...

521 penerapan teknik permainan dialog dalam konseling kelompok

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

521 penerapan teknik permainan dialog dalam konseling kelompok
PENERAPAN TEKNIK PERMAINAN DIALOG DALAM KONSELING KELOMPOK GESTALT UNTUK
MENGURANGI TINGKAT KETERISOLASIAN SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 2 PARE
IMPLEMENTATION OF DIALOGUE GAMES TECHNIQUE IN GESTALT COUNSELING GROUP TO
REDUCE THE STUDENTS ISOLATED LEVEL IN SOCIAL CLASS OF XI GRADE IN SENIOR HIGH
SCHOOL 2 PARE
SION INTYARANI
Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya,
email: [email protected]
Drs. Moch Nursalim, M.Si
Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya,
email: [email protected]
ABSTRAK
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di dapatkan fakta mengenai tingginya tingkat keterisolasian
siswa di SMA Negeri 2 Pare. Hal ini di tunjukkan dengan adanya kasus siswa yang melamun di dalam kelas, sikap yang
menutup diri, jarang berinteraksi dengan orang lain dan tidak bersemangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perbedaan jumlah skor yang diperoleh siswa terisolasi sebelum dan sesudah diberikan teknik permainan dialog dalam
konseling kelompok Gestalt pada kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare. Subyek penelitian di ambil dari siswa kelas XI
IPS, karena di harapkan mampu mengurangi tingkat keterisolasian siswa untuk memahami siapa dirinya dan
bertanggung jawab atas perilakunya dan meningkatkan kebermaknaan hidupnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian
pre-eksperimental designs dengan jenis pre-test post-test one group design, sedangkan subyek penelitiannya adalah 9
siswa kelas XI IPS 1 dan IPS 2 di SMA Negeri 2 Pare yang memiliki tingkat keterisolasian tinggi. Metode yang
digunakan untuk mengumpulkan data tentang siswa yang memiliki tingkat keterisolasian tinggi yakni dengan
menggunakan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Tanda. Hasil analisis Uji Tanda menunjukkan
bahwa tanda positif (+) berjumlah 9. Berarti N (banyaknya tanda yang lebih sedikit) adalah 9, sehingga X (banyaknya
tanda yang lebih sedikit) adalah 0. Dengan melihat tabel tes binomial dengan ketentuan N=6 dan X=0, maka diperoleh
ρ=0,002. Bila menggunakan ketetapan α (taraf kesalahan) sebesar 5% adalah 0,05 maka dapat di simpulkan bahwa
harga 0,002 < 0,05, dengan demikian H o di tolak dan Ha diterima. Hal ini membuktikan bahwa ada perbedaan jumlah
skor yang di peroleh siswa terisolasi sesudah diberikan teknik permainan dialog dalam konseling kelompok Gestalt
pada siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare. Di harapkan konselor dapat mengunakan teknik permainan dialog
dalam konseling kelompok Gestalt sebagai salah satu alternatif dalam mengurangi keterisolasian siswa yang tinggi.
Kata Kunci: Teknik Permainan Dialog, Keterisolasian
ABSTRACT
Based on the observations and interviews, there were a fact about the high level of isolated students in SMAN
2 Pare. It was shown that in the case of students who is daydreaming in the classroom, having self-closing gesture,
infrequently of interacting with others and have no enthusiasm. The objective of this research was to know the
difference of the total score that is gained by isolated students before and after given the dialogue games technique in
Gestalt counseling group in social class of XI grade in SMAN 2 Pare. The subject of this research is taken from social
class in XI grade, because the expectation of this research is to reduce the level of isolated students for understanding
who they were and asked them to take responsibility of their behavior and increased the meaningfulness of their life.
This research was pre-experimental designs with pre-test post-test one group designs types, whereas the subject of the
research were 9 students of XI grade of social class from social class one (IPS 1) and social class two (IPS 2) in SMAN
2 Pare which has a high level of isolated. The method that is used to collect the data about the students is using a
questionnaire. The data analysis technique that is used was the sign test. The sign test analysis showed that the positive
sign (+) amounted to 9. That was meant N (the amount of fewer signs) is 9, so X (the amount of fewer signs) is 0. By
using the table of binomial test with the determination N=6 and X=0, the obtained ρ=0.002. When we used α
determination (error standard) of 5% is 0.05, we can conclude that the price of 0.002 < 0.05 so H0 was refused and Ha
was accepted. Those were proves that there was a difference between the score that is gained by isolated students after
they were given dialogue games technique in Gestalt counseling group of students in XI grade of Social Class in SMAN
2 Pare. Counselor is expected to use the dialogue games technique in Gestalt counseling group as the alternative for
reducing the higher level of isolated students.
