...

- STKIP Garut

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

- STKIP Garut
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE-MEANINGFUL
INSTRUCTIONAL DESIGN (C-MID)
Oleh:
TENI SRITRESNA
Abstrak
Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya kemampuan koneksi
matematis siswa dalam belajar matematika. Cooperative-Meaningful Instructional
Design (C-MID) merupakan salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan model
pembelajaran Cooperative-Meaningful Instructional Design (C-MID) dengan yang
mendapatkan pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi
eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa di salah satu SMP di
Kabupaten Garut. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes
kemampuan koneksi matematis. Analisis data dilakukan secara kuantitatif. Analisis
koneksi matematis dilakukan dengan uji nonparametrik Mann-Whitney U untuk pretes
dan uji t untuk N-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan
koneksi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran CooperativeMeaningful Instructional Design (C-MID) lebih baik daripada siswa yang mendapatkan
pembelajaran konvensional.
Kata kunci: Kemampuan Koneksi Matematis, Model Pembelajaran CooperativeMeaningful Instructional Design (C-MID)
A. Latar Belakang
Berdasarkan penelitian Ruspiani
(2000), hasil belajar matematika siswa
selama
ini
masih
belum
menggembirakan khususnya dalam
aspek koneksi matematis. Ruspiani
(2000) menjelaskan bahwa hal ini
disebabkan antara lain karena model
pembelajaran
matematika
kurang
mendorong siswa berinteraksi dengan
sesama siswa dalam belajar, dan kurang
mendorong siswa dalam melihat
keterkaitan antara topik-topik dalam
matematika.
Kemampuan
mengaitkan
konsep-konsep matematika baik antar
ISSN 2086-4299
konsep dalam matematika itu sendiri
maupun mengaitkan konsep matematika
dengan konsep dalam bidang lainnya
disebut dengan kemampuan koneksi
matematis (Ruspiani, 2000). Permana
dan Sumarmo (2007) menyimpulkan
bahwa pemahaman siswa tentang
koneksi antar konsep atau ide-ide
matematika
akan
memfasilitasi
kemampuan siswa untuk memformulasi
dan memverifikasi konjektur secara
induktif dan deduktif. Selanjutnya
konsep, ide, dan prosedur matematika
yang baru dikembangkan dapat
diterapkan
untuk
menyelesaikan
38
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
masalah lain dalam matematika atau
disiplin ilmu lainnya.
Koneksi
matematis
akan
membuat matematika dimengerti dan
bermakna, karena membantu siswa
mempelajari konsep yang baru dan
membantu siswa dalam melihat bahwa
matematika merupakan sesuatu yang
masuk akal. Selain itu, koneksi
matematis juga membantu siswa
mengingat
suatu
konsep
dan
menggunakannya secara tepat dalam
situasi pemecahan masalah, serta
memungkinkan
siswa
untuk
menerapkan matematika dalam mata
pelajaran lain atau dalam kehidupan
sehari-hari. Menurut NCTM (2000)
ketika siswa dapat melihat keterkaitan
antara seluruh komponen yang berbeda
dalam matematika, pandangan mereka
akan berkembang menjadi matematika
sebagai suatu keseluruhan yang
terintegrasi. Siswa belajar konsep baru
dengan
membangun
pemahaman
matematika
sebelumnya, sehingga
mereka akan menjadi sadar akan
hubungan antara berbagai topik
matematika.
Gagne dan Berliner (Wena,
2009:39) mengungkapkan jika dalam
kegiatan pembelajaran, isi pembelajaran
dikaitkan dengan sesuatu yang telah
dikenal atau yang telah dipelajari
sebelumnya, maka siswa akan lebih
termotivasi dalam belajarnya. Selain itu,
pengetahuan siswa tentang matematika
dan
kemampuan
siswa
dalam
menggunakan berbagai representasi
matematis, serta koneksi yang mereka
buat dengan disiplin ilmu lainnya, pada
akhirnya akan memberikan siswa
kekuatan matematika yang lebih besar.
Oleh karena itu siswa harus dibimbing
dan didorong untuk mengembangkan
kemampuan koneksi matematis.
