...

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KajianPenelitian yang Relevan

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KajianPenelitian yang Relevan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. KajianPenelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan dan ada relevansinya
dengan penelitian ini adalah :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Maryatun (2011) yang berjudul “ Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Metode Penemuan
Terbimbing Siswa Kelas VIII Semester 1 SMP Negeri 4 Kroya Kabupaten
Cilacap
Tahun
Pelajaran
2010/2011”
menunjukkan
bahwa
ada
peningkatan rata-rata yaitu siklus I sebesar 60.39 dengan ketuntasan
individu sebanyak 21 siswa dan ketuntasan klasikalnya sebesar 55.26%.
rata-rata pada siklus II sebesar 74.47 dengan ketuntasan individu sebanyak
36 siswa dan ketuntasan klasikalnya 94, 74%. Sedangkan untuk hasil
angket menunjukkan bahwa siswa yang sangat tertarik 34.21%, yang
tertarik 60.53% dan sedang 5.26%. Hal tersebut menunjukkan bahwa
pendekatan metode penemuan terbimbing mendapat respon yang baik dari
siswa serta dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa dalam
pelajaran matematika.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Hesti Lila Septiani yangberjudul “Upaya
Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui
Penggunaan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Pada Kelas VII
8
9
SMP Negeri 3 Godean Tahun Ajaran 2011-2012”. Hasil penelitian
menunjukan bahwa adanya peningkatan keaktifan siswa dari hasil tes pada
siklus I sebesar 81,43% menjadi 86,07% pada siklus II meningkat menjadi
97,86% pada siklus III, interaksi siswa dengan guru pada siklus I sebesar
22,5% meningkat menjadi 50,71% pada siklus II meningkat menjadi 90,36
pada siklus III, interaksi antar siswa pada siklus I sebesar 17,5%
meningkat menjadi 50% pada siklus II meningkat menjadi 90,71% pada
siklus III.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu berjudul “Upaya
Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Dengan Menggunakan Metode
Pembelajaran Penemuan Terbimbing Siswa Kelas VII Semester Genap SMP
N 1 Gamping Tahun Ajaran 2012/2013.” Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif. Pada penelitian pertama di atas merupakan penelitian kualitatif,
akan tetapi penelitian tersebut untuk meningkatkan hasil hasil belajar siswa
dengan menggunakan metode penemuan terbimbing. Pada penelitian yang
kedua juga merupakan penelitian kualitatif, akan tetapi penelitian tersebut
untuk meningkatkan keaktifan siswa melalui penggunaan model pembelajaran
investigasi kelompok. Kaitan kedua skripsi relevan diatas dengan skripsi yang
dibuat oleh peneliti adalah, pada skripsi yang pertama bahwa melalui metode
penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar, sedangkan pada
skripsi yang kedua bahwa melalui penggunaan model pembelajaran
investigasi kelompok dapat meningkatkan keaktifan siswa.Pembelajaran
10
matematika dengan menerapkan metode penemuan terbimbing, siswa diberi
suatu permasalahan yang harus diselesaikan.Pembelajaran dengan metode
penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sehingga dari
penelitian di atas memberikan bukti bahwa penerapan metode penemuan
terbimbing dapat
meningkatkan
keaktifan
siswa pada
pembelajaran
matematika diiringi dengan peningkatan hasil belajar siswa
B. Kajian Teori
1. Pengertian Belajar
Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat
tafsirannya tentang “belajar”.Berikut beberapa definisi belajar menurut
para ahli.
Oemar Hamalik (2008:36) berpendapat bahwa “Belajar adalah
memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. (learning
is defined as the modification or engthening of behavior through
experiencing).Menurut
pengertian
ini,
belajar
adalah
merupakan
suatuproses kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan
hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami.
Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan
kelakuan.
