Nasional
Hubungan Internasional
Pemberdayaan Umat
Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup
Hukum dan HAM
Pemberdayaan Perempuan
Keuangan dan Perlengkapan
Administrasi Kesekretariatan
KONFERENSI
CABANG/MUSCAB
MUSYAWARAH LEMBAGA
MPK PK HMI
RAK
ANGGOTA HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENGURUS KOMISARIAT
PENGURUS CABANG
MPK PC HMI
BADAN-BADAN
KHUSUS HMI CABANG
KORKOM
MUSKOM
Keterangan :
Garis Instruktif
Garis Hub Koordinatif
Garis Aspiratif
4. Komposisi Personalia
Komposisi Personalia Pengurus Besar HMI diisi oleh anggota biasa yang
memenuhi persyaratan sebagaimana Bagian IV Pasal 21 ART HMI disusun dalam
formasi sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
KETUA UMUM
Ketua Bidang Pembinaan Anggota
Ketua Bidang Pembinaan Aparat Organisasi
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan
Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional
Ketua Bidang Hubungan Internasional
Ketua Bidang Pemberdayaan Umat
Ketua Bidang Hukum dan HAM
Ketua Bidang Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan
12.
13.
14.
15.
16.
17.
SEKRETARIS JENDERAL
Wakil Sekjen Pembinaan Anggota
Wakil Sekjen Pembinaan Aparat Organisasi
Wakil Sekjen Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan
Wakil Sekjen Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
Wakil Sekjen Partisipasi Pembangunan Nasional
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Wakil
Wakil
Wakil
Wakil
Wakil
Wakil
Wakil
Sekjen
Sekjen
Sekjen
Sekjen
Sekjen
Sekjen
Sekjen
Hubungan Internasional
Pemberdayaan Umat
Pemberdayaan Perempuan
Hukum dan HAM
Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup
Internal
Eksternal
25. BENDAHARA UMUM
26. Wakil Bendahara Umum
DEPARTEMEN-DEPARTEMEN
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
5.
Kepala Departemen Pembinaan Anggota
Kepala Departemen Pembinaan Aparat Organisasi
Kepala Departemen Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan
Kepala Departemen Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
Kepala Departemen Partisipasi Pembangunan Nasional
Kepala Departemen Hubungan Internasional
Kepala Departemen Pemberdayaan Umat
Kepala Departemen Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup
Kepala Departemen Hukum dan HAM
Kepala Departemen Pemberdayaan Perempuan
Departemen Pengkajian Data & Informasi
Departemen Litbang Kader
Departemen Diklat Anggota
Departemen Pengembangan dan Promosi Kader
Departemen Pendayagunaan Aparat
Departemen Pengembangan Organisasi
Departemen Pengawan dan Evaluasi
Departemen Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan
Departemen Kepemudaan
Departemen Kewirausahaan
Departemen Pengembangan Profesi
Departemen Pengkajian Masalah Pembangunan
Departemen Program Perintis Pembangunan
Departemen Ekonomi dan Politik
Departemen Pendidikan dan Kesehatan
Departemen Kajian Internasional
Departemen Hubungan Lembaga Internasional
Departemen Pengkajian Masalah Keumatan
Departemen Hubungan Lembaga Islam
Departemen Pengelolaan SDA
Departemen Lingkungan Hidup
Departemen Hukum
Departemen HAM
Departemen Kajian Perempuan
Departemen Hubungan Lembaga Perempuan
Departemen Penerangan dan Humas
Departemen Administrasi dan Kesekretariatan
Departemen Logistik
Departemen Pengembangan Sumber Dana
Fungsi Personalia Pengurus Besar
Masing-masing personalia Pengurus Besar menjalankan fungsinya sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
Ketua Umum adalah penangung jawab dan koordinator umum dalam
pelaksanaan tugas-tugas intern dan ekstern organisasi yang bersifat umum
pada tingkat nasional maupun internasional.
Ketua Bidang PA adalah Penanggung Jawab dan Koordinator kegiatan
pembinaan anggota di tingkat nasional.
Ketua Bidang PAO adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan
pembinaan aparat organisasi di tingkat nasional.
Ketua bidang PTKP adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan
dalam bidang perguruan tinggi, kemahasiswaan dan kepemudaan di tingkat
nasional.
Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi adalah
penanggung jawab dan koordinator kegiatan dalam bidang Kewirausahaan
dan Pengembangan Profesi di tingkat nasional.
Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional adalah penanggung jawab
dan koordinator kegiatan dalam bidang partisipasi pembangunan di tingkat
nasional.
Ketua Bidang HI adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan dalam
bidang hubungan internasional.
Ketua Bidang Pemberdayaan Umat adalah adalah penanggung jawab dan
koordinator kegiatan dalam bidang komunikasi umat di tingkat nasional.
Ketua Bidang Hukum dan HAM adalah penanggung jawab dan koordinator
kegiatan dalam bidang Hukum dan HAM di tingkat nasional.
Ketua Bidang Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup adalah penanggung
jawab dan koordinator kegiatan dalam bidang SDA dan Lingkungan Hidup di
tingkat nasional.
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan adalah penanggung jawab dan
koordinator kegiatan dalam bidang pemberdayaan perempuan di tingkat
nasional.
Sekretaris Jenderal
adalah penanggung jawab dan koordinator dalam
bidang data pustaka, ketatausahaan dan penerangan serta hubungan
organisasi pihak ekstern di tingkat nasional maupun internasional.
Wakil Sekjen Bidang PA bertugas atas nama Sekretaris Jenderal untuk
kegiatan PA membantu ketua bidangnya di tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang PAO bertugas atas nama Sekretaris Jenderal untuk
kegiatan PAO membantu ketua bidangnya di tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang PTKP bertugas atas nama Sekretaris Jenderal untuk
kegiatan PTKP membantu ketua bidangnya di tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi bertugas
atas nama
Sekretaris Jenderal untuk kegiatan kewirausahaan dan
pengembangan profesi membantu ketua bidangnya di tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional bertugas atas nama
Sekretaris Jenderal untuk kegiatan PPN membantu ketua bidangnya di
tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang Hubungan Internasional bertugas atas nama Sekretaris
Jenderal untuk kegiatan hubungan internasional membantu ketua bidangnya
di tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang Pemberdayaan Umat bertugas atas nama Sekretaris
Jenderal untuk kegiatan pemberdayaan umat membantu ketua bidangnya di
tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang Hukum dan HAM bertugas atas nama Sekretaris
Jenderal untuk kegiatan Hukum dan HAM membantu ketua bidangnya di
tingkat nasional.
Wakil Sekjen Bidang Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup bertugas atas
nama Sekretaris Jenderal untuk kegiatan Pengelolaan SDA dan Lingkungan
Hidup membantu ketua bidangnya di tingkat nasional.
22. Wakil Sekjen Bidang Pemberdayaan Perempuan bertugas atas nama
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
Sekretaris Jenderal untuk kegiatan Pemberdayaan Perempuan membantu
ketua bidangnya di tingkat nasional.
Wakil Sekjen Internal bertugas atas nama Sekretaris Jenderal untuk
membantu kegiatan-kegiatan bidang internal di tingkat nasional.
Wakil Sekjen Eksternal bertugas atas nama Sekretaris Jenderal untuk
membantu kegiatan-kegiatan bidang eksternal di tingkat nasional
Bendahara Umum adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan di
bidang keuangan dan perlengkapan organisasi di tingkat nasional.
Wakil Bendahara Umum bertugas atas nama bendahara umum dalam
pengelolaan administrasi keuangan dan perlengkapan organisasi di tingkat
nasional.
Departemen Perlengkapan Data dan Informasi bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengkajian
data dan informasi di tingkat nasional.
Departemen Litbang Kader bertugas sebagai pelaksana teknis operasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang penelitian dan pengembangan
kader ditingkat nasional.
Departemen Diklat PA bertugas sebagai pelaksana teknis operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang diklat PA di tingkat nasional.
Departemen Pengembangan dan Promosi kader bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang
pengembangan dan promosi kader di tingkat nasional.
Departemen Pendayagunaan Aparatur Organisasi bertugas sebagai
pelaksana teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang
pendayagunaan aparatur organisasi di tingkat nasional.
Departemen Pengembangan Organisasi bertugas sebagai pelaksana teknis
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan
organisasi di tingkat nasional.
Departemen Pengawasan dan Evaluasi bertugas sebagai pelaksana teknis
oprasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengawasan dan
evaluasi di tingkat nasional.
Departemen Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan bertugas sebagai
pelaksana teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang PTK
di tingkat nasional.
Departemen Kepemudaan bertugas sebagai pelaksana teknis operasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang kepemudaan di tingkat nasional.
Departemen Kewirausahaan bertugas sebagai pelaksana teknis operasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan profesi di tingkat
nasional.
Departemen Pengembangan Profesi bertugas sebagai pelaksana teknis
operasional dari kegiatan-kegiatan pembinaan lembaga profesi untuk
peningkatan profesionalisme anggota dan kader.
Departemen Pengkajian Masalah Pembangunan bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengkajian
masalah pembangunan di tingkat nasional.
Departemen Program Perintis Pembangunan bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang perintis
pembangunan di tingkat nasional.
Departemen Ekonomi dan Politik bertugas sebagai pelaksana teknis
oprasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang ekonomi dan politik di
tingkat nasional.
Departemen Pendidikan dan Kesehatan sebagai pelaksana teknis oprasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan kesehatan.
Departemen Kajian Internasional bertugas sebagai pelaksana teknis
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang kajian internasional.
Departemen Hubungan Lembaga Internasional bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang hubungan
lembaga internasional di tingkat nasional.
44. Departemen Pengkajian Masalah Keumatan bertugas sebagai pelaksana
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
6.
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Pemberdayaan
Umat tingkat nasional.
Departemen Hubungan antar Lembaga Islam bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang hubungan
lembaga Islam di tingkat nasional.
Departemen Pengelolaan SDA bertugas sebagai pelaksana teknis
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Pengelolaan SDA di
tingkat nasional.
Departemen Lingkungan Hidup bertugas sebagai pelaksana teknis
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Lingkungan Hidup di
tingkat nasional.
Departemen Hukum bertugas sebagai pelaksana teknis operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Hukum di tingkat nasional.
Departemen HAM bertugas sebagai pelaksana teknis operasional dari kerja
dan kegiatan-kegiatan di bidang HAM di tingkat nasional.
Departemen Kajian Perempuan bertugas sebagai pelaksana teknis
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang hubungan lembaga
Islam di tingkat nasional.
Departemen Hubungan Lembaga Perempuan bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang hubungan
lembaga perempuan di tingkat nasional.
Departemen Penerangan dan Humas bertugas sebagai pelaksana teknis
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang penerangan humas
di tingkat nasional.
Departemen Administrasi dan Kesekretariatan bertugas sebagai pelaksana
teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang administrasi
dan kesekretariatan di tingkat nasional.
Departemen Logistik bertugas sebagai pelaksana teknis operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang logistik di tingkat nasional.
Departemen Pengembangan Sumber Dana (PSD) bertugas sebagai
pelaksana teknis operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang PSD
di tingkat nasional.
Wewenang dan Tanggung Jawab Bidang Kerja Pengurus Besar
Masing-masing bidang kerja dalam Pengurus Besar dalam menjalankan
wewenang dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut :
A. Bidang Pembinaan Anggota
1. Membina dan mengawasi kinerja Badan Pengelola Latihan
2. Bertanggungjawab atas pelaksanaan LK di seluruh tingkatan
3. Mengembangkan model-model pelatihan yang dapat
memenuhi
kebutuhan anggota melalui pilot project, serta mengupayakan tindak
lanjut atas hasil yang telah diselenggarakan.
4. Merumuskan dan mengembangkan pola pembinaan anggota yang
komprehensif sebagai manifestasi dari konsepsi perkaderan anggota.
5. Dengan bidang lain melakukan penyusunan data base anggota dan
memanfaatkannya bagi upaya peningkatan kualitas anggota.
6. Melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka pembinaan
anggota untuk meningkatkan kualitas sumber daya anggota.
B. Bidang Pembinaan Aparat Organisasi
1. Menyelenggarakan upaya-upaya terbentuknya sikap dan disiplin aparat
2.
3.
4.
5.
6.
terhadap seluruh ketentuan organisasi.
Menyelenggarakan
penelitian
dalam
rangka
penyusunan
data
perkembangan aparat secara teratur.
Mendorong terciptanya mekanisme organisasi secara sehat dinamis serta
memberikan ruang gerak yang komprehensif terhadap perkembangan
aparat organisasi di seluruh Indonesia.
Melakukan standarisasi dan akreditasi kelayakan struktur HMI dari tingkat
Pengurus Besar hingga Cabang.
Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap seluruh struktur di bawah
Pengurus Besar.
Melakukan kegiatan lainnya yang dapat menunjang peningkatan dan
pengembangan potensi serta kualitas organisasi.
C. Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan
1. Meyelenggarakan
kegiatan-kegiatan
yang
dapat
meningkatkan
partisipasi aktif, korektif dan konstruktif dari seluruh anggota dan alumni
HMI dalam mewujudkan kehidupan kampus demokratis.
2. Mengusahakan agar para anggota dan alumni HMI ikut serta secara aktif
meningkatkan fungsi dan peranan perguruan tinggi di tengah-tengah
kehidupan masyarakat.
3. Melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong anggota dan alumni
HMI untuk meningkatkan kehidupan beragama di kampus antara lain
dengan:
a. Memprakarsai kegiatan-kegiatan agama (Islam) di lingkungan
kampus.
b. Meningkatkan efektivitas kehidupan Masjid kampus.
c. Melakukan diskusi-diskusi untuk meningkatkan konsep Islam tentang
berbagai seri kehidupan masyarakat.
d. Menyelenggarakan diskusi, seminar, simposium dan sebagainya yang
berkenaan dengan pengkajian terhadap penyempurnaan sistem
pendidikan umumnya dan sistem pendidikan tinggi khususnya.
e. Melaksanakan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat menunjang
partisipasi anggota dan alumni HMI dalam mewujudkan kehidupan
kampus umumnya dan dunia kemahasiswaan khususnya.
D. Bidang Pemberdayaan Umat
1. Menyelenggarakan kegiatan yang mendukung terwujudnya hubungan
yang efektif dengan organisasi-organisasi Islam khususnya dengan
organisasi kemahasiswaan, pelajar dan pemuda Islam.
2. Mengembangkan pola kajian yang kontinyu untuk menggali pemikiran
yang bermanfaat dalam berbagai segi kehidupan umat Islam guna
disumbangkan sebagai kontribusi gagasan pada lembaga-lembaga sosial,
keagamaan dan politik.
3. Menjalin hubungan intensif untuk menggalang seluruh kekuatan umat
Islam dalam rangka mengembangkan syiar Islam serta menjawab
masalah keumatan dan kebangsaan.
4. Melakukan langkah-langkah nyata dalam rangka peningkatan kualitas
sumber daya umat dalam hidup berbangsa dan bernegara.
5. Melakukan advokasi langsung atas hal-hal yang nyata-nyata merugikan
keberadaan umat Islam.
E. Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
1. Menyelenggarakan
2.
3.
4.
5.
F.
kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan
fungsinya dan peran lembaga pengembangan profesi, baik sebagai
sarana pengembangan profesi anggota maupun wadah dharma bhakti
kemasyarakatan HMI di seluruh aparat dalam upaya berperan serta
dalam pembangunan.
Menyusun program bidang kewirausahaan dan pengembangan profesi
yang relevan bagi setiap lembaga pengembangan profesi.
Melakukan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas personil
pengelola lembaga pengembangan profesi di seluruh aparat antara lain
dengan :
a. Mendorong seluruh aparat HMI untuk melakukan latihan
pengembangan keterampilan mengelola lembaga pengembangan
profesi.
b. Mendorong seluruh aparat HMI untuk menyelenggarakan kerja-kerja
sosial kemasyarakatan.
Mengusahakan hubungan kerja sama secara kelembagaan antara
lembaga-lembaga pengembangan profesi HMI dengan lembaga lain baik
pemerintah maupun swasta.
Mengkampanyekan
dan
menanamkan
etos
kemandirian
dan
kewirausahaan sebagai personalitas anggota HMI.
Bidang Partisipasi Pembangunan Nasional
1. Mengadakan kajian-kajian tentang berbagai aspek pembangunan
nasional.
2. Mengadakan kajian dan diskursus tentang berbagi aspek ekonomi dan
politik bangsa.
3. Mengadakan kajian dan diskusi tentang pendidikan dan kesehatan.
4. Merumuskan pola dan bentuk partisipasi HMI dalam pembangunan
nasional.
5. Meningkatkan kerjasama/hubungan dengan pemerintah, lembaga negara,
orsospol, ormas dan lembaga pengembangan masyarakat baik mitra
maupun kontrol
6. Melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang
dapat
meningkatkan
kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat daerah dengan
cara
bekerjasama dengan BADKO atau CABANG yang bersangkutan
G. Bidang Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup
1. Mengadakan kajian-kajian tentang pengelolaan sumber daya alam, dan
lingkungan hidup berkembang di Indonesia.
2. Melakukan penyikapan terhadap pengelolaan sumber daya alam, dan
lingkungan hidup yang berkembang di Indonesia.
3. Meningkatkan kerjasama/hubungan dengan pemerintah, lembaga negara,
Orsospol, Ormas dan lembaga pengembangan masyarakat dalam rangka
meningkatkan perannya dalam bidang pengelolaan SDA dan Lingkungan
Hidup.
H. Bidang Hukum dan HAM
1. Mengadakan kajian-kajian tentang pengelolaan Hukum dan HAM yang
berkembang di Indonesia.
2. Melakukan penyikapan terhadap masalah Hukum dan HAM yang
berkembang di Indonesia.
3. Meningkatkan kerjasama/hubungan dengan pemerintah, lembaga negara,
Orsospol, Ormas dan lembaga pengembangan masyarakat dalam rangka
meningkatkan perannya dalam bidang Hukum dan HAM.
a.
Bidang Hubungan Internasional
1. Menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dapat
hubungan dan kerjasama secara nasional antara lain :
meningkatkan
a. Menjalin dan membina hubungan yang harmonis dengan organisasiorganisasi mahasiswa di tingkat nasional dalam upaya menumbuhkan
kesadaran tanggung jawab bersama untuk mewujudkan cita-cita
bangsa.
b. Menjalin kerjasama yang harmonis dengan badan-badan studi
keislaman untuk melakukan penelitian masyarakat dalam upaya
menghasilkan pikiran-pikiran yang bermanfaat bagi peningkatan
kesejahteraan umat dan bangsa.
c. Meningkatkan hubungan kerjasama di bidang ilmu dan pengetahuan
untuk meningkatkan kematangan intelektual anggota.
2. Melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kerjasama
Internasional antara lain dengan:
a. Menyelenggarakan kegiatan yang dapat meningkatkan hubungan
kerjasama dengan organisasi mahasiswa Internasional, terutama
dalam hal bidang studi bersama mengenai usaha-usaha perdamaian
dunia berdasarkan kedaulatan dan kemerdekaan masing-masing
negara.
b. Melakukan aktifitas yang dapat meningkatkan dan mengokohkan
ukhuwah islamiyah dengan organisasi-organisasi mahasiswa Islam
dalam upaya meningkatkan dakwah Islamiyah serta memajukan
kehidupan umat Islam secara keseluruhan.
c. Mengambil peranan aktif
dalam berbagai kegiatan yang
diselenggarakan
oleh
wadah-wadah
mahasiswa
internasional,
khususnya wadah Islam sedunia.
d. Menyelenggarakan berbagai aktifitas untuk memperkenalkan HMI pada
berbagai forum mahasiswa Internasional, melalui keterlibatan langsung
dalam berbagai bentuk aktifitas maupun melalui media penerbitan.
3. Menyelenggarakan berbagai kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan
hubungan nasional maupun internasional.
J.
Bidang Pemberdayaan Perempuan
1. Melaksanakan kegiatan-kegiatan sadar gender sebagai salah satu
pencapaian (achievement) organisasi.
2. Merumuskan pemikiran-pemikiran kualitatif yang bermanfaat bagi
kemajuan KOHATI dan sesama organisasi perempuan lainnya, seperti
pemikiran-pemikiran tentang peningkatan kualitas kepemimpinan
dikalangan perempuan, mekanisme dan struktur organisasi yang efektif
dan lain sebagainya.
3. Membuat pola perkaderan yang memandang KOHATI sebagai tempat
perkaderan HMI-wati.
4. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan upaya
5.
6.
7.
8.
bersama di kalangan perempuan dalam menanggulangi berbagai
masalah sosial.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas HMIwati
sesuai dengan tingkat perkembangan dunia keperempuanan
khususnya dalam masyarakat umum.
Mengangkat topik pembahasan keperempuanan dalam kelompokkelompok diskusi HMI.
Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong KOHATI
untuk melakukan sosialisasi organisasi dan pembinaan terhadap
personalia KOHATI dalam:
a. Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan anggota terhadap fungsi
dan peranan KOHATI sebagai badan khusus HMI.
b. Mendorong HMI-wati untuk mengikuti pelatihan-pelatihan baik
pelatihan umum maupun khusus.
c. Meningkatkan intensitas komunikasi KOHATI dengan aparat HMI dan
alumni
Melakukan berbagai aktifitas lainnya yang menunjang upaya pembinaan
personalia KOHATI, pembinaan operasional KOHATI serta pembina
partisipasi KOHATI dalam kehidupan keperempuanan khususnya dan
masyarakat pada umumnya.
K. Bidang Administrasi dan Kesekretariatan
1. Melakukan pengaturan tata-cara pengelolaan surat-menyurat yang
2.
3.
4.
5.
a.
meliputi penyelenggaraan:
a. Surat masuk.
b. Surat keluar.
c. Pengetikan dan pengadaan surat.
d. Pengaturan administrasi pengarsipan.
e. Pengaturan pengarsipan surat.
Melakukan pengumpulan, pencatatan, pengolahan, penyusunan dan
pemeliharaan dokumentasi organisasi serta bahan-bahan yang berkenaan
dengan intern dan ekstern organisasi.
Mengatur penyelenggaraan produksi atau reproduksi dari dokumentasi
organisasi yang perlu disampaikan kepada seluruh aparat HMI.
Menyelenggarakan aktifitas yang dapat menambah pengetahuan dan
keterampilan personil bidang kesekretariatan di seluruh aparat HMI guna
meningkatkan kelancaran dan mutu kerja dalam bidang administrasi dan
kesekretariatan.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mendukung usaha
perbaikan peningkatan dan penyempurnaan cara kerja administrasi dan
kesekretariatan di seluruh aparat HMI.
Bidang Keuangan dan Perlengkapan
1. Menyusun anggaran dan pengeluaran Pengurus Besar untuk satu periode
dan untuk setiap semester.
sumber-sumber penerimaan organisasi sesuai dengan
ketentuan organisasi yang berlaku.
3. Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap penerimaan dan
pengeluaran Pengurus Besar berdasarkan pedoman administrasi
keuangan yang disusun untuk keperluan ini.
2. Mengelola
4. Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh aparat HMI untuk
meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota.
5. Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan, perbaikan dan
penambahan perlengkapan organisasi dengan:
a. Setiap kali mengadakan kontrol terhadap pemakaian peralatan
organisasi.
b. Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi sesuai atau tidak
dengan kebutuhan organisasi.
c. Menyusun daftar inventarisasi organisasi.
d. Mengatur perawatan dan pemeliharaan seluruh perlengkapan
organisasi.
e. Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan halaman gedung
perkantoran.
7. Instansi Pengambilan Keputusan Pengurus Besar
Setiap keputusan Pengurus Besar dilakukan secara musyawarah, karena itu
bersifat organisatoris dengan mengikat seluruh aparat HMI. Cara yang demikian
sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam surat asy-Syuro ayat 38 yang berbunyi:
Dan (bagi) orang-orang yang yang menerima (mematuhi ) seruan
Tuhan-nya dan mendirikan sholat, sedang
urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian rizki yang kami berikan kepada mereka.
Dengan begitu setiap keputusan organisatoris pada dasarnya adalah
merupakan mufakat bersama karena setiap personalia aparat HMI wajib
menjunjung tinggi dan melaksanakannya dengan niat luhur dan penuh
tanggungjawab.
Berdasarkan prinsip ini, maka tingkat instansi pengambilan keputusan dalam
Pengurus Besar adalah:
1.
2.
3.
Sidang Pleno.
Rapat Harian.
Rapat Presidium
Disamping itu, untuk mengontrol pelaksanaan program dilakukan dalam rapat
bidang kerja, penjelasan yang lebih terinci dari hal di atas adalah sebagai
berikut:
a.
Sidang Pleno
1. Dilaksanakan setiap semester kegiatan selama periode berlangsung
(pasal 22 ayat d ART HMI).
2. Sidang pleno dihadiri oleh seluruh fungsionaris PB HMI, Ketua Umum
Badko seluruh Indonesia dan/ atau Ketua Umum Pengurus Cabang
seluruh Indonesia, Ketua Umum badan khusus setingkat Pengurus Besar.
3. Fungsi dan wewenang sidang pleno adalah:
a. Membahas laporan Pengurus Besar tentang pelaksanaan ketetapan
kongres setiap semester.
b. Membahas laporan pertanggungjawaban Pengurus Badan Koordinasi
HMI seluruh Indonesia.
c. Membahas laporan pertanggungjawaban pengurus badan-badan
khusus tingkat Pengurus Besar.
d. Membahas dan mengesahkan hasil sidang Majelis Pengawas dan
Konsultasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPK PB HMI).
e. Mengambil kebijakan dan keputusan yang mendasar bagi organisasi,
baik ke dalam maupun ke luar.
f. Menetapkan pedoman-pedoman pokok organisasi sebagaimana yang
tercantum dalam AD/ ART.
b. Rapat Harian
1. Rapat harian dihadiri oleh seluruh fungsionaris PB HMI, badan khusus dan
lembaga pengembangan profesi nasional.
2. Rapat harian dilaksanakan setidak-tidaknya dua kali dalam satu bulan,
yakni pada hari jumat dalam minggu pertama, ketiga setiap bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat harian:
a. Membahas dan menjabarkan kebijaksanaan yang diambil dan
ditetapkan oleh sidang pleno.
b. Mengkaji dan mengevaluasi keputusan-keputusan yang diambil atau
ditetapkan oleh presidium dan untuk kemudian mengambil dan
mempertimbangkan keputusan selanjutnya.
c. Mendengar laporan dari seluruh fungsionaris PB dan para ketua umum
badan khusus.
d. Mengkaji laporan badan koordinasi atas pengesahan dan pelantikan
cabang yang telah dilakukan.
c.
Rapat Presidium
1. Rapat presidium dihadiri oleh ketua umum, ketua bidang, sekretaris
jenderal, wakil sekretatis Jenderal, bendahara umum dan wakil bendahara
umum.
2. Rapat presidium dilaksanakan setidak-tidaknya empat kali dalam satu
bulan yakni pada hari Jum’at dari tiap minggu. Untuk minggu pertama,
kedua dan ketiga diintegrasikan ke dalam rapat harian.
3. Fungsi dan wewenang rapat presidium:
a. Mengambil keputusan tentang organisasi sehari-hari baik intern
maupun ekstern.
b. Mendengarkan informasi tentang perkembangan dari berbagai aspek
organisasi baik intern maupun ekstern.
c. Mengevaluasi perkembangan ekstern organisasi dan dampaknya bagi
perkembangan organisasi.
d. Rapat Bidang
1. Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang bersangkutan.
2. Rapat bidang diselenggarakan setidak-tidaknya satu kali dalam satu
bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat bidang:
a. Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap
bidang.
b. Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap
bidang yang mengalami perubahan baik dalam segi teknis maupun
waktu.
c. Menyusun langkah-langkah teknis untuk menyelenggarakan program
kerja berikutnya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh rapat.
e.
Rapat Kerja
1. Rapat kerja dihadiri oleh semua fungsionaris PB HMI.
2. Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu semester.
3. Fungsi dan wewenang rapat kerja:
a. Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester
presidium.
b. Menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran untuk
seluruh kegiatan Pengurus Besar selama satu semester
B. PENGURUS CABANG
1. Status Pengurus Cabang
Sesuai dengan ketentuan yang termaksud dalam Bagian VI pasal 28 Anggaran
Rumah Tangga Himpunan Mahasiswa Islam mengenai status Pengurus Cabang
dalam struktur pimpinan khususunya status Pengurus Cabang adalah:
a. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Cabang merupakan satu
kesatuan organisasi yang dibentuk di Kota Besar atau Ibukota
Propinsi/Kabupaten/Kota yang terdapat perguruan tinggi.
b. Di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia, Cabang merupakan satu
kesatuan organisasi yang dibentuk di Ibukota Negara dan Kota Besar lainnya
di Negara tersebut yang terdapat banyak Mahasiswa Muslim.
c. Masa jabatan Pengurus Cabang adalah satu tahun semenjak pelantikan/serah
terima jabatan dari Pengurus Demisioner.
2. Tugas dan Wewenang Pengurus Cabang
Sesuai dengan aturan yang tercantum pada Bagian VI pasal 30 Anggaran
Rumah Tangga HMI, tugas dan wewenang Pengurus Cabang ialah:
 Melaksanakan hasil-hasil ketetapan Konferensi/Musyawarah Cabang, serta
ketentuan/kebijakan organisasi lainnya yang diberikan oleh Pengurus Besar
atau Pengurus Badko.
 Membentuk Koordinator Komisariat (Korkom) bila diperlukan dan
mengesahkan kepengurusannya.
 Mengesahkan Pengurus Komisariat dan Badan Khusus di tingkat Cabang
 Membentuk dan mengembangkan Badan-Badan Khusus.
 Melaksanakan Sidang Pleno sekurang-kurangnya sekali dalam 4 (empat)
bulan atau 2 (dua) kali selama satu periode berlangsung.
 Melaksanakan Rapat Harian Pengurus Cabang minimal satu minggu sekali,
selama periode berlangsung.
 Melaksanakan Rapat Presidium Pengurus Cabang minimal 1 (satu) kali dalam
sebulan.
 Menyampaikan laporan kerja dan database anggota kepengurusan 4 (empat)
bulan sekali kepada Pengurus Besar melalui Pengurus Bad.
 Memilih dan mengesahkan 1 (satu) orang Formateur/Ketua Umum dan 2
(dua) orang mide Formateur dari 3 (tiga) calon Anggota Formateur Korkom
yang dihasilkan Musyawarah Komisariat dengan memperhatikan suara
terbanyak dan mengesahkan susunan Pengurus Korkom yang diusulkan
Formateur/Ketua Umum Korkom.
 Mengusulkan pembentukan dan pemekaran Cabang melalui Musyawarah
Daerah.
 Menyelenggarakan Konferensi/Musyawarah Cabang.
 Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Anggota Biasa melalui
Konferensi/Musyawarah Cabang.
3. Struktur Organisasi Pengurus Cabang
Ditinjau dari struktur organisasi, maka bentuk organisasi yang dipertanggung
jawabkan Pengurus Cabang adalah bentuk garis dan fungsional, sama dengan
Pengurus Besar HMI.
Dalam organisasi yang berbentuk garis dan fungsional, wewenang ketua umum
didelegasikan kepada satuan-satuan organisasi atau bidang-bidang kerja yang
dipimpin oleh para ketua dari setiap bidang-bidang kerja yang mempunyai
wewenang dan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas bidangnya masingmasing.
Kemudian
secara
fungsional
tanggung
jawab
itu
dipertanggungjawabkan oleh ketua masing-masing bidang kerja kepada ketua
umum.
Struktur organisasi Cabang sesuai dengan pembidanggannya adalah:
1) Bidang Pembinaan Anggota.
2) Bidang Pembinaan Aparat Organisasi
3) Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan.
4) Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
5) Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah
6) Bidang Pemberdayaan Umat
7) Bidang Pemberdayaan Perempuan
8) Bidang Administrasi dan Kesekretariata
9) Bidang Keuangan dan Perlengkapan
4. Komposisi Personalia Pengurus Cabang
Format Pengurus Cabang sedapat-dapatnya disesuaikan dengan formasi
Pengurus Besar seperti tercantum dalam pasal 29 Anggaran Rumah Tangga HMI.
Struktur organisasi Pengurus Cabang diisi dengan personalia yang memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam Bab II bagian VI pasal 29 b Anggaran
Rumah Tangga HMI, yakni anggota biasa yang bertaqwa kepada Allah SWT,
dapat membaca Al-Qur’an, tidak sedang dijatuhi sanksi organisasi, dinyatakan
lulus LK II, pernah menjadi pengurus komisariat dan/atau korkom dan tidak
menjadi personalia pengurus Cabang untuk periode ketiga kalinya kecuali
jabatan ketua umum.
Komposisi personalia yang mengisi struktur Pengurus Cabang adalah:
1. Ketua Umum
2. Ketua Bidang Pembinaan Anggota
3. Ketua Bidang Pembinaan Aparat Organisasi
4. Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan
5. Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
6. Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah
7. Ketua Bidang Pemberdayaan Umat
8. Ketua Bidang HAM dan Lingkungan Hidup
9. Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan
10. Sekretaris Umum
11. Wakil Sekretaris Umum Pembinaan Anggota
12. Wakil Sekretaris Umum Pembinaan Aparat Organisasi
13. Wakil Sekretaris Umum Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan
14. Wakil Sekretaris Umum Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
15. Wakil Sekretaris Umum Partisipasi Pembangunan Daerah
16. Wakil Sekretaris Umum Pemberdayaan Umat
17. Wakil Sekretaris Umum HAM dan Lingkungan Hidup
18. Wakil Sekretaris Umum Pemberdayaan Perempuan
19. Bendahara Umum
20. Wakil Bendahara Umum
Departemen-Departemen
21. Departemen Pengkajian Data dan Infomasi Anggota
22. Departemen Diklat Anggota
23. Departemen Pengembangan dan Promosi Kader
24. Departemen Pembinaan Aparat Organisasi
25. Departemen Pengembangan Organisasi
26. Departemen Perguruan Tinggi Dan Kemahasiswaan
27. Departemen Perintisan Perguruan Tinggi Excellent
28. Departemen Kepemudaan
29. Departemen Kewirausahaan
30. Departemen Pengembangan Profesi
31. Departemen Partisipasi Pembangunan Daerah
32. Departemen Pengkajian Masalah Keumatan
33. Departemen Hubungan Lembaga Islam
34. Departemen HAM
35. Departemen Lingkungan Hidup
36. Departemen Kajian Perempuan
37. Departemen Hubungan Lembaga Perempuan
38. Departemen Penerangan dan Humas
39. Departemen Administrasi dan Kesekretariatan
40. Departemen Logistik
41. Departemen Pengolahan Sumber Dana.
5. Fungsi Personalia Pengurus Cabang
Masing-masing personalia Pengurus Cabang menjalankan fungsinya sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Ketua Umum adalah penanggungjawab dan koordinator umum dalam
melaksanakan tugas-tugas ekstern dan intern organisasi yang bersifat
umum pada tingkat Cabang.
Ketua Bidang Pembinaan Anggota adalah penanggungjawab dan koordinator
kegiatan pembinaan anggota di tingkat Cabang.
Ketua Bidang Pembinaan Aparat Organisasi adalah penanggungjawab dan
koordinator kegiatan pembinaan aparat organisasi pada tingkat Cabang.
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan adalah
penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam bidang perguruan tinggi,
kemahasiswaan dan kepemudaan di tingkat Cabang.
Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi adalah
penanggungjawab
dan
koordinator
kegiatan
Kewirausahaan
dan
Pengembangan Profesi di tingkat Cabang.
Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah adalah penanggungjawab
dan koordinator kegiatan partisipasi pembangunan daerah di tingkat
Cabang.
Ketua Bidang Pemberdayaan Umat adalah penanggungjawab dan
koordinator kegiatan pemberdayaan umat di tingkat cabang.
Ketua Bidang HAM dan Lingkungan Hidup adalah penanggungjawab dan
koordinator kegiatan HAM dan Lingkungan Hidup di tingkat Cabang.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan adalah penanggungjawab dan
koordinator kegiatan keperempuanan di tingkat Cabang.
Sekretaris Umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan
dalam bidang data dan pustaka, ketata usahaan, dan penerangan serta
hubungan organisasi dengan pihak ekstern di tingkat cabang.
Wakil sekretaris umum PA bertugas atas nama sekretaris umum untuk
kegiatan PA membantu ketua bidangnya di tingkat cabang.
Wakil sekretaris umum PAO bertugas atas nama sekretaris umum untuk
kegiatan PAO membantu ketua bidangnya di tingkat cabang.
Wakil sekretaris umum PTKP bertugas atas nama sekretaris umum untuk
kegiatan PTKP membantu ketua bidangnya di tingkat cabang.
Wakil sekretaris umum Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi bertugas
atas nama sekretaris umum untuk kegiatan Kewirausahaan dan
Pengembangan Profesi membantu ketua bidangnya di tingkat cabang.
Wakil sekretaris umum partisipasi pembangunan daerah bertugas atas
nama sekretaris umum untuk kegiatan ppd membantu ketua bidangnya di
tingkat cabang.
Wakil sekretaris umum pemberdayaan umat bertugas atas nama sekretaris
umum untuk kegiatan pemberdayaan umat membantu ketua bidangnya di
tingkat cabang.
Wakil sekretaris umum pemberdayaan perempuan bertugas atas nama
sekretaris umum untuk kegiatan pemberdayaan perempuan membantu
ketua bidangnya di tingkat cabang.
Bendahara Umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan
dibidang administrasi keuangan dan perlengkapan organisasi di tingkat
cabang.
Wakil bendahara umum bertugas atas nama bendahara umum dalam
mengelola administrasi keuangan dan perlengkapan organisasi di tingkat
cabang.
Departemen pengkajian data dan infomasi anggota bertugas sebagai
koordinator opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengkajian
data dan informasi di tingkat cabang.
Departemen diklat anggota bertugas sebagai koordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang diklat anggota di tingkat cabang.
Departemen pengembangan dan promosi kader bertugas sebagai
koordinator opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang
pengembangan dan promosi kader di tingkat cabang.
Departemen pembinaan aparat organisasi bertugas sebagai koordinator
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang aparat organisasi di
tingkat cabang.
Departemen pengembangan organisasi bertugas sebagai koordinator
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan
organisasi di tingkat cabang.
Departemen perguruan tinggi dan kemahasiswaan bertugas sebagai
koordinator opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang perguruan
tinggi dan kemahasiswaan di tingkat cabang.
Departemen Perintisan Perguruan Tinggi Excellent bertugas sebagai
coordinator operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang
perintisan perguruan tinggi excellent di tingkat cabang.
Departemen kepemudaan bertugas sebagai koordinator opersional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang kepemudaan di tingkat cabang.
Departemen kewirausahaan bertugas sebagai koordinator opersional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang kewirausahaan di tingkat cabang.
Departemen pengembangan profesi bertugas sebagai koordinator
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan
profesi di tingkat cabang.
Departemen partisipasi pembangunan daerah bertugas sebagai koordinator
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang partisipasi
pembangunan daerah di tingkat cabang.
31. Departemen pemberdayaan perempuan bertugas sebagai koordinator
32.
33.
34.
35.
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pemberdayaan
perempuan di tingkat cabang.
Departemen
penerangan dan humas bertugas sebagai koordinator
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang penerangan dan
humas di tingkat cabang.
Departemen administrsi dan kesekretariatan bertugas sebagai koordinator
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang administrsi dan
kesekretariatan di tingkat cabang.
Departemen logistik bertugas sebagai koordinator opersional dari kerja dan
kegiatan-kegiatan di bidang logistik di tingkat cabang.
Departemen pengolahan sumber dana bertugas sebagai koordinator
opersional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengolahan sumber
dana di tingkat cabang.
6. Wewenang dan Tanggung Jawab Bidang Kerja Pengurus Cabang
Masing-masing bidang kerja dalam Pengurus Cabang dalam menjalankan
wewenang dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut :
A.
Bidang Pembinaan Anggota
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Mendorong dan mengawasi tumbuh berkembangnya Badan Pengelola
Latihan Cabang
Bertanggungjawab atas pelaksanaan LK ditingkatan cabang
Mengadakan atau melaksanakan Intermediate Training atau LK 2
Mengembangkan model-model pelatihan yang dapat memenuhi
kebutuhan anggota melalui pilot project, serta mengupayakan tindak
lanjut atas hasil yang telah diselenggarakan.
Merumuskan dan mengembangkan pola pembinaan anggota yang
komprehensif sebagai manifestasi dari konsepsi perkaderan anggota.
Dengan bidang lain melakukan penyusunan data base anggota dan
memanfaatkannya bagi upaya peningkatan kualitas anggota.
Melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka pembinaan
anggota untuk meningkatkan kualitas sumber daya anggota
B. Bidang Pembinaan Aparat Organisasi
1.
2.
3.
4.
5.
Menyelenggarakan upaya-upaya terbentuknya sikap dan disiplin aparat
terhadap seluruh ketentuan organisasi.
Menyelenggarakan penelitian dalam rangka penyusunan data
perkembangan aparat secara teratur.
Mendorong terciptanya mekanisme organisasi secara sehat dinamis
serta memberikan ruang gerak yang komprehensif terhadap
perkembangan aparat organisasi di seluruh Indonesia.
Melakukan standardisasi dan akreditasi kelayakan struktur HMI dari
tingkat Pengurus Cabang hingga Komisariat.
Melakukan kegiatan lainnya yang dapat menunjang peningkatan dan
pengembangan potensi serta kualitas organisasi.
C. Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan
1.
Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan
partisipasi aktif, korektif dan konstruktif dari seluruh anggota dan aumni
HMI di lingkungan Cabang dalam mewujudkan kehidupan kampus yang
demokratis selaras dengan kebijaksanaan organisasi secara nasional.
2. Mengusahakan agar para anggota dan alumni HMI di lingkungan HMI
ikut serta secara aktif meningkatkan fungsi dan peranan perguruan
tinggi di tengah kehidupan bermasyarakat.
3. Melakukan kegiatan yang mendorong anggota dan alumni HMI di
lingkungan Cabang untuk meningkatkan kehidupan beragama dikampus
antara lain dengan :
a. Memprakarsai kegiatan-kegiatan agama (islam) di lingkungan
kampus.
b. Meningkatkan efektifitas kehidupan masjid kampus dikampus.
c. Melakukan diskusi-diskusi untuk meningkatkan konsep Islam tentang
berbagai segi kehidupan masyarakat.
4. Menyelenggarakan diskusi, simposium dan sebagainya yang berkenaan
dengan pengkajian terhadap penyempurnaan sistem pendidikan umum
dan sistem pendidikan tinggi khususnya di tingkat Cabang.
5. Melaksanakan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat menunjang
partisipasi anggota dan alumni HMI di lingkungan Cabang dalam
mewujudkan kehidupan kampus umumnya dan dunia kemahasiswaan
khususnya.
D. Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
1. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan
fungsinya dan peran lembaga pengembangan profesi, baik sebagai
sarana pengembangan profesi anggota maupun wadah dharma bhakti
kemasyarakatan HMI di seluruh aparat dalam upaya berperan serta
dalam pembangunan.
2. Menyusun program bidang kewirausahaan dan pengembangan profesi
yang relevan bagi setiap lembaga pengembangan profesi.
3. Melakukan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas
personil pengelola lembaga pengembangan profesi di seluruh aparat
antara lain dengan :
a. Mendorong seluruh aparat HMI untuk melakukan latihan
pengembangan keterampilan mengelola lembaga pengembangan
profesi.
b. Mendorong seluruh aparat HMI untuk menyelenggarakan kerja-kerja
sosial kemasyarakatan.
4. Mengusahakan hubungan kerja sama secara kelembagaan antara
lembaga-lembaga pengembangan profesi HMI dengan lembaga lain baik
pemerintah maupun swasta.
5. Mengkampanyekan
dan
menanamkan
etos
kemandirian
dan
kewirausahaan sebagai personalitas anggota HMI
E. Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah
1.
2.
3.
4.
Pengadaan kajian tentang berbagai aspek pembangunan daerah.
Berpartisipasi aktif dalam usaha pembangunan daerah.
Berperan aktif dalam usaha pengentasan daerah.
Melaksanakan kegiatan peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan
masyarakat.
5. Meningkatkan kerjasama/hubungan dengan pemerintah, orsospol,
ormas, dan lembaga pembangunan masyarakat.
6. Melaksanakan kegiatan–kegiatan
yang mendorong terwujudnya
kehidupan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan.
F.
Bidang Pemberdayaan Umat
1. Menyelenggarakan kegiatan yang mendukung terwujudnya hubungan
yang efektif dengan organisasi-organisasi Islam khususnya dengan
organisasi kemahasiswaan, pelajar dan pemuda Islam.
2. Mengembangkan pola kajian yang kontinu untuk menggali pemikiran
yang bermanfaat dalam berbagai segi kehidupan umat Islam guna
disumbangkan sebagai kontribusi gagasan pada lembaga-lembaga
sosial, keagamaan dan politik.
3. Menjalin hubungan intensif untuk menggalang seluruh kekuatan umat
Islam dalam rangka mengembangkan syair Islam serta menjawab
kebutuhan pemecahan masalah keumatan dan kebangsaan.
4. Melakukan langkah-langkah nyata dalam rangka peningkatan kualitas
sumber daya umat dalam hidup berbangsa dan bernegara.
5. Melakukan advokasi langsung atas hal-hal yang nyata-nyata merugikan
keberadaan umat Islam.
G. Bidang HAM dan Lingkungan Hidup
1. Mengadakan kajian tentang berbagai aspek dalam bidang HAM dan
lingkungan hidup.
2. Merumuskan pola dan partisipasi HMI dalam menyikapi bidang HAM dan
lingkungan hidup.
3. Menyelenggarakan kegiatan yang dapat meningkatkan pertisipasi aktif
dalam merespon isu-isu tentang HAM dan lingkungan hidup.
1.
Bidang Pemberdayaan Perempuan
1. Melaksanakan kegiatan-kegiatan sadar jender sebagai salah satu
Pencapaian (achievement) organisasi.
2. Merumuskan pemikiran-pemikiran kualitatif yang bermanfaat bagi
kemajuan KOHATI dan sesama organisasi perempuan lainnya, seperti
pemikiran-pemikiran tentang peningkatan kualitas kepemimpinan
dikalangan perempuan, mekanisme dan struktur organisasi yang efektif
dan lain sebagainya.
3. Membuat pola perkaderan yang memandang KOHATI sebagai tempat
perkaderan HMI-wati.
4. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan upaya
bersama dikalangan perempuan dalam menanggulangi berbagai
masalah sosial.
5. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas
HMI-wati sesuai dengan tingkat perkembangan dunia keperempuanan
khususnya dalam masyarakat umum.
6. Mengangkat topik pembahasan keperempuanan dalam kelompok –
kelompok diskusi HMI.
7. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong KOHATI
untuk melakukan sosialisasi organisasi dan pembinaan terhadap
personalia KOHATI dalam:
a. Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan anggota terhadap
fungsi dan peranan KOHATI sebagai badan khusus HMI.
b. Mendorong HMI-wati untuk mengikuti pelatihan-pelatihan baik
pelatihan umum maupun khusus.
c. Meningkatkan intensitas komunikasi KOHATI dengan aparat HMI dan
alumni.
8. Melakukan berbagai aktifitas lainnya yang menunjang upaya pembinaan
personalia KOHATI, pembinaan operasional KOHATI serta pembina
partisipasi KOHATI dalam kehidupan keperempuanan khususnya dan
masyarakat pada umumnya.
I.
Bidang Administrasi dan Kesekretariatan
1.
Melakukan pengaturan tata-cara pengelolaan surat menyurat yang
meliputi:
a. Penyelenggaraan pemrosesan surat masuk.
b. Penyelenggaraan pemrosesan surat keluar
c. Penyelenggaraan pemrosesan konsep surat keluar
d. Penyelenggaraan pengetikan dan pengadaan surat.
e. Penyelenggaraan pengaturan administrasi pengarsipan.
f. Penyelenggarakan pengaturan pengarsipan surat.
2.
3.
4.
5.
J.
Melakukan pengumpulan, pencatatan pengolahan, penyusunan, dan
pemeliharaan dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkenaan
dengan tat inter dan ekstern organisasi.
Mengatur penyelenggaraan produksi atau reproduksi dari dokumentasi
organisasi yang perlu disampaikan kepada seluruh aparat HMI.
Menyelenggarakan aktifitas yang dapat menambah pengetahuan dan
ketrampilan personil bidang kesekretariatan di seluruh aparat HMI guna
meningkatkan kelancaran dan mutu kerja dalam bidang administrasi
kesekretariatan.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mendukung usaha
perbaikan peningkatan dan penyempurnaan cara kerja administrasi
kesekretariatan di seluruh aparat HMI.
Bidang Keuangan Dan Perlengkapan
1.
2.
3.
4.
5.
Menyusun anggaran dan pengeluaran Pengurus Cabang untuk satu
periode dan untuk setiap satu semester.
Mengelola sumber-sumber penerimaan organisasi sesuai dengan
ketentuan organisasi yang berlaku.
Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap penerimaan dan
pengeluaran Pengurus Cabang berdasarkan pedoman administrasi
keuangan yang disusun untuk keperluan ini.
Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh aparat HMI
untuk meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota.
Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan, perbaikan dan
penambahan oerlengkapan organisasi dengan:
a. Setiap kali mengadakan kontrol terhadap pemakaian peralatan
organisasi.
b. Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi sesuai atau
tidak dengan kebutuhan organisasi.
c. Menyusun daftar inventarisasi organisasi.
d. Mengatur perawatan dan pemeliharaan seluruh perlengkapan
organisasi.
7. Instansi Pengambilan Keputusan Pengurus Cabang
Setiap keputusan Pengurus Cabang dilakukan secara musyawarah, karena itu
bersifat organisatoris dengan mengikat seluruh aparat HMI. Cara yang demikian
sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam surat as syuro ayat 38 yang berbunyi:
Dan (bagi) orang-orang yang yang menerima (mematuhi ) seruan tuhannya
dan mendirikan sholat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rizki yang
kami berikan kepada mereka dengan begitu setiap keputusan organisatoris
pada dasarnya adalah merupakan mufakat bersama karena setiap personalia
aparat HMI wajib menjunjung tinggi dan melaksanakannya dengan niat luhur
dan penuh tanggungjawab.
Berdasarkan prinsip ini, maka tata susunan tingkat instansi pengambilan
keputusan dalam Pengurus Cabang adalah:
1.
2.
3.
Sidang Pleno.
Rapat Harian.
Rapat Presidium
Disamping itu, untuk mengontrol pelaksanaan program dilakukan dalam rapat
bidang kerja, penjelasan yang lebih terinci dari hal diatas adalah sebagai
berikut:
a.
Sidang Pleno
1. Dilaksanakan setiap semester kegiatan selama periode berlangsung
(pasal 23 ayat e ART HMI)
2. Sidang Pleno dihadiri oleh seluruh fungsionaris Cabang ditambah
dengan Ketua Umum Komisariat, Ketua Umum Korkom dan Ketua
Umum Lembaga Pengembangan Profesi di lingkungan Cabang.
3. Fungsi dan wewenang sidang pleno adalah:
a. Membahas laporan Pengurus Cabang tentang pelaksanaan ketetapan
kongres setiap semester.
b. Mengambil kebijaksanaan yang mendasar bagi organisasi, baik
kedalam maupun keluar daerah.
4. Sidang pleno dilakukan setidak-tidaknya dua kali dalam satu periode.
b.
Rapat Harian Cabang
1.
2.
3.
Rapat harian dihadiri oleh seluruh fungsionaris Cabang, Ketua Umum
KOHATI, badan khusus dan lembaga pengembangan profesi tingkat
Cabang.
Rapat harian dilaksanakan dua kali dalam satu minggu.
Fungsi dan wewenang rapat harian:
a. Membahas dan menjabarkan kebijaksanaan yang diambil dan
ditetapkan oleh sidang pleno.
b. Mengkaji dan mengevaluasi keputusan-keputusan yang diambil atau
mempertimbangkan keputusan lainnya.
c. Mendengar laporan dari seluruh fungsionaris Cabang, dan para ketua
umum badan khusus.
c.
Rapat Presidium
1.
2.
3.
Rapat presidium dihadiri oleh Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris
Umum, Wakil Sekretatis Umum, Bendahara Umum dan Wakil Bendahara
Umum.
Rapat presidium dilaksanakan setidak-tidaknya empat kali dalam satu
bulan yakni, pada hari jum’at dari tiap minggu. Untuk minggu pertama,
dan ketiga diintegrasikan ke dalam rapat harian.
Fungsi dan wewenang rapat presidium:
a. Mengambil keputusan tentang organisasi sehari-hari baik intern
maupun ekstern.
b. Mendengarkan informasi tentang perkembangan dari berbagai aspek
organisasi baik intern maupun ekstern.
c. Mengevaluasi perkembangan ekstern organisasi dan dampaknya bagi
perkembangan organisasi.
d. Rapat Bidang
1.
2.
3.
e.
Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang bersangkutan.
Rapat bidang diselenggarakan setidak-tidaknya satu kali dalam satu
bulan.
Fungsi dan wewenang rapat bidang:
a. Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap
bidang.
b. Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap
bidang yang mengalamio perubahan baik dalam segi teknis maupun
segi waktu.
c. Menyusun langkah-langkah teknis untuk menyelenggarakan
proyek/kerja berikutnya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan
oleh rapat presidium.
Rapat Kerja
1.
2.
3.
Rapat kerja dihadiri oleh semua fungsionaris Cabang.
Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu
semester.
Fungsi dan wewenang rapat kerja:
a. Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester.
b. Menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran untuk
seluruh kegiatan Pengurus Cabang selama satu semester.
a. PENGURUS KOMISARIAT
1. Status Pengurus Komisariat
Sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam bab II bagian VIII pasal 40
Anggaran Rumah tangga HMI Komisariat dalam struktur pimpinan, khususnya
program Komisariat adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
Komisariat merupakan organisasi yang dibentuk dalam suatu atau beberapa
akademi/fakultas dalam lingkup universitas perguruan tinggi.
Masa jabatan Pengurus Komisariat adalah satu tahun terhitung sejak
pelantikan/ serah terima jabatan dari Pengurus Komisariat demisioner
Pengurus Komisariat merupakan lembaga eksekutif dengan tekanan kerja
dalam hal agama dan pendidikan anggota dalam suatu kesatuan organisasi
satu akademi atau beberapa fakultas di satu universitas.
2. Tugas dan Wewenang Pengurus Komisaria
Sesuai yang tercantum dalam Bab II bagian VIII pasal 42 Anggaran Rumah
Tangga HMI tugas dan kewajiban Pengurus Komisariat adalah:
a.
b.
c.
d.
Melaksanakan hasil-hasil ketetapan Rapat Anggota Komisariat (RAK),
kebijaksanaan organisasi di tingkat Cabang, dan ketentuan organisasi HMI
lainnya.
Menyampaikan laporan kerja kepengurusan setiap 3 (tiga) bulan sekali
kepada Pengurus Cabang dengan tembusan kepada pengurus Korkom.
Menyelenggarakan RAK
Menyampaikan laporan pertanggungjawaban Pengurus Komisariat pada
anggota biasa melalui RAK.
Laporan tiga bulan seperti poin diatas adalah disesuaikan dengan pedoman
sistem pelaporan organisai yang ditetapkan.
Segala program yang dilaksanakan oleh Pengurus Komisariat setelah satu tahun
masa kepengurusan dipertanggungjawabkan atau dilaporkan kepada forum
RAK.
3. Struktur Organisasi Pengurus Komisariat
Bentuk yang digunakan pada Pengurus Komisariat adalah bentuk garis
fungsional dengan Pengurus Cabang HMI.
Dalam organisasi yang berbentuk garis dan fungsional, wewenang ketua umum
didelegasikan kepada satuan-satuan organisasi atau bidang-bidang kerja yang
dipimpin oleh para pemimpin dari setiap organisasi atau bidang-bidang kerja
yang mempunyai wewenang dan tanggungjawab atas pelaksanaan tugas
bidangnya masing-masing. Kemudian secara fungsional tanggungjawab itu
dipertanggungjawabkan oleh pimpinan masing-masing bidang kerja kepada
ketua umum.
Struktur organisasi komisariat terdiri:
1.
2.
3.
Bidang Penelitian, Pengembangan dan Pembinaan Anggota
Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan
Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
4.
5.
6.
Bidang Pemberdayaan Perempuan
Bidang Administrasi dan Kesekretariatan
Bidang Keuangan dan Perlengkapan
4. Komposisi Personalia Pengurus Komisariat
Struktur organisasi Pengurus Komisariat diisi dengan personalia yang memenuhi
persyaratan yaitu anggota biasa yang telah mencapai usia keanggotaan 1
(satu) tahun dan berprestasi.
Komposisi personalia yang mengisi struktur organisasi Pengurus Komisariat
adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
Ketua Umum
Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan Dan Pembinaan Anggota
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan Dan Kepemudaan.
Ketua Bidang Kewirausahaan Dan Pengembangan Profesi
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan
Sekretaris Umum
Wakil Sekum Bidang PPPA
Wakil Sekum Bidang PTKP
Wakil Sekum Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
Wakil Sekum Bidang Pemberdayaan Perempuan
Bendahara Umum
Wakil Bendahara Umum
Departemen Diklat Anggota
Departemen Litbang Anggota
Departemen Data Anggota
Departemen Perguruan Tingggi Dan Kemahasiswaan
Departemen Kepemudaan
Departemen Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
Departemen Kajian Perempuan
Departemen Pembangunan Sumber Daya Perempuan
Departemen Data Dan Pustaka
Departemen Penerangan
Departemen Ketatausahaan
Departemen Logistik
Departemen Pengelolaan Sumber Dana
5. Fungsi Personalia Pengurus Komisariat
Masing-masing personalia Pengurus Komisariat menjalankan fungsinya sebagai
berikut:
1.
Ketua Umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam
pelaksanaan tugas-tugas intern dan ekstern yang bersifat umum di
komisariat
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Ketua bidang Penelitian, pengembangan dan pembinaan anggota adalah
penanggungjawab dan koordinator kegiatan penelitian, pengembangan dan
pembinaan anggota di tingkat komisariat
Ketua bidang perguruan tinggi, Kemahasiswaan dan kepemudaan adalah
penanggungjawab
dan
koordinator
kegiatan
perguruan
tinggi,
Kemahasiswaan dan kepemudaan di tingkat komisariat
Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi adalah
penanggungjawab dan koordinator pembentukan fungsional dan evaluasi
dalam kewirausahaan di tingkat komisariat serta bertanggungjawab atas
koordinasi dengan Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) tingkat Cabang.
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan adalah penanggungjawab dan
koordinator kegiatan bidang kewanitaan tingkat komisariat
Sekretaris umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam
bidang data dan pustaka, ketatausahaan, dan penerangan serta hubungan
organisasi dengan pihak ekstern pada tingkat komisariat
Wakil sekum bidang PPPA bertugas atas nama sekretaris umum untuk
kegiatan PPPA membantu ketua bidangnya di tingkat komisariat
Wakil sekum bidang PTKP bertugas atas nama sekretaris umum untuk
kegiatan PTKP membantu ketua bidangnya di tingkat komisariat
Wakil sekum bidang Kewirausahaan Dan Pengembangan Profesi bertugas
atas nama sekretaris umum untuk kegiatan kewirausahaan dan
pengembangan profesi membantu ketua bidangnya di tingkat komisariat
Wakil sekum bidang pemberdayaan perempuan bertugas atas nama
sekretaris umum untuk kegiatan kewanitaan membantu ketua bidangnya di
tingkat komisariat
Bendahara umum
adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan
dalam bidang keuangan dan perlengkapan organisasi pada tingkat
komisariat
Wakil bendahara umum bertugas atas nama bendahara umum dalam
pengelolaan administrasi keuangan dan perlengkapan organisasi di tingkat
komisariat.
Departemen diklat PPPA bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja
dan kegiatan-kegiatan di bidang perkaderan PPPA di tingkat komisariat.
Departemen litbang anggota bertugas sebagai koordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang litbang di tingkat komisariat.
Departemen data anggota bertugas sebagai koordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang data anggota di tingkat komisariat.
Departemen perguruan tingggi dan kemahasiswaan bertugas sebagai
koordinator operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang PTK di
tingkat komisariat.
Departemen kepemudaan bertugas sebagai koordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pemuda di tingkat komisariat.
Departemen kewirausahaan bertugas sebagai koordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang kewirausahaan di tingkat komisariat.
Departemen Pengembangan Profesi bertugas sebagai coordinator
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan bidang pengembangan profesi
ditingkat komisariat.
Departemen kajian perempuan bertugas sebagai koordinator operasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang kewanitaan di tingkat komisariat.
Departemen pembangunan sumber daya perempuan bertugas sebagai
koordinator operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang sumber
daya wanita di tingkat komisariat.
Departemen data dan pustaka bertugas sebagai koordinator operasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang data dan pustaka di tingkat
komisariat.
Departemen penerangan bertugas sebagai koordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang penerangan di tingkat komisariat.
Departemen ketatausahaan bertugas sebagai koordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang tata usaha di tingkat komisariat.
25. Departemen logistik bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan
kegiatan-kegiatan di bidang logistik di tingkat komisariat.
26. Departemen pengelolaan sumber dana bertugas sebagai koordinator
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang sumber dana di
tingkat komisariat.
6. Wewenang dan Tanggung Jawab Bidang Kerja Pengurus Komisariat
Masing-masing bidang dalam pengurus menjalankan wewenang dan tanggung
jawabnya sesuai:
1.
Bidang Penelitian,
Anggota
Pengembangan
Anggota
Dan
Pembinaan
a. Meyelenggarakan pembinaan anggota komisariat dengan melakukan
b.
c.
d.
e.
2.
pengawasan terhadap training maupun aktivitas yang diselenggarakan
oleh anggota komisariat.
Melakukan penelitian dan penilaian beik dari segi program maupun
edukatif terhadap aktifitas anggota maupun aktifis yang diselenggarakan
oleh komisariat.
Mengusahakan tindak lanjut dari setiap aktivitas anggota komisariat atas
hasil penilaian pelaksana aktivitas seelumnya yang dilaksanakan anggota
maupun komisariat.
Menyelenggarakan proyek-poyek kerja yang memberikan dampak positif
bagi peningkatan kualitas dan kuantitas aktifitas anggota seperti diskusi
pengembangan kelembagaan perkaderan, kurikulum aktifitas dan metode
training dan sebagainya.
Menyelenggarakan kegiatan lain yang dapat menunjang upaya
pembinaan anggota komisariat, training-training latihan-latihan.
Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan Dan Kepemudaan
a. Melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang partisipasi anggota
dan alumni HMI di lingkungan komisariat (fak/PT) aktifitas diskusi
kelompok, grup pelajar tutor tiap disiplin ilmu yang ada di PT.
b. Melakukan kegiatan yang dapat mendorong anggota dan alumni
komisariat (fak/PT) mengikat kehidupan beragama antara lain:
1. Memprakarsai kegiatan-kegiatan agama (Islam) di lingkungan kampus.
2. Meningkatkan efektivitas kehidupan Masjid kampus
3. Melakukan diskusi-diskusi untuk meningkatkan konsep Islam tentang
berbagai seri kehidupan masyarakat.
c. Melakukan kegiatan yang menunjang partisipasi anggota dan alumni
komisariat (fak/PT) bersangkutan dalam mewujudkan kehidupan kampus
umumnya di dunia kemahasiswaan di lingkungan komisariat.
d. Melakukan aksi penelitian dalam lapangan disiplin ilmu masing-masing
dengan melibatkan anggota dan alumni sebagai upaya relasi tri dharma
perguruan tinggi.
3.
Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi
a. Menyelenggarakan
pembinaan dan pengembangan profesionalisme
anggota tingkat komisariat, serta melakukan pengawasan terhadap kajian
dan program aksi sosial dan aktivitas yang diselenggarakan oleh anggota
komisariat.
b. Melakukan penilaian dan penelitian baik secara kualitatif maupun
kuantitatif
atas
program-program
aksi
sosial
atau
aktifitas
pengembangan profesi yang diselenggarakan oleh anggota komisariat.
c. Mengusahakan tindak lanjut sari setiap aktifitas anggota komisariat atas
hasil penilaian dan penelitian atas pelaksanaan program/aksi di bidang
pengembangan profesi yang diselenggarakan oleh anggota komisariat.
d. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan dampak
positif bagi peningkatan kualitas dan kuantitas pelaksanaan aktifitas
anggota.
e. Menyelenggarakan kegiatan lain yang dapat menunjang upaya
pembinaan anggota komisariat di bidang pengembangan profesi.
4.
Bidang Pemberdayaan Perempuan
a. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas HMIwati sesuai dengan tingkat perkembangan dunia kewanitaan khususnya
dalam masyarakat umum.
b. Mengangkat topik-topik kewanitaan di diskusi-diskusi komisariat.
c. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong KOHATI
untuk melakukan sosialisasi organisasi dan pembinaan terhadap
personalia KOHATI dalam:
1. Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan anggota terhadap fungsi
dan peranan KOHATI sebagai badan khusus HMI.
2. Mendorong HMI-wati untuk mengikuti training-training baik training
umum maupun khusus.
3. Meningkatkan komunikasi antara KOHATI dengan aparat HMI dan
alumni.
5.
Bidang Administrasi dan kesekretariatan
a. Melakukan pengaturan tata-cara pengelolaan surat menyurat yang