ISSN 2086-4299
Berdasarkan penjelasan di atas,
salah satu model pembelajaran yang
dapat diterapkan untuk meningkatkan
kemampuan koneksi matematis siswa
adalah
model
pembelajaran
Cooperative-Meaningful Instructional
Design (C-MID). Meaningful learning
merupakan
strategi
dasar
dari
pembelajaran konstruktivistik. Ausubel
(Dahar, 1996:112) menjelaskan bahwa
meaningful learning (belajar bermakna)
merupakan suatu proses mengaitkan
informasi baru pada konsep-konsep
relevan yang terdapat dalam struktur
kognitif seseorang. Proses belajarnya
mengutamakan kebermaknaan, agar
peserta didik mudah mengingat kembali
materi-materi yang telah disampaikan
oleh guru ataupun materi yang baru
disampaikan. Instruction (pengajaran)
dalam hal ini tidak hanya merujuk
kepada konteks pembelajaran formal di
ruang kelas yang tujuan utamanya
pemerolehan keterampilan dan konsep
tertentu, tetapi juga memperhatikan
sikap dan emosi siswa. Design
(rancangan) ialah proses analisis dan
sintesis yang dimulai dengan suatu
masalah dan diakhiri dengan rencana
solusi
operasional.
Jadi
model
pembelajaran
C-MID
adalah
pembelajaran yang mengutamakan
efektivitas dan kebermaknaan belajar
dengan cara membuat kerangka kerja
aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivistik.
Berdasarkan uraian di atas,
dilakukan penelitian dengan judul
“Meningkatkan Kemampuan Koneksi
Matematis Siswa melalui Model
Pembelajaran Cooperative-Meaningful
Instructional Design (C-MID).”
B. Rumusan Masalah
Rumusan
masalah
pada
penelitian
ini
adalah
“Apakah
39
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
peningkatan
kemampuan
koneksi
matematis siswa yang mendapatkan
model
pembelajaran
CooperativeMeaningful Instructional Design (CMID) lebih baik daripada siswa yang
mendapatkan
pembelajaran
konvensional?”
C. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini, diharapkan
dapat memberikan beberapa manfaat
diantaranya sebagai berikut.
1. Membantu
meningkatkan
kemampuan koneksi matematis
siswa.
2. Model pembelajaran C-MID bisa
menjadi salah satu alternatif model
pembelajaran yang digunakan oleh
guru
untuk
meningkatkan
kemampuan koneksi matematis
siswa.
3. Bagi peneliti melalui penelitian ini
dapat memperoleh gambaran yang
jelas mengenai penerapan model
pembelajaran
C-MID
untuk
meningkatkan kemampuan koneksi
matematis siswa.
D. Landasan Teori
1. Kemampuan Koneksi Matematis
Brunner (Ruseffendi, 2006:52)
mengemukakan
bahwa
dalam
matematika setiap konsep itu berkaitan
dengan konsep lain. Begitu pula antara
yang lainnya, misalnya antara dalil dan
dalil, antara teori dan teori, antara topik
dan topik, antara cabang matematika
(aljabar dan geometri misalnya). Oleh
karena itu, agar siswa dalam belajar
matematika lebih berhasil, siswa harus
lebih banyak diberi kesempatan untuk
melihat kaitan-kaitan itu.
NCTM (2000:64) menyebutkan
bahwa
ketika
siswa
dapat
menghubungkan ide-ide matematika,
pemahaman mereka lebih dalam dan
ISSN 2086-4299
lebih tahan lama. Siswa dapat melihat
hubungan antara topik matematika,
antara matematika dengan mata
pelajaran yang lain, dan antara
matematika
dengan
kehidupannya
sehari-hari. Melalui pengajaran yang
menekankan
keterkaitan
ide-ide
matematika, siswa tidak hanya belajar
matematika, mereka juga belajar
tentang kegunaan matematika.
NCTM (1989) menyatakan ada
dua tipe umum koneksi matematis yaitu
modeling connection dan mathematical
connection.
Modeling
connection
merupakan hubungan antara situasi
masalah yang muncul di dalam dunia
nyata atau dalam disiplin ilmu lain
dengan representasi matematisnya,
sedangkan mathematical connection
adalah hubungan antara dua representasi
yang ekuivalen, dan antara proses
penyelesaian
dari
masing-masing
representasi.
