...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
9

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
KONTRIBUSI IDENTIFIKASI DASAR SEGMENTASI PEMILIH
DAN PEMETAAN POTENSI SUARA BAGI KEMENANGAN
ANGGOTA DPRD PETAHANA PADA PEMILU 2009 DI KOTA
KUPANG
Veronika Ina Assan Boro
Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unika Widya Mandira
Kupang
[email protected]
ABSTRACT
Political Segmentation is one of the political marketing strategy to win in
the legislative elections. At present Legislative Elections in Kupang in 2009,
the segmentation of voters who carried contribute to the incumbent
candidate the victor. From the research, it was found that the victory of
incumbent candidates legislative because: First, map out the incumbent the
legislative candidate’s segmentation voters to find the tendency of voters
determine political choices begins with a basic voter identification, profiling
of voters based on the likelihood of determining choice. After that, the next
step carried a mapping of potential voters will be contested in order to get
the contested seats in the constituency. Second, the incumbent of legislative
candidate’s treatment back segment of voters who once supported him in the
elections last time. This political Segmentation very helpful a legislator
candidate both the legislative candidate’s incumbent and prospective new
legislative or first started his political career in the arena of legislative
elections in order to map out the and see more of the character segment of
the electorate and give offer effective political keeping with the character
segment of voters the target group in order to achieve the most votes.
Keywords: Political Segmentation, legislative Voters, incumbent
ABSTRAK
Segmentasi Politik merupakan salah satu strategi pemasaran politik untuk
meraih kemenangan dalam pemilu legislatif. Pada saat Pemilu Anggota
1
Legislatif di Kota Kupang tahun 2009, segmentasi pemilih yang dilakukan
caleg petahana berkontribusi bagi kemenangan caleg petahana. Dari hasil
penelitian, ditemukan bahwa kemenangan calon legistif petahana
dikarenakan: pertama, calon legislatif petahana memetakan segmentasi
pemilih untuk menemukan kecenderungan pemilih menentukan pilihan
politik yang diawali dengan melakukan Idenftikasi dasar pemilih, menyusun
profil pemilh berdasarkan kecenderungan penentuan pilihan. Setelah itu,
langkah selanjutnya dilakukan pemetaan potensi suara pemilih yang akan
diperebutkan guna mendapatkan kursi yang diperebutkan di daerah
pemilihan. Kedua, calon legislatif petahana melakukan perawatan kembali
segmen pemilih yang pernah mendukungnya dalam pemuli legislatif kali
lalu. Segmentasi politik ini, sangat membantu seorang calon legislatif baik
calon legislatif petahana maupun calon legislatif yang baru atau pertama
kalinya memulai karier politik dalam arena pemilu legislatif agar dapat
memetakan dan mengenal lebih jauh karakter segmen pemilih dan
memberikan tawaran politik yang efektif sesuai dengan karakter segmen
pemilih yang menjadi kelompok sasaran agar dapat meraih suara terbanyak.
Kata-kata kunci: Segmentasi Politik, Pemilih legislatif, Petahana
A. PENDAHULUAN
Pelaksanaan pemilu tahun 2009 memang berbeda dengan pemilu
sebelumnya. Perbedaan antara pemilu era orde baru dengan orde reformasi
terletak pada metode penentuan calon terpilih. Pada pemilu tahun 2009
penentuan calon berdasarkan nomor urut di daftar calon, kecuali calon yang
bersangkutan berhasil memperoleh suara setara Bilangan Pembagi Pemilih
(BPP) atau setara harga sebuah kursi di daerah pemilihannya.
Banyak kandidat legislatif petahana baik berasal dari partai lama
maupun yang hijrah kepartai baru maju bertarung dalam pemilu untuk
meraih suara sebanyak mungkin dari pemilih. Para kandidat legislatif
petahana tersebut ada yang tumbang karena perolehan suara tidak mencapai
BPP, namun ada juga yang lolos meraih kursi karena memperoleh suara
2
terbanyak berdasarkan keputusan MK Nomor 22-24/PUU-IV/2008, serta
ada juga calon legislatif petahana yang menang karena perhitungan suara
sesuai ketentuan BPP.
