...

Endang Suprapti, I Nengah Parta, Swasono Rahardjo

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Endang Suprapti, I Nengah Parta, Swasono Rahardjo
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MODEL
ADVANCE ORGANIZER YANG BERMULTIMEDIA UNTUK
MENGURANGI BEBAN KOGNITIF EXTRANEOUS SISWA
PADA MATERI GARIS DAN SUDUT
Endang Suprapti, I Nengah Parta, dan Swasono Rahardjo
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Dosen Pascasarjana
Universitas Negeri Malang, Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Malang
E-mail: [email protected]; [email protected];
[email protected]
ABSTRAK: Beban kognitif terdiri dari beban kognitif intrinsic, extraneous, dan
germane. Beban kognitif intrinsic dipengaruhi banyak unsur dan hubungan antar
unsur dari materi, beban kognitif ini tidak dapat dikurangi. Beban kognitif
extraneous merupakan beban kognitif yang tidak mendukung pembelajaran.
Pengurangan beban kognitif extraneous dapat meningkatkan beban kognitif
germane sehingga tingkat usaha siswa dalam memahami materi dapat maksimal.
Beban kognitif intrinsic siswa tinggi pada materi garis dan sudut karena memiliki
unsur dan hubungan antar unsur yang komplek. Apabila beban kognitif intrinsic
sudah tinggi, maka diperlukan pengurangan terhadap beban kognitif extraneous.
Salah satu cara untuk mengurangi beban kognitif extraneous yaitu dengan desain
pembelajaran yang baik. Desain pembelajaran yang baik dapat diperoleh melalui
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang matang. Pengembangan perangkat
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan materi diperlukan guna
mendesain pembelajaran tersebut. Pengembangan perangkat pembelajaran
merupakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh perangkat
pembelajaran yang valid, praktis dan efektif, serta mampu mengurangi beban
kognitif extraneous siswa. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), multimedia, dan Lembar Kerja Siswa
(LKS). Penggunaan model advance organizer yang bermultimedia sebagai acuan
dalam menyusun perangkat pembelajaran yang dapat mengurangi beban kognitif
extraneous siswa. Pengurangan beban kognitif extraneous siswa dapat diketahui
dari respon positif siswa terhadap pembelajaran dan hasil kerja siswa di LKS pada
katagori minimal baik.
Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, Model Advance Organizer, Beban Kognitif
Extraneous, Garis dan Sudut
Pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan guru di SMP Yayasan Pupuk
Kaltim secara umum menggunakan metode
ekspositori pada semua materi dan
penggunaan fasilitas proyektor LCD yang
belum maksimal. Pembelajaran yang
dilaksanakan dengan metode tersebut
ternyata kurang dapat memberikan
pemahaman yang maksimal bagi siswa
terutama untuk materi garis dan sudut pada
submateri sudut-sudut yang terbentuk dari
dua garis berpotongan atau dua garis
sejajar dipotong garis lain. Hal ini
diketahui dari hasil pengamatan, wawancara dan pengalaman peneliti. Oleh karena
itu perlu dilakukan perubahan dalam
pembelajaran. Beban kognitif siswa dalam
belajar materi ini perlu diperhatikan.
483
Suprapti, dkk, Pengembangan Perangkat Pembelajaran, 484
Beban kognitif terdiri dari (1) intrinsic, (2)
extraneous, dan (3) germane (Sweller,
2010). Beban kognitif intrinsic bergantung
pada level dari materinya yaitu seberapa
banyak unsur yang ada dan hubungan antar
satu unsur dengan yang lain (Sweller,
2010; Merriënboer & Sweller 2005).
Beban
kognitif
extraneous
tidak
mendukung pembelajaran (Sweller, 2010).
Pembelajaran akan berjalan dengan baik
apabila
beban
kognitif
extraneous
diminimalkan. Apabila dicermati, materi
garis dan sudut ini memiliki unsur dan
hubungan antar unsur yang komplek. Hal
ini berarti beban kognitif intrinsic dari
materi ini pada katagori tinggi sehingga
perlu untuk mengurangi beban kognitif
extraneous agar beban kognitif germane
meningkat. Usaha yang dilakukan untuk
mengurangi beban kognitif extraneous
adalah dengan menggunakan desain
pembelajaran yang baik (Moreno & Park,
2010; Kalyuga, 2010).