meliputi:
1. Penyelenggaraan pemrosesan surat masuk.
2. Penyelenggaraan pemrosesan surat keluar
3. Penyelenggaraan pemrosesan konsep surat keluar
4. Penyelenggaraan pengetikan dan pengadaan surat.
5. Penyelenggaraan pengaturan administrasi pengarsipan.
6. Penyelenggaraan pengaturan pengarsipan surat.
b. Melakukan pengumpulan, pencatatan pengolahan, penyusunan, dan
pemeliharaan dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkenaan
dengan intern dan ekstern organisasi
c. Mengatur penyelenggaraan produksi atau reproduksi dari dokumentasi
organisasi yang perlu disampaikan kepada seluruh aparat HMI.
6. Bidang Keuangan Dan Perlengkapan
a. Menyusun anggaran dan pengeluaran untuk satu periode dan untuk
setiap satu semester.
b. Mengelola sumber-sumber penerimaan
ketentuan organisasi yang berlaku.
organisasi
sesuai
dengan
c. Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap penerimaan dan
pengeluaran komisariat berdasarkan pedoman administrasi keuangan
yang disusun untuk keperluan ini.
d. Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh aparat HMI untuk
meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota.
e. Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan, perbaikan dan
penambahan perlengkapan organisasi dengan:
1. Setiap kali
organisasi.
mengadakan
kontrol
terhadap
pemakaian
peralatan
2. Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi sesuai atau tidak
dengan kebutuhan organisasi.
3. Menyusun daftar inventarisasi organisasi.
4. Mengatur perawatan
organisasi.
dan
pemeliharaan
seluruh
perlengkapan
5. Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan gedung halaman
perkantoran.
7. Instansi Pengambilan Keputusan Pengurus Komisariat
Tata susunan instansi pengambilan keputusan dalam Pengurus Komisariat:
1. Rapat Harian
2. Rapat Presidium
Untuk evaluasi pelaksanaan program dilakukan rapat bidang kerja dan untuk
menyusun rancana kerja operasional diselenggarakan rapat kerja pengurus.
a.
Rapat Harian Komisariat
1. Rapat harian dihadiri oleh seluruh fungsionaris komisariat, ketua KOHATI
komisariat.
2. Rapat harian dilaksanakan setidak-tidaknya dua kali dalam satu bulan
yakni pada hari jumat dalam minggu pertama dan ketiga setiap bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat harian:
a. membahas dan menjabarkan kebijakan yang telah diambil atau
ditetapkan oleh Pengurus Cabang dan sidang pleno yang
mensosialisasikan pada anggota komisariat.
b. Mengkaji dan mengevaluasi keputusan keputusan selanjutnya
c. Mendengarkan laporan kegiatan dari seluruh fungsionaris komisariat.
b.
Rapat Presidium Komisariat
1. Rapat presidium dihadiri oleh ketua umum, ketua bidang, sekretaris
umum, wakil sekretaris umum, bendahara umum dan wakil bendahara
umum.
2. Rapat presidium dilaksanakan setidak-tidaknya empat kali dalam satu
bulan yakni, pada hari jum’at dari tiap minggu. Untuk minggu pertama
dan kedua diintegrasikan ke dalam rapat harian.
3. Fungsi dan wewenang rapat presidium:
a. Mengambil keputusan tentang pengembangan intern organisasi seharihari khususnya dalam hal perkembangan situasi PT dan
kemahasiswaan dalam upaya pembinaan komisariat.
b. Mendengar informasi tentang perkembangan intern organisasi dan
dampaknya bagi perkembangan komisariat.
c.
Rapat Bidang
1. Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang bersangkutan.
2. Rapat bidang diselenggarakan setidak-tidaknya satu kali dalam satu
d.
bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat bidang:
a. Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap
bidang.
b. Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap
bidang yang mengalami perubahan baik dalam segi teknis maupun
segi waktu.
c. Menyusun langkah-langkah teknis untuk menyelenggarakan proyek/
kerja berikutnya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh rapat
presidium.
Rapat Kerja
1. Rapat kerja dihadiri oleh semua fungsionaris komisariat.
2. Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu semester.
3. Fungsi dan wewenang rapat kerja:
a. Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester.
b. Menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran untuk
seluruh kegiatan Pengurus Komisariat selama satu semester.
II.
STRUKTUR PEMBANTU PIMPINAN
A. PENGURUS BADAN KOORDINASI (BADKO)
1. Status Pengurus Badan Koordinasi (Badko)
Sesuai dengan ketentuan yang termaksud pada BAB II BAGIAN V pasal 23
anggaran rumah tangga HMI mengenai status Badan Koordinasi HMI dalam
struktur organisasi umumnya dan pimpinan khususnya, status Badan Koordinasi
adalah:
a.
b.
Badan koordinasi adalah badan pembantu Pengurus Besar
Badan koordinasi HMI dibentuk untuk mengkoordinir HMI Cabang di bawah
koordinasinya.
c.
Masa jabatan Pengurus Badan Koordinasi disesuaikan dengan masa
jabatan Pengurus Besar
2. Tugas dan Wewenang Pengurus Badan Koordinasi (Badko)
Sesuai yang tercantum dalam Bab V pasal 25 Anggaran Rumah Tangga HMI
tugas dan kewajiban Pengurus Badko adalah:
a.
b.
Melaksanakan dan mengembangkan kebijakan Pengurus Besar tentang
berbagai tugas organisasi di wilayahnya.
Mewakili Pengurus Besar dalam menyelesaikan persoalan intern dan
menunjang kinerja Pengurus Besar HMI di wilayah koordinasinya tanpa
meninggalkan keharusan konsultasi dengan Pengurus Besar. Dan apabila
Badko tidak mampu menyelesaikan persoalan internal diwilayahnya, maka
dilaporkan ke Pengurus Besar untuk menyelesaikan dan secepat mungkin
menjalankan hasil keputusan Pengurus Besar.
c. Melaksanakan segala hal yang telah diputuskan musda.
d. Melaksanakan sidang pleno setiap semester kegiatan.
e. Membantu menyiapkan draft materi kongres.
f. Membimbing, membina, mengkoordinir dan mengawasi kegiatan Cabang
dalam wilayah koordinasi.
g. Membentuk dan mengesahkan Cabang persiapan.
h. Membuat laporan perkembangan Cabang-Cabang dalam wilayah
koordinasinya.
i. Menyampaikan laporan kerja kepengurusan setiap semester kepada
Pengurus Besar.
j. Menyelenggarakan musyawarah daerah (musda) selambat-lambatnya tiga
bulan setelah kongres.
k. Memberikan laporan kerja pada musda.
l. Mewakili Pengurus Besar dalam meantik pengurus Cabang.
m. Mewakili Pengurus Besar dalam mengawasi proses Konfrensi/Musyawarah di
tingkat cabang.
Sebagaimana badan pembantu Pengurus Besar, badan koordinasi berfungsi
diantaranya adalah sebagi kordinator yang melaksanakan dan mengembangkan
kebijakan pengurus besar tentang berbagai masalah atau menyelesaikan
persoalan-persoalan intern HMI dilingkungan koordinasinya tetapi lebih penting
lagi dimaksudkan untuk menyerasikan gerak langkah organisasi selaras dan
sejalan dengan kebijakan PB yang berpedoman kepada ketetapan-ketetapan
kongres sebagai instansi pengambilan keputusan tertinggi organisasi.
3. Struktur Organisasi Pengurus Badan Koordinasi (Badko)
Struktur organisasi Pengurus Badan Koordinasi sesuai dengan pembidanan
dalam program kerja nasional HMI, disesuaikan dengan pembidangan kerja
dalam struktur PB kecuali bidang hubungan internasional yang ada hanya pada
tingkat PB.
1. Bidang Intern
2. Bidang Ekstern
3. Bidang Administrasi Dan Kesekretariatan
4. Bidang Keuangan Dan Perlengkapan
5. Bidang Pemberdayaan Perempuan
4. Komposisi Personalia Pengurus Badan Koordinasi (Badko)
Struktur organisasi Pengurus Badan Koordinasi HMI diisi dengan personalia yang
memenuhi persyaratan sesuai dengan persyaratan Pengurus Besar. Hal ini
dikarenakan Badko seperti tercantum dalam pasal 25 anggaran rumah tangga
HMI. Oleh sebab itu, maka persyaratan minimal dapat menjadi pengurus badan
kordinasi HMI adalah anggota yang pernah manjadi Pengurus komisariat dan
Pengurus Cabang atau anggota yang berprestasi dan telah mengikuti LK II.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
Ketua Umum
Ketua Bidang Intern
Ketua Bidang Ekstern
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan
Sekretaris Umum
Wakil Sekretaris Umum Intern
Wakil Sekretaris Umum Ekstern
Wakil Sekretaris Umum Bidang Pemberdayaan Perempuan
Bendahara Umum
Wakil Bendahara Umum
Departemen Penelitian Dan Pengembangan Kader
Departemen Pendidikan Dan Latihan
Departemen Pengembangan Dan Promosi Kader
Departemen Pendayagunaan Organisasi
Departemen Pembangunan Organisasi
Departemen Perguruan Tinggi Dan Kemahasiswaan
Departemen Kepemudaan
Departemen Kewirausahaan
Departemen Pengembangan Profesi
Departemen Masalah Pembangunan
Departemen Informasi Pembangunan Regional
Departemen Pengkajian Masalah Keumatan
Departemen Hubungan Lembaga Islam
Departemen Kajian Perempuan
Departemen Hubungan Lembaga Perempuan
Departemen Penerangan Dan Humas
Departemen Administrasi Dan Kesekretariatan
Departemen Logistik
Departemen Pengembangan Dana.
Mekanisme penetapan Pengurus Badan Koordinasi HMI dilakukan malalui
Forum
Musyawarah
Daerah
(musda)
dengan
memilih
ketua
umum/formateur Badko yang selanjutnya disahkan oleh Pengurus Besar
HMI (pasal 26 ayat d ART HMI).
5. Fungsi Personalia Pengurus Badan Koordinasi (Badko)
Masing-masing personalia
fungsinya sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
Pengurus
Badan
Koordinasi
HMI
menjalankan
Ketua Umum
adalah penanggung jawab dan koordinator dalam
pelaksanaan tugas-tugas intern dan ekstern yang bersifat umum di tingkat
regional.
Ketua Bidang Intern adalah penanggungjawab dan koordinator umum
seluruh kegiatan yang sifatnya internal organisasi.
Ketua Bidang Ekstern adalah penanggungjawab dan koordinator umum
seluruh kegiatan yang sifatnya eksternal organisasi.
Ketua Bidang kewanitaan adalah penanggungjawab dan koordinator umum
seluruh kegiatan bidang kewanitaan organisasi.
Sekretaris Umum adalah penanggungjawab dan koordinator umum bidang
data dan pustaka ketatausahaan dan penerangan serta hubungan
organisasi dengan pihak eksten di wilayah daerah.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
Wakil sekretaris umum intern bertugas atas nama sekretaris umum untuk
kegiatan yang sifatnya intern dalam organisasi.
Wakil sekretaris umum ekstern bertugas atas nama sekretaris umum untuk
kegiatan yang sifatnya ekstern dalam organisasi.
Wakil sekretaris umum bidang kewanitaan bertugas atas nama sekretaris
umum untuk kegiatan yang sifatnya kewanitaan dalam organisasi.
Bendahara umum penanggungjawab dan koordinator bidang keaungan dan
perlengkapan organisasi.
Wakil bendahara umum bertugas atas nama bendahara umum dalam
pengolahan administrasi keuangan dan perlengkapan organisasi tingkat
regional.
Departemen penelitian dan pengembangan kader sebagai kordinator
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan dibidang penelitian dan
pengenmabgan kader di tingkat regional.
Departemen pendidikan dan latihan sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan dibidang pendidikan dan latihan di tingkat
regional.
Departemen pengembangan dan promosi kader sebagai kordinator
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan dan
promosi kader di tingkat regional
Departemen pendayagunaan organisasi sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pendayagunaan organisasi di tingkat
regional
Departemen pembangunan organisasi sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pembangunan organisasi di tingkat
regional
Departemen perguruan tinggi dan kemahasiswaan sebagai kordinator
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang perguruan tinggi dan
kemahasiswaan di tingkat regional
Departemen kepemudaan sebagai kordinator operasional dari kerja dan
kegiatan-kegiatan di bidang kepemudaan di tingkat regional
Departemen kewirausahaan sebagai kordinator operasional dari kerja dan
kegiatan-kegiatan di bidang kewirausahaan di tingkat regional
Departemen pengembangan profesi sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan profesi di tingkat
regional
Departemen masalah pembangunan sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di masalah pembangunan di tingkat regional
Departemen informasi pembangunan regional sebagai kordinator
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang informasi
pembangunan regional di tingkat regional
Departemen pengkajian masalah keumatan sebagai kordinator operasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengkajian masalah keumatan di
tingkat regional
Departemen hubungan lembaga islam sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang hubungan lembaga islam di tingkat
regional
Departemen kajian wanita sebagai kordinator operasional dari kerja dan
kegiatan-kegiatan di bidang kajian perempuan di tingkat regional
Departemen hubungan lembaga perempuan sebagai kordinator operasional
dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang hubungan lembaga wanita di
tingkat regional
Departemen penerangan dan humas sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang penerangan dan humas di tingkat
regional
Departemen administrasi dan kesekretariatan sebagai kordinator
operasional dari kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang administrasi dan
kesekretariatan di tingkat regional
28. Departemen logistik sebagai kordinator operasional dari kerja dan kegiatankegiatan di bidang logistik di tingkat regional
29. Departemen pengembangan dana sebagai kordinator operasional dari
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan dana di tingkat
regional
6. Wewenang dan Tanggung Jawab Bidang Kerja Pengurus Badan
Koordinasi (Badko)
Masing-masing bidang kerja Pengurus Badan Koordinasi dalam menjalankan
wewenang dan tanggungjawab adalah sebagi berikut:
A. Bidang Intern
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Melakukan penelitian baik dari segi program maupun dari segi edukatif
terhadap hasil-hasil penyelenggaraan training dan aktifitas yang
dajlankan oleh seluruh aparat Cabang dibawah koordinasi Badko
bersangkutan.
Menyusun data perkembangan anggota di setiap Cabang dalam wilayah
koordinasi.
Menyususn data aparat organisasi dan lembaga khusus dan analisa hasil
penelitian di kawasan koordinasinya dalam ikhtiar mentertibkan
penyelenggaraan organisasi yang sesuai dengan konstitusi.
Menyusun data hasil eksternal berdasarkan sektor yang urgen dalam
perkembangan kawasan regional untuk mengembangkan HMI di wilayah
Badko bersangkutan.
Meyelenggarakan koordiansi pengawasan terhadap pelaksanaan
training dan aktifitas yang diselenggarakan oleh seluruh aparat Cabang
HMI di lingkungan.
Mengusahakan tindak lanjut atas hasil penelitian pelaksanaan training
dan aktifitas yang diselenggarakan oleh aparat HMI Cabang dikawasan
koordinasinya dengan:
a. Mengarahkan dan mensosialisasi petunjuk pelaksanaan training
dalam pedoman yang operasional dalam menerapkan pedoman
perkaderan HMI.
b. Mengarahkan dan mensosialisasi teks book yang disusun oleh PB HMI
sehingga dapat menjadi pedoman perkaderan HMI.
c. Mengarahkan dan mensosialisasi pedoman evaluasi training yang
telah ditetapkan oleh organisasi.
d. Menyelenggarakan proyek yang dapat memeberikan dampak positif
bagi peningkatan kualitas dan kuantitas pelaksanaan trainging dan
aktifitas pusdiklat tingkat regional, kegiatan pengembangan
kelembagaan perkaderan pilot project membangun kurikulum training
dan sebagainya.
Menyelenggarakan kegiatan lainnya yang dapat menunjang pembinaan
anggota.
Memperhatikan,
mengontrol
dan
melaksanakan
rasionalisasi
kepengurusan dari aparat HMI di kawasan koordinasinya melalui
penggantian pengurus yang teratur, tepat waktu rekruitmen personalia
yangs esuai dengan kualitas individu yang diperlukan.
Menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menunjang peningkatan
kualitas kerja dan mekanisme kerja organisasi sesuai dengan
aturan/pedoman koordinasinya.
10. Mendorong berbagai kegiatan leinnya yang menunjang peningkatan
kualitas kerja dan mekanisme kerja organisasi dikawasan koordinasinya.
11. Melakukan kegiatan lainnya yang menunjang peningkatan dan
pengembangan serta potensi organisasi menjalankan usaha di kawasan
koordinasinya.
B. Bidang Ekstern
1.
2.
3.
4.
a.
b.
5.
6.
Menyelenggarakan kegiatan yang dapat meningkatkan partisipasi aktif,
korektif dan konstruktif dari seluruh aggota dan alumni HMI dan
mewujudan
kehisupan
kampus yang demokratis di wilayah
koordinasinya.
Mengusahakan agar para anggota dan alumni HMI ikut erta secara aktif
meningkatkan fungsi dan peranan perguruan tinggi di tengah-tengah
kehidupan masyarakat di wilayahnya.
Menyelenggarakan kegiatan yang mendorong anggota alumni untuk
meningkatkan kehidupan beragan di kampus dengana antara lain:
a. Menyelenggarakan diskusi, seminar, symposium dan sebagainya
yang berkenaan dengan pengkajian terhadap penyempurnaan sistem
pendidikan umumnya dan sistem pendidikan tinggi khususnya.
b. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan
fungsinya dan peran lembaga Pengembangan Profesi (LPP), baik
sebagai sarana pengembangan profesi anggota maupun wadah
dharma bhakti kemasyarakatan HMI di seluruh aparat dalam upaya
berperan serta dalam pembangunan.
c. Melakukan kegiatan lainnya yang menunjang partisipasi anggota dan
alumni HMI dalam mewujudkan kehidupan kampus umumnya dan
dunia kemahasiswaan khususnya di lingkup regional.
Melakukan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas
personil pengelola lembaga pengembangan Profesi (LPP) di seluruh
aparat antara lain dengan :
Mendorong seluruh aparat HMI untuk melakukan latihan pengembangan
ketrampilan mengelola lembaga pengembangan profesi (LPP).
Mendorong seluruh aparat HMI untuk menyelenggarakan kerja-kerja
sosial kemasyarakatan.
Mengusahakan hubungan kerja sama secara kelembagaan antara lain
lembaga-lembaga pengembangan profesi (LPP) HMI dengan berbagai
lembaga pengembangan profesi dan lembaga-lembaga penelitian
kemasyarakatan.
Mengembangkan pola kajian yang kontinu untuk menggali pemikiran
yang bermanfaat dalam berbagai segi kehidupan umat Islam guna
disumbangkan sebagai kontribusi gagasan pada lembaga-lembaga
sosial, keagamaan dan politik.
C. Bidang Administrasi Dan Kesekretariatan
1.
Melakukan pengaturan tata-cara pengelolaan surat menyurat yang
meliputi:
a. Penyelenggaraan pemrosesan surat masuk.
b. Penyelenggaraan pemrosesan surat keluar
c. Penyelenggaraan pemrosesan konsep surat keluar
d. Penyelenggaraan pengetikan dan pengadaan surat.
e. Penyelenggaraan pengaturan administrasi pengarsipan.
f. Penyelenggarakan pengaturan pengarsipan surat.
2.
3.
4.
5.
Melakukan pengumpulan, pencatatan pengolahan, penyusunan, dan
pemeliharaan dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkenaan
dengan tat inter dan ekstern organisasi.
Mengatur penyelenggaraan produksi atau reproduksi dari dokumentasi
organisasi yang perlu disampaikan kepada seluruh aparat HMI.
Menyelenggarakan aktifitas yang dapat menambah pengetahuan dan
ketrampilan personil bidang kesekretariatan di seluruh aparat HMI guna
meningkatkan kelancaran dan mutu kerja dalam bidang administrasi
kesekretariatan.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mendukung usaha
perbaikan peningkatan dan penyempurnaan cara kerja administrasi
kesekretariatan di seluruh aparat HMI.
D. Bidang Keuangan Dan Perlengkapan
1.
2.
3.
4.
5.
Menyusun anggaran dan pengeluaran Pengurus Badan Koordinasi untuk
satu periode dan untuk setiap satu semester.
Mengelola sumber-sumber penerimaan organisasi sesuai dengan
ketentuan organisasi yang berlaku.
Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap penerimaan dan
pengeluaran Pengurus Badan Koordinasi berdasarkan pedoman
administrasi keuangan yang disusun untuk keperluan ini.
Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh aparat HMI
untuk meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota.
Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan, perbaikan dan
penambahan perlengkapan organisasi dengan:
a. Setiap kali mengadakan kontrol terhadap pemakaian peralatan
organisasi.
b. Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi sesuai atau
tidak dengan kebutuhan organisasi.
c. Menyusun daftar inventarisasi organisasi.
d. Mengatur perawatan dan pemeliharaan seluruh perlengkapan
organisasi.
e. Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan gedung halaman
perkantoran.
E. Bidang Pemberdayaan Perempuan
1.
2.
3.
4.
5.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas
HMI-wati sesuai dengan tingkat perkembangan dunia perempuan
khususnya dalam masyarakat umum.
Merumuskan pemikiran-pemikiran kualitatif yang bermanfaat bagi
kemajuan KOHATI dan sesama organisasi perempuan lainnya, seperti
pemikiran-pemikiran tentang peningkatan kualitas kepemimpinan
dikalangan perempuan, mekanisme dan struktur organisasi yang efektif
fan lain sebagainya.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan upaya
bersama dikalangan perempuan dalam menanggulangi berbagai
masalah sosial kemasyarakatan.
Mengangkat topik pembahasan perempuan dalam kelompok–kelompok
diskusi HMI.
Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong KOHATI
untuk melakukan sosialisasi organisasi dan pembinaan terhadap
personalia KOHATI dalam:
a. Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan anggota terhadap
fungsi dan peranan KOHATI sebagai badan khusus HMI.
b. Mendorong HMI-wati untuk mengikuti training-training baik training
umum maupun khusus.
c. Meningkatkan komunikasi antara KOHATI dengan aparat HMI dan
alumni.
d. Menyelenggarakan berbagai usaha yang dapat mendorong
peningkatan peranan KOHATI dalam wadah-wadah kerjasama
organisasi perempuan.
e. Melakukan berbagai aktifitas lainnya yang menunjang upaya
pembinaan personalia KOHATI, pembinaan operasional KOHATI
serta pembina partisipasi KOHATI dalam kehidupan perempuan
khususnya dan masyarakat.
7. Instansi Pengambilan Keputusan Pengurus Badan Koordinasi (Badko)
Tata susunan tingkat instansi pengambilan keputusan dalam Pengurus Badan
Koordinasi adalah:
1.
2.
Sidang Pleno.
Rapat Harian
a.
Rapat Presidium
A.
Sidang Pleno Badko
1. Sidang pleno Badko adalah instansi tertinggi pengambilan keputusan di
tingkat badan koordinasi.
pleno dihadiri oleh seluruh fungsionaris Pengurus Badan
Koordinasi, ditambah dengan ketua umum Cabang wilayah koordinasi.
3. Fungsi dan wewenang sidang pleno:
a. Membahas laporan Pengurus Badan Koordinasi tentang pelaksanaan
tugas sebagai koordiansi yang telah ditetapkan oleh musda untuk tiap
semester.
b. Mendengar laporan pengurus Cabang dilingkungan kordinasinya.
c. Mengambil kebijakan yang mendasar bagi organisasi, baik kedalam
maupun keluar yang berpedoman dan selaras dengan kebijakan HMI
secara nasional di tingkat regional.
4. Sidang pleno setidak-tidaknya dilakukan enam bulan atau empat kali
dalam satu periode.
2. Sidang
B.
Rapat Harian Badko
1. Rapat harian Badko dihadiri seluruh fungsionaris Badko
2. Rapat harian Badko dilaksanakan setidak tidaknya satu kali dalam satu
bulan, yakni pada hari jum’at minggu terakhir.
3. Fungsi dan wewenang rapat harian adalah:
a. Membahas dan menjabarkan kebijakan
yang telah diambil atau
ditetapkan organisasi secara naisional dan yang telah ditetapkan
sidang pleno Badko untuk disosialisasikan di kawasan koordinasinya.
b. Mengkaji dan mengevaluasi keputusan keputusan presidium Badko
untuk kemudian mengambil atau mempertimbangkan keputusan dari
seluruh kebijakannya.
c. Mendengar laporan kegiatan dari seluruh fungsionaris Pengurus Badan
Koordinasi menyangkut bidang-bidangnya.
C.
Rapat Presidium Badko
1. Rapat
presidium Badko dihadiri oleh ketua umum, ketua bidang,
sekretaris umum. Wasekum, bendahara umum dan wabendum.
2. Rapat presidium dilakukan setidak-tidaknya empat kali dalam satu bulan,
yakni pada hari jum’at dari setiap minggu.
3. Fungsi dan wewenang rapat presidium Badko:
a. Mengambil keputusan tentang perkembangan organisasi sehari-hari
baik intern maupun eketern di kawasan koordinasinya, khususnya
pengaruh perkembangannya rterhadap kelangsungan aktifitas/program
yang telah ditetapkan.
b. Mendengar informasi tentang perkembangan dari berbagai aspek
organisasi baik intern maupun ekstern di tingkat regional.
c. Mengevaluasi perkembangan ekstern organisasi dan dampaknya bagi
perkembangan organisasi di wilayah koordinasinya.
D.
Rapat Bidang
1. Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang bersangkutan.
2. Rapat bidang diselenggarakan setidak-tidaknya satu kali dalam satu
bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat bidang:
a. Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap
bidang.
b. Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap
bidang yang mengalami perubahan baik dalam segi teknis maupun
segi waktu.
4. Menyusun
langkah-langkah
teknis
untuk
menyelenggarakan
kegiatan/kerja berikutnya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh
rapat presidium.
E. Rapat Kerja
1. Rapat kerja dihadiri oleh semua fungsionaris Badko
2. Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu semester.
3. Fungsi dan wewenang rapat kerja:
a. Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester.
b. Menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran untuk
seluruh kegiatan Pengurus Badan Koordinasi selama satu semester.
B. PENGURUS KOORDINATOR KOMISARIAT (KORKOM)
1. Status Pengurus Koordinator Komisariat (KORKOM)
Sesuai dengan ketentuan yang termaksud pada bagian VIII pasal 33 Anggaran
Rumah Tangga HMI mengenai status Koordinator Komisariat dalam struktur
organisasi umumnya dan pimpinan khususnya, status Koordinator Komisariat
adalah:
a.
Koordinator Komisariat adalah badan pembantu Pengurus Cabang
b. Koordinator
komisariat
c.
Komisariat
HMI
dibentuk
untuk
Masa jabatan pengurus Koordinator Komisariat
jabatan Pengurus Cabang
mengkoordinir
beberapa
disesuaikan dengan masa
2. Tugas dan Wewenang Pengurus Koordinator Komisariat (KORKOM)
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
Melaksanakan dan mengembangkan kebijakan Pengurus Cabang tentang
berbagai tugas organisasi di wilayahnya.
Mewakili Pengurus Cabang dalam menyelesaikan masalah intern di
lingkungan koordinasinya tanpa harus meninggalkan konsultasi.
Melaksanakan dan mengembangkan kebijaksanaan khusus pengurus
Cabang dalam bidang kemahasiswaan dan perguruan tinggi dalam wilayah
koordinasinya.
Melaksanakan segala hal yang telah diputuskan musyawarah komisariat.
Memberikan bimbingan, membina, mengkoordinir dan mengawasi kegiatankegiatan komisariat dalam wilayah koordinasinya.
Membentuk komisariat persiapan.
Meminta laporan dalam lingkungan koordinasinya.
Menyampaikan laporan kerja wnam bulan sekali kepengurusan setiap
semester kepada Pengurus Cabang.
Menyelenggarakan
musyawarah
Koordinator
Komisariat
selambatlambatnya dua bulan setelah konfercab.
Memberikan laporan kerja pada Musyawarah Komisariat (Muskom).
Sebagaimana badan pembantu Pengurus Cabang, Koordinator Komisariat
berfungsi diantaranya adalah sebagi kordinator yang melaksanakan dan
mengembangkan kebijakan pengurus Cabang tentang berbagai masalah atau
menyelesaikan persoalan-persoalan intern HMI dilingkungan koordinasinya
tetapi lebih penting lagi dimaksudkan untuk menyerasikan gerak langkah
organisasi selaras dan sejalan dengan kebijakan Pengurus Cabang yang
berpedoman
kepada
ketetapan-ketetapan
kongres
sebagai
instansi
pengambilan keputusan.
3. Struktur Organisasi Pengurus Koordinator Komisariat (KORKOM)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Penelitian, Pengembangan Dan Pembinaan Anggota
Pengembangan Dan Pembinaan Aparat Organisasi.
Perguruan Tinggi Dan Kemahasiswaan
Pemberdayaan Perempuan
Administrasi Dan Kesekretariatan
Keuangan Dan Perlengkapan.
4. Komposisi Personalia Pengurus Koordinator Komisariat (KORKOM)
1.
2.
3.
4.
5.
Ketua Umum
Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan Dan Pembinaan Anggota
Ketua Bidang Pengembangan Dan Pembinaan Aparat Organisasi.
Ketua Bidang Perguruan Tinggi Dan Kemahasiswaan
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
Sekretaris Umum
Wasekum PPPA
Wasekum PPPAO
Wasekum PTKP
Wasekum pemberdayaan Perempuan
Bendahara Umum
Wakil Bendahara Umum
Departemen Diklat Anggota
Departemen Pengembangan Perkaderan
Departemen Data Aparat Organisasi
Pendayagunaan Aparat Organisasi
Departemen Pengembangan Aparat
Departemen Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan
Departemen Kepemudaan
Departemen Kajian Perempuan
Departemen Pengembangan Sumber Daya Perempuan
Departemen Data Dan Pustaka
Departemen Penerangan
Departemen Ketata Usahaan
Departemen Logistik
Departemen Pengelolaan Sumber Dana
5. Fungsi Personalia Pengurus Koordinator Komisariat (KORKOM)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Ketua Umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam
pelaksanaan tugas-tugas intern dan ekstern organisasi yang bersifat umum
pada tingkat Korkom.
Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan Dan Pembinaan Anggota adalah
penanggung jawab dan koordinator bidang Penelitian, Pengembangan Dan
Pembinaan Anggota
Ketua Bidang Pengembangan Dan Pembinaan Aparat Organisasi. adalah
penanggungjawab dan koordinator bidang Pengembangan Dan Pembinaan
Aparat Organisasi.
Ketua
Bidang
Perguruan
Tinggi
Dan
Kemahasiswaan
adalah
penanggungjawab dan koordinator bidang Perguruan Tinggi Dan
Kemahasiswaan
Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan adalah penanggungjawab dan
koordinator bidang Pemberdayaan Perempuan
Sekretaris Umum
penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam
bidang data dan pustaka ketatausahaan dan penerangan serta hubungan
organisasi dengan pihak ekstern tingkat Korkom.
Wasekum PPPA bertugas untuk kegiatan PPPA membantu ketua bidangnya
di tingkat Korkom.
Wasekum PPPAO bertugas untuk kegiatan PPPA membantu ketua bidangnya
di tingkat Korkom.
Wasekum PTKP bertugas untuk kegiatan PTKP membantu ketua bidangnya
di tingkat Korkom.
Wasekum Pemberdayaan Perempuan bertugas untuk kegiatan Kewanitaan
membantu ketua bidangnya di tingkat Korkom.
Bendahara Umum penaggung jawab dan koordinator kegiatan di bidang
keuangan dan perlengkapan organisasi di tingkat Korkom.
Wakil Bendahara Umum bertugas atas nama bendahara umum dalam
pengolahan administrasi keuangan dan perlengkapan organisasi.
Departemen Diklat Anggota bertugas sebagai koordinator operasional dan
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Diklat Anggota ditingkat Korkom.
14. Departemen Pengembangan Perkaderan bertugas sebagai koordinator
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
operasional dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Pengembangan
Perkaderan ditingkat Korkom.
Departemen Data Aparat Organisasi bertugas sebagai koordinator
operasional dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Data Aparat
Organisasi ditingkat Korkom
Departemen Pendayagunaan Aparat Organisasi bertugas sebagai
koordinator operasional dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang
Pendayagunaan Aparat Organisasi ditingkat Korkom
Departemen Pengembangan Aparat bertugas sebagai koordinator
operasional dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Pengembangan
Aparat Organisasi ditingkat Korkom
Departemen Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan bertugas sebagai
koordinator operasional dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang
Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan ditingkat Korkom
Departemen Kepemudaan bertugas sebagai koordinator operasional dan
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Kepemudaan ditingkat Korkom
Departemen Kajian Perempuan bertugas sebagai koordinator operasional
dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Kajian Kewanitaan ditingkat
Korkom
Departemen Pengembangan Sumber Daya Wanita bertugas sebagai
koordinator operasional dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang
Pengembangan Sumber Daya Perempuan ditingkat Korkom
Departemen Data Dan Pustaka bertugas sebagai koordinator operasional
dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Data Dan Pustaka ditingkat
Korkom
Departemen Penerangan bertugas sebagai koordinator operasional dan
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Penerangan ditingkat Korkom
Departemen Ketata Usahaan bertugas sebagai koordinator operasional dan
kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Ketata Usahaan ditingkat Korkom
Departemen Logistik bertugas sebagai koordinator operasional dan kerja
dan kegiatan-kegiatan di bidang Logistik ditingkat Korkom
26. Departemen Pegelolaan sumber dana bertugas sebagai koordinator
operasional dan kerja dan kegiatan-kegiatan di bidang Pegelolaan
sumber dana ditingkat Korkom
6. Wewenang dan Tanggung Jawab Bidang Kerja Pengurus Koordinator
Komisariat
A. Bidang Penelitian, Pengembangan Dan Pembinaan Anggota
1. Menyelenggarakan koordiansi pengawasan dalam pengurus Korkom
terhadap pelaksanaan training dan aktivitas yang diselenggarakan oleh
seluruh aparat komisariat di seluruh Korkom.
2. Melakukan penilaian baik dari segi program maupun segi edukatif
terhadap hasil-hasil penyelenggaraan trainging dan aktifitas yang
dijalankan oleh seluruh aparat HMI komisariat di lingkungan Korkom
3. Mengusahakan lanjut atas penilaian pelasanaan training dan aktifitas
yang diselenggarakan oleh aparat HMI komisariat di lingkungan Korkom
dengan:
a. Mengarahkan, membina, membimbing dan mensosialisasikan petunjuk
pelaksanaan training dan aktifitasyang telah ditetapkan oleh pengurus
Cabang sehingga menjadi pedoman organisasi dalam menerapkan
pedoman perkaderan.
b. Mengarahkan dan mensosialisasikan pedoman evaluasi training yang
telah disusun oleh pengurus Cabang.
c. Menyelenggarakan proyek kerja yang dapat memberikan dampak
positif bagi peningkatan kualitas dan kuantitas pelaksanaan training
dan aktivitas lainnya.
d. Menyelenggarakan kegiatan lainnya yang dapat menunjang upaya
pembinaan anggota dilingkungan Korkom.
B. Bidang Pengembangan Dan Pembinaan Aparat Organisasi.
1. Memperhatikan,
2.
3.
4.
5.
mengontrol
dan
melaksanakan
rasionalisasi
kepengurusan dari aparat komisariat HMI di lingkungan koordinasi melalui
pergantian pengurus yang teratur tepat waktu rekrutmen personalia yang
sesuai dengan kualitas individual yang dibutuhkan.
Menyusun data pengembangan aparat HMI komisariat di lingkungannya
dalam ikhtiar menerbitkan penyelenggaraan organisasi yang sesuai
dengan konstitusi.
Menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menunjang peningkatan
kualitas dan mekanisme kerja organisasi aparat HMI komisariat di
lingkungan Korkom sesuai aturan yang berlaku.
Mendorong berbagai kegiatan di aparat HMI komisariat di lingkungan
Korkom yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas kerja dan mekanisme
kerja organisasi.
Melakukan kegiatan lainnya yangdapat menunjang peningkatan dan
pengembangan kualitas serta potensi organisasi dalam menjalankan
usaha di komisariat -komisariat di lingkungan Korkom
C. Bidang Perguruan Tinggi Dan Kemahasiswaan
1. Mengusahakan agar para anggota dan alumni HMI di lingkungan HMI ikut
serta secara aktif meningkatkan fungsi dan peranan perguruan tinggi di
tengah kehidupan bermasyarakat.
2. Melakukan kegiatan yang mendorong anggota dan alumni HMI di
lingkungan Cabang untuk meningkatkan kehidupan beragama dikampus
antara lain dengan :
a. Memprakarsai kegiatan-kegiatan agama (Islam) di lingkungan kampus.
b. Meningkatkan efektifitas kehidupan masjid kampus di kampus.
c. Melakukan diskusi-diskusi untuk meningkatkan konsep Islam tentang
berbagai segi kehidupan masyarakat.
d. Melakukan kegiatan yang dapat mendorong anggota komisariat untuk
melakukan dan meningkatkan aktifitas diskusi kelompok tentir-tentir,
grup belajar, dan lain-lain.
D. Bidang pemberdayaan perempuan
1. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong KOHATI
untuk melakukan sosialisasi organisasi dan pembinaan terhadap
personalia KOHATI dalam:
a. Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan anggota terhadap fungsi
dan peranan KOHATI sebagai badan khusus HMI.
b. Mendorong HMI-wati untuk mengikuti training-training baik training
umum maupun khusus.
2. Meningkatkan intensitas pembinaan komunikasi antara KOHATI dengan
seluruh aparat HMI komisariat di lingkungan koordinasinya dan alumni
HMI-wati di lingkungan perguruan tinggi.
3. Melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas HMI-wati sesuai
dengan tingkat perkembangan dunia wanita dilingkungan komisariatnya.
E. Bidang Administrasi Dan Kesekretariatan
1. Melakukan pengaturan tata-cara pengelolaan surat menyurat yang
meliputi:
a. Penyelenggaraan pemrosesan surat masuk.
b. Penyelenggaraan pemrosesan surat keluar
c. Penyelenggaraan pemrosesan konsep surat keluar
d. Penyelenggaraan pengetikan dan pengadaan surat.
e. Penyelenggaraan pengaturan administrasi pengarsipan.
f. Penyelenggarakan pengaturan pengarsipan surat.
2. Melakukan pengumpulan, pencatatan pengolahan, penyusunan, dan
pemeliharaan dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkenaan
dengan data intern dan ekstern organisasi.
3. Mengatur penyelenggaraan produksi atau reproduksi dari dokumentasi
organisasi yang perlu disampaikan kepada seluruh aparat HMI.
F.
Bidang Keuangan Dan Perlengkapan.
1. Menyusun anggaran dan pengeluaran untuk satu periode dan untuk
setiap satu semester. Mengelola sumber-sumber penerimaan organisasi
sesuai dengan ketentuan organisasi yang berlaku.
2. Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap penerimaan dan
pengeluaran kordinaror komisariat berdasarkan pedoman administrasi
keuangan yang disusun untuk keperluan ini.
3. Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh aparat HMI untuk
meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota.
4. Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan, perbaikan dan
penambahan perlengkapan organisasi dengan:
a. Setiap kali mengadakan kontrol terhadap pemakaian peralatan
organisasi.
b. Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi sesuai atau tidak
dengan kebutuhan organisasi.
c. Menyusun daftar inventarisasi organisasi.
d. Mengatur perawatan dan pemeliharaan seluruh perlengkapan
organisasi.
e. Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan gedung halaman
perkantoran.
7. Instansi Pengambilan Keputusan Pengurus Koordinator Komisariat
(KORKOM)
Tata susunan tingkat instansi pengambilan keputusan dalam Pengurus Korkom
adalah:
1. Sidang Pleno.
2. Rapat Harian.
3. Rapat Presidium
1.
Sidang Pleno Korkom
1. Sidang pleno Korkom adalah instansi tertinggi pengambilan keputusan di
tingkat Koordinator komisariat.
pleno dihadiri oleh seluruh fungsionaris pengurus Korkom,
ditambah dengan Ketua Umum Komisariat di wilayah koordinasinya.
3. Fungsi dan wewenang sidang pleno:
a. Membahas laporan pengurus Korkom tentang pelaksanaan tugas
sebagai koordinator yang telah ditetapkan oleh konfercab untuk tiap
semester.
b. Mendengarkan
laporan
pengurus
Komisariat
dilingkungan
koordinasinya.
c. Mengambil kebijakan yang mendasar bagi organisasi, baik kedalam
maupun keluar yang berpedoman dan selaras dengan kebijakan HMI
secara nasional di tingkat koordinasinya.
4. Sidang pleno setidak-tidaknya dilakukan dua kali dalam satu periode.
2. Sidang
2.
Rapat Harian Korkom
1. Rapat harian Korkom dihadiri seluruh fungsionaris Korkom
2. Rapat harian Korkom dilaksanakan setidak tidaknya satu kali dalam satu
bulan, yakni pada hari jum’at minggu terakhir.
3. Fungsi dan wewenang rapat harian adalah:
a. Membahas dan menjabarkan kebijakan
yang telah diambil atau
ditetapkan organisasi dan yang telah ditetapkan sidang pleno Korkom
untuk disosialisasikan di kawasan kordinasinya.
b. Mengkaji dan mengevaluasi keputusan keputusan presidium Korkom
untuk kemudian mengambil atau mempertimbangkan keputusan dari
seluruh kebijakannya.
c. Mendengar laporan kegiatan dari seluruh fungsionaris pengurus
Korkom menyangkut bidang-bidangnya.
3.
Rapat Presidium Korkom
1. Rapat presidium Korkom dihadiri oleh ketua umum, ketua bidang,
sekretaris umum. Wasekum, bendahara umum dan wabendum.
2. Rapat presidium dilakukan setidak-tidaknya empat kali dalam satu bulan,
yakni pada hari jum’at dari setiap minggu.
3. Fungsi dan wewenang rapat presidium Korkom:
a. Mengambil keputusan tentang perkembangan organisasi sehari-hari
baik intern maupun eketern di kawasan koordinasinya, khususnya
pengaruh perkembangannya terhadap kelangsungan aktifitas/program
yang telah ditetapkan.
b. Mendengar informasi tentang perkembangan dari berbagai aspek
organisasi baik intern maupun ekstern di tingkat kordinasinya.
c. Mengevaluasi perkembangan ekstern organisasi dan dampaknya bagi
perkembangan organisasi di wilayah koordinasinya.
4.
Rapat Bidang
1. Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang bersangkutan.
2. Rapat bidang diselenggarakan setidak-tidaknya satu kali dalam satu
bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat bidang:
a. Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap
bidang
b. Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap
bidang yang mengalami perubahan baik dalam segi teknis maupun
segi waktu.
4. Menyusun langkah-langkah teknis untuk menyelenggarakan proyek/kerja
berikutnya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh rapat
presidium.
1.
Rapat Kerja
1. Rapat kerja dihadiri oleh semua fungsionaris Korkom
2. Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu semester.
3. Fungsi dan wewenang rapat kerja:
a. Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester.
b. Menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran untuk
seluruh kegiatan Pengurus Korkom selama satu semester.
III. BADAN KHUSUS HMI
1. Status, Sifat dan Fungsi Pengurus Badan Khusus
Sesuai dengan ketentuan yang dimaksud dalam pasal 51 Anggaran Rumah
Tangga HMI mengenai status, sifat, dan fungsi Badan Khusus dalam HMI adalah:
a. Badan Khusus adalah lembaga yang dibentuk/disahkan oleh struktur
pimpinan sebagai wahana beraktifitas di bidang tertentu secara profesional di
bawah koordinasi bidang dalam struktur pimpinan setingkat.
b. Badan Khusus bersifat semi otonom terhadap struktur pimpinan.
c. Badan Khusus dapat memiliki pedoman sendiri yang tidak bertentangan
dengan AD/ART dan ketetapan Kongres lainnya.
Badan Khusus berfungsi sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana
pengembangan bidang tertentu yang dinilai strategis.
2. Jenis Badan Khusus
Sesuai dengan Pasal 52 ART Jenis Badan Khusus adalah:
a. Badan Khusus terdiri dari korps HMI-wati (Kohati), Lembaga Pengelola
b.
c.
d.
Latihan, Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) dan Badan Penelitian dan
Pengembangan (Balitbang).
Badan Khusus lainnya dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Badan Khusus dapat dibentuk di semua tingkatan struktur HMI.
Di tingkat Pengurus Besar dibentuk Kohati PB HMI, Badan Koordinasi
Nasional (Bakornas) BPL, Bakornas Lembaga Pengembangan Profesi (LPP)
dan Balitbang PB HMI.
3. Tugas dan Kewajiban Pengurus Badan Khusus
Sesuai dengan ART pasal 53 s.d. 56 tugas dan kewajiban masing-masing Badan
Khusus adalah:
a. KOHATI bertugas:
1. Melakukan pembinaan, pengembangan, dan peningkatan potensi kader
HMI dalam wacana dan dinamika keperempuanan.
2. Melakukan advokasi terhadap isu-isu keperempuanan.
b. Lembaga Pengembangan Profesi bertugas:
1. Melaksanakan perkaderan dan program kerja sesuai dengan bidang profesi
masing-masing LPP
2. Memberikan laporan secara berkala kepada struktur HMI yang setingkat.
c. Badan Pengelola Latihan bertugas :
1. Melaksanakan dan mengelola aktivitas pelatihan di lingkungan HMI.
2. Memberikan laporan secara berkala kepada struktur kepemimpinan HMI
yang setingkat.
d. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) bertugas:
1. Melaksanakan dan mengelola aktivitas penelitian dan Pengembangan di
lingkungan HMI.
2. Memberikan laporan secara berkala kepada Pengurus Besar HMI.
4. Struktur Organisasi Pengurus Badan Khusus
1.
2.
3.
4.
5.
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Pendidikan Dan Latihan
Penelitian dan Pengembangan
Pengabdian Masyarakat Dan Partisipasi
Administrasi Dan Kesekretariatan
Keuangan Dan Perlengkapan
5. Komposisi Personalia Badan Khusus
Komposisi dan personalia badan khusus adalah yang mengisi struktur organisasi
badan khusus HMI:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Ketua Umum
Ketua Bidang Pendidikan Dan Latihan
Ketua Bidang Penelitian Dan Pengembangan
Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Dan Partisipasi
Sekretaris Umum
Wasekum Bidang Pendidikan Dan Latihan
Wasekum Bidang Penelitian Dan Pengembangan
Wasekum Bidang Pengabdian Masyarakat Dan Partisipasi
Bendahara Umum
Wakil Bendahara Umum
Departemen Publikasi Dan Dokumentasi
Bidang Keuangan Dan Perlengkapan
6. Fungsi Dan Wewenang Pengurus Badan Khusus
1.
Ketua umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam
bidang program bersifat keluar maupun kedalam.
2. Ketua bidang pendidikan dan latihan adalah penanggungjawab dan
koordinator kegiatan dalam bidangpendidikan dan latihan
3. Ketua bidang penelitian dan pengembangan adalah penanggungjawab dan
koordinator kegiatan dalam bidang penelitian dan pengembangan
4. Ketua
bidang
pengabdian
masyarakat
dan
partisipasi
adalah
penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam bidang pengabdian
masyarakat.
5. Sekretaris umum penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam bidang
administrasi kesekretariatan, penerangan, dokumentasi keluar maupun ke
dalam.
6. Wasekum bidang pendidikan dan latihan bertugas atas nama sekretaris
umum penanggungjawab dan koordinator kegiatan pendidikan dan latihan
membantu ketua bidangnya
7. Wasekum bidang penelitian dan pengembangan bertugas atas nama
sekretaris umum penanggungjawab dan koordinator kegiatan penelitian
8. Wasekum bidang pengabdian masyarakat dan partisipasi bertugas atas
nama sekretaris umum penanggungjawab dan koordinator kegiatan
pengabdian masyarakat dan partisipasi membantu ketua bidangnya
9. Bendahara umum penanggungjawab dan kordinator bidang keuangan dan
perlengakap keluar maupun ke dalam.
10. Wakil bendahara umum bertugas atas nama bendahara umum untuk
mengelola administrasi keuangan dan perlengkapan lembaga.
11. Departemen publikasi dan dokumentasi bertugas sebagai koordinator
operasional dan kegiatan dalam bidang publikasi dan dokumentasi
7. Lembaga Dan Tanggungjawab Pengurus
A. Bidang Pendidikan dan Latihan Anggota
1. Menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan latihan bagi para anggota
sebagai upaya meningkatkan keahlian dan ketrampilan sesuai dengan
disiplin ilmu yang dikaitkan program yang digariskan:
a. Melakukan diskusi profesi dan ceramah.
b. Melakukan kursus dan training yang berkaitan dengan peningkatan
profesionalisme
2. Melaksanakan tindak lanjut atas hasil penelitian :
a. Membuat petunjuk pelaksanaan training lembaga, kurikulum dan
metode training.
b. Melakukan penialian baik dari segi program amupun edukatif terhadap
hasil penyelenggaraan aktivitas lembaga.
3. Menyelenggarakan kegiatan lainya yang dapat menunjang program
pendidikan dan latihan.
B. Bidang Penelitian dan Pengembangan
1. Menyelenggarakan kegiatan penelitian secara obyektif.
2. Menetapkan model penelitian yang dilakukan.
3. Melakukan hipotesa, pengolahan data, tabulasi, dan analisa data, dan
kemudian kesimpulan hasil penelitian.
4. Mengembangkan hasil dan dilakukan upaya pelaksanaannya.
C. Bidang Pengabdian Masyarakat dan Partisipasi
1. Menyelenggarakan
aksi
sosial
kemasyarakatan
sebagai
upaya
pengabdian dengan melibatkan masyarakat di lingkungan lembaga.
2. Menyelenggarakan kegiatan sebagai upaya partisipasi lembaga dalam
membangun daerah.
a. Mencoba ikut serta melaksanakan program kemasyarakatan
bekerjasama dengan pemerintah setempat.
b. Membimbing dan mebina masyarakat dengan melakukan kegiatan
yang mendorong masyarakat untuk meningkatkan partisipasi
pembangunan.
3. Melakukan kegiatan yang mendorong masyarakat lingkungan lembaga
menurut hakekat profesi masing-masing lembaga.
D. Bidang Administrasi dan Kesekretariatan
1. Melakukan pengaturan tata-cara pengelolaan surat menyurat yang
meliputi:
a. Penyelenggaraan pemrosesan surat masuk.
b. Penyelenggaraan pemrosesan surat keluar
c. Penyelenggaraan pemrosesan konsep surat keluar
d. Penyelenggaraan pengetikan dan pengadaan surat
e. Penyelenggaraan pengaturan administrasi pengarsipan
f. Penyelenggarakan pengaturan pengarsipan surat.
2. Melakukan pengumpulan, pencatatan pengolahan, penyusunan, dan
pemeliharaan dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkenaan
dengan intern dan ekstern organisasi.
3. Mengatur penyelenggaraan produksi atau reproduksi dari
dokumentasi organisasi yang perlu disampaikan kepada seluruh
aparat HMI.
E. Bidang Keuangan dan Perlengkapan
1. Menyusun anggaran dan pengeluaran lembaga untuk satu periode dan
untuk setiap satu semester.
2. Mengelola sumber-sumber penerimaan
ketentuan organisasi yang berlaku.
organisasi
sesuai
dengan
3. Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap penerimaan dan
pengeluaran lembaga berdasarkan pedoman administrasi keuangan yang
disusun untuk keperluan ini.
4. Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh aparat HMI untuk
meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota.
5. Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan, perbaikan dan
penambahan perlengkapan organisasi dengan:
a. Setiap kali
organisasi.
mengadakan
kontrol
terhadap
pemakaian
peralatan
b. Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi sesuai atau tidak
dengan kebutuhan organisasi.
c. Menyusun daftar inventarisasi organisasi.
d. Mengatur perawatan
organisasi.
dan
pemeliharaan
seluruh
perlengkapan
e. Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan gedung halaman
perkantoran.
8. Instansi Pengambilan Keputusan Pengurus Komisariat
1.
i.
Rapat Harian Badan Khusus
Rapat Presidium Badan Khusus
1. Rapat Harian Badan Khusus
a. Rapat harian lembaga dihadiri oleh seluruh fungsiunaris badan khusus
b. Rapat harian dilaksanakan setidaknya dua kali dalam satu bulan.
c. Fungsi dan wewenang:
1. Membahas menjabarkan kebijakan yang telah diambil dalam satu
bulan oleh pengurus cabang yang diaktifkan dangan program badan
khusu
2. Mengkaji dan mengevaluasi kepurusan-keputusan yang diambil oleh
presidium badan khusus untuk kemudian mengambil atau
mempertimbangkan keputuasnnya.
3. Mempelajari laporan kegiatan fungsionaris badan khusus menayangkut
bidang masing-masing.
2. Rapat Presidium Badan Khusus
1. Rapat presidium bdan khusus dihadiri ketua umum, ketua bidang,
sekretaris umum, wasekum, bendahara umum dan wakil bendahara
umum.
2. Rapat presidium dilaksanakan setidaknya empat kali dalam satu bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat persidium:
a. Mengambil keputusan tentang perkembangan lembaga sehari-hari baik
intern maupun ekstern
b. Mendengar informasi tentang perkembangan dari berbagai aspek
lembaga baik ekstern maupun ntern dikaitkan dengan kebijaksaan
lembaga yang ada
c. Mengevaluasikan perkembangan lembaga dalam menjalankan program
– program kegiatan.
3. Rapat Bidang Badan Khusus
1. Rapat bidang dihadiri oleh koordinator dan anggota bidang yang
bersangkutan
2. Rapat bidang dilaksanakan setidak–tidaknya empat kali dalam satu bulan.
3. Fungsi dan wewenang rapat bidang badan khusus adalah :
a. Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap
bidang dengan tetap merujuk kepada kebijaksanaan/pedoman yang
telah ditetapkan oleh organisasi.
b. Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap
bidang yang mengambil perubahan baik dalam segi maupun segi
waktu.
c. Menyusun langkah–langkah teknis untuk menyelenggakan proyek/kerja
berikutnya sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh
Rapat Harian dan Rapat Presidium.
4. Rapat Kerja
1. Rapat kerja dihadiri oleh Fungsionalis Pengurus Badan Khusus
2. Rapat kerja dilakukan sekurang–kurangnya satu kali dalam setiap
semester.
3. Fungsi dan wewenang rapat kerja adalah:
a. Menyusun jadwal aktifitas / rencana kerja untuk satu semester
b. Menyusun rencana angggaran penerimaan dan pengeluaran untuk
seluruh kegiatan pengurus Badan Khusus selama satu semester.
PEDOMAN ADMINISTRASI KESEKRETARIATAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
a.
PENDAHULUAN
1
Administrasi merupakan segenap penyelenggaraan setiap usaha kerjasama
manusia mencapai tujuan tertentu. Untuk terselenggaranya administrasi
dengan baik dan mencapai tujuan, diperlukan suatu proses yang tertib.
2
Administrasi
dalam
pengertian
luas
maupun
sempit,
dalam
penyelenggarannya diwujudkan dalam fungsi–fungsi administrasi, yang
terdiri dari rencana (planing), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan
(actuating), dan pengawasan (controling). Pengelolaan fungsi–fungsi
administrasi pada suatu organisasi seperti HMI yang memiliki jumlah
cabang, aparat dan aktifitas yang besar, sangat membutuhkan suatu
keseragaman administrasi (uniformitas). Untuk memenuhi kebutuhan itu
dan demi terwujudnya tertib serta kerapihan administrasi, penyempurnaan
pedoman administrasi kesekretariatan ini merupakan suatu jawaban,
melihat semakin kompleksnya penyelenggaraan administrasi HMI di masa
mendatang.
3
Dengan bertitik tolak dan berpegang pada kepraktisan (practicalize), maka
pedoman aministrasi kesekeretariatan HMI, mencakup hal–hal sebagai
berikut:
4
5
6
7
8
9
10
11
1)
II.
Pendahuluan
Organisasian kesekretariatan HMI
Administrasi surat menyurat (ketatausahaan) HMI
Tata kearsipan
Inventaris dan dokumentasi organisasi
Perpustakaan organisasi
Keprotokoleran
Penutup
Lampiran
KESEKRETARIATAN
1.
Untuk menyelenggarakan administrasi organisasi dengan efektif, diperlukan
suatu tempat tertentu, sebagai pusat pengurusan segala sesuatu yang
berhubungan dengan organisasi. Tempat penyelenggaraan administrasi
dinamakan “Sekretariat Organisasi” atau dengan kata lain “Kantor
Organisasi”
2.
HMI sebagai suatu oragnisasi adalah sautu bentuk kerja sama dari
sekelompok mahasiswa–mahasiswa Islam untuk mencapai tujuan bersama
(tujuan HMI pasal 4 anggaran dasar HMI) untuk mengatur kerja sama ini ke
arah pencapaian tujuan organisasi. Demikian pula pembagian kerja
(distribution of work) bagi setiap anggota pengurus dalam mengelola
aktifitas-aktifitas organisasi, sangat dibutuhkan mengingat kompleksitas
aktifitas dan banyaknya anggota pengurus organisasi.
Aktifitas organisasi berpusat pada sekretariat organisasi. Bagi HMI atau
sekretariat Badko cabang, korkom, komisariat, rayon, lembaga dan lain-lain
untuk setiap tingkatan aktifitas organisasi.
Administrasi kesekretariatan merupakan bagian dari pada administrasi
organisasi, yaitu sebagai unit tugas/pekerjaan yang penyelenggaraannya
diserahkan kepada bidang sekretariat jenderal atau sekretaris organisasi.
Usaha penyelenggaraan administrasi kesekretariatan bertujuan agar
sekretaris HMI benar-benar dapat berfungsi sebagai sekretaris organisasi
yaitu:
1. Tempat kerja yang efisien bagi pengurus dalam pengendalian organisasi.
2. Pusat Komunikasi Organisasi
3. Pusat Kegiatan Administrasi
3.
Perencanaan Pengaturan Sekretariat
Supaya sekretariat HMI benar–benar dapat berfungsi sebagai sekretariat
organisasi maka perlu dibuat perencanaan dan pengaturan tentang
sekretariatnya, baik mengenai letak, bangunan maupun ruangan–
ruangannya.
Perencanan dan pengaturan sekretariat meliputi:
1. Letak Sekretariat
Sekretariat HMI yang terletak pada tempat yang strategis akan sangat
menentukan kelancaran komunikasi dengan pihak manapun, terutama
dengan anggota, sehingga mudah dicari, didatangi dan mudah pula
mengadakan hubungan keluar, disamping pertimbangan kelancaran
komunikasi maka dalam menentukan tempat sekretariat HMI harus
diperrtimbangkan tentang keadaan sekelilingnya (milih lokasi) yang
menjamin ketenangan dan kesehatan sehingga memungkinkan bagi
fungsionaris (pengurus) organisasi dapat bekerja menunaikan tugasnya di
sekretariat ini dengan baik dan efektif.
2. Bangunan Sekretariat
Bangunan gedung sekretariat HMI hendaklah diusahakan dapat
menampung seluruh kegiatan mengenai administrasi maupun kegiatankegiatan lainnya. Untuk maksud tersebut, kiranya dapat diikuti
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Jumlah ruangan disesuaikan dengan jumlah kebutuhan kegiatan dalam
kesekretariat HMI yaitu adanya :
 Ruang tata usaha, tempat pengerjaan dan penyesuaian surat
menyurat dan penyimpanan arsip-arsip oragnisasi.
 Ruang tanu, untuk menerima tamu-tamu organisasi
 Ruang perpustakaan
 Ruang persidangan, untuk sidang-sidang pengurus
Diusahakan kesekretariatan ini juga merupakan sekretariat dari badanbadan khusus HMI yang setingkat.
b. Antara ruangan- ruangan tersebut hendaknya diperhatikan tentang
hubungan antara satu ruangan dengan ruangan lainnya, dengan
mengingat prinsip-prinsip “time and Motion Study” sehingga menjamin
kelancaran komunikasi dengan mempertimbangkan jarak antara satu
dengan yang lainnya (garis lurus adalah jarak terdekat).
c. Dalam setiap ruangan tersebut sedapat mungkin diusahakan adanya
faktor- faktor yang dapat memperlancar tugas dan kerja. Untuk itu
perlu adanya alat-alat dan perabotan yang menopang dan menjamin
kelancaran tugas-tugas organisasi.
d. Dalam mengatur sekretariat ini, maka harus mengingat dan
memperlihatkan
faktor-faktor
yang
dapat
menjamin/menjaga
kesehatan bagi para pengurus dan anggota organisasi yang
melaksanakan tugas di sekretariat itu.
Faktor- faktor tersebut antara lain soal sinar dan hawa (ventilasi) harus
ada dan genteng kaca dimana perlu diadakan sinar matahari sangat
perlu menjaga kesehatan mata dan jiwa untuk menjaga kesehatan
paru-paru.
e. Sekretariat yang diatur dengan rapi memberi pandangan yang baik
dan menyenangkan, baik kepada pengurus maupun anggota anggota
organisasi disamping itu suasana yang demikian akan banyak
memberikan kesehatan dalam bekerja dan akan sangat membantu
kelancaran tugas- tugas organisasi.
Dalam mengusahakan gedung sekretariat ini, sedapat mungkin sekaligus
di tempat itu ada wisma HMI yaitu tempat menginap fungsionaris
organisasi. Wisma HMI ini akan sangat besar sekali manfaat sebagai
markas organisasi dimana setiap fungsionaris yang bertempat tinggal
disitu dapat melaksanakan tugas-tugas organisasi. Hal ini sangat
membantu dan mempermudah komunikasi.
3. Ruangan Sekretariat
Dalam mengatur ruangan sekretariat, hendaknya diperlihatkan faktorfaktor yang dapat membuat ruangan tersebut benar-benar berfungsi
sebagaimana mestinya. Faktor tersebut ialah hal-hal yang memberikan
kesenangan, kemauan dan semangat bagi orang yang tinggal di
dalamnya, yaitu menyangkut keindahan dan efisiensi, karena di dalam
sekretariat HMI terapat ruangan-ruangan yang mempunyai fungsi sendirisendiri (ruang tamu, ruang sidang dsb), maka dalam pengaturan tersebut
haruslah disesuaikan dengan tujuan dan fungsi ruangan tersebut.
a. Menghias Ruangan
Untuk menimbulkan keindahan ruangan perlu adanya hiasan-hiasan
ruangan (home decoration). Hiasan dari tiap-tiap ruangan berbedabeda menurut tujuan dan fungsinya masing-masing.
 menimbulkan semangat kegairahan dan kemauan
 menimbulkan rasa senang dan tentram dalam hati
 membuat enak/nyaman/kerasan tinggal pada ruangan itu.
Ruangan yang sehat yaitu ruangan yang ditata menurut ketentuanketentuan di atas yang akan memberi kesegaran daya dan
kemampuan kerja pengurus dan anggota yang berbeda dalam
sekretariat HMI.
III. ADMINISTRASI SURAT MENYURAT (KETATAUSAHAAN)
1.
Urusan surat menyurat (ketatausahaan) adalah satu bidang yang penting
dari lapangan pekerjaan administrasi kesekretariatan. Surat pada
hakekatnya adalah bentuk penuangan ide atau kehendak seseorang dalam
bentuk tulisan.
1. Bentuk pernyataan kehendak seseorang kepada orang lain melalui tulisan
(Talk in Writing)
2. Bentuk suatu media pencurahan perasaan, kehendak, pemikiran dan
tujuan seseorang untuk dapat diketahui oleh orang lain.
3. Juga merupakan suatu bentuk gambaran tentang suatu peristiwa atau
keadaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Dengan demikian surat merupakan jembatan pengertian dan alat
komunikatif bagi seorang dengan orang lain. Karena sifat yang demikian,
maka surat – surat harus disusun secara ringkas dan padat tetapi tegas,
bahasa yang dipakai haruslah mudah dimengerti, sederhana dan teratur.
Penulisan surat harus memikirkan terlebih dahulu dengan masak apa yang
akan ditulis serta menyadari kepada siapa tulisan itu ditujukan karena
melalui surat itu berarti dia telah mengantarkan dan membawa idenya
kepada orang lain.
2.
Mengingat pengertian dan sifat suatu surat seperti tersebut diatas, maka
bagi suatu organisasi turut menjadi sangat penting yaitu:
1. Sebagai alat komunikasi
2. Sebagai dokumentasi organisasi
3. Sebagai tanda bukti (alat bukti/pemeriksaan)
Dengan adanya dan kekuatan dan kemampuan surat, maka pimpinan
organisasi dapat menyalurkan suatu kebijakan dan keputusan serta
pendapat serta dapat pula mengetahui tentang perkembangan kehidupan
organisasi dengan bahan-bahan tersebut dapat diatur dan dikendalikan
organisasi dengan baik, apabila proses surat-menyurat (koresponden)
berjalan lancar dan efektif dari seluruh bagian dan aparat organisasi, karena
pada hakekatnya suatu surat atau kegiatan ketatausahaan mempunyai ciriciri utama sebagai berikut :
 Bersifat pelayanan
 Bersifat menetes keseluruhannya bagian atau aparat organisasi
 Dilaksanakan oleh semua pihak dalam organisasi
Ciri yang pertama berarti surat menyurat (ketatausahaan) merupakan
service work (pekerjaan pelayanan) yang bersifat memudahkan atau
meringankan (fasilitating function), yang dilakukan untuk membantu
pekerjaan-pekerjaan.
Ciri berikutnya berarti surat menyurat (ketatausahaan) diperlukan dimana
dan dilaksanakan dalam seluruh organisasi yang terdapat pada puncak
pimpinan tertinggi (aparat tertinggi organisasi) sampai kepada ruangan
kerja satuan organisasi (aparat) terbawah.
3.
Proses penyelenggaraan ketatausahaan atau dengan istilah lain
“administrasi” surat menyurat adalah satu proses yang berencana dan
teratur yang dimulai dengan adanya ide pemugarannya sampai
penyelesaiaan dan penyimpangan sebagaimana mestinya.
Administrasi surat menyurat HMI meliputi 3 (tiga) hal :
1. Bentuk dan isi surat HMI
2. Sirkulasi surat (surat keluar masuk)
3. Penyimpangan (pengarsipan)
4.
Bentuk dan isi surat
Surat-surat HMI adalah termasuk surat resmi/dinas, sehingga bentuk dan
isinya harus menuruti ketentuan-ketentuan yang telah dibuat organisasi.
Ketentuan tersebut meliputi hal pemakaian kertas, pengetikan atau
penulisan, bentuk surat, macam dan isi surat.
1. Surat-surat organisasi ditulis dalam kertas putih
2. Ukuran kertas yang dipakai adalah kertas ukuran folio (C4)
Hal ini mengingat segi praktisnya, dimana kertas ukuran inilah banyak
kwarto (A4) dapat pula dipergunakan, tetapi pada umumnya ukuran ini sulit
didapatkan di pasaran. Tambahan lagi kertas C4 (Folio) : 229 mm – 324 mm.
Mengenai perihal dimaksud sebagai inti isi singkat surat, biasa juga disebut
pokok surat. Ia tak perlu panjang, ringkas tetapi jelas, tepat. Sehingga
dengan membaca perihal atau pokok surat ini saja pembaca atau penerima
surat di bawah ini adalah contoh paling mudah:
Hal : Permohonan Ceramah
5.
Alamat surat yaitu kepada siapa surat itu ditujukan terletak pada kanan atas
surat, sejajar dengan perihal alamat surat tidak selamanya ditujukan
kepada seseorang, tetapi sering pula kepala suatu badan atau lembaga. Bila
ditujukan kepada suatu lembaga atau instansi, maka penyebutannya bukan
kepada nama lembaganya, melainkan kepada pengurus atau pimpinan
lembaga itu.
Contoh :
Nomor
Lamp
Hal
:
:
:
Kepada Yang Terhormat,
Sdr. Pengurus Besar HMI
Di
JAKARTA
Bila surat ini ditujukan kepada salah satu bagian/unit yang ada pada
lembaga itu, hendaknya dilengkapi dengan “up” yang berarti “untuk
perhatian”
Contoh :
Kepada Yang Terhormat,
Sdr. Pengurus Besar HMI
u.p Bidang PAO
Di
JAKARTA
Dengan begitu penerima surat (telah mengagendakan seperlunya)
bisa meneruskan kepada bidang Aparat organisasi PB HMI untuk
ditindaklanjuti.
6.
Kata permulaan surat
Bagi HMI sebaiknya dipakai kalimat “Asslamualaikum Wr. Wb” minimal
“dengan hormat”. Kata permulaan ini berfungsi sebagai pembukaan surat,
ditulis dengan alinea baru berjarak 2 ½ spasi di bawah pokok surat.
Contoh:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Teriring salam dan do`a semoga aktivitas keseharian Bapak/Ibu mendapat
limpahan rahmat dari Allah SWT. Amin.
7.
Isi Surat
Suatu surat pada dasarnya tidak berbeda dengan
penyusunannya memakai sistematika sebagai berikut:
suatu
karangan
 Pendahuluan
 Uraian Persoalan (isi/pokok surat)
 Penutup
Pendahuluan
Ini dimaksudkan untuk menarik perhatian pembaca/penerima surat tentang
hal atau masalah yang dipersoalkan dalam surat itu kalau hanya sekedar
menyampaikan berita singkat, kata atau kalimat pendahuluan ini tidaklah
menjadi keharusan pertimbangannya adalah efisiensi tapi bila menyangkut
persoalan penting (apabila kalau memerlukan penguraian dan perincian),
maka surat ini mestilah memakai kata pendahuluan gunanya tidak hanya
sekedar menarik perhatian melainkan sekaligus sebagai motivasi
(konsideran).
Contoh :
“diberitahukan bahwa,” atau dengan ini disampaikan bahwa, …. Dst. (untuk
