...

laju degradasi surfaktan linear alkil benzena sulfonat (las)

by user

on
Category: Documents
9

views

Report

Comments

Transcript

laju degradasi surfaktan linear alkil benzena sulfonat (las)
J.Tek.Ling
Vol. 7
No. 3
Hal. 243- 250
Jakarta, Sept. 2006
ISSN 1441 – 318X
LAJU DEGRADASI SURFAKTAN LINEAR ALKIL BENZENA
SULFONAT (LAS) PADA LIMBAH DETERJEN SECARA ANAEROB
PADA REAKTOR LEKAT DIAM BERMEDIA SARANG TAWON
R.Nida Sopiah
*)
dan Chaerunisah
*)
*) Peneliti di Balai Teknologi Lingkungan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Abstract
Linear alkylbenzene sulfonate (LAS) represents one of active substance
of surfactants in detergents of which in high concentrations may cause
environmental pollutions. The aim of the research was to know the
efficiency of exclusion of LAS and the rate of LAS degradation in
detergent wastes by the anaerobic process at fixed bed reactor equipped
with cross flow material. This research was done in Process Laboratory of
Balai Teknologi Lingkungan BPPT PUSPIPTEK Serpong. Reactor
operation was done through continuous process with close circulation, up
flow and 5 hours Rate Time Hour (RTH). Exclusion of LAS of detergent
waste was recorded for 17 days. The degree of acidity after the process
without inoculum (P1.0) was to 8.45, and for an anaerob condition with
added inoculum (P1.1) was 7.88. The efficiency of the highest exclusion
of CO soluble was equal to 80.96% (P1.1) with effluent 476 mg/L, and 76.81
% (P1.0) with effluent 531 mg/L. The exclusion of LAS of detergent
wastes was 99.19% (P1.1) with LAS effluent equal to 17.51 mg/L and
98.3% (P1.0) with LAS effluent equal to 27.84 mg/L. The maximum rate of
LAS surfactant degradationunt 0.95 ppm/day (P1.1) and 0.44 ppm/day
(P1.0).
Keyword : detergent, LAS, fixed bed reactor, anaerobic, degradation,
exclusion efficiency
1.
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang.
Penggunaan
deterjen
di
masyarakat dari hari ke hari semakin
meningkat seiring dengan membaiknya
pendapatan masyarakat, hal ini dapat
terlihat dari pengunaan deterjen per
kapita sejalan dengan pertumbuhan
gross domestik product (GDP) setiap
tahun,
artinya
semakin
meningkat
pendapatan masyarakat, maka konsumsi
deterjen juga meningkat. Data statistik
menunjukkan
bahwa
tahun
1998,
konsumsi deterjen per kapita hanya 1,97
kg dibandingkan 2,46 kg pada tahun
1997, namun dengan membaiknya daya
beli masyarakat konsumsi deterjen
meningkat menjadi 2,11 kg pada 1999,
2,26 kg pada 2001 dan 2,32 kg pada
(1)
2002 .
Laju Degradasi Surfaktan.... J. Tek. Ling. P3TL-BPPT. 7. (3): 243-250
243
Penggunaan deterjen komersil
yang mengandung surfaktan LAS cukup
luas di kalangan industri maupun rumah
tangga. Menurut data NKLD (Notulen
Kantor Lingkungan Daerah) DKI Jakarta
(1999) konsumsi deterjen dengan jumlah
penduduk 3 juta jiwa mencapai ± 10 ton
per
hari
(diasumsikan
tiap
jiwa
mengkonsumsi deterjen sebanyak 100 g
per bulan) yang dibuang di lingkungan
(selokan dan aliran yang bermuara ke
sungai). Akumulasi deterjen di sungai
dapat dilihat dari tingginya kadar
surfaktan pada lumpur dasar sungai.
Berdasarkan data penelitian dilaporkan
bahwa kandungan surfaktan dalam
(2)
selokan berkisar sebesar 2-16 ppm . Air
buangan yang mengandung surfaktan
deterjen
tersebut
nantinya
akan
bermuara ke sungai, sehingga sungai
menjadi tercemar.
