...

02. B.IND. KLS 7 BAB 1

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

02. B.IND. KLS 7 BAB 1
1
Belajar dari Pengalaman
A. Menceritakan Pengalaman yang Paling Mengesankan
B. Membaca Cepat dan Menyimpulkan Isi Bacaan
C. Menulis Pantun
1
Belajar dari Pengalaman
Amatilah semua acara reality show di televisi. Hampir semua acara
tersebut mengharuskan semua peserta untuk dapat bercerita. Nah, pada
pembelajaran ini kamu pun akan belajar bercerita yang baik, runtut, mudah
dipahami, dan pengalaman yang kamu ceritakan dapat diambil hikmahnya
oleh para pendengar. Kemampuanmu bercerita akan lengkap apabila kamu
juga memiliki pengetahuan yang luas melalui kegiatan membaca. Dalam
pembelajaran ini kamu akan belajar membaca cepat sekaligus belajar menarik
simpulan dari teks yang kamu baca. Keterampilan berbahasamu akan lengkap
jika kamu juga bisa bersastra, yaitu menulis pantun. Kemampuanmu dalam
menulis pantun ini akan memberi nilai tambah penampilanmu dalam berbahasa
lisan di depan umum karena pantun dapat dimanfaatkan untuk menghangatkan
suasana.
A. Bercerita tentang Pengalaman yang Paling Mengesankan
Tidak ada pengalaman yang sia-sia. Ada pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru
terbaik. Ini berarti kita dapat belajar dari pengalaman, baik pengalaman yang kita alami sendiri maupun
pengalaman orang lain. Agar kamu dapat menceritakan pengalamanmu yang paling mengesankan
dengan menggunakan pilihan kata dan ungkapan peribahasa yang menarik, kamu akan melakukan
serangkaian aktivitas berikut: (1) mengamati contoh pengalaman yang mengesankan, (2) menemukan
ciri pengalaman yang mengesankan, (3) memilih pengalamanmu yang paling mengesankan untuk
kamu ceritakan, (4) membuat kerangka cerita, dan (5) menyampaikan cerita yang telah kamu susun
kerangkanya tersebut secara lisan dengan memberdayakan ungkapan/peribahasa.
2
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
1.
Mengamati Contoh Pengalaman yang Mengesankan
Kita dapat belajar mengungkapkan pengalaman yang mengesankan dengan
membaca contoh berikut!
Pengalaman 1)
Watashiwa wa …
Aku bersemangat sekali ikut kursus bahasa Jepang di Surabaya karena di samping tertarik
dengan huruf-hurufnya, kudengar tempat kursus yang kutuju juga mempunyai sensei (guru) orang
Jepang. Hari itu kami masuk kelas dengan gembira. Pada saat awal kami diberitahu oleh petugas
administrasi bahwa di kelas kami ada dua nama yang sama, yaitu: Joko Bagus. Oleh sebab itu,
petugas kemudian menambahkan inisial A dan B pada akhir kedua nama itu.
Pelajaran pertama diisi oleh sensei dari Jepang. Dia mengajak kami untuk saling
memperkenalkan diri dengan memberikan contoh. Pertama, dia mencontohkan dengan
memperkenalkan diri sendiri. Setelah itu, dia melihat daftar presensi dan mulai membaca
nama yang ada untuk contoh. Dia katakan: “Watashi wa Larasati des, dozoo yoroshiku”. Kami
mengangguk-angguk tanda mengerti. Setelah itu dia membaca presensi lagi dan mengatakan,
“Watashi wa, Joko Bagus Be des…” (baca: watashi wa joko bagus bedes) sampai di situ sontak
kami tertawa riuh bahkan ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Joko Bagus pun menggerutu dan
bergumam dengan bahasa Suroboyo-an: “Aduuuh…mosok, bagus-bagus ngene dikira bedes,
Rek” (‘Masak, cakep-cakep begini dikira kera.’), Tawa kami pun semakin meledak dan sensei
kami akhirnya ikut tersenyum-senyum walaupun wajahnya terlihat bingung (KL, Ajisai, Vol.1, No.1,
Oktober 2002 dalam Kisyani, 2004).
Pengalaman 2)
Perjuangan Menjadi Finalis Pildacil
Teman, namaku Trismunandar, kelas 5 SD. Aku ditunjuk oleh pihak sekolah untuk mengikuti
Pildalcil, yaitu pemilihan dai cilik ke-3 di Lativi. Audisi di Yogyakarta dilaksanakan Januari lalu. Saat
itu aku memilih tema tentang akhlak manusia. Aku grogi banget sampai lupa dan mengulang dua
kali. Sebulan kemudian aku dipanggil kepala sekolah untuk mengikuti final Pildacil di Jakarta.
Teman, aku menangis sedih, karena aku buta dan membuatku tidak percaya diri. Rasa
rendah diri terus menghantuiku. Aku takut, di Jakarta nanti tidak punya teman. Tapi, guru, temanteman dan keluargaku terus memompa semangatku.
Didampingi ibu, aku berangkat ke Jakarta. Di tempat karantina aku merasa tidak kerasan
dan meminta Ibu untuk mengajakku pulang saja ke rumah. Namun Ibuku dengan sabar terus
menasihatiku.
Teman, ternyata dugaanku selama ini salah, keenam belas finalis lain selalu menghibur
dan berkawan akrab denganku. Mereka tidak memandang sebelah mata terhadap keadaanku
1
Belajar dari Pengalaman
3
yang buta. Aku semakin kerasan dan tumbuh rasa percaya diriku. Aku juga semakin berani tampil
di depan lensa kamera karena dibimbing kakak-kakak pembina. Setiap hari jadwal kegiatanku
sudah ditentukan, seperti membaca materi, hapalan, kegiatan sosial, dan juga jalan-jalan lho!
