...

situs puyang mulia sakti di desa penanggiran sebagai materi

by user

on
Category: Documents
14

views

Report

Comments

Transcript

situs puyang mulia sakti di desa penanggiran sebagai materi
SITUS PUYANG MULIA SAKTI DI DESA PENANGGIRAN SEBAGAI MATERI PENGAYAAN
PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL DI KELAS VII SMP NEGERI 2 UJAN MAS
KABUPATEN MUARA ENIM
Yenda Fera Mesta Putri,1 Aan Suriadi2
ABSTRAK
Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Nilai-nilai sejarah apa saja yang dimiliki situs Puyang
Mulia Sakti di Desa Penanggiran yang dapat dijadikan sebagai materi pengayaan pembelajaran sejarah
lokal di kelas VII SMP Negeri 2 Ujan Mas?”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk
mengetahui nilai-nilai sejarah yang dimiliki situs Puyang Mulia Sakti di Desa Penanggiran.(2) Untuk
mengetahui pemahaman guru terhadap nilai-nilai sejarah situs Puyang Mulia Sakti di Desa Penaggiran
sebagai materi penggayaan pembelajaran sejarah lokal di SMP Negeri 2 Ujan Mas Kabupaten Muara
Enim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik
pengumpulan data yaitu melalui pengamatan langsung atau observasi, wawancara dan dokumentasi.
Teknik analisis data yang digunakan yaitu model analisis data kualitatif yang analisis datanya dilakukan
secara induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola
hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Situs Puyang
Mulia Sakti adalah salah satu situs leluhur masyarakat desa Penanggiran, situs ini terletak di tebing Tapus
kurang lebih 2 km dari pemukiman warga Desa Penanggiran Kecamatan Gunung Megang Kabupaten
Muara Enim yang sangat penting dalam sejarah daerah. Adapun Nilai sejarah yang dimiliki situs Puyang
Mulia Sakti dapat diketahui dari cerita rakyat dan dokumen tentang situs Puyang Mulia Sakti. (2)
Pemahaman guru IPS SMP Negeri 2 Ujan Mas Kabupaten Muara Enim terhadap nilai sejarah yang
dimiliki situs Puyang Mulia Sakti cukup baik. Nilai sejarah situs Puyang Mulia Sakti di desa Penanggiran
dapat di jadikan materi pengayaan pembelajaran sejarah lokal di kelas VII pada Standar Kompetisi: 5.
Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Budha sampai masa kolonial Eropa.
Kompetensi Dasar: 5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan
pada masa Islam di Indonesia serta peninggalan-peninggalannya. (3) Dengan dijadikannya Situs Puyang
Mulia Sakti sebagai materi pengayaan pembelajaran sejarah lokal di kelas VII SMP Negeri 2 Ujan Mas,
maka akan membantu siswa mengetahui sejarah lokal yang ada di daerahnya, sehingga dapat
menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri siswa.
Kata kunci: Situs Puyang Mulia Sakti, sejarah lokal
A. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik agar dapat
berperan aktif dan positif dalam hidupnya
sekarang dan yang akan datang (Sulo,
2005:263). Pendidikan senantiasa berkaitan
dengan perilaku manusia. Dalam setiap
proses pendidikan terjadi interaksi antara
peserta didik dengan lingkungannya, baik
lingkungan yang bersifat fisik, maupun
lingkungan sosial. Melalui pendidikan
diharapkan adanya perubahan perilaku
peserta didik menuju kedewasaan, baik
dewasa dari segi fisik, mental, emosional,
moral, intelektual maupun sosial. Harus
diingat bahwa walaupun pendidikan dan
pembelajaran
adalah
upaya
untuk
mengubah perilaku manusia, akan tetapi
tidak semua perubahan perilaku manusia
atau peserta didik mutlak sebagai akibat
dari intervensi program pendidikan (Tim
Pengembang MKDP, 2011:26).
Jalur pendidikan sekolah dilaksanakan
secara berjenjang yang terdiri atas jenjang
pendidikan dasar, pendidikan menengah
pertama, menengah atas, dan pendidikan
tinggi. Pendidikan menengah pertama yang
lamanya tiga tahun sesudah pendidikan
1Alumni
2
Prodi. Pend. Sejarah UPGRI Palembang
Dosen Prodi. Pend. Sejarah UPGRI Palembang
130
dasar, pendidikan menengah pertama
berfungsi sebagai lanjutan dan perluasan
pendidikan dasar (Sulo, 2005:264-265).
Dari beberapa mata pelajaran yang
diberikan pada pendidikan menengah
pertama, salah satunya adalah mata
pelajaran sejarah. Dengan belajar sejarah
bisa mengajarkan pada siswa tentang nilainilai kejujuran, rasa tanggung jawab, rasa
cinta pada sesama, saling menghargai, mau
berjuang dan bekerja keras. Selain itu
dengan belajar sejarah disekolah, kita bisa
mengetahui identitas bangsa ataupun
manusia Indonesia di masa lalu, diharapkan
akan bisa dipetik nilai-nilai positif yang
begitu kaya (Kementerian Pendidikan
Nasional, 2011:7).
Sejarah sebagai ilmu pengetahuan
dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
jenis sejarah, yaitu:
a. Sejarah Lokal adalah suatu peristiwa
yang terjadi hanya meliputi suatu daerah
dan tidak menyebar kedaerah lainya.
b. Sejarah Nasional adalah peristiwa yang
terjadi mencangkup kawasan yang lebih
luas dari sejarah lokal.
c. sejarah dunia adalah suatu peristiwa
yang terjadi bisa mempengaruhi
perkembangan dunia internasional.
Muara Enim adalah ibu kota
kabupaten, nama itu berasal dari kata
‘Muahe Hening’, yang artinya muara sungai
yang tenang karena di daerah ini terdapat
sungai Enim yang bermuara ke sungai
Lematang. Kabupaten Muara Enim dahulu
bernama Kabupaten Liot, singkatan dari
Lematang Ilir dan Ogan Tengah yang
terbentuk berdasarkan Puak-Puak, yaitu
Puak Penukal, Puak Rembang, Puak
Belida, dan Puak Kelekar. Luas wilayah
daerah ini lebih kurang 9.575 KM2, terdiri
dari 18 kecamatan (8 kecamatan
perwakilan) 258 Desa, letaknya di tengahtengah wilayah Propinsi Sumatra Selatan
(Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Tingkat I
Sumatra Selatan, 1995:21).
Dari 258 Desa di antaranya adalah
Desa Penanggiran Kecamatan Gunung
Megang, di Kabupaten Muara Enim banyak
ditemukan
peninggalan-peninggalan
sejarah, salah satunya di Desa Penanggiran
terdapat sebuah situs yaitu situs Puyang
Mulia Sakti yang memiliki kekayaan nilai
sejarah, situs ini terletak di tebing Tapus
kurang lebih 2 km dari pemukiman warga
Desa Penanggiran.
Masyarakat desa Penanggiran sampai
saat ini masih menjaga tradisi leluhur
masyarakat yaitu dengan melakukan ziarah
ke makam Puyang Mulia Sakti dan
keluarganya untuk memberikan doa serta
menjaga kebersihan makam. Tetapi tidak
hanya itu sebagian masyarakat atau
penziarah yang datang untuk berdoa dan
meminta pertolongan, sebab keberadaan
makam Puyang Mulia Sakti dan
keluarganya diyakini masyarakat sebagai
makam yang sakral.