Penggunaan
deterjen
yang
semakin meningkat ini akan berdampak
negatif terhadap akumulasi surfaktan
pada badan-badan perairan, sehingga
menimbulkan masalah pendangkalan
perairan, terhambatnya transfer oksigen,
dll. Pada kondisi aerob LAS dapat
terdegradasi dengan baik, namun jika
dalam keadaan anaerob penyisihan LAS
masih dipertanyakan. Walaupun sudah
banyak ditemukan genus bakteri yang
mampu mendegradasi LAS, seperti
Pseudomonas,
Clostridium,
Corynebacterium, Alcaligenes, Achromobacter,
Bacillus, Flavobacterium, Nocardia dan
(3) 5).
Cladosporium
Toksisitas
surfaktan
terhadap
organisme akuatik telah banyak diteliti
(4).
seperti, terhadap gastropoda dan ikan
(5).
mas
Akumulasi
deterjen
yang
berlebihan di sungai sangat merugikan
karena dapat menghambat pertumbuhan
mikroba tanah
sehingga menurunkan
kesuburan dan respirasi tanah sawah,
yang menggunakan sungai sebagai
irigasi. Kandungan fosfat dari deterjen
244
yang tinggi di sungai, dapat juga
merangsang tumbuhnya gulma air.
Peningkatan jumlah tanaman air akan
menyebabkan peningkatan penguraian
fosfat, dan penghambatan pertukaran
oksigen dalam air, sehingga kadar
oksigen terlarut dalam air amat rendah
(mikroaerofil).
Keadaan
ini
dapat
menyebabkan suksesi populasi bakteri
aerob dengan meningkatnya bakteri
mikroaerofilik, serta fakultatif dan obligat
(5) .
anaerob
Berdasarkan kenyataan tersebut
perlu upaya pengolahan limbah deterjen
secara intensif sehingga pencemaran
deterjen dapat ditanggulangi.
1.2. Tujuan dari penelitian ini adalah :
(1) Menentukan
kinerja
reaktor
anaerobik lekat diam bermedia
plastik sebagai salah satu unit
pengolahan
limbah
terhadap
penurunan senyawa organik.
(2) Mengetahui laju degradasi LAS
limbah
deterjen
dalam
kondisi
anaerob pada reaktor lekat diam.
(3) Mengetahui penyisihan LAS limbah
deterjen dalam kondisi anaerob pada
reaktor lekat diam.
2.
Deterjen
Deterjen umumnya tersusun atas
tiga komponen utama yaitu, surfaktan
(sebagai bahan dasar deterjen), bahan
builders (senyawa fosfat) dan bahan aditif
(pemutih dan pewangi).
Komponen
terbesar dari deterjen yaitu bahan
builders berkisar 70-80 %, bahan dasar
(surfaktan) berkisar 20-30 % , dan bahan
aditif relatif sedikit yaitu antara 2-8 %.
Berdasarkan bahan dasar (surfaktan),
deterjen dibedakan menjadi empat
kelompok besar yaitu deterjen nonionik,
(6)
kationik, anionik dan amphoterik .
Jenis surfaktan yang umumnya
digunakan pada deterjen adalah tipe
Sopiah, R. N dan Chaerunisah, 2006
2-
anionik dalam bentuk sulfat (SO4 ) dan
sulfonat (SO3 ).
Berdasarkan rumus
bangun kimianya, deterjen golongan
sulfonat
dibedakan
menjadi
jenis
bercabang yaitu Alkyl Benzene Sulfonate
(ABS) dan jenis rantai lurus adalah Linear
Alkylbenzene Sulfonate (LAS).
Senyawa ABS mempunyai sifat
lebih
sukar
diuraikan
oleh
mikroorganisme dibandingkan dengan
senyawa LAS. Hal ini disebabkan karena
senyawa ABS mempunyai rantai alkyl
yang bercabang banyak, sedangkan
senyawa LAS rantai alkilnya lurus
sehingga lebih mudah diuraikan oleh
mikroorganisme.
Di negara maju,
perubahan komposisi deterjen dilakukan
dengan mengganti ABS dengan LAS.
Karena ABS merupakan rantai cabang di
dalam negeri juga sudah terdapat
kecenderungan mengganti ABS dengan
LAS,
namun karena harganya lebih
mahal LAS hanya digunakan sebagai
campuran sedangkan bagian terbesarnya
masih menggunakan ABS.
2.1. Dampak Deterjen Terhadap
Lingkungan
Deterjen
selain
mempunyai
dampak positif juga dapat berdampak
negatif baik terhadap kesehatan maupun
lingkungan. Dua bahan terpenting dari
bahan pembentuk deterjen yakni surfaktan
dan builders , diidentifikasi mempunyai
pengaruh langsung dan tidak langsung
terhadap manusia dan lingkungannya.
