...

PERBEDAAN KONTRAKSI UTERUS SEBELUM DAN SESUDAH

by user

on
Category: Documents
22

views

Report

Comments

Transcript

PERBEDAAN KONTRAKSI UTERUS SEBELUM DAN SESUDAH
PERBEDAAN KONTRAKSI UTERUS SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN
BREAST MASSAGE PADA IBU BERSALIN KALA I LAMA
DI RSUD UNGARAN
Tusiarti*), Puji Lestari**), Rosalina***)
*) Alumnus Program Studi D-IV Kebidanan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
**) Staf Pengajar Program Studi Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
***) Staf Pengajar Program Studi Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
ABSTRAK
Kasus ibu bersalin dengan kala I lama di RSUD Ungaran presentasinya tinggi yaitu
250 orang (56,6%) dan perlu penanganan yang serius. Salah satu penerapan tindakan
nonfarmakologi dalam penanganan kala I lama adalah dengan cara stimulus kontraksi dengan
dilakukannya breast massage. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan
kontraksi uterus sebelum dan setelah dilakukan Breast Massage terhadap peningkatan
kontraksi uterus pada ibu bersalin kala I lama.
Populasi dalam penelitian adalah 40 ibu bersalin dengan kala 1 lama di RSUD
Ungaran. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment menggunakan rancangan
pretest-posttest without control group design dengan teknik sampling menggunakan
accidental sampling terhadap 40 ibu bersalin dengan kala I lama di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Ungaran.
Sebagian besar ibu bersalin dengan kala I lama sebelum diberikan breast massage
mempunyai frekuensi His dalam kategori tidak ada kontraksi, yaitu sebanyak 21 orang
(52,5%), sebagian besar ibu bersalin dengan kala I lama setelah diberikan breast massage
mempunyai frekuensi His dalam kategori teratur, yaitu sebanyak 32 orang (80,0%). Ada
perbedaan kontraksi uterus sebelum dan setelah dilakukan Breast Massage terhadap
peningkatan kontraksi uterus pada ibu bersalin kala I lama (t = 8,862, p value = 0,000).
RSUD Ungaran hendaknya dapat menyertakan breast massage pada penatalaksanaan
manajemen kala I persalinan khususnya pada ibu bersalin dengan kala I lama sehingga dapat
meningkatkan kontraksi uterus.
Kata kunci: Perbedaan, kontraksi uterus, breast massage, kala I lama
ABSTRACT
Maternal case with first phase of the prolonged maternity in RSUD Ungaran have high
percentages, as many as 250 people (56,6%), and needs serious handling. One of application
non pharmacological measures in handling on prolonged period 1 phase maternity used
contractions stimulant by using breast massage. This research aimed to determine the
differences of uterine contractions before and after breast massage on prolonged period 1
phase maternity. This research used quantitative method with quast experiment design by
Pretest-posttest without control group design using accidental technique sampling with the
samples of 40 maternal with first phase of the prolonged maternity in RSUD Ungaran.
Majority of maternal with case on prolonged period 1 phase maternity before given
breast massage had No contractions category on His uterine contractions frequency as many
as 21 person (52,5%).
And majority of maternal with on prolonged period 1 phase maternity after given breast
massage had His frequency on did not get contraction category, their is 32 respondents
(80.0%). There are differences on uterine contractions, before and after given breast massage
on increasing uterine contractions in on prolonged period 1 phase maternity (t=8,862, p
value=0,000).
RSUD Ungaran suppose be able to enclose breast massage on their carrying first phase
maternity management especially to on the prolonged period 1 phase maternity case, so it
able to increase uterine contractions.
Password: The differences, uterine contractions, breast massage, on prolonged period 1
phase maternity
PENDAHULUAN
Berdasarkan
Survei
Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012,
angka kematian ibu (AKI) tercatat
mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup
(KH). Rata-rata kematian ini jauh
melonjak dibanding hasil SDKI 2007 yang
mencapai 228 per 100 ribu KH.
