...

Buku Pewarta Warga - Combine Resource Institution

by user

on
Category: Documents
10

views

Report

Comments

Transcript

Buku Pewarta Warga - Combine Resource Institution
Pewarta
Warga
C O M B I N E R e s ou r c e I nst i t u t i o n
Di susun oleh
YOSSY SUPARYO
BAMBANG MURYANTO
COMBINE Resource Institution
2011
PEWARTA WARGA
Diterbitkan oleh
COMBINE Resource Institution
Jl. KH Ali Maksum No 183
Sewon Bantul Yogyakarta
Indonesia - 55188
t : +62 274 411 123
e : [email protected]
Cetakan pertama November 2011
Penyunting
Bambang Muryanto
Ilustrasi sampul muka & isi buku
Dani Yuniarto
Tata Letak sampul buku & isi buku
Iwan Rekarupa
Suparyo, Yossy
Pewarta Warga— Suparyo, Yossy—
Muryanto, Bambang—Yogyakarta:
COMBINE Resource Institution, 2011
Yogyakarta
viii + 124 hlm; 14.5 x 21 cm
ISBN : 978-979-97983-8-1
i. Judul ii. Pengarang iii Jurnalistik
1. Suparyo, Yossy 2. Muryanto, bambang
Siapapun bisa mengutip, menyalin, dan menyebarluaskan sebagian
atau keseluruhan tulisan dengan menyebutkan sumber tulisan
dan mencantumkan jenis lisensi yang sama pada karya ­publikasi,
kecuali untuk kepentingan komersil.
Daf tar Isi
Mengapa Buku Ini Ditulisi
BAB 1 : Jurnalisme Warga
01
Kemunculan Jurnalisme Warga04
Jurnalisme yang Berpihak ke Warga
07
Pengetahuan Lokal10
Memelihara Ingatan13
BAB 2 : Obyektivitas Jurnalisme Warga
16
Pemeriksaan Data18
BAB 3 : Kelayakan Berita
21
BAB 4 : Teknik Peliputan
28
Persiapan Peliputan32
Menjawab Unsur-Unsur Berita
34
Cara Peliputan36
Pahami Ragam Peristiwa39
BAB 5 : Wawancara42
Persiapan Wawancara44
Saat Wawancara45
Sumber Anonim
49
BAB 6 : Menulis Berita
52
Judul Berita54
Teras berita
55
Tubuh Berita
61
Penutup63
Jenis Berita63
BAB 7 : Foto Jurnalistik
78
Belajar Foto Jurnalistik81
Beberapa Langkah Membuat Foto Jurnalistik
82
Nilai Foto Jurnalistik84
BAB 8 : Penyuntingan86
Struktur tulisan88
Bahasa Jurnalistik91
Ekonomi Kata92
Bahasa Baku dan Tidak Baku
94
Penggabungan Kata
98
Pilihan Kata Sesuai Fakta99
BAB 9 : Kode Etik Jurnalisme Warga
102
Kode Etik Jurnalistik106
Kode Etik Pewarta Suara Komunitas
114
Kriminalisasi Pers120
Daftar Bacaan124
Mengapa Buku Ini Ditulis
Pertama-tama, kami ingin mengatakan buku panduan ini diper­
sembahkan bagi para pewarta warga yang tengah memperkuat diri
untuk memengaruhi kebijakan publik melalui pengelolaan dan pertukaran informasi berbasis warga (jurnalisme warga).
Buku ini disusun sebagai panduan bagi para pewarta di Suara
­Komunitas agar dapat bekerja efektif dan efisien. Jurnalisme Suara
Komunitas mengacu pada prinsip-prinsip yang diatur dalam UndangUndang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Pers agar menghasilkan
­berita-berita yang dapat dipercaya.
Pewarta warga menyusun berita dengan cara pAndang ­warga.
­Jurnalisme warga merupakan wujud kesadaran warga atas ­pentingnya
partisipasi warga dalam mengelola informasi. Pasalnya, ­media massa
arus utama (komersial) tidak dapat berpihak se­penuhnya terhadap
kepentingan warga. Ada banyak alasan yang menjadi pen­yebabnya,
mulai dari soal teknis, keterbatasan halaman atau waktu hingga persoalan ideologis yang menyangkut kepenting­an pemilik media massa.
Jurnalisme warga memungkinkan antarwarga dapat berbagi
­informasi, saling belajar, berbagi keluh-kesah, dan mencari jalan
keluar­ masalah-masalah yang mereka hadapi. Proses ini bisa mendorong perubahan tata kehidupan warga ke arah yang lebih baik.
Dari perspektif komunikasi massa, ini menjadi tahapan penting untuk
meraih demokrasi sejati.
Dalam dunia jurnalisme warga, kepercayaan pembaca merupakan
­imbalan terbesar bagi kerja para pewarta warga. Mereka bekerja tidak
untuk mencari keuntung­an finansial, tetapi semata-mata ingin berpartisipasi dalam proses pengawasan sosial, Tanpa bekal ke­percayaan
dari masyarakat, jurnalisme warga tidak akan berarti apapun.
Buku ini ditulis untuk pewarta warga di tingkat akar rumput yang
dikembangkan COMBINE Resource Institution bersama media-media
komunitas di seluruh penjuru Indonesia. Sejak 2008, Suara Komunitas
telah menjadi media pengelolaan dan pertukaran ­informasi ­komunitas
di Indonesia. Sejumlah wilayah telah merasakan dampak positifnya.
i
Namun acapkali para pewarta warga menyadari masih melakukan
­banyak kesalahan. Kesalahan yang sering muncul, antara lain salah
ketik, keterangan narasumber tidak lengkap, pemborosan kata, penggunaan tanda baca yang salah, kalimat tidak runtut, dan yang paling
berat melanggar kode etik jurnalistik seperti berita yang tidak se­
imbang. Akibatnya, berita menjadi tidak enak dibaca dan terkadang
­bias kepentingan tertentu dan tidak mencerminkan kepentingan
­warga. Jadi, tidak ada bedanya dengan media komersial.
Panduan ini dapat menjadi rujukan bagi para pewarta warga dalam
membuat berita yang benar. Seluruh materi panduan ini disusun berdasarkan pengalaman pewarta warga sehingga dapat mengatasi pelbagai persoalan yang sering mereka hadapi.
Panduan ini telah diujicobakan pada Lokalatih Pengelolaan Informasi
di Kaukus 17++ di Surakarta, Lokalatih Pewartaan di Cilacap, Pelatihan
Singkat Program Proteksi Sosial di Cirebon, Pelatihan Pengemasan
Informasi di Media Center Sidoarjo, dan Lokalatih Diskusi PNPM
Mandiri di Lampung. Puncaknya, pada Pertemuan Nasional Penyunting
Wilayah di Cirebon, 22-30 maret 2011, berkas ini dibahas sehingga menjadi buku panduan yang menampung pelbagai gagasan dari pewarta
Suara Komunitas.
Buku ini telah dibedah oleh para penyunting wilayah Suara Komunitas
pada 27-30 maret 2011 di cirebon. Para penyunting itu meliputi: Wahyu
Mulyawan (Aceh), Tohar P. Simamora (Sumatera Utara), Nurhayati
Kahar (Sumatera Barat), Rifky Indrawan (Lampung), Akhmad Rufahan
(Karisidenan Cirebon), Irman Meilandi (Priangan Timur), Yana Noviadi
(Tasikmalaya), Sobih Adnan (Cirebon), Muji Laksono (Karisidenan
Pekalongan), Marjudin (Yogyakarta), Mawan Wahyudin (Blitar), Akhmad
Novik (Sidoarjo), Siti Masniah (Lumajang), Rudy (Sulawesi Selatan),
Ibrahim (Sulawesi Tenggara), Muhammad Syairi (Lombok), Iman Abda
(JRKI), Budhi Hermanto dan Saswono (Suara Komunitas).
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Putut Gunawan (Kaukus 17++), Akhmad Fadli (Penyunting Wilayah
Cilacap), Rifky Indrawan (Ketua Jaringan Radio Komunitas Lampung),
Muhammad Syairi (Primadona FM), Akhmad Rovahan (Jarik Cirebon),
Akhmad Nasir, Budhi Hermanto, dan Sarwono (COMBINE) yang bersedia berkolaborasi untuk mengujicoba panduan ini dalam sejumlah
pelatihan.
ii
Buku Pewarta Warga
Penulis Mengucapkan penghargaan yang tinggi pada para pen­yunting
wilayah Suara Komunitas yang telah membedah rancangan buku ini
menjadi lebih mudah diterapkan di lapangan. Tak lupa, penulis meng­
ucapkan terima kasih pada Bambang Muryanto (Aliansi Jurnalis)
Indipenden Yogyakarta) dan Slamet Widodo (LP3Y) yang memberikan
masukan luar biasa untuk merincikan isi buku.
Penyusun menyadari masih ada banyak kekurangan dalam penyusun­
an panduan ini. Kami berharap materi panduan ini dapat dikembangkan lagi di masa mendatang.
Selamat Membaca.
iii
1
Jurnalisme
Warga
Sayup-sayup terdengar alunan gending-gending Jawa di perbukit­an
Merapi. Kadang terdengar keras, kadang hilang terbawa angin sepoi
sore. Suasana ­terasa hikmat dengan sedikit bumbu magis aroma bunga
setaman dan dupa kemenyan.
Upacara Merti Dusun di Dusun Tutup Ngisor, ­Magelang di­buka oleh
sesepuh dusun. Lalu, seorang dalang segera memainkan wayang kulit di
panggung yang dibuat secara khusus di dalam pendopo. Warga dusun,
tua, muda, maupun anak- anak duduk bersila meme­nuhi ruang lesehan
di depan panggung.
Dusun Tutup Ngisor terletak di lereng barat Gunung Merapi, masuk wilayah Desa Sumberan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Dusun ini dihuni oleh 60 keluarga yang memegang teguh tradisi dan
adat ­istiadat. Tradisi dan adat makin terjaga dengan adanya Padepokan
Cipto Budoyo yang didirikan oleh R
­ omo Yoso Sudarmo pada 1937.
Merti Dusun diadakan setiap tahun sebagai perwujudan ­syukur warga
kepada Sang Maha Pencipta. Kegiatan ini di­awali ­dengan bersih dusun
dan dilanjutkan dengan bersih kubur. ­Hari ­ber­ikutnya ada kenduri yang
diikuti oleh seluruh kepala ­keluarga. Lalu, pada malam hari­nya digelar
pentas wayang kulit.
Menurut Sitras Anjilin, Pimpinan Padepokan Cipto ­Budaya, Merti Dusun
menjadi ajang saling sapa dan pertemuan warga dusun. Adat dan tradisi
ini juga menjadi cara bertahan warga dari pengaruh buruk budaya ­asing
yang gencar disosialisasikan oleh m
­ edia massa arus utama.
02
Buku Pewarta Warga
Ikhwanudin, pegiat Radio Komunitas Sutet FM, mengunggah
berita tentang kegiatan Merti Dusun di Dusun Tutup Ngisor, Desa
Sumberan, di portal Suara Komunitas (9/6/2009). Studio Sutet FM berlokasi di Kecamatan Dukun, Magelang. Tulisan berjudul Merti Dusun,
Media Pelestari Budaya dan Tradisi, menunjukkan bagaimana warga
mengabarkan kegiatan di daerahnya. Hanya dengan tulisan sepanjang
empat paragraf itu, warga mampu merekam peristiwa di kampung­
nya secara apik.
Pada hari yang sama, di Makasar, pegiat Jirak Celebes menceritakan
kegiatan kampanye penghentian pekerja usia anak-anak. Kampanye
dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa,
Makasar, di mana banyak keluarga pemulung mengajak anak-anak­
nya mengais rezeki. Mereka meyakinkan keluarga pemulung untuk
men­
yekolahkan anak-anaknya demi masa depan mereka. “Lewat
pendidikanlah, keluarga pemulung dapat memutuskan mata rantai
kemiskinan,” demikian rayuan mereka pada para pemulung.
Di Kabupaten Kuningan, Pedro, warga Desa Babakan Mulya, Kecamatan
Jalaksana, menulis Kelompok Taruna Tani BAINA dalam mengelola
usaha pembenihan dan pembesaran ikan seperti nila, mas, gurame,
dan lele. Persediaan ikan basah di Kuningan hanya 40 prosen dari kebutuhan konsumsi ikan warga. Sisanya, bergantung pada daerah lain.
Dari penelusurannya, Pedro menemukan Kuningan kekurangan ikan
akibat persediaan benih ikan yang bermutu sangat sedikit.
Para pewarta warga di 28 kota di Indonesia secara rutin meng­unggah
berita-berita di atas, ke portal Suara Komunitas yang difasilitasi
COMBINE Resource Institution. Pewarta Suara Komunitas se­bagian
­besar adalah warga biasa yang bermukim di desa atau pelosok yang
jauh dari hingar-bingar kota. Ada yang tinggal di lereng gunung,
­lembah, dan ada pula di kepulauan yang sulit dijangkau.
Di Pulau Sumatra, pewarta warga tersebar di Aceh, Medan, Lampung,
dan Padang. Di Pulau Sulawesi, ada di Makasar dan Kendari. Di
Kalimantan, pewarta warga berada di Pontianak dan Banjar Baru. Di
Nusa Tenggara Barat, pewarta warga tersebar di tiga penjuru Pulau
Lombok. Sementara, di Pulau Jawa pewarta warga ada di Yogyakarta,
Cilacap, Wonosobo, Sidoarjo, Lumajang, Malang, Pekalongan, Cirebon,
dan lain-lainnya.
03
Mereka bekerja secara sukarela tanpa dibayar, bahkan Muhammad
Syairi, pewarta dari Primadona FM, Bayan, Lombok Utara, membiayai
akses internet secara mandiri untuk mengunggah berita. Selain meng­
unggah berita ke portal, mereka juga membuat berita audio yang di­
sebarluaskan melalui radio komunitas. Ada juga yang menyusunnya
menjadi semacam surat kabar yang ditempel di papan pengumuman
dusun. Mereka menyebutnya sebagai kobar (koran selembar).
Kemunculan Jurnalisme Warga
Kegiatan warga dalam membuat, menggunakan, dan menyebarluaskan
informasi tentang pelbagai kegiatan dan isu di daerahnya merupakan
perkembangan menggembirakan. Sebelumnya penyebaran informasi
terpusat di tangan media massa komersial. Kini, berkat perkembangan
teknologi informasi, warga juga mampu melakukan hal serupa. Warga
juga dapat menjadi anjing penjaga (watchdog) saat media arus utama
tidak berfungsi secara maksimal.
Ini adalah bentuk dari desentralisasi informasi. Jurnalisme warga me­
rupakan alih bahasa dari citizen journalism. Jurnalisme warga adalah
partisipasi warga dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis,
serta penyampaian informasi dan berita (Wikipedia Indonesia: 2010).
Pertemuan Nasional Suara Komunitas pada 17-19 Desember 2009 meng­
artikan pewarta warga adalah warga yang secara sukarela menyusun,
mengemas, dan menyebarluaskan informasi ke publik dengan memperhatikan prinsip-prinsip jurnalisme.
Jurnalisme warga merupakan bentuk baru dalam penyebaran
­informasi, di mana batas antara produsen dan konsumen informasi
sulit di­pisahkan. Dewi (2008) berpendapat kegiatan jurnalisme warga
memiliki dampak positif. Pertama, memberikan ruang bagi peran serta
warga dalam pengelolaan informasi. Keterlibatan warga dalam ­dunia
jurnalistik membuktikan adanya hubungan dinamis antara pelaku
­media dan pembacanya. Kedua, mampu memberikan ruang bagi warga
untuk menegakkan hak-hak informasinya.
Meningkatnya keberaksoraan (melek) media dari warga juga me­
mengaruhi per­kembangan jurnalisme warga. Meski awalnya sekadar
iseng, lama-kelamaan mereka menyadari kegiatan pengelolaan dan
04
Buku Pewarta Warga
berbagi informasi adalah sebuah pilihan. Apabila warga mampu berbagi informasi, maka pengetahuan dan kemampuan menyelesaikan
permasalahan hidup akan meningkat.
Sementara itu, Hermanto (2008) berpendapat kemunculan jurnalisme
warga mampu menggeser cara pAndang dunia jurnalisme. Dalam kebijakan media arus utama, warga hanya ditempatkan sebagai objek
pemberitaan. Tetapi melalui jurnalisme warga, warga tak sekadar
objek, namun juga subjek pemberitaan. Jurnalisme warga menjadi
genre jurnalisme baru ditengah makin tumpulnya kepedulian publik
di media massa arus utama.
Di Indonesia, jurnalisme warga sangat dipengaruhi oleh kegiatan
­radio siaran. Pada 1983, Radio Suara Surabaya (SS) memiliki program
siaran informasi lalu-lintas. Lalu, program itu berkembang menjadi konsep interaktif. Konsep ini mengubah cara kerja radio yang
awalnya satu arah (dari radio ke pendengar) menjadi dua arah atau
interaktif (memberikan kesempatan pendengar untuk aktif memberikan informasi dan menyampaikan pendapatnya). Inilah demokrasi
dalam siaran radio (Suparyo, 2008).
Radio Elshinta Jakarta juga memopulerkan kegiatan serupa melalui
program laporan pendengar. Pendengar bisa menyampaikan ­informasi
melalui telepon ke radio layaknya seorang pewarta. Program ini
mendapat tanggapan bagus dari para pendengarnya. Sembari me­
nunggu kemacetan lalu-lintas, warga saling bertukar ­informasi
mengenai ­situasi lalu-lintas di sekitarnya. Dari sanalah ragam berita
mulai berkembang luas, dari berita peristiwa lokal hingga peristiwa
nasional.
Sementara itu, pesatnya inovasi di bidang teknologi informasi juga
memengaruhi minat warga pada kegiatan jurnalistik. Kemunculan
teknologi kamera digital, kamera tangan (handycam), telepon
­seluler, perekam suara, dan teknologi interkoneksi (internet) mendorong ­warga untuk merekam pelbagai peristiwa dan membagikannya ­kepada masyarakat luas. Kelahiran radio komunitas di sejumlah
daerah ­
­
makin menguatkan posisi jurnalisme warga. Setelah pengguna ­internet makin meluas, warga menemukan saluran untuk men­
yampaikan pendapatnya melalui blog atau situs jejaring sosial.
05
Apakah jurnalisme warga memiliki dampak positif ke warga? Melalui
jurnalisme warga hubungan antara pe­warta dan pembacanya tak
sebatas sebagai produsen dan konsumen, tapi lebih dari itu, ada ke­
setiakawanan sosial. Hermanto (2008) menjelaskan salah satu dampak
kegiatan jurnalisme warga sebagai berikut:
Sukiman, pegiat Radio Komunitas Lintas Merapi tampak
­sumringah. Ia baru saja menerima surat elektronik dari se­
jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang. Mereka
bersedia menggelon­torkan dana untuk kegiatan penanaman
pohon di ­desanya, Sidorejo, yang habis terlibas awan ­panas dan
lahar saat kawah Gunung Merapi aktif pada pertengahan 2006.
Awalnya Sukiman hanya iseng mengunggah tulisan tentang ke­
giat­
an penanaman pohon untuk menyelamatkan sumber air di lereng
Gunung Merapi ke portal Jalin Merapi. Ia tak menyangka ada pembaca
me­nanggapi tulisannya. Ada yang menyumbang bibit, uang, maupun
tenaga. Gagasannya pun cukup ‘nakal’, setiap keluarga yang tinggal di
sepanjang jalan yang kebetulan ditanami pohon, wajib merawat pohon
itu.
Muhdi, pegiat Radio Komunitas Jaringan Tani Mandiri (JTM FM) di
Andong, Boyolali juga mengalami hal serupa. Pria lulusan sekolah
­lanjutan pertama ini menyebarluaskan hasil wawancara dengan kepala
desanya perihal kondisi jalan desa yang rusak. Imbasnya, warga sadar
bahwa mereka berhak meminta pelayanan fasilitas umum yang layak
pada pemerintah daerah. Sekarang kondisi jalan raya di Andong telah
beraspal mulus dan nyaman dilalui.
Meskipun kemasan beritanya tak sebaik media arus utama, jurnalisme
warga sering kali justru lebih cepat. Secara spontan, pewarta warga
bisa langsung merekam peristiwa-peristiwa yang mereka saksikan.
Kelebihan lainnya, pewarta warga tidak perlu melalui ‘birokrasi’ ketat
untuk memuat berita hasil liputan mereka. Tidak seperti di media
arus utama, di mana pemuatan berita harus melewati jalur birokrasi
­redaksi yang kadang rumit dan penuh pertimbangan kepentingan pemilik media.
06
Buku Pewarta Warga
Rumitnya tatacara peliputan media arus utama membuat kecepatan
meliput peristiwa momentum sering kali ketinggalan dengan pe­
wartaan warga. Mereka tiba di lokasi 1-2 jam setelah kejadian sehingga memerlukan data sekunder dari narasumber. Tak heran, pada
peristiwa-peristiwa spektakuler, media arus utama sering mengandalkan rekaman peristiwa milik warga yang kebetulan berada di lokasi
kejadian.
Jurnalisme yang Berpihak ke Warga
Jurnalisme warga tidak perlu risau dengan tekanan kepenting­
an ekonomi, kekuasaan, ideologi, maupun jumlah tiras. Pewarta
­dapat merekam peristiwa apapun di daerahnya dan menyebarkannya. Kontrol utama dari jurnalisme warga ada dua, pertama aturan
yang mengatur kegiatan pers baik cetak, maupun elektronik. Kedua,
masyarakat sendiri. Jika beritanya layak dipercaya, masyarakat akan
mendukung namun jika tidak dipercaya atau tidak akurat, masyarakat
akan meninggalkannya.
07
Keunggulan utama jurnalisme warga adalah sudut pandang pem­
beritaannya yang berpihak ke warga. Perhatikan contoh tulisan berikut:
Juli tahun lalu, Radisem meninggalkan tanah air dengan
­pe­rasaan bangga. Ia akan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW)
di ­Malaysia yang nantinya bisa membawa pulang Ringgit
dalam jumlah ­banyak. Sayang, bukan Ringgit yang didulang,
justru nasib buruk yang ia di­terima. Beberapa hari yang lalu
Radisem p
­ ulang dalam kondisi mengenaskan.
Kutipan di atas merupakan penggalan tulisan pewarta warga yang juga
menjadi tetangga korban. Media arus utama tidak meliput peristiwa
tragis ini, meskipun Radisem telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Sementara pewarta warga merekamnya dalam lima tulisan berturutturut. Tulisan itu memunculkan solidaritas warga lainnya. Mereka
menggelar malam keprihatinan, diskusi, tuntutan, dan ­dialog publik
yang melibatkan banyak pihak, seperti warga, mahasiswa, ­lembaga
swadaya masyarakat, pemerintah, dan lain-lain.
