...

Optimasi Formulasi Basis Sediaan Emulgel

by user

on
Category: Documents
7

views

Report

Comments

Transcript

Optimasi Formulasi Basis Sediaan Emulgel
ISSN 2460-6472
Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015
Optimasi Formulasi Basis Sediaan Emulgel dengan Variasi Konsentrasi Surfaktan
1
1,2,3
Yolan Nursintia Dewi, 2 Dina Mulyanti, dan 3 Indra T. Maulana
Prodi Farmasi, Fakultas MIPA, Unisba, Jl. Tamansari No. 1 Bandung 40116
e-mail: 1 [email protected], 2 [email protected], 3
[email protected]
Abstrak. Surfaktan atau surface active agent merupakan suatu molekul amphipatic atau amphiphilic
yang mengandung gugus hidrofilik dan lipofilik dalam satu molekul yang sama. Adanya surfaktan dalam
emulsi berfungsi sebagai penstabil koloid dari partikel sebagai hasil dari adsorpsi surfaktan pada
antarmuka partikel air. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi suatu formulasi sediaan emulgel
dengan variasi konsentrasi surfaktan. Optimasi basis emulsi dilakukan dengan variasi konsentrasi natrium
lauril sulfat dan setostearil alkohol sebagai surfaktan dan optimasi formula sediaan emulgel dilakukan
dengan penambahan karbomer 2% sebagai gelling agent. Hasil penelitian menunjukan bahwa formula
emulgel yang mengandung, natrium lauril sulfat 1%, setostearil alkohol 9% dan gel karbomer 2%
sebanyak 12,5% stabil berdasarkan evaluasi organoleptik, sentrifugasi, dan freeze thaw.
Kata Kunci : Emulgel, Basis, Surfakta
A.
Pendahuluan
Surfaktan atau surface active agent merupakan suatu molekul amphipatic atau
amphiphilic yang mengandung gugus hidrofilik dan lipofilik dalam satu molekul yang
sama. Adanya surfaktan dalam emulsi berfungsi sebagai penstabil koloid dari partikel
sebagai hasil dari adsorpsi surfaktan pada antarmuka partikel air. Secara umum kegunaan
surfaktan adalah untuk menurunkan tegangan permukaan, tegangan antarmuka,
meningkatkan kestabilan partikel yang terdispersi dan mengontrol jenis formasi emulsi,
yaitu misalnya oil in water (O/W) atau water in oil (W/O) (Salager, 2002).
Untuk mendapatkan formula sediaan emulgel yang stabil secara fisik maka
dilakukan suatu optimasi basis emulgel dengan menggunakan variasi konsentrasi
surfaktan. Stabilitas sediaan emulgel dapat dilihat dari hasil evaluasi sentrifugasi dan
freeze thaw. Berdasarkan hal diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut,
manakah konsentrasi formulasi sediaan emulgel yang paling stabil secara farmasetika?
Pada penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu sediaan emulgel dengan
mengorientasikan variasi konsentrasi surfaktan natrium lauril sulfat dan setostearil
alkohol dan optimasi formula sediaan emulgel dengan dengan penambahan karmober2%
sebagai gelling agent.
B.
Landasan Teori
Emulgel adalah emulsi tipe minyak dalam air (o/w) atau air dalam minyak (w/o),
yang dicampur dengan basis gel. Emulgel dapat digunakan sebagai pembawa obat
hidrofobik (Anwar, dkk., 2014). Emulgel memiliki sifat-sifat menguntungkan seperti
kosistensi yang baik, waktu kontak yang lebih lama, tiksotropik, transparan, dapat
melembabkan, mudah penyerapanya, mudah penyebaranya, mudah dihilangkan, larut
dalam air, dan dapat bercampur dengan eksipien lain (Haneefa. et. al., 2013). Surfaktan
adalah suatu zat yang ketika dilarutkan dalam pelarut maka molekul-molekulnya akan
tertarik ke permukaan dan kehadiranya dapat menurunkan tegangan permukan.
