...

fulltext PDF - Universitas Pattimura

by user

on
Category: Documents
12

views

Report

Comments

Transcript

fulltext PDF - Universitas Pattimura
ISSN : 2337 - 5329
2013
EKOSAINS
JU RNALEKOLOGI DAN SAINS
PUSAT PENELITIAN LINGKUNGAN HIDUP
DAN SUMBERDAYA ALAM (PPLH – SDA)
UNIVERSITAS PATTIMURA
VOLUME O2, No : 01. Februari 2013
ISSN : 2337 - 5329
Ekosains
KELIMPAHAN JENIS SATWA DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Wildlife Species Abudance at West Seram District
H Leloltery dan P J Kunu
Staf Dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon
Jurusan Kehutanan dan Jurusan Budidaya Pertanian
ABSTRAK
Kelimpahan jenis satwa seperti mamalia, aves, reptil, amphibi maupun serangga cukup
tinggi dan tersebar di beberapa tempat di Kabupaten Seram Bagian Barat. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kelimpahan jenis satwa dan pemanfaatannya oleh masyarakat.
Metode dasar yang digunakan adalah metode survei, dimana untuk pengumpulan data burung
menggunakan metode “Line Transek” dengan membuat jalur-jalur pengamatan, untuk Mamalia,
Reptil, Amphibi dan Serangga metode yang digunakan adalah “Sample Count” serta wawancara
dengan masyarakat dan informan kunci (Kepala Desa). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 19
jenis mamalia, 3 di antaranya adalah jenis mamalia yang dilindungi yaitu rusa, kuskus bertotol
dan kuskus kelabu. Jenis Reptil yang dijumpai sebanyak 13 dan 7 jenis di antaranya adalah
jenis dilindungi yaitu kadal soa-soa, kadal panana, biawak, ular patola, penyu hijau, penyu sisik
dan buaya muara. Jenis serangga yang di jumpai adalah tercatat ada 6 jenis dengan 4 jenis yang
dilindungi, Jenis serangga terdapat 6 jenis dan burung terdapat 110 jenis burung yang tergolong
dalam 54 genus dan 47 famili. Pemanfaatan jenis-jenis satwa oleh masyarakat masih terbatas
untuk konsumsi sendiri dan hanya dalam jumlah terbatas untuk dijual/diperdagangkan.
Kata kunci : Kelimpahan, Jenis satwa, Pemanfaatan
PENDAHULUAN
Keunikan
dan
tingginya
Keanekaragaman hayati di Maluku tersebar
luas pada seluruh wilayah dengan
konsentrasi kelimpahan jenis yang berbedabeda pada tiap pulaunya. Julukan “Seribu
Pulau” untuk Propinsi Maluku menyimpan
kekayaan jenis flora dan fauna yang
bervariasi. Khusus untuk kelompok satwa
baik mamalia, reptil, Amphibi, aves, tercatat
cukup tinggi. Misalnya keanekaragaman
jenis burung paruh bengkok tercatat
mencapai 28 jenis dengan jenis burung
endemik antara lain Kakatua Maluku atau
Kakatua Seram (Cacatua moluccensis) telah
masuk kategori rentan (Vulnerable). Akibat
populasinya yang mulai menurun karena
maraknya
penangkapan
untuk
diperdagangkan maupun berkurangnya
habitat akibat pembukaan lahan, maupun
eksploitasi hutan. Hal serupa juga terjadi
bagi jenis-jenis satwa yang lain.
Pemanfaatan untuk memenuhi berbagai
kebutuhan manusia yang dilakukan secara
tidak seimbang selama ini telah ditandai
dengan makin langkanya beberapa jenis
fauna, kerusakan terhadap ekosistem yang
merupakan habitat dari satwa.