Melonjaknya AKI yang sangat tinggi itu
artinya Indonesia bahkan jauh lebih buruk
dari negara-negara miskin di Asia, seperti
Timor Leste, Myanmar, Bangladesh dan
Kamboja. (Prakarsa Policy Review 2013).
Angka Kematian Ibu di Provinsi Jawa
Tengah untuk tahun 2011 berdasarkan
laporan dari kabupaten/kota sebesar
116,01/100.000 kelahiran hidup. Angka
tersebut mengalami peningkatan bila
dibandingkan dengan AKI pada tahun
2010 sebesar 104,97/100.000 kelahiran
hidup. Sedangkan AKB di Provinsi Jawa
Tengah tahun 2012 sebesar 10,75/1.000
KH, meningkat bila dibandingkan dengan
2
tahun 2011 sebesar 10,34/1.000 KH.
Dibandingkan dengan target Millenium
Development Goal’s (MDGs) ke-4 tahun
2015 sebesar 17/1.000 KH maka AKB di
Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sudah
cukup baik karena telah melampaui target
(Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
2012).
Persalinan merupakan suatu proses
pengeluaran hasil konsepsi yang dapat
hidup, dari dalam uterus melalui vagina
atau jalan lahir lain ke dunia luar. Dalam
persalinan normal, bayi lahir melalui
vagina dengan letak belakang kepala atau
ubun-ubun kecil tanpa alat pertolongan
istimewa, serta tidak melukai ibu maupun
bayi (kecuali episiotomy), dan berlangsung
dalam waktu kurang dari 24 jam.
(Sarwono, 2008)
Penyebab dari persalinan lama yang
biasanya sering muncul baik dari awal
maupun di tengah-tengah proses persalinan
adalah dari faktor hormon, tekanan janin,
dan kontraksi uterus yang tidak efisien
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Breast Massage Pada Ibu Bersalin Kala 1 Lama
Di RSUD Ungaran
maka akan menyebabkan kelambatan
dilatasi serviks dan penurunan janin
sehingga persalinan berlangsung lebih
lama.
Kala I adalah kala pembukaan yang
berlangsung antara pembukaan nol sampai
lengkap. Lama kala I pada primigravida
berlangsung selama 12 jam sedangkan
pada multigravida adalah 8 jam. Kala I
terbagi menjadi fase laten dan fase aktif.
Fase laten pembukaan mencapai 3 cm. fase
aktif terbagi atas fase akselerasi yaitu
pembukaan 3 – 4cm, berlangsung sekitar 2
jam, fase dilatasi maksimal yaitu dari
pembukaan 4 – 9cm, terjadi sekitar 2 jam,
fase deselerasi terjadi antara 2 jam terjadi
ada pembukaan 9 hingga pembukaan
lengkap (10cm). Kontraksi yang normal
terjadi pada kala I adalah muncul setiap 10
menit dengan amplitude 40mmHg, dengan
durasi 20-30 (Manuaba, 2010).
Tindakan farmakologi adalah dengan
pemberian oksitosin. Oksitosin yang
diberikan dengan suntikan intramuskular
dapat menimbulkan incoordinate uterine
action. Oksitosin adalah obat yang sangat
kuat, pemberian sekaligus dan dosis besar
dapat menyebabkan kematian janin karena
kontraksi otot yang terlalu kuat dan dapat
menimbulkan ruptura uteri. Sangat
berbahaya memberikan oksitosin pada
panggul sempit dan pada ibu bersalin yang
memiliki regangan segmen bawah uterus
(Saifuddin, 2012).
Tindakan nonfarmakologi adalah
upaya-upaya tindakan kesehatan yang
menggunakan pendekatan tanpa obat.