Surfaktan dapat menyebabkan permukaan
kulit kasar, hilangnya kelembaban alami
yang ada pada permukaan kulit dan
meningkatkan permebialitas permukaan
luar.
Hasil pengujian memperlihatkan
bahwa kulit manusia hanya mampu
memiliki toleransi kontak dengan bahan
kimia dengan kandungan 1 % LAS dan
AOS dengan akibat iritasi sedang pada
kulit. Surfaktan kationik bersifat toksik jika
tertelan dibandingkan dengan surfaktan
anionik dan nonionik. Sisa bahan surfaktan
yang terdapat dalam deterjen dapat
membentuk chlorbenzene pada proses
klorinasi pengolahan air minum PDAM.
Chlorbenzene merupakan senyawa yang
bersifat racun dan berbahaya bagi
kesehatan.
Builders berupa zat pemutih dan
pewang,menurut hasil riset organisasi
konsumen Malaysia (CAP) pemutih dapat
menimbulkan kanker pada manusia dan
penwangi
lebih
banyak
merugikan
konsumen karena bahan ini membuat
makin tingginya biaya produksi, sehingga
harga jual produk semakin mahal. Padahal
zat pewangi tidak ada kaitannya dengan
kemampuan mencuci. Senyawa fosfat
sebagai zat additive digunakan oleh semua
merk deterjen memberikan andil yang
cukup besar terhadap terjadinya proses
eutrofikasi yang menyebabkan booming
algae (meledak nya populasi tanaman air).
Deterjen tidak dapat diuraikan
dalam jangka waktu lama dalam kondisi
perairan alamiah sehingga deterjen adalah
zat yang persisten. Oleh karena tidak
terdapat mekanisme alamiah yang dapat
menguraikan zat tersebut, maka akan
terjadi terakumulasi dalam badan air.
Deterjen juga menimbulkan busa di
perairan yang tidak dapat diterima oleh
estetika dan menimbulkan kesulitan dalam
pengolahan
air.
Deterjen
dapat
menghambat proses pengolahan air dan air
buangan,
dapat menurunkan efisiensi
tangki sedimentasi, menghambat kerja
pada grease removal (7).. Dalam air minum
deterjen dapat menimbulkan bau dan rasa
yang tidak enak serta mengganggu
kesehatan manusia.
2.2. Peranan Mikroorganisme Dalam
Pengolahan Biologis
Mikroorganisme
mempunyai
peranan
penting
dalam
proses
pengolahan air limbah secara biologis.
Dalam menguraikan bahan organik yang
terkandung
dalam
air
limbah,
mikroorganisme sangat tergantung pada
kondisi lingkungannya, seperti suplai
oksigen yang cukup (untuk kondisi
aerob).. Untuk mendapatkan disain yang
Laju Degradasi Surfaktan.... J. Tek. Ling. P3TL-BPPT. 7. (3): 243-250
245
efektif dari suatu proses pengolahan air
limbah
secara
biologis
diperlukan
pengertian-pengertian dasar dari faktor(8).
faktor berikut
Kebutuhan nutrisi mikroorganisme.
Faktor-faktor
lingkungan
mempengaruhi
pertumbuhan
organisme.
yang
mikro
Metabolisme mikroorganisme.
Hubungan
mikroorganisme
substrat.
antara pertumbuhan
dengan
pemakaian
2.3. Laju Degradasi LAS
Laju degradasi surfaktan deterjen
(6)
LAS ditentukan dengan rumus
sebagai
berikut :
Laju degradasi (?) = log St – log So
log 2 x (t – to)
Keterangan :
St = jumlah substrat setelah waktu
inkubasi ke t (ppm)
So = jumlah subtrat awal (ppm)
t
= waktu inkubasi (hari)
to = waktu awal inkubasi (hari ke 0)
3.
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
dilaksanakan
di
laboratorium Proses, Balai Teknologi
Lingkungan
(BTL)-BPPT
Puspitek
Serpong, Tangerang Banten, dari bulan
September 2004 - Maret 2005.
3.2.
3.2.1.
Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan adalah :
reaktor lekat diam dengan volume 63 L,
pompa, spektrofotometer JASCO V-530,
destilator, heating block, pengaduk
vortex, tabung COD, tabung reaksi,
246
erlenmeyer,
mikroskop,
pH-meter
eklektronik, sentrifius, pipet ukur, support
material (berbahan dasar plastik PVC
berbentuk sarang tawon), bunsen, pipet
tetes, corong pemisah, magnetic stirrer,
autoklaf, labu ukur, gelas ukur, gelas
piala dan neraca.
