...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
PERAN KONSELOR DAN FASILITAS BK SEBAGAI MEDIA UNTUK
MENGUBAH PERILAKU MENYIMPANG SISWA KELAS XI DI
SMA MUHAMMADIYAH 1 KARANGANYAR
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Oleh :
Averrhoa Carambola
11500006
Abstraks: Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui “Bagaimana efektifitas pendekatan konselor dan fasilitas BK dengan
metode rasional emotive behavior therapy untuk mengatasi perilaku menyimpang
pada siswa kelas XI di SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar tahun pelajaran
2014/2015”.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar tahun
pelajaran 2014/2015, dengan paradigma penelitian kualitatif. Metode pengumpulan
data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik
observasi bertujuan untuk mengetahui secara langsung efektifitas pendekatan
konselor dengan metode rasional emotive behavior therapy untuk mengatasi perilaku
menyimpang. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui latar belakang
penyebab dan sebarapa jauh hasil pemberian layanan pendekatan konselor dengan
metode rasional emotive behavior therapy yang telah diterapkan. Dalam penelitian
ini yang menjadi subyek adalah peserta didik kelas XI SMA Muhammadiyah 1
Karanganyar yang berjumlah 2 siswa. Keabsahan data yang digunakan adalah teknik
triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu. Sedangkan untuk
menganalisis datanya digunakan deskripsi kualitatif dengan langkah-langkah reduksi
data, pengumpulan data, penjaian data dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa anak
didik setelah diberi layanan pendekatan konselor dengan metode rasional emotive
behavior therapy selama satu bulan, ada perubahan ke arah yang lebih baik lagi,
terbukti dengan berkurangnya perilaku menyimpang berangsur ke arah perilaku yang
lebih positif dan sudah bisa menghindari perilaku menyimpang atau negatif.
Kata Kunci: Perilaku Menyimpang Siswa, Fasilitas BK
PENDAHULUAN
Setiap anak mengalami tahaptahap perkembangan. Tahap-tahap
perkembangan anak secara umum
sama.
Pada
setiap
tahap
perkembangan, setiap anak dituntut
dapat bertindak atau melaksanakan
hal-hal (perilaku) yang menjadi tugas
perkembangannya
dengan
baik.
Perilaku anak menyimpang memiliki
hubungan dengan peyesuaian anak
tersebut
dengan
lingkungannya.
Hurlock (2004: 39) mengatakan
bahwa perilaku anak bermasalah atau
menyimpang ini muncul karena
penyesuaian yang harus dilakukan
anak terhadap tuntutan dan kondisi
lingkungan yang baru. Berarti semakin
besar tuntutan dan perubahan semakin
besar pula masalah penyesuaian yang
dihadapi anak tersebut.
Perilaku menyimpang adalah
suatu persoalan yang harus menjadi
kepedulian guru, bukan semata-mata
perilaku
itu
destruktif
atau
mengganggu proses pembelajaran,
melainkan suatu bentuk perilaku
agresif atau pasif yang dapat
menimbulkan kesulitan dalam bekerja
sama dengan teman, yang merupakan
perilaku yang dapat menimbulkan
masalah belajar anak dan hal itu
termasuk
perilaku
bermasalah
(Darwis, 2006: 43). Guru perlu
memahami perilaku bermasalah ini
sebab anak yang bermasalah biasanya
tampak di dalam kelas dan bahkan dia
menampakkan perilaku bermasalah itu
di dalam keseluruhan interaksi dengan
lingkungannya.
Walaupun gejala perilaku
bermasalah di sekolah itu mungkin
hanya tampak pada sebagian anak,
pada dasarnya setiap anak memiliki
masalah-masalah
emosional
dan
penyesuaian sosial. Masalah itu tidak
selamanya menimbulkan perilaku
bermasalah atau menyimpang yang
kronis (darwis, 2006: 44).Guru sering
kali menanggapi perilaku anak yang
bermasalah atau menyimpang dengan
memberikan
perlakuan
secara
langsung dan drastis yang tidak jarang
dinyatakan dalam bentuk hukuman
fisik. Cara atau pendekatan seperti ini
sering kali tidak membawa hasil yang
diharapkan karena perlakuan tersebut
tidak didasarkan kepada pemahaman
apa yang ada dibalik perilaku
bermasalah (Darwis, 2006: 44).
