...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
STUDI FISIOLOGI TOLERANSI ENAM VARIETAS PADI TERHADAP
KERACUNAN Fe (BESI) DENGAN PENAMBAHAN K (KALIUM)
Oleh :
Riastri Sri Utari dan Bambang Hartanto
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Unsoed
ABSTRAK
Penelitian tentang respon fisiologi tanaman padi terhadap keracunan Fe dengan penambahan K telah
dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh kadar Fe terhadap kandungan Fe, K, Khlorofil a
dan b, aktivitas Nitrat Reduktase, dan Laju Akumulasi Bahan Kering dari masing-masing varietas padi serta
mendapatkan varietas padi yang toleran Fe tinggi. Tanaman padi ditanaman pada larutan Yoshida. Penelitian
telah dilaksanakan di rumah plastik Fakultas Pertanian UNSOED dari bulan Oktober sampai Desember 2007.
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi. Faktor yang dicoba tiga buah. Faktor pertama
adalah kandungan Fe dalam tanah, terdiri atas 2 ppm dan 300 ppm. Faktor kedua penambahan K, terdiri atas 4
ppm dan 40 ppm. Faktor ketiga adalah varietas, terdiri atas 6 yaitu Batang Ombilin, Pucuk, Mahsuri, Cisadane,
IR64, Memberamo. Varietas dialokasikan sebagai subplot sedangkan kombinasi Fe dan K sebagai mainplot.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman Fe menyebabkan penurunan ANR, klorofil a dan b dan akan
meningkat kembali jika ditambahkan K, terutama untuk Batang Ombilin dan Cisadane. Kandungan Fe dan K
jaringan daun masing-masing varietas ditentukan oleh cekaman Fe dan K, sementara tidak untuk LABK. Batang
Ombilin merupakan varietas yang paling toleran terhadap cekaman Fe. Sementara itu Cisadane juga merupakan
varietas yang memberikan harapan ditanam pada lahan dengan Fe tinggi asalkan ditambah K yang cukup.
Kata kunci: studi fisiologi, toleransi, keracunan Fe
ABSTRACT
Research concerning in Physiological study for Iron Toxicity adding with Potashium in Rice was
conducted. The aim of the research was to study for several physiological character such as Fe, K, chlorophyll a
and b content, Nitrate Reductase Activity (NRA), Dry Matter Acumulation Rate (DMAR) from each rice
varieties and also to get the iron tolerant rice variety. Rice planted at Yoshida medium. The research was
undertaken in the Plastic house Agriculture Faculty UNSOED started from October to Desember 2007. The
design was Split Plot Design with three factors. The first treatment was Fe content in the Yoshida medium
consisted of 2 ppm and 300 ppm. The second treatment was adding of K nutrient consisted of 4 ppm and 40
ppm. The third treatment was six varieties of rice which were Batang Ombilin, Pucuk, Mahsuri, Cisadane, IR64,
and Memberamo. Variety of rice was used as Sub Plot. Combination of Fe and K nutrient added as Main Plot.
The results showed that iron stress (iron toxicity) caused decreasing of NRA, Chlorophyll a and b content, and
would increase this characters if adding with K nutrient especially for Batang Ombilin and Cisadane. Fe and K
content in the tissue for each variety depended on both of Fe stress and K added but not for (DMAR). Batang
Ombilin was the most tolerant variety to iron stress. Cisadane was the prospective variety to be planted in the
land with have high iron toxicity if only added with K fertilizer.
Key words: physiological study, tolerance, iron toxicity
Terbatasnya produksi beras dalam negeri
PENDAHULUAN
Beras merupakan komoditas yang
sangat strategis, baik dari sisi ekonomi
maupun politis. Kebutuhan beras setiap
memaksa pemerintah harus mengimpornya
lebih dari 1 juta ton (BPS, 2005).