3.2.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan
berupa, Inokulum bakteri anaerob terpilih
(diisolasi dari tanah sawah dan tanah
sungai yang tercemar deterjen), larutan
surfaktan LAS murni, limbah deterjen,
medium NA, medium garam basal,
medium King’B, serta reagen untuk uji
pewarnaan gram, pewarna metylene
blue, glass woll, ammonium sulfat,
pepton, agar, protease pepton, meat
ekstra, gliserol, akuades, alkohol 70%,
H2SO4 6N, NaH2PO4 H2 O, NaOH 1N,
fenolftalein, H2SO4 1N, CHCl3.
Perlakuan yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
P1.0
: Proses anaerob tanpa isolat
bakteri (sebagai kontrol).
P1.1
:
Proses
anaerob
dengan
penambahan inokulum bakteri pada
limbah deterjen.
Parameter
yang
diukur
adalah
konsentrasi surfaktan LAS, pH, COD dan
laju degradasi LAS.
3.2.3.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan
mengoperasikan reaktor lekat diam (tabel
3.1) dengan proses pengolahan biologis
secara
anaerob.
Reaktor
ini
menggunakan aliran ke atas (upflow)
dioperasikan dengan cara memasukkan
substrat umpan melalui bagian bawah
reaktor kemudian akan terdistribusi di
antara media penyangga tetap dan akan
keluar
melalui
bagian
atas
dan
menggunakan
proses
pengalirannya
secara terus menerus (continous).
Limbah
deterjen
dipompakan
Sopiah, R. N dan Chaerunisah, 2006
menggunakan pompa peristaltik sehingga
substrat inffluent dapat melewati lapisan
biomassa secara terus menerus. Gas
CH4 yang dihasilkan ditangkap dan
ditampung dengan menggunakan balon.
Nilai pH pada hari ke-13 untuk P1.0
sebesar 8,45 dan 7,88 untuk P1.1.
Titik
sampling
dan
analisa
parameter dilakukan pada 2 titik, yaitu
titik inffluent dan titik effluent (gambar
3.1). Pengambilan sampling dilakukan
setiap satu hari sekali, dengan titik
pengambilan sampling dilakukan secara
duplo.
Tabel 3.1 Spesifikasi Reaktor Lekat Diam Bermedia
Sarang Tawon
Reaktor
•
•
•
•
•
•
•
•
Bahan Acrylic
Dimensi total 15 cmx
30 cm x 150 cm
Volume reaktor:15 cm x
30 cm x 140 cm (63 L)
Tinggi bed media : 120
cm
Volume
media
:
15cmx30cmx120cm
Tinggi ruang lumpur :
10 cm
Tinggi kolom air diatas
media : 10 cm
Tinggi ruang bebas :
10 cm
Media penyangga
• Bahan PVC Sheet
• Tipe
Sarang tawon
(Cross Flow)
• Warna Hitam
• Lubang : 2 cm x 2 cm
• Tebal media : 0,5 mm
• Luas
permuk.spesifik
Media : 30 - 35 kg/m3
• Porositas media : 98%
Peralatan pendukung
• Pompa peristaltik
• Tangki Inffluent
• Balon
Gambar 3.1 Titik Sampling pada Reaktor
12
10
8
6
4
2
P1.1 Effluen
P1.0 Influen
H17
H16
H15
H14
H13
H12
H11
H9
Hari
P1.1 Influen
H10
H8
H7
H6
H5
H4
H3
0
H2
Perubahan nilai pH pada limbah
deterjen
menandakan
terjadinya
biodegradasi LAS, ini dapat dilihat dari
gambar 4.1, pH awal limbah deterjen
sebesar 10; Perubahan pH sampai hari
ke-10 baik pada reaktor kontrol (P1.0)
maupun reaktor yang diberikan tambahan
inokulum (P1.1) memberikan penurunan
yang cukup nyata masing-masing nilai
pHnya
sebesar
8.39
dan
8.38.
Perubahan pH setelah hari ke-10
menunjukkan nilai yang relatif stabil untuk
P1.0 sedangkan untuk P1.1 masih
mengalami penurunan sampai hari ke-13.