Menurut (dokumen Abdu Halim 1995),
Kurang lebih 1300 M di situs Puyang Mulia
Sakti terjadi peristiwa sejarah, Puyang Mulia
Sakti bersama istrinya memutuskan untuk
menetap dan berdomisili sampai keanak
cucu di tebing Tapus, sebelah Ulu Lubuk
Pendam, yang sekarang sebagai lokasi
pemakaman keluarga Puyang Mulia Sakti
dengan sebutan Pemakaman Puyang Mule
Jadi Desa Penanggiran. Sebelum Puyang
Mulia Sakti bersama istrinya memutuskan
untuk menetap dan berdomisili disana,
banyak tanda-tanda yang mendorong agar
Puyang Mulia Sakti bersama istrinya agar
menetap dan berdomisili di tebing Tapus,
tanda-tanda tersebut antara lain:
a. Pada waktu mereka mandi, banyak
ikan-ikan
dan
udang-udang
menghampiri mereka.
b. Benih beras yang dibuang sore
kemarin, terlihat akan tumbuh.
c. Dari atas tebing Tapus, diseberang
sungai lematang terlihat dengan jelas
hamparan rawa-rawa yang sangat
cocok untuk dibuat persawahan.
d. Hawannya terasa sangat sejuk dan
berkesan.
131
Peneliti menemukan permasalahan
dalam kegiatan pembelajaran sejarah lokal,
yaitu pada siswa mata pelajaran sejarah
(IPS Terpadu) kelas VII SMP Negeri 2 Ujan
Mas Kabupaten Muara Enim, belum
memanfaatkan sumber-sumber sejarah
lokal didalam pembelajaran sejarah,
sehingga pemahaman siswa terhadap
sejarah daerahnya perlu ditingkatkan
dengan cara memasukkan sejarah lokal
sebagai materi pengayaan pembelajaran
sejarah di kelas VII SMP Negeri 2 Ujan Mas
Kabupaten
Muara
Enim,
dengan
memanfaatkan nilai sejarah situs Puyang
Mulia Sakti di Desa Penanggiran yang kaya
dengan nilai sejarah.
gambar dari pada angka-angka (Satori,
2009:28).
Teknik Pengumpulan Data
Pengamatan Langsung atau Observasi
Observasi
atau
pengamatan
merupakan teknik pengumpulan data yang
paling utama dalam penelitian kualitatif.
Observasi adalah teknik pengumpulan data
dengan melakukan pengamatan langsung
terhadap subjek (partner penelitian) dimana
sehari-hari mereka berada dan biasa
melakukan aktivitasnya (Satori, 2009:90).
Observasi adalah pengamatan yang
dilakukan secara sengaja, sistematis
mengenai fenomena sosial dengan gejalagejala psikis untuk kemudian dilakukan
pencatatan (Subagyo, 2006:63). Jadi dapat
disimpulkan bahwa observasi adalah
pengamatan langsung di lapangan yang di
lakukan peneliti untuk mengumpulkan data,
selain Observasi
berguna untuk
mengumpulkan
data,
tetapi
juga
memperoleh kesan-kesan pribadi dan
merasakan suasana situasi sosial yang di
teliti. Observasi dalam penelitian ini
dilakukan di situs Puyang Mulia Sakti yang
ada di Desa Penanggiran dan di SMP
Negeri 2 Ujan Mas Kabupaten Muara Enim.
Teknik Wawancara
Wawancara
merupakan
teknik
pengumpulan data dengan melakukan
dialoq langsung dengan sumber data, dan
dilakukan secara tak berstruktur, dimana
responden mendapat kebebasan dan
kesempatan untuk mengeluarkan pikiran,
pandangan, dan perasaan secara natural
(Satori, 2009:91).
Menurut
(Subagyo
2006:39),
wawancara adalah suatu kegiatan dilakukan
untuk mendapatkan informasi secara
langsung
dengan
mengungkapkan
pertanyaan-pertanyaan
pada
para
responden.
Dari beberapa pendapat para ahli
dapat disimpulkan, wawancara adalah
teknik pengumpulan data yang dilakukan
B. METODE PENELITIAN
Metode adalah suatu cara atau jalan
untuk bertindak menuntut aturan tertentu.
Dengan mengunakan metode maka peneliti
dapat melakukan kegiatan secara lebih
terarah sehingga dapat mencapai hasil yang
lebih maksimal (Rustam, 202:17).
Penelitian ini mengunakan rancangan
penelitian kualitatif, penelitian kualitatif
adalah penelitian yang menekankan pada
qualiti atau hal yang terpenting dari suatu
barang atau jasa. Hal terpenting dari suatu
barang
atau
jasa
berupa
kejadian/fenomena/gejala sosial adalah
makna dibalik kejadian tersebut yang dapat
dijadikan
pelajaran
bagi
suatu
pengembangan konsep teori (Satori,
2009:22).
Menurut (Sutopo 2010:1), penelitian
kualitatif adalah suatu penelitian yang
ditujukan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis penomena, peristiwa, aktifitas
sosial, sikap, kepercayaan, persepsi,
pemikiran orang secara kelompok maupun
individual.
Penelitian ini mengunakan jenis
penelitian deskriptif kualitatif karena mampu
mendeskripsikan suatu objek, fenomena,
atau setting sosial terjewantah dalam suatu
tulisan yang bersifat naratif. Artinya data,
fakta yang dihimpun berbentuk kata atau
132
peneliti untuk mendapatkan informasi
secara langsung dengan informan.
Wawancara kepada para informan untuk
mengetahui nilai sejarah yang ada pada
situs Puyang Mulia Sakti di Desa
Penanggiran. Wawancara juga dilakukan
kepada guru mata pelajaran sejarah untuk
mengetahui pemahaman guru terhadap
situs Puyang Mulia Sakti. Dengan demikian
wawancara sangat di butuhkan dalam
sebuah penelitian.
Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan
dokumen
sebagai
pelengkap
dari
pengunaan
metode
observasi dan
wawancara dalam penelitian kualitatif.
Dokumen merupakan catatan peristiwa
yang sudah berlalu. Dokumen biasanya
berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang (Sugiyono,
2007:82).
Dokumentasi
adalah
proses
pembuktian yang di dasarkan atas jenis
sumber apapun, baik yang bersifat tulisan,
lisan gambaran atau arkeologis (Hugiono,
1987:33).
Validitas Data
Pengujian Validitas data dalam
penelitian ini dilakukan dengan teknik
trianggulasi data. (Sugiyono 2010:330)
menjelaskan teknik trianggulasi data
diartikan sebagai teknik pengumpulan data
yang bersifat mengabungkan dari berbagai
teknik pengumpulan data dan sumber data
yang telah ada. Trianggulasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
trianggulasi data. Peneliti mengunakan
sumber
yang
berbeda-beda
untuk
mengetahui kebenaran permasalahan yang
diteliti. Dalam pengecekan data dari
berbagai sumber dengan berbagai cara, dan
berbagai waktu (Satori, 2009:94-95). Data
yang dikatakan valid ketika hasil konfirmasi
data yang berbeda menunjukan keterangan
yang sama.
Selain mengunakan trianggulasi data,
penelitian ini juga mengunakan trianggulasi
teknik, karena dalam pengumpulan data
peneliti mengunakan teknik yang berbeda
untuk mendapatkan data dari sumber yang
berbeda. Peneliti dalam pengumpulan data
mengunakan observasi, wawancara, dan
dokumentasi (Sugiyono, 2010:373).
Teknik Analisis Data
Analisis adalah suatu upaya mengurai
menjadi bagian-bagian, sehingga susunan /
tatanan bentuk sesuatu yang diurai itu
tampak dengan jelas dan karenanya bisa
secara lebih ditangkap maknanya atau
dengan lebih jerni dimengerti duduk
perkaranya (Satori, 2009:97). Pada
penelitian Kualitatif, analisis datanya
dilakukan secara induktif, yaitu suatu
analisis berdasarkan data yang diperoleh,
selanjutnya dikembangkan pola hubungan
tertentu atau menjadi hipotesis (Sugiyono,
2010:335).
