...

Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK PETERNAK DENGAN
KEINGINAN REGENERASI USAHA TERNAK SAPI PERAH
THE RELATION BETWEEN CHILDREN OF FARMER’S PERCEPTION
WITH REGENERATION DESIRE OF DAIRY CATTLE BUSSINES
(Kasus di Kelompok Putrasaluyu dan Tunasmekar Desa Mekarbakti Kec. Pamulihan, Kab.
Sumedang)
(Putrasaluyu and Tunasmekar Communities’ Case in Mekarbakti Village, Pamulihan Subdistrict,
Sumedang Regency)
Dian Rizqi Hardiningtyas*, Marina Sulistyati**, Sugeng Winaryanto**
Universitas Padjadjaran
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Jalan Raya Bandung – Sumedang KM 21 Sumedang 45363
*Alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Tahun 2016
**Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di kelompok Putrasaluyu dan Tunasmekar Desa Mekarbakti
Kecamatan Pamulihan, mulai tanggal 20 Januari sampai dengan 03 Februari 2016. Penelitian
bertujuan untuk mengetahui persepsi anak peternak terhadap usaha ternak sapi perah yang
dijalankan keluarganya, mengetahui keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah terhadap
anak peternak, menganalisis hubungan antara persepsi anak peternak dengan keinginan
regenerasi usaha ternak sapi perah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peternak yang
mempunyai anak ≥ 15 tahun yaitu sejumlah 37 orang. Penarikan sampel dengan
menggunakan metode sampling jenuh, yaitu penarikan sampel apabila semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel atau yang disebut juga dengan sensus. Maka jumlah
sampel dalam penelitian ini berjumlah 37 anak peternak. Hasil yang diperoleh menunjukan
bahwa persepsi anak peternak sapi perah dilihat dari aspek kognisi, afeksi, dan psikomotorik
yang tergolong kategori cukup baik (59,46%) dan keinginan regenerasi usaha ternak sapi
perah tergolong cukup baik (45,95%) serta hubungan antara persepsi anak peternak sapi perah
dengan keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah mempunyai hubungan kuat (Rs = 0,716)
Kata kunci: Persepsi, keinginan, regenerasi, anak peternak sapi perah
ABSTRACT
This research has been conducted in Putrasaluyu and Tunasmekar Communities’,
Mekarbakti Village, Pamulihan District starting on January 20 th until February 3 rd, 2016. This
research aims to cognize the children of farmer’s perception toward dairy cattle business that
is run by their family, cognize regeneration desire of dairy cattle business toward children of
farmers, analyze the relation between children of farmer’s perception with regeneration effort
of dairy cattle business. The population in this study were all farmers who have children ≥ 15
years, amaounting to 37 people. Sampling using a sampling method saturated, ie determining
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
if all members of the population sample used as samples or also called a census. Then the
number of samples in this study also totaled 37 children of farmer’s. The reslts shows that
children of dairy cow farmer’s perception is seen from the cognitive, affective, and
psychomotor aspect which is classified in fairly good (59,46%) and regeneration effort of
dairy cattle business is classified in fairly good (45,95%), also the relation between children
of farmer’s perception with regeneration effort of dairy cattle business has a strong correlation
(Rs = 0,716)
Keywords: Perception, desire, regeneration, children of farmer’s
PENDAHULUAN
Usaha peternakan sapi perah di Indonesia pada dasarnya bertujuan meningkatkan
produksi susu dalam negeri untuk mengantisipasi tingginya permintaan susu. Hal tersebut
memberikan peluang bagi peternak, terutama peternakan sapi perah rakyat untuk lebih
meningkatkan produksi, sehingga ketergantungan akan susu impor dapat dikurangi.
Usaha ternak sapi perah rakyat di Indonesia umumnya dilakukan oleh peternak rakyat
yang dibantu anggota keluarganya, dengan karakteristik: a) pemeliharaannya masih
sederhana, b) belum menerapkan teknologi yang modern, c) banyak biaya yang tidak
diperhitungkan, d) belum berorientasi kepada keuntungan sepenuhnya dan belum memenuhi
syarat usaha komersial. Usaha peternakan rakyat dengan skala pemilikan berkisar 1-3 ekor
mengutamakan tenaga kerja anggota karena menyangkut biaya kerja tambahan yang harus
dikeluarkan. Peternakan rakyat masih menganut nilai dan norma tradisional yang melibatkan
anak dalam perekonomian keluarga.
Nilai dan norma tradisional yang berlaku di masyarakat pedesaan, menunjukkan bahwa
anak juga dilibatkan dalam beberapa kegiatan sapi perah. Rata-rata keterlibatan anak dalam
keberlanjutan usaha ternak sapi perah rakyat yaitu berusia ≥ 15 tahun. Usia 15 tahun
merupakan usia seorang anak yang menunjukan kecenderungan arah sikap dan cara berfikir
mulai memasuki masa kritis, yaitu mulai menguji kaidah-kaidah dengan kenyataan dalam
perilaku sehari-hari. Selain itu juga pada usia ini seseorang mulai bertanya-tanya mengenai
berbagai fenomena yang terjadi dilingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai
diri mereka.