Berdasarkan gugus hidrofiliknya, surfaktan dikelompokan sebagai berikut :
287
288 |
Yolan Nursintia Dewi,, et al.
1. Surfaktan anionik, bagian aktif permukaan mengandung muatan negatif. contoh:
Natrium lauril sulfat.
2. Surfaktan kationik, bagian aktif permukaan mengandung muatann positif. Contoh:
benzalkonium klorida.
3. Surfaktan non-ionik, bagian aktif permukaan tidak bermuatan. Contoh:
poli(oksietilena) alkil fenol.
4. Surfaktan zwitter ion, bagian aktif permukaan mengandung muatan positif dan
muatan negatif. Contoh: sulfobetaine.
C.
Metode
1.1 Optimasi Basis Emulsi dengan Variasi Konsentrasi Surfaktan
Optimasi basis sediaan emulgel dilakukan dengan menggunakan konsentrasi
surfaktan. Surfaktan yang digunakan yaitu natrium lauril sulfat dan setostearil alkohol
(1:9) pada konsentrasi 5, 7,5 dan 10%. Fase minyak terdiri dari setostearil alkohol
paraffin cair, propilen glikol dan gliserin, sedangkan fase air natrium lauril sulfat dan
aquades yang dipanaskan diatas penangas air sampai suhu 60-70ºC. Setelah masingmasing fase telah mencapai suhu ±65ºC, kemudian kedua fase dicampur dan diaduk
menggunakan ultra turrax dengan kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit sampai
homogen. Untuk mengetahui pengaruh gravitasi emulsi dilakukan uji sentrifugasi dan
freeze-thaw. sebanyak 8mL sediaan dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi kemudian
disentrifugasi dengan kecepatan 2500 rpm selama 5jam. Setiap interval waktu 1 jam
diamati ada tidaknya pemisahan fasa pada basis. untuk evaluasi uji freeze-thaw
dilakukan sebanyak 5 siklus, dimana 1 siklus terdiri dari 48 jam pada suhu 4ºC dan 48
jam pada suhu 40ºC.
Bahan
Konsentrasi (%)
FI
F II
FIII
Parafin cair
Natrium lauril sulfat
Setostearil alkohol
Gliserin
20
0,5
4,5
20
20
0,75
6,75
20
20
1
9
20
Propilen glikol
Aquadest ad
10
100
10
100
10
100
1.2 Formulasi Basis Emulgel
Optimasi basis sediaan emulgel dilakukan dengan menggunakan gelling agent
yaitu karbomer dengan konsentrasi 12,5% berdasarkan pada peneltian sebelumnya
(Khalidah. M.D, 2014). Gelling agent dikembangkan terlebih dahulu dengan aquadest,
kemudian digabungkan dengan emulsi yang sudah terbentuk dengan stirrer dengan
kecepatan 500 rpm hingga homogen. Selanjutnya dilakukan pengamatan organoleptis
dan uji stabilitas fisik dengan menggunakan metode sentrifugasi dan freeze-thaw
terhadap sediaan emulgel tersebut.
Prosiding Penelitian Sivitas Akademika Unisba (Kesehatan dan Farmasi)
Optimasi Formulasi Basis Sediaan Emulgel dengan Variasi Konsentrasi Surfaktan ...
D.
Bahan
Konsentrasi (%)
F III
Parafin cair
Natrium lauril sulfat
setosteril alkohol
Gliserin
20
1
9
20
Propilen glikol
Karbomer
Aquadest ad
10
12,5
100
| 289
Hasil penelitian
Pada optimasi formula emulgel digunakan aquades sebagai pembentuk fase air
dan parafin cair sebagai pembentuk fase minyak. Bahan pengemulsi yang digunakan
yaitu setostearil alkohol dan natrium lauril sulfat dengan perbandingan konsentrasi
9Setostearil alkohol : 1 Natrium lauril sulfat (Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009).
Gelling agent yang digunakan dalam formula adalah karbomer. Karbomer atau
karbopol merupakan polimer sintetik dari asam akrilik, karbomer dengan konsentrasi
0,5-2% dapat digunakan sebagai bahan pembentuk gel (gelling agent). Digunakan
karbomer 2% dengan konsentrasi 12,5% berdasarkan penelitian sebelumnya yang