Sebenarnya aku tidak memiliki pengalaman berceramah, paling-paling cuma menjadi
pewara atau MC di sekolah. Pengalamanku menjadi anggota Junior Yaketonis Band sebagai
pemegang keyboard dan sering diundang tampil di berbagai acara dan sekaligus memenangkan
beberapa kejuaraan di Yogyakarta mudah-mudahan bisa menambah rasa percaya diriku dan
doakan ya mudah-mudahan dapat mengantarku menjadi juara.
Aku menyesal telah meratapi keadaanku. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala
kekhilafanku ini. Amin
Dikutip dengan beberapa perubahan dari Mentari, Edisi 320 tahun XXIV 2006
Pelajaran Nenek Penjual Sapu
Seorang teman menceritakan kekagumannya pada
seorang nenek yang mangkal di depan Pasar Godean,
Sleman, Yogyakarta. Ketika itu hari Minggu, saat dia dan
keluarganya hendak pulang usai silaturahmi bersama
kerabat, mereka melawati pasar Godean. Ibu dari teman
saya tergoda memebeli ayam goreng di depan pasar untuk
sajian makan malam. Kebetulan hari mulai gelap.
Di samping warung ayam goreng tersebut ada
seorang nenek berpakaian lusuh bak pengemis, duduk bersimpuh tanpa alas, sambil merangkul
tiga ikat sapu ijuk. Keadaannya terlihat payah, lemah, dan tak berdaya. Setelah membayar ayam
goreng, ibu teman saya bermaksud memberi Rp1.000,00 karena iba dan menganggap nenek itu
pengemis. Saat menyodorkan lembaran uang tadi, tidak diduga si nenek malah menunduk kecewa
dan menggeleng pelan. Sekali lagi diberi uang, sekali lagi nenek itu menolak.
Penjual ayam goreng kebetulan melihat kejadian itu kemudian menjelaskan bahwa nenek
itu bukanlah pengemis, melainkan penjual sapu ijuk. Paham akan maksud keberadaan sang nenek
yang sebenarnya, ibu teman saya akhirnya memutuskan membeli tiga sapunya yang berharga
Rp1.500,00 per ikat, meskipun ijuknya jarang-jarang dan tidak bagus, ikatannya pun longgar.
Setelah menerima uang Rp5000,00 si nenek tampak ngedumel sendiri. Ternyata tidak
punya kembalian. “Ambil saja uang kembaliannya,” kata ibu dari teman saya. Namun, si nenek
ngotot untuk mencari uang kemablian Rp500,00. Dia lalu bangkit dan dengan susah payah menukar
uang di warung terdekat.
Ibu teman saya terpaku melihat polah sang nenek. Sesampainya di mobil, ia masih
terus berpikir, bagaimana mugnkin di zaman sekarang masih ada yang begitu jujur, mandir, dan
mempunyai harga diri yang begitu tinggi.
Sumber: Intisari, Agustus 2004
4
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
2.
Menemukan Ciri Pengalaman yang Mengesankan
Setelah kamu membaca tiga contoh pengalaman tersebut, kemudian diskusikanlah
jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kelompokmu masing-masing!
Pertanyaan Pemandu Diskusi
a.
Apakah yang dimaksud dengan pengalaman mengesankan menurut kelompokmu?
b.
Apakah pengalaman mengesankan itu dapat berisi peristiwa: lucu atau kocak,
menyedihkan, menyenangkan, atau menegangkan?
c.
Menurut kelompokmu manakah pengalaman yang mengesankan dari bacaan
tersebut?
d.
Berikan alasan mengapa mengesankan?
e.
Aspek-aspek apa yang membuat kelompokmu terkesan?
f.
Selain dari segi isi yang diceritakan, apakah pengalaman mengesankan juga dapat
dilihat dari cara menceritakan dan bahasa yang digunakan?
g.
Apakah penggunaan ungkapan atau peribahasa dapat menambah kemenarikan
cerita tersebut?
h.
Catatlah ungkapan atau peribahasa yang terdapat pada contoh-contoh itu dan
temukan maknanya!
Pengalaman pribadi adalah peristiwa yang pernah dialami diri sendiri.
Pengalaman pribadi yang mengesankan adalah peristiwa yang
pernah dialami diri sendiri dan sulit dilupakan.
3.
Mengidentifikasi Beragam Pengalaman yang Mengesankan
Setelah kamu mengamati beragam contoh pengalaman yang mengesankan
tersebut, secara individual daftarlah beberapa pengalamanmu yang berkesan selama
ini!
Contoh:
Kejutan di pesta ulang tahunku
Bajuku sama dengan baju temanku
Menerima surat dari teman sekelas
Memperoleh NUN tertinggi
Pandangan pertama yang tak bisa kulupakan
1
Belajar dari Pengalaman
5
Pilihlah satu pengalaman yang menurutmu paling mengesankan untuk kamu
ceritakan!
4.
Menyusun Kerangka Cerita
Kembangkanlah kerangka cerita dari pengalaman yang telah kamu pilih tersebut
dengan mengurutkan peristiwa-peristiwa yang kamu alami!
Contoh:
§
Ayah dan ibu pergi pada hari ulang tahunku
§ Aku sedih, kecewa, dan marah
Kejutan di pesta
ulang tahunku
§
Pulang sekolah suasana rumah sepi
§ Aku curiga banyak hiasan di ruang makan
§ Ternyata semua keluarga berkumpul dan
membuat kejutan untukku
5.
Menyampaikan Pengalaman secara Lisan
Ceritakanlah secara lisan pengalaman yang telah kamu susun kerangkanya
tersebut! Perhatikan bagaimana kamu memulai cerita, mengembangkan inti cerita,
dan mengakhiri cerita! Jangan lupa selipkan ungkapan atau peribahasa agar ceritamu
menjadi lebih menarik/berkesan!
6.
Menilai Kemampuan Menceritakan Pengalaman yang Mengesankan
Nilailah kemampuan temanmu yang sedang bercerita dengan menggunakan
pedoman penilaian atau rubrik berikut!
Rubrik Penilaian Kemampuan Menceritakan Pengalaman
NO.