Jumlah anggota KSU Tandangsari, kurun waktu 3 tahun terakhir (2012-2014)
mengalami penurunan sekitar 25%, dari 1200 peternak pada Tahun 2012 menjadi 1100 (2013)
dan pada Tahun 2014 menjadi 900 peternak. Penurunan anggota koperasi disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu adanya impor daging yang menyebabkan harga daging sapi naik,
sehingga peternak sapi perah memilih menjual sapi perah untuk dijual dagingnya daripada
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
dipelihara sebagai penghasil susu selain itu harga susu dari IPS tidak mengalami kenaikan
sedangkan biaya pemeliharaan seperti pakan dan peralatan kandang naik, sehingga
keuntungan peternak tidak sebanding dengan pengeluaran peternak. Faktor lain yang
menyebabkan penurunan jumlah anggota koperasi yaitu rendahnya regenerasi.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya regenerasi usaha sapi perah di
kecamatan Pamulihan disebabkan oleh tempat tinggal mereka di kawasan industri, sehingga
anak peternak lebih cenderung memilih bekerja sebagai karyawan pabrik dibandingkan
beternak sapi perah, selain itu juga rata-rata pendidikan anak peternak mencapai jenjang
menengah ke atas, sehingga minat anak peternak untuk meneruskan usaha orang tuanya
sebagai peternak sapi perah kurang, karena mereka gengsi menjadi peternak sapi perah
dengan hasil pendapatan yang relatif kecil. Salah satu keinginan yang dapat dilaksanakan
dalam rangka mempertahankan usaha sapi perah yaitu dengan mempertahankan usaha melalui
suksesi usaha peternakan dalam keluarga. Suksesi peternakan keluarga adalah proses transisi
pengelolaan dan kepemilikan usaha ternak ke generasi berikutnya dalam rangka keberlanjutan
usahanya.
Keberlanjutan usaha berkaitan erat dengan kemampuan dan minat seseorang untuk
memelihara ternak dan mampu memperbaiki kehidupan ekonominya, serta dapat memelihara
dan memperbaiki aset yang telah dimiliki serta menjaga kesinambungan usaha peternak agar
anak-anaknya dapat melanjutkan profesi orang tua dengan cara meneruskan aset usaha yang
ada dan sekaligus mengembangkannya. Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui persepsi
anak peternak terhadap usaha ternak sapi perah yang dijalankan keluarganya, mengetahui
keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah terhadap anak peternak, dan menganalisis
hubungan antara persepsi anak peternak terhadap keinginan regenerasi usaha ternak sapi
perah.
OBJEK DAN METODE
1.
Objek
Objek penelitian adalah anak peternak berusia ≥ 15 tahun dan orang tuanya sebagai
anggota KSU Tandangsari yang memiliki sapi perah produktif berlokasi di desa Mekarbakti
Kec. Pamulihan, Kabupaten Sumedang.
2.
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus. Metode sensus
yaitu semua anggota populasi dijadikan sampel (Singarimbun, 1989).
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
3.
Penentuan Lokasi Penelitian
Desa Mekarbakti Kec. Pamulihan, Kabupaten Sumedang menjadi lokasi penelitian
dengan alasan memiliki populasi sapi perah dan jumlah kelompok peternak terbanyak
dibandingkan desa-desa lain di kecamatan Pamulihan.
Terdiri dari 7 Kelompok, yaitu:
Cipacing, Mekarjaya, Tunasmekar, Putrasari, Mekarsari, Putrasaluyu dan Kiarajegang.
Penentuan daerah penelitian yaitu di Putrasaluyu yang terdiri dari dua sub kelompok yaitu
Putrasaluyu I, Putrasaluyu II dan Tunasmekar sebagai lokasi penelitian berdasarkan
pertimbangan, bahwa diantara 7 Kelompok di desa Mekarbakti, Kelompok Putrasaluyu dan
Tunasmekar (1) Banyak keluarga peternak yang mempunyai anak berusia ≥ 15 tahun (2)
Daerahnya berdekatan sehingga memudahkan dalam penelitian.
4.
Teknik Pengambilan Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karekteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut
(Sugiyono, 2010). Dapat disimpulkan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang
mempunyai karakteristik dan sifat yang memiliki seluruh populasi yang ada. Di karenakan
peternak yang mempunyai anak ≥ 15 tahun di Kelompok Putrasaluyu dan Tunasmekar kurang
dari seratus yaitu berjumlah 37 orang, maka penelitian ini merupakan penelitian populasi.
Oleh karena itu sampel yang diambil sejumlah populasi yaitu 37 anak peternak.
Dengan demikian teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah
teknik sampling jenuh.