Kabupaten Seram Bagian Barat
merupakan
memiliki
kekayaan
keanekaragaman jenis fauna, yang tinggi
seperti jenis burung (burung laut dan darat),
10
Ekosains
yang termasuk dalam burung sebaran
terbatas maupun burung endemik, mamalia,
reptile, ampibi, serangga yang termasuk
dalam status dilindungi, terancam punah
maupun jumlah yang terbatas di alam.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui kelimpahan jenis satwa serta
ekosistemnya dan pemanfaatan satwa oleh
masyarakat di Kabupaten Seram Bagian
Barat.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini
dilaksanakan
di
Kabupaten Seram Bagian Barat dengan desa
sampel yaitu Pulau Marsegu, desa Ariate,
Morokau, Taniwel, Hunitetu dan Hatusua
yang
berlangsung selama dua bulan
(September sampai Oktober) 2009.
Metode Dasar dan Analisis
Metode dasar yang digunakan dalam
penelitian ini adalah survei lapangan, yaitu
suatu metode yang digunakan untuk
menggambarkan status kelompok manusia,
suatu objek data atau suatu kondisi tertentu.
Analisis data penelitian disajikan secara
deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Pengumpulan Data Satwa
Data Burung
Pengamatan lapangan untuk koleksi
data burung dilakukan tidak secara kontinyu
tetapi pada tempat-tempat terpilih yang
dianggap strategis di 6 lokasi pengumpulan
data. Sebagian besar pengumpulan data
dilakukan di dalam jalur dan hanya beberapa
tempat yang berupa titik pengamatan.
Panjang jalur pengamatan bervariasi mulai
dari 2 km sampai dengan 4 km, jalur
pengamatan berada pada topografi dan
ketinggian tempat yang bervariasi dari
sejajar permukaan laut sampai dengan
ketinggian 600 m dpl. Waktu koleksi data
dilakukan dipagi hari pada jam 07.00 sampai
dengan 11.00 WIT dan disore hari pada jam
16.00 sampai dengan jam 18.00 WIT.
Metode yang dipakai untuk koleksi data
burung di lapangan adalah metode “Line
Transek”, metode ini dipilih untuk bisa
mencakup
seluas
mungkin
wilayah
penelitian di satu lokasi dalam waktu yang
pendek dengan tim kerja yang kecil.
Data burung dikumpulkan dengan
berjalan dan mencatat jenis-jenis burung di
dalam jalur kerja (transek data) yang sudah
ditentukan, data tersebut kemudian dicatat
dengan menggunakan lembaran data yang
sudah disediakan. Lebar transek yang
dipakai di lapangan adalah lebar transek
maksimal sampai sejauh 500 m kiri dan 500
m kanan. Lebar transek maksimal ini
digunakan untuk bisa menjangkau jenisjenis burung yang memiliki suara keras
dalam jarak yang maksimal seperti jenisjenis burung paruh bengkok (Nuri dan
Kakatua).
Data Mamalia, Reptil, Amphibi dan
Serangga
Pengamatan lapangan untuk koleksi
data Mamalia, Reptil dan Amphibi
dilakukan bersamaan dengan koleksi data
burung yaitu pada tempat-tempat terpilih di
6 lokasi koleksi data, koleksi data dilakukan
hanya pada areal pengamatan yang dianggap
strategis, metode yang digunakan adalah
“Sample Count”. Selain itu juga digunakan
metode wawancara dengan penduduk lokal
untuk menggali keberadaan jenis-jenis
mamalia dan reptile yang lebih aktif
dimalam hari atau jenis yang sulit terlihat.
Jenis
Mamalia dan Reptil yang
dikoleksi terbatas pada mamalia darat.
Untuk serangga yang merupakan kelompok
jenis satwa yang datanya sulit dikoleksi;
dipertimbangkan
hanya
mengoleksi
kelompok jenis serangga yang atraktif dan
bernilai eksotika saja seperti kupu-kupu.
11
Ekosains
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kelimpahan Jenis Satwa
Jenis Mamalia
Hasil penelitian menunjukkan 19 jenis
mamalia yang dijumpai di lokasi
pengumpulan data baik perjumpaan secara
langsung maupun tidak secara langsung, 3 di
antaranya adalah jenis mamalia yang
dilindungi yaitu rusa, kuskus bertotol dan
kuskus kelabu.