Menurut (Sugiyono 2007:89), “Analisis
data adalah proses mencari dan
menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara,
catatan lapangan, dan dokumentasi,
dengan cara mengorganisasikan data
kedalam kategori, menjabarkan ke
dalam unit-unit, melakukan sintesa,
menyusun ke dalam pola, memilih
mana yang penting dan yang akan
dipelajari, dan membuat kesimpulan
sehingga mudah difahami oleh diri
sendiri maupun orang lain”.
Berdasarkan pengertian diatas, maka
teknik yang paling tepat untuk penulis
gunakan dalam penelitian ini adalah tenik
analisis data kualitatif, data-data kualitatif
yang diperoleh dari hasil tentang situs
Puyang Mulia Sakti di Desa Penanggiran
sebagai materi pengayaan pembelajaran
sejarah lokal kelas VII SMP Negeri 2 Ujan
Mas Kabupaten Muara Enim dianalisis
untuk memperoleh suatu gambaran tentang
hasil penelitian yang talah dilakukan.
Menurut (Miles dan Huberman, 1992
dalam Sutopo 2010:7-8) terdapat tiga jalur
analisis data kualitatif, yaitu reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
133
Proses ini berlangsung terus menerus
selama penelitian berlangsung, bahkan
sebelum data benar-benar terkumpul.
a. Reduksi data merupakan bentuk
analisis
yang
menajamkan,
mengolongkan,
mengarahkan,
membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasikan data sedemikian
rupa sehingga kesimpulan akhir dapat
diambil.
b. Penyajian data adalah kegiatan ketika
sekumpulan
informasi
disusun,
sehingga memberi kemungkinan akan
adanya penarikan kesimpulan. Bentuk
penyajian data kualitatif berupa teks
naratif (berbentuk catatan lapangan).
c. Penarikan kesimpulan merupakan hasil
analisis yang dapat digunakan untuk
mengambil tindakan.
diperlukan peneliti. Informan dalam
penelitian ini adalah masyarakat yang
tinggal di Desa Penanggiran yang
mengetahui tentang pokok judul skripsi
dan informan dari SMP Negeri 2 Ujan
Mas Kabupaten Muara Enim dipilih untuk
mengetahui aktivitas belajar mata
pelajaran
sejarah
lokal,
serta
pemahaman guru terhadap situs Puyang
Mulia Sakti.
b. Arsip dan dokumen yang relevan yang
berhubungan
dengan
penelitian.
Dokumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dokumen pemangku
adat Desa Penanggiran serta silabus
mata pelajaran sejarah kelas VII Sekolah
Menengah Pertama Negeri 2 Ujan Mas
Kabupaten Muara Enim.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sample Penelitian
Teknik sampling adalah merupakan
teknik pengambilan sample. Dalam
penelitian kualitatif, teknik sampling yang
sering digunakan adalah purposive
sampling dan snowballl sampling. Dalam
penelitian ini peneliti mengunakan teknik
pengambilan sample purposive sampling
artinya, teknik pengambilan sample sumber
data dengan pertimbangan tertentu
(Sugiono, 2010:300). Dalam purposive
sampling, peneliti memilih informannya
berdasarkan
pertimbangan,
misalnya
informan yang dipilih dianggap memiliki
informasi
berdasarkan
permasalahan
mendalam yang dibahas peneliti. Informan
yang dipilih dalam penelitian ini adalah
warga masyarakat yang ada di Desa
Penanggiran dan guru mata pelajaran IPS
(Terpadu) SMP Negeri 2 Ujan Mas
Kabupaten Muara Enim yang di jadikan
sasaran penelitian, terlebih dahulu dipilih
sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan
peneliti dalam memperoleh data.
Gambaran Umum SMP Negeri 2 Ujan Mas
Kabupaten Muara Enim
SMP Negeri 2 Ujan Mas Didirikan pada
tahun 1991 sekolah ini beralamat di jalan
Lintas Palembang Desa Panang Jaya
Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Muara
Enim. SMP Negeri 2 Ujan Mas mempunyai
Visi dan Misi. Adapun Visi SMP Negeri 2
Ujan Mas adalah “Berprestasi, Berbudaya
Lingkungan
Berdasarkan
Imtaq
“.
Sedangkan Misi SMP Negeri 2 Ujan Mas
adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan pembelajaran dan
bimbingan secara efektif sehingga
siswa dapat berk embang optimal
sesuai yang dimiliki.
b. Menumbuhkan semangat keunggulan
secara intensif kepada warga sekolah.
c. Mendorong dan membantu siswa
mengenali potensi dirinya sehingga
dapat menjadi lebih optimal.
d. Menumbuhkan penghayatan terhadap
ajaran agama islam dan budaya
bangsa menjadi sumber kearifan
bertindak.
Sumber Data
a. Informa adalah orang yang memberikan
informasi atau keterangan yang
134
e. Menerapkan manajemen partisipasi
dengan melibatkan komite sekolah dan
seluruh warga sekolah.
Kegiatan belajar mengajar di SMP
Negeri 2 Ujan Mas di mulai pada pagi hari
pukul 07.00 – 13.00. lapangan sekolah
selain digunakan untuk jam pelajaran
olahraga juga digunakan untuk upacara
bendera setiap hari senin. Di SMP Negeri 2
Ujan Mas setiap hari Sabtu diadakan senam
pagi bersama. Pengunaan perpustakaan
hanya pada jam istiraht bagi para siswa
yang ingin membaca dan meminjam buku.
Unit kesehatan sekolah UKS digunakan
bagi siswa yang sakit.
Selain kegiatan intakulikuler kegiatan
ekstarakulikuler pun diperhatikan oleh pihak
sekolah, setiap siswa di tawarkan untuk
memilih kegiatan ekstrakulikuler yang
diminati. Adapun kegiatan ekstrakulikuler
yang diadakan di SMP Negeri 2 Ujan Mas
antara lain pramuka, paskibra, rohis dan
olaraga.
Kegiatan
ekstrakulikuler
dilaksanakan pada hari minggu di mulai
pukul 08.00 – 12.00.
Keadaan guru SMP Negeri 2 Ujan Mas
Kabupaten Muara Enim tahun pelajaran
2013/2014 dapat dilihat pada tabel I sebagai
berikut:
TABEL I
KEADAAN GURU DAN PEGAWAI SMP
NEGERI 2 UJAN MAS KABUPATEN
MUARA ENIM
Guru
PNS
Guru Bantu
Jumlah
Lk
Pr
Lk
Pr
Lk
Pr
6
12
4
7
10
19
Pegawai
PNS
PTT
Jumlah
Lk
Pr
Lk
Pr
Lk
Pr
1
2
2
3
3
5
guru bantu sedangkan untuk staf pegawai
terdiri dari PNS dan PTT. SMP Negeri 2
Ujan Mas juga mempunyai fasilitas sekolah.
Adapun fasilitas yang terdapat di SMP
Negeri 2 Ujan Mas adalah sebagai berikut:
1) Lapangan Upacara: 1.900 m2
2) Lapangan Olaraga: 1. 700 m2
3) Ruang Kepala Sekolah: 1 buah
4) Ruang Kelas: 13 buah
5) Ruang Guru: 1 buah
6) Ruang Tata Usaha: 1 buah
7) Ruang Perpustakaan: 1 buah
8) Ruang Osis: 1 buah
9) Ruang Laboraturium : 1 buah
10) Ruang BK: 1 buah
11) Ruang UKS: 1 buah
12) Mushollah: 1 buah
Pemeliharaan gedung dan pasilitas
sekolah di SMP Negeri 2 Ujan Mas
dilakukan dengan baik, sekolah setiap
harinya dijaga dan dipelihara oleh penjaga
sekolah yang tinggal di lingkungan sekolah
tersebut. Dalam pengelolaan kelas, setiap
kelas dibuat daftar piket yang selalu diawasi
oleh guru piket. Setiap petugas piket
mengerjakan tugas piketnya sebelum
pelajaran dimulai dan mereka juga harus
menyiapkan peralatan keperluan belajar
yang diperlukan seperti spidol, penghapus
dan lain-lain. Pembagian tugas piket ini
memiliki tujuan tersendiri, yaitu selain untuk
menjaga kerapian dan kebersihan kelas
diharapkan juga dapat menumbuhkan rasa
cinta dan tanggung jawab siswa terhadap
sekolahnya.