Menurut Sugiyono (2010) mengatakan bahwa ”Sampling jenuh
adalah teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel”.
5.
Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data
yang dikumpulkan melalui seluruh aspek yang merupakan bahan pengamatan dan seluruh
informasi yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Data primer diperoleh langsung dari
anak peternak sapi perah melalui wawancara dan pengamatan langsung pada sampel yang
didasari dari daftar pertanyaan atau kuisioner yang disiapkan.
6.
Operasionalisasi Variabel
(1) Variabel Bebas
Variabel bebas pada penelitian ini yaitu persepsi anak peternak sapi perah. Persepsi
adalah suatu proses pengenalan dan proses pemberian arti mengenai regenerasi keberlanjutan
suatu usaha ternak sapi perah, adapun dimensi dari persepsi ada tiga yaitu :
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
1) Kognisi
Kognisi merupakan cara memperoleh pemahaman tentang dirinya dan lingkungannya,
serta kesadaran berinteraksi dengan lingkungannya. Ranah kognisi berisi perilaku yang
menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan dan ketrampilan berfikir. Oleh karena itu
dapat ditentukan beberapa indikator kognisi, yaitu:
a. Pengetahuan anak peternak terhadap pentingnya regenerasi dalam usaha ternak.
Pentingnya regenerasi dalam usaha yaitu sebagai usaha keluarga yang menjadi sumber
penghasilan, sebagai penentu usaha keluarga, dan sebagai usaha menciptakan lapangan
pekerjaan keluarga. Apabila menjawab ya diberi skor 3, apabila menjawab ragu-ragu
diberi skor 2, dan apabila menjawab tidak diberi skor 1.
b. Pengetahuan anak peternak mengenai warisan usaha dari orang tuanya.
Warisan adalah pemberian aset kekayaan dari orang tua kepada anaknya, yang dijadikan
sebagai modal untuk menjalakan usaha, dan bersifat turun menurun. Apabila menjawab ya
diberi skor 3, apabila menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila menjawab tidak
diberi skor 1.
c. Pengetahuan anak peternak mengenai pendapatan usaha (income) apabila beternak sapi
perah.
Pendapatan usaha (income) akan berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha, pemenuhan
kebutuhan keluarga, dan dapat menguntungkan dibanding dengan usaha lainnya. Apabila
menjawab ya diberi skor 3, apabila menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila
menjawab tidak diberi skor 1.
2) Afeksi
Afeksi yaitu segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai,
penghargaan, semangat, minat, motivasi dan sikap yang terdiri dari lima kategori, yaitu:
penerimaan, pemberian respon atau partisipasi, penilaian atau penentuan sikap, organisasi,
karakteristik/pembentukan pola hidup. Oleh karena itu dapat ditentukan beberapa indikator
afeksi, yaitu :
a. Sikap anak peternak yang mendapatkan seluruh aset kepemilikan yang diwariskan oleh
orang tuanya.
Pendapatan aset kepemilikan yang diwariskan akan diterima seluruhnya, dikelola dan
dilanjutkan, serta menjadi sumber nafkah keluarga. Apabila menjawab setuju diberi skor
3, apabila menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila menjawab tidak diberi skor 1.
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
b. Sikap anak peternak dalam mengatur warisan dari orang tuanya.
Aset warisan keluarga yang diberikan meliputi tanah atau lahan, perlengkapan kandang,
serta populasi ternak sapi perah yang akan dijadikan modal untuk beternak. Apabila
menjawab setuju diberi skor 3, apabila menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila
menjawab tidak diberi skor 1.
c. Sikap anak peternak dalam menanggapi keberadaannya sebagai regenerasi terhadap usaha
yang diwariskan.
Keberadaan sebagai regenerasi yaitu mempertahankan aset warisan yang diberikan,
mengembangkan aset usaha yang ada, dan akan meningkatkan jumlah produksi susu yang
dihasilkan. Apabila menjawab setuju diberi skor 3, apabila menjawab ragu-ragu diberi
skor 2, dan apabila menjawab tidak diberi skor 1.
3) Psikomotorik
Psikomotorik yaitu meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, ketrampilan motorik dan
kemampuan fisik. Tujuan psikomotorik biasanya fokus pada perubahan atau pengembangan
dalam perilaku atau ketrampilan. Oleh karena itu dapat ditentukan beberapa indikator
psikomotorik, yaitu:
a. Kemampuan anak peternak untuk membantu usaha orang tuanya.
Kemampuan untuk membantu usaha orang tuanya yaitu dari mulai mencari rumput untuk
pakan, membersihkan kandang, dan memerah susu. Apabila menjawab ya diberi skor 3,
apabila menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila menjawab tidak diberi skor 1.
b. Kemampuan anak peternak untuk mengelola warisan dari orang tuanya.
