...

PENGELOLAAN WAKAF PRODUKTIF UNTUK KESEHATAN

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

PENGELOLAAN WAKAF PRODUKTIF UNTUK KESEHATAN
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
PENGELOLAAN WAKAF PRODUKTIF UNTUK KESEHATAN
(Studi Kasus Bandha Wakaf Masjid Agung Semarang)
Oleh: Nurodin Usman
(Staf Pengajar Fakultas Agama Islam Unmuh Magelang)
email: [email protected]
ABSTRACT: This study describes the management of waqf in the field of
health care. The object of waqf in this study is bandha waqf Masjid Agung
Semarang which has a land area more than one hundred and thirthy
hectares endowsments. Waqf in the field of health care has carried out the
moslems from early history of Islam to the present. It also spreads all ove
the moslem word, such as in Hijaz, Syam, Egypt, Sudan, and Indonesia.
Management of bandha waqf in the field care can be devided into two
polyclinics, namely Clinic Masjid Agung Semarang and Clinic Masjid
Agung Jawa Tengah. In the futures, it will be developed in the form of a
Islamic General Hospital and expected to provide broader health services.
Keywords: bandha waqf, health care, productive waqf management.
PENDAHULUAN
Wakaf untuk kesehatan telah menjadi bagian dari sejarah penting
wakaf semenjak zaman dahulu dan terus berkembang hingga saat ini. Hal
itu disebabkan oleh kebutuhan umat Islam terhadap layanan kesehatan
yang bersifat primer yang memiliki kecenderungan semakin meningkat.
Semenjak zaman dahulu, rumah sakit yang didanai lembaga wakaf telah
berkembang di Hijaz, Syam, Mesir, Sudan, dan negara-negara Islam
lainnya, termasuk Indonesia.
Peran lembaga wakaf bagi layanan kesehatan tidak terbatas pada
pendirian rumah sakit, tetapi juga pada penyediaan obat-obatan melalui
apotik-apotik yang dirintis dan didanai oleh lembaga wakaf. Sejarah Islam
juga mencatat kontribusi lembaga wakaf dalam bidang sumber daya
manusia yang menangani layanan kesehatan, tenaga dokter, tabib, ahli
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
1
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
bedah, dan perawat. Buku-buku dalam bidang kesehatan juga merupakan
bagian yang tidak ditinggalkan oleh lembaga wakaf.
Peran wakaf dalam layanan kesehatan tetap berjalan meskipun
perkembangan wakaf pada masa-masa sekarang ini tidak sepesat masamasa sebelumnya. Warisan-warisan wakaf dalam bidang kesehatan yang
saat ini masih dapat kita rasakan adalah maraknya rumah-rumah sakit
yang didasari oleh lembaga wakaf, seperti Rumah Sakit Islam yang
banyak ditemukan di kota-kota besar dan PKU-PKU yang dimiliki oleh
Persyarikatan Muhammadiyah yang juga dapat ditemukan bahkan hingga
di kota-kota kecil.
Setelah institusi zakat mengalami perkembangan dari segi
manajemen, sebagian dari peran lembaga wakaf diambil alih oleh
lembaga zakat, baik dilakukan secara mandiri oleh lembaga zakat maupun
melalui kerjasama dengan lembaga wakaf. Kerja sama lembaga wakaf
dan zakat diwujudkan dalam bentuk permanen seperti dalam bentuk
rumah sakit maupun layanan kesehatan gratis yang sifatnya insidentil
pada momen-momen tertentu.
Di
Semarang,
terdapat
sebuah
masjid
yang
merupakan
peninggalan pendiri Kota Semarang, yaitu Ki Ageng Pandan Arang. Saat
ini, masjid tersebut diberi nama Masjid Agung Semarang yang terletak di
sebelah Pasar Johar Kota Semarang. Masjid ini merupakan masjid wakaf
yang memiliki kekayaan yang besar, baik berupa tanah maupun
bangunan. Kekayaan Masjid Agung Semarang tersebut dikenal dengan
nama bandha wakaf Masjid Agung Semarang. Menurut Agus Fathuddin
Yusuf (2000: 7), sejak zaman kesultanan Demak, Masjid Agung Semarang
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
2
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
telah memiliki kekayaan berupa tanah yang cukup luas yang semula
disediakan sebagai upah untuk digarap para merbot dan sebagian lagi
untuk biaya pemeliharaan masjid itu sendiri. Berdasarkan data Badan
Kesejahteraan Masjid Kota Semarang tahun 2005, luas tanah bandha
wakaf Masjid Agung Semarang adalah 1.316.733 m 2 tersebar di
Kabupaten Demak, Kabupaten Kendal, dan Kota Semarang.