1.
ASPEK
PENILAIAN
Isi
DESKRIPSI
a.
b.
6
Apakah isi menarik dan ada
hikmah dari pengalaman yang
diceritakan temanmu?
Apakah ada kesesuaian antara
kejadian satu dan kejadian
berikutnya?
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
YA
TIDAK
2.
Penggunaan
Bahasa
a.
b.
c.
3.
Kelancaran
6)
7)
B.
Apakah kalimat-kalimat yang
digunakan dapat kamu pahami!
Apakah pilihan kata yang
digunakan tepat?
Apakah dengan pilihan kata
dan kalimat yang digunakan
mampu menarik perhatian
pendengar?
Apakah temanmu bercerita
dengan lancar, tidak tersendat?
Apakah dari tatapan mata dan
gerak tubuhnya, tercermin rasa
percaya diri yang kuat?
Membaca Cepat dan Menyimpulkan Isi Bacaan
Kecepatan membaca terkait erat dengan pemahaman terhadap bacaan. Seseorang yang dapat
menyelesaikan bacaan dalam waktu yang cepat, tetapi sedikit sekali yang dapat dipahami dari bacaan
itu, maka ia tidak dapat dikategorikan sebagai pembaca cepat. Demikian juga seseorang yang dapat
memahami bacaan dengan baik, tetapi kecepatan membacanya sangat lambat, juga tidak dapat
dikategorikan sebagai pembaca cepat.
Nah, apakah kamu termasuk pembaca cepat? Untuk mengetahui jawabannya, cobalah kamu
ikuti serangkaian kegiatan berikut: (1) mengidentifikasi manfaat membaca cepat, (2) membaca sambil
menghitung waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan bacaan, (3) menjawab pertanyaan terkait
dengan isi bacaan, (4) mengukur kecepatan membaca, (5) membuat simpulan isi bacaan, dan (6)
berlatih meningkatkan kemampuan membaca, (7) mencatat perkembangan kemampuan membaca, dan
(8) mengidentifikasi kata dasar dan imbuhan.
1.
Menemukan Manfaat Membaca Cepat
Seberapa seringkah kamu melakukan kegiatan membaca dalam sehari? Sebagai
pela jar, kamu tentu setiap hari melakukan kegiatan membaca. Bacaan apa saja yang
kamu baca? Berilah tanda √ pada bacaan yang sering atau pernah kamu baca!
1
Belajar dari Pengalaman
7
No.
Jenis Bacaan
1.
Buku Pelajaran
2.
Novel
3.
Cerpen
4.
Komik
5.
Majalah
6.
Koran
Pernah/Sering
Dari bacaan-bacaan tersebut, manakah yang harus dibaca dengan cepat? Mengapa
harus dibaca dengan cepat? Berikan alasan!
2.
Menghitung Waktu Membaca
Bacalah bacaan berikut ini!
Hitunglah berapa detik kamu menyelesaikan bacaan berikut!
Waktu mulai
: ………………..….
Waktu selesai
: ……………………
ORANG-ORANG BUTA DAN SEEKOR GAJAH
Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor
gajah. Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan,
saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang
paling benar, sementara ajaran agama lain salah. Setelah Budha wafat, ceritera ini tersebar tidak
hanya di India saja, tetapi juga di negara dan budaya lain, ceritera ini dikenal dan diceritakan.
Sampai saat ini, cerita ini masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.
Suatu ketika, seorang raja di India utara memerintahkan pegawai-pegawainya untuk
mengumpulkan orang-orang yang buta sejak lahir ke istana kota raja. Sang raja juga
memerintahkan pegawainya untuk membawa seekor gajah ke istana. Orang-orang buta ini
sepanjang hidupnya belum pernah sama sekali mengerti apa itu gajah. Mereka tidak tahu seperti
apakah gajah itu. Sekarang, sang raja memerintahkan mereka untuk menyentuhnya. Mereka
hanya diperbolehkan menyentuh bagian-bagian tertentu saja, bukan gajah secara keseluruhan.
Setelah beberapa waktu menunggu, mereka dipersilahkan mengatakan, bagaimana dan apa itu
gajah.
8
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
www.wordinfo.info
Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan
gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah
balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu
yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya membandingkannya dengan
sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan selang
air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia
membandingkan seekor gajah dengan tali tambang yang sudah rusak.Masing-masing dari
mereka memiliki penjelasannya sendiri tentang seekor gajah.
Oleh karena gambaran mereka tentang gajah berbeda, mulailah mereka bertengkar.
Masing-masing sangat yakin bahwa hanya penjelasannyalah yang paling benar dan
kepunyaan yang lainnya salah. Akhirnya mereka saling berantem dan dengan demikian sang
raja terhibur.
Siapakah yang salah dan siapakah yang benar? Adakah seorang dari mereka memiliki
kebenaran? Yang pasti sang rajalah yang salah karena telah mempermainkan orang buta. Bagi
orang-orang buta sejak lahir, sangatlah sulit mendeskripsikan gajah tanpa merabanya secara
utuh. Masing-masing dari mereka telah menggambarkan dengan tepat apa yang mereka
rasakan. Mereka telah melakukannya dengan benar. Masing-masing mengatakan kebenaran.
Tak seorang pun berbohong karena mereka hanya diperbolehkan meraba bagian-bagian
tertentu saja.
Kesalahan dari masing-masing orang buta tersebut bukan soal kualitas dari
penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan
menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa
masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja.cara keseluruhan.
1
Belajar dari Pengalaman
9
Kesalahan dari masing-masing orang buta tersebut bukan soal kualitas dari penjelasannya,
melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan menganggap
penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa masing-masing hanya
menjelaskan satu bagian saja.
Bayangkan seumpama satu di antara mereka seorang ilmuwan, maka ia akan mencari
penyelesaian dengan gaya para ilmuwan, yaitu dengan metode persentase atau statistik. Ia akan
segera mendata berapa banyak orang buta yang membandingkan dengan selang air, berapa persen
yang membandingkannya dengan gelondongan kayu, dan seterusnya.