Sekalipun
demikian
pemahaman
terhadap
perilaku
bermasalah
bukanlah sesuatu yang mustahil untuk
dilakukan guru.
Setara
dengan
penelitian
“Peran Konselor Dalam Mencegah
Kekerasan Seksual Siswa” yang telah
dilakkukan oleh Shudra Elhesmi pada
jurnal bimbingan dan konseling, yang
menunjukkan hasil penelitian sebagai
berikut :
Hasil
penelitian
adalah
memberikan pemahaman diri peserta
didik 77,5%, memberikan pemahaman
lingkungan peserta didik 79,58%,
memberikan pemahaman yang lebih
luas 64,72%, bekerja sama dengan
pihak sekolah 65%, bekerja sama
dengan semua pihak keluarga 88,75%.
Sedangkan memahami karakteristik
siswa 75%, menampilkan pribadi yang
matang 72,07%, bekerja sama dengan
guru bk 73,93%.
Masalah perilaku menyimpang
tidak hanya terjadi pada kalangan
dewasa saja, tetapi sehubungan
dengan berbagai pengaruh dari
pergaulan. Oleh karena itu, banyak
remaja saat ini yang telah banyak
melakukan perilaku menyimpang.
Berdasarkan hasil observasi, ada
sebagian dari siswa kelas XI yang
terindikasi melakukan penyimpangan
perilaku baik di sekolah maupun di
luar sekolah. Melihat kenyataan
tersebut, maka perlu segera ada upaya
berupa pelaksanaan konseling untuk
mengatasi perilaku menyimpang siswa
kelas XI di SMA Muhammadiyah 1
Karanganyar agar
perilaku siswa
tersebut tidak merugikan dirinya
sendiri dan orang lain.
Adapun perumusan masalah
tersebut sebagai berikut : “Bagaimana
Efektifitas Peran Konselor dan
Fasilitas BK Sebagai Media untuk
Mengubah Perilaku Menyimpang
Pada 2 (dua) Siswa Kelas XI di SMA
Muhammadiyah 1 Karanganyar Tahun
Pelajaran 2014/2015?”
Penelitian bertujuan untuk
mengetahui efektifitas peran konselor
dan fasilitas bk sebagai media untuk
mengubah perilaku menyimpang pada
2 (dua) siswa di SMA Muhammadiyah
1 Karanganyar tahun pelajaran
2014/2015.
METODE PENELITIAN
Penelitan ini dilaksanakan di
SMA Muhammdiyah 1 Karanganyar.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Juni 2015 - Juli 2015. Metode
penelitian kualitatif sering disebut
metode penelitian naturalistik karena
penelitiannya dilakukan pada kondisi
yang alamiah, disebut juga sebagai
metode etnographi, karena pada
awalnya metode ini lebih banyak
digunakan untuk penelitian bidang
antropologi budaya, disebut sebagai
metode kualitatif karena data yang
dikumpulkan dan dianalisisnya lebih
bersifat kualitatif. Sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai oleh penulis
tetang penelitian ini adalah peran
konselor dan fasilitas BK sebagai
media untuk mengubah perilaku
menyimpang siswa kelas XI mengikuti
paradigma
penelitian
deskriptif
kualitatif. Dalam hal ini peneliti
meakukan wawancara,
observasi
partisipatif dan studi dokumentasi
untuk mengetahui efektifitas peran
konselor dan fasilitas BK.
Sumber data dalam penelitian
ini dipilih secara purposive dan
bersifat snowball. Sumber data
dipergunakan dalam penelitian ini
adalah tentang mencegah perilaku
menyimpang
pada siswa, maka
sumber data yang digunakan adalah
data primer dan data sekunder. Subjek
penelitian ini adalah 2 (dua) siswa
kelas XI yang terindikasi mempunyai
perilaku menyimpang, yng menjadi
objek penelitian ini
adalah :
Penanganan Perilaku Menyimpang
Pada 2 (dua) Siswa Melalui Peran
Konselor dan Fasilitas BK.