Saat ini, pengelolaan dan pengembangan tanah bandha wakaf
tersebut telah dilakukan dalam beragam bentuk pengelolaan yang bersifat
produktif, yaitu pusat pertokoan, hotel Agung, SPBU, dan lahan pertanian.
Selain dikelola secara produktif dan dimaksudkan untuk menghasilkan
keuntungan,
sebagian
tanah
bandha
wakaf
juga
dikelola
untuk
kepentingan memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti masjid dalam
bidang ibadah, perpustakaan dan museum perkembangan Islam dalam
bidang ilmu pengetahuan, dan klinik dalam bidang kesehatan.
Dalam bidang kesehatan, tanah bandha wakaf dikelola dan
dikembangkan dalam bentuk Klinik Masjid Agung Semarang dan Klinik
Masjid Agung Jawa Tengah. Keduanya dikelola secara terpisah dan
menginduk pada organisasi atau manajemen yang berbeda namun
memiliki persamaan utama, yaitu lokasi berdirinya kedua klinik tersebut
merupakan tanah wakaf dan keduanya dirintis dan didanai oleh pengelola
masjid wakaf.
Penelitian ini bermaksud mendeskripsikan model pengelolaan dan
pengembangan bandha wakaf Masjid Agung Semarang dalam bidang
kesehatan.
Pertanyaan
dalam
penelitian
ini
adalah
bagaimana
pengelolaan dan pengembangan bandha wakaf Masjid Agung Semarang
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
3
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
yang telah dikelola dan dikembangkan untuk layanan kesehatan,
khususnya dalam bentuk Klinik Masjid Agung Semarang dan Klinik Masjid
Agung Jawa Tengah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang
bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan wakaf untuk layanan
kesehatan dalam bentuk Klinik Masjid Agung Semarang dan Klinik Masjid
Agung Jawa Tengah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik observasi dilakukan
untuk mengamati, mencatat, dan memotret segala sesuatu yang berkaitan
dengan layanan kesehatan yang dilakukan oleh pengelola dan pelaksana
Klinik Masjid Agung Semarang dan Klinik Masjid Agung Jawa Tengah.
Teknik wawancara dilakukan secara terbuka untuk menggali berbagai
macam informasi yang berkaitan dengan tema terkait. Sejumlah informan
yang berhasil diwawancarai adalah pengelola bandha wakaf yang terlibat
dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan mengenai operasional
Klinik Masjid Agung Semarang dan Klinik Masjid Agung Jawa Tengah.
Teknik dokumentasi dilakukan untuk mengungkap data-data yang
tersimpan dalam dokumen, untuk menggali data-data yang tidak dapat
diperoleh melalui observasi dan wawancara, atau untuk melengkapi dan
memperkuat data-data yang diperoleh dari penggunaan teknik observasi
dan wawancara.
Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif.
Proses analisis dilakukan untuk memahami, menelaah, mendalami, dan
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
4
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
menginterpretasikan fenomena yang muncul terkait aktifitas pengelolaan
kedua klinik tersebut dan rencana pengembangannya. Proses analisis
data dilakukan melalui serangkaian aktifitas yang saling berkaitan, yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Emir, 2012: 129).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori tata kelola wakaf
produktif dalam bidang kesehatan untuk membantu peneliti dalam
menganalisis data yang menjadi obyek penelitian.
HASIL PENELITIAN
A. Tata Kelola Wakaf untuk Kesehatan
1. Konsep Wakaf Produktif
Secara etimologis, wakaf berasal dari “waqafa” yang
berarti “habasa”. Dalam kamus Lisan al-„Arab, (Ibn Manzur, t.th.: 6/44)
kalimat “habasahu” berarti “dia telah menahanannya”. Menurut Qahaf
(2006: 55), kata “waqf” dan “habs” berarti menahan sesuatu dari konsumsi
dan melarang seluruh manfaat atau keuntungan dari selain pihak yang
menjadi sasaran wakaf.
Definisi wakaf juga dijelaskan oleh ulama fikih kontemporer seperti
Nazih Hammad dan Munzir Qahaf. Nazih Hammad, (1995: 353)
mendefinisikan
wakaf
sebagai
akad
menahan
aset
wakaf
dan
menyalurkan manfaatnya pada sabilillah. Munzir Qahaf (2006: 62)
mendefinisikan wakaf yaitu akad menahan harta, baik bersifat selamanya
maupun jangka waktu tertentu, untuk diambil manfaatnya secara
berulang-ulang, dari harta tersebut atau dari hasilnya, untuk keperluan
kebaikan, baik yang bersifat umum maupun khusus.