11
Menurut Hilgard dan Bower, belajar (to learn)
memiliki arti : 1) to again knowledge,
comprehension,or mastery of trough experience or
study; 2) to fix in the mind or memory, memorize; 3) to
acquire trough experience; 4) to become in forme of to
find out. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki
pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai
pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menguasi
pengalaman, dan mendapatkan informasi atau
menemukan.Dengan demikian, belajar memiliki arti
dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan
tentang sesuatu. (Baharuddin : 2007 : 13)
Suyono dan Hariyanto (2011:9-15) juga berpendapat tentang
pengertian belajarmenurut para ahli sebagai berikut :
a. Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk
memperolah
pengetahuan,
meningkatkan
keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan
mengokohkan kepribadian.
b. Menurut Witherington
Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian,
yang dimanifestasi sebagai pola-pola respon yang
baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,
pengetahuan dan kecakapan.
c. Menurut Crow and Crow
Belajar
merupakan
diperolehnya
kebiasaan,
pengetahuan dan sikap baru.
d. Menurut Hilgrad
Belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku
muncul atau berubah karena adanya respon terhadap
suatu situasi. Selanjutnya bersama-sama dengan
Marquis, Hilgard memperbarui defininya dengan
menyatakan bahwa belajar merupakan proses
mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang
melalui latihan, pembelajaran, dan lain-lain sehingga
terjadi perubahan dalam diri.
e. Menurut Driver and Bell
Belajar adalah suatu proses aktif menyusun makna
melalui setiap inetraksi dengan lingkungan, dengan
membangun hubungan antara konsepsi yang telah
dimiliki dengan fenomena yang sedang dipelajari.
12
f. Menurut W.S. Winkel
Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan
yang
menghasilkan
perubahanperubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan dan nilai sikap.
Slameto (2003:2) berpendapat bahwa “Belajar ialah suatu proses
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya, perubahan-perubahan tersebut
akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.”
Dalam pengertian tersebut terdapat kata “perubahan” yang berarti
bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami
perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan,
maupun sikap (aktivitas). Perubahan tingkah laku dalam aspek
pengetahuan ialah, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak pintar menjadi
pintar, dari tidak terampil menjadi terampil.Dalam aspek sikap ialah dari
ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan.Hal tersebut
merupakan salah satu kriteria keberhasilan belajar yang di antaranya
ditandai oleh terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang
belajar.
Dari beberapa definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang dari tidak
tahu menjadi tahu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
13
menemukan hal baru yang sifatnya permanen atau tetap melalui aktivitas,
latihan atau pengalaman.
2. Pengertian Matematika
Matematika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah ilmu tentang logika, bilangan, dan keruangan, berikut prosedur
operasional yang menghubungkan antara logika, bilangan, dan keruangan.
Beberapa pengertian matematika menurut para ahli dalam Erman
Suherman dkk (2003:16-17):
a. Menurut James dan James
Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai
bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang
berhubungan satu dengan lainnya dengan jumlah
yang banyak yang terbagi dalam tiga bidang, yaitu
aljabar, analisis dan geometri.
b. Menurut Johnson dan Rising
Matematika
adalah
pola
pikir,
pola
mengorganisasikan, pembuktian yang logik,
matematika itu adalah bahasa yang menggunakan
istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan
akurat, representasinya dengan simbol dan padat,
lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada
mengenai bunyi.
c. Menurut Reys, dkk
Matematika adalah telaah tentang pola dan
hubungan, suatu pola pikir, suatu seni, suatu bahasa,
serta suatu alat.
d. Menurut Kline
Matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri
yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, karena
adanya matematika itu terutama untuk membantu
manusia dalam memahami dan menguasai
permasalahan sosial, ekonomi dan alam.
14
Menurut Sujono (1988; 4) mengemukakan beberapa definisi
matematika:
1. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan yang
eksak dan terorgaisasi serta sistematik.
2. Matematika adalah bagian pengetahuan manusia
tentang bilangan dan kalkulasi.
3. Matematika
membantu
orang
dalam
menginterprestasikan secara tepat berbagai ide dan
kesimpulan.
4. Matematika adalah ilmu pengetahuan tetang
penalaran yang logik dan masalah-masalah yang
berhubungan dengan bilangan.
5. Matematika berkenaan dengan fakta-fakta kuantitatif
dan masalah-masalah tentang ruang dan bentuk.
6. Matematika adalah ilmu pengetahuan tentang
kuantitas dan ruang.
Dari beberapa pengerian di atas dapat disimpulkan bahwa,
matematika adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang harus dikuasai
oleh manusia untuk memecahkan atau menemukan jawaban terhadap
masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari mengenai
logika, bilangan dan keruangan.