Akhirnya ia memperoleh hasil sebagai berikut: 40% membandingkannya dengan gelondongan
kayu, 20% dengan batang kayu yang bulat dan halus, dan masing-masing 10% dari mereka yang
membandingkannya dengan panci besar, sebuah balon, selang air dan tali tambang yang rusak.
Sangat logis bukan? Seekor gajah memiliki 4 kaki besar seperti gelondong kayu (40%) dan 2 taring
(20%), Sedangkan untuk kepala, belalai, perut dan ekor hanya 1 (10%). Sebagaimana para ilmuwan
meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, cenderung yakin bahwa mayoritas adalah
kebenaran, maka ia menyatakan bahwa seekor gajah itu seperti gelondongan kayu karena hampir
setengah menyatakannya. Jadi di dalam kasus ini, mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.
Oleh sebab itu, hanya ada satu pemecahan dari persoalan ini. Orang-orang buta yang hanya
meraba bagian-bagian tertentu tersebut harus bekerja sama. Mereka harus bekerja seperti merangkai
gambar dari sebuah gambar yang telah dipotong-potong. Lantas katakanlah, seekor gajah itu terdiri
dari 4 gelondongan kayu, 2 batang kayu yang bulat dan halus, 1 balon, 1 panci, 1 selang air dan satu
tali tambang buntut. Dengan demikian, mereka akan mampu memperolah gambaran tentang seekor
gajah secara keseluruhan. Mereka harus menghentikan perselisihan dan bekerja sama. Mereka harus
menyatukan gambaran masing-masing dengan gambaran yang didapat temannya. Mereka harus mau
belajar dari yang lain. Masing-masing harus menerima dan memahami bahwa ada kebenaran dari
penjelasan orang lain. Masing-masing harus mempertimbangkan bahwa mereka bukan satu-satunya
pemaham kebenaran.
Barangsiapa mau membagi pengetahuan dengan orang lain, ia tak akan sedikit pun kehilangan.
Justru sebaliknya, jika pengetahuan dibagi, pengetahuannya tidak akan berkurang melainkan bertambah.
Kita manusia memang seperti dongeng orang-orang buta ini. Kita tetap buta, kita mirip mereka ini.
1)
Kita hanya mengambil sebagian (secuil) dari keseluruhan sebuah kenyataan.
2)
Kita hanya memahami sebagian (secuil) dari kekompleksan sebuah kenyataan.
3)
Kita hanya memegang sebuah pengertian yang terbatas dari seluruh kenyataan.
4)
Kita hanya ingin selalu melawan dan menentang apa yang berbeda dari kita.
5)
Kita berjuang mati-matian mempertahankan pernyataan kita sebagai satu-satunya kebenaran.
6)
Kita hanya ingin tampak pandai dengan perselisihan, bukan belajar.
7)
Kita harus bertindak ini (menerima, mendengarkan, dan memahami apa yang dikatakan orang
lain), jika kita ingin mengetahui lebih banyak.
Sankt Augustin, 151204
sarikata.com
10
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
3.
Menjawab Pertanyaan Bacaan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut secara tepat tanpa harus melihat teks!
1.
Cerita tentang Orang-orang Buta dan Seekor Gajah itu pada mulanya diceritakan oleh
….
A. Sang raja di India
B. Sang Budha
C. pegawai Istana
D. tersebar begitu saja dari mulut ke mulut
2.
Cerita "Orang-orang Buta dan Seekor Gajah" itu pada mulanya diceritakan sebagai
salah satu bentuk ….
A. ajaran Sang Budha
B. hiburan Raja
C. humor
D. lelucon dari mulut ke mulut
3.
Tujuan utama Cerita Orang-orang Buta dan Seekor Gajah itu diciptakan adalah untuk
menyadarkan kita agar ….
A. tidak main hakim sendiri
B. tidak saling berselisih mempersoalkan kebenaran ajarannya dan memandang
ajaran lain salah
C. tidak suka mempermainkan binatang yang dianggap suci.
D. tidak mudah diadu domba oleh orang yang tidak bertanggung jawab
4.
Pernyataan berikut manakah yang sesuai dengan teks tersebut?
A. Ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, sehingga
mayoritas cenderung sebagai sebuah kebenaran.
B. Kelima orang buta itu membandingkan seekor gajah dengan gelondongan kayu,
batang kayu yang bulat dan halus, panci besar, dan sebuah balon.
C. Kita harus mengambil sebagian dari keseluruhan sebuah kenyataan.
D. Mayoritas bukanlah sebuah kebenaran.
5.
Kesalahan apakah yang dibuat oleh orang-orang buta?
A. Soal kualitas dari penjelasannya yang tidak masuk akal.
B. Mereka saling memaksakan kehendaknya, seolah jawabannyalah yang paling
benar.
C. Karena pada dasarnya, mereka sejak lahir tidak pernah melihat gajah.
D. Karena orang-orang buta itu tak memiliki pengetahuan yang baik.
1
Belajar dari Pengalaman
11
6.
Simpulan yang paling tepat dari isi bacaan tersebut adalah ….
A. tidak menganggap diri paling benar
B. orang harus belajar dari kelebihan orang lain
C. jika pengetahuan dibagi, pengetahuan tidak akan berkurang melainkan bertambah.
D. mayoritas adalah kebenaran
7.
Manakah dari pernyataan di bawah ini yang tidak termasuk penjelasan
dari orang-orang buta mengenai gajah?
A. Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan
gelondong kayu
B.
Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah
balon
C. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang
kayu yang bulat dan halus
D. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan sebuah
tali.
8.
Kejadian dalam cerita tersebut dapat diidentikkan dengan perilaku kita, kecuali ….
A. hanya mengambil sebagian dari keseluruhan sebuah kenyataan
B.
hanya memahami sebagian dari kekompleksan sebuah kenyataan
C. hanya memaegang sebuah pengertian yang terbatas dari seluruh kenyataan
D. hanya ingin selalu dihargai dan menghargai orang lain
9.