Tindakan nonfarmakologi mencangkup
intervensi
perilaku-kognitif
dan
penggunaan agen-agen fisik. Upaya-upaya
tersebut antara lain distraksi, relaksasi,
massage dan sebagainya. (Potter dan Perry,
2005)
Salah satu penerapan tindakan
nonfarmakologi dalam penanganan kala I
lama adalah dengan cara stimulus
kontraksi dengan dilakukannya breast
massage yang selain dapat bermanfaat
sebagai penstimulus pengeluaran oksitosin
dalam pengeluaran ASI tetapi juga untuk
kontraksi uterus. (Taruna. 2004)
Berdasarkan hasil studi pendahuluan
dengan melihat catatan rekam medis di
RSUD Ungaran diketahui bahwa dalam
jangka waktu dari bulan September 2014 –
Februari 2015 terdapat jumlah 441 ibu
bersalin dengan penyulit dan 263 jiwa ibu
bersalin normal. Kasus ibu bersalin dengan
KPD 144 orang (32,6%), kasus ibu
bersalin dengan premature 37 orang
(8,3%), ibu bersalin dengan penyulit gawat
janin dan multiple sebanyak 10 orang
(2,2%) dan kasus ibu bersalin dengan kala
I lama adalah 250 orang (56,6%). Dari
hasil studi pendahuluan dengan melihat
catatan rekam medis RSUD Ungaran
terhadap 5 ibu bersalin dengan kala I lama
diketahui bahwa 3 (60%) dari 5 ibu
bersalin mengalami kala I lama pada fase
aktif. 3 (60%) ibu bersalin dengan kala I
lama disebabkan karena disproporsi
sevalopelvik dan 2 (40%) disebabkan
karena disproporsi malpresentasi janin dan
janin besar. Kemudian dari hasil studi
pendahuluan diketahui juga bahwa RSUD
Ungaran tidak menerapkan breast massage
untuk menstimulus kontraksi uterus pada
ibu bersalin dengan kala I lama.
Perumusan Masalah
Adakah Perbedaan Kontraksi Uterus
Sebelum dan Sesudah Dilakukan Breast
Massage pada Ibu Bersalin Kala I Lama di
RSUD Ungaran?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk: 1)
Mengetahui kontraksi uterus sebelum
dilakukan tindakan breast massage ibu
bersalin kala I lama; 2) Mengetahui
kontraksi uterus setelah dilakukan breast
massage ibu bersalin kala I lama; 3)
Mengetahui perbedaan kontraksi uterus
sebelum dan sesudah dilakukan breast
massage pada ibu bersalin kala I lama.
Manfaat Penelitian
Bagi tenaga kesehatan, penelitian ini
diharapkan
menambah
pengetahuan,
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Breast Massage Pada Ibu Bersalin Kala 1 Lama
Di RSUD Ungaran
3
wawasan
dan
pemahaman
tenaga
kesehatan tentang penanganan ibu bersalin
dengan kala I lama.
Bagi institusi pendidikan, penelitian
ini dapat digunakan sebagai tambahan
referensi di perpustakaan bagi peniliti lain
yang ingin mengadakan penelitian tentang
penanganan pada ibu bersalin dengan kala
I lama.
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan
desain quasi experiment dengan rancangan
penelitian menggunakan pretest-posttest
without control group design.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah
jumlah rata-rata ibu bersalin kala I lama di
RSUD dalam satu bulan yaitu 40 orang.
Data Sekunder
Data sekunder dari penelitian ini
didapat dari data catatan rekam medis
RSUD.
Analisis Data
Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan bertujuan
untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian.
Pada penelitian ini dilakukan uji statistik
deskriptif untuk mengetahui distribusi
frekuensi dari kontraksi uterus pada ibu
bersalin dengan kala I lama sebelum dan
sesudah diberikan breast massage.
Analisa Bivariat
Pada
penelitian
ini
penulis
menggunakan uji t-test dependen untuk
mengetahui perbedaan kontraksi uterus
antara sebelum dan sesudah dilakukan
breast massage (pre test dan post test).
HASIL PENELITIAN
Sampel
Sampel yang diambil dalam penelitian
ini adalah ibu bersalin kala I lama di
RSUD Ungaran yang memenuhi kriteria
inklusi, dengan jumlah 40 orang dengan
teknik pengambilan sampel accidental
sampling.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian telah dilakukan di RSUD
Ungaran pada bulan Agustus 2015.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pengamatan dengan
check list. Check list adalah suatu daftar
pengecek, berisi nama subyek dan
beberapa gejala/identitas lainnya dari
sasaran pengamatan. Pengamat tinggal
memberikan tanda check () pada daftar.