Teknik analisis data yang
digunakan adalah analisis deskriptif
kualitatif yang terdiri dari beberapa
model ( H. B Sutopo, 2004 : 16 ) yaitu
data yang dikumpulkan dan dianalisis
melalui tiga tahap yaitu : Reduksi
data, Penyajian data kemudian
Kesimpulan.
TINJAUAN PUSTAKA
Perilaku Menyimpang
Menurut Syamsu Yusuf dan A.
Juntika Nurihsari (2012 : 212)
penyesuaian diri yang menyimpang
atau tidak normal merupakan proses
pemenuhan kebutuhan atau upaya
pemecahan masalah dengan cara-cara
yang tidak wajar atau bertentangan
dengan norma yang dijunjung tinggi
oleh masyarakat. Dapat juga dikatakan
bahwa penyesuaian yang menyimpang
ini adalah sebagai tingkah laku
abnormal
(abnormal
behavior),
terutama terkait dengan kriteria
sosiopsikologis dan agama.
Menurut Narwoko (2001:110),
bentuk-bentuk perilaku menyimpnag
di kalangan remaja secara umum dapat
digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1)
Tinadakan Nonconform. Perilaku yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai atau
norma-norma yang ada. 2) Tindakan
Anti Sosial atau Asosial. Tindakan
yang melawan kebiasaan masyarakat
atau kepentingan umum. 3) Tindakan
Kriminal. Tindakan yang nyata-nyata
telah melanggar aturan-aturan hukum
tertulis dan mengancam jiwa atau
keselamatan orang lain.
Rasional Emotive Behavior Therapy
(REBT)
Rasional Emotive Behavior
Therapy (REBT) sebelumnya disebut
rational therapy dan rational emotive
therapy, merupakan terapi yang
komprehensif, aktif-direktif, filosofis
dan empiris berdasarkan psikoterapi
yang berfokus pada penyelesaian
masalah-masalah gangguan emosional
dan perilaku, serta menghantarkan
individu untuk lebih bahagia dan
hidup yang lebih bermakna (fulfilling
lives).
REBT
diciptakan
dan
dikembangkan oleh Albert Ellis
(1950an), seorang psikoterapis yang
terinspirasi oleh ajaran-ajaran filsuf
Asia, Yunani, Romawi dan modern
yang lebih mengarah pada teori belajar
kognitif. Asal-usul terapi rasionalemotif dapat ditelusuri dengan filosofi
dari Stoicisme di Yunani kuno yang
membedakan
tindakan
dari
interpretasinya. Epictetus dan Marcus
Aurelius dalam bukunya “The
Enchiridion”, menyatakan bahwa
manusia
tidak
begitu
banyak
dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada
dirinya,
melainkan
bagaimana
manusia memandang/menafsirkan apa
yang terjadi pada dirinya (People are
not disturbed by things, but by the
view they take of them). Pada
mulanya
Ellis
menggunakan
psikoanalisis dan person-centered
therapy dalam proses terapi, namun ia
merasa
kurang
puas
dengan
pendekatan dan hipotesis tingkah laku
klien yang dipengaruhi oleh sikap dan
persepsi mereka.
Hal inilah yang memotiviasi
Ellis mengembangkan pendekatan
rational emotive dalam psikoterapi
yang ia percaya dapat lebih efektif dan
efisien dalam memberikan efek
terapeutik. Ellis mengembangkan teori
A-B-C, dan kemudian dimodifikasi
menjadi pendekatan A-B-C-D-E-F
yang digunakan untuk memahami
kepribadian dan untuk mengubah
kepribadian secara efektif. Pada tahun
1990-an, Ellis mengganti nama
pendekatan tersebut dengan Rasional
Emotive Behavior Therapy atau yang
biasa kita singkat menjadi REBT.
Sampai saat ini, REBT merupakan
salah satu bagian dari cognitive
behavior therapy (CBT).
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pelaksanaan Pendekatan Layanan
REBT Tahap I
Peneliti sebelumnya sudah
melakukan
observasi
sebelum
melakukan layanan konseling rasional
emotif behavior terapi (REBT) untuk
mengetahui indikator penelitian yaitu
penyimpangan
perilaku
yang
dilakukan sebelum diberi pendekatan
rasional emotif behavior terapi
(REBT). Penyimpangan perilaku yang
akan dijadikan indikator untuk
diobservasi dalam penalitian ini adalah
hormat pada tata tertib sekolah,
hormat pada orang tua dan guru,
berperilaku baik kepada semua orang.