Penggunaan model advance organizer dalam pembelajaran sebagai salah
satu usaha untuk mendesain pembelajaran
yang baik. Model advance organizer
sangat sesuai untuk menyajikan faktafakta, keterampilan, konsep dan prinsip
(Bell, 1978). Model advance organizer
mampu memberikan kejelasan hubungan
antar materi, dan memperkuat struktur
kognitif siswa. Model ini terdiri dari tiga
fase yaitu penyajian pengatur awal,
penyajian materi atau tugas, dan penguatan
struktur kognitif siswa (Joyce dkk, 2009).
Selain penggunaan model ini, perlu juga
memanfaatkan fasilitas proyektor LDC
dengan menggunakan multimedia dalam
pembelajaran. Penggunaan teknologi yang
tepat dapat meningkatkan proses belajar
matematika karena memungkinkan eksplorasi yang lebih luas dan memperbaiaki ideide matematika (Walle, 2007). Aktivitas
siswa dalam pembelajaran juga perlu
diperhatikan agar siswa memiliki pengalaman belajar yang lebih baik.
Berdasarkan uraian tersebut maka
perlu dikembangkan perangkat pembelajaran dengan menggunakan model
advance organizer (pengatur awal) yang
bermultimedia. Perangkat yang disusun
terdiri dari (1) Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), (2) Multimedia, (3)
Lembar Kerja Siswa (LKS). RPP digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan
pembelajaran yang sistematis dalam kelas.
Langkah-langkah pembelajaran sesuai
dengan sintak dalam model advance
organizer. Bentuk advance organizer
dapat berupa video, deskripsi verbal,
garfik, peta konsep, dan grafik pengatur
(Link dkk, 2005; Olio, 2007). Bentuk peta
konsep digunakan dalam penelitian ini.
Multimedia sebagai bahan belajar
yang berbentuk tayangan power point guna
memberikan kejelasan materi. Penggunaan
multimedia didasarkan pada asumsi
saluran ganda, kapasitas terbatas dan
pemrosesan aktif pada manusia (Mayer,
2009). Definisi multimedia dibatasi dalam
dua bentuk yaitu verbal form dan pictorial
form, sehingga multimedia learning secara
lebih akurat disebut dual-code learning
atau
dual-channel
learning
atau
pembelajaran dengan dua saluran ganda
(Mayer & Moreno, 2003). Cara yang
dapat digunakan antara lain dengan
memilih kata-kata dan gambar-gambar
yang relevan dengan materi dengan
menampilkan keduanya secara berdekatan
dan menghilangkan hal-hal yang menarik
di luar materi dan memadukan representasi
verbal dan representasi visual itu dengan
pengetahuan-pengetahuan
sebelumnya
(Mayer & Moreno, 2003; Mayer, 2009).
Hal ini juga sesuai dengan prinsip-prinsip
penyusunan multimedia untuk mengurangi
beban kognitif extraneus siswa yang
meliputi prinsip koheren, redundansi,
signaling, keterdekatan waktu, keter-
485, KNPM V, Himpunan Matematika Indonesia, Juni 2013
dekatan ruang, dan multimedia (Mayer,
2009). Sedangkan LKS sebagai lembar
aktivitas siswa dalam proses memahami
materi secara aktif. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran dalam melakukan perubahan
pembelajaran yang lebih baik.
METODE
Dalam pengembangan perangkat
pembelajaran ini menggunakan model
Plomp (2010) sebagai acuan pengembangan. Model Plomp terdiri dari tiga
tahap yaitu penelitian awal, pengembangan, dan penilaian (Nieveen, 2010).
Pada penelitian awal dilakukan analisis
kebutuhan siswa dan intervensi yang
mungkin dilakukan guna memenuhi
kebutuhan tersebut. Kebutuhan siswa
dalam belajar materi garis dan sudut antara
lain kebutuhan terhadap kejelasan penyajian materi melalui penyajian beberapa
gambar dalam menanamkan konsep sudutsudut yang terbentuk dari dua garis
berpotongan atau dua garis sejajar
dipotong garis lain. Kondisi lingkungan
belajar yang mendukung pembelajaran
serta kebutuhan aktivitas siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri. Hal ini berarti siswa membutuhkan
suatu pembelajaran yang dapat mengurangi
beban kognitif extraneous melalui desain
pembelajaran yang baik yaitu menggunakan model advance organizer yang
bermultimedia.
