...

ISOLASI SENYAWA ANTIMIKROBA DARI SPON LAUT

by user

on
Category: Documents
7

views

Report

Comments

Transcript

ISOLASI SENYAWA ANTIMIKROBA DARI SPON LAUT
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
ISSN : 1470 - 0177
ISOLASI SENYAWA ANTIMIKROBA DARI
SPON LAUT Pseudoceratina purpurea CARTER
Dian Handayani, Martha Sririta, M. Husni Mukhtar
Fakultas Farmasi, Universitas Andalas Padang
ABSTRACT
An antibacterial compound (HC 2) has been isolated from the n-hexane fraction of marine sponge
Pseudoceratina purpurea Carter. Isolation of HC 2 compound was done by chromatographic
method followed by recrystalization. The antimicrobial assay was guided by diffusion method.
The compound HC 2 was white needle crystals with melting point 125-127oC. HC 2 compound
was tested for an antibacterial activity at concentrations of 5%, 3% and 1% against Escherichia
coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis
bacterials, respectively. Results showed that HC 2 compound had low activity against all
bacteria. Identification and characterization of the active compound was confirmed by chemical
reactions and infrared spectrum data. HC 2 compound was identified as steroid.
Keywords : Pseudoceratina purpurea Carter, antibacterial activity, marine sponge, isolation
PENDAHULUAN
Laut menutupi 71% dari permukaan bumi,
oleh sebab itu sangat banyak potensi yang
bisa diambil dari laut seperti sumber
makanan, zat warna, kosmetik bahkan obatobatan. Dewasa ini pemanfaatan organisme
laut banyak digunakan sebagai sumber
senyawa obat baru. Hal ini disebabkan oleh
kemampuan
organisme
laut
seperti
tumbuhan dan invertebrata laut dalam
memproduksi
senyawa
kimia
yang
mempunyai keanekaragaman hayati yang
tinggi dengan struktur kimia yang khas (ElSayed, 2001).
Organisme laut yang mempunyai kandungan
kimia terbanyak dihasilkan oleh invertebrata
laut disusul kemudian oleh tumbuhan laut.
Kelompok yang termasuk invertebrata laut
antara lain: Spon laut (Filum Porifera),
Hewan lumut (Filum Bryozoa), Soft Coral
(Filum Cnydaria) dan hewan bermantel
(Filum Tunicata) (Edrada, 2000). Spon laut
diketahui memproduksi senyawa metabolit
sekunder yang aktif secara biologis. Spon
laut juga dilaporkan menjadi tempat hidup
beberapa jenis bakteri dimana jumlahnya
mencapai 40% dari biomassa spon itu
sendiri (Kanagasabhapathy,2005; Burgess,
1999).
Penemuan pertama senyawa yang aktif
secara biologis dari spon laut adalah
senyawa spongothymidine (ara-T) dan
spongouridine (ara-U). Kedua senyawa ini
diisolasi dari spon laut Cryptothethya crypta
dari laut Karibia pada awal tahun 1950.
Senyawa ini mempunyai aktifitas sebagai
antivirus dan berperan penting menjadi
struktur model (lead structure) dalam proses
sintesa ara-A dan ara-C. Ara-A secara klinis
berguna sebagai antivirus yang lebih dikenal
dengan
nama
dagang
Acyclovir®.
Sedangkan ara-C (cytosine arabinosine)
merupakan senyawa sintetik yang secara
58
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
klinis
digunakan
sebagai
senyawa
antikanker selama lebih kurang 15 tahun
terakhir (Balzarini, 2001). Mengingat begitu
potensialnya organisme laut dan masih
banyak organisme laut yang belum diteliti
maka perlu dilakukan penelitian terhadap
kandungan
senyawa
kimia
dan
bioaktifitasnya.
