...

this PDF file - Pusat Pengelola Jurnal

by user

on
Category: Documents
22

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - Pusat Pengelola Jurnal
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
KOMBINASI NEURO DEVELOPMENTAL TREATMENT DAN
SENSORY INTEGRATION LEBIH BAIK DARIPADA HANYA
NEURO DEVELOPMENTAL TREATMENT UNTUK
MENINGKATKAN KESEIMBANGAN BERDIRI
ANAK DOWN SYNDROME
Al Hazmi, D.F.D.I
Fisioterapis-STIKES Aisyiah, Yogyakarta
JL Munir, No. 267, Serangan, Ngampilan, 55262, Daerah Istimewa Yogyakarta
[email protected]
Abstrak
Latar belakang: Masalah kesehatan pada anak berkebutuhan khusus ada yang
dibawa sejak lahir atau kongenital seperti down syndrome. Pada anak down
syndrome sering ditemukan adanya gangguan keseimbangan berdiri yang
menyebabkan ia tidak dapat mempertahankan postur tubuh terhadap gangguan
yang datang. Jika ini dibiarkan tentu akan menimbulkan permasalahan
perkembangan motorik selanjutnya. Fisioterapi mempunyai metode neuro
developmental treatment dan sensory integration. Tujuan: Dalam hal ini penulis
ingin membandingkan kombinasi neuro developmental treatment dan sensory
integration dengan neuro developmental treatment pada anak down syndrome
dengan permasalahan keseimbangan berdiri. Metode: Metode penelitian ini
eksperimental dengan rancangan penelitian randomized pre and post test group
design. Sampel pada penelitian ini sebanyak 18 anak down syndrome yang
mengalami permasalahan keseimbangan berdiri dan waktu penelitian selama dua
bulan. Kelompok dibagi menjadi dua, yaitu kelompok-1 (neuro developmental
treatment) dan kelompok-2 (neuro developmental treatment dan sensory
integration). Instrumen pengukuran yang digunakan adalah sixteen balance test
yang di ukur sebelum perlakuan (0-session) dan sesudah perlakuan (6-session)
pada masing-masing subjek. Hasil: Hasil pada penelitian ini didapatkan data
deskriptif sampel pada kedua kelompok dengan usia 2-4 tahun, jenis kelamin lakilaki dan perempuan, tinggi badan 70-85 cm dan berat badan 8-13 kg. Data
sebelum dan setelah perlakuan kelompok-1 berdistribusi normal. Kemudian data
sebelum dan setelah perlakuan kelompok-2 berdistribusi normal. Berdasarkan uji
kompabilitas kedua variabel pada kedua kelompok, pengujian hipotesis
menggunakan data setelah perlakuan. Variabel sixteen balance test pada kedua
kelompok menggunakan uji hipotesis independent sample t-test didapatkan nilai p
= 0,034. Kesimpulan: Kesimpulan yang didapatkan nilai p<0,05. Nilai tersebut
menjelaskan kombinasi neuro developmental treatment dan sensory integration
lebih baik daripada hanya neuro developmental treatment untuk meningkatkan
keseimbangan berdiri anak down syndrome.
Kata kunci: neuro developmental treatment, sensory integration, down syndrome
Abstract
Background: One of health problem in child with special need is existed at birth
(congenital), such as Down Syndrome. Child with down syndrome often get
balance disturbance in stand which causes he cannot keep the body posture from
the disturbance. This condition may causes the problem with his further motor
development. There is neuro developmental treatment and sensory integration
method in physiotherapy. Objective: The study aims to compare the combination
of
neuro developmental treatment and sensory integration with neuro
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
85
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
developmental treatment in child with down syndrome who get balance
disturbance in stand. Method: The study is an experimental research using
randomized pre and post-test group design. The samples were 18 children with
down syndrome which got balance disorder in stand. The study spent two months.
There were two groups. The group one was treated using neuro developmental
treatment and group two was used neuro developmental treatment and sensory
integration. The Measuring instrument used sixteen balance test which was
included pre (0-session) and post (6-session) test for each subject. Result: The
descriptive data for both of groups are age: 2-4 years old children with down
syndrome, sex: male and female, height: 70-85 cm and weight: 8-13 kg. The pretest data of group one does not show normal distribution, but the post-test data
shows normal distribution. Both of pre-test and post-test data of group two show
normal distribution. According to compatibility test to both of groups, the
hypothesis test used post-test data. The variable of sixteen balance test that used
independent sample t-test both of groups which p value= 0,034. This study has
two conclusions. Conclusion: First conclusion is got from the percentage of static
sixteen balance test variable which shows p value < 0,05. The value illustrates
that the using the combination of neuro developmental treatment and sensory
integration is better than just using neuro developmental treatment to improve
the balance of stand.