Sebagian dari jenis mamalia yang
dijumpai ini merupakan satwa yang diburu
oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
protein seperti rusa, babi hutan, kuskus dan
kalong, rusa dan kuskus saat ini sudah mulai
sulit dijumpai akibat aktifitas perburuan
yang banyak dilakukan secara luas.
Beberapa jenis mamalia yang dijumpai juga
sudah dianggap sebagai pengganggu lahan
pertanian penduduk seperti babi hutan,
musang, tikus sawah dan tikus rumah.
Beberapa jenis mamalia eksotik yang
mudah dilihat dan cukup atraktif adalah
Kuskus kelabu (Phalanger orientalis) dan
Kalong
dagu
hitam
(Pteropus
melanopogon).
Jenis-jenis mamalia ini tergolong dalam
jenis yang liar di alam dan jenis yang
dipelihara/dibudidaya,
beberapa
jenis
mamalia yang liar bisa dibudidaya untuk
memenuhi kebutuhan protein penduduk
terutama rusa dan babi hutan seperti yang
sudah dilakukan oleh masyarakat dibeberapa
tempat. Beberapa jenis mamalia adalah jenis
yang diintroduksi untuk dibudidaya terutama
sapi dan kambing.
Tabel 1. Jenis Mamalia yang Dijumpai dan Diketahui.
Buria
Hatusua
Hunitetu
LOKASI di JUMPAI
Ariate
STATUS
Nama ilmiah
Morekau
JENIS
Nama Lokal
P. Marsegu
& P. Osi
No.
CERVIDAE
1
Rusa Timor
Cervus timorensis
di lindungi
■
■
■
SUIDAE
2
Babi hutan
Sus scrova
■
■
■
■
■
3
Babi peliharaan
Sus domesticus
■
■
■
■
■
di lindungi
■
■
■
■
■
di lindungi
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
PHALANGERIDAE
4
Kuskus bertotol
5
Kuskus kelabu
Spilocuscus
maculatus
Phalanger
orientalis
VIVERIDAE
6
Tenggalong
7
Luwak / Musang
Vivera
tanggalunga
Paradocurus
hermaphroditus
■
■
SORICIDAE
8
Celurut rumah
Suncus murinus
■
■
■
12
Ekosains
Buria
Hatusua
Hunitetu
LOKASI di JUMPAI
Ariate
STATUS
Nama ilmiah
Morekau
JENIS
Nama Lokal
P. Marsegu
& P. Osi
No.
CANIDAE
9
Anjing kampung
Canis familaris
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
FELIDAE
10
Kucing
Felix catus
MURIDAE
11
Tikus sawah
Rattus
argentiventer
12
Tikus rumah
Rattus rattus
■
■
■
■
■
■
13
Mencit
Mus musculus
■
■
■
■
■
■
■
BOVIDAE
14
Sapi
Bos taurus
■
■
■
■
15
Kambing
Capra hircus
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
EMBALONURIDAE
16
Emballonura
nigrescens
Kelelawar saku
PTEROPODIDAE
17
Kelelawar madu kecil
18
Kalong dagu hitam
Macroglossus
minimus
Pteropus
melanopogon
Reptil
Hasil penelitian menunjukkan terdapat
13 jenis reptil yang dijumpai di lokasi
pengumpulan data baik perjumpaan secara
langsung maupun tidak secara langsung, 7
■
jenis di antaranya adalah jenis mamalia yang
dilindungi yaitu kadal soa-soa, kadal panana,
biawak, ular patola, penyu hijau, penyu sisik
dan buaya muara.
Tabel 2. Jenis Reptil yang Dijumpai dan Diketahui
Buria
Hatusua
Nama ilmiah
Hunitetu
LOKASI di JUMPAI
Ariate
Nama Lokal
STATUS
Morekau
JENIS
Pulau
Marsegu
& P. Osi
No.