Nurhadi, pewarta warga di Indramayu juga mewartakan kisah menarik.
Dia menulis keluhan warga atas Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan
di daerahnya yang mewajibkan warga untuk menyekolahkan anaknya
hingga jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Siapapun yang
melanggar aturan ini akan dikenakan sanksi kurungan penjara lima
tahun atau denda Rp 50 juta (17/11/2008). Perhatikan paragraf berikut ini:
Awalnya, warga Indramayu berbondong- bondong men­
yekolahkan anaknya. Namun, di tengah jalan warga me­
rasa terjebak. Mereka dihantui tagihan biaya sekolah yang
­semakin mahal. Sementara itu, jaminan akses pendidikan bagi
masyarakat kurang mampu tidak bisa ditepati pemerintah,
anak-anak miskin pun tidak terbebas dari biaya sekolah.
Sedangkan Ibe, pewarta dari Konawe, Sulawesi Tenggara menceritakan
nasib siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Satu Atap
Saponda, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, yang kekurangan
guru. Siswa kelas 1-3 tidak belajar matematika karena gurunya pergi
mendulang emas. Selama ini, kegiatan belajar-mengajar difasilitasi
lima ­guru yang semuanya berstatus honorer. Pemerintah Kabupaten
08
Buku Pewarta Warga
­ onawe seharusnya menambah tenaga pengajar dan meng­ubah
K
­status guru bantu menjadi pegawai negeri.
Tiga bulan setelah berita ini disebarluaskan, Pemkab Konawe meng­
angkat para guru bantu di Saponda menjadi Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS)! Ini adalah bukti jurnalisme warga mampu mendorong
perubahan positif.
Pewarta warga di Kabupaten Cilacap juga berhasil memperbaiki tata
layanan administrasi kependudukan setelah mereka membuat berita
yang mengulas mutu pelayanan Kartu TAnda Penduduk (KTP) yang
buruk.
Awalnya, kegiatan jurnalisme warga mendapat reaksi negatif dari
pemerintah kecamatan. Bahkan, Camat Patimuan, Kabupaten Cilacap
sempat akan menuntut pewarta warga ke jalur hukum. Namun,
tindak­
an itu justru memunculkan empati dan dukungan warga
kepada si pewarta warga. Pewarta warga di kecamatan-kecamat­
­
an lainnya meliput soal tata layanan administrasi kependudukan.
Hasilnya tatacara dan mutu layanan di setiap kecamatan belum memenuhi aturan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor 26 Tahun 2004.
Pemberitaan dari pewarta warga ini berdampak positif. Dua bulan
kemudian, di setiap kantor pemerintah muncul papan informasi di
dekat loket layanan administrasi kependudukan yang berisi prosedur
dan tata cara pelayanan administrasi. Kini warga dapat mengetahui
prosedur dan layanan publik secara jelas. Sayang, ada dua hal yang
tidak tercantum dalam papan informasi itu, yaitu rincian harga dan
berapa lama waktu layanan.
09
Pengetahuan Lokal
Masyarakat sebagai konsumen media cenderung memiliki informasi
global dibanding informasi lokal. Mereka mampu menyebutkan nama
sungai terbesar di dunia dibanding nama sungai di desanya. Sejumlah
simulasi yang dilakukan penulis menunjukkan sebagian besar warga
mulai acuh dengan lingkungannya.
Jurnalisme warga mengajak warga menengok kembali pengetahuanpengetahuan yang dekat dengan lingkungan mereka. Melalui Suara
Komunitas, banyak khasanah lokal muncul ke ruang publik, mulai dari
makanan tradisional, kesenian, budaya, dan gagasan-gagasan baru.
Pewarta warga juga mendorong keragaman konten dalam dunia ­media
massa.
Widarto menulis makanan tradisional, gholak. Makanan khas Desa
Serut, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen ini sudah langka
dan hanya tersedia di satu tempat. Perhatikan kutipan berikut ini:
Makanan yang berbentuk angka delapan dengan panjang 12-15
cm dan diameter 4-6 cm ini terbuat dari tepung krekel. Tepung
krekel adalah sebutan untuk tepung singkong yang telah di­
jemur. Tepung krekel dicampur dengan parutan kelapa, di­
bentuk angka delapan, lalu digoreng. Gholak cocok dimakan
dengan gethuk dan secangkir teh atau kopi panas. Rasanya
yang gurih membuat lidah terus bergoyang. Apalagi ditemani
dengan alun­an macapat di pagi hari.
10
Buku Pewarta Warga
Sedangkan Mia, pewarta warga dari Desa Kertosari sering meng­
unggah kegiatan adat di desanya. Kertosari yang terletak di lereng
Gunung Semeru, tepatnya di Kecamatan Pasrujambe, Lumajang, tidak
pernah melepaskan adat-istiadat nenek moyangnya. Beragam ritual
adat yang diwariskan secara turun-menurun mewarnai kehidupan
mereka ­sehari-hari. Simak petikan tulisan soal sedekah desa berikut
ini:
Ritual sedekah desa ini diawali dengan kenduri oleh ­seluruh
warga di perempatan jalan desa. Esok harinya diadakan
ruwat­
an sehari penuh, lalu ditutup dengan pertunjukan
­wayang kulit semalam suntuk.
Warga desa membuat kue dan makanan ringan untuk memeriahkan acara itu. Warga mengumpulkan dan makanan di
rumah Ketua Rukun Tetangga (RT) masing-masing. Setelah
terkumpul, kue-kue diarak ke balai desa dengan menggunakan ambén atau dipan tempat tidur dan dikumpulkan di balai
desa. Saat sedekah desa berlangsung, seluruh kegiatan warga
sehari-hari dihentikan. Sekedah desa menjadi hari libur bagi
warga Desa Kertosari.
Pewarta warga dari Lombok menceritakan perayaan Maulid Adat
Wetu Telu di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Perayaan ini berlangsung pada minggu kedua Mei 2009, bertepatan
dengan 15 Rabi’ul Awal 1430 Hijriyah. Acara ini disemarak­kan ­dengan
permainan Perisaian (temetian dalam bahasa Bayan) yang ber­
langsung di halaman masjid kuno di Desa Sambik Elen, Desa Bayan,
Desa Sukadana, dan Desa Anyar. Perhatikan kutipan berikut :
Permainan tradisional Suku Sasak ini dilakukan oleh dua
petarung yang menggunakan rotan sebagai pemukul lawan
serta perisai (ende) terbuat dari kulit kerbau. Sementara itu,
pekembar berfungsi sebagai wasit sekaligus pendukung bagi
petarung.
11
Acara perisaian berlangsung semalam suntuk dalam suasana
temaram sinar bulan purnama. Suasana menjadi semakin
hidup oleh iringan musik gamelan yang ditabuh bertalu-talu.
Be­berapa wanita membimbing bocah kecil dan gadis remaja
memukul dua gong musik tradisional, lalu melemparkan ayam
bakar dan sejumlah uang ke arah sekaha (penabuh).
Kisah lain datang dari Yogyakarta, soal perhelatan pesta demokrasi
ala kampung. Di RT 05/10 Warak, Sumberadi, Mlati, Sleman pemilihan
ketua RT berjalan secara langsung. Masa jabatan ketua RT hanya tiga
tahun. Dengan masa jabatan yang tak terlalu lama, warga bisa me­
rasakan kinerja ketua RT. Apabila kinerja ketua RT kurang memuaskan,
warga tidak menunggu waktu terlalu lama untuk menggantinya.
Pemilihan ketua RT dengan sistem ini baru berjalan untuk masa jabatan
2005-2008. Bila sebelumnya pemilihan Ketua RT hanya di­ikuti oleh
kepala keluarga, kini seluruh warga boleh menggunakan hak pilihnya.
Inisiatif warga Dusun Warak tersebut menginspirasi warga ­daerah lain
melakukan hal serupa.
Jurnalisme warga dapat menjadi alat untuk menggali segala potensi
yang ada di sekeliling warga. Jenis jurnalisme ini juga melatih orang
untuk memberi perhatian pada pengembangan pengetahuan lokal.
12
Buku Pewarta Warga
Memelihara Ingatan
Tanpa dukungan dokumentasi, pelbagai peristiwa akan ­cepat terlupakan. Tanpa ada sejarah, warga dapat jatuh ke ‘lubang’ yang
sama. Jurnalisme warga merupakan metode mendokumentasikan
­peristiwa lokal sehingga menjadi penjaga ingatan agar warga ber­
sikap kritis terhadap pelbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Meminjam istilah filsuf Milan Kundera, jurnalisme warga adalah
politik me­melihara ingatan dan melawan lupa.
Pewarta warga korban lumpur PT Lapindo di Sidoarjo yang ter­gabung
dalam Radio Komunitas Suara Porong (RSP) memiliki cara unik ­untuk
menjaga ingatan warga atas tragedi bencana lumpur yang me­nimpa
warga Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jambon. Mereka menamakan program siaran dengan istilah yang mengingatkan pendengarnya pada sumber malapetaka bencana lumpur, yakni Lapindo.
Misalnya, ada program siaran bernama Lapindo, singkatan dari Lagu
Pop Indonesia. Program ini berisi siaran musik pop terkini diseling­i
dengan pembacaan pesan dari pendengar melalui layanan pesan
­pendek (short message service atau SMS). Lapindo disiarkan pukul
08.00 hingga 10.00 dari Senin sampai Jumat.
13
Tina, pewarta warga Gentasari menulis dengan satir soal nasib
­desanya, Gentasari, Kroya, Cilacap sebagai desa penghasil jamu (28/11/
2008). Reputasi desa hancur karena ulah sejumlah orang yang berlaku
lancung. Mereka menggunakan aneka obat kimia agar jamu buatannya mampu bereaksi cepat. Umumnya mereka menggunakan obat
kimia penghilang pusing, pemacu nafsu makan, dan obat tidur. Cara
ini terbukti menghancurkan tradisi meramu jamu tradisional di Desa
Gentasari yang telah berlangsung ratusan tahun. Karena nila setitik,
rusak susu sebelanga. Kini, tradisi usaha jamu tradisional warga Desa
Gentasari hancur karena ulah segelintir orang yang ingin mengeruk
kekayaan secara cepat.
Isnu Suntoro, ahli teknologi informasi COMBINE Resource Institution
menyampaikan data menarik. Dalam kurun tiga tahun, tulisan yang
diterbitkan Suara Komunitas mengalami peningkatan. Pada 2008 ada
673 tulisan, pada 2009 meningkat menjadi 1.798 buah, dan pada 2010
ada 2.023 buah, dengan jumlah penulis sebanyak 350 orang. Berdasar
statistik Suara Komunitas, Juli 2010, jumlah pengunjung mencapai
­
14.719 atau rata-rata pada 446,47 pengunjung per hari. Topik tulisan
juga sangat beragam, seperti pendidikan, ekonomi, lingkungan, pe­
layanan publik, kebencanaan, dan berita kegiatan komunitas.
Produktivitas berita yang cenderung naik, membuktikan jurnalisme
warga mulai dilirik sebagai sarana penyebarluasan dan pencarian informasi berbasis ­komunitas. Tak berlebihan bila jurnalisme warga juga
mampu menjadi alat untuk memelihara ingatan warga. Warga bisa
menemukan banyak informasi dari pelbagai daerah yang sudah ‘diawetkan’ sehingga kejadian di masa lalu bisa diingat kembali secara
mudah.
14
Buku Pewarta Warga
2
Objektivitas
Jurnalisme
Warga
Setiap pewarta merekam peristiwa dengan segi atau sudut
pAndang­nya sendiri. Meski objeknya sama, berita yang dihasilkan
­dapat berbeda. Itulah sebabnya tidak ada satu pewarta pun yang
dapat menulis secara objektif seratus persen. Lalu, di mana konsep
­objektivitas diletak­kan dalam dunia jurnalisme?
Debat tentang apa itu objektivitas memang panjang dan ‘melelahkan’.
Awalnya, berita dianggap objektif bila si pewarta bertindak sebagai
penonton dan melaporkan fakta atau kejadian yang diliput. Pewarta
tidak diperbolehkan berpihak dalam mengumpulkan dan menyajikan
fakta. Pewarta adalah pengamat yang netral. Objektivitas diraih me­
lalui liputan yang berimbang, tidak berat sebelah, dan akurat.
Pemahaman di atas menuai banyak gugatan di era 1950-an. Banyak
pewarta yang melihat unsur adil sebagai prinsip yang lebih penting.
Para pewarta memilih stAndar kejujuran dibanding sekadar pembawa
berita. Dengan kejujuran ini, pewarta mencoba menjelaskan berita,
tidak sekedar memnerikan berita.
Objektivitas dalam jurnalisme warga lebih menekankan pilihan ke­
dua, yaitu sisi keadilan berita. Menurut Ishwara (2005: 44) keadilan
dalam berita akan terpenuhi, apabila :
1.
Berita itu lengkap, pewarta tidak diperkenankan mengabaikan fakta yang penting.
2.
Berita harus sesuai, pewarta tidak boleh memasukkan
­informasi­yang tidak sesuai.
3.
Berita harus jujur, pewarta tidak adil bila secara ­sadar
maupun­ tidak membimbing pembaca ke arah yang salah
atau menipu,
4. Berita harus lugas dan terus-terang, berita menjadi tidak adil
apabila pewarta menyembunyikan prasangka atau emosinya
di balik kata-kata halus yang justru mengaburkan makna
yang sesungguhnya.
17
Kebenaran dalam jurnalisme terbentuk secara bertahap dan dinamis.
Pada peliputan peristiwa tabrakan lalu-lintas, seorang pewarta memberitakan suatu kecelakaan dengan lengkap. Hari berikutnya, berita itu
mungkin ditanggapi pihak lain, misalnya polisi, keluarga korban, dan
pembaca lainnya. Bisa muncul koreksi atau tambahan penjelasan yang
lebih rinci atau berbeda dengan data yang telah diterbitkan.
Kebenaran terbentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan, seperti
­stalagmit. Tetes demi tetes, kebenaran akan terlihat nyata. Dari kebenaran sehari-hari inilah terbentuk bangunan kebenaran yang lebih
lengkap. Setiap orang berhak melengkapi fakta dan data yang belum
dituliskan sebelumnya. Dalam jurnalisme warga, siapapun dapat menjadi bagian dari kerja pengelolaan informasi. Inilah fase yang disebut
sebagai demokrasi informasi yang sesungguhnya.
Pemeriksaan Data
Kovach dan Rosentiels berpendapat pemeriksaan atau verifikasi me­
rupakan inti dari jurnalisme (Harsono, 2001). Proses verifikasi bersandar pada lima prinsip, yaitu (1) jangan menambah atau mengarang
apapun; (2) jangan menipu atau menyesatkan pembaca; (3) bersikaplah
terbuka dan jujur tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan peliputan; (4) bersAndarlah pada peliputan Anda sendiri; dan (5)
bersikaplah rendah hati.
Kedua begawan jurnalisme di atas menawarkan empat metode
dalam melakukan verifikasi. Pertama, penyuntingan secara skeptis.
Penyuntingan harus dilakukan baris demi baris, kalimat demi kalimat,
dengan sikap skeptis. Banyak pertanyaan, banyak gugatan.
Kedua, memeriksa ketepatan atau akurasi. Ada tujuh pertanyaan yang
dapat membantu pewarta dalam memeriksa ketepatan tulisan mereka,
yaitu:
18
1.
Apakah teras berita sudah didukung dengan data-data
­pe­­nun­jang­ yang cukup?
2.
Apakah Anda sudah mengecek ulang, menghubungi atau menelepon semua nomor telepon, semua alamat, atau situs web
Buku Pewarta Warga
yang ada dalam laporan Anda? Apakah penulisan nama dan
atribut sudah tepat?
3.
Apakah materi latar belakang laporan Anda sudah lengkap?
4. Apakah laporan itu sudah mengungkapkan semua pihak ter­
libat? Apakah semua pihak sudah diberi hak untuk bicara?
5.
Apakah laporan itu berpihak atau menghakimi salah satu
pihak? Adakah pihak yang kira-kira tak suka dengan laporan
itu lebih dari batas yang wajar?
6. Apakah ada yang kurang?
7.
Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari
sumber yang mengatakannya? Apakah kutipan-kutipan itu
mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan?
Ketiga, jangan berasumsi. Jangan mudah percaya pada sumber-sumber
resmi. Pewarta harus mendekat pada sumber-sumber utama sedekat
mungkin. Buat tiga lingkaran konsentris. Lingkaran paling luar berisi
data-data sekunder, terutama kliping media lain. Lingkaran yang lebih
kecil adalah dokumen-dokumen seperti laporan pengadilan, laporan
polisi, dan laporan keuangan. Lingkaran terdalam adalah saksi mata.
Primer
Saksi mata
Sekunder
kliping media lain
Tersier
Lingkaran konsentris @ 2011
dokumen-dokumen
seperti;
laporan pengadilan,
laporan polisi, dan
laporan keuangan
Keempat, periksa fakta dengan menggunakan pensil berwarna.
Tetapkan setiap warna pensil menunjukkan tingkat ketepatan fakta
dalam tulisan Anda. Periksalah baris per baris, kalimat per kalimat
secara teliti. Pemeriksaan data adalah inti kerja pewartaan.
19
3
Kelayakan
Berita
Setiap pewarta mengetahui tidak semua peristiwa layak diberitakan. Ada ukuran yang harus dipenuhi supaya suatu peristiwa layak
diberitakan. Ukuran layak atau tidaknya suatu peristiwa diberitakan
disebut dengan kelayakan berita.
Pada pertemuan pewarta Suara Komunitas di Yogyakarta (17-19
Desember 2009) para pewarta menyepakati hanya peristiwa publik
yang boleh disebarluaskan. Peristiwa publik adalah peristiwa yang
memiliki keterkaitan dengan kepentingan khalayak umum, seperti
­bencana alam, kecelakaan lalu-lintas akibat jalan yang rusak, kenaikan
harga bahan pokok, penyebaran penyakit yang berbahaya.
Lawan kata dari peristiwa publik adalah peristiwa privat. Peristiwa
­privat tidak berhubungan dengan kepentingan publik, peristiwa ­privat
menyangkut rahasia pribadi seseorang, perselisihan dalam rumah
­tangga, dan lain sebagainya. Hubungan suami-istri adalah masalah
privat. Namun, bila suami melakukan penyekapan, pemukulan, dan
kekerasan terhadap istrinya, maka peristiwa privat itu berubah men­
jadi peristiwa publik. Pemukulan merupakan tindakan yang digolongkan pidana atau melawan hukum.
Meskipun urusan berita berkaitan dengan kepentingan publik, ­namun
tidak semua peristiwa publik layak diberitakan. Suatu peristiwa
­la­yak diberitakan bila mengandung nilai berita. Secara umum ­sebuah
­peristiwa dianggap memiliki nilai berita bila mengandung unsur
kedekatan, berakibat pada banyak orang, kebaruan, sisi kemanusiaan,
besaran dan pengembangan diri.
Kedekatan
Peristiwa yang terjadi di lokasi yang dekat dengan khalayak pembaca
perlu diberitakan. Kedekatan peristiwa bisa diukur secara fisik maupun
emosional. Kedekatan fisik diukur dari jarak geografis dan mungkin bisa
dirasakan secara langsung oleh pembaca. Sedangkan kedekatan emosional diukur melalui hubungan ke­tertarikan, minat, dan kepedulian.
Kedekatan emosional bisa mengabaikan jarak geografis. Biasanya
kedekatan jenis ini terbentuk karena persamaan, ke­setiakawanan, kepercayaan, kebudayaan, kesukuan, profesi, minat, dan kepentingan.
22
Buku Pewarta Warga
Kedekatan
Penjelasan
Jarak
Kebakaran yang terjadi di Kampung ­Cilimus,
Desa Hurun bagi pewarta Radio Gema Lestari,
Pesawaran, Lampung memiliki lebih memenuhi
kriteria kedekatan dibanding kebakaran yang
menimpa sebuah pasar swalayan di Jakarta.
Emosional
Perampasan peralatan siar milik Radio Ninanta
di Dusun Montong Gedeng, Desa Ketangga,
Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur oleh
Balai Monitoring setempat lebih memiliki kedekat­
an dibanding perampokan yang menimpa seorang
pengusaha sebab jaringan Suara Komunitas terdiri
dari radio-radio komunitas.
Jarak
Kepala desa yang menyelewengkan dana desa
lebih layak diberitakan dibanding korupsi bupati.
Kedua peristiwa penyelewengan itu sebenarnya
layak diberitakan sebab menyangkut kepentingan
warga, tapi pewarta warga tentu lebih mampu
memperoleh data di tingkat desa dibanding di
tingkat kabupaten.
Emosional
Peristiwa merti dusun lebih layak ­di­berit­akan
dibanding dengan kunjungan presiden untuk
meresmikan proyek pembangunan. Kunjungan
presiden jelas mendapatkan porsi besar dalam
media massa arus utama, sementara merti ­dusun
jarang mendapatkan ruang karena tidak di­lakukan
atau melibatkan tokoh yang terkenal.
23
Berakibat Pada Banyak Orang
Peristiwa yang menimbulkan dampak pada banyak orang layak diberitakan. Kenaikan harga bahan bakar minyak, pemberlakuan undang-­
undang perpajakan yang baru, dan peristiwa lain yang me­miliki
dampak langsung pada masyarakat banyak penting diberitakan. Selain
itu, kejadian yang mengancam kehidupan manusia, seperti ­
tindak
kekerasan, bencana alam, dan penyakit juga layak diberitakan.
Dampak
Penjelasan
Fisik
Peristiwa kecelakaan, kebocoran reaktor nuklir,
­wabah penyakit, banjir, penggusuran, dan lain-lain
Ekonomi
Peristiwa kemiskinan, kenaikan bahan bakar minyak,
pemutusan hubungan kerja, kenaikan harga, nilai
tukar rupiah, penjualan aset negara, dan lain-lain.
Budaya
Peristiwa upacara adat, dialog antarbudaya, kola­
borasi pertunjukan, dan lain-lain.
Sosial
Peristiwa diskriminasi keagamaan, konflik sosial,
dan lain-lain.
Psikis
Peristiwa trauma, kecemasan, teror, konflik, dan
lain-lain.
Kebaruan
Peristiwa yang baru terjadi atau suatu temuan baru ­penting disebarluaskan. Namun kriteria peristiwa baru bisa berbeda-beda tergantung
periode terbit media, seperti harian, mingguan, dwi mingguan, dan
­bulanan. Peristiwa dua hari yang lalu tidak memiliki nilai kebaruan
bagi media harian, namun media mingguan atau bulanan bisa menganggapnya baru.
Peristiwa lampau juga dapat dianggap baru apabila ia memiliki ke­
terkaitan erat dengan kondisi kekinian, misalnya pemberitaan
Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 tidak dapat dilepaskan dari peristiwa
Pemilu 2004 dan Pemilu 1999. Ketiganya memiliki hubungan erat, yaitu
Pemilu yang diselenggarakan setelah lengsernya kepemimpinan rezim
Soeharto.