Keywords: neuro developmental treatment, sensory integration, down syndrome
Pendahuluan
Anak mengalami proses tumbuh
kembang yang dimulai sejak dari dalam
kandungan, masa bayi, dan balita. Setiap
tahapan proses tumbuh kembang anak
mempunyai ciri khas tersendiri, sehingga
jika terjadi masalah pada salah satu
tahapan tumbuh kembang tersebut akan
berdampak pada kehidupan selanjutnya.
Tidak semua anak mengalami proses
tumbuh kembang secara wajar sehingga
terdapat
anak
yang
memerlukan
penanganan secara khusus.
Masalah kesehatan pada anak
berkebutuhan khusus ada yang dibawa
sejak lahir atau kongenital seperti down
syndrome. Pada anak down syndrome
sering ditemukan adanya gangguan
keseimbangan berdiri yang menyebabkan
ia tidak dapat mempertahankan postur
tubuh terhadap gangguan yang datang.
Jika ini dibiarkan tentu akan menimbulkan
permasalahan
perkembangan
motorik
selanjutnya.
Sensory integration (SI) adalah
sebuah proses otak alamiah yang tidak
disadari. Dalam proses ini informasi dari
seluruh indera akan dikelola kemudian
diberi arti lalu disaring, mana yang penting
dan mana yang diacuhkan. Proses ini
86
memungkinkan kita untuk berprilaku sesuai
dengan pengalaman dan merupakan dasar
bagi kemampuan akademik dan prilaku
sosial.
Sensory
integration
adalah
pengorganisasian
sensasi
untuk
penggunaan
sebuah
proses
yang
berlangsung
di
dalam
otak
yang
memungkinkan kita memahami dunia kita
dengan menerima, mengenali, mengatur,
menyusun dan menafsirkan informasi yang
masuk ke otak melalui indra kita.
Pengintegrasian sensoris adalah dasar
untuk memberikan respon adaptif terhadap
tantangan
yang
ditimbulkan
oleh
lingkungan dan pembelajaran.
Sensory integration adalah proses
pengorganisasian
masukan
sensorik.
Fungsi pembelajaran tergantung pada
kemampuan anak untuk memanfaatkan
informasi sensorik yang di dapat dari
lingkungannya. Mengintegrasikan informasi
kemudian menjadi rencana adalah sebuah
bentuk tujuan perilaku. Intervensi integratif
sensorik, stimulasi vestibular, pendekatan
terapi perkembangan saraf merupakan
metode yang efektif digunakan sebagai
terapi okupasi / fisioterapi.
Neuro
developmental
treatment
(NDT) merupakan salah satu pendekatan
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
yang paling umum digunakan untuk
intervensi anak-anak dengan gangguan
perkembangan. Metode ini pertama kali
digunakan untuk terapi anak-anak pada
kondisi cerebral palsy. Kemudian metode
ini digunakan juga untuk kondisi gangguan
perkembangan
pada
anak
lainnya.
Pendekatan NDT berfokus pada normalisasi
otot hypertone atau hypotone. Intervensi
penanganan
NDT
melatih
reaksi
keseimbangan, gerakan anak, dan fasilitasi.
NDT adalah metode terapi yang populer
dalam pendekatan intervensi pada bayi dan
anak-anak dengan disfungsi neuromotor.
Neuro developmental treatment,
pertama kali dikenalkan dengan istilah
Pendekatan Bobath yang dikembangkan
oleh Berta Bobath seorang fisioterapis, dan
dr. Karel Bobath di akhir 1940-an, untuk
memenuhi kebutuhan orang-orang dengan
gangguan gerak. NDT dianggap sebagai
pendekatan
management terapi yang
komprehensif diarahkan ke fungsi motor
sehari-hari yang relevan. NDT biasanya
dipakai untuk rehabilitasi pada bayi,
cerebral palsy, down syndrome dan
gangguan perkembangan motorik lainnya.
Down syndrome (DS) adalah suatu
kondisi keterbelakangan fisik dan mental
anak
yang
diakibatkan
adanya
abnormalitas perkembangan kromosom.
Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan
sepasang
kromosom
untuk
saling
memisahkan diri saat terjadi pembelahan5.
Kromosom merupakan serat-serat khusus
yang terdapat di dalam setiap sel di dalam
badan manusia dimana terdapat bahanbagan genetik yang menentukan sifat-sifat
seseorang6. DS adalah ketidakmampuan
yang ditandai dengan keterbatasan yang
signifikan baik dari fungsi intelektual dan
prilaku adaptif seperti yang diungkapkan
dalam keterampilan adaptif konseptual,
sosial, dan praktis.
Ada berbagai tingkat disfungsi
integrasi sensorik pada anak-anak DS.
Anak dengan DS memiliki masalah untuk
menjaga keseimbangan mereka, baik
sambil berdiri dan berjalan. Gangguan
fungsi pada extremitas bawah membuat
dirinya berbeda dari orang normal.
Kompensasi dari gangguan tersebut
menyebabkan berlebihnya usaha / upaya
untuk mempertahankan agar tubuh mampu
menjaga keseimbangan.