Sampel spon laut Pseudoceratina purpurea
Carter diperoleh di perairan Painan, sekitar
Pulau Babi, Kabupaten Pesisir Selatan,
Sumatera Barat, Indonesia. Dari hasil
penelusuran literatur diketahui bahwa spon
laut Pseudoceratina purpurea Carter
mengandung senyawa pseudoceratidine
(Tsakamoto, 1996), pseudoceratinine A-C,
ceratinamides A dan B, psammaplysin A
dan E, derivat dibromotirosin yaitu
tokaradine
A-C
(Davies,2005)
dan
maleimide 5-oxime. Senyawa maleimide
telah dilaporkan mempunyai aktifitas
sebagai antifungi yang efektif menghambat
pertumbuhan Candida dan Aspergilus
(Kijjoa, 2005). Sedangkan dari hasil
penelitian sebelumnya telah diisolasi 2
senyawa murni dari fraksi etil asetat yaitu
senyawa KF4 dan KF8. Senyawa KF4
berupa kristal jarum putih dengan rumus
molekul C29H50O diduga merupakan
senyawa β-sitosterol dan senyawa KF8
berupa kristal prisma dengan rumus molekul
C10H13NO4Br2 yang diduga merupakan
suatu senyawa dienondimetil ketal (Friardi,
2004).
Hasil uji pendahuluan terhadap ekstrak
kental metanol spon laut Pseudoceratina
purpurea Carter memperlihatkan aktifitas
antimikroba
terhadap
mikroba
uji
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa,
Staphylococcus aureus, Staphylococcus
epidermidis,
dan Candida albicans.
Berdasarkan hasil uji tersebut maka
dilakukan isolasi senyawa antimikroba dari
ISSN : 1470 - 0177
spon laut Pseudoceratina purpurea Carter.
Pemisahan senyawa yang dituju dilakukan
dengan cara kromatografi kolom dan
dimonitor dengan KLT. Senyawa yang
didapatkan dimurnikan dengan cara
rekristalisasi. Uji aktifitas antimikroba
senyawa hasil isolasi dilakukan dengan
metoda difusi agar. Karakterisasi senyawa
antimikroba hasil isolasi dilakukan secara
organoleptis, penentuan jarak leleh dan
spektroskopi IR.
METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan untuk pengerjaan
isolasi meliputi: seperangkat alat destilasi,
penangas air, eksikator, peralatan rotary
evaporator, lemari pengering (oven), bejana
kromatografi lapis tipis (chamber), kolom
kromatografi berbagai ukuran, batu didih,
botol semprot, erlenmeyer dan gelas ukur
dengan berbagai ukuran, plat tetes, pipet
tetes, corong pisah, corong, vial, lampu UV
254 nm, spatel, botol maserasi, botol infuse,
timbangan analitik, Spektrofotometer IR
(Perkin Elmer F-T IR Spectrum One) ,
Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu®) dan
Fisher Jhon Melting Point Apparatus.
Alat-alat yang digunakan untuk pengerjaan
pengujian aktifitas antimikroba: pinset, pipet
mikro, cawan petri, jarum ose, kertas
cakram Whatman® , kapas, kain kassa,
lampu spiritus, autoklaf All American® ,
inkubator Galenkamp plus® , lemari aseptis,
erlenmeyer, tabung reaksi, Laminar Air
Flow (LAF) Cabinet ESCO®, Vorteks
FisonsWhirlimixer TM, magnetik stirrer, dan
shaker.
Bahan-bahan yang digunakan dalam
pengerjaan isolasi meliputi: spon laut
Pseudoceratina purpurea Carter, metanol,
air suling, n-heksana, etil asetat, n-butanol,
kapas, silika gel 60, plat KLT 25 silika gel
2
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
60 F 254, CHCl3, H2SO4 2N, pereaksi
Dragendorf, pereaksi Meyer, Na sulfat
anhidrat, ammoniak, vanillin asam sulfat,
FeCl3, pereaksi Lieberman- Bourchard dan
uap iodium.
Bahan-bahan yang digunakan dalam
pengerjaan pengujian aktifitas antimikroba
meliputi: Nutrien Agar (NA) (Merck®)
dengan komposisi: Lemco powder 19 g,
ekstrak daging 2 g, peptone 5 g, NaCl 5g,
agar 15 g. Sabouraud Dekstrosa Agar (SDA)
(Merck®)
dengan
komposisi:
Bacto
neopepton 10 g, Bacto Dekstrosa 40 g,
Bacto Agar 5 g. Air suling steril,
Dimetilsulfoksida (DMSO), kloramfenikol
dan klotrimazol, dan mikroba uji yang
terdiri dari : Escherichia coli, Pseudomonas
aeruginosa,
Staphylococcus
aureus,
Staphylococcus epidermidis dan Candida
albicans (bakteri uji diperoleh dari
Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat).