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
5
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, wakaf diartikan
dengan
perbuatan
hukum
wakif
untuk
memisahkan
dan/atau
menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan
selamanya
atau
untuk
jangka
waktu
tertentu
sesuai
dengan
kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum
menurut syariah.
Dari segi penggunaannya, wakaf dapat dibedakan menjadi wakaf
mubasyir dan wakaf istismari. Wakaf mubasyir adalah harta wakaf yang
menghasilkan
pelayanan masyarakat dan
bisa
digunakan secara
langsung seperti madrasah dan rumah sakit. Sedangkan wakaf istismari
adalah harta wakaf yang ditujukan untuk penanaman modal dalam
produksi barang-barang dan pelayanan yang dibolehkan syara‟ dalam
bentuk apapun kemudian hasilnya diwakafkan sesuai keinginan wakif.
Wakaf istismari biasa disebut juga wakaf produktif, yaitu wakaf
harta yang digunakan untuk kepentingan investasi, baik di bidang
pertanian, perindustrian, perdagangan, dan jasa. Manfaat pada wakaf
produktif tidak diperoleh dari benda wakaf secara langsung, melainkan
dari keuntungan atau hasil pengelolaan wakaf.
Kata produktif merupakan kata sifat yang berasal dari kata produk
yang berarti hasil, hasil kerja, barang atau benda yang dihasilkan (alBarry, 2003: 633). Berdasarkan makna tersebut, kata produktif memiliki
pengertian sesuatu yang memiliki daya hasil atau mempunyai kemampuan
untuk menghasilkan (dalam jumlah besar). Makna lain dari kata produktif
adalah subur (al-Barry, 2003: 633). Jaih Mubarok (2008: 16) mengartikan
wakaf produktif
sebagai proses pengelolaan benda wakaf untuk
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
6
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
menghasilkan barang atau jasa yang maksimum dengan modal yang
minimum. Menurut Mubarok (2008: 28), wakaf produktif dikelola dengan
pendekatan bisnis, yakni suatu usaha yang berorientasi pada keuntungan
dan keuntungan tersebut disedekahkan kepada pihak yang berhak
menerimanya. Tujuan utama bisnis adalah laba atau keuntungan melalui
berbagai usaha yang mampu menghasilkan barang dan jasa yang
dibutuhkan masyarakat. Berbagai usaha yang termasuk kegiatan bisnis
meliputi usaha pertanian, produksi, konstruksi, distribusi, transportasi,
komunikasi, dan usaha jasa (Alma, 2009: 115).
Menurut Antonio dalam Mubarok (2008: 35), wakaf produktif
adalah pemberdayaan wakaf yang ditandai dengan tiga ciri utama, yaitu
pola manajemen yang integratif, mengikuti asas kesejahteraan nazhir, dan
asas transparansi dan tanggung jawab. Pola manajemen wakaf integratif
berarti memberi peluang bagi dana wakaf untuk dialokasikan kepada
program-program pemberdayaan dengan segala macam biaya yang
tercakup didalamnya. Asas kesejahteraan nazhir menuntut pekerjaan
nazhir tidak lagi diposisikan sebagai pekerja sosial, tetapi sebagai
profesional yang bisa hidup layak dari profesi tersebut. Sedangkan asas
transparansi
dan
tanggung
jawab
mengharuskan
lembaga
wakaf
melaporkan proses pengelolaan dana kepada umat tiap tahun.
2. Wakaf untuk Kesehatan dalam Lintasan Sejarah
Seperti dimaklumi, keberadaan layanan kesehatan seperti rumah
sakit, poliklinik, dan apotik memiliki peran strategis bagi masyarakat.
Sebagaimana pendidikan, kesehatan merupakan kebutuhan primer setiap
orang sehingga harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
7
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
Wakaf untuk kesehatan telah menjadi bagian penting dari sejarah
perwakafan Islam. Keberadaan wakaf telah membantu penyediaan
fasilitas-fasilitas publik di bidang kesehatan, seperti rumah sakit, poliklinik,
apotik, maupun layanan pendidikan medis. Berbagai rumah sakit didirikan
dan dibiayai dari hasil pengelolaan aset wakaf, seperti di Cairo, Istambul,
dan negara Islam lainnya. Di Spanyol, fasilitas rumah sakit yang dibiayai
oleh lembaga wakaf melayani segenap lapisan masyarakat, baik muslim
maupun non muslim (Djunaidi, 2008: 90).
Wakaf telah berperan besar bagi pengembangan layanan
kesehatan. Sejarah Islam mencatat adanya korelasi antara perkembangan
wakaf dengan perkembangan ilmu kedokteran dan perannya bagi
kesehatan masyarakat.