Down
syndrome
seringkali
mengalami keterbelakangan kemampuan
motorik, seperti terlambat berdiri dan
berlari. Miftah mengatakan bahwa 73%
dari anak-anak DS baru mampu berdiri
pada usia 24 bulan, dan 40% bisa berjalan
pada usia 24 bulan.
Pada penelitian Ulrich et al.8
mengemukakan bayi dengan DS mulai
berdiri
rata-rata
sekitar
1
tahun
dibandingkan bayi yang normal. Ini
merupakan bagian dari kemampuan
motorik yang tertunda antara bayi DS dan
bayi normal yang dapat dilihat dari usia
nya. Berdiri adalah keterampilan yang
sangat penting untuk anak-anak karena
dampaknya
bersifat
multidimensi,
mempengaruhi kognitif,
sosial, serta
perkembangan motorik selanjutnya.
Motorik adalah semua gerakan yang
mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh,
sedangkan perkembangan motorik sebagai
perkembangan dari unsur kematangan dan
pengendalian gerak tubuh. Perkembangan
motorik
erat
kaitannya
dengan
perkembangan pusat motorik di otak.
Perkembangan
motorik
yaitu
perkembangan
pengendalian
gerakan
tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir
antara saraf dan otak. Perkembangan
motorik meliputi motorik kasar dan halus.
Motorik kasar adalah gerakan tubuh
menggunakan otot-otot besar atau seluruh
anggota tubuh yang dipengaruhi oleh
kematangan anak itu sendiri. Misalnya
merayap, merangkak dan berjalan.
Pada penelitian Galli et al.
mengatakan bahwa anak dengan DS
memiliki keterlambatan perkembangan
motorik terkait oleh adanya hipotonus otot
dan kelenturan sendi (laxity) yang menjadi
karakteristik pada DS. Peran fisioterapi
sedini mungkin harus fokus pada kontrol
gerak dan koordinasi untuk mencapai
tahap perkembangan.
Ketika
berdiri
tentu
harus
mempunyai basic yang baik dari segi
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
87
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
kematangan keseluruhan otot, propioseptif,
taktil dan vestibular. Pada anak DS
memiliki
masalah
dengan
menjaga
keseimbangan mereka baik sambil berdiri
dan berjalan yang disebabkan oleh
hypotone dan mobilitas sendi yang
berlebihan.
Selain
terganggu
pada
keseimbangan,
pengembangan
reaksi
postural dari pola postur dan gerak juga
tidak cukup baik pada anak dengan DS.
Melihat dari latar belakang tersebut
diatas peneliti tertarik untuk mengambil
judul
tentang
Kombinasi
Neuro
Developmental Treatment dan Sensory
Integration Lebih Baik daripada Hanya
Neuro Developmental Treatment Untuk
Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak
Down Syndrome.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui
developmental
neuro
dapat
treatment
meningkatkan keseimbangan berdiri
pada anak down syndrome di Klinik
Griya Fisio Bunda Novy Yogyakarta.
2. Untuk mengetahui kombinasi neuro
developmental treatment dan sensory
integration
dapat
meningkatkan
keseimbangan berdiri pada anak down
syndrome di Klinik Griya Fisio Bunda
Novy Yogyakarta.
3. Untuk mengetahui kombinasi neuro
developmental treatment dan sensory
integration lebih baik daripada neuro
untuk
developmental
treatment
meningkatkan keseimbangan berdiri
anak down syndrome di Klinik Griya
Fisio Bunda Novy Yogyakarta.
Metode Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Klinik
Griya Fisio Bunda Novy Yogyakarta, mulai
hari senin sampai dengan hari sabtu,
dimulai jam 08.00-18.00 WIB selama
delapan minggu (Mei s/d Juni 2013).
Penelitian ini dilakukan terbatas pada Klinik
Griya Fisio Bunda Novy Yogyakarta saja,
untuk menjaga homogenitas penelitian
yang dilakukan.
88
Adapun tujuan umum penelitian ini
adalah untuk mengetahui peningkatan
keseimbangan berdiri anak DS dengan
metode NDT dan SI lebih baik daripada
hanya dengan metode NDT. Penelitian ini
menggunakan rancangan Randomized Pre
and Post Test Group Design terhadap dua
kelompok.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
anak dengan DS, mampu berjalan sendiri
dan dapat mengikuti instruksi sederhana.
Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 18
anak berusia 2-4 tahun, tinggi badan 70-85
cm, berat badan 8-13 kg, berjenis kelamin
laki-laki dan perempuan, yang dibagi
menjadi dua kelompok. Kelompok-1
berjumlah 9 orang dengan motede NDT.
Kelompok-2 berjumlah 9 orang dengan
kombinasi metode NDT dan SI.
Kelompok perlakuan I
Kelompok perlakuan I diberikan
metode neuro developmental treatment
selama 2 bulan. Perlakuan yang diberikan
ialah tehnik-tehnik stimulasi, inhibisi dan
fasilitasi pada responden yang dilakukan
sebanyak 2 kali seminggu selama 60 menit
setiap 1 kali pertemuan.