GEKKONIDAE
1
Tokek rumah
Gekko monarchus
2
Tokek Pohon
Gekko vittatus
3
Cicak rumah
■
Hemidactylus frenatus
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
AGAMIDAE
4
Kadal terbang
Draco lineatus
5
Kadal agamid
Lopbioguathus temporalis
■
■
Hidrosaurus amboinensis
■
6
Kadal soa-soa
dilindungi
■
■
■
■
■
■
13
Ekosains
Buria
Hatusua
Nama ilmiah
Hunitetu
LOKASI di JUMPAI
Ariate
Nama Lokal
STATUS
Morekau
JENIS
Pulau
Marsegu
& P. Osi
No.
VARANIDAE
7
Biawak
■
■
■
dilindungi
■
■
■
dilindungi
■
■
Thelotornis spp
■
Varanus indicus
dilindungi
Tliqua gigas
Phyton reticulatus
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
SCINIDAE
8
Kadal panana
BOIDAE
9
Ular Patola / Sanca
COLUBRIDAE
10
Ular ranting
11
Ular terbang
Chrysopelea rhodopleuron
■
12
Ular kawat
Dendrelaphis pictus
■
CHELONIDAE
13
Penyu hijau
Chelonia midas
dilindungi
■
14
Penyu sisik
Erotmochelys imbricata
dilindungi
■
Crocodylus porosus
dilindungi
■
CROCODYLIDAE
15
Buaya muara
Jenis reptil yang dijumpai ini
merupakan satwa yang diburu untuk diambil
kulitnya seperti biawak dan ular patola,
beberapa jenis juga diburu untuk memenuhi
kebutuhan protein terutama penyu sisik dan
penyu hijau; kedua jenis reptil ini saat ini
sudah mulai sulit dijumpai di perairan
pesisir akibat aktifitas perburuan. Beberapa
jenis reptil yang dijumpai juga dianggap
sebagai ancaman terhadap manusia terutama
jenis-jenis ular dan kadal panana. Beberapa
jenis reptil hidup sangat akrab dengan
manusia dan dalam beberapa kasus
membantu dalam mengurangi gangguan
serangga seperti jenis cicak dan tokek yang
biasa hidup dirumah-rumah penduduk.
■
Serangga
Jenis serangga yang di jumpai adalah
jenis yang mudah terlihat, tercatat ada 6
jenis yang dijumpai di lokasi pengumpulan
data, 4 jenis di antaranya adalah jenis
serangga yang dilindungi yaitu dari jenis
kupu-kupu, salah satu jenis kupu-kupu yang
terkenal adalah dari jenis kupu-kupu Primus
(Ornithoptera priamus). Banyak jenis kupukupu diburu untuk dijadikan hiasan pada
dekade sebelumnya terutama kupu-kupu dari
genus ornithoptera, sampai saat ini
penangkapan jenis kupu-kupu ini masih
terjadi namun dalam frekuensi yang kecil
itupun bila ada pesanan atau bila ada
pemebeli yang datang membeli.
14
Ekosains
Tabel 3. Jenis Serangga yang Dijumpai dan Diketahui
Buria
Hunitetu
Nama ilmiah
Ariate
Nama Lokal
LOKASI di JUMPAI
Hatusua
STATUS
Morekau
JENIS
P. Marsegu
& P. Osi
No.
CONTANTOPIDAE
1
Belalang
Oxya japonica
■
■
■
■
■
2
Belalang
Valanga gohierei
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
■
PAPILIONIDAE
3
Kupu-kupu Primus
Ornithoptera priamus
4
Kupu-kupu Gambrisus
Ornithoptera gambrisius
Dilindung
Dilindung
5
Kupu-kupu Troides
Troides hypolitus
Dilindung
■
■
■
■
■
■
6
Kupu-kupu Troides
Troides oblongomaculatus
Dilindung
■
■
■
■
■
Amphibi
Jenis serangga yang di catat juga adalah
jenis yang mudah terlihat, tercatat ada 6
jenis yang dijumpai di lokasi pengumpulan
data, oleh beberapa masyarakat transmigran
yang datang dari Pulau Jawa beberapa jenis
katak dicari untuk dikomsumsi terutama
katak air yang biasa terdapat di persawahan
di lokasi Dataran Waimital dan Waisamu.