Wakaf merupakan sumber utama, bahkan bisa jadi dalam kondisi
tertentu merupakan satu-satunya sumber bagi pendanaan rumah sakit,
sekolah atau pendidikan medis. Wakaf juga menjadi sumber pendanaan
bagi fasilitas-fasilitas yang merupakan pelengkap bagi layanan kesehatan,
seperti kebersihan toilet umum, pemenuhan gizi anak, dan kesehatan
manula.
Wakaf untuk kesehatan tidak hanya berupa tanah dan bangunan
rumah sakit, melainkan juga banyak ditemukan aset wakaf dalam bentuk
tanah, kebun, apartemen, pertokoan, dan lainnya yang diwakafkan untuk
menjamin keberlangsungan layanan kesehatan yang memerlukan biaya
besar.
Beberapa
rumah
sakit
tidak
hanya
memberikan
layanan
kesehatan semata, tapi juga menyelenggarakan pendidikan medis dan
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
8
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
memberikan jaminan bagi pasien untuk mendapatkan layanan kesehatan
secara keseluruhan secara cuma-cuma. Contoh rumah sakit yang didanai
wakaf dan memberikan layanan secara komprehensif seperti itu adalah
Rumah Sakit al-„Adadi di Baghdad, Rumah Sakit al-Mansuri di Cairo,
Rumah Sakit an-Nuri di Damaskus, dan Rumah Sakit al-Mansuri di
Mekah.
RS al-Mansuri di Cairo didirikan tahun 682 H yang memberikan
layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, yaitu meliputi raja,
bangsawan, gubernur, orang kaya, rakyat jelata, orang tua, anak-anak,
laki-laki, wanita, dan hamba sahaya (budak). Ibnu Batutah mengomentari
rumah sakit ini sebagai rumah sakit yang tidak dapat diungkapkan
keindahannya dengan kata sifat.
Di antara kelebihan Rumah Sakit al-Mansuri adalah jika pasein
sudah sembuh dan dibolehkan pulang, ia dibekali dengan obat dan uang
saku, bahkan pakaian.
Khalifah al-Ma‟mun merupakan khalifah yang turut berjasa dalam
mengembangkan rumah sakit spesialis yang didanai dari hasil wakaf.
Khalifah al-Ma‟mun mendirikan beberapa rumah sakit, khususnya di kotakota besar, yang khusus menangani jenis penyakit tertentu, seperti
penyakit kusta, kejiwaan, dan lainnya. Selain menyediakan tanah dan
bangunan untuk rumah sakit, Khalifah al-Ma‟mun juga menyediakan asetaset lain berupa tanah dan bangunan yang diberdayakan untuk mendanai
rumah sakit-rumah sakit tersebut. Khalifah juga mendorong orang-orang
kaya pada masa itu untuk mewakafkan tanah-tanah mereka dan harta
benda lainnya untuk menopang operasional rumah sakit sehingga jumlah
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
9
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
rumah sakit semakin bertambah dan layanannya semakin banyak. Dalam
satu kota, jumlah rumah sakit yang dibiayai hasil wakaf bisa mencapai
lima puluh rumah sakit.
Selain digunakan untuk mendanai biaya operasional rumah sakit,
hasil wakaf juga disalurkan pada pendidikan-pendidikan medis, Pada
masa khilafah „Abbasiyyah, diselenggarakan pendidikan kedokteran
spesialis. Pendidikan dalam bidang medis ini diselenggarakan oleh dua
lembaga, yaitu rumah sakit yang di samping mengobati orang sakit juga
menyelenggarakan pendidikan medis (disebut al-mustasyfa at-ta‟limi) dan
lembaga-lembaga pendidikan yang membuka konsentrasi kesehatan,
seperti
Madrasah
al-Mustansiriyyah.
Pada
madrasah
ini,
pelajar
kedokteran mendapatkan beasiswa bulanan dan beberapa peralatan
medis yang dibagikan secara gratis.
Hasil
wakaf
juga
digunakan
untuk
mengembangkan
ilmu
kedokteran, berupa penelitian dan penyusunan karya ilmiah. Para pakar
medis muslim diberi kesempatan untuk menyusun pemikiran-pemikiran
mereka dalam sebuah karya atau buku ilmiah. Dana untuk penelian dan
penerbitan buku tersebut diambilkan dari keuntungan wakaf. Hasilnya,
berbagai karya ilmiah dalam bidang kedokteran lahir dari sarjana-sarjana
muslim saat itu, seperti Kitab al-Kulliyyat fi at-Tib karya Ibnu Rusyd, alHawi fi at-Tib karya ar-Razi, Taz|kirah al-Kamalin karya „Ali ibn „Isa yang
merupakan spesialis mata, dan Taqwim al-Abdan karya Ibn Jazlah.