3. Matematika sekolah
Dalam penelitian ini,
matematika
sekolah.Menurut
matematika
Erman
yang dimaksud adalah
Suherman
dkk.
(2003:
55)
“Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu
matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar (SD) dan pendidikan
Menengah (SMP, SMA,dan SMK). Hal ini berarti Matematika tidak hanya
15
diberikan di jenjang pendidikan tinggi karena matematika merupakan ilmu
dasar yang harus dikuasai oleh manusia.
Erman Suherman dkk (2003: 56) juga berpendapat :
Matematika sekolah terdiri atas bagian matematika
yang dipilih gunamenumbuhkembangkan kemampuankemampuan dan membentuk pribadisiswa serta berpadu
kepada
perkembangan
iptek
yang
berfungsi
sebagaisalah satu unsur masukan instrumental yang
memiliki obyek dasar abstrakdan berlandaskan
kebenaran konsistensi, dalam sistem proses belajar
danpembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
matematikasekolah
adalah
matematika
diajarkan
di
sekolahuntuk
mempersiapkan siswa sedari kecil secara bertahap sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki siswa, agar siswa dapat menggunakan
matematika dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mempelajari ilmu
pengetahuan lainnya. Sehingga diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran di sekolah.
4. Keaktifan
Menurut Wina Sanjaya (2006; 135) bahwa keaktifan adalah
kegiatan atau aktivitas atau segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatankegiatan yang terjadi baik fisik maupun non fisik.Keaktifan tidak hanya
ditentukan oleh keaktifan fisik semata, tetapi juga ditentukan oleh
keaktifan non fisik seperti mental, intelektual, dan emosional.
16
Pendidikan modern lebih menitikberatkan pada aktivitas sejati,
dimana siswa belajar sambil bekerja.Dengan bekerja, siswa memperoleh
pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan serta perilaku lainnya,
termasuk sikap dan nilai.( Oemar Hamalik, 2008:89-90). Sehubungan
dengan hal tersebut, sistem pembelajaran dewasa ini sangat menekankan
pada pendaya gunaan asas keaktifan (aktivitas) dalam proses belajar dan
pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Keaktifan berasal dari kata aktif yang artinya giat bekerja, giat
berusaha, mampu bereaksi dan beraksi, sedangkan arti kata keaktifan
adalah kesibukan atau kegiatan.
Keaktifan atau aktivitas belajar banyak macamnya.Para ahli
mencoba mengadakan klasifikasi, antara lain Paul D. Dierich Dierich
(Oemar Hamalik,2006 :172-173)membagi kegiatan belajar menjadi 8
kelompok, sebagai berikut :
a. Kegiatan-kegiatan visual : membaca, melihat
gambar-gambar,
mengamati
eksperimen,
demonstrasi, pameran, mengamati orang lain
bekerja atau bermain.
b. Kegiatan-kegiatan lisan (oral) : mengemukakan
suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu
kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran,
mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.
c. Kegiatan-kegiatan mendengarkan : mendengarkan
penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau
diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan
instrumen musik, mendengarkan siaran radio.
d. Kegiatan-kegiatan menulis : menulis cerita, menulis
laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi,
17
e.
f.
g.
h.
membuat sketsa atau rangkuman, mengerjakan tes,
mengisi angket.
Kegiatan-kegiatan menggambar : menggambar,
membuat grafik, diagram, peta, pola.
Kegiatan-kegiatan metrik : melakukan percobaan,
memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat
model, menyelenggarakan permainan (simulasi),
menari, berkebun.
Kegiatan-kegiatan
mental
:
merenungkan,
mengingat,
memecah
hubungan,
membuat
keputusan.
Kegiatan-kegiatan emosional : minat, membedakan,
berani, tenang, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan
dalam kelompok ini terdapat pada semua kegiatan
tersebut di atas, dan bersifat tumpang tindih.
5. Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar menurut Oemar Hamalik (2007:179) dapat
didefinisikan
sebagai
berbagai
keaktifan
yang
diberikan
pembelajaran dalam situasi belajar mengajar.