surat-surat pemberitahuan).
“Bersama ini …. atau dengan ini ….dst (untuk surat-surat pengantar).
“Memenuhi permintaan saudara” atau menunjuk surat
No…..Bertanggal…. dst (untuk surat permintaan, jawaban,
pernyataan).
saudara
balasan,
Tempo-tempo kalimat pendahuluan ini bisa berupa konstatasi ataupun
pertimbangan-pertimbangan yang melatarbelakangi hingga surat dibuat,
misalnya:
“Berhubungan adanya gejala yang kita rasakan bersama tentang ….. dst”.
Kalimat pendahuluan ini sebaliknya tidak lebih dari satu alinea ditulis 2
(dua) spasi di bawah kata permulaan surat (Assalamualaikum Wr. Wb).
UraianPersoalan (Isi/pokok surat)
Kecuali maksud, sasaran atau tujuan isi surat haruslah jelas serta harus
dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu hal-hal yang minimal harus
diperhatikan adalah:
a. Jangan memakai kalimat yang panjang dan berbelit-belit, singkat lagi
terputus-putus juga tidak baik. Hal-hal seperti itu biasanya akan
membuat salah pengertian bagi penerima surat untuk mudah dipahami
maka pada surat-surat yang panjang sebaiknya atau seharusnya diberi
alinea banyak sedikitnya alinea tergantung dari banyak pokok-pokok
pikiran yang ada dalam surat tersebut tetapi perlu pula diperhitungkan
untuk mencapai susunan yang baik dan harmonis. Pembagian dalam
alinea sangat memudahkan pengertian jarak antara alinea dan spasi
(kalimat) dalam satu alinea 1 ½ (satu setengah) spasi.
b. Dalam satu surat, sebaiknya/seharusnya hanya dipersoalkan satu jenis
perkara atau permasalahan sebab pencampuran soal dalam satu surat
akan menimbulkan kesukaran, baik dalam penyusunannya dan mencari
kembali surat itu bila diperlukan lagi.
c. Dalam penyusunan isi surat selanjutnya harus dijaga tentang kata-kata
dan kalimat yang digunakan hendaklah sopan dan wajar, tidak berlebihlebihan, kecuali yang sudah lazim digunakan pengaruh bahasa sangat
besar sekali, sebab disitu tergambar tentang sikap orang yang membuat
surat itu. Oleh sebab itu menyusun surat diserahkan kepada orang yang
berkemampuan bahasa cukup.
Kalimat Penutup
Untuk kesopanan dalam melaksanakan suatu korespodensi perlu adanya
kalimat-kalimat penutup seperti: “Demikian harap maklum” Atas perhatian
saudara kami ucapkan terima kasih”.
Fungsi kalimat penutup adalah sebagai pemanis surat yang kita buat karena
itu bukanlah suatu keharusan mutlak dalam pembuatan surat-surat resmi
namun demikian untuk kesopanan dan pemanis surat sebaiknya dalam
membuat surat-surat resmi organisasi tetap masih digunakan kalimat
penutup yang sesuai dengan isi surat.
8. Penutup surat
Kalau dalam pembuatan surat resmi dimulai dengan “Basmallah” dan
dibuka dengan “Assalamu’alaikum Wr,Wb.” Maka dalam penutup surat-surat
resmi
HMI
ditutup
dengan
Wabillahi
Taufiq
Walhidayah
dan
Wassalamualaikum Wr, Wb.” Surat khusus (seperti surat keputusan, Surat
keterangan edaran, instruksi, tugas/mandat dan sebagainya) dibuka dengan
basmallah.
Tambahan
1.
Buku Agenda
Untuk memudahkan pengelolaan sistem administrasi dan kesekretariatan
dalam hal ini pengelolaan surat menyurat, surat masuk maupun surat
keluar, pengarsipan dan dokumentasi agar teratur dan sistematis, maka
sistem pengagendaan surat menyurat perlu tersendiri. Adapun unsur-unsur
yang penting untuk dicatat adalah :
 Nomor Urut Surat
 Nomor Kode Arsip
 Nomor Surat
 Tanggal Terima
 Nomor dan Tanggal Surat
 Isi Surat
 Asal Surat
 Keterangan (tambahan untuk keterangan surat)
2.
Surat keluar
Surat keluar adalah surat yang kita keluarkan untuk mengemukakan
kehendak, pikiran dan maksud kita kepada pihak lain. Surat keluar harus
melalui sirkulasi sebagai berikut :
2.1 Konsep surat harus terlebih dahulu dimintakan clearence kepada
pengurus yang berkepentingan agar tidak terjadi perbedaan-perbedaan
antara muatan, isi dan redaksi surat tersebut.
2.2 Konsep surat yang telah mendapat clearence, kemudian diberi nomor
verbal.
Buku verbal untuk dan kode arsip surat
 Nomor urut dan kode arsip surat
 Nomor surat
 Tanggal surat (penanggalan nasional dan hijriah)
 Perihal isi surat
 Kepada siapa (keputusan, lampiran, penyimpangan)
Contoh Agenda Buku Verbal
No. Surat
Tanggal
314/KPTS/A/051420
23-05-1420
04-09-1999
Isi Surat Keputusan Keteranga
n
Pengesahan SC
KA - 1
Kongres ke–25 HMI
Buku Agenda Surat Keputusan
No
1991
Kode
Arsip
KA II
No.Surat
Tanggal
1903/A/Sek/05/142 26-05-1420
0
07-09-2010
Isi Surat
Kepada
Pendataa
n
Nasional
HMI
Cabang se
Indonesia
Konsep surat yang telah “Clearence” dan nomor surat, diketik sesuai
dengan jumlah yang dikehendaki. Legalitas organisasi (tanda tangan ketua,
sekretaris dan stempel)setelah dibukukan barulah surat tersebut siap untuk
dikirim kepada tujuan. Pengiriman surat-surat betul menempuh perjalanan
menuju tujuannya kita bukukan dulu dalam bentuk ekspedisi yang memuat
kolom-kolom sebagai berikut :
Contoh Ekspedisi
Pengiriman
Kepada
Tanggal/No.Surat
Lamp
Penerim
a
Ket
10
Cabang
26-05-1420
07-09-1999
1903/A/Sek/05/1420
1
(satu)
Per Pos
IV. ADMINISTRASI KEARSIPAN
Arsip adalah warkat/surat-surat yang disimpan secara sistematis, karena
mempunyai suatu kemanfaatan apabila dibutuhkan dapat secara tepat
ditemukan kembali. Jadi intinya arsip berarti pengumpulan dan penyimpanan
warkat/surat-surat. tata kearsipan yang sempurna apabila semua surat dan
dokumen-dokumen lainnya tersimpan pada suatu tempat tertentu dan teratur
rapi, dan apabila diperlukan kembali mudah ditemui, walaupun surat-surat
tersebut telah tersimpan lama. Pengarsipan yang baik sangat berguna terutama
membantu kelancaran dan kerapian organisasi pada khususnya, serta
membantu perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya.
Surat-surat organisasi pada prinsipnya harus disimpan di sekretariat/kantor
adalah sangat tidak benar dan dilarang apabila penyimpanan surat-surat
organisasi di luar arsip organisasi ataupun oleh perso-person pengurus. Tepat
apabila kita mengenal beberapa sistem penyimpanan surat antara lain:
1. Sistem abjad (Alphabetic Filing)
2. Sitem Perihal (Subjec Filing)
3. Sistem Nomer (Numerical Filing)
4. Sistem Daerah (Geografhical Filing)
Bagi kita (HMI) surat-surat organisasi pada map-map atau tempat-tempat
tertentu dengan membedakan kode (KA) untuk surat keluar intern dan kode KB
untuk surat keluar ekstern.
Sedangkan surat-surat masuk intern berkode MA dan surat masuk ekstern
dengan kode MB. Untuk memperoleh kepraktisan lebih lanjut dari kode-kode
dasar tersebut diatas (surat-surat masuk intern maupun ekstern) dibagi lagi
sesuai dengan kebutuhan/wilayah/bidang, misalnya:
Kode Map/Arsip PB HMI
Periode tahun 1999–2001
IV. 1. Arsip surat masuk
IV.1.1. Masuk Intern
MA
MA
MA
MA
MA
MA
MA
MA
MA
I
II
II
II
II
II
II
II
II
A
B
C
D
E
F
G
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Bakornas Lembaga/Badan Khusus/Panitia Nasional
Badan Koordinasi (BADKO) HMI
HMI Cabang se Badko Dista Aceh
HMI Cabang se Badko Sumatera Utara
HMI Cabang se Badko Sumbar
HMI Cabang se Badko Sumatera Bagian Selatan
HMI Cabang se Badko Jawa Barat
HMI Cabang se Badko Jawa Tengah
HMI Cabang se Badko Jawa Timur
MA
MA
MA
MA
MA
MA
II H
II I
II J
II K
II L
III
:
:
:
:
:
:
HMI Cabang se Badko
HMI Cabang se Badko
HMI Cabang se Badko
HMI Cabang se Badko
Komisariat, Korkom
Anggota perorangan
Kalimantan
Nusa Tenggara
Sulawesi
Maluku Irian jaya
IV.1.2. Arsip Surat Masuk Ekstern
MB
MB
MB
MB
MB
MB
MB
MB
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
:
:
:
:
:
:
:
:
Lembaga Negara, Instansi Pemerintah, BUMN
Organisasi Sosial Politik dan Kemasyarakatan
Lembaga Umat Islam (Ormas, Ors Mhs, Pemuda dan Badan Swasta)
Peruguruan Tinggi, kemahasiswaan, kepemudaan dan Ormas
Kedubes, Badan Asing, Luar negeri
Alumni, Lembaga KAHMI
Badan Swasta Non Islam
Perseorangan lepas
IV.2. Map Surat Keluar
IV.2.1. Arsip Surat Keluar Intern
KA I
Nasional
KA II
KA III
KA IV
KA V
KA VI
: Bakornas Lembaga pengembangan profesi, Badan Khusus, Panitia
:
:
:
:
:
BADKO HMI se Indonesia
HMI Cabang se Indonesia
Fungsionaris PB HMI, anggota perseorangan
Surat mandat, surat keterangan, surat tugas
surat keputusan pengurusan besar HMI
IV.2.2. Arsip Surat keluar ekstern :
KB I
: Lembaga Negara, Instans pemerintah, BUMN
KB II
: Ummat Islam (ormas, organisasi pemuda, organisasi mahasiswa,
badan swasta).
KB III
: Perguruan tinggi, kemahasiswaan, kepemudaan dan ormas
KB IV
: Kedubes, Badan Asing, Luar negeri
KB V
: Alumni, Lembaga KAHMI
KB VI
: Badan Swasta Non Islam
KB VII
: Perseorangan
IV.3. Map Dokumentasi
DA 1
: Kebijaksanaan PB HMI (laporan keputusan konggres, statement dan
lain–lain)
DA 2
: Kebijaksanaan badan-badan khusus (LK dan Kohati)
DA 3
: Kebijaksanaan Badko/Cabang HMI
DB 1
: Politik
DB 2
: Kemahasiswaan dan perguruan tinggi
DB 3
: Ummat
DB 4
: Internasional
DB 5
:Gunting surat kabar/kliping
Ada satu faktor lagi yang harus diperhatikan sehubungan dengan pengarsipan
yakni pengawetan arsip. Pengawetan ini dapat ditempuh dengan beberapa jalan
antara lain:
1. Tempat penyimpanan (map/lemari) arsip dari bahan-bahan yang baik dan
tahan oleh kerusakan.
2. Tempat penyimpanan dijauhkan dari api, air dan kelembaban serta mudah
diawasi dari ancaman binatang yang merusak ke dalam arsip
V.
ADMINISTRASI KEANGGOTAAN
Anggota HMI merupakan sasaran kerja, pembinaan dan pengkaderan organisasi
sehingga perlu ada administrasi yang rapi tentang anggota HMI dalam rangka
terciptanya saasaran kerja/aktifitas HMI yang konkrit dan terarah.
HMI adalah organisasi kader, sehingga HMI selalu menerima anggota baru,
selanjutnya melalui proses/jenjang pengkaderan dan akhirnya melepaskan diri
sebagai alumni. Menjadi anggota HMI pada pokoknya adalah sementara, untuk
selanjutnya terjun ke dalam masyarakat yang sesungguhnya (formal year).
Proses pengadministrasian anggota mulai dari aktifitas penerimaan anggota
HMI yaitu pra latihan kader dengan melalui prosedur sebagai berikut:
 Mengisi formulir permohonan menjadi anggota HMI
 Pencatatan calon anggota dalam buku pendaftaran oleh komisariat (panitia
penerima komisariat)
 Kepada calon anggota yang sudah terdaftar diberikan kartu pendaftaran
 Setelah mengikuti pra latihan kader diadakan seleksi dari seluruh calon
anggota yang khusus menjadi anggota muda HMI
 Anggota muda didaftarkan dalam buku anggota muda HMI Cabang dan
kepada anggota diberikan tanda anggota muda HMI (semacam kartu) yang
berlaku selama 1 (satu) tahun
 Setelah keanggotan muda HMI melalui Basic Training atau sudah satu tahun
menjadi anggota muda dapat dinyatakan sebagai anggota biasa dengan
diberikan kartu anggota biasa dengan diberikan kartu anggota HMI yang
berlaku selama 2 (dua) tahun sekaligus dicatat dalam daftar anggota dengan
system kartu. Hal ini dilakukan oleh pengurus badko dan pengurus besar.
 Anggota biasa mempunyai hak dan kewajiban penuh dicatat dalam buku
daftar anggota permanen. Hal ini dilakukan oleh tingkat cabang.
Buku daftar anggota itu memuat
Nama
: ………………………
Tempat dan tanggal lahir
: ………………………
Perguruan Tinggi
: ………………………
Tingkat/Fakultas/Jurusan
: ………………………
Nomor Induk Mahasiswa
: ………………………
Masuk HMI Tahun
: ………………………
Keterangan
: ………………………
Contoh Buku Daftar Anggota
No. Urut
Nama
Tpt/Tgl Lahir
Komisariat
1235
Samsu
Alam
Paopance, 5-21978
Pertanian
Untad
Thn Masuk
HMI
1999
Setiap dua tahun sekali diadakan pendaftaran ulang (registrasi) anggota biasa
HMI yaitu dengan penggantian kartu anggota lama. Sedangkan nomor anggota
tetap sebagai nomor induk yang lama cukup diberi registrasi dilaksanakan
dengan mengisi permohonan kembali kepada pengurus cabang.
VI. INVENTARIS ORGANISASI DAN DOKUMENTASI ORGANISASI
Inventaris Organisasi
Inventaris organisasi adalah segala sesuatu yang menjadi milik organisasi
berupa kekayaan organisasi. Inventaris organisasi pada pokoknya dapat kita
bagi dua yaitu:
1. Inventaris yang permanen
2. Inventaris organisasi yang tidak permanen
Yang digolongkan inventaris permanen adalah milik organisasi yang dalam
jangka relatif lama tidak mengalami perubahan misalnya
gedung
sekretariat/kantor, alat-alat tulis kantor dan sebagainya.
Untuk mengontrol inventaris organisasi ini perlu dibuat daftar inventaris. Sesuai
dengan penggolongan diatas, maka kita dapat membuat daftar inventaris 2
macam:
1. Daftar inventaris organisasi yang permanen.
2. Daftar inventaris organisasi yang tidak permanen (habis pakai) dalam waktu
relatif pendek yang bisa disebut Buku Stok.
Tujuan dibuat daftar inventaris organisasi ialah :
1. Menunjukkan kekayaan organisasi
2. Untuk menghindari adanya pemborosan
3. Sebagai alat kontrol dari inventaris (mengetahui kerusakan perubahan,
penggantian, serta untuk menambah bila terjadi kekurangan)
Penyimpangan inventaris organisasi harus dilakukan dengan baik oleh orangorang yang bertanggung jawab sesuai dengan job description kesektariatan.
Penyimpanan harus dilaksanakan serta ditempatkan di sekretariat, tidak
diperkenankan dibawa atau disimpan di rumah fungsionaris.
Dokumen Organisasi
Dokumen organisasi adalah segala sesuatu yang menyangkut kegiatan
pencarian, pengumpulan, penyimpanan serta pengawetan dokumen-dokumen
organisasi. Dokumen adalah suatu tanda bukti yang sah menurut hukum dari
dokumen.
Bentuk-bentuk dokumen antara lain gambar-gambar dan foto-foto, bendabenda berharga dan bernilai, fotocopy atau salinan surat, surat kabar, majalah
dan lain sebagainya.
Dokumentasi itu selain dipergunakan untuk kepentingan tertentu juga dipakai
untuk menyusun laporan tahunan organisasi serta tanda bukti yang sah.
Pemeliharaan dan penyimpanan dokumen seperti halnya barang-barang
inventaris dan arsip hendaknya disusun dengan rapih dan teratur dalam mapmap dan tempat-tempat tertentu dengan mengelompokkan menurut
kebutuhan.
Aktifitas dokumentasi juga sangat penting dalam menyusun sejarah perjuangan
organisasi.
VII. ADMINISTRASI PERPUSTAKAAN
Dengan status HMI sebagai organisasi mahasiswa yang berkecimpung dalam
badan ilmu pengetahuan dan tujuan-tujuan seperti dibuat pasal 4 anggaran
dasar HMI, maka perpustakaan HMI adalah hal yang tidak dapat dipisahkan.
Dengan demikian maka HMI merupakan lembaga pendidikan dan lembaga
ilmiah.
Perpustakaan yang ideal bagi HMI adalah yang meliputi buku-buku yang
diperlukan oleh anggota dalam studinya sebagaimana HMI mempunyai “sekolah
HMI” yakni merupakan training-training. Oleh karena itu perpustakaan yang
minimal dimiliki mencakup buku-buku yang diperlukan dalam kelengkapan
kurikulum training HMI yang meliputi antara lain:
1. Keislaman, keagamaan, Idiologi
2. Keorganisasian, ke-HMI-an, Pendidikan dan kemahasiswaan
3. Kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi dan sebagainya
Penyelenggaraan administrasi perpustakaan ini sebaiknya diserahkan
kepada seorang anggota pengurus yang khusus mengatur untuk itu dan
bertanggung jawab serta memahami seluk beluk perpustakaan.
VIII. KEPROTOKOLERAN HMI
Tugas suatu kesekretariatan tidak saja terbatas pada pengelolaan atau
pengaturan surat menyurat organisasi, kearsipan mengadministrasi dan
penyelenggaraan dokumentasi serta perpustakaan organisasi, tetapi ia meliputi
juga penataan suatu acara dan pelaksanaan. Tugas yang disebut terakhir dalam
pedoman ini disebut sebagai protokoler.
Keprotokoleran HMI merupakan segala aktifitas yang berhubungan dengan
penyelenggaraan suatu produser kelancaran (upacara) di dalam HMI. Oleh
karena itu ia memegang peranan penting bagi berlangsungnya suatu upacara.
Demi tertib, disempurnakan ini menyuguhkan kembali (walaupun sering
dijadikan sebagai salah satu materi dalam training) sebagai bagian integral dari
tugas bidang kesekretariatan.
Agar sasaran suatu aktifitas dapat dicapai secara optimal, diperlukan
pertanggungjawaban dan pembagian tugas di dalam penyelenggaraannya.
Apabila
penyelenggaraan
suatu
aktifitas
tanpa
adanya
panitia
penyelenggara/project
officer,
maka
pengelolaan
penataan
dan
penyelenggaraannya langsung di bawah koordinasi staf sekretariat
jenderal/sekretariat. Namun kesemuannya itu masih lagi dibutuhkan pelengkap
penyelenggara seperti pengantar acara (announcer), penerima tamu, pengatur
kelengkapan, konsumsi, kesenian dan segala hal yang berhubungan dengan
kelancaran.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan suatu upacara:
 Tempat/Gedung (layout, pengaturan kursi, dekorasi)
 Jenis Acara
 Pengantar Acara
 Susunan acara
Hal yang disebut terakhir (susunan acara) merupakan hal yang sering terdapat
kesalahan, terutama mengenai urut-urutan pemberian sambutan. Urutan
pemberi sambutan berbeda dengan urutan kepada siapa kita harus menyapa
dalam acara tersebut. Kalau dalam menyapa, urutnya adalah secara struktural
pejabat/pengurus tertinggi mendahului pejabat dibawahnya dan seterusnya.
Sedangkan urutan pemberi sambutan mulai dari pengurus terbawah sampai
seterusnya ke atas (lihat lampiran).
IX. PENUTUP
Pedoman Administrasi kesekretariatan ini adalah sangat penting dan diperlukan
guna keseragaman untuk menuju suatu organisasi modern dan efektif kerjanya.
Administrasi kesekretariatan HMI yang ideal ialah usaha bagaimana
memanfaatkan sekretariat HMI untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya,
yaitu:
 Tempat kerja yang efisien bagi pengurus
 Pusat kegiatan organisasi
Untuk itu perlu persyaratan-persyaratan yang menyangkut:
 Gedung/sekretariat
 Ketatausahaan
 Keuangan/Fasilitas yang cukup
Untuk melaksanakan administrasi kesekretariat yang baik sangat tergantung
pada pelaksana-pelaksananya yaitu terutama staf sekretariat dengan bantuan
dan pengertian dari anggota pengurus lainnya, bahkan seluruh anggota HMI.
Akhirnya dengan adanya pedoman administrasi kesekretariatan yang
disempurnakan ini mudah-mudahan organisasi HMI akan lebih mampu bekerja
dengan efektifitas yang maksimal dan mengeliminasi kekurangan sebelumnya,
berkat adanya administrasi yang teratur dan rapi.
Billaitaufiq Walhidayah
LAMPIRAN PEDOMAN ADMINISTRASI DAN KESEKRETARIATAN
IKRAR UNTUK PELANTIKAN
Bismillahirrahmairrahim
-
-
-
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang
“Aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi
Muhammad adalah Rasul Allah”
bahwa
“Kami rela Allah Tuhan kami, Islam agama kami dan Muhammad Nabi dan Rasul
Allah”.
Dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab, kami pengurus …………… dengan
ini berjanji dan berikrar:
-
-
-
1.
Bahwa dengan kesungguhan hati kami akan melaksanakan ketetapanketetapan …….. ke ……… di ………
2.
Bahwa kami akan selalu menjaga nama baik Himpunan dengan selalu tunduk
dan patuh kepada AD/ART dan pedoman pokok HMI beserta HMI beserta
ketentuan-ketentuan lainnya.
3.
Bahwa apa yang kami kerjakan dalam kepengurusan ini adalah untuk
mencapai tujuan HMI dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT untuk
mencapai kesejahteraan ummat dan bangsa di dunia dan diakhirat.
Sesungguhnya Sholatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan
seru sekalian alam”.
Billahit taufiq wal Hidayah.
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
SURAT KEPUTUSAN
PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Nomor : 09/KPTS/A/11/1430
Tentang
SUSUNAN PENGURUS HASIL RESHUFFLE BADAN KOORDINASI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (BADKO HMI) SUMATERA UTARA
PRIODE 2004 - 2006 M
Dengan senantiasa mengharapkan rahmat dan ridho Allah SWT, Pengurus Besar
Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), setelah:
MENIMBANG
: Bahwa demi menjaga kesinambungan dan kelancaran
mekanisme
organisasi, maka dipandang perlu untuk
mengesahkan Susunan Pengurus Hasil Reshuffle Badan
Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI)
Sumatera Utara Periode 2004-2006 M.
MENGINGAT
: 1. Pasal 4, 5, 7, 8, 9, dan 12 Anggaran Dasar HMI
2. Pasal 23, 24, 25, dan 26 Anggaran Rumah Tangga HMI
MEMPERHATIKAN
: 1. Surat Keputusan
Formateur/Ketua Umum
Badan
Koordinasi Himpunan
Mahasiswa
Islam
Sumatera
Utara
(BADKO HMI SUMUT ) Nomor
Istimewa/III/KPTS/F/10/1426 H Tentang
Pengesahan
Komposisi Pengurus Badan
Koordinasi Himpunan
Mahasiswa Islam Sumatera Utara (BADKO HMI SUMUT)
Hasil
Resuffle Periode 2004-2006 M tertanggal 28
Syawal 1426 H bertepatan dengan tanggal 30
November 2005 M.
2.
Surat Permohonan
tentang
Mohon Pengesahan
Pengurus
Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa
Islam Sumatera Utara (BADKO HMI SUMUT) Hasil
Resuffle pada tanggal 28 Syawal 1426 H bertepatan
dengan tanggal 30 November 2005.
3.
Saran dan Pendapat yang berkembang pada Rapat
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI)
pada tanggal 6 Desember 2005 M.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN
: 1.
Mencabut Surat Keputusan Pengurus Besar Himpunan
Mahasiswa
Islam
(PB
HMI)
Dengan
Nomor:
091/KPTS/A/02/1426 H tentang Komposisi
Pengurus
Badan
Koordinasi Himpunan Mahasisiwa Islam
Sumatera Utara (BADKO HMI SUMUT)
Periode 20042006
2.
Mengesahkan Susunan Pengurus Badan Koordinasi
Himpunan Mahasisiwa Islam Sumatera Utara (BADKO
HMI SUMUT)
Periode
2004-2006
M di bawah
Kepemimpinan saudara IMAM SALEH RITONGA dan
Saudara
RISMANDIANTO KARO-KARO
masingmasing Sebagai KETUA UMUM dan SEKRETARIS
UMUM dengan
Susunan Pengurus sebagaimana
terlampir.
3.
Salinan Surat Keputusan ini disampaikan kepada
masing-masing yang bersangkutan untuk diketahui dan
dilaksanakan dengan penuhrasa amanah dan kepada
seluruh Cabang yang ada di
wilayah Badan
Koordinasi Himpunan Mahasisiwa Islam
Sumatera
Utara (BADKO HMI SUMUT) untuk diketahui.
4.
Surat
Keputusan
ini
berlaku sejak tanggal
ditetapkan dan akan ditinjau kembali jika terdapat
kekeliruan di dalamnya.
Billahittaufiq Wal Hidayah
Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 04 Dzulqa’dah 1430 H
06 Desember 2009 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
ARIP MUSTHOPA
KETUA UMUM
AHMAD NASIR SIREGAR
SEKRETARIS JENDERAL
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
SURAT KETERANGAN
Nomor : 1115/A/Sek/02/1432
Dengan senantiasa mengharap rahmat dan ridho Allah Subhana Wa Ta’ala Pengurus
Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menerangkan bahwa:
Nama
Tempat tanggal Lahir
Alamat
: MISNAH HATTAS
: Bone, 21 Mei 1976
: Jl. Sukaria 7 No. 18 Makasar
Adalah benar Ketua Umum Korps HMI-Wati (Kohati) Cabang Makassar periode 19981999.
Demikian Surat Keterangan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya.
Billahitaufiq Wal Hidayah.
Jakarta,
02 Shafar
1432 H
16 Februari 2011 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOER FAJRIENSYAH
KETUA UMUM
JENDERAL
MALIK MUSTHAFA
WAKIL SEKRETARIS
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
SURAT TUGAS
Nomor : 1116/A/sek/07/1432
Dengan senantiasa mengharap rahmat dan ridho Allah Subhana WaTa’ala Pengurus
Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) memberikan tugas kepada :
1. Nama
Jabatan
Alamat
2. Nama
Jabatan
Alamat
3. Nama
Jabatan
Alamat
:
:
:
:
:
:
Mulyadi
Wakil Sekretaris Jenderal pengurus Besar HMI
Jl. Diponegoro 16 A Jakarta
Said Patta
Wakil Bendahara Umum
Jl. Dipenogoro 16 A Jakarta
: Ichsan
: Departemen Pengurus Besar HMI
: Jl. Dipenegoro 16 A Jakarta
Keperluan : Untuk melakukan survey tempat konggres ke 27 HMI pada tanggal 05
s/d 10 November 2011 di Mataram
Berangkat : 28 Maret 2011
Transport : Kereta Api
Demikian surat tugas ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya
kepada yang bersangkutan diharapkan melapor setelah selesainya tugas tersebut.
Billahitaufiq Wal Hidayah
Jakarta,
18 R a j a b
1432 H
06 November 2011 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
M. ARBAYANTO
KETUA
BASRI DODO
SEKRETARIS JENDERAL
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
SURAT MANDAT
Nomor : 23/A/Sek/02/1432
Dengan senantiasa mengharap rahmat dan ridho Allah Pengurus Besar Himpunan
Mahasiswa Islam (PB HMI) memberikan mandat kepada:
Nama
Jabatan
: M. SYAFII
: BENDAHARA UMUM
Untuk mengurus permohonan dana pada donatur yang telah menyatakan
kesanggupannya menjadi penyandang dana MILAD ke-64 HMI dan untuk mengambil
dana bantuan tersebut.
Demikian surat mandat dikeluarkan untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Billahitaufiq Wal Hidayah.
Jakarta,
21 Shafar
05 Februari
1432 H
2011 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOER FAJRIENSYAH
KETUA UMUM
JENDERAL
MULYADI
WAKIL SEKRETARIS
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
Nomor
: 135/B/Sek/04/1432
Lamp : 1 (satu) berkas
Hal
: BANTUAN PENGGANDAAN HASIL–HASIL
Kepada
yang
Terhormat,
KONGRES XXV
Kanda Presidium Nasional
Di
JAKARTA
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Salam dan do’a semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan
hidayahnya kepada Kanda dalam menjalankan tugas sehari–hari. Amin
Sehubungan dengan telah diterbitkannya buku hasil–hasil konggres ke–25
HMI di Makasar , maka Pengurus Besar HMI mohon bantuan Kanda untuk
penggandaanya. Buku tersebut akan kami gandakan sebanyak 500 buah
untuk selanjutnya akan di sosialisasikan kepada BADKO HMI dan HMI cabang
di seluruh Indonesia
Demikian permohonan ini kami sampaikan, atas perhatian dan bantuannya
kami ucapkan terima kasih.
Billahitaufiq Wal Hidayah
Jakarta, 02 Rabiul Akhir
1432 H
01 April
2011 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN
MAHASISWA
ISLAM
NOER FAJRIENSYAH
PATTIMAHU
KETUA UMUM
JENDERAL
..................................M.
WAKIL SEKRETARIS
ASRUL
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
Nomor : 713/A/Sek/04/1432
Lamp
Hal
: 1 (satu) berkas
: PENGANTAR
Kepada yang Terhormat,
Pengurus Badko HMI
Aceh Darussalam
DiBANDA ACEH
Nanggro
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Salam dan doa semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahat dan
Hidayah-Nya kepada Kanda dalam menjalankan tugas sehari – hari Amin.
Bersama ini kami sampaikan kepada Saudara Surat Keputusan Pengurus
Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dengan Nomor :
11/KTPS/A/12/1431 H tentang Pengesahan Pengurus Himpunan Mahasiswa
Islam Cabang Meulaboh Periode 2009–2010 M.
Demikian surat ini disampaikan atas perhatiannya
kasih.
kami ucapkan terima
Billahitaufiq Walhidayah
Wassalamu’alaiku Wr. Wb
Jakarta,
02 Rabiul Akhir 1432 H
01 April
2011 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
BASRI DODO
SEKRETARIS JENDERAL
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
Nomor
: 1245/B/Sek/12/1433
Lamp : 1 (satu) berkas
Hal
: UNDANGAN
Terhormat,
Kepada yang
Kanda Arip Mustopha
Di
JAKARTA
Assalamu’alaikum Wr, Wb
Salam dan do’a semoga Allah SWT. Senantiasa melimpahkan rahmat dan
Hidayah-Nya kepada Kanda dalam menjalankan tugas. Amin.
Kami beritahukan dengan hormat bahwa berkenan dengan Kongres ke-27
HMI pada tanggal 05-10 November 2012, maka pengurus besar HMI
memandang perlu untuk segera dilaksanakan Sidang MPK III sidang pleno IV.
Untuk itu kami mengundang Kanda Hadir dalam sidang MPK III dan sidang
pleno IV yang Insya Allah dilaksanakan pada:
Hari/tanggal
Jam
Tempat
Agenda Acara
: Jum’at – senin 1 – 4 Oktober 2012
: 19.00 WIB – selesai
: Sekretariat PB HMI
: Terlampir
Demikianlah surat ini disampaikan atas perhatiannya diucapkan terima
kasih
Billahitaufiq Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jakarta,26 Dzulhijjah 1433 H
11 september
2012 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
NOER FAJRIENSYAH
KETUA UMUM
JENDERAL
HENDRA FERDIANSYAH
WAKIL SEKRETARIS
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABLE : PB HMI
(CENTRAL EXECUTIVE OF ISLAMIC ASSOCIATION OF
UNIVERSITY STUDENT)
Jl.Diponegoro No. 16 A. Jakarta 10301 telp 021 2305205
Website : www.hmi.or.id, E-mail [email protected]
Nomor
: 709/A/Sek/04/1432
Lamp : 1 (satu) berkas
Hal
: HIMBAUAN
terhormat,
Kepada yang
Saudara Pengurus BADKO HMI
Pengurus Cabang se-Indonesia
DiTEMPAT
dan
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam dan do’a semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat dan
Hidayah-Nya kepada Kanda dalam menjalankan tugas sehari-hari, Amin.
Dalam upaya menjaga konsistensi, kontinuitas serta stamina organisasi,
maka seluruh aparat organisasi dala melaksanakan setiap aktifitas, supaya
memperhatikan hal-hal sebagai berikut
1. Seluruh aparat HMI selain PB HMI untuk menghindari diri dalam
memberikan sikap Politik keluar menyangkut apapun.
2. Seluruh aktifitas dan kegiatan organisasi harus dijalankan secara
prosedural, konstitusional dan tidak menimbulkan kekeruhan, baik secara
internal maupun secara kartenal.
Demikianlah surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerja samanya
kami ucapkan terima kasih.
Billahitaufiq Walahidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 02 Rabiul Akhir 1432 H
01 April
2011 M
PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
RIJAL AKBAR T.
KETUA
JENDERAL
BASRI DODO
SEKRETARIS
Lampiran.
Contoh Agenda PB HMI
No
No.
File
Tangg
al
terima
Nomo
r
surat
Tangg
al
Surat
Isi
Surat
Asal
Surat
Keteranga
n
Contoh:
Stempel Agenda
: ……………………….
Nomor
: ……………………….
Tanggal
: ……………………….
Disposisi
: ……………………….
Keterangan
: ……………………….
Pemungutan–pemungutan yang diterima, surat–surat yang baru diterima
sesudah diagendakan, dipusatkan dalam satu map yang disediakan untuk dapat
dibaca dan diketahui oleh pengurus.
Setelah surat–surat tersebut diketahui dan diberi disposisi oleh pengurus sesuai
dengan pembandingan masing–masing (perlu dibahas) diteruskan atau khusus
diadakan penyortiran surat–surat tersebut
Surat–surat dari map disposisi ini akan dipisahkan menjadi surat–surat yang
langsung disimpan sebagai arsip dan surat–surat yang akan dikerjakan atau
diselesaikan lebih lanjut.
Contoh susunan suatu acara
SUSUNAN ACARA
PEMBUKAAN KONFERENSI XXV HMI CABANG BOGOR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Pembukaan
Pembacaan Kitab Suci Al quran dan terjemahannya
Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan Hymne HMI
Laporan ketua panitia konferensi XXV HMI Cabang Bogor
Sambutan–sambutan
5.1. Ketua Umum HMI Cabang Bogor
5.2. Ketua Umum BADKO Jaboteka-Banten sekaligus membuka dengan resmi
acara komperensi XXV HMI Cabang Bogor
Pemberian cindera mata
Do’a
Selesai
Urutan-urutan sapaan dalam suatu acara
Yang Terhormat Saudara : Ketua Umum PB HMI
Ketua Umum BADKO HMI SulSelBar
Ketua Umum HMI Cabang Bone
Ketua Umum Komisariat Syari’ah STAIN Watampone
Contoh Data tentang Anggota
HMI
BADKO
: …………………………………
: …………………………………
I. DATA TENTANG DIRI
1. Nama lengkap/penagihan
2. Jenis Kelamin
3. Tempat/Tgl Lahir
4. Alamat
5. Pekerjaan
:
:
:
:
:
II. DATA TENTANG KELUARGA
1. Nama Orang Tua Laki-laki.................................................................:
2. Tempat/tgl lahir
:
3. Pendidikan
:
4. Pekerjaan
:
5. Alamat
:
6. Nama orang tua perempuan
:
7. Tempat/Tgl Lahir
:
8. Pendidikan
:
9. Pekerjaan
:
10. Alamat
:
11. Jumlah Saudara kandung :
III DATA TENTANG PENDIDIKAN
NAMA LENGKAP
TEMPAT/TANGGAL LAHIR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
SD
SMP
SMA (sederajat)
Universitas/ins/Akademi
Fakultas/Jurusan
Masuk Tahun
Tingkat/No. Mahasiswa
:
Tamat
:
Tamat
:
:
:
Tamat
Tamat
:
:
IV. DATA TENTANG ORGANISASI
1.
2.
3.
4.
5.
Masuk HMI tahun
Nomor Kartu Anggota
:
Training Yang Telah diikuti
:
Pengalaman Organisasi di HMI
Pengalaman Organisasi di luar HMI :
:
:
V. CATATAN TENTANG ALUMNI
VI. DATA TENTANG ALUMNI
1. Tamat Studi Tahun
2. Profesi/Jabatan
3. Terdaftar sebagai Anggota HMI
:
:
:
Cabang
4. Masuk Organisasi/Parpol
5. Sebagai
PENDIDIKAN
:
:
Catatan : *)
VII. DATA TENTANG KEWAJIBAN ANGGOTA MEMBAYAR IURAN **)
TAHUN
I
TRIWULAN
II
III
KETERANGAN
IV
1991
1992
1993
1994
dst
*) Anggaran rumah tangga HMI Bagian IV pasal 8 menyebutkan kewajiban anggota
a) membayar uang pangkal dan iuran anggota
b) Berprestasi dalam setiap kegiatan HMI
c) Menjaga nama baik organisasi
d) Terkecuali bagi anggota luar biasa dan anggota kehormatan tidak berlaku sub
17 a dan b
**) Diisi oleh Pengurus Cabang / PB HMI
CATATAN DAFTAR NAMA/URUTAN BULAN – BULAN TAHUN HIJRIAH
1. Muharram
2. Shafar
3. Rabiul Awal
4. Rabiul Akhir
5. Jumadil Awal
6. Jumadil Akhir
7. Rajab
8. Sya’ban
9. Ramadhan
10. Syawal
11. Dzulkaidah
12. Dzulhijah
Daftar nama dan urutan bulan-bulan Hijriah di atas, dimaksudkan untuk
memberikan nomor/bulan dalam surat menyurat.
Misal : Jika surat tersebut dikeluarkan bulan Rabiul awal maka kode suratnya
menjadi:
Nomor
: 110/A/Sek/03/1430
Angka nomor 03 itulah sebagai petunjuk bulan Rabiul Awal (bulan ketiga) dalam
tahun Hijriyah
Billahitaufiq Wal Hidayah.
PEDOMAN KEUANGAN DAN HARTA BENDA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENDAHULUAN
Sesuai dengan Anggaran dasar BAB VIII pasal 16 dan Anggaran Rumah Tangga
Pasal 58, organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dapat diperoleh dana dari
berbagai sumber antara lain:
a.
b.
c.
d.
Uang pangkal dan iuran anggota
Keuntungan Lembaga Pengembangan Profesi
Sumbangan alumni
Usaha-usaha lain yang halal dan tidak bertentangan dengan sifat independensi
HMI
Maksud dan tujuan dari Pedoman Keuangan dan Harta Benda Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI) adalah sebagai usaha lebih memperoleh dana yang lebih besar dan
dengan cara yang efektif sesuai dengan kondisi cabang masing-masing dengan
tujuan agar HMI lebih mandiri dalam arti tidak tergantung pada instansi/lembaga
yang memberikan sumbangan bersifat konvensional.
1. SUMBER DANA
Uang pangkal dan iuran anggota
a. Penarikan uang pangkal dan iuran anggota bersifat wajib yang besaran dan
metode pemungutannya ditetapkan oleh Pengurus Cabang, Uang pangkal
dialokasikan sepenuhnya untuk Komisariat
b. Iuran anggota dialokasikan dengan proporsi 30 persen untuk Komisariat, 30
persen untuk Cabang, 20 persen untuk Wilayah, dan 20 persen untuk
Pengurus Besar kecuali masing-masing struktur kepemimpinan tersebut
menyatakan tidak membutuhkannya.
Keuntungan Lembaga Pengembangan Profesi Sumbangan
Merupakan sumbangan dari luar yang halal dan tidak bertentangan dengan sifat
independensi HMI :
1.
2.
3.
4.
5.
Alumni
Simpatisan
Pemerintah
Perusahaan swasta
Usaha Organisasi
Usaha organisasi dapat dilakukan melalui yayasan, koperasi serta usaha yang
tidak bertentangan dengan prinsip organisasi.
2. SISTEM PENGANGGARAN
Pengertian
Penganggaran merupakan perencanaan keuangan untuk pelaksanaan program
organisasi dalam bentuk yang terdiri dari anggaran penerimaan dan
pengeluaran dan dalam satu periode yang mengambarkan sumber dan
penggunaan dana.
Maksud dan Tujuan
Dengan adanya sistem penganggaran diharapkan dapat melakukan skala
prioritas, dengan tujuan tercapainya efektifitas, efisiensi dan sinkronisasi antara
pelaksanaan aktifitas organisasi.
Fungsi
Fungsi penganggaran keuangan HMI tidak terlepas dari fungsi manajemen
yaitu:
1. Perencanaan
2. Pengorganisasian
3. Pelaksanaan
4. Pengawasan/Pengontrolan
Syarat–syarat
1. Kronologis
2. Sistematis
3. Mudah dimengerti
4. Jelas angka–angka dalam pos–pos pengeluaran dan penerimaan
5. Jumlah total seluruh pengeluaran dan penerimaan
Tahap-tahap penyusunan anggaran
1. Pengajuan kegiatan masing–masing bidang
2. Penjadwalan
3. Perhitungan perkiraan biaya setiap bulan
4. Penjumlahan biaya seluruh kegiatan
Mekanisme persetujuan
Pengajuan anggaran bidang:
Hasil
RAKER
Rapat bidang
Rapat harian
Bendahara Umum
Pengajuan Anggaran aktifitas
Panitia
Ketua Bidang
Tahap Pelaksanaan
Ketua Bidang
Bendahara umum
Ketua Umum
Pengajuan anggaran setiap aktifitas harus mendapat persetujuan dari
Bendahara Umum (policy maker) dan ketua umum (decision maker) baik yang
dilaksanakan oleh bidang maupun kepanitian.
Setiap pengeluaran harus sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan dan
disertai bukti pembayaran.
Apabila terjadi penyimpangan dari anggaran yang telah ditetapkan, maka harus
dibawa ke forum rapat Harian
Penyusunan laporan akhir sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan program.
3. SISTEM PENGELOLAAN DAN ADMINISTRASI KEUANGAN
1. Maksud dan Tujuan
Agar himpunan mahasiswa Islam (HMI) mempunyai pedoman dalam
pengelolaan dan administrasi keuangan dengan tujuan agar penggunaan
dana dapat dilakukan secara efisien dan efektif.
2. Pengelolaan prinsip–prinsip yang berlaku dalam hal pengelolaan
keuangan meliputi:
a. Perencanaan
keuangan
yang
diaktualisasikan
berupa
anggaran
pendapatan dan anggaran pengeluaran untuk jangka waktu tertentu yang
menggambarkan sumber penggunaan.
b. Organisasi
1. Tugas yang mencari dan mengumpulkan dana di bawah tanggung jawab
Bendahara Umum.
2. Penyimpanan dan pengeluaran dana yang dikumpulkan oleh tim
kebendaharaan harus terlebih dahulu disetujui oleh ketua umum dan
bendahara umum.
3. Wewenang mengusahakan dana berada pada Bendahara Umum.
4. Tugas untuk mencatat keluar masuk dana dan penyusunan laporan
diserahkan kepada wakil bendahara umum (bidang pembukuan dan
penyusunan laporan keuangan)
c. Pelaksanaan
Yang dimaksud dengan pelaksanaan adalah pelaksanaan pengaturan
keuangan yang meliputi:
1. Pengumpulan Dana
Yang dimaksud berkewajiban dan bertanggung jawab mengumpulkan
dana adalah tim dengan tugas meliputi :
 Menarik iuran anggota sesuai dengan organisasi
 Menarik dan mengumpulkan dana dari donatur tetap
 Menyerahkan hasil pengumpulan dana kepada wakil bendahara
umum (yang membidangi penyimpanan) setelah disetujui ketum dan
bendum.
 Memberikan tanda bukti/kartu penerimaan yang ditandatangani oleh
penerima/ penagih, kepada anggotanya, donator tetap dan
penyumbang lainnya.
 Pada waktu menyerahkan dana kepada wakil bendahara harus
disertai fotocopy kuitansi kepada penyumbang dan dari wakil
bendahara diminta/diterima bukti setoran yang ditandatangani ketua
umum dan bendahara umum.
2. Pengeluaran Dana
 Pengeluaran tiap bagian/departemen harus sesuai dana anggaran
belanja yang telah ditetapkan sebelumnya.
 Pengeluaran dana harus disetujui oleh ketua umum dan bendahara
umum.
3. Penyimpanan
 Yang bertanggung jawab atas penyimpanan adalah wakil bendahara
umum (bidang penyimpanan dan pengeluaran)
 Dana harus disimpan di Bank dan penandatanganan cek oleh ketua
umum dan bendahara umum
 Untuk keperluan rutin dapat diadakan kas kecil yang dipegang wakil
bendahara umum (dibidang penyimpanan/pengeluaran)
4. Prosedur Pengeluaran Dana
 Permintaan untuk pengeluaran dana diajukan kepada ketua umum
dan bendahara umum oleh departemen/bidang yang memerlukan
dana
 Ketua umum bersama bendahara umum menilai
tersebut untuk disetujui/ditolak atau minta dirubah
permohonan
 Atas dasar surat permohonan yang telah disetujui oleh ketum dan
bendahara umum wakil bendahara umum mengeluarkannya untuk
diserahkan kepada pemohon.
 Si pemohon diminta menandatangani formulir tanda pengeluaran dari
kas atau bank
 Bendahara umum mencatat dalam bukti–bukti pengeluaran dari kas
atau bank
5. Pengontrolan/pengawasan
 Pengontrolan dan pengawasan yang bersifat preventif adalah
pengontrolan yang berjalan atau dilakukan bersamaan dengan tahap–
tahap proses penerimaan dan pengeluaran yang dimulai dari:
a. Permohonan untuk pengeluaran
b. Jumlah yang telah dianggarkan
 Pengontrolan yang bersifat refresif adalah pengontrolan berupa
pemeriksaan kewajaran laporan keuangan setelah dicocokkan dalam
buku mutasi dan bukti pendukung lainnya.
4. PENYUSUNAN LAPORAN
Laporan keuangan pada umunya adalah neraca dan daftar perhitungan hasil
usaha (R/B). Neraca menggambarkan posisi harta kewajiban dan kekayaan pada
saat tertentu.
Sedangkan daftar perhitungan hasil usaha mengambarkan hasil kegiatan dan
pengeluaran-pengeluaran dana organisasi untuk jangka waktu yang berakhir
pada tangga Neraca.
5. PENUTUP
Demikian pedoman kebendaharaan ini kami susun agar dapat berguna sebagai
pegangan atau petunjuk pelaksanaan bagi organisasi dalam upaya
pendayagunaan sumber dana yang ada, secara efisien dan efektif serta dapat
dipertanggungjawabkan.
Kami berharap pedoman ini dapat standar yang masih mungkin dapat
dikembangkan sesuai dengan aparat/cabang masing-masing, jika kelak ternyata
atau terdapat kesalahan atau kekurangan dapat kita kembangkan.
<<>> Contoh tanda Bukti Pemasukan dan Pengeluaran terlampir
TANDA BUKTI TERIMA UANG (TBT)
Telah Terima Uang sebesar Rp…………………………
Dari
: ……………………………………………………….
Sebagai
: ……………………………………………………….
……………………….
.....................
Yang menerima
Wkl. Bendahara Umum
Penyimpanan/pengeluaran keuangan
Keterangan terlampir
Disetujui
Diketahui
Bendahara Umum
Ketua Umum
Dibukukan
Wabendum
Rangkap III
1. Putih untuk yang menyerahkan uang
2. Merah untuk wakil bendahara pembukuan
3. Kuning untuk wakil bendahara penyimpanan/pengeluaran
TANDA BUKTI PENGELUARAN (TBP)
Telah terima Uang Sebesar Rp………………………....
Dari
: ……………………………………………………….
Sebagai
: ……………………………………………………….
……………………..
……………….
Yang Menerima
Keterangan terlampir
Disetujui
Diketahui
Dibukukan
Bendahara Umum
Ketua Umum
Wabendum
Rangkap III
1. Putih untuk wakil bendahara penyimpanan/pengeluaran
2. Merah untuk pemakai uang
3. Kuning untuk wakil bendahara bidang pembukuan
Nomor Bukti
Penjelasan
Perkiraan
Nomor
Bendahara Umum
Debet
Kredit
Wakil Bendahara Umum
BUKU KAS
No
Debet
Jumlah
No
Kredit
Jumlah
Debet
Jumlah
No
Kredit
Jumlah
BUKU HUTANG
No
TATA PERKIRAAN
No
001
002
003
004
010
020
030
040
Nama Perkiraan
Neraca
Kas
Bank
Tagihan
Persediaan
Gedung
Inventasi Kantor
Kendaraan
Perlengkapan
070
080
090
Hutang
Uang Muka Diterima
Selisih Aktiva-Pasiva
100
110
120
130
140
150
160
161
Perkiraan Kecil
Penerimaan Uang Pangkal
Penerimaan uang iuran
Penerimaan dari Donatur tetap
Penerimaan
dari
Penyumbang
insidentil
alumni/simpatisan
Penerimaan dari hasil usaha
Penerimaan dari instansi
Penerimaan lain-lain (missal iuran pengurus)
BIAYA RUMAH TANGGA
Biaya Perlengkapan Rumah Tangga
Biaya Surat Kabar, Majalah, Buku
Biaya Pembelian Meubel
Rp.
Rp.
Rp.
BIAYA KEGIATAN BIDANG
Biaya Bid. PA
Biaya Bid. Pemb. Aparat Organisasi
Biaya Bid. PT & Kemahasiswaan
Rp.
Biaya Bid. Pembinaan Umat & Pemuda Rp.
Biaya Bidang Kewanitaan
Rp.
Dan seterusnya
Rp.
Rp.
BIAYA RUPA-RUPA
Biaya sumbangan kemalangan
Biaya hadiah perkawinan
Biaya Karangan Bunga
Biaya lain-lain yang tak terduga
Surplus (Defisit)
Rp.
Rp.
Rp.
Rp. …………….
Rp.
DAFTAR TATA PERKIRAAN
No
Nama Perkiraan
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
BIAYA ADMINISTRASI
Biaya Kantor
Biaya ATK
Biaya Listrik/Gas/Leding
Biaya Telpon/Telegram/Fax
Biaya Perangko/Materai
Biaya Perjalanan
Biaya Rapat
Biaya Transport
Biaya Makan/Minum
Biaya Tamu
Honorium
Biaya Pemeliharaan Kantor
Biaya Pemeliharaan Inventaris
Biaya Pemeliharaan Kendaraan
217
218
219
220
BIAYA AKTIFITAS/PROGRAM
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Pleno
Seminar/Simposium/Lokakarya
Training/Schooling
Komperensi Kerja
Konggres/Muktamar
Perjalanan Luar Negeri
NERACA
PER….…..
No
1
2
Perkiraan
Kas
Bank
Jumlah
Rp.
Rp.
No
10
11
3
Tagihan
Rp.
12
4
5
DP
Persed
Jumlah
Rp.
Rp.
Rp
6
7
Bangunan
Inventaris
Kantor
Kendaraan
Perlengkapan
Jumlah
Rp.
Rp.
8
9
Perkiraan
Hutang
Uang
Muka
Diterima
Selisih
Akt/pasiva
Rp.
Rp.
Rp
DAFTAR PERHITUNGAN HASIL USAHA
PENERIMAAN
a. Uang Pangkal
b. Uang Iuran
c. Donatur Tetap
d. Penyumbang Insidentil
e. Hasil Usaha
f. Instansi
g. Lain-lain
Jumlah Penerimaan
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp. ………………
Rp.
PENGELUARAN
1. BIAYA ADMINISTRASI
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Kantor
ATK
Listrik/Ledeng/Gas
Telepon/Telegram/Telex
Prangko/Materai
Perjalanan
Transport
Makan/Minum
Tamu
Honoranium
Pemeliharaan Kantor
Inventaris
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Jumlah
Rp.
Rp.
Rp.
Biaya Pengeluaran
2. BIAYA AKTIVITAS (PROGRAM)
Biaya Sidang Pleno
Biaya Seminar/Lokakarya
Biaya Training
Biaya Komperensi Kerja
Biaya Kongres/Muktamar
Biaya ke Luar Negeri
SURPLUS/DEFISIT
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
PEDOMAN PERKADERAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
MUKADDIMAH
Asyahadu Alla Ilaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadarrasulullah
(Aku Bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Aku Bersaksi bahwa Muhammad
Utusan Allah)
Sesungguhnya Allah telah mewahyukan Islam sebagai ajaran yang hak dan
sempurna untuk mengatur kehidupan umat manusia sesuai dengan fitrahnya
sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia dituntut
memanifestasikan nilai-nilai ilahiyah di bumi dengan kewajiban mengabdikan diri
semata-mata kepada-Nya, sehingga melahirkan spirit tauhid sebagai persaksian
(syahadah) untuk melakukan pembebasan (liberation) dari belenggu-belenggu
selain Allah. Dalam konteks ini, seluruh penindasan atas kemanusiaan adalah
thagut yang harus dilawan. Inilah yang menjadi subtansi dari pesaksian primordial
manusia yang termaktub dalam syahadatain.
Dalam melaksanakan peran sebagai khalifah, manusia harus berikhtiar melakukan
perubahan sesuai dengan misi yang diemban oleh para Nabi, yaitu menjadikan
Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lilalamin). Rahmat bagi seluruh
alam menurut Islam adalah terbentuknya masyarakat yang menjunjung tinggi
semangat persaudaraan universal (universal brotherhood), egaliter, demokratis,
berkeadilan sosial (social justice), berakhlakul karimah, istiqomah melakukan
perjuangan untuk membebaskan kaum tertindas (mustadh’afin), serta mampu
mengelola dan menjaga keseimbangan alam.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi kader diharapkan mampu
menjadi alat perjuangan dalam mentransformasikan gagasan dan aksi terhadap
rumusan cita yang ingin dibangun yakni terbinanya insan akademis, pencipta,
pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
HMI sebagai organisasi kader memiliki platform yang jelas dalam menyusun agenda
dengan mendekatkan diri kepada realitas masyarakat dan secara konsisten
membangun proses dialetika secara obyektif dalam pencapaian tujuannya. Daya
sorot HMI terhadap persoalan akan tergambar pada penyikapan kader yang
memiliki
keberpihakan
terhadap
kaum
tertindas
(mustadha’afin)
dan
memperjuangkan kepentingan mereka serta membekalinya dengan ideologi yang
kuat untuk melawan kaum penindas (mustakbirin).
Untuk dapat mewujudkan cita-cita revolusi di atas, maka seyogyanya perkaderan
harus diorientasikan kepada proses rekayasa pembentukan kader yang memiliki
karakter, nilai dan kemampuan untuk melakukan transformasi kepribadian dan
kepemimpinan seorang muslim yang utuh (kaffah), sikap dan wawasan intelektual
yang
melahirkan
kritisisme,
serta
orientasi
kepada
kemandirian
dan
profesionalisme. Oleh karena itu, untuk menguatkan dan memberikan nilai optimal
bagi perkaderan HMI, maka ada tiga hal yang harus diberi perhatian serius.
Pertama, rekruitmen calon kader. Dalam hal ini, HMI harus menentukan prioritas
rekruitmen calon kader dari mahasiswa pilihan, yakni input kader yang memiliki
integritas pribadi, bersedia melakukan peningkatan dan pengembangan diri secara
berkelanjutan, memiliki orientasi kepada prestasi yang tinggi dan potensi
leadership, serta memiliki komitmen untuk aktif dalam memajukan organisasi.
Kedua, proses perkaderan yang dilakukan sangat ditentukan oleh kualitas
pengurus sebagai penanggung jawab perkaderan, pengelola latihan, pedoman
perkaderan dan bahan yang dikomunikasikan serta fasilitas yang digunakan.
Ketiga, iklim dan suasana yang dibangun harus kondusif untuk perkembangan
kualitas kader, yakni iklim yang menghargai prestasi individu, mendorong semangat
belajar dan bekerja keras, menciptakan ruang dialog dan interaksi individu secara
demokratis dan terbuka untuk membangun sikap kritis yang melahirkan pandangan
futuristik serta menciptakan media untuk merangsang kepedulian terhadap
lingkungan sosial.
Untuk memberikan panduan (guidance) yang dipedomani dalam setiap proses
perkaderan HMI, maka dipandang perlu untuk menyusun pedoman perkaderan
yang menjadi strategi besar (grand strategy) perjuangan HMI sebagai organisasi
perkaderan dan perjuangan dalam menjawab tantangan zaman.
BAB I
POLA UMUM PERKADERAN HMI
I.
LANDASAN PERKADERAN
Landasan perkaderan merupakan pijakan pokok yang dijadikan sebagai sumber
inspirasi dan motivasi dalam proses perkaderan HMI. Untuk melaksanakan
perkaderan, HMI bertitik tolak pada lima landasan, sebagai berikut:
1. Landasan Teologis
Sesungguhnya ketauhidan manusia adalah fitrah (Q.S. Ar-Rum: 30) yang diawali
dengan perjanjian primordial dalam bentuk persaksian kepada Allah sebagai Zat
pencipta (Q.S. Al-A’raf:172). Bentuk pengakuan tersebut merupakan
penggambaran penyerahan diri manusia kepada Zat yang mutlak. Kesanggupan
manusia menerima perjanjian primordial tersebut sejak peniupan ruh Allah ke
dalam jasadnya di alam rahim memiliki konsekuensi logis kepada manusia
untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia kepada Allah
sebagai pemberi mandat kehidupan.
Peniupan ruh Allah sekaligus menggambarkan refleksi sifat-sifat Allah kepada
manusia. Maka seluruh potensi ilahiyah secara ideal dimiliki oleh manusia.
Prasyarat inilah yang memungkinkan manusia menjadi khalifah di muka bumi.
Seyogyanya tugas kekhalifahan manusia di bumi berarti menyebarkan nilai-nilai
ilahiyah dan sekaligus menginterpretasikan realitas sesuai dengan perspektif
ilahiyah tersebut. Namun, proses materialisasi manusia hanya sebagai jasad
tanpa ruh niscaya menimbulkan konsekuensi baru dalam wujud reduksi
nilai-nilai ilahiyah. Manusia yang hidup tanpa kesadaran ruh ilahiyah hanya
akan mengada (being) dalam kemapanan tanpa berupaya menjadi (becoming)
sempurna.
Manusia yang becoming adalah manusia yang mempunyai kesadaran akan
aspek transendental sebagai realitas tertinggi. Dalam hal ini konsepsi syahadat
akan ditafsirkan sebagai monotheisme radikal. Kalimat syahadat pertama berisi
negasi yang meniadakan semua yang berbentuk tuhan palsu. Kalimat kedua
lalu menjadi afirmasi sekaligus penegasan atas Zat yang maha tunggal yaitu
Allah SWT. Dalam menjiwai konsepsi diatas maka perjuangan kernanusiaan
diarahkan untuk melawan segala sesuatu yang membelenggu manusia dari
yang dituhankan selain Allah. Itulah thogut dalam perspektif Al-Qur'an.
Dalam menjalani fungsi kekhalifahannya maka internalisasi sifat Allah dalam diri
manusia harus menjadi sumber inspirasi. Dalam konteks ini, tauhid menjadi
aspek progresif dalam menyikapi persoalan mendasar manusia. Karena Allah
adalah pemelihara kaum yang lemah (rabbul mustadh'afin) maka meneladani
sifat Allah juga berarti harus berpihak kepada kaum mustadh'afin. Pemahaman
ini akan mengarahkan pada pandangan bahwa ketauhidan adalah nilai-nilai
yang bersifat transformatif, membebaskan, berpihak dan bersifat revolusioner.
Spirit inilah yang harus menjadi paradigma dalam sistem perkaderan HMI.
2. Landasan Ideologis
Islam sebagai landasan nilai transformatif yang secara sadar dipilih untuk
memenuhi kebutuhan dan menjawab persoalan yang terjadi dalam masyarakat.
Islam mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan dan idealisme yang
dicita-citakan. Untuk tujuan dan idealisme tersebut maka umat Islam akan
ikhlas berjuang dan berkorban demi keyakinannya. Ideologi Islam senantiasa
mengilhami, memimpin, mengorganisir perjuangan, perlawanan, dan
pengorbanan yang luar biasa untuk melawan semua status quo, belenggu dan
penindasan terhadap umat manusia.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad telah memperkenalkan Islam sebagai
ideologi perjuangan dan mengubahnya menjadi keyakinan yang tinggi, serta
memimpin rakyat melawan kaum penindas. Nabi Muhammad lahir dan muncul
dari tengah masyarakat kebanyakan yang oleh Al-Qur’an dijuluki sebagai
“ummi”. Kata “ummi” yang disifatkan kepada Nabi Muhammad menurut Ali
Syari’ati dalam karyanya Ideologi Kaum Intelektual, berarti bahwa beliau
berasal dari kelas rakyat. Kelas ini terdiri atas orang-orang awam yang buta
huruf, para budak, anak yatim, janda dan orang-orang miskin (mustadh’afin)
yang menderita, dan bukan berasal dari kalangan borjuis dan elite penguasa.
Dari kalangan inilah Muhammad memulai dakwahnya untuk mewujudkan
cita-cita Islam.
Cita-cita Islam adalah adanya transformasi terhadap ajaran dasar Islam tentang
persaudaraan universal (Universal Brotherhood), kesetaraan (Equality), keadilan
sosial (Social Justice), dan keadilan ekonomi (Economical Justice). Ini adalah
cita-cita yang memiliki aspek liberatif sehingga dalam usaha untuk
mewujudkannya tentu membutuhkan keyakinan, tanggungjawab, keterlibatan
dan komitmen. Hal ini disebabkan sebuah ideologi menuntut penganutnya
bersikap setia (committed).
Dalam usaha untuk mewujudkan cita-cita Islam, pertama, persaudaraan
universal dan kesetaraan (equality), Islam telah menekankan kesatuan manusia
(unity of mankind) yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Hai manusia! kami
ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertaqwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. “ (Q.S. Al-Hujurat :13). Ayat ini secara
jelas membantah sernua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau
keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya keshalehan, baik
keshalehan ritual maupun keshalehan sosial, sebagaimana Al-Qur’an
menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri karena
Allah, menjadi saksi dengan keadilan. Janganlah karena kebencianmu kepada
suatu kaum, sehingga kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan
itu lebih dekat kepada taqwa dan takutlah kepada Allah…” (QS. Al-Maidah : 8).
Kedua, Islam sangat menekankan kepada keadilan di semua aspek kehidupan.
Dan keadilan tersebut tidak akan tercipta tanpa membebaskan masyarakat
lemah dan marjinal dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada kaum
mustadh’afin untuk menjadi pemimpin. Menurut Al-Qur’an, mereka adalah
pernimpin dan pewaris dunia. “Kami hendak memberikan karunia kepada
orang-orang tertindas di muka burni. Kami akan menjadikan mereka pemimpin
dan pewaris bumi” (QS. Al-Qashash: 5) “Dan kami wariskan kepada kaum yang
tertindas seluruh timur bumi dan baratnya yang kami berkati. “ (QS. Al-A’raf :
37).
Di tengah-tengah suatu bangsa ketika orang-orang kaya hidup mewah di atas
penderitaan orang miskin, ketika budak-budak merintih dalam belenggu
tuannya, ketika para penguasa membunuh rakyat yang tak berdaya hanya
untuk kesenangan, ketika para hakim mernihak kepada pemilik kekayaan dan
penguasa, ketika orang-orang kecil yang tidak berdosa dimasukkan ke penjara
maka Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan rabbul mustadh’afin:
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang yang
tertindas, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak yang berdo’a, Tuhan kami !
Keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya berbuat zalim, dan berilah
kami perlindungan dan pertolongan dari sisi Engkau.” (QS. An-Nisa : 75). Dalam
ayat ini menurut Asghar Ali Engineer dalam bukunya Islam dan Teologi
Pembebasan, Al-Qur’an mengungkapkan teori kekerasan yang membebaskan
yaitu “Perangilah mereka itu hingga tidak ada fitnah.” (Q.S. Al-Anfal : 39) AlQur’an dengan tegas mengutuk Zulm (penindasan). Allah tidak menyukai katakata yang kasar kecuali oleh orang yang tertindas. “Allah tidak menyukai
perkataan yang kasar/jahat (memaki), kecuali bagi orang yang teraniaya….”
(QS. An-Nisa’ : 148).
Ketika Al-Qur’an sangat menekankan keadilan ekonomi berarti Al-Qur’an seratus
persen menentang penumpukan dan penimbunan harta kekayaan. Al-Qur’an
sejauh mungkin menganjurkan agar orang-orang kaya hartanya untuk anak
yatim, janda-janda dan fakir miskin. “Adakah engkau ketahui orang yang
mendustakan agarna? Mereka itu adalah orang yang menghardik anak yatim.
Dan tidak menyuruh memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang
yang shalat, yang mereka itu lalai dari sholatnya, dan mereka itu riya, enggan
memberikan zakatnya. “ (QS. AI-Maun : 1-7).
Al-Qur’an tidak menginginkan harta kekayaan itu hanya berputar di antara
orang-orang kaya saja. “Apa-apa (harta rampasan) yang diberikan Allah kepada
Rasul-Nya dari penduduk negeri (orang-orang kafir), maka adalah untuk Allah,
untuk Rasul, untuk karib kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
dan orang yang berjalan, supaya jangan harta itu beredar antara orang-orang
kaya saja diantara kamu… “(QS. Al Hasyr : 7). Al-Qur’an juga memperingatkan
manusia agar tidak suka menghitung-hitung harta kekayaannya, karena
hartanya tidak akan memberikan kehidupan yang kekal. Orang yang suka
menumpuk-numpuk
dan
menghitung-hitung
harta
benar-benar
akan
dilemparkan ke dalam bencana yang mengerikan, yakni api neraka yang
menyala-nyala (QS. Al-Humazah :1-9). Kemudian juga pada Surat At-Taubah: 34,
Al-Qur’an memberikan beberapa peringatan keras kepada mereka yang suka
menimbun harta dan mendapatkan hartanya dari hasil eksploitasi (riba) dan
tidak membelanjakannya di jalan Allah.
Pada masa Rasulullah SAW banyak sekali orang yang terjerat dalam perangkap
hutang karena praktek riba. Al-Qur’an dengan tegas melarang riba dan
memperingatkan siapa saja yang melakukannya akan diperangi oleh Allah dan
Rasul-Nya (Iihat, QS. Al-Baqarah: 275-279 dan Ar-Rum: 39). Demikianlah Allah
dan Rasul-Nya telah mewajibkan untuk melakukan perjuangan membela kaum
yang tertindas dan mereka (Allah dan Rasul-Nya) telah memposisikan diri
sebagai pembela para mustadh’afin.
Dalam keseluruhan proses aktifitas manusia di dunia ini, Islam selalu
mendorong manusia untuk terus memperjuangkan harkat kemanusiaan,
menghapuskan kejahatan, melawan penindasan dan ekploitasi. AI-Qur’an
memberikan penegasan “Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi
manusia supaya kamu menyuruh berbuat kebajikan (ma’ruf) dan melarang
berbuat kejahatan (mungkar) serta beriman kepada Allah (QS. Ali-Imran : 110).
Dalam rangka memperjuangkan kebenaran ini, manusia memiliki kebebasan
dalam mengartikulasikan Islam sesuai dengan konteks lingkungannya agar tidak
terjebak pada hal-hal yang bersifat mekanis dan dogmatis. Menjalankan ajaran
Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti menggali makna
dan menangkap semangatnya dalam rangka menyelesaikan persoalan
kehidupan yang serba kompleks sesuai dengan kemampuannya.
Demikianlah cita-cita Islam yang senantiasa harus selalu diperjuangkan dan
ditegakkan, sehingga dapat mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang adil,
demokratis, egaliter dan berperadaban. Dalam memperjuangkan cita-cita
tersebut manusia dituntut untuk selalu setia (commited) terhadap ajaran Islam
seraya memohon petunjuk Allah SWT, ikhlas, rela berkorban sepanjang hidupnya
dan senantiasa terlibat dalam setiap pembebasan kaum tertindas
(mustadh'afin). "Sesungguhnya sholatku, perjuanganku, hidup dan matiku,
semata-mata hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada serikat
bagi-Nya dan aku diperintah untuk itu, serta aku termasuk orang yang pertama
berserah diri. " (QS. AI-An'am : 162-163).
3. Landasan Konstitusi
Dalam rangka mewujudkan cita-cita perjuangan HMI di masa depan, HMI harus
mempertegas posisinya dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan
bernegara demi melaksanakan tanggungjawabnya bersama seluruh rakyat
Indonesia dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh
Allah SWT. Dalam pasal tiga (3) tentang azas ditegaskan bahwa HMI adalah
organisasi berazaskan Islam dan bersumber kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Penegasan pasal ini memberikan cerminan bahwa di dalam dinamikanya, HMI
senantiasa mengemban tugas dan tanggungjawab dengan semangat keislaman
yang tidak mengesampingkan semangat kebangsaan. Dalam dinamika tersebut,
HMI sebagai organisasi kepemudaan menegaskan sifatnya sebagai organisasi
mahasiswa yang independen (Pasal 6 AD HMI), berstatus sebagai organisasi
mahasiswa (Pasal 7 AD HMI), memiliki fungsi sebagai organisasi kader (Pasal 8
AD HMI) serta berperan sebagai organisasi perjuangan (Pasal 9 AD HMI).
Dalam rangka melaksanakan fungsi dan peranannya secara berkelanjutan yang
berorientasi futuristik maka HMI menetapkan tujuannya dalam pasal empat (4)
AD HMI, yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan
Islam serta bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur
yang diridhoi Allah SWT. Kualitas kader yang akan dibentuk ini kemudian
dirumuskan dalam tafsir tujuan HMI. Oleh karena itu, tugas pokok HMI adalah
perkaderan yang diarahkan kepada perwujudan kualitas insan cita yakni
dalam pribadi yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu
melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan sebagai amal saleh. Pembentukan
kualitas dimaksud diaktualisasikan dalam fase-fase perkaderan HMI, yakni fase
rekruitmen kader yang berkualitas, fase pembentukan kader agar memiliki
kualitas pribadi Muslim, kualitas intelektual serta mampu melaksanakan
kerja-kerja kemanusiaan secara profesional dalam segala segi kehidupan, dan
fase pengabdian kader, dimana sebagai output maka kader HMI harus mampu
berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan berjuang
bersama-sama dalam mewujudkan cita-cita masyarakat adil dan makmur yang
diridhoi Allah SWT.
4. Landasan Historis
Secara sosiologis dan historis, kelahiran HMI pada tanggal 5 Februari 1947 tidak
terlepas dari permasalahan bangsa yang di dalamnya mencakup umat Islam
sebagai satu kesatuan dinamis dari bangsa Indonesia yang sedang
mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamirkan. Kenyataan itu
merupakan motivasi kelahiran HMI sekaligus dituangkan dalam rumusan tujuan
berdirinya, yaitu: pertama, mempertahankan negara Republik Indonesia dan
mempertinggi
derajat
rakyat
Indonesia.
Kedua,
menegakkan
dan
mengembangkan syiar ajaran Islam. Ini menunjukkan bahwa HMI
bertanggungjawab terhadap permasalahan bangsa dan negara Indonesia serta
bertekad mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan manusia secara total.
Makna rumusan tujuan itu akhirnya membentuk wawasan dan langkah
perjuangan HMI ke depan yang terintegrasi dalam dua aspek keislaman dan
aspek kebangsaan. Aspek keislaman tercermin melalui komitmen HMI untuk
selalu mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan
berbangsa sebagai pertanggungjawaban peran kekhalifahan manusia,
sedangkan aspek kebangsaan adalah komitmen HMI untuk senantiasa bersamasama seluruh rakyat Indonesia merealisasikan cita-cita proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia demi terwujudnya cita-cita masyarakat yang demokratis,
berkeadilan sosial dan berkeadaban. Dalam sejarah perjalanan HMI,
pelaksanaan komitmen keislaman dan kebangsaan merupakan garis perjuangan
dan misi HMI yang pada akhirnya akan membentuk kepribadian HMI dalam
totalitas perjuangan bangsa Indonesia ke depan.
Melihat komitmen HMI dalam wawasan sosiologis dan historis berdirinya pada
tahun 1947 tersebut, yang juga telah dibuktikan dalam sejarah
perkembangnnya, maka pada hakikatnya segala bentuk pembinaan kader HMI
harus pula tetap diarahkan dalam rangka pembentukan pribadi kader yang
sadar akan keberadaannya sebagai pribadi muslim, khalifah di muka bumi dan
pada saat yang sama kader tersebut harus menyadari pula keberadannya
sebagai kader bangsa Indonesia yang bertanggungjawab atas terwujudnya citacita bangsa ke depan.
5.
Landasan Sosio-Kultural
Islam yang masuk di kepulauan Nusantara telah berhasil merubah kultur
masyarakat terutama di daerah sentral ekonomi dan politik menjadi kultur
Islam. Keberhasilan Islam yang secara dramatik telah berhasil menguasai
hampir seluruh kepulauan nusantara. Tentunya hal tersebut dikarenakan agama
Islam memiliki nilai-nilai universal yang tidak mengenal batas-batas sosiokultural, geografis dan etnis manusia. Sifat Islam ini termanifestasikan dalam
cara penyebaran Islam oleh para pedagang dan para wali dengan pendekatan
sosio-kultural yang bersifat persuasif.
Masuknya Islam secara damai berhasil mendamaikan kultur Islam dengan kultur
masyarakat nusantara. Dalam proses sejarahnya, budaya sinkretisme penduduk
pribumi ataupun masyarakat, ekonomi dan politik yang didominasi oleh kultur
tradisional, feodalisme, hinduisme dan budhaisme mampu dijinakkan dengan
pendekatan Islam kultural ini. Pada perkembangan selanjutnya, Islam tumbuh
seiring dengan karakter keindonesiaan dan secara tidak langsung telah
mempengaruhi kultur Indonesia yang dari waktu ke waktu semakin modern.
Karena mayoritas bangsa Indonesia adalah beragama Islam, maka kultur Islam
telah menjadi realitas sekaligus memperoleh legitimasi sosial dari bangsa
Indonesia yang pluralistik. Dengan demikian wacana kebangsaan di seluruh
aspek kehidupan ekonomi, politik, dan sosial budaya Indonesia meniscayakan
transformasi total nilai-nilai universal Islam menuju cita-cita mewujudkan
peradaban Islam. Nilai-nilai Islam itu semakin mendapat tantangan ketika arus
globalisasi telah menyeret umat manusia kepada perilaku pragmatisme dan
permisivisme di bidang ekonomi, budaya dan politik. Sisi negatif dari globalisasi
ini disebabkan oleh percepatan perkembangan sains dan teknologi modern dan
tidak diimbangi dengan nilai-nilai etika dan moral.
Konsekuensi dari realitas di atas adalah semakin kaburnya batas-batas bangsa
sehingga cenderung menghilangkan nilai-nilai kultural yang menjadi suatu ciri
khas dari suatu negara yang penuh dengan keragaman budaya. Di sisi lain,
teknologi menghadirkan ketidakpastian psikologis umat manusia sehingga