Penulis cerita yang berjudul “Orang-orang Buta dan Seekor Gajah” adalah….
A. Sankt Augustin
B.
Gendhotwukir
C. Walter Krahe
D. S.G Goodrich
10.
Manakah pesan berikut ini yang sesuai dengan cerita Orang-orang Buta dan Seekor
Gajah tersebut?
A. Barang siapa mau berusaha, pastilah ia akan mendapatkan jalan
B.
Setiap manusia harus mau saling bekerja sama
C. Kemayoritasan merupakan suatu kebenaran
D. Perbedaan pendapat selalu menyebabkan pertikaian.
KUNCI JAWABAN : (Lihat Lampiran di bagian akhir unit ini)
12
Skor per butir soal
: 10
Skor Maksimal
: 100
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
4.
Mengukur Kecepatan Membaca
Ukurlah kecepatan membacamu dengan rumus menghitung kecepatan membaca per
menit untuk melihat apakah kecepatan membacamu bagus atau perlu peningkatan.
Rumus Menghitung Kecepatan Membaca
K
B
(60) x
Wd
Sm
= ... Kpm
Keterangan:
K
: jumlah kata yang dibaca
Wd : waktu tempuh baca (dalam detik)
B
: skor yang diperoleh
Sm : skor maksimal
Kpm : kecepatan membaca per menit
Keterangan
- Kecepatan membaca per menit (Kpm) >200 berarti kemampuan
membaca cepatmu sudah bagus
- Kecepatan membaca per menit (Kpm) <200 berarti kemampuan
membaca cepatmu perlu ditingkatkan
Contoh perhitungan:
Diketahui
K
: 352 kata
Wd : 65 detik
B
: 80
SM : 100
Maka:
Kpm = (K/Wd X 60) X (B/Sm)
(352/65 X 60) X (80/100)
(324, 92) X (80/100)
= 259,934
1
Belajar dari Pengalaman
13
5.
Membuat Simpulan Isi Bacaan
Membuat simpulan isi bacaan berarti mengambil intisari bacaan. Dalam sebuah
paragraf eksposisi atau argumentasi, simpulan paragraf biasanya tercermin pada
kalimat topik. Oleh sebab itu, simpulan berkaitan dengan ide pokok paragraf.
Perhatikan contoh berikut!
Contoh
Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor
gajah. Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan,
saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang
paling benar, sementara ajaran agama lain salah. Setelah Budha wafat, ceritera ini tersebar tidak
hanya di India saja, tetapi juga di negara dan budaya lain, ceritera ini dikenal dan diceritakan.
Sampai saat ini, cerita ini masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.
Simpulan:
Cerita tentang orang-orang buta dan seekor gajah masih menjadi bacaan wajib
dalam buku-buku pelajaran di sekolah.
Buatlah simpulan dari tiap paragraf berikut!
Suatu ketika, seorang raja di India utara memerintahkan pegawai-pegawainya
untuk mengumpulkan orang-orang yang buta sejak lahir ke istana kota raja. Sang raja
juga memerintahkan pegawainya untuk membawa seekor gajah ke istana. Orang-orang
buta ini sepanjang hidupnya belum pernah sama sekali mengerti apa itu gajah. Mereka
tidak tahu seperti apakah gajah itu. Sekarang, sang raja memerintahkan mereka untuk
menyentuhnya. Mereka hanya diperbolehkan menyentuh bagian-bagian tertentu
saja, bukan gajah secara keseluruhan. Setelah beberapa waktu menunggu, mereka
dipersilahkan mengatakan, bagaimana dan apa itu gajah.
Simpulan:
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan
gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya
dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya
dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya
membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya
membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba
bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor gajah dengan tali
tambang yang sudah rusak. masing-masing dari mereka memiliki penjelasannya
sendiri tentang seekor gajah.
14
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
Simpulan:
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
Kesalahan dari tiap-tiap orang buta tersebut bukan soal kualitas dari
penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan
dan menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki
gagasan bahwa masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja. Seandainya
mereka sadar bahwa mereka hanya menjelaskan satu bagian saja, sebenarnya mereka
mampu mengerti kebenaran gajah secara keseluruhan.
Simpulan:
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
6.
Berlatih Meningkatkan Kecepatan Membaca
Kamu tentu sudah tahu manfaat membaca cepat. Sekarang, tingkatkan
kemampuan membaca cepatmu dengan mencatat perkembangan dalam satu bulan.
Berikut adalah tips untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat.
a.
Membiasakan banyak membaca
Biasakanlah membaca seperti makan. Jika sehari saja tidak makan, maka badan
kita akan lemas. Begitu juga dengan membaca, jika sehari saja tidak membaca,
kita akan merasa “lapar”. Banyaklah membaca segala jenis buku, namun mulailah
dari jenis buku yang kamu suka. Misalnya cerpen, novel, dsb.
b.
Membaca dengan teknik yang tepat
Hindari membaca dengan bersuara!
c.
Meningkatkan konsentrasi
7.
Mencatat Perkembangan Kemampuan Membaca Cepat
Untuk mencatat perkembangan kemampuan membaca cepatmu, lakukanlah
kegiatan berikut ini!
a.
Catatlah judul buku apa saja yang telah kamu baca dalam satu minggu!
b.
Catat juga nama pengarang masing-masing buku yang telah kamu baca!
c.
Hitunglah berapa jam waktu yang kamu perlukan untuk menyelesaikan membaca
buku-buku tersebut sampai selesai!
1
Belajar dari Pengalaman
15
8.
Mengidentifikasi Kata Dasar dan Imbuhan
Cobalah kamu baca kembali kalimat berikut!
Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta
dan seekor gaja.