Adapun keadaan siswa SMP Negeri 2
Ujan Mas tahun pelajaran 2013/2014 dapat
dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:
TABEL 2
KEADAAN SISWA SMP NEGERI 2 UJAN
MAS KABUPATEN MUARA ENIM
Kelas
Lk
Pr
Jumlah Ruang
belajar
VII
74
80
154
4
VIII
76
78
154
5
IX
70
68
138
4
Sumber: Profil SMP Negeri 2 Ujan Mas Kabupaten
Muara Enim
Keadaan staf pengajar SMP Negeri 2
Ujan Mas Kabupaten Muara Enim terdiri dari
luluan S1 dan Diploma baik dari FKIP
maupun jurusan lainnya. Staf pengajar di
SMP Negeri 2 Ujan Mas terdiri dari PNS dan
135
Sumber: Profil SMP Negeri 2 Ujan Mas
Kabupaten Muara Enim.
Berdasarkan tabel 2 diatas dapat
diketahui bahwa siswa kelas VII berjumlah
154 orang dengan 4 ruang belajar, siswa
kelas VIII berjumlah 154 orang dengan 5
ruang belajar, dan siswa kelas IX berjumlah
138 orang dengan 4 ruang belajar.
sekarang. Dahulunya makam Puyang Mulia
Sakti beserta keluarga hanya berupa tanah
yang sedikit mengunung dan nisan dari
kayu tanpa keterangan, tetapi sekarang
makam Puyang Mulia Sakti beserta
keluarganya sudah direnovasi dan sekarang
sudah dibuatkan bangunan dengan batu
bata yang telah di beri kramik dan beratap
genteng (catatan observasi pada tanggal 16
April 2014).
Makam Puyang Mulia Sakti adalah
sebuah makam leluhur yang berada di Desa
Penanggiran. Situs Puyang Mulia Sakti
adalah sebuah situs yang sangat penting
bagi sejarah desa Penanggiran, karena
Puyang Mulia Sakti beserta istrinya adalah
orang yang pertama datang kedaerah
Tebing Tapus dan membuka daerah itu
menjadi tempat pertanian dan mendirikan
perkampungan yang sekarang diberi nama
Desa Penanggiran.
Sebelum Puyang Mulia Sakti beserta
istrinya memutuskan untuk menetap dan
berdomisilir di daerah itu, mereka adalah
penduduk dari desa Karang Dale yang
terletak di kawasan Pasma Ulu Lintang. Dan
berpindah kedesa Embawang menyusul
kakanya
Marige
Sakti.
Karena
kesalapahaman Puyang Mulia Sakti kepada
kakaknya Marige Sakti sehingga akhirnya
Puyang Mulia Sakti memutuskan untuk
pergi meninggalkan dusun Embawang
menyusuri ilir Sungai Enim. Dan sampailah
mereka di muara Sungai Tapus. banyak
tanda-tanda yang mendorong agar Puyang
Mulia Sakti bersama istrinya agar menetap
dan berdomisili di tebing Tapus, tanda-tanda
tersebut antara lain:
a. Pada waktu mereka mandi, banyak
ikan-ikan
dan
udang-udang
menghampiri mereka.
b. Benih beras yang dibuang sore
kemarin, terlihat akan tumbuh.
c. Dari atas tebing Tapus, diseberang
sungai lematang terlihat dengan jelas
hamparan rawa-rawa yang sangat
cocok untuk dibuat persawahan.
Situs Puyang Mulia Sakti
Situs adalah lokasi yang diduga
memiliki peninggalan sejarah atau benda
cagar budaya. Di Indonesia ada lokasi yang
tidak mengandung benda cagar budaya
tetapi juga disebut sebagai situs, karena
dilokasi tersebut perna terjadi peristiwa
sejarah yang sangat besar perananya bagi
perjalanan sejarah bangsa, maupun sejarah
daerah, sehingga lokasinya layak di
tetapkan sebagai situs (Sedyawati,
2007:164).
Situs Puyang Mulia Sakti di Desa
Penanggiran merupakan situs yang sangat
pe nting dalam sejarah daerah Desa
Penanggiran. Situs Puyang Mulia Sakti
terletak di tebing Tapus kurang lebih 2 km
dari pemukiman warga Desa Penanggiran.
Jika dilihat dari lokasinya situs Puyang Mulia
Sakti ini memang tidak begitu menarik
karena situs ini berada di daerah
perkebunan karet warga setempat, namun
jika diamati di dalamnya terdapat makam
leluhur yaitu Puyang Mulia Sakti beserta
keluarganya. Di situs Puyang Mulia Sakti
terdapat makam istri dan ke dua anaknya
beserta adik dari istri Puyang Mulia Sakti.
Menurut warga setempat adik dari istri
Puyang Mulia Sakti yang bernama Malan
meninggal bukan di Tebing Tapus
melainkan meninggal di Cirebon. Kuburan
yang ada di Tapus adalah berisi tikar dan
bantalnya saja.
Menurut warga setempat Puyang Mulia
Sakti sudah memeluk agama islam, ini
dapat dilihat dari makam Puyang Mulia Sakti
yang sudah menghadap ke arah kiblat,
sama
halnya
dengan
penguburan
masyarakat desa Penanggiran pada masa
136
d. Hawannya terasa sangat sejuk dan
berkesan.
Dan akhirnya Puyang Mulia Sakti
bersama istrinya memutuskan untuk
menetap dan berdomisili sampai keanak
cucu di tebing Tapus, sebelah Ulu Lubuk
Pendam, yang sekarang sebagai lokasi
pemakaman keluarga Puyang Mulia Sakti
dengan sebutan Pemakaman Puyang Mule
Jadi Desa Penanggiran. Puyang Mulia Sakti
dan istrinya dikaruniai 3 orang anak yaitu:
1) Anak tertua bernama Memegar
2) Anak kedua bernama Kemas Sri Pandan
3) Anak ketiga bernama Milin.
Cerita asal usul nama dusun atau desa
dapat diketahui melalui cerita dari
masyarakat setempat.
Menurut
masyarakat
desa
Penanggiran, Penanggiran berasal dari kata
Panang dan Giran. Kata Panang bersal dari
Desa yang ada di Desa Embawang
Kecamatan Tanjung Agung, orangnya
bersal dari Panang Minggir di Muara Sungai
Tapus, maka menjadi Penanggira (catatan
wawancara no 7 dengan masyarakat desa
Penanggiran pada tanggal 17 April 2014).
Menurut mitos masyarakat Desa
Penanggiran, jika banyak ikan lampam dan
ikan lainya berlompat lompatan, kemudian
diiringi oleh seekor buaya putih yang giginya
telah ompong di muara sungai Tapus atau
di muara sungai Enim Desa Penanggiran,
maka jangan takut terhadap buaya putih
tersebut ajaklah buaya putih tersebut
berbicara maka buaya putih itu akan
mengerti karena buaya putih adalah jelmaan
dari Puyang Mulia Sakti (catatan wawancara
No 8 dengan masyarakat desa Penanggiran
pada tanggal 17 April 2014).
dunia ini tanpa adanya suatu nilai yang
melekat didalamnya, jadi segala sesuatu
ada nilainya. Sesuatu dianggap bernilai
apabila sesuatu itu memiliki sifat sebagai
berikut: a). Menyenangkan (peasent); b).