Keywords: Dialogue Games Technique, Isolated
521
Penerapan Teknik Permainan Dialog Dalam Konseling Kelompok Gestalt untuk Mengurangi Tingkat Keterisolasian
Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare
Masalah siswa terisolasi tidak bisa dianggap
ringan karena dapat menimbulkan hambatan dalam
pergaulan. Siswa akan merasa tertekan sehingga
mencari jalan keluar yang membuat tidak dikucilkan
oleh kelompoknya. Untuk itu perlu diupayakan bantuan
agar siswa yang terisolasi tersebut dapat segera
berinteraksi dengan teman dilingkungannya.
Salah satu layanan dalam bimbingan konseling
yang mungkin dapat digunakan untuk membantu siswa
yang terisolasi adalah layanan konseling kelompok.
Konseling kelompok memiliki peran besar dalam
menangani masalah tersebut. Banyak pendekatan yang
bisa diterapkan dalam melakukan proses konseling.
Untuk mengurangi tingkat keterisolasian siswa
pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Gestalt,
sebab salah satu tujuan konseling Gestalt adalah lebih
memusatkan pada bagaimana subyek berperilaku,
berpikiran dan merasakan pada situasi saat ini sebagai
usaha untuk memahami diri daripada mengapa subyek
berperilaku seperti itu.
Dalam proses konseling Gestalt, konselor akan
mencoba menimbulkan kesadaran subyek, sehingga
subyek akan berusaha mengenali siapa dirinya dan
menjadi dirinya sendiri. Sebab Gestalt yakin bahwa
permasalahan tidak akan selesai jika subyek masih
menjadi orang lain. Masalah akan selesai jika subyek
secara sadar memahami siapa dirinya. Sehingga, dalam
proses konseling, subyek akan difasilitasi untuk
memahami siapa dirinya kemudian bertanggung jawab
atas kehidupannya sendiri.
Menurut Sudrajat (online) melalui konseling
kelompok Gestalt siswa dibantu agar lebih berani
menghadapi kenyataan dan tantangan, berubah dari
ketergantungan terhadap lingkungan atau orang lain
menjadi lebih percaya diri dan dapat berbuat lebih
banyak untuk meningkatkan kebermaknaan hidupnya.
Ketika individu berada dalam hubungan dengan orang
lain melalui integrasi diri yang baik maka akan
memungkinkannya untuk bertanggung jawab atas
perilakunya sehingga lebih mampu menggunakan
potensinya untuk mencapai aktualisasi diri.
Konseling kelompok Gestalt yang akan
dilaksanakan pada penelitian ini adalah dengan
menggunakan teknik Permainan Dialog. Pendekatan
Gestalt menaruh perhatian yang besar pada pemisahan
dalam fungsi kepribadian. Yang paling utama adalah
pemisahan antara: “top dog” dan “underdog”
(penerapannya melaui kursi kosong). Menurut Levitsky
dan Perls (dalam Coray, 2010:133) berpendapat bahwa
teknik kursi kosong adalah suatu cara untuk mengajak
subyek agar mengeksternalisasi introyeksinya. Dalam
teknik ini dua kursi diletakkan ditengah ruangan.
Penggunaan kursi kosong sebagai sarana yang
diletakkan dihadapan subyek kemudian subyek diminta
untuk membayangkan seseorang yang selama ini
menjadi
tekanan.
Subyek
diminta
untuk
mengungkapkan apa saja yang terlintas dalam
pikirannya untuk mengekpresikan perasaannya.
Berdasarkan fakta dan pendapat yang telah
diuraikan diatas, maka perlu diuji kesesuaian teori
dengan kenyataan yang ada dilapangan sehingga perlu
PENDAHULUAN
Masa remaja adalah masa transisi dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja merupakan
masa yang sangat penting dan harus dilalui oleh setiap
orang dalam kehidupannya. Salah satu tugas
perkembangan masa remaja dalam mencapai jati dirinya
dapat dilakukan melalui pergaulan hidup baik dengan
keluarga, guru, maupun teman sebaya.
Hampir sebagian besar waktu dalam kehidupan
remaja digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Interaksi sosial dengan teman sebaya merupakan salah
satu unsur penting untuk memenuhi kebutuhan akan
harga diri, aktualisasi diri dilingkungan masyarakat dan
sekolah. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi
oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, sanak
keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya.
Dalam ruang lingkup sekolah cara siswa
bersosialisasi dengan teman sangat beraneka ragam.
Ada yang memiliki ketrampilan bersosialisasi dengan
baik, dan ada pula yang tidak. Siswa yang mempunyai
ketrampilan bersosialisasi yang baik, akan memiliki
banyak teman dan diterima dalam lingkungannya.