Pelaksanaanya observasi awal
dilakukan pada tanggal 22-25 Juni
2015, tujuannya untuk mengetahui
kekurangan-kekurangan, yang dicapai
selama proses pelaksanaan konseling
rasional emotif behavior terapi
(REBT) dan rencana apa yang perlu
diambil untuk mengatasinya.Rencana
layanan konseling rasional emotif
behavior terapi (REBT) yaitu untuk
mengubah perilaku subyek penelitian
ke arah sikap perilaku yang lebih baik
adalah
dengan
melaksanakan
wawancara konseling. Pendekatan
konseling yang digunakan adalah
dengan layanan konseling rasional
behavior terapi (REBT). Klien
diyakinkan bahwa perilakunya itu
benar-benar tidak menguntungkan
bagi dirinya. Oleh sebab itu mereka
harus
dengan
sungguh-sungguh
berupaya
mengubahnya
dengan
perilaku yang bisa menunjang
kesuksesan
hidupnya
yaitu
meningkatkan perilaku yang baik dan
mengurangi
perilaku
menyimpang.Berdasarkan
hasil
observasi tersebut jelaslah bahwa
subyek penelitian memang memiliki
perilaku positif yang rendah. Oleh
sebab itu siswa perlu diberi bantuan
layanan konseling yang bersifat
khusus dengan pendekatan layanan
konseling rasional emotif behavior
terapi (REBT).
Peneliti
melaksanakan
konseling tahap I dengan pendekatan
konselor dan rasional emotif behavior
terapi (REBT)yaitu pada tanggal 08
Juli 2015. Pelaksanaan layanan
pendekatan konselor dan REBT
dilaksanakan di ruang BK SMA
Muhammadiyah
1
Karanganyar
dengan waktu pelaksanaan yaitu 45
menit.
Observasi dan refleksi pada
tindakan I dilaksanakan pada tanggal
10 Juli 2015. Tujuannya untuk
mengetahui kekurangan-kekurangan
dan kemajuan yang dicapai selama
proses pelaksanaan tahap I dan
rencana apa yang perlu diambil untuk
tindakan selanjutnya. Berdasarkan
hasil ovservasi diketahui bahwa
peningkatan perubahan perilaku pada
klien sebesar 25%. Walaupun sudah
ada perubahan namun masih ada
perilaku subyek yang perlu diberi
bimbingan. Oleh sebab itu perlu
dilanjutkan
tindakan
layanan
konseling rasional behavior terapi
(REBT)berikutnya.
Pelaksanaan
Layanan
Konseling
REBT Tahap II
Rencana tindakan tahap II
yaitu untuk meningkatkanperubahan
perilaku pada subyek penelitian ke
arah yang lebih baik yaitu dengan
melaksanakan wawancara konseling.
Pendekatan konseling yang digunakan
adalah dengan pendekatan konselor
dan rasional emotif behavior terapi
(REBT). Klien diyakinkan bahwa
perilakunya itu akan merugikan bagi
dirinya sendiri dan merugikan orang
lain. Oleh sebab itu mereka harus
dengan sungguh-sungguh berupaya
mengubahnya dengan perilaku yang
bisa menunjang kesuksesan hidupnya
yaitu perilaku yang mematuhi
peraturan atau normadan nilai-nilai
yang ada di masyarakat dengan
meningkatkan perilaku yang lebih baik
dan tidak merugikan bagi diri sendiri
maupun
masyarakat,
baik
di
lingkungan
rumah
maupun
di
lingkungan sekolah.
Pelaksanaan
tindakan
II
dilakukan pada tanggal 27 Juli 2015,
pertemuan berlangsung 45 menit di
Ruang BK SMA Muhammadiyah 1
Karanganyar. Observasi dan refleksi
pada tindakan II dilaksanakan pada
tanggal 30 Juli 2015. Tujuannya untuk
mengetahui kekurangan-kekurangan
dan kemajuan yang dicapai selama
proses pelaksanaan tahap II dan
rencana apa yang perlu diambil untuk
tindakan selanjutnya. Berdasarkan
hasil observasi diketahui bahwa
peningkatan perubahan perilaku pada
klien
yang
bernama
Adi
Setyawansetelah diberi konseling
yaitu sebesar 75%, sedangkan
perubahan perilaku pada klien yang
bernama Aji Rahmat D menunjukkan
perubahan perilaku sebesar 100%.