Berguna
(useful);
c).
Memuaskan
(satisfying); d). Menguntungkan (profitable);
e). Menarik (interesting); f). Keyakinan
(belief).
Suatu peninggalan sejarah baik itu
berbentuk bangunan atau berbentuk
peristiwa mempunyai nilai sejarahnya
masing-masing. Nilai tersebut dapat
diketahui baik dari sumber tertulis seperti
prasati, dari sumber benda seperti artefak,
dan baik dari sumber lisan seperti
keterangan langsung dari saksi sejarah. Ada
beberapa aspek yang terkait dengan nilai
sejarah, yaitu: (a) umur; (b) kaitannya
dengan peristiwa penting dalam sejarah dan
tokoh penting dalam sejarah. Nilai dari
perisriwa penting yang terkait dengan situs
ini berupa dokumen dan cerita rakyat.
Dengan demikian nilai sejarah yang
dimaksud disini adalah nilai sejarah yang
terkandung di dalam situs Puyang Mulia
Sakti yang ada di Desa Penanggiran. Nilai
sejarah yang dimiliki situs Puyang Mulia
Sakti dapat diketahui dari peninggalan cerita
rakyat dan dokumen peristiwa sejarah
Puyang Mulia Sakti (catatan wawancara No
9 dengan Ketua Adat pada tanggal 17 April
2014).
Menurut legendanya sekitar tahun
1300 M di kawasan Pasemah Ulu Lintang,
terdapat sebuah desa namanya Karang
Dale. Di desa Krang Dale ini terdapat
sepasang suami istri, yang laki-laki bernama
Batalani dan istri bernama Siti Aminah.
Mereka mempunyai 12 orang anak yang
masing-masing bernama:
a. Puyang Guro
b. Puyang Marige Sakti
c. Puyang Ismail
d. Puyang Maunang
e. Puyang Remunang
f. Puyang Keliwon
g. Puyang Juare
Nilai Sejarah Situs Puyang Mulia Sakti
Deni Wahyu Hidayat dan kawankawan,
dalam
(Ronald
2008:162)
berpendapat bahwa nilai sejarah adalah
sejauh mana sumber daya arkeologi itu
dilatar belakangi oleh peristiwa sejarah yang
di anggap penting. Menurut (Herimanto
2010:127), tidak ada yang diciptakan di
137
h.
i.
j.
k.
Puyang Sari Pati (Sapu Jagat)\
Puyang Merapi Sakti
Puyang Karia Pita Sari
Puyang Sunan Kalijaga Keramat
Jati
l. Puyang Mulia Sakti
Seperti lazimnya orang-orang desa,
yang rata-rata pekerjaannya sebagai petani,
masing-masing keluarga atau rugok pastilah
mempunyai sebuah tebat (kolam ikan).
Demikian juga halnya dengan keluarga
Batalani yang mempunyai sebuah tebat
yang cukup besar dan dalam. Pada suatu
hari, bertempat di Pasiban (berupa balai
desa) telah diadakan musyawara desa yang
dihadiri oleh Perwatin dan ketua-ketua adat
beserta seluruh penduduk desa, musyawara
desa
tersebut
memutuskan
untuk
mengadakan syukuran desa seperti biasa
setiap tahun sehabis panen penduduk desa
satu-persatu memanen tebat (kolam ikan)
mereka masing-masing untuk persiapan
syukuran tersebut.
Demikian juga dengan keluaraga
Batalani telah bersiap-siap memanen
tebatnya, tapi sialnya terjadi perpecahan
keluarga Batalani yang di sebabkan karena
kesalapahaman dari Puyang Marige sakti
yang merasa sakit hati kepada ke sebelas
saaudaranya, karena pada saat pemanenan
ikan di tebat (kolam ikan) Puyang Marige
Sakti tidak di ikut sertakan atau di tunggu
untuk memanen ikan dikarenakan pada
waktu itu istri Puyang Marige Sakti sedang
hamil tua. Melihat kelakuan saudarasaudaranya Puyang Marige sakti merasa
sakit hati dan berkesimpulan untuk segera
pergi meninggalkan Desa Karang Dale.
Setelah ikan-ikan dikumpulkan dan
kemudian dibagi rata, sesuai dari usul
Puyang Mulia Sakti sebelumnya walaupun
Marige Sakti tidak hadir namun
pembagiannya tetap ada. Sesampainya
Mulia Sakti di pondok kakanya Marige Sakti
ternyata pondok tersebut telah kosong.
Kejadian ini segera dilaporkan kepada
kedua orang tuannya. Setahun kemudian,
ternyata Marige Sakti tak kunjung pulang
dan akhirnya Mulia Sakti di tugaskan oleh
kedua orang tuanya untuk mencari kakanya
Marige Sakti.
Jauh sudah Mulia Sakti meninggalkan
Desa Karang Dale dan akhirnya Mulia Sakti
bertemu dengan kakaknya Marige Sakti.
Mereka saling berpelukan dengan berurai
air mata. Sesampainya di pondok Marige
sakti,
Mulia
Sakti
menyampaikan
permintaan
maaf
dari
kesepuluh
saudaranya dan menyampaikan pesan
orang tuannya agar Marige Sakti pulang ke
Desa Karang Dale, ternyata Marige Sakti
bersediah
memaafkan
kesepuluh
saudaranya tetapi untuk pulang ke Karang
Dale Marige Sakti sangat berkeberatan
karena telah terlanjur membangun tempat
yang sekarang ia tempati sekarang menjadi
desa Embawang.
Mendengar pendirian Meraje Sakti
yang sangat kuat Mulia Sakti mengusulkan
bahwa ia akan turut bersama kakanya bahu
membahu membangun tempat itu. Tapi
sebelum Puyang Mulia Sakti menetap dan
berdomisili di Embawang ia pulang terlebih
dahulu ke desa Karang Dale untuk
menyampaikan kepada kedua orang tuanya
bahwa Merige Sakti bersama istrinya sudah
ditemukan dan mereka sudah hidup
menetap di Embawang serta mengajak
istrinya untuk ikut menetap dan berdomisili
di Embawang.
Pada suatu hari Puyang Marige Sakti
hendak memberi ikan kepada adiknya Mulia
Sakti ikan tersebut dibungkus didalam daun
pisang. Setelah ia tiba di pondok adiknya
ternya Mulia Sakti tidak berada di
pondoknya, yang ada hanya istrinya dalam
keadaan tidur pulas, menurut adat istiadat
tidak baik membangunkan seorang
perempuan yang sedang tidur pulas. Oleh
sebab itu bungkusan ikan tersebut
digantungkan di atas pintu depan pondok
agar mudah dilihat dan aman dari gangguan
binatang buas. Sewaktu istri Puyang Mulia
Sakti bangun dari tidurnya ia keluar masuk
pondok lewat pintu belakang sehingga
bungkusan ikan tersebut tidak diketahuinya.
138
Barulah setelah magrib, Puyang Mulia Sakti
pulang dari sawah dilihatnya ada bungkusan
yang tergantung didepan pintu pondoknya,
setelah bungkusan itu dibuka ternyata
bungkusan yang terlipat itu berisi ikan dalam
keadaan membusuk dan sudah dipenuhi
bibit ulat yang berasal dari lalat.