Sebaliknya, siswa yang tidak memiliki ketrampilan
bersosialisasi, akan terasingkan atau terisolasi dari
pergaulan serta lingkungannya.
Hambatan dalam bergaul dapat terjadi
dilingkungan sekolah. Hubungan sosial antar individu
yang perlu diperhatikan disekolah berupa penolakan
siswa oleh teman-teman sebayanya dalam kelompok
sosial atau bisa disebut terisolasi. Menurut Al-Mighwar
(2006:133), penolakan teman sebaya bagi seorang
remaja mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap
pikiran, sikap, perasaan, perbuatan dan penyesuaian diri
remaja, sampai masa dewasa atau masa tua pengaruhpengaruh itu akan terus terjadi.
Menurut Al-Mighwar (2006:134) siswa yang
ditolak oleh kelompoknya akan merasa frustasi dan
kecewa yang membuatnya bertindak kontradiktif, baik
bersikap agresif maupun pengunduran diri dari
komunitas kelompoknya. Sedangkan menurut Yusuf
(2003:126), ciri-ciri siswa terisolasi adalah: bersifat
minder, senang mendominasi orang lain, bersifat egois,
senang menyendiri, kurang memiliki perasaan tenggang
rasa, kurang mempedulikan norma dan perilaku, raguragu dan tidak bersemangat.
Remaja memliki berbagai kebutuhan, kebutuhankebutuhan khas remaja ini dicatat dan dijadikan
pencerminan. Garison (dalam Mappiare, 1982:152)
mencatat ada tujuh kebutuhan khas remaja, diantaranya
yakni kebutuhan akan pengakuan dari orang lain, sejak
mereka bergantung dalam hubungan teman sebaya dan
penerimaan teman sebaya. Penerimaan ataupun
penolakan teman sebaya dalam kelompok bagi remaja
mempunyai pengaruh yang kuat atau besar terhadap
pikiran, sikap, perasaan, perbuatan-perbuatan dan
penyesuaian diri remaja. Terlebih karena pengaruh
tersebut bukan saja terjadi dalam batas masa remaja,
melainkan akan terbawa terus atau berbekas sampai
desawa atau masa tua.
522
Penerapan Teknik Permainan Dialog Dalam Konseling Kelompok Gestalt untuk Mengurangi Tingkat Keterisolasian
Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare
diadakan penelitian untuk mengetahui bahwa penerapan
teknik permainan dialog dalam konseling kelompok
Gestalt untuk mengurangi tingkat keterisolasian siswa
kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare.
permainan peran yang semua perannya dimainkan
oleh klien.
2. Menurut
pendapat
Sudrajat
(dalam
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/23/pe
ndekatan-konseling-gestalt/), dinyatakan bahwa
teknik ini dilakukan dengan cara subyek
dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan
yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top
dog dan kecenderungan underdog, misalnya:
a. Kecenderungan
orang
tua
lawan
kecenderungan anak
b. Kecenderungan bertanggung jawab lawan
kecenderungan masa bodoh
c. Kecenderungan
“anak
baik”
lawan
kecenderungan “anak bodoh”
d. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan
tergantung
e. Kecenderungan kuat atau tegar lawan
kecenderungan lemah
Dari beberapa pendapat para ahli dapat
disimpulkan bahwa teknik Permainan dialog dalam
Konseling kelompok Gestalt adalah suatu cara untuk
mengajak subyek agar mengeksternalisasi introyeksinya
dengan cara subyek dikondisikan untuk mendialogkan
dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu
kecenderungan top dog dan kecenderungan underdog.
Penggunaan kursi kosong sebagai sarana yang
diletakkan dihadapan subyek kemudian subyek diminta
membayangkan seseorang yang selama ini menjadi
sumber
kecemasan.
Subyek
diminta
untuk
mengekspresikan perasaannya. Pembimbing mendorong
subyek untuk mengungkapkan melalui kata-kata,
bahkan melalui caci makipun diperbolehkan, yang
terpenting adalah subyek dapat menyadari pengalamanpengalaman yang selama ini tidak diakuinya.
KAJIAN PUSTAKA
Keterisolasian
Pengertian terisolasi dalam kamus Bahasa
Indonesia, Isolasi yang memiliki arti pemisahan suatu
hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia
dari manusia lain, pengasingan atau pemencilan.