Kelompok perlakuan II
Kelompok perlakuan II diberikan
kombinasi metode neuro developmental
treatment dan sensory integration selama 2
bulan. Perlakuan yang diberikan ialah
tehnik-tehnik
stimulasi,
inhibisi
dan
fasilitasi kemudian diberikan juga input
vestibular, input propioseptif dan input
taktil pada responden yang dilakukan
sebanyak 2 kali seminggu selama 60 menit
setiap 1 kali pertemuan.
Cara Pengumpulan Data
Sebelum diberikan perlakuan baik
kelompok-1 maupun kelompok-2 dilakukan
pengukuran keseimbangan berdiri. Alat
ukur yang digunakan ialah sixteen balance
test (SBT) dan setelah 6 kali perlakuan di
evaluasi untuk mengetahui keberhasilan
latihan.
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
Prosedur Pengukuran Keseimbangan
Berdiri
Untuk
mengetahui
nilai
keseimbangan berdiri anak DS maka diukur
dengan menggunakan sixteen balance test
(SBT) yang terdiri dari 16 rangkaian test.
Penilaian sixteen balance test dinilai dari
detik dan langkah, skor terbaik adalah 143.
Nilai tersebut akumulasi dari 16 rangkaian
test. Test tersebut berupa 16 rangkaian
test dimana subjek harus melakukan testtest sebanyak 16 yang terdapat di dalam
SBT.
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisa
dengan SPSS For Window versi 16,
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Karakeristik subjek untuk mengetahui
kondisi fisik subjek penelitian meliputi:
umur, jenis kelamin, tinggi badan dan
berat badan yang datanya diambil
sebelum diberikan perlakuan.
2. Uji homogenitas data (skor SBT)
dengan levene test.
3. Uji normalitas data (skor SBT) dengan
shapiro wilk test.
4. Uji komparasi data sebelum dan
setelah
perlakuan
terhadap
keseimbangan berdiri anak DS pada
kelompok-1
(NDT)
dengan
menggunakan uji parametrik (paired
sampel
t-test)
karena
data
berdistribusi normal.
5. Uji komparasi data sebelum dan
setelah
perlakuan
terhadap
keseimbangan berdiri anak DS pada
kelompok 2 (kombinasi NDT dan SI)
dengan menggunakan uji parametrik
(paired sample t-test) karena data
berdistribusi normal.
6. Uji kompabilitas data pada kedua
kelompok sebelum perlakukan dengan
menggunakan
uji
parametrik
(independent sample t-test) karena
data berdistribusi normal. Uji ini
bertujuan
untuk
membandingkan
rerata hasil peningkatan keseimbangan
berdiri kelompok sebelum perlakuan.
7. Uji kompabilitas data pada kedua
kelompok setelah perlakukan dengan
menggunakan
uji
parametrik
(independent sample t-test) karena
data berdistribusi normal. Uji ini
bertujuan
untuk
membandingkan
rerata hasil peningkatan keseimbangan
berdiri
kedua
kelompok
setelah
perlakuan.
Hasil dan Pembahasan
Tabel 1
Karakteristik Subjek
kel-1 kel-2
Karakteristik
Rentangan
(n=9) (n=9)
subjek
Umur
2-4
9
9
(tahun)
Laki-laki
5
5
Jenis
kelamin
Perempuan
4
4
70-79
5
1
Tinggi
badan (cm)
80-89
4
8
8-10
5
4
Berat badan
(kg)
11-13
4
5
Populasi dalam penelitian ini adalah
anak dengan DS, mampu berjalan sendiri
dan dapat mengikuti instruksi sederhana.
Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 18
anak berusia 2-4 tahun, tinggi badan 70-85
cm, berat badan 8-13 kg, berjenis kelamin
laki-laki dan perempuan, yang dibagi
menjadi dua kelompok. Kelompok-1
berjumlah 9 orang dengan motede NDT.
Kelompok-2 berjumlah 9 orang dengan
kombinasi NDT dan SI.
Pengukuran keseimbangan berdiri
pada anak DS, dilakukan sebelum
perlakuan dan setelah perlakuan pada
masing-masing kelompok, dengan alat ukur
sixteen balance test (SBT) untuk
mengetahui keseimbangan berdiri dalam
satuan detik dan satuan langkah. Test
tersebut berupa 16 rangkaian test dimana
subjek harus melakukan test-test sebanyak
16 yang terdapat di dalam SBT. Rangkaian
test SBT ialah:
a. berdiri pada permukaan keras
b. berdiri pada permukaan keras
dengan mata tertutup
c. berdiri pada permukaan lunak
d. berdiri pada permukaan lunak
dengan mata tertutup
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
89
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
e. berdiri dengan 1 tungkai
f. berdiri dengan 1 tungkai diatas
balok keseimbangan
g. berdiri dengan 1 tungkai diatas
balok keseimbangan dengan mata
tertutup. Poin 1-7 dapat diberikan
skala 0-10 detik
h. Time up and go test. Poin 8 dapat
diberikan skala 0-15 detik
i. berjalan maju pada garis
j. berjalan
maju
diatas
balok
keseimbangan
k. berjalan maju “heel-to-toe” pada
garis
l. berjalan maju “heel-to-toe” pada
balok keseimbangan
m. berdiri ke duduk
n. melangkahi balok keseimbangan
o. maju menggapai benda
p. berputar ke kiri dan kanan 360°.