Setelah melihat keadaan ikan yang
telah membusuk tersebut Puyang Mulia
Sakti merasa kecewa dan salah sangka
terhadap kakaknya puyang Marige Sakti
dikiranya bahwa kakanya memberikan ikan
yang memang sudah membusuk. Dan
akhirnya puyang Mulia Sakti mengambil
keputusan untuk pergi merantau dan
berpisah dengan kakaknya. Keesokan
harinya Puyang Mulia Sakti bersama istrinya
pergi meninggalkan desa Embawang
mereka langsung milir mengikuti sungai
Enim dengan mengunakan rakit, dengan
tekad sebelum ada ikan lampam yang
masuk bakul pada waktu mereka mencuci
beras mereka tidak akan singgah-singgah
(berhenti). Hal hasil saat mereka akan
melewati muara sungai Tapus diwaktu
istrinya mencuci beras, masuklah seekor
ikan lampam kedalam bakul beras. Dengan
sepontan beliau teringat akan tekadnya
sewaktu akan berangkat tempo hari, beliau
memutuskan untuk singgah dan bermalam
ditempat itu. Ternyata banyak tanda-tanda
yang mendorong agar Puyang Mulia Sakti
bersama istrinya agar menetap dan
berdomisili di tebing Tapus, tanda-tanda
tersebut antara lain:
a. Pada waktu mereka mandi, banyak
ikan-ikan
dan
udang-udang
menghampiri mereka.
b. Benih beras yang dibuang sore
kemarin, terlihat akan tumbuh.
c. Dari atas tebing Tapus, diseberang
sungai lematang terlihat dengan jelas
hamparan rawa-rawa yang sangat
cocok untuk dibuat persawahan.
d. Hawannya terasa sangat sejuk dan
berkesan.
e. Dan sebagainya.
Dan pada akhirnya Puyang Mulia Sakti
bersama istrinya mengambil kesimpulan
untuk menetap dan berdomisili sampai
keanak cucu di tebing Tapus, sebelah ulu
Lubuk Pendam, yang sekarang sebagai
lokasi pemakaman keluarga Puyang Mulia
Sakti.
Pada suatu hari Puyang Marige Sakti
hendak mengunjungi adiknya Puyang Mulia
Sakti, dibawakanya sekehuntum bawang
abang, beberapa batang lemang, dan
sebakul ikan sepat. Sesampainya Puyang
Marige Sakti di pondok adiknya Mulia Sakti
ternyata pondok adiknya telah kosong tak
ada apapun didalamnya. Marige Sakti
mencari-cari adiknya dan dipingir sungai
dilihatnya ada bekas orang membuat rakit.
Tersimpul di dalam hati Puyang Marige
Sakti bahwa adiknya Puyang Mulia Sakti
beserta istrinya telah pergi mengikuti arus
sungai dengan memakai rakit. Melihat
kejadian itu Marige Sakti segera pulang
kepondoknya dan menceritakan hal tersebut
kepada istrinya. Mendengar hal tersebut istri
Puyang Marige Sakti menganjurkan
suaminya untuk segera mencari adiknya
sampai ketemu.
Pada suatu hati berangkatlah Marige
Sakti bersama anaknya Malin Bujang
mencari adiknya Mulia Sakti, dengan
menyusuri
aliran
sungai
dengan
mengunakan rakit. Setelah berapa lama
mereka menyusuri sungai-sungai, sampai
akhirnya mereka kesungai Lematang dan
disebelah kanan pingir sungai dilihatnya
sebuah pangkalan dan mereka memutuskan
untuk berhenti dan naik ke Tebing Tapus
menyusuri jalan yang telah ada dan
akhirnya mereka menemukan sebuah
pondok yang besar ternyata pondok
tersebut adalah rumah adiknya Mulia Sakti.
Di lihatnya Puyang Mulia Sakti dan mereka
saling berpelukan melepas kerinduan.
Setelah beristirahat Puyang Marige Sakti
menyampaikan maksudnya untuk mengajak
adiknya pulang ke talang sawah (tempatnya
di Embawang) tapi berhubung adiknya Mulia
Sakti telah membangun di Tapus, maka
139
Puyang Mulia Sakti menolak ajakan
kakaknya untuk pulang ke Embawang.
Setelah kerinduan kakak beradik
tersebut terasa telah lepas, maka Puyang
Marige Sakti bersama anaknya Malin
Bujang bermaksud hendak pulang ke muara
Endilau (Embawang) dan berpesan kepada
adiknya agar sering-sering datang ke
Embawang, mendengar ucapak kakaknya
Mulia Sakti berkata: apabila terlihat banyak
ikan lampam dan ikan-ikan lainya
melompat-lompat dan diiringi oleh seekor
buaya putih yang giginya sudah ompong, itu
berarti bahwa adikmu Mulia Sakti sedang
berkunjung kesana
dan buaya putih
tersebut adalah jelmaan adikmu sendiri,
maka itu jangan takut terhadap buaya putih
tersebut dan ajaklah nuaya putih itu bicara
maka dia akan mengerti (Dokumen bapak
Abdul Halim tahun1995).
guru sejarah harus banyak membaca agar
dapat menambah wawasan dalam
mengajar. Dan pelaksanaan pembelajaran
IPS di SMP Negeri 2 Ujan Mas berjalan
sesuai kurikulum yang ada yang telah di
tetapkan oleh Depdikbud Nasional ( catatan
wawancara nomor 1 tanggal 15 April 2014).
Untuk memahami materi pelajaran
khususnya materi tentang Situs Puyang
Mulia Sakti di Desa Penanggiran, seorang
guru sejarah harus banyak membaca
dokumen-dokumen yang ada tentang situs
Puyang Mulia Sakti dan banyak bertanya
kepada masyarakat yang mengetahui
dengan pasti tentang Puyang Mulia Sakti di
desa Penanggiran (catatan wawancara
nomor 2 tanggal 15 April 2014).
Menurut Ida, untuk melakukan
pengayaan pembelajaran sejarah lokal
tentang situs Puyang Mulia Sakti di Desa
Penanggiran, harus ada kriteria pokok
pemilihan materi pembelajaran adalah harus
mengacu pada Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar, dengan kata lain, materi
pembelajaran yang akan dipilih oleh
seorang guru selayaknya sesuai dan dapat
menunjang pada pencapaian Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang
telah di tentukan oleh kurikulum yang ada.
Setelah itu materi pembelajaran dapat di
kembangkan dalam kegiatan pembelajaran.
materi tentang situs Puyang Mulia Sakti di
desa Penanggiran termasuk pada Standar
Kompetisi (1) Memahami perkembangan
masyarakat sejak masa Hindu-Budha
sampai masa kolonial Eropa. Untuk lebih
jelasnya adalah sebagai berikut:
Standar Kompetensi: 5. Memahami
perkembangan masyarakat
sejak
masa Hindu-Budha sampai masa
kolonial Eropa
Kompetensi Dasar: 5.2 Mendeskripsikan
perkembangan
masyarakat,
kebudayaan dan pemerintahan pada
masa islam di Indonesia serta
peninggalan-peninggalanya.
Pemahaman Guru SMP Negeri 2 Ujan
Mas Tentang Nilai Sejarah Yang Dimiliki
Situs Puyang Mulia Sakti Di Desa
Penanggiran
Berbicara tentang mata pelajaran
sejarah maka akan muncul kesan suatu
pelajaran yang membosankan, mencatat
buku sampai habis, mendengarkan guru
bercerita dan segala bentuk kesan yang
kurang
menyenangkan,
ditambah
penampilan guru pada saat mengajar
dengan penampilan seadanya dan belum
mengunakan media pembelajaran yang bisa
menarik perhatian para siswa serta materi
sejarah yang luas menjadi sebab kurang
menariknya pembelajaran sejarah, materi
sejarah banyak terpokus pada peristiwa
sejarah dalam buku ajar, sementara
peristiwa-peristiwa sejarah disekitar anak
didik kurang disinggung dan kurang
memberikan pengaruh yang rill dalam
meningkatkan kesadaran sejarah (Isjoni,
2007:6).