Kemampuan untuk mengatur aset yaitu mampu mengelola dari aset lahan, ternak sapi
perahnya, dan perlengkapan kandang. Apabila menjawab ya diberi skor 3, apabila
menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila menjawab tidak diberi skor 1.
c. Kemampuan anak peternak untuk memelihara ternak usaha yang diwariskan oleh orang
tuanya.
Kemampuan memelihara ternak dan menggantikan peran orang tua dalam usaha ternak
sapi perah dalam kegiatan usaha ternak sapi perah sehari-hari baik pagi maupun sore hari.
Apabila menjawab ya diberi skor 3, apabila menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila
menjawab tidak diberi skor 1.
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
(2) Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah keinginan regenerasi dalam rangka
keberlanjuan usaha ternak sapi perah. Adapun variabelnya yaitu :
a. Pengaruh lingkungan Sekitar
Pengaruh lingkungan sekitar adalah banyaknya teman sebaya bekerja sebagai peternak,
tersedianya fasilitas koperasi dan lingkungan yang memberikan peluang untuk
mendapatkan pekerjaan lain di luar beternak. Apabila menjawab ya diberi skor 3, apabila
menjawab ragu-ragu diberi skor 2, dan apabila menjawab tidak diberi skor 1.
b. Keterlibatan anak peternak dalam usaha orang tuanya
Keterlibatan anak peternak dalam usaha yaitu dari tingkat pendidikan 0 - 16 tahun atau
mulai membantu dan mengenal usaha ternak sapi perah sekitar 1-12 tahun dan
keterlibatan anak ikut serta dalam mengelola dan membantu usaha ternak keluarga >5 jam
dalam sehari. Apabila menjawab semenjak usia <6 tahun dan keterlibatan >5 jam diberi
skor 3, apabila menjawab semenjak usia 7-9 tahun dan keterlibatan 3-5 jam diberi skor 2,
dan apabila menjawab semenjak usia >10 tahun dan keterlibataan <3 jam diberi skor 1.
7. Analisis Data
Data mengenai variabel bebas (Persepsi anak peternak) dan variabel terikat (Keinginan
regenerasi) dianalisis dengan pendekatan statistik deskriptif yaitu menggunakan distribusi
frekuensi.
8.
Koefisien Korelasi
Korelasi yang digunakkan yaitu menggunkan Rank Spearman. Korelasi Rank Spearman
digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji signifikansi hipotesis asosiatif bila
masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk Ordinal. Uji korelasi Rank Spearman
adalah uji statistik yang ditunjukan untuk mengetahui hubungan dua atau lebih variabel
berskala ordinal. Asumsi uji korelasi Rank Spearman adalah data tidak berdistribusi normal
dan diukur dalam skala ordinal. Selanjutnya di pengujian hipotesis yang digunakan uju t.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persepsi anak peternak sapi perah mengenai keinginan regenerasi usaha ternak sapi
perah adalah suatu proses penilaian seseorang mengenai objek tertentu berupa tanggapan yang
diberikan oleh anak peternak mengenai pentingnya adanya regenerasi dalam beternak sapi
perah pada kelompok Putrasaluyu dan Tunasmekar.
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
1.
Persepsi Anak Peternak terhadap Regenerasi dari Aspek Kognisi
Aspek kognisi merupakan pengetahuan dan pemikiran seseorang. Berikut persepsi anak
peternak berdasarkan kategori aspek kognisi (pengetahuan) ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Persepsi Anak Peternak Berdasarkan Kategori Aspek Kognisi
No
Uraian
Baik
Cukup Baik
…% …
48,65
Baik
1
Pengetahuan anak peternak
pentingnya regenerasi
mengenai
35,14
2
Pengetahuan anak peternak
warisan
Pengetahuan anak peternak
pendapatan usaha ( income)
mengenai
35,14
45,95
18.91
mengenai
32,43
48,65
18,92
32,43
54,06
13,51
3
Aspek Kognisi
16,21
Tingkat kognisi anak peternak sapi perah termasuk pada kategori cukup baik (54,06%).
Indikator pertama tentang pengetahuan anak peternak mengenai pentingnya regenerasi usaha
menunjukan kategori cukup baik (48,65%). Menurut mereka hal ini disebabkan masih banyak
pekerjaan lain diluar beternak yang menurutnya lebih menjanjikan dan tidak banyak memakan
tenaga fisik. Selanjutnya di daerah penelitian banyak anak peternak yang sudah mencapai
jenjang pendidikan 9 tahun ke atas sehingga memiliki banyak peluang untuk bekerja dibidang
lain daripada tetap melanjutkan usaha ternak sapi perah keluarga, tidak seperti jaman orang
tua mereka yang masih jarang menempuh pendidikan mencapai jenjang 9 tahun, sehingga ada
pilihan harus bekerja sebagai peternak. Namun apabila nantinya responden tidak bisa
mendapatkan pekerjaan di luar beternak sapi perah, mereka baru akan melanjutkan usaha
ternak sapi perah keluarga daripada tidak mendapatkan pekerjaan atau pengangguran.
