...

pancasila dalam konteks postmodern (m. syahnan harahap)

by user

on
Category: Documents
13

views

Report

Comments

Transcript

pancasila dalam konteks postmodern (m. syahnan harahap)
PANCASILA DALAM KONTEKS POSTMODERN
M. SYAHNAN HARAHAP
ABSTRACT
In the postmodern context, Pancasila as a paradigm in the life of the nation is still relepan
with the changing times. Not outdated and obsolete with changing times. Pancasila as an
umbrella ideology, way of life and the basic state, aspired as a driving force and can give
direction to the development and changes in the development process towards a better
(conducive). Uniformity (uniformity) and unity (unity) is also a powerful weapon in the face of
all obstacles and challenges in the process of transforming information and technology for the
betterment of the state and nation. Thus we have to do deconstruction of the traditional
concepts back to the tradition of the State and nation building
Keywords: Pancasila, Ideology, way of life, the basic State
PENDAHULUAN
Pancasila baik sebagai ideologi Negara,
pandangan hidup, maupun sebagai dasar
Negara Indonesia bukanlah hasil perenungan semalam. Telah lama dicita-citakan, dipersiapkan dan digali oleh para pendiri
Negara, yaitu dari nilai-nilai luhur budaya
bangsa yang telah berurat berakar dalam
kehidupan bangsa Indonesia, seperti nilai
ketuhanan, kemanusiaan, kekeluargaan dan
gotong royong.
nilai leluhur yang harus dilestarikan, dilindungi dan dipelihara dengan penuh rasa
hormat. (B. Arif Sidharta, 2012 : 1)
Berkenaan dengan hal tersebut diatas,
Satjipto Rahardjo untuk mengintegrasikan
masyarakat atau bangsa Indonesia jawaban
yang tepat adalah Pancasila karena
Pancasila niscaya bisa merupakan dan
sumber untuk mengalirkan nilai-nilai, ide
tentang bagaimana masya-rakat Indonesia
yang hendak di organisasikan dan dibangun
menuju masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan pancasila dan UUD 1945.
Kristalisasi nilai-nilai tersebut disepakati
oleh para pendiri Negara, yaitu Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni
1945 dan tanggal 18 Agustus 1945 disahkan oleh PPKI sebagai pandangan hidup
(Weltanschauung) dan sebagai dasar
Negara (Pilosofiche groundslag) dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam hal ini timbul pertanyaan, mengapa Pancasila harus sebagai pandangan hidup dan dasar Negara Republik Indonesia?
dan apakah Pancasila itu sesuai dengan
konteks postmodern?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
kita harus melakukan dekonstruksi konsepkonsep tradisional itu dalam kerangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dengan justru kembali ke tradisi dalam membangun Negara dan bangsa.
Dari hal tersebut di atas dapat diketahui
bahwa Negara yang akan didirikan itu
tidaklah berpahamkan individualisme seperti
yang berkem-bang dinegara liberal, Eropa
daratan seperti Jerman, Perancis, dan
Belanda yang lebih mengutamakan HAM
yang liberal. Sedangkan Indonesia tidak berpahamkan itu, akan tetapi Indonesia hendak
membangunkan suatu Negara kekeluargaan
(Integralistik) yang berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945.
Dari pancasila, terlihat kebulatan sila-sila
mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa sampai kepada keadilan sosial, semuanya telah
menjadi nilai-nilai luhur dan telah menjadi
kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila
dapat menyatukan semua lapisan dan golongan masyarakat. Tidak ada diskriminasi
terhadap suku, ras dan antar golongan. Semua terjamin dengan Pancasila dan berupaya menyelamatkan Pancasila berdasarkan 3S, yaitu seimbang, selaras dan serasi
dalam kehidupan masyarakat.
Bangunan masyarakat yang dikehendaki
adalah masyarakat yang agamis menurut
keyakinan masing-masing, sopan santun,
kebersamaan, kekeluargaan dan gotong royong, tanpa adanya intimidasi dari pihak
asing. Hidup dengan warisan rohani, nilai64
Perlu disadari bahwa tanpa pandangan
hidup dan dasar Negara, suatu bangsa akan
dihadapkan munculnya berbagai persoalan
besar yang bisa muncul secara tiba-tiba,
seperti kasus SARA yaitu Suku Ras dan
Antar Golongan yang dapat mengganggu
stabilitas dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Untuk itu perlu adanya pandangan hidup yang sama didalam memahami
Negara dan bangsa. Dalam siding Dokuritzu