Kecenderungan psikologi dewasa ini
menganggap bahwa anak adalah makhluk yang
aktif.Anak mempunyai dorongan untuk berbuat
sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya
sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang
lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang
lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila siswa
aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya
mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut
apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya
sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa
sendiri. Guru hanya sekadar pembimbing dan
pengarah (Dimyati , 2009: 44)
pada
18
Menurut petunjuk teknis penyusunan perangkat penilaian afektif,
keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika dapat dilihat dari :
a. Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran.
1) Siswa memperhatikan penjelasan guru.
2) Siswa tidak mengerjakan pekerjaan lain.
3) Siswa spontan bekerja apabila diberi tugas.
4) Siswa tidak terpengaruh situasi di luar kelas.
b. Interaksi siswa dengan guru.
1) Siswa bertanya kepada guru.
2) Siswa menjawab pertanyaan guru.
3) Siswa memanfaatkan guru sebagai nara sumber.
4) Siswa memanfaatkan guru sebagai fasilitator.
c. Interaksi antar siswa
1) Siswa bertanya kepada teman dalam satu kelompok.
2) Siswa menjawab pertanyaan teman dalam satu
kelompok.
3) Siswa bertanya kepada teman dalam kelompok lain.
4) Siswa menjawab pertanyaan teman dalam kelompok
lain.
d. Kerjasama kelompok.
1) Siswa membantu teman dalam kelompok yang
menjumpai masalah.
2) Siswa meminta bantuan kepada teman, jika
mengalami masalah.
3) Siswa mencocokkan jawaban/konsepsinya dalam satu
kelompok.
4) Adanya pembagian tugas dalam kelompok.
e. Keaktifan siswa dalam kelompok.
1) Siswa mengemukakan pendapatnya.
2) Siswa menanggapi pertanyaan/pendapat
sejawat.
3) Siswa mengerjakan tugas kelompok.
4) Siswa menjelaskan pendapat/pekerjaannya.
teman
19
f. Partisipasi
siswa
dalam
menyimpulkan
hasil
pembahasan.
1) Siswa
mengacungkan
tangan
untuk
ikut
menyimpulkan.
2) Siswa merespon pernyataan/simpulan temannya.
3) Siswa menyempurnakan simpulan yang dikemukakan
oleh temannya.
4) Siswa menghargai pendapat temannya.
(Direktorat Pembinaan , 2010 : 57-58)
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keaktifan
belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik/jasmani dan mental/rohani yang
diberikan pada pembelajaran dalam situasi belajar mengajar.
6. Pembelajaran
Pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang
memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara
optimal. Proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan
dan bersifat rekayasa perilaku.Belajar yang disertai dengan pembelajaran
akan lebih tertata daripada belajar yang hanya semata-mata dari
pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat.Ciri utama dari
pembelajaran adalah adanya interaksi antara peserta didik dengan
lingkungan belajarnya, baik itu dengan guru, teman-temannya, media
pembelajaran, dan sumber-sumber belajar yang lain.
Menurut Hamzah B. Uno (2007: 54) “Pembelajaran adalah suatu
proses interaksi antara peserta belajar dengan pengajar atau instruktur dan
20
atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untuk pencapaian
tujuan belajar tertentu.”
Pembelajaran menurut Erman Suherman dkk (2003: 8) adalah :
Proses pendidikan dalam lingkup persekolahan
sehingga arti dari proses pembelajaran adalah
proses sosialisasi siswa dengan lingkungan sekolah
seperti guru, fasilitas dan teman sesama siswa.
Menurut konsep komunikasi, pembelajaran adalah
proses komunikasi fungsional antara siswa dengan
guru dan siswa dengan siswa dalam rangka
perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi
kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan.
Menurut Oemar Hamalik (2008: 26) metode adalah:
Cara yang digunakan untuk menyampaikan materi
pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Suatu metode mengandung pengertian terlaksananya
kegiatan guru dan kegiatan siswa dalam proses
pembelajaran. Metode dilaksanakan melalui prosedur
tertentu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah
proses interaksi siswa dengan dengan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar yang disengaja dirancang oleh guru agar siswa dapat
memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta perubahan sikap untuk
mencapai tujuan belajar tertentu
Sedangkan metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi
yang digunakan untuk melaksanakan proses pembelajaran. Terdapat
bermacam-macam metode pembelajaran diantaranya metode ceramah,
21
tanya jawab, ekspositori, drill dan latihan, penemuan, pemecahan masalah,
dan lain-lain.