Dalam pemilu, rakyat mempunyai kekuasaan mutlak. Keputusan
untuk memilih siapa wakilnya yang akan duduk di parlemen sudah tidak
lagi didelegasikan oleh partai. Dengan demikian, setiap calon legislatif
(caleg) harus mengusahakan berbagai cara agar rakyat mendukung dan
memilihnya pada Pemilu. Kondisi ini melahirkan iklim kompetisi antar
kandidat disemua tingkatan Pemilu, baik itu Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), maupun Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD). Dalam kondisi penuh kompetisi inilah pendekatan
pemasaran diperlukan untuk memenangkan persaingan.
Di Kota Kupang, pada faktanya, era reformasi menuntut banyak
perubahan ke arah lebih baik, maka seharusnya anggota legislatif diisi oleh
anggota-anggota terpilih berwajah baru yang membawa perubahan ke depan
lebih baik lagi dibanding anggota legislatif terpilih periode sebelumnya.
Namun kenyataannya ada 2 hal menarik untuk dikaji dalam penelitian ini
yaitu: pertama, Dari periode pemilu ke pemilu, 8 orang dari anggota
legislatif petahana masih tetap saja menghiasi wajah DPRD Kota Kupang
dari 30 kursi yang tersedia. Kedua, Calon legislatif petahana yang pindah
daerah pemilihan tetapi Caleg tersebut tetap menang di daerah pemilihan
baru.
3
Jika Pemilu diibaratkan sebuah medan peperangan, dan para
kandidat pesaing adalah musuh dalam peperangan, maka suara pemilih
adalah alasan mengapa peperangan itu terjadi. Jadi Pemilu adalah
pertarungan memperebutkan suara pemilih. Oleh karena itu untuk
memenangkan pertarungan perebutan kursi DPR/DPRD,
tentu sangat
membutuhkan strategi kemenangan, antara lain dengan melakukan
segmentasi politik.
Bertolak dari kenyataan ini, maka yang hendak ditelusuri dalam
penelitian ini adalah:
1) Bagaimana para calon legislatif petahana melakukan strategi
identifikasi dasar dalam segmentasi pemilih untuk memenangkan
pemilu legislatif ?.
2) Bagaimana para calon legislatif petahana menyusun profil pemilih
dalam memenangkan pemilu anggota legislatif?.
3) Bagaimana para calon legislatif petahana memetakan potensi suara
yang menjadi kantong suara berdasarkan kecenderungan pemilih?
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe
penelitian Kualitatif dengan metode deskriptif analitis, yaitu suatu jenis
penelitian yang membuat analisis terhadap gambaran (deskritptif) mengenai
datum informasi, kejadian-kejadian secara sistematis, faktual dan akurat.
Semua data yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa
yang sudah diteliti.
4
B. PEMBAHASAN
Segmentasi
politik
merupakan
pemetaan
pemilih
atau
pengelompokkan pemilih berdasarkan karakteristik tertentu yang dilakukan
oleh partai politik. Segmentasi pada dasarnya bertujuan untuk mengenal
lebih jauh kelompok-kelompok pasar. Para politisi perlu memahami konsep
segmentasi karena berhadapan dengan para pemilih yang sangat heterogen.
Para politisi dapat memberikan tawaran politik yang efektif bila mereka
mengetahui karakter segmen yang menjadi sasaran.
Segmentasi Pemilih dalam pemilu legislatif oleh anggota DPRD
Petahana merupakan upaya kandidat legislatif
masyarakat
sesuai
dengan
karakteristik
untuk mengelompokkan
pemilih
berdasarkan:
(1).
identifikasi dasar segmen pemilih; (2), menyusun profil sesuai hasil
segmentasi pemilih; dan (3). Pemetaan Potensi Suara Berdasarkan
Kecenderungan Segmen Pemilih menentukan wakil rakyat pilihannya, yang
dianalisis sebagai berikut:
Identifikasi Dasar Segmen Pemilih Dan Profil Pemilih Berdasarkan
Kondisi Pemilih.
Ada 5 informan anggota legislatif petahana DPRD Kota Kupang
yang dianalisis berdasarkan daerah pemilihan yang dapat dilihat dalam tabel
di bawah ini:
Tabel 1.1
Data Anggota Legislatif
No. Dapil
Nama
Partai
1.
I
J.D. Pandie
 Partai Damai Sejahtera
5
2.