Data karakteristik subjek penelitian
yang didapat adalah umur, jenis kelamin,
tinggi badan dan berat badan. Berdasarkan
distribusi subjek menurut golongan umur
menunjukan
pada
kelompok-1
dan
kelompok-2 golongan umur 2 tahun
merupakan
jumlah
terbanyak,
yaitu
sejumlah 14 dari 18 subjek. Hasil jumlah
umur dalam penelitian ini sesuai dengan
pendapat penelitian Bensa mengemukakan
di Indonesia, jumlah balita dari jumlah
penduduk, dimana prevalensi (rata-rata)
gangguan perkembangan berdiri bervariasi
dengan umur 1-2 tahun sehingga
dianjurkan melakukan observasi/skrining
tumbuh kembang pada setiap anak.
Rentang umur subjek tersebut menunjukan
bahwa semua subjek tergolong umur yang
produktif. Dimana pada umur yang
produktif dapat diberikan penanganan
sedini mungkin agar tidak menimbulkan
dampak
gangguan
perkembangan
dikemudian hari jika tidak ditangani secara
cepat dan tepat.
Karakteristik subjek menurut jenis
kelamin pada kedua kelompok menunjukan
bahwa subjek terbanyak berjenis kelamin
laki-laki yaitu 10 subjek, sedangkan pada
perempuan berjumlah 8 subjek. Kondisi ini
sesuai dengan penelitian Hurairah terdapat
90
43 subjek DS yang ditemukan dengan
gangguan jantung, dengan jumlah pasien
sebanyak 23 laki – laki dan 20 perempuan.
Hasil diatas sesuai dengan beberapa
hasil penelitian terdahulu, yaitu :
a. Ulrich et al. mengemukakan bayi
dengan DS mulai berdiri rata-rata
sekitar 1 tahun.
b. Miftah mengatakan bahwa 73% dari
anak-anak DS baru mampu berdiri
pada usia 24 bulan, dan 40% bisa
berjalan pada usia 24 bulan.
c. Bensa
penyebab
gangguan
perkembangan karena tidak diberikan
penanganan sedini mungkin.
Karakteristik subjek menurut tinggi
badan pada kedua kelompok menunjukan
bahwa subjek terpendek memiliki tinggi
badan 70-79 cm yaitu sejumlah 6 dari 18
subjek. Hasil dari jumlah tersebut sesuai
dengan pendapat penelitian Sutaryanto
mengatakan
bahwa
balita
memiliki
permasalahan
pada
tinggi
badan,
prevalensi balita pendek menunjukan
bahwa masalah ini serius dan perlu
mendapat
perhatian
khusus
untuk
mengatasinya.
Karakteristik subjek menurut berat
badan pada kedua kelompok menunjukan
bahwa subjek memiliki berat badan 8-10 kg
yaitu sejumlah 9 dari 18 subjek. Hasil dari
jumlah tersebut sesuai dengan pendapat
penelitian
Pakpahan
mengemukakan
bahwa ada 75% kabupaten di Indonesia
menanggung beban dengan prevalensi gizi
kurang pada balita > 20%. Tingginya
angka penyakit dan pelayanan kesehatan
yang tidak memadai menjadi penyebab
kurangnya gizi atau berat badan ideal pada
balita.
Pernyataan-pernyataan
diatas
menguatkan dugaan bahwa pada rentan
umur 1 tahun keatas berjenis kelamin lakilaki maupun perempuan dengan tinggi
badan dan berat badan yang tidak ideal
beresiko terjadi gangguan keseimbangan
berdiri. Hal ini kemungkinan dari umur
yang masih produktif tidak diberikan
penanganan yang baik dan tepat seperti
pemberian terapi dengan metode NDT dan
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
SI, atau orang tua belum tau bagaimana
menangani masalah yang terjadi pada anak
mereka.
Uji Homogenitas Varians Subjek
Tabel 2
Hasil Uji Homogenitas Varian Subjek
Varian Subjek
Skor SBT sebelum
Skor SBT setelah
Umur
Tinggi badan
Berat badan
p. Homogenitas
(Levene test)
0,256
0,005
0,322
0,046
0,849
Berdasarkan hasil uji homogenitas
data (levene test) skor SBT pada kedua
kelompok sebelum perlakuan didapatkan p
= 0,256 (p>0,05) yang berarti data
homogen. Setelah perlakuan skor SBT pada
kedua kelompok didapatkan p = 0,005
(p<0,05) yang berarti data tidak homogen,
dengan demikian pada kedua kelompok
sebelum perlakuan tidak ada perbedaan
varian keseimbangan berdiri. Setelah
perlakuan
ada
perbedaan
varian
keseimbangan
berdiri
pada
kedua
kelompok.