Satu fenomena yang sangat menarik tentang
amphibi di wilayah Seram Bagian Barat
terutama di bagian Selatan adalah
■
munculnya jenis katak yang terintroduksi
dari daratan Korea dan cina bagian Utara,
oleh penduduk katak ini disebut katak korea.
Katak ini terintroduksi ketika pembangunan
pabrik plywood di Waisarisa, dimana katak
ini terbawa bersama mesin yang didatangkan
dari Korea. Saat ini perkembangan katak ini
sudah cukup banyak di sekitar pemukiman
penduduk namun belum meresahkan,
bahkan katak ini disebut-sebut membantu
menghilangkan ular berbisa dari pemukiman
penduduk.
Tabel 4. Jenis Amphibi yang Dijumpai dan Diketahui
Buria
Hunitetu
Hatusua
Nama ilmiah
LOKASI di JUMPAI
Ariate
Nama Lokal
STATUS
Morekau
JENIS
P. Marsegu
& P. Osi
No.
RANIDAE
Rana grisea
■
2
Katak sungai
Katak sungai
Rana modesta
■
3
Katak sungai
Rana sanguinea
■
1
■
■
■
■
■
■
■
15
Ekosains
Nama Lokal
Nama ilmiah
4
HYLIDAE
Katak pohon
Litoria amboinensis
■
■
■
5
Katak pohon
Litoria bicolor
■
■
■
■
■
Buria
Hatusua
Hunitetu
LOKASI di JUMPAI
Ariate
STATUS
Morekau
JENIS
P. Marsegu
& P. Osi
No.
■
JENIS INTRODUKSI
6
Katak Korea / Katak Semak
Jenis Burung
Hasil penelitian menunjukkan terdapat
110 jenis burung yang dijumpai selama
pengumpulan data lapangan, 110 jenis
burung tersebut tergolong dalam 54 genus
dan 47 family. 110 jenis burung ini terbagi
atas 2 kelompok burung yaitu kelompok
burung laut dan burung air sebanyak 20 jenis
dan kelompok burung inland (habitat darat)
sebanyak 90 jenis.
Dari kelompok jenis burung laut dan
burung air jenis burung yang dijumpai
paling banyak adalah dari Family Ardidae
yaitu keluarga burung Bangau dan kuntul.
Dari kelompok jenis burung inland jenis
burung yang dijumpai paling banyak berasal
dari Family Columbidae yaitu keluarga
burung merpati dan pergam yaitu sebanyak
12 jenis, Jenis burung lain yang juga
dijumpai dalam jumlah yang banyak adalah
dari Family Ptsitacidae yaitu keluarga
burung paruh bengkok (nuri, kasturi, betet
dan kakatua) yaitu sebanyak 8 jenis serta
Accipitridae yaitu keluarga burung Elang
dan Rajawali yaitu sebanyak 8 jenis dari 30
jenis burung sebaran terbatas (BST) yang
tercatat di Pulau Seram 19 jenis diantaranya
dijumpai pada lokasi-lokasi pengumpulan
data. Kemudian dari 14 jenis burung
endemik yang dimiliki Pulau Seram 9 jenis
diantaranya dijumpai di lokasi pengumpulan
data. Juga dijumpai 2 jenis burung endemik
untuk Kepulauan Maluku. Dari 110 jenis
burung yang dijumpai terdapat 2 jenis
burung yang statusnya terancam punah.
yaitu Gosong Maluku (Eulipoa wallacei)
dan Raja-udang Lazuli (Halcyon lazuli)
yang saat ini memiliki status keterancam
Vulnerable (rentan), Gosong maluku adalah
jenis burung sebaran terbatas yang terancam
punah oleh pembukaan lahan dan
pengambilan telurnya sedangkan Raja-udang
Lazuli adalah jenis burung endemik Pulau
Seram dan Pulau Ambon yang terancam
punah karena kerusakan habitat.