Gejala
kekurangan
beras
dalam
tahun terus meningkat, namun di sisi lain
negeri telah terlihat sejak tahun 1990. Pada
terjadi penyusutan lahan sawah rata-rata
periode
50.000
pertumbuhan
ha/tahun
di
pulau
Jawa.
tahun
1990
produksi
–
1999,
beras
laju
nasional
187
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
hanya 1,04%/tahun, laju pertumbuhan
kecoklatan pada ujung daun yang tua,
produktivitas padi hanya 0,06%/tahun,
kemudian berkembang menjadi merah
sementara laju pertumbuhan penduduk
kecoklatan, oranye atau kekuningan pada
sekitar
ada
seluruh daun yang selanjutnya menjadi
terobosan teknologi baru dalam usaha tani
kering dan menggulung. Akibat yang
padi, maka impor pasti akan terus terjadi
lainnya adalah anakannya sedikit, akarnya
(Taher dan Misran, 1994).
pendek kasar dan berwarna kecoklatan,
1,8%/tahun.
Jika
tidak
Sehubungan dengan hal tersebut,
selanjutnya akar akan membusuk. Gejala
untuk peningkatan produksi dimasa datang
ini
perlu
serta
pertumbuhan tanaman, tetapi umumnya
perluasan areal tanam pada lahan-lahan
pada saat berbunga dan keluar malai (IRRI,
baru yang umumnya kurang subur. Salah
2002).
peningkatan
satu
lahan
yang
produktivitas
potensial
untuk
dapat
muncul
Rendahnya
pada
setiap
produksi
padi
fase
yang
dikembangkan adalah lahan marjinal yang
keracunan Fe berkaitan dengan tingginya
mengandung Fe tinggi (> 300 ppm).
jumlah gabah hampa. Hasil penelitian
Namun produksi padi pada lahan tersebut
menunjukkan bahwa padi yang keracunan
rendah, rata-rata di bawah 2,3 t/ha karena
Fe
tanaman keracunan Fe (Ismunadji et al.,
Sementara itu, Ismunadji et al. (1983)
1983)
melaporkan pula bahwa tanaman yang
hasilnya
turun
sebesar
50-90%.
Di Indonesia, luas pertanaman padi
keracunan besi, hasilnya 52% di bawah
yang keracunan besi lebih satu juta hektar
hasil tanaman sehat (2,3 t/ha dibanding 5,6
(Ismunadji dan Sabe, 1988). Angka ini
t/ha). Pada beberapa kasus berat seperti
akan membesar jika varietas padi yang
yang terjadi di Casamanca, Senegal,
ditanam bersifat peka terhadap Fe yang
keracunan besi pada tanah sulfat masam
tinggi seperti IR 64 dan Memberamo,
dapat menurunkan hasil padi hampir 90%
apalagi jika pemupukan N tanpa diimbangi
(Prade et al., 1988). Hasil survei di
dengan
Kabupaten
pemupukan
P
dan
K
yang
Hulu
Sungai,
Kalimantan
seimbang (Ottow et al., 1982; Ismunadji
Selatan,
dan Ardjasa, 1988).
tanaman yang keracunan besi menurun
Keracunan besi pada tanaman padi
menunjukkan
bahwa
hasil
antara 25-50% (Sarwani et al., 1999).
disebabkan oleh kandungan Fe dalam
Varietas mempunyai peranan penting
tanah yang tinggi, terutama tanah masam
dalam mengendalikan keracunan besi.
yang tergenang. Gejala keracunan biasanya
Varietas Kapuas lebih toleran dibanding
dimulai dengan terbentuknya bintik-bintik
IR64. Penelitian Ismunadji et al. (1991) di
188
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Lampung pada tanah berkadar besi tinggi
sebagai subplot sedangkan kombinasi Fe
menunjukkan bahwa penggunaan varietas
dan K sebagai mainplot. Variabel yang
toleran merupakan salah satu alternatif
diamati
untuk mengatasi keracunan besi. Hal ini
kandungan khlorofil a dan b, kandungan Fe
telah dibuktikan pula oleh Rosmini dan
dan K pada jaringan daun, dan laju
Hamda (2000) pada tanah sulfat masam.
akumulasi
Penelitian lain menunjukkan bahwa hasil
toleransi tanaman padi terhadap keracunan
varietas peka dapat meningkat setara
Fe. Data yang diperoleh di uji ”F”
dengan varietas tahan bila diberikan pupuk
dilanjutkan dengan uji jarak berganda
sebanyak dua kali lipat bagi varietas peka,
Duncan (UJGD) taraf kesalahan 5%.