Tabel 2 menunjukan umur pada kedua
kelompok didapatkan p = 0,322 (p>0,05)
yang berarti data homogen, dengan
demikian pada kedua kelompok memiliki
varian umur yang sama. Jenis kelamin
pada kedua kelompok didapatkan p =
1,000 (p>0,05) yang berarti data
homogen, dengan demikian pada kedua
kelompok memiliki jenis kelamin yang
sama. Tinggi badan pada kedua kelompok
didapatkan p = 0,046 (p<0,05) yang
berarti data tidak homogen, dengan
demikian pada kedua kelompok memiliki
tinggi badan yang bervariasi. Berat badan
pada kedua kelompok didapatkan p =
0,849 (p>0,05) yang berarti data
homogen, dengan demikian pada kedua
kelompok memiliki varian berat badan yang
sama.
Distribusi Uji Normalitas Data Skor
SBT
Tabel 3
Hasil Uji Normalitas Data Skor SBT
Sebelum dan Setelah Perlakuan
Variabel
shapiro wilk test
Sebelum
Setelah
Kelompok-1
0,545
0,270
Kelompok-2
1,000
0,461
Hasil uji normalitas (shapiro-wilk
test) pada Tabel 3 sebelum dan setelah
perlakuan kelompok-1 (NDT) skor SBT
didapatkan p > 0,05, yang berarti data
skor SBT berdistribusi normal, sehingga
pengujian
selanjutnya
dengan
uji
parametrik. Kemudian setelah perlakuan
kelompok-2 (NDT dan SI) skor SBT
didapatkan p>0,05, yang berarti bahwa
data skor SBT berdistribusi normal,
sehingga pengujian selanjutnya dengan uji
parametrik.
Uji Perbedaan Hasil Skor SBT
Tabel 4
Uji Hipotesis Peningkatan Skor SBT
pada Kelompok-1 Sebelum dan
Setelah Perlakuan
paired sampel
t-test
Kel.1 n Rerata
SB
Seb.
Set.
9
9
54,67
90,44
23,780
23,990
t
14,040
P
0,000
Tabel 4 memperlihatkan beda rerata
peningkatan skor SBT antara sebelum dan
setelah perlakuan pada kelompok-1 (NDT)
yang dianalisis dengan uji paired sampel ttest (dua sampel berpasangan) dengan
nilai p = 0,000 (p<0,05). Hasil nilai
tersebut menyatakan ada pengaruh yang
signifikan pada metode NDT terhadap
peningkatan keseimbangan berdiri anak
DS.
Tabel
5
memperlihatkan
peningkatan skor SBT antara sebelum dan
setelah perlakuan pada kelompok-2 yang
dianalisis dengan uji paired sampel t-test
(dua sampel berpasangan) dengan nilai p
= 0,000 (p<0,05). Hasil nilai tersebut
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
91
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
menyatakan ada pengaruh yang signifikan
pada kombinasi metode NDT dan SI
terhadap
peningkatan
keseimbangan
berdiri anak DS.
Tabel 5
Uji Hipotesis Peningkatan Skor SBT
pada Kelompok-2 Sebelum dan
Setelah Perlakuan
paired sampel
t-test
Kel.2 n Rerata
SB
Seb.
Set.
9
9
50,22
111,44
18,579
9,926
t
17,131
p
0,000
Intervensi kombinasi metode NDT
dan SI dengan tehnik inhibisi, fasilitasi
kemudian
memberikan
input
taktil,
propioseptif dan vestibular selama 2 kali
seminggu selang 2-3 hari, selama 4
minggu (6 sesi intervensi). Evaluasi
pengukuran skor SBT dilakukan sebelum
mulai perlakuan (sesi ke-0), dan setelah
perlakuan (setelah sesi ke-6).
Hal ini disebabkan oleh pertama,
berdasarkan
pada
metode
NDT,
peningkatan
keseimbangan
berdiri
disebabkan oleh efek inhibisi yaitu suatu
upaya untuk meningkatkan tonus otot
tehniknya disebut reflek inhibitory patternt.
Perubahan tonus postural dan patternt
dapat membangkitkan otot-otot yang
hypotone pada anak DS. Membangkitkan
sikap tubuh yang normal dengan tehnik
reflek inhibitory patternt. Efek fasilitasi
yaitu upaya mempermudah reaksi-reaksi
automatik dan gerak motorik yang
mendekati gerak normal dengan tehnik key
point of control yang bertujuan untuk
memperbaiki tonus postural yang normal,
untuk mengembangkan dan memelihara
tonus postural normal, untuk memudahkan
gerakan-gerakan yang disengaja ketika
diperlukan dalam aktifitas sehari-hari. Efek
Stimulasi yaitu upaya untuk memperkuat
dan meningkatkan tonus otot melalui
proprioseptif dan taktil. Berguna untuk
meningkatkan
reaksi
pada
anak,
memelihara posisi dan pola gerak yang
dipengaruhi oleh gaya gravitasi secara
automatik.