Khusus untuk 8 jenis burung dari
Family Ptsitacidae (Nuri dan Kakatua) harus
menjadi catatan untuk diperhatikan karena
memiliki sejarah ekploitasi yang berlebihan
oleh masyarakat berupa penangkapan untuk
diperdagangkan terutama jenis Kakatua
seram (Cacatua moluccensis) dan Nuri
kepala hitam (Lorius domicelus) yang saat
ini termasuk jenis burung yang terancam
meskipun status keterancamannya belum
masuk dalam daftar jenis yang terancam
secara serius oleh lembaga perlindungan
internasional IUCN, namun sudah menjadi
keprihatinan yang mendalam oleh banyak
pemerhati lingkungan karena keberadaan
kedua jenis burung ini yang sudah langka
dan saat ini hanya menjadi cerita orang tua
di masa lalu kepada anak-cucu terutama bagi
masyarakat yang menetap di wilayah pesisir.
Beberapa jenis dari Family Ptsitacidae
yang masih terus ditangkap untuk
16
Ekosains
120
110
100
80
Jumlah Jenis
diperdagangkan sampai saat ini seperti Nuri
merah (Eos bornea) dan Perkici pelangi
(Trichoglossus haematodus) namun dalam
jumlah yang terbatas.
Beberapa jenis burung lain juga menarik
untuk disimak terutama jenis burung yang
sering terlihat atraktif di udara seperti
burung Elang bondol (Haliaetus Indus) dan
Elang hitam (Ictenaetus malayensis) atau
jenis burung yang sering terlihat bertengger
dengan anggunnya di dahan pepohonan
seperti burung Raja udang/Cekakak sungai
(Halcyon chloris), Kirik-kirik australia
(Merops ornatus) dan Tiong lampu
(Eurystomus orientalis), atau jenis-jenis
burung “passerine” yang selalu berkijau
dengan merdu di antara pepohonan yang
rindang seperti jenis burung Srigunting
wallacea (Dicrurus densus), Cici emas
(Cisticola exilis) dan Kancilan emas
(Pachycephala pectoralis) atau jenis burung
yang berdisplay dan selalu bergerak dengan
lincah diantara ranting-ranting pohon seperti
burung Kipasan dada-lurik (Rhipidura
rufiventris) dan berbagai jenis burung
merpati dan pergam yang sering terlihat
terbang berkelompok.
Semua jenis burung yang disebutkan di
atas merupakan jenis burung yang cukup
mudah dilihat atau didengar suaranya di
lokasi-lokasi pengamatan, dan hal inilah
yang merupakan daya tarik utama sisi
kehidupan burung yang ada di Pulau Seram
khususnya Seram Bagian Barat dan selalu
menggoda keingin-tahuan setiap orang yang
melihat mereka atau mendengar suara
mereka. Sisi kehidupan inilah yang sudah
seharusnya menjadi bagian dari kehidupan
kita dan sudah seharusnya dipelihara dan
dilindungi karena sangat bermanfaat untuk
daya tarik wisata alam dan juga untuk
pengembangan ilmu pengetahuan.
60
40
19
20
9
2
2
0
Total Jenis
Gambar
Jenis burung Jenis burung Jenis burung Jenis burung
sebaran
endemik EndemikKep. terancam
terbatas
P.Seram
Maluku
punah
1. Grafik kelimpahan Jenis
Burung Menurut Klasifikasi
Jenis
Keberadaan 19 burung sebaran terbatas
dan 9 jenis burung endemik pulau Seram
pada lokasi-lokasi pengamatan harus
menjadi perhatian, karena bisa dijadikan
indikator kondisi hutan pada wilayah Seram
Bagian Barat. Dari data yang didapat di
lapangan bisa dilihat bahwa meskipun hutan
di wilayah Seram Bagian Barat sudah
mengalami
gangguan
oleh
aktifitas
pembukaan lahan untuk pertanian dan
penebangan
pohon-pohon
oleh
HPH/IUPHHK pada dekade sebelumnya
namun kondisi hutannya yang ada masih
baik untuk menjadi habitat hidup bagi
berbagai jenis burung termasuk jenis-jenis
burung endemik Pulau Seram. Namun sudah
harus menjadi perhatian karena sebagian
besar jenis burung endemik Pulau Seram
yang ada pada lokasi-lokasi pengamatan
dijumpai dengan sifat pertemuan yang
jarang dan langka.