Sementara
itu,
Harnisch
(Ramdani, 2013) mengemukakan tiga
macam
koneksi
yang
harus
dikembangkan sebagai berikut.
a. Data connection, yaitu ide-ide
matematis
yang
dikoneksikan
dengan ide dalam science, misalkan
“log”
dalam
matematika
dihubungkan dengan ph dalam
kimia.
b. Language connection yaitu bahasa
yang umum digunakan dalam
matematika
dikaitkan
dengan
bahasa yang digunakan dalam
sains, misalnya penggunaan satuan
panjang cm, cm2, dan lain-lain.
c. Life connection yaitu matematika
dan science dihubungkan dengan
kehidupan sehari-hari.
Sumarmo
(2012)
mengemukakan
bahwa
koneksi
matematis disusun dalam indikatorindikator yang relevan, diantaranya:
40
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
a.
mencari
hubungan
berbagai
representasi konsep dan prosedur;
b. memahami hubungan antar topik
matematika;
c. menggunakan matematika dalam
bidang studi lain atau kehidupan
sehari-hari;
d. memahami representasi ekuivalen
konsep atau prosedur yang sama;
e. mencari koneksi satu prosedur ke
prosedur lain dalam representasi
yang ekuivalen;
f. menggunakan koneksi antar topik
matematika, dan antara topik
matematika dengan topik yang lain.
Beberapa upaya yang dapat
dilakukan
untuk
meningkatkan
kemampuan
koneksi
matematis,
diantaranya dijelaskan dalam NCTM
(2000) bahwa pembelajaran matematika
harus diarahkan pada pengembangan
kemampuan berikut.
a. Memperhatikan serta menggunakan
koneksi matematis antar berbagai
ide matematis.
b. Memahami bagaimana ide-ide
matematis saling terkait satu
dengan yang lainnya, sehingga
terbangun
pemahaman
yang
menyeluruh.
c. Memperhatikan serta menggunakan
matematika dalam konteks di luar
matematika.
Mousley
(Qohar,
2010)
menerangkan tentang hal-hal yang harus
ditekankan pada pembelajaran untuk
mengembangkan kemampuan koneksi
matematis sebagai berikut.
a. Meluaskan cakupan dari isi
matematika yang dipelajari untuk
memberi suatu siswa pengertian
yang luas dari matematika dan
aplikasi-aplikasinya.
b. Menekankan koneksi antar ide-ide
matematika.
ISSN 2086-4299
c.
Mengeksplorasi matematika dengan
memperkaya situasi kehidupan
nyata.
d. Memberikan arahan pada siswa
untuk menemukan solusi yang
lebih dari satu dan menemukan
koneksi antar solusi-solusi tersebut.
e. Membuat beragam representasi
terhadap suatu ide matematika.
Berdasarkan pendapat-pendapat
tersebut, yang dimaksud dengan
kemampuan koneksi matematis pada
penelitian ini adalah kemampuan siswa
dalam memahami hubungan antar topik
matematika, menggunakan matematika
dalam bidang studi lain atau kehidupan
sehari-hari, mencari koneksi satu
prosedur ke prosedur lain dalam
representasi
yang
ekuivalen,
menggunakan koneksi antar topik
matematika
dan
antara
topik
matematika dengan topik yang lain.
2. Model Pembelajaran CooperativeMeaningful Instructional Design
(C-MID)
Model
C-MID
merupakan
model
pembelajaran
yang
mengutamakan
efektifivitas
dan
kebermaknaan belajar dengan cara
membuat kerangka kerja aktivitas
secara
konseptual
kognitifkonstruktivistik. Model pembelajaran
C-MID terdiri atas beberapa komponen,
yaitu: (1) tujuan, (2) materi/bahan ajar,
(3) sumber belajar,(4) prosedur, yaitu:
(a) lead in, (b) reconstruction, (c)
production dan (5) evaluasi.
Model ini dipilih sebagai
alternatif pembelajaran matematika agar
pembelajaran matematika menjadi lebih
menarik dan penuh makna, sehingga
siswa dapat merasakan manfaat
mempelajari matematika dan lebih
mudah
menguasai
konsep-konsep
matematika, karena dikaitkan dengan
41
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
struktur kognitif siswa itu sendiri.