Pada tahap pengembangan, disusun perangkat pembelajaran beserta instrumen yang akan digunakan sebagai penilaian. RPP dirancang untuk digunakan
dalam tiga kali pertemuan. Multimedia
berisikan peta konsep dan materi serta
pembahasan laitihan. Sedangkan LKS
terdiri dari aktivitas dalam memahami
konsep dan soal latihan antara lain dengan
menandai pasangan sudut, mendeskripsikan satu ciri dari masing-masing
pasangan sudut, mengukur sudut, mendeskripsikan sifat dari pasangan sudut
berdasarkan ukuran sudut dan menggunakan sifat tersebut untuk menentukan
ukuran sudut yang lain. Pengembangan
instrumen sebagai alat untuk menilai
produk juga dilakukan pada tahap ini.
Tahap ketiga yaitu tahap penilaian
yang berguna untuk mengetahui kualitas
dari perangkat pembelajaran yang telah
disusun. Perangkat yang disusun harus
memiliki kriteria kualitas yang tinggi yaitu
valid, praktis dan efektif , serta dapat
mengurangi beban kognitif extraneous
siswa. Guna menilai produk tersebut perlu
dilakukan validasi dan uji coba produk.
Validasi dilakukan oleh masing-masing
dua ahli dan dua praktisi. Produk yang
telah memenuhi kriteria kevalidan
kemudian diujicobakan pada dua kelas
yaitu di kelas VIID dan VIIB. Hasil revisi
pada uji coba pertama digunakan dalam uji
coba kedua. Uji coba produk dilaksanakan
oleh guru model dan diobservasi oleh dua
observer.
Data diperoleh dari lembar
validasi, lembar observasi, angket respon
siswa, hasil kerja siswa pada LKS,
wawancara dengan guru model dan hasil
tes penguasaan bahan belajar. Data tentang
kevalidan perangkat dan instrumen diperoleh dari hasil validasi oleh ahli dan
praktisi. Data tentang kepraktisan perangkat pembelajaran diperoleh dari (1) pendapat ahli dan praktisi bahwa perangkat
pembelajaran dapat digunakan, dan (2)
hasil dari observasi terhadap aktivitas guru.
Data tentang keefektifan diperoleh dari
hasil (1) observasi aktivitas siswa, (2)
angket respon siswa, dan (3) penguasaan
bahan belajar siswa. Sedangkan data
tentang pengurangan beban kognitif
extraneous diperoleh dari (1) respon siswa
terhadap pengalaman belajar, dan (2) hasil
kerja siswa di LKS.
Suprapti, dkk, Pengembangan Perangkat Pembelajaran, 486
Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif.
Data yang berupa skor dianalisis guna
memperoleh kesimpulan sesuai dengan
masing-masing kriteria yang telah
ditentukan. Data yang berupa saran atau
komentar dianalisis dengan analisis
deskriptif. Analisis ini terdiri dari tiga alur
kegiatan yaitu (a) reduksi data, (b) penyajian data, dan (c) penarikan kesimpulan
(Miles & Huberman, 2009). Reduksi data
dapat dilakukan dengan menyeleksi data
yang sesuai. Kemudian data tersebut
disajikan dalam bentuk naratif untuk
menentukan kesimpulan dan tindakan
selanjutnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian awal diketahui
bahwa pembelajaran tentang materi sudutsudut yang terbentuk dari dua garis
berpotongan atau dua garis sejajar dipotong garis lain menggunakan satu gambar
dalam menjelaskan pasangan sudut-sudut
yang terbentuk. Hal ini mengakibatkan
beban kognitif extraneous siswa meningkat
karena penyajian satu gambar kurang dapat
memberikan kejelasan ciri dari masingmasing pasangan sudut. Pembelajaran
yang prosedural dengan guru sebagai pusat
pembelajaran mengakibatkan aktivitas
siswa kurang maksimal. Sehingga tampak
beberapa siswa yang melakukan aktivitas
yang lain tanpa memperhatikan penjelasan
guru. Sedangkan intervensi yang akan
dilakukan antara lain penggunaan model
pembelajaran advance organizer yang
bermultimedia.
Hasil dari tahap pengembangan
yaitu RPP sesuai dengan sintak model
advance organizer yang bermultimedia,
multimedia, LKS dan instrumen. RPP yang
telah disusun untuk tiga pertemuan.