Menurut Ida, dalam memahami materi
pelajaran, seorang guru sejarah harus
membuat ringkasan dan mempelajari
ringkasan yang telah di buat dan seorang
140
Materi Pembelajaran: contoh peninggalan –
peninggalan sejarah bercorak islam di
berbagai daerah .
Jadi materi tentang situs Puyang Mulia
Sakti dapat dijadikan sebagai materi
pengayaan pembelajaran sejarah lokal di
kelas VII, dan materi tentang situs Puyang
Mulia Sakti di desa Penanggiran dapa di
kembangan dalam proses pembelajaran
karena materi situs Puyang Mulia Sakti
merupakan bagian dari sejarah lokal yang
harus di perkenalkan kepada siswa, sebagai
upaya menumbuhkan rasa kecintaan siswa
terhadap daerahnya sendiri (catatan
wawancara no 3 tanggal 15 April 2014).
Sebagai contoh ketika pembelajaran
sejarah lokal mengenai materi tentang situs
Puyang Mulia Sakti. Setiap siswa
ditugaskan untuk membuat laporan hasil
penelitian mengenai situs Puyang Mulia
Sakti di Desa Penanggiran. Dengan
sendirinya siswa akan berusaha mencari
informasi dengan tugas yang diberikan.
Terlepas dari kesempurnaan hasil tugas
yang diberikan kepada siswa, namun yang
paling penting adalah siswa telah
memperoleh pelajaran kecakapan hidup dan
jiwa karena siswa telah berusaha mengali
informasi menjadi sebuah hasil tugas
(catatan wawancara no 4 tanggal 15 April
2014).
Menurut
Ida,
Dari
kegiatan
pembelajaran tentang materi situs Puyang
Mulia Sakti di Desa Penanggiran saya
mengharapkan, bagi saya sendiri yaitu
menambah wawasan pengetahuan serta
bisa melestarikan kebudayaan sendiri dan
melestarikan sejarah daerah sebagai
kebangaan. Dan bagi siswa saya
mengharapkan,
bisa
menambah
pengetahuan siswa tentang sejarah daerah
mereka
sendiri
sebagai
upaya
menambahkan rasa kecintaan terhadap
daerah.
Dari hasil wawancara peneliti dengan
guru IPS SMP Negeri 2 Ujan Mas
Kabupaten Muara Enim dapat diketahui
bahwa guru IPS SMP Negeri 2 Ujan Mas
sudah memahami tentang nilai sejarah situs
Puyang Mulia Sakti di Desa Penanggiran
dan bisa menempatkan materi tentang situs
Puyang Mulia Sakti di Desa Penanggiran
sebagai materi pengayaan pembelajaran
sejarah lokal di kelas VII, serta dapat di
kembangkan dalam proses pembelajaran
sejarah lokal.
Pembahasan
Nilai Sejarah Situs Puyang Mulia Sakti
Materi tentang situs Puyang Mulia Sakti
di desa Penanggiran dapat di jadikan
sebagai materi pengayaan pembelajaran
sejarah lokal di kelas VII pada Standar
Kompetensi: 5. Memahami perkembangan
masyarakat
sejak masa Hindu-Budha
sampai masa kolonial Eropa. Kompetensi
Dasar : 5.2 Mendeskripsikan perkembangan
masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan
pada masa islam di Indonesia serta
peninggalan-peninggalanya.
Materi
Pembelajaran:
contoh
peninggalan – peninggalan sejarah bercorak
islam di berbagai daerah. Hal ini karena
situs Puyang Mulia Sakti memiliki nilai
sejarah yang dapat diketahui dari cerita
rakyat dan dokumen tentang situs Puyang
Mulia Sakti. Adapun nilai-nilai sejarah yang
dimiliki situs Puyang Mulia Sakti adalah:
Nilai kehidupan sosial dan ekonomi.
Nilai kehidupan sosial
Nilai kehidupan sosial yang dimiliki
situs Puyang Mulia Sakti dapat diketahui
dari dokumen tentang Puyang Mulia Sakti
yaitu, Seperti lazimnya orang-orang desa,
yang rata-rata pekerjaannya sebagai petani,
masing-masing keluarga atau rugok pastilah
mempunyai sebuah tebat (kolam ikan).
Demikian juga halnya dengan keluarga
Batalani yang mempunyai sebuah tebat
yang cukup besar dan dalam. Pada suatu
hari, bertempat di Pasiban (berupa balai
desa) telah diadakan musyawara desa yang
dihadiri oleh Perwatin dan ketua-ketua adat
beserta seluruh penduduk desa, musyawara
desa
tersebut
memutuskan
untuk
mengadakan syukuran desa seperti biasa
141
setiap tahun sehabis panen penduduk desa
satu-persatu memanen tebat (kolam ikan)
mereka masing-masing untuk persiapan
syukuran tersebut.
Jadi kehidupan sosial pada saat itu
masih sangat terjalin dengan baik, serta
mereka masih menjaga adat istiadat yang
ada seperti, Pada suatu hari Puyang Marige
Sakti hendak memberi ikan kepada adiknya
Mulia Sakti ikan tersebut dibungkus didalam
daun pisang. Setelah ia tiba di pondok
adiknya ternyata Mulia Sakti tidak berada di
pondoknya lagi, yang ada hanya istrinya
dalam keadaan tidur pulas, menurut adat
istiadat tidak baik membangunkan seorang
perempuan yang sedang tidur pulas.
Nilai Ekonomi
Makam Puyang Mulia Sakti adalah
makam leluhur yang berada di Desa
Penanggiran. Situs Puyang Mulia Sakti
adalah sebuah situs yang sangat penting
bagi sejarah desa Penanggiran, karena
Puyang Mulia Sakti beserta istrinya adalah
orang yang pertama datang kedaerah
Tebing Tapus dan membuka daerah itu
menjadi tempat pertanian dan mendirikan
perkampungan yang dahulunya hanyalah
sebuah hutan dan perkampungan tersebut
sekarang diberi nama Desa Penanggiran.
Nama dusun atau desa dapat diketahui
melalui cerita dari masyarakat setempat.
Nama desa Penanggiran berasal dari kata
Panang dan Giran. Kata Panang bersal dari
Desa yang ada di Desa Embawang
Kecamatan Tanjung Agung, orangnya
berasal dari Panang Minggir di Muara
Sungai Tapus maka menjadi Penanggira.
Sebelum Puyang Mulia Sakti beserta
istrinya memutuskan untuk menetap dan
berdomisilir di daerah itu, mereka adalah
penduduk dari desa Karang Dale yang
terletak di kawasan Pasma Ulu Lintang. Dan
berpindah kedesa Embawang menyusul
kakanya
Meraje
sakti.
Karena
kesalapahaman Puyang Mulia Sakti kepada
kakaknya Meraje Sakti sehingga akhirnya
Puyang Mulia Sakti memutuskan untuk
pergi meninggalkan dusun Embawang
menyusuri ilir Sungai Enim. Dan sampailah
mereka di muara Sungai Tapus. banyak
tanda-tanda yang mendorong agar Puyang
Mulia Sakti bersama istrinya agar menetap
dan berdomisili di tebing Tapus, tanda-tanda
tersebut antara lain:
a. Pada waktu mereka mandi, banyak
ikan-ikan
dan
udang-udang
menghampiri mereka.
b. Benih beras yang dibuang sore
kemarin terlihat akan tumbuh.
c. Dari atas tebing Tapus, diseberang
sungai lematang terlihat dengan jelas
hamparan rawa-rawa yang sangat
cocok untuk dibuat persawahan.
d. Hawannya terasa sangat sejuk dan
berkesan.
Dan akhirnya Puyang Mulia Sakti
beserta istrinya memutuskan untuk menetap
dan berdomisili sampai ke anak cucu di
Tebing Tapus yang sekarang menjadi
tempat pemakaman keluarga Puyang Mulia
Sakti.