92
Kedua, berdasarkan pada metode
SI, peningkatan keseimbangan berdiri
disebabkan oleh input taktil merupakan
sistem sensory terbesar yang dibentuk oleh
reseptor di kulit, yang mengirim informasi
ke otak terhadap rangsangan cahaya,
sentuhan, nyeri, suhu, dan tekanan.
Sehingga seseorang dapat merasakan
adanya bahaya dari lingkungan sekitar
yang akan menganggu sikap berdiri
kemudian
berusaha
mempertahankan
keseimbangan berdirinya merupakan peran
dari sistem taktil tersebut.
Proses terjadinya mekanisme diatas
selaras dengan penelitian Uyanik and
Kayihan dengan judul Down Syndrome:
Sensory Integration, Vestibular Stimulation
and
Neurodevelopmental
Therapy
Approaches
for
Children.
Penelitian
tersebut memperoleh hasil bahwasannya
kombinasi kedua metode NDT dan SI dapat
memperbaiki achievement of postural
control is significant for endurance against
gravity and muscle strength.
Input
proprioseptif
yaitu
memberikan rasa sendi. Rasa sendi disini
dimaksudkan agar anak mengenal sendi
yang ia punya, bahwa sendi dapat
menekuk, bahwa sendi dapat menopang
tubuh atau berat badannya. Sistem
propioseptif terdapat pada serabut otot,
tendon, dan ligament, yang memungkinkan
anak secara tidak sadar mengetahui posisi
dan gerakan tubuh. Ketika anak bersikap
berdiri dan merasakan berat badannya
sehingga
ia
harus
berusaha
mempertahankan keseimbangan berdirinya
maka sistem propriosepsif yang berperan.
Input vestibular ialah memberikan
rasa keseimbangan tubuh kemudian
muncul reaksi proteksi dari tubuh untuk
tetap mempertahankan tubuh agar tidak
jatuh. Sistem vestibular terletak pada
telinga dalam (kanal semisirkular) dan
mendeteksi gerakan serta perubahan posisi
kepala. Sistem vestibular merupakan dasar
tonus otot, keseimbangan, dan koordinasi
bilateral. Ketika anak bersikap berdiri dan
mulai mengatur tubuh harus seimbang
maka sistem vestibular yang berperan.
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
Akibat
dari
pemberian
terapi
dengan metode-metode diatas seorang
anak
yang
mengalami
gangguan
keseimbangan berdiri akan mendapatkan
pengalaman
input-input
tentang
bagaimana ia harus mempertahankan sikap
berdirinya agar tetap seimbang.
Kombinasi NDT dan SI lebih baik
daripada NDT untuk meningkatkan
keseimbangan berdiri anak DS
Untuk mengetahui perbandingan
dari efek ke dua perlakuan dapat dilihat
melalui
uji
ttidak
berpasangan
(independent sampel t-test). Berdasarkan
uji t- tidak berpasangan (Tabel 6)
menunjukan bahwa rerata skor SBT setelah
perlakuan di antara kelompok NDT yang
dibandingkan dengan kombinasi NDT dan
SI mempunyai kesimpulan Ho ditolak
karena nilai p<0,05 yang artinya ada
perbedaan
yang
signifikan
pada
peningkatan keseimbangan berdiri anak DS
pada kelompok-2 dan hal ini mendukung
hipotesis penelitian.
Tabel 6
Uji beda rerata skor SBT setelah
perlakuan pada ke dua kelompok
Variabel
Rerata
SB
Kel.1
90,44
23,990
Kel.2
111,44
9,926
independent
sampel t-test
t
p
-2,427
0,034
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan
pembahasan maka dapat disimpulkan
bahwa kombinasi NDT dan SI lebih baik
daripada hanya NDT untuk meningkatkan
keseimbangan berdiri anak DS.
Daftar Pustaka
Bensa,
C.P, “Deteksi Dini Tumbuh
Kembang”, Hak cipta oleh majalah
parenting, 2013. Available from:
URL:
http://www.parenting.co.id/article/b
ayi/deteksi.dini.gangguan.tumbuh.k
embang/001/002/277
Degangi,
A.G.,
Royyen,
B.C,
“Current
Practice
Among
Neuro
Developmental
Treatment
Association
Members”,
The
American Journal of Occupation
Therapy, 1994. Available from: URL:
http://ajot.aotapress.net/content/48
/9/803.full.pdf+html
Degangi,
A.G.,
Royyen,
B.C,
“Current
Practice
Among
Neuro
Developmental
Treatment
Association
Members”,
The
American Journal of Occupation
Therapy, 1994. Available from: URL:
http://ajot.aotapress.net/content/48
/9/803.full.pdf+html
Galli, M., Rigoldi, C., Brunner, R., VarjiBabul, N., Giorgio, A, “Joint
Tabel 6 diatas menunjukan bahwa
rerata skor SBT antara kedua kelompok
setelah perlakuan didapatkan nilai p =
0,034 (p<0,05) yang artinya terdapat
perbedaan
yang
signifikan
pada
peningkatan keseimbangan berdiri anak
DS. Maka penelitian ini sesuai hipotesis,
dimana kombinasi neuro developmental
treatment dan sensory integration lebih
baik daripada hanya neuro developmental
treatment
untuk
meningkatkan
down
keseimbangan
berdiri
anak
syndrome.