Aktivitas guru dan siswa pada setiap fase
dijabarkan secara lengkap yang terdiri dari
bagian umum dan penjabarannnya. Multimedia yang disusun terdiri dari penyajian
peta konsep, penjabaran materi, latihan
soal dan penyelesaian. Pada multimedia,
teks dan gambar yang relevan disajikan
berdekatan. Sedangkan LKS yang disusun
berupa lembar aktivitas siswa yang terdiri
dari aktivitas dalam memahami konsep dan
penguatan pemahaman melalui latihan
soal.
Pada tahap penilaian, diperoleh
hasil validasi dan uji coba. Setelah
diperoleh hasil validasi, dilakukan analisis
terhadap hasil validasi tersebut. Secara
keseluruhan, perangkat pembelajaran dan
instrumen yang disusun telah memenuhi
kriteria valid dengan revisi yang bukan
substansi. Rekapitilasi hasil validasi
disajikan pada tabel berikut.
Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Validasi
Indikator Hasil validasi
Kevalidan
Skor rata-rata untuk
 RPP
keseluruhan
aspek
adalah 3,68 dan saran
validator mengakibatkan
revisi bukan substansi.
Skor rata-rata untuk
 Multikeseluruhan
aspek
media
adalah 3,64 dan saran
validator mengakibatkan
revisi bukan substansi.
Skor rata-rata untuk
 Lembar
keseluruhan
aspek
Kerja
adalah 3,66 dan saran
Siswa
validator mengakibatkan
(LKS)
revisi bukan substansi.
 Lembar
Observa
si
Aktivitas
Guru
 Lembar
Observa
si
Aktivitas
Siswa
 Angket
Respon
Siswa
Skor rata-rata untuk
keseluruhan
aspek
adalah 3,74dan saran
validator mengakibatkan
revisi bukan substansi.
Skor rata-rata untuk
keseluruhan
aspek
adalah 3,75 dan saran
validator mengakibatkan
revisi bukan substansi.
Skor rata-rata untuk
keseluruhan
aspek
adalah 3,71 dan saran
validator mengakibatkan
Kesimpulan
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
487, KNPM V, Himpunan Matematika Indonesia, Juni 2013
Indikator
Kevalidan
 Tes
Penguasaan
Bahan
Belajar
Hasil validasi
revisi bukan substansi.
Skor rata-rata untuk
keseluruhan
aspek
adalah 3,70 dan saran
validator mengakibatkan
revisi bukan substansi.
Kesimpulan
Valid
Perangkat pembelajaran yang telah
direvisi dan valid kemudian diuji coba
pada kelas VIID. Hasil uji coba pertama di
kelas VIID menunjukkan bahwa perangkat
pembelajaran telah memenuhi kriteria
praktis dan dapat mengurangi beban
kognitif extraneous siswa namun belum
memenuhi kriteria keefektifan. Kemudian
dilakukan revisi dengan mengubah dari
tiga pertemuan (tanpa tes) menjadi empat
pertemuan. Setelah perangkat direvisi,
dilakukan uji coba kedua di kelas VIIB.
Hasil uji coba kedua di kelas VIIB
menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran memenuhi kriteria kualitas tinggi
yaitu praktis, efektif serta dapat
mengurangi beban kognitif extraneous
siswa.
Rekapitulasi
hasil
ujicoba
selengkapnya
untuk
masing-masing
criteria disajikan pada tabel-tabel berikut.
Tabel 2. Hasil Uji
Kepraktisan
Kelas
VIID
 Skor
rata-rata
keseluruhan 3,49
yang
berarti
praktis
dengan
katagori tinggi.
 Saran
mengakibatkan
revisi
bukan
substansi
Coba untuk Kriteria
VIIB
 Skor
rata-rata
keseluruhan
3,70
yang berarti praktis
dengan
katagori
tinggi.
 Tidak
mengakibatkan
revisi
Tabel 3. Hasil Uji Coba untuk Kriteria
Keefektifan
Kelas
VIID
VIIB
a. Observasi Aktivitas Siswa
 Skor rata-rata
 Skor rata-rata
keseluruhan 3,53
keseluruhan 3,53
yang berarti siswa
yang berarti siswa
Kelas
VIID
VIIB
pada katagori sangat
pada katagori
aktif.
sangat aktif.