menunjukan bahwa hasil emulgel dengan konsentrasi 12,5% stabil secara fisik
(Khalidah, M.D, 2014). Karbomer di kembangkan dengan aquades. Karbomer
merupakan suatu polimer yang membentuk suatu gulungan yang sangat erat (coiled)
berbentuk serbuk kering sehingga dapat membatasi kemampuan penebalanya. Ketika
didispersikan ke dalam air, karbomer terhidrasi dan sebagian gelungnya terurai.
Karbomer dapat berfungsi dengan baik apabila polimer tersebut benar-benar terurai
(Chikalikar and Moorkath, 2002; agustina, 2013). TEA ditambahkan ke dalam
karbomer yang telah didispersikan di dalam air dengan tujuan untuk menetralisasi pH
karbomer. Sebelum ditambahkan TEA, karbomer yang telah didispersikan di dalam air
berada dalam bentuk tidak terionkan dengan pH 4,2. Ketika dinetralisasi, pH karbomer
mengalami peningkatan menjadi pH 6 dan pada kondisi tersebut karbomer menjadi
lebih kental. Hal ini disebabkan pada saat penambahan TEA, gugus karboksil dari
karbomer akan berubah menjadi COO-. Adanya gaya tolak menolak elektrostatis antara
gugus karboksil yang telah berubah menjadi COO- mengakibatkan karbomer
mengembang dan menjadi lebih rigid (Barry, 1983). Emulgel yang sudah terbentuk
selanjutnya dievalusi freezethaw dan sentrifugasi. Tujuan evaluasi tersebut untuk
melihat kestabilan fisik sediaan emulgel.
Farmasi Gelombang 2, Tahun Akademik 2014-2015
290 |
Yolan Nursintia Dewi,, et al.
Evaluasi
Formulasi
Organoleptis
Konsistensi
Warna
Bau
jam ke 1
Sentrifuga
Freeze thaw
FI
F II
(+++)
(+++)
Putih tulang Putih Tulang
Bau Khas
Bau Khas
Stabil
Stabil
F III
(++++)
Putih tulang
Bau Khas
Stabil
jam ke 2
jam ke 3
jam ke 4
jam ke 5
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Siklus 1
Stabil
Stabil
Stabil
Siklus 2
siklus 3
Siklus 4
Siklus 5
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Stabil
Keterangan :
(+)
: sedikit kental (+++) : kental
(++) : cukup kental (++++) :Sangat kental
Hasil evaluasi organoleptis dari evalusi freeze thaw memperlihatkan bahwa
konsistensi dari formula F III lebih kental dibandingkan kedua formula lainya. Warna
dari ketiga formula yaitu putih tulang dengan bau khas. Evaluasi sentrifugasi dilakukan
untuk mengetahui pengaruh gravitasi terhadap kestabilan basis emulgel. Evaluasi
dilakukan dengan cara sediaan dimasukan ke dalam tabung sentrifugasi kemudiaan
disentrifuga dengan kecepatan 2500 rpm selama 5 jam (Lachman, 1994). Dari ketiga
formula hasil evaluasi sentrifugasi yang ditunjukan adalah stabil, namun pada formula I
terdapat banyak busa pada bagian permukaan hal tersebut terjadi dikarenakan sifat dari
natrium lauril sulfat sebagai detergent (Rowe, Sheskey and Owen, 2005) sehingga
mengasilkan banyak busa pada bagian permukaanya. Sedangkan untuk formula FII dan
F III hasil uji stabil dikarenakan pada formula FIII konsentrasi setostearil alkohol yang
digunakan lebih tinggi sehingga viskositas basis meningkat (Rowe, Sheskey, and Quinn,
2009).
Evaluasi freeze thaw bertujuan untuk mengetahui kestabilan fisik emulgel
dengan pengaruh stress suhu. Evaluasi freeze thaw dilakukan selama 96 jam. Dalam
satu siklus terbagi menjadi dua tahapan yaitSu 48 jam siklus awal sediaan ditempatkan
di lemari pendingin pada suhu 4ºC. Dan 48 jam berikutnya sediaan ditempatkan di
oven pada suhu 40ºC. Pengujian freeze thaw bertujuan untuk melihat pemisahan fase air
dan fase minyak akibat pengaruh stress suhu. Dari ketiga formula basis emulgel hasil