adalah
kandungan
bahan
kering,
ANR,
serta
skor
terutama kalium (Jayawatdhena, 1989;
Sarwani et al., 1992). Tujuan penelitian ini
HASIL DAN PEMBAHASAN
adalah untuk mengkaji pengaruh kadar Fe
Aktivitas Nitrat Reduktase (ANR)
dalam tanah terhadap kandungan Fe, K,
Khlorofil
a
dan
b,
aktivitas
Aktivitas nitrat reduktase (ANR)
Nitrat
mencerminkan kemampuan tanaman dalam
Reduktase, dan Laju Akumulasi Bahan
menimbun N tereduksi. Secara umum
Kering dari masing-masing varietas padi
semua varietas menunjukkan penurunan
serta mendapatkan varietas padi yang
ANR apabila ditumbuhkan pada media
toleran Fe tinggi.
dengan kandungan Fe yang tinggi (Gambar
1.). Cisadane merupakan varietas peka
menunjukan penurunan ANR yang cukup
METODE PENELITIAN
Penelitian
di
besar jika ditanam pada media Fe tinggi
Pertanian
dan akan sedikit mengalami peningkatan
UNSOED dari bulan Oktober sampai
ANR jika ditambahkan Kalium (K) 40
Desember
2007.
Rancangan
yang
ppm. Sementara, untuk varietas peka yang
digunakan
adalah
Rancangan
Petak
lain
rumah
telah
plastik
dilaksanakan
Fakultas
yaitu
IR64
dan
Memberamo,
Terbagi. Faktor yang dicoba tiga buah.
walaupun sudah ditambah K, ANR nya
Faktor pertama adalah kandungan Fe
relatif
dalam tanah, terdiri atas 2 ppm dan 300
menunjukkan bahwa tingkat toleransi yang
ppm. Faktor kedua penambahan K, terdiri
berbeda diantara varietas yang peka.
atas 4 ppm dan 40 ppm. Faktor ketiga
Sementara untuk Batang Ombilin dan
adalah varietas, terdiri atas 6 yaitu Batang
Pucuk yang merupakan varietas toleran Fe
Ombilin, Pucuk, Mahsuri, Cisadane, IR64,
juga mengalami keracunan, ditunjukan
Memberamo.
oleh penurunan ANR tetapi tidak terlalu
Varietas
dialokasikan
tidak
meningkat.
Hal
ini
189
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
tinggi,
dan
tidak
penambahan
meningkat
K.
Varietas
dengan
Kandungan Klorofil a Dan b
Mahsuri
Pada
gambar
2
tampak
bahwa
menunjukkan pola yang berbeda, walaupun
kandungan klorofil a semua varietas
toleran tetapi terjadi penurunan ANR yang
mengalami penurunan jika ditanam pada
relatif besar, hanya saja kembali meningkat
media dengan kandungan Fe yang tinggi.
jika
Padahal menurut Gardner et al. (1991), ion
ditambah
menunjukkan
K.
bahwa
Fenomena
diantara
ini
varietas
Fe
dibutuhkan
dalam
pembentukan
toleran juga terjadi perbedaan toleransi.
ultrastruktur kloroplas yang pada akhirnya
Pada kondisi tercekam Batang Ombilin
menentukan kandungan klorofil, tetapi
merupakan
kelebihan
varietas
yang
paling
serapan
Fe
menyebabkan
memberikan harapan, karena mempunyai
kerusakan klorofil oleh radikal bebas.
ANR yang tertinggi. Varietas Cisadane
Radikal bebas dapat muncul akibat stress
walaupun merupakan varietas peka tetapi
lingkungan (Sitompul dan Guritno, 1995).
juga merupakan alternatif tetapi harus
diberi K yang cukup.
ANR (micromol Nitrit/g.bbj.)