24
Buku Pewarta Warga
Sisi Kemanusiaan
Suatu peristiwa yang mampu menyentuh perasaan manusia biasanya
sangat layak diberitakan. Peristiwa yang memancing empati biasanya
menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa. Maksud dari pembuatan berita ini adalah untuk mengajak para pembaca untuk berempati atau menarik suatu pelajaran kemanusiaan yang penting dari
subjek berita.
Di Suara Komunitas ada berita berjudul Guwono Butuh Uluran Tangan
(11/8/2008) yang mendapat perhatian luas. Berita itu mencerita­kan
semangat seorang remaja miskin asal Dukuh Kalicilik RT 07/3, Desa
Kalitengah, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara yang
menderita lumpuh. Guwono tak bisa sekolah sebab ia harus me­
rangkak. Padahal sekolah terdekat berjarak 1,5 kilometer, itupun melewati jalan yang naik-turun karena melewati perbukitan.
Kisah Guwono mengilhami pembuatan film dokumenter Impian
Guwono yang berhasil masuk nominasi Festival Video Komunitas
(FVK) Kawanusa Award 2008 di Tabanan, Bali. Film itu merupakan
produksi pertama Kelompok Video Komunitas Gardu Parkir (VKGP)
Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara.
Besaran
Kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidup­
an banyak orang. Begitu juga dengan kejadian yang dari segi jumlah
sangat menarik perhatian publik. Misalnya, kecelakaan bus yang menyebabkan 50 orang penumpangnya tewas, layak diberitakan. Berita
ini lebih layak dari kecelakaan sebuah mobil masuk jurang dan me­
newaskan dua orang penumpangnya.
Suatu berita tidak harus memenuhi semua kriteria di atas. Namun,
semakin banyak nilai yang melekat dalam suatu peristiwa, maka
nilai beritanya makin tinggi, misalnya, peristiwa meletusnya Gunung
Merapi yang menewaskan ratusan orang, menyebabkan bencana
­banjir lahar dingin, dan menghancurkan mata pencaharian ribuan
penduduk adalah sebuah peristiwa yang memenuhi semua nilai
berita.
25
Pengembangan Diri
Peristiwa yang menambah pengetahuan pembaca untuk memperbaiki
kedudukan ekonomi atau sosial, semacam peluang akibat perkembang­
an perdagangan, peluang lapangan pekerjaan, atau petunjuk untuk
menambah pendapatan. Sebagai contoh, berita tentang berternak
­belut di Desa Pesanggrahan Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap mendapat apresiasi besar dari pembaca. Tulisan Triadi Widianto itu ber­
cerita ­tentang inisiatif para pemuda desanya berternak belut dan cara
ber­ternak belut yang dilakukan kelompok pemuda tersebut. Unsur
pengembang­an diri penting agar dunia pewartaan mendorong pem­
bacanya untuk mencoba hal baru, mengembangkan pengetahuan, ke­
terampilan, dan kemampuan untuk belajar secara mandiri.
26
Buku Pewarta Warga
4
Teknik
Peliputan
Mengumpulkan fakta
Peliputan adalah salah satu kegiatan jurnalistik yang paling
­ enting. Dengan melakukan liputan, para pewarta pergi ke lapangan
p
untuk mencari dan mengumpulkan fakta, baik yang dia saksikan
sendiri maupun yang tidak. Fakta adalah ‘bahan mentah’ yang akan
dimasak menjadi berita. Jadi, peliputan adalah proses ketika pewarta
­me­ngumpulkan fakta-fakta yang berkaitan dengan suatu peristiwa
yang akan diberitakannya.
Apakah fakta itu? Fakta adalah suatu peristiwa yang terjadi dan dapat
diperiksa atau dibuktikan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi.,
misalnya, fakta tentang pohon tumbang. Kita dapat membuktikan
ada sebuah pohon besar yang tumbang dan melintang di jalan sehingga membuat lalu lintas macet. Dengan indera kita, kita dapat
membuktikan kebenarannya, itulah fakta.
Dalam dunia jurnalisme, ada dua fakta. Pertama, fakta sosiologis.
Ini menunjuk kepada suatu peristiwa atau fakta yang kebenarannya
­dapat dibuktikan melalui panca indera kita. Misalnya, Gunung Merapi
meletus. Kita dapat membuktikan kebenarannya dengan mendengaar
suara letusannya, menyaksikan hujan abu, melihat pemukiman ­warga
yang rusak tersapu awan panas dan lain sebagainya. Kecelakaan ­lalu
lintas, gempa bumi, korupsi, kerusakan lingkungan adalah fakta
sosiologis.
Kedua adalah fakta psikologis. Fakta psikologis adalah fakta yang
isi­nya berupa pendapat atau kesaksian seseorang tentang suatu
­peristiwa atau isu. Misalnya pendapat seorang pakar politik tentang
situasi politik di Indonesia menjelang Pemilu 2014. Atau kesaksian dari
seorang saksi mata tentang bagaimana suatu peristiwa pe­rampokan
terjadi.
Dalam meliput suatu peristiwa, pewarta biasanya akan mengumpulkan fakta sosiologis dan psikologis sebagai bahan untuk membuat
berita. Mengapa? Tidak ada pewarta yang dapat melihat seluruh
fakta sosiologis secara utuh, pasti ada bagian tertentu yang tidak
diketahuinya.
29
Kedua, pewarta tidak selalu bisa menyaksikan kejadian suatu peristiwa­
sosiologis. Pewarta terkadang baru menyaksikan ketika peristiwa itu
sudah terjadi dan hanya dapat melihat jejak-jejaknya saja. Untuk menyusun cerita, ia perlu fakta psikologis dari seorang saksi mata yang
melihat peristiwa itu secara langsung. Ini berguna untuk menyajikan
berita selengkap mungkin. Jadi, ketika membuat berita soal fakta sosio­
logis, pewarta pasti akan mengumpulkan fakta psikologis pula.
Contoh: ada kecelakaan kereta api di sebuah stasiun di Pemalang yang
terjadi pada dini hari. Saat kejadian tentu saja tidak ada pewarta yang
nongkrong di stasiun itu untuk menunggu peristiwa itu terjadi. Tidak
ada seorang pun yang tahu peristiwa itu akan terjadi. Kecuali jika kebetulan ada pewarta yang sedang berada di stasiun itu.
Dini hari, sebuah kereta api penumpang menabrak kereta api pe­
numpang lainnya yang tengah berhenti di Stasiun Pemalang. Informasi
kejadian ini pun menyebar, salah satunya ke telinga pewarta yang
­kemudian datang untuk meliputnya.
Sang pewarta tidak tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Namun
ia ­
dapat melihat jejak-jejaknya, kereta api penumpang yang rusak.
Mungkin ia juga menyaksikan bagaimana para penumpang yang terluka atau meninggal, dampak dari kecelakaan itu, jadwal perjalanan
kereta api yang tertunda dan lain sebagainya. Ini semua adalah fakta
sosiologis.
Namun ia tidak tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi. Untuk menjelaskan kepada publik bagaimana peristiwa itu, ia perlu melakukan
wawancara dengan masinis, saksi mata yang melihat peristiwa itu secara langsung, kepala stasiun setempat, Komisi Nasional Keselamatan
Transportasi (KNKT) dan sumber lainnya yang relevan. Ini semua adalah fakta psikologis.
Ada kalanya pula, seorang pewarta hanya membuat berita berdasarkan fakta psikologis saja, misalnya ketika seorang pewarta membuat
wawancara panjang dengan seorang tokoh besar yang bercerita tentang pemikirannya, pendapatnya tentang persoalan yang sedang terjadi dan soal kehidupannya.
Hampir semua pakar jurnalistik sepakat bahwa tugas utama pe­
warta adalah melaporkan fakta sosiologis, seperti korupsi, kerusakan
lingkung­an, kemiskinan, dan biaya pendidikan yang mahal dan lain
30
Buku Pewarta Warga
sebagainya yang mempunyai kaitan erat dengan kepentingan publik.
Sedangkan fakta psikologis tidak menjadi bagian yang paling penting.
Ia hanya berguna untuk mendukung fakta sosiologis saja.
Di Indonesia, hasil peliputan yang berisi fakta psiokologis saja, di­
ejek sebagai ‘jurnalisme katanya’ atau ‘jurnalisme ludah’. Celakanya,
ini menjadi porsi terbesar dari berita yang dimuat pelbagai media
massa di Indonesia. Misalnya, berita soal pernyataan pejabat tinggi seperti bupati, kepala dinas atau gubernur tentang sesuatu saat
meng­hadiri acara tertentu. Atau ulasan pakar tentang suatu kejadian,
padahal seharusnya pewarta melaporkan kejadian itu bukan ulasannya. Maraknya dialog di televisi berita kita adalah contoh nyata dari
kecenderungan ini.
Saat berada di lapangan, pewarta harus mengumpulkan fakta
­se­­ba­nyak mungkin. Mata dan telinga harus dibuka lebar-lebar ­untuk
menyerap seluruh fakta yang berkaitan dengan sebuah peristiwa.
Ibarat di pasar, kita harus belanja sebanyak mungkin agar dapat memasak aneka macam makanan. Jika pewarta mampu ‘belanja’ fakta
sebanyak mungkin maka ia dapat ‘memasak’ aneka macam berita
dengan sudut pAndang (angle) yang tajam.
Ketika mengumpulkan fakta sosiologis dan psikologis, pewarta harus
bersikap skeptis (tidak mudah percaya terhadap seluruh fakta yang
diperolehnya) (Ishwara, 2005:2). Semua fakta harus diverifikasi secara
ketat untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Pewarta perlu me­
lakukan cek dan ricek untuk memastikan kebenaran fakta-fakta yang
diperolehnya.
Selain itu, ketika mencari fakta psikologis, pewarta harus menemui
narasumber yang tepat dan relevan untuk memberikan pernyataan
sesuai dengan peristiwa yang sedang diliput. Untuk contoh kasus di
atas, narasumber yang tepat dan berwenang memberikan pernyataan
adalah masinis kereta api yang mengalami kecelakaan, saksi mata
yang melihat langsung kejadian itu, dan lain-lain.
Ketika seluruh fakta sudah diperoleh, tahap selanjutnya adalah me­
nulis berita. Memang karena keterbatasan tempat dan durasi (waktu)
mungkin tidak semua fakta dapat masuk dalam berita. Pilih faktafakta yang paling penting dan sesuai saja.
31
Persiapan Peliputan
Sebelum pewarta pergi ke lapangan untuk melakukan tugas liputan,
ia harus melakukan pelbagai persiapan. Sebab tanpa melakukann
persiapan, pewarta akan bingung di lapangan dan tidak tahu harus
mengumpulkan fakta apa. Saat berada dalam suatu peristiwa, banyak
pewarta yang bingung dan bertanya kepada temannya, apa pentingnya
atau sudut pAndang apa yang paling menarik untuk ditulis?
Untuk menghindari persoalan di atas, pewarta perlu melakukan pelbagai persiapan.
Menjadi pewarta menuntut kita untuk selalu
belajar sesuatu yang baru. Memang tidak
­perlu sangat mendalam, tetapi ada baiknya
kita tahu soal-soal yang mendasar dalam
pelbagai topik, misalnya politik, ekonomi,
­budaya, sosial, perubahan iklim. Untuk ini,
pewarta harus rajin membaca, sebab membaca itu ibarat bensin yang akan memberikan
energi sehingga kita dapat lancar me­
nulis.
Apalagi saat ini, pengetahuan-pengetahuan baru cepat ­muncul, pe­
warta harus selalu update! Dengan memiliki banyak pengetahuan maka
kita tidak akan ‘blank’ sama sekali saat meliput pelbagai ­peristiwa berbeda ­setiap hari. Setidaknya, kita tahu, aturan-aturan dasar berkaitan
dengan p
­ eristiwa yang kita liput.
Jika kita memiliki waktu dan tahu persoal­
an spesifik yang akan kita liput, sempatkan
membuat riset kecil-kecilan untuk men­
dalami persoalan itu. Kita bisa bertanya
­kepada ‘Paman Google’. Dengan berbekal ini,
maka kita dapat mengetahui latar ­peristiwa
sehingga dapat menuntun kita dalam bertanya kepada narasumber dan memilih sudut
pAndang yang tepat. Percaya atau tidak, saat wawancara banyak pertanyaan dari pewarta yang dimentahkan narasumber. Karena si pe­
warta salah bertanya akibat tidak mempunyai pengetahuan sedikit
pun soal peristiwa yang diliputnya.
32
Buku Pewarta Warga
Membuat garis besar liputan (outline) adalah langkah penting sebelum meliput. Garis
besar liputan membantu pewarta ­untuk
fokus pada penelusuran sumber utama
peristiwa. Outline terutama penting untuk
membuat liputan panjang, misalnya liput­
an mendalam dan laporan investigasi.
Siapkan peralatan. Untuk melakukan liput­
an, pewarta harus membawa peralatan
yang dibutuhkan, misalnya, buku tulis
untuk mencatat dan tentu saja alat tulisnya. Cek apakah buku tulis dan alat tulisnya masih dapat digunakan. Selanjutnya
alat perekam, kamera, dan kamera video.
Periksa apakah semua masih berfungsi
dan pastikan ­batereinya belum habis. Alat
perekam suara sangat penting, apalagi untuk meliput peristiwa
­konflik. Dengan alat perekam, kita punya bukti kuat Andai berita kita
dipersoalkan.
Jika melakukan liputan di suatu tempat
yang jauh, siapkan pula perbekalan, ter­
utama air minum. Baterei HP juga harus
penuh supaya siap digunakan, terutama
­
­bila terjadi situasi darurat. Kalau melakukan peliputan di wilayah konflik, baca kembali prinsip-prinsip cara meliput yang aman,
agar tetap aman dan dapat menulis berita
atau jangan lupa bawa ­kartu ­identitas dan
kartu pers.
33
Men jawab Unsur-unsur Berita
Seperti disinggung di atas, peliputan adalah proses penting dalam
membuat berita. Lantas fakta (baik sosiologis dan psikologis) yang
­seperti apakah yang harus dikumpulkan oleh seorang pewarta sebagai
bahan membuat berita?
Dalam jurnalistik, suatu berita harus memenuhi unsur-unsur berita,
yang akrab disingkat dengan 5W + 1H. Yaitu, Who (siapa), What (apa)
When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa) + How (mengapa) dan
Solusi (jalan keluar). Nah, fakta-fakta yang dikumpulkan harus dapat
memenenuhi unsur-unsur berita ini.
What (Apa yang terjadi?)
Jelaskan peristiwa apa yang terjadi secara gamblang. Peristiwa harus
rinci, hindari penyebutan peristiwa yang bersifat umum. Contoh:
Kecelakaan lalu-lintas �
Sepeda motor menabrak sepeda �
Who (Siapa saja yang terlibat dalam peristiwa?)
Dapatkan nama lengkap dari orang- orang yang terlibat dan apa
jabatannya. Jangan lupa cek ejaannya untuk ketelitian. Contoh:
Soekarno apa Sukarno
Dandi apa Dandy
Sumawikarta apa Sumowikarto
When (Kapan peristiwa terjadi?)
Catatlah hari dan waktu terjadinya peristiwa secara rinci. Contoh:
Senin, 17 Januari 2009 pukul 15.30 �
Senin, 17 Januari 2009 sore �
34
Buku Pewarta Warga
Where (Di mana peristiwa terjadi?)
Dapatkan lokasi kejadian dan gambarkanlah. Contoh:
Timbulharjo, Sewon, Bantul
Karangbajo, Bayan, Lombok Utara
Why (Mengapa atau apa sebab peristiwa terjadi?)
Carilah data penyebab kejadian secara lengkap. Pe­warta harus bertanya kepada narasumber yang paham atas peristiwa itu.
How (Bagaimana peristiwa terjadi?)
Dalam bagian ini pewarta harus dapat menemukan fakta yang menjelaskan bagaimana suatu peristiwa terjadi. Biasakan membuat catat­
an urutan peristiwa atau kronologisnya. Bagian How ini biasanya
menjadi porsi terbesar yang harus dijawab saat pewarta menjalankan
tugas investigasi.
Solusi (Jalan Keluar)
Unsur solusi atau jalan keluar penting diperhatikan karena inti pe­
wartaan warga bukan sekadar mengabarkan, tetapi mencari jalan
keluar yang berpihak pada warga. Pewartaan warga mendorong ke­
terlibatan warga dalam penyelesaian-penyelesaian permasalahan
yang terjadi.
Berita biasanya mengandung informasi yang menjawab ketujuh pertanyaan di atas. Setiap fakta yang diperoleh sebagai jawaban atas
salah satu pertanyaan tersebut sebaiknya selalu diuji kelayakannya
oleh pewarta. Misalnya, ada peristiwa kecelakaan. Informasi semacam
itu tidak jelas, sebab menimbulkan pertanyaan baru, kecelakaan apa?
Kalau dijawab kecelakaan lalu-lintas, masih kurang jelas, kecelakaan
lalu-lintas apa? Lebih informatif kalau jawaban yang diperoleh adalah
tabrakan bus dan sepeda motor atau bus menyerempet sepeda motor.
35
Cara Peliputan
Pada dasarnya cara meliput ada tiga macam, seperti pengamat­
an,
wawancara, dan penelitian dokumen.
Pengamatan
Pewarta secara fisik berada di lokasi kejadian untuk menyaksikan
dan mengamati suatu peristiwa secara langsung. Gunakan seluruh
panca ­indera (mata, hidung, telinga, kulit dan lidah) untuk merasakan
­peristiwa yang terjadi di depan mata. Sebagai contoh, jika sedang me­
liput peperangan, gambarkan bagaimana situasinya, suara bom yang
meledak, pasukan yang gigih bertempur, penduduk yang ketakutan
dan lain sebagainya. Jelaskan semuanya dan hindari penilaian subjektif dengan menggunakan kata sifat, misalnya cantik, gagah, dan lain
sebagainya.
Dalam melakukan pengamatan, pewarta harus fokus pada peristiwa
yang akan diliputnya. Temukan inti sari dari peristiwa yang terjadi.
Jangan tergoda untuk mengamati peristiwa lainnya karena akan mengacaukan konsentrasi sehingga pengamatan menjadi tidak maksimal.
Disinilah arti penting dari garis besar liputan karena membuat proses
liputan tetap fokus.
Namun ada kalanya pewarta tidak sempat membuat garis besar liput­
an karena tiba-tiba ditugaskan untuk meliput peristiwa yang terjadi
mendadak. Jika ini terjadi, setelah melakukan pengamatan, segera
­putuskan sudut pandang (angle) beritanya. Bila kita sudah memiliki
sudut pandang, maka kita akan mempunyai panduan, fakta-fakta apa
saja yang harus kita amati dan kumpulkan. Misalnya, Anda meliput
peristiwa penggusuran, sudut pandang apa yang Anda pilih: kebijakan
pemerintah untuk mempercantik kota atau dimensi pelanggaran HAM
yang dilakukan pemerintah kota terhadap rakyat miskin.
36
Buku Pewarta Warga
Catat atau rekam semua peristiwa itu selengkap mungkin. Jangan
hanya mengAndalkan ingatan saja karena kecapaian fisik saat
­liputan membuat pewarta mudah lupa. Apalagi jika membuat liput­
an ­panjang, ketika peristiwa demi peristiwa datang silih berganti.
Semakin rinci seorang pewarta mencatat peristiwa yang disaksikannya biasanya ­makin memudahkan ia dalam menulis berita. Dari
pelbagai pen­galaman, kesulitan menulis berita terjadi karena pe­
warta tidak ­lengkap dalam mengamati dan mencatat peristiwa yang
disaksikannya.
Wawancara
Dalam melakukan liputan, setiap pewarta hampir pasti melakukan
wawancara. Wawancara adalah proses tanya-jawab antara pewarta
dan narasumber untuk menggali fakta psikologis, seperti apa yang
dialami, apa yang dilihat, atau apa pendapat maupun harapan seseorang berkaitan dengan suatu peristiwa.
Wawancara selalu dilakukan terhadap sejumlah pihak yang terkait
dengan sebuah peristiwa yang kita liput. Misalnya pada peristiwa
penggusuran pedagang kaki lima, ada pihak yang menggusur (Satuan
Polisi Pamong Praja), ada pihak yang digusur (pedagang kaki lima),
dan pembeli atau warga sekitar kejadian. Wawancara perlu dilakukan untuk memperoleh fakta yang lengkap tentang suatu peristiwa
­seperti penggusuran.
Saat wawancara, pewarta biasanya akan menanyakan tiga hal ­kepada
narasumbernya, yaitu kesaksiannya atas peristiwa yang terjadi,
atribut, dan pendapat narasumber. Kesaksian dari narasumber yang
jadi saksi mata suatu peristiwa sangat penting karena pewarta belum
tentu menyaksikan peristiwa itu secara langsung.
37
Sedangkan atribut diperlukan untuk memberikan gambaran pada
pembaca siapa dan di mana narasumber peristiwa terjadi. Atribut juga
memberikan gambaran tentang kelayakan narasumber untuk men­
jelaskan peristiwa. Atribut yang umum digunakan adalah nama, usia,
jabatan, dan hubungannya dengan peristiwa. Dalam peristiwa peng­
gusuran pewarta bisa menyebutkan atribut sebagai berikut:
Sarwono (45), Komandan Satuan Polisi Pamong Praja ­Kabupaten
Sleman
Mia (56), Pedagang Nasi Gudeg Lesehan
Rifki (24), Pelanggan Nasi Gudeg
Pendapat narasumber bisa berbentuk opini, harapan, dan kesaksian
mata. Semua itu dapat digali saat wawancara. Misalnya pada ­peristiwa
penggusuran, kita bertanya kepada Satpol PP mengapa melakukan
penggusuran, kepada para pedagang yang digusur, apa pendapatnya
soal penggusuran ini sedangkan kepada pembeli gudeg kita juga bisa
bertanya (karena dia ada di tempat ssat peristiwa terjadi) bagaimana
Satpol PP melakukan penggusuran itu, apakah menggunakan tindak
kekerasan atau tidak.
Penelitian Dokumen
Untuk melengkapi sebuah hasil liputan, pewarta biasanya juga me­
lengkapi dengan melakukan riset atau penelitian dokumen yang
berkaitan dengan peristiwa yang diliput. Penelitian dokumen di­
gunakan untuk mendapatkan fakta tertulis, baik berupa angka ­(jumlah,
besaran), ­tabel, bagan, maupun teks (tulisan, surat perjanjian, surat
38
Buku Pewarta Warga
keputusan). Fakta seperti ini akan digunakan untuk memperjelas atau
sebagai bukti pendukung dalam pengungkapan peristiwa. Liputan
­investigasi atau liputan mendalam biasanya selalu menggunakan
­teknik penggalian data ini.
