...

Siaran Pers Industri Aviasi Indonesia

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Siaran Pers Industri Aviasi Indonesia
Untuk didistribusikan segera
Siaran Pers
Industri Aviasi Indonesia: Tantangan dan Kesempatan dalam Menghadapi
ASEAN Open Skies
•
•
•
•
Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara,
memiliki masyarakat kelas menengah yang mempengaruhi peningkatkan
permintaan jasa angkutan udara, baik tujuan domestik maupun internasional.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah populasi lebih dari 250
juta orang, transportasi udara merupakan pilihan termudah dan tercepat dalam
melakukan perjalanan ke seluruh penjuru negeri.
Hambatan utama yang dihadapi oleh industri aviasi nasional dan juga sektor lainnya
untuk dapat berkembang adalah kurangnya infrastruktur yang memadai.
Masyarakat Transportasi Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan
berkolaborasi untuk membangun infrastruktur bandara guna menjawab kebutuhan
akan layanan penerbangan di daerah.
Jakarta, 26 Oktober 2015 – Industri aviasi di kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan
dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia dalam konteks transportasi udara. Indonesia
sebagai negara dengan ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara, memiliki masyarakat
kelas menengah yang mempengaruhi peningkatkan permintaan jasa angkutan udara, baik
tujuan domestik maupun internasional. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan
jumlah populasi lebih dari 250 juta orang, transportasi udara merupakan pilihan termudah
dan tercepat dalam melakukan perjalanan ke seluruh penjuru negeri.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Prof. Danang Parikesit mengatakan,
“Hambatan utama yang dihadapi oleh sektor aviasi di Indonesia adalah kurangnya
infrastruktur yang layak. Hal ini termasuk dengan kurangnya bandara berukuran layak,
dengan landasan pacu yang cukup dan kurangnya fasilitas jalan tol serta jalur kereta yang
memadai, baik dari maupun menuju ke bandara”.
Sebagai gambaran, Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang lokasinya dekat dengan
ibukota Jakarta, dirancang untuk dapat menampung 22 juta orang penumpang setiap
tahunnya, tapi pada kenyataannya harus mampu menyerap sebanyak 62,1 juta penumpang
di tahun 2013. Berdasarkan proyeksi dari pemerintah Indonesia, jumlah penumpang di
bandara ini akan terus tumbuh setiap tahunnya hingga mencapai 80 juta penumpang di tahun
2019 atau 2020.
Menghadapi banyak bandara yang mengalami kelebihan kapasitas, dalam beberapa
tahun ke depan pemerintah telah melakukan investasi untuk pengembangan kapasitas
bandara. Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat ini tengah di renovasi, Bandara
Internasional Ngurah Rai di Bali juga tengah di renovasi dan diperluas, sementara sebuah
bandara baru telah dioperasikan dekat kota Medan, Sumatera Utara (Bandara Internasional
Kualanamu).
Namun, pemerintah hanya mampu berinvestasi untuk membangun bandara besar dalam
jumlah yang terbatas, sementara saat ini ada sekitar 200 bandara kecil dengan fasilitas
terbatas yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Oleh karena itu, saat ini pemerintah
menawarkan beberapa proyek pengembangan bandara kepada pihak swasta dalam bentuk
kerjasama antara pemerintah dan swasta (PPP – Public Private Partnerships), termasuk
bandara Juanda di Surabaya (Jawa Timur), dan bandara di Tarakan (Kalimantan Utara) serta
Labuan Bajo (Flores).
Kebijakan ASEAN Open Skies
Persaingan yang semakin ketat merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian
karena dikhawatirkan seluruh maskapai penerbangan di Indonesia belum siap dalam
menghadapi kompetisi ketat setelah penerapan penuh kebijakan ASEAN Open Skies. Sebagai
target pasar aviasi terbesar di asia tenggara, Indonesia menjadi sasaran utama maskapai
penerbangan asing asal Malaysia dan Singapura yang akan memanfaatkan potensi ini dengan
membuka rute domestik.
Danang mengatakan, “Berbagai macam isu seperti kebijakan pengenaan pajak, inefisiensi
bandara (infrastruktur yang kurang memadai), kurangnya tenaga profesional (pilot, teknisi
pesawat dan petugas air traffic controllers) dan harga avtur yang mahal membuat maskapai
nasional kurang kompetitif jika dibandingkan dengan maskapai penerbangan asal negara
ASEAN lain”.
Kementerian Perhubungan telah menyatakan bahwa semua bandara internasional yang
terletak di lima kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, and
Makassar akan siap untuk menyambut ASEAN Open Skies di akhir 2015. Namun hal yang perlu
diwaspadai adalah dengan semakin banyaknya bandara yang siap dengan program ini
ternyata akan semakin berpotensi merugikan bagi Indonesia. Sebagai contoh, Singapore
Airlines akan dengan mudah mendapatkan tambahan penumpang dari kelima bandara besar
tersebut, sementara Indonesia hanya dapat terbang ke satu bandara di Singapura. Untuk itu,
“MTI mengusulkan agar pemerintah berupaya keras untuk membenahi regulasi dan
infrastruktur dalam mengimbangi bertambahnya kepadatan lalu lintas udara di Indonesia”,
tambah Danang.