Zyumbi Tyoosakai (BPUPKI), Soekarno
berkata bahwa pandangan hidup dan dasar
Negara itu bukanlah untuk seseorang bukan
juga untuk golongan-golongan tertentu akan
tetapi untuk semua golongan yang ada
dalam masyarakat. Kemerdekaan adalah
jembatan emas dan diseberang sana kita
sempurnakan masyarakat Indonesia. Negara kita bangun berdasarkan pancasila, bukan hanya keadilan bagi seseorang dan kemakmuran itu untuk semua golongan. Negara harus menjamin keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Sebagai contoh pisau akan bernilai apabila
dapat dijadikan untuk memotong sesuatu.
Menurut Max Scheler, menggolongkan
nilai itu atas empat macam yaitu nilai kenikmatan (rasa enak, nikmat, senang), nilai
kehidupan (kesehatan, kesegaran jasmaniah), kejiwaan (kebenaran dan keindahan)
dan kerohanian yaitu kesucian. (Dardji
Darmodiharjo dan Sidarta, 2008 : 234).
Soediman mengatakan bahwa manusia
itu memiliki empat unsur yaitu raga, rasa,
rasio dan rukun. Dengan raga, badan bisa
bertindak apabila sehat, dengan rasa manusia bisa membedakan baik dan buruk, pahit
dan manis, dengan rasio manusia bisa berfikir dan menimbulkan kesadaran dan dengan rukun manusia akan menimbulkan
kesadaran dan mendapatkan kepastian
hukum. Ini perlu di realisasikan dalam kehidupan nyata agar dapat kehidupan yang
harmoni. Negara kekeluargaan itu adalah
Negara yang disusun dan digerakan dengan
semangat kekeluargaan antara penguasa
dan rakyat.
Menurut Ernas Renan menyebutkan
bahwa sarat bangsa adalah adanya satu
gerombolan manusia yang mau bersatu,
yang merasa dirinya bersatu (Le Besiz d,etre
ensemble). (Soekarno, 1956 : 143).
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA
Secara konseptual adalah tepat untuk
menjadikan pancasila sebagai ideologi terbuka karena telah terbukti dalam sejarah
ketatanegaraan, adanya upaya untuk mengganti Pancasila sebagai pandangan hidup
dan dasar Negara, seperti Partai Komunis
Indonesia (PKI), namun selalu gagal. Hal itu
terjadi karena bangsa Indonesia telah bersepakat dan memiliki tekat bulat untuk melaksanakan pancasila secara murni dan konsekuen. Perlu juga diketahui bahwa konsepsi pancasila itu sangat sesuai dengan
postmodern karena Pancasila bersifat reformatif, dinamis, antisipatif dan terbuka. Senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan
perkembangan jaman, ilmu pengetahuan
dan teknologi serta dinamika yang berkembang dimasyarakat.
Soekarno dan Otto Baner juga mengatakan bahwa bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib (Nation is eine aus schiksals
gemeinschaft erwachsene character gemeinschaft).
Kemudian perlu diperhatikan bahwa didalam Pancasila terdapat nilai dasar (Basic
Value) dan tujuan dari pada nilai itu (goals
value) harmonisasi dari dua nilai itu sangat
berharga untuk mewujudkan Negara untuk
mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila. Perlu diketahui bahwa
nilai adalah sifat atau kualitas dari sesuatu
yang bermanfaat bagi kehidupan manusia
baik lahir maupun batin. Ini perlu dijadikan
sebagai landasan dan atau cara dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan
masyarakat.
Louis O. Kaltsoft, antara lain membedakan nilai atas dua macam yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumen. Nilai instrinsik
adalah nilai yang sejak semula sudah bernilai, sedangkan nilai instrumental adalah
nilai dari sesuatu yang dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
Adapun yang menjadi ciri khas dari
ideologi terbuka adalah nilai-nilai dan citacita yang tidak dapat dipaksakan dari luar
melainkan digali dan diambil dari kekayaan
rohani, moral dan budaya masyarakat itu
sendiri. Konsensus masyarakat tidak ditentukan oleh Negara, melainkan dari masyarakat itu sendiri dengan demikian ideologi
terbuka bukan milik seseorang tertentu me-
65
njadi milik seluruh rakyat Indonesi. (Kaelan,
2010 : 233)
paradigma dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Keadaan itu sangat sesuai juga
dengan kehendak postmodern karena telah
memunculkan kesadaran nasional tentang
berbangsa dan bernegara. Telah hilang pemikiran individualisme, konsep berfikir tertutup harus berubah menjadi berfikir dengan
terbuka dalam batas-batas yang diperkenankan oleh hukum yang dapat ditoleransi
dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Kita harus rasa hormat atas keunikan dan otonom setiap budaya dan
nasion. (Bambang Sugiharto, 1996 : 160)
Ideologi terbuka adalah ideologi yang
dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman dan dinamika masyarakat
yang berkembang dinegara yang bersangkutan. Sumber hukum ideologi terbuka
adalah Alinea IV pembukaan UUD 1945
yang dapat disebut sebagai tujuan Negara
Republik Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa serta ikut berperan aktif dalam
menjalin kerjasama internasional.
Konsep untuk menjadikan Pancasila sebagai paradigma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berarti telah memunculkan kesadaran nasional tentang berbangsa dan bernegara. Pancasila itu elastis
dan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman serta dapat menjawab
persoalan-persoalan yang muncul dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Membangun kesadaran nasional seperti kata
pepatah yang hidup dalam hukum adat kita
yaitu berat sama dipikul ringan sama di
jinjing, artinya adalah walaupun kita menghadapi dan atau menjumpai persoalan yang
sulit, jika dipecahkan secara bersama-sama
akan tuntas atau selesai. Dalam pepatah
minang kabau dikatakan: sekali aia gadang
sekali tapian baranjak (sekali tepian bergeser sekali tapian berkisar). Walaupun
baranjak dilapiat saalai juo (walaupun berkisar masih tetap di tikar yang sama) artinya
bahwa adat itu dapat berubah mengikuti
keadaan masyarakatnya, namun perubahan
itu bukan sembarang perubahan akan tetapi
harus ada hubungannya dengan yang lama.
Pancasila tidak pernah menolak perubahan
yang penting sesuai dengan nilai dasar dan
tujuan nilai dasar yang terkandung dalam
pancasila.
Kemudian perlu diketahui bahwa faktor
pendorong keterbukaan ideologi Pancasila
adalah kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika masyakat,
runtuhnya ideologi komunis yang tertutup,
perjalanan sejarah bangsa pada masa lampau dan tekad untuk memperkukuh kesadaran akan nilai-nilai dasar yang terkandung
dalam Pancasila.
Selanutnya dalam ideologi terbuka nilai
dasar dari Pancasila itu tetap, namun dalam
pengejawantahannya dapat dikembangkan
secara kreatif dan dinamis yang sesuai dengan kebutuhan dinamika yang berkembang
dimasyarakat.
Nilai-nilai dari Pancasila harus dijadikan
sesuatu sistim pemikiran yang terpadu dan
konsisten dalam pelaksanaannya. Pembudayaan Pancasila sebagai ideologi terbuka
harus terus dilakukan melalui seminar, secara terarah terpadu dan konsisten.
Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam
ideologi terbuka adalah nilai dasar, yaitu
hakekat dari kelima Pancasila mulai dari
Ketuhanan Yang Maha Esa sampai kepada
keadilan sosial, nilai instrumental merupakan
nilai kebijakan, strategis, sasa-ran serta cara
pelaksanaannya dan nilai praktis yaitu
realisasi dari nilai itu dalam suatu
pengalaman.
PENUTUP
Konsep untuk menjadikan Pancasila sebagai paradigma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah tepat. Karena
Pancasila dapat memayungi kebhinekaan
yang ada dalam masyarakat, seperti suku,
ras dan antar golongan.
PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN
BERNEGARA
Dalam menindak lanjuti hal tersebut di
atas hal yang tidak kalah pentingnya adalah
bahwa Pancasila dapat dijadikan sebagai
Kita harus menaruh rasa hormat kepada
pendiri Negara yaitu Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atas
pikiran-pikiran cemerlangnya dalam menentukan satu pandangan hidup dan dasar
66
DAFTAR PUSTAKA
Negara yaitu pancasila.
Dengan pancasila The Founding Fathers mencita-citakan masyarakat yang
agamis menurut keyakinan masing-masing,
sopan santun, kebersamaan, kekeluargaan
dan gotong royong tanpa ada intimidasi dari
pihak asing.
1. B. Arif Sidharta, Makalah Tentang
Filsafat Hukum Dalam Konteks Ideologi
Negara Pancasila.
2. Dardji Darmodihardjo dan Sidarta,
Pokok-pokok Filsafat Hukum, Penerbit
Gramedia, 2008.
Untuk membangun Negara dan bangsa
perlu ada persepsi yang sama di dalam memahani Negara dan bangsanya. Agar tidak
berjalan sendiri-sendiri. Jadi ada pedoman
hidup atau tuntunan hidup untuk Negara dan
bangsa. Pancasila Jaya, Pancasila Sakti dan
Abadi. Merdeka
3. Kaelan, Pendidikan Pancasila, Penerbit
Paradnya Yogya, 2010.
4. Soekarno Pancasila Sebagai Dasar
Negara, Penerbit Djembatan 1956,
67
Fly UP