Misalnya ketika membuat liputan soal korupsi dana rekonstruksi
­pasca gempabumi di Yogyakarta (2006). Untuk membuktikan korupsi
itu, jurnalis mencari bukti tertulis (kwitansi) adanya pemotongan
yang dilakukan aparat desa terhadap warga penerima bantuan uang
dari pemerintah. Uang ini untuk membangun kembali rumahnya
yang rusak akibat gempa bumi.
Tidak semua dokumen bisa digunakan begitu saja, misalnya, data
berbentuk tabel perlu diinterpretasikan lebih dahulu. Pada dokumen
teks perlu diperhatikan sumbernya, untuk melihat apakah dokumen
itu sah atau tidak.
Untuk mendapatkan dokumen ini, pewarta harus menempuh jalur
yang etis. Misalnya pewarta tidak boleh mendapatkan dokumen
­dengan cara mencuri.
Pahami Ragam Peristiwa
Ada beberapa macam peristiwa yang diliput pe­warta. Secara garis
­besar, peristiwa dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu ­peristiwa
momentum, peristiwa teragenda, dan peristiwa fenomena (Ahsoul,
2000: 31).
Peristiwa Momentum
Peristiwa momentum adalah peristiwa yang terjadi tiba-tiba, tidak
disangka-sangka. Nilai aktualitas peristiwa jenis ini tinggi. Apabila
peristiwa itu penting diketahui masyarakat (publik) maka pewarta
harus meliput dan memberitakannya sesegera mungkin. Misalnya
banjir, perampokan, tabrakan kereta api, gempa bumi, dan lain-lain.
Meskipun peliputan dilakukan dengan tergesa-gesa, pewarta harus
tetap cermat dan teliti. Satu hal yang harus selalu dijaga adalah
akurasi!
39
Saat ini peristiwa momentum menjadi Andalan bagi pewarta warga.
Jumlah pewarta media arus utama sangat terbatas, mereka tidak memiliki pewarta maupun kontributor berita di setiap kota. Akibatnya,
pewarta media arus utama selalu datang setelah peristiwa terjadi.
Sebaliknya, pewarta warga ada di mana-mana. Mereka dapat men­
dokumentasikan dan menulis kejadian sesegera mungkin dengan alatalat yang tersedia.
Peristiwa Teragenda
Peristiwa teragenda adalah peristiwa yang kejadiannya ­dapat di­ketahui
sebelumnya. Contohnya, lomba melukis di balai desa, pertandingan
sepak bola antarkampung, dan pelatihan internet di radio komunitas.
Meliput peristiwa teragenda memberi peluang bagi pewarta untuk
melakukan persiapan. Supaya berita tidak membosankan atau datardatar saja, pilih angel atau sudut pandang yang paling menarik.
Peristiwa Fenomena
Peristiwa fenomena terdiri atas sejumlah kejadian yang menggejala.
Belum tentu antara satu peristiwa dan peristiwa lainnya tampak pertautan yang jelas. Peristiwa bisa bermunculan di sejumlah tempat
yang tersebar dan mencuat pada waktu yang berbeda sehingga seolah
berdiri sendiri. Setelah frekuensi kemunculannya semakin tinggi, baru
mudah melihatnya sebagai fenomena.
Sering kali gejala itu berlangsung tanpa pertanda yang tegas karena terabaikan. Pewarta warga harus menafsirkan hubungan antar­
peristiwa sebelum dapat memahaminya sebagai suatu fenomena.
Meliput fenomena memerlukan pendalaman masalah, kesabaran,
kecermat­
an, kepekaan, dan sikap kritis. Oleh karena itu, peliputan
­peristiwa f­enomena sering menghasilkan laporan mendalam.
Misalnya adalah fenomena tentang perubahan iklim. Sebagai pewarta,
kita melihat dan mencatat adanya abrasi di wilayah pesisir, cuaca yang
tidak menentu, melelehnya salju di pelbagai tempat di bumi ini, dan
lain-lain. Berdasarkan kejadian ini, pewarta kemudian membuat liput­
an mendaalam bahwa perubahan iklim tengah terjadi.
40
Buku Pewarta Warga
5
Wawancara
Wawancara adalah salah satu bagian terpenting dalam proses
­liputan. Tidak ada liputan yang lengkap tanpa ada wawancara.
Seperti sudah disinggung di atas, wawancara adalah proses tanyajawab antara pewarta dengan narasumber sebagai upaya untuk
menggali fakta-fakta psikologis. Seorang pewarta mewancarai narasumber untuk meminta kesaksiannya atas suatu peristiwa atau pendapatnya tentang pelbagai persoalan.
Dalam membuat berita, hasil wawancara akan dipadukan dengan
­fakta sosiologis hasil temuan pewarta di lapangan. Selanjutnya pe­
warta atau jurnalis akan menggunakan hasil wawancara (fakta
psikologis) untuk ‘menjahit’ fakta-fakta sosiologis hasil temuan dan
pengamatannya dalam suatu teks sehingga menjadi suatu berita yang
utuh.
Itulah sebabnya, wawancara, sekali lagi adalah suatu hal yang ­penting.
Bahkan, jika sang pewarta pandai bertanya dan menguasai persoal­
an, tidak jarang ia bisa ‘menjebak’ nara sumbernya untuk ­secara
­langsung maupun tidak langsung mengakui suatu perbuatan yang
ingin ia sembunyikan.
Karena itu, sebisa mungkin wawancara selalu dilakukan dengan ­serius.
Untuk menggali keterangan dari narasumber, wawancara tidak bisa
dianggap sekadar sambil lalu. Bahkan, ada beberapa narasumber yang
tidak mau diwawancarai secara sembarangan. Almarhum T. Jacob,
ahli paleoantropologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) selalu meminta asistennya untuk memberikan kuliah satu jam kepada jurnalis
yang akan mewancarainya, tentang suatu topik yang akan ditanyakan
kepada dirinya. T. Jacob melakukan ini supaya si pewarta paham dan
tidak mengajukan pertanyaan yang salah.
Di kalangan pewarta, bukan menjadi suatu rahasia umum, ­banyak
narasumber tidak mau diwawancarai karena si pewarta tidak
­menguasai persoalan sehingga mengajukan pertanyaan yang bodoh
dan kacau. Jika seorang pewarta ditolak narasumber karena salah
mengajukan pertanyaan, itu adalah sebuah ‘tragedi’.
43
Persiapan Wawancara
Jika melihat berita di televisi, kita sering menyaksikan puluhan pe­warta
saling berebut melakukan wawancara doorstop kepada seorang narasumber. Apalagi jika sang narasumber adalah tersangka kasus korupsi
yang baru saja diperiksa dan keluar dari gedung Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), pasti suasananya seru! Tidak jarang setelah itu, para
­jurnalis bersitegang dengan para pengawal nara­sumber itu karena dianggap menghalangi kerja mereka.
Namun jika Anda perhatikan, dari puluhan pewarta itu hanya be­berapa
yang gencar mengajukan pertanyaan. Sisanya hanya menyorongkan
voice recorder untuk merekam apapun yang dikatakan sang nara­
sumber. Mengapa? Mungkin para pewarta yang tidak mengajukan
pertanyaan itu malas atau malah tidak tahu persoalannya sehingga
mengikuti apa saja yang dikatakan narasumbernya.
Nah, mengingat betapa pentingnya wawancara, pe­warta perlu me­
lakukan langkah-langkah persiapan sebagai berikut. Terutama jika
akan melakukan wancara khusus secara panjang-lebar:
1.
Sebelum melakukan wawancara, pewarta warga harus menguasai latar belakang persoalan yang akan ditanyakan.
2.
Setelah menguasai persoalan, tentukan arah permasalahan
yang akan digali. Buat daftar pertanyaan dari yang bersifat
umum hingga rinci. Lengkapi bahan wawancara dengan sejumlah informasi yang terkait dengan tema wawancara.
3.
Setelah menentukan permasalahan, tetapkan siapa saja yang
akan menjadi narasumber. Pilihlah narasumber yang men­
guasai persoalan.
4. Kenali sifat-sifat narasumber sebelum wawancara. Tanya
­kepada orang lain yang tahu atau dekat dengan narasumber,
atau membaca tulisan dan riwayat hidup, termasuk kegemar­
an, keluarga, dan lainnya.
44
Buku Pewarta Warga
5.
Buatlah janji untuk bertemu dan melakukan wawancara,
­karena biasanya narasumber juga memiliki kesibukan. Ber­
usahalah menepati janji, sebab kita yang membutuhkannya.
6. Siapkan mental untuk mengadakan wawancara karena
­setiap individu memiliki sifat-sifat yang berbeda. Ada yang
ramah, namun ada pula yang ‘jual mahal’.
7.
Terakhir, siapkan peralatan yang diperlukan antara lain,
buku tulis, pena, perekam suara, dan kamera bila diperlukan.
­Pastikan semua alat itu berfungsi dengan baik dan baterei­
nya masih penuh.
Saat Wawancara
Pada saat wawancara, pewarta perlu memperhatikan ­
suasana, ke­
wajaran, fokus, sopan santun, dan sikap kritis pada narasumber. Apa
yang seharusnya dilakukan pewarta?
Pendekatan awal
Sebelum masuk materi wawancara,
kenalkan diri Anda, tunjukkan kartu
pers Anda dan katakana tujuan dari
wawancara. Dari hasil riset yang Anda
lakukan terhadap narasumber, jangan
melakukan hal yang tidak disukai
narasumber.
Ini sekadar contoh: dahulu ada seorang jurnalis tabloid politik yang
­ingin melakukan wawancara dengan seorang ahli sejarah ternama dari
Universitas Gadjah Mada. Ketika ia sampai rumahnya, pintu ­gerbang
terkunci dan ia mengetok pintu gerbang yang terbuat dari besi itu.
Ternyata sang ahli sejarah itu tidak menyukainya dan ­langsung mengusir sang jurnalis sehingga wawancara tidak jadi dilakukan.
Selanjutnya, bukalah dengan percakapan ringan, misalnya, soal ke­
sehatan, kegemaran, dan sebagainya. Namun, apabila waktu untuk
wawancara sangat terbatas, pewarta bisa mengabaikannya. Cukup
dibuka dengan perkenalan dan langsung masuk ke materi wawancara.
45
Bersikap Wajar
Pewarta bisa berhadapan dengan narasumber yang sangat men­
guasai persoalan, namun tidak jarang juga tidak menguasai persoalan.
Pewarta tidak perlu merasa rendah diri atau lebih tinggi dari narasumber. Bersikap yang wajar saja, karena pewarta dan narasumber­
nya, siapa­pun dia, mempunyai kedudukan setara, yang paling penting
­adalah bersikap sopan.
Memelihara Situasi
Dalam wawancara, pe­warta harus pandai
memelihara situasi supaya ­
wawancara
berlangsung nyaman dan narasumber
mau membagi informasi­nya. Jangan
membuat narasumber jengkel dengan
pertanyaan ‘bodoh’. Jangan pula men­
debat, tetapi ajukan jenis pertanyaan
yang dapat mengonfrontir jawaban narasumber. Hindari pula pertanyaan yang
kesannya meng­
interograsi atau menghakimi. Misalnya, wawancara
dengan kepala desa yang diduga menyelewengkan dana bantuan desa.
Pewarta tidak boleh langsung bertanya, apakah narasumber melakukan korupsi? Itu akan menimbulkan ketegangan, cobalah bertanya,
jelaskan bagaimana Anda membelanjakan dana bantuan desa? Untuk
menjaga situasi yang nyaman, simpanlah pertanyaan-pertanyaan yang
sensitif, (kadang ­penting untuk penegasan, misalnya apakah dia me­
lakukan korupsi atau tidak) di bagian akhir wawancara. Jika ia marah dan tidak mau me­layani wawancara lagi, kita sudah mendapatkan
­banyak informasi dari dirinya.
Jangan banyak berbicara
Lontarkan pertanyaan yang singkat, kecuali Anda memberikan latar
­belakang suatu peristiwa. Jika pewarta banyak bicara, waktu akan
­cepat habis sehingga kita tidak mendapat banyak informasi dari narasumber. Buat pertanyaan yang singkat tetapi tajam atau langsung ke
pokok persoalan.
46
Buku Pewarta Warga
Lontarkan Pertanyaan Terbuka
Sedapat mungkin lontarkan pertanyaan yang bersifat terbuka buka
pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang
jawabnya ya atau tidak. Dengan pertanyaan tertutup, kita tidak
akan mendapatkan banyak penjelasan. Contoh pertanyaan tertutup:
“Apakah bapak suka bunga matahari?” Jawabannya, ya atau tidak. Itu
saja. Tetapi jika Anda bertanya dengan pertanyaan terbuka, ­seperti,
“Apa komentar bapak soal bunga matahari?” Maka sang nara­sumber
akan menjelaskan secara panjang apa alasan dia suka atau tidak
­dengan bunga matahari. Pertanyaan tertutup baru kita gunakan ­jika
kita ingin menegaskan sikap dari narasumber, setelah kita memberikan pertanyaan terbuka. Misal, “Jadi Anda memang suka bunga
­mata­hari?” Jawabannya bisa ya atau tidak.
Menjaga Pokok
Persoalan
Menjaga pokok persoalan sangat
penting dalam setiap wawancara
­
agar,
pembicaraan
narasumber
tidak lari ke persoalan lain. Ini akan
merepotkan pewarta ketika harus
menyusun ­berita, apalagi jika direkam
karena harus mendengarkan rekaman yang berdurasi panjang. Jika
narasumber mulai mengatakan sesuatu yang tidak sesuai, cobalah
untuk mengingatkan agar kembali ke pokok persoalan. Kita bisa saja
memotong pembicaraannya, tentu dengan cara yang sopan.
Usahakan melontarkan pertanyaan yang tajam, agar narasumber
dapat memberikan jawaban yang fokus. Pertanyaan yang tajam ini
dapat kita lontarkan jika pewarta benar-benar menguasai persoalan.
47
Kritis
Sikap kritis perlu dikembangkan dalam wawancara agar mendapat
­informasi yang tajam, rinci dan lengkap. Pewarta harus jeli me­nangkap
pernyataan dari narasumber dan kemudian mengembangkannya
­dengan mengajukan pertanyaan selanjutnya.
Kekritisan tersebut tidak hanya menyangkut pokok persoalan, tetapi
juga menangkap gerakan-gerakan narasumber. Pewarta bisa meluruskan data bila narasumber salah mengungkapkannya, baik itu tentang
angka, tempat kejadian, dan sebagainya. Kalau perlu ketika nara­sumber
sedang memberikan keterangan dalam keadaan gelisah, hal ini harus
ditangkap sebagai isyarat yang bisa dituangkan dalam tulisan agar pembaca mendapatkan gambaran utuh dan laporannya pun tidak kering.
Sopan Santun
Dalam wawancara, sopan santun perlu dijaga, karena ini men­yangkut
etika pergaulan di dalam masyarakat yang harus diperhatikan dan dipegang teguh. Kendati sudah mengenal betul narasumber, pewarta
dilarang bersikap sembarangan, sombong, atau perilaku yang tidak
simpatik lainnya. Di awal maupun di akhir wawancara jangan lupa
mengucapkan terima kasih kepada narasumber. Karena telah memberikan kesempatan wawancara. Pada akhir wawancara pesanlah ­kepada
narasumber untuk tidak keberatan dihubungi bila ada data masih
kurang.
48
Buku Pewarta Warga
Sumber Anonim
Narasumber yang tidak mau di­sebutkan
namanya (anonim) se­betulnya tidak terlalu baik bagi karya ­jurnalistik. Sebab
anonim tidak memberi ke­sempatan pembaca untuk menentukan seberapa besar
derajat ke­percayaan mereka pada ­sumber
bersangkutan. Akibatnya karya ­jurnalistik
kurang ­dapat diper­tanggungjawabkan.
Praktek ini sebaik­nya dihindari karena
sumber anonim ­punya kecenderungan kurang bertanggung jawab
terhadap apa yang dikatakannya.
Berita dengan sumber anonim rawan menuai persoalan hukum.
Tentu ini akan sangat merepotkan sang pewarta karena akan menghadapi aparat hukum. Majalah Tempo pernah mengalami soal ini saat
menulis tentang kebakaran di Pasar Tanah Abang. Sumber Tempo
yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kebakaran itu di­
sengaja agar ada proyek untuk renovasi pasar. Tempo kemudian di­
gugat karena dianggap mencemarkan nama baik sesorang yang dianggap membakar pasar itu.
Karena itu pewarta warga harus ekstra hati-hati dengan sumber
yang minta diberi status anonim. Berikut ini adalah pertimbanganpertimbangan yang harus dipertimbangkan para pewarta warga bila
terpaksa menggunakan sumber anonim:
1.
Narasumber berada pada lingkaran pertama “peristiwa” yang
dilaporkan. Dia menyaksikan sendiri atau terlibat ­langsung
dalam peristiwa itu. Dia bisa pelaku, korban atau saksi mata,
bukan orang yang mendengar dari orang lain. Pewarta tidak
boleh menggunakan sumber anonim kepada sumber yang
me­lakukan analisis terhadap peristiwa itu.
2.
Keselamatan sumber terancam bila identitasnya dibuka.
­Unsur keselamatan harus bisa diterima akal sehat pembaca. Artinya, mungkin nyawanya atau anggota keluarganya
yang terancam. Kalau sekadar hubungan sosial yang terancam, misalnya per­
temanan, maka ia tak termasuk faktor
49
keselamat­an. Jika se­kadar pekerjaannya yang terancam, masih
diper­debatkan lagi. Apakah benar dia akan kehilangan pe­
kerjaan dan apakah dia sulit mendapat pekerjaan baru?
3.
Motivasi sumber anonim memberikan informasi murni ­untuk
kepentingan publik. Kita harus mengukur apa motivasi si
­sumber memberikan informasi. Banyak kasus, ­sumber memberikan informasi dan minta status anonim untuk meng­
hantam lawan atau orang yang tak disukainya. Banyak juga
kasus di mana informasi anonim diberikan karena meng­
untungkan si sumber tapi ia mau sembunyi tangan.
4. Kejujuran sumber harus diperhatikan. Orang yang sering mengarang cerita atau terbukti pernah berbohong atau pernah
menyalahgunakan status sumber anonim, jangan diberi ­status
sumber anonim Anda. Periksalah kejujuran sumber Anda.
­Biasanya makin tinggi jabatan seseorang, makin sulit memper­
tahankan integritas dirinya, sehingga Anda harus makin hatihati dengan status anonim.
5.
Keterangan anonim bisa diloloskan bila sumbernya minimal
dua orang. Pewarta warga harus membuat perjanjian yang
jelas dengan calon sumber anonim mereka. Perjanjian akan
batal dan nama mereka akan dibuka ke hadapan publik, bila
kelak terbukti si sumber berbohong atau sengaja menyesatkan pewarta dengan informasinya.
6. Berkaitan dengan sumber anonim ini, ada dua istilah yang
juga berkaitan yaitu background dan deep background. latar
belakang maksudnya jika narasumber mau disebutkan sedikit
keterangan menganai jati dirinya, misalnya tempat dia be­
kerja. Contoh: sumber Suara Komunitas di Pemda Bantul mengatakan korupsi itu dilakukan oleh….” Sementara kalau deep
background, narasumber sama sekali tidak mau disebutkan
jati dirinya. Misalnya, sumber Suara Komunitas mengatakan
korupsi di Pemda Bantul dilakukan oleh….”
50
Buku Pewarta Warga
6
Menulis
Berita
Setelah pewarta warga selesai mengumpulkan fakta sosiologis,
psikologis dan dokumen yang terkait, tugas selanjutnya adalah me­
nulis berita. Jadi kira-kira berita adalah informasi yang ditulis dan
disebarkan melalui media massa (cetak, radio, dan televisi).
Bagi sebagian orang, menulis (termasuk berita) adalah sesuatu yang
sulit. Tetapi bagi yang lainnya mungkin mudah. Apa yang membedakannya? Pertama soal latihan, kedua semakin sering membaca (ter­
utama berita) makin mudah membuat berita dan ketiga, tergantung
pada kualitas liputan di lapangan, semakin lengkap fakta yang dikumpulkan semakin mudah seorang pewarta dalam menulis berita.
Jika kita sadari, sebetulnya menulis berita itu tidak jauh berbeda
dengan saat bercerita secara lisan kepada orang lain. Bedanya, ketika
pewarta berbagi cerita, mereka mengungkapkannya dalam bahasa
­tulisan. Selain itu, ada aturan teknis yang membingkainya.
Dalam menulis sebuah berita, ada beberapa hal yang perlu menjadi
pertimbangan.
1.
Sedapat mungkin gunakanlah kalimat aktif. Kalimat aktif
adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu pekerjaan
atau predikat, cirinya predikat menggunakan awalan me.
Misalnya: Ayah memberi makan ikan. Dalam jurnalistik,
­kalimat aktif membuat informasi yang kita sampaikan menjadi lebih tegas.
2.
Buat tulisan seringkas mungkin, rumusnya yang mudah diingat adalah keep it short and simple, artinya buatlah (kalimat
itu) pendek dan sederhana. Jika bisa dibuat pendek, mengapa
harus panjang? Sebab kalimat yang ditulis panjang membuat pembaca harus menguras energi dan mungkin menjadi ­bingung. Para pembaca lebih mudah menangkap pesan
dalam kalimat yang pendek.
3.
Tulislah dengan menggunakan aturan tata bahasa yang baku.
Dalam hal ini adalah ejaan bahasa Indonesia yang sudah
disempurnakan (EYD). Dalam dunia ­jurnalistik, ­kredibiltas
dari berita juga ditentukan dari kualitas bahasa tulisan kita.
­Semakin banyak melakukan kesalahan tata ­bahasa, semakin
buruklah kwalitas kredibilitas kita sebagai pewarta.
53
Untuk bisa menulis dengan baik, seorang pewarta tidak cukup mempelajari teorinya saja, tapi harus mencoba dan terus mencobanya.
Kerja keras, sering berlatih adalah kunci utama keberhasilan seseorang
dalam menulis. Mungkin, bakat itu hanya 10 prosen, sisanya yang 90
prosen adalah kerja keras!
Perlu diingat, berlatih menulis berita itu ibarat orang belajar naik
­sepeda. Ia harus naik sepeda dan mengayuh serta menjaga agar sepeda
tetap berjalan dengan benar. Jika jatuh, harus segera bangun dan naik
sepeda lagi. Begitu pula dengan belajar membuat berita. Pewarta harus
liputan dan kemudian membuat beritanya, begitu terus berulang-ulang.
Ada cara mudah belajar menulis berita. Ambilah tulisan dari media
massa yang kredibel. Perhatikan ciri-ciri tulisan beritanya. Setelah itu
coba untuk menirunya dengan bahan hasil liputan Anda sendiri. Jika
Anda merasa ada yang kurang, tambahkanlah sendiri.
Judul Berita
Struktur berita biasanya terdiri dari judul, teras berita, batang tubuh
dan penutup. Jadi cukup ringkas bukan?