Adapun penjelasan mengenai prosedur
MID (Madjid dalam Pramudiani dalam
Gunawan, 2013) sebagai berikut.
a. Lead in
Secara umum konsep lead in
sama dengan concrete experience dalam
arti keduanya mencoba mengaitkan
skemata siswa pada awal pembelajaran
dengan konsep-konsep, fakta, dan atau
informasi
yang akan
dipelajari.
Kegiatan itu dilakukan guru melalui: (1)
penciptaan situasi dalam bentuk
kegiatan
yang
terkait
dengan
pengalaman siswa; (2) pertanyaan atau
tugas-tugas agar siswa merefleksi dan
menganalisis pengalaman-pengalaman
masa tertentu masa lalu; (3) pertanyaan
mengenai konsep-konsep, ide dan
informasi tertentu walaupun hal-hal
tersebut belum diketahui oleh siswa.
b. Reconstruction
Reconstruction adalah sebuah
fase dengan guru memfasilitasi dan
memediasi pengalaman belajar yang
relevan, misalnya dengan menyajikan
input berupa konsep atau informasi
melalui kegiatan menyimak dan
membaca teks untuk dielaborasi,
didiskusikan,
dan
kemudian
disimpulkan oleh siswa. Kegiatan
dilakukan
melalui
pemberian
pertanyaan atau tugas-tugas yang
mengarahkan
siswa
mencari,
menemukan
konsep
atau
fakta
(observation and reflection), kemudian
membangun
hipotesis
sementara
(hypothesizing atau formation of
abstract concept) tentang konsep atau
informasi tertentu, dan menarik
kesimpulan.
c. Production
Production adalah fase terakhir
dari model yang dikembangkan.
Kontrol kegiatan lebih bertumpu pada
siswa untuk mengekspresikan diri
ISSN 2086-4299
sendiri melalui tugas-tugas komunikatif
yang bertujuan, jelas, dan terarah. Pada
fase ini terdapat mediasi guru yang
lebih terstruktur pada model yang
dikembangkan.
Ciri model pembelajaran MID,
yaitu:
a. Menggunakan pengalaman dan
pengetahuan awal siswa untuk
menerima informasi, memproses,
dan menyimpan informasi untuk
dipanggil
kembali
(retrieval)
bilamana dibutuhkan.
b. Mempertimbangkan
materi,
kompleksitas tugas-tugas yang
berhubungan dengan matematika
yang melekat pada kebutuhan,
minat, dan perkembangan kognitif
siswa.
Dalam bentuk draft awal,
implementasi dikemukakan sebagai
berikut.
a.
Draw on experience and
knowledge
Guru melibatkan siswa dalam
kegiatan
yang
memanfaatkan
pengalaman nyata dan pengetahuan
yang terkait dengan pengalaman dan
pengetahuan baru yang diperoleh pada
kegiatan inti (fase input).
b. Input stage
Penyajian input baru melalui
aktivitas yang berfokus pada siswa,
eksplorasi dan diskusi dengan tugastugas terbimbing, menyimak, membaca
pemahaman melalui fasilitas dan
mediasi guru.
c. Reinforcement stage
Siswa mengerjakan tugas yang
bersifat replikasi relatif berkenaan
dengan tema dan kompleksitas tugas
dari tugas sebelumnya pada fase input.
d. Application stage
Siswa menerapkan pengetahuan,
informasi, dan atau keterampilan baru
dalam memecahkan persoalan-persoalan
42
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
pedagogik atau autentik melalui tugastugas berbicara dan menulis dalam
kontrol siswa dan guru.
Desain model pembelajaran CMID
secara
keseluruhan
dapat
digambarkan sebagai berikut.
Model Pembelajaran C-MID
1. Tujuan Pembelajaran
Meningkatkan kemampuan koneksi
matematis siswa.
2. Materi Pembelajaran
Terkait dengan kehidupan nyata
dan bermakna bagi siswa.
3. Sumber/Media Belajar
Buku, lingkungan sosial siswa, dan
media-media lain yang dapat
dijadikan
sebagai
sumber
pembelajaran.
4. Prosedur Pembelajaran
Langkah-langkah
pembelajaran
terdiri dari:
a. Kegiatan awal
- Guru memberi apersepsi dengan
mengingatkan kembali materi
yang
telah
dipelajari
sebelumnya.