II
3.
III
 Nikolaus Fransiskus
 P.K. Matutina
 J.I. Haning
 Partai Demokrasi IndonesiaPerjuangan
 Partai Amanat Nasionla
 Partai Damai Sejahtera
 Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia
M. H. Pello
Sumber : KPUD Kota Kupang
Ketiga informan (Nikolaus Fransiskus, P.K.Matutina dan Johnis I.
Haning) berada pada daerah pemilihan yang sama yaitu Dapil Kota Kupang
II, namun metode/teknik untuk menentukan identifikasi dasar pemilih bisa
saja ada kesamaan metode tapi bisa juga berbeda metode segmentasi
pemilih karena disesuaikan dengan kondisi struktural masyarakat yang
membentuk perilaku orang-orang didalamnya.
Nikolaus
menggunakan
Fransiskus
melakukan
identifikasi
dasar
pemilih
perpaduan metode segmentasi pemilih yaitu pemetaan
pemilih berdasarkan segmen sosial budaya (pendekatan kultur), segmen
psikografi dan segmen demografi. Pemetaan pemilih dibuat berdasarkan
kelompok pemilih sudah dilakukan jauh sejak pemilu 1999 dan pemilu
2004. sedangkan tahun 2009 ia hanya merawatnya saja. Jumlah masyarakat
pemilih pada dapil II ini paling banyak dibandingkan dengan dapil lainnya.
Pemilih pada Dapil ini multi etnis dan agama. Konstituen paling banyak
berada pada etnis Rote, Sabu dan Timor.
Lanjutan hasil identifkasi dasar segmen pemilih, NikolausFransiskus
ditemukan bahwa: Pemilih sudah kritis, cerdas dan memiliki banyak alasan
6
untuk menjatuhkan pilihan politik terhadap kandidat tertentu. Oleh sebab
itu, perlu dilakukan sosialisasi diri terus menerus baik lewat masa reses
dewan maupun secara pribadi kepada pemilih, simpatisan dan konstituen
pemilih/basis massa maupun pengurus partai yang ada di anak cabang
maupun di ranting dari PDIP.
Hal lain yang menjadi faktor kemenangan Nikoalus karena ia sudah
terpilih menjadi anggota DPRD Kota Kupang selama 3 (tiga) periode
berturut-turut pada daerah pemilihan yang sama yaitu dapil II Kota Kupang.
Ia juga terkenal dekat dengan konstituennya karena selalu berkunjung ke
lokasi pemilih untuk mendengar pengeluhan masyarakat dan berusaha untuk
memecahkan persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat. Ia disenangi
pemilih karena ia tidak buat janji-janji politik yang muluk-muluk karena
takut kecewakan masyarakat.
Dalam identifikasi dasar pemilih, Nikolaus Fransiskus lebih
menerapkan teknik pemetaan pemilih berdasarkan segmen psikografi yaitu
ia berusaha memahami kultur budaya mayoritas yang ada di daerah
pemilihan ini yaitu etnis Rote, Sabu dan Timor yang berbeda etnis
dengannya. Dengan demikian Nikolaus Fransiskus banyak didukung oleh
etnis Sabu, Rote dan Timor yang berbeda etnis dengan kandidat. selain itu
Nikolaus Fransiskus juga melakukan pemetaan pemilih dengan metode
segmentasi demografi dan segmentasi geografis yang mengidentifkasi
pemilih dari kedekatan wilayah yaitu kedekatan tempat tinggal
7
dan
pekerjaan pemilih yaitu
para guru;
para pedagang
di pasar Oebobo
Kelurahan Fatululi; para petani dan buruh bangunan; Para pemuda
lingkungan dan para tukang Ojek lingkungan kelurahan Tuak Daun Merah
(TDM), Oebufu dan Oebobo. Untuk memperkuat basisnya Nikolaus
Fransiskus juga melakukan pemetaan pemilih pada simpatisan PDIP yang
berada pada ranting dan anak ranting DPC PDI-P Kota Kupang .