menimbulkan kejenuhan manusia. Dari sini lah, nilai-nilai ideologi, moral dan
agama yang tadinya kering kerontang kembali menempati posisi kunci dalam
ide dan konsepsi komunitas global. Dua sisi ambiguitas globalisasi ini adalah
tampilan dari sebuah dunia yang penuh paradoks.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka Himpunan Mahasiswa
Islam sebagai bagian integral umat Islam dan bangsa Indonesia yaitu kader
umat dan kader bangsa, sudah semestinya menyiasati perkembangan dan
kecenderungan global tersebut dalam bingkai perkaderan HMI yang integralistik
berdasarkan kepada perkembangan komitmen terhadap nilai-nilai antropologissosiologis umat Islam dan bangsa Indonesia sebagai wujud dari pernahaman
HMI akan nilai-nilai kosmopolitanisme dan universalisme Islam.
II.
POLA DASAR PERKADERAN
Dalam menjalankan fungsinya sebagai organisasi kader, HMI menggunakan
pendekatan sistematik dalam keseluruhan proses perkaderannya. Semua
bentuk aktifitas/kegiatan perkaderan disusun dalam semangat integralistik
untuk mengupayakan tercapainya tujuan organisasi. Oleh karena itu sebagai
upaya memberikan kejelasan dan ketegasan sistem perkaderan yang dimaksud
harus dibuat pola dasar perkaderan HMI secara nasional. Pola dasar ini disusun
dengan memperhatikan tujuan organisasi dan arah perkaderan yang telah
ditetapkan. Selain itu juga dengan mempertimbangkan kekuatan dan
kelemahan organsiasi serta tantangan dan kesempatan yang berkembang
dilingkungan eksternal organisasi.
Pola dasar ini membuat garis besar keseluruahn tahapan yang harus ditempuh
oleh seorang kader dalam proses perkaderan HMI, yakni sejak rekruitmen kader,
pembentukan kader dan gamabaran jalur-jalur pengabdian kader.
1. Pengertian Dasar
1. Kader
Menurut AS Hornby (dalam kamusnya Oxford Advanced Learner's Dictionary)
dikatakan bahwa "Cadre is a small group of People who are specially chosen
and trained for a particular purpose, atau “cadre is a member of this kind of
group; they were to become the cadres of the new commuiny party". Jadi
pengertian kader adalah "sekelompok orang yang terorganisasir secara terus
menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih
besar". Hal ini dapat dijelaskan, pertama, seorang kader bergerak dan
terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan permainan organisasi
dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. Bagi HMI
aturan-aturan itu sendiri dari segi nilai adalah Nilai Dasar Perjuangan (NDP)
dalam
pemahaman
memaknai
perjuangan
sebagai
alat
untuk
mentransformasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang membebaskan (Liberation
force), dan memiliki kerberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas
(mustadhafin). Sedangkan dari segi operasionalisasi organisasi adalah
AD/ART HMI, pedoman perkaderan dan pedoman serta ketentuan organisasi
lainnya. Kedua, seorang kader mempunyai komitmen yang terus menerus
(permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah
(konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. Ketiga,
seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau
kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih
besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas.
Keempat, seorang Kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam
merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan "social
engineering".
Kader HMI adalah anggota HMI yang telah melalui proses perkaderan
sehingga meiniliki ciri kader sebagaimana dikemukakan di atas dan memiliki
integritas kepribadian yang utuh: Beriman, Berilmu dan beramal. Shaleh
sehingga siap mengemban tugas dan amanah kehidupan beragama,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2.
Perkaderan
Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan
sistematis
selaras
dengan
pedoman
perkaderan
HMI,
sehingga
memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya
menjadi seorang kader Muslim-Intelektual-Profesional, yang memiliki kualitas
insan cita.
2. Rekruitmen Kader
Sebagai konsekuensi dari organisasi kader, maka aspek kualitas kader
merupakan fokus perhatian dalam proses perkaderan HMI guna menjamin
terbentuknya out put yang berkualitas sebagaimana yang disyaratkan dalam
tujuan organisasi, maka selain kualitas proses perkaderan itu sendiri, kualitas
input calon kader menjadi faktor penentu yang tidak kalah pentingnya.
Kenyataan ini mengharuskan adanya pola-pola perencanaan dan pola
rekrutmen yang lebih memprioritaskan kepada tersedinaya input calon kader
yang berkualitas. Dengan demikian rekrutmen kader adalah merupakan upaya
aktif dan terencana sebagai ikhtiar untuk mendapatkan input calon kader yang
berkualitas bagi proses Perkaderan HMI dalam mencapai tujuan organisasi.
1. Kriteria Rekruitmen
Rekrutmen Kader yang lebih memperioritaskan pada pengadaan kader yang
berkualitas tanpa mengabaikan aspek kuantitas, mengharuskan adanya
kreteria rekrutmen. Kreteria Rekrutmen ini akan mencakup kreteria
sumber-sumber kader dan kreteria kualitas calon kader.
1. Kriteria Sumber-sumber Kader
Sesuai dengan statusnya sebagai organisi mahasiswa, maka yang menjadi
sumber kader HMI adalah Perguruan Tinggi atau Institut lainnya yang
sederajat seperti apa yang disyaratkan dalam AD/ART HMI. Guna
mendapatkan input kader yang berkualitas maka pelaksanaan rekrutmen
kader perlu diorientasikan pada Perguruan Tinggi atau Lembaga
pendidikan
sederajat
yang
berkualitas
dengan
memperhatikan
kriteria-kriteria yang berkembang di masing-masing daerah.
2. Kriteria Kualitas Calon Kader
Kualitas calon kader yang diperioritaskan ditentukan oleh kriteria-kriteria
tertentu dengan memperhatikan integritas pribadi dan calon kader,
potensi dasar akademik, potensi berprestasi, potensi dasar kepemimpinan
serta bersedia melakukan peningkatan kualitas individu secara terusmenerus.
2. Metode dan Pendekatan Rekruitmen
Metode dan pendekatan rekruitmen merupakan cara atau pola yang
ditempuh untuk melakukan pendekatan kepada calon-calon kader agar
mereka mengenal dan tertarik menjadi kader HMI. Untuk mencapai tujuan
tersebut, maka pendekatan rekruitmen dilakukan dua kelompok sasaran.
1. Tingkat Pra Perguruan Tinggi
Pendekatan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sedini mungkin
keberadaan HMI ditengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat
ilmiah ditingkat pra perguruan tinggi atau siswa-siswa sekolah menengah.
Strategi pendekatan haruslah memperhatikan aspek psikologis sebagai
remaja.
Tujuan pendekatan ini adalah agar terbentuknya opini awal yang positif
dikalagan siswa-siswa sekolah menengah terhadap HMI. Untuk kemudian
pada gilirannya terbentuk pula rasa simpati dan minat untuk
mengetahuinya lebih jauh.
Pendekatan rekruitmen dapat dilakukan dengan pendekatan aktifitas
(activity approach) dimana siswa dilibatkan seluas-luasnya pada sebuah
aktifitas. Bentuk pendekatan ini bisa dilakukan lewat fungsionalisasi
lembaga-lembaga kekaryaan HMI serta perangkat organisasi HMI lainnya
secara efektif dan efisien, dapat juga dilakukan pendekatan perorangan
(personal approach).
2. Tingkat Perguruan Tinggi
Pendekatan rekruitmen ini dimaksudkan untuk membangun persepsi yang
benar dan utuh dikalangan mahasiswa terhadap keberadaan organisasi
HMI sebagai mitra Perguruan Tinggi didalam mencetak kader-kader
bangsa. Strategi pendekatan harus mampu menjawab kebutuhan nalar
mahasiswa (student reasoning), minat mahasiswa (studen interest) dan
kesejahteraan mahasiswa (student welfare).
Pendekatan di atas dapat dilakukan lewat aktifitas dan pendekatan
perorangan, dengan konsekuensi pendekatan fungsionalisasi masing-masing
aparat HMI yang berhubungan langsung dengan basis calon kader HMI. Selain
itu, dapat juga dilakukan dengan cara kegiatan yang berbentuk formal seperti
masa perkenalan calon anggota (Maperca) dan pelatihan kekaryaan. Dalam
kegiatan Maperca, materi yang dapat disajikan oleh adalah:
 Selayang pandang tentang HMI
 Pengantarwawasan ke-Islam-an
 Pengantar wawasan organisasi
 Wawasan perguruan tinggi
Metode dan pendekatan rekruitmen seperti tersebut di atas diharapkan akan
mampu membangun rasa simpati dan hasrat untuk mengembangkan serta
mengaktualisasikan seluruh potensi dirinya lewat pelibatan diri pada proses
perkaderan HMI secara terus menerus.
3. Pembentukan Kader
Pembentukan kader merupakan sekumpulan aktifitas perkaderan yang integrasi
dalam upaya mencapai tujuan HMI
1. Latihan Kader
Latihan kader merupakan perkaderan HMI yang dilakukan secara sadar,
terencana, sitematis dan berkesinambungan serta memiliki pedoman dan
aturan yang baku secara rasional dalam rangka mencapai tujuan HMI.
Latihan ini berfungsi memberikan kemampuan tertentu kepada para
pesertanya sesuai dengan tujuan dan target pada masing-masing jenjang
latihan. Latihan kader merupakan media perkaderan formal HMI yang
dilaksanakan secara berjenjang serta menuntut persyaratan tertentu dari
pesertanya, pada masing-masing jenjang latihan ini menitikberatkan pada
pembentukan watak dan Karakter kader HMI melalui transfer nilai, wawasan
dan keterampilan serta pemberian rangsangan dan motivasi untuk
mengaktualisasikan kemampuannya. Latihan kader terdiri dan 3 (tiga)
jenjang, yaitu:
a. Basic Training (latihan Kader 1)
b. Intermediate Training (latihan Kader ll )
c. Advance Training (latihan Kader III )
2.
Pengembangan
Pengembangan merupakan kelanjutan atau kelangkapan latihan dalam
keseluruhan proses perkaderan HMI. Hal ini merupakan penjabaran dari pasal
5 Anggaran Dasar HMI.
a. Up Grading
Up Grading dimaksudkan sebagai media perkaderan HMI yang menitik
beratkan pada pengembangan nalar, minat dan kemampuan peserta pada
bidang tertentu yang bersifat praktis, sebagai kelanjutan dari perkaderan
yang dikembangkan melalui latihan kader.
b. Pelatihan
Pelatihan adalah training jangka pendek yang bertujuan membentuk dan
mengembangkan profesionalisme kader sesuai dengan latar belakang
disiplin ilmunya masing-masing.
c. Aktifitas
1. Aktifitas organisasional
Aktifitas organisasional merupakan suatu aktifitas yang bersifat
organsiasi yang dilakukan oleh kader dalam lingkup tugas organisasi.
 Intern organisasi yaitu segala aktifitas organisasi yang dilakukam oleh
kader dalam Iingkup tuas HMI.
 Ekstern organisasi yaitu segala aktifitas organisasi yang dilakukan
oleh kader dalam lingkup tugas organisasi diluar HMI.
2. Aktifitas Kelompok
Aktifitas kelompok merupakan aktifitas yang dilakukan oleh kader dalam
suatu kelompok yang tidak memiliki hubungan struktur dengan
organisasi formal tertentu.
 Intern Organisasi
Yaitu segala aktifitas kelompok yang diklakukan oleh kader HMI dalam
lingkup organisasi HMI yang tidak memiliki hubungan struktur
(bersifat informal).
 Ekstern organisasi
Yaitu segala aktifitas kelompok yang dilakukan oleh kader diluar
lingkup organisasi dan tidak memiliki hubungan dengan organisasi
formal manapun.
3. Aktifitas Perorangan
Aktifiatas perorangan merupakan aktifitas yang dilakukan oleh kader
secara perorangan.
 Intern Organisasi.
Yaitu segala aktifitas yang dilakukam oleh kader secara perorangan
untuk menyahuti tugas dan kegiatan organisasi HMI.
 Ekstern Organisasi.
Yaitu segala aktititas yang dilakukan oleh kader secara perorangan
diluar tuntutan tugas dan kegiatan organisasi HMI.
3. Pengabdian Kader.
Dalam rangka meningkatkan upaya mewujudkan masyarakat cita HMI yaitu
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, maka diperlukan
peningkatan kualitas dan kuantitas pengabdian kader. Pengabdian Kader ini
merupakan penjabaran dari peranan HMI sebagai organisasi perjuangan.
Dan oleh karena itu seluruh bentuk-bentuk pembangunan yang dilakukan
merupakan jalur pengabdian kader HMI, maka jalur pengabdiannya adalah
sebagai berikut :
 Jalur akademis (pendidikan,penelitian dan pengembangan).
 Jalur dunia profesi (Dokter, konsultan, pangacara, manager, jurnalis dan
lain-lain).
 Jalur Birokrasi dan pemerintahan.
 Jalur dunia usaha (koperasi, BUMN dan swasta)
 Jalur sosial politik
 Jalur TNI/Kepolisan
 Jalur Sosial Kemasyarakatan
 Jalur LSM/LPSM
 Jalur Kepemudaan
 Jalur Olah raga dan Seni Budaya
 Jalur-jalur lain yang masih terbuka yang dapat dimasuki oleh kader-kader
HMI
4. Arah Perkaderan
Arah dalam pengertian umum adalah petunjuk yang membimbing jalan dalam
bentuk bergerak menuju kesuatu tujuan. Arah juga dapat diartikan. sebagai
pedoman yang dapat dijadikan patokan dalam melakukan usaha yang
sisternatis untuk mencapai tujuan.
Jadi, arah perkaderan adalah suatu pedoman yang dijadikan petunjuk untuk
penuntun yang menggambarkan arah yang harus dituju dalam keseluruhan
proses perkaderan HMI. Arah perkaderan sangat kaitannya dengan tujuan
perkaderan, dan tujuan HMI sebagai tujuan umum yang hendak dicapai HMI
merupakan garis arah dan titik senteral seluruh kegiatan dan usaha-usaha HMI.
Oleh karena itu, tujuan HMI merupakan titik sentral dan garis arah setiap
kegiatan perkaderan, maka ia merupakan ukuran atau norma dari semua
kegiatan HMI.
Bagi anggota HMI merupakan titik pertemuan persamaan kepentingan yang
paling pokok dari seluruh anggota, sehingga tujuan organisasi adalah juga
merupakan tujuan setiap anggota organisasi. Oleh karenanya paranan anggota
dalam pencapaian tujuan organisasi adalah sangat besar dan menentukan.
1. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan perkaderan adalah usaha yang dilakukan dalam rangka
mencapai tujuan organisasi melalui suatu proses sadar dan sisternatis
sebagai alat transformasi nilai ke-lslaman dalam proses rekayasa peradaban
melalui pembentukan kader
sehingga berdaya guna dan
perkaderan HMI.
berkualitas muslim-intelektual-profesional
berhasil guna sesuai dengan pedoman
2. Target
Terciptanya kader muslim-intelektual-profesional yang berakhlakul karimah
serta mampu mengemban amanah Allah sebagai khalifah fil ardh dalam
upaya mencapai tujuan organisasi.
III.Wujud Profil Kader HMI di Masa Depan
Bertolak dari landasan-landasan, pola dasar dan arah perkaderan HMI, maka
aktifitas perkaderan HMI diarahkan dalam rangka membentuk kader HMI
muslim-intelektual- profesional yang dalam aktualisasi peranannya berusaha
mentrtansformsikan nilai-nilai ke-Islaman yang memiliki kekuatan pernbebasan
(liberation force)
Aspek-aspek yang ditekankan dalam usaha pelaksanaan kaderisasi tersebut
ditujukan pada:
1. Pembentukan integritas watak dan kepribadian
Yakni kepribadian yang terbentuk sebagai pribadi muslim yang menyadari
tanggungjawab kekhalitahannya dimuka bumi, sehingga citra akhlakul
karimah senantiasa tercermin dalam pola pikir, sikap dan perbuatannya.
2. Pengembangan kualtias intelektual
Yakni segala usaha pembinaan yang mengarah pada penguasaan dan
pengembangan ilmu (sain) pengatahuan (knowledge) yang senantiasa
dilandasi oleh nilai-nilai Islam.
3. Pengembangan kemampuan Profesional
Yakni segala usaha pembinaan yang mengarah kepada peningkatan
kemampuan mentransformasikan ilmu pengetahuan ke dalam perbuatan
nyata sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya secara konsepsional,
sistematis dan praksis untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal sebagai
perwujudan amal shaleh.
Usaha mewujudkan ketiga aspek harus terintegrasi secara utuh sehingga kader
HMI benar-benar lahir menjadi pribadi dab kader Muslim- Intelktual-Profesiona,
yang mampu menjawab tuntutan perwujudan masyarakat adil dan makmur
yang diridhoi Allah SWT.
BAB II
POLA DASAR TRAINING
I.
ARAH TRAINING
Arah Training adalah suatu pedoman yang dijadikan petunjuk atau penuntun
yang menggambarkan arah yang harus dituju dalam keseluruhan proses
pertrainingan HMI. Arah pertrainingan sangat erat kaitannya dengan tujuan
perkaderan, dan tujuan HMI sebagai tujuan umum yang hendak dicapai HMI
merupakan garis arah dan titik sentral seluruh kegiatan dan usaha-usaha HMI.
Oleh karena itu, tujuan HMI merupakan titik sentral dan garis arah setiap
kegaitan perkaderan, maka ia merupakan ukuran atau norma dari semua
kegiatan HMI.
Bagi anggota, tujuan HMI merupakan titik pertemuan persamaan kepentingan
yang paling pokok dari seluruh anggota, sehingga tujuan organisasi adalah juga
merupakan tujuan setiap anggota organisasi. Oleh karenanya peranan anggota
dalam pencapaian tujuan organisasi adalah sangat besar dan menentukan.
1. Jenis-jenis Training
a. Training Formal
Training formal adalah training berjenjang yang diikuti oleh anggota, dan
setiap jenjang merupakan prasyarat untuk mengikuti jenjang selanjutnya.
Training formal HMI terdiri dari: Latihan Kader I (Basic Training), Latihan
Kader II (Intermediate Training), Latihan Kader Ill (Advence Training).
b. Training In-Formal
Training In-Formal adalah trainig (yang dilakukan dalam rangka
meningkatkan pemahaman dan profesionalisme kepemimpinan serta
keorganisasian anggota. Training ini terdiri dari PUSIDIKLAT Pimpinan HMI,
Senior Course, (Pelatihan Instruktur), Latihan Khusus KOHATI, Up-Grading
Kepengurusan, Up-Grading Kesekretariatan, Pelatihan Kekaryaan, dan lain
sebagainya.
2. Tujuan Training Menurut Jenjang dan Jenis
Tujuan training perjenjangan dimaksudkan sebagai rumusan sikap,
pengetahuan atau kemampuan yang dimiliki anggota HMI setelah mengikuti
jenjang Latihan Kader tertentu, yakni Latihan Kader I, II dan III. Sedangkan
tujuan training menurut jenis adalah rumusan sikap, pengetahuan dan
kemampuan anggota HMI, baik kemampuan intlektualitas maupun
kemampuan keterampilan setelah mengikuti training atau pelatihan tertentu
yakni berupa training formal dan informal.
a. Tujuan Training Formal
1. Latihan Kader I (Basic Training)
“Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan
fungsi dan peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya
sebagai kader umat dan kader bangsa".
2. Latihan Kader II (Intermediate Training)
"Terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual dan
mampu mengelola organisasi serta berjuang untuk meneruskan dan
mengemban misi HMI".
3. Latihan Kader III (Advance Training)
"Terbinanya kader pemimpin yang mampu menterjemahkan dan
mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam
gerak perubahan sosial".
b. Tujuan Training In-formal
"Terbinanya kader yang memiliki skill dan profesionalisme dalam bidang
manajerial,
keinstrukturan,
keorganisasian,
kepemimpinan
dan
kewirausahaan dan profesionalisme lainnya".
3. Target Training Perjenjangan
a. Latihan Kader I
a. Memiliki
kesadaran menjalankan ajaran islam dalam kehidupan
sehari-hari
b. Mampu meningkatkan kemampuan akademis
c. Memiliki kesadaran akan tanggungjawab keurnatan dan kebangsaan
d. Memiliki Kesadaran berorganisasi
b. Latihan Kader II
 Memiliki kesadaran intelektual yang kritis, dinamis, progresif, inovatif
dalam memperjuangkan misi HMI
 Memiliki kemampuan manajerial dalam berorganisasi
c. Latihan Kader III
e. Memiliki kemampuan kepemimpinan yang amanah, fathanah, sidiq dan
tabligh serta mampu menterjemahkan dan mentransformasikan
pernikiran konsepsional dalam diamika perubahan sosial
f. Memiliki
kemampuan
untuk
mengorganisir
masyarakat
dan
mentransformasikan nilai-nilai perubahan untuk mencapai masyarakat
adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.
II.
MANAJEMEN TRAINING
1. Metode Penerapan Kurikulum
Kurikulum yang terdapat dalam pedoman merupakan penggambaran tentang
metode dari training. Oleh sebab itu penerapan dari kurikulum adalah erat
hubungannya dengan masalah yang menyangkut metode-metode yang
dipergunakan dalam training. Demikian pula materi training memiliki
keterpaduan dan kesatuan dengan metode yang ada dalam jenjang-jenjang
training. Dalam hal ini, untuk penerapan kurikulum training ini perlu
diperhatikan beberapa aspek.
a. Penyusunan jadwal materi training. Jadwal training adalah sesuatu yang
merupakan gambaran tentang isi dan bentuk-bentuk training. Oleh sebab
itu perumusan jadwal training hendaknya menyangkut masalah-masalah:
 Urutan materi hendaknya dalam penyusunan suatu training perlu
diperhatikan urut-urutan tiap-tiap materi yang harus memiliki korelasi
dan tidak berdiri sendiri (Asas Integratif). Dengan demikian materimateri yang disajikan dalam training selalu mengenal prioritas dan
berjalan secara sistematis dan terarah, karena dengan cara seperti itu
akan menolong peserta dapat memahami materi dalam training secara
menyeluruh dan terpadu.
 Materi dalam jadwal training harus selalu disesuaikan dengan jenis dan
jenjang Training.
b. Cara atau bentuk penyampaian materi Training. Cara penyampaian
materi-materi training adalah gabungan antara ceramah dan diskusi/dialog
semakin tinggi tingkatan suatu training atau semakin tinggi tingkat
kematangan peserta training, maka semakin banyak forum-forum
komunikasi idea (dialog/diskusi). Suatu Materi harus disampaikan secara
diskutif, artinya instruktur bersama Master of Training berusaha untuk
memberikan kesempatan-kesempatan.
c. Adanya penyegaran kembali dalam pengembangan gagasan-gagasan
kreatif di kalangan anggota trainer; Forum training sebagai penyegar
gagasan trainer, sedapat mungkin dalam forum tersebut tenaga instruktur
dan Master of Training merupakan pioner dalam gagasan kreatif. Meskipun
gagasan-gagasan dan problem-problem yang di sajikan dalam forum
belum sepenuhnya ada penyelesaian secara sempurna. Untuk menghindari
pemberian materi secara indokrinatif dan absolustik maka penyuguhan
materi hendaknya ditargetkan pada pemberian alat-alat ilmu pengetahuan
secara elementer. Dengan demikian pengembangan kreasi dan gagasan
lebih banyak di berikan pada trainers.
d. Usaha menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama unsur individu
dalam forum training; Untuk menumbuhkan kegairahan dan suasana
dinamis dalam training, maka forum semacam itu hendaknya merupakan
bentuk dinamika group. Karena itu forum training harus mampu
memberikan
"chalange"
dan
menumbuhkan
"respon"
yang
sebesar-besarnya. Hal ini dapat dilaksanakan oleh instruktur, asisten
instruktur dan Master of Training.
e. Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setara) antara sesama unsur
individu dalam forum training, menciptakan kondisi equal antara segenap
unsur dalam training berarti mensejajarkan dan menyetarakan semua
unsur yang ada dalam training. Problem yang akan dihadapi adanya
kenyataan-kenyataan "kemerdekaan individu" dengan mengalami corak
yang lebih demokratis. Dengan demikian pula perbedaan secara psikologis
unsur-unsur yang ada akan lebih menipis disebabkan hubungan satu
dengan lainnya diwarnai dengan hubungan kekeluargaan antara senior
dan yunior.
f. Adanya keseimbangan dan keharmonisan antar methode training yang
dipergunakan dalam tingkat-tingkat training; keseimbangan dan
keharmonisan dalam metode training yakni adanya keselarasan tujuan HMI
dan target yang akan dicapai dalam suatu training. Meskipun antar
jenjang/forum training memiliki perbedaan perbedaan karena tingkat
kematangan peserta sendiri.
2. Kurikulum Maperca
2.1. Materi Maperca
JENJANG MAPERCA
MATERI: MOTIVASI DAN
ORIENTASI
ALOKASI WAKTU:
1 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami motivasi dan orientasi yang positif dalam memilih HMI
sebagai tempat berproses dalam berorganisasi.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Mengetahui motivasi dan orientasi peserta masuk HMI
2. Tertanamnya motivasi dan orientasi peserta masuk HMI yang positif
3. Mengetahui minat dan bakat peserta
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Menggali latar belakang peserta
 Latar belakang pribadi
 Latar belakang pendidikan
 Latar belakang lingkungan
2. Menggali proses pengenalan peserta terhadap HMI
3. Menggali motivasi dan orientasi peserta masuk HMI yang sesungguhnya
4. Mengarahkan motivasi dan orientasi peserta masuk HMI yang positif
Metode:
Dialog dan Brainstorming
Referensi:
1. R. Covey, Stephen, 7 kebiasan manusia yang sangat efektif, Bina Aksara Rupa,
Jakarta,
2.
B.S. Wibowo, dkk, 2002, SHOOT Sharpening Our concept and Tools, TRUSTCO,
Asy Syaamil Bandung
3. Milado, Carmelo dan Jo han Tan, 2001, Panduan Fasilitator Untuk Pelatihan
Community Organiser, PUSSBIK Lampung, Bandar Lampung
JENJANG MAPERCA
MATERI: PENGANTAR
KEORGANISASIAN
ALOKASI WAKTU:
2 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami dasar-dasar keorganisasian dan makna berorganisasi
dalam kehidupan di dunia.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan dasar-dasar organisasi
2. Peserta dapat menjelaskan hubungan organisasi dan kerjasama sebagai hakikat
kehidupan
3. Peserta dapat mengklasifikasikan bagaimana keuntungan bentuk organisasi HMI
dibanding bentuk lain
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Pengertian organisasi
2. Unsur-unsur organisasi
3. Prinsip-prinsip organisasi
4. Bentuk-bentuk organisasi:
 Organisasi tradisional dan moderen
 Organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra kampus
 Organisasi laba dan nirlaba
 Organisasi kader dan massa
Dll
Metode:
Ceramah, Tanya jawab dan simulasi
Evaluasi:
Resume/ test Objektif
Referensi:
1.
Kartini kartono, 2004, Kepemimpinan, Rajawali Press, Jakarta
2.
Al Banna, Hasan 1999, Risalah Pergerakan, Intermedia, Solo
3.
B.S. Wibowo, dkk, 2002, SHOOT Sharpening Our concept and Tools, TRUSTCO,
Asy Syaamil Bandung
4. dan lai-lain
JENJANG MAPERCA
MATERI: PENGANTAR KEISLAMAN
ALOKASI WAKTU:
3 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum :
1. Peserta dapat memahami dasar-dasar Islam dan kondisi faktual umum umat
Islam
2. Tumbuhnya dorongan menjalankan ajran-ajaran Islam secara kaffah
Tujuan Pembelajaran Khusus :
1. Peserta dapat menjelaskan konsep-konsep dasar agama Islam
2. Peserta dapat menjelaskan hubungan manusia dengan agama
3. Peserta dapat menjelaskan kondisi faktual umat Islam
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1.
2.
3.
4.
Makna al-Islam sebagai konsep ajaran Tuhan yang universal dan spesifik
Hubungan manusia dengan agama
Sejarah masuknya Islam ke Indonesia
Tinjauan umum kondisi umat Islam: Kesenjangan Intelektual dan Kultural antara
Indonesia dengan dunia Islam lain
Metode:
Brainstorming, ceramah, diskusi panel dan tanya jawab
Evaluasi:
Resume
Referensi:
1. Madjid, Nurcholish, 2003, Indonesia Kita, Universitas Paramadina, Jakarta
2. Madjid,Nurcholish, 1997, Tradisi Islam : Peran dan Fungsinya dalam
pembangunan Indonesia, Paramadina, Jakarta
3. Murata, Sachiko dan Chittik C. William, 1997, Trilogi Islam: Islam, Iman, Ihsan,
PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
4. Syariati, Ali, 2001, Paradigma Kaum Tertindas,Sebuah Kajian Sosiologi Islam, AlHuda, Jakarta
5. Madjid, Nurcholish, 1997, Islam Doktrin Peradaban, Yayasan Paramadina, Jakarta
6. M.Thahan,Mustafa, 2002, Risalah Pergerakan Pemuda Islam : Panduan Amal
bagi Aktivis Dakwah Kampus dan Sekolah, VISI, Jakarta
7. Leaman,Oliver, 2002, Pengantar Filsafat Islam, Sebuah Pendekatan Tematis,
Mizan, Bandung
8. Yasien, Muhammad, 2000, Insan Yang Suci Konsep Fitrah Dalam Islam, Mizan,
Bandung
9. Sirah Nabawiyah, Intermedia,Jakarta
10. Alquran, terbitan Depag
JENJANG MAPERCA
MATERI: PENGANTAR
KEINDONESIAAN
ALOKASI WAKTU:
2 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Tumbuh rasa kepeduliaan (kritisme) terhadap kondisi bangsa
Tujuan Pembelaaran Khusus:
Peserta dapat menjelaskan secara kritis kondisi umum bangsa Indonesia
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Pengertian dan sekilas sejarah bangsa Indonesia (Sejarah gerakan pelajar dan
mahasiswa)
2. Tinjauan kritis kondisi umum bangsa Indonesia
3. Tinjauan kritis terhadap kasus-kasus menonjol/spesifik yang dihadapi bangsa
(Catatan: Kasus dapat diambil dari bidang yang sesuai dengan disiplin keilmuan
komisariat penyelenggara)
Metode:
Ceramah, Brainstorming,
Evaluasi:
Resume/tes subyektif
Referensi:
1. Madjid, Nurcholish, 2003, Indonesia Kita, Universitas Paramadina, Jakarta
2. Fakih, Mansour, 2001, Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi, Insist
Press, Yogyakarta
3. Dan lain-lain
JENJANG MAPERCA
MATERI: PENGANTAR KE-HMI-AN
ALOKASI WAKTU:
2 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat menguasai dasar-dasar ke-HMI-an
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1.
2.
3.
4.
Peserta
Peserta
Peserta
Peserta
dapat
dapat
dapat
dapat
menjelaskan sejarah singkat HMI
menjelaskan aturan dasar organisasi dan struktur organisasi
menjelaskan atribut organisasi HMI
menyanyikan mars dan hymne HMI
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Sejarah singkat HMI
1.1 Latar belakang berdirinya HMI
1.2 Fase-fase sejarah HMI
1.3 Sekilas peran HMI dalam sejarah perubanhan bangsa
2. Pengantar aturan dasar organisasi HMI
a. AD/ART (sampaikan pasal-pasal pokok saja 1-10)
b. Struktur organisasi
c. Struktur kekuasaan
d. Penjelsan rangkap jabatan/anggota
3. Atribut organisasi HMI (Lambang, bendera, muts, gordon dll)
4. Lagu mars dan hymne
Metode:
Ceramah, dialog dan latihan
Evaluasi:
Test objektif
Referensi:
1. Sitompul, Agussalim, 1997, Citra HMI, Aditya Media, Yogyakarta
2. Sitompul,Agussalim, 1995, Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam Tahun 1947 –
1993, Intermasa, Jakarta
3. Tanja,Victor, 1991, Himpunan Mahasiswa Islam; Sejarah dan Kedudukannya di
Tengah - Tengah Gerakan - Gerakan Muslim Pembaharu Di Indonesia
4. Al Mandari, Syafinudin, 2003, Demi Cita-cita HMI,Catatan Ringkas Perlawanan
Kader dan Alumni HMI terhadap Rezim Orde Baru, Karya Multi Sarana, Jakarta
5. Hasil-hasil kongres. HMI
JENJANG MAPERCA
MATERI: PENGANTAR
PENGENALAN LEMBAGA-LEMBAGA
KHUSUS DAN PROFESI HMI
ALOKASI
WAKTU:
1 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat mengetahui profil lembaga-lembaga khusus dan profesi HMI
Tujuan Pembelajaran Khusus:
Peserta dapat mengenal profil lembaga-lembaga khusus dan profesi HMI
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Sejarah singkat Lembaga
1.1 Latar belakang berdirinya lembaga-lembga khusus dan profesi hmi
1.2 Sekilas fungsi dan peran lembaga khusus dan profesi HMI
Metode:
Ceramah, dialog dan latihan
Evaluasi:
Test objektif
Referensi:
Hasil-hasil kongres. HMI
3. Kurikulum Training/Latihan Kader
3.1. Materi Latihan Kader I (Basic Training)
JENJANG
LATIHAN KADER I
MATERI:
SEJARAH PERJUANGAN HMI
ALOKASI WAKTU:
8 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami sejarah dan dinamika perjuangan HMI
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan latar belakang berdirinya HMI.
2. Peserta dapat menjelaskan gagasan dan visi pendiri HMI.
3. Peserta dapat mengklafisikasikan fase-fase perjuangan HMI.
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Pengantar Ilmu Sejarah.
1.1. Pengertian Ilmu Sejarah.
1.2. Manfaat dan Kegunaan Mempelajari Sejarah.
2. Misi Kelahiran Islam.
2. 1. Masyarakat Arab Pra Sejarah.
2.2.Periode Kenabian Muhammad.
2.2.1. Fase Makkah.
2.2.2. Fase Madinah.
3. Latar Belakang Berdirinya HMI.
3.1.Kondisi Islam di Dunia.
3.2 . Kondisi Islam di Indonesia.
3.3.Kondisi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa Islam.
3.4.Saat Berdirinya HMI.
4. Gagasab dan Visi Pendiri HMI.
4.1.Sosok Lafran Pane.
4.2.Gagasan Pembaruan Pemikiran ke-Islaman.
4.3.Gagasan dan Visi Perjuangan Sosial-budaya.
4.4. Komitmen ke-Islaman dan Kebangsaan sebagai Dasar Perjuangan
HMI.
5. Dinamika Sejarah Perjuangan HMI Dalam Sejarah Perjuangan Bangsa.
5.1. HMI Dalam Fase Perjuangan Fisik
5.2. HMI Dalam Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Bangsa
5.3.HMI Dalam Fase Transisi Orde Lama dan Orde Baru
5.4. HMI Dalam Fase Pembangunan dan Modernisasi Bangsa
5.5.HMI Daiam Fase Pasca Orde Baru
Metode :
Ceramah, tanya jawab, diskusi
Evaluasi:
Memberikan test objektif/subjektif dan penugasan dalam bentuk resume.
Referensi :
1. Drs. Agus Salim Sitompul, Sejarah Perjuangan HMI(1974-1975), Bina Ilmu
2. DR. Victor 1. Tanja, HMI, Sejarah dan Kedudukannya Ditengah Gerakan Muslim
Pembaharu Indonesia, Sinar Harapan, 1982.
3. Prof. DR. Deliar Noer, Partai Islam Dipentas Nasional, Graffiti Pers, 1984
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Sulastomo, Hari-hari Yang Panjang, PT. Gunung Agung, 1988
Agus-Salim Sitompul, Historiografi HMI, Tintamas, 1995
Ramli Yusuf (ed), 50 tahun HMI mengabdi, LASPI, 1997.
Ridwan Saidi, Biografi A. Dahlan Ranuwiharjo, LSPI, 1994.
M. Rusli Karim, HMI MPO Dalam Pergulatan Politik di
Indonesia, Mizan, 1997
Muhammad Kamal Hasan, Modernisasi Indonesia, Respon Cendikiawan Muslim
Masa Orde Baru, LSI 1987.
10. Muhammad Hussein Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, LiteraAntarNusa
11. Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam, 1, 11, 111, Rajawali Pers
12. Thomas W. Arnold, Sejarah Dakwah Islam
13. Moksen ldris Sirfefa et. Al (ed), Mencipta dan Mengabdi, PB HMI, 1997
14. Hasil-hasil Kongres HMI
15. Sejarah Kohati
16. Sharsono, HMI Daiam Lingkaran Politik Ummat Islam, Cl IS, 1997.
17. Prof. DR. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam Indonesia (1902-1942), LP3ES,
1980.
JENJANG:
LATIHAN KADER I
MATERI:
KONSTITUSI HMI
ALOKASI WAKTU:
6 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami dan menerapkan ruang lingkup konstitusi
Tujuan Pembelajaran Khusus
1. Peserta dapat menjelaskan ruang lingkup konstitusi HMI dan hubungannya
dengan pedoman pokok organisasi lainnya secara gamblang.
2. Peserta dapat mempedomani konstitusi dan pedoman-pedoman pokok
organisasi dalam kehidupan berorganisasi.
3. Peserta dapat memecahkan masalah-masalah organisasi dalam pendekatan
konstitusi.
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan
1. Pengantar Ilmu Hukum
1.1.tidak ada perubahan
1.2.tidak ada perubahan
1.3.tidak ada perubahan
2. Ruang lingkup Konstitusi HMI
2.1. tidak ada perubahan
2.2. tidak ada perubahan
2.3 Makna HMI bersifat Independen
2.4. Anggaran Dasar dan Rumah Tangga HMI
2.4.1. tidak ada perubahan
2.4.2. tidak ada perubahan
2.4.3. tidak ada perubahan
3. Pengantar Pedoman-pedoman Dasar Organisasi
3.1. tidak ada perubahan
3.2. tidak ada perubahan
3.3. tidak ada perubahan
3.4. tidak ada perubahan
3.5. Pedoman Kebendaharaan dan Keuangan
4.Hubungan Konstitusi AD/ART dengan pedoman-peoman Organisasi lainnya.
Metode:
Ceramah, studi kasus, diskusi, tanya jawab, FGD
Evaluasi:
Melakasanakan tes objektif/subjektif, hafalan, artikel, dan penugasan
Referensi:
1. Hasil-hasil kongres.
2. Zainal Abidin Ahmad, Piagam Muhammad, Bulan Bintang, t.t.
3. Prof. DR. Mukhtar Kusuatmadja, SH, LMM dan DR. B. Sidharta, SH, Pengantar
Ilmu Hukum; Suatu pengenalan Pertama berlakunya Ilmu Hukum, Penerbit
Alumni, Bandung, 2000.
4. Prof. Chainur Arrasjid, SH. Dasar-dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2000
5. UUD 1945 (untuk perbandingan)
6. Literatur lain yang relevan.
JENJANG:
LATIHAN KADER I
MATERI:
MISION HMI
ALOKASI WAKTU:
6 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami missi HMI dan hubungannya dengan status, sifat, asas,
tujuan, fungsi dan peran organisasi HMI secara intergral.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan fungsi dan peranannya sebagai mahasiswa
2. Peserta dapat menjelaskan tafsir tujuan HMI
3. Peserta dapat menjelaskan hakikat fungsi dan peran HMI
4. Peserta dapat menjelaskan hubungan Status, Sifat, Asas, Tujuan, Fungsi dan
Peran HMI secara integral
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Makna HMI sebagai Organisasi Mahasiswa
1.1. Pengertian Mahasiswa
1.2. Mahasiswa sebagai inti Kekuatan Perubahan
1.3. Dinamika Gerakan Mahasiswa
2. Hakikat keberadaan HMI
2.1. Makna HMI sebagai organisasi yang berasaskan Islam
2.2. Makna Independensi HMI
3. Tujuan HMI
3.1. Arti inssan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam
3.2. Arti masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT
4. Fungsi dan peran HMI
4.1. Pengertian Fungsi HMI sebagai organisasi kader
4.2. Pengertian peran HMI sebagai organisasi perjuangan
4.3. Totalitas fungsi dan peran sebagai perwujudan dari tujuan HMI
5. Hubungan netra Status, sifat,asas tujuan, fungsi dan peran HMI secara Integral
Metode:
Ceramah, diskusi, tanya jawab, permainan peran, FGD
Evaluasi:
Test Partisipatif, tes objektif/subjektif, artikel, dan penugasan
Referensi:
1. Ade Komaruddin dan Muchhrijin Fauzi (ed) HMI Menjawab Tantangan Zaman, PT.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Gunung Kelabu, 1992
Asghar Ali Engginar, Islam dan Theologi Pembebasan, Pustaka Pelajar 1999
Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual: Satuan Wawasan Islam, Mizan 1992
M. Rusli Karim, HMI MPO Dalam Pergulatan Politik Indonesia, Mizan, 1997
Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, Pustaka Firdaus
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga HMI
Ramli H.HM Yusuf (ed), Lima Puluh Tahun HMI mengabdi Republik, LASPI, 1997
8. Dr. Fiktor Imanuel Tanja, HMI sejarah dan Kedudukannya di tengah kedudukan
Muslim Pembaharu Indonesia, Sinar Harapan, 1982
9. Referensi Lain Yang Relevan.
JENJANG:
LATIHAN KADER I
MATERI:
NILAI DASAR PERJUANGAN NDP
(HMI)
ALOKASI WAKTU:
14 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami latar belakang perumusan dan kedudukan NDP serta
subtansi materi secara garis besar dalam organisasi.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan sejarah perumusan NDP dan kedudukannya da;am
2.
3.
4.
5.
6.
7.
organisasi
Peserta dapat
Peserta dapat
Peserta dapat
Peserta dapat
Peserta dapat
Peserta dapat
menjelaskan
menjelaskan
menjelaskan
menjelaskan
menjelaskan
menjelaskan
hakikat sebuah kehidupan
hakikat kebenaran
hakikat penciptaan alam semesta
hakikat penciptaan manusia
hakikat masyarakat
hubungan antara iman, ilmu dan amal
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Sejarah perumusan NDP dan kedudukan NDP dalam organisasi HMI
1.1. Pengertian NDP
1.2. Sejarah Perumusan dan lahirnya NDP
1.3. NDP sebagai kerangka Global Pemahaman Islam dalam konteks organisasi
HMI
Hubungan antara NDP dan Mision HMI
Methode pemahaman NDP
2. Garis besar Materi NDP
2.1. Hakikat Kehidupan
2.1.1. Analisa Kebutuhan Manusia
2.1.2. Mencari kebenaran sebagai kebutuhan dasar manusia
2.1.3. Islam sebagai sumber kebenaran
2.2. Hakikat Kebenaran
2.2.1. Konsep Tauhid La Ila Ha Illallah
2.2.2. Eksistensi dan sifat-sifat Allah
2.2.3. Rukun iman sebagai upaya mencari kebenaran
2.3. Hakikat Penciptaan Alam Semesta
2.3.1. Eksistensi Alam
2.3.2. Fungsi dan Tujuan Penciptaan Alam
2.4. Hakikat-hakikat penciptaan Manusia
2.4.1. Eksistensi Manusia dan Kedudukannya diantara mahkluk lainnya
2.4.2. Kesetaraan dan kedudukan manusia sebagai khalifah dimuka bumi
2.4.3. Manusia sebagai hamba Allah
2.4.4. Fitra, kebebasan dan tanggungjawab manusia
2.5. Hakikat Masyarakat
2.5.1. Perlunya menegakan keadilan dalam masyarakat
2.5.2. Hubungan Keadilan dan Kemerdekaan
2.5.3. Hubungan Keadilan dan kemakmuran
2.5.4. Kepemimpinan untuk menegakkan keadilan
2.6. Hakikat Ilmu
1.4.
1.5.
2.6.1. Ilmu sebagai jalan mencari kebenaran
2.6.2. Jenis-jenis Ilmu
3. Hubungan antara Iman, Ilmu dan Amal
Metode:
Ceramah, diskusi, tanya jawab
Evaluasi:
Test objektif/subjektif, penugasan dan membuat kuisoner
JENJANG:
LATIHAN KADER I
MATERI :
KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN
ORGANISASI (KMO)
ALOKASI
WAKTU:
6 jam
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami pengertian, dasar-dasar, sifat dan fungsi kepemimpinan,
manajemen dan organisasi.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta mampu menjelaskan pengertian, dasar-dasar sifat serta fungsi
kepemimpinan
2. Peserta mampu menjelaskan pentingnya fungsi kepemimpinan dan manajemen
dalam organisasi
3. Peserta dapat menjelaskan dan mengapresiasikan kharakteristik kepemimpinan
dalam Islam.
4. peserta dapat mengetahui potensi kepemimpinan yang ada pada dirinya
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Pengertian, dasar-dasar, fungsi dan tujuan kepemimpinan dalam islam dan
kemodernan
2. Pengertian, dasar-dasar, fungsi, dan tujuan manajemen dan organisasi
3.
Kharakteristik kepemimpinan
3.1. Sifat-sifat Rasul sebagai etos kepemimpinan
3.2. Tipe-tipe kepeimimpinan
3.3. Syarat-syarat menjadi pemimpin
3.4. Kreteria-kreteria pemimipin ideal
4. Organisasi sebagi alat perjuangan
4.1. struktur organisasi dan model kepemimpinan
4.2. Manajemen kearsipan dalam organisasi
5. Hubungan antara kepemimpinan, manajemen, dan organisasi
Metode:
Ceramah, diskusi, tanya jawab, studi kasus, simulasi, dan permainan peran
Evaluasi:
Test partisipatif, test objektif/subjektif, artikel, resume,
Referensi:
1.
2.
3.
4.
Peter M Senge. The Fifth Dicipline. 2000
Amin Wijaya T, Manajemen Strategik, PT. Gramedia, 1996
Charles J. Keating, Kepemimpinan dalam manajemen, Rajawali Pers, 1995
Dr. Ir. S.B. Lubis & Dr. Martani Hoesaini, Teori Organisasi: Suatu pendekatan
makro, Pusat studi antar Universitas Ilmu-ilmu sosial Universitas Indonesia, 1987
5. James. L. Gibson dan Manajemen, Erlangga, 1986
6. J. salusu, Pengembangan Kaqputusan Strategik, Gramedia, 1986
7. Mifta Thoha, Kepemimpinan dan manajemen, Rajawali Pers, 1995
8. Nilai Dasar Perjuangan HMI
9. Richard M. Streers, Efektifitas Organisasi, (sari manajemen), Erlangga, 1985
10. Winardi, Kepemimpinan Manajemen, Rineka Cipta, 1990
11. Dan referensi lain yang relevan
3.2.Materi Latihan Kader II (Intermediate Training)
JENJANG:
LATIHAN KADER II
MATERI:
TEORI-TEORI TENTANG
PERUBAHAN SOSIAL
ALOKASI
WAKTU:
8 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami dan menjelaskan persefekltif Islam tentang perubahan
sosial.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan teori-teori perubahan sosial
2. Peserta dapat menjelaskan dan merumuskan konsepsi Islam tentang perubahan
sosial.
3. Peserta dapat mengetahui peran dan fungsinya dalam perubahan sosial.
4. Peserta dapat memahami dan menerapkan konsep analisis sosial
Pokok Bahasan/Sub Bahasan:
1. Tidak ada perubahan
2. Tidak ada perubahan
2.1. Paradigma Teologi Transformasi
2.2. Paradigma Ilmu Sosial Profetik
2.3. Paradigma “Islam Kiri”
3.
2.4.
Paradigma Islam Liberal
Konsep Analisis Sosial
3.1. Tahap-tahap Analisis sosial
3.2. Analisis sosial sebagai deteksi arah perubahan
3.3. Frame work perubahan sosial
Metode:
Ceramah, diskusi, studi kasus
Evaluasi:
Test Objektif/Subjektif, penugasan dengan menganalisa kasus sosial
Referensi:
1. Al-Qur’an dan terjemahannya, Departemen Agama
2. Anthony Giddens, Jalan Ketiga: Pembaharuan Demokrasi Sosial, PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2000
Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Pusataka Pelajar, 1999
Islam dan Pembebasan, LKIS, 1993
A. Syafi’i Ma’arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985
David. C. korten, Menuju Abad ke-21 : Tindakan sukarela dan Agendan Global,
yayasan obor Indonesia dan Pustaka Sinar Harapan, 1993
7. Doyle Paul Johnson, Teori sosiologi-II, PT Gramedia, 1986
8. Hasan Hanafi, Ideologi, Agama dan Pembangunan, P3M, 1992
9. , Kiri Islam, LKIS, 1995
10. Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial : Reformasi atau Revolusi, Rosda Karya,
1999
11. , Islam Alternatif, Mizan, 1987
3.
4.
5.
6.
12. Maksum (ed), Mencari Ideologi Alternatif: Polemik Agama Pascaideologi
Menjelang Abad 21, Mizan, 1994
13. Max Wber, Etika Prostestan dan semangat kapitalisme, Pustaka Promethea, 2000
14. Muhadi sugiono, Kritik Antonio Gramci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga,
Pustaka Pelajar, 1999
15. Moeslim Abdurrahim, Islam Alternatif, Pustaka Firdaus, 1997
16. Roger Simon, Gagasan politik gramci, Pustaka Pelajar 1999
17. Suwarno & Alvin Y. So, Perubahan Sosial dan Pembangunan, (Edisi Revisi), LP3ES,
2000
18. Robert H. Lauer, Perspektif tentang Perubahan Sosial, Bina Aksara, 1989
19. Tom Cambell, Tujuh Teori Sosial : Sketsa, Penilaian, Perbandingan, Kanisius, 1994
20. Reverensi lain yang relevan.
JENJANG:
LATIHAN KADER II
MATERI:
PENDALAMAN MISSION HMI
ALOKASI
WAKTU:
8 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta mampu memahami, menganalisa dan menformulasikan prospek dan
tantangan Missi HMI secara utuh dalam dinamika perubahan Sosial.
Tujuan Pernbelajaran Khusus:
1. Peserta dapat menjelaskan dan merumuskan permasalahan HMI secara Internal
dalam menjalankan missi HMI
2. Peserta dapat mengidentifikasi dan merumuskan prospek dan tantangan HMI di
masa akan datang.
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Posisi dan Keluasan peran HMI
1.1.Posisi dan Peran HMI dalam dtMia Kemahasiswaan
1.2.Posisi dan Peran HMI dalam dunia Kepemudaan
1.3.Posisi dan Peran HMI dalam dimensi sejarah kehidupan bangsa dan negara
2. Permaslahan-permasalahan HMI
2.1.Permasalahan HMI dalam menjalankan fungsinya
2.2.Permasalahan HMI dalam menjalankan perannya
2.3.Permasalahan HMI dalam mengembangkan missinya
3. Prospek dan tantangan HMI di masa datang
3.1. Prospek dan tantangan HMI dalam dunia Kemahasiswaan
3.2.Prospek dan tantangan HMI Dalam dunia Kepemudaan
3.3.Prospek dan tantangan HMI dalam perubahan sosial
3.4.Prospek dan tantangan HMI dalam pengembangan Organisasi
4. Prospek dan Tantangan HMI dalam dunia Global.
Metode :
Diskusi, tanya jawab, dan simulasi kelompok.
Evaluasi:
Test objektif/Subjektif dan penugasan dalam bentuk makalah kelompok.
Referensi:
1. AD/ART HMI serta Pedornan Organsasi
2. Nilai Dasar Perjuangan HMI
3. Agus Salim Sitompul<Pemikiran HMI dan Relevansinya Dalam Pernbangunan
Nasional, Bina Ilmu, 1986
4. Ali Syari'ati, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam, Mizan, 1992
5. Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Pustaka Pelajar, 1999
6. BJ. Balon, Pergumulan Islam di Indonesia 1945-1972, Grafika Pers, 1985
7. Crisbianto Wibisono, Pemuda dalam Dinamika Sejarah Bangsa, Sekretariat
Menpora Ri, 1986
8. Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, Grafiti Pers, 1984
9. Fachri Ali dan Bakhtiar Effendi, Merambah Jalan Baru Islam, Mizan 1986
10. Francois Railon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia, LP3ES 1985
11. Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi? Rosdakarya,
1999
12. M. Dawam Raharjo, Intelektual, Integensia dan prilaku politik Bangsa, Mizan
1992
13. Muhammad Kamal Hasan, Modernisasi Indonesia, Lingkaran Studi Indonesia,
1987
14. Moeslim Abdurrahman, Islam Transformartif, Pustaka Firdaus, 1997
15. Ridwan Saidi, Mahasiswa dan Lingkaran Politik, Mappusy, Ul 1989
16. Rusli Karim, HMI MPO Dalam Pergulatan Politik Islam Indonesia, Mizan, 1997
17. Victor Immanuel Tanja, HMI, dan Kedudukannyaa di Tengah Gerakan Muslim
Pembaharu Indonesia, Sinar Harapan, 1987
18. Literatur lain yang relevan.
JENJANG:
MATERI:
ALOKASI
LATIHAN KADER PENDALAMAN NILAI DASAR
WAKTU:
II
PERJUANGAN (NDP-HMI)
12 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami dan mengaplikasikan Nilai Dasar Perjuangan HMI
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat merumuskan esensi ajaran tentang kemsyarakat
2. Peserta dapat menjelaskan esensi ajaran Islam tentang tugas Khalifahan
3. Peserta dapat merumuskan esensi ajaran Islam tentang keadilan Sosial dan
Ekonomi
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Esensi ajaran Islam tentang Khalifah Fil-Ardh
1.1.Hakekat Fungsi dan Peran manusia di dunia
1.2. Hak dan tanggungjawab manuisa di dunia
2. Esensi ajaran Islam tentang Kemasyarakatan
2. 1. Islam sebagai ajaran rahmatan Lil 'alamin
2.2.Dasar-dasar Islam tentang Kemasyarakatan
3. Esensi ajaran Islam tentang Keadilan Sosial dan keadilan Ekonomi
3.1. Hakekat keadilan dalam Islam
3.2.Konsep Keadilan Sosial dalam Islam
3.3. Konsep Keadilan Ekonomi
Metode :
Ceramah, Dialog, Studi Kasus dan Diskusi Kelompok
Evaluasi:
Pemandu memberikan test Objektif/ Subjektif dan Resume Studi Kasus
Referensi :
1. Al-Qur'an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI
2. Ali Syari'ati, Ideologi Kaum Intelektual, Suatu Wawasan Islam, Mizan, 1992
3. Tugas Cendikiawan Muslim, Srigunting, 1995
4. Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Pustaka Pelajar, 1999
5. Islam dan Pembebasan, LKIS, 1993
6. A. Syafii Ma'arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985
7. Hasan Hanafi, Ideologi, Agama dan Pembangunan, P3M, 1992
8. Kiri Islam, LKIS, 1995
9. Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, Mizan, 1987
10. Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI (pokok)
11. Literatur lain yang relevan.
JENJANG :
LATIHAN KADER II
MATERI :
IDEOPOLITOR,
TAKTIK
STRATEGI
DAN
ALOKASI
WAKTU:
10 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memiliki wawasan dan mempu menganalisa tentang perkembangan
ideologi dunia, dan penerapan strategi taktik
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta mampu memahami dan menganalisis perkembangan Ideologi dunia dan
pengrauhnya terhap perubahan sosial
2. Peserta dapat menerapkan keterkaitan ideologi dan strategi taktik dalam
menjalankan missi organisasi
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Perbandingan Mahzab Ideologi dunia
1.1. Marxixrne
1.2. Liberalisme
1.3. Sosialisme
1.4. Kapitalisme
1.5. Nasionalisme
1.6. Komunisme
2. Ideologi dan Perubahan Sosial
2.1. Ideologi dan Sistem Ekonomi
2.2. Ideologi dan Sitem Politik
2.3. Ideologi dan Sistem Sosial
2.4. Ideologi dan Sistern Budaya
3. Etika Religius dan Perubahan sosial
4. Peran stratak sebagai alat perjuangan organisasi
Metode :
Ceramah, diskusi, dialog dan simulasi
Evaluasi:
Test Subjektif, Test Objektif, case Study dan Resume
Referensi :
1. Nilai Dasar Perjuangan HMI
2. Alija Ali Izetbegovic, Membangun Jalan Tengah, Mizan 1992
3. Karl Menheim, Ideologi dan Utopin, Kanisius, 1993
4. Zbigniev Brzezinki, Kegagalan Besar: Muncul dan Runtuhnya Komunisme dalam
abadke-21, Remajz Rosdakarya, 1990
5. Murthada Mutthahari, Perspektif al-Qur'an tentang masyarakat dan Sejarah,
Mizan, 1986
6. M. Amin Rais, Islam antara kita dan Fakta, Mizan 1986
7. Jorge Larrain, Konsep Ideologi, LKPSM, 1996
8. Stanislav Andreski, Max Weber: Kapitalisme Birokrasi dan Agama, Tiara Wacana,
1989
9. Hanafi Hasan, Agama, Ideologi dan Pembangunan, P3M, 1991
10. Roger Garaudy, Mencari Agama Abad 21, Bulan Bintang, 1986
11. "Agama dan tantangan jaman" (Kumpulan Prisma), LP3ES, 1984
12. Ali Syari'ati, Kritik Islam atas Marxixme dan Sesat fikir Barat lainnya, Mizan 1985
13. Ideologi Kaum Intelektual, Mizan, 1992
14. Frans Magnis Suseno, Karl Marx, Gramedia, 1998
15. Tan Malaka, Madilog, Teplok Press, 1999
16. Fachri Ali, Islam, Ideologi dunia dan Dominasi struktur, Mizan, 1985
17. Nurkholis Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Paramadina, 1995
18. Anthony Gidden, The Third Way dalan Ketiga Pembaruan Demokrasi), PT.
Gramedia, Pustaka Utama, Jakarta, 2000
19. Maksum (ed). Mencari Ideologi Alternatif : Polemik Agama Pascaideologi
Menjelang Abad-21, Mizan, 1994
20. Literatur lain yang relevan.
JENJANG :
MATERI :
ALOKASI WAKTU:
LATIHAN KADER KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN
8 JAM
II
ORGANISASI (KMO)
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami dan memiliki
Kepemimpin dan Manajemen Organisasi
Kedalaman
pengatahuan
tentang
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta meiliki kedalaman Pengatahauan dalam kepemimpinan, manajemen dan
organisasi
2. Pserta dapat merumuskan serta merencanakan langkah-langkah pelaksanaan
Manajemen Organisasi.
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Pendalaman Kepemimpinan
1.2. Posisi, Fungsi dan Peran Pemimpin dalam Manajemen
1.2. 1. Pengembangan Kepemimpinan dalam Problem Solving
1.2.2. Aspek Komunikasi Sosial (human relation)
2. Pendalaman Manajemen
2.1. Aspek Perencanaan
2.1.1. Teknik Perumusan Masalah
2.1.2. Analisis SWOT
2.2.Pelaksanaan dan Pengendalian
2.2.1. Teknik-teknik Pengendalian
2.2.2. Analisis Lingkungan Organsasi
3. Manajemen Strategik
3.1. Aplikasi Strategi dan Taktik dalam Kepemimpinan
3.2. Aplikasi Strategi dan Taktik dalam Organisasi
Metode :
Ceramah, Diskusi, Studi Kasus
Evaluasi:
Test Objektif, Subjektif, Analisis Kasus
Referensi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Alvin Toffler, Pergeseran Kekuasaan, PT Pantja Simpati, 1992
Kejutan dan Gelombang, PT Pantja Simpati, 1987
Kejutan dan Masa Depan, PT Pantja Simpati, 1987
Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia, Gramedia, 1996
Amin Wijaya T. Manajemen Strategik, PT Ramedia, 1996
Cristianto Wibisono, Pemuda dan Dinarnika Sejarah Perjuangan Bangsa,
Menpora, 1986
Charles J. Keating, Kepernimpinan dalam manajemen, Rajawali Pers, 1995
8. DR.Ir. S.B. Hari Lubis & DR. Martani Hoesaini, Teori Organisasi: Suatu
Pendekatan; Makro), Pusat Studi Antar Universitas 11mu-ilmu Sosial Universitas
Indonesia, 1987
9. Jarnes L. Gibson, Organisasi dan manajemen, Erlangga, 1986
10. J. Salusu, Pengembangan Keputusan Strategik, Gramedia, 1986
11. Miftah Thoha, Kepernimpinan dan Manajemen, Rajawali Pers, 1995
12. Nilai Dasar Perjuangan HMI
13. Richard M. Streers, Efektifitas Organisasi, (seri manajemen), Erlangga, 1985
14. Winardi, Kepernimpinan manajemen, Rineka Cipta, 1990
15. Dan referensi lain yang relevan.
3.3.Materi Latihan Kader-III (Advance Training)
Dalam penentuan materi Latihan Kader-III selain materi lanjutan, seperti
Pendalaman NDP, Pendalaman Missi HMI, Kepernimpinan dan Manajemen
Organisasi serta wawasan Internasional, materi pokok lainnya yang sangat
penting disajikan adalah materi yang mampu memunculkan teori-teori dan
metodologi pernecaahan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, hukum dan
budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Kekayaan teori dan
metodologi, menjadi titik perhatian utama. Sehingga melalui LK III peserta
dapat menemukan, memahami dan memecahkan problem-problem sosial, baik
ekonomi, politik, hukum dan budaya. Karenanya penyusunan materi LK-III
sangat terkait pada persoalan sosial, kebangsaan dan keumatan kekinian.
MisaInya, Teori dan Metodelogi membangun Masyarakat yang demokratis,
sangat dibutuhkan. Begitu juga dengan problem budaya ekonomi dan sosial
lainnya.
Oleh karena itu, Dalam penentuan materi, kemampuan dan peran Panitia
Pengarah Menjadi sangat penting Dalam menemukan masalah yang menjadi
pokok materi serta tujuan dan target capaian materi.
JENJANG :
MATERI :
LATIHAN KADER PENDALAMAN
NILAI
III
PERJUANGAN (NDP-HMI)
ALOKASI WKTU:
DASAR 12 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta memiliki kedalaman wawasan serta aplikasi Nilai Dasar dalam konteks
berbangsa, bernegara dan perubahan sosial.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat memahami serta mengaplikasikan Nilai Dasar Perjuangan dalam
onteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Peserta mampu merumuskan gagasan alternatif tentang problematika hubungan
ajaran Islam dengan perubahan Sosial.
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Pandangan Islam tentang kehidupan berbangsa dan bernegara
1.1. Makna Piagam Jakarta
1.2. Perkembangan Pernikiran Islam tentang konsep kenegaraan
1.3. Perkembangan pernikiran Islam tentang konsep Ummah
2. Islam dan perubahan Sosial
2.1Perkembangan pernikiran tentang fungsi agama
2.2Perkembangan pemikiran tentang hubungan agama dan perubahan sosial
2.3Perkembangan pemikiran tentang konsep Islam dan masalah sosial, politik
ekonomi dan budaya
Metode :
Ceramah, Diskusi dan Tutorial
Evaluasi:
Test, Subjektif, Test Objektif, Case Study dan resume
Referensi :
1. Nilai Dasar Perjuangan HMI
2. Tafsir Al-Qur'an Departemen Agama RI
3. Dr. Marchel A. boisard, Humanisme Dalam Islam, Bulan Bintang 1982
4. Dr. Fazlur Rahman, Membuka Membuka Pintu ljtihad, Pustaka Slamn, 1984
5. Islam Modernis: Tentang Transformasi Intelektual, Pustaka, 1985
6. Islam, Binarupa Aksara, 1987
7. Tema-tema Pokok Al-Qur'an, Pustaka 1985
8. Dr. Nurkholis Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Mizan, 1987
9. Islam, Doktrin dan peradaban, Peramadina, 1995
10. Islam Agama Peradaban, Paramadina, 1995
11. Islam Agama Kemanusiaan, Peramadina 1997
12. Masyarakat Relegius, Paramadina, 1995
13. Masdar F. Mas’udi, Agama Keadilan : Risalah Zakat (pajak) dalam Islam, P3M,
1993
14. Alvin Toffler, Gelombang, PT. Panjta Simpati, 1989
15. Kejutan Masa Depan PT. Panjta Simpati, 1989
16. Pergeseran Kekuasaan, PT. Panjta Simpati, 1992
17. Ziuddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Mizan, 1986
18. Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Moderenitas: Studi Atas Pemikiran
Hukum Fazlur Rahman, Mizan, 1989
19. Alija Ali Izetbegozic, membangun jalan tengah, Mizan, 1992
20. Abdulaziz A. Sachedina, Kepemimpinan dalam Islam Perspektif Syiah, Mizan,
1991
21. Budhy Munawar Rahman, (ed) kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah,
Paramadina, 1995
22. Donald Eugene Smith, Agama dan Modernsasi Politik, Rajawali Pers, 1985
23. Hasan Hanafi, Agama, Odieologi dan Pembangunan, P3M, 1991
24. M. Dawam Raharjo, Ensiklopedia Al-Qur’an, Paramadina, 1996
25. Dr. Syafi’i Ma’arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1995
26. Dr. Nabil Subdhi Ath-Thawil, Kemiskinan dan Keterbelakangan di Negara-negara
muslim, Mizan, 1982
27. Dr. Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam Indonesia, Mizan, 1995
28. Yustiono (dkk-ed), Ruh Islam dalam Budaya Bangsa, yayasan Festifal Istiqlal,
1993
29. Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, Mizan, 1987
30. Aswab Mahasin, (dkk-ed), Ruh Islam dalam Budaya Bangsa, Yayasan Festifal
Istiqlal, 1996
31. Literatur lain yang relevan
JENJANG :
MATERI :
LATIHAN KADER III
PENDALAMAN MISSION HMI
ALOKASI WAKTU
:
12 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami tentang permasalahan intern dan ekstern organisasi
serta mampu mengembangkan organisasi
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta
memiliki
kemampuan
analisis
permasalahan intern dan ekstern organisasi
2. peserta
mampu mengembangkan
pengembangan organisasi HMI
dan
pemikiran
mengidentifikasi
alternatif
tentang
tentang
problem
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Perkembangan Lingkungan Internasional dan dampaknya bagi HMI
2. Perkembangan Lingkungan Nasional dan dampaknya bagi HMI
Perkembangan Perguruan Tinggi dan dampaknya bagi HMI
Perkembangan Generasi Muda dan dampaknya bagi HMI
Perkembangan Khusus Umat Islam dan dampaknya bagi HMI
Perkembangan kebudayaan bangsa dan dampaknya bagi HMI
Perkembangan kehidupan politik nasional dan dampaknya bagi HMI
Beberapa alternatif pengembangan HMI dimasa depan
3. Permasalahan Intern organisasi HMI
Permasalahan Perkaderan
Permasalahan Kemampuan Organisasi
Permasalahan Kepemimpinan
Permasalahan Partisipasi dan Pembangunan
Metode :
Ceramah, Diskusi, dan Tutorial
Evaluasi :
Test Subjektif, Test Objektif, Case Study dan Resume
Referensi :
1. Dr. Victor Immanuel Tanja, HMI, sejarah dan kedudukan di tengah Gerakan
Muslim Pembagaru, Sinar Harapan, 1982
2. Dr.
Agus Salim Sitompul, Pemikiran
Pembangunan Nasional, Bina Ilmu, 1986
HMI,
dan
Relevansinya
dengan
3. Dr. Moh. Kamal Hassan, Modernisasi Indonesia, bina Ilmu, 1987
4. BJ. Bolland, Pergumulan Islam di Indonesia, 1945-1972, Graffiti Pers, 1985
5. Cristianto Wibisono, Pemuda dan Dinamika Sejarah Perjuangan Bangsa,
Menpora, 1987]
6. AD/ART HMI dan pedoman-pedoman lain
7. Drs. Ridwan Saidi, Pembangunan Politik, dan Politik Pembangunan, Pustaka,
Panjimas, 1983
8. --------, Mahasiswa dan lingkaran Politik, MAPPusy, 1988
9. Awad Bahasoan, Arah Baru Islam: Suara Angkatan Muda, Prisma, No Ekstra,
1984
10. Dr. Kuntowijoyo, Dinamika Sejarah Umat Islam, Salahuddin Pers, 1985
11. --------, Paradigma Islam, Mizan, 1991
12. --------, Identitas Politik Umat Islam Indonesia, Mizan, 1995
13. Djohan Effendi dan Ismail Natsir, Pergolakan Pemikiran Islam, (Catatan Harian
Ahmad Wahib, LP3ES, 1982
14. M. AS. Hikam, Demokrasoi dan Civil Society, LP3ES, 1997
15. M. Dawam Raharjo, Intelektual, Intelegensi dan Perilaku Politik Bangsa, Mizan.
1993
16. Ramli HM, Yusuf (ed). 50 Tahun HMI mengabdi Republik, LASPI, 1997
17. Juwono Sudarsono, Politik Ekonomi dan Strategi, Gramedia, 1995
18. Didin S. Damanhuri, Ekonomi Politik, Agenda abad ke-21, Sinar Harapan, 1996
19. Mansour Fakih, Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar,
1996
20. Alvin Toffler, Pergeseran Kekuasaan, Panjta Simpati, 1992
21. Jhon Naisbit, Global Paradoks, Bina Rupa Aksara, 1994
22. Literatur lainnya yang relevan
JENJANG :
MATERI:
LATIHAN KADER
III
KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN
ORGANISASI (KMO)
ALOKASI WAKTU
:
10 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami aspek teori dan praktek pengambilan keputusan
organisasi dan mengembangkan model-model kepemimpinan.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta
teori pengambilan keputusan dan mampu
organisasi profesional maupun organisasi
2. Peserta
model-model
dapat menguasai
menerapkan, baik dalam
kemasyarakatan
mampu mengembangakan dan memproyeksikan
kepemimpinan nasional dalam praktek kenegaraan
Pokok Bahasan/Sub pokok Bahasan:
1. Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan
 Pengambilan Keputusan dalam kepemimpinan dan manajemen organisasi
 Teori-teori pengambilan keputusan
 Praktek
nyata dalam
kemasyarakatan
organisasi
perofesional
dan
organisasi
sosial
 Beberapa hambatan kultural dan struktural
2. Pengembangan model kepemimpinan bangsa dimasa depan
 Masalah ipoleksusbud dan pengaruhnya terhdap karakteristik kepemimpinan
bangsa
 Pola rekruitmen kepemimpinan bangsa dan masalahnya
 Tipologi Kepemimpinan bangsa dan masalanya
 Beberapa alternatif Kepemimpinan Nasional
 Kualitas-kualitas yang diperlukan dalam kepemimpinan Nasional
Metode :
Ceramah, Diskusi, Simulasi dan Studi Kasus
Evaluasi :
Test Subjektif, Test Objektif, Case Study dan Resume
Referensi :
1. Prajudi Atmosudirdjo, Pengambilan Keputusan, Ghalia Indonesia, 1987
2. Sondan P. Siagian, Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan, Gunung
Agung, 1988
3. Andrew A. Danajaya, Sistem Nilai Manajer Indonesia, PPM, 1986
4. Marbun (ed), manajemen dan Kewirausahaan Jepang, PPM, 1986
5. Robert Van Niel, Munculnya elit Modern Indonesia, Pustaka Jaya, 1983
6. Prisma, “Peralihan Generasi: Siapa Mengganti Siapa? No. 2, 1980
7. Buchari Zainun, Manajemen dan Motivasi, Balai Aksara, 1981
8. KJ. Radford, Analisis Keputusan Manajemen, Erlangga, 1984
9. Max Weber, The Theory Of Social and Economic Organization, Oxford University
Pres, 1947
10.
Herbet A. Simon, Perilaku Administrasi, Suatu Studi Tentang Proses
Pengambilan Keputusan dalam Organisasi Administrasi, Bina Aksara, 1982
11.
----------, The New Science of Management Decision, Prenticc Hall, 1977
12.
Igor H. Insoff, From Strategis Planning to Strategis Management, Jhon Wiley &
Sons, 1976
13.
14.
---------, Strategic Management, Jhon Wiley Sons, 1981
Charles J Keating, Kepemimpinan : Teori dan Pengembangannya, kanisius,
1997
15.
Literatur lain yang relevan
JENJANG :
LATIHAN KADER III
MATERI :
WAWASAN INTERNASIONAL
ALOKASI
WAKTU :
10 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami dan Menganalisa permasalahan Internasional.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta memiliki kemampuan analisis tentang perkembangan dunia
Internasional.
2. Peserta memiliki kemampuan analisis dan mengindentfikasi tentang
perkembangan dunia Internasional dan pengarushnuya terhadap pernbangunan
Indonesia.
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Dasar-dasar kebijaksanaan politik luar negeri Indonesia.
1.1. Sejarah diplomasi moderen Indonesia
1.2. Politik luar negeri bebas aktif dan lingkungan strategis Konsentrik
1.2.1. lndonesia dan ASEAN,
1.2.2. Indonesia dan GNB.
1.2.3. Indonesia dan Dunia Islam (OKI).
1.2.4. Indonesia dan PBB.
2. Dinamika hubungan ekonomi antar bangsa.
2.1. Kecendrungan integrasi ekonomi intemasional
2.1.1. Liberalisasi perdagangandan investasi.
2.1.2. Organisasi perdagangan dunia.
2.2. Regionalisasi kerjasama ekonomi
2.2.1. European economic community (MEE).
2.2.2. NAFTA (Nort American Free Trade Area).
2.2.3. AFTA ( Asean Free Trade Area).
2.2.4. APEC (Asean Pasific Economi corporation).
2.2.5. Sub-region Economic Growth
2.2.5.1. SIJORI (Singapura, Johor, Riau).
2.2.5.2. IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Tringle).
2.2.5.3. BINP-EAGA (Brunei Darusalam, Malaysia, Indonesia East Asean
Growth Area).
2.2.5.4. AIDA (Australia-Indonesia Deplopment Area).
Politik Keamanan Internasional dan dampaknya bagi HANKAM Indonesia.
3.1. ASEAN Region Forum.
3.2. Amerika Serikat sebagai kekuatan hegemonic pasca perang dingin.
3.2.1. AS dan dewan Keamanan PBB.
3.2.2. AS dan NATO.
3.2.3. AS dan percaturan Keamanan di Asia Pasific.
4. Perubahan tata kehidupan global dan dampaknya bagi perkerribangan bangsa.
3.
4.1. Dampaknya terhadap perkembangan Sosial-ekonomi.
4.2. Dampaknya terhadap perkembangan sosial-Politik.
4.3. Dampaknya terhadap perkembangan sosial-budaya.
5. Isu-Isu Strategis hubungan antar bangsa pasca perang dingin.
5.1. Masalah hutang luar negeri dan penanaman modal asing dalam
pembangunan ekonomi negara-negara berkembang (Selatan).
5.2. Masalah HAM, demokrasi dan lingkungan hidup dalam pernbangunan
ekonomi negara-negara berkembang.
5.3. Fenomena negara industri baru dalam dinamika hubungan negara maju dan
berkembang (Utara-selatan).
Referensi:
1. Juwono Sudarsono dkk, Perkembangan Studi Hubungan Internasional dan