Pengambilan Sampel
Sampel diambil pada kedalaman 3-4 m di
perairan Painan sekitar pulau Babi,
Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat,
Indonesia.
ISSN : 1470 - 0177
dalam botol berwarna gelap dan disimpan
ditempat
gelap
dan
masing-masing
perendaman dilakukan selama 5 hari.
Gabungan maserat diuapkan in vacuo
sampai kental sehingga didapatkan ekstrak
kental.
Selanjutnya
ekstrak
kental
difraksinasi di dalam corong pisah.
Fraksinasi di awali dengan menambahkan
air suling sebanyak 150 ml.
Fraksinasi dilakukan dengan berbagai
pelarut dengan tingkat kepolaran yang
berbeda. Fraksinasi diawali degan pelarut
non polar n-heksana sebanyak 4 x 150 ml
sehingga diperoleh fraksi n-heksana dan
fraksi air. Fraksi n-heksana diuapkan dengan
rotary evaporator sehingga diperoleh fraksi
kental n-heksana. Fraksi air selanjutnya
difraksinasi dengan etil asetat sebanyak 6 x
150 ml, sehingga diperoleh dua fraksi, yaitu
fraksi etil asetat dan fraksi air. Fraksi etil
asetat diuapkan dengan rotary evaporator
dan didapatkan fraksi kental etil asetat.
Fraksi air selanjutnya difraksinasi dengan nbutanol sebanyak 3 x 150 ml, sehingga
diperoleh dua fraksi, yaitu fraksi n-butanol
dan fraksi air. Fraksi n-butanol diuapkan
dengan rotary evaporator dan didapatkan
fraksi kental n-butanol (Fisher, 1992;
Harborne, 1987).
Identifikasi Sampel
Sampel spon laut Pseudoceratina purpurea
Carter (DH 134) diidentifikasi di museum
Zoologi Amsterdam Belanda dengan nomor
koleksi ZMA POR 17281 oleh Dr. R. W.
M. Van Soest. Voucher
spesimen
disimpan di Laboratorium Kimia Bahan
Alam, Fakultas Farmasi, Universitas
Andalas, Padang.
Pembuatan Ekstraksi dan Fraksinasi
Sampel basah spon laut Pseudoceratina
purpurea Carter 900 g dirajang halus dan
dimaserasi dengan metanol sebanyak 4 x 1 L
Uji
Aktifitas
Antimikroba
Hasil
Fraksinasi dengan Metoda Difusi Agar
dan Bioautografi
a. Difusi Agar
Sebanyak 0,1 ml suspensi mikroba dipipet
dengan pipet mikro, masukkan ke dalam
cawan petri steril kemudian masukkan
media NA dalam kondisi cair (± 50oC)
sebanyak 15 ml untuk bakteri dan media
SDA untuk jamur lalu homogenkan dengan
cara cawan petri digoyang sampai medium
dan mikroba tercampur homogen kemudian
biarkan memadat. Selanjutnya kertas cakram
3
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
steril ditetesi dengan 10 μl larutan uji
kemudian letakkan di atas permukaan
medium. Semua cawan petri ini diinkubasi
pada suhu 37oC selama 18-24 jam untuk
bakteri dan pada suhu kamar (25-27oC)
selama
48-72
jam
untuk
jamur.