B. Pengelolaan Bandha Wakaf untuk Kesehatan
Seperti dijelaskan sebelumnya, tanah bandha wakaf Masjid Agung
Semarang merupakan peninggalan pendiri sekaligus bupati pertama Kota
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
10
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
Semarang, yaitu Ki Ageng Pandan Arang. Pada mulanya, tanah tersebut
dipersiapkan
untuk
merbot
atau
orang
yang
mengelola
dan
mengembangkan masjid tersebut. Luasnya mencapai 1.316.733 m 2 dan
tersebar di tiga kabupaten, yaitu Demak, Kendal, dan Kota Semarang.
Dalam
perkembangannya,
tanah-tanah
tersebut
mengalami
dinamika pengelolaan dan pengembangan sehingga dianggap tidak
produktif dan sebagian ditelantarkan. Pada perkembangannya, atas saran
banyak pihak, MUI Kota Semarang mengeluarkan fatwa pada tanggal 13
Oktober 1976 tentang istibdal al-waqf atau penggantian tanah wakaf. Atas
dasar fatwa ini, Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Kota Semarang
mengadakan lelang untuk mencari pihak-pihak yang sanggup menjadi
penukar tanah bandha masjid (MAJT, 2008: 79). Lalu, pada tahun 1980,
Menteri Agama H. Alamsjah Ratu Perwiranegara, menerbitkan KMA No.
12 tahun 1980 tentang penunjukan PT Sambirejo Semarang sebagai
penukar tanah bandha Masjid Agung Semarang. Pada lampiran KMA
tersebut dinyatakan bahwa tanah bandha masjid yang luasnya 119,1270
hektar ditukar dengan tanah pertanian yang lebih produktif seluas 250
hektar yang berlokasi di Kabupaten Demak.
Proses ruislag tanah-tanah tersebut ternyata tidak berjalan sesuai
yang diharapkan. Berbagai upaya dilakukan untuk mencari jalan keluar
bagi permasalahan tersebut, baik jalur ligitasi maupun non ligitasi. Upaya
tersebut akhirnya membuahkan hasil yang ditandai dengan penyerahan
sejumlah sertifikat tanah dari Tjipto Siswoyo, selaku pemilik PT Tensindo
dan pemegang sertifikat, kepada tim yang dibentuk untuk menyelesaikan
kasus tersebut (MAJT, 2008: 96).
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
11
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
Dari data kekayaan BKM tahun 2005, diketahui bahwa total luas
tanah bandha wakaf Masjid Agung Semarang setelah proses ruislag
adalah 1.316.733 m2 tersebar di Kabupaten Demak (675.717 m2),
Kabupaten Kendal (12.200 m2), Kota Semarang (628.856 m2). Dengan
aset tersebut, Masjid Agung Semarang diasumsikan menjadi masjid yang
memiliki sumber dana kuat, mandiri, berdaya, dan mampu memberikan
dampak pemberdayaan bagi masyarakat di sekitarnya, termasuk dalam
bidang kesehatan.
Pengembangan wakaf untuk kesehatan telah dirintis oleh para
pengelola bandha wakaf dalam bentuk klinik yang dikembangkan oleh
Badan Pengelola Masjid Agung Semarang dan Badan Pengelola Masjid
Agung Jawa Tengah. Klinik yang dikelola Badan Pengelola Masjid Agung
Semarang bernama Klinikita Masjid Agung Semarang (Klinikita MAS).
Klinik ini menempati salah satu ruang pada bangunan kantor SPBU Masjid
Agung Semarang. Saat ini Klinikita MAS membuka layanan praktik dokter
umum dan dokter gigi.
Layanan kesehatan juga dilakukan oleh Badan Pengelola Masjid
Agung Jawa Tengah dengan nama Poliklinik Masjid Agung Jawa Tengah.
Bangunan Poliklinik MAJT yang berlokasi di sebelah kanan pintu masuk
MAJT diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz
pada tanggal 5 Rajab 1429 H bertepatan dengan tanggal 9 Juli 2008.
Layanan yang diberikan pada Poliklinik MAJT adalah Poli Umum dan Poli
Gigi.
Meskipun dua klinik tersebut belum dapat dirasakan secara luas
oleh masyarakat, keberadaannya telah mencerminkan keinginan para
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
12
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
pengelola bandha wakaf untuk membuka kamar baru bagi model
pengelolaan dan pengembangan bandha wakaf, yaitu pemberdayaan
wakaf untuk kesehatan. Dalam jangka panjang, Klinikita MAS dan
Poliklinik MAJT dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi Rumah Sakit
Islam yang berdiri di atas tanah bandha wakaf Masjid Agung Semarang.