Langkah selanjutnya
Terlepas dari semua tantangan yang harus dihadapi, terdapat kesempatan kerjasama bagi
seluruh pemangku kepentingan. MTI akan menjadi penengah yang mempertemukan investor
dan pemangku kepentingan dalam menentukan langkah-langkah yang harus diambil dalam
memastikan masa depan industri aviasi Indonesia melalui acara Airports and Aviation
Indonesia 2015 (AAI’ 15). Diselenggarakan sebagai bagian dari Indonesia Infrastructure Week
2015, AAI’15 akan menghubungkan investor asing dan domestik dengan pelaku bisnis
bandara dan aviasi di Indonesia. Tidak hanya itu, MTI juga menghadirkan sebuah forum yang
bernama Indonesia Airports and Aviation Business Forum (IAABF). Konferensi ini berfungsi
sebagai sebuah wadah dimana seluruh pemangku kepentingan dapat mendiskusikan isu
terkini, berbagi best practice dari negara lain dan mencari solusi dalam menghadapi
tantangan yang dihadapi oleh Indonesia.
“Kami menantikan partisipasi aktif dari semua pihak, terutama semua perusahaan yang
berkaitan dengan pengembangan industri aviasi dan bandara. Kami percaya bahwa
percepatan pengembangan aviasi nasional dapat dicapai jika seluruh pemangku kepentingan
mau berkolaborasi dan memberikan nilai tambah kepada industri aviasi nasional melalui
forum AAI and IAABF 2015,” pungkas Danang Parikesit.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai AAI’15 and IAABF’15, silahkan kunjungi:
http://www.indonesiainfrastructureweek.com/
Tentang Indonesia Infrastructure Week 2015
Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2015 merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh
PT.Infrastructure Asia berkolaborasi dengan beberapa mitranya. Tahun ini, IIW akan diselenggarakan
di Jakarta Convention Centre pada tanggal 4-6 November dan akan memiliki agenda pameran dan
dialog dari empat sektor industri utama:
•
Indonesia International Infrastructure Conference and Exhibition (IIICE) 2015,
diselenggarakan oleh KADIN Indonesia
•
Konstruksi Indonesia (KI) 2015, diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat
•
Airports and Aviation Indonesia (AAI) 2015, diselenggarakan oleh Masyarakat Transportasi
Indonesia
•
Connect Expo Comm Indonesia (CECI) 2015, diselenggarakan oleh Masyarakat Telematika
Indonesia
Pengunjung yang hadir di masing-masing acara akan mendapatkan akses di keempat acara tersebut
dan dapat berpartisipasi di pertemuan dengan para buyer untuk menambah koneksi bisnis.
Untuk informasi lebih lanjut tentang IIW’15, kunjungi: www.indonesiainfrastructureweek.com
Lampiran I
Tema & para pembicara kunci dalam Indonesia Airports and Aviation Business Forum (IAABF):
1. Mengantisipasi peningkatan permintaan kawasan akan layanan bandara melalui
penerapan program percepatan pengembangan bandara.
Moderator: Prof. Danang Parikesit, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Para pembicara utama:
o Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan, Kementerian Perhubungan Republik
Indonesia.
o Patti Chau, Regional Director, Airport Council International, Asia-Pacific.
o Peter Budd, Direktur, Ove Arup & Partners Ltd.
o Budi Karya Sumadi, Presiden Direktur, PT Angkasa Pura II (Persero).
o Capt.Daniel Putut Kuncoro Adi, Direktur Pengembangan Bisnis, Lion Group.
2. Strategi Dalam Menarik Investasi dan Pembiayaan Proyek Bandara.
Pembicara utama:
o Yudhaprana Sugarda, Head of Corporate and Performance, PT Angkasa Pura I
(Persero) dengan studi kasus proyek bandara Yogyakarta yang baru.
o Dr. GVK Reddy, Founder, Chairman and Managing Director, GVK.
o Yadi J.Ruchandy, COO, Indonesia Infrastructure Guarantee Fund (IIGF).
o Pipit Aviati, Acting Director of Infrastructure Planning, Investment Coordinating
(BKPM) Republic of Indonesia.
3. Bagaimana Cara Mencapai Standar Operasi Keselamatan Kelas Dunia
Bagian 1: Meningkatkan Pengalaman Penumpang.
Pembicara utama:
o Arif Wibowo, Presiden Direktur, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
o Djoko Murjatmodjo, Direktur Operasi & Teknik, PT Angkasa Pura II (Persero).
o Heru Kuswanto, Presiden Direktur, PT Railink Indonesia.
4. Bagaimana Cara Mencapai Standar Operasi Keselamatan Kelas Dunia
Bagian 2: Penerapan Protokol Keselamtan Bandara.
Pembicara utama:
o Nasir Usman, Direktur Keselamatan Penerbangan, Kementerian Perhubungan RI.
o Bambang Tjahjono, Presiden Direktur, AIRNAV Indonesia.
o Sancoyo Setiabudi, Country Manager, Cisco Indonesia.
5. Design, Pengembangan & Perencanaan Untuk Mendukung Kesuksesan Pembangunan
Infrastruktur di Seluruh Indonesia.
Pembicara utama:
o Yon Sugiono, Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis, PT Bandarudara
Internasional Jawa Barat ­ Bandara Internasional Kertajati.
o Robert Daniel Waloni, Direktur of Komersial & Pengembangan Bisnis, PT Angkasa
Pura II (Persero).
o Bernard Craig, South East Asia Managing Director, Mott MacDonald .
6. Kolaborasi Pemerintah dan Swasta dalam Menghadapi Era Peningkatan Permintaan
Konsumen & Pengiriman Barang.
Pembicara utama:
o Agus Santoso, Direktur Jenderal Penerbangan Sipil, Kementerian Perhubungan RI.
o Dendi Gustinandar, Head of Commercial, Hang Nadim Airport Batam; Project Case
Study of Hang Nadim Airport.
Fly UP