7. Metode Penemuan Terbimbing
a. Pengertian Metode Penemuan Terbimbing
Menurut
E.
Mulyasa
(2008:
110)“Metode
penemuan
(discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada
pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih
mengutamakan proses daripada hasil belajar.”
Menurut Sund dalam Roestiyah (2001: 20-21) discovery adalah:
Proses mental dimana siswa mampu mengasimilasi
sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan
proses mental tersebut antara lain ialah:mengamati,
mncerna, mengerti, menggolong golongkan,
membuat
dugaan,
menjelaskan,
mengukur,
membuat kesimpulan dan sebagainya. Suatu konsep
misalnya : segitiga, panas, demokrasi dan
sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prinsip
antara lain ialah: logam apabila dipanaskan akan
mengembang. Dalam teknik ini siswa dibiarkan
menemukan sendiri atau mengalami proses mental
itu sendiri, guru hanya membimbing dan
memberikan instruksi.”
Menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu
jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau
iten pengetahuan tertentu” (Markaban,2006:9).Jadi belajar dengan
penemuan adalah belajar untuk menemukan masalah sehingga siswa
dapat mencari jalan pemecahannya.
22
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Secara
matematis metode penemuan adalah metode atau cara menyampaikan
idea atau gagasan melalui proses menemukan (discovery). Dengan
demikian kegiatan pembelajaran melibatkan secara maksimal baik
pengajaran maupun siswa.Metode seperti ini diharapkan siswa terlibat
langsung secara aktif, dapat menemukan pola atau struktur, memahami
konsep, ingat lebih lama dan mampu mengaplikasi ke situasi yang
lainnya.Akan tetapi pembelajaran ini memerlukan bimbingan agar
siswa lebih terarah dalam menemukan suatu pengetahuan baru,
sehingga metode dengan bimbingan guru dikenal sebagai metode
penemuan
terbimbing.Pembelajaran
dengan
metode
penemuan
terbimbing menekankan siswa untuk aktif belajar.Sedangkan guru
bertindak
sebagai
fasilitator
dan
membimbing
siswa.Siswa
mendominasi dalam kegiatan pembelajaran dan didorong untuk
berfikir sendiri menemukan pengetahuan baru dengan bantuan atau
petunjuk guru.
Metode ini melibatkan suatu dialog atau interaksi antara
siswa dan guru dimana siswa mencari kesimpulan yang diinginkan
melalui suatu urutan pertanyaan yang diatur oleh guru (Markaban,
2006 : 10).Metode penemuan ini menekankan pada adanya interaksi
dalam kegiatan belajar mengajar.Interaksi tersebut dapat juga terjadi
antara siswa dengan siswa (S – S), siswa dengan bahan ajar (S – B),
23
siswa dengan guru (S – G), siswa dengan bahan ajar dan siswa (S – B
– S) dan siswa dengan bahan ajar dan guru (S – B – G).interaksi yang
mungkin terjadi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 2.1 : Interaksi dalam kegiatan belajar mengajar
Interaksi dalam metode pembelajaran ini dapat dilakukan
antara siswa secara kelompok kecilmaupun kelompok besar (kelas).
Pembelajaran
dengan
metode
penemuan
terbimbing
memberikan kesempatan pada siswa untuk menyusun, memproses,
mengorganisir suatu data yang diberikan guru. Melalui proses
penemuan ini, siswa dituntut untuk menggunakan ide dan pemahaman
yang telah dimiliki untuk menemukan sesuatu yang baru.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode
penemuan terbimbing adalah suatu metode atau cara di mana dalam
proses pembelajaran guru memperkenankan siswa aktif menemukan
24
sendiri informasi atau pengetahuan baru melalui bimbingan dan
petunjuk tertentu atau pertanyaan-pertanyaan spesifik yang disediakan
untuk menuntun siswa sehingga menuju ke arah yang diinginkan.
b. Langkah-langkah dalam Penemuan Terbimbing
Menurut Markaban (2006:16) agar pelaksanaan model
penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah
yang perlu ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut :
1) Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada
siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus
jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah
tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak
salah.
2) Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun,
memproses, mengorganisir, dan menganalisis data
tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat
diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan
ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah
ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaanpertanyaan, atau LKS.
3) Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil
analisis yang dilakukannya.
4) Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat
siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini
penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran
prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang
hendak dicapai.
5) Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran
konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur
sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk
menyusunnya. Disamping itu perlu diingat pula
bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran
konjektur.
25
6) Sesudah siswa menemukan apa yang dicari,
hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal
tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan
itu benar.
Adapun kelebihan-kelebiandari metode penemuan terbimbing
menurut Markaban (2006 :16) adalah sebagai berikut :
1) Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran
yang disajikan.
2) Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap
inquiry(mencari-temukan).
3) Mendukung kemampuan problem solving siswa.
4) Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun
siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga
terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
5) Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat
kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas
karena
siswa
dilibatkan
dalam
proses
menemukannya.
8. Bangun Datar Segiempat
Segi empat merupakan salah satu materi yang diajarkan pada kelas
VII semester 2.Terdapat 6 buah bangun segi empat yaitu persegi panjang,
persegi,
jajar
genjang,
belah
ketupat,
layang-layang,
dan
trapesium.Penjelasan lengkap mengenai bangun datar segi empat akan
dijelaskan dibawah ini.
26
a. Persegi panjang
1) Definisi
Persegi panjang adalah segi empat yang keempat sudutnya
siku-siku dan sisi-sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar.
D
C
l
A
p
B
Gambar 2.2 Persegi panjang ABCD
a) Sudut
: ∠ A, ∠ B, ∠ C, dan ∠ D
b) Sisi
: AB, BC, CD dan AD
c) Diagonal
: AC dan BD
2) Sifat-sifat Persegi Panjang
a) Keempat sudutnya siku-siku
(∠ A =∠ B =∠ C =∠D = 90°)
b) Sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar
(AB = CD dan AD = BD)
c) Kedua diagonalnya sama panjang dan berpotongan di tengah
(AC = BD dan OA = OB = OC = OD)
d) Dapat menempati bingkainya dengan 4 cara
e) Mempunyai dua sumbu simetri
27
3) Keliling dan Luas Persegi Panjang
Jika K menyatakan keliling, p menyatakan panjang dan l
menyatakan lebar persegi panjang, maka keliling persegi panjang
dapat dinyatakan dengan rumus :
K = p + p + l + l = 2p + 2l
atau
K = 2 × (p+l)
Sedangkan jika L menyatakan luas, maka luas daerah persegi
panjang dinyatakan dengan rumus :
L = p ×l
b. Persegi
1) Definisi
Persegi adalah segi empat yang keempat sudutnya sikusiku dan keempat sisinya sama panjang.
s
D
C
s
A
B
Gambar 2.3Persegi ABCD
a) Sudut
: ∠ A, ∠ B, ∠ C, dan ∠ D
b) Sisi
: AB, BC, CD dan AD
c) Diagonal
: AC dan BD
28
2) Sifat-sifat Persegi
a) Keempat sudutnya siku-siku
(∠ A =∠ B =∠ C =∠D = 90°)
b) Keempat sisi-sisinya sama panjang
(AB = BC= CD = AD)
c) Sisi yang berhadapan sejajar
(AB // CD dan AD // BC)
d) Kedua diagonalnya sama panjang dan berpotongan di tengah
(AC = BD dan OA = OB = OC = OD)
e) Kedua diagonal berpotongan saling tegak lurus (AC┴ BD)
f) Dapat menempati bingkainya dengan 8 cara
g) Mempunyai empat sumbu simetri
3) Keliling dan Luas Persegi
Keliling persegi adalah jumlah keempat sisinya atau jika K
menyatakan keliling persegi dan s menyatakan sisi persegi, maka
keliling persegi dapat dinyatakan dengan rumus :
K = s + s + s + s = 4 ×s
Sedangkan jika L menyatakan luas, maka luas daerah persegi
dinyatakan dengan rumus :
L = s x s = s2
29
c. Jajargenjang
1) Definisi
Jajargenjang adalah segi empat dengan sisi-sisi yang
berhadapan sejajar dan sama panajang.