Indikator kedua mengenai warisan atau pewarisan menunjukkan cukup baik (45,95 %),
karena responden hanya mengerti tentang inti warisan saja, mereka tidak bisa menjelaskan
istilah pewarisan, dan belum mengetahui warisan dari usaha ternak sapi perah. Kemudian
responden masih ragu apabila dipercaya orang tua untuk melanjutkan usaha sapi perah karena
pengetahuan yang mereka miliki tentang usaha sapi perah masih kurang.
Indikator ketiga adalah pengetahuan anak peternak mengenai pendapatan (income) pada
usaha ternak sapi perah yang menunjukan kategori cukup baik (48,65 %), sebagian besar
responden menyebutkan bahwa pendapatan dari usaha ternak sapi perah hanya cukup
memenuhi kebutuhan keluarga, responden mengatakan bahwa menguntungkan atau tidaknya
suatu usaha ternak sapi perah tergantung skala usaha yang dipelihara, jika skala usaha yang
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
dipelihara sudah skala besar menguntungkan tapi kalau skala sedang dan kecil dikatakan tidak
untung dan tidak rugi. Responden akan terus melanjutkan usaha apabila pendapatan yang
diterima dari hasil beternak lebih baik dibandingkan dengan usaha lainnya. Namun, apabila
hasil pendapatan dari beternak tidak mencukupi atau tergolong rendah maka akan mencari
tambahan pekerjaan di bidang lainnya selain beternak. Sesuai pendapat Subarno (2012) yang
menyatakan bahwa apabila suatu pendapatan atau penghasilan masyarakat yang didapatkan
relatif tidak mencukupi kebutuhan utama maka warga masyarakat akan mencari tambahan
penghasilan. Hal ini berarti bahwa pendapatan dari usaha ternak sapi perah ini sangat
berpengaruh dalam keberlanjutan usaha ternak sapi perah. Hal ini didukung oleh pendapat
Perloff (1991) menyatakan bahwa pendapatan yang dihasilkan dari usaha beternak, dan diluar
sector non-peternakan, akan memainkan peranan kunci dalam menentukan untuk tetap
beternak atau bermigrasi ke sektor non-peternakan. Hasil penelitian Hennessy (2002) juga
mendukung yang menyatakan bahwa hasil pendapatan (income), berpengaruh signifikan
terhadap suatu regenerasi.
Dari penelitian diatas diketahui bahwa aspek kognisi yang dimiliki oleh responden
mengenai keinginan regenerasi usaha sapi perah sudah cukup baik, karena sebagian
responden cukup memahami akan keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah. Hal ini
sesuai dengan pendapat Bloom (1956) bahwa ranah kognitif berisi perilaku yang menekankan
aspek intelektual, seperti pengetahuan, dan keterampilan berpikir.
2.
Persepsi Anak Peternak terhadap Regenerasi dari Aspek Afeksi
Aspek Afeksi merupakan segala sesuatu yang terkait dengan sikap seseorang. Berikut
persepsi anak peternak berdasarkan kategori aspek afeksi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Persepsi Anak Peternak Berdasarkan Kategori Aspek Afeksi
No
1
2
3
Uraian
Baik
Cukup Baik
Kurang
Sikap anak peternak yang akan mendapatkan
seluruh aset kepemilikan yang diwariskan oleh
orang tuanya.
Sikap anak peternak dalam mengatur warisan
dari orang tuanya.
Sikap anak peternak dalam menanggapi
keberadaannya sebagai regenerasi (penerus
usaha orang tunya) terhadap usaha sapi perah
yang diwariskan.
Aspek Afeksi
16,22
…% …
78,38
5,40
16,22
78,38
5,40
43,24
48,65
8,11
29,73
64,86
5,41
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
Aspek afeksi merupakan sikap atau tanggapan responden menerima atau memperhatikan
akan pentingnya keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah. Tingkat afeksi atau tanggapan
responden tentang keinginan regenerasi keberlanjutan usaha ternak sapi perah pada kategori
cukup baik (64,86 %).
Indikator yang dikaji pada ranah afeksi yaitu mengenai sikap responden jika
mendapatkan seluruh aset kepemilikan yang diwariskan oleh orang tuanya jika orang tua
mereka tidak mampu untuk melanjutkan lagi usaha beternak sapi perah menunjukkan kategori
cukup baik (78,38 %). Responden menyebutkan bahwa apabila mendapatkan seluruh aset
usaha ternak sapi perah dan dipercaya orang tuanya untuk memegang seluruh aset usaha,
responden masih ragu untuk memegang seluruh aset usaha ternak sapi perah, dengan kata lain
aset yang diterima sebagian atau untuk usaha ternak sapi perah dan sebagian dijual untuk
keperluan lain atau untuk usaha lain. Sikap responden juga kurang setuju apabila seluruh aset
usaha ternak sapi perah dijadikan sebagai sumber nafkah keluarga, karena sebagian besar
responden lebih memilih jika usaha sapi perah dijadikan sebagai pekerjaan sampingan atau
penghasilan sampingan, semenetara pekerjaan utama lebih memilih di bidang lain atau
pekerjaan lain yang menurutnya tidak seberat memelihara sapi perah. Menurut Santosa, dkk.