freezthaw menunjukan kestabilan secara fisikbasis emulgel.
Dari hasil ketiga evaluasi, maka formula sediaan yang mempunyai kestabilan
fisik lebih adalah formula FIII, dikarenakan hasil pengamatan organoleptis freeze thaw
pada siklus terakhir formula FI dan FII terdapat banyak rongga udara pada basis
emulgel.
Selanjutnya pada basis emulgel terpilih (FIII) ditambahkan, humektan,
antioksidan dan pengawet. Metil paraben dan propil paraben yang dilarutkan didalam
propilen glikol juga ditambahkan kedalam sediaan emulgel. Metil paraben dan propil
paraben berfungsi sebagai pengawet, propil paraben dapat digunakan sebagai pengawet
tunggal, dalam kombinasi dengan ester paraben lainya, ataudengan senyawa
Prosiding Penelitian Sivitas Akademika Unisba (Kesehatan dan Farmasi)
Optimasi Formulasi Basis Sediaan Emulgel dengan Variasi Konsentrasi Surfaktan ...
| 291
antimikroba lainya (Rowe, Sheskey dan Quinn, 2009) propil paraben dan metil paraben
dikombinasi untuk meningkatkan efektivitas pengawet, sedangkan propilen glikol selain
sebagai pelarut metil paraben dan propil paraben juga berfungsi sebagai humektan atau
pelembab suatu zat yang bersifat meningkatkan penyerapanair untuk formulasi yang
dibuat untuk sediaan topikal pada kulit. (Rowe, Sheskey dan Quinn, 2009).
Antioksidan digunakan untuk mengurangi oksidasi zat aktif dan zat tambahan
dalam suatu sediaan. Antioksidan untuk mencegah oksidasi terutama terhadap fasa
minyak untuk mencegah terjadinya ketengikan pada fasa minyak.
E.
Kesimpulan
Formula emulgel terpilih adalah formula F III dengan penambahan kombinasi
natrium lauril sulfat 1% dan setosteril alkohol 9% lebih stabil berdasarkan evaluasi
sentrifugasi, dan freeze thaw.
Daftar Pustaka
Agustina, Leni.(2013). Formulasi Emulgel minyak bunga cengkeh (Oleum Caryophylli)
sebagai Anti Bau Kaki: Pengaruh carbopol 940 dan Sorbitol Terhadap Sifat Fisik
dan Stabilitas Fisik [Skripsi], Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta.
Anwar E, Ramadon, D., Harmita. (2014). Formulation and Evaluation of Gel and
Emulgel of Chili Extract (Capsicum frutescens L.) as Topical Dosage Forms.
Academic Sciences, 3 Apr, Vol. 6, No. 3.
Barry, B.W. (1983). Dermatological Formulation. Marcel Dekker Inc., New York.
Haneefa, K., Easo, S., Hafsa, V.P., Mohanta, G., Nayar, G. (2013). Emulgel: An
Advanced Review, journal of pharmaceutical sciences and research. Vol. 5, No.
1.
Khalidah, M.D. (2014). Formulasi Emulgel dan Mikroemulsi Mengandung Minyak
Bunga Cengkeh (syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry) dan Uji Aktivitasnya
pada Bakteri Propionibacterium acnes. [Skripsi], Fakultas MIPA, Universitas
Islam Bandung, Bandung.
Lachman, L., Lieberman, H.A., dan Kanig, J.L. (1994). Teori dan Praktek Farmasi
Industri. terjemahan Siti suyatmi, Edisi ketiga, Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Salager, J. L.(2002). Surfactants types and uses. Venezuela : penerbit De Los Andes
University.
Rowe, R.C., Sheskey P.J and Owen, M.E. (2005). Handbook of Pharmaceutical
Excipients, Sixth Edition, Pharmaceutical Press and the American Pharmacists
Association Press, London.
Rowe, Sheskey, P.J dan Quinn, M.E. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients,
Sixth Edition, Pharmaceutical Press and the American Pharmacists Association
Press, London.
Farmasi Gelombang 2, Tahun Akademik 2014-2015
Fly UP