C
D
t
A
b
a
B
Gambar 2.4 Jajargenjang ABCD
a) Sudut
: ∠ A, ∠ B, ∠ C, dan ∠ D
b) Sisi
: AB, BC, CD dan AD
c) Diagonal
: AC dan BD
2) Sifat-sifat Jajargenjang
a) Sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar
(AB = CD dan AD = BD)
b) Sudut yang berhadapan sama besar
(∠ A =∠ C dan∠ B =∠D)
c) Sudut yang berdekatan jumlahnya 180°
(∠ A + ∠ B = 180°, ∠ A + ∠ D = 180°, ∠ B + ∠ C = 180°
dan∠ C + ∠ D = 180°)
d) Kedua diagonalnya berpotongan di tengah
(OA = OC dan OB = OD)
e) Dapat menempati bingkainya dengan 2 cara
30
3) Keliling dan Luas Jajargenjang
Jika K menyatakan keliling jajargenjang, L menyatakan
luas, a menyatakan panjang alas, b menyatakan panjang sisi yang
sejajar dengan alas, c dan d menyatakan panjang sisi-sisi yang
sejajar lainnya, serta t menyatakan jarak alas dengan sisi yang
sejajar dengan alas jajargenjang.
Maka keliling jajargenjang dinyatakan dengan rumus :
K=a+b+c+d
Sedangkan luas daerahnya dapat dinyatakan dengan rumus alas x
tinggi atau dapat dinyatakan dengan :
L=axt
d. Belah Ketupat
1) Definisi
Belah ketupat adalah jajar genjang yang keempat sisinya
sama panjang.
A
B
D
C
Gambar 2.5 Belah ketupat ABCD
31
a) Sudut
: ∠ A, ∠ B, ∠ C, dan ∠ D
b) Sisi
: AB, BC, CD dan AD
c) Diagonal
: AC dan BD
2) Sifat-sifat Belah Ketupat
a) Keempat sisi-sisinya sama panjang (AB = BC = CD = AD)
b) Diagonalnya merupakan sumbu simetri (AC dan BD)
c) Sudut yang berhadapan sama besar dan dibagi dua oleh
diagonalnya (∠ BAD = ∠ BCD , ∠ ABC = ∠ ADC)
d) Kedua diagonalnya berpotongan di tengah dan saling tegak lurus
(AC ┴ BD) dan (OA = OC , OB = OD)
e) Dapat menempati bingkainya dengan 4 cara
3) Keliling dan Luas Belah Ketupat
Keliling belah ketupat adalah jumlah panjang keempat sisisisinya, atau jika K menyatakan keliling dan s menyatakan panjang
sisi maka rumus keliling belah ketupat dapat dinyatakan dengan :
K=4xs
Sedangkan jika L menyatakan luas, d 1 dan d 2 menyatakan panjang
diagonal-diagonal belah ketupat, maka luas daerah belah ketupat
dapat dinyatakan dengan rumus :
L=
(d 1 x d 2 )
2
32
e. Layang-layang
1) Definisi
Layang-layang adalah segi empat dengan dua sisi-sisi yang
berdekatan sama panjang serta diagonal-diagonalnya saling
berpotongan tegak lurus dan salah satu diagonalnya membagi
diagonal yang lain menjadi dua sama panjang.
D
a
A
C
b
B
Gambar 2.6 Layang-layang ABCD
a) Sudut
: ∠ A, ∠ B, ∠ C, dan ∠ D
b) Sisi
: AB, BC, CD dan AD
c) Diagonal
: AC dan BD
2) Sifat-sifat layang-layang
a) Sepasang sudut yang berhadapan sama besar (∠ A = ∠ C)
b) Sepasang sisi-sisinya sama panjang (BA = BC dan DA = DC)
33
c) Salah satu diagonalnya merupakan sumbu simetri (BD)
d) Kedua diagonalnya saling berpotongan tegak lurus (AC ┴ BD)
3) Keliling dan luas layang-layang
Jika K menyatakan keliling dan L menyatakan luas, a dan b
menyatakan sisi-sisi pada layang-layang kemudian d 1 dan d 2
menyatakan panjang diagonal-diagonal pada layang-layang.