Pertumbuhan mikroba diamati dan diameter
hambat diukur dengan menggunakan jangka
sorong. Sebagai pembanding digunakan
kertas cakram steril yang ditetesi DMSO
sebanyak 10 μl, larutan kloramfenikol 0,3%
untuk bakteri dan larutan klotrimazol 0,1%
untuk jamur masing-masing 10 μl
(Kanagasabhapathy, 2005; Lay, 2001).
b. Bioautografi
Fraksi yang paling aktif ditotolkan dan
dikembangkan pada plat KLT. Satu bagian
plat dipotong untuk pemantauan bercak
sedangkan yang lain untuk bioautografi. Plat
KLT yang telah dikembangkan dan sudah
kering ditempelkan pada 15 ml media padat
yang berisi 100 µl suspensi bakteri,
dibiarkan pada suhu kamar selama 20-30
menit supaya bercak pada plat KLT dapat
berdifusi ke agar. Cawan petri diberi tanda
batas awal dan batas akhir pengembangan
(untuk menghitung Rf dari fraksi aktif). Plat
diangkat dari media, lalu diinkubasi pada
suhu 370C, selama 18 jam (Ali, 2006).
Uji Aktivitas Antimikroba Senyawa Hasil
Isolasi dengan Metoda Difusi
Senyawa hasil isolasi dilarutkan dalam
DMSO dibuat dalam berbagai konsentrasi
yaitu 5%, 3% dan 1%, masing-masing
larutan sampel diuji aktifitasnya terhadap
mikroba uji. Pada inokulum mikroba uji
yang telah memadat diletakkan kertas
cakram steril yang ditetesi 10 μl larutan uji.
Semua cawan petri ini diinkubasi pada suhu
37oC selama 18-24 jam untuk bakteri dan
pada suhu kamar (25-27oC) selama 48-72
ISSN : 1470 - 0177
jam untuk jamur. Pertumbuhan mikroba
diamati dan diameter hambat diukur dengan
menggunakan jangka sorong. Sebagai
pembanding digunakan kertas cakram steril
yang ditetesi DMSO sebanyak 10 μl.
HASIL DAN DISKUSI
Pemeriksaan
pendahuluan
aktifitas
antimikroba dari ekstrak metanol spon laut
Pseudoceratina purpurea Carter dengan
konsentrasi 1 % dilakukan terhadap mikroba
uji
Escherichia coli, Pseudomonas
aeruginosa,
Staphylococcus
aureus,
Staphylococcus epidermidis, dan Candida
albicans. Aktifitas hambat ekstrak terhadap
mikroba di amati dari daerah bening yang
terbentuk di sekeliling cakram, yaitu 11 mm
terhadap bakteri Escherichia coli, 13 mm
terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa,
12 mm terhadap bakeri Staphylococcus
aureus,
10
mm
terhadap
bakteri
Staphylococcus epidermidis dan 8 mm
terhadap jamur Candida albicans (tabel 1).
Dari hasil uji pendahuluan aktifitas
antimikroba terhadap fraksi n-heksana, etil
asetat dan fraksi n-butanol dengan
konsentrasi masing-masing 1 % maka
fraksi yang mempunyai aktifitas antibakteri
yang paling besar adalah fraksi n-heksana
tetapi tidak memperlihatkan aktifitas
antijamur. Sedangkan fraksi etil asetat dan
fraksi n-butanol memberikan aktifitas
antibakteri dan antijamur (tabel 2). Oleh
sebab itu isolasi senyawa antimikroba
dilakukan terhadap fraksi n-heksana dan
fraksi etil asetat.
Metoda yang digunakan untuk uji
pendahuluan aktifitas antimikroba hasil
fraksinasi adalah dengan metoda difusi agar
dan bioautografi. Metoda difusi agar ini
dipilih karena pengerjaannya sederhana,
hasil yang didapatkan cukup teliti dengan
cara mengukur diameter daerah bening
4
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
disekeliling cakram. Sedangkan metoda
bioautografi
dipilih
karena
cara
pengerjaannya sederhana dan praktis yaitu
senyawa yang mempunyai aktifitas sebagai
antibakteri dari fraksi yang paling aktif
dapat langsung diketahui dari daerah bening
yang terbentuk pada inokulum dari noda
hasil KLT. Pada metoda bioautografi fraksi
yang paling aktif ditotolkan dan dielusi pada
plat KLT. Sampel dibuat dua rangkap yaitu
satu plat untuk pembanding dan satu plat
lagi untuk uji bioautografi dimana totolan
noda dibuat lebih tebal dan panjang. Sampel
pada plat KLT yang telah dikembangkan
dan dikeringkan ditempelkan pada inokulum
yang telah memadat, dibiarkan selama 20-30
menit pada suhu kamar supaya noda pada
plat dapat berdifusi ke agar. Pada bagian
belakang petri ditandai batas bawah dan
batas atas KLT untuk menentukan Rf dari
sampel atau fraksi yang mempunyai
aktifitas. Setelah 30 menit plat KLT
diangkat dan petri diingkubasi selama 18-24
jam pada suhu 37oC. Dari uji bioautografi
terhadap fraksi n-heksana didapatkan hasil
yang negatif diduga karena noda-noda pada
plat KLT yang telah dikembangkan tidak
dapat berdifusi sempurna kedalam agar dan
tetap tertahan pada plat silika.