Layanan kesehatan saat ini termasuk layanan yang memerlukan
biaya mahal sehingga tidak mampu diakses oleh kalangan menengah ke
bawah. Mahalnya biaya kesehatan tersebut antara lain disebabkan oleh:
a. Bertambahnya
penduduk yang mengakibatkan
meningkatnya
permintaan terhadap segala bidang kehidupan, termasuk layanan
kesehatan.
b. Perubahan gaya hidup yang dipengaruhi oleh tuntutan manusia
modern yang serba instan, tekanan-tekanan dalam kehidupan
sosial, dan berbagai permasalahan lingkungan yang berdampak
negatif bagi kesehatan.
c. Perkembangan yang cepat dalam bidang teknologi kesehatan
sehingga mampu mendeteksi berbagai penyakit yang tidak
diketahui sebelumnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi menghasilkan alat-alat kesehatan dan obat-obatan yang
jauh lebih mahal dibandingkan dengan cara pengobatan tradisional.
d. Tingginya biaya yang diperlukan untuk membangun rumah-rumah
sakit modern yang cenderung memanjakan pasien dengan semakin
banyaknya fasilitas-fasilitas yang ditawarkan. Rumah sakit yang
megah menuntut biaya operasional yang tinggi, ditangani oleh
tenaga-tenaga spesialis medis yang digaji mahal, dilengkapi
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
13
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
dengan alat-alat kesehatan canggih yang mahal, dan biaya
perawatan yang mahal pula. Pola pikir seperti ini sudah menjadi
kecenderungan
umum
bagi
subjek-subjek
dalam
layanan
kesehatan. Ide untuk mendirikan rumah sakat yang sederhana dan
berbiaya murah tampak sudah mulai ditinggalkan. Rumah sakit
tidak dianggap sebagai layanan yang sifatnya pengabdian, namun
dikelola dengan pendekatan bisnis yang menggiurkan.
e. Mahalnya biaya pendidikan kesehatan. Seperti diketahui, biaya
pendidikan
pada
fakultas
kedokteran
relatif
lebih
tinggi
dibandingkan dengan fakultas-fakultas lain. Biaya pendidikan
kedokteran akan lebih tinggi lagi pada strata dua atau spesialis.
Berdasarkan pola pikir pendidikan sebagai investasi, maka dapat
dimaklumi jika tenaga-tenaga kesehatan meminta reward yang
besar atas layanan kesehatan yang mereka berikan.
f. Banyaknya jenis-jenis penyakit yang memerlukan biaya perawatan
tinggi dan sebagian diantaranya memerlukan perawatan permanen,
seperti penyakit gula, stroke, tekanan darah tinggi, gagal ginjal, dan
sejenisnya.
Lembaga wakaf dapat berperan dalam rangka mengatasi masalah
ini, yaitu dengan cara merancang suatu program yang khusus melayani
kesehatan masyarakat. Dalam rangka funding, lembaga wakaf bisa
bekerjasama dengan lembaga zakat untuk menggalang dana tabarru‟ atau
hibah dari masyarakat, baik lembaga maupun pribadi, untuk menopang
biaya fasilitas-fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit dan obat-obatan.
Dengan demikian, wakaf mampu berperan dalam rangka takaful ijtima‟i
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
14
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
(solidaritas sosial), di mana orang yang kaya turut serta menanggung
biaya yang dibebankan kepada orang miskin atau kepada negara seperti
dalam kasus mahalnya biaya kesehatan seperti di atas.
Selain rumah sakit, layanan kesehatan yang dapat dilakukan oleh
lembaga wakaf adalah apotik dan obat-obatan yang bermutu. Apotik dan
obat-obatan tersebut bisa menyatu dengan rumah sakit dan bisa pula
usaha mandiri wakaf dalam bentuk apotik dan toko obat yang diprakarsai
oleh lembaga wakaf.
Untuk mewujudkan usaha ini, lembaga wakaf bisa bekerjasama
dengan lembaga wakaf lain, terutama lembaga wakaf yang mengelola
wakaf uang. Dalam hal ini, lembaga wakaf daerah, seperti lembaga wakaf
yang mengelola bandha wakaf Masjid Agung Semarang menjalin
kerjasama dengan pengelola wakaf uang dimana nazhir bandha wakaf
Masjid Agung Semarang menyediakan tanah yang strategis sedangkan
lembaga pengelola wakaf uang menyediakan dana untuk mendirikan atau
merenovasi bangunan dan obat-obatan yang akan dijual kepada
masyarakat.