17
Ekosains
Aspek Sosial-Ekonomi
Berbagai Jenis Satwa
Pemanfaatan
Pemanfaatan Mamalia
Satwa mamalia banyak dimanfaatkan
oleh masyarakat di hampir semua desa di
Kabupaten Seram Bagian Barat sebagai
salah satu komoditi perdagangan lokal
maupun sumber protein utama. Jenis
mamalia yang dimanfaatkan adalah Babi
hutan (Sus scrova), Rusa (Cervus
timorensis), Kuskus (Phalanger orientalis),
kelelawar (Peteropus melanopogon) dan
Musang (Paradocorus hermaproditus).
Jenis-jenis mamalia ini biasanya ditangkap
dengan cara berburu atau dengan memasang
jerat. Satwa mamalia yang dijerat kemudian
diolah untuk dikonsumsi sendiri dan juga
dikeringkan atau diasar untuk dijual (dalam
bentuk dendeng) terutama dari jenis babi
hutan dan rusa.
Harga jual untuk satwa ini bervariasi
sesuai lokasi, jika di desa maka harga jual
lebih murah dibandingkan dengan di Ibukota
Kecamatan dan Kabupaten. Untuk Rusa
harga jual per kg sebesar Rp 40.000 - 45.000
dalam bentuk dendeng, sedangkan untuk
babi hutan dijual Rp 35.000 - 40.000 dalam
bentuk dendeng. sedangkan untuk jenis
kelelawar, kuskus dan musang masyarakat
umumnya
memanfaatkannya
untuk
dikonsumsi sendiri.
Pemanfaatan Reptil
Khusus untuk satwa reptil yang
dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu untuk
dikonsumsi dan dijual seperti jenis reptil laut
dari jenis penyu, yaitu Penyu hijau
(Chelonia midas) dan Penyu sisik
(Erotmochelys imbricate), namun kedua
jenis reptile laut ini tidak bisa didapat setiap
saat, biasanya hanya didapat ketika musim
bertelur saja ketika jenis reptile ini
mengunjungi daerah pesisir. Jenis reptil
darat yang kadang-kala dimanfaatkan oleh
masyarakat untuk diambil kulitnya adalah
biawak (Varanus indicus) kulitnya dipakai
untuk alat musik tifa di rumah adat (baileo),
sebagian masyarakat pegunungan sampai
saat ini masih mengkonsumsi ular Patola
(Phiton
reticulates)
terutama
yang
berukuran besar sebagai salah satu sumber
protein dan kulitnya di ambil untuk dijual.
Pemanfaatan Burung
Satwa burung banyak dimanfaatkan
oleh masyarakat di banyak tempat di
wilayah Seram Bagian Barat sebagai salah
satu komoditi perdagangan, pemanfaatannya
dilakukan
dengan
jalan
melakukan
penangkapan terhadap jenis-jenis burung
tertentu dengan menggunakan jerat,
terutama jenis-jenis burung paruh bengkok
(Nuri, Kasturi & Kakatua).
Jenis burung paruh bengkok yang
banyak ditangkap untuk diperdagangkan,
adalah burung Nuri merah (Eos bornea),
Kasturi pelangi (Trichoglosus haematodus),
Nuri raja (Alisterus amboinensis), Nuri
bayan (kakatua merah-hijau) (Eclectus
roratus),
Kakatua
Seram
(Cacatua
moluccensis) dan Nuri kepala-hitam (Lorius
domicellus).
Saat ini aktivitas penangkapan burung
sudah jarang dijumpai sehingga sudah jarang
diperdagangkan karena sudah termasuk jenis
yang langka dan dilindungi serta
populasinya sudah sangat berkurang
terutama 2 jenis burung paruh bengkok
endemik Pulau Seram yaitu Cacatua
moluccensis dan Lorius domicellus. Saat ini
penangkapan burung hanya dilakukan oleh
beberapa orang di beberapa tempat saja
dalam jumlah yang kecil. Saat ini Jenis
burung yang masih ditangkap adalah Nuri
merah (Eos bornea) dan Kasturi pelangi
(Trichoglosus haematodus) yang dijual
dengan harga Rp 20.000 sampai Rp. 25.000.