Menurut Santrock (2003:220), siswa yang terisolasi
merupakan siswa yang tidak mampu untuk masuk
kedalam suatu jaringan sosial, dan berkaitan dengan
berbagai bentuk masalah mulai dari kenakalan , masalah
minum alkohol hingga depresi. Kartono (2000:243),
juga berpendapat, siswa terisolasi adalah siswa yang
terasing, akibat tidak mendapat pilihan dan mendapat
penolakan
paling
banyak
sehingga
mereka
teridentifikasi memiliki hubungan sosial yang sangat
kurang. Sedangkan menurut Winkel (1991:263)
menyatakan bahwa siswa yang terisolasi adalah siswa
yang tidak mendapatkan pilihan sama sekali atau hanya
mendapat sedikit pilihan.
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan
bahwa Terisolasi adalah perilaku yang menunjukkan
ketidakmampuan siswa masuk kedalam suatu jaringan
sosial akibat tidak mendapatkan pilihan dan mendapat
penolakan paling banyak sehingga mereka memiliki
hubungan sosial yang kurang, senang menyendiri, suka
melamun dan suka menutup diri
Teknik Permainan Dialog dalam Konseling
Kelompok Gestalt
Menurut Levitsky dan Perls (dalam Corey,
2010:132) menyajikan suatu uraian ringkas tentang
sejumlah permainan yang bisa digunakan dalam terapi
Gestalt, yang mencangkup: 1) permainan-permainan
dialog, 2) membuat lingkaran, 3) urusan yang tak
selesai, 4) “saya memikul tanggung jawab”, 5) “saya
memiliki suatu rahasia”, 6) bermain proyeksi, 7)
pembalikan, 8) irama kontak dan penarikan, 9)
“ulangan”, 10) “melebih-lebihkan, 11) “bolehkah saya
memberimu sebuah kaliman?”, 12) permainanpermainan konseling perkawinan, 13) “bisakah anda
tetap dengan perasaan ini?”
Berdasarkan beberapa macam teknik konseling
Gestalt diatas, penelitian ini hanya berfokus pada teknik
permainan dialog. Berikut ini pendapat para ahli
mengenai teknik permainan dialog, yaitu:
1. Menurut Levitsky dan Perls (dalam Coray,
2010:133), salah satu teknik Gestalt adalah
permainan dialog dan diterapkan dengan
menggunakan kursi kosong. Teknik kursi kosong
adalah suatu cara untuk mengajak klien agar
mengeksternalisasi introyeksinya. Dalam teknik ini,
dua kursi diletakkan ditengah ruangan. Terapis
meminta klien untuk duduk dikursi yang satu dan
memainkan peran sebagai top dog, kemudian pindah
ke kursi yang lain dan menjadi underdog. Pada
dasarnya teknik kursi kosong adalah suatu teknik
METODE
Jenis penelitian yang digunakan pada
penelitian ini adalah pre-experimental design karena
peneliti tidak memakai variabel kontrol dan sampel
tidak dipilih secara random (Sugiyono, 2010:74).
Bentuk rancangan pre-experimental design ini memakai
one group pretest-posttest design, yaitu eksperimen
yang dilaksanakan pada satu kelompok saja tanpa
kelompok pembanding (Arikunto, 2010:212). Hal ini
menggunakan pengukuran awal (pretest) dan
pengukuran akhir (posttest) untuk membandingkan
keadaan sebelum diberikan perlakuan. Perlakuan yang
diberikan adalah teknik permainan dialog dalam
Konseling Kelompok untuk mengurangi keterisolasian
siswa.
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah
data tentang siswa terisolasi. Data tersebut akan
diperoleh melalui angket terisolasi, jenis angket yang
digunakan adalah angket tertutup, dimana angket
disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga
responden tinggal memberikan centang (√) pada kolom
tertentu sesuai dengan keadaan dirinya sendiri.