Kalimat tersebut terdiri atas dua belas kata. Jika kamu amati dengan saksama,
dari kedua belas kata tersebut terdapat tiga kata berimbuhan, yaitu:
menceritakan
sebuah
seekor
Kata sebuah berasal dari kata dasar buah dan mendapatkan imbuhan berupa
awalan, yaitu se-. Demikian juga dengan kata seekor, berasal dari kata dasar ekor dan
awlan se-.
Pada sisi lain kata awal menceritakan berasal dari kata ceritakan dan mendapat
awalan meN-. Kata ceritakan berasal dari kata dasar cerita dan mendapatkan akhiran
–kan.
Coba kamu bandingkan dengan kata keagamaan dalam kalimat berikut!
Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan, saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan
hanya ajarannya sendiri yang paling benar, sementara ajaran agama lain
salah.
Kata keagamaan berasal dari kata agama dan mendapatkan konfiks (gabungan
imbuhan dan akhiran yang mengapit kata dasar secara serentak dan membentuk satu
kesatuan), yaitu ke-an. Kata keagamaan tidak berasal dari kata agamaan dan awalan
ke-, karena tidak ada kata agamaan dalam bahasa Indonesia.
Nah, dari uraian tersebut dapat kamu temukan bahwa afiks atau imbuhan dalam
bahasa Indonesia ada beberapa macam, yaitu:
a.
awalan (prefiks) adalah imbuhan yang diletakkan di muka kata dasar;
b.
akhiran (sufiks) adalah imbuhan yang diletakkan di belakang kata dasar;
c.
konfiks adalah imbuhan yang mengapit kata dasar secara serentak dan membentuk
satu kesatuan; dan
16
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
d.
sisipan (infiks) adalah imbuhan yang disisipkan di tengah kata dasar, misalnya
kata kinerja berasal dari kata kerja dan mendapat sisipan –in-.
Identifikasilah kata-kata berimbuhan yang terdapat pada paragraf berikut!
Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan
gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya
dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya
dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba
kepalanya membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah
meraba belalainya membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain
yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor
gajah dengan tali tambang yang sudah rusak.
C. Menulis Pantun
Pantun adalah wujud konkret warisan budaya leluhur yang harus kita lestarikan. Coba kamu amati
kegunaan pantun dalam kehidupan kita sehari-hari: di radio, di televisi, atau di media cetak! Coba kamu
sebutkan beberapa lagu yang di dalamnya terdapat bait-bait pantun! Nah, ternyata hampir semua acara
di radio/televisi selalu menggunakan pantun sebagai media untuk memperindah /menghangatkan acara.
Melihat begitu banyak kegunaan pantun dalam kehidupan kita, pada pembelajaran ini kamu akan belajar
menulis pantun. Agar kamu dapat menulis pantun yang memenuhi syarat-syarat pantun, lakukanlah
aktivitas berikut: (1) dapat menemukan ciri-ciri pantun, (2) menemukan jenis-jenis pantun, (3) menyanyikan
lagu berbentuk pantun, (4) melengkapi pantun yang rumpang, dan pantun karmina (dua baris) (5) adu
cepat berbalas pantun.
1.
Menemukan Ciri Pantun
Bacalah contoh pantun berikut!
Contoh pantun
Jual pepaya dengan kandil
Kandil buatan orang Inggris
Melihat buaya menyandang bedil
Sapi dan kerbau tegak berbaris
1
Belajar dari Pengalaman
17
Anak bakau di rumpun salak
Patah taruknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca-mata
Pohon manggis pohon embacang
Ketiga dengan pohon lulita
Duduk menangis abang pincang
Katanya jalan tidak rata
Kalau ada sumur di ladang
Bolehkah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi
Diskusikan dengan anggota kelompokmu ciri-ciri pantun yang telah kamu baca
tersebut dengan berpedoman pada panduan diskusi berikut ini!
No.
18
Aspek
Pertanyaan Pemandu Diskusi
1.
Bentuk
• Baris
• Suku kata
• Persajakan
a.
b.
c.
d.
Berapa jumlah baris dalam satu bait?
Berapa jumlah suku kata dalam tiap baris?
Apakah yang dimaksud dengan persajakan?
Bagaimana persajakan pada tiap-tiap bait
pantun?
2.
Isi
Setiap bait pantun terdapat sampiran dan isi.
a.
Apakah yang dimaksud dengan sampiran?
b.
Apakah yang dimaksud dengan isi?
c.
Terletak di baris ke berapakah sampiran
pantun?
d.
Terletak di baris ke berapakah isi pantun?
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
2.
Menemukan Jenis-jenis Pantun
Pantun dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut tujuannya. Pertama,
pantun nasihat, yaitu pantun yang bertujuan memberi nasihat dan pesan moral. Kedua,
pantun cinta atau remaja yang bertujuan untuk mengungkapkan perasaan terkait
dengan masalah cinta. Ketiga, pantun jenaka yang hanya bertujuan untuk menghibur
atau berkelakar.
Klasifikasikanlah pantun-pantun berikut sesuai dengan jenisnya, kemudian
berilah alasan!
Pantun 1
Pulau pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik dikenang juga
Pantun 2
Pohon manggis di tepi rawa
Tempat kakek 1 tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat kakek bermain gundu
Pantun 3
Dari mana datangnya lintah
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke kali
Pantun 4
Tanam jerangau di bukit tinggi
Mati dipijak anak badak
Melihat sang bangau sakit gigi
Gelak terbahak penghulu katak
Pantun 5
Anak bakau di rumpun salak
patah taruknya6 ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca mata
1
Belajar dari Pengalaman
19
Format Panduan Diskusi
Nomor
Pantun
No.
1.
Pantun 1
2.
Pantun 2
Jenis Pantun
dst.
3.
Menyanyikan Lagu Berbentuk Pantun
Nyanyikan lagu di bawah ini secara bersama-sama!