Yang pertama adalah judul. Judul biasanya terdiri atas satu klausa
yang mengandung sari informasi yang termuat dalam tulisan. Bila di­
perlukan, judul bisa didampingi informasi tambahan berupa subjudul.
Biasanya subjudul ditempatkan di atas judul.
Misalnya:
Terkait Korupsi Pengadaan Kapal Nelayan
KPK Panggil Bupati Gunungkidul
Untuk media cetak, judul sangat penting karena ini menjadi bagian
pertama yang akan dibaca para pembaca cepat di pagi hari. Mereka ini
biasanya orang sibuk yang tidak punya cukup waktu untuk membaca
seluruh isi berita. Para pembaca cepat ini hanya butuh tahu ada berita
54
Buku Pewarta Warga
apa saja. Jika ia tertarik, baru ia membaca berita secara utuh atau
bahkan hanya saampai di alinea pertama saja yang merupakan pen­
jelasan atau versi panjang dari judul berita.
Walaupun judul ada di bagian paling atas dari berita, tetapi ­banyak pe­
warta yang membuat judul setelah selesai membuat berita. Membuat
judul bukan perkara mudah, kadang-kadang butuh waktu. Lebih baik
waktu itu digunakan untuk menulis berita. Setelah berita selesai, kita
baca ulang lagi dan kita ambil intinya. Setelah tahu intinya, baru kita
buat judul beradasrkan intisari dari berita itu. Biasanya cara ini lebih
efektif.
Berikut ini pertimbangan-pertimbangan untuk membuat judul:
Pilihlah kata-kata yang mudah dipahami pembaca;
1.
Utamakan kalimat aktif dengan menghilangkan awalan.
­Kata-kata berbentuk pasif tidak boleh dihilangkan awalannya sebab akan bermakna sebaliknya.
2.
Jangan berupa kalimat, karena judul bukanlah kalimat me­
lainkan klausa.
3.
Hindari penggunaan singkatan yang belum akrab di
masyarakat, contohnya:
(�) Warga Bandar Lampung Dirikan Forum RW untuk
Mengawasi Pelayanan Publik (Berbentuk kalimat dan
terlalu panjang, Forum RW bisa dimaknai forum rukun
­warga—karena ini yang lebih dikenal pembaca)
(�) Awasi Layanan Publik Lewat Forum Rembug Warga
(Ber­bentuk klausa, singkat)
Teras Berita
Teras berita (lead) merupakan bagian penting dalam berita. Bagian ini
harus dibuat semenarik mungkin untuk memikat para pembaca agar
mau membaca berita yang kita buat. Teras berita itu ibarat umpan
55
jika kita sedang memancing ikan. Bila kita memberi umpan yang menarik, tentu ikan mau menggigitnya. Namun jika tidak menarik tentu
ikan akan membiarkannya begitu saja. Begitulah kira-kira tamsil dari
teras berita.
Selain harus menarik, teras berita, dalam berita langsung berisi inti
sari dari seluruh berita yang kita buat. Sebisa mungkin, unsur berita
(5W + 1H) termuat dalam paragraf ini. Bagi pembaca cepat, kadang
ia hanya sampai membaca pada teras berita saja, sebelum beralih ke
berita-­berita lainnya. Jika ia tertarik atau membutuhkan informasi
­lebih d
­ etail, baru ia akan membaca seluruh berita.
Teras berita terdiri dari satu paragraf. Buatlah paragraf yang tidak
terlalu panjang. Mungkin maksimal terdiri dari empat kalimat saja.
Namun, ini bukan patokan yang baku.
Memang tidak ada cara khusus bagaimana cara membuat teras berita.
Bagi sebagian pewarta, menulis teras berita adalah bagian yang paling
sulit. Kadang-kadang, pewarta harus menulis berkali-kali untuk me­
nemukan teras berita terbaik dan menarik. Pada bagian inilah, pewarta
ditantang untuk memeras otak agar dapat menyajikan tulisan terbaik.
Biasanya jika teras berita sudah jadi, tulisan akan mengalir begitu saja
hingga akhir.
Berikut ini adalah macam-macam dari bentuk teras b
­ erita:
Ringkasan
Materi yang ditulis dalam teras berita adalah inti berita. Teras berita
ini berisi empat keterangan penting, (1) peristiwa apa yang terjadi; (2)
lokasi kejadiannya; (3) Pihak yang terlibat dalam peristiwa itu; dan (4)
kapan peristiwa terjadi. Teras berita jenis ini paling banyak digunakan
untuk berita-berita langsung. misalnya:
Pagi ini (16/4), warga kampung Pekandangan, Kecamatan
­Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, dikejutkan oleh temuan
­bangkai kambing di kandang milik Salim. Kondisi bangkai
kambing sangat mengenaskan akibat luka cabikan dan gigitan
dari se­ekor harimau Sumatera.
56
Buku Pewarta Warga
(Harimau Sumatera Masuk Kampung, Radio ­Bimantara FM
Lampung)
Hingar bingar Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 tak bisa di­
rasakan Kuswanto (21), santri asli Purwokerto, Banyumas. Ia
tak bisa menggunakan hak pilihnya karena tak tercantum
dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Pesantren Buntet.
(Tak Bisa Nyentang, Santri Buntet Pilih Masak, Radio Best FM,
Cirebon)
Pada musim penghujan, petani pembenihan lele mengeluh
sulitnya mendapatkan cacing sutera. Jenis cacing yang satu
ini menjadi menu wajib saat awal pembenihan. Selain ­langka,
harganya pun melambung hingga dua kali lipat. Bahkan,
petani pembenihan lele harus mengantri agar bisa mendapatkan cacing sutera.
(Cacing Sutra Tembus Lima Ribu Pergelas, Shakti FM)
Setelah pembaca teras berita, pembaca sudah bisa menebak isi ­tulisan.
Pembaca yang berminat bisa meneruskan membaca, sedangkan yang
tak berminat bisa melewatkan begitu saja. Teras berita rangkuman
efektif digunakan untuk menulis berita langsung. Teras berita jenis
ini membantu para pembaca yang ingin mengetahui informasi dalam
waktu yang singkat.
Bercerita
Teras berita bercerita menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya. Pembaca masih bertanya apa
yang terjadi, misalnya:
Hati-hati jika Anda mengendarai sepeda motor melintasi
jalur jalan raya Cirebon–Bandung, khususnya di sepanjang
jalan yang melintasi wilayah utara Majalengka mulai dari
­Kadipaten hingga Palimanan, Cirebon. Di titik-titik tertentu,
terdapat banyak lubang yang memenuhi jalan tersebut. Jika
tidak waspada bisa jadi maut menjemput Anda.
57
(Maut di Ujung Lubang, Caraka FM)
Warga Kampung Cilimus, Desa Hurun, ­Kecamatan Krui, terlihat
cemas. Ada lima ekor ayam dari ­empat pemilik yang berbeda
mati mendadak se­hingga tersebar desas-desus ayam tersebut
terjangkit virus flu burung.
(Cegah Flu Burung Berbekal Laporan Warga, Radio Gema
­Lestari FM)
Deskriptif
Teras berita deskriptif memberikan gambaran pada pembaca tentang
suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi oleh penulis yang
hendak menulis profil seseorang. Misalnya:
Namanya Kartowinangun, Laki-laki ini berumur 53 tahun. Dia
adalah salah satu pengrajin atap daun rumbia di Desa Ciklapa,
Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap. Bersama istrinya,
sejak 1985 ia menggeluti pekerjaan itu sebagai penghasilan
­utama keluarga.
(Kartowinangun dan Eksistensi Atap Rumbia, Akhmad Fadli)
Setelah hujan yang mengguyur sebagian wilayah Kabupaten
Wonosobo, Selasa (3/2), jalur Watumalang-Mojotengah terputus
akibat tertutup longsoran tebing. Longsor terjadi pada malam
hari sekitar pukul 00.30 ketika orang sedang tertidur lelap.
(Longsor Patahkan Jalur Watumalang-Mojotengah, Sukino)
Pertanyaan
Teras berita pertanyaan menantang rasa ingin tahu pembaca, asal
dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Teras berita
jenis ini sebaiknya hanya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat
berikutnya sudah alinea baru, misalnya:
58
Buku Pewarta Warga
Masih ingat Sumanto? Pria yang pernah mendapat julukan
‘manusia kanibal’ tersebut terlihat di sebuah pameran lukisan
di Purwokerto. Tidak
sekadar hadir, Soemanto bahkan didapuk untuk membuka
acara tersebut.
(Sumanto Buka Pameran Lukisan, Shakti FM)
Pernah dengar nama Borobudur? Apa yang Anda ketahui
­tentang Borobudur? Pernahkah Anda melihat lebih mendalam tentang reliefnya?
(Dari Relief Sampai Harga Diri Bangsa, Alga FM)
Menuding
Teras berita ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca
dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara”. Pembaca
­sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak
terlibat pada persoalan. Misalnya:
Di manapun tempat mengajarnya, di negeri atau swasta,
­peran guru tidaklah berbeda. Sama-sama berjuang men­
cerdaskan anak bangsa. Tetapi mengapa perlakuan terhadap
guru sekolah swasta berbeda dengan guru sekolah negeri.
(Guru Sukarelawan Swasta Dibedakan, Caraka FM)
Gagasan otonomi desa yang digembor-gemborkan banyak
kalangan sejak adanya Undang-Undang Pemerintah Daerah
Nomor 32 Tahun 2004, belum menyentuh substansi yang
sesungguhnya.
(Otonomi Desa, Masih Sebatas Wacana, Radio Menara Siar
­Pe­desaan)
59
Penggoda
Teras berita ini berfungsi untuk sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuan-nya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar
dijebak ke baris berikutnya. Teras berita ini juga tidak memberi tahu,
cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki. Misalnya:
Suasana jelang pemilihan kuwu (Pilkuwu) Desa ­Arjawinangun
semakin memanas. Warga mulai terbagi dalam kelompokkelompok pendukung para calon kuwu. Sayang, dari calon
kuwu yang ada tidak ada yang berjenis kelamin p
­ erempuan.
(Arjawinangun Impikan Kuwu Perempuan, AJ FM)
Rumah Sarwa selalu ramai, jika sebelumnya dipadati oleh para
pendengar, sekarang warga berjubel memintanya maju dalam
Pemilihan Kuwu.
(Penyiar Rakom, Didaulat Warga Jadi Kuwu, Kenanga FM)
Pembaca diajak untuk menebak isi berita. Isi berita dibuat seperti tekateki yang dijabarkan dalam alinea-alinea berikutnya.
Nyentrik
Teras berita nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong katakata pendek. Teras berita seperti ini sebaiknya digunakan untuk tulisan
yang bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya, misalnya:
Tet...tet...tet...
(Senyum Terakhir, Daris Sidoarjo)
Potensi Lokal yang terabaikan.
(Dodol Takalar, Radio Pass Community FM)
“Awas banjir dan penyakit musiman datang.”
(Hujan Mengguyur Bandung dan Sekitarnya, Pass FM)
60
Buku Pewarta Warga
Membaca teras berita di atas, pembaca tidak bisa menebak apa isi
­tulisan. Untuk mengetahui isi tulisan, pembaca harus mengikuti
­alenia berita selanjutnya hingga akhir.
Gabungan
Teras berita gabungan adalah gabungan dari beberapa jenis teras
­berita di atas, misalnya:
“Kacang...kacang..., rokok...mas, aqua...aqua Bu?” Suara seorang
pedagang asongan di dalam bis di Terminal Banjarnegara. Seorang wanita setengah baya berjilbab merah muda terus menawarkan dagangannya kepada penumpang.
(Kacang Mas, Rokok Pak, Aqua Bu..., Shakti FM)
“Selamat datang para tamu, terimakasih atas doa restu yang
Anda berikan pada pasangan mempelai.” Seorang penyiar
radio Kemayu FM, Losarang, tengah melakukan siaran dari
rumah warga yang mengadakan hajatan pesta pernikahan.
Acara itu direlai ke studio yang berjarak 2 km untuk disiarkan
secara langsung.
(Radio Jadi Hiburan Hajatan Warga, Radio Suara Kemayu FM)
Ini gabungan teras berita kutipan dan deskriptif. Teras berita apa pun
bisa digabungkan.
Tubuh Berita
Tubuh berita merupakan tempat di mana seluruh informasi di­
jelaskan secara detail. Seluruh fakta yang kita dapatkan di lapangan,
dirangkai dan dijelaskan secara kronologis dalam bagian ini. Satu hal
yang harus diingat, seluruh penjelasan harus fokus kepada satu tema
persoalan yang diangkat.
Tubuh berita terdiri atas sejumlah alinea. Setiap alinea berisi satu
­gagasan dan disambung dengan alinea selanjutnya yang berisi gagas­
an lainnya yang berkaitan. Begitu seterusnya hingga membentuk satu
61
tulisan (berita) yang menjelaskan fokus persoalan. Dengan kata lain
ada keterkaitan antara alinea satu dengan lainnya.
Mengingat kita sedang menulis berita, sertakan pula kutipan, yaitu
pernyataan dari narsumber kita. Jangan lupa jelaskan atau berikan ke­
terangan siapa yang menjadi narasumber kita agar pembaca bertambah yakin dengan pernyataannya. Karena itu pilihlah narasumber yang
bisa dipercaya.
Kutipan bisa langsung maupun tidak langsung. Kutipan langsung digunakan untuk menjelaskan pernyataan narasumber yang ­penting.
Dengan kutipan ini, seolah-olah narasumber berbicara langsung ­kepada
para pembaca/pendengar/pemirsa berita. Ini juga untuk menghindari
kita salah dalam mengutip. Sedangkan kutipan tidak langsung bisa digunakan untuk penjelasan saja.
Jangan sampai dalam setiap alinea ada kutipan langsung dari nara­
sumber. Buatlah berselang-seling agar berita enak dibaca.
Setelah selesai menulis berita, cobalah baca dan teliti kembali. Cek apakah berita yang kita tulis sudah jelas atau belum. Periksa pula seluruh
informasi yang kita tulis apakah sudah sesuai dengan fakta-fakta yang
kita temukan di lapangan, bagaimana dengan tata bahas dan ejaan
kata-katanya, apakah sudah sesuai dengn EYD?
Terakhir, dan ini sangat penting adalah apakah ada pasal kode etik
jurnalistik yang dilanggar? Jika ada bagian yang dirasa melanggar kode
etik, maka segera dihilangkan atau diperbaiki, mungkin dengan liputan
lagi dan sebagainya. Ini sangat penting karena kredibilitas kita sebagai
pewarta dapat runtuh bila ada pasal kode etik yang dilanggar.
62
Buku Pewarta Warga
Penutup
Penutup berita merupakan bagian akhir tulisan atau paragraf
­te­rakhir. Meskipun bagian akhir, apakah ini merupakan bagian yang
dapat dianggap paling tidak penting? Belum tentu, tergantung dari
jenis berita yang kita buat.
Untuk berita langsung, bagian akhir berisi ­informasi yang paling tidak
penting. Untuk ini memang tidak terlalu sulit membuatnya. Cukup
tempatkan informasi yang kalau tidak di­ketahui, pembaca tidak akan
kehilangan konteks berita.
Tetapi untuk berita kisah atau karangan khas, bagian akhir bisa menjadi sangat penting. Sebab penulis harus membuat alinea penutup
yang ‘nendang’ sehingga memberikan kesan yang mendalam kepada
pembacanya. Begitu pula untuk tulisan berita mendalam.
Jenis Berita
Berdasarkan cara penulisannya, berita bisa dibedakan menjadi ­tiga,
berita langsung, berita kisah, berita mendalam ­(indepth reporting) dan
berita investigasi. Setiap jenis berita memiliki ciri-ciri yang berbeda
dan memiliki kegunaan yang berbeda pula.
Berita Langsung
Bertita langsung adalah jenis berita yang digunakan untuk menyampaikan informasi penting secara singkat dan cepat kepada para pembaca, pendengar atau pemirsa berita. Ciri beritanya, singkat, padat,
lugas, dan kaku.
Kini, media massa yang sering menggunakan jenis berita ini adalah
koran harian, dan media online. Selain soal kecepatan dalam pen­
yampain informasi, media massa koran menggunakan jenis ini untuk
menyiasati keterbatasan ruang dalam halamannya. Dengan menggunakan berita langsung, satu halaman dapat menampung banyak
berita.
63
Penulisan berita langsung dilakukan dengan menggunakan format
­piramida terbalik. Informasi yang paling penting dituliskan pada alinea
paling atas. Biasanya ini merupakan intisari dari seluruh berita. Unsur
berita (5W + 1H) sebisa mungkin masuk dalam alinea paling atas ini.
Alinea-alinea selanjutnya adalah untuk menjelaskan tuas berita atau
isi alinea pertama yang merupakan ringkasan isi berita itu. Jika dibuat
gradasi, alinea yang berada di bawah berisi informasi yang semakin
tidak penting. Dengan kata lain, aline pertama adalah yang paling
­penting, alinea selanjutnya (ke bawah) semakin tidak penting dan yang
paling bawah adalah yang paling tidak penting sendiri.
Mengapa dibuat dengan sistem piramida terbalik? Menurut sejarahnya
dahulu, di Amerika Serikat (AS), para jurnalis mengirim berita dengan
menggunakan telegram. Karena setiap pengiriman tidak bisa berisi
banyak kalimat, maka mereka mengirim per alinea yang berisi barisan
kalimat-kalimat yang pendek. Yang dikirim pertama adalah aline yang
paling penting selanjutnya disusul dengan alinea yang makin tidak
penting.
Metode penulisan berita dengan menggunakan piramida terbalik juga
memudahkan redaktur dalam menyunting berita. Mengingat keterbatasan halaman, berita harus dibuat sependek mungkin agar ­halaman
Koran dapat memuat berita sebanyak mungkin. Untuk me­motong
­berita, redaktur dapat mulai dari berita paling bawah yang berisi
­informasi yang paling tidak penting. Jika masih terlalu panjang, potong
lagi alinea yang berada di atasnya. Dengan demikian, intisari dari berita
dan alinea yang berisi informasi yang penting tetap selamat karena ada
di bagian atas.
Walaupun terlihat sederhana, menulis berita langsung, berdasarkan
pengalaman dan kesaksian, bukan persoalan yang mudah. Pasalnya,
pewarta dipaksa untuk mengambil inti sari dari hasil liputannya di
lapangan. Selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan yang singkat
dan padat dan dalam urutan yang logis. Tanpa memiliki alur logika
pemikiran yang logis, pewarta akan mengalami kesulitan dalam membuat jenis berita ini. Tidak salah jika sementara orang mengatakan
menulis berita langsung adalah ‘terapi’ untuk melatih cara berpikir
logis dan runtut.
64
Buku Pewarta Warga
Paling Penting
Teras berita
Penting
Tubuh Berita
kurang
Penting
Penutup
Untuk membuat berita langsung yang cepat dan lengkap, Anda bisa
memulai dengan membuat garis besar berita yang akan dibuat.
Contoh, Anda meliput panen kolam lele di Desa Wonolelo,
Pleret, Bantul. Sebelum pergi meliput, Anda menyusun pertanyaan yang akan diajukan dalam secarik kertas. Misalnya,
(1) Siapa yang memanen lele (2) Tiap berapa bulan panen lele
dilakukan; (3) Berapa jumlah kolam yang akan dipanen; (4)
Berapa kilogram hasil panen tiap kolam; (5) Berapa kilogram
benih yang dikembangbiakan sebelumnya; (6) Berapa harga
jual lele per kilogram; (7) Bagaimana cara memanen lele yang
tepat.
Berbekal garis besar berita pewarta selalu memperhatikan unsur apa
yang terjadi, di mana kejadiannya, kapan terjadinya, siapa yang terlibat dalam kejadian, mengapa peristiwa itu terjadi, dan bagaimana
kejadiannya. Bila Anda sudah mengetahui lokasinya, siapa pemilik
kolamnya tentu sudah tidak perlu ditanyakan. Namun bila masih
ragu tuliskan keduanya dalam daftar pertanyaan.
Saat tiba di lokasi kejadian, Anda bisa menemui pemilik kolam.
Melihat bagaimana cara mereka memanen lele, mencatat hal-hal
penting yang diamati, dan jangan lupa memotret peristiwa yang me­
nunjukkan kejadian secara dramatis. Misalnya, saat menimbang ikan,
saat orang di dalam kolam sembari memegang ikan, dan lain-lain.
65
Susunlah fakta-fakta yang Anda temui dengan cara berikut ini. Untuk
berita langsung, panjang tulisan Anda cukup 4-8 paragraf seperti
­contoh berikut ini:
1.
Paragraf pertama disebut dengan teras berita. Teras berita berisi
materi yang paling penting dari peristiwa. Buatlah paragraf berisi
2-4 kalimat yang memuat unsur APA kejadiannya, DI MANA kejadiannya, SIAPA yang terlibat dalam kejadian tersebut dan KAPAN
kejadiannya. Misalnya:
Musim panen lele di Desa Wonolelo, Pleret, Bantul telah tiba
(15/4/2009). Lima kolam berukuran 5x10 meter yang dikelola
Forum Warga Wonolelo menghasilkan lima kwintal lele. Pe­
masukan yang didapat mencapai 5 juta rupiah.
Unsur
Penjelasan
Apa kejadiannya
panen lele
Di mana kejadiannya
Desa Wonolelo, Pleret, Bantul
Kapan kejadiannya
15/4/2009 artinya 15 April 2009
Siapa yang terlibat
Forum Warga Wonolelo
2.
Paparkan informasi dalam paragraf pertama dengan satu paragraf
lanjutan yang berupa kalimat pernyataan. Jangan lupa tuliskan
identitas narasumber berita dan atributnya, misalnya:
Petani lele di Desa Wonoleo selalu memanen kolamnya tiap
empat bulan. Menurut Muhidin (45), Ketua Forum Warga
Wonolelo, petani akan merugi bila lele dipanen terlalu lama
sebab harga jualnya lebih murah.
66
Muhidin (45)
Narasumber, umurnya 45 tahun
Atribut
Ketua Forum Warga Wonolelo
Buku Pewarta Warga
3.
Tulislah kutipan langsung dari narasumber yang ditemui pada
saat peliputan.
“Pembeli menyukai lele berukuran sedang, satu kilogram berisi 6-7 lele. Bila ukuran lele terlalu besar atau kecil harganya
jatuh,” ujarnya.
4. Lanjutkan tulisan dengan pemaparan lanjutan. Ingat, Anda tetap
harus memperhatikan isi teras berita. Misalnya, penjualan hasil
panen.
Pembeli lele yang dikembangbiakkan oleh Forum Warga
adalah pedagang di pasar kecamatan dan kabupaten. Warga
yang berdagang pecel lele kali lima di sepanjang jalan PleretWonolelo juga mengambil lele di kolam itu.
5.