Tantangan Masa Depan, Dunia Pustaka Jaya, 1996
2. Theodore A Colombis dan James H Wolfe, Pengantar Hubungan Internasional
:Keadilan dan Power, CV Abidin 1990
3. Ida Anak Agung, Twenty Year Indonesia Foreign Policy, Paris: Mouton, The Haque
1973
4. Paul R Viotti & Mark V Kauppi, International Relation Theory: Realism, Pluralism,
and Globalism, Toronto: Maxwell Macmillan Publisher, 1993
5. Rj. Barry Jons, Globalization and Interdepedence in The International Political
Economic: Retoric and Reality, London : St martin setuju Press Inc, 1995
6. Dorodjatun Koentjorojakti dan Keiji Omura (ed), Indonesia Economic in The
Changing World, Tokyo LPEM-FE Ul dan Institute Of Developing Economies, 1995
7. Heru Utomo Kuntjorojakti, Ekonomi Politik Internasional di Asia Fasifik, Airlangga,
1995
8. Bernard Hoekman dan Michael Costecki, The Political Economy Of The Word
Trading System – From GATT to WTO, New York, Oxford University Press, 1995
9. Rahman Zainuddin dkk, Pembangunan Demokratisasi dan Kebangkitan Islam di
Timur Tengah, Center For Middle East Society, 1995
10. M. Riza Sihbudi, Timur Tengah, Dunia Islam dan Hegemoni Amerika , Pustaka
Hidayat, 1993
11. Sammuael P. Hutington, Gelombang Demokrasi Ketiga, Graffiti, 1995
12. Sorten, Menuju Abad XXI , Yayasan Obor, 1993
13. Jhon Naisbitt, Global Paradoks, Bina Rupa Aksara, 1994
14. Sidney Jones, Asian Human Rights, Economic Growth and United states Policy,
Dalam "Current History" Vol - 1995 No. 605, Dec 1996
15. David Piarce, Ed.al, Sustainable Development : Economic and Environment in
the third Worl, London Earthscan Publication Ltd
16. M. Sabar, Politik Bebas Aktif, CV. Masagung, 1997
17. Peter H Leadeni dkk, Ekonomi Internasional, Erlangga, 1986
18. Richard J. Barnet dkk, Menjangkau Dunia, LP3ES, 1983
JENJANG
LATIHAN KADER III
MATERI:
PEMANTAPAN DAN ANALISIS ISUISU GERAKAN KEPEREMPUANAN
ALOKASI
WAKTU:
4 JAM
Tujuan Pembelajaran Umum:
Peserta dapat memahami, mejelaskan dan menerapkan pola analisis isu-isu
gerakan keperempuanan.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. Peserta dapat memahami dan menganalisis isu-isu gerakan keperempuanan
secara global dan konfrehensif
2. Peserta dapat memahami dan menganalisis konvensi internasional dan hukum.
3. Peserta dapat memahami dan menganalisis gender dan gender mainstreaming.
4. Peserta dapat
keperempuanan.
memahami
dan
menerapkan
pola
advokasi
gerakan
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan:
1. Pola pembinaan KOHATI
1.1.
Arah pembinaan KOHATI
1.2.
Pola Dasar pembinaan KOHATI
2. Pedoman Pembinaan KOHATI
2.1.
Arah pembinaan KOHATI
2.2.
Pola dasar pembinaan KOHATI
2.3.
Bentuk-bentuk pembinaan KOHATI
Referensi:
1. Pusat Kajian Wanita dan Gender UI. Hak Asasi Perempuan Instrumen hukum
2.
3.
4.
5.
6.
untuk Mewujudkan Keadilan Gender. (Jakarta; Yayasan Obor)
Women, policy and politics
Feminis Legal Theory
Feminist and the power of low
Rethinking Social Policy
The Political Interest of Gender
3. Metode Training
Dengan memahami tentang gambaran kurikulum dan aspek-aspek yang
perlu dipertimbangkan di atas, maka metode yang tepat yakni
penggabungan antara:
a. Sistem diskusi, yakni suatu metode pernahaman materi training secara
diskusif (pertukaran pikiran yang bebas) dan komunikatif.
b. Sistem ceramah (dialog), yakni suatu metode pemahaman materi melalui
tanya jawab.
c. Sistem penugasan, yaitu metode pemahaman materi dengan
mempergunakan keterampilan peserta dengan sasaran:
 Mempergunakan kemampuan-kemampuan tertentu,
 Penulisan-penulisan,
 Kerja lapangan,
 Bentuk-bentuk trial dan error (Dinamika kelompok)
 Studi kasus
 Simulasi dan lain sebagainya.
Dalam setiap jenjang dan bentuk training, ketiga sistem itu tergabung
menjadi satu. Penggunaanya disesuaikan dengan tingkat kernatangan
peserta, jenjang atau forum training yang ada. Dalam penerapan metode
training prosentasenya berbeda-berbeda secarakuantitatif, untuk itu
prosentase tiap-tiap training dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Semakin matang peserta training, jenjang dan bentuk training, maka
sistem diskusi lebih besar prosentasenya.
b. Makin kecil kernatangan peserta, jenjang dan bentuk training, maka diskusi
memiliki prosentase yang lebih kecil sebaliknya sistim ceramah dan teknik
diolog semakin lebih besar prosentasenya.
c. Sistim penugasan dipergunakan pada setiap training hanya saja bentuk
penugasan tersebut harus diselaraskan dengan tingkat kernatangan
pesertanya, jenjang dan bentuk training, dilaksanakan dengan cara
sebagai berikut:
 Training yang diikuti oleh peserta yang tingkat kematangan berpikirnya
relatif lebih tinggi dan jenjang training yang lebih tinggi maka
penugasan lebioh ditekankan secara diskriftif (pembuatan paper ilmiah,
paper-paper laporan dsb.)
 Trainging yang diikuti peserta yang tingkat kernatangan berpokirnya
relatif lebih rendah maka ketermpilan fisik (gerak, mimik, aktifitas
praktis), sistim ini merupakan pendekatan metode "trial and error".
Pemilihan dan penentuan metode training disesuaikan dengan jenjang dan
materi-materi training yang akan disajikan. Pendekatan yang digunakan
secara filosofis, psikologis, sosiologis, historis dan sebagainya. Gambaran
tentang metode yang digunakan dalam training sesuai menurut jenjangnya,
adalah sebagai berikut:
a. Latihan Kader I
 Penyampaian bersifat penyadaran, penanaman dan penjelasan.
 Teknik : ceramah, tanya jawab/dialog, penugasan (resume)
 Proses
belajar
mengajar
(PBM/pembelajaran):
penceramah
menyampaikan materi dan peserta bertanya tentang hal-hal tertentu.
b. Latihan Kader II
 Penyampaian bersifat analisis, pengembangan dan bersifat praksis.
 Teknik: ceramah, dialog penugasan (membuat makalahtanggapan atau
makalah analisissebuah kasus).
 Session khusus dalam bentuk tutorial.
c. Latihan Kader III
 Penyajian bersifat analisis problematik dan altematif.
 Teknik: ceramah, dialog, penugasan membuat makalah
(peserta membuat alternatif pemecahan secara konsepsional).
banding
 Konsep belajar mengajar (PBM/pembelajaran) : penceramah bersifat
mengakat masalah, kemudian peserta membahas.
 Session khusus dalam bentuk tutorial
 Session khusus dalam bentuk praktek lapangan
4. Evaluasi Training
1. Tujuan :
 Mengukur tingkat keberhasilan training
2. Sasaran :
 Kognitif
 Afektif
 Psikomotorik
3. Alat Evaluasi
 Test Objektif
 Test Subjektif (esai)
 Test Sikap
 Test Keterampilan
4. Prosedur Evaluasi :
 Pre-Test
 Mid-Test (evaluasi proses)
 Post-Test
5. Pembobotan
 LK I :
Kognitif
: 30 %
Afektif
: 50%
Psikomotorik : 20%
 LK II :
Kognitif
: 40%
Afektif
: 30%
Psikomotorik : 30%
 LK III :
Kognitif
: 40%
Afektif
: 20%
Psikomotorik : 40%
BAB III
PEDOMAN FOLLOW-UP
I.
Pendahuluan
HMI adalah suatu organisasi kemahasiswaan yang berfungsi sebagai organisasi
kader. Hal ini berarti bahwa semua aktifitas yang dilaksanakan oleh HMI adalah
dalam rangka kaderisasi utnuk mencapai tujuan HMI. Dengan demikian
perkaderan di HMI merupakan training atau pelatihan foramal saja, tetapi juga
melalui bentuk-bentuk dan peningkatan kualitas keterampilan berorganisasi
yang lazim disebut sebagai Follow-Up training. Follow Up training tersebut
diantaranya adalah Up-Grading dan aktifitas yang berfungsi sebagai
pengembangan sehinggga kualitas diri anggota akan meningkat secara
maksimal.
Follow-Up training merupakan kagiatan perkaderan HMI yang bersifat
pengembangan, tetapi juga tetap merujuk pada Anggaran Dasar HMI dalam hal
ini pasal 5 tentang usaha. Pedoman follow-up training ini dimaksudkan sebagai
acuan dalam meningkatkan kualitas diri anggota setelah mengikuti jenjang
training formal tertentu. Namun demikian pedoman ini jangan diartikan sebagai
aktifitas seorang kader. Tetapi hanya merupakan batas minimal yang harus
dilakukan seorang kader, tetapi hanya merupakan batas minimal yang harus
dilakukan seorang kader setelah mengkuti jenjang training formal tertentu.
1. Fungsi:
 Pendalaman
 Pengayaan
 Perbaikan (remedial)
 Peningkatan
 Aplikasitif
2. Pertimbangan:
 Ada unsur Subjektifitas (pengarah)
 Kontinuitas
3. Target
 LK I (Basic Training)
 Mengembangkan wawasan dan kesadaran ke-islaman
 Meningkatkan prestasi akademik
 Menumbuhkan semangat militansi kader
 Menumbuhkan semangat ber-HMI
 Meningkatkan kualitas berorganisasi
 LK II (Intermediate Training)
 Meningkatkan intelektualitas (keilmuan)
 Menumbuhkan semangat pembelaan (advokasi)
 Menumbuhkan semangat melakukan perubahan
 Meningkatkan kemampuan manajerial
 Meningkatkan kemampuan mentransformasikan gagasan dalam bentuk
lisan dan tulisan
 LK III (Advance Training)
 Melahirkan pemimpin-pemimpin HMI dan nasional
 Melahirkan kader yang mampu mengaplikasikan ilmu yang dimiliki
 Melahirkan kader yang memiliki wawasan general dan global
Bentuk Follow Up Training
1. Pasca LK I
a. Up Grading/Kursus-kursus, meliputi:
 Keprotokoleran
 Nilai Dasar Perjuangan
 Konstitusi
 Kepengurusan
 Kesekretariatan
 Kebendaharaan
 Kepanitiaan
 Muatan Lokal
b. Aktifitas:
 Kelompok Pengkajian AL Qur'an
 Kelompok belajar
 Kelompok diskusi
 Kekaryaan/keorganisasian
 Bakti sosial
2. Pasca LK II
a. Up Grading/Kursus-kursus, meliputi:
 Training Pengelola Latihan
 Training AMT
 Training Kekaryaan
 Training Manajemen
 Training Kewirausahaan
 Latihan Kepernimpinan
 Latihan Instruktur/Pemateri
 Latihan Metodologi Riset
 Latihan Advokasi dan HAM
 Pusdiklat Pimpinan
b. Aktifitas
 Kelompok Penelitian
 Kelompok diskusi
 Kekaryaan
 Pendampingan rakyat
 Pengabdian Masyarakat secara umum
 Pembentukan kelompok untuk melaksanakan desa binaan
3. Pasca LK III
a. Up Grading/Kursus-kursus meliputi:
 Up Grading Ideologi, Strategi – Taktik
 Up Grading Manajemen Organisasi
 Up Grading Kepernimpinan
 Training Kewirausahaan
 Training-training kekaryaan lainnya
b. Aktifitas:
 Pernbentukan jaringan kerja
 Perintisan jalur profesionalisme
 Pengabdian Masyarakat berdasarkan disiplin ilmu
II.
Pedoman Kurikulum Up-Grading
1. Pendahuluan
Up-grading di HMI merupakan bagian dari proses perkaderan, oleh karenanya
up-grading mempunyai peran penting untuk mencapai tujuan perkaderan
dan tujuan organisasi. Up-grading di lingkungan HMI sangat bervariasi,
misaInya up-grading Instruktur NDP, Training Pengelola Latihan (Senior
Course), Up-grading organisasi, manajemen dan kepemimpinan, Up-grading
Administrasi Kesekretariatan, dan lain sebagainya. Selain Up-grading yang
bersifat ke-HMI-an, terdapat juga Up-grading atau pelatihan yang
dilaksanakan oleh Korp HMI-Wati (KOHATI) dan Lembaga kekaryaan yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas profesionalisme kader HMI. Oleh
karena itu diperlukan pedoman yang dapat dijadikan sebagai guidance untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Pedoman Up-grading yang terdapat di
dalam pedoman ini adalah hanya untuk Up-grading tentang pengembangan
kemampuan dalam pengelolaan organisasi secara lebih baik (lebih
diutamakan untuk kepentingan internal). Untuk kepentingan pengembangan
kualitas
dan
profesionalisme
anggota/kader
harus
dilakukan
pelatihan-pelatihan khusus, baik yang dilaksanakan oleh Komisariat, Cabang,
Badko, PB HMI maupun lembaga-lembaga Keprofesian ataupun KOHATI,
menurut pembidangan masing-masing. Seperti Pelatihan Kewirausahaan,
peltihan Jurnalistik dan lain sebagainya.
2. Kurikulum Up-Grading
II.1.Up-Grading Instruktur Nilai Dasar Perjuangan
Materi
: Nilai dasar perjuangan HMI
Alokasi Waktu : 40 Jam
Tujuan
: Meningkatkan pemahaman secara mendalam dan
menyeluruh
tentang Nilai Dasar Perjuangan dan kemampuan
metodologis
dalam memahami dan menyampaikannya.
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan
1.
2.
3.
4.
Sejarah perumusan NDP
Hubungan NDP dengan Mission HMI
Hubungan Konseptual kepribadian Hmi dan NDP
Makna NDP dalam pembentukan pola pikir, pola sikap dan pola tindak
kader
5. Metodologi pernahaman NDP
5.1. Metode diskusi
5.2. Metode kajian kelompok intensif
5.3. Metode studi kasus
5.4. Metode diskusi terkendali
5.5. Metode seminar
5.6. Studi kritis NDP
6. Metodologi Penyampaian NDP
6. 1. Metode ceramah
6.2. Metode simulasi
6.3. Metode tanya jawab
6.4. Metode sosiodrama
Metode:
Ceramah, diskusi, tanya jawab, peragaan skema, kelompok kajian
Evaluasi:
Tes objektif/subjektif, observasi intensitas keterlibatan peserta dan
perubahan prilak
Referensi:
1. Nilai dasar Perjuangan
2. Tim Didaktif Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, PengantarDidaktif
Kurikulum PBM, Rajawali, 1989.
3. DR. Nurcholis Madjid, Tradisi Islam, Paramadina, 1997.
4. Islam Doktrin dan Peradaban, Paramadina, 1995
5. Islam Agama Peradaban, Paramadina, 1996
6. Islam Agama Kemanusiaan, Paramadina, 1996
7. Tosihiko Izutsu, Konsep-Konsep etika Religius Di Dalam Al-Quran, Tiara
Wacana, 1993.
8. Ismail Raji'AL-Faaruqi, Tauhid, Pustaka Bandung, 1988.
9. Ziuddin Sardar, 1-antarigaf i L- lunia islam Abad 21, Mizan, 1988
10. Osman Baakar, Tauhid dan Sains, Pustaka Hidayah, 1994.
11. M. Wahyuni Nafis (Ed), Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam,
Paramadina, 1996.
12. M. Syafi'i Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam di Indonesia, Paramadina,
1995.
13. M. dawam Rahardjo, EnsiklopediAI-Qur'an, Paramadina, 1996.
14. Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Mizan, 1991.
15. Sayyed Hosein Nasr, Sains dan Peradaban Dalam Islam, Pustaka
Bandung, 1996.
16. DR. Khalifah Adbulhakim, Hidup Yang Islami, Rajawali Pers, 1995.
17. Agussaalim Sitompul, Historiografi HMI, 1995.
18. Masdar F. Mas’ud, Agama Keadilan : Risalah Zakat (pajak) dalam
Islam, P3M, 1993
19. Literatur lain yang relevan
2.2. Training Pengelola Latihan
Materi
: Pengelolaan latihan.
Alokasi Waktu : 48 jam
Tujuan
: Memberikan pemahaman
pengelolaan
latihan.
dan
kemampuan
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan
1. Pengantar Filsafat pendidikan
1. 1. Pengertian pendidikan
1.2. Tugas dan fungsi pendidikan
1.3. Manusia dan proses pendidikan
1.4. Berbagai pandangan tentang proses pendidikan
1.5. Kemampuan belajar mengajar
1.6. Kurikulum dalam lembaga pendidikan
1.7. Metode dalam pendidikan
1.8. Sistem nilai dan moral Islam
1.9. Manusia dan fitrah perkembangan
2. Didaktik metodik
2.1. Pengertian didaktik metodik
2.2. Bentuk pengajaran, gaya mengajar, alat pelajaran.
2.3. Asas-asas didaktik
2.3.1. Asas perhatian
2.3.2. Asas aktivitas
2.3.3. Asas apersepsi
2.3.4. Asas peragaan
23.5.
Asas ulangan
2.3.6. Asas kerolasi
2.3.7. Asas konsentrasi
2.3.8. Asas individu
2.3.9. Asas sosialisasi
2.3.10. Asas evaluasi
2.4. Metodologi pengajaran
2.4.1. Metode interaksi mengajar dalam kelas
2.4.2. Metode tanya jawab
2.4.3. Metode diskusi
2.4.4. Metode demonstrasi dan eksprimen
2.4.5. Metode karya wisata
2.4.6. Metode kerja kelompok
2.4.7. Metode sosiodrama, dll..
2.5. Dasar-dasar kurikulum
2.6. Perencanaan pengajara
2.6.1. Pengertian pengaJaran
2.6.2. Tujuan perumusan pengajaran
2.6.3. Penyusunan program pengajaran
3. Metode Andragogi.
3. 1. Pengertian metode Andragogi
3.2. Bentuk-bentuk metode Andragogi
3.3. Perbedaan antara andragogi dan pedagogi
3.4. Metode runtut belajar atau teknis pengelolaan struktur
3.5. Prinsip-prinsip latihan peran serta
3.6. Prinsip-prinsip fasilitator
4. Praktek Perencanaan Latihan.
4.1. Perumusan dasar pemikiran latihan
4.2. Perumusan metodologi latihan
4.2.1. Tujuan dan target latihan
4.2.2. Faktor pendukung dan identifikasi peserta latihan
4.2.3. Penetapan sumber daya yang dibutuhkan
tehnis
4.2.4. Perumusan teknik-teknik pengelolaan latihan
4.2.5. Penetapan tim pengelola dan pembagian peran
4.3. Penyusunan schedule latihan
4.4. Penetapan alat ukur keberhasilan latihan
5. Aplikasi Pedoman Perkaderan HMI
5.1. Mukadimah Pedoman Perkaderan
5.2. Pola Umum Pedoman Perkaderan
5.2.1. Landasan perkaderan
5.2.2. Pola dasar perkaderan
5.2.2.1. Pengertian dasar
5.2.2.2. Rekrutmen kader
5.2.2.3. Pembentukan kader
5.2.2.4. Arah perkaderan
5.2.3. Wujud Profil Kader HMI di Masa Depan
5.3. Pola Dasar Training
5.3.1. Arah training
5.3.1.1. Jenis-jenis training
5.3.1.2. Tujuan training menurut jenjang dan jenis
5.3.1.3. Target training perjenjang
5.3.2. Manajemen training
5.3.2.1. Metode penerapan kurikulum
5.3.2.2. Kurikulum training LK I, LK II dan LK III
5.3.3. Metode training
5.3.4. Evaluasi training
5.4. Pedoman Follow-Up
5.4.1. Bentuk follow-up training
5.4.2. Kurikulum Up-grading
6. Sistem Evaluasi
6.1.
6.2.
6.3.
6.4.
6.5.
6.6.
Pengertian evaluasi
Tujuan evaluasi
Fungsi evaluasi
Metode evaluasi
Prosedur evaluasi
Alat evaluasi
Metode :
Ceramah, diskusi, tanyajawab, tutorial
Evaluasi:
Test objektif/subjektif, tugas sinclikasi
Referensi :
1. Hasil-hasil Kongres HMI
2. Nilai Dasar Perjuangan
3. Pedoman perkaderan HIVII
4. Tim Didaktif Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, PengantarDidaktif
Kurikulum PBM, Rajawali, 1989.
5. Imam Bernadib, Filsafat Pendidikan, IKIP Yogyakarta, 1982.
6. Dasar-dasar Pendidikan, Ghalia, 1996.
7. Imam Bernadib dan Drs. Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan,
Rineka Cipta, 1992.
8. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, 1991.
9. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, 1988.
10.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosda Karya, 1995.
11. Suharsini Arikuntak, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara,
1999.
12. Paulo Friere, Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan, Gramedia,
1986.
13. W.S. Winkel, Psikologis Pengajaran, Grasindo, 1996.
14. Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, Rajawali Pers, 1986.
15. John Mc Neil, PengantarKurikulum, Gramedia, 1989.
16. Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, PT.Toko Gunung Agung,
1996.
17.Referensi lain yang relevan.
2.3. Up-Grading Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi
Materi
: Manajemen, Organisasi dan Kepernimpinan
Alokasi Waktu : 40 jam
Tujuan
: Meningkatkan wawasan, pemahaman dan kemampuan
serta
ketrampilan teknis dalam mengelola organisasi
Pokok Bahasana/Sub Pokok Bahasan
1. Manajemen
1.1. Hakekat peran dan fungsi manajemen
Pengertian manajemen
Fungsi manajemen
Unsur-unsur manajemen
Macam-macam manajemen
1.2. Sistem dan metode perencanaan
Pengertian perencanaan
Teknik dan prosedur perencanaan
1.3. Sistem dan metode pengorganisasian
1.3.1. Pengertian pengorganisasian
1.3.2. Tujuan, fungsi dan unsur pengorganisasian
1.3.3. Teknik dan prosedur pengorganisasian
1.4. Sistem dan metode evaluasi
1.4.1. Pengertian evaluasi
1.4.2. Tujuan dan sifat evaluasi
1.4.3. Macam-macam evaluasi
1.4.4. Teknik dan prosedur evaluasi
1.5. Sistem dan metode penggerakan
1.5.1. Pengertian penggerakan
1.5.2. Tujuan dan fungsi penggerakan
1.5.3. Asas-asas penggerakan
1.5.4. Macam-macam penggerakan
1.5.5. Teknik dan prosedur penggerakan
1.5.6. Perilaku manusia
1.5.7. Teori-teod motivasi penggerakan
1.6. Analisis SWOT
1.6.1. Pengertian, fungsi dan tujuan SWOT
1.6.2. Penerapan analisis SWOT dalam organisasi
2. Organisasi
2.1. Hakekat dan fungsi organisasi
2.1.1. Pengertian dan fungsi organisasi
2.1.2. Ciri-ciri organisasi
2.1.3. Prinsip-prinsip organisasi
2.1.4. Asas-asas organisasi
2.1.5. Model-model organisasi
2.2. Sistem organisasi modern
2.2.1. Syarat-syarat organisasi modern
2.2.2. Strukturorganisasi modern
2.2.3. Prosedur dan mekanisme kerja organisasi modern
2.3. Peran komunikasi dan organisasi modern
2.3.1. Arti penting komunikasi
2.3.2. Unsur-unsur komunikasi
2.3.3. Proses komunikasi
2.3.4. Etika berkomunikasi
2.3.5. Komunikasi keorganisasian yang efektif dan efesien
3. Kepemimpinan
3.1. Hakekat, peran dan fungsi kepemimpinan
3.1.1. Pengertian kepemimpinan
3.1.2. Teori dan konsepsi kepemimpinan
3.1.3. Fungsi dan peran kepemimpinan
3.1.4. Syarat-syarat kepemimpinan
3.1.5. Model-model kepemimpinan
3.1.6. Gaya kepemimpinan
3.2. Metode dan teknik pengambilan keputusan
3.2.1. Defenisis keputusan
3.2.2. Model-model keputusan
3.2.3. Prosedur pengambilan keputusan
3.2.4. Rasionalisasi dan pengambilan keputusan
3.2.5. Analisis masalah dan pengambilan keputusan
3.3. Psikologi kepemimpinan
3.3.1. pengertian psikologi kepemimpinan
3.3.2. Interaksi dan komunikasi atasan-bawahan
3.3.3. Kepemimpinan sebagai komunikator yang efektif
3.3.4. Etika kepemimpinan
3.4. Peranan kepemimpinan dan konflik organisasi
3.4.1. Konflik Organisasi
3.4.1.1. Pengertian konflik
3.4.1.2. Proses terjadinya konflik
3.4.1.3. Ciri-ciri konflik
3.4.1.4. Sumber-sumber konflik
3.4.1.5. Macam-macam metode penyelesaian konflik
3.4.2. Peranan kepemimpinan dalam konflik
3.4.3. Strategi pemecahan konflik Dalam organisasi
4. Hakekat kepernimpinan Dalam Islam
4.1. Konsep Amanah
4.2. Konsep Fatanah
4.3. Konsep Siddiq
4.4. Konsep Tabliq
5. Hubungan antara manajemen, organisasi dan kepernimpinan
Metode :
Ceramah, diskusi, dialog, simulasi, studi kasus
Evaluasi:
Tes objektif/subjektif, penugasan
Referensi :
1. Al-Qur'an dan terjemahannya
2. Nilai Dasar Perjuangan
2.4.Up-Grading Administrasi Kesekretariatan
Materi
: Administrasi Kesekretariatan
Alokasi Waktu : 14 Jam
Tujuan
: Meningkatkan kemampuan dan pengelolaan
Administrasi
Kesekretariatan
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan
1. Peran dan Fungsi Administrasi dalam organisasi
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.1.Pengertian Administrasi
1.2. Fungsi Administrasi
1.3. Ruang Lingkup Administrasi
Organisasi Kesekretariatan HMI
Ketatausahaan dan Format Surat Surat Menyurat HMI
Administrasi dan Tata Kearsipan HMI
Administrasi dan Keanggotaan HMI
Inventarisasi, Dokumentasi dan Administrasi Kepustakaan
Administrasi dan Sistem Pengelolaan Keuangan HMI
Keprotokoleran dan Atribut Organisasi
Metode :
Ceramah, Peragaan, dialog
Evaluasi:
Test Objektif/Subjektif dan Penugasan
Referensi :
1. AD/ART HMI
2. Pedoman Administrasi Kesekretariatan HMI
3. Pedoman Administrasi Keuangan HMI
4. Pedoman Atribut Organisasi
5. Soewarno Handayaningrat, Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan
Manajemen, PT. Toko Gunung Agung,1996
6. Goffrey Mills et. All, Manajemen Perkantoran Modem, Bina Rupa
Aksara, 1991
7. Sondang P. Siagian, FilsafatAdministrasi, PT. Toko Gunung Agung, 1996
8. Referensi lain yang relevan.
2.5.Up-Grading Kepengurusan.
Materi
: Struktur Organisasi dan Kepernimpinan
Alokasi Waktu : 30 Jam
Tujuan
: Meningkatkan Kualitas Pernahaman dan Kemampuan
Teknis
Dalam Pengelolaan Organisasi
Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan
1. Pengantar Manajemen Organisasi
2. Tata Kerja dan Mekanisme Organisasi
2. 1. Struktur Kekuasaan
2.1.1. Kongres
2.1.2. Konferensi Cabang/Musyawarah Cabang
2.1.3. Rapat Anggota Komisariat
2.2. Struktur Pimpinan
2.2.1. Pengurus Besar
 Status
 Tugas dan Kewajiban
 Struktur Organisasi
 Komposisi Personalia
 Wewenang dan Tanggungjawab Bidang Kerja
 Mekanisme dan Instansi Pengambilan Keputusan
2.2.2. Pengurus Badan koordinasi
 Status
 Tugas dan Kewajiban
 Struktur Organisasi
 Komposisi Personalia
 Wewenang dan Tanggungjawab Bidang Kerja
 Mekanisme dan Instansi Pengambilan Keputusan
2.2.3. Pengurus Cabang
 Status
 Tugas dan Kewajiban
 Struktur Organisasi
 Komposisi Personalia
 Wewenang dan Tanggungjawab Bidang Kerja
 Mekanisme dan Instansi Pengambilan Keputusan
2.2.4. Pengurus Koordinator Komisariat
 Status
 Tugas dan Kewajiban
 Struktur Organisasi
 Komposisi Personalia
 Wewenang dan Tanggungjawab Bidang Kerja
 Mekanisme dan Instansi Pengambilan Keputusan
2.2.5. Pengurus Komisariat
 Status
 Tugas dan Kewajiban
 Struktur Organisasi
 Komposisi Personalia
 Wewenang dan Tanggungjawab Bidang Kerja
 Mekanisme dan Instansi Pengambilan Keputusan
3. Islam dan Etos Kerja
4. Strategi Perencanaan
4.1. Analisis SWOT
4.2. Public Relation
4.3. Net Work
5. Psikologi Organisasi
6. Teknik Pengambilan Keputusan
7. Manajemen Sumber Daya Manusia
8. Sistem Informasi Manajemen
Metode :
Ceramah, Diskusi, Dialog, Peragaan dan Studi Kasus
Evaluasi:
Test Objektif/Subjektif, Analisa Kasus
Referensi :
1. AD/ART HMI
2. Pedoman Kepengurusan HMI
3. James I. Gibson dkk, Organisasidan Manajemen, Erlangga, 1986
4. Richard M. Steers, Effektifitas Organisasi, Erlangga, 1986
5. Sondang P. Siagian, Analisis Perumusan Kebijaksanaan dan Strategi
Organisasi, Gramedia, 1996
6. Referensi lain yang relevan.
ORGANISASI DAN MEKANISME KERJA
PENGELOLAAN LATIHAN
Pendahuluan
Latihan sebagai model pendidikan kader HMI merupakan jantung organisasi, karena
itu upaya untuk memajukan, memepertahankan keberlangsungan dan
mengembangkannya merupakan kewajiban segenap pegurus HMI. Latihan tidak
akan berjalan mencapai target dan tujuan secara baik tanpa dukungan oleh usahausaha pengorganisasisan yang baik pula. Pengorganisasian berbagai unsur yang
terlibat dalam penyelenggaraan latihan tercermin dalam organisasi latihan.
Organisasi latihan yang jelas akan memperlancar dan menertibkan proses
penyelenggaraan latihan. Hal ini pada gilirannya akan membuka jalan kemudahan
dalam mencapai tujuan organisasi yakni lahirnya kader-kader yang memiliki 5 (lima)
kualitas insan cita.
Guna mencapai mekanisme penyelenggaraan latihan yang tertib dan dapat
dipertanggungjawabkan, tidak cukup hanya dengan menyusun organisasii latihan
saja. Karena itu perlu adanya aturan tentang prosedur dan administrasi latihan.
Administrasi latihan merupakan suatu rangkaian kegiatan dari berbagai unsur
dalam penyelenggaraan latihan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan
bersama. Dengan terumuskannya organisasi dan mekanisme kerja tersebut maka
akan memperkokoh kehadiran HMI sebagai organisasi kader.
Unsur-Unsur Organisiasi Latihan Fungsi dan Wewenang
Secara sederhana yang dimaksud dengan organisasi latihan ialah suatu sistem
kerjasama yang terdiri dari berbagai unsur dengan menggunakan sistem, metode
dan kurikulum yang ada untuk mencapai target dan tujuan latihan.
Unsur-unsur yang terlibat dalam latihan organisasi HMI adalah sebagai berikut:
 PB HMI
 BADKO HMI
 HMI Cabang
 KOHATI
 Komisariat
 BPL
Unsur-unsur dalam pelatihan yaitu:
 Peserta
 Pemateri
 Pemandu
 Organizing Commite
 Steering Committee
Bentuk-bentuk latihan diatas dalam organisasi ini adalah seluruh bentuk latihan
yang ada dalam pola perkaderan HMI yaitu:
 Pelatihan Kekaryaan
 Up Grading
 Latihan Kader
 Pusdiklat
Fungsi dan Wewenang
3. Pengurus Besar
 Penanggungjawab perkaderan secara nasional
 Pengelola kebijakan perkaderan HMI
 Melaksanakan program-program latihan
training pengelola latihan.
tingkat nasional,
pusdiklat dan
4. Badan Kordinasi (BADKO)
 Mengkordinir program-program latihan di wilayah masing-masing.
 Melaksanakan program-program Latihan Kader III, Training Pengelola Latihan,
Up Grading Instruktur NDP dan Up Grading Manajemeen Organisasi dan
Kepemimpinan.
 Bekerjasama dengan PB HMI demi terlaksananya program-program latihan
tingkat nasional.
5. HMI Cabang
 Sebagai basis terselenggaranya program-program latihan HMI.
 Bertanggungjawab atas terlaksananya progam Latihan Kader II, Up Grading
Instruktur NDP, Training Pengelola Latihan Up Grading Kepengurusan, Up
Grading Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan dan Up Grading
adminstrasi Kesekretariatan
Juknis Rekruitmen dan Pembinaan Kader HMI Pasca LK I
Karakteristik gerakan dan warna kaderisasi HMI merupakan warna yang
membedakan HMI dengan organisasi kemahasiswaan yang lain. Catatan terpenting
bagi HMI adalah pertanyaan pada Mampukah HMI menjalankan segala sistem
Kaderisasi yang hendak dijalankan secara baik? pertanyaan ini kemudian
memunculkan pertanyaan baru yaitu: kondisi seperti apa yang dapat mendukung
sistem kaderisasi tersebut ?
Secara kasar dapat dikatakan bahwa setiap Kader HMI memiliki perasaan saling
memiliki. yang memunculkan kesadaran berorganisasi yang tinggi. Dewasa ini
muncul pertanyaan untuk HMI, mengenai independensi pada setiap gerakan
eksternalnya. yang memungkinkan HMI sebagai subordinan dari suatu gerakan
yang lebih besar. Untuk hal ini perlulah kita meninjau kembali pada perspektif
kemunculan HMI (semisal, kita mencoba memahami seberapa besar tanggungjawab
kita pada setiap gerakan keislaman dan kebangsaan yang utuh dan besar) sehingga
secara institusi HMI dapat menjaga independensinya.
Sehingga pada posisi ini (extended function) HMI berfungsi sebagai institusi
kaderisasi bagi tatanan sosial yang belum tersentuh oleh gerakan lain. Pada
konteks strategi perjuangannya, HMI telah memfokuskan diri pada konsep obyek
(Mahasiswa) & kepemimpinan, sehingga pada tatanan outputnya HMI dapat
menginternalisasi secara baik pada setiap kadernya dalam aplikasi nilai-nilai
perjuangan untuk mencapai terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah SWT.
Dalam alam realitanya akan tercermin secara kuat di dalam ghirah pencapaian
Muslim, Intelektual, Profesional, yang secara nyata harus dapat memberikan
kontribusi bagi ummat dan bangsa. Jadi, keberhasilan kaderisasi adalah Apakah
Ideologi, prinsip-prinsip gerakan HMI dapat tertanam secara ruhiyah pada setiap
kader-kadernya ?
Namun jauh yang lebih penting, kesuksesan kaderisasi adalah pewarisan karakter
dan nilai-nilai perjuangan yang telah dibangun secara gradual sejak HMI dibentuk.
Untuk menjamin hal ini, HMI membutuhkan penjagaan terhadap karakter-karakter
perjuangan melalui berbagai program kaderisasinya.
Tugas HMI:
1. Melakukuan Rekruitment secara masif yang lebih luas dengan ciri khas Islam
moderat inklusif yang sangat kental.
2. Melahirkan kader pemimpin yang berkualitas handal yaitu Muslim Intelektual
Profesional dalam membawa mission HMI kesemua lini kehidupan.
3. Menjaga keberpihakan terhadap kepentingan Ummat Islam dan Bangsa
Indonesia.
4. Kualitas Intelektual Religius dan Leadership harus kuat.
PETUNJUK TEKNIS
PEMBINAAN KADER PASCA LK I
1.
Pengertian
Pembinaan Kader Pasca LK I adalah program pendampingan dan pembinaan
kader pasca LK I untuk mencapai tujuan pembinaan kader HMI yang
dilaksanakan secara rutin melalui pembahasan nilai-nilai ke Islaman,
pengetahuan umum dan akademik untuk meningkatkan kualitas ruhiyah &
Intelektual kader.
2. Bentuk
Berupa Stadium General dan kelompok diskusi (FGD).
3. Waktu dan Tempat
Dilaksanakan setiap pekan dan sewaktu-waktu dilaksanakan dalam bentuk
Stadium General.
4. Fungsi
1. Sebagai wadah pencapaian ukhuwah, rasa memiliki thd organisasi.
2. Sebagai wadah pembentukan kader bagi peserta dan wadah pemberdayaan
kader bagi pembina.
3. Sebagai wadah pembentukan kader Muslim, Intelektual, profesional.
4. Sebagai wadah pemantauan & penjagaan kader.
5. Analisa Kondisi
1. Faktor Pendukung
a. Kesiapan peserta untuk dibina
b. Tersedianya sumber daya pembina
c. Tersedianya berbagai perangkat diskusi
2. Faktor penghambat
a. Pengelolaan dan koordinasi yang kurang optimal
b. Kontrol dan evaluasi yang lemah dari struktur
6. Perangkat
1. Pembina Kelompok (PK) yaitu individu pembina/instruktur yang merupakan
kader Instruktur yang di ajukan oleh Bidang PA Komisariat dan disetujui oleh
Bidang PA dan BPL Cabang.
2. Peserta, yaitu kader yang telah dinyatakan lulus LK I oleh BPL Cabang.
3. Materi dan Pemateri, Materi yang diberikan merupakan materi untuk
pencapaian MIP, Pemateri merupakan orang yang ditunjuk oleh Bidang PA.
4. Forum Evaluasi, yaitu forum yang disediakan oleh Bidang PA untuk
mengevalusi pelaksanaan kader pasca LK I.
7. Hak dan Kewajiban
1. Pembina Kelompok (PK)
a. Mengikuti arahan, aturan umum, dan kegiatan yang ditentukan oleh
Bidang PA Komisariat.
b. Bertanggungjawab terhadap kelompok yang dikelola.
c. Mengambil kebijakan tertentu bagi kelompok yang dikelola.
d. Melapor dan meminta rekomendasi pengganti sementara kepada Bidang
PA, jika berhalangan hadir
e. Mengajukan usul, saran, dan kritik kepada Bidang PA Komisariat.
2. Peserta
a. Mengikuti arahan, aturan umum, dan kegiatan yang
ditentukan oleh
Bidang PA Komisariat dan PK.
b. Mengikuti program pembinaan pasca LK I secara disiplin.
c. Mengikuti kesepakatan dalam pelaksanaan program.
d. Mengajukan usul, saran, dan kritik kepada Bidang PA Komisariat atau PK.
8. Mekanisme Kerja
1. Bidang PA Komisariat
a. Mengelola pelaksanaan program pembinaan kader pasca LK I secara
umum.
b. Memantau pelaksanaan PKP LK I melalui:
i. Laporan mingguan pelaksanaan FGD
ii. Forum Evaluasi Pembina Kelompok
iii. Pre test dan Post Test bagi peserta
c. Memberi sanksi bagi PK yang melakukan pelanggaran
d. Mengadakan tes pencapaian pada akhir pelaksanaan PKP LK I.
2. PK/Instruktur
a. Mengelola pelaksanaan PKP LK I secara khusus
b. Memantau perkembangan pencapaian
c. Memantau perkembangan ruhiyah dan pencapaian kualitas intelektual
kader
d. Memberikan penugasan dari Bidang PA kepada peserta.
9. Mekanisme PKP LK I
1. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok FGD dimana pelaksanaannya
setiap pekan.
2. Setiap selesai PKP LK I, peserta diharapkan mengisi post test sebagai bahan
evaluasi pencapain tujuan materi.
3. Apabila tujuan PKP LK I belum tercapai melalui FGD kelompok, maka Bidang
PA Komisariat dengan masukan dari PK dapat melaksanakan Stadium General
untuk penekanan materi.
10. Sanksi
1. Bagi peserta, dikembalikan kepada kesepakatan di kelompok.
2. Bagi PK/Instruktur yang tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik
maka akan diberi peringatan oleh Bidang PA.
3. Jika tidak ada perbaikan setelah mendapat peringatan dari Bidang PA, maka
akan diganti dengan Pembina yang ditunjuk oleh Bidang PA Cabang.
11. Evaluasi
Pola Evaluasi:
1 Forum evaluasi rutin bagi Pembina Kelompok sebulan 1x.
2. Angket evaluasi yang diisi oleh peserta
12. Parameter Keberhasilan
1. Peserta memenuhi Kriteria yang diketahui melalui tes.
2. Peserta terlibat aktif dalam agenda-agenda HMI
ALUR REKRUITMEN DAN PEMBINAAN
Pemberdayaan Kader
(internal & Eksternal)
Pra LK I
Pembinaan Kader
LK I
Penjagaan: BPL Cab. PA, PAO, PTKP
1. BPL
2. PA
1. PTKP
2. Lemb. Kekaryaan
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERKADERAN HMI
(Latihan Kader I dan Latihan Kader II)
Bagi Dia, Sang Mutlak, Allah S.W.T., yang telah memberikan kekuatan serta
kemampuan berfikir dan bernalar, kami ucapkan syukur dan terimakasih. Biar
semua yang telah kami kerjakan dan coba kami himpun dan rangkai dalam laporan
kegiatan ini menjadi persembahan indah bagi kemuliaan nama-Nya dan bagi
evaluasi serta proyeksi perkaderan HMI. Shalawat dan salam semoga tercurah ke
haribaan sang revolusioner sejati, Nabi Muhammad S.A.W., yang memberikan
petunjuk dengan jelas mana jalan yang terang dan mana jalan yang gelap, semoga
kami mendapat berkah dan syafaatnya.
HMI sebagai organisasi perkaderan (Pasal 8 AD HMI). Dari fungsi tersebut dapat
diketahhui bahwa jantung organisasi adalah perkaderan. HMI melalui bidang
pembinaan anggota khususnya bertanggungjawab atas keberlangsungan
perkaderan formal baik tingkat basic, intermediete maupun advance. Basic training
sebagai gerbang bagi mahasiswa islam untuk menjadi kader HMI, dengan tujuan
terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan
peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat
dan bangsa. Salah satu perwujudan atas tanggungjawab tersebut adalah dengan
membuat Standarisasi Prosedur Operasional Perkaderan.
Dengan adanya standar prosedur operasional perkaderan (LK I dan LK II),
diharapkan pelaksanaan training dapat terstandarisasi serta mudah untuk
dievaluasi. Panduan pelaksanaan Latihan Kader memang telah menjadi kebutuhan
yang urgent, mengingat pada saat ini sering terjadi kesimpang-siuran dalam
pengelolaan Latihan Kader yang berdampak pada turunnya kualitas pelatihan dan
muaranya adalah kejumudan dalam perkaderan HMI. Pembuatan panduan
pelaksanaan Latihan Kader yang tujuan utamanya adalah untuk standarisasi
kualitatif perkaderan, hendaknya dapat dijadikan rujukan dalam setiap pengelolaan
Latihan Kader, dengan catatan harus selalu mengembangkan kreativitas tanpa
meninggalkan hal-hal prinsip dalam perkaderan HMI.
Menurut AS Hornby (dalam kamusnya Oxford Advanced Learner's Dictionary)
dikatakan bahwa "Cadre is a small group of People who are specially chosen and
trained for a particular purpose, atau “cadre is a member of this kind of group; they
were to become the cadres of the new community party". Jadi pengertian kader
adalah "sekelompok orang yang terorganisasir secara terus menerus dan akan
menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar". Hal ini dapat dijelaskan,
pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal
aturan-aturan permainan organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera
pribadi. Bagi HMI aturan-aturan itu sendiri dari segi nilai adalah Nilai-nilai Dasar
Perjuangan (NDP) dalam pemahaman memaknai perjuangan sebagai alat untuk
mentransformasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang membebaskan (Liberation force),
dan memiliki kerberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustadhafin).
Sedangkan dari segi operasionalisasi organisasi adalah AD/ART HMI, pedoman
perkaderan dan pedoman serta ketentuan organisasi lainnya. Kedua, seorang kader
mempunyai komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat
musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan
melaksanakan kebenaran. Ketiga, seorang kader memiliki bobot dan kualitas
sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan
komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada
aspek kualitas. Keempat, seorang Kader rnemiliki visi dan perhatian yang serius
dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan "social
engineering".
Kader HMI adalah anggota HMI yang telah melalui proses perkaderan sehingga
memiliki ciri kader sebagaimana dikemukakan di atas dan memiliki integritas
kepribadian yang utuh: Beriman, Berilmu dan Beramal Shaleh sehingga siap
mengemban tugas dan amanah kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara
sadar dan sisternatis selaras dengan pedoman perkaderan HMI, sehingga
memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi
seorang kader Muslim-Intelektual-Profesional, yang memiliki kualitas insan cita.
PANDUAN LATIHAN KADER I
Berdasarkan pola dasar perkaderan, maka tahapan dalam sistem perkaderan yang
dilakukan meliputi rekrutmen, pembentukan, dan pengabdian kader. Dalam
proses pembentukan kader, secara formal dibagi menjadi tiga fase, masing-masing
fase ini dimulai dengan suatu training formal. Training formal ini dilakukan secara
berjenjang, jenjang pertama merupakan prasyarat untuk mengikuti jenjang
berikutnya, sampai pada jenjang terakhir. Jenjang training formal yang dapat dilalui
dalam proses pembentukan kader adalah Latihan Kader I (Basic Training) sebagai
jenjang pertama, Latihan Kader II (Intermediate Training) sebagai jenjang
menengah, dan Latihan Kader III (Advance Training) sebagai jenjang terakhir.
Masing-masing jenjang memiliki tujuan tersendiri yang merupakan tahap dalam
pembentukan kader umat dan kader bangsa. Selain training formal yang bertujuan
untuk menstandarisasi kader, terdapat juga training informal yang bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan kader dalam bidang tertentu secara professional.
Dalam training informal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan kader dan trend
saat ini.
Jadi training formal merupakan upaya untuk memberikan kemampuan standar
anggota HMI secara kualitatif, sedangkan training informal memberikan
kemampuan khusus pada kader. Oleh karena itu pada wilayah training formal harus
ada standar yang baku dan bersifat tetap dalam wilayah kurikulum, kreatifitas
hanya bisa dilakukan dalam wilayah metodologi. Sebagai upaya untuk menjaga
arah perkaderan agar sesuai dengan pedoman, maka sudah barang tentu
kebutuhan terhadap panduan yang menjelaskan secara teknis training formal
khususnya menjadi mutlak adanya. Secara khusus panduan ini akan mengupas
tentang Latihan Kader I (Basic Training) HMI.
Adapun untuk pelaksanaan mendetail tentang teknis penyelenggaraan LK I ini
diserahkan pada kebijaksanaan pengurus atau panitia yang bersangkutan.
TUJUAN
Tujuan dilaksanakan Latihan Kader I (Basic Training) adalah:
“Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan
peranannya dalam berorganisasi, serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat
dan kader bangsa”
TARGET
Target yang diharapkan pasca Latihan Kader I (Basic Training) dapat dilihat dengan
indikator sebagai berikut:
1. Memiliki kesadaran menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
(menjalankan ibadah secara baik, teratur dan rutin)
2. Mampu meningkatkan kemampuan akademis (IPK meningkat)
3. Memiliki kesadaran akan tanggungjawab keumatan dan kebangsaan (berperan
dalam kehidupan masyarakat: kampus, rumah, dll)
4. Memiliki kesadaran berorganisasi (aktif dalam kegiatan organisasi, kepanitiaan,
dll)
UNSUR-UNSUR TRAINING
Yang dimaksud dengan unsur-unsur training adalah komponen yang terlibat dalam
kegiatan pelaksanaan Latihan Kader I (Basic Training). Unsur-unsur yang dimaksud
adalah:
1. Pengurus HMI Cabang
Pengurus HMI cabang berperan dalam mengatur regulasi pelaksanaan Latihan
Kader I (Basic Training), dan legalisasi atas pengukuhan kelulusan peserta yang
dituangkan dalam Surat Keputusan tentang Pengukuhan dan Pengesahan
Anggota Biasa Himpunan Mahasiswa Islam
2. Pengurus HMI Komisariat
Pengurus HMI komisariat bertanggungjawab atas terlaksananya Latihan Kader I
(Basic Training) sebagai penyelenggara kegiatan.
3. Badan Pengelola Latihan Cabang
Merupakan institusi yang bertanggungjawab atas pengelolaan Latihan Kader I
(Basic Training).
Selain institusi di atas, terdapat unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan
training secara teknis, yaitu :
1. Organizing Committee; bertugas dan bertanggungjawab terhadap segala sesuatu
hal yang berhubungan dengan teknis penyelenggaraan kegiatan. Tugas-tugas OC
secara garis besar sebagai berikut:
a) Mengusahakan tempat, akomodasi, konsumsi dan fasilitas lainnya
b) Mengusahakan pembiayaan dan perijinan latihan
c) Menjamin kenyamanan suasana dan keamanan latihan
d) Mengusahakan ruangan, peralatan dan penerangan favourable
e) Bekerja sama dengan unsur-unsur lainnya dalam rangka menyukseskan
jalannya latihan.
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: Anggota biasa HMI, Telah mengikuti follow
up dan Up-Grading LK I, minimal 30 hari diangkat oleh pengurus HMI komisariat
dengan surat keputusan
2. Steering Committee; bertugas dan bertanggungjawab atas pengarahan dan
pelaksanaan latihan. Tugas-tugas SC secara garis besar sebagai berikut:
a) Menyiapkan perangkat lunak latihan
b) Mengarahkan OC dalam pelaksanaan latihan
c) Menentukan pemateri/instruktur/fasilitator
d) Menentukan pemandu/master of training
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: Memenuhi kualifikasi umum pengelola
latihan, Terlibat aktif dalam perkaderan HMI, Diutamakan anggota BPL Cabang,
Pernah menjadi Organizing Committee LK I
3. Pemandu/Master of Training; bertugas dan bertanggungjawab untuk memimpin,
mengawasi, dan mengarahkan latihan. Sejak dibukanya Latihan Kader I (Basic
Training), tanggungjawab pengelolaan latihan berada sepenuhnya dalam
tanggungjawab pemandu/master of training, sampai latihan dinyatakan ditutup.
Tugas-tugas pemandu/ master of training secara garis besar sebagai berikut:
a) Memimpin latihan, baik di dalam forum ataupun di luar forum
b) Memberikan materi apabila pemateri/instruktur/fasilitator tidak dapat hadir
c) Melakukan penajaman pemahaman atas materi yang telah diberikan
d) Melakukan evaluasi terhadap peserta
e) Menentukan kelulusan peserta latihan
f) Mengadakan koordinasi diantara unsur yang terlibat langsung dalam latihan
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: Memenuhi kualifikasi umum dan khusus
pengelola latihan, Terlibat aktif dalam perkaderan HMI, Pernah menjadi
pemateri/fasilitator LK I, Menguasai dan memahami materi LK I, Dapat menjadi
suri tauladan yang baik, ditentukan oleh SC
4. Pemateri/Instruktur/Fasilitator; bertugas untuk menyampaikan materi latihan
yang dipercayakan kepadanya.
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: Memenuhi kualifikasi umum dan khusus
pengelola latihan, terlibat aktif dalam perkaderan HMI, pernah menjadi Steering
Committee LK I, Menguasai dan memahami materi yang dipercayakan
kepadanya, Dapat menjadi suri tauladan yang baik, Ditentukan oleh SC
5. Peserta; adalah calon-calon kader yang telah lulus seleksi, dan telah dinyatakan
sebagai peserta oleh penyelenggara
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan
tinggi, dan tidak sedang menjalani skorsing akademik, muslim/muslimah, bisa
membaca Al-Qur’an, bisa melakukan sholat (hafal bacaan sholat), bersedia
mengikuti seluruh kegiatan training, lulus seleksi.
MEKANISME PELAKSANAAN
Proses pelaksanaan training dibagi dalam tiga fase, yaitu:
1. Fase persiapan, dalam fase ini dilaksanakan hal-hal sebagi berikut:
a. Pengurus HMI komisariat membentuk OC dengan surat keputusan dan OC
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
membuat out line (term of reference) pelaksanaan LK I (min H-30)
OC mengirimkan surat pemohonan untuk mengelola latihan (pemberitahuan)
yang disertai SK penetapan OC dan out line yang telah dibuat kepada
pengurus HMI Cabang (Bidang PA) atau BPL selambat-lambatnya 1 (satu)
minggu sebelum pelaksanaan.
OC mengusahakan tempat training dan hal-hal yang berhubungan dengannya
(min H-14)
Mengusahakan izin penyelenggaraan training yang diperlukan kepada bidang
PA Cabang (min H-14)
Mempersiapkan dan mengusahakan fasilitas-faslitas akomodasi dari konsumsi
yang diperlukan selama training berlangsung (H-1)
Menghubungi instruktur-instruktur/pemateri dan MOT yang telah ditetapkan,
atau menghubungi BPL untuk mengelola training yang bersangkutan. Dan
memastikan kesiapan instruktur.
Mengadakan pendaftaran peserta dan jika perlu diadakan seleksi oleh
pengurus komisariat, dan menyediakan hal-hal admnistratif yang berkaitan
dengan itu, misalnya formulir pendaftaran, pamflet, kuitansi dsb.
Mempersiapkan bahan-bahan atau materi-materi yang diperlukan untuk
training seperti: Curicullum Vitae, topik-topik diskusi, case study, format
screaning, format penilaian, format presensi, post test, undangan pemateri,
dsb.
Sedapat mungkin diadakan pertemuan/rapat gabungan antara panitia
pelaksana, MOT, dan instruktur untuk menyusun langkah-langkah yang akan
dilakukan untuk mensukseskan training. Dan konsultasi agenda acara training
kepada BPL atau PA Cabang.
2. Fase pelaksanaan, dalam fase ini dilaksanakan hal-hal sebagi berikut:
a. Acara pembukaan dengan susunan acara sebaga berikut:
 Pembukaan
 Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an
 Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI
 Laporan Ketua Panitia
 Sambutan-sambutan:
1. Ketua Umum Komisariat
2. Ketua Umum Korkom
3. Ketua Umum Cabang sekaligus membuka LK I
 Penyerahan berkas acara training dari SC ke MOT
 Do’a
 Penutup, dilanjutkan dengan penyerahan acara kepada MOT
b. Acara pertama setelah pembukaan adalah checking peserta training dan
c.
d.
e.
f.
g.
perkenalan antara peserta dan panitia, selanjutnya adalah kontrak belajar dan
arah perkaderan oleh MOT
Pelaksanaa training selanjutnya dilaksanakan sesuai jadwal acara training
yang telah ditetapkan. Dan tetap harus dijaga suasana training yang
intelektualitas, religus, persaudaraan dan menyenangkan.
Trainig harus memenuhi materi wajib LK I, dan komisariat diberikan kreatifitas
untuk menambahkan materi muatan lokal sesuai dengan kebiasaan dan latar
belakang komisariatnya.
Adanya simulasi untuk materi-materi tertentu, misalnya; Metodologi Diskusi,
KMO, dan Teknik Sidang
Adanya evaluasi dari training kepada peserta (post test) oleh BPL atau PA
Cabang
Acara penutupan dengan susunan acara sebagai berikut:
 Pembukaan
 Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an
 Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI
 Pembacaan SK kelulusan peserta LK I oleh MOT
 Pembacaan Ikrar Pelantikan oleh MOT/HMI Cabang
 Laporan Ketua Panitia
 Sambutan-sambutan
1. Ketua angkatan peserta (perwakilan peserta)
2. Ketua Umum Komisariat
3. Ketua Umum Korkom
4. Ketua Umum HMI Cabang sekaligus menutup LK I
 Do’a
 Penutup, dilanjutkan dengan ramah tamah
3. Fase Sesudah Training
a. OC bertanggungjawab atas kesekretariatan (tempat ataupun inventaris) HMI
Cabang yang dipinjamkan oleh cabang.
b. Panitia wajib melakukan evaluasi dan membuat LPJ kepada pengurus
komisariat dan selanjutnya diteruskan kepada PA cabang
c. Pengurus komisariat melakukan follow-up kepada kader yang dinyatakan tidak
lulus atau lulus bersyarat dan melakukan pendampingan/monitoring/ serta
menjadi kakak asuh bagi mereka.
MANAJEMEN TRAINING
Dalam upaya menciptakan pelaksanaan training yang baik dan berkualitas
diperlukan manajemen yang baik, yang dimaksud dengan manejemen training
adalah seni untuk mengatur agar tercapainya tujuan training. Berdasarkan hal
tersebut, maka LK I merupakan training penanaman nilai/ideologisasi organisasi,
sehingga dalam manajemen trainingnya harus mendukung pada aspek kesadaran
dalam berpola pikir, sikap, dan tindak. Pembobotan dalam LK I adalah afektif (50%),
kognitif (30%), dan psikomotorik (20%). Hal-hal yang dimaksud dalam manajemen
training ini adalah:
1)
Kurikulum
Kurikulum yang terdapat dalam pedoman merupakan penggambaran tentang
metode dari training. Oleh sebab itu penerapan dari kurikulum adalah erat
kaitannya
dengan
masalah
yang
menyangkut metode-metode
yang
dipergunakan dalam training. Dalam penerapan kurikulum ini agar diperhatikan
aspek-aspek:
a) Penyusunan jadwal materi training
Jadwal training adalah sesuatu yang merupakan gambaran tentang isi dan
bentuk-bentuk training. Oleh karena itu penyusunan jadwal harus
memperhatikan urutan-urutan materi pokok sebagai korelasi yang tidak berdiri
sendiri (asas integratif). Berdasarkan hal tersebut maka urutan materi pokok
dalam LK I HMI adalah sebagai berikut:
1. Sejarah Perjuangan HMI
2. Konstitusi HMI
3. Mision HMI
4. Nilai-nilai Dasar Perjuangan
5. Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi
Dalam hal diperlukan adanya materi penunjang/tambahan, maka harus
diperhatikan korelasinya dengan materi pokok, jangan sampai memutus
hubungan antar materi pokok.
b)
Metode Penyampaian
Cara penyampaian materi pada LK I pada dasarnya harus memenuhi prinsip
penyegaran dan pengembangan gagasan di tingkat pengelola, serta
penyegaran gagasan dan pemahaman di tingkat peserta, dengan demikian
diharapkan akan muncul gagasan-gagasan yang kreatif dan inovatif di dalam
forum training. Selain itu penyampaian materi harus mencapai target/sasaran
dari tujuan materi khususnya dan tujuan LK I umumnya, serta membangun
suasana training/forum yang tidak menjenuhkan.
2)
Suasana Training
Suasana training merupakan komponen penting dalam kesuksesan pelaksanaan
training, karena suasana akan mempengaruhi kondisi psikologis orang-orang
yang terlibat dalam pertrainingan. Suasana training harus dilihat secara
komprehensif, karena training bukan hanya sebatas forum penyampaian materi,
tetapi lebih jauh daripada itu, seluruh aktivitas sejak dibukanya training sampai
dengan penutupan, dalam arena atau lokasi tempat training diadakan.
Dengan demikian pemahaman tentang arena training tidak hanya terbatas pada
forum saja. Implikasi dari pemahaman tersebut adalah suasana training harus
dibangun pada keseluruhan arena training, sehingga segala aturan akan
mengikat pada keseluruhan kegiatan training, tidak hanya pada saat di forum.
Suasana yang harus dibangun dalam kegiatan pertrainingan secara umum
adalah sebagai berikut:
a. Menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama unsur individu dalam
training
b. Tidak menimbulkan kejenuhan di antara unsur individu dalam training
c. Tercipta kondisi yang equal (setara) antara sesama unsur individu dalam
training; menciptakan kondisi equal antar segenap unsur training berarti
mensejajarkan dan menyetarakan semua unsur yang ada dalam training.
d. Terciptanya suasana Islami; untuk menciptakan suasana yang Islami sebagai
upaya awal pembentukan kader muslim, dapat dilakukan dengan jalan mengisi
dengan aktivitas ritual pada waktu-waktu tertentu, serta menonjolkan sikapsikap dan prilaku yang baik.
e. Terciptanya suasana intelektual; dapat dilakukan dengan cara penyediaan
bahan bacaan di arena training dan menyediakan media tempat mencurahkan
buah pemikiran.
Dengan pemahaman bahwa training adalah seluruh aktivitas yang dilakukan
pada masa training, maka pada waktu tersebut seluruh dinamika dan suasana
training harus dibentuk oleh seluruh komponen, khususnya senior harus mampu
memberikan contoh yang baik pada yuniornya. Dengan demikian suasana
training yang mendidik dan menyenangkan dapat terbangun, aktivitas yang
tidak berkaitan dengan training, “omongan bocor”, dan sikap lain yang
kontraproduktif harus dieliminir.
3) Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan training
menganut asas minimalis, maksudnya dengan kesiapan logistik yang minimal,
kegiatan training dapat tetap berlangsung dengan kualitas yang baik. Keperluan
forum yang mesti tersedia adalah alat tulis, lebih baik jika terdapat
perlengkapan pendukung lainnya. Demikian pula dengan akomodasi dan
perlengkapan lainnya, kondisi minimalis diharapkan dapat meningkatkan
militansi dan kreativitas kader.
4) Jumlah Peserta
Jumlah peserta akan mempengaruhi konsentrasi peserta dalam memahami
materi yang diberikan. Berdasarkan pemikiran tersebut maka dalam LK I jumlah
peserta yang ideal adalah minimal 15 (lima belas) orang dan maksimal 35 (tiga
puluh lima) orang perkelas.
SELEKSI
Untuk mendapatkan output yang baik harus berangkat dari input dan process yang
baik pula. Latihan Kader I yang merupakan proses pembentukan output agar sesuai
dengan tujuan dan targetnya, maka harus didukung oleh input yang baik. Calon
kader sebagai bahan baku yang akan diproses dalam LK I tentu harus memiliki
kualifikasi tertentu agar dapat menjadi kader sesuai dengan harapan dan tujuan
perkaderan. Kualifikasi umum calon peserta LK I adalah sebagai berikut:
a)
Terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi, dan tidak sedang menjalani
skorsing akademik
b)
Muslim/muslimah (bisa baca Al-Qur’an)
c) Memiliki integritas
d)
Akademis (cerdas; intelektual)
e)
Memiliki potensi kepemimpinan
f) Berprestasi
g)
Mau aktif berorganisasi
Seleksi dilakukan dengan cara: Wawancara, berfungsi untuk menguji konsistensi
jawaban, dan menggali lebih dalam pengetahuan calon peserta, serta menggali
motivasi dan potensi calon peserta. Apabila motivasi ada “distorsi” maka
pewawancara betugas untuk meluruskannya. Screaning berisi pertanyaanpertanyaan tentang selayang pandang HMI, Ke-organisasian, dan ke-Islam-an.
MATERI TRAINING
Latihan Kader I memiliki materi-materi dasar yang sifatnya penanaman dasar
organisasi HMI, atau dengan kata lain materi yang disampaikan pada LK I
merupakan fondasi dalam membentuk kader sesuai dengan kualitas insan cita.
Adapun materi yang diberikan dalam LK I ini harus seragam dan standar di seluruh
komisariat, karena jika fondasi ini beragam akan mengakibatkan konstruksi yang
lemah.
Materi-materi yang diberikan dalam LK I ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
materi pokok dan materi penunjang atau tambahan. Materi pokok adalah kelompok
materi yang wajib ada dan disampaikan dalam forum LK I, materi ini merupakan
materi standar secara bagi pelaksanaan LK I HMI.
Sedangkan materi penunjang atau tambahan adalah materi yang telah menjadi
kemestian untuk ada dalam training (misal materi perkenalan dan orientasi latihan,
dan materi evaluasi dan rencana tindak lanjut), atau materi yang merupakan
prasyarat tercapainya pemahaman materi pokok atau materi yang memiliki
hubungan/penurunan dari materi pokok dan memiliki keterkaitan dengan tujuan
perkaderan yang menjadi karakter lokal.
TATA CARA PENILAIAN PESERTA LATIHAN KADER I
A. Aspek-aspek yang dinilai
Selama berlangsungnya LK I, aspek-aspek yang dinilai dibagi menjadi dua
bagian, yaitu:
1) Kuantitatif
Bentuk penilaian yang terhadap peserta LK I dalam bentuk angka-angka.
Penilaian ini didapat dari hasil test (menjawab soal), penugasan, dan lain
sebagainya.
2) Kualitatif
Bentuk penilaian pemandu terhadap peserta yang diwujudkan dalam komentar
atau rekomendasi atau gambaran dekriptif terhadap peserta yang sifatnya
kualitatif, misal baik, buruk, dan lain sebagainya.
B. Ranah dan Persentase Nilai
Sesuai dengan pedoman perkaderan HMI, ranah yang dinilai meliputi:
1) Ranah afektif (sikap) dengan bobot sebesar 50%, dengan acuan pada sikap
peserta terhadap aturan main yang berlaku, misal taat atau melanggar atau
terhadap pesan dari sebuah materi berdampak atau tidak terhadap sikap,
dapat diuji dengan pertanyaan yang subyektif.
2) Ranah kognitif (pengetahuan) dengan bobot sebesar 30%, dengan melihat
hasil test terhadap peserta melalui pertanyaan yang sifatnya obyektif
3) Ranah psikomotorik (tindak) dengan bobot 20% dengan acuan pada prilaku
peserta, misal apakah dia mau membantu orang lain atau tidak dan lain
sebagainya.
C.
Teknik Penilaian
Untuk menilai peserta LK I sehingga dapat ditentukan kelulusannya adalah
berdasarkan akumulasi nilai dari semua ranah. Semua penilaian menggunakan
penilaian kuantitatif. Standar nilai menggunakan angka 0–100.
1) Penilaian Afektif
Penilaian afektif harus dikonversi dari nilai yang sifatnya kualitatif menjadi
kuantitatif dengan cara memberikan nilai 100 kepada semua peserta di awal
training. Penilaian tidak mungkin bertambah tetapi akan berkurang jika terjadi
pelanggaran interval 5, bobotnya tergantung besarnya kesalahan yang
dilakukan, misal terlambat akan berbeda bobotnya dengan tidak hadir dalam
satu sesi.
2) Penilaian Kognitif
Penilaian kognitif dilakukan dengan mengakumulasikan jumlah nilai-nilai test
dan tugas yang sifatnya obyektif.
3) Penilaian Psikomotorik
Hampir sama dengan afektif, maka nilai psikomotorik harus dikonversi menjadi
kuantitatif, caranya adalah memberikan nilai 50 kepada semua peserta di awal
training, dan mengalami penambahan dengan interval 5, jika peserta
melakukan hal-hal baik secara sadar.
4) Penilaian Akhir
Nilai akhir adalah nilai akumulasi seluruh ranah. Untuk penilaian akhir ini
menggunakan rumus:
NA = ((N afektif x 50%) + (N rata-rata kognitif x 30%) + (N psikomotorik x
20%)) x 10
Contoh :
Misalkan si yakusa mendapatkan nilai rata-rata test dan tugas sebesar 75, dan
beberapa kali melakukan kesalahan sehingga mendapat pinalti sebesar 30,
namun ia juga banyak membantu orang lain dan banyak berbuat baik, jadi dia
diberi tambahan nilai untuk perbuatan sebanyak 35.
Akumulasi nilai untuk Yakusa adalah:
Nilai afektif = (100 – 30) = 70
Nilai rata-rata kognitif = 75
Nilai psikomotorik = (50 + 35) = 85
Maka nilai akhirnya adalah :
NA = (70 x 50%) + (75 x 30%) + (85 x 20%)
NA = 35 + 22,5 + 17
NA = 74,5 x 10
NA = 745
Peserta dapat dinyatakan lulus apabila memiliki NA ≥ 600
Sumber: MODUL LK I BAKORNAS LPL PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA
ISLAM
Kode Etik Pemateri LK I
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pemateri LK I memegang mandat dari BPL
Berpakaian sopan, minimal kemeja dan celana panjang rapih
Dilarang merokok selama meyampaikan materi
Menjaga perilaku selama meyampaikan materi
Hadir 15 menit sebelum jadwal menyampaikan materi
Pembatalan dilaporkan kepada MOT, selambat-lambatnya 24 jam sebelum
meyampaikan materi
7. Selama training tidak diijinkan untuk ”membuka hubungan secara pribadi”
dengan peserta dan panitia
8. Menjaga profesionalisme sebagai seorang pemateri
9. Sanksi terhadap pelanggaran kode etik diatas akan ditentukan kemudian oleh
BPL
IKRAR PELANTIKAN
“BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM”
“ASYHADU ALLAA ILAA HA ILLALLAAH
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH”
“RADHIITU BILLAAHI RABBA, WABIL ISLAAMI DIINA,
WABI MUHAMMADIN NABIYYAU WARASUULA”
“Dengan nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
“Aku Bersaksi, bahwasanya tidak ada tuhan, selain ALLAH,
Dan sesungguhnya MUHAMMAD itu adalah Rasul ALLAH”
“Kami rela ALLAH Tuhan kami, ISLAM Agama kami,
dan MUHAMMAD sebagai Nabi dan Rasul ALLAH”
Kami anggota HMI, dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab, BERJANJI dan
BERIKRAR:
1. Bahwa kami, dengan kesungguhan hati, akan selalu menjalankan KetetapanKetetapan serta Keputusan-Keputusan Himpunan.
2. Bahwa kami, dengan kesungguhan hati, akan senantiasa menjaga nama baik
Himpunan, dengan selalu tunduk dan patuh kepada Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dan Pedoman-Pedoman Pokok, beserta
Ketentuan-Ketentuan HMI lainnya.
3. Bahwa apa yang kami kerjakan dalam keanggotaan ini adalah untuk mencapai
Tujuan HMI, dalam rangka mengabdi kepada Alllah, demi tercapainya
kebahagiaan ummat dan bangsa di dunia dan akhirat.
INNA SHALAATI, WANUSUKI, WAMAHYAAYA, WAMAMAATI,
LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN”
“Sesungguhnya Shalatku, Perjuanganku, Hidup dan Matiku,
hanya untuk ALLAH Tuhan seru sekalian alam”
LAMPIRAN-LAMPIRAN
FORMULIR PENDAFTARAN BASIC TRAINING
(BASIC TRAINING ENTRY FORM)
* Di isi oleh Calon Peserta Basic Training ketika mendaftar
“Dengan Mengucapkan BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIM,
Bahwa apa yang saya isi dalam formulir di bawah ini adalah BENAR adanya”.
A. INFORMASI DIRI:
1. Nama Lengkap:
Nama Panggilan:
2. Tempat & Tanggal Lahir:
3. Jenis Kelamin: □ Laki-Laki / □ Perempuan
4. Status Keluarga: □ Nikah / □ Belum Nikah
5. Alamat Asal (Lengkap):
6. Alamat Tinggal Sekarang:
7. No.Telpon / HP:
B. LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:
8. Pendidikan Sekarang:
a. Universitas/Institute:
b. Fakultas:
c. Jurusan:
d. Angkatan/Tahun Masuk:
9. Jenjang Pendidikan Sebelumnya:
a. SD* / MIN*
e-Mail:
Tahun Masuk Tahun Tamat
b. SMP* / MTSN*
c. SMU* / MAN*
d. Lainnya
C. PENGALAMAN ORGANISASI
10. Nama Organisasi & Jabatan yang Pernah Saya Geluti:
Ketika SMU/MAN
a.
b.
c.
d.
D. INFORMASI BAKAT /
11. Hobby saya adalah:
Sekarang (Di Kampus)
a..
b.
c.
d.
MINAT
Lainnya (Sosial
Kemasyarakatan, dsb)
a.
b.
c.
d.
12. Keahlian, Skill, atau Bakat yang Saya Miliki dalam Bidang:
a. Seni:
b. Olah Raga:
c. Agama:
d. Lainnya:
13. Kemampuan Bahasa Asing:
a. Inggris :
□ Tidak Bisa
□ Kurang
□ Cukup
□ Bagus
b. Arab
:
□ Tidak Bisa
□ Kurang
□ Cukup
□ Bagus
c. Bahasa Asing Lainnya :
□ Tidak Bisa
□ Kurang
□ Cukup
□ Bagus
E. LATAR BELAKANG KELUARGA
14. Nama Ayah:
Pekerjaan:
Nama Ibu:
Pekerjaan:
15. Jumlah Saudara Kandung: laki-laki:
perempuan:
16. Saya Anak ke:
F. Ke -HMI- an
17. Saya Tahu HMI dari:
18. Yang Mengajak Saya Masuk HMI adalah:
19. Alasan (Motivasi) Saya Masuk HMI adalah:
20. Yang saya harapkan dapat pelajari dalam LK I (Basic Training) nantinya (jika
lulus) adalah:
G. KONDISI FISIK / KESEHATAN
21. Penyakit / Gangguan Kesehatan yang sering saya alami adalah:
TANDA TANGAN:
……………...................,
………/………/…………….
(……………………………………………)
(Nama & Tanda Tangan)
ABSENSI HARIAN BASIC TRAINING
BASIC TRAINING HMI KOMISARIAT ______________________________________
Materi
:_____________________________________________________________
Hari / Tanggal
: _____________________________________________________________
Waktu
:
_____________________________________________________________
Pemateri
: _____________________________________________________________
Instruktur
: _____________________________________________________________
N0
NAMA
LENGKAP
PANGGILAN
FAK / JUR /
AKT
* ABSENSI
MASUK
KET.
KELUAR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
.
*)
 Setiap sesi training di absen dua (2) kali: saat MASUK forum dan saat KELUAR
forum.
 Befungsi sebagai alat pemantau harian TINGKAT KEAKTIFAN peserta berdasarkan
JUMLAH (KUANTITAS) BICARA.
 Setiap kali peserta berbicara, maka di berikan tanda silang / cross (x).
 Berdasarkan grafik dapat diketahui peserta-peserta yang paling rajin berbicara,
atau mereka yang sedikit bicaranya.
 Di isi oleh instruktur yang bertugas, atau oleh instruktur pendamping.
GRAFIK KEAKTIFAN PESERTA BASIC TRAINING
(GRAPHIC FOR PARTICIPANTS ACTIVENESS)
BASIC TRAINING HMI KOMISARIAT: ________________
HARI KE
: ______________________
TANGGAL : _________________________________________
NAMA PESERTA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30
Quantitas (JUMLAH) BICARA
.:. Berikan tanda silang ‘X’ pada kolom tersedia setiap kali seorang
peserta berbicara.:.
BIODATA PEMATERI
(SPEAKER’S DETAILS)
Materi / Topik
: ______________________________________________________________
Tanggal
: ______________________________________________________________
Waktu
:
______________________________________________________________
1. Nama
:
2. Tempat/Tanggal Lahir :
3. Status:
□ Nikah (Jumlah Anak: …… Putra:…….. Putri: ………)
□ Belum Nikah □ Lainnya
………………………………………………….......................
4. Pekerjaan Tetap Sekarang:
5. Alamat Tinggal
:
6. Nomor Telpon / HP
:
7. LATAR BELAKANG
NAMA/TEMPAT
LULUS TAHUN
PENDIDIKAN
1. SD/MI/Sederajat
2. SMP/MTS/Sederajat
3. SMA/MA/Sederajat
4. S1 (Sarjana)
5. S2 (Master)
6. S3 (Doktor)
8. JENJANG TRAINING DI HMI
TEMPAT
TAHUN