Gambar 3.1 Titik Sampling pada Reaktor
H1
Penurunan pH
Derajat Keasaman (pH)
4.4.1
P1.0 Effluen
Gambar 4.1 Grafik Derajat Keasaman (pH)
Reaktor Anaerob
Laju Degradasi Surfaktan.... J. Tek. Ling. P3TL-BPPT. 7. (3): 243-250
247
Penurunan COD
Oxygen Demand)
(Chemical
3500
3000
2500
2000
Penurunan LAS (Linear Alkylbenzene Sulfonat)
Pada reaktor anaerob penurunan
LAS terjadi hingga hari ke-17. Pada
inkubasi selama 13 hari konsentrasi LAS
menurun menjadi 17,51 mg/L (P1.1) dan
27,84 mg/L (P1.0).
Penyisihan LAS pada reaktor
anaerob ini mampu mendegradasi
sebesar 98,83% (P1.1) dan 91,7%
(P1.0). Ini menandakan bahwa pada
kondisi anaerob mikroorganisme mampu
mendegradasi surfaktan
LAS dalam
limbah deterjen.
2500
2000
1500
1000
500
0
LAS Influen P1.1
LAS Influen P1.0
500
0
H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8
H9 H10 H11 H12 H13 H14 H15 H16 H17
Hari
COD Soluble Influen P1.1
COD Soluble Influen P1.0
H1
7
H1
5
H1
3
H9
Hari
1000
H1
1
H7
H5
H3
1500
H1
Konsentrasi COD Soluble (mg/L)
Kandungan COD awal dalam
limbah deterjen sebesar 2500 mg/L.
Perubahan COD sampai hari ke-10 baik
pada reaktor kontrol (P1.0) maupun
reaktor
yang
diberikan
tambahan
inokulum (P1.1) memberikan penurunan
yang cukup nyata; Nilai COD masingmasing reaktor sebesar 596 (P1.0) dan
487 (P1.1). Pertumbuhan mikroorganisme pada media dapat dilihat pada
peningkatan efisiensi penyisihan COD.
Efisiensi yang terus meningkat dalam
penyisihan ini menunjukkan adanya
efektivitas mikroorganisme yang telah
tumbuh semakin banyak dan mendegradasi limbah tersebut.
Untuk
penyisihan COD pada proses anaerob
pada hari ke-10 sebesar 80.53% (P1.1)
dan 70.47% (P1.0) (gambar 4.2).
4.4.3
Konsentrasi LAS (mg/L)
4.4.2.
LAS Efluen P1.1
LAS Efluen P1.0
Gambar 4.4 Konsentrasi LAS (mg/l) pada
Reaktor Anaerob
COD Soluble Efluen P1.1
COD Soluble Efluen P1.0
Gambar 4.2. Konsentrasi COD Soluble (mg/l)
Dalam Reaktor Anaerob
120.00
% Efisiensi LAS
100.00
90.00
80.00
60.00
50.00
60.00
40.00
20.00
40.00
10.00
% Efisiensi LAS P1.1
H1
7
H1
5
H1
3
H1
1
Hari
H9
H7
H5
20.00
H3
0.00
30.00
H1
% Efisiensi COD
70.00
80.00
% Efisiensi LAS P1.0
0.00
H1
H2
H3
H4
H5
H6
H7
H8
Hari
% Efisiensi COD Soluble P1.1
H9
H10
H11 H12 H13
H14
H15 H16
H17
% Efisiensi COD Soluble P1.0
Gambar 4.5 % Efisiensi LAS Reaktor Anaerob
Gambar 4.3 % Efisiensi COD Reaktor Anaerob
248
Sopiah, R. N dan Chaerunisah, 2006
4.4.4. Laju Degradasi LAS
Laju degradasi LAS maksimum
pada P1.1 terjadi pada hari ke-3 yaitu
sebesar 1,09 ppm/hari dan pada P1.0
laju degradasi maksimum terjadi pada
hari pertama yaitu sebesar 1,99
ppm/hari.Tingginya laju degradasi pada
awal inkubasi menandakan bahwa
mikroorganisme mampu tumbuh dengan
menggunakan surfaktan LAS sebagai
karbon dan energi untuk proses
metabolismenya. Setelah hari ke-13 laju
degradasi LAS mengalami penurunan
hingga mencapai 0,49 ppm/hari (P1.1)
dan 0,28 ppm/hari (P1.0).
Penurunan ini dapat terjadi
karena beberapa faktor, yaitu pH pada
sistem reaktor semakin lama masa
inkubasi pH semakin menurun, produksi
asam yang berlebih selama proses
degradasi
berlangsung
dapat
(6)
menghambat metabolisme sel
, dan
ketersediaan nutrisi karbon dan nitrogen.