 Saran mengakibatkan  Saran tidak
revisi bukan
menyebabkan
substansi.
revisi.
b. Respon Siswa
 Sebanyak 96,15%
 Sebanyak 100%
siswa memberikan
siswa memberikan
respon positif
respon positif
 Skor rata-rata pada
 Skor rata-rata pada
setiap aspek
setiap aspek
menunjukkan respon
menunjukkan
positif.
respon positif.
 Skor rata-rata
 Skor rata-rata
keseluruhan aspek
keseluruhan aspek
2,37 yang berarti
2,62 yang berarti
respon positif.
respon positif.
 Saran tidak
 Saran tidak
menyebabkan revisi.
menyebabkan
revisi.
c. Penguasaan Bahan Belajar
 Skor rata-rata
 Skor rata-rata
klasikal 77,15.
klasikal 78,10.
 80,77% siswa dalam
 84% siswa dalam
satu kelas mencapai
satu kelas mencapai
penguasaan bahan
penguasaan bahan
belajar pada kriteria
belajar pada kriteria
minimal cukup.
minimal cukup.
Pengurangan
beban
kognitif
extraneous ditunjukkan siswa dengan
respon positif terhadap pembelajaran dan
hasil kerja pada LKS. Rekapitulasi hasil
pengurangan beban kognitif extraneous
siswa disajikan pada tabel 4.
Tabel 4 Hasil Pengurangan Beban Kognitif
Extraneous
Kelas
VIID
VIIB
 Skor rata-rata
 Skor rata-rata pada
pada aspek
aspek pengalaman
pengalaman
belajar 2,49 (respon
belajar 2,15
positif)
(respon positif)
 Seluruh siswa
 Seluruh siswa
memperoleh skor di
memperoleh skor
atas skor minimal
di atas skor
untuk hasil kerja
minimal untuk
pada LKS dan skor
hasil kerja pada
rata-rata klasikal
LKS dan skor
87,94 yaitu pada
rata-rata klasikal
katagori baik
84,04 yaitu pada
Suprapti, dkk, Pengembangan Perangkat Pembelajaran, 488
Kelas
VIID
katagori baik
VIIB
Indikator pengurangan pertama tentang
respon siswa terhadap pengalaman belajar.
Respon tersebut meliputi perasaan senang
selama pembelajaran, dapat fokus dalam
belajar dan penyajian materi menyenangkan. Respon tersebut diketahui dari
hasil angket respon siswa pada aspek
pengalaman belajar. Hal ini sesuai dengan
komentar dari observer yang disajikan
pada gambar berikut.
Gambar 1 Komentar terhadap Aktivitas
Siswa dari Observer Pertama
Perhatian siswa terfokus pada pembelajaran dan mengikuti semua kegiatan
dengan serius. Siswa mengerjakan setiap
aktivitas sesuai dengan instruksi dari guru.
Indikator kedua dari pengurangan
beban kognitif ini adalah hasil kerja siswa
di LKS pada katagori baik. Hal ini berarti
siswa dapat mengerjakan aktivitas yang
ada pada LKS dengan sedikit kesalahan.
Siswa dari kelompok tinggi, sedang dan
rendah mampu mengikuti pembelajaran
dengan menggunakan perangkat pembelajaran ini dengan baik. Contoh dari hasil
kerja siswa disajikan sebagai berikut.
Gambar 3 Hasil Aktivitas Siswa dari
Kelompok Menengah
Gambar 4 Hasil Aktivitas Siswa dari
Kelompok Bawah
Hasil kerja siswa di LKS yang lain
disajikan pada gambar berikut.
Gambar 5 Hasil Aktivitas Siswa di LKS
Gambar 2 Hasil Aktivitas Siswa dari
Kelompok Atas
Gambar 6 Hasil Aktivitas Siswa di LKS
489, KNPM V, Himpunan Matematika Indonesia, Juni 2013
Berdasarkan uraian tersebut, berarti beban
kognitif extraneous siswa telah berkurang.