180000
160000
140000
120000
V1(Cisadane)
100000
V2(IR64)
80000
V3(Memberamo)
60000
V4(Batang Ombilin)
V5(Pucuk)
40000
V6(Mahsuri)
20000
0
Fe2K4
Fe2K40
Fe300K4
Fe300K40
Perlakuan
Gambar 1. ANR jaringan
daun
Gambar
1. ANR jaringan daun padi
Kandungan khlorofil a (mg/g)
1,5
1,0
V1(Cisadane)
V2(IR64)
V3(Memberamo)
0,5
V4(Batang Ombilin)
V5(Pucuk)
V6(Mahsuri)
0,0
Fe2K4
Fe2K40
Fe300K4
Fe300K40
Perlakuan
Gambar 2. Kandungan
khlorofil akhlorofil-a
jaringanjaringan
daun padi
Gambar 2. Kandungan
daun padi
190
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Kandungan khlorofil b (mg/g)
1,5
1,0
V1(Cisadane)
V2(IR64)
V3(Memberamo)
0,5
V4(Batang Ombilin)
V5(Pucuk)
V6(Mahsuri)
0,0
Fe2K4
Fe2K40
Fe300K4
Fe300K40
Perlakuan
Gambar 3. Kandungan
khlorofil bkhlorofil-b
jaringanjaringan
daun padi
Gambar 3. Kandungan
daun padi
Kandungan
klorofil
padi
pada
menunjukkan respon yang positip terhadap
kondisi tidak terjadi cekaman Fe (Fe
penambahan K (Gambar 3).
rendah) lebih ditentukan oleh sifat genetik,
Skor Toleransi Tanaman Padi terhadap
keracunan Fe
terbukti walau ditambah K jumlahnya
relatif tetap. Sementara menurun drastis
jika terjadi cekaman Fe. Hal ini sama
untuk semua varietas. Peran K yang tidak
tampak ini, diduga karena ANR yang
rendah akibat cekaman Fe, sehingga
menghambat pembentukan klorofil a.
Berbeda dengan kandungan klorofil
a, cekaman Fe yang tinggi memberikan
pengaruh yang bervariasi terhadap klorofil
b. Pada kondisi Fe rendah, penambahan K
meningkatkan
kandungan
klorofil
b,
kecuali untuk varietas Mahsuri. Sementara
dengan kondisi cekaman Fe mengurangi
kandungan klorofil b kecuali varietas
Mahsuri. Selanjutnya jika ditambah K pada
kondisi
Fe
tinggi,
relatif
tidak
memperbaiki kandungan klorofil b. Hal ini
menunjukkan pada kondisi tercekam, baik
varietas
peka
maupun
toleran
tidak
Pengamatan terhadap skoring gejala
keracunan Fe dimulai pada 15 hari setelah
diberi Fe 300 ppm. Tanaman menunjukkan
gejala keracunan, yaitu timbulnya bintik
coklat pada ujung daun tua, yang kemudian
berkembang menjadi merah kecoklatan,
oranye kekuningan pada daun secara
keseluruhan. Skoring didasarkan pada Skor
Toleransi terhadap Keracunan Fe (IRRI,
2002).
Pada tabel 1 tampak bahwa Batang
Ombilin merupakan varietas yang paling
toleran yaitu pada kondisi tercekam masih
menunjukkan
skor
toleran
(nilai
3).
Sementara Pucuk dan Mahsuri berada
diurutan
berikutnya.
penambahan
meningkatkan
Hanya
K
tidak
toleransi
saja
mampu
tanaman
padi
terhadap cekaman Fe tinggi. Bagi varietas
yang
peka,
hampir
mempunyai
pola
191
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Tabel 1. Rata-rata skor toleransi varietas padi terhadap keracunan Fe (umur 28 hst)
Varietas
Konsentrasi Fe dan K
Fe2K4
Fe2K40
Fe300K4
Fe300K40
Cisadane
5
3
7
2
IR64
5
5
7
7
Memberamo
5
5
7
7
Batang Ombilin
3
3
3
3
Pucuk
5
3
5
5
Mahsuri
3
3
5
5
Keterangan: 1 (Sangat Toleran), 3 (Toleran), 5 (Agak Toleran), 7 (Peka), 9 (Sangat Peka)
(IRRI, 2002)
toleransi yang sama terhadap keracunan Fe
ditentukan oleh pemberian K. Sementara
yang tinggi. Ketiga varietas peka tersebut
untuk kandungan K jaringan daun tidak
menunjukkan skor peka yang sama.