(2012) usaha sapi perah dijadikan sebagai pekerjaan sampingan atau sambilan, karena
umumnya dipelihara seadanya dan kontribusi kurang dari 30 %.
Indikator kedua adalah sikap responden untuk mengatur warisan dari orang tuanya
masuk pada kategori cukup baik (78,38 %). Responden berpendapat bahwa apabila
mendapatkan aset usaha ternak sapi perah seperti lahan, kandang dan perlengkapan kandang,
serta aset ternak sapi perahnya maka sebagian responden kurang setuju apabila seluruh aset
akan dijadikan modal untuk usaha sapi perah, mereka ingin mengembangkan sebagian modal
dari usaha sapi perah untuk usaha lain sehingga tidak hanya berpegangan pada usaha ternak
sapi perah saja.
Indikator ketiga adalah sikap responden dalam menanggapi keberadaanya sebagai
regenerasi usaha ternak sapi perah menunjukan dalam kategori cukup baik (48,65 %), karena
sebagian besar responden berpendapat bahwa seluruh aset yang diberikan tidak dipertahankan
atau dikembangkan untuk usaha sapi perah, namun sebagian akan dijual atau digunakan untuk
keperluan lain. Kemudian responden menyebutkan bahwa mereka masih belum percaya pada
kemampuan dirinya sendiri untuk memelihara sapi perah karena mereka merasa belum
terampil merawat ternak sapi perah. Hal ini didukung dengan pendapat Moores and Barrett
(2002) yang menyatakan bahwa usaha keluarga seringkali mempunyai masalah dalam
pengelolaan suksesi jika generasi sesudahnya mengambil alih manajemen, kemungkinan
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
terdapat kesenjangan antara kepemilikan dengan kemampuan mengendalikan usaha yang
memerlukan ketrampilan dan kerja keras dalam memelihara dan mempertanggung jawabkan
usaha keluarganya.
Aspek afeksi yang dimiliki oleh anak peternak sapi perah mengenai keinginan
regenerasi keberlanjutan usaha ternak sapi perah pada kategori cukup baik (64,86 %), artinya
responden cukup memahami arti regenerasi, akan tetapi untuk melanjutkan usaha ini sebagai
usaha utama responden kurang setuju karena sebagian besar lebih memilih jika usaha sapi
perah dijadikan sebagai pekerjaan sampingan kemudian apabila mendapatkan aset usaha sapi
perah responden kurang setuju apabila seluruh aset dijadikan modal usaha sapi perah, mereka
lebih memilih sebagian aset akan dijual untuk usaha lain atau keperluan lain. Hal ini sesuai
dengan pendapat Krathwohl, dkk. (1964) yang menyatakan bahwa ranah afeksi merupakan
ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afeksi mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai.
3.
Persepsi Anak Peternak terhadap Regenerasi dari Aspek Psikomotorik
Aspek psikomotorik pada penelitian ini menunjukkan kemampuan yang dimiliki oleh
responden. Persepsi berdasarkan aspek psikomotorik ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Persepsi Anak Peternak Berdasarkan Ranah Psikomotorik
No
Uraian
Baik
Cukup Baik
Kurang
…% …
1
2
3
Kemampuan anak peternak untuk membantu
usaha orang tuanya.
Kemampuan anak peternak untuk mengelola
aset warisan usaha ternak sapi perah dari
orang tuanya.
Kemampuan anak peternak untuk memelihara
ternak usaha yang diwariskan oleh orang
tuanya.
Aspek Psikomotorik
51,35
35,14
13,51
37,84
51,35
10,81
18,91
35,14
45,95
37,84
43,24
18,92
Tingkat psikomotorik anak peternak sapi perah termasuk pada kategori cukup baik
(43,24 %) yang dilihat dari kemampuan anak peternak untuk membantu usaha orang tuanya,
mengelola aset warisan usaha ternak sapi perah dari orang tuanya, dan memelihara ternak
usaha yang diwariskan oleh orang tuanya.