Identifikasi dasar pemilih yang dilakukan P.K. Matutina, anggota
legislatif petahana berasal dari PAN DPRD Kota Kupang tahun 2009,
yaitumemetakan jumlah pemilih t erbanyak ada di dapil II. Pemilihnya ratarata, tinggal di Kota, kaum terpelajar yang kritis dan punya banyak alasan
saat akan mencoblos kontestan tertentu. Dapil ini merupakan daerah
pemilihan baru baginya, karena dulu ia mencalonkan diri dari dari daerah
pemilihan III dan kini ia dicalonkan dari daerah pemilihan II. Hal ini pada
awalnya agak menyulitkannya, namun ia diuntungkan karena tetap
melakukan kegiatan menjaga konstituen yang setia pada PAN dan didukung
oleh komunitas ojek OJAS Kota Kupang yang dipimpinnya. Buah dari kerja
kerasnya, maka saya terpilih untuk periode kedua ini.
Hasil identifikasi dasar segemntasi pemilih oleh Johnis Imanunuel
Hanning, anggota legisltif petahana dari Partai Damai Sejahtera (PDS)
DPRD Kota Kupang tahun 2009, yaitu:Pemetaaan pemilih sudah dilakukan
jauh sejak pemilu legislatif tahun 2004 dan setelah terpilih menjadi anggota
legislatif DPRD Kota Kupang dari 2009 sampai kini (2012), ia tetap
8
melakukan kegiatan menjaga konstituen yang setia pada PDS. Menurutnya,
hal ini penting karena pemilih merupakan tuan yang memiliki suara, maka
untuk dapat meraihnya, ia perlu mengenalnya dengan baik apa yang menjadi
kebutuhan dasarnya rakyat. Pemilih di dapil ini, berbasis majemuk dan
mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai PNS, pedagang,
wiraswasta dan sebagian kecil petani.
Hasil Identifikasi dasar dalam Segmentasi pemilih yang dilakukan
oleh Jhon Davidson Pandie, anggota legislatif petahana yang berasal dari
Partai Damai Sejahtera DPRD Kota Kupang 2009 pada daerah pemilihan
Kota Kupang, yaitu: I, John Davidson Pandie melakukan Pemetaan pemilih
berdasarkan kelompok masyarakat telah dilakukannya sejak pemilu 2004
dan terus melakukan berbagai kegiatan merawat pemilih sejak saya terpilih.
Upaya merawat dengan lewat cara saat reses maupun berkunjung pribadi.
Masyarakat di dapil ini, umumnya kaum terpelajar sehingga tidak mudah
jatuhkan pilihan politik. Masyarakat dapil ini berada di pusat Kota yang
multidimensi baik etnis, agama, pekerjaan, pendidikan dan latar belakang
budaya.
Adapun karakteristik dasar masyarakat pada daerah pemilihan Kota
Kupang I yaitu Masyarakat perkotaan yang tinggal di daerah pesisir pantai
dengan perilaku konsumtif dan pada umumnya bermatapencaharian sebagai
nelayan, pedagang, dan para pemilik bagan ikan yang beretnis Bugis dan
beragama Islam. Mereka ini semua Keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya
9
yang selalu mendukungnya saat pemilu kemarin. Maka tidak heran kalo
anggota legislatif petahana ini yang beragama Kristen dapat menang pada
segmen pemilih yang mayoritas beragama Islam.
Berdasarkan kondisi struktural masyarakat (demografi dan geografi)
maka metode segmentasi pemilih yang digunakan John D. Pandie adalah
metode segmentasi sosial budaya atau pendekatan kultur kepada pemilih
yang ada pada dapil Kota Kupang I.
Hasil identifikasi dasar segmentasi pemilih yang dilakukan oleh Mexi
Hansen Pello, anggota legislatif petahana DPRD Kota Kupang 2009 dari
PKPI pada daerah pemilihan Kota Kupang III, ditemukan bahwa: ia lakukan
kegiatan merawat pemilih dengan cara menjalin relasi yang harmonis
dengan para pemilih yang mendukung saya sejak terpilih menjadi anggota
legislatif dari PKPI DPRD Kota Kupang tahun 2004 dari dapil III. Dapilnya
jauh dari pusat Kota. Konstituennya terdapat pada Kecamatan Maulafa yang
merupakan daerah agraris sehingga mayoritas konstituen saya bekerja
sebagai petani dan buruh bangunan dan sebagian konstituen saya ada pada
kecamatan Alak merupakan daerah pesisir pantai jadi mereka bekerja
sebagai nelayan.