Kutiplah pendapat narasumber lain untuk merincikan fakta
yang disampaikan narasumber pertama atau mencari pendapat
­bandingan sebagai unsur keberimbangan berita.
Hal senada disampaikan oleh Waginah (36), Pedagang ­Pecel
Lele Monggo Kerso di Jalan Pleret. Setiap dua hari sekali ia
membeli lele langsung dari kolam sebanyak 10 kilogram.
Selain karena lele yang dibelinya selalu segar, harga beli­
nya seperti harga lebih murah karena pemilik kolam masih
­tetangganya.
“Pembeli menyukai ukuran lele sedang karena rasa lele­
nya ­lebih enak. Saya juga lebih mudah menetapkan harga.
Pokoknya, ­harga pas dengan kantong pembeli,” ujar Waginah
seraya menebar s­ enyum.
67
6. Buatlah paragraf penutup yang berisi kesimpulan.
Usaha kolam lele yang dikembangkan Forum ­Warga ­Wonolelo
mampu menumbuhkan perekonomian warga setempat. Dari
penjualan hasil panen, setiap anggota mendapat hasil bagi
keuntungan sebesar 2,5 juta rupiah. Sisanya dipergunakan
­untuk pembelian benih, pakan ikan, perbaikan kolam, dan kas
­kelompok.
7.
Lalu buatlah judul yang tepat.
Lele Sumber Ekonomi Warga Wonolele
Untuk mengasah keterampilan
menulis Anda, usahakan setiap
hari Anda menulis satu berita.
Tak harus berita yang rumit,
peristiwa di sekitar Anda
jauh lebih baik
68
Buku Pewarta Warga
Lalu susunlah paragraf yang telah dibuat berdasarkan urutannya.
Maka akan jadi berita seperti berikut ini:
Lele Sumber Ekonomi Warga Wonolelo
Musim panen lele di Desa Wonolelo, Pleret, Bantul telah tiba
(15/4/2009). Lima kolam berukuran 5x10 meter yang dikelola Forum
Warga Wonolelo menghasilkan lima ton lele. Pemasukan yang di­
dapat mencapai 50 juta rupiah.
Petani lele di Desa Wonoleo selalu memanen kolamnya tiap empat
bulan. Menurut Muhidin (51), Ketua Forum Warga Wonolelo, petani
akan merugi bila lele dipanen terlalu lama sebab harga jualnya lebih
murah.
“Pembeli menyukai lele berukuran sedang, satu kilogram berisi 6-7
lele. Bila ukuran lele terlalu besar atau kecil harganya jatuh,” ujarnya.
Pembeli lele yang dikembangbiakan oleh Forum Warga adalah pe­
dagang di pasar kecamatan dan kabupaten. Warga yang berdagang
pecel lele kali lima di sepanjang jalan Pleret-Wonolelo juga meng­
ambil lele di kolam itu.
Hal senada disampaikan oleh Waginah (36), Pedagang Pecel Lele
Monggo Kerso di Jalan Pleret. Tiap dua hari sekali ia membeli lele
sebanyak 10 kilogram. Selain lele yang dibelinya selalu segar, harga
belinya seperti harga lebih murah.
“Pembeli menyukai ukuran lele sedang karena rasa lelenya lebih enak.
Saya juga lebih mudah menetapkan harga,” ujar Waginah.
Usaha kolam lele yang dikembangkan Forum ­Warga Wonolelo ­mampu
menumbuhkan perekonomian warga setempat. Dari penjualan hasil
panen, setiap anggota mendapat hasil bagi keuntungan sebesar 1,5
­juta rupiah. Sisanya dipergunakan untuk pembelian benih, pakan
ikan, perbaikan kolam, dan kas kelompok.
69
Berita Kisah
Berita kisah atau disebut sebagai karangan khas adalah jenis berita
yang digunakan untuk menulis suatu peristiwa yang menarik (ke­
konyolan (komedi), dramatis, kontroversial, tragis, atau unik (di luar
kebiasaan, atau jarang terjadi atau kuat nuansa sisi kemanusiaan. Sisi
kemanusiaan adalah sisi-sisi yang mengangkat suka-duka kehidupan
manusia. Misalnya, kisah seorang tukang becak yang berhasil men­
yekolahkan anaknya hingga menjadi dokter, kisah kehidupan buruh
gendong di pasar, seorang difabel yang mampu mencetak prestasi, dan
lain sebagainya.
Dalam jurnalistik, ketika pewarta meliput sebuah peristiwa besar, peristiwa yang penting biasanya ditulis dengan menggunakan bentuk berita
70
Buku Pewarta Warga
langsung. Sedang peristiwa yang menarik atau kuat ­dengan sisi ke­
manusiaannya digarap dengan menggunakan berita kisah. Misalnya,
saat terjadi bencana tsunami di Aceh beberapa tahun ­silam. Bagaimana
bencana itu terjadi, dampaknya terhadap kota Aceh, ­jumlah korban
manusia, bagaimana pemerintah melakukan pertolong­an dan lain
sebagainya ditulis dalam bentuk berita langsung. Namun sisi yang
menarik (berita sampiran), misalnya kisah seorang bayi umur satu
tahun yang selamat atau kisah seorang ibu yang mampu berjuang
dan selamat ditulis dengan menggunakan berita kisah.
Tetapi berita kisah juga bisa berdiri sendiri, tanpa terkait dengan ­berita
besar. Biasanya digunakan untuk menceritakan berita-berita menarik
yang kurang bagus jika ditulis dalam format berita ­langsung. Berita
langsung kurang bisa memberikan sentuhan emosional. Karena itu
ada macam-macam berita kisah, seperti berita kisah kisah perjalan­an,
kuliner, ilmu pengetahuan, profil, seni dan lain sebagainya.
Untuk membuat berita kisah, pewarta juga harus membuat liputan
yang mendalam (lengkap) pula. Tanpa liputan yang mendalam, berita
yang dihasilkan akan kurang berbobot.
Cara membuat berita kisah memang berbeda dari berita langsung,
karena berita kisah tidak menggunakan metode piramida terbalik.
Kisah mempunyai pola penulisan yang ‘lurus’, tidak ada yang lebih
dipentingkan seperti dalam berita langsung. Semua bagian dalam
­berita kisah sama pentingnya. Itu sebabnya menyunting berita kisah
jadi lebih sulit dari berita langsung.
Gaya tulisan dalam berita kisah juga tidak kaku seperti dalam berita
langsung. Kita masih bisa menggunakan gaya sastrawi, tetapi tidak
boleh berlebihan karena berita kisah tetap karya jurnalistik. Pewarta
harus menggunakan kata-kata yang mempunyai satu makna.
Satu hal yang juga harus diperhatikan adalah, ketika pewarta media
cetak dan online membuat berita kisah, sebisa mungkin didukung
dengan ilustrasi foto yang menarik. Tentu foto ini berkaitan dengan
peristiwa yang kita tulis. Bagi media televisi tentu harus didukung
dengan gambar bergerak yang dramatis pula. Sedangkan untuk radio,
harus ada suara yang mendukung.
Dibandingkan dengan berita langsung, berita kisah lebih awet. Ia
tidak tergantung dengan aktualitas. Jika berita berita langsung harus
71
segera diberitakan, berita kisah tidak demikian. Hari ini seorang pe­
warta membuat berita kisah dan dimuat satu minggu kemudian pun
tidak masalah.
Lantas apa fungsi dari berita kisah?. Berita Kisah dapat menjadi sumber
mata air di gurun (oasis) bagi audien ketika mereka lelah meng­ikuti
berita-berita yang berat. Di situlah, pembaca melakukan ‘relaksasi’
dengan mengonsumsi berita yang mungkin unik, menggelikan dan
menghibur.
Kedua, berita kisah juga bisa menjadi ‘ganjal’. Ketika seorang redaktur
tidak bisa menurunkan banyak berita berita langsung, berita kisah bisa
menjadi ‘ganjal’ untuk memenuhi halaman atau menghabiskan durasi
(untuk media elektronik). Karena itu, redaktur harus bisa menyimpan
banyak berita kisah yang dapat diturunkan sewaktu-waktu saat berita
berita langsung kering.
Ketiga, berita kisah berfungsi untuk menghibur. Misalnya berita kisah
yang mengulas peristiwa seni-budaya, kisah perjalanan, dan peristiwa
yang unik (temuan buaya raksasa, anak yang gemar makan sabun,
­manusia bertubuh tinggi dan lain-lain)
Keempat, berfungsi menyentuh emosi pembaca. Kisah ini mengangkat
soal penderitaan rakyat miskin, seperti kehidupan manusia gerobak di
Jakarta. Harapannya pembaca juga ikut merasakan atau memberikan
empati kepada rakyat miskin.
Kelima, berfungsi memberi inspirasi. Kisah tentang profil seorang
penyelamat lingkungan hidup (mereka yang mau menyelamatkan
­lahan kritis dengan penghijauan) dapat memberikan inspirasi kepada
masyarakat untuk melakukan hal serupa. Paling tidak, semangatnya
untuk menyelamatkan lingkungan dapat menjadi contoh bagi publik.
Keenam, memberi pengetahuan baru. Kisah tentang temuan ilmiah
yang baru seperti penemuan planet baru, atau obat-obatan herbal yang
dapat menyehatkan tubuh dapat menjadi sarana edukasi (tambahan
pengetahuan) bagi masyarakat.
Melihat pelbagai fungsi di atas, peranan berita kisah memang tidak
dapat disepelekan. Dalam pelbagai ajang penghargaan jurnalistik,
­kategori berita kisah hampir dipastikan selalu ada.
72
Buku Pewarta Warga
Berikut ini adalah salah satu contoh berita kisah kuliner yang bercerita soal ‘eksotiknya’ minuman tradisional yang bernama wedang
uwuh atau minuman sampah.
Nikmatnya Wedang Uwuh
Pernah lihat wedang uwuh? Konon, wedang uwuh
merupakan minuman khas raja-raja Mataram yang terkenal
di Imogiri. Di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul wedang
uwuh juga sangat populer. Apabila Anda berkunjung ke sana
akan menemukan penjual-penjual wedang uwuh yang me­
nawarkan dagangannya.
Minuman ini terbuat dari bahan-bahan yang diambil dari
alam, yaitu daun manis jangan, jahe, kayu secang, gula batu, dan lain-lain. Minuman ini tak jauh beda dengan wedang
jahe, berwarna merah, mempunyai harum yang khas (pedas,
agak menthol).
Orang-orang yang telah meminum wedang ini mengatakan
kalau minuman ini banyak manfaatnya, dapat menghilangkan rasa dingin, pusing, mual, bahkan ketika sedang meriang.
Cara pembuatannya sangat mudah. Tinggal masukkan bahanbahan wedang uwuh pada air mendidih, berikan gula batu
sesuai selera untuk mendapatkan rasa manis yang disukai.
Minum kala hangat. Segar.
Berita mendalam
Berita mendalam atau indepth reporting adalah berita yang
membahas suatu persoalan dengan tuntas dan komprehensif, mulai
A sampai Z. Temanya bisa bermacam-macam, biasanya adalah persoalan yang sudah diketahui masyarakat. Hanya saja dalam laporan
mendalam ini, pewarta melaporkan peristiwa atau fenomena saat ada
perkembangan baru atau memberikan perspektif baru. Sesuai dengan
namanya, laporan berita ini tentu saja panjang.
73
Untuk membuatnya, perlu ada garis besar liputan yang jelas dan rinci.
Selanjutnya ditindaklanjuti dengan melakukan liputan mendalam di
lapangan. Selain itu juga dilengkapi dengan penelitian dokumen yang
cukup serius. Untuk menghasilkan liputan yang mendalam, tentu
membutuhkan waktu liputan yang panjang. Bisa satu minggu atau
bahkan sampai hitungan bulan.
Liputan ini bisa dilakukan sendiri tetapi juga bisa dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari beberapa pewarta. Jika dilakukan sendiri,
tentu membutuhkan waktu yang lama dan energi yang lebih besar.
Semuanya dilakukan sendiri.
Namun jika dilakukan oleh tim, ada pembagian tugas, siapa meliput
apa. Masing-masing pewarta memegang garis besar agar liputannya
tidak meleset dari arah yang sudah ditentukan. Selanjutnya masingmasing pewarta menyerahkan tulisan kepada redaktur (tim penulis)
yang kemudian akan menggabungkan tulisan-tulisan itu menjadi sebuah tulisan panjang.
Berita mendalam dapat dibuat dengan mengunakan bentuk berita
langsung atau berita kisah. Namun biasanya menggunakan bentuk
berita kisah. Jika majalah, biasanya akan memakan beberapa lembar,
sementara harian akan membutuhkan satu hingga dua halaman. Tetapi
bisa juga dibuat berita bersambung selama beberapa hari, ini biasanya
dinamakan berita bersambung (running news).
Berita investigasi
Berita investigasi adalah berita yang mencoba
mengungkap suatu kasus yang merugikan
publik ­secara tuntas. Masyarakat atau publik
­biasanya belum tahu soal kasus-kasus yang
diungkap dalam berita investigasi ini. Publik
baru tahu kasus itu setelah dimuat di media
massa. Inilah yang membedakannya dari berita
mendalam.
Dalam laporan investigasi itu, pe­warta­—mencoba­—mengungkapkan
­secara jelas dan gamblang gambaran dari suatu kasus. Siapa saja pelakunya, bagiamana mereka melakukannya, apa alasannya dan apa dampak
74
Buku Pewarta Warga
negatifnya terhadap publik. Ada sebagian ahli jurnalistik mengatakan
berita investigasi lebih menekankan kepada unsur how (bagaimana)
dan why (mengapa) dari suatu peristiwa yang terjadi.
Bagaimana pewarta membuat ­investigasi?
Ide membuat investigasi awalnya bisa ­berasal
dari secuil informasi yang bisa datang dari
­mana saja. Tetapi bisa juga pewartanya ­sendiri
yang melihat peristiwa itu dan kemudian
mengembangkannya.
Setelah mendapat secuil informasi itu atau melihat suatu peristiwa,
ada penilaian apakah hal tersebut layak untuk diinvestigasi. Biasanya
yang dilakukan adalah melakukan penjajagan awal dengan mengumpulkan pelbagai informasi dan mencari data-data di lapangan.
Dari sinilah ditentukan apakah investigasi layak dilakukan atau tidak.
Bila keputusannya adalah layak, ­maka investigasi bisa segera dilakukan. Seperti dalam liputan mendalam, ­investigasi dapat dilakukan sendiri atau dengan tim. Jika sendiri maka memerlukan ­waktu
yang lama dan menguras tenaga. Bila dilakukan oleh tim, maka
pelaksanaan­nya lebih s­ ingkat karena ada pembagian tugas.
Sebelum turun ke lapangan, buatlah peneliti­
an yang mendalam dan kumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya. Hasilnya dapat digunakan
untuk membuat garis besar liputan.
Bila garis besar sudah jadi dan ada di tangan
para pewarta, mulai liputan di lapangan. Buat
observasi yang ­cermat di tempat kejadian.
Wawancara sebanyak mungkin orang yang tahu soal peristiwa yang
diinvestigasi itu, temui orang-orang yang terlibat. Kumpulkan faktafakta di lapangan sebanyak mungkin. Dalam inves­tigasi, yang paling
penting adalah menemukan fakta sebanyak mungkin.
75
Agar kuat, dukung dengan penelitian ­dokumen
(paper trail) yang mendalam. Jangan lupa,
perkuat liputan dengan potret atau rekaman
video agar lebih meyakinkan. Liputan akan
­lebih menarik jika beritanya juga dihiasi dengan
­gambar-gambar yang mendukung.
Mengingat investigasi adalah sebuah pe­kerjaan
yang serius dan sulit, proses ini dapat ber­
langsung lama. Proses ini bisa menjadi lama, ketika pewarta kesulitan
menemukan fakta-fakta yang mendukung dugaan bahwa sesuatu yang
tidak beres sudah terjadi. Bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.
Hasilnya dapat menjadi sebuah buku.
Bila semua bahan sudah ditulis, berikan kepada tim penulis untuk memasak dan menulisnya agar menjadi liputan investigasi yang enak
dibaca. Bila liputan sudah jadi, cek apakah seluruh berita sudah memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik dan tidak ada pasal dalam kode etik
jurnalistik yang dilanggar.
Sebelum dimuat ke media ­massa, konsul­tasikan
kepada ahli ­
hukum untuk melihat apakah
­berita ini ­dapat menimbulkan gugatan ­hukum.
Ini penting karena ­fenomena ­kriminalisasi pers
masih sering ­terjadi di Indonesia. Jika tidak ada
masalah, baru kemudian diterbitkan. Tetapi
ingat, simpan semua catatan, rekaman dan
­
pelbagai dokumen yang mendukung, sebagai
­langkah jaga-jaga jika ada gugatan dari pihak-pihak yang tidak senang
atau merasa dirugikan dari berita i­nvestigasi ini.
76
Buku Pewarta Warga
77
7
Foto
Jurnalistik
Dunia jurnalistik tidak bisa lepas dari kegiatan fotografi. ­Gambar
suatu peristiwa di media massa terbukti juga mampu memberikan
informasi dan bahkan terkadang ‘lebih dalam’ dari teks berita. Selain
itu gambar juga membuat suatu berita menjadi lebih menarik untuk disimak. Di era saat ini, bayangkanlah, suatu koran atau majalah
tanpa ada ilustrasi gambarnya, tentu sangat tidak menarik.
Dalam dunia jurnalistik, muncul istilah jurnalisme foto, yaitu ­bentuk
khusus dari jurnalisme yang mengabarkan suatu peristiwa me­lalui
gambar atau foto. Biasanya yang dimaksud adalah gambar tidak
bergerak tetapi terkadang juga menunjuk kepada rekaman video
dalam dunia penyiaran. Selanjutnya pewarta yang bertugas mencari
foto peristiwa untuk dimuat di media massa namanya pewarta foto
atau jurnalis foto. Sedangkan karyanya dinamakan foto jurnalistik.
Setiap media massa biasanya memiliki seorang pewarta foto yang
­tugasnya memburu gambar dari peristiwa faktual yang terjadi.
79
Namun setiap pewarta sebaiknya dapat membuat karya foto ­jurnalistik.
Apalagi dalam era multimedia yang berkembang pesat saat ini di ­mana
pe­warta dapat menyebarkan gambar peristiwa baik gambar tidak
bergerak maupun yang bergerak (video) melalui dunia maya.
Sekali lagi, foto jurnalistik adalah suatu gambar yang ‘mengawetkan’ suatu peristiwa. Melalui gambar itu, masyarakat dapat mengetahui ­suatu peristiwa yang terjadi. Karena itu, sebuah karya foto
­jurnalistik juga harus memenuhi unsur berita (5W + 1H) dan nilai ­berita
(Konsekwensi, besaran, kedekatan, menyangkut orang penting, sisi kemanusiaan dan kebaruan).
Tentu saja, sebuah gambar (apalagi gambar yang tidak bergerak) tidak
dapat menjelaskan semua unsur berita dan nilai berita itu). Misalnya
sebuah gambar ketika Satpol PP menggusur para pedagang kecil yang
berjualan di pinggir jalan. Gambar peristiwa itu tentu saja tidak dapat
menjelaskan apa alasan Satpol PP menggusur (unsur mengapa) dan
kapan peristiwa itu terjadi (kebaruan).
Untuk melengkapi itu, foto jurnalistik harus diikuti dengan keterangan
foto (caption). Sedangkan untuk gambar bergerak (video) biasanya selalu diikuti dengan narasi. Keterangan foto adalah keterangan yang
menjelaskan secara singkat aspek unsur dan nilai berita dari peristiwa
yang dipotret.
Dalam sebuah diskusi di Bentara Budaya Yogyakarta, Julian Sihombing,
seorang pewarta foto senior dari Kompas menggarisbawahi betapa
pentingnya keterangan foto bagi sebuah foto jurnalistik. Bahkan ia mengatakan tanpa keterangan foto, sebuah foto jurnalistik bisa jadi tidak
mengabarkan apa-apa. Untuk mendapatkan caption, seorang pewarta
foto harus mengikuti peristiwa yang diabadikannya dan sedikit me­
lakukan penelitian untuk mendapatkan fakta psikologis menyangkut
soal mengapa.
80
Buku Pewarta Warga
Belajar Foto Jurnalistik
Meskipun sekadar memencet tombol ­shutter pada sebuah kamera,
pengalaman membuktikan membuat foto jurnalistik yang bisa ‘berbicara’ itu sungguh bukan suatu pekerjaan yang mudah. Sebuah foto
­jurnalistik yang bagus jelas tidak bisa dihasilkan dengan asal jepret
saja. Perlu belajar yang tekun dan melalui proses yang panjang untuk
menghasilkan karya foto jurnal­istik yang bermutu.
Apa yang harus dilakukan?
1.
‘Senjata’ utama dari pewarta foto, tentu saja adalah kamera.
Dengan demikian seorang pewarta harus bisa mengoperasikan kamera dengan benar. Kenali dengan benar segala fiturfitur yang ada dalam kamera. Saat ini kamera digital ­begitu
canggih, ia menyediakan pelbagai cara untuk me­motret
dalam pelbagai situasi, seperti memotret di malam hari,
siang hari, landscape, potret diri dan sebagainya. Bagaimana­
caranya, seorang kawan fotografer dari Pilipina, Charlie
Saceda memberikan resep sederhana: baca dan pelajari buku
manual dari kamera yang akan Anda operasikan. Setelah itu,
praktekkan!
2.
Pelajari buku atau bisa bertanya kepada ahlinya, bagaimana
cara memotret yang benar. Anda harus paham soal pen­
cahayaan (karena ada yang bilang memotret itu ibarat melukis dengan menggunakan cahaya), fokus, asa, bukaan rana,
pilih­an jenis lensa dan sebagainya.
3.
Pelajari pula pelbagai buku yang memberikan panduan
bagaimana cara membuat foto jurnalistik yang bagus benar.
Jangan lupa simak pula kode etik yang berlaku dalam dunia
jurnalisme foto.
4. Selanjutnya, lihatlah foto-foto jurnalistik dengan pel­bagai
­objek peristiwa yang terpampang di media massa. ­Lihat
karya dari pewarta foto yang terkenal, misalnya Agus
­
­Susanto (Kompas), Arie Basuki (Tempo) dan yang dari luar
negeri, James Nachway. Kenali ciri-cirinya. Cobalah untuk
praktek dengan membuat karya foto jurnalistik sendiri.
81
5.
Evaluasi karya Anda, bawa hasil foto Anda kepada orang yang
ahli soal foto jurnalistik. Mintalah saran-saran bagaimana
cara membuat foto jurnalistik yang bagus. Setiap jurnalis foto
memunyai pengalaman sendiri-sendiri. Semakin sering Anda
belajar kepada banyak pewarta foto, Anda akan mendapat semakin banyak pelajaran.