CINDAI
Penyanyi: Siti Nurhaliza
Cindailah mana tidak berkias
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu
Mendendam unggas liar di hutan
Jalan yang tinggal jangan berliku
Tilamku emas cadarnya intan
Berbantal lengan tidurku
Hias cempaka kenanga tepian
Mekarnya kuntum nak idam kumbang
Puas kujaga si bunga impian
Gugurnya sebelum berkembang
Hendaklah hendak hendak kurasa
Puncaknya gunung hendak ditawan
Tidaklah tidak tidak kudaya
Tingginya tidak terlawan
Janganlah jangan jangan kuhiba
Derita hati jangan dikenang
Bukanlah bukan bukan kupinta
Merajuk bukan berpanjangan
Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi
20
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
Alasan
Gurindam lagu bergema takbir
Tiung bernyanyi pohonan jati
Bertanam tebu di pinggir bibir
Rebung berduri di hati
Laman memutih pawana menerpa
Langit membiru awan bertali
Bukan dirintih pada siapa
Menunggu sinarkan kembali
Setelah kamu menyanyikan lagu tersebut, coba kelompokkan mana yang
termasuk sampiran dan mana yang termasuk isi. Kemudian, carilah maksud/arti isi
pantun tersebut!
Panduan Diskusi
Bait
1
Sampiran
Cindailah mana tidak
berkias/
Jalinnya lalu rentah beribu
Isi
Arti Isi
Bagailah mana
hendak berhias/
Cerminku retak
seribu
Bagaimana mau
bercermin, kalau
cermin kita pecah
berkeping-keping.
dst.
4.
Melengkapi Pantun
Lengkapilah rumpang pada pantun berikut!
Dari Yogya pergi ke Malang
Naik bus melewati Batu
……………………………...
………………………………
Beli obat di warung Pak Syukri
Pulangnya singgah ke pasar kembang
…………………………………………….
…………………………………………….
Bang Sakur pergi ke Cibubur
Menengok kerabat yang sedang sakit
………………………………………….
…………………………………………….
Bang Jaja kepalanya botak
Bang Sueb rambutnya pirang
………………………………………….
…………………………………………….
1
Belajar dari Pengalaman
21
5.
Adu Cepat Menulis Pantun
a.
Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4 s.d. 5 siswa!
b.
Dalam waktu lima menit, buatlah paling sedikit dua bait pantun!
Perhatikan syarat-syarat yang telah kalian pelajari di atas!
c.
Tempelkan hasil terbaik kalian di majalah dinding!
6.
Menilai Pantun yang Telah Ditulis
Nilailah pantun yang ditulis oleh kelompok lain dengan menggunakan kriteria
penilaian berikut ini!
Rubrik Kemampuan Menulis Pantun
NO.
ASPEK YANG DIAMATI
SKOR
1.
Kesesuaian dengan syarat pantun dari segi bentuk (Tiap
bait terdiri atas 4 baris, tiap baris terdiri atas 8 s.d. 12 suku
kata, persajakan abab)
…5… sesuai dengan semua syarat pantun
…3… hanya sesuai dengan 2–3 syarat pantun
…1… tidak sesuai dengan semua syarat pantun
2.
Kesesuaian dengan syarat pantun dari segi isi (baris 1,2
berisi sampiran dan baris 3,4 adalah isi)
…5… sesuai dengan semua syarat pantun
…3… hanya sesuai dengan 1 syarat pantun
…1… tidak sesuai dengan semua syarat pantun
3.
Kemenarikan isi pantun
…5… isi bermakna dan bervariasi
…3… isi bermakna namun kurang bervariasi
…1… isi tidak bermakna dan tidak bervariasai
4.
Ketepatan penulisan ejaan dan tanda baca
…5… tidak ada kesalahan penulisan ejaan dan
tanda baca
…3… ada beberapa kesalahan penulisan ejaan
dan tanda baca (2–3 kesalahan)
…1… banyak kesalahan penulisan ejaan dan
tanda baca (lebih dari 3 kesalahan)
SKOR MAKSIMAL
SKOR PEROLEHAN
Lampiran 1 Unit 1
Kunci Jawaban: 1. B
22
2. A
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
3. B
4. A 5. B
20
6. A
7. C 8.D 9.A. 10.B
Rangkuman
Pada unit 1, kamu telah belajar menceritakan pengalaman yang paling mengesankan.
Dari pembelajaran ini kamu telah belajar bercerita dengan memperhatikan intonasi, dan
ekpresi. Kamu juga telah belajar membaca cepat dan menarik simpulan dari teks yang kamu
baca. Mengidentifikasi kata dasar dan kata berimbuhan juga telah kamu lakukan dalam
pembelajaran ini. Pembelajaran diakhiri dengan kegiatan bersastra, yaitu menulis pantun.
Kamu telah belajar mengenali ciri pantun, jenis-jenis pantun, melengkapi pantun yang
rumpang, dan menulis pantun.
Evaluasi
A.
Pilihlah satu jawaban yang tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b,
c, atau d!
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari pengalamanlah kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa
belajar bagaimana mengatasi masalah yang rumit, yang sulit dipecahkan. Dari pengalaman juga kita
belajar bersosialisasi menghadapi segala macam persoalan yang sangat kompleks. Seringkali tanpa
sengaja kita dapat bertindak arif dan bijak, padahal semua itu sebenarnya buah dari pengalaman
yang mungkin tidak kita sadari.
1.
Ide pokok paragraf tersebut adalah …
A. Pengalaman adalah guru yang terbaik.
B.
Kita bisa belajar dari pengalaman.
C. Kita bisa bertindak arif dari pengalaman.
D. Dari pengalaman kita bisa belajar banyak.
Kumur-kumur dengan air putih dapat membantu mencegah pilek. Menurut para ahli, kumur
dengan air putih biasa bisa mencegah pilek sampai 30%. Para periset membagi sekitar 400 orang
ke dalam 3 grup. Masing-masing berkumur dengan antiseptic, air biasa, dan tidak kumur sama
sekali. Hasilnya, grup yang kumur dengan air putih 36% lebih rendah terkena infeksi. Kumur-kumur
menurunkan risiko karena membilas virus keluar dari mulut. Selain itu, menjaga jaringan tetap
basah menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi pathogen.