Adapun identifikasi dasar pemilih yang tercover dari hasil segmentasi
pemilih pada daerah pemilihan Kota Kupang III yaitu antara lain:
Masyarakat perkotaan yang sebagian masyarakat tinggal agak jauh dari
pusat kota, dan merupakan daerah agraris dengan mata pencaharian sebagai
10
petani dan peternak serta sedikit PNS (di Kelurahan Bello, Sikumana,
Fatukoa, Penfui, Naioni, Batuplat, Alak dan Manutapen); Sebagian
masyarakatnya lagi tinggal di daerah pesisir pantai (Kelurahan Nunhila,
Nunbaun Sabu, Nunbaun Delha dan Namosain) dengan mata pencaharian
sebagai nelayan dan pedagang, serta sebagian kecil masyarakat bermata
pencaharian PNS dan pegawai swasta dan buruh bangunan.
Dari hasil segmentasi berdasarkan kondisi struktural pemilih yang
dapat membentuk perilaku spesifik masyarakat pemilih pada setiap daerah
pemilihan tempat legislatif petahana menang atau merupakan kantong
kemenangan dikarenakan kandidat berhasil memetakan pemilih dengan
baik.
Menyusun Profil Pemilih Berdasarkan Hasil Segmentasi Pemilih.
Indikator yang dipakai kandidat untuk menyusun profil pemilih
berdasarkan hasil segmentasi politik meliputi tiga (3) indikator yaitu: profil
tentang pemilih pendukung partai politik; profil tentang pemilih massa
mengambang dan profil tentang pemilih pendukung partai lain. Profil
pemilih pendukung partai politik atau kandidat dari hasil segmentasi dibuat
dengan maksud agar kandidat dapat memahami mengapa pemilih pada
daerah tertentu mendukungnya dan mengapa pemilih pada daerah lainnya
kurang mendukungnya. Untuk meraih kesuksesan dalam mendulang suara
tentu partai dan kandidat lebih menfokuskan diri pada menyusun profil yang
detail tentang segmen pemilih pendukung kandidat. hal ini dinilai penting
11
karena dapat membantu dalam pengembangan program kerja dan isu politik
yang sesuai dengan karakteristik pendukung.
Profil pemilih hasil segmentasi pemilih dari Nikolaus Fransiskus,
anggota legislatif petahana dari PDI-P DPRD Kota Kupang tahun 2009
ternyata adalah mayoritas pemilih yang mendukungnya berasal dari pemilih
beretnis Sabu, Rote dan Timor yang berbeda etnis darinya (beretnis
Maumere-Flores). Konstituennya mayoritas beragama Kristen Protestan dan
bekerja sebagai pedagang dan tukang batu dan ojek, serta sebagian kecil
pendukungnya berasal dari etnis Maumere. Selain itu kandidat ini juga
didukung oleh Para pemuda lingkungan di sekitarnya dan tukang Ojek
lingkungan di Kelurahan TDM, Oebufu dan Oebobo, serta didukung penuh
oleh simpatisan PDI-P dan kader PDI-P mulai dari Pimpinan dan pengurus
Anak Cabang (PAC) PDIP pada Kecamatan Oebobo sampai ranting dan
anak ranting PDI-P di berbagai keluarahan pada dapil Kota Kupang II.
Berdasarkan profil pemilih, maka profil pemilih pendukung
kemenangan Nikolaus Fransiskus berada pada Kelurahan Fatululi, Oebufu,
Tuak Daun Merah (TDM) dan didukung oleh mayoritas pemilih beretnis
Rote, Sabu, Timor yang berbeda etnis dengannya serta didukung juga oleh
etnis Maumere.
Profil pemilih yang dibuat oleh Krispianus Matutina, yaitu: profil
pemilih yang mendukungnya meraih kemenangan berada pada Kelurahan
Fatululi, Naikoten I dan Oebufu. ia lebih menfokuskan diri pada pemilih
12
berdasarkan segmen pekerjaan dan segmen perilaku terhadap suatu isu atau
kebijakan yang terjadi baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal serta
menggunakan segmen sosial budaya atau pendekatan kultural. Segmen
pekerjaan yang dijadikan sebagai titik bidik utama yaitu para ojek yang
bernaungan pada pangkalan-pangkalan ojek yang dipimpin oleh Krispianus
Matutina. Sedangkan segmen perilaku pemilih terhadap isu atau kebijakan
yang sedang trend yaitu masalah tata lahan pembangunan di Kota Kupang
yang menggusur sejumlah rumah warga yang dinyatakan sebagai jalur hijau.