Dalam penelitian ini digunakan 3 kategori
angket keterisolasian siswa menurut Sutrisno Hadi
523
Penerapan Teknik Permainan Dialog Dalam Konseling Kelompok Gestalt untuk Mengurangi Tingkat Keterisolasian
Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare
(2004), di tentukan kategori tersebut adalah
menggunakan cara sebagai berikut:
a)
Kategori tinggi = skor mean + 1 SD ke atas
= 91 + 1 (13)
= 91 + 13
= 104 ke atas
b)
Kategori sedang = skor mean – 1 SD sampai
mean + 1 SD
= 91 – 1 (13) sampai 91 +
1(13)
= 91 – 13 sampai 91 + 13
= 78 sampai 104
c)
Kategori rendah = skor mean – 1 (SD) ke
bawah
= 91 – 1 (13)
= 91 – 13
= 78 ke bawah
Jadi dapat di simpulkan bahwa:
a. Kategori terisolasi untuk tingkat tinggi = 104 ke
atas
b. Kategori terisolasi untuk tingkat sedang
= 78 sampai 104
c. Kategori terisolasi untuk tingkat rendah
= 78 ke bawah
Teknik analisis yang digunakan statistik non
parametik dengan uji tanda atau sign test. Uji tanda ini
digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil
pengukuran awal dan pengukuran akhir. Kondisi
berlainan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
skor terisolasi siswa antara sebelum dan sesudah
pemberian teknik permainan dialog. Berikut adalah
hasil analisis skor angket yang diberikan pada siswa
dengan pengukuran Pre-test dan Post-test dapat dilihat
dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.2
Hasil Analisis Pre-test dan Post-test
No.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Hasil Pre-test
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas
XI IPS SMA Negeri 2 Pare yang teridentifikasi
memiliki tingkat keterisolasian tinggi. Untuk
menentukan subyek penelitian, maka dilakukan
pengukuran terhadap keterisolasian siswa melalui
angket terhadap 66 siswa yang berada di kelas XI IPS 1
dan XI IPS 2.
Pemberian angket pre-test bertujuan untuk
mengetahui skor keterisolasian siswa sebelum diberikan
teknik permainan dialog dalam konseling kelompok
untuk kemudian dijadikan sebagai subyek penelitian.
Kemudian hasil pengukuran dikelompokkan menjadi 3
Dari hasil pedoman pengkategorian tersebut
diketahui 9 siswa dalam kategori skor tinggi. Sehingga
9 siswa tersebut dijadikan sebagai subyek penelitian.
Hasil Pre-Test terhadap subyek penelitian dapat dilihat
dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.1
Data Hasil Pre-test Angket Terisolasi
No
Nama Subyek
Skor
Keterangan
1
AFA
107
Tinggi
2
EAS
107
Tinggi
3
EAO
112
Tinggi
4
LPS
107
Tinggi
5
EYWKP
112
Tinggi
6
IMW
135
Tinggi
7
NS
111
Tinggi
8
RBI
112
Tinggi
9
TIK
117
Tinggi
Nama
Pretest
Posttest
Arah
(XB)
(XA)
Perbedaan
Tanda
ket.
1
AFA
107
90
XA < XB
-
Menurun
2
EAS
107
55
XA < XB
-
Menurun
3
EAO
112
93
XA < XB
-
Menurun
4
LPS
107
92
XA < XB
-
Menurun
5
EYWKP
112
85
XA < XB
-
Menurun
6
IMW
135
103
XA < XB
-
Menurun
7
NS
111
99
XA < XB
-
Menurun
8
RBI
112
102
XA < XB
-
Menurun
9
TIK
117
103
XA < XB
-
Menurun
113,33
91,33
Rata-rata
Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa yang
menunjukkan tanda positif (-) berjumlah 9 yang
bertindak sebagai N (banyaknya pasangan yang
menunjukkan perbedaan) dan x (banyaknya tanda yang
lebih sedikit) berjumlah 0. Dengan melihat tabel tes
binomial dengan ketentuan N = 9 dan x = 0 (z), maka
diperoleh ρ (kemungkinan harga di bawah Ho) = 0,002.
Bila dalam ketetapan α (taraf kesalahan) sebesar 5%
adalah 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa harga 0,002
< 0,05, berdasarkan hasil tersebut maka Hο ditolak dan
Ha diterima. Setelah diberi perlakuan dengan pemberian
teknik permainan dialog terdapat perbedaan skor antara
pre-test dan post-test keterisolasian siswa. Selain itu,
berdasarkan perhitungan pada tabel 4.2 diketahi ratarata pre-test 113,33 dan rata-rata post-test 91,33.
Sehingga dapat dikatakan bahwa ada perbedaan jumlah
skor yang diperoleh siswa terisolasi sesudah diberikan
teknik permainan dialog dalam konseling kelompok
Gestalt pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri Pare.
Berdasarkan analisis di atas, maka dapat
dikatakan bahwa hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini yang berbunyi “Ada perbedaan jumlah
skor yang diperoleh siswa terisolasi sesudah diberikan
teknik permainan dialog dalam konseling kelompok
Gestalt pada siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare”
dapat diterima.
Maka secara keseluruhan dapat dilihat adanya
perbedaan grafik hasil pre-test yang lebih tinggi
Analisis Hasil Penelitian
524
Penerapan Teknik Permainan Dialog Dalam Konseling Kelompok Gestalt untuk Mengurangi Tingkat Keterisolasian
Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare
daripada hasil post-test. Hal ini menunjukkan bahwa ada
penurunan skor siswa yang terisolasi antara sebelum
dan sesudah diberikan teknik permainan dialog dalam
konseling kelompok Gestalt.