Dari hasil pemonitoran penyebaran noda
dengan metoda KLT fraksi n-heksana
memperlihatkan pemisahan noda yang baik
dengan menggunakan eluen n-heksana : etil
asetat (9 : 1). Oleh sebab itu dilakukan
isolasi dengan menggunakan kromatografi
kolom dimana eluen yang dipakai dengan
perbandingan tetap atau metoda isokratik.
Fraksi kolom ditampung dalam vial dan
masing-masing fraksi ini dimonitor dengan
KLT dengan penampak noda lampu UV254
dan H2SO4 dalam metanol 10 %. Fraksi
dengan pola noda yang sama digabung.
Fraksi kolom yang didapatkan yaitu fraksi A
(33,9 mg), fraksi B (39,7 mg), fraksi C
ISSN : 1470 - 0177
(113,3 mg), fraksi D (37, 8 mg), fraksi E
(45, 4 mg), fraksi F (38,3 mg), fraksi G
(46,5 mg), fraksi H (59,2 mg), fraksi I (57,8
mg) dan fraksi J (31,5 mg). Masing-masing
fraksi kolom dimonitor dengan KLT dengan
penampak noda lampu UV254 dan diuji
aktifitas antimikrobanya dengan metoda
difusi agar. Dari hasil uji aktifitas
antimikroba didapatkan fraksi kolom yang
paling aktif sebagai antibakteri yaitu fraksi
C, D dan E. Fraksi-fraksi ini kemudian
dilanjutkan uji aktifitasnya dengan metoda
bioautografi untuk mengetahui senyawa
yang aktif sebagai antibakteri karena
masing-masing fraksi belum menunjukkan
satu noda pada KLT. Namun tidak
didapatkan hasil yang positif pada uji
aktifitas
antibakteri
dengan
metoda
bioautografi ini.
Isolasi senyawa antimikroba pada fraksi etil
asetat (3,7 g) dilakukan dengan cara yang
sama dengan fraksi n-heksana yaitu dengan
metoda isokratik. Dari hasil pemonitoran
penyebaran noda dengan metoda KLT fraksi
etil asetat memperlihatkan pemisahan noda
yang baik dengan menggunakan eluen nheksana : etil asetat (4 : 1). Oleh sebab itu
dilakukan isolasi dengan menggunakan
kromatografi kolom dimana eluen yang
dipakai dengan perbandingan tetap atau
metoda isokratik. Dari fraksi ini diisolasi
dua
senyawa
murni
dan
setelah
dibandingkan dengan penelitian sebelumnya
nilai Rf yang didapatkan sama dengan
menggunakan eluen yang sama. Senyawa
pertama berupa senyawa β-sitosterol seberat
11 mg mempunyai Rf 0,6 dengan fase gerak
CHCl3 : MeOH 9 : 1. Sedangkan senyawa
murni kedua berupa dienon dimetil ketal
seberat 74 mg mempunyai Rf = 0,4 dengan
fase gerak CHCl3 : MeOH (9 : 1). Kedua
senyawa tersebut telah dilaporkan oleh
peneliti sebelumnya. (Friardi, 2004).