Dikutip dari Majalah Aura Edisi Minggu ke-1
Tanggal 7-13 Februari 2005
1
Belajar dari Pengalaman
23
2.
Ide pokok paragraf tersebut adalah …
A. Kumur dengan air putih menurunkan risiko terkena penyakit.
B.
Kumur-kumur dengan air putih mencegah pilek.
C. Kumur-kumur dapat membilas virus keluar dari mulut.
D. Kumur-kumur berguna untuk menjaga jaringan agar tetap basah.
Kadang kita diserang rasa lapar pada malam hari yang membuat kita ingin ngemil. Untuk
mengatasinya, coba minum air putih dengan disesap secara perlahan ketimbang dalam regukan
besar pada saat makan. Minum terlalu banyak secara sekaligus mengencerkan cairan pencerna
yang dikeluarkan di dalam mulut. Mengakibatkan makanan sulit dipecah secara tepat sehingga
nutrient yang mengenyangkan banyak yang dikeluarkan ketimbang diabsorp. Minum dengan
disesap mengoptimalkan pencernaan, membuat perut dapat memproses makanan secara baik dan
mengirimkan sinyal kenyang ke otak. Hasilnya, Anda akan merasa kenyang sampai pagi hari.
Dikutip dari Majalah Aura Edisi Minggu ke-1
Tanggal 7-13 Februari 2005
3.
Simpulan paragraf tersebut adalah …
A. Mengurangi ngemil dengan cara minum air putih dengan cara disesap secara
perlahan.
B.
Kiat minum agar makanan dapat diproses dengan baik.
C. Kiat mengoptimalkan pencernaan dengan cara minum air putih dengan disesap.
D. Kiat agar tetap kenyang sepanjang hari.
Akhirnya ia memperoleh hasil sebagai berikut: 40% membanding-kannya dengan gelondongan
kayu, 20% dengan batang kayu yang bulat dan halus, dan masing-masing 10% dari mereka yang
membandingkannya dengan panci besar, sebuah balon, selang air dan tali tambang yang rusak.
Sangat logis bukan? Seekor gajah memiliki 4 kaki besar seperti gelondong kayu ( 40%) dan 2
taring ( 20%), Sedangkan untuk kepala, belalai, perut dan ekor hanya 1 ( 10%). Sebagaimana para
ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, cenderung yakin bahwa mayoritas
adalah kebenaran, maka ia menyatakan bahwa seekor gajah itu seperti gelondongan kayu karena
hampir setengah menyatakannya. Jadi di dalam kasus ini, mayoritas tidak otomatis sebuah
kebenaran.
4.
24
Tujuan utama paragraf tersebut adalah …
A. Memberikan informasi yang tidak lazim
B.
Memberikan informasi yang aneh.
C. Membuktikan bahwa pendapat mayoritas tidak secara otomatis sebuah
kebenaran.
D. Menyatakan pendapat yang sama dengan pendapat umum.
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
5.
Simpulan paragraf tersebut adalah …
A. Pendapat mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.
B.
Pendapat mayoritas otomatis sebuah kebenaran.
C. Kemayoritasan adalah sebuah kebenaran.
D. Mayoritas memegang peranan penting.
Makanan Pembunuh
Maksud judul itu bukanlah ………….yang ……………oleh pembunuh, melainkan makanan
yang dapat membunuh manusia yang ……………..
6.
Kata berimbuhan yang tepat untuk melengkapi kalimat yang rumpang tersebut adalah
…
A. makan, memakan, dimakan.
B.
makanan, dimakan, memakan.
C. makanan, memakan, memakannya.
D. makanan, dimakan, memakannya.
7.
Penulisan kata berimbuhan asing yang bergaris bawah berikut telah benar, kecuali …
A. Warga desa membangun gedung pertemuan secara swadaya.
B.
Bulan depan, mereka akan mengikuti lomba voli antarprovinsi.
C. Para tunawisma di bawah jembatan Semanggi akan ditertibkan.
D. Mereka tidak menyukai kegiatan yang bersifat nonteknis.
8.
Kalimat yang menggunakan tanda koma secara tepat adalah ....
A. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil coba minum air putih, dengan disesap secara
perlahan.
B.
Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih, dengan disesap
secara perlahan.
C. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih dengan disesap secara
perlahan.
D. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih dengan disesap,
secara perlahan.
B.
Uji Praktik
1.
Ceritakanlah pengalamanmu yang paling berkesan secara singkat (tiga menit),
dan dengan ekspresi dan intonasi yang sesuai serta bahasa yang efektif!
2.
Tulislah dua bait pantun karyamu sendiri!
1
Belajar dari Pengalaman
25
Refleksi
Setelah kamu berdiskusi, berlatih, dan melaksanakan semua kegiatan dalam
pembelajaran ini, cobalah kamu renungkan kembali apa yang telah kamu kuasai dan
belum kamu kuasai. Ungkapkan pula kesanmu terhadap pembelajaran yang telah kamu
laksanakan. Untuk itu, berikanlah tanda centang (√) pada panduan berikut ini!
No.
26
Pertanyaan Pemandu
1.
Saya dapat bercerita dengan ekspresi, intonasi yang
sesuai dan menggunakan kalimat efektif.
2.
Saya memahami perbedaan kata dasar dan kata
berimbuhan.
3.
Saya dapat menghitung kecepatan membaca saya.
4.
Saya dapat menjawab pertanyaan dari isi bacaan yang
saya baca.
5.
Saya dapat menyimpulkan isi teks yang saya baca.
6.
Saya bangga dapat menulis pantun yang memenuhi
syarat-syarat pantun.
7.
Saya dapat menilai pantun yang ditulis teman dan
saya tulis sendiri.
8.
Menurut saya, latihan-latihan dalam bab ini mudah
diikuti dan membuat saya senang belajar bahasa
Indonesia.
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII
Ya
Tidak
Fly UP