Persoalaan pada segmen ini mengenai hak kepemilikan tanah dijadikan
sebagai salah satu isu segmen pemilih yang diangkat. Selain itu juga karena
masyarakat Kota Kupang didominasi oleh 3 etnis besar yaitu Rote, Sabu dan
Timor maka pendekatan kultural terhadap ketiga segmen ini menjadi
penting baginya.
Profil pemilih pendukung Johnis Imanuel Haning untuk meraih
kemenangan pada daerah pemilihan Kota Kupang II, yaitu: didukung
pemilih pada Kelurahan Nunleu, Jemaat Kuanonia dan didukung oleh etnis
Rote. Selain itu, ia menyusun Kriteria pemilih yang menurutnya berpeluang
untuk mendukung kemenangannya didasarkan pada segmen pekerjaan dan
segmen sosial budaya. Dari segmen pekerjaan Johnis I. Haning lebih
menfokuskan pada petani, pedagang dan sedikit PNS. Sedangkan dari
segmen sosial budaya, Johnis I. Haning lebih menfokuskan pada pemilih
yang beragama Kristen Protestan dan beretnis Rote dan Timor.
13
Hasil segmentasi pemilih yang disusun para kandidat legislatif
petahana pada pemilu legislatif tahun 2009 ditemukan bahwa, ternyata ada
kesamaan profil pemilih yang mendukung Nikolaus Fransiskus, Krispianus
Matutina dan Johnis I Haning pada daerah pemilihan Kota Kupang II yaitu
pemilih yang mayoritas beretnis Sabu, Rote dan Timor yang berbeda etnis
dengan kandidat dan beragama Kristen Protestan dengan pekerjaan
bervariasi. Selain itu, pada umumnya mereka adalah kaum terpelajar yang
memiliki banyak alasan untuk menjatuhkan pilihan politik terhadap
kandidat tertentu.
Profil pemilih pendukung kemenangan dari John Davidson Pandie
pada daerah pemilihan Kota Kupang I berada pada Kelurahan Kelapa Lima,
Oesapa dan Airmata. Pemilih pendukungnya adalah masyarakat yang berada
pada daerah pesisir pantai yang mayoritas beretnis Rote beragama Kristen
Protestan dan masyarakat beretnis Bugis beragama Islam.
Legislatif petahana DPRD Kota Kupang dari Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia (PKPI) Mexi Hanssen Pello yang menang pada daerah
pemilihan Kota Kupang Kupang III, ditemukan bahwa profil pemilih yang
mendukung kemenangan dalam pemilu legislatif tahun 2009,yaitu berada
pemilih di Kelurahan Nunhila, Nunbaun Sabu (daerah pesisir) dan
Kelurahan Batuplat (daerah agraris) dengan mayoritas pemilih berada pada
daerah pesisir pantai yang bekerja sebagai nelayan dan sebagian kecil
14
pemilih pada daerah agraris pada Kecamatan Alak yang bekerja sebagai
petani, peternak dan buruh bangunan.
Pemetaan Potensi Suara Berdasarkan Kecenderungan Segmen Pemilih
Menentukan Wakil Rakyat Pilihannya (Anggota Legislatif Petahana)
DPRD Kota Kupang Pada Pemilu Tahun 2009
Pemetaan potensi suara dibuat setelah dianalisa identifikasi dasar
pemilih dan menyusun profil pemilih pendukung calon anggota legislatif.
Berikut ini ditampilkan tabel hasil temuan pemetaan potensi suara pemilih
berdasarkan kecendrerungan segmen pemilih menentukan wakil rakyat
pilihannya, sebagai berikut:
Tabel. 1.2
Pemetaan Potensi Suara Pemilih berdasarkan kecenderungan
segmen pemilih
oleh Anggota Legislatif Petahana pemilu 2009.