Pengumpulan Data
Data Primer
Pada penelitian ini data primer didapat
dari hasil observasi untuk mengetahui data
demografi ibu bersalin kala I lama.
4
Karakteristik Responden
Karakteristik Responden
Pekerjaan
Berdasarkan
Tabel 1
Distribusi
Frekuensi
Karakteristik
Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan
F
%
Buruh
3
7,5
Swasta
11
27,5
Pedagang
4
10,0
Bidan
1
2,5
IRT
21
52,5
Jumlah
40
100,0
Karakteristik
Gravida
Responden
Berdasarkan
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Berdasarkan Gravida
Pekerjaan
F
%
Primigravida
23
57,5
Multigravida
17
42,5
Jumlah
40
100,0
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Breast Massage Pada Ibu Bersalin Kala 1 Lama
Di RSUD Ungaran
Analisis Univariat
Gambaran Kontraksi Uterus Sebelum Diberikan Breast massage
Tabel 3
Distribusi Deskripsi Kontraksi Uterus Sebelum Diberikan Breast massage
Kontraksi Uterus
n
Mean
Median
Sd
Min
Max
Frekuensi His
40
1,350
1,000
1,051
0
3
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Kategori Kontraksi Uterus Sebelum Diberikan Breast Massage
Frekuensi His
f
%
Tidak ada kontraksi
21
52,5
Teratur
19
47,5
Sering
0
0,0
Jumlah
40
100,0
Gambaran Kontraksi Uterus Setelah Diberikan Breast massage
Tabel 5
Distribusi Deskripsi Kontraksi Uterus Setelah Diberikan Breast massage
Kontraksi Uterus
n
Mean
Median
Sd
Min
Max
Frekuensi His
40
2,400
2,000
0,981
1
4
Tabel 6
Distribusi Frekuensi Kategori Kontraksi Uterus Setelah Diberikan Breast Massage
Frekuensi His
f
%
Tidak ada
8
20,0
Teratur
32
80,0
Sering
0
0,0
Jumlah
40
100,0
Analisis Bivariat
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum dan Sesudah Diberikan Breast massage
Tabel 7. Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum dan Sesudah Diberikan Breast massage
Variabel
n
Mean
SD
SE
t
p value
Frekuensi His
Pre Test
40
1,350
1,051
166
8,862
0,000
Post Test
2,400
0,981
155
PEMBAHASAN
Interpretasi dan Diskusi Hasil
Kontraksi Uterus Sebelum Diberikan
Breast Massage
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar ibu bersalin dengan kala I
lama sebelum diberikan breast massage
mempunyai frekuensi His dalam kategori
tidak ada kontraksi, yaitu sebanyak 21
orang (52,5%).
Hasil penelitian yang menunjukkan
sebagian besar ibu bersalin dengan kala I
lama sebelum diberikan breast massage
mempunyai frekuensi His dalam kategori
tidak ada kontraksi dimungkinkan karena
terjadi kelainan his yang terjadi pada
primigravida seperti Hypotonic uterine
contraction dan Incoordinate uterine
action. Hal ini sesuai dengan pendapat
Saifuddin (2011) bahwa Hypotonic uterine
contraction merupakan kelainan his
dengan kekuatan yang lemah / tidak
adekuat untuk melakukan pembukaan
serviks atau mendorong anak keluar. His
bersifat biasa dalam arti fundus
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Breast Massage Pada Ibu Bersalin Kala 1 Lama
Di RSUD Ungaran
5
berkontraksi lebih kuat dan lebih dulu dari
bagian-bagian lain, kelainannya terletak
pada kontraksi uterus lebih aman, singkat
dan jarang daripada biasa. Diagnosis
inersia uteri paling sulit ditegakkan pada
masa laten. Kontraksi uterus yang disertai
rasa nyeri tidak cukup untuk menjadi dasar
utama diagnosis bahwa persalinan sudah
dimulai. Incoordinate uterine actionya itu
tidak adanya koordinasi antara kontraksi
bagian
atas,
tengah
dan
bawah
menyebabkan His tidak efisien dalam
mengadakan
pembukaan.