Indikator pertama yang dilihat adalah kemampuan dalam membantu orang tuanya pada
kategori baik (51,35 %). Karena sebagian besar responden sudah mampu dalam membantu
usaha seperti mencari rumput untuk pakan ternak, membersihkan kandang serta memerah
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
susu. Indikator kedua yang dilihat adalah kemampuan responden dalam mengelola aset
warisan yang akan diberikan orang tuanya pada kategori cukup baik (51,35 %). Responden
menyebutkan bahwa jika dipercaya orang tuanya untuk mengelola aset warisan baik aset
lahan atau tanah, aset ternak sapi, serta aset kandang dan perlengkapannya, sebagian
responden belum begitu yakin bisa mengelola aset lahan atau tanah, aset sapi perah dan aset
kandang. Indikator ketiga yang dilihat adalah kemampuan anak peternak dalam memelihara
usaha ternak sapi perah tergolong kategori kurang (45,95 %). Anak peternak masih kurang
percaya diri untuk mengelola semua aset yang diberikan, karena mereka merasa meskipun
bisa membantu namun masih belum sepenuhnya bisa menggantikan peran orang tuanya dalam
memelihara usaha ternak sapi perah.
Dari penelitian diatas diketahui bahwa aspek psikomotorik yang dikeinginankan
responden mengenai regenerasi usaha ternak sapi perah tergolong cukup baik (43,24 %),
karena sebagian responden sudah mampu membantu usaha orang tuanya misalnya dalam
mencari rumput untuk pakan ternak, membersihkan kandang serta memerah susu. Namun
responden masih belum yakin apabila nantinya dipercaya orang tua untuk mengelola aset
lahan, ternak sapi, serta kandang dan perlengkapannya dan responden masih kurang percaya
diri untuk mengelola semua aset yang diberikan karena responden belum bisa sepeenuhnya
menggantikan peran orang tuanya dalam memelihara usaha ternak sapi perah. Seperti yang
dikemukakan oleh Bloom, dkk. (1972) bahwa ranah psikomotor adalah kemampuan yang
dihasilkan oleh fungsi motorik manusia yaitu berupa keterampilan untuk melakukan sesuatu.
Keterampilan melakukan sesuatu tersebut, meliputi keterampilan motorik, keterampilan
intelektual, dan keterampilan sosial.
4.
Keinginan Regenerasi
Regenerasi (suksesi) adalah proses transisi pengelolaan dan kepemilikan usaha ternak ke
generasi berikutnya (Walsh,2001), dengan kata lain agar anak peternak nantinya dapat
melanjutkan profesi orang tuanya dengan meneruskan aset usaha orang tuanya yang telah ada.
Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Keinginan Regenerasi
No
1
2
Uraian
Baik
Cukup Baik
Kurang
Pengaruh lingkungan sekitar
Keterlibatan usaha
24,32
18,92
…% …
59,46
24,32
16,22
56,76
Keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah
24,32
45,95
29,73
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
Keinginan regenerasi keberlanjutan usaha ternak sapi perah termasuk ke dalam kategori
cukup baik (45,95%), yang dilihat dari pengaruh lingkungan sekitar dan keterlibatan usaha.
Indikator pertama yang diteliti adalah pengaruh lingkungan sekitar pada kategori cukup
baik (59,46%), artinya sebagian responden menyebutkan bahwa teman sebaya dilingkungan
turut mempengaruhi untuk melanjutkan usaha ternak sapi perah, mereka lebih memilih
melanjutkan usaha apabila dilingkungannya banyak teman sebaya yang melanjutkan usaha
ternak sapi perah, meskipun ada fasilitas koperasi sebagian besar responden masih ragu untuk
terus melanjutkan usaha. Apabila di lingkungan sekitar berpeluang untuk bekerja dibidang
lain misalnya di pabrik atau perusahaan, responden lebih memilih untuk bekerja di pabrik atau
perusahaan dibandingkan meneruskan usaha ternak sapi perah. Namun jika tidak ada
pekerjaan lain responden akan melanjutkan usaha ternak orang tuanya. Hal ini sejalan dengan
pendapat Hennessy (2002) yang menyebutkan bahwa lingkungan sekitar dalam usaha orang
tuanya termasuk salah satu faktor yang berpengaruh akan adanya suksesi.
Indikator kedua adalah keterlibatan usaha ternak sapi perah ke dalam kategori kurang
(56,76 %), maksudnya hanya sebagian responden yang ikut serta mengelola dan membantu
usaha ternak sapi perah keluarga dalam kesehariannya dengan curahan waktu kurang lebih
dari tiga jam. Sebagian besar responden hanya membantu pada waktu-waktu tertentu saja,
dan beberapa responden membantu jika diminta bantuan oleh orang tuanya. Jika tidak,
mereka sama sekali tidak membantu dalam usaha ternak sapi perah. Hal tersebut didukung
pendapat Hennessy (2002) yang menyatakan bahwa keterlibatan seorang anak dalam usaha
orang tuanya, tergantung lamanya jumlah waktu yang digunakan untuk membantu usaha
orang tuanya. Semakin tinggi keterlibatan anak dalam usaha orang tuanya, maka semakin
piawai anak itu mengetahui banyak cara mengatur suatu peternakan sapi perah orag tuanya.
5.