ditentukan oleh pengaruh terpadu antara
Perbedaan
tersebut
cekaman Fe dan pemberian K. Diantara
berkaitan dengan kemampuan varietas
varietas yang dicoba terdapat perbedaan
dalam menanggulangi Fe yang masuk
kandungan Fe dan K jaringan daun.
kedalam jaringan tanaman. Makarim et al.
Perbedaan kandungan Fe dan K daun
(1989)
masing-masing varietas selain ditentukan
toleransi
toleransi
mengatakan
tersebut
bahwa
perbedaan
oleh
oleh cekaman Fe juga oleh pemberian K.
perbedaan struktur akar yang berhubungan
Perbedaan LABK lebih disebabkan oleh
dengan pergerakan oksigen dari bagian
perbedaan genetik, dan hanya sedikit sekali
atas
dikarenakan pemberian K yaitu antara
tanaman
ke
dipengaruhi
akar,
juga
terjadi
perbedaan antar varietas dalam ekskresi
umur 14-21 hari saja.
ion hidroksil. Akar padi toleran lebih
Pada tabel 3 tampak bahwa pada
banyak mengeluarkan ion hidroksil dan
kondisi tercekam Fe (Fe tinggi), hampir
menaikkan pH lapisan akar sehingga akan
semua
menyerap sedikit ion Fe sedangkan padi
menunjukkan
peka akarnya sedikit mengeluarkan ion
tanaman yang lebih tinggi dibanding
hidroksil sehingga menurunkan pH tanah
kondisi
akibatnya menyerap Fe lebih banyak.
umumnya pada kondisi K yang rendah
Kandungan Fe, K, dan LABK
(K4),
varietas
Fe
padi
yang
kandungan
rendah.
yaitu
untuk
Hal
Fe
ini
semua
dicoba
jaringan
terjadi
varietas.
Hasil analisis menunjukkan terdapat
Sementara dengan penambahan K (K40),
perbedaan kandungan Fe, K, dan Laju
akan mengurangi kandungan Fe jaringan,
Akumulasi Bahan Kering jaringan daun
tampak pada varietas Cisadane (V1) dan
padi (Tabel 2). Pengaruh cekaman Fe
varietas Mahsuri (V6) tetapi tidak untuk
terhadap kandungan Fe jaringan daun
varietas
192
yang
lain.
Fenomena
ini
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
kemampuan
maupun toleran Fe, ternyata di dalamnya
Sulaiman (1993) juga menyatakan bahwa
terjadi perbedaan tingkat toleransi dilihat
batas kritis konsentrasi Fe di lahan pasang
dari kandungan Fe jaringan. Varietas
surut yang menjadi penyebab keracunan Fe
Cisadane walaupun merupakan salah satu
adalah 260 ppm sedangkan batas kritis
varietas peka tetapi jika diberi K yang
keracunan Fe jaringan tanaman padi IR64
cukup maka akan memberikan respon yang
adalah 200 ppm.
positip dan mempunyai ANR yang tinggi.
bahwa kandungan Fe jaringan akibat
Ismunadji et al. (1991) menyatakan bahwa
cekaman Fe untuk masing-masing varietas
penambahan K dapat menekan pengaruh
berbeda tergantung kondisi K.
keracunan
Fe
dengan
akar
mengoksidasi
Fe2+.
menunjukkan bahwa baik varietas peka
Hal ini menunjukkan
memperkuat
Tabel 2. Hasil analisis kandungan Fe, K, dan Laju Akumulasi Bahan Kering
Variabel yang diamati
V
n
n
n
Fe
n
n
tn
K Fe x K
n
n
n
tn
tn
tn
Pengaruh
Fe x V
n
n
tn
K x V Fe x K x V
n
n
n
n
n
tn
Kandungan Fe
Kandungan K
Laju Akumulasi Bahan Kering
(umur 14 – 21 hari)
Laju Akumulasi Bahan Kering
n tn
tn
tn
tn
tn
tn
(umur 21 – 28 hari)
Keterangan: n = berpengaruh menurut uji F taraf kesalahan 5%; tn = berarti tidak
berpengaruh menurut uji F taraf kesalahan 5%.