Analisis Individual
a. Subjek AFA
Subyek AFA mengalami penurunan skor
keterisolasian, hasil pre-test menunjukkan skor
107 sedangkan pada hasil post-test mendapat skor
90. Subyek AFA mengalami penurunan skor
sebesar 17 point. Sebelum diberikan perlakuan
AFA yang sering bersikap acuh tak acuh kepada
teman, sulit untuk mengambil keputusan, sering
malas bergaul dan berinteraksi dengan temanteman, sering bertingkah laku aneh. Namun setelah
diberikan perlakuan AFA telah memahami bahwa
manusia hidup tidak hanya sendiri, melainkan
hidup untuk berinteraksi dan bersosial. Apa lagi
AFA berada di jurusan IPS, tentunya lebih
memiliki interaksi yang baik dengan temannya.
Dan AFA lebih bisa menerima apa yang sudah
menjadi alasan teman-teman mencibirnya.
Subyek H mengalami
b. Subjek EAS
Subyek EAS mengalami penurunan skor
keterisolasian, pada hasil pre-test menunjukkan
skor 107 sedangkan pada post-test mendapatkan
skor 55. Subyek EAS mengalami penurunan skor
sebesar 52 point. Sebelum diberikan perlakuan
EAS pada dasarnya lebih asyik melakukan aktifitas
sendiri daripada bersama-sama. Karena EAS
memiliki prinsip bahwa EAS tidak mau menunggu
ataupun di tunggu oleh teman-temannya. EAS juga
jarang berinteraksi dengan teman-temannya karena
dirasa EAS tidak bisa menerima apa yang menjadi
bahasan
teman-temannya.
Namun
setelah
diberikan perlakuan EAS menyadari bahwa
menjadi pribadi menyendiri itu menyenangkan,
tapi lebih menyenangkan lagi jika EAS mampu
merubah sikap menjadi pribadi yang mampu
bersosialisasi dengan orang lain
c. Subjek EAO
Subyek EAO mengalami penurunan skor
keterisolasian,
berdasarkan
hasil
pre-test
menunjukkan skor 112, sedangkan pada hasil posttest subyek mendapat skor 93. Subyek EAO
mengalami penurunan skor sebesar 19 point.
Sebelum diberikan perlakuan Subyek EAO
cenderung tidak percaya diri dengan kemampuan
dan potensi yang di miliki. EAO juga memiliki
pribadi yang tertutup (menutup diri), minder,
sensitif, dan pendiam. Namun ada perubahan yang
signifikan yang dialami oleh subyek EAO
d. Subjek LPS
Subyek LPS mengalami penurunan skor,
berdasarkan hasil analisis pre-test menunjukkan
LPS mendapat skor 107, sedangkan pada hasil
post-test mendapatkan skor 92. Subyek LPS
mengalami penurunan sebesar 15 point. Sebelum
diberikan perlakuan LPS jika saat di dalam kelas
lebih diam dan menyendiri, karena subyek
e.
f.
g.
525
memiliki teman akrab di luar kelas. Jadi saat jam
istirahat berlangsung subyek lebih asyik keluar
dan bergurau dengan teman-teman di luar
kelasnya. Namun setelah diberikan perlakuan LPS
yang sering keluar dengan teman di luar kelasnya
ini, sudah berkurang. Subyek sudah bisa
menyesuaikan diri dengan teman-teman satu
kelasnya. Subyek juga menyadari bahwa subyek
juga merupakan bagian dari kelasnya yang harus
kompak dan bersatu.
Subyek EYWKP
Subyek EYWKP mengalami penurunan skor,
berdasarkan hasil analisis pre-test menunjukkan
skor 112, sedangkan pada hasil analisis post-test
menunjukkan penurunan skor menjadi 85.