- Guru memotivasi siswa dengan
memberi penjelasan tentang
pentingnya materi yang akan
dipelajari.
- Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran
dan
mengomunikasikan kompetensi
dasar yang akan dicapai.
b. Kegiatan inti
Fase Lead in
- Membagi siswa secara heterogen
menjadi beberapa kelompok yang
terdiri dari 4-5 orang.
- Melalui tanya jawab guru menggali
pengalaman dan pengetahuan siap
siswa sebagai bahan asosiasi (draw
on experience and knowledge).
Fase Reconstruction
- Guru membagikan bahan ajar
kepada setiap kelompok.
ISSN 2086-4299
- Guru
mempersilakan
setiap
kelompok mempelajari bahan ajar
sehingga siswa menerima input
informasi
dan
konsep-konsep
matematika
melalui
proses
asimilasi dan akomodasi dan
mereview pengetahuan sebelumnya
melalui mediasi guru (input stage).
- Untuk
mengembangkan
pemahaman baru maka siswa
melakukan eksplorasi melalui tugas
penyelesaian masalah matematis
(reinforcement stage).
Fase Production
- Menerapkan informasi dan konsepkonsep matematika yang baru
diperoleh ke dalam kegiatan
komunikatif, yaitu berdiskusi,
presentasi dan masing-masing
kelompok
saling
menanggapi
permasalahan
yang
sedang
dipelajari (application stage).
c. Kegiatan akhir
- Siswa dengan bimbingan guru
membuat rangkuman materi yang
telah dipelajari secara bersamasama.
- Siswa dan guru melaksanakan
refleksi.
5. Evaluasi
a. Tujuan Evaluasi
- Mengukur kemampuan koneksi
matematis siswa.
- Sebagai
dasar
perbaikan
efektivitas pembelajaran.
b. Sasaran Evaluasi
- Kemampuan koneksi matematis
siswa.
c. Prosedur Evaluasi
- Evaluasi proses dilakukan ketika
berlangsung pembelajaran.
- Evaluasi hasil belajar dilakukan
pada akhir sebuah segmen
pembelajaran.
d. Alat/ Teknik Evaluasi
43
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
Format penilaian proses dan tes
hasil belajar.
E. Metode dan Desain Penelitian
Penelitian yang digunakan
adalah kuasi eksperimen. Desain
penelitiannya menggunakan desain
kelompok kontrol non-ekuivalen.
O
X
O
53 )
......................
O
O
(Ruseffendi, 2005 :
Keterangan:
O
: Tes kemampuan koneksi
matematis siswa
X
:
Model
pembelajaran
Cooperative-Meaningful Instructional
Design (C-MID)
……... : Pengambilan sampel tidak
secara acak
F. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di salah
satu SMP di Kabupaten Garut.
Penelitian dilaksanakan dari bulan
Oktober sampai November 2014.
Kelas KNV
N
S
Pretes
40
1,350
2,304
Postes
40
18,575
4,338
N-Gain
40
0,564
0,131
Skor maksimum ideal: 32
Berdasarkan Tabel 1 terlihat
bahwa ada kenaikan kemampuan
koneksi matematis siswa setelah
mendapat perlakuan. Siswa pada kelas
C-MID memperoleh rataan yang lebih
besar dari kelas KNV. Rataan postes
kelas C-MID sebesar 22,829 (71,34%
dari skor ideal), sedangkan rataan postes
kelas KNV sebesar 18,575 (58,05% dari
skor ideal). Secara sepintas, gambaran
tersebut
menunjukkan
bahwa
kemampuan koneksi matematis siswa
pada kelas C-MID lebih baik dari kelas
KNV. Selain itu, jika dilihat dari
peningkatannya, N-gain kelas C-MID
lebih besar dari kelas KNV, dengan
kelas C-MID diinterpretasikan dalam
kategori tinggi, dan kelas KNV dalam
kategori sedang.