Nilai- nilai sejarah yang dimiliki Situs
Puyang Mulia Sakti dapat di jadikan materi
pengayaan pembelajaran sejarah lokal
kelas VII pada Standar Kompetisi: 5.
Memahami perkembangan masyarakat
sejak masa Hindu-Budha sampai masa
kolonial Eropa. Kompetensi Dasar: 5.2
Mendeskripsikan
perkembangan
masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan
pada masa islam di Indonesia serta
peninggalan-peninggalanya.
Pemahaman Guru SMP Negeri 2 Ujan
Mas Kabupaten Muara Enim Tentang
Situs Puyang Mulia Sakti di Desa
Penanggiran
Pemahaman guru IPS SMP Negeri 2
Ujan Mas Kabupaten Muara Enim tentang
nilai sejarah yang dimiliki situs Puyang Mulia
Sakti di desa Penanggiran sudah cukup
baik. Dan nilai sejarah situs Puyang Mulia
Sakti di desa Penanggiran dapat di jadikan
materi pengayaan pembelajaran sejarah
lokal di kelas VII pada Standar Kompetisi: 5.
Memahami perkembangan masyarakat
142
sejak masa Hindu-Budha sampai masa
kolonial Eropa. Kompetensi Dasar: 5.2
mendeskripsikan
perkembangan
masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan
pada masa islam di Indonesia serta
peninggalan-peninggalanya.
Dengan mempelajari tentang nilai
sejarah yang di miliki situs Puyang mulia
Sakti dapat menambah pengetahuan siswa
tentang sejarah daerah mereka sendiri
sebagai upaya menambahkan rasa
kecintaan siswa terhadap daerahnya
sendiri. Untuk mewudujudkan hal di atas
sebagi contoh, ketika pembelajaran sejarah
lokal mengenai materi tentang situs Puyang
Mulia Sakti. Setiap siswa ditugaskan untuk
membuat laporan hasil penelitian mengenai
situs Puyang Mulia Sakti di Desa
Penanggiran. Dengan sendirinya siswa
akan berusaha mencari informasi dengan
tugas yang diberikan.
Terlepas dari kesempurnaan hasil
tugas yang diberikan kepada siswa, namun
yang paling penting adalah siswa telah
memperoleh pelajaran kecakapan hidup dan
jiwa karena siswa telah berusaha mengali
informasi menjadi sebuah hasil tugas.
Dengan itu bisa menambah pengetahuan
siswa tentang sejarah lokal, dan
menumbuhkan rasa kecintaan siswa
terhadap daerahnya.
Dari kegiatan pembelajaran di atas
dapat melepaskan yang selama ini menjadi
pemahaman keliru mengenai pembelajaran
sejarah yang dianggap penuh dengan
hapalan dan mencatat. Meghapal dan
mencatat suatu peristiwa sejarah memang
sangat penting menuntut siswa hapal akan
alur dari peristiwa sejarah lengak dengan
nama tokoh dan tahunnya. Namun ada yang
lebih utama yaitu pemahaman tentang
kesejarahan yang baik.
Situs Puyang Mulia Sakti adalah salah
satu situs leluhur masyarakat desa
Penanggiran, situs ini terletak di tebing
Tapus kurang lebih 2 km dari pemukiman
warga desa Penanggiran Kecamatan
Gunung Megang Kabupaten Muara Enim
yang sangat penting dalam sejarah daerah.
Adapun Nilai sejarah yang dimiliki situs
Puyang Mulia Sakti dapat diketahui dari
cerita rakyat dan dokumen tentang situs
Puyang Mulia Sakti.
Pemahaman guru IPS SMP Negeri 2
Ujan Mas Kabupaten Muara Enim terhadap
nilai sejarah yang dimiliki situs Puyang Mulia
Sakti cukup baik. Nilai sejarah situs Puyang
Mulia Sakti di desa Penanggiran dapat di
jadikan materi pengayaan pembelajaran
sejarah lokal di kelas VII pada Standar
Kompetisi : 5. Memahami perkembangan
masyarakat
sejak masa Hindu-Budha
sampai masa kolonial Eropa. Kompetensi
Dasar : 5.2 Mendeskripsikan perkembangan
masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan
pada masa Islam di Indonesia serta
peninggalan-peninggalanya.
Dengan dijadikannya Situs Puyang
Mulia Sakti sebagai materi pengayaan
pembelajaran sejarah lokal di kelas VII SMP
Negeri 2 Ujan Mas, maka akan membantu
siswa mengetahui sejarah lokal yang ada di
daerahnya, sehingga dapat menumbuhkan
rasa nasionalisme dalam diri siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Andrianus Arif. Ariesto Hadi Sutopo. 2010.
Terampil Mengolah Data Kualitatif
dengan Nvivo. Jakarta: kencana.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta Rineka Cipta.
Badudu dan Zain. 1994. Kamus Umum
Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Tingkat 1
Sumatra Selatan-Indonesia. 1995.
Lintas Sejarah Budaya Sumatra
Selatan. Palembang: Dinas Pariwisata
D. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan dapat di simpulkan sebagai
berikut:
143
Propinsi Daerah Tingkat 1 Sumatra
Selatan-Indonesia.
Direktorat Tinggalan Purbakala Direktorat
Jendral Sejarah dan Purbakala. 2011.
Undang-Undang Republik Indonesia
No 11 tahun 2010 Tentang Cagar
Budaya.
Jakarta:
Kementrian
Kebudayaan dan Pariwisata.
Hamzah. 2009. Model Pembelajaran
Menciptakan Proses Belajar Mengajar
yang kreatif dan Efektif. Jakarta; Bumi
Aksara.
Herimanto, Winarno. 2010. Ilmu Sosial dan
Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Isjoni. 2007. Pembelajaran Sejarah Pada
Satuan Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Komariah Aan, Djam’ah Satori. 2009.
Metodologi
Penelitian
Kualitatif.
Bandung: Alfabeta.
Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran
Sebagai Suatu Sistem. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Ronald Arya. 2008. Kekayaan dan
Kelenturan Arsiktektur. Surakarta:
Muhammadiah University Press.
Sediawati Edy. 2007. Budaya Indonesia:
Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Septianti, Eka. 2012. Situs Bukit Siguntang
Sebagai Materi Pengayaan Pelajaran
Sejarah di Sekolah Menengah Pertama
Negeri 3 Kecamatan Sungai Lilin.
Skripsi S I (Belum Diterbitkan).
Palembang: FKIP Universitas PGRI
Palembang.
Subagyo Joko. 2006. Metode Penelitian
Dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Sugiono. 2007. Memahami Penelitian
Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
----------. 2010. Metode Penelitia Pendidikan
(Pendidikan Kualitati, Kuantitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta.
Sulo la, Umar Tirtarahardja. 2005.
Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Susanti, Devi. 2013. Situs Puyang Depati
Puteh di Desa Lembak Kabupaten
Muara Enim dan Peranan Masyarakat
Dalam Pelestarian Sejarah Serta
Budaya Lokal Melalui tinjauan
Antropologi. Skripsi S I (Belum
Diterbitkan).
Palembang:
FKIP
Universitas PGRI Palembang.
Syaodih Nana, Ibrahim. 2003. Perencanaan
Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Tamburaka, Rustam. 2002. Pengantar Ilmu
Sejarah Teori Filsafat Sejarah, Sejarah
Filsafat & Iftek. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Tim Pengembang MKDP. 2011. Kurikulum
dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Tim. 2014. Pedoman Penulisan Skripsi.
Palembang: FKIP Universitas PGRI
Palembang.
Widja. I. Gde. 1991. Sejarah Lokal Suatu
Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah.
Bandung: Angkasa.
144
145
Fly UP