6. Seorang pewarta foto, tidak cukup hanya terampil meng­
gunakan kamera saja. Ia juga harus mempunyai wawasan luas
tentang pelbagai persoalan, utamanya persoalan sosial. Pen­
getahuan ini akan menuntun sang pewarta foto dalam melihat
realitas sosial sehingga mampu menghasilkan gambar-­gambar
yang memenuhi kaidah jurnalistik dan berguna bagi p
­ ublik.
Beberapa Langkah Membuat
Foto Jurnalistik
Membuat sebuah karya foto jurnalistik yang bagus juga memerlukan
persiapan yang matang. Untuk sebuah liputan panjang, bahkan perlu
ada penelitian yang mendalam sehingga pewarta foto dapat membidik
peristiwa-peristiwa yang diinginkan dengan tepat. Berikut ini adalah
tip sederhana untuk membuat karya foto jurnalistik.
Pertama, siapkan kamera, pastikan masih berfungsi dengan baik.
Periksa batereinya apakah masih
penuh atau tidak. Bila menggunakan
­kamera manual, pastika Anda membawa per­sediaan film yang cukup.
Namun jika menggunakan kamera
digital, ­periksa apakah kartu memorinya penuh atau tidak. Lebih baik
kosongkan kartu memori sehingga
dapat menyimpan gambar sebanyak mungkin. Jika memungkinkan,
bawa komputer ­jinjing beserta pembaca kartu sehingga Anda dapat
me­mindahkan gambar sesndainya kartu memori dalam kamera penuh.
82
Buku Pewarta Warga
kedua, segera datang di tempat
­peristiwa seawal mungkin sebab
kita tidak tahu kapan momen
­bagus yang kuat secara jurnalistik
akan muncul.
Ikuti seluruh peristiwa dengan
cermat, dengan kamera siap di
tangan. Begitu ­
muncul ­
peristiwa
yang menarik, segera ambil
­gambarnya.
Misalnya
dalam
­peris­­tiwa kebakaran, ambil gambar ketika para petugas pemadam
kebakaran sedang menyelamatkan warga yang terjebak kobaran api,
tapi jangan sampai mengganggu kerja para penyelamat itu.
Usahakan untuk mengambil momen yang dapat bercerita atau
­gambar yang hidup. Misalnya, saat memotret demonstasi, ambil
gambar demonstran yang tengah berteriak dengan ekpresi muka
yang kuat. Jika memotret, muka seseorang jangan saat ia diam, tapi
­ambilah saat ia tersenyum, berbicara atau momen apapun yang jelas
ada ekspresi di mukanya.
Ketiga, saat berada di lapangan, ­ambil
foto sebanyak-banyaknya ­dengan
pelbagai tema. Ketika memotret sebuah momen, ambil pula se­banyakbanyaknya, jangan ‘pelit’ dengan
hanya mengambil satu kali saja. Dari
­sekian banyak foto itu, nanti Anda
bisa memilih salah satu foto terbaik
untuk ditampilkan.
Buat gambar yang bagus secara teknis (tidak blur, fokus pada ­peristiwa
yang akan ditonjolkan, pencahayaan yang pas dan ­komposisinya yang
tepat).
Ikuti kode etik jurnalistik, utamanya dalam hal jurnalisme foto.
Misalnya, pewarta foto dilarang mengarahkan gaya atau mengatur
objek peristiwa yang akan difoto. Pewarta foto juga tidak boleh mengolah hasil fotonya secara berlebihan.
83
Nilai Foto Jurnalistik
Untuk menilai sebuah hasil foto jurnalistik dapat dilihat dari kuat atau
lemahnya sosok penampilan foto berita, seperti:
1.
Kebaruan. Sesuai dengan nilai berita, peristiwanya harus baru.
Betapa suksesnya pengambilan sebuah foto bila tidak cepat
dipublikasikan, nilai berita foto makin melemah.
2.
Faktual. Subyek foto tidak dibuat-buat atau dalam pen­gertian
diatur sedemikian rupa. Rekaman peristiwa terjadi spontan
sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya, karena ini
berkaitan dengan suatu kejujuran.
3.
Informatif. Foto mampu tampil dan menyampaikan pesan
­(informasi) dengan jelas kepada publik.
4. Aktraktif. Menyangkut sosok grafis foto itu sendiri yang
mampu tampil secara menggigit atau mencekam, baik karena
komposisi garis atau warna yang begitu terampil maupun
­ekspresif dari subjek utamanya yang amat dramatis.
84
Buku Pewarta Warga
8
Penyuntingan
Penyuntingan berasal dari kata dasar
sunting. Kata sunting melahir­kan bentuk turunan: ­menyunting (kata kerja),
penyunting (kata ­benda), dan penyuntingan (kata benda). Menyunting berarti
men­yiapkan naskah (berita) agar siap
diterbitkan dengan memperhatikan sisi
­sistematika penyajian, isi, dan bahasa
(menyangkut ejaan, diksi, dan ­struktur
kalimat).
Orang yang melakukan pekerjaan menyunting disebut penyunting atau dalam
bahasa Inggris dikenal dengan editor.
Penyunting, tentu saja adalah orang yang paham dengan tata-bahasa
dan teknis penulisan berita. Sebagian besar kerja penyunting adalah
membaca naskah sembari memperbaiki pelbagai kesalah­an penulisan.
Proses ini bisa dilakukan penulis terhadap tulisannya sendiri atau penyunting terhadap tulisan orang lain.
Terkadang pewarta pemula sering menyepelekan proses pen­yuntingan.
Mereka sering mengirim tulisan yang masih mentah. Belum dicek
soal ketepatan kata, tanda baca, pemenggalan kalimat, dan lain-lain.
Ini tentu tidak benar. Bahkan ada pewarta Suara Komunitas yang beranggapan penyuntingan adalah tugas dari tim penyunting. Pendapat
ini ada benarnya, tapi apabila pewarta terbiasa menyunting tulisannya sendiri, maka dia akan terhindar dari kesalahan-kesalahan penulisan kecil. Ia juga dapat merasakan apakah tulisannya sudah layak
dan enak dibaca atau belum.
Jika pewarta sudah melakukan penyuntingan terhadap tulisannya
dan selanjutnya disunting lagi oleh penyunting, maka kemungkinan
kesalahan tulisan akan makin kecil. Sebab ada dua kali proses kontrol.
Ini bagus karena faktor layak dipercaya karya jurnalistik juga dilihat
dari tulisannya, apakah sudah sesuai dengan kaidah tata-­bahasa atau
belum. Jika sudah benar tata-bahasanya maka layak di­percayanya
makin tinggi, tetapi jika banyak kesalahan maka layak dipercayanya
­makin rendah.
87
Secara garis besar kegiatan penyuntingan meliputi:
1.
Memperbaiki kesalahan tata-bahasa.
2.
Membuat tulisan menjadi fokus pada persoalan yang dikupas.
3.
Mengatur alur cerita agar logis.
4. Membuat tulisan agar enak dan ‘renyah’ dibaca.
5.
Menyesuaikan gaya bahasa.
6. Membuat kalimat yang efektif.
7.
Melengkapi tulisan dengan anak kalimat atau subjudul.
8. Memperbaiki judul supaya menarik.
9. Menulis keterangan gambar yang terkait dengan tulisan yang
disunting.
10. Menelaah kembali hasil tulisan, mungkin masih terdapat
­ke­salahan redaksional atau substansial.
Struktur tulisan
Melakukan proses pengeditan hanya bisa dilakukan jika kita tahu apa
dan bagaimana tulisan itu. Tulisan adalah hasil dari suatu kegiatan
yang bernama menulis. Menulis berarti memindahkan ide-ide (hasil
reportase yang mengendap di dalam otak kita) ke dalam bahasa tulisan
atau teks. Bagian dari suatu tulisan adalah kata, kalimat dan alinea.
Bagian terkecil dari suatu tulisan adalah kata. Kata mewakili suatu
konsep tentang suatu hal yang sudah disepakati bersama. Misalnya:
rumah. Rumah adalah sebuah kata untuk menunjuk suatu bangunan
di mana suatu keluarga tinggal.
88
Buku Pewarta Warga
Selanjutnya, beberapa kata dirangkai dan membentuk sebuah kalimat.
Misalnya:
Bapak membangun sebuah rumah.
Setiap kalimat menunjukkan sebuah ide. Beberapa kalimat dirangkai
membentuk sebuah alinea. Beberapa kalimat ini saling mendukung
dan berkaitan sehingga membentuk sebuah ide yang lebih besar.
Misalnya:
Bapak membangun sebuah rumah. Rumah itu terletak di
pinggir sungai. Pintunya bercat merah sedangkan dindingnya
berwarna biru. Di sebelahnya, tumbuh pohon beringin besar.
Ide dari alinea ini adalah untuk menggambarkan rumah yang di­
bangun bapak.
Berikutnya, ketika beberapa alinea digabung menjadi satu, ter­
bentuklah sebuah tulisan yang utuh. Sebuah tulisan yang menceritakan suatu ide “besar”. Maksudnya, ide besar ini dibagun dari ide-ide
kecil yang tergambar dalam setiap kalimat dan alinea. Masing-masing
saling mendukung sehingga terciptalah sebuah tulisan utuh.
Misalnya:
Bapak membangun sebuah rumah. Rumah itu terletak di
pinggir sungai. Pintunya bercat merah sedangkan ­dindingnya
berwarna biru. Di sebelahnya, tumbuh pohon beringin besar.
Bila angin bertiup, udara segar akan memenuhi seluruh
­ruangan rumah itu. Hal ini membuat kita nyaman tinggal
di dalam rumah itu, apalagi ketika udara terasa panas. Suara
gemericik air sungai yang mengalir di depan rumah adalah
orkestra alam yang menyejukan hati.
Tak heran jika banyak kawan bapak yang suka berkunjung ke
rumah ini. Selain dapat istirahat, mereka biasanya juga suka
mancing ikan di depan rumah sambil berbincang-bincang
dengan bapak. “Rumah ini sungguh nyaman,” begitu kawankawan bapak selalu memberikan kesannya.
89
Nah, ide satu tulisan pendek di atas adalah soal rumah bapak yang
nyaman. Setiap alinea saling berkaitan dan membangun satu fokus
tulisan.
Kata
•
Gunakanlah kata yang mempunyai satu arti (denotatif). Misalnya:
rumah, pohon, mandi. Bukan kata yang mempunyai banyak arti.
•
Sebisa mungkin gunakan kata-kata dalam bahasa Indonesia.
•
Gunakan prinsip ekonomi kata, jangan menggunakan kata-kata
yang tidak perlu.
Kalimat
•
Sebisa mungkin gunakanlah kalimat aktif, yaitu kalimat yang
kata kerjanya berawalan me atau sama sekali tidak berawalan.
Mengapa? Kalimat aktif lebih memberi kesan tegas dalam pen­
yampaian suatu pesan. Misalnya: Bapak memotong ayam.
•
Kalimat pasif, biasanya digunakan untuk menunjukkan pen­
deritaan seseorang. Ciri kalimat pasif adalah predikatnya berawal­
an di. Misalnya: Pemuda itu dipukuli massa hingga luka parah.
•
Gunakan kalimat yang efektif, yaitu kalimat yang terdiri dari
Subjek + Predikat + Objek + Keterangan waktu dan Keterangan
tempat. Keterangan waktu dan tempat bisa juga diletakkan di
depan. Selain itu keterangan waktu dan tempat bisa diletakkan
terpisah dan masing-masing bisa ditempatkan di awal atau akhir
kalimat.
•
Gunakan kalimat yang pendek dan jangan terlalu panjang (banyak menggunakan anak kalimat). Kalimat yang panjang cenderung
mengaburkan pesan yang kita sampaikan. Misalnya. Rumah bapak
tepat berada di pinggir sungai. Versi panjang karena diberi anak
kalimat: Rumah bapak yang berdaun pintu merah dan berdinding biru
itu tepat berada di pinggir sungai. Untuk mengecek apakah sebuah
kalimat terlalu panjang atau tidak, adalah jika selesai me­nulis satu
kalimat bacalah, jika sampai belum selesai Anda sudah menarik
napas, maka itu tAndanya kalimat yang Anda buat terlalu panjang.
90
Buku Pewarta Warga
Alinea
•
Setiap alinea harus mendukung satu ide. Alinea selanjutnya
harus menceritakan ide lain yang menjelaskan aline sebelumnya,
­begitulah seterusnya hingga sampai akhir.
•
Setiap alinea jangan terlalu panjang, paling tidak terdiri 4 hingga
5 kalimat.
•
Jumlah alinea tidak terbatas, tetapi cobalah untuk menulis se­
singkat mungkin (keep it short and simple) tetapi jelas dan seluruh
hasil liputan kita di lapangan (poin-poin penting) masuk dalam
tulisan.
Bahasa Jurnalistik
Ciri bahasa jurnalistik adalah hemat, ringkas, jelas, dan langsung
ke persoalan. Ini sesuai dengan prinsip penyampaian pesan se­cepat
mungkin. Penggunaan bahasa yang bertele-tele harus dihindari
­karena cenderung membuat pembaca berpikir keras untuk mengerti
pesan yang kita sampaikan.
Rujukan pewarta Suara Komunitas adalah pedoman bahasa yang
diterbitkan oleh Pusat Bahasa Nasional, Departemen Pendidikan
Nasional. Secara umum, bahasa jurnalistik memiliki sifat khas, antara
lain:
1.
Singkat. Bahasa jurnalistik menghindari penjelasan yang
­panjang dan bertele-tele.
2.
Padat. Bahasa jurnalistik yang singkat mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Buanglah kata-kata mubazir dan
terapkan ekonomi kata.
3.
Sederhana. Memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan
kalimat majemuk yang panjang, rumit. Kalimat yang efektif,
praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan
pengungkapannya.
91
4. Lugas. Bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian
atau makna informasi secara langsung dengan menghindari
bahasa yang berbunga-bunga.
5.
Menarik. Penggunakan pilihan kata yang masih hidup,
­tumbuh, dan berkembang. Hindari kata-kata yang sudah mati.
Meskipun memiliki ciri-ciri seperti di atas, cara para pewarta warga
menulis harus sesuai aturan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD). Maka dari itu, pewarta warga harus belajar soal EYD ini.
Tidak ada toleransi dalam soal ini. Pewarta warga harus tahu kapan
menggunakan huruf besar, koma, titik, tanda tanya, kata-kata yang
baku, kalimat yang benar dan lain sebagainya.
Ekonomi Kata
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagas­
an pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula
(Sugono, 2003:91-92). Lawan kata efektif adalah pemborosan atau
menghambur-hamburkan kata. Pemborosan kata tak menyebabkan
pelakunya menjadi miskin, tapi tulisan menjadi susah dipahami. Katakata yang tidak perlu sebaiknya dihilangkan agar kalimat yang Anda
buat menjadi k
­ alimat efektif.
Bagaimanakah cara mengetahui tulisan kita mengandung pemborosan
atau tidak? Cara pertama, setiap kalimat minimal terdiri dari subjek
dan predikat. Banyak pewarta pemula yang menulis kalimat tanpa
­subjek, berpredikat gAnda, dan menggunakan kata-kata yang tidak
perlu. Misalnya:
Saya mencoba mengharapkan kehadiran teman lama saat ini.
Bandingkan dengan:
Saat ini, saya berharap kehadiran teman lama.
Cara kedua, periksa jumlah kata di setiap kalimat. Apabila jumlah
kata yang digunakan lebih dari 12 kata, maka Anda telah menggunakan ­kalimat yang rumit. Kalimat rumit biasanya terdiri lebih dari satu
92
Buku Pewarta Warga
kalimat. Maka periksalah, apakah susunan induk kalimat dan anak
kalimat sudah benar.
Cara ketiga, periksalah tulisan Anda, apakah masih mengandung kata
atau frase boros. Berikut adalah daftar kata atau frase yang sering
dipakai tidak hemat tetapi banyak dijumpai penggunaannya.
Boros
Hemat
sejak dari
sejak atau dari
agar supaya
agar atau supaya
demi untuk
demi atau untuk
adalah merupakan adalah atau merupakan
seperti ... dan sebagai­nya seperti atau dan sebagainya
misalnya ... dan lain-lain misalnya atau dan lain-lain
antara lain ... dan seterusnya antara lain atau dan seterusnya
tujuan daripada
tujuan tanpa daripada
mendeskripsikan tentang
mendeskripsikan (tanpa tentang)
pelbagai faktor-faktor
pelbagai faktor
daftar nama-nama
daftar nama
mengadakan penelitian
meneliti
dalam rangka untuk
untuk (tanpa dalam rangka)
berikhtiar dan berusaha
untuk memberikan
­pengawasan
berusaha mengawasi
mempunyai pendapat
berpendapat
melakukan pemeriksaan
memeriksa
menyatakan persetujuan
menyetujui
apabila ..., maka
Apabila ..., tanpa kata penghubung
Walaupun ..., namun
Walaupun ..., tanpa kata namun
93
Berdasarkan ..., maka
Berdasarkan ..., tanpa maka
Karena ... sehingga
Karena ... tanpa sehingga, atau
sehingga tanpa karena ...
Namun demikian,
Namun, tanpa demikian
Walaupun demikian
sangat ... sekali
Sangat tanpa sekali, atau sekali
tanpa sangat
atau
Bahasa Baku dan Tidak Baku
Pewarta Suara Komunitas Bahasa menggunakan bahasa baku seperti
diatur dalam Pedoman Penggunaan Bahasa Indonesia. Para pewarta
ketika menulis berita sering menjumpai istilah asing. Berkaitan ­dengan
kata dan istilah asing sebaiknya pewarta menggunakan metode se­
bagai berikut:
1.
Mencari kata umum dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu
2.
Kalau tidak ada, cari kata itu dalam bahasa daerah
3.
Kalau masih tidak berhasil, lakukan alihbahasa, misalnya
white collar menjadi kejahatan kerah putih,
4. Kalau ini juga gagal, baru memakai bahasa asing. Bila perlu,
kata pinjaman ini dimodifikasi ejaan maupun lafadnya.
Maraknya penggunaan bahasa asing dalam komunikasi menyebabkan
banyak kata dalam bahasa Indonesia yang tidak digunakan. Warga
­lebih memilih kata dari bahasa asing, baik secara langsung ataupun
dalam bentuk serapan. Salah satu tujuan jurnalisme warga adalah
mengembalikan kata-kata yang jarang digunakan agar kosakata ter­
sebut tidak hilang dari pengetahuan generasi yang akan datang. Berikut
ini ­contoh kosakata yang jarang digunakan akibat tergantikan dengan
kata serapan.
94
Buku Pewarta Warga
Tidak disarankan Disarankan
aksi tindakan
akuntabilitas tanggung gugat
argumen alasan, bukti
aktivitas
kegiatan
badminton
bulutangkis
contreng
centang
good governance
Tata kelola yang baik
keyboard
papan ketik
klasifikasi
pengelompokan
kontinyu
berkelanjutan
kultur
budaya
list
daftar
mouse
tetikus
download
unduh
notes
catatan
notebook, laptop
komputer jinjing
partner
mitra
observasi
pengamatan
realitas
kenyataan
riset
penelitian
training
pelatihan
upload
unggah
analogi
kiasan
anarki
kekacauan
95
antisipasi
perhitungan ke depan
antipati
rasa benci
biblografi
daftar pustaka
biodata
riwayat hidup singkat
definisi
batasan, pengertian
depresi
kemunduran
diskriminasi
pembedaan perlakukan
figur
bentuk, wujud
filial
cabang
filter
saringan
finis, final
akhir
formasi
susunan
format
ukuran
fragmen
penggalan
friksi
bagian, pecahan
frustasi
rasa kecewa
introduksi
pendahuluan
kapitulasi
penyerahan
konklusi
kesimpulan
konservatif
kolot
konsesi
izin
kontemporer
masa kini, mutakhir
kontradiksi
pertentangan
96
Buku Pewarta Warga
Selain itu biasakan menggunakan kata baku dalam ­Bahasa Indonesia
sehingga pesan yang Anda sampaikan lebih gamblang. Berikut ini
­adalah contoh kata baku dan tidak baku:
kata baku
kata tidak baku
apotek
apotik
kreativitas
kreatifitas
produktif
produktiv
analisis
analisa
asas
azas
telentang
terlentang
berbagai
pelbagai
sistem
sistim
november
nopember
hakikat
hakekat
roboh
rubuh
isap
hisap
subjek
subyek
objek
obyek
stAndar
standard
stAndardisasi
standarisasi
legalisasi
legalisir
menyukseskan
mensukseskan
antarnegara
antar negara
memukul
mempukul
memroduksi
memproduksi
resiko
risiko
sekadar
sekedar
97
Penggabungan Kata
Penggabungan kata perlu mendapat perhatian saat menyunting.
Pastikan sesuai dengan EYD. Perhatikan tabel berikut ini untuk me­
lakukan penggabungan kata.
Gabungan
kata
Mendapat
Awalan
Mendapat
Akhiran
Mendapat ­Awalan
dan Akhiran
­sekaligus
Beri tahu
Memberi
tahu
Beri tahukan
Memberitahukan,
pemberitahuan
Lipat ganda
Melipat
ganda
Lipat gandakan Melipatgandakan,
dilipatgAndakan
Sebar luas
Tersebar luas
Sebar luaskan
Menyebarluaskan,
disebarluaskan,
penyebarluasan
Tanda
tangan
Bertanda
tangan
Tanda tangani
MenAndatangani,
ditandatangani,
penAndatanganan
Tanggung
jawab
Bertanggung
jawab
­—
Mempertanggung­
jawabkan, dipertanggungjawabkan,
pertanggung-jawab­
an
98
Buku Pewarta Warga
Pilihan Kata Sesuai Fakta
Tulisan yang baik mampu membawa pembacanya seolah-olah ­berada
dalam peristiwa yang diwartakan. Karena itu, pewarta warga harus
­jujur dalam berbahasa, sesuaikan bahasa dengan peristiwanya.
Pewarta tidak diperbolehkan memutar-balikan fakta dengan memilih kata yang gagal menunjukkan peristiwa yang sesungguhnya.
Ungkapkan fakta secara rinci, baik dengan kata konkret, kutipan,
statisik, dan catatan. Biarkan hubungan antara potongan-potongan
informasi fakta ber­cerita. Perhatikan contoh berikut ini:
Polisi mengamankan sepuluh Pedagang Kali Lima (PKL) dalam
operasi penertiban di Taman Kota Depok. Kepala Polisi Sektor
Depok, Budhi Hermanto, mengatakan anggotanya telah menyita gerobak dan peralatan dagang lainnya sebagai barang
bukti. Setelah dilakukan pemeriksaan, para pedagang serahkan pada Dinas Sosial untuk dibina selama satu minggu.
Bandingkan dengan paragraf berikut:
Sepuluh pedagang kali lima ditangkap polisi dalam operasi
penggusuran di Taman Kota Depok. Menurut Parjiyem (45),
salah satu PKL, Kepolisian Sektor Depok mengambil gerobak
dan peralatan dagang miliknya. Pedagang selanjutnya di­
periksa dan dikurung di Dinas Sosial selama satu minggu.