Penderita
biasanya primigravida, kala I menjadi lama
dan dapat diraba jelas pinggir serviks yang
kaku. His yang tidak normal dalam
kekuatan atau sifatnya menyebabkan
rintangan pada jalan lahir yang lazim
terdapat pada setiap persalinan, tidak dapat
diatasi sehingga persalinan mengalami
hambatan atau kemacetan.
Selain itu pada ibu primigravida yang
mengalami ketakutan atau kecemasan
dapat menyebabkan frekuensi His masih
jarang dan tidak teratur atau Incoordinate
uterine action. Hal in sebagaimana
dinyatakan Liu (2008) bahwa incoordinate
uterine action merupakan salah satu
kelainan his, disini sifat his berubah, tonus
otot uterus terus meningkat diluar his, dan
tidak ada sinkronisasi kontraksi bagianbagiannya. Tidak ada koordinasi antara
kontraksi bagian atas, tengah dan bawah
yang menyebabkan his tidak efisien dalam
mengadakan pembukaan. Kondisi ini
cenderung terjadi jika ibu ketakutan,
distres atau cemas seperti pada persalinan
pertama, terutama jika ibu berusia lebih
dari 35 tahun.
Kontraksi Uterus Setelah Diberikan Breast
Massage
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar ibu bersalin dengan kala I
lama setelah diberikan breast massage
mempunyai frekuensi His dalam kategori
teratur, yaitu sebanyak 32 orang (80,0%).
Breast massage akan merangsang
hipotalamus untuk melepas oksitosin dari
hipofisis posterior. Apabila payudara
6
dirangsang maka dilanjutkan ke simpul
saraf sensoris menuju ke hipotalamus,
kemudian
dilanjutkan
ke
hipofisis
posterior untuk merangsang pelepasan
oksitosin. Stimulasi oksitosin akan
membuat sel-sel mioepitel di sekitar
alveoli
didalam
kelenjar
mamae
berkontraksi
sehingga
peningkatan
kontraksi uterus.
Pernyataan di atas sejalan dengan
pendapat Bobak (2005) bahwa breast
massage adalah rangsangan melalui
serabut syaraf yang memacu hipofise
posterior untuk melepas hormon oksitosin
dalam darah. Stimulasi ini juga akan
merangsang hipotalamus untuk melepas
oksitosin dari hipofisis posterior. Stimulasi
Oksitosin membuat sel-sel mioepitel di
sekitar alveoli didalam kelenjar mamae
berkontraksi
sehingga
peningkatan
kontraksi uterus mulai terbentuk.Selain itu
oksitosin berperan juga memacu kontraksi
otot rahim, sehingga mempercepat proses
persalianan dan mengurangi perdarahan
setelah persalinan. Pemijatan payudara dan
stimulasi
payudara
tampaknya
memfasilitasi pelepasan oksitosin dari
kelenjar hipofisis posterior (Harnani 2010).
Berdasarkan hasil penelitian terlihat
terdapat perbedaan mekanisme persalinan
antara primigravida dengan multigravida.
Hal ini sebagaimana dinyatakan Saifuddin
(2007) bahwa kontraksi uterus pada
multigravida lebih kuat dari pada
primigravida. Perubahan keseimbangan
estrogen dan progesterone menyebabkan
oksitosin yang dikeluarkan oleh hipofisis
posterior, menimbulkan kontraksi yang
kekuatannya menjadi dominan saat
mulainya
persalinan.