No. Dapil Kuota Nama
Pemetaan Potensi suara Pemilih
Kursi Kandidat
Jumlah
Jumlah
Lokasi
Sumber
Pemilih perolehan
Kandidat
Daya
dlm
Suara
Menang.
Kandidat
DPT
kandidat
1. II
12
Nikolaus 210.620 6.112
Kel.Fatululi, Tidak
Fransisks
suara
Oebufu &
dirinci tapi
Tuak Daun
ada dana
Merah
konsolidasi
(TDM)
ke
konstituen
2
II
12
P.K.
210.620 1.971
Kel.Fatululi, 50 s/d 100
Matutina
suara
Naikoten I
juta
& Oebufu
3
II
12
J.I.
210.620 2.223
Kel. Nunleu Besarnya
Haning
suara
Danan tdk
15
Angka
BPP
4.500
Suara
sah
4.500
suara
sah
4.500
suara
4
III
10
Mexi H.
Pello
69.161
1.913
suara
Kel.Nunhila,
Nunbaun
Sabu &
Batuplat
5
I
8
John D.
59.230
1.413
Kel. Oesapa,
Pandie
suara
KelapaLima,
& Airmata
Sumber : Diolah dari Data KPU Kota Kupang tahun 2009.
dirincikan
50 s/d 100
juta
sah
5.000
suara
sah
50 s/d 90
juta
3.000
suara
sah
Berdasarkan tabel 5.7, terlihat bahwa tidak ada satupun kandidat yang
perolehan suaranya mutlak mendapat satu (1) kursi di DPRD Kota Kupang
dalam pemilu legislatif tahun 2009. Setelah suara kandidat diakumulasi
dengan suara partai pengusungnya kemudian disandingkan dengan
ketentuan BPP, bahkan ada suara kandidat setelah melalui beberapa tahapan
ketentuan BPP yang ditetapkan KPU Kota Kupang berdasarkan daerah
pemilihan (dapil) barulah seorang kandidat legislatif yang bertarung dalam
pemilu legislatif tahun 2009 dapat memperoleh satu (1) kursi di DPRD Kota
Kupang.
C. PENUTUP
Realisasi
strategi
segmentasi
pemilih
dalam
kecenderungan
penentuan pilihan politik pemilih dilakukan dengan beberapa tahap yaitu
identifikasi dasar pemilih, menyusun profil pemilih,dan pemetaan kantong
suara pemilih pada dapil caleg yang bersangkutan.
Dalam melakukan identifikasi dasar segmentasi pemilih, para caleg
mengelompokkan segmen pemilih berdasarkan kondisi strukturalnya untuk
mengetahui perilaku spesifik masyarakat yang berada dalam segmen
16
tersebut. Dari identifikasi dasar pemilih ditemukan bahwa Hasil identifikasi
dasar pemilih pada periode sebelumnya dijadikan pedoman oleh caleg
petahana untuk melakukan perawatan pemilih pada daerah pemilihan yang
telah memenangkannya periode lalu, karena pada segmentasi pemilih di
daerah pemilihan tersebut terdapat pengurus-pengurus cabang dan ranting
serta pemilih pendukung fanatik partai. Selain itu, para caleg petahana juga
merawat segmen pemilih dengan menggunakan tim sukses yang berasal dari
kalangan keluarga, melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, jaringan
persahabatan dan kelompok arisan berdasarkan etnis tertentu yang dalam
daerah pemilihan tersebut.
Dari Hasil menyusun profil pemilih, ditemukan bahwa para caleg
petahana lebih memilih kelompok masyarakat yang berafiliasi dengan partai
yang menjadi kendaraan saat mengikuti kontes pemilu legisaltif, ternyata
cara ini cukup efektif untuk memperoleh suara dalam memenangkan kontes
pemilu legislstif tahun 2009 di DPRD Kota Kupang untuk masa bakti 2009
s/d 2014. Selain itu, Para caleg petahana menentukan target segmen pemilih
sesuai dengan kecenderungan pemilih menentukan pilihan politik.
Kelompok masyarakat yang ada pada Dapil: I, II dan III lebih cenderung
memilih figur caleg yang betul-betul merakyat dan telah membuktikan
memperjuangkan aspirasi yang menyentuh kebutuhan dasar mereka Air
bersih, kesehatan gratis, pendidikan murah, persoalan tanah, dll) sehingga
17
tumbuh ikatan emosional berupa adanya rasa percaya pada caleg pilihan
mereka.