Sepintas tidak ada yang perlu dipermasalahkan dalam paragraf
­pertama. Paragraf seperti ini sering muncul dalam pemberitaan di
­media massa arus utama. Setelah membaca paragraf kedua perbedaannya cukup terasa. Pemilihan kata pada paragraf pertama
mewakili kepentingan tertentu dengan pemilihan kata-kata yang
­mengaburkan fakta.
99
Kata konkret
Kata bias / eufemisme
penggusuran
penertiban
ditangkap
diamankan
mengambil
menyita
dikurung
dibina
miskin
prasejahtera
Paragraf kedua menuliskan peristiwa sesuai dengan fakta, misalnya
penertiban adalah kata yang digunakan penguasa untuk melakukan
penggusuran. Kata diamankan juga tidak tepat, sebab PKL merasa lebih
aman berada di rumah mereka dibanding di kantor polisi, kata pe­
nangkapan jelas lebih tepat.
Menyita adalah tindakan pengambilan setelah adanya keputusan peng­
adilan. Kata penyitaan dalam paragraf satu tidak tepat, gunakan kata
yang sesuai dengan fakta, yaitu mengambil. Kata dibina lebih tepat diganti dengan kata dikurung sebab kenyataannya para PKL tidak diperbolehkan meninggalkan Dinas Sosial selama satu m
­ inggu.
100
Buku Pewarta Warga
Kode Etik
Jurnalisme
Warga
Jurnalis atau pewarta dalam menjalankan tugasnya terikat kepada
aturan yang bernama kode etik jurnalistik. Ini adalah seperangkat
aturan yang pada intinya memberikan panduan bagi pewarta tentang
apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menjalankan tugasnya
sebagai jurnalis.
Nah, siapa yang membuat aturan ini? Organisasi profesi, dalam
hal ini adalah organisasi profesi pewarta, misalnya Aliansi Jurnalis
Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) atau Ikatan
Jurnalis Televisi Indonesia. Masing-masing organisasi profesi mem­
punyai kode etik yang wajib dilaksanakan oleh jurnalis yang menjadi anggotanya. Namun, Dewan Pers telah memfasilitasi pel­bagai
­organisasi pewarta di Indonesia untuk membuat satu kode etik
­jurnalistik yang berlaku bagi semua jurnalis atau pewarta di Indonesia,
namanya Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Bila ada pelanggaran kode etik jurnalistik maka yang wajib ‘mengadili­
nya’ adalah Dewan Pers yang berkedudukan di Jakarta. Dewan etik
dari organisasi profesi jurnalis juga memunyai hak untuk memeriksa­
pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota. Terakhir, dewan
etik atau ombudsman dari media massa juga berhak memeriksa pe­
langgaran yang dilakukan jurnalisnya.
Lantas mengapa jurnalis dalam menjalankan tugasnya harus taat
­kepada kode etik jurnalistik? Ini adalah aturan yang mencoba menjamin agar hasil kerja jurnalis dapat dipercaya, objektif dan independen. Jika pewarta melanggar kode etik maka berita yang dihasilkannya
tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jurnalis atau pewarta yang sering
melanggar kode etik akan menjadi jurnalis yang tidak bisa dipercaya.
Publik tidak akan percaya terhadap berita yang dihasilkannya.
Bagaimana dengan pewarta warga, apakah ia juga harus tunduk
­kepada kode etik jurnalistik? Jawabannya jelas dan singkat: ya! Jika
melanggar kode etik jurnalistik maka berita hasil liputan pewarta
warga tidak layak dipercaya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Antara pewarta warga dan jurnalis yang bekerja untuk media massa
arus utama sebetulnya melakukan satu pekerjaan yang sama, yaitu
kegiatan jurnalistik untuk menghasilkan berita yang bisa dipercaya,
objektif dan independen. Tidak ada perbedaan jurnalistik versi media
komunitas atau media arus utama.
103
Hal yang membedakan hanya pada orientasinya. Pewarta warga membuat ­berita tidak untuk mendapatkan uang, dapat membuat berita
sesuka hatinya, melayani kebutuhan informasi bagi komunitasnya yang
terbatas. Sementara pewarta arus utama bekerja untuk men­dapatkan
uang, hanya membuat berita yang ‘layak dijual’ dan berusaha melayani
kepentingan masyarakat luas dan kepentingan ideologis dari pemilik
media massa.
Itulah sebabnya pewarta warga juga harus taat kode etik jurnalistik. Hanya saja, di Indonesia belum banyak kalangan yang sepakat
bahwa pewarta warga dapat dikatakan sebagai jurnalis sepenuhnya.
PAndangan ini muncul karena selama ini banyak pewarta warga yang
belum bisa memenuhi kode etik jurnalistik sehingga pelakunya sulit
disebut sebagai jurnalis dan karyanya tidak layak disebut sebagai karya
jurnalistik.
Namun ada perbedaan antara media warga (media komunitas)
yang bergerak di media penyiaran dan cetak. UU No.32 tahun 2002
­tentang Penyiaran sudah mengakui media komunitas. Otomatis ­media
komunitas penyiaran harus tunduk kepada aturan hukum ini yang
­
salah satu pasalnya juga mengharuskan jurnalis media penyiaran
­tunduk kepada kode etik jurnalistik.
Sementara semua bentuk media massa cetak dan elektronik harus
­tunduk kepada UU No.40/1999 tentang Pers yang salah satu pasalnya
juga mengharuskan semua jurnalis tunduk kepada kode etik jurnalistik. Sayangnya, media cetak komunitas belum sepenuhnya bisa berlindung dalam aturan ini. Pasalnya, semua media massa harus berbentuk
badan hukum. Padahal banyak media komunitas cetak yang tidak berbadan hukum. Secara eksplisit, UU Pers kita juga tidak menyebutkan
media komunitas sebagaimana dalam UU Penyiaran.
Walaupun media cetak komunitas belum diakui, tidak ada salahnya jika
para pelakunya tetap tunduk kepada kode etik jurnalistik yang berlaku.
Dengan cara ini maka berita hasil liputan para pewarta warga secara
metodologis dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa diakui UU Pers, bila
tunduk kepada kode etik jurnalistik maka karya pewarta warga dapat
dikelompokan sebagai produk jurnalistik.
104
Buku Pewarta Warga
Sebaliknya, karya jurnalis media arus utama, bila tidak tunduk ­kepada
kode etik jurnalistik juga tidak bisa dikelompokan sebagai karya
­jurnalistik. Dalam perang teluk, banyak media massa yang menjadi
alat propaganda kepentingan Amerika Serikat (AS). Karya jurnalistik
­seperti ini tentu sulit dimasukkan sebagai karya jurnalistik karena
melanggar salah satu pasal dalam kode etik, yaitu soal independensi.
Berikut ini adalah kode etik jurnalistik yang berlaku bagi seluruh
­jurnalis di Indonesia. Seluruh materinya hamper sama dengan kode
etik jurnalistik milik International federation of Journalists (IFJ) yang
berlaku secara internasional.
105
KODE ETIK JURNALISTIK
Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi
manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah
sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan ber­komunikasi,
guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidup­
an manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, ­
wartawan
Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab
sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.
Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers
menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut pro­
fesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk
memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan lAndasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional
dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta
pro­fesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan
menaati Kode Etik Jurnalistik:
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang
akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai
dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan
­intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika
­peristiwa terjadi.
c.
Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan
semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
106
Buku Pewarta Warga
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam
melaksanakan tugas jurnalistik.
Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c.
tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya; rekayasa
pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara
dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan
secara berimbang;
e. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
f.
tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan
wartawan lain sebagai karya sendiri;
g. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk
peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan
­secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang
kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan
kepada masing-masing pihak secara proporsional.
107
c.
Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal
ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa
interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan
cabul.
Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh
wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja
dengan niat buruk.
c.
Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan
foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk
membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan men­
cantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas
korban kejahatan susila dan tidak men­yebutkan identitas anak yang
menjadi pelaku kejahatan.
Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri
seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
108
Buku Pewarta Warga
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan
­belum menikah.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau
fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.
Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya,
menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off
the record” sesuai dengan kesepakatan.
Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas
dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan
­keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita
sesuai dengan permintaan narasumber.
c.
Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari
narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan
narasumbernya.
d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari nara­
sumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.
109
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan ­berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi ter­hadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta
tidak me­rendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa
atau cacat jasmani.
Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu
sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidup­
an pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan
berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan
­keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki
berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf
kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik
­karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan
substansi pokok.
110
Buku Pewarta Warga
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak ­koreksi secara
proporsional.
Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk
memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan
berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan ke­
keliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c.
Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu
diperbaiki.
111
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan
Dewan Pers.
Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh
­orga­nisasi­wartawan dan atau perusahaan pers.
Jakarta, Selasa, 14 Maret 2006
Kami atas nama organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers
­Indonesia:
1.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI)-Abdul Manan
2.
Aliansi Wartawan Independen (AWI)-Alex Sutejo
3.
Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI)-Uni Z Lubis
4. Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia­
(AWDI)-OK. Syahyan Budiwahyu
5.
Asosiasi Wartawan Kota (AWK)-Dasmir Ali Malayoe
6. Federasi Serikat Pewarta-Masfendi
7.
Gabungan Wartawan Indonesia (GWI)-Fowa’a Hia
8. Himpunan Penulis dan Wartawan I­ndonesia
(HIPWI)-RE Hermawan
­­
S
9. Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI)-Syahril
10. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)-Bekti Nugroho
11. Ikatan Jurnalis Penegak Harkat dan Martabat
Bangsa (IJAB HAMBA)-Boyke M. Nainggolan
12. Ikatan Pers dan Penulis Indonesia (IPPI)-Kasmarios SmHk
13. Kesatuan Wartawan Demokrasi Indonesia (KEWADI)-M. Suprapto
14. Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI)-Sakata Barus
15. Komite Wartawan Indonesia (KWI)-Herman Sanggam
16. Komite Nasional Wartawan Indonesia
(KOMNAS-WI)-A.M. Syarif­uddin
112
Buku Pewarta Warga
17. Komite Wartawan Pelacak Profesional Indonesia
(KOWAPPI)-Hans Max Kawengian
18. Korp Wartawan Republik Indonesia (KOWRI)-Hasnul Amar
19. Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI)-Ismed hasan Potro
20. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-Wina Armada Sukardi
21. Persatuan Wartawan Pelacak Indonesia
(PEWARPI) - Andi A. M
­ allarangan
22. Persatuan Wartawan Reaksi Cepat Pelacak
Kasus (PWRCPK)-Jaja Suparja Ramli
23. Persatuan Wartawan Independen Reformasi
Indonesia (PWIRI)-Ramses Ramona S.
24. Perkumpulan Jurnalis Nasrani Indonesia
(PJNI)-Ev. Robinson Togap Siagian25. Persatuan Wartawan Nasional Indonesia (PWNI)-Rusli
26. Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat- Mahtum Mastoem
27. Serikat Pers Reformasi Nasional (SEPERNAS)-Laode Hazirun
28. Serikat Wartawan Indonesia (SWI)-Daniel Chandra
29. Serikat Wartawan Independen Indonesia
(SWII)-Gunarso Kusumodiningrat
113
Kode Etik Pewarta Suara Komunitas
Pewarta Suara Komunitas bersikap i­ndependen, menghasilkan
berita yang akurat, ber­imbang, dan tidak beritikad buruk.
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai
dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan
­
­intervensi dari pihak lain.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika
­peristiwa terjadi.
c.
Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan
semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
Pewarta Suara Komunitas menempuh cara-cara yang
profesional dalam melaksanakan tugas pewartaan.
a. Membawa kartu pers kepada narasumber;
b. Menghormati hak privasi;
c.
Tidak menyuap;
d. Menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumber­nya;
e. Rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar,
foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan
ditampilkan secara berimbang;
f.
Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan
wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. Penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk pe­
liputan berita investigasi bagi kepentingan publik.
114
Buku Pewarta Warga
Pewarta Suara Komunitas selalu menguji informasi, memberitakan
secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang
menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang
kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan
kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c.
Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi pewarta. Hal ini
berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa
interpretasi pewarta atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.
Pewarta Suara Komunitas tidak membuat
­berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh
wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara ­sengaja
dengan niat buruk.
c.
Sadis berarti kejam dan tidak mengenal mempertimbangkan asas
kemanusiaan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan
foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk
membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, pewarta men­
cantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.
115
Pewarta Suara Komunitas tidak menyebutkan dan menyiarkan
identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan
identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri
seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 18 tahun dan belum
menikah.
Pewarta Suara Komunitas tidak menyalah gunakan
profesi dan tidak menerima suap.
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil
keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas
sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau
fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.
Pewarta Suara Komunitas memiliki hak tolak untuk melindungi
narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun
keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar
belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan
keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita
sesuai dengan permintaan narasumber.
c.
Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari
narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan
narasumbernya.
d.
Off the record adalah segala informasi atau data dari narasumber
yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.
116
Buku Pewarta Warga
Pewarta Suara Komunitas tidak menulis atau menyiarkan
berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap
seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama,
jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat
orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu
sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.
Pewarta Suara Komunitas menghormati hak narasumber tentang
kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan
berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan
keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.
Pewarta Suara Komunitas segera mencabut, meralat, dan
memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan
permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik
­karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan
substansi pokok.
117
Pewarta Suara Komunitas melayani hak jawab
dan hak koreksi secara proporsional.
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk
memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan
berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan ke­keliru­
an informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c.
Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.
Apabila pewarta melanggar kode etik, maka Pemimpin Redaksi berhak
menarik kartu pers dan menghapus seluruh hak si pewarta di Suara
komunitas.
Melihat kode etik jurnalitik dan pewarta Suara komunitas di atas, tentu kita semua bisa memahaminya. Tak ada yang sulit dalam mempelajari kode etik jurnalistik. Kalaupun ada, tinggal kita bertanya kepada
ahlinya.
Namun, bagian yang tersulit dari kode etik jurnalistik adalah saat me­
laksanakannya di lapangan. Mampukah kita secara ajeg dalam menjalankannya? Saat berada di lapangan, hampir tidak ada orang yang
mengawasi kita apakah kita tunduk kepada kode etik atau tidak.
Bagaimana kalau tiba-tiba ada narasumber yang memberikan ‘amplop’
dalam jumlah yang besar kepada kita sementara tidak ada orang ketiga
yang menyaksikannya. Mampukah kita menolaknya sementara uang di
dompet sudah sedikit?
Bicara soal kode etik jurnalistik, pewarta warga dapat belajar dengan
menonton film berjudul ‘Shattered Glass’. Ini adalah sebuah film yang
dibuat berdasarkan kisah nyata, pengalaman seorang jurnalis dari
Amerika Serikat yang bernama Stephan Glass. Ketika bekerja di majalah
118
Buku Pewarta Warga
bergengsi, The New Republik, Glass melakukan pelanggaran kode etik.
Ia mengarang berita dan tidak membuat berdasarkan reportase di
lapangan. Akhirnya, kecurangannya ini ketahuan dan karirnya sebagai
jurnalis pun pupus.
Untuk menjalankan kode etik jurnalistik membutuhkan kesungguhan
hati nurani yang kuat. Di sinilah setiap pewarta warga akan diuji
layak dipercaya atau tidak. Siapkah kita? Ingat kepercayaan personal
adalah modal utama seorang pewarta.
UU No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran
sudah mengakui media komunitas.
Otomatis media komunitas penyiaran
harus tunduk kepada aturan hukum
ini yang salah satu pasalnya juga
mengharuskan jurnalis media penyiaran
tunduk kepada kode etik jurnalistik
119
Kriminalisasi Pers
Selain menyangkut soal bisa dipercaya, ada satu hal lagi yang menjadi alasan mengapa para pewarta warga harus tunduk kepada kode
etik jurnalistik. Di Indonesia, walaupun kita sudah memiliki kebebas­
an pers sejak 1998, masih ada fenomena kriminalisasi pers, yaitu, pen­
yelesaian persoalan hukum akibat pemberitaan melalui media massa
yang dilakukan dengan tidak menggunakan UU No.40/1999 tentang
Pers. Misalnya, menggunakan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana atau Perdata) UU Pornografi dan lain-lain.
Padahal UU pers kita adalah salah satu yang terbaik di dunia. Aturan ini
dengan tegas menyatakan tidak boleh ada pembreidelan atau ­sensor
terhadap media massa. Mekanisme penyelesaian sengketa akibat pemberitaan juga sudah diatur dalam undang-undang ini.
UU Pers adalah aturan hukum yang mengatur pelbagai persoalan
khusus yang berkaitan dengan media massa. Sebagian ahli jurnalistik
di Indonesia mengatakan bahwa UU Pers kita adalah produk hukum
yang lex specialis derogate leg lex generalis. Ini adalah kaidah dalam
120
Buku Pewarta Warga
ilmu hukum yang artinya, peraturan yang khusus akan menegasikan
­aturan yang umum.
Bila kita menggunakan kaidah ini, maka ketika ada persoalan akibat pemberitaan media massa, seharusnya yang digunakan sebagai
landasan hukum bagi penyelesaiannya adalah UU Pers yang bersifat
khusus dan bukan UU yang lain seperti KUHP yang bersifat umum
(karena mengatur pelbagai persoalan mulai pencemaran nama baik,
pencurian, pemerkosaan, dan lain-lain).
Sayang, belum semua aparat penegak hukum (polisi, jaksa, dan
hakim) di Indonesia dan publik belum sepakat bahwa UU Pers adalah
produk hukum yang lex specialis. Akibatnya, kriminalisasi pers pun
masih terjadi. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat sejak tahun
1999 hingga 2007 saja paling tidak ada ada 41 kasus pemberitaan yang
dibawa ke pengadilan. Sekira 35 diantaranya diajukan dengan tidak
menggunakan UU Pers sebagai lAndasan hukum penyelesaiannya.
Bahkan di Yogyakarta (2007), ada seorang jurnalis dari Harian Radar
Jogja yang dipenjara enam bulan karena beritanya dianggap men­
cemarkan nama baik pemilik Harian Kedaulatan Rakyat. Tulisannya
dianggap sepihak karena tidak ada konfirmasi dari sang pemilik
Kedaulatan Rakyat.
Kriminalisasi pers adalah salah satu ancaman bagi kebebasan pers
yang pada gilirannya mengancam sistem demokrasi. Lembaga pers
sebagai ‘pilar ke empat demokrasi’ yang mengontrol seluruh sistem
sosial selayaknya dilindungi secara hukum. Perlindungan ini akan
menjamin media massa dapat menjalankan peran dan fungsinya
­secara maksimal.
Tanpa ada jaminan perlindungan hukum yang jelas, semua jurnalis
atau pewarta akan takut menulis berita kritis karena ada potensi
dikirim ke penjara atau digugat secara perdata dengan nilai yang
tidak masuk akal. Ada baiknya kita ingat, keluarga Soeharto pernah
menuntut majalah Time karena dianggap mencemarkan nama baik
dengan nilai tuntutan ganti rugi immaterial sebesar Rp 189 trilyun!
121
Berdasarkan situasi ini, kita para pewarta warga harus ekstra hati-hati.
Tidak ada jaminan, kita tidak mengalami kriminalisasi pers. Jika ­media
utama yang sudah membuat berita dengan pengawasan etika yang
kuat saja masih terkena, apalagi pewarta warga yang kontrol ­etikanya
masih lemah.
Karena itu para pewarta warga harus membentengi dirinya. Salah
satunya adalah dengan tunduk kepada kode etik jurnalistik. Dengan
menjalankan kode etik jurnalistik tentu akan membuat lebih aman.
Tentu saja kita juga perlu mendorong supaya UU Pers diperbaiki agar
memberikan perlindungan hukum kepada para pewarta warga yang
bergerak di media cetak.
122
Buku Pewarta Warga
Daf tar Bacaan
Ahsoul, Faiz. (peny.). 2000. Menggurat Fakta. Yogyakarta: LPM Ekspresi.
Bujono, Bambang. dkk (peny.).1997. Seandainya Saya ­Wartawan Tempo.
Jakarta: ISAI dan Yayasan Alumni Tempo
Dewi, Ambar Sari. Harsono, Andreas. “Sembilan Elemen ­Jurnalisme”
dalam http://andreasharsono.blogspot.com pada 1 Desember 2001
Iswara, Luwi. 2005. Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar. ­Jakarta: Penerbit
Buku Kompas
Kridalaksana, Harmurti. 1988. Kamus Sinonim Bahasa Indonesia. Jakarta:
Penerbit Nusa Indah.
Mukhotib MD (peny.). 1998. Menggagas Jurnalisme Sensitif Gender.
Yogyakarta: PMII-INPI Pact.
Pamungkas. 2001. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan. Surabaya: Penerbit Giri Surya.
Rennie, Ellie. 2006. Community Media: A Global Introduction. Oxford:
Rowman & Littlefield Publishers.
Sabarianto, Dirgo. 2001. Kebakuan dan Ketidakbakuan ­
Kalimat dalam
Bahasa Indonesia. Yogyakarta:Penerbit MGW
Soedjarwo. 1994. Beginilah Menggunakan Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
GMU Press.
Sugono, Dendy. dkk. (peny.). 2003. Buku Praktis Berbahasa Indonesia I.
Jakarta: Pusat Bahasa
----------. 2003. Buku Praktis Berbahasa Indonesia II. J­akarta: Pusat Bahasa
Suparyo, Yossy. 2009. Radio Komunitas dan Pelayanan Publik. Yogyakarta:
COMBINE Resource Institution
Buku ini disusun sebagai panduan bagi para pewarta di Suara
Komunitas agar dapat bekerja efektif dan efisien. Jurnalisme
Suara Komunitas mengacu pada prinsip-prinsip yang diatur
dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Pers
agar menghasilkan berita-berita yang dapat dipercaya.
Panduan ini dapat menjadi rujukan bagi para pewarta warga
dalam membuat berita yang benar. Seluruh materi panduan
ini disusun berdasarkan pengalaman pewarta warga sehingga
dapat mengatasi berbagai persoalan yang sering mereka
hadapi. Panduan ini telah diujicobakan pada Lokalatih
Pengelolaan Informasi di berbagai lokalatih di daerah-daerah.
Jurnalisme warga memungkinkan antarwarga dapat berbagi
informasi, saling belajar, berbagi keluh-kesah, dan mencari
jalan keluarnya. Proses ini bisa mendorong perubahan tata
kehidupan warga ke arah yang lebih baik. Dari perspektif
komunikasi massa, ini menjadi tahapan penting untuk
meraih demokrasi sejati.
Buku Pan duan in i
Di l e n g kapi de n g an :
Me m buat Fo t o Jurn al is t ik
K ode Et ik Jurn al is m e Warg a
9 789799
79838 1
Fly UP