5
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
Berdasarkan literatur dan uji aktifitas
antimikroba ekstrak kental metanol spon
laut Pseudoceratina purpurea Carter,
sampel ini memperlihatkan aktifitas
terhadap jamur Candida albicans. Namun
tidak didapatkan pada fraksi n-heksana dan
fraksi etil asetat. Hal ini diduga karena
senyawa ini hanya memberikan aktifitas
terhadap bakteri tetapi tidak memberikan
aktifitas terhadap jamur. Selain itu diduga
senyawa antijamur yang terdapat pada
ekstrak kental metanol merupakan senyawa
minor dan aktifitas antijamur yang terlihat
pada ekstrak kental metanol merupakan
gabungan aktifitas beberapa senyawa
sehingga aktifitas akan semakin lemah
apabila senyawa dipisahkan dan dimurnikan.
Dari hasil uji aktifitas antijamur terhadap
fraksi n-heksana, etil asetat dan n-butanol,
maka aktifitas antijamur terdapat pada fraksi
etil asetat dan n-butanol (tabel 2).
Hasil uji aktifitas antimikroba terhadap
fraksi kolom n-heksana dengan metoda
difusi agar dengan konsentrasi 5%, 3% dan
1 %, fraksi yang menunjukkan aktifitas
antibakteri adalah fraksi C, D dan E tetapi
tidak memperlihatkan aktifitas antijamur
(tabel 3). Namun daya hambat yang
diberikan oleh fraksi kolom n-heksana lebih
kecil dari fraksi n-heksana diduga karena
kemurnian senyawa meningkat sehingga
fraksi kolom ini murni bersifat non polar
dan pada umumnya fraksi kolom ini berupa
minyak sehingga sulit berdifusi pada agar.
Fraksi C, D dan E kemudian diuji
aktifitasnya secara bioautografi tetapi tidak
didapatkan hasil yang positif.
Fraksi C mengalami kristalisasi pada dasar
dan dinding vial dan dari hasil monitor
dengan KLT dengan penampak noda lampu
UV254 dan Peraksi Liebermann Bourchard,
fraksi ini masih menunjukkan 4 noda. Maka
dilakukan pengisolasian senyawa murninya
ISSN : 1470 - 0177
menggunakan kromatografi kolom metoda
isokratik dengan fasa diam silika gel 60 (4063 µm) dan fasa gerak campuran pelarut nheksana : etil asetat 4 : 1 yang menghasilkan
17 fraksi. Masing-masing fraksi dimonitor
dengan KLT dengan penampak noda lampu
UV254 dan fraksi dengan pola noda yang
sama digabung. Dari 17 vial didapatkan 3
fraksi yaitu HC 1, HC 2 dan HC 3. Fraksi
HC 2 mengalami pengkristalan pada dasar
dan dinding vial, kemudian dimurnikan
dengan cara rekristalisasi. Pada penelitian
ini digunakan beberapa campuran pelarut
seperti n-heksana, etil asetat dan metanol.
Isolat yang didapat dicuci dengan satu
pelarut atau campuran beberapa pelarut yang
dilakukan berulang-ulang kali, sehingga
diperoleh senyawa murni yang menunjukkan
satu noda yang bulat bila dimonitor dengan
plat KLT. Dari fraksi n-heksana diperoleh
senyawa murni yaitu HC 2 berupa kristal
jarum putih sebanyak 43 mg.
Senyawa murni HC 2 dari fraksi n-heksana
serta senyawa murni β-sitosterol dan dienon
dimetil ketal dilakukan uji aktifitas
antimikroba dengan metoda difusi agar
dengan konsentrasi 5%, 3% dan 1%.
Senyawa murni HC 2 memberikan aktifitas
antibakteri yang lemah tetapi tidak
memberikan aktifitas antijamur (tabel 4).
Aktifitas yang lemah diduga disebabkan
karena senyawa murni HC 2 merupakan
golongan steroid dan bersifat non polar
sehingga senyawa murni HC 2 sulit
berdifusi keluar dari cakram. Sedangkan
senyawa murni β-sitosterol dan dienon
dimetil ketal dari fraksi etil asetat tidak
memberikan aktifitas antimikroba.