Rendahnya produksi enzim oleh bakteri
menyebabkan
surfaktan
tidak
terdegradasi sempurna, hal ini memicu
terjadinya interaksi dinding sel bakteri
dengan surfaktan LAS yang tidak
terdegradasi,
sehingga
dapat
menghambat permebialitas membrane
sel
bakteri,
sehingga
menggangu
(9)
metabolisme sel
5. KESIMPULAN DAN SARAN
Efisiensi
penyisihan
CODsoluble
tertinggi sebesar 80,96 % (P1.1) dengan
effluent 476 mg/L sedangkan untuk
reaktor kontrol didapatkan efisiensi
penyisihan CODsoluble tertinggi sebesar
76,81 % (P1.0) dengan effluent 531 mg/.
Laju degradasi LAS maksimum sebesar
1,99 ppm/hari (P1.0) dan 1,09 ppm/hari
(P1.1). Penyisihan LAS pada kondisi
anaerob, diperlukan waktu optimum
selama 17 hari.
5.2. Saran
Berdasarkan
data
statistik
menunjukkan
bahwa
meningkatnya
perekonomian
berdampak
positif
terhadap laju penggunaan deterjen,
sehingga hal ini perlu dicermati karena
kemampuan water self-purifier akan
semakin menurun. Hal ini
akan
berdampak negatif terhadap kehidupan
akuatik untuk itu perlu dikembangkan
teknologi bioremediasi yang mampu
membantu
mempercepat
proses
degradasi sehingga pemulihan kualitas
baku mutu air dapat dipercepat.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan
terimakasih
Penulis
tujukan kepada rekan-rekan di Balai
Teknologi Lingkungan (BTL) BPPT
PUSPIPTEK
Serpong
yang
telah
membantu dan mendukung penelitian ini
sampai akhir.
5.1. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Berdasarkan
hasil
penelitian
pada penyisihan Linear Alkylbenzene
Sulfonat (LAS) dalam limbah deterjen
dengan menggunakan reaktor lekat diam
secara anaerob dapat disimpulkan
sebagai berikut :
Derajat keasaman limbah deterjen
mengalami penurunan baik pada reaktor
yang diberikan inokulum maupun tidak
(kontrol).
1.
2.
Bisnis Indonesia, Januari 2004,
Bisnis Com..
Hrsak, D. & Begonja, 2000, Possible
Interaction Within a MethanotrophicHeterotrophic
Groundwater
Community
Transform
Linear
Alkylbenzenesulfonates. Applied and
Environmental Microbiology 66(10) :
4433-4439. 8
Laju Degradasi Surfaktan.... J. Tek. Ling. P3TL-BPPT. 7. (3): 243-250
249
3.
4.
5.
6.
Bitton,
G.,
1999,
Wastewater
nd
Microbiology, 2 edition, Willey-Liss,
New York..
Retnaningdyah, C., S. Samino,
Suharjono, I. Doddy dan Prayitno,
1998, Uji Toksisitas Akut Surfaktan
Deterjen (LAS dan ABS) terhadap
Beberapa Gastropoda Sungai. Jurnal
Natural 3(2): 63-69
Sitorus, H., 1997, Uji Hayati
Toksisitas Deterjen terhadap Ikan
Mas (Cyprinus caprio, L).Visi 5(2):
44-62
Sawyer, C.N and Mc Carty, 1978,
Chemistry for environmental Engineering,
7.
250
Mc Graw-Hill, Inc., New York
Schlegel, H. G. dan K. Schmidt,
1995,
Mikrobiologi
Umum
8.
9.
(diterjemahkan oleh Tedjo Bagaskoro
R.M & Wattimena J.R.,), 1995, UGM
Press, Yogyakarta
Schlegel, H. G. dan K. Schmidt,
1995,
Mikrobiologi
Umum
(diterjemahkan oleh Tedjo Bagaskoro
R.M & Wattimena J.R.,), 1995, UGM
Press, Yogyakarta
Brandt, K., Martin. H., Peter Roslev.,
Kaj Flenrikson & Jan Sorensen,
2001,Toxic Effect of Linear Alkylbenzene Sulfonate on Metabolic
Activity, Growth Rate, and Microcolony Formation of Nitrosomonas
and Nitrosospira Strains, Applied and
Environmental Microbiology 67(6):
2489-2498.
Sopiah, R. N dan Chaerunisah, 2006
Fly UP