Stiffness
and
Gait
Pattern
Evaluation in Children with Down
Syndrome”, Elsevier B. V. All rights
reserved, 2008. Available
URL: http://goo.gl/Xsxav
from:
Galli, M., Rigoldi, C., Brunner, R., VarjiBabul, N., Giorgio, A, “Joint
Stiffness
and
Gait
Pattern
Evaluation in Children with Down
Syndrome”, Elsevier B. V. All rights
reserved, 2008. Available
URL: http://goo.gl/Xsxav
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
from:
93
Kombinasi Neuro Developmental Trearment dan Sensory Integration Lebih Baik Daripada Hanya Neuro Development
Treatment Untuk Meningkatkan Keseimbangan Berdiri Anak Down Syndrom
Hurairah,
K.A,
“Prevalensi
Kejadian
Penyakit Jantung Kongenital Pada
Anak Penderita Sindrom Down di
RSUP Haji Adam Malik Pada Tahun
2008 – 2010”, karya tulis ilmiah,
Universitas Sumatra Utara, Medan,
2011
Judarwanto, W, “Down Syndrome: Deteksi
Dini,
Pencegahan
dan
Penatalaksanaannya”, Clinic for
Children
Information Education
Network, 2012. Available from:
URL: http://goo.gl/fWAKS
Lifya, “Jurnal Meningkatkan Kemampuan
Motorik Halus dengan Finger
Painting
Pada
Siswa
Down
Syndrome Kelas C1 Dasar 3 di SLB
Wacana Asih Padang”, 2012.
Available
from:
URL:
http://goo.gl/Wutvgr
Marchewka, A., Chwala, W, “The Effect of
Rehabilitation Exercises on The Gait
in People with Down Syndrome”,
Reserved Template SEO Fendly,
2013.
Available
from:
URL:
http://globalsearch1.blogspot.com/2
013/06/proyeksi-status-gizipenduduk-sampai.html
Sutaryanto, “Hasil Bulanan Penimbangan
Balita (BPB)”, Powered by Blogger,
2012.
Available
from:
URL:
http://dinkescianjur.blogspot.com/2
013/02/hasil-bulan-penimbanganbalita-bpb.html
Ulrich, A.D., Ulrich, B.D., Angulo-Kinzler,
M.R., Yun, J, “Treadmill Training of
Infants With Down Syndrome:
Evidence-Based
Developmental
Outcomes”, American Academy of
Pediatrics, 2001. Available from:
URL:
http://pediatrics.aappublications.org
/content/108/5/e84.full.pdf+html
Uyanik, M., Kayihan, H, “Down Syndrome:
Sensory Integration,
Stimulation
Neurodevelopmental
Approaches
for
Biology of sport Vol. 25:339, 2008.
Available
from:
URL:
http://goo.gl/74W0s
International
Encyclopedia
of
Rehabilitation, 2013. Available from:
URL:
http://cirrie.buffalo.edu/encyclopedi
a/en/article/48/
Marchewka, A., Chwala, W, “The Effect of
Rehabilitation Exercises on The Gait
in People with Down Syndrome”,
Biology of sport Vol. 25:339, 2008.
Available
from:
URL:
http://goo.gl/74W0s
Miftah,
“Hasil Observasi Kondisi dan
Perkembangan
Anak
Down
Syndrome”, Templete Awesome
Inc, 2013. Available from: URL:
http://mismif28.blogspot.com/2013/
02/hasil-observasi-kondisi-dan.html
Nanaholic,
“Perkembangan
Sensori
Integrasi
Pada
Anak”,
2012.
Available
from:
URL:
http://goo.gl/e0bbX
R., “Reliability of sixteen
balance test in individuals with
down syndrome”, Departement of
Villamonte,
exercise
sciences
Brimingham
Young University, 2009. Available
from: URL: http://goo.gl/HUwMA
Waluyo, E., Surachman, Y, “Workshop
Pelatihan Fisioterapis Anak”, 14
April, 2012
Wulan,
“Perkembangan
Motorik
Childhood”,
Just
another
wordpress.com site, 2012. Available
from: URL: http://goo.gl/13Ohw
Pakpahan, A, “Proyeksi Status Gizi
Penduduk Sampai 2015”, All Right
94
Vestibular
and
Therapy
Children”,
Jurnal Fisioterapi Volume 13 Nomor 2, Oktober 2013
Fly UP