Basic Training (LK–
1)

9.
10
Intermediate
Training (LK–2)

Advanced Training
(LK–3)

SC (Seniour Course)

Pusdiklat / Lainnya
……………………………..........
............
PENGALAMAN
ORGANISASI DI HMI
o Komisariat
…………………………………
…….......
o Koordinator Komisariat
…………………………………
…….......
o Cabang
…………………………………
………....
o Badko
…………………………………
………….
o PB – HMI
o Lembaga HMI Lainnya
………………………..
PENGALAMAN
ORGANISASI
DI LUAR HMI
1.
NAMA JABATAN
TAHUN
NAMA JABATAN
TAHUN
2.
3.
11. Hobby:
12. Motto Hidup:
13. Tanda Tangan:
………………………………….., ………… / ……….. / ………………
(……………………………………………………)
(Nama & Tanda Tangan)
PANDUAN LATIHAN KADER II
TUJUAN
Tujuan dilaksanakan Latihan Kader II (Intermediate Training) adalah:
“Terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu
mengelola organisasi serta berjuang untuk meneruskan dan mengemban misi HMI”
TARGET
Target yang diharapkan pasca Latihan Kader II (Intermediate Training) dapat dilihat
dengan indikator sebagai berikut :
1. Memiliki kesadaran intelektual yang kritis, dinamis, progresif, inovatif dalam
memperjuangkan misi HMI
2. Memiliki kemampuan manajerial dalam berorganisasi
UNSUR-UNSUR TRAINING
Yang dimaksud dengan unsur-unsur training adalah komponen yang terlibat dalam
kegiatan pelaksanaan Latihan Kader II (Intermediate Training). Unsur-unsur yang
dimaksud adalah:
1. Pengurus HMI Cabang; Pengurus HMI Cabang bertanggungjawab atas
terlaksananya Latihan Kader II (Intermediate Training) sebagai penyelenggara
kegiatan.
2. Badan Pengelola Latihan dan Tim Master of Training; merupakan institusi yang
bertanggungjawab atas pengelolaan Latihan Kader II (IntermediateTraining) dan
mengeluarkan Surat Keputusan kelulusan peserta Latihan Kader II (Intermediate
Training)
Selain institusi di atas, terdapat unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan
training secara teknis, yaitu:
1. Organizing Committee; bertugas dan bertanggungjawab terhadap segala sesuatu
hal yang berhubungan dengan teknis penyelenggaraan kegiatan. Tugas-tugas OC
secara garis besar sebagai berikut:
a) Mengusahakan tempat, akomodasi, konsumsi dan fasilitas lainnya
b)
Mengusahakan pembiayaan dan perijinan latihan
c) Menjamin kenyamanan suasana dan keamanan latihan
d)
Mengusahakan ruangan, peralatan dan penerangan favourable
e)
Bekerja sama dengan unsur-unsur lainnya dalam rangka menyukseskan
jalannya latihan.
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: Anggota biasa HMI, Telah mengikuti follow
up dan Up-Grading LK II.
2. Steering Committee; bertugas dan bertanggungjawab atas pengarahan dan
pelaksanaan latihan. Tugas-tugas SC secara garis besar sebagai berikut:
a)
Menyiapkan perangkat lunak latihan
b)
Mengarahkan OC dalam pelaksanaan latihan
c) Menentukan pemateri/instruktur/fasilitator
d)
Menentukan pemandu/master of training
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: Memenuhi kualifikasi umum pengelola
latihan, terlibat aktif dalam perkaderan HMI, diutamakan anggota BPL Cabang,
Pernah menjadi Organizing Committee LK II
3. Pemandu/Master of Training; bertugas dan bertanggungjawab untuk memimpin,
mengawasi, dan mengarahkan latihan. Sejak dibukanya Latihan Kader II
(Intermediate Training), tanggungjawab pengelolaan latihan berada sepenuhnya
dalam tanggungjawab pemandu/master of training, sampai latihan dinyatakan
ditutup. Tugas-tugas pemandu/master of training secara garis besar sebagai
berikut :
a)
Memimpin latihan, baik di dalam forum ataupun di luar forum
b) Memberikan materi apabila pemateri/instruktur/fasilitator tidak dapat hadir
c) Melakukan penajaman pemahaman atas materi yang telah diberikan
d)
Melakukan evaluasi terhadap peserta
e)
Menentukan kelulusan peserta latihan
f) Mengadakan koordinasi diantara unsur yang terlibat langsung dalam latihan
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: memenuhi kualifikasi umum dan khusus
pengelola latihan, terlibat aktif dalam perkaderan HMI, pernah menjadi
pemateri/fasilitator LK II, menguasai dan memahami materi LK II, dapat menjadi
suri tauladan yang baik.
4. Pemateri/Instruktur/Fasilitator; bertugas untuk menyampaikan materi latihan
yang dipercayakan kepadanya.
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: memenuhi kualifikasi umum dan khusus
pengelola latihan, terlibat aktif dalam perkaderan HMI, pernah menjadi Steering
Committee LK II, menguasai dan memahami materi yang dipercayakan
kepadanya, dapat menjadi suri tauladan yang baik.
5. Peserta; adalah calon-calon kader yang telah lulus seleksi, dan telah dinyatakan
sebagai peserta oleh penyelenggara.
Kriteria yang harus dipenuhi adalah: Masih terdaftar sebagai kader aktif HMI, dan
tidak sedang menjalani skorsing organisasi, telah lulus sebagai peserta LK I
(dibuktikan dengan sertifikat/surat keterangan dari cabang), bersedia mengikuti
seluruh kegiatan training, Lulus seleksi.
MEKANISME PELAKSANAAN
Proses pelaksanaan training dibagi dalam tiga fase, yaitu:
1. Fase persiapan, dalam fase ini dilaksanakan hal-hal sebagi berikut:
a. Pengurus HMI Cabang membentuk OC dengan surat keputusan dan OC
membuat out line (term of reference) pelaksanaan LK II (min H-60)
b. OC mengirimkan surat pemohonan untuk mengelola latihan (pemberitahuan)
yang disertai SK penetapan OC dan out line yang telah dibuat kepada
pengurus HMI Cabang (Bidang PA) atau BPL selambat-lambatnya 4 (empat)
minggu sebelum pelaksanaan.
c. OC Mengirimkan Surat dan Proposal LK II kepada Cabang-cabang yang akan
diundang serta mengusahakan tempat training dan hal-hal yang berhubungan
dengannya (min H-20)
d. Mempersiapkan dan mengusahakan fasilitas-faslitas akomodasi dari konsumsi
yang diperlukan selama training berlangsung (H-7)
e. Menghubungi isnstruktur-instruktur/pemateri dan MOT yang telah ditetapkan,
atau menghubungi BPL untuk mengelola training yang bersangkutan. Dan
memastikan kesiapan instruktur.
f. Mengadakan pembukaan pendaftaran peserta dan menyediakan hal-hal
admnistratif yang berkaitan dengan itu, misalnya formulir pendaftaran,
kuitansi sb.
g. Mempersiapkan bahan-bahan atau materi-materi yang diperlukan untuk
training seperti : Curiculluum Vitae, topik-topik diskusi, case study, format
screaning, format penilaian, format presensi, post test, undangan pemateri,
dsb.
h. Diwajibkan mengadakan pertemuan/rapat gabungan antara panitia pelaksana,
MOT, dan instruktur untuk menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan
untuk mensukseskan training. Dan konsultasi agenda acara training kepada
BPL atau PA Cabang.
i. Panitia wajib melakukan screaning kepada calon peserta LK II yang memuat
materi
Ke-HMI-an,
NDP,
Ke-Islam-an,
Ke-Organisasi-an
dan
KeIndonesiaan/wawasan nasional.
2. Fase pelaksanaan, dalam fase ini dilaksanakan hal-hal sebagi berikut:
a. Acara pembukaan dengan susunan acara sebaga berikut:
 Pembukaan
 Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an
 Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI
 Laporan Ketua Panitia
 Sambutan-sambutan
1. Ketua Umum Cabang
2. Ketua Umum Badko
3. Ketua Umum PB HMI dan membuka LK II
 Penyerahan berkas acara training dari SC ke MOT
 Do’a
 Penutup, dilanjutkan dengan penyerahan acara kepada MOT
b. Acara pertama setelah pembukaan adalah checking peserta training dan
c.
d.
e.
f.
perkenalan antara peserta dan panitia, selanjutnya adalah kontrak belajar.
Pelaksanaa training selanjutnya dilaksanakan sesua jadwal acara training yang
telah ditetapkan. Dan tetap harus dijaga suasana training yang intelektualitas,
religus, persaudaraan dan menyenangkan.
Trainig harus memenuhi materi wajib LK II, dan cabang diberikan kreatifitas
untuk menambahkan materi muatan lokal sesuai dengan kebiasaan dan
kebutuhan peserta.
Adanya evaluasi dari training kepada peserta (post test) oleh BPL atau PA
Cabang
Acara penutupan dengan susunan acara sebagai berikut:
 Pembukaan
 Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an
 Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI
 Arah perkaderan (akhir) & Pembacaan SK kelulusan peserta LK II
 Pembacaan Ikrar Pelantikan
 Laporan Ketua Panitia
 Sambutan-sambutan
1. Ketua Umum Cabang
2. Ketua Umum Badko
3. Ketua Umum Cabang PB HMI dan Penutupan LK II
 Do’a Penutup
3. Fase sesudah training
a. OC bertanggungjawab atas kesekretariatan (tempat ataupun inventaris) HMI
Cabang yang dipinjamkan oleh cabang.
b. Panitia wajib melakukan evaluasi dan membuat LPJ kepada pengurus cabang
dan selanjutnya diteruskan kepada PA cabang
c. Pengurus Cabang Bidang PA mengirimkan surat himbauan kepada pengurus
cabang asal peserta LK II yang lulus untuk mengadakan follow up kepada
kader yang telah lulus LK II dimaksud
MANAJEMEN TRAINING
Dalam upaya menciptakan pelaksanaan training yang baik dan berkualitas
diperlukan manajemen yang baik, yang dimaksud dengan manejemen training
adalah seni untuk mengatur agar tercapainya tujuan training. Berdasarkan hal
tersebut, maka LK II merupakan training pembentukan kader-kader yang
mempunyai kemampuan intelektualitas dan dapat mengelola organisasi dalam
rangka memperjuangkan misi HMI, sehingga dalam manajemen trainingnya harus
mendukung pada aspek intelektualitas dan kemampuan manajerial organisasi,
pembobotan dalam LK II adalah kognitif (40%), afektif (30%), dan psikomotorik
(30%). Hal-hal yang dimaksud dalam manajemen training ini adalah:
1)
Kurikulum
Kurikulum yang terdapat dalam pedoman merupakan penggambaran tentang
metode dari training. Oleh sebab itu penerapan dari kurikulum adalah erat
kaitannya
dengan
masalah
yang
menyangkut metode-metode
yang
dipergunakan dalam training. Dalam penerapan kurikulum ini agar diperhatikan
aspek-aspek:
a) Penyusunan jadwal materi training
Jadwal training adalah sesuatu yang merupakan gambaran tentang isi dan
bentuk-bentuk training. Oleh karena itu penyusunan jadwal harus
memperhatikan urutan-urutan materi pokok sebagai korelasi yang tidak berdiri
sendiri (asas integratif). Berdasarkan hal tersebut maka urutan materi pokok
dalam LK II HMI adalah sebagai berikut :
1. Teori-teori Perubahan Sosial
2. Pendalaman Mission HMI
3. Pendalaman Nilai-nilai Dasar Perjuangan
4. Ideopolitor, Strategi dan Taktik
5. Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi
Dalam hal diperlukan adanya materi penunjang/tambahan, maka harus
diperhatikan korelasinya dengan materi pokok, jangan sampai memutus
hubungan antar materi pokok.
b) Metode Penyampaian
Cara penyampaian materi pada LK II pada dasarnya harus memenuhi prinsip
penyegaran dan pengembangan gagasan di tingkat pengelola, serta
penyegaran gagasan dan pemahaman di tingkat peserta, dengan demikian
diharapkan akan muncul gagasan-gagasan yang kreatif dan inovatif di dalam
forum training. Selain itu penyampaian materi harus mencapai target/sasaran
dari tujuan materi khususnya dan tujuan LK II umumnya, serta membangun
suasana training/forum yang tidak menjenuhkan.
2)
Suasana Training
Suasana training merupakan komponen penting dalam kesuksesan pelaksanaan
training, karena suasana akan mempengaruhi kondisi psikologis orang-orang
yang terlibat dalam pertrainingan. Suasana training harus dilihat secara
komprehensif, karena training bukan hanya sebatas forum penyampaian materi,
tetapi lebih jauh daripada itu, seluruh aktivitas sejak dibukanya training sampai
dengan penutupan, dalam arena atau lokasi tempat training diadakan.
Dengan demikian pemahaman tentang arena training tidak hanya terbatas pada
forum saja. Implikasi dari pemahaman tersebut adalah suasana training harus
dibangun pada keseluruhan arena training, sehingga segala aturan akan
mengikat pada keseluruhan kegiatan training, tidak hanya pada saat di forum.
Suasana yang harus dibangun dalam kegiatan pertrainingan secara umum
adalah sebagai berikut:
a) Menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama unsur individu dalam
training
b) Tidak menimbulkan kejenuhan di antara unsur individu dalam training
c) Tercipta kondisi yang equal (setara) antara sesama unsur individu dalam
training; menciptakan kondisi equal antar segenap unsur training berarti
mensejajarkan dan menyetarakan semua unsur yang ada dalam training.
d) Terciptanya suasana Islami; untuk menciptakan suasana yang Islami sebagai
identitas an kader muslim intelektual profesional, dapat dilakukan dengan
jalan mengisi dengan aktivitas ritual pada waktu-waktu tertentu, serta
menonjolkan sikap-sikap dan prilaku yang baik.
e) Terciptanya suasana intelektual; dapat dilakukan dengan cara penyediaan
bahan bacaan di arena training dan menyediakan media tempat mencurahkan
buah pemikiran.
Dengan pemahaman bahwa training adalah seluruh aktivitas yang dilakukan
pada masa training, maka pada waktu tersebut seluruh dinamika dan suasana
training
harus
dibentuk
oleh
seluruh
komponen,
khususnya
senior/pemandu/instruktur harus mampu memberikan contoh yang baik pada
yuniornya/peserta. Dengan demikian suasana training yang mendidik dan
menyenangkan dapat terbangun, aktivitas yang tidak berkaitan dengan training,
“omongan bocor”, dan sikap lain yang kontraproduktif harus dieliminir.
3)
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan training
menganut asas minimalis, maksudnya dengan kesiapan logistik yang minimal,
kegiatan training dapat tetap berlangsung dengan kualitas yang baik. Keperluan
forum yang mesti tersedia adalah alat tulis, lebih baik jika terdapat perlengkapan
pendukung lainnya. Demikian pula dengan akomodasi dan perlengkapan lainnya,
kondisi minimalis diharapkan dapat meningkatkan militansi dan kreativitas kader.
4)
Jumlah Peserta
Jumlah peserta akan mempengaruhi konsentrasi peserta dalam memahami
materi yang diberikan. Berdasarkan pemikiran tersebut maka dalam LK II jumlah
peserta yang ideal adalah minimal 15 (lima belas) orang dan maksimal 35 (tiga
puluh lima) orang perkelas.
SELEKSI
Untuk mendapatkan output yang baik harus berangkat dari input dan process yang
baik pula. Latihan Kader II yang merupakan proses pembentukan output agar sesuai
dengan tujuan dan targetnya, maka harus didukung oleh input yang baik. Calon
peserta sebagai bahan baku yang akan diproses dalam LK II tentu harus memiliki
kualifikasi tertentu agar dapat menjadi kader sesuai dengan harapan dan tujuan
perkaderan. Kualifikasi umum calon peserta LK II adalah sebagai berikut:
a)
Terdaftar sebagai kader aktif HMI, dan tidak sedang menjalani skorsing
organisasi
c) Telah lulus sebagai peserta LK I
Seleksi dilakukan dengan cara: Wawancara, berfungsi untuk menguji konsistensi
jawaban, dan menggali lebih dalam pengetahuan calon peserta, serta menggali
motivasi dan potensi calon peserta. Apabilamotivasi ada “distorsi” maka
pewawancara betugas untuk meluruskannya. Screaning berisi pertanyaanpertanyaan
tentang
materi-materi
HMI,
NDP,
ke-Islam-an
dan
keIndonesiaan/wawasan nasional.
MATERI TRAINING
Latihan Kader II memiliki muatan-muatan pembentukan kader yang mempunyai
kemampuan intelektualitas dan dapat mengelola organisasi dalam rangka
memperjuangkan misi HMI, sehingga dalam manajemen trainingnya harus
mendukung pada aspek intelektualitas dan kemampuan manajerial organisasi.
Adapun materi yang diberikan dalam LK II ini harus seragam dan standar di seluruh
cabang, karena jika fondasi ini beragam akan mengakibatkan konstruksi yang
lemah.
Materi-materi yang diberikan dalam LK II ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
materi pokok dan materi penunjang atau tambahan. Materi pokok adalah kelompok
materi yang wajib ada dan disampaikan dalam forum LK II, materi ini merupakan
materi standar bagi pelaksanaan LK II HMI.
Sedangkan materi penunjang atau tambahan adalah materi yang telah menjadi
kemestian untuk ada dalam training (misal materi perkenalan dan orientasi latihan,
dan materi evaluasi dan rencana tindak lanjut), atau materi yang merupakan
prasyarat tercapainya pemahaman materi pokok atau materi yang memiliki
hubungan/penurunan dari materi pokok dan memiliki keterkaitan dengan tujuan
perkaderan yang menjadi karakter lokal.
TATA CARA PENILAIAN PESERTA LATIHAN KADER II
A. Aspek-aspek yang dinilai
Selama berlangsungnya LK II, aspek-aspek yang dinilai dibagi menjadi dua
bagian, yaitu :
1) Kuantitatif
Bentuk penilaian yang terhadap peserta LK II dalam bentuk angka-angka.
Penilaian ini didapat dari hasil test (menjawab soal), penugasan, dan lain
sebagainya.
2) Kualitatif
Bentuk penilaian pemandu terhadap peserta yang diwujudkan dalam komentar
atau rekomendasi atau gambaran dekriptif terhadap peserta yang sifatnya
kualitatif, misal baik, buruk, dan lain sebagainya.
B. Ranah dan Persentase Nilai
Sesuai dengan pedoman perkaderan HMI, ranah yang dinilai meliputi :
1) Ranah afektif (sikap) dengan bobot sebesar 30%, dengan acuan pada sikap
peserta terhadap aturan main yang berlaku, misal taat atau melanggar atau
terhadap pesan dari sebuah materi berdampak atau tidak terhadap sikap,
dapat diuji dengan pertanyaan yang subyektif.
2) Ranah kognitif (pengetahuan) dengan bobot sebesar 40%, dengan melihat
hasil test terhadap peserta melalui pertanyaan yang sifatnya obyektif
3) Ranah psikomotorik (tindak) dengan bobot 30% dengan acuan pada prilaku
peserta, misal apakah dia mau membantu orang lain atau tidak dan lain
sebagainya.
C. Teknik Penilaian
Untuk menilai peserta LK I sehingga dapat ditentukan kelulusannya adalah
berdasarkan akumulasi nilai dari semua ranah. Semua penilaian menggunakan
penilaian kuantitatif. Standar nilai menggunakan angka 0–100.
1) Penilaian Afektif
Penilaian afektif harus dikonversi dari nilai yang sifatnya kualitatif menjadi
kuantitatif dengan cara memberikan nilai 100 kepada semua peserta di awal
training. Penilaian tidak mungkin bertambah tetapi akan berkurang jika terjadi
pelanggaran interval 5, bobotnya tergantung besarnya kesalahan yang
dilakukan, misal terlambat akan berbeda bobotnya dengan tidak hadir dalam
satu session.
2) Penilaian Kognitif
Penilaian kognitif dilakukan dengan mengakumulasikan jumlah nilai-nilai test
dan tugas yang sifatnya obyektif.
3) Penilaian Psikomotorik
Hampir sama dengan afektif, maka nilai psikomotorik harus dikonversi menjadi
kuantitatif, caranya adalah memberikan nilai 50 kepada semua peserta di awal
training, dan mengalami penambahan dengan interval 5, jika peserta
melakukan hal-hal baik secara sadar.
4) Penilaian Akhir
Nilai akhir adalah nilai akumulasi seluruh ranah. Untuk penilaian akhir ini
menggunakan rumus :
NA = ((N afektif x 50%) + (N rata-rata kognitif x 30%) + (N psikomotorik x
20%)) x 10
Contoh :
Misalkan si yakusa mendapatkan nilai rata-rata test dan tugas sebesar 75, dan
beberapa kali melakukan kesalahan sehingga mendapat pinalti sebesar 30,
namun ia juga banyak membantu orang lain dan banyak berbuat baik, jadi dia
diberi tambahan nilai untuk perbuatan sebanyak 35.
Akumulasi nilai untuk Yakusa adalah :
Nilai afektif = (100 – 30) = 70
Nilai rata-rata kognitif = 75
Nilai psikomotorik = (50 + 35) = 85
Maka nilai akhirnya adalah :
NA = (70 x 50%) + (75 x 30%) + (85 x 20%)
NA = 35 + 22,5 + 17
NA = 74,5 x 10
NA = 745
Peserta dapat dinyatakan lulus apabila memiliki NA ≥ 600
Sumber : MODUL LK II BAKORNAS LPL PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA
ISLAM
Kode Etik Pemateri LK I
1. Pemateri LK II memegang mandat dari BPL
2. Berpakaian sopan, minimal kemeja dan celana panjang rapih
3. Dilarang merokok selama meyampaikan materi
4. Menjaga perilaku selama meyampaikan materi
5. Hadir 15 menit sebelum jadwal meyampaikan materi
6. Pembatalan dilaporkan kepada MOT, selambat-lambatnya 24 jam sebelum
meyampaikan materi
7. Selama training tidak diijinkan untuk ‘membuka hubungan secara pribadi’
dengan peserta dan panitia
8. Menjaga profesionalisme sebagai seorang pemateri
9. Sanksi terhadap pelanggaran kode etik diatas akan ditentukan kemudian oleh
BPL
PENUTUP
Untuk membangun suasana yang menyenangkan dan tidak menjenuhkan, dalam
pelaksanaan training dapat diselingi dengan Ice Breaking atau energizer dan lagulagu yang dapat memacu semangat.
Dengan kata lain keberhasilan pengelolaan training sangat tergantung
padapemandu dan fasilitator dalam mengelola training, sehingga kreatifitas yang
tinggi mutlak diperlukan dalam pelaksanaan modul ini.
Sekali lagi, sekedar
mengingatkan, modul yang baik adalah kertas kosong, sehingga pertrainingan tidak
pernah statis, tetapi akan terus berkembang secara dinamis menuju perbaikan.
Yakin Usaha Sampai
Billahittaifiq wal hidayah
PEDOMAN LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI & JUKLAK LEMBAGA
PROFESI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. UMUM
Pada dekade terakhir, kawasan asia pasifik adalah regional yang paling pesat
tingkat pertumbuhanya dibandingkan dengan kawasan manapun dan berdasarkan
proyeksi dari bank dan bank moneter Internasional dan lembaga asing di percaya.
pada dekade berikutnya, kawasan ini masih merupakan pusat pertumbuhan dunia
terbesar dan dapat dilihat dari berbagai indikator perubahan, termasuk Indonesia.
Berbagi perubahan sudah terjadi di Indonesia, perubahan ini tidaklah
diperoleh dengan mudah. Kebijaksanaan fudamental dan stabilitas makro, investasi
yang menarik, keterbukaan dalam teknologi yang ditujukan dengan perbaikan sikap
terhadap teknologi dan jalan menuju alam demokratis yang dikehendaki rakyat
sudah merupakan celah, dan bersiap memasuki era industri, menunjukkan sebagai
upaya percapaian tujuan pembagunan nasional dimana menjadi kewajiban seluruh
Negara RI yang sadar. Dan harus diperjuangkan secara serius terus-menerus
dengan terencana.
Namun proses modernisasi dan pembangunan ini bila diteliti lebih dalam,
sangatlah mengesankan perubahan aspek-aspek kehidupan masyarakat yang
dimotori pertumbuhan ekonomi dengan diiringi oleh perbaikan teknologi dan
birokrasi, belumlah mengatasi ketimpangan luas yang sedang berlangsung dalam
masyarakat. Diantaranya masih terdapatnya daerah terisolir, desa tertinggal,
kantong-kantong kemiskinan, pelayanan umum yang sarat dengan permasalahan,
ledakan angkatan kerja yang tak teratasi oleh penyedia lapangan kerja yang
memunculkan berbagai bentuk social lost dan budaya korup masih merupakan
permasalahan stuktural yang sekaligus merupakan tantangan dari dan dalam
menuju masyarakat industri modern.
Bagi bangsa Indonesia pada PJP II bermaksud untuk masuk sebagai negara
yang tergolong Negara industri, dimana sektor industri menjadi dominan dalam
memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional maka kebutuhan terhadap
tenaga profesional menjadi suatu keharusan di seluruh sektor dan berbagai wujud
dari masyarkat modern.
Sampai saat ini untuk mencetak tenaga-tenaga profesional merupakan tugas
dunia pendidikan tinggi. Walapun tugas tersebut sudah dilakukan secara maksimal
namun dibandingkan dengan kebutuhan baik secara kuantitas dan lebih-lebih
secara kualitas masih belum memenuhi harapan, sehingga tidak aneh bila pada
aspek-aspek dan posisi tertentu banyak diisi oleh tenaga profesional asing. Keadaan
ini tidak boleh dibiarkan secara terus menerus. Karena itu selain mempertajam
orientasi pada perkembangan sains dan teknologi sangat penting menciptakan
masyarakat, khususnya yang bergerak di sektor pendidikan atau dalam pengertian
lebih luas diarahkan pada penciptaan kelas menengah baru yang terdidik secara
profesional.
Itulah sebabnya dalam GBHN 1993 meletakkan political will untuk
menjadikan kualitas sumber daya manusia sebagai sasaran utama pembangunan.
Dan HMI sebagai organisasi kader yang berbasis keilmuan telah memberikan
perhatian pada pembentukan kualitas sumber daya manusia dengan orientasi
‘muslim intelektual profesional sebagai hakekat tujuan organsasi’. Pada saat ini dan
untuk ke depan dengan latar diatas, bobot intelektual dan bobot politis generalis
perlu penajaman dan kemampuan profesional merupakan keharusan yang harus
dimiliki oleh setiap kader, karena itulah lembaga pengembangan profesi yang
kehadirannya diperuntukkan menjawab kondisi ke depan, maka perlu dikelola
sebagai alternatif pengembangan kader. Untuk itu penciptaan kondisi yang lebih
baik pada seluruh perangkat sistem yang ada, perlunya perbaikan struktur yang
cocok antara kondisi kemahasiswaan dan keperluan yang ada, untuk diorientasikan
pada perkaderan agar lebih dipertajam lagi, kurikulum latihan harus memuat
tentang pendidikan profesional/materi yang menyangkut seutuhnya sekaligus
membangun kultur masyarkat bersih yang sarat muatan etis dengan menempatkan
kembali esensi kepribadian HMI dan latar belakang hadirnya HMI.
1.2 SEJARAH LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI HMI
Terbentuknya lembaga pengembangan profesi sebagai satu dari institusi HMI
terjadi pada kongres ke tujuh HMI di Jakarta pada tahun 1963 dengan
diputusakannya mendirikan beberapa lembaga khusus (sekarang lembaga
pengembangan profesi) dengan pengurus pusatnya ditentukan berdasarkan kuota
yang mempunyai potensi terbesar pada jenis aktifitas lembaga pengembangan
profesi yang bersangkutan diantaranya :
 Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) dipusatkan di Surabaya
 Lembaga Da’wah mahasiswa Islam (LDMI) yang dipusatkan di Bandung
 Lembaga Pembangunan Mahasiswa Islam (LPMI) pusatnya di Makassar
 Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSBMI) pusatnya di Yogyakarta
Dan kondisi politik tahun 60-an berorientasi massa, lembaga pengembangan
profesi pun semakin menarik sebagai suatu faktor bagi berkembang pesatnya
lembaga pengembangan profesi ditunjukkan dari :
 Adanya hasil penelitian yang menginginkan dipertegasnya status
lembaga pengembangan profesi, struktur organisasi dan wewenang
lembaga pengembangan profesi
 Keinginan untuk menjadi lembaga pengembangan profesi otonom penuh
terhadap organisasi induk HMI
Kemudian sampai pada tahun 1966 diikuti oleh pembentukan Lembaga
Teknik Mahasiswa Islam (LTMI), Lembaga Pertanian Mahasiswa Islam (LPMI),
Lembaga Astronomi Mahasiswa Islam (LAMI). Akhirnya dengan latar belakang di
atas melalui kongres VIII HMI di Solo melahirkan keputusan Kongres dengan
memberikan status otonom penuh kepada lembaga pengembangan profesi dengan
memberikan hak yang lebih kepada lembaga pengembangan profesi tersebut,
antara lain :
a. Mempunyai struktur organisasi yang bersifat nasional dari tingkat pusat
sampai rayon
b. Memiliki Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga (PD/PRT) sendiri
c. Membentuk dan mengadakan musyawarah lembaga termasuk memilih
pimpinan lembaga
Keputusan-keputusan di atas di satu pihak lebih mengarahkan kepada
kegiatan lembaga, namun di lain pihak lebih merugikan organisasi di tingkat induk
bahkan justru menimbulkan permasalahan serius. Ini dibuktikan dengan adanya
evaluasi pada kongres di Malang pada tahun 1969, dimana kondisi pada saat
tersebut lembaga pengembangan profesi sudah cenderung mengarah kepada
perkembangan untuk melepaskan diri dari organisasi induknya.
Sehingga dalam evaluasi kongres IX HMI di Malang tahun 1969 antara lain
melalui papernya mempertanyakan :
a. Status lembaga dan hubungan dengan organisasi induknya (HMI)
b. Perlu tidaknya penegasan oleh kongres, bahwa lembaga pengembangan
profesi adalah bagian mutlak dari HMI misalnya LKMI menjadi LK HMI, LDMI
menjadi LD HMI, dsb.
Setelah kongres X di Palembang tahun 1971, perubahan kelembagaan tidak
lagi menjadi permasalahan dan perhatian Himpunan. Hal ini mengakibatkan
lembaga pengembangan profesi perlahan-lahan mengalami kemunduran dan
puncaknya terjadi saat diterbitkannya SK Mendikbud tentang pengaturan kehidupan
kemahasiswaan melalui NKK/BKK tahun 1978.
Namun realitas perkembangan organisasi merasakan perlu dihidupkannya
kembali, lembaga pengembangan profesi yang dikukuhkan melalui kongres XIII HMI
di Ujung Pandang. Kemudian Lembaga Kekaryaan menjadi perhatian/alternatif baru
bagi HMI karena gencarnya isu profesionalisme. Melalui kongres XVI di Padang
tahun 1986 pendayagunaan Lembaga Kekaryaan kembali dicanangkan.
Setelah melalui sejarah panjang perkembangannya, lembaga pengembangan
profesi telah menunjukkan dirinya sebagai wadah alternatif bagi kader HMI untuk
mengkader diri selain melalui struktur kepemimpinan. Kini, peran lembaga
pengembangan profesi diharapkan makin diperkuat dan dipertajam arahannya
dalam meningkatkan profesionalisme di tubuh HMI. Oleh karena itu, melalui Kongres
HMI XXV di Makassar tahun 2006 ini peningkatan dan penajaman semangat
profesionalisme diiringi dengan perubahan nama Lembaga Kekaryaan menjadi
Lembaga Pengembangan Profesi.
1.3 Maksud dan Tujuan
a. Maksud dari Lembaga Pengembangan Profesi
Adanya Lembaga Pengembangan Profesi dimaksudkan untuk mempertajam
alat pencapai tujuan HMI dengan mengoptimalkan potensi pengetahuan,
minat, dan bakat anggota HMI secara profesional.
b. Tujuan Lembaga Pengembangan Profesi
i. Dalam rangka mencapai tujuan HMI
ii. Menuntaskan persoalan-persoalan anggota HMI dan umat pada
umumnya yang menyangkut bidang profesi.
1. 4. Lembaga Pengembangan Profesi
Yang dimaksud dengan Lembaga Pengembangan Profesi adalah badanbadan khusus HMI (diluar KOHATI, BPL, dan Balitbang) yang bertugas melaksanakan
kewajiban-kewajiban HMI sesuai dengan fungsi dan bidangnya (garapan) masingmasing, latihan kerja berupa dharma bhakti kemasyarakatan dalam proses
pembangunan bangsa dan negara. Sebagaimana terdapat dalam unsur pokok
Esensi Kepribadian HMI yang meliputi :
1. Dasar Tauhid yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, yakni dasar
keyakinan bahwa “Tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah adalah merupakan
inti daripada iman, Islam dan Ihsan.
2. Dasar keseimbangan yaitu keharmonisan antara pemenuhan tugas dunia dan
akhirat, jasmaniah dan rohaniah, iman dan ilmu menuju kebahagiaan hidup
dunia dan akhirat.
3. Kreatif, yakni memiliki kemampuan dengan cipta dan daya kritis, hingga
memiliki kebijakan untuk berilmu amaliah dan beramal ilmiah.
4. Dinamis, yaitu selalu dalam keadaan gerak dan terus berkembang serta
dengan cepat memberikan respon terhadap setiap tantangan yang dihadapi
sehingga memiliki fungsi pelopor yang patriotik.
5. Pemersatu, yaitu sikap dan perbuatan angkatan muda yang merupakan
kader seluruh umat Islam Indonesia menuju persatuan nasional.
6. Progresif dan Pembaharu, yaitu sikap dan perbuatan orang muda yang
mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Memihak
dan membela kaum-kaum yang lemah dan tertindas dengan menentang
penyimpangan dan kebatilan dalam bentuk dan manifestasinya. Aktif dalam
pembentukan dan peranan umat Islam Indonesia yang adil dan makmur yang
diridhoi oleh Allah SWT.
Dilihat dari jenisnya, maka lembaga Pengambangan Profesi yang pernah
ada:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI)
Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI)
Lembaga Da’wah Mahasiswa Islam (LDMI)
Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI)
Lembaga Pertanian Mahasiswa Islam (LPMI)
Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI)
Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSMI)
Lembaga Astronomi Mahasiswa Islam (LAMI)
Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI)
Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI)
Lembaga Penelitian Mahasiswa Islam (LEPMI)
Dan lembaga-lembaga yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan karena
lembaga pengembangan profesi adalah badan pembantu pimpinan HMI,
maka dengan melaksanakan tugas/fungsional (sesuai dengan bidangnya
masing-masing) haruslah terlebih dahulu dirumuskan dalam suatu
musyawarah tersendiri. Musyawarah badan yang selanjutnya disebut
rapat kerja itu, bertugas untuk menjabarkan program HMI yang telah
diputuskan oleh instansi-instansi kekuasaan HMI.
BAB II
LANDASAN, STATUS DAN FUNGSI
2.1 Landasan
Pedoman Lembaga Pengambangan Profesi HMI ini dilandaskan atas :
2.1.1.Landasan Idiil
tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah SWT (Pasal 4 AD HMI).
2.1.2.Landasan Konstitusional
Landasan konstitusional lembaga pengembangan profesi adalah Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga HMI serta ketetapan-ketetapan kongres
dan kebijaksanaan lain yang ditetapkan secara formal organisatoris.
2.1.3.Landasan Historis
Landasan Historis lembaga pengembangan profesi adalah motivasi dasar
kelahiran HMI yaitu memenuhi panggilan bangsa dan agama untuk
meningkatkan harkat kehidupan rakyat Indonesia dalam rangka mengisi
kemerdekaan.
2.2. Status
Status lembaga pengembangan profesi HMI merupakan kesatuan organisasi
yang dibentuk untuk menyalurkan minat, bakat, dan kemampuan profesi
anggota dalam suatu lingkup cabang (Pasal 61 ART HMI).
2.3.
Fungsi
a. Melaksanakan peningkatan wawasan profesionalisme anggota, sesuai
dengan bidang masing-masing, (Pasal 59 ART HMI) dan lembaga
pengembangan profesi bertanggung jawab kepada pengurus HMI
setempat (Pasal 60 ayat d ART HMI)
b. Melaksanakan dan mengembangkan kebijaksanaan HMI untuk
meningkatkan keahlian para anggota melalui pendidikan, penelitian dan
latihan kerja praktis serta darma bakti kemasyarakatan (pasal 60 ayat b
ART HMI)
BAB III
MASALAH DAN POTENSI LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI
3.1.
Umum
a. Lembaga pengembangan profesi dipandang sebagaimana terbentuk dan
berkembangnya segenap keahlian anggota tidak dapat melaksanakan dan
melepaskan diri dari saling mempengaruhi (interaksi) dengan lingkungan
sekitarnya.
b. Tanggung jawab lembaga pengembangan profesi sebagaimana yang terdapat
dalam Esensi Kepribadian HMI berintikan :
b.1. Kemurnian idealisme
b.2. Pengabdian yang ikhlas dan imani
b.3. Keberanian dan kepeloporan
b.4. Pembaruan dan pemersatu
b.5. Keteguhan janji, sikap dan kepribadian mandiri, selain itu lembaga
pengembangan profesi diharapkan merelevansikan pendapat, sikap
dan tindakan dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam
masyarakat. Dan merupakan suatu kenaifan bila potensi ini
mengalami degradasi yang akan menimbulkan masalah baik secara
pribadi maupun institusi HMI
c. Perubahan-perubahan sosial yang bergerak sangat cepat sebagai akibat
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, haruslah dihadapi dengan penuh
perhitungan, kematangan dan kesiapan mental. Proses pembangunan
nasional yang meliputi bidang ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan
keamanan belum dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan
kemasyarakatan dan kenegaraan yang ada. Sementara ledakan penduduk
belum dapat dikendalikan, muncul pula berbagai krisis dunia dalam bidangbidang moneter, ekonomi, energi, lapangan kerja, nilai moral, norma agama,
dan sebagainya. Hal-hal seperti ini sangat mempengaruhi masyarakat
(apalagi generasi muda/mahasiswa) sebagaimana masalah yang langsung
menyangkut kepentingan kini dan mendatang.
3.2. Beberapa Permasalahan
Pada garis besarnya permasalahan-permasalahan itu antara lain antara lain
dapat dinilai dari aspek :
3.2.1.Sosial-Psikologi dan Sosial-Edukasi
proses pertumbuhan dan perkembangan kewajiban seseorang dipengaruhi
oleh tingkat pendidikannya, formal maupun non formal tetapi karena
pendidikan belum merata maka suasana yang edukatif dalam kehidupan
bermasyarakat belum tercipta (berlangsung) seperti yang diharapkan.
3.2.2.Sosial-Budaya dan Sosial-Religius
Krisis nilai dan pergeseran norma-norma sosial ini makin nampak dalam
kehidupan masyarakat perkotaan, utamanya di kota-kota besa. Sentuhansentuhannya dewasa ini tengah merembes jauh ke masyarakat pedesaan.
Sehingga dalam suasana tradisional (seperti sekarang) akibat langsung yang
segera dirasakan antara lain rasa ketidakpastian karena sedang berlangsung
proses seleksi terhadap nilai-nilai baru. Dalam proses seleksi tersebut
kemungkinan yang bisa terjadi adalah timbulnya sikap-sikap penolakan
secara mutlak (negasi), keterasingan (alienasi), penerimaan secara prematur
atau pun pembaharuan nilai-nilai yang mengaburkan identitas. Sekalipun
subjek pergeseran itu hanyalah suatu pola budaya asing (budaya substitusi)
umpamanya gejala penikmatan kebendaan secara berlebihan, citra
kehidupan Happy, dan seterusnya dan kekaburan oleh timbulnya
kecenderungan peremehan ajaran-ajaran norma agama, pendangkalan
semangat norma keagamaan/kesadaran terhadap keyakinan agama tersebut.
atau sebaliknya justru pengarahan semangat keagamaan secara tidak
proporsional sehingga agama tidak dapat berbagi tempat dengan segi-segi
kebudayaan. Akhirnya, jika dihadapi dalam keadaan tidak siap dan krisiskrisis itu akan menipiskan kesadaran berbangsa dan bernegara yang pada
gilirannya akan mengoyangkan sendi-sendi kepribadian nasional.
3.2.3.
Permasalahan Pengembangan Kualitas SDM
 Permasalahan kualitas SDM
 Persaingan kulitas SDM
 Bagaimana pengembangan kualitas SDM
3.2.4.Sosial-Ekonomi
Ledakan penduduk dengan implikasi membengkaknya ketimpangan proporsi
angkatan kerja dengan kesempatan kerja, belum ratanya pembangunan dan
hasil-hasil
pembangunan
senantiasa
menimbulkan
permasalahanpermasalahan baru. sementara korporasi raksasa (multilateral orporation)
semakin akumulatif dan sepihak, sistem ekonomi dan kebijakasanaan
perekonomian kita sendiri pun belum dapat sepenuhnya dijiwai oleh rumusan
dan semangat falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila. Di lain pihak,
ketergantungan devisa negara pada sektor minyak bumi masih
besar/menentukan, padahal cadangan yang ada semakin terkuras. Tetapi
pengelolaan sumber-sumber non-minyak, di sana-sini membawa implikasi
bagi kelestarian lingkungan hidup, misalnya pembabatan hutan yang
mengikuti peremajaan/penghijauan kembali.
3.2.5.Sosial-Politik
Struktur sosial atau infrastruktur politik yang ada belum memberikan wahana
mobilisasi bagi segenap potensi bangsa. Sosialisasi politik tidak berbanding
lurus dengan perbandingan politik, tetapi dilaksanakan terbatas pada
momentum-momentum sesaat. Sehingga masyarakat kurang tahu (tidak
terbiasa) menggunakan hak asasi politiknya, malah lebih diberatkan untuk
menunaikan kewajiban-kewajiban sipilnya selaku warga negara. Hal itu
melahirkan permasalahan tersendiri, misalnya timbulnya dorongan
partisipasi politik secara berlebihan, kadang-kadang radikal biasanya tidak
proporsional, dan kemelut permasalahan seperti itu tidak tertanggulangi
secara tuntas apabila disorot atau yang ditangani hanya gejala (aksi-aksi
politik) karena akar permasalahan tidak tertentu.
Untuk menangulangi permasalahan-permasalahan tersebut di atas
diperlukan sikap-sikap demokratis, kesadaran dan kemauan politik dari
semua pihak. Pendekatannya yang dialogis dan humanis, agar
penanganannya lebih mendasar, terbuka dan kumulatif. Baru kemudian
pelaksanaannya: sistematis, terpadu, berencana, terarah dan berlangsung
terus menerus. Dalam hal ini, pelibatan potensi generasi muda atau
mahasiswa sebagai filter sosial dalam setiap proses penyelesaian
(penaggulangan) tidak saja memberikan pengalaman kemasyarakatan yang
berharga, tetapi juga sudah waktunya generasi muda/mahasiswa sendiri
akan tampil mengambil prakarsa, atas dasar kesadaran bermasyarakat,
berbangsa dan bertanah air.
Untuk itu organisasi-organisasi pemuda/mahasiswa yang selama ini telah
timbul dan berjalan baik merupakan lapisan masyarakat yang potensial untuk
melanjutkan kontinuitas sejarah dan pembagian nasional. Mereka harus
dibina dikembangkan, dibiasakan mengambil prakarsa sendiri, menanggung
resiko agar mereka tumbuh menjadi generasi yang dewasa dan matang.
terutama dalam menyongsong masa depan pribadi, masyarkat, bangsa dan
negaranya.
Akan halnya HMI lewat lembaga pengembangan profesi berupaya tidak saja
menanamkan dasar-dasar motivasi, keilmuan dan keterampilan praktis sesuai
bidang garapan masing-masing. Dengan demikian lembaga pengembangan
profesi harus lebih ditingkatkan terutama dalam menghadapi tantangantantangan zaman. Dalam kaitan itulah beberapa hal perlu diperhatikan :
a. Lembaga-lembaga khusus yang telah dimiliki oleh cabang-cabang HMI harus
lebih digiatkan aktivitasnya, meluaskan jangkauannya, memperhatikan
prinsip-prinsip manajemen yang ada, sampai pada terapan administrasi
(termasuk pengelolaan dana).
b. Anggota-anggota kader HMI yang memiliki keahlian atau spesialisasi atau
sedang mendalaminya harus diberikan dorongan (motivasi) yang menunjang
bagi pengembangan kemampuannya untuk menjadi tenaga ahli profesional.
c. Semangat dedikasi dan idealisme perjuangan, diimplementasikan dalam
variasi yang seragam. Dengan demikian kehadiran lembaga pengembangan
profesi akan benar-benar dirasakan manfaatnya.
d. Kreativitas keagamaan dan karya-karya imani (amal Sholeh) sebagai
investasi kemanusiaan lebih ditingkatkan sebagai tugas para intelektual
muslim.
e. Potensi yang ada pada pemerintah dan masyarakat setempat untuk
kemungkinan adanya kerjasama yang saling menunjang/menguntungkan di
dalam usaha ke arah pembentukan, pembinaan dan pengembangan profesi
HMI.
BAB IV
TUJUAN DAN STRATEGI
PEMBINAAN, PENGEMBANGAN LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI
4.1. Tujuan Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Pengembangan
profesi
Tujuan pembinaan dan pengembangan lembaga pengembangan profesi adalah
untuk mempercepat proses perwujudan pemerataan lima kualitas insan cita
HMI yaitu :
(1) Insan Akademis
(2) Insan Pencipta
(3) Insan Pengabdi
(4) Insan yang bernafaskan Islam, dan
(5) Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur
yang diridhoi Allah SWT
4.2. Strategi pembinaan dan Pengembangan lembaga pengembangan
profesi HMI
Strategi dan pengembangannya haruslah disesuaikan dengan perkembangan
HMI secara keseluruhan, baik perkembangan itu disebabkan oleh kondisi
eksternal maupun internal (para anggota) HMI itu sendiri. Dengan demikian
faktor-faktor yang strategis bagi pembinaan dan pengembangan Lembaga
Pengembangan profesi HMI adalah :
4.2.1. Keimanan
Agar segenap anggota masyarakat dan lingkunganya betul-betul
menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
4.2.2. Intelektualitas
Dimensi Intelektualitas dan kemampuan berfikir sesorang harus
dikembangkan agar dalam kehidupannya manusia dalam menyerap
serta mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai
dengan ajaran Islam.
4.2.3. Kerja/Profesi
Mahasiswa Islam sebagai Human Resource bagi umat dan bangsa
mestilah dipersiapkan secara fisik, mental dan spiritual untuk menjadi
tenaga produktif, cakap, terampil, kreatif, dan bertanggungjawab.
Bahkan harus mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, sehingga
mereka mendapatkan kepastian masa depannya sesuai minat keahlian
(profesional).
4.2.4 Kepemimpinan
Pembinaan dan pengembangan kepemimpinan dimaksudkan sebagai
proses kaderisasi (proses pematangan) calon-calon pemimpin bangsa
dan
umat
agar
mereka
menjadi
cakap,
arif,
bijaksana,
bertanggungjawab, dan penuh dedikasi pada bangsa, negara dan
agamanya.
4.2.5 Pengabdian Masyarakat
Mahasiswa Islam sebagai generasi muda bangsa harus mampu
memahami dan mengahayati problema-problema yang dihadapi
masyarakat dan pemerintah, serta dapat mencarikan alternatif
pemecahan yang lebih baik, dalam rangka mencapai cita-cita
pembangunan nasional: masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT.
BAB V
JALUR PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN
LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI
Strategi pembinaan dan pengembangan yang dirumuskan di atas,
memerlukan kejelasan tentang cara dan sarana dalam pengejawantahan. Sehingga
semua pihak yang bersangkutan dapat memahami serta melaksanakan tugas
sesuai dengan bidangnya masing-masing. Untuk itu, ditetapkan tiga jalur
pembinaan dan pengembangan Lembaga Pengembangan profesi, yaitu:
5.1.
Jalur Utama
Dimaksudkan sebagai jalur utama ialah lembaga pengembangan profesi itu
sendiri yang langsung melaksanakan tugas dan fungsi khususnya sesuai
dengan penggarapan masing-masing.
5.2.
Jalur Penunjang
Dimaksudkan sebagai jalur penunjang adalah menghidupkan para fungsional
Lembaga Pengembangan profesi yang dapat dikembangkan menjadi suatu
institusi sosial baru yang mencerminkan kepedulian mahasiswa (khusus) dan
pemuda (umum) terhadap dinamika pembangunan. Melalui institusi sosial
baru ini, dapat menemukan model-model peran Lembaga Pengembangan
profesi dan proses bagi anggota HMI sendiri melalui kemitraan dalam
berbagai kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
5.2.1. Pemerintah
Pihak pemerintah diharapkan merupakan salah satu penunjang bagi
pelaksanaan program (baik) materil, iklim dan kebijaksanaan sehingga
dengan dukungan pemerintah ini diharapkan akan adanya kerjasama yang
saling menguntungkan baik untuk kepentingan HMI sendiri maupun
terlaksanya program-program pemerintah.
5.2.2. Masyarakat
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, maka Lembaga Pengembangan
profesi dalam merumuskan program kerjanya harus disesuaikan kondisi
masyarakat sekitarnya. Dengan demikian masyarakat tidak merasa asing
tetapi partisipasi spontan dan rasa memilikinya tumbuh secara wajar dan
sehat. Baik individu maupun kelompok.
5.2.3. Lembaga-lembaga Swasta
Sebagai media pengembang profesi, Lembaga pengembangan profesi HMI
bisa bekerjasama dengan lembaga-lembaga swasta yang sesuai, misalnya
yang bergerak dalam bidang-bidang keilmuan dan penelitian
5.3.
Jalur Koordinatif
5.3.1. Tingkat Cabang
Pengkoordinasian Lembaga Pengembangan profesi di Tingkat cabang
dilakukan oleh Lembaga Pengembangan profesi di tingkat cabang.
5.3.2 Tingkat Badan Koordinasi
Pengkoordinasian pada tingkat Regional dilakukan oleh Bidang
Pengembangan profesi Badko melalui Bidang Pengembangan profesi
Cabang di wilayah koordinasinya.
5.3.3. Tingkat Pengurus Besar
Untuk tingkat nasional dibentuk Bakornas yang berfungsi sebagai
koordinator
nasional
dan
berfungsi
mengkoordinir
lembaga
pengembangan profesi yang ada di cabang-cabang secara nasional di
bawah koordinasi lembaga pengembangan profesi PB HMI
BAB VI
PENUTUP
Pembinaan dan pengembangan lembaga pengembangan profesi HMI,
membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh warga HMI, masyarakat dan pemerintah.
Kerjasama yang baik perlu ditingkatkan secara terus menerus, agar dapat
mencapai hasil optimal bagi kemaslahatan bersama.
STRUKTUR ORGANISASI PENGURUS LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
1. Struktur Organisasi Lembaga Pengembangan Profesi
Struktur organisasi Lembaga Pengembangan Profesi HMI
spesialisasi tugas dan kewajibannya terdiri dari bidang :
1. Bidang perencanaan dan pengembangan
2. Bidang penelitian dan penalaran
3. Bidang pendidikan dan pelatihan
4. Bidang pengabdian masyarakat
5. Bidang usaha dan hubungan antar lembaga
6. Bidang administrasi dan keuangan
2. Komposisi Personalia Pengurus Lembaga Pengembangan Profesi
sesuai
dengan
Struktur oraganisasi pengurus lembaga pengembangan profesi diisi dengan
personalia disiplin ilmunya disesuaikan dengan bidang lembaga yang ada,
kecuali pada lembaga yang bersifat interdispliner. Diupayakan pula anggota
yang berprestasi dalam suatu lapangan disiplin ilmunya dan telah mengikuti
Latihan Kader II.
Komposisi personalia yang mengisi struktur organisasi LPP HMI adalah :
1.
Direktur
3.
2.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan
3.
Direktur Penelitian dan Penalaran
4.
Direktur Pendidikan dan Pelatihan
5.
Direktur Pengabdian Masyarakat
6.
Direktur Usaha dan Hubungan Antar Lembaga
7.
Direktur Administrasi dan Keuangan
8.
Departemen Kaderisasi
9.
Departemen Ke-Aparatan
10.
Departemen Usaha
11.
Departemen Kelembagaan
12.
Departemen Kesekretariatan
13.
Departemen Keuangan
14.
Departemen Pendataan
15.
Departemen Seleksi/Rekruitmen
16.
Departemen Pelatihan
17.
Departemen Observasi
18.
Departemen Operasi
19.
Departemen Hubungan Masyarakat (PR)
20.
Departemen hubungan antar lembaga
Fungsi Personalia Pengurus Lembaga Pengembangan Profesi
Masing-masing personalia Pengurus LPP HMI:
1. Direktur adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam
pelaksanaan tugas-tugas/program-program lembaga yang bersifat umum ke
dalam maupun ke luar.
2. Direktur Perencanaan dan Pengembangan adalah penanggung jawab dan
koordinator kegiatan dalam bidang perencanaan dan pengembangan, yang
menyangkut kontinuitas kepemimpinan, kepengurusan lembaga, dan
kontuinitas usaha-usaha mandiri.
3. Direktur Penelitian dan Penalaran adalah penanggung jawab dan koordinator
kegiatan dalam bidang
program-program penelitian dan penalaran,
menyangkut tersedianya data anggota dan data lainnya yang berkaitan
dengan lembaga berikut pengolahan dan analisa.
4. Direktur Pendidikan dan Pelatihan adalah penanggung jawab dan koordinator
kegiatan dalam bidang pendidikan dan pelatihan, menyangkut peningkatan
kualitas SDM personalia dan anggota LPP.
5. Direktur Pengabdian Masyarakat adalah penanggung jawab dan koordinator
kegiatan bidang program-program pengabdian masyarakat dan partisipasi
dalam pembangunan, yang menyangkut observasi teritorial, pelaksanaan
pengabdian dan hubungan luar.
6. Direktur Usaha dan Hubungan antar Lembaga adalah penanggung jawab
dan koordinator kegiatan dalam bidang dan program usaha-usaha mandiri,
pengabdian pada masyarakat dan partisipasi dalam pembangunan yang
menyangkut observasi teritorial, pelaksanaan pengabdian dan hubungan luar
lembaga.
7. Direktur Administrasi dan Keuangan adalah penggung jawab dan koordinator
umum dalam kegiatan di bidang administrasi kesekretariatan dan keuangan
lembaga.
8. Departemen Kaderisasi bertugas sebagai koordinator operasional kegiatan
kaderisasi dalam tubuh lembaga pengembangan profesi dan perencanaan,
distribusi kader, baik dalam struktur lembaga maupun di luar lembaga.
9. Departemen Keaparatan bertugas sebagai koordinator operasional kegiatan
pendayagunaan dan fungsionarisasi aparat di tubuh lembaga.
10. Departemen Usaha bertugas sebagai koordinator operasional dalam bidang
program-program usaha potensi lembaga yang mengarah kepada
kemandirian lembaga.
11. Departemen Kelembagaan bertugas sebagai koordinator operasional
kegiatan hubungan antar lembaga, ke dalam maupun ke luar lembaga
12. Departemen Kesekretariatan bertugas sebagai koordinator operasional
kegiatan dari tata usaha surat menyurat lembaga.
13. Departemen Keuangan bertugas sebagai koordinator operasional kegiatan
keuangan dan perlengkapan lembaga.
14. Departemen Pendataan bertugas sebagai koordinator operasional penelitian
dan pengkajian hasil-hasil pengkajian dan pendataan lembaga.
15. Departemen Seleksi/Rekruitmen bertugas sebagai koordinator operasional
seleksi dan rekruitmen anggota lembaga yang berasal dari anggota biasa
pada abang
16. Departemen Pelatihan bertugas sebagai koordinator operasional dalam
observasi proyek-proyek pengabdian lembaga.
17. Departemen Observasi bertugas sebagai koordinator operasional proyekproyek pengbdian lembaga.
18. Departemen Operasi bertugas sebagai koordinator operasional proyek-proyek
pengabdian lembaga.
19. Departemen Humas/PR bertugas sebagai koordinator operasional Hubungan
masyarakat/PR dan promosi lembaga di tengah keberadaan masyarakat.
20. Departemen Hubungan antar Lembaga bertugas sebagai koordinator
operasional kegiatan hubungan antar lembaga ke dalam maupun ke luar
lembaga pengembangan profesi, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan atau
kerjasama dengan lembaga profesional lain yang berkaitan dengan
pengembangan lembaga dan kapasitas kader.
4.
Wewenang dan Tanggung
Pengembangan Profesi
Jawab
Bidang
Kerja
Pengurus
Lembaga
Masing-masing bidang kerja dalam pengurus lembaga dalam menjalankan
wewenang dan tanggung jawab adalah sebagai berikut:
1. Bidang Perencanaan dan Pengembangan
Lembaga sebagai usaha pembentukan dan pengembangan lembaga
pengembangan profesi yang berkesinambungan, perencanaan ini sejalan dan
mengacu kepada hasil-hasil konferensi cabang yang berkaitan dengan lembaga
pengembangan profesi dan hasil-hasil musyawarah lembaga pengembangan
profesi bersangkutan.
Perencanaan yang dilakukan menyangkut dengan:
a. Melakukan perencanaan aktifitas dan perkembangan lembaga berdasarkan
skala waktu
 Jangka pendek untuk aktifitas bersifat proyek
 Jangka menengah untuk satu pengurus
 Jangka panjang, kondisi dimana lembaga dapat berfungsi secara mapan
b. Melakukan perencanaan kaderisasi dalam tubuh lembaga dalam
kepemimpinan dan distribusi kader baik dalam lembaga sendiri maupun pada
lembaga profesi sebagai usaha-usaha promosi kader.
c. Melakukan perencaan bidang usaha mandiri berdasarkan lembaga
pengembangan profesi, sehingga lembaga dapat melepaskan diri dari sifat
ketergantungan
2. Bidang Pendidikan dan Latihan Anggota
1. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan dan latihan bagi para
anggota sebagai upaya meningkatkan keahlian dan keterampilan sesuai
dengan disiplin ilmunya dikaitkan dengan program-program yang telah
digariskan oleh pengurus lembaga antara lain :
a. Melakukan kegiatan diskusi-diskusi profesi lembaga dan ceramahceramah
b. Melakukan kursus-kursus dan training-training yang berkaitan dengan
peningkatan profesionalitas anggota
2. Melaksanakan tindak lanjut atas hasil penelitian pelaksanaan aktivitas
pendidikan anatara lain:
a. Membuat petunjuk pelaksanaan training lembaga, kurikulum dan
metode training, pedoman evaluasi sehingga dapat menjadi pedoman
operasi lembaga
b. Melakukan penilaian baik dari segi program maupun dari segi edukasi
terhadap hasil-hasil penyelenggaraan aktivitas lembaga yang
dijalankan
3. Menyelenggarakan kegiatan lainnya yang dapat menunjang program
pendidikan dan latihan lembaga.
3. Bidang Penelitian dan Pengembangan
1. Menyelenggarakan kegiatan penelitian lembaga secara objektif dengan
melibatkan anggota setelah lembaga menentukan objek penelitian yang akan
diteliti
2. menetapkan model penelitian yang akan dilakukan
3. Melakukan hipotesa, observasi, pengolahan data, tabulasi dan analisa data
kemudian menyimpulkan hasil peneltian
4. Mengembangkan
hasil
penelitian
dan
dilakukan
upaya-upaya
pelaksanaannya
4. Bidang Pengabdian Masyarakat dan Partisipasi Dalam Pembangunan
1. Menyelenggarakan kegiatan aksi-aksi kemasyarakatan sebagai upaya
pengabdian dengan melibatkan masyarakat di lingkungan lembaga
2. Menyelenggarakan kegiatan sebagai upaya partisipasi lembaga dalam
pembangunan daerah antara lain dengan:
a. Mencoba ikut serta melaksanakan program kemasyarakatan
bekerjasama dengan pemerintah pusat setelah terlebih dahulu
melakukan konsultasi dengan pimpinan HMI
b. Membimbing dan membina masyarakat dengan melakukan kegiatan
yang mendorong masyarakat untuk meningkatkan partisipasi
pembangunan
3. Melakukan kegiatan yang mendorong masyarakat di lingkungan lembaga
menurut hakekat profesi masing-masing lembaga
5. Bidang Usaha dan Hubungan antar Lembaga
1. Melaksanakan program usaha-usaha mandiri, pengabdian pada masyarakat
dan partisipasi dalam pembangunan yang menyangkut observasi teritorial,
pelaksanaan pengabdian dan hubungan luar lembaga.
2. Melakukan kegiatan hubungan antar lembaga ke dalam maupun ke luar
lembaga pengembangan profesi.
3. menyelenggarakan kegiatan-kegiatan atau kerjasama dengan lembaga
profesional lain yang berkaitan dengan pengembangan lembaga dan
kapasitas kader.
6. Bidang Administrasi dan Kesekretariatan
1. Melakukan pengaturan tata cara pengelolaan surat menyurat meliputi:
a. Penyelenggaraan pemrosesan surat masuk
b. Penyelenggaraan penyusunan konsep surat keluar
c. Penyelenggaraan pemrosesan surat keluar
d. Penyelenggaraan pengetikan dan penggandaan surat
e. Penyelenggaraan pengaturan administrasi pengarsipan
f. Penyelenggaraan pengaturan pengiriman surat
2. Melakukan pengumpulan, pencatatan, pengolahan, penyusunan dan
pemeliharaan dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkenaan
dengan hasil kerja lembaga
3. menyelenggarakan upaya penerbitan dan hasil-hasil kerja program lembaga
7. Bidang Keuangan dan Perlengkapan
1. Menyusun anggaran dan pengeluaran lembaga untuk satu periode dan untuk
setiap satu semester
2. Mengelola sumber-sumber penerimaan organisasi sesuai dengan ketentuan
organisasi yag berlaku
3. Menyelenggarakan administrasi keuangan yang disusun untuk keperluan ini
4. Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh aparat HMI untuk
meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota
5. Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan, perbaikan dan
penambahan perlengkapan organisasi dengan :
a. Setiap kali mengadakan kontrol terhadap pemakaian peralatan organisasi
b. Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi sesuai atau tidak
dengan kebutuhan organisasi
c. Menyusun daftar inventarisasi organisasi
d. Mengatur perawatan dan pemeliharaan seluruh pelengkapan organisasi
6. Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan gedung halaman
perkantoran
5. Instansi Pengambilan Keputusan Pengurus Lembaga Pengembangan Profesi
Tata susunan tingkat (hirarki) instansi pengambilan keputusan dalam
lembaga pengembangan profesi adalah :
1. Rapat harian lembaga pengembangan pofesi
2. Rapat Presidium Lembaga pengembangan profesi
3. Rapat Bidang Lembaga Pengembangan Profesi
4. Rapat Kerja
a. Rapat Harian Lembaga Pengembangan Profesi
1. Rapat Harian lembaga dihadiri oleh seluruh fungsionaris lembaga
pengembangan profesi
2. Rapat harian dilaksanakan setdak-tidaknya dua kali dalam satu bulan yakni
pada hari jum’at
3. Fungsi dan wewenang rapat harian adalah :
a. Membahas dan menjabarkan kebijakasanaan yang telah diambil oleh
pengurus cabang yang dikaitkan dengan program Lembaga
Pengembangan profesi
b. Mengkaji dan mengevaluasi keputusan-keputusan yang diambil oleh
presidium Lembaga Pengembangan profesi menyangkut bidang
masing-masing,
kemudian
merumuskan
keputusan-keputusan
musyawarah lembaga
c. Mempelajari dan merumuskan keputusan-keputusan musyawarah
lembaga
b. Rapat Direksi Lembaga Pengembangan Profesi
1. Rapat direksi lembaga pengembangan profesi dihadiri oleh Direktur dan para
Wakil Direktur lembaga.
2. Rapat direksi dilaksanakan setidak-tidaknya 4 kali dalam satu bulan, yakni
pada har jum’at dari setiap minggu. Untuk minggu terakhir diintegrasikan
dengan rapat harian.
3. Fungsi dan wewenang rapat direksi :
a. Mengambil keputusan tentang perkembangan lembaga sehari-hari
baik intern maupun ekstern, khususnya pengaruh perkembangan
terhadap program-program lembaga
b. Mendengar informasi tentang perkembangan dari beberapa aspek
lembaga baik intern maupun ekstern dikaitkan dengan kebijaksanaan
lembaga yang ada
c. Mengevaluasi perkembangan lembaga dalam menjalankan programprogram kegiatan
c. Rapat Bidang Lembaga Pengembangan Profesi
1. Rapat bidang dihadiri oleh wakil direktur/koordinator dan anggota bidang
bersangkutan
2. Rapat bidang diselenggarakan setidak-tidaknya satu kali dalam satu bulan
3. Fungsi dan wewenang rapat bidang lembaga pengembangan profesi :
a. mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap
bidang dengan tetap merujuk kepada kebijaksanaan/pedoman yang
telah ditetapkan oleh organisasi
b. membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari
setiap bidang yang mengalami perubahan baik dari segi teknis
maupun dari segi waktu
c. menyusun langkah-langkah teknis untuk menyelenggarakan
proyek/kerja berikutnya sesuai dengan kebijaksanaan yang telah
ditetapkan oleh rapat harian dan rapat presidium
d. Rapat Kerja
1. Rapat Kerja dihadiri oleh semua fungsionaris pengurus lembaga
pengembangan profesi
2. Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam setiap semester
3. Fungsi dan wewenang rapat kerja :
a. Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester
b. Menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran untuk
seluruh kegiatan lembaga pengembangan profesi selama satu
semester
PETUNJUK PELAKSANAAN
PEDOMAN LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)
BAB I
PENDAHULUAN
Petunjuk
pelaksanaan
(juklak)
dari
pedoman
lembaga-lembaga
pengembangan profesi HMI ini adalah merupakan kompilasi dari program
sebelumnya (dari program-program pengembangan profesi HMI tahun 1980, 1986
dan hasil kongres 1982) yang selanjutnya disesuaikan dengan hasil-hasil temuan
pada Up-Grading Pengembangan profesi pada bulan Juli 1994 dan hasil bahasan
dalam sidang MPK IV tahun 1994.
Petunjuk pelaksanaan ini dimaksudkan sebagai suatu pedoman bagi aparataparat HMI, yaitu mulai dari usaha-usaha pembentukan lembaga-lembaga
pengembangan
profesi
sampai
dengan
usaha-usaha
pembinaan
dan
pengembangannya. Dengan demikian diharapkan fungsi utama dari lembagalembaga ini yaitu membentuk kader HMI di samping kemampuan generalik juga
dalam kemampuan mengaktualisasikan profesi untuk dapat terlaksana. Sehingga
tanggung jawab HMI dalam usaha mewujudkan masyarakat adil makmur yang
diridhai Allah SWT dapat direalisasikan melalui lembaga-lembaga pengembangan
profesi.
Usaha-usaha untuk menghidupkan lembaga-lembaga khusus setiap cabang
HMI, seyogyanya diambil dari potensi yang dimiliki HMI sendiri, masyarakat dan
pemerintah dimana cabang HMI tersebut berada. Pengkajian potensi akan
menentukan di dalam usaha membentuk, membina dan mengembangkan lembagalembaga pengembangan profesi ini, sehingga betul-betul dapat memenuhi