Sebelum di berikan perlakuan EYWKP memiliki
pribadi yang dewasa dan bijaksana. Karena subyek
terlalu dewasa dan bijaksana, sehingga subyek
tidak bisa menempatkan dan menyesuaikan diri
dengan teman-temannya yang cenderung masih
kekanak-kanakan. Oleh sebab itu subyek merasa
tidak nyaman jika bergaul dan berinteraksi dengan
teman seusiannya. Setelah diberikan perlakuan
Subyek sudah bisa menyesuaikan diri dengan
teman-temanya. Subyek juga lebih aktif
berinteraksi dengan teman seusianya, meskipun
hanya membahas bercanda ringan
Subyek IMW
Berdasarkan hasil pre-test angket terisolasi
menunjukkan skor 135, sedangkan hasil analisis
post-test menunjukkan skor 103. Hal ini subyek
IMW mengalami penurunan skor sebanyak 32
point. Sebelum diberikan perlakuan IMW yang
cenderung tertutup dengan orang lain, senang
menekuni hobby yang dimiliki, dan jarang sekali
berinteraksi dengan teman-temannya. Sehingga
membuat teman-temannya menjadi bingung
dengan sikap yang di miliki IMW yang jarang
sendiri berinteraksi dengan orang lain. Namun
setelah diberikan perlakuan IMW yang memiliki
pribadi yang tertutup dan asyik dengan menekuni
hobby yang di miliki, sudah berkurang. Subyek
menyadari bahwa interaksi dengan orang lain itu
sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Subyek NS
Berdasarkan hasil analisis pre-test keterisolasian
siswa, NS menunjukkan skor 111, sedangkan hasil
analisis post-test skor keterisolasian menunjukkan
skor 99. Hal ini NS mengalami penurunan skor
sebesar 12 point. Sebelum diberikan perlakuan NS
lebih senang menyendiri saat jam istirahat ataupun
saat jam kosong. Subyek lebih senang menekuni
hobby dengan membaca buku yang di sukainya.
Subyek juga jarang berinteraksi dengan orang lain.
Namun setelah diberikan perlakuan NS yang
semula senang menyendiri dan menekuni hobby
yang dimiliki, sudah tampak berkurang dari
sebelumnya. Hal ini di tunjukkan bahwa NS sudah
bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan temantemannya. Subyek juga menyadari bahwa manusia
hidup saling berinteraksi dan bersosialisasi.
Penerapan Teknik Permainan Dialog Dalam Konseling Kelompok Gestalt untuk Mengurangi Tingkat Keterisolasian
Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare
h.
Subyek RBI
Berdasarkan hasil analisis pre-test keterisolasian,
RBI menunjukkan skor 112, sedangkan hasil
analisis post-test RBI menunjukkan skor 102. Hal
ini subyek sudah mengalami penurunan skor
sebesar 10 point. Sebelum diberikan perlakuan
subyek lebih senang menyendiri dan menekuni
hobby dengan membaca buku yang di sukainnya.
Subyek juga jarang berinteraksi dengan temantemannya. Namun setelah diberikan perlakuan RBI
yang senang menekuni hobby dengan membaca
buku yang disukainya sudah tampak berkurang.
Subyek sudah tampak aktif dalam berinteraksi
dengan teman-temannya. Hanya saja saat subyek
mendapat masalah, subyek tampak murung, tapi
hal itu membuat subyek mau membuka diri dan
berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya agar tidak
murung terus.
i. Subyek TIK
Berdasarkan hasil analisis pre-test subyek
menunjukkan skor 117, sedangkan hasil analisis
post-test menunjukkan skor 103. Hal ini
menunjukkan subyek mengalami penurunan
sebesar 14 point. Sebelum diberikan perlakuan
TIK memiliki kekurangan dalam berinteraksi
dengan orang lain. TIK merasa sulit untuk
memulai pembicaraan dengan teman. Jadi subyek
cenderung untuk diam dan mendengarkan
pembicaraan teman-temannya. Namum setelah
diberika perlakuan Subyek TIK yang cenderung
diam dan sulit untuk berinteraksi dengan temantemannya sudah tampak berkurang. Hal ini di
tunjukkan pada sikap subyek yang sudah mau
berinteraksi dan dapat memulai pembicaraan
dengan teman-temannya. subyek sudah mulai aktif
bersosialisasi dan berinteraksi dengan temantemannya.
Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis hasil pre-test dan post-test
yang menggunakan uji tanda (sign test), pada tabel 4.2
menunjukan arah perubahan yang positif dikarenakan
ada penurunan skor dari Pre-test (XB) ke Post-test (XA),
yang diketahui rata-rata pre-test 113,33dan rata-rata
post-test 91,33. Dapat diketahui bahwa x=0 dan N=9
dengan α (taraf kesalahan) sebesar 5% adalah 0,05 yang
kemudian dikonsultasikan dengan tabel tes binomial
hingga diperoleh (kemungkinan harga di bawah H0) =
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
dapat diketahui bahwa x=0 dan N=9 dengan α (taraf
kesalahan) sebesar 5% adalah 0,05 yang kemudian
dikonsultasikan dengan tabel tes binomial hingga
diperoleh (kemungkinan harga di bawah H0) = 0,002,
maka 0,002 < 0,05. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan jumlah pilihan yang
di peroleh siswa terisolasi sebelum dan sesudah
diberikan teknik permainan dialog dalam konseling
kelompok Gestalt pada siswa kelas XI IPS di SMA
Negeri 2 Pare. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa teknik permainan dialog dalam konseling
kelompok Gestalt dapat mengurangi keterisolasian
siswa.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan,
maka ada beberapa saran yang diberikan, sebagai
berikut:
1. Bagi konselor sekolah
Dari hasil penelitian ini, konselor sekolah
diharapkan dapat menambah wawasan atau
informasi, pengalaman serta masukan bagi
konselor sekolah pada khususnya dalam
memahami dan menerapkan teknik permainan
dialog dalam konseling kelompok sebagai
alternatif dalam membantu siswa yang memiliki
masalah khususnya tentang keterisolasian siswa.