Dari perubahan yang sudah terjadi,
maka dari itu pelaksanaan konseling
dihentikan pada tahap II karena klien
telah menyadari hal-hal buruk yang
telah mereka perbuat dan klien
berjanji akan merubah perilaku yang
lebih baik lagi dan tidak menyimpang
dari norma dan aturan yang berlaku di
sekolah maupun di masyarakat
sehingga
hal-hal
yang
dapat
merugikan diri klien tidak berdampak
bagi klien sendiri dan bagi orang lain.
Klien juga berjanji akan merubah
kebiasaan buruknya dan akan patuh
pada orang tua maupun guru dan akan
menghormati serta menghargai setiap
orang.
Di samaping itu, peniliti atau
konselor juga berjanji akan bersedia
memberikan bimbingan kepada klien
jika sewaktu-waktu klien mengalami
masalah yang sama maupun masalah
baru yang muncul. Dengan adanya
motivasi dari peneliti atau konselor,
klien merasa sangat senang karena
dirinya sudah terbebas dari hal-hal
yang sangat merugikan dirinya.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penyimpangan perilaku yang
dilakukan siswa dapat diminimalkan
dan dirubah dengan pendekatan
konselor dan dengan metode rasional
emotif behavior terapi (REBT). Selain
itu, untuk meningkatkan perilaku
siswa ke arah yang baik dan benar,
diperlukan dukungan atau motivasi
dari berbagai pihak, baik dari
lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat. Sehingga klien tersebut
dapat mengarahkan perilakunya ke
arah yang positif. Pihak-pihak yang
dimaksud di atas adalah: 1)
Lingkungan keluarga siswa harus
memiliki perilaku yang baik dalam
berinteraksi maupun berkomunikasi.
2) Lingkungan sekolah merupakan
kelurga kedua bagi siswa untuk
melangsungkan perkembangan siswa
dan juga sebagai tempat siswa untuk
menimba ilmu. 3) Lingkungan
masyarakat merupakah lingkungan
yang paling rawan bagi siswa ketika
bergaul dan berinteraksi dengan orang
lai, maka dari itu perlu pengarahan
agar siswa terhindar dari hal yang
negatif. 4) Orang tua harus mendidik
anak dengan perilaku yang baik. 5)
Guru harus memberikan pembelajaran
tentang pendidikan karakter yang baik.
6) Guru berperan penting untuk
mengarahkan siswa dalam kegiatan
yang ada di sekolah, seperti OSIS,
HW, Ekstrakurikuler dan lain-lain. 7)
Kesadaran siswa dalam berinteraksi
dan berperilaku sesuai norma dan
aturan yang ada.
Faktor-faktor di atas yang
merupakan
beberapa
pendukung
penyimpangan perilaku pada siswa di
SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar
yang semestinya mendapat perhatian
dari seluruh lembaga pendidikan
sehingga siswa yang melakukan
perilaku menyimpang, baik yang
ditinjau dari segi ketertiban, kejujuran,
hormat kepada orang tua, hormat
dpada gurudan mentaati tata tertib
sekolah akan dapat terlaksana dengan
baik. Sedangkan faktor penghabat
untuk
meminimalkan
perilaku
menyimpang pada siswa di SMA
Muhammadiyah 1 Karanganyar adalah
sebagai berikut: 1) Kurangnya
pengawasan orang tua atau keluarga
siswa, sehingga siswa tidak mendapat
pengawasan yang berarti. 2) Keluarga
kurang memberikan perhatian kepada
siswa dan bersikap acuh tak acuh. 3)
Rendahnya pendidikan yang dimiliki
orang tua, sehingga tidak terlalu
memperhatikan kegiatan anak, baik di
rumah maupun di luar rumah. 4)
Keluarga terlalu sering menunjukkan
sikap dan perilaku yang baik, seperti
sering
membentak
dan
sering
memukul. 5) Orang tua kurang
memberikan contoh yang baik dan
kurang tegasnya sanksi kepada anak
yang tidak berperilaku baik. 6) Orang
tua terlalu membebaskan anak, seperti
anak tidak pernah belajar, main
seenaknya, tidak pernah pulang. 7)
Guru
cenderung
terlalu
memperhatikan siswa yang dianggap
baik dan pintar, sehingga kurang
memperhatikan kekurangan siswa lain.