fungsinya,
Bendahara umum berada pada satu garis staf. Untuk bidang penelitian dan
penalaran, bidang pendidikan dan pelatihan serta bidang pengabdian pada
masyarakat berada pada satu garis fungsional lembaga
Sedangkan bila untuk pengurusan, saran anggota serta kemampuan untuk
menentukan alternatif-alternatif program yang tepat juga sangat menentukan
keberhasilan suatu lembaga pengembangan profesi untuk memenuhi fungsinya itu.
Oleh karena itu dalam juklak ini diuraikan tentang hal-hal yang menyangkut
pembentukan lembaga-lembaga pengembangan profesi, pengkajian potensi baik
yang ada pada HMI, masyarakat maupun pemerintah serta masalah musyawarah,
pengurusan dan pengembangan lembaga pengembangan profesi dan terakhir
mengenai penentuan dan pelaksanaan program-program lembaga-lembaga
pengembangan profesi.
Khusus tentang penentuan dan pelaksanaan program lembaga-lembaga
pengembangan profesi maka juklak ini secara umum dijabarkan tentang masalahmasalah yang dihadapi oleh lembaga-lembaga pengembangan profesi yang ada di
cabang-cabang dan kemungkinan alternatif pemecahannya. Hal ini didasari pada
data yang masuk melalui angket yang terkirim ke setiap cabang dan oleh PB HMI.
Dari kemungkinan-kemungkinan alternatif pemecahan masalah yang
dikemukakan dalam juklak ini setiap pengurus lembaga pengembangan profesi
ataupun pengurus cabang dapat mengembangkan atau menyesuaikan lebih jauh
sesuai dengan kondisi cabangnya masing-masing. Sehingga dengan demikian lebih
memungkinkan untuk diterapkannya juklak ini bagi cabang-cabang di seluruh
Indonesia.
BAB II
STATUS LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI HMI
1. Status lembaga-lembaga pengembangan profesi HMI adalah merupakan
kesatuan organisasi yang dibentuk untuk menyalurkan minat, bakat dan
kemampuan yang diarahkan pada profesi anggota dalam suatu lingkungan
cabang
2. Lembaga pengembangan profesi secara operasional melaksanakan programprogram cabang di bidang profesi masing-masing dan secara struktural adalah
anggota rapat harian dan Sidang Pleno cabang, ex-officio cabang
BAB III
PENGKAJIAN POTENSI
UNTUK PEMBENTUKAN LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI
Di dalam pembentukan lembaga-lembaga pengembangan profesi hendaknya
memperhatikan/mengkaji potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap cabang dalam
hal :
1. Pengkajian terjadap potensi HMI sendiri, yaitu jumlah anggota, interest
anggota, kemampuan, keterampilan serta disiplin ilmu anggota yang
berhubungan dengan lembaga pengembangan profesi yang akan
dibentuk
2. Pengkajian terhadap potensi yang ada di masyarakat/daerah dalam hal
ini: perguruan tinggi, sumber daya alam, manusia dan kebutuhan
masyarakat serta aspek-aspek sosial budaya masyarakat setempat.
3. pengkajian terhadap potensi yang ada pada pemerintah setempat dalam
hal kemungkinan untuk melakukan kerja sama dalam melaksanakan
program-program kerja lembaga pengembangan profesi
BAB IV
MUSYAWARAH PENGURUS LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI
1. Status musyawarah lembaga pengembangan profesi adalah merupakan
musyawarah seluruh anggota lembaga pengembangan profesi yang telah
terdaftar pada suatu lembaga pengembangan profesi tertentu
2. Kekuasaan dan wewenang musyawarah lembaga adalah menetapkan
program kerja dan memilih Direktur/Formateur sebanyak 3 (tiga) orang
3. Pengurus lembaga pengembangan profesi adalah penaggung jawab
penyelenggaraan musyawarah lembaga
4. Peserta musyawarah adalah anggota yang terdaftar di suatu lembaga
pengembangan profesi komisariat, bidang pengembangan profesi Korkom
serta undangan (pengurus cabang) adalah peserta peninjau.
5. Peserta utusan mempunyai hak bicara dan suara sedangkan peserta peninjau
mempunyai hak bicara
6. Pimpinan sidang musyawarah lembaga dipilih dari peserta utusan dan
berbentuk presidium
7. Musyawarah lembaga dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari separuh
jumlah anggota
8. Bila point 7 tidak terpenuhi maka musyawarah lembaga diundur 1 x 24 jam
dan setelah itu dinyatakan sah
9. Pengurus lembaga pengembangan profesi bertanggung jawab kepada
musyawarah lembaga
10. Direktur lembaga pengembangan profesi adalah sebagai anggota rapat
harian dan sidang pleno cabang
11. Pengesahan pengurus lembaga pengembangan profesi dilakukan oleh
pengurus HMI cabang setempat
12. Setelah pembentukan dan pengesahan pengurus lembaga pengembangan
profesi oleh pengurus cabang maka pengurus lembaga pengembangan
profesi segera mengirimkan lampiran susunan kepada PB HMI (bidang
pengembangan profesi), dan BAKORNAS dengan tembusan kepada pengurus
BADKO (bidang pengembangan profesi) dan tembusan kepada cabang yang
bersangkutan (bidang pengembangan profesi).
13. Waktu/masa jabatan pengurus lembaga pengembangan profesi disesuaikan
dengan masa jabatan pengurus cabang
BAB V
SISTEM ADMINISTRASI DAN PERBENDAHARAAN
LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI HMI
1. Untuk
surat
ke
dalam
(intern)
dengan
memakai
kode
:
nomor/A/SEK/LPP/bulan/tahun
2. Untuk
surat
keluar
(ekstern)
dengan
memakai
kode
:
nomor/B/Sek/LPP/bulan/tahun
3. Perbendaharaan Lembaga Pengembangan Profesi diperoleh dari bantuan
struktur kepemimpinan HMI setingkat, usaha-usaha mandiri tidak mengikat yang
dilakukan oleh aktivitas lembaga-lembaga dan usaha-usaha yang halal lainnya
BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN
LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI HMI
Usaha pembinaan dan pengembangan lembaga-lembaga pengembangan
profesi dapat dilakukan dengan :
1. Merencanakan
dan
melaksanakan
program-program
lembaga
pengembangan profesi yang dapat menyerasikan di antara kepentingan
anggota, kebutuhan masyarakat dengan program-program pemerintah
sehingga menumbuhkan minat di antara ketiga kepentingan tersebut.
2. Mengadakan hubungan yang baik dengan pemerintah, masyarakat dan
berusaha menumbuhkan citra yang baik tentang HMI di lingkungan
mereka
3. Mengadakan
latihan-latihan
keterampilan
untuk
meningkatkan
kemampuan profesional anggota dan melaksanakan pendidikan
administrasi dan manajemen kepengurusan lembaga pengembangan
profesi serta usaha lainnya yang menuju ke arah keberhasilan dalam
pembinaan dan pengembangan lembaga pengembangan profesi.
BAB VII
PENENTUAN PELAKSANAAN PROGRAM-PROGRAM
LEMBAGA PENGEMBANGAN PROFESI HMI
Di dalam penentuan dan pelaksanaan program-program lembaga
pengembangan profesi ini didasarkan kepada pemecahan masalah-masalah riil
yang dihadapi oleh setiap lembaga pengembangan profesi atau pengurus cabang,
dengan terlebih dahulu menjabarkan masalah-masalah riil yang dihadapi.
Adapun masalah-masalah yang dihadapi secara umum dibagi atas :
1. Masalah
yang
menyangkut
kepengurusan
lembaga-lembaga
pengembangan profesi, terdiri dari :
a. Kekurangan aktifan pengurus lembaga serta lemahnya kemampuan
dan keterampilan di dalam hal:
 Kemampuan menentukan program yang tepat
 Kemampuan menumbuhkan minat anggota terhadap lembaga
 Kemampuan untuk merapikan administrasi lembaga serta
melengkapai sarana-sarana kebutuhan lembaga
 Kemampuan untuk memanfaatkan potensi kerja sama di luar
lembaga, baik potensi yang ada pada masyarakat maupun
pemerintah.
b. Iklim yang kurang mendukung untuk bekerja sama dengan pengurus
cabang di dalam menyukseskan program-program lembaga.
2. Masalah yang menyangkut anggota terdiri dari:
a. Kurangnya minat anggota terhadap lembaga dikarenakan kegiatankegiatan yang kurang/tidak menjurus ke arah profesi masing-masing
anggota.
b. Menurunnya penghayatan anggota terhadap nlai-nilai dasar terutama
yang berkaitan dengan nilai-nilai masyarakat dan kesadaran utuk ikut
bertanggungjawab terhadap problema-problema masyarakat dan ini
berkaitan dengan mutu dari produk perkaderan HMI secara
keseluruhan.
c. Kegiatan akdemis anggota yang cukup padat dan faktor lainnya yang
berhubungan dengan dunia pendidikan anggota.
3. Masalah-masalah ekstern yang dihadapi antara lain:
a. Hambatan-hambatan birokrasi, seperti hal perizinan, bantuan fasilitas
dan lain-lain.
b. Kurang harmonisnya hubungan dengan pejabat atau tokoh masyarakat
di dalam membina kerjasama untuk menunjang aktivitas kelembagaan.
Dari masalah-masalah yang dihadapi di atas, maka perlu dilakukan pengkajianpengkajian lebih jauh sesuai dengan kondisi cabang masing-masing untuk
memudahkan merealisasikan alternatif pemecahan masalah yaitu dalam bentuk
aktivitas program kelembagaan. Adapun alternatif pemecahan masalahnya sesuai
dengan urutan-urutan masalah di atas, yaitu sebagai berikut :
1. Alternatif pemecahan masalah kepengurusan :
a. Memilih pengurus yang bertanggung jawab, penuh dedikasi dan
memiliki kemampuan/keterampilan untuk mengelola lembaga.
b. Melakukan usaha-usaha yang memungkinkan tumbuhnya minat dan
kebanggaan atau motivasi yang kuat untuk menjadi aktivitas lembaga
c. Meningkatkan kemampuan/keterampilan pengurus baik menigkatkan
kemampuan profesionalitasnya sesuai dengan disiplin lembaga
melalui lembaga pendidikan pelatihan, kursus dan lain-lain.
d. Menetapkan program yang mampu menumbuhkan minat anggota baik
untuk dirinya di dalam hal peningkatan kemampuan profesi maupun
untuk menumbuhkan semangat pengabdian masyarakat, sehingga
menumbuhkan rasa simpati dari masyarakat dan pemerintah terhadap
HMI. Dan yang terakhir ini adalah menumbuhkan kemungkinan
kerjasama dengan masyarakat/pemerintah di dalam program-program
kelembagaan berikutnya
e. Diusahakan hubungan yang harmonis dengan pengurus cabang yaitu
dengan memberikan laporan rutin kepada pengurus cabang
2. Alternatif pemecahan masalah untuk anggota terdiri dari :
a. Mengusahakan aktivitas-aktivitas lembaga yang membantu untuk
meningkatkan kemampuan profesi anggota/disiplin ilmu anggota atau
langsung memberikan manfaat untuk masyarakat luas.
b. Meningkatkan mutu perkaderan terutama dalam penghayatan nilainilai pengabdian masyarakat serta kesadaran untuk ikut bertanggung
jawab kepada Allah SWT.
c. Meningkatkan keterampilan anggota dalam hal pengelolaan aktivitasaktivitas kelembagaan, penelitian-penelitian, up-grading, survei
lapangan dan lain-lain.
d. Mengusahakan aktivitas-akitvitas lembaga yang waktunya tidak
mengganggu kegiatan akademis para anggota di masing-masing
cabang.
3. Alternatif pemecahan masalah ekstern, antara lain :
a. Perlu usaha-usaha ke arah membangun citra yang positif terhadap HMI
dari masyarakat dan pemerintah melalui :
1. Pendekatan-pendekatan informal dengan tokoh-tokoh masyarakat
dan pemerintah.
2. Kerjasama program baik yang menyangkut langsung kepentingan
masyarakat ataupun program-program pemerintah yang juga
untuk kepentingan masyarakat.
b. Mengusahakan
program-program
yang
langsung
menyentuh
kepentingan rakyat kecil serta membantu memecahkan problemaproblema masyarakat.
Dalam melaksanakan program-program lembaga pengembangan profesi ini
diharapakan masing-masing cabang dengan pengurus lembaganya untuk mengkaji
lebih jauh tentang kemungkinan-kemungkinan alternatif dari pemecahan yang
dikemukakan di sini sesuai dengan batasan-batasan yang ada dari kondisi objektif
dari masing-masing cabang, sehingga juklak ini dapat lebih menutupi kekurangan
serta pengembangan lembaga lembaga untuk masa yang akan datang.
BAB VIII
PENUTUP
Dengan diterapkannya juklak ini di setiap cabang diharapkan fungsi
lembaga-lembaga HMI dapat terpenuhi, sehingga tanggung jawab HMI untuk
mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, salah satunya dapat
direalisasikan melalui aktifitas kelembagaan ini. Oleh karena itu masing-masing
pengurus cabang dan pengurus lembaga mutlak untuk terus meningkatkan
kemampuan dan keterampilannya terutama yang langsung berhubungan dengan
aktvitas kelembagaan ini. Dan terus berusaha untuk mengenal problem-problem
masyarakat yang ada di sekitarnya, untuk menentukan mana program yang tepat
yang langsung menyentuh kepentingan rakyat kecil, sehingga kehadiran HMI di
tengah-tengah masyarakat sebagai generasi muda yang ikut bertanggung jawab
terhadap problema-problema masyarakat semakin dirasakan. Bertanggung jawab
dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT., semoga Allah SWT. senantiasa
meridhoi usaha-usaha kita, Amin.
Billahittaufiq Wal Hidayah.
KURIKULUM PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN
TUJUAN UMUM
Tujuan umum ini dirancang untuk selanjutnya menjadi orientasi penjabaran
tujuan, tujuan instruksional, setiap jenjang tujuan tersebut adalah :
a. Menciptakan iklim usaha di kalangan kader guna mengukuhkan proses
penguatan identitas kader maupun kelembagaan HMI khususnya dalam
bentuk aktifitas yang bernilai ekonomi.
b. Membentuk kelas ekonomi muslim yang mampu dan tangguh dalam
menopang keluarga besar HMI untuk mewujudkan masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah SWT.
c. Membangun suatu pilar kekuatan ekonomi umat dan bangsa untuk dapat
bersaing di dunia internasional.
METODOLOGI PEMBENTUKAN KADER WIRAUSAHAN
Secara umum, kematangan seorang kader yang kemudian teruji dari prestasi
yang dibangunnya dalam dia melakukan aktifitas kesehariannya baik dimulai
semasa berada di lingkungan HMI maupun sampai pada lingkungan yang lebih luas
di masyarakat niscaya terbentuk dari pola perkaderan dan suasana kondusif yang
melingkupi selama berada di organisasi melalui penjenjangan pelatihan tingkat
dasar dan tingkat lanjut yang sudah tersusun rapi. Hal itu menunjukkan bahwa
metodologi pembentukan identitas kader dengan mekanisme penjenjangan cukup
reliable dan kompetibel untuk diterapkan pada pelatihan non-formal lainnya di HMI.
Oleh karena itulah dalam rangka membentuk jati diri kader menjadi wirausahawan
pun perlu dilakukan adanya penjenjangan dengan metodologi dan muatan yang
berbeda pada setiap penjenjangan tersebut.
Pelatihan Kewirausahaan Tingkat Dasar
Tujuan Instruksional Umum :
Terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu
mengelola organisasi serta berjuang untuk meneruskan dan mengembangkan misi
HMI khususnya pada aktifitas ekonomi.
Tujuan Instruksional Khusus :
a. Peserta dapat menetapkan pilihan secara yakin untuk mengambil langkah ke
dunia bisnis dan ekonomi sebagai medan pengabdiannya di masyarakat.
b. Peserta mampu mengembangkan potensi ekonomi yang ada dalam dirinya
menjadi satu aksi kerja persiapan pembentukan usaha.
b. Peserta dapat mengembangkan daya analisa peluang bisnis sehingga mampu
menyusun beberapa alternatif kegiatan usaha yang akan ditekuninya.
Komposisi Materi :
a. 50 % materi-materi wawasan guna mengembangkan kemampuan kognitif
peserta.
c. 20 % materi-materi aplikatif lapangan guna membentuk kemampuan afektif
peserta.
d. 30 % materi-materi simulasi guna membangun ruang dorong psikomotorik
peserta.
Setting Kegiatan :
1. Dipusatkan di suatu tempat dengan sistem menginap (camping).
a. Penyampaiannya bersifat penanaman dan penjelasan dengan teknik
penyampaian seperti ceramah, dialog (tanya-jawab).
b. Penugasan-penugasan :
i. Resume hasil pengamatan ceramah dan dialog.
ii. Menyusun proposal usaha hasil dari informasi-informasi peluang yang
dianalisa secara sistematis.
2. Kegiatan dilakukan selama 5-7 hari.
Kualifikasi Umum Peserta :
1. Pernah atau sedang duduk kepengurusan formal HMI (minimal komisariat).
2. Membuat suatu karya tulis yang menjelaskan visinya tentang HMI dan
perekonomian nasional.
Pelatihan Kewirausahaan Tingkat Lanjut
Tujuan instruksional umum :
Terbinanya kader pemimpin yang mampu mengembangkan dan menterjemahkan
pemikiran konseptual ke dalam gerak pembangunan secara profesional khususnya
pada bidang ekonomi dan bisnis.
Tujuan Instruksional Khusus :
1. Peserta mampu secara profesional menjalankan usaha yang telah dirintis
sebelumnya.
2. Peserta mampu menganalisa serta memetakan pasar yang potensial untuk
mendukung usahanya.
3. Peserta menyadari pentingnya jaringan bisnis secara vertikal (relasi bisnis
profesional) mampu secara horizontal (antar kader HMI) guna membentuk
kekuatan ekonomi umat dan bangsa.
Komposisi Kegiatan :
1. 20 % materi-materi wawasan guna mengembangkan kemampuan kognitif
peserta. 15% materi-materi aplikatif lapangan guna membentuk kemampuan
afektif peserta.
2. 65 % materi-materi simulasi guna membangun ruang dorong psikomotorik
peserta.
Setting Kegiatan :
1. Dipusatkan di suatu tempat dengan sistem menginap (camping).
2. Penyampaian bersifat informatif, analisa dengan teknik ceramah, dialog yang
mengutamakan aktifitas peserta (instruktur merupakan fasilitator).
Penugasan-penugasan :
a. Resume hasil pengamatan ceramah dan dialog.
b. Menyusun kembali evaluasi proposal usaha yang telah disusun sebelumnya.
c. Melakukan perhitungan-perhitungan teknis bisnis sebagai analisa permasalahan
secara kuantitaif.
d. Kegiatan dilakukan selama 1 (satu) bulan.
Kualifikasi Umum Peserta :
1. Sudah pernah dalam melakukan aktivitas formal di HMI (tidak lagi duduk
dalam kepengurusan HMI).
2. Pernah duduk dalam kepengurusan formal HMI (minimal di komisariat).
3. Telah mengikuti pelatihan kewirausahaan tingkat dasar.
4. Sudah pernah atau sedang melakukan aktivitas bisnis/ekonomi (memiliki
embrio usaha).
Menyusun kembali proposal usaha atau pengembangannya.
PEDOMAN DASAR
BADAN PENGELOLA LATIHAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENDAHULUAN
Latihan kader pada hakikatnya merupakan bentuk perkaderan HMI yang
berorientasi pada pembentukan watak kepribadian, pola pikir, visi, orientasi serta
berwawasan ke-HMI-an yang paling elementer. Kedudukan dan peranan latihan ini
adalah untuk meletakkan fundamen bagi setiap kader HMI yang dituntut siap
mengemban amanah dan tanggungjawab untuk membangun bangsa Indonesia di
masa depan. Oleh karena itu posisi latihan ini sangat menentukan gerak dan
dinamika para kader maupun organisasi, sehingga apabila penanggung jawab
latihan keliru dalam mengkomunikasikan dan mensosialisasikan semangat dan
gagasan dasarnya maka keliru pula pengembangan bentuk-bentuk pembinaan
berikutnya, baik pada up grading maupun aktivitas. Berkaitan dengan persoalan
tersebut dalam latihan sangat dibutuhkan lembaga serta forum yang mencurahkan
konsentrasi pemikiran pada pengembangan kualitas para pengelola latihan,
kemampuan konsepsi maupun manajerial. Berawal dari kesadaran dan
tanggungjawab yang mendalam tersebut maka dibentuklah Badan Pengelola
Latihan (BPL) Himpunan Mahasiswa Islam. Berikut adalah pedoman dasarnya:
BAGIAN I
NAMA, STATUS DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
Nama
Badan ini bernama Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam yang
disingkat BPL HMI.
Pasal 2
Status
Badan ini berstatus sebagai badan pembantu HMI (pasal 15 Anggaran Dasar HMI,
pasal 51, 52 dan 55 Anggaran Rumah Tangga HMI).
Pasal 3
Tempat dan Kedudukan
a. BPL PB HMI berkedudukan di tingkat Pengurus Besar HMI.
b. BPL HMI Cabang berkedudukan di tingkat HMI Cabang.
BAGIAN II
TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB
Pasal 4
Tugas
a. Menyiapkan pengelola latihan atas permintaan pengurus HMI setingkat.
b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pengelola latihan dengan jalan
menyelenggarakan training pengelola latihan dan mengadakan forum-forum
internal di lingkungan intern BPL HMI.
c. Meningkatkan kualitas latihan dengan jalan memonitor dan mengevaluasi
pelaksanaan latihan.
d. Membuat panduan pengelolaan training HMI.
e. Melakukan standarisasi pengelola training dan pengelolaan training.
f. Memberikan informasi kepada pengurus HMI setingkat tentang perkembangan
kualitas latihan.
Pasal 5
Wewenang
a. BPL PB HMI memiliki kewenangan untuk menyiapkan pengelolaan pelatihan di
tingkat nasional yang meliputi Latihan Kader III, pusdiklat, up grading instruktur
NDP dan up-grading manajemen organisasi dan kepemimpinan.
b. BPL HMI Cabang memiliki kewenangan untuk menyiapkan penglolaan pelatihan
yang meliputi Latihan Kader I, LK II dan latihan ke HMI-an lainnya.
c. BPL dapat menyelenggarakan training
pengembangan sumber daya manusia
lain
yang
berkenaan
dengan
Pasal 6
Tanggungjawab
a. BPL PB HMI bertanggungjawab kepada Pengurus Besar HMI melalui Musyawarah
Nasional BPL HMI.
b. BPL HMI Cabang bertanggungjawab kepada Pengurus HMI Cabang melalui
Musyawarah BPL HMI Cabang.
BAGIAN III
KEANGGOTAAN
Pasal 7
Syarat dan Keanggotaan
a. Anggota BPL HMI adalah anggota HMI yang memenuhi kualifikasi tertentu
sebagai pengelola latihan.
b. Kualifikasi keanggotaan diatur dalam penjelasan terpisah.
c. Anggota BPL HMI dapat kehilangan status keanggotaan apabila:
1. Habis masa keanggotaan HMI.
2. Meninggal Dunia.
3. Mengundurkan diri.
4. Diskorsing atau Dipecat
BAGIAN IV
SKORSING DAN PEMECATAN
Pasal 8
Kriteria Skorsing dan Pemecatan
a. Anggota BPL HMI dapat diskorsing karena:
1. Bertindak bertentangan dengan kode etik pengelola latihan.
2. Bertindak merugikan dan mencemarkan nama baik korps BPL HMI.
b. Anggota diskors atau dipecat dapat melakukan pembelaan dalam forum yang
ditunjuk untuk itu.
c. Mengenai skorsing/pemecatan dan tata cara pembelaan diatur dalam ketentuan
tersendiri.
BAGIAN V
ORGANISASI
Pasal 9
Struktur
a. Struktur organisasi ini adalah di tingkat pengurus besar dan pengurus HMI
Cabang.
b. Hubungan pengurus HMI setingkat dengan BPL HMI adalah instruktif.
c. Hubungan BPL PB HMI dengan BPL HMI Cabang adalah instruktif.
Pasal 10
Kepengurusan
a. Pengurus BPL HMI sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
Bendahara.
b. Yang dapat menjadi pengurus BPL PB HMI adalah anggota BPL HMI yang telah
memenuhi kualifikasi Instruktur Utama.
c. Yang dapat menjadi pengurus BPL HMI Cabang adalah anggota BPL HMI yang
telah memenuhi kualifikasi Instruktur.
d. Periode BPL HMI disesuaikan dengan periode kepengurusan HMI setingkat.
e. Pengurus BPL HMI dilarang merangkap jabatan dalam jabatan struktur HMI, dan
badan khusus lainnya.
BAGIAN VI
MUSYAWARAH
Pasal 11
Musyawarah Nasional
a. Musyawarah Nasional (Munas) BPL HMI diadakan sekurang-kurangnya sekali
dalam 2 tahun.
b. Munas BPL HMI adalah musyawarah utusan BPL HMI Cabang, masing-masing BPL
HMI Cabang diwakili oleh 1 (satu) orang.
Pasal 12
Musyawarah Cabang
a. Musyawarah BPL HMI Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam
setahun.
b. Musyawarah BPL HMI Cabang adalah musyawarah anggota BPL HMI di tingkat
HMI cabang.
BAGIAN VII
ADMINISTRASI LEMBAGA
Pasal 13
Surat Menyurat
a. Surat kedalam memakai nomor .../A/Sek/BPL/Bulan Hijriyah/Tahun Hijriyah.
b. Surat keluar memakai nomor .../B/ Sek/BPL/Bulan Hijriyah/Tahun Hijriyah.
c. Bentuk surat disesuaikan dengan bentuk yang dijelaskan di dalam pedoman
administrasi HMI.
Pasal 14
Keuangan
a. Keuangan BPL HMI ini dapat dikelola bersama dengan pengurus HMI setingkat.
b. Sumber keuangan berasal dari sumbangan yang tidak mengikat dan usaha halal.
BAB VIII
ATURAN PERALIHAN
Pasal 15
Untuk pertama pembentukan BPL HMI dibentuk oleh pengurus HMI setingkat,
apabila BPL HMI belum terbentuk.
Pasal 16
a. Munas BPL HMI diselenggarakan oleh BPL PB HMI. BPL PB HMI berwenang untuk
menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembentukan BPL HMI
secara keseluruhan.
b. Setelah BPL HMI terbentuk, secara otomatis Bakornas LPL HMI dan LPL HMI
Cabang membubarkan diri dan/atau menyesuaikan diri dengan BPL HMI.
BAGIAN IX
ATURAN TAMBAHAN
Pasal 17
Perubahan pedoman dasar ini dapat dilakukan dalam forum Musyawarah Nasional
(MUNAS BPL HMI.
Pasal 18
a. Penjabaran tentang struktur organisasi, fungsi dan peran BPL HMI akan dijelaskan
dalam Tata Kerja BPL HMI.
b. Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan ini akan diatur dalam ketentuan lain
dengan tidak bertentangan dengan AD dan ART HMI dan pedoman organisasi
lainnya.
PENJELASAN
Penjelasan Pasal 5: Wewenang
a. Untuk pengelolaan Latihan Kader III, Pengurus Besar mendelegasikan kepada
Pengurus Badan Koordinasi HMI sebagai pelaksana. Dalam hal-hal tertentu
Pengurus Badan Koordinasi bisa meminta BPL PB HMI untuk membantu.
b. Yang dimaksud dengan latihan ke-HMI-an lainnya adalah sebagai sebuah
kegiatan atau bentuk pelatihan yang dapat meningkatkan pemahaman ke-HMI-an
dan keorganisasian, misalnya Up Grading NDP, training pengelola latihan, Up
Grading Administrasi dan Kesekretariatan, Up Grading Kepengurusan, Up Grading
Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan, pelatihan yang diselenggarakan oleh
KOHATI dan latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas profesionalisme
seperti pelatihan dakwah, pelatihan jurnalistik, dan sebagainya yang tidak
termasuk kategori pelatihan ke-HMI-an.
Penjelasan Pasal 7: Kualifikasi Pengelola Latihan HMI
a. Kualifikasi Umum
Kualifikasi secara umum bagi pengelola latihan yang terlibat dalam seluruh
bentuk latihan ke-HMI-an adalah sebagai berikut:
1. Memahami dan menguasai Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan
pedoman-pedoman organisasi lainnya.
2. Memahami dan menguasai Pedoman Perkaderan.
3. Mempunyai kemampuan sebagai pendidik, pengelola, dan penyaji.
b. Kualifikasi Khusus
1. Kualifikasi ditingkat BPL PB HMI
a) Telah dinyatakan lulus Latihan Kader III.
b) Telah dinyatakan lulus mengikuti Training Pengelola Latihan atau Senior
Course.
c) Telah menjadi Pengelola Latihan Kader.
2. Kualifikasi ditingkat BPL HMI Cabang
a) Telah dinyatakan lulus Latihan Kader II.
b) Telah dinyatakan lulus mengikuti Training Pengelola Latihan atau Senior
Course.
c) Telah menjadi Pengelola Latihan Kader.
ORGANISASI DAN MEKANISME KERJA
PENGELOLA LATIHAN
A. Pendahuluan
Latihan sebagai model pendidikan kader HMI merupakan jantung organisasi,
karena itu maka upaya untuk memajukan, mempertahankan keberlangsungan
dan mengembangkannya merupakan kewajiban segenap pengurus HMI. Latihan
tidak akan berjalan mencapai target dan tujuan secara baik tanpa dukungan dan
usaha pengorganisasian yang baik pula. Pengorganisasian berbagai unsur yang
terlibat dalam penyelenggaraan latihan tercermin dalam organisasi latihan.
Organisasi latihan yang jelas akan memperlancar dan menertibkan proses
penyelenggaraan latihan. Hal ini pada gilirannya akan membuka jalan
kemudahan dalam mencapai tujuan organisasi dan lahirnya kader-kader yang
memiliki 5 (lima) kualitas insan cita.
Guna mencapai mekanisme penyelenggaraan latihan yang tertib dan dapat
dipertanggung jawabkan, tidak cukup hanya dengan menyusun organisasi latihan
saja. Karena itu diperlukan adanya aturan tentang prosedur dan administrasi
latihan, termasuk di dalamnya tentang administrasi laporan penyelenggaraan
latihan. Administrasi latihan merupakan suatu rangkaian kegiatan dari berbagai
unsur dalam penyelenggaraan latihan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan
bersama. Dengan terumuskannya organisasi dan mekanisme kerja tersebut maka
akan memperkokoh kehadiran HMI sebagai organisasi kader.
B. Unsur-unsur Organisasi Latihan
Secara sederhana yang dimaksud organisasi latihan ialah suatu sistem kerjasama
yang terdiri dari berbagai unsur dengan menggunakan sistem, metode, dan
kurikulum yang ada untuk mencapai target dan tujuan latihan.
1. Unsur-unsur yang terlibat dalam latihan organisasi HMI adalah sebagai berikut:
a. PB HMI
b. BADKO HMI
c. HMI Cabang
d. KOHATI
e. Komisariat
f. BPL
2. Unsur-unsur dalam pelatihan yaitu:
a. Peserta
b. Pemateri
c. Pemandu
d. Organizing Committee
e. Steering Committee
Bentuk-bentuk latihan yang di atas dalam organisasi ini adalah seluruh bentuk
latihan yang ada dalam pola perkaderan HMI yaitu:
1. Pelatihan Pengembangan Profesi
2. Up Grading
3. Latihan Kader
4. Pusdiklat
C. Fungsi dan Wewenang
1.a. Pengurus Besar
 Penanggungjawab perkaderan secara nasional.
 Pengelola kebijakan perkaderan HMI.
 Melaksanakan program-program pelatihan tingkat nasional, Pusdiklat dan
training pengelola latihan.
1.b. Badan Koordinasi
 Mengkoordinir program-program latihan di wilayah masing-masing.
 Melaksanakan Latihan Kader III, Training Pengelola Latihan, Up-Grading
Instruktur
NDP,
dan
Up-Grading
Manajemen
Organisasi
dan
Kepemimpinan.
 Bekerjasama dengan PB HMI demi terlaksananya program-program latihan
tingkat nasional.
1.c. HMI Cabang
 Sebagai basis terselenggarakannya program-program latihan HMI.
 Bertanggungjawab atas telaksanakannya program Latihan Kader II, Up
Grading Instruktur NDP, Training Pengelola Latihan, Up Grading Manajemen
Organisasi
dan
Kepemimpinan
dan
Up
Grading
Administrasi
Kesekretariatan.
 Mengkoordinir Komisariat dan Lembaga Pengembangan Profesi untuk
terlaksananya (penjadwalan) training HMI.
1.d. Lembaga Pengembangan Profesi
 Mengadakan rekruitmen
pengembangan profesi.
calon
kader
langsung
melalui
pelatihan
1.e. KOHATI
 Mengadakan rekruitmen calon kader langsung melalui pelatihan.
 Bertanggungjawab atas terselenggaranya program pelatihan KOHATI.
1.f. Badan Pengelola Latihan
 Bertanggungjawab atas keberhasilan dan kualitas pengelola latihan.
 Bekerjasama dengan pengurus HMI setingkat untuk menyelenggarakan
program latihan.
1.g. Komisariat
 Melaksanakan rekruitmen calon kader.
 Bertanggungjawab atas telaksanakannya program Latihan Kader I, Up
Grading Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan, Up Grading
Kepengurusan.
 Bekerjasama dengan pengurus
program Latihan Kader I.
HMI
Cabang
untuk
menindaklanjuti
 Dapat mengadakan program latihan kader II atas persetujuan pengurus
Cabang.
2.a. Instruktur
Adalah pemateri yang berasal dari aktivis HMI, alumni, cendekiawan atau
orang-orang tertentu sebagaimana diatur dalam pedoman BPL dengan
klasifikasi dan kualifikasi pengelola latihan, yang ditugaskan untuk
menyampaikan meteri latihan yang dipercayakan kepadanya.
2.b. Steering Committee (SC)
 Kader HMI yang memiliki kualifikasi tertentu, ditugaskan
bertanggungjawab atas pengarahan dan palaksanaan latihan.
dan
 Mengadakan koordinasi sebaik-baiknya diantara unsur-unsur yang terlibat
langsung dalam latihan.
2.c. Pemandu
 Kader HMI yang diserahi tugas dan kepercayaan untuk memimpin,
mengawasi, dan mengarahkan latihan.
 Memegang teguh dan melaksanakan kode etik pengelola latihan.
 Membuat laporan pengelola latihan.
 Bertanggungjawab atas keseluruhan jalannya acara latihan sesuai dengan
rencana.
2.d. Organizing Committee (OC)
 Sebagai penyelenggara yang bertugas dan Bertanggungjawab terhadap
segala hal yang yang berhubungan dengan teknis penyelenggara latihan.
 Tugas-tugas OC secara garis besar sebagai berikut:
a. Mengusahakan tempat, akomodasi, konsumsi, dan fasilitas lainnya.
b. Mengusahakan pembiayaan dan perizinan latihan.
c. Menjamin kenyamanan suasana dan keamanan latihan.
d. Mengusahakan ruangan, peralatan, dan penerangan yang favourable.
e. Bekerjasama dengan unsur-unsur lainnya dalam rangka mensukseskan
jalannya latihan.
2.e. Peserta Latihan
Adalah calon kader yang diharapkan dapat berkembang menjadi kader yang
berhasil.
D. Mekanisme Kerja Pengelola Latihan
1. Untuk
menyelenggarakan
latihan,
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
pengurus
komisariat,
lembaga
pengembangan profesi dan KOHATI membentuk OC dengan surat keputusan
dan membuat proposal disertai surat permohonan mengelola latihan.
Untuk menyelenggarakan Latihan Kader I, pengurus Komisariat membentuk
OC dengan SK dan membuat proposal disertai surat permohonan mengelola
latihan untuk kemudian diusulkan pada pengurus BPL Cabang.
Untuk menyelenggarakan Latihan Kader II, pengurus HMI Cabang membentuk
OC dengan SK dan membuat proposal serta memerintahkan BPL untuk
mengelola latihan.
Menyelenggarakan Latihan Kader III dan pelatihan ke-HMI-an lainnya, PB HMI
atau BADKO HMI membentuk OC dengan SK dan membuat proposal dan
memerintahkan BPL untuk mengelola latihan.
Pengurus BPL setingkat selanjutnya membentuk SC dengan surat mandat
yang bertugas sesuai fungsi dan wewenangnya.
Pemandu bertanggungjawab atas terlaksananya latihan sesuai dengan
proposal yang telah diajukan dan berkewajiban memberikan laporan kepada
pengurus BPL setingkat.
Organizing Committee (OC) dan Steering Committee (SC) bertanggungjawab
atas tersedianya fasilitas yang diperlukan demi terselenggaranya latihan,
termasuk rekruitmen peserta latihan. Kemudian OC berkewajiban membuat
laporan kepada HMI setingkat.
Laporan diserahkan paling lambat satu bulan setelah pelatihan berakhir.
Hal-hal yang penting harus dilaporkan oleh SC, meliputi:
a. Gambaran umum kegiatan
b. Pelaksanaan kegiatan:
 Administrasi Kesekretariatan
 Publikasi, dekorasi, dan dokumentasi
 Akomodasi
 Konsumsi
 Keuangan dan perlengkapan
 Acara dan lain-lain
c. Evaluasi
d. Kesimpulan dan Saran
e. Lampiran-lampiran
10. Hal-hal penting yang harus dilaporkan pemandu meliputi:
a. Gambaran umum Pengelola Latihan
b. Pelaksanaan Kegiatan:
 Jadwal manual acara dan realisasi
 Berita acara
 SC, Pemandu, Pemateri Peserta.
c. Evaluasi Pengelola Latihan
 Peserta
 SC dan Pemandu
 Instruktur
d. Kesimpulan
11. Jika Cabang tidak/belum ada Badan Pengelola Latihan maka tugas-tugas
ditangani langsung oleh Bidang Pembinaan Anggota.
KODE ETIK PENGELOLAAN LATIHAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENDAHULUAN
Maha suci Allah yang telah menganugrahkan hamba-Nya kejernihan dan ketulusan
hati nurani terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. Bahwa kode etik merupakan
kaidah yang mengatur sikap dan perilaku agar dapat bertindak secara baik dan
benar, dapat menghindari dari hal-hal yang dianggap buruk, yang penghayatan dan
pengamalannya didasari oleh moralitas yang dalam. Karena pada dasarnya setiap
orang dengan segala harapan dan keinginannya, cenderung mendambakan
‘ketenangan dalam kelompok’ serta merasa bertanggungjawab terhadap kelompok
tersebut, karena dimana eksistensi dan missi yang dianggapnya mulia. Dengan
demikian, maka kedudukan suatu kode etik tersebut adalah sebagai tolok ukur
kesetiaan anggota kelompok terhadap tata nilainya.
Pelaku-pelaku yang setia menekuni sikap dan tindakan seperti yang ditunjukkan
oleh kode etik, mereka dikategorikan sebagai pengemban setia dari nilai-nilai
kelompok yang diperjuangkannya, dan pada saatnya mereka mendapat ganjaran
yang terhormat dari anggota kelompoknya.
Sebaliknya pelaku yang cenderung lalai dalam mengemban kode etik, pada saatnya
akan mendapatkan tekanan sosial dari kelompoknya yang menyadari dirinya untuk
mengentalkan kesetiaan pada tata nilai kelompok dengan jalan memberikan
kepatuhan pada kode etik.
Demikian juga halnya pengelola latihan sebagi satu kelompok yang secara sadar
terlibat dalam proses pengelolaan pelatihan di HMI, perlu mendalami dan mentati
kode etiknya yang dirumuskan sebagai berikut:
BAGIAN I
SIKAP DAN PERILAKU UMUM
Pasal 1
Peran Keilmuan
Pengelola pelatihan memberikan perhatian tinggi pada kegiatan keilmuan, terutama
pada materi yang menjadi spesialisasinya dalam pelatihan, serta berusaha mencari
relevansi penjelasan ilmu tersebut.
Pasal 2
Citra Kekaderan
Dalam forum manapun juga, pengelola pelatihan selalu menjaga nama baik
kelompok/Himpunan serta mengembangkan citra kekaderan dengan tingkah laku
simpatik.
Pasal 3
Peran Kemasyarakatan
a. Pengelola pelatihan selalu berusaha menjadi satu dalam kegiatan masyarakat di
lingkungannya, serta berusaha memberikan andil agar kegiatan yang
berlangsung tersebut berjalan secara lebih bermakna bagi kemanusiaan dan
berlandaskan Islam.
b. Berusaha menetralisir gambaran yang keliru tentang Islam maupun misi HMI
pada kalangan masyarakat yang mengalami salah pengertian.
Pasal 4
Membina Anggota
Pengelola pelatihan selalu berusaha mengikuti perkembangan kegiatan anggota
dan ikut serta dalam usaha meningkatkan kualitas anggota tersebut.
Pasal 5
Pengurus Struktur Kepemimpinan
a. Membagi waktu sebaik-baiknya agar tidak hanya ‘hanyut’ dalam kegiatan rutin
operasionalisasi program, dengan selalu berpartisipasi pada perumusan dan
evaluasi langkah strategis perkaderan.
b. Tugas dan tanggungjawab pada jabatan pada pengurus struktur kepemimpinan
disinergikan dengan tugas dan tanggungjawab sebagai kelompok pengelola
latihan.
Pasal 6
Aktivitas Kampus
a. Pengelola pelatihan pada periode tertentu mengkhususkan diri pada kesibukan
kampus/intra universitas, tetap selalu menjaga dan memelihara komuniksi serta
terlibat secara adil dengan langkah pengelolaan pelatihan.
b. Pada waktu tertentu masih menyisihkan untuk berperan secara fisik pada
kegiatan pengelolaan pelatihan, tanpa mengacaukan suasana khas yang masingmasing terdapat pada intra dan ekstra universitas.
Pasal 7
Pengembangan Diri
a. Pengelolaan pelatihan selalu berdaya upaya memperdalam persepsi dan
penguasaan keterampilan serta pematangan kepribadian, baik secara kolektif
ataupun aktifitas individual.
b. Secara periodik pengelola pelatihan menunjukkan prestasi di luar forum
kemahasiswaan, misalnya dunia kemahasiswaan, keilmuan seperti penulisan
paper dan sebagainya.
BAGIAN II
PADA SAAT MENJADI PEMANDU
Pasal 8
Terhadap Diri Sendiri
a. Pemandu putra adalah: pakaian rapi, baju dengan kerah, lengkap dengan sabuk
dan sepatu, serta mengenakan emblem kecil di dada dan muts.
b. Pemandu putri: pakaian sopan dengan mode yang menutup lutut dan lengan
secara tidak ketat, mamakai sepatu, dan perhiasan seperlunya.
c. Sedapat mungkin full time di arena pelatihan atau hanya meninggalkan arena
apabila ada keperluan sangat penting.
d. Membawa bahan bacaan yang berhubungan dengan kebutuhan pelatihan serta
Al Qur’an dan terjemahnya.
e. Pada saat pelatihan berlangsung, apabila ‘teman spesial’ sedang berada di arena
pelatihan hendaklah tetap bertingkah laku wajar untuk tidak menimbulkan citra
yang mengganggu sosialisai nilai.
Pasal 9
Sebagai Tim Pemandu
a. Tim pemandu menjaga kerahasiaan penilaian terhadap peserta selama pelatihan
berlangsung dan mengumumkan pada akhir pelatihan setelah melakukan
perhitungan prestasi secara teliti.
b. Mengadakan pembagian tugas yang seimbang pada setiap sesi bagi setiap
pemandu.
c. Memimpin studi Al Qur’an (ba’da magrib) bagi peserta pelatihan secara khusus
menurut tingkat kemampuannya.
d. Memilih ayat-ayat Al Qur’an untuk dibacakan pada acara pembukaan sesuai
konteks yang berhubungan langsung dengan materi acara.
e. Mengambil alih tanggungjawab mengisi materi, apabila pemateri yang bertugas
betul-betul berhalangan, sedangkan waktu untuk mencari penggantinya sudah
tidak mungkin.
f. Pada saat selesai pelatihan langsung meyelesaikan laporan pelatihan secara rapi
dan lengkap untuk dijilid.
Pasal 10
Terhadap Pemateri
a. Pemandu menyampaikan perkembangan pelatihan pada pemateri yang akan
memberikan materi, kemudian mempersilahkan mengisi materi apabila waktunya
sudah tiba.
b. Selama pemateri berada di arena pelatihan maupun di dalam forum pelatihan,
agar pemandu mengesankan sikap ukhuwah islamiyah terhadap pemateri.
c. Memanfaatkan waktu yang tersedia untuk berdiskusi (informal) dengan pemateri,
baik segala sesuatu yang berkaitan dengan perkaderan maupun topik umum
yang aktual.
d. Pada sesi berikutnya, pemandu dapat memantapkan materi yang disampaikan
terdahulu tanpa keluar dari pola yang sudah ada.
Pasal 11
Terhadap Peserta Pelatihan
a. Pemandu menunjukkan rasa penghargaan dan persaudaraan terhadap peserta
pelatihan, misalnya mulai pada penyebutan nama yang benar, memperhatikan
asal usul, bersabar mengikuti jalan pikirannya, memahami latar belakangnya dan
seterusnya.
b. Pemandu tidak menunjukkan sikap atau tindakan yang membawa kesan pilih
kasih.
c. Pemandu tidak menunjukkan senyum atau rasa geli yang wajar dalam
menyaksikan tindakan peserta pelatihan yang bersifat lucu.
d. Pemandu apabila terpaksa menjatuhkan sanksi terhadap peserta pelatihan,
hendaknya dengan cara mendidik dan teknik yang tidak berakibat menimbulkan
antipati.
e. Pada dasarnya pemandu harus menyesuaikan diri dengan kesepakatan
ketertiban peserta pelatihan. Dan memberi contoh shalat berjamaah maupun
aktifitas masjid.
f. Diskusi (informal) dapat dilakukan diluar lokasi dengan peserta pelatihan yang
sifatnya melayani hasrat ingin tahu dari peserta pelatihan dengan menyesuaikan
dengan penggarapan dalam lokasi.
g. Apabila suatu saat di arena pelatihan, pemandu ‘memiliki perasaan spesial’
terhadap lawan jenisnya hendaknya selalu bertindak dewasa sehingga tidak
perlu menunjukkan tingkah laku yang mengundang ‘penilaian negatif’.
Pasal 12
Terhadap Panitia
a. Pemandu selalu berusaha memahami kondisi dan permasalahan yang dihadapi
panitia, dengan memberikan bimbingan maupun dorongan moril.
b. Hal-hal yang menyangkut fasilitas kesekretariatan pelatihan
konsumsinya diperlukan hanya sebatas kemampuan panitia.
maupun
c. Menyesuaikan pengaturan acara di dalam dan di luar lokasi dengan pesiapan
teknis yang selesai dikerjakan panitia, dengan lebih dulu mengadakan
pemeriksaan.
d. Waktu luang dari panitia dimanfaatkan untuk melakukan diskusi tentang topik
yang bersifat memperdalam persepsi dan wawasan berfikir panitia.
Pasal 13
Terhadap Sesama Anggota BPL
a. Rekan BPL yang tidak bertugas diajak untuk mempelajari jalannya pelatihan
sekedar tukar fikiran untuk mendapatkan hasil maksimal.
b. Dalam keadaan situasi pelatihan yang memerlukan bantuan untuk
mempertahankan target pelatihan maka rekan BPL yang berkunjung dapat
diminta tenaga khusus.
Pasal 14
Terhadap Alumni
a. Alumni (terutama yang pernah mengelola pelatihan) yang berkunjung ke arena
pelatihan, kalau mungkin diperkenalkan dengan peserta pelatihan disertai dialog
singkat tanpa merubah manual.
b. Terhadap alumni tersebut, pemandu melakukan diskusi intensif mengenai
perkembangan perkaderan.
Pasal 15
Terhadap Masyarakat
a. Pemandu bertanggungjawab memlihara nama baik HMI pada masyarakat sekitar.
b. Pemandu mengatur kegiatan yang bersifat pengabdian masyarakat sekitar sesuai
kebutuhan masyarakat yang mungkin ditangani.
BAGIAN III
PADA SAAT MENJADI PEMATERI
Pasal 16
Terhadap Diri Sendiri
a. Pemateri pada saat dihubungi panitia segera memberi kepastian kesediaan atau
tidak.
b. Membawa bahan bacaan yang berhubungan dengan kebutuhan pelatihan serta
Al Qur’an dan terjemahnya.
c. Menyesuaikan pakaian pemandu.
d. Mengisi riwayat hidup sebelum masuk lokasi pelatihan.
Pasal 17
Terhadap Peserta Pelatihan
a. Pemateri memberikan kesempatan yang merata dan adil kepada peserta
pelatihan untuk bicara, serta menghargai pendapat peserta dan membimbing
merumuskan pendapat mereka.
b. Pada saat peserta pelatihan
perhatian sunguh-sungguh.
berbicara
hendaknya pemateri
memberikan
c. Peserta pelatihan yang konsentrasinya terganggu atau tertidur dan semacamnya
hendaknya ditegur.
d. Peserta pelatihan yang masih berminat berbincang di luar lokasi, hendaknya
dilayani selama kondisi memungkinkan.
Pasal 18
Terhadap Sesama Pemateri
a. Diusahakan sebelum mengisi materi, berdialog dengan rekan pemateri yang
mengasuh materi sejenis dan yang berkaitan.
b. Saling mengisi dengan materi yang disampaikan.
Pasal 19
Terhadap Tim Pemandu
a. Memberikan informasi dan membantu memberikan pertimbangan kepada
pemandu apabila diperlukan atau bila terjadi kekurangsiapan dari pemandu, agar
pelatihan berlangsung mencapai target.
b. Membuat penilaian tertulis kepada BPL tentang penilaian pemandu, sebagai
bahan perbandingan evaluasi.
BAGIAN IV
SANKSI
Pasal 20
Pelanggaran terhadap kode etik pengelola latihan akan dikenakan sanksi, dari
sanksi paling ringan (teguran lisan) sampai dengan yang paling berat (dikeluarkan
dari BPL).
BAGIAN V
PENUTUP
Pasal 21
Hal-hal yang belum diatur dalam kode etik ini, akan disesuaikan dengan pedoman
BPL dan aturan operasional lainnya.
SISTEM EVALUASI PENERAPAN PEDOMAN PERKADERAN
I.
PENDAHULUAN
Sebagai organisasi mahasiswa Islam yang memfungsikan diri sebagai organisasi
kader, maka HMI senantiasa berusaha untuk memelihara motivasi, dedikasi dan
konsistensi dalam menjalankan sistem perkaderan yang ada. Dalam usahanya
untuk menjaga konsistensi perkaderan maka perlu ada suatu mekanisme
evaluasi penerapan pedoman perkaderan yang telah disepakati bersama.
Selama ini penerapan pedoman perkaderan belum mengalami persamaan
secara mendasar terutama kurikulum latihannya, oleh karena itu penentuan
kurikulum yang dipakai seluruh Cabang dan sekaligus pengelola latihan yang
telah ada dituntut menerapkan secara komprehensif. Hal ini menjadi kebutuhan
yang sangat mendesak mengingat kualitas output kader ditentukan oleh
pedoman perkaderan yang diterapkan pada masing masing Cabang.
II.
INSTITUSI
Untuk menerapkan mekanisme evaluasi perlu ada institusi yang jelas, sehingga
mekanisme evaluasi ini menjadi efektif. Dalam struktur HMI penanggungjawab
dan pelaksana evaluasi penerapan pedoman perkaderan adalah bidang
Pembinaan Anggota.
III. FORMAT
Format evaluasi pedoman perkaderan:
1. Kurikulum.
2. Panduan Pengelola Latihan.
3. Pola Rekruitmen.
IV. AKREDITASI
Akreditasi sebagai suatu mekanisme pemaksa dalam suatu evaluasi merupakan
upaya yang didorong oleh keinginan memberikan motivasi yang lebih tinggi
terhadap pengelola perkaderan. Akreditasi ini diperuntukkan kepada Cabang
sebagai institusi yang secara langsung melaksanakan proses perkaderan.
Disamping itu akreditasi berfungsi juga untuk memetakan penerapan pedoman
perkaderan yang dilaksanakan seluruh Cabang. Dalam hal ini akreditasi yang
dilakukan adalah bentuk laporan periodik Cabang pada BADKO HMI di
wilayahnya dan PB HMI.
Adapun akreditasi meliputi :
1. Laporan triwulan pelaksanaan training.
2. Frekuensi latihan :
a. LK I minimal 2 kali dalam satu semester.
b. LK II minimal satu kali dalam satu periode.
c. Up grading dan pelatihan minimal empat kali dalam satu periode.
3. Aktivitas pembinaan minimal satu kali dalam satu bulan
4. Laporan aktivitas pembinaan :
a. Bentuk kegiatan.
b. Tingkat partisipasi.
V.
SANKSI
Apabila tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas, Cabang tidak dibenarkan
mengikuti dan mengelola kegiatan perkaderan tingkat regional dan nasional.
VI. RASIO JENJANG LATIHAN PERKADERAN
R*
(persentase)
100
Latihan Kader I
(Basic Training)
10
Latihan Kader II
(Intermediate
Training)
3,5
Latihan Kader III
(Advance Training)
1,5
* = Jumlah mahasiswa muslim dalam wilayah kinerja Cabang.
POLA PEMBINAAN PENGELOLA LATIHAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian
HMI berfungsi sebagai organisasi perkaderan (pasal 8 AD HMI). Dari fungsi
tersebut dapat diketahui bahwa jantung organisasi adalah perkaderan. Output
perkaderan yang berkualitas dihasilkan oleh proses perkaderan yang berkualitas
pula. Untuk menghasilkan proses perkaderan yang berkualitas diperlukan sistem
yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kondisi organisasi dan
kebutuhannya. Selain sistem yang baik, dibutuhkan sumberdaya manusia yang
handal dalam mengimplementasikan sistem. Untuk mencetak kader-kader yang
handal dalam perkaderan perlu dibuat suatu pola pembinaan yang standar,
sebagai bentuk standarisasi pengelola latihan.
Pola Pembinaan Pengelola Latihan pada dasarnya merupakan acuan yang
digunakan untuk melaksanakan dan menerapkan secara proporsional dan
profesional aktifitas serta kreatifitas kader dengan pola pembinaan terpadu.
Model pembinaan yang dikembangkan oleh Badan Pengelola Latihan Himpunan
Mahasiswa Islam (BPL HMI) disusun secara sadar, berkesinambungan, sistematis,
dan progresif dalam rangka penataan diberbagai ruang lingkup kelembagaan.
Pola pembinaan diarahkan dengan tiga bentuk operasional yakni model formal
(pendidikan), informal (aktivitas) dan model non formal (jaringan kerja/Net Work).
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan disusunnya Pola Pembinaan Pengelola Latihan agar seluruh
upaya yang dilakukan dalam pembinaan anggota BPL HMI selalu dalam kerangka
kesadaran ke-Ilahian, sistematis, berkesinambungan dan sarat akan
pertanggungjawaban. Dalam upaya pencapaian tujuan ini kondisi-kondisi yang
diharapkan dapat terwujud adalah peningkatan kualitas dan kuantitas anggota,
sikap dan konsisten terhadap perjuangan, tetap ada regenerasi kepemimpinan
dan kesinambungan aktifitas atas perjuangan serta profesionalisme komunal
(kelembagaan).
C. Fungsi
1. Pola Pembinaan Pengelola Latihan berfungsi sebagai penuntun dan pegangan
dalam melaksanakan seluruh kegiatan-kegiatan BPL HMI, sehingga tetap
mengarah kepada pencapaian tujuan.
2. Pola Pembinaan Pengelola Latihan
keberhasilan seluruh aktifitas.
juga
berfungsi
sebagai
parameter
BAB II
STRATEGI PEMBINAAN
Strategi pembinaan pengelola latihan pada dasarnya adalah fungsionalisasi tugas
dan peran BPL HMI dalam pembentukan perkaderan yang berkualitas. Strategi ini
sejalan dengan visi, misi, dan tujuan organisatoris. Implementasi strategi
pembinaan ini ditujukan untuk meraih dan mempertahankan keunggulan kompetitif,
dengan kata lain strategi pembinaan merupakan suatu strategi kompetitif HMI
dalam menghadapi kebutuhan organisasional. Strategi ini diharapkan dapat
mendorong inovasi dan peningkatan kualitas perkaderan.
Strategi yang dilakukan meliputi:
1. Strategi Rekrutmen dan Seleksi
Strategi yang dilakukan adalah dengan pendekatan need assessment dengan
menggunakan analisis kebutuhan organisasional, analisis kebutuhan personalia,
dan analisis pekerjaan. Dalam melakukan rekrutmen hal yang harus diperhatikan
adalah pemerataan sumberdaya. Rekrutmen dilakukan melalui proses pelatihan
yang dinamakan Pelatihan untuk Pelatih tingkat Dasar (Basic Training for Trainer).
Untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas, seleksi merupakan suatu
kemestian. Seleksi yang dilakukan meliputi tes potensi akademik, tes skolastik,
tes ke-HMI-an, dan tes ke-Islaman. Tes dilakukan secara tertulis dan wawancara.
Soal dan kisi-kisinya dibuat oleh BPL PB HMI.
2. Strategi Perencanaan Sumber Daya Manusia
Strategi yang dilakukan adalah dengan maping (pemetaan) kebutuhan meliputi
kebutuhan organisasi, kebutuhan kerja/aktivitas, dan kebutuhan personalia.
Untuk mendukung perencanaan sumberdaya manusia ini, maka harus didukung
oleh Sistem Informasi Sumber Daya Manusia (SISDM) yang akurat, efektif, dan
efisien. BPL PB HMI bertanggungjawab atas tersusunnya rencana SDM ini, dan
membangun SISDM yang mampu diakses oleh seluruh elemen HMI. SISDM yang
dibangun berbasis Teknologi dan Informasi yang akurat, minimal memuat
informasi instruktur serta penilaian kuantitatif dan kualitatifnya.
3. Strategi Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan merupakan penciptaan suatu lingkungan dimana orang/anggota dapat
memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan
perilaku yang spesifik yang berkaitan dengan tugas organisasional. Ada
perbedaan yang cukup mendasar antara pelatihan dan pengembangan, jika
pelatihan diarahkan untuk membantu orang untuk melaksanakan tugas
organisasi secara lebih baik, sedangkan pengembangan lebih diarahkan pada
investasi yang berorientasi ke masa depan dalam diri masing-masing individu.
Pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan
keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, atau perubahan sikap seorang
individu, sedangkan pengembangan diartikan sebagai penyiapan individu untuk
memikul tanggungjawab yang berbeda atau yang lebih tinggi dalam organisasi.
Aktivitas pelatihan yang dilakukan guna memenuhi kebutuhan organisasional
yang menerapkan pola pelatihan berjenjang, sejalan dengan kebijakan tersebut
dalam pola pembinaan pengelola latihan pun menggunakan pola yang berjenjang
pula. Latihan yang dilakukan meliputi:
a. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Dasar
b. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Menengah
c. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Lanjut
d. Pelatihan untuk Pelatih Profesional
Selain aktivitas pelatihan, untuk meningkatkan kuliatas SDM instruktur dilakukan
pula aktivitas pengembangan meliputi follow up/up grading, aktivitas, dan
pembuatan karya.
4. Strategi Penilaian Aktivitas
Untuk melihat perkembangan kualitas instruktur dari masa ke masa, maka
diperlukan suatu sistem penilaian aktivitas yang accountable, dimana penilaian
yang dilakukan merupakan penilaian yang obyektif dan terukur. Penilaian yang
dilakukan meliputi seluruh aktivitas pengembangan. Format instrumen evaluasi
yang digunakan adalah Graphic Rating Scale yang dipadukan dengan beban
kredit tertentu.
5. Strategi Kompensasi
Motivasi pengelola latihan untuk terus berkiprah di BPL HMI dan
mengembangkan kualitasnya sangat tergantung pada kompensasi yang
diberikan kepada yang bersangkutan. Dengan pemikiran tersebut, maka harus
dirancang strategi reward and punishment sedemikian rupa yang mampu
memotivasinya. Penghargaan dan sanksi yang dapat diberikan adalah hak untuk
ikut pelatihan selanjutnya dan/atau kegiatan yang sifatnya profit oriented, duduk
di jabatan struktural Badiklat HMI serta larangan untuk ikut. Pemberian
kompensasi didasarkan atas penilaian aktivitas terhadap yang bersangkutan.
BAB III
KUALIFIKASI PENGELOLA LATIHAN
Pengelola latihan terdiri dari 4 jenis yang didasarkan atas kualitas dan jam terbang
dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Instruktur Muda
Instruktur muda adalah anggota HMI yang telah mengikuti Pelatihan untuk
Pelatih tingkat Dasar. Instruktur muda berhak menjadi SC, tim rekam proses, dan
asisten instruktur pada LK I.
2. Instruktur Madya
Instruktur madya adalah anggota BPL HMI yang telah mengikuti Pelatihan untuk
Pelatih tingkat Menengah. Instruktur madya memiliki hak yang sama dengan
instruktur muda, dan menjadi instruktur LK I, SC, asisten instruktur pada LK II,
MOT pada LK I.
3. Instruktur
Instruktur adalah anggota BPL HMI yang telah mengikuti Pelatihan untuk Pelatih
tingkat Lanjut. Instruktur memiliki hak yang sama dengan instruktur madya, dan
menjadi instruktur/MOT LK II, serta berhak mengelola/terlibat dalam training yang
sifatnya profit oriented, serta dipilih menjadi pengurus BPL HMI Cabang atau
Korwil.
4. Instruktur Utama
Instruktur utama adalah instruktur yang telah mengikuti LK III dan mendapatkan
point ≥ 148, serta IP ≥ 3,00. Instruktur utama memiliki hak yang sama dengan
instruktur, menjadi instruktur/MOT LK III, dan dipilih menjadi pengurus BPL PB
HMI.
BAB IV
PELAKSANAAN POLA PEMBINAAN
A. Formal
Model pembinaan yang dilakukan oleh BPL HMI adalah pelatihan yang sifatnya
memberikan pengetahuan dan keahlian pada para pengelola latihan mengenai
masalah pertrainingan. Seluruh pelatihan ini dilaksanakan oleh BPL HMI secara
mandiri sesuai dengan peruntukannya.
1. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Dasar
Tujuan:
Terciptanya sumberdaya pengajar yang memiliki kualitas akademis, dan
kemampuan memberikan materi, serta mampu menjadikan diri sebagai
teladan yang baik.
Target:
 Mengetahui filosofi pendidikan/perkaderan
 Mengetahui teknik perencanaan materi
 Mengetahui metode-metode pengajaran
 Mengetahui teknik evaluasi peserta
Waktu:
72 Jam
Kurikulum :
1. Pendalaman NDP
 Pendalaman landasan dan kerangka berfikir serta basis ontologis
pengetahuan
 Pendalaman dasar-dasar kepercayaan dan eskatologi
 Pendalaman hakikat manusia dan prinsip-prinsip takdir dalam Islam
 Pendalaman individu dan masyarakat serta prinsp-prinsip keadilan
2. Pengantar Filsafat Pendidikan
 Pengertian pendidikan
 Tugas dan fungsi pendidikan
 Manusia dan proses pendidikan
3. Pengantar Psikologi Pendidikan
4. Didaktik Metodik
 Pengertian didaktik metodik
 Bentuk, gaya, dan alat pengajaran
 Metode pengajaran
5. Perencanaan Pengajaran
 Pengertian pengajaran
 Tujuan pengajaran
 Penyusunan session design/teaching plan
6. Evaluasi
 Pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi
 Teknik, prosedur, dan alat evaluasi peserta
7. Praktek Pengajaran
Syarat :
 Telah lulus LK I
 Telah selesai mengikuti follow up/up grading pasca LK I
 Memiliki minat untuk menjadi pengelola latihan
 Lulus screening
2. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Menengah
Tujuan:
Terciptanya sumberdaya pengelola Latihan Kader I yang memiliki kemampuan
mengelola LK I secara baik dan benar, serta mampu menjadikan diri sebagai
teladan yang baik.
Target:
 Mengetahui manajemen pengelolaan LK I
 Menguasai seluruh materi LK I
 Mengetahui teknik penilaian peserta
Waktu:
48 Jam
Kurikulum:
1. Pendalaman Materi LK I (Non NDP)
 Sejarah Perjuangan HMI
 Konstitusi HMI
 Misi HMI
 Kepemimpinan, Manajemen dan Organisasi
2. Perencanaan Pelatihan
 Pengertian pelatihan
 Penilaian kebutuhan
 Perencanaan kurikulum pelatihan
3. Teknik Pengelolaan Pelatihan
4. Teknik Penilaian Peserta
 Pengertian penilaian
 Teknik, prosedur, dan alat penilaian peserta
5. Evaluasi Pelatihan
 Pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi
 Pelaporan dan evaluasi pelatihan
6. Praktek
Syarat :
 Instruktur Muda yang telah memiliki point ≥ 144 dan IPK ≥ 2,50
 Telah mengikuti LK II
 Lulus screening
3. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Lanjut
Tujuan :
Terciptanya sumberdaya pengelola Latihan Kader II yang memiliki kemampuan
mengelola LK II secara baik dan benar, serta mampu menjadikan diri sebagai
teladan yang baik.
Target:
 Mengetahui manajemen pengelolaan LK II
 Menguasai seluruh materi LK II
Waktu:
36 Jam
Kurikulum:
1. Pendalaman Materi LK II
 Pendalaman NDP
 Pendalaman Misi HMI
 Teori-teori tentang Perubahan Sosial
 Ideopolitor Stratak
 Kepemimpinan, Manajemen dan Organisasi
2. Manajemen Pengelolaan Pelatihan
3. Evaluasi Pelatihan
 Pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi
 Pelaporan dan evaluasi pelatihan
4. Praktek
Syarat :
 Instruktur Madya yang telah memiliki point ≥ 144 dan IPK ≥ 2,75
 Lulus screening
4. Pelatihan untuk Pelatih Profesional
Tujuan :
Terciptanya sumberdaya pengelola training profesional yang memiliki
kemampuan mengelola segala bentuk training secara baik dan benar, serta
mampu menjadikan diri sebagai teladan yang baik.
Target:
 Mengetahui manajemen training
 Menguasai seluruh pola pengelolaan training
Waktu :
60 am
Kurikulum:
1. Manajemen Pelatihan
 Pengertian manajemen pelatihan
 Perencanaan pelatihan
 Pengelolaan pelatihan
 Evaluasi pelatihan
2. Dasar-dasar Kurikulum
 Pengertian kurikulum
 Perencanaan kurikulum
 Penyusunan kurikulum
3. Simulasi Pengelolaan Training
 AMT/sejenis
 Entrepreneurship Training
 Leadership Training
 Team Building Training
 Problem Solving/Decision Making Training
 Pelatihan Advokasi
 Skill Training (Training untuk Keahlian Khusus)
Syarat:
 Instruktur yang telah memiliki point ≥ 148 dan IPK ≥ 3,00 dan Instruktur
Utama
 Lulus screening
Untuk pelaksanaan pembinaan formal pengelola latihan akan dijelaskan dalam
petunjuk pelaksanaan dan/atau modul pelatihan.
B. INFORMAL
Model pembinaan pengelola latihan yang dilakukan oleh BPL HMI menggunakan
pola peningkatan kualitas yang didasarkan pada aktivitas pengelola pelatihan.
Pembinaan informal ini secara praksis merupakan proses untuk melakukan
penilaian kinerja pengelola latihan.
Aktivitas yang dilakukan dalam rangka pembinaan terhadap pembinaan
pengelola latihan meliputi aktivitas pribadi dan aktivitas kelompok atau
organisasional, meliputi:
1. Follow up/up grading
2. Aktivitas pengajaran: menjadi unsur training, dll.
3. Aktivitas pembinaan kader: diskusi kader, dll.
4. Aktivitas intelektual: penulisan opini, dll.
C. NON FORMAL
Model pembinaan yang dilakukan adalah dengan memfasilitasi para pengelola
latihan yang dianggap potensial untuk melakukan aktivitas yang berada di luar
wilayah HMI, tetapi masih berkaitan dengan profesionalisme pengelola latihan.
Aktivitas yang mungkin bisa dilakukan adalah magang di lembaga-lembaga
pelatihan, ditugaskan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan di luar HMI yang
hasilnya dapat diadopsi oleh HMI dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan
training dalam perkaderan HMI.
BAB V
EVALUASI PELAKSANAAN
POLA PEMBINAAN
Untuk tercapainya keberhasilan pola pembinaan maka diperlukan suatu evaluasi
terhadap pelaksanaan pola pembinaan. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui
perkembangan dan digunakan untuk merancang pola pembinaan selanjutnya yang
lebih baik.
Evaluasi yang dilakukan meliputi :
1. Evaluasi terhadap sistem manajemen SDM
2. Evaluasi terhadap pelaksanaan pola pembinaan
3. Evaluasi terhadap pelaksana
Evaluasi ini dapat dipergunakan juga untuk memberikan reward and punishment
terhadap para pengelola latihan.
BAB VI
PENUTUP
Pembinaan Pengelola Latihan sebagai upaya untuk mencapai kader kualified yang
menjadi tujuan HMI, dan benar-benar akan terwujud apabila terdapat kesadaran
(amanah), keterlibatan aktif, dan sikap mental yang teguh (militan) para pengawal
perkaderan.
FORM PA-1
FORMULIR AKTIVITAS
PENGELOLA LATIHAN
Nama
: ……………………………………………………………. Cabang:
………………………………………………..
No. Anggota : …………………………………………………………….
kualifikasi*) : Instruktur Muda
Instruktur Madya
Instruktur
Instruktur Utama
No
.
Aktivitas
Nilai
HM
Kredit
AM
Point
Tanggal,
TTD dan
Nama
Penilai
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
TOTAL POINT
*) Coret yang tidak perlu
Dapat diperbanyak sesuai
kebutuhan
FORM PA-2
FORMULIR PENILAIAN AKTIVITAS
PENGELOLA LATIHAN
Nama
: ……………………………………………………………. Cabang:
………………………………………………..
No. Anggota : …………………………………………………………….
kualifikasi
: Instruktur Muda
N
o.
1.
Aktivitas
Follow up/up grading