Maka keliling layang-layang dapat dirumuskan sebagai berikut :
K = 2 (a +b)
Sedangkan rumus luas daerah layang-layang adalah
L=
(d 1 x d 2 )
2
f. Trapesium
1) Definisi
Trapesium adalah bangun segiempat yangmempunyai sepasang
sisi berhadapansejajar.
Jenis-jenis trapesium:
a) Trapesium sembarang
Trapesium sembarang adalah trapesium yang keempat
sisinya tidak sama panjang.
D
C
t
A
B
Gambar 2.7 trapesium sembarang ABCD
34
b) Trapesium sama kaki
Trapesium sama kaki adalah trapesium yang mempunyai
sepasang sisi yang sama panjang.
D
C
t
A
Gambar 2.8 trapesium sama kaki
B
c) Trapesium siku-siku
Trapesium siku-siku adalah trapesium yang salah satu
sisinya tegak lurus terhadap sisi-sisi yang sejajar.
C
D
t
B
A
Gambar 2.9 trapesium siku-siku
2) Sifat umum trapesium adalah jumlah sudut yang berdekatan di
antara dua sisi sejajar adalah 1800.
3) Keliling dan luas trapesium
Jika K menyatakan keliling dan L menyatakan luas, a dan b
menyatakan panjang dua sisi sejajar dimana a ≠ b, c dan d
menyatakan panjang sisi-sisi yang lain yang menghubungkan dua
35
sisi sejajar, serta t menyatakan jarak dua sisi sejajar pada
trapesium.
Maka keliling trapesium yaitu :
K=a+b+c+d
Luas daerah trapesium adalah
L=
(a + b ) × t
2
(M.Cholik, 2007:85-111)
C. Kerangka Berfikir
Matematika merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang
mendasari ilmu pengetahuan lain dan mempunyai peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu pendidikan matematika harus selalu
dikembangkan dan diperbaiki. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan
khususmya matematika, guru dituntut untuk selalu meningkatkan diri baik
dalam pengetahuan matematika maupun pengelolaan proses belajar mengajar.
Hal ini agar siswa dapat mempelajari matematika dengan baik dan benar
sehingga mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kenyataannya matematika merupakan suatu mata pelajaran yang
bersifat
abstrak
karena
objek
matematika
berupa
benda-benda
pikiran.Sehingga matematika dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang sulit
36
oleh sebagian siswa di sekolah.Hal ini menyebabkan kebanyakan siswa lebih
bersifat pasif, takut, malu mengemukakan pendapatnya bahkan tidak jelas
mana yang akan ditanyakan. Suasana seperti ini akan mengganggu kelancaran
proses belajar mengajar dan juga menghambat kreativitas siswa dalam
menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru mereka. Jika hal ini
dibiarkan terus akan menyebabkan siswa semakin mengalami kesulitan dalam
belajar matematika karena pembelajaran cenderung satu arah. Suatu proses
belajar mengajar akan lebih efektif apabila siswa berpartisipasi dalam proses
pembelajaran. Dengan berpartisipasi siswa akan mengalami dan menemukan
sendiri pengetahuan baru dari pengalaman itu. Sehingga hasil belajar
merupakan bagian dari pengalaman sendiri dan akan lebih lestari dalam diri
siswa.
Maka dari itu diperlukan suatu metode yang bisa mengaktifkan siswa
dalam proses pembelajaran matematika. Salah satunya adalah metode
penemuan
terbimbing.
Pembelajaran
dengan
penemuan
terbimbing
menekankan siswa untuk belajar aktif, sehingga siswa mendominasi aktivitas
pembelajaran.Siswa secara aktif menemukan ide-ide pokok dari materi
pelajaran, memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru
dipelajari ke dalam kehidupan nyata. Guru bertindak sebagai fasilitator dan
membimbing siswa jika diperlukan.
37
Dari pemikiran-pemikiran di atas, kemungkinan pembelajaran di kelas
lebih didominasi oleh siswa, siswa menjadi aktif dan tertarik untuk belajar
matematika sehingga akhirnya akan meningkatkan hasil belajar.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan didukung oleh penelitian yang relevan,
maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan metode
penemuan terbimbing dapat meningkatkan keaktifan belajar matemaika siswa.
Fly UP