8) Lemahnya sanksi-sanksi yang ada
di sekolah, sehingga siswa tidak takut
untuk
melakukan
penyimpangan
perilaku. 9) Siswa kurang antusias
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
sekolah. 10) Tidak adanya kesadaran
dalam diri siswa dalam berperilaku
sesuai dengan aturan dan norma yang
ada.
Salah satu faktor penghambat
lainnya dalam peningkatan perubahan
perilaku yaitu siswa yang tidak pernah
merasa sadar bahwa mereka adalah
masyarakat yang sangat menjunjujng
tinggi nilai-nilai etika dan moral.
Berikut merupakan faktor penghambat
dari siswa itu sendiri yang berupa
perilaku yang buruk misalnya siswa
yang bersifat acuh, angkuh, sombong
dan suka meremehkan hal-hal kecil,ini
merupakan
salah
satu
faktor
penghambat
utama
dalam
meningkatkan perubahan perilaku.
Faktor penghambat lain dalam
peningkatan perubahan perilaku siswa
adalah guru yang mengajar hanya
memperhatikan siswa lain yang
cenderung lebih baik. Mereka tidak
memperhatikan siswa yang mengalami
penyimpangan perilaku dan sikap
siswa dalam melakukan interaksi
sosial, sehingga siswa tersebut tidak
dapat mengembangkan dirnya dengan
baik. Hal ini merupakan sebuah faktor
kurangnya perhatian guru dalam
menerapkan perhatian yang baik,
karena guru adalah orang tua kedua
bagi siswa sehingga ini merupakan
salah satu faktor munculnya perilaku
menyimpang yang dilakukan siswa di
sekolah.
Perilaku
menyimpang
merupakan tampilan dari kepribadian
seseorang, dan tampilan luar atau
tampilan atas kedua-duanya. Perilaku
menyimpang juga merupakan perilaku
spesifik, phobia, atau pola-pola
peilaku yang lebih mendalam,
misalnya
skizofren.
Perilaku
menyimpang juga merupakan sebutan
untuk
masalah-masalah
yang
berkepanjangan atau bersifat kronis
dan gangguan-gangguan yang gejalagejalanya bersifat akut dan temporer,
seperti intoksinasi (peracunan obat-
obatan), terutama narkoba yang
kesemuanya itu diakibatkan dari gaya
hidup
seseorang.
Siswa
yang
mempunyai perilaku menyimpang
juga mempunyai berbagai macam
perubahan tingkah laku baik pada diri
sendiri, keluarga maupun lingkungan
sosialnya dan juga mengalami
penurunan akhlak dan nilai akademis
yang menojol, sehingga perlu segera
diatasi.
Dengan
demikian,
untuk
mengatasi perilaku menyimpang siswa
kelas XI di SMA Muhammadiyah 1
Karanganyar akan diterapkan proses
konseling yang berkelanjutan dengan
menggunakan pendekatan konseling
seperti client centered therapy,
transactional analysis, humanistik,
trait and factor, terapi realitas,
psikologi individual, behavior, logo
therapy, ekletik, eksistensialisme
danrasional emotive behavior therapy
(REBT). Dari berbagai macam
pendekatan tersebut yang paling cocok
untuk merubah perilaku menyimpang
siswa,
maka
peneliti
akan
menggunakan pendekatan REBT
sebagai salah satu pendekatan dalam
mengubah perilaku menyimpang
siswa.