18
Ekosains
KESIMPULAN
1. Jenis-jenis fauna yang dijumpai terdiri
atas kelompok jenis burung sebanyak
110 jenis dengan 9 jenis endemik Pulau
Seram, 19 jenis Mamalia, 15 jenis
Reptile, Serangga eksotika 6 jenis dan
Amphibi 6 jenis.
2. Pemanfaatan jenis-jenis satwa terbatas
untuk
konsumsi
sendiri
dan
diperdagangkan tetapi dalam jumlah
yang relatif rendah. Khusus bagi jenisjenis burung aktifitas penangkapan
sudah berkurang tertama untuk jenis
burung endemik karena jumlah terbatas
di alam dan kesadaran masyarakat yang
sudah meningkat tentang perlindungan
satwa.
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra,
H.S.
1990.
Pengelolaan
Satwaliar. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan
Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat
Antar Universitas Ilmu Hayati.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Bappenas.
2004.
Wilayah
Kritis
Keanekaragaman
Hayati
di
Indonesia: Instrumen penilaian
dan pemindaian indikatif/cepat bagi
pengambil kebijakan. Deputi Bidang
Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Hidup,
Bappenas.
Jakarta
Conservation
International Indonesia.
Departemen Kehutanan. 1990. Undangundang No. 5 Tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya, Tanggal 10 Agustus
1990. Departemen
Kehutanan.
Jakarta.
Departemen Kehutanan. 1998. Peraturan
Pemerintah
No.
68
Tentang
Kawasan
Suaka
Alam
dan pelestarian Alam, Tanggal 19
Agustus
1998.
Departemen
Kehutanan. Jakarta
Departemen Kehutanan. 2004. Peraturan
Menteri Kehutanan No. : P.
19/Menhut-II/2006
Tentang
Pengelolaan Kolaboratif, Tanggal 19
Oktober 2004.
Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi
Tropika
:Membicarakan
alam
ekologi tropika Afrika, Asia, Pasifik,
dan Dunia Baru. Terjemahan Usman
Tabuwidjaja.
Institut
Teknologi Bandung. Bandung.
Kartawinata. K., S. Soenarko, IGM. Tantra
dan T. Samingan. 1976. Pedoman
Inventarisasi Flora dan Ekosistem.
Direktorat Jendral Perlindungan
Hutan
dan
Pelstarian
Alam.
Bogor.
Kartawinata, K., Afriastini, J.J, Heriyanto,
M and Samsoedin, I. 2004. A Tree
Species Inventory in A One-Hectare
Plot at the Batang Gadis National
Park, North Sumatra, Indonesia.
Reinwardtia 12(2)_145 Kompas. 2006.
Degradasi Hutan dan Lahan di
Indonesia Capai 43 Juta Hektar.
http ://www.kompas.com. Diakses
Tanggal 5 Maret 2006
Supriatna, J. 2008. Melestarikan Alam
Indonesia. Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta.
Ludwig, J. A. and J. F. Reynolds. 1988.
Statistical Ecology: A primer on
method and computing. A WileyInterscience Publication.
Odum, E. P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi.
Terjemahan Tjahjono Samingan.
Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Partasasmita, R. 2003. Ekologi Burung
Pemakan Buah dan Peranannya
Sebagai Penyebar Biji. Makalah
Falsafah Sains Program Pasca
Sarjana Institut Pertanian Bogor.
19
Ekosains
Primack, R. B., J. Supriatna, M. Indrawan,
dan P. Kramadibrata. 1998. Biologi
Konservasi.
Yayasan
Obor
Indonesia. Jakarta.
Reynold, T.T., J. M. Scott, and R.A.
Nussbaum. 1980. A variable
circular-plot method for estimating
bird
numbers.
The
Cooper
Ornithological Society. Condor 82 :
309-313.
20
Fly UP