Kekuatan dari produk ini adalah (1)
perangkat pembelajaran dirancang agar
siswa dapat menghubungkan pengetahuan
yang telah dimiliki, yang sedang dipelajari
dan materi selanjutnya guna memperkuat
pengetahuan siswa, (2) penyajian gambar
dan teks yang disusun berdekatan
memberikan kemudahan siswa dalam
pengolahan pengetahuan, (3) penyajian beberapa gambar untuk masing-masing pasangan sudut dapat memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengkonstruksi
sendiri cirri dari masing-masing pasangan
sudut, dan (4) penggunaan perangkat
pembelajaran ini dapat membuat siswa
fokus dalam melakukan aktivitas selama
pembelajaran dan pada LKS.
Pemanfaatan perangkat pembelajaran ini dapat digunakan pada sekolah
lain dengan menyesuaikan karakterisik
sekolah tersebut. Penelitian ini dapat
dilanjutkan dengan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang menggunakan perangkat
pembelajaran ini.
DAFTAR RUJUKAN
Bell, F.H. 1978. Teaching and Learning
Mathematics
(In
Secondary
Schools). Iowa: Brown Company
Publisher.
Joyce, B.; Weil, M & Calhoun, E. 2009.
Models of Theaching, Eighth
Edition. New Jersey: Pearson
Education,Inc.
Kalyuga, S. 2010. Schema Acquisition and
Sources of Cognitive Load. Dalam
Jan L. Plass, Roxana M., & Roland
B. (Eds), Cognitive Load Theory
(hlm.48-64).
New
York:
Cambridge University Press.
Lin,H., dkk. 2005. The Effect of Verbal
Advance
Organizers
in
Complementing Animated Instruction. Journal of Visual Literacy,
(Online), 25 (2): 237-248,
(http://www.ohio.edu/
visualliteracy/JVL_ISSUE_ARCH
IVES/ JVL25%282%29/JVL25%
282%29_pp237-248.pdf), diakses
pada tanggal 11 Desember 2012.
Mayer, R.E. 2009. Multimedia Learning
(Prinsip-prinsip dan Aplikasi).
Terjemahan.
Teguh
Wahyu
Utomo.
Yogyakarta:
Pustaka
Pelajar.
Mayer, R.E. & Moreno, R. 2003. Nine
Ways to Reduce Cognitive Load in
Multimedia Learning. Journal of
Educational Psycologist, (Online),
38: 43-52, (http://chua2.fiu.edu/
nursing/
anesthesiology/courses/
ngr%206715%20insttech/slides/red
uce_cognitive_load_in_
me_mayer_moreno2003.pdf),
diakses pada tanggal 11 Desember
2012.
Merriënboer, J.J.G. V. & Sweller, J. 2005.
Cognitive Load
Theory and
Complex Learning: Recent Developments and Future Directions.
Journal of Educational Psycologist Review, (Online), 17 (2):
147-177,
(https://files.nyu.edu/
jpd247/public/2251/readings/clt_re
c_devs.pdf), diakses pada tanggal
16 Desember 2012.
Miles, M.B. & Huberman, A.M. 1992.
Analisis Data Kualitatif. Terjemahan Tjetjep R.R. 2009. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Suprapti, dkk, Pengembangan Perangkat Pembelajaran, 490
Moreno, R. & Park, B. 2010. Cognitive
Load Theory: Historical Development and Relation to Other
Theories. Dalam Jan L. Plass,
Roxana M., & Roland B. (Eds),
Cognitive Load Theory (hlm 9-28).
New York: Cambridge University
Press.
Nieveen, N. 2010. Formative Evaluation in
Educational Design Research.
Dalam Tjeerd P. & Nienke, N.
(Eds). An Introduction to Educational
Design
Research.
Enschede: Netherlands institute for
curriculum development.
Olio, D. (2007). Chapter 13 Advance
Organizers.(Online),
(http://www.sagepub.com/upmdata/14256_Chapter13.pdf).
diakses pada tanggal 11 Desember
2012.
Plomp, T. 2010. Educational Design
Research: an Introduction. Dalam
Tjeerd P. & Nienke, N. (Eds). An
Introduction
to
Educational
Design
Research.
Enschede:
Netherlands institute for curriculum development.
Sweller, J. 2010. Cognitive Load Theory:
Recent Theoretical Advances.
Dalam Jan L. Plass, Roxana M., &
Roland B. (Eds), Cognitive Load
Theory (hlm 29-47). New York:
Cambridge University Press.
Walle, J.A.V.D. 2007. Matematika Sekolah
Dasar dan Menengah Pengembangan Pengajaran. Terjemahan
Suyono. 2008. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Fly UP