Hubungan Antara Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi Usaha Ternak
Sapi Perah
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan korelasi rank spearman (Rs),
korelasi antara persepsi anak peternak sapi perah dengan keinginan regenerasi usaha ternak
sapi perah yaitu sebesar 0,716 artinya koefisien korelasi sebesar 0,716 merupakan hubungan
dua variabel kuat. Nilai korelasi kuat artinya semakin tinggi persepsi anak peternak di
Putrasaluyu dan Tunasmekar terhadap keinginan regenerasi, maka regenerasi peternak sapi
perah akan ada pada setiap regenerasi. Pengujian hubungan antara persepsi anak peternak
terhadap keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah dilakukan dengan uji t, dengan alpha
1% di dapatkan nilai t hitung adalah 6,068 sedangka t tabel adalah 2,438. Karena t hitung > t
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
tabel maka hipotesis keputusan ditarik kesimpulan terima H1 yang berarti ada hubungan kuat
antara persepsi anak peternak dengan keinginan regenerasi usaha ternak sapi perah, yang
artinya ketika persepsi anak peternak tinggi maka akan menghasilkan keinginan regenerasi
usaha ternak sapi perah yang tinggi, dan begitu juga sebaliknya ketika persepsi anak peternak
rendah maka menghasilkan keinginan regenerasi yang rendah, sehingga dari uraian tersebut
dapat disimpulkan bahwa persepsi anak peternak dapat mempengaruhi keinginan regenerasi
keberlanjutan usaha sapi perah.
KESIMPULAN
(1) Persepsi anak peternak sapi perah mengenai usaha ternak sapi perah yang dijalankan
keluarganya cukup baik (59,46%).
(2) Keinginan regenerasi anak peternak dalam keberlanjutan usaha ternak sapi perah cukup
baik (45,95%), diikuti pengaruh lingkungan sekitar yang mendukung dan keterlibatan atau
keahlian anak peternak dalan usaha ternak sapi perah.
(3) Hubungan antara persepsi anak peternak sapi perah dengan keinginan regenerasi usaha
ternak sapi perah mempunyai hubungan yang kuat (Rs = 0,716).
SARAN
Keinginan regenerasi keberlanjutan usaha ternak sapi perah, yang harus ditingkatkan
khususnya dari aspek keterlibatan usaha, yaitu responden harus lebih mengenal dunia
peternakan sejak dini dengan keinginan orangtua membiasakan anaknya untuk mengetahui
hal teknis beternak sapi perah dan diikutsertakan dalam membantu usaha sejak dini, sehingga
responden nantinya pun sudah piawai dalam usaha ternak sapi perah apabila mendapat
warisan usaha dari orang tunya. Keterlibatan dalam usaha ini sangat penting karena sangat
menentukan dalam mempertahankan aset usaha yang diwariskan dan keberlanjutan usaha
ternak sapi perah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih penulis sampaikan kepada KSU Tandangsari, Kelompok Putrasaluyu
dan Tunasmekar, Pengurus Kantor Desa Mekarbakti, para peternak dan anak peternak sapi
perah di Desa Mekarbakti yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian dan telah
merelakan waktunya dan membantu proses penelitian ini.
Hubungan Persepsi Anak Peternak dengan Keinginan Regenerasi………... – Dian Rizqi Hardiningtyas
DAFTAR PUSTAKA
Benjamin S., ed.; Engelhart, Max D.; Furst, Edward J.; Hill, Walker H.; K Bloom.1972.
Taxonomy of Educational Objectives. David Mckay Company Inc.New York.
Bloom, Benjamin S. 1956. Taxonomy of Educational Objectives: The. Classificationm of
Educational Goals. London: David McKay.
Hennessy, Thia. 2002. Modeling Succestion on Irish Dairy Farms, Paper prepaared for
presentation at the Xth EAAE Congress’ Exploring Diversiy in the European AgriFood System. Zaragoza (Spain).
Krathwohl, D. Bloom. Bertram, B. Masia. 1964. Taxonomy Of Educational Objectives. Book
11: Affective Domain. London : Logman Group.
Moores, Ken and Mary Barrett. 2002. Learning Family Business, Paradoxes and Pathways.
Aldeshot, Hampshire: Ashgate Publishing Limited.
Perloff, Jeffey. 1991. The Impact of Wage Differential on Choosing to Work in Agriculture.
American Journal of Agricultural Economics, 73(3)671-80.
Santoso, K., Warsito, S. dan Andoko, A. 2012. Bisnis penggemukan Sapi. Jakarta. Agromedia
Pustaka.
Singarimbun, Masri Dan Sofian Efendi. 1989. Metode Penelitian Survei. LP3S. Jakarta.
Subarno, Anton. 2012. Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi dengan Pembangunan di PPI
Pantai Sadeng Kabupaten Gunung Kidul. Tesis S2. UNS. Surakarta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung : Alfabeta.
Walsh, Gary. 2001. Family Businnes Successtion. Managing the All-Important. Swiss: KPMG
enterprise.
Fly UP