Nazhir bandha wakaf Masjid Agung Semarang juga bisa menjalin
kerjasama dengan lembaga zakat atau lembaga yang bergerak dalam
dunia filantropi lainnya untuk menjalankan program pemberdayaan wakaf
bagi kesehatan ini. Dalam kerjasama ini, lembaga wakaf menyediakan
tanah atau bangunan sedangkan lembaga zakat menyediakan obatobatan. Bagi pengelola bandha wakaf Masjid Agung Semarang, tanah
yang dimaksud bisa saja berupa tanah sudah ada saat ini dan belum
diberdayakan dengan baik, bisa juga melakukan fundraising untuk
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
15
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
mencari calon-calon wakif baru yang memiliki tanah strategis di
lingkungan kota Semarang dan sekitarnya. Sebagai pilot project, lembaga
wakaf bisa melakukan pemetaan Kota Semarang untuk mendirikan apotik
atau toko obat di setiap kecamatan, misalnya, yang didanai secara
bersama oleh lembaga wakaf dan lembaga zakat.
Apabila terdapat calon wakif lebih dari satu yang berminat dengan
program ini di wilayah yang berdekatan, lembaga wakaf bisa melakukan
ibdal dan istibdal dengan cara menjual salah satu tanah wakaf di wilayah
tersebut kemudian uangnya digunakan untuk membeli tanah atau
bangunan di wilayah yang belum ada apotik wakaf seperti di atas.
Demikian seterusnya, sehingga dapat diproyeksikan akan adanya satu
atau lebih apotik wakaf pada setiap kecamatan untuk menjangkau
masyarakat penerima manfaat secara lebih luas.
C. Peran Wakaf bagi Masa Depan Layanan Kesehatan
Sejarah wakaf sudah membuktikan bahwa lembaga wakaf mampu
berperan dalam bidang kesehatan. Seperti dijelaskan di muka, banyak
rumah sakit wakaf yang memberikan layanan kesehatan secara gratis,
apotik-apotik
yang menjual obat secara murah, bahkan mampu
memberikan uang saku bagi pasien yang memang membutuhkan
perawatan rutin.
Sejarah wakaf untuk kesehatan yang indah ini memang telah
berlalu dan saat ini merupakan impian yang hendak diwujudkan kembali.
Seiring dengan perubahan zaman, dunia kesehatan juga telah mengalami
perkembangan yang cepat dan dinamis. Lembaga wakaf modern dituntut
untuk mampu bergerak cepat mengiringi cepatnya perkembangan dalam
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
16
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
berbagai bidang yang menjadi sasaran bagi penyaluran hasil wakaf.
Berikut ini beberapa langkah yang bisa ditempuh oleh lembaga
wakaf saat ini agar mampu berperan lebih besar dalam rangka mengatasi
permasalahan biaya kesehatan yang semakin mahal dan memberatkan
pasien, khususnya kalangan yang semestinya berhak mendapatkan
manfaat atau hasil wakaf:
a. Wakaf dalam bentuk rumah sakit, klinik, apotik, atau lembaga
kesehatan lain yang sudah siap beroperasi. Pihak yang menjadi
wakif dalam hal ini bisa seorang pengusaha rumah sakit, dokter
yang memiliki klinik, pengusaha apotik, atau lembaga lain yang
mengelola lembaga kesehatan. Harta yang menjadi mauquf bisa
berupa tanah atau bangunan yang sudah disiapkan untuk dijadikan
rumah sakit atau sejenisnya. Tugas lembaga wakaf dalam hal ini
adalah mengelola dan mengembangkannya sehingga dapat
beroperasi dengan baik dan memberikan layanan kesehatan
dengan murah dan berkualitas.
b. Wakaf untuk kepentingan kesehatan. Lembaga wakaf dalam hal ini
membuka kesempatan kepada calon wakif untuk mewakafkan
tanah, bangunan, unit usaha tertentu dalam berbagai bidang, atau
wakaf uang yang hasilnya disalurkan untuk lembaga kesehatan
yang
dikelola
lembaga
wakaf,
seperti
meringankan
biaya
operasional rumah sakit, membayar dokter dan tenaga medis
lainnya, membeli peralatan kesehatan, membeli obat-obatan,
membangun
sarana-sarana
baru
yang
mendukung
bagi
perkembangan rumah sakit wakaf, dan lain sebagainya.