Berdasarkan
penelitian menunjukkan bahwa terdapat
peningkatan setelah dilakukan breast
massage pada multigravida daripada
primigravida karena pada multigravida
sudah pernah mengalami persalinan masa
lampau sehingga bagian ujung serviks
semakin tipis serta effacement dan dilatasi
terjadi bersamaan sedangkan pada
primigravida effacement biasanya terjadi
lebih dahulu daripada dilatasi sehingga
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Breast Massage Pada Ibu Bersalin Kala 1 Lama
Di RSUD Ungaran
kontraksi akan semakin meningkat setelah
dilakukan breast massage.
prostaglandin yang berfungsi
memperkuat kontraksi uterus.
untuk
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum
dan Setelah Dilakukan Breast Massage
terhadap Peningkatan Kontraksi Uterus
pada Ibu Bersalin Kala I Lama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rata-rata frekuensi His pada ibu bersalin
dengan kala I lama sebelum diberikan
breast massage adalah 1,350 dengan
standar deviasi 1,051, setelah diberikan
breast massage didapatkan rata-rata
frekuensi His adalah 2,400 dengan standar
deviasi 0,981. Terlihat nilai mean
perbedaan sebelum dan setelah diberikan
breast massage adalah 1,050 dengan
standar deviasi 0,749. Hasil uji statistik
didapatkan nilai pv sebesar 0,000, maka
dapat disimpulkan terdapat perbedaan
yang signifikan kontraksi uterus sebelum
dan sesudah diberikan breast massage.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan
kontraksi uterus sebelum dan sesudah
diberikan breast massage. Hal ini dapat
disebabkan karena breast massage akan
merangsang hipotalamus untuk melepas
oksitosin dari hipofisis posterior. Apabila
payudara dirangsang maka dilanjutkan ke
simpul saraf sensoris menuju ke
hipotalamus, kemudian dilanjutkan ke
hipofisis posterior untuk merangsang
pelepasan oksitosin. Stimulasi oksitosin
akan membuat sel-sel mioepitel di sekitar
alveoli
didalam
kelenjar
mamae
berkontraksi
sehingga
peningkatan
kontraksi uterus.
Hasil penelitian dimungkinkan karena
breast massage merangsang pengeluaran
oksitosin karena oksitosin mempunyai efek
utama pada uterus dan kelenjar payudara.
Oksitosin berperan dalam memacu
kontraksi otot rahim, sehingga dapat
mempercepat proses persalinan dan
mengurangi perdarahan setelah persalinan.
Oksitosin mampu menyebabkan kontraksi
uterus yang terjadi lewat otot polos
maupun lewat peningkatan produksi
Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti tidak bisa
mengontrol faktor kondisi psikologis ibu
bersalin dengan kala I lama sehingga dapat
mempengaruhi
keberhasilan
breast
massage dalam meningkatkan kontraksi
uterus pada ibu bersalin dengan kala I
lama.
Selain itu, beberapa responden
menolak menjadi sampel penelitian
sehingga relatif kurang dapat mewakili
seluruh populasi ibu bersalin dengan kala I
lama di RSUD Ungaran.
KESIMPULAN
Sebagian besar ibu bersalin dengan
kala I lama sebelum diberikan breast
massage mempunyai frekuensi His dalam
kategori tidak ada kontraksi, yaitu
sebanyak 21 orang (52,5%).
Sebagian besar ibu bersalin dengan
kala I lama setelah diberikan breast
massage mempunyai frekuensi His dalam
kategori teratur, yaitu sebanyak 32 orang
(80,0%).
Terdapat perbedaan kontraksi uterus
sebelum dan setelah dilakukan Breast
Massage terhadap peningkatan kontraksi
uterus pada ibu bersalin kala I lama (t =
8,862, p value = 0,000).
SARAN
RSUD Ungaran hendaknya dapat
menyertakan breast massage pada
penatalaksanaan manajemen kala I
persalinan khususnya pada ibu bersalin
dengan kala I lama sehingga dapat
meningkatkan kontraksi uterus.
Hendaknya
bidan
pada
setiap
pelayanan kebidanan khususnya dalam
menangani ibu bersalin dengan kala I lama
dapat memberikan breast massage
sehingga dapat meningkatkan kontraksi
uterus dan risiko terjadinya persalinan
lama atau macet dapat lebih diminimalkan.