Karakterisasi senyawa HC 2 meliputi
pemeriksaan fisika dan kimia. Pemeriksaan
fisika berupa penentuan jarak leleh dengan
menggunakan alat Fisher-Jhons Melting
Point Apparatus, diketahui bahwa senyawa
6
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
HC 2 memiliki jarak leleh 125-127oC. Nilai
ini menunjukkan bahwa senyawa HC 2
relatif murni karena jarak lelehnya yang
sempit. Sedangkan pemeriksaan kelarutan
senyawa dilakukan dengan cara melarutkan
senyawa dengan berbagai pelarut. Senyawa
HC 2 larut dalam pelarut n-hekasan, sukar
larut dalam pelarut etil asetat dan tidak larut
dalam metanol.
Dari pemeriksaan sifat kimia, senyawa HC
2 memberikan reaksi yang positif berwarna
kuning dengan penampak noda uap iodium.
Senyawa HC 2 juga memberikan reaksi
positif berwarna biru kehijauan dengan
penampak noda Liebermann-Bourchard
yang menunjukkan bahwa senyawa HC 2
termasuk golongan steroid. Pemeriksaan
KLT senyawa HC 2 dilakukan dengan eluen
n-heksana : etil asetat (4 : 1) memberikan Rf
0,44. Kemurnian senyawa ditegaskan
dengan metoda Multiple Developing System
(MDS) dimana senyawa murni akan
menunjukkan pola KLT satu noda meskipun
dilakukan pengelusian berulang-ulang pada
satu plat KLT. Profil KLT menunjukkan
bahwa senyawa ini tetap menunjukkan satu
noda setelah dielusi secara berulang-ulang.
Hasil perbandingan nilai Rf senyawa murni
HC 2 dengan senyawa murni β-sitosterol
dari fraksi etil asetat dengan penampak noda
pereaksi LB pada plat KLT sepanjang 10 cm
menunjukkan nilai Rf yang berbeda.
Karakterisasi senyawa murni HC 2
dilanjutkan dengan pemeriksaan spektrum
inframerah untuk menentukan gugus fungsi
dari senyawa HC 2. Dari data spektrum IR
memperlihatkan senyawa HC 2 mempunyai
regangan pada bilangan gelombang 3435
cm-1 yang menunjukkan adanya gugus
hidroksi, bilangan gelombang 2933 cm -1
yang menunjukkan adanya gugus metilen
dan bilangan gelombang 1465 cm-1 yang
menunjukkan adanya lentur C-H.
ISSN : 1470 - 0177
Tabel 1. Hasil pemeriksaan pendahuluan
aktifitas antimikroba dari ekstrak
metanol spon laut Pseudoceratina
purpurea Carter
Mikroba
Diameter Hambat Ekstrak
Metanol
(1 %)(mm)
11
13
12
10
8
EC
PA
SA
SE
CA
Keterangan :
 EC : Escherichia coli
 PA : Pseudomonas aeruginosa
 SA : Staphylococcus aureus
 SE : Staphylococcus epidermidis
 CA : Candida albicans
Tabel 2. Hasil
pemeriksaan
aktifitas
antimikroba dari fraksi n-heksana,
fraksi etil asetat dan fraksi nbutanol spon laut Pseudoceratina
purpurea Carter
Diameter Hambat Fraksi
(1%) (mm)
Mikroba
nEtil
nheksana asetat butanol
EC
10
9
9
PA
11
9
8
SA
10
8
7
SE
9
10
7
CA
7
8
Keterangan :
 EC : Escherichia coli
 PA : Pseudomonas aeruginosa
 SA : Staphylococcus aureus
 SE : Staphylococcus epidermidis
 CA : Candida albicans
 - : Tidak menunjukkan aktifitas
7
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
Tabel
3.