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
17
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
c. Wakaf dalam bentuk alat-alat kesehatan. Lembaga wakaf bisa
membuka kesempatan bagi calon wakif untuk mewakafkan
berbagai alat-alat kesehatan yang diperlukan rumah sakit, seperti
alat untuk cuci darah, USG, sinar laser, dan lainnya. Alat-alat
kesehatan modern biasanya berharga mahal sehingga tidak dapat
dimiliki oleh setiap rumah sakit, meskipun kebutuhan akan alat-alat
tersebut semakin besar seiring dengan bertambahnya ragam
penyakit yang muncul akibat pola hidup modern.
d. Wakaf untuk obat-obatan. Lembaga wakaf dapat membuka
kesempatan berwakaf untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit
akan obat-obatan, khususnya obat-obatan bagi penyakit-penyakit
yang sifatnya permanen dan memberatkan pasien, seperti obat
bagi penyakit gula, gagal ginjal, stroke, dan lainnya.
e. Wakaf untuk pendidikan medis. Lembaga wakaf yang mengelola
lembaga kesehatan dapat membuka kesempatan berwakaf untuk
membantu mahasiswa pada fakultas kedokteran dalam berbagai
jenjangnya atau untuk meningkatkan kemampuan sumber daya
insani yang sudah tersedia di rumah sakit tersebut melalui program
studi lanjut yang dibiayai oleh dana wakaf.
f. Wakaf untuk pusat-pusat studi, penelitian, dan pengembangan
ilmu-ilmu kesehatan. Lembaga wakaf bisa membuka kantongkantong wakaf yang dimaksudkan untuk membantu program
penelitian dan pengembangan dalam bidang kesehatan, penerbitan
karya ilmiah dalam bidang kesehatan, maupun pengembangan
laboratorium kesehatan.
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
18
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
Uraian di atas memberikan informasi kepada kita bahwa wakaf
pada masa dahulu telah menjadi sumber penting bagi pendanaan layanan
kesehatan. Wakaf bukan hanya untuk mendirikan masjid atau membantu
orang-orang muslim yang miskin. Lebih dari itu, wakaf bertujuan
membantu terwujudnya kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat,
termasuk nonmuslim, bahkan manfaat wakaf juga disalurkan bagi layanan
kesehatan hewan-hewan yang sakit atau tua.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini sampai pada kesimpulan
bahwa pengelolaan dan pengembangan bandha wakaf Masjid Agung
Semarang dalam bidang kesehatan telah diwujudkan dalam dua bentuk
unit kesehatan yaitu Klinik Masjid Agung Semarang dan Klinik Masjid
Agung Jawa Tengah. Selain itu, di atas tanah bandha wakaf telah
direncanakan untuk didirikan Rumah Sakit Islam Masjid Agung Semarang
yang diharapkan menjadi layanan kesehatan yang dapat membantu
masyarakat secara umum, khususnya di wilayah Kota Semarang dan
sekitarnya. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa meskipun
layanan kesehatan telah berhasil direalisasikan, peran wakaf produktif dari
aset-aset wakaf yang dimiliki Masjid Agung Semarang terhadap layanan
dalam bidang kesehatan tersebut belum dapat dirasakan. Artinya,
masyarakat yang bermaksud memanfaatkan layanan kesehatan tersebut
tidak menemukan perbedaan secara signifikan antara lembaga kesehatan
yang dikelola oleh lembaga wakaf dan lembaga kesehatan umum yang
dikelola selain lembaga wakaf.
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
19
Nurodin Usman, Pengelolaan Wakaf Produktif Untuk Kesehatan
DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari, dan Donni Juni Priansa, 2009, Manajemen Bisnis Syariah,
Bandung: Penerbit Alfabeta.
Al-Barry, M. Dahlan. Y, dan Yacub, L.Lya Sofyan, 2003, Kamus Induk
Istilah Ilmiah, Surabaya: Penerbit Target Press.
Djunaidi, Ahmad, dkk, 2008, Strategi Pengembangan Wakaf Tunai di
Indonesia, Jakarta: Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf
Depag RI
Emir, 2012, Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Hammad, Nazih, 1995, Mu‟jam al-Mustalahat al-Iqtisadiyyah fi Lugati alFuqaha, Virginia: al-Ma‟had al-„Alami li al-Fikri al-Islami
MAJT, Tim Peneliti, 2008, Sejarah Masjid Besar Kauman Semarang dan
Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang: MAJT Press.
Manzur, Ibn , t.th., Lisan al-„Arab, Dar al-Ma‟arif.
Mubarok, Jaih, 2008, Wakaf Produktif, Bandung: Simbiosa Rekatama
Media.
Putra, Nusa, 2013, Metode Penelitian Kualitatif Manajemen, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Qahaf, Munzir, 2006, al-Waqf al-Islami: Tatawwuruhu, Idaratuhu,
Tanmiyyatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr.
Yusuf, Agus Fathuddin, 2000, Melacak Banda Masjid yang Hilang,
Semarang: Aneka Ilmu.
M U A D D I B Vol.04 No.02 Juli-Desember 2014 ISSN 2088-3390
20
Fly UP