Sebelumnya
peneliti
mengumpulkan data dari wawancara,
observasi partisipan dan obeservasi
non
partisipan
serta
studi
dokumentasi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh
kesimpulan
bahwa
pelaksanaan
layanan
pendekatan
konselor dan rasional emotif behavior
terapi (REBT) dapat mengurangi dan
merubah perilaku menyimpang pada
siswa
kelas
XI
di
SMA
Muhammadiyah 1 Karanganyar tahun
pelajaran 2014/2015, hal tersebut
ditunjukkan dengan adanya perubahan
perilaku siswa ke arah yang lebih baik,
dimana sebelum pemberian layanan
konseling dan metode rasional emotif
behavior terapi (REBT) pada perilaku
menyimpang siswa masih sangat
tinggi yang ditunjukkan dengan siswa
tidak masuk sekolah, selalu terlambat,
kurang menghormati kepada orang tua
dan guru serta kurang mentaati tata
tertib sekolah. Setelah diberikan
layanan konseling dan dengan metode
rasional emotif behavior terapi
(REBT),perubahan perilaku siswa
sangat meningkat jauh lebih baik,
yang ditunjukkan dengan siswa tidak
membolos, tidak terlambat masuk
sekolah,sudah menghormati kepada
orang tua dan guru serta sudah
mentaati tata tertib sekolah.
Saran
Perilaku
penyimpangan
remaja tidak ada habis-habisnya untuk
di bahas, tetapi setidaknya untuk
meminimalisir terjadinya perilaku
menyimpang tersebut ada beberapa hal
yang pelu diperhatikan. Adapun saran
yang peneliti sampaikan berkaitan
dengan hasil penelitian adalah sebagai
berikut:
Bagi
Guru
Bimbingan
Konseling. Hendaknya Guru BK
selalu memberikan layanan konseling
secara
berkala,
baik
layanan
bimbingan
kelompok
maupun
individual. Hal tersebut dimaksudkan
agar apabila terjadi permasalahan yang
dihadapi oleh siswa dapat segera
teratasi. Papan bimbingan dan dan
lefleat
sebaiknya
difungsikan
sebagaimana mestinya supaya dapat
menjadi media komunikasi antara guru
BK dengan siswa. Guru BK harus
lebih aktif dalam memantau perilaku
dan perkembangan siswa.
Bagi Bagi Wali Kelas.
Hendaknya lebih memperhatikan
peserta
didik
yang
memiliki
kekurangan baik dari segi perilaku
maupun dari segi kemampuan berpikir
supaya peserta didik bisa mengikuti
dan mengembangkan dirinya agar
terhindar dari perilaku menyimpang.
Bagi
Siswa.
Siswa
diharapkan agar aktif dan selalu
berkoordinasi dengan guru BK, sebisa
mungkin memanfaatkan layanan BK
dan menghilangkan image buruk
tentang guru BK, sehingga siswa dapat
mengarahkan diri ke arah yang lebih
baik
dan
tidak
menyimpang.
Hendaknya menghindari teman-teman
yang sering atau suka melakukan
perilaku menyimpang, karena perilaku
menyimpang hanya akan membuat diri
sendiri semakin mendapat berbagai
masalah dan hanya akan merusak
masa depan.
Bagi Orang Tua. Orang tua
perlu menanamkan nilai moral ,
pendidikan dan nilai religious pada
diri seorang anak, agar anak dapat
berkembang dan mempunyai sikap
dan perilaku yang positif dan berguna
bagi nusa dan bangsa. Orang tua
hendaknya
harus
mengetahui
keberfungsiannya dengan memberikan
perhatian, kasih sayang dan rasa aman
bagi anak, karena anak sangat
membutuhkan kasih sayang dan
dorongan dari orang tua.
DAFTAR PUSTAKA
Abu, Darwis. 2006. Perilaku Menyimpang Murid. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
Helly Prajitno Soetjipto, Sri Mulyantini Soetjipto. 2011. Teori dan Praktik
Konseling dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Moleong, LJ. 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Narwako, Dwi J.2007. Sosiologi. Jakarta: Kencana.
Prayitno, Erman Amti. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Sutopo, HB. 2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas
Maret Surakarta press.
Syamsu Yusuf, A. Juntika Nurihsari. 2012. Landasan Bimbingan dan Konseling.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Singgih D. Gunarsa. 1992. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung
Mulia.
Suyanto. (2001). Penyebab Terjadinya Penyimpangan. Jakarta : Adicipta.
Fly UP