Fraksi
Kolom
Hasil pemeriksaan aktifitas
antimikroba dari fraksi kolom nheksana
dari spon laut
Pseudoceratina purpurea Carter
Konsentrasi
(%)
5
3
1
5
3
1
5
3
1
C
D
E
Diameter
Hambat (mm)
PA
SA
8
9
7
9
7
8
8
8
7
8
7
7
7
8
7
8
7
Senyawa
murni
HC 2
Hasil pemeriksaan aktifitas
antimikroba dari senyawa
murni HC2 dari spon laut
Pseudoceratina
purpurea
Carter
Konse Diameter Hambat (mm)
ntrasi
(%)
EC PA SA
SE
5
7
8
8
8
3
7
7
7
7
1
-
7
7
7
Keterangan :
 EC : Escherichia coli
 PA : Pseudomonas aeruginosa
 SA : Staphylococcus aureus
 SE : Staphylicoccus epidermidis
 : Tidak
menunjukkan aktifitas
KESIMPULAN
Dari 0,563 g fraksi n-heksana spon laut
Pseudocertina purpurea Carter didapatkan
senyawa murni HC 2 berupa kristal jarum
putih sebanyak 43 mg dengan jarak leleh
125-127oC. Senyawa HC 2 menunjukan
aktivitas antibakteri yang lemah dan tidak
aktiv terhadap jamur.
DAFTAR PUSTAKA
Keterangan :
 PA : Pseudomonas aeruginosa
 SA : Staphylococcus aureus
 - : Tidak menunjukkan aktifitas
Tabel 4.
ISSN : 1470 - 0177
Ali, A., Y. Hala, Darminto, ”Penapisan dan
Karakterisasi
Parsial
Senyawa
Antimikroba dari Siput Bakau dan Profil
Kromatografi Lapis Tipis Fraksi Aktif”,
Berk. Penel. Hayati, 12 : 63-68, 2006.
Balzarini. J., F. Haller, E. Decklercqana, C.
Meier,
“Antiviral
Activity
of
Cyclosalgenil Prodrugs of Acyclovir,
Carbovir, Abocavir”, Antivir Chemoter,
12: 301-306, 2001.
Burgess, J.G., E.M. Jordan, M. Brega, A.
Mearns, Sprogg, and K.G. Boyd,
”Microbial Antagonism : A Neglected
Avenue of Natural Products Research”, J.
Biotechnology, 70: 27-32,1999.
Davies, L. P., Cook, A. F., Bartlett, R.T.,
“Investigations into Sponge Extracts with
Adenosine A1 Affinity”, Tetrahedron Lett,
26 : 67-122, 2005.
Edrada, R.A., V.Wray, D. Handayani, P.Schupp,
M.Balbin, Oliveros, and P.Proksch,
“Structure-Activity
Relationship
of
Bioactive Metabolites from Some IndoPacific Marine Invertebrates in Studies in
Natural Products Chemistry”, Elsevier
Sciences, 21: 251-255, 2000.
El-Sayed, K.A., M. Kelly, U.A.K. Kara, K.K.H.
Ang, I. Katsuyama, D.C. Dunbar, A.A.
Khan, M.T. Hamann, “New Manzamine
Alkaloids with Potent Activity Against
Infectious Diseases”, J. Am. Chem. Soc,
123: 1804-1808, 2001.
Friardi, Isolasi Senyawa Kimia Utama dari Spon
Laut Pseudoceratina purpurea Carter,
Skripsi Mahasiswa Farmasi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Andalas, Padang , 2004.
Kanagasabhapathy,M., H. Sasaki, K. Nakajima,
K. Nagatan, and S. Nagata, ”Inhibitory
8
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 15, No.1, 2010, halaman 58-66
ISSN : 1470 - 0177
Activities of Surface Associated Bacteria
from the Marine Sponge Pseudoceratina
purpurea”, Microbes and Environment, 20
(3): 178-185, 2005.
Kijjoa, A., Bessa.J., Wattanadilok. R.,
Sawangwong.P., Nascimento. M.S.J.,
Pedro.M.,Silva. A.M.S., Eaton. G.,
Vansoest, R., and Herz. W, “
Dibromotyrosine
Derivatives,
A
Maleimide, Aplisamine-2 and Other
Constituent of the Marine Sponge
Pseudoceratina purpurea”, Zeitschrift for
Naturforschung, 60 : 904-908, 2005.
Lay, B.W., Analisis Mikroba di Laboratorium,
Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2001.
Tsakamoto, S., H. Kato, H, Hirota and N,
Fusetani, “Pseudoceratidine: A New
Antifouling Spermidine Derivative from
The Marine Sponge Pseudoceratina
purpurea”, Tetrahedron Lett, 37: 14391440,1996.
9
Fly UP