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Breast Massage Pada Ibu Bersalin Kala 1 Lama
Di RSUD Ungaran
7
Peneliti selanjutnya hendaknya dapat
melakukan penelitian yang sejenis dengan
mengontrol kondisi psikologis ibu yaitu
memilih ibu bersalin dengan kala I lama
yang tidak mengalami gangguan ketakutan
atau kecemasan, stres.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Achmadi
&
Narbuko,
2007,
Metodologi Penelitian, Bumi Aksara,
Jakarta.
[2] Anggraeni dan Hidayah, 2012,
Pengaruh Rangsangan Puting Susu
Terhadap Peningkatan Kontraksi
Uterus Pada Ibu Inpartu Kala II di
Polindes Anyelir Desa Tunggalpager
Kec. Pungging Kabupaten Mojokerto,
Jurnal Hospital Majapahit, Vol 4 No.
2, Nopember 2012
[3] Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek, edisi revisi
IV, PT. Rineka Cipta, Jakarta.
[4] Bobak,
2005,
Keperawatan
Maternitas. Jakarta : EGC.
[5] Depkes, 2010, Rencana Operasional
Promosi Kesehatan Ibu dan Anak,
Pusat Promosi Kesehatan, Departemen
Kesehatan RI.
[6] Dini, 2012, Rangsang Puting Payudara
agar Cepat Bersalin, dilihat tanggal 29
Maret
2015,
<http://www.kompas.com/artikel
kesehatan-ibu&anak/html>.
[7] Farrer, 2001, Perawatan Maternitas.
Jakarta : EGC
[8] Ghozali, 2006, Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS,
BP Undip, Semarang.
[9] Harnani
2010,
Metode-Metode
Pematangan Serviks dan Induksi
Persalinan, Diktat Ajar, Fakultas Ilmu
Kedokteran, Universitas Sriwijaya,
Palembang
[10] Hidayat, 2011, Metodologi Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Salemba Medika, Jakarta.
8
[11] Manuaba IB, 2010, Ilmu Kebidanan,
Penyakit Kandungan dan KB, Edisi :
2, EGC EGC, Jakarta
[12] Mochtar R, 2012, Sinopsis Obstetri,
Jilid 1, ECG, Jakarta
[13] Murray, dkk, 2003, Biokimia Harper.
Jakarta: EGC.
[14] Notoatmodjo,
2010.
Metodologi
Penelitian Kesehatan, edisi revisi,
Rineka Cipta Jakarta.
[15] Oxorn dan Forte, 2010, Ilmu
Kebidanan : Patologi dan Fisiologi
Persalinan, Andi Offset, Yogyakarta
[16] Prakarsa Policy Review, 2013, Angka
Kematian Ibu (AKI) Melonjak,
Indonesia Mundur 15 Tahun, dilihat
tanggal
29
Maret
2015,
<http://www.theprakarsa.org/pdf>.
[17] Potter & Perry. 2005, Fundamental
Keperawatan : Konsep, Proses dan
Praktik, Edisi 4, cetakan I, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
[18] Riyanto, 2011, Aplikasi Metodologi
Penelitian Kesehatan, Nuha Medika,
Yogyakarta.
[19] Saifuddin 2005, Ilmu Kebidanan,
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirodihardjo, Jakarta.
[20] Santoso, 2004, Mengolah Data Secara
Profesional, Elex Media Computido,
Jakarta.
[21] Riyanto,
Agus.
2011,
Apliksi
Metodologi Penelitian Kesehatan,
Nuha Medika, Yogyakarta.
[22] Sjamsuhidajat dan De Jong, 2013,
Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta
[23] Sugiyono, 2010, Statistika untuk
Penelitian. cetakan ketujuhbelas,
Alfabeta, Bandung.
[24] Varney, 2007, Buku Ajar Asuhan
Kebidanan, edisi 4, Volume 1 dan 2,
EGC, Jakarta
[25] Verrals, 2003, Anatomi dan Fisiologi
Terapan Dalam Kebidanan Edisi
Tiga. Jakarta: EGC.
Perbedaan Kontraksi Uterus Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Breast Massage Pada Ibu Bersalin Kala 1 Lama
Di RSUD Ungaran
Fly UP