2. Bagi Peneliti lain
Bagi peneliti lain, di harapkan mampu untuk
mengembangkan penelitian ini menjadi lebih baik
lagi, dan diharapkan dapat mengkaji aspek-aspek
lainnya dengan jangkauan lebih luas mengenai
keterisolasian siswa agar hasil dari penelitian dapat
lebih baik dan maksimal
0,002. Berdasarkan hasil tersebut maka Hο ditolak dan
Ha diterima. Hal ini menunjukkan 0,002 < 0,05.
Dengan demikian hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini yang berbunyi “Ada perbedaan jumlah
skor yang diperoleh siswa terisolasi sesudah di berikan
teknik permainan dialog dalam konseling kelompok
Gestalt pada siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare”
dapat diterima. Sehingga dengan adanya penurunan skor
antara skor pre-test dan skor post-test dapat disimpulkan
bahwa pemberian teknik permainan dialog dalam
konseling kelompok Gestalt dapat menurunkan tingkat
keterisolasian siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2
Pare.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta
DAFTAR PUSTAKA
Al-Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja.
Bandung: Pustaka Setia
Amijaya, Sastra. 2009. Tips mengatasi perasaan
terisolasi.
(http://sastraamijaya.wordpress.com/2009/11/27/
tips-trik-mengatasi-perasaan-terisolasi/#more154 di akses 11 Februari 2014)
Azwar, Saifuddin. 1999. Penyusunan Skala Psikologi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Baraja, Abubakar. 2008. Psikologi Konseling dan
Teknik Konseling. Jakarta: Studio Press
Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling &
Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Hadi, Sutrisno. 2004. Statistik Jilid 2. Yogjakarta: Andi
526
Penerapan Teknik Permainan Dialog Dalam Konseling Kelompok Gestalt untuk Mengurangi Tingkat Keterisolasian
Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Pare
TIM. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
DEPDIKNAS
Hurlock, Elizabeth. 2005. Psikologi Perkembangan
Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan
Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Hurlock, Elizabeth. 2005. Perkembangan Anak Jilid I.
Meitasari & Zarkasih, Penerjemah. Jakarta:
Erlangga
Tri Hariastuti, Retno. 2008. Dasar-dasar Bimbingan
dan Konseling. Surabaya: Unesa University
Press
John, W. Santrock. 2003. Perkembangan Remaja.
Adelar B. Shinto & Saragih Sirly, alih bahasa.
Jakarta: Erlangga
Willis, Sofyan. 2011. Konseling Individual Teori dan
Praktek. Bandung: Alfabeta
Juntika Nurihsan, Achmad. 2006. Bimbingan dan
Konseling dalam berbagai latar belakang
kehidupan. Bandung: PT Rafika Aditama
Yusuf, Syamsu. 2000. Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Kartono, Kartini dan Gulo, Dali. 2000. Kamus
Psikologi. Bandung: CV. Pioner Jaya
Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik
Konseling. Jakarta: PT Indeks
Lumongga Lubis, Namora. 2011. Memahami DasarDasar Konseling Dalam Teori Dan Praktek.
Jakarta: Prenada Media Group
Mashudi, Farid. 2012. Psikologi Konseling. Yogjakarta:
IRCiSoD
Nursalim, Mochamad dan Suradi. 2002. Layanan
Bimbingan dan Konseling. Surabaya: Unesa
University Press
Nursalim, Mochamad dan Tri Hariastuti, Retno. 2008.
Konseling
Kelompok.
Surabaya:
Unesa
University Press
Prayitno dan Amti, Erma. 2009. Dasar-dasar
Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Rineka
Cipta
Rakhmad, Jalaludin. 2004. Psikologi Komunikasi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sudrajat, Akhmad. 2008. Pendekatan Konseling
Gestalt.
(http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/2
3/pendekatan-konseling-gestalt/ di akses 5 Maret
2014)
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2012. Statistik Non Parametris. Bandung:
Alfabeta
Sukardi, Dewa Ketut dan Kusumawati, Nila. 2008.
Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Jakarta: Rineka Cipta
527
Fly UP