Diskusi
pendalaman materi

Simulasi
keinstrukturan
Jumla
h
Nila
i
H
M
Kredit
Bobot
AM
Bx
J
70
B
2
3
70
B
3
3
76
A
3
4

Diskusi
pendalaman NDP
2.
3.
4.
5.
Penugasan sebagai
Steering Committee LK I
Penugasan sebagai tim
rekam proses pada LK I
Penugasan sebagai
asisten instrukltur pada
LK I
Pembinaan di Komisariat

Mengadakan
diskusi Komisariat
3
4
76
A

Memberikan
materi:
2
4
3
3
3
2
a. Maperca/MOP/sejenis
b. Follow up LK I
c. Acara pelatihan
kampus
d. Acara pelatihan lain
6.
Aktivitas lain:

Memberi materi
TPA/ Bimbel/dll
76
A
3
4

Membuat resume
buku
76
A
2
2
4
76
76
76
76
A
A
A
A
2
3
4
3
4
4
4
4

Diskusi kajian
tertentu
7.
Aktivitas penulisan:

Media HMI
Komisariat

Media HMI Cabang
Poin
t

Media HMI Nasional

Media lokal

Media nasional

Makalah/opini lepas
TOTAL
76
A
4
4
4
KREDI
T
POIN
T
INDEKS PRESTASI
__________________, ___________
200
Mengetahui,
Pengurus Badan Pengelola
Latihan
HMI Cabang _________________
________________________________
__
FORM PA-3
FORMULIR PENILAIAN AKTIVITAS
PENGELOLA LATIHAN
Nama
: ……………………………………………………………. Cabang:
………………………………………………..
No. Anggota : …………………………………………………………….
kualifikasi
: Instruktur Madya
N
o
1.
Aktivitas
Follow Up/Up Grade
 Diskusi pendalaman
materi
 Simulasi kepemanduan
Jumla
h
Nila
i
H
M
Kredit
Bobot
AM
Bx
J
70
B
2
3
65
C
3
2
70
B
2
3
 Diskusi pendalaman
NDP
2.
3.
4.
5.
6.
Penugasan sebagai
Steering Committee LK II
Penugasan sebagai tim
rekam proses pada LK II
Penugasan sebagai
instruktur pada LK I
Penugasan sebagai
asisten instruktur LK
II/MOT LK I
Pembinaan di Cabang
 Mengadakan diskusi
Cabang/ Badiklatda
2
3
4
70
B
 Memberikan Materi
2
3
2
2
2
2
a. Maperca/MOP/sejenis
b. Follow up LK I
c. Acara pelatihan
kampus
d. Acara pelatihan lain
7.
Aktivitas lain:
 Membuat bahan bacaan
LK I
3
2
3
3
 Membuat resume buku
 Membuat media LK I
 Membuat teaching plan
8.
Aktivitas penulisan:
 Media HMI Komisariat
76
A
2
4
 Media HMI Cabang
76
A
3
4
Poin
t
 Media HMI Nasional
76
A
4
4
 Media Lokal
76
A
3
4
 Media Nasional
76
A
4
4
KREDIT
POIN
T
 Makalah/opini lepas
4
__________________, ___________
200
Mengetahui,
Pengurus Badan Pengelola
Latihan
HMI Cabang _________________
________________________________
__
FORM PA-4
FORMULIR PENILAIAN AKTIVITAS
PENGELOLA LATIHAN
Nama
: ……………………………………………………………. Cabang:
………………………………………………..
No. Anggota : …………………………………………………………….
kualifikasi
: Instruktur
N
o
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Aktivitas
Follow Up/Up Grade
 Diskusi pendalaman
materi
Penugasan sebagai
instruktur atau MOT pada
LK I
Penugasan sebagai
instruktur pada LK II
Penugasan sebagai MOT
LK II
Mengelola pelatihan lain
Pembinaan di Cabang
Memberikan Materi
a. Follow up LK II
Jumla
h
Nila
i
H
M
Kredit
Bobot
AM
Bx
J
70
B
2
3
65
C
2
2
3
4
4
3
2
2
b. Acara pelatihan kampus
c. Acara pelatihan lain
7.
Aktivitas lain:
 Membuat teaching plan
LK II
2
3
 Membuat bahan bacaan
LK II
3
75
B
2
3
Aktivitas penulisan:
 Media HMI Komisariat
76
A
2
4
 Media HMI Cabang
76
A
3
4
 Media HMI Nasional
76
A
4
4
 Media Lokal
76
A
3
4
 Media Nasional
76
A
4
4
 Membuat media training
LK II
 Pembinaan terhadap
yunior
8.
 Makalah/opini lepas
4
KREDIT
POIN
T
Poin
t
__________________, ___________
200
Mengetahui,
Pengurus Badan Pengelola
Latihan
HMI Cabang _________________
________________________________
__
Fly UP