Dari hasil penelitian ini dihasilkan bahwa realisasi segmentasi
pemiliholeh para caleg petahana untuk menentukan kecenderungan pilihan
politik pemilih para legislatif terpilih di DPRD Kota Kupang periode 2009
s/d 2014 lebih didominasi dengan dukungan para simpatisan partai yang
dikendarai caleg tersebut dan terciptanya hubungan emosional yang baik
antara pemilih dengan caleg petahana lewat figur kandidat yang merakyat
dan berjuang selaras aspirasi masyarkat terkait dengan kebutuhan dasar
pemilih pada kantong-kantong suara di daerah pemilihannya.
Dengan demikian disarankan bahwa: pentingnya pencitraan diri
seorang caleg untuk dijaga, Caleg perlu menciptakan hubungan yang
strategis dan harmonis antara caleg dengan pemilih sehingga tumbuhlah
kedekatan emosional yang berimbas pada pemilih percaya dan menjatuhkan
pilihan politik pada caleg tersebut untuk menyuarakan aspirasi mereka.
18
DAFTAR PUSTAKA
Agustinus, Leo.(2009) .
Pilkada
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
dan
Dinamika
Politik
Lokal.
Anselm Strauss & Juliet Corbin. (2003). Dasar-dasar Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budiardjo, Miriam. (2004). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta:
PT.Gramedia Pustaka Utama.
----------------------.(2009). Dasar-Dasar Ilmu Politik. (cet.11). Jakarta:
PT.Gramedia Pustaka Utama.
Firmanzah. (2008). Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
---------------. (2008). Mengelola Partai Politik; Komunikasi dan
Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Herdiansyah,Haris.(2010).Metodologi Penelitian
Salemba Humanika.
Kualitatif.
Jakarta:
Kasali,Renald. (1998). Membidik Pasar Indonesia Segmentasi, Targeting
Positioning. Jakarta: PT. Gramedia PustakaUtama.
Lexi, Moleong.(2010).Metodologi
Rosdakarya.
Penelitian
Kualitatif.
Bandung:
Nursal,Adman. (2004). Political Marketing, Strategi memenagkan pemilu.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Nawawi,Handari.(2005).Instrumen Penelitian Bidang
Sosial.(cet.11).Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Toni, Adrianus dkk. (2006).
Nuansa.
Mengenal Teori-Teori Politik. Bandung:
Venus,Antar. (2004). Manajemen Kampanye Panduan teoritis dan
Praktis
Dalam
Merefleksikan
Kampanye
Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
19
Wasesa,Silih Agung.(2011). Political Branding & Public Relation. PT.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Sumber lainnya:
a) Jurnal Ilmiah:

F.S. Swantoro. (1997).
kampanye dan Profil Pemilu 1997
dalam Analisis CSIS: Pemilu MengebiriDemokrasi?. Jakarta:
Edisi Maret – April 1997.

Ngatno. (2011). Segmenting,Targeting dan Positioning Dalam
Pemasaran Kandidat Politik. Jurnal Forum FISIP UNDIP.
No.1. vol. 30 (Februari): 13 – 19
b) Tesis

Wulandari, Wahyu Harum. (2010). Realisasi Strategi Political
Marketing Para Legislatif Perempuan Terpilih Pada Pemilu
Legislatif 2009 Di DPRD Provinsi Jawa Tengah. Tesis.
Semarang. UNDIP.

Widji, Astuti. (2008).
Peranan Pemasaran Politik Kandidat
Dalam Meyakinkan Pemilih Pada PILKADA Kota Malang. Tesis.
Malang. UNAIR.
c) Dokumen resmi: UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif.
d) Internet:
 Gagalnya kandidat Incumbent pada Kabupaten Tebo Provinsi
Jambi. Dalam http://www.infojambi.com.
 20 Caleg Incumbent Kembali Terpilih Di Provinsi Jawa Timur.
Dalam http://www.lintasberita.com/Nasional/BeritaLokal.
 Terpilihnya Kembali Caleg Incumbent Di Provinsi Lampung
Kabupaten
Lampung
Tengah.
Dalam
http://www.radarlamteng.com.
20
21
22
Fly UP