1. Uji Normalitas
G. Hasil Penelitian
Hasil data yang diperoleh dari
pretes, postes, dan N-Gain diolah
dengan software SPSS 17 dan disajikan
dalam tabel berikut:
Tabel 1
Statistik Deskriptif
Kemampuan Koneksi Matematis
Siswa
Kelas C-MID
N
S
Pretes
41
1,219
1,943
Postes
41
22,829
3,748
N-Gain
41
0,703
0,121
Skor maksimum ideal: 32
ISSN 2086-4299
Tabel 2
Data Hasil Uji Normalitas SkorPretes
Kemampuan Koneksi Matematis
Siswa
Hasil
Kelas
Pretes C-MID
KNV
Shapiro-Wilk
Satistic Df
Sig
0,684
41 0,000
0,638
40 0,000
Tabel 2 memperlihatkan hasil
pretes kelas C-MID memiliki nilai sig =
0,000 < 0,05 dan kelas KNV juga
memiliki nilai sig = 0,000 < 0,05,
sehingga untuk keduanya H0 ditolak.
Hal ini berarti skor pretes kemampuan
44
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
koneksi matematis siswa kelas C-MID
dan kelas KNV tidak berdistribusi
normal. Oleh karena itu, selanjutnya
pengujian hipotesis menggunakan uji
nonparametrik yaitu uji Mann WhitneyU.
a. Uji Normalitas
Tabel 5
Data Hasil Uji Normalitas Skor Ngain Kemampuan Koneksi Matematis
Siswa
Kelas
2. Uji Kesamaan Rataan Pretes
Kemampuan Koneksi Matematis
Tabel 3
Data Hasil Uji Kesamaan Rataan
Skor Pretes Kemampuan Koneksi
Matematis Siswa
Statistik
Mann Whitney-U
Z
Asymp. Sig. (2tailed)
Nilai
818,500
-0,017
0,987
C-MID
KNV
Statistic
0,972
0,976
Shapiro-Wilk
Df
Sig
41
0,402
40
0,549
Tabel 5 memperlihatkan bahwa
N-gain kelas C-MID memiliki nilai sig
= 0,402 > 0,05 dan kelas KNV memiliki
nilai sig = 0,549 > 0,05 sehingga H0
diterima. Hal ini berarti skor N-gain
kemampuan koneksi matematis siswa
kelas C-MID dan kelas KNV
berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Berdasarkan Tabel 3 diperoleh
nilai sig.(2-tailed) = 0,987 > 0,05
artinya H0 diterima. Hal ini berarti
secara signifikan tidak terdapat
perbedaan
rataan
skor
pretes
kemampuan koneksi matematis siswa di
kelas C-MID dan kelas KNV.
3. Analisis Skor N-gain Kemampuan
Koneksi Matematis Siswa
Tabel 4
Rataan dan Klasifikasi N-Gain
Kemampuan Koneksi Matematis
Siswa
Kelas
CMID
KNV
Rataan
N-Gain
0,703
Tinggi
0,564
Sedang
ISSN 2086-4299
Tabel 6
Data Hasil Uji Homogenitas Skor Ngain Kemampuan Koneksi Matematis
Siswa
Statistik
Levene’s Test
Sig
Nilai
0,390
0,534
Berdasarkan Tabel 6 diperoleh
nilai sig = 0,534 > 0,05, sehingga H0
diterima. Hal ini berarti varians skor Ngain kemampuan koneksi matematis
siswa pada kelas C-MID dan kelas
KNV homogen.
Klasifikasi
c. Uji Perbedaan Rataan Skor NGain
Tabel 7
Data Hasil Uji Perbedaan Rataan
Skor N-gain Kemampuan Koneksi
Matematis Siswa
45
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
Statistik
T
df
Asymp. Sig. (2-tailed)
Nilai
4,925
79
0,000
Berdasarkan Tabel 7 diperoleh
nilai sig = 0,000. Karena penelitian ini
menggunakan uji satu pihak, sehingga
nilai sig(1-tailed) = 0,000 < 0,05,
artinya H0 ditolak. Hal ini berarti secara
signifikan peningkatan kemampuan
koneksi
matematis
siswa
yang
mendapatkan model pembelajaran CMID lebih baik daripada siswa yang
mendapatkan
model pembelajaran
konvensional.
H. Penutup
1. Kesimpulan
Peningkatan
kemampuan
koneksi matematis siswa di kelas CMID berada pada level tinggi,
sedangkan di kelas konvensional berada
pada level sedang, sehingga dapat
disimpulkan
bahwa peningkatan
kemampuan koneksi matematis siswa
yang mendapatkan model pembelajaran
Cooperative-Meaningful Instructional
Design (C-MID) lebih baik daripada
siswa yang mendapatkan pembelajaran
konvensional.
2. Saran
a. Model pembelajaran CooperativeMeaningful Instructional Design
(C-MID) dapat digunakan sebagai
model pembelajaran di tingkat
SMP dalam upaya meningkatkan
kemampuan koneksi matematis
siswa.
b. Perlu dilakukan penelitian lanjutan,
untuk mengetahui keefektifan
model pembelajaran CooperativeMeaningful Instructional Design
ISSN 2086-4299
c.
d.
e.
(C-MID) pada materi ataupun level
sekolah yang berbeda.
Penelitian ini hanya mengkaji
peningkatan kemampuan koneksi
dan matematis secara keseluruhan.
Oleh karena itu, diharapkan
penelitian
selanjutnya
dapat
mengkaji peningkatan kemampuan
koneksi dan matematis berdasarkan
kemampuan awal siswa baik pada
kategori tinggi, sedang, maupun
rendah.
Penelitian selanjutnya diharapkan
dapat mengkaji penerapan model
pembelajaran
CooperativeMeaningful Instructional Design
(C-MID) pada indikator-indiktor
kemampuan koneksi matematis
lainnya yang tidak dibahas pada
penelitian ini.
Penelitian selanjutnya diharapkan
dapat mengkaji penggunaan model
pembelajaran
CooperativeMeaningful Instructional Design
(C-MID) dalam meningkatkan
kemampuan kognitif yang lainnya.
Daftar Pustaka
Dahar. (1996). Teori-teori Belajar.
Bandung: Erlangga.
Gunawan, R. P. (2013). The Meaningful
Instructional Design Model.
[Online].
Tersedia:
http://proposalmatematika23.blo
gspot.com/2013/06/
themeaningfullinstructionaldesign_7275.html#
more. [5 Oktober 2013].
NCTM. (1989). Curriculum and
Evaluation Standard for School
Mathematics.
[Online].
Tersedia:http://www.mathcurric
ulumcenter.org?PDFS/CCM?
46
Mosharafa
Jurnal Pendidikan Matematika
Volume 5, Nomor 1, April 2015
summaries/
standars_summary.pdf.
Desember 2013].
[20
. (2000). Principles and Standars
for
School
Mathematics.
[Online].
Tersedia:http://www.nctm.org/u
ploadedFiles/Math_Standards/12
752_exec_pssm.pdf.
[26
Desember 2013].
Permana, Y. dan Sumarmo, U. (2007).
Mengembangkan Kemampuan
Penalaran
dan
Koneksi
Maatematik Siswa SMA melalui
Pembelajaran Berbasis Masalah.
Educationist: Jurnal kajian
filosofi, teori, kualitas, dan
manajemen pendidikan. Vol 1
No.2, 2007.
Ruspiani. (2000). Kemampuan dalam
Melakukan Koneksi Matematika.
Tesis. SPs UPI Bandung: tidak
diterbitkan.
Wena,
M.
(2009).
Strategi
Pembelajaran
Inovatif
Kontemporer Suatu Tinjauan
Konseptual
Operasional.
Jakarta: Bumi Aksara.
Riwayat Hidup
TENI SRITRESNA
Dosen Tetap STKIP Garut.
Qohar, A. (2010). Mengembangkan
Kemampuan
Pemahaman,
Koneksi,
dan
Komunikasi
Matematis serta Kemadirian
Belajar Matematika Siswa SMP
melalui Reciprocal Teaching.
Disertasi. SPs UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Ramdani, Y. (2013). Pembelajaran
dengan Scientific Debate untuk
Meningkatkan
Kemampuan
Komunikasi, Penalaran, dan
Koneksi Matematis Mahasiswa
dalam
Konsep
Integral.
Disertasi. SPs UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Ruseffendi, H. E. T. (2005). Dasardasar Penelitian Pendidikan dan
Bidang Non Eksakta Lainnya.
Bandung: Tarsito.
ISSN 2086-4299
47
Fly UP