Tabel 3. Hasil analisis kandungan Fe jaringan daun enam varietas padi pada kondisi Fe dan K
media yang berbeda
Perlakuan
Fe2
K4
Fe300
V1
V2
V3
V4
V5
V6
Rata-rata
278,94 a 199,29 a 188,86 a 181,52 a 211,79 a 206,09 a 211,08
552,98 b 468,23 b 349,53 b 317,25 b 692,77 b 293,34 b 445,68
415,96
333,76
269,19
249,39
452,28
249,71
Rata-rata V
D
C
B
A
E
A
Fe2
347,79 b 176,24 a 192,61 a 156,22 a 174,69 a 180,55 a 204,68
K40
Fe300 270,76 a 226,90 b 261,03 b 229,55 b 508,42 b 178,13 a 279,13
309,28
201,57
226,82
192,89
341,56
179,34
Rata-rata V
D
B
C
AB
E
A
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama pada kolom dan perlakuan yang
sama berarti tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan taraf kesalahan
5%.
Angka-angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama berarti
tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan taraf kesalahan 5%.
Fe2 = kandungan Fe 2 ppm Fe300 = kandungan Fe 300 ppm, K4 kandungan K 4
ppm, K40 = kandungan K 40 ppm, V1 = Cisadane, V2 = IR 64, V3 =
Memberamo, V4 = Batang Ombilin, V5 = Pucuk dan V6 = Mahsuri.
193
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Tabel 4. Hasil analisis kandungan K jaringan daun enam varietas padi pada kondisi Fe dan K media yang berbeda
Perlakuan
194
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
V1
V2
V3
V4
V5
V6
Rata-rata
Fe2
2.058,70 a
7.633,70 b
3.434,90 a
3.677,80 a
5.868,83 b
9.088,37 b
5.293,72
K4
Fe300
4.094,83 b
6.130,33 a
5.811,27 b
2.472,07 a
1.795,07 a
4.073,47 a
4.062,84
3.076,77
6.882,02
4.623,08
3.074,93
3.831,95
6.580,92
Rata-rata V
A
C
B
A
AB
C
Fe2
11.770,67 a
11.032,90 a
13.029,17 a
11.133,83 a
13.719,33 b
13.206,17 b
12.315,34
K40
Fe300
11.337,13 a
11.259,40 a
12.622,17 a
10.009,70 a
8.937,93 a
9.554,53 a
10.620,14
11.553,90
11.146,15
12.825,67
10.571,77
11.328,63
11.380,35
Rata-rata V
A
A
B
A
A
A
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama pada kolom dan perlakuan yang sama berarti tidak berbeda menurut uji jarak
berganda Duncan taraf kesalahan 5%.
Angka-angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan
taraf kesalahan 5%.
Fe2 = kandungan Fe 2 ppm Fe300 = kandungan Fe 300 ppm, K4 kandungan K 4 ppm, K40 = kandungan K 40 ppm, V1 =
Cisadane, V2 = IR 64, V3 = Memberamo, V4 = Batang Ombilin, V5 = Pucuk dan V6 = Mahsuri.
194
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Tabel 5. Hasil analisis Laju Akumulasi Bahan Kering (umur 14-21 hari) enam varietas padi
pada kondisi Fe dan K media yang berbeda
Perlakuan
Pada K4
Fe2
Fe300
V1
V2
V3
V4
V5
V6
Rata-rata
0,19
0,12
0,10
0,64
0,33
0,23
0,27
0,19
0,09
0,03
0,74
0,43
0,38
0,31
0,19
0,10
0,06
0,69
0,38
0,31
Rata-rata V pada K4
AB
A
A
D
C
BC
Fe2
0,19
0,07
0,16
0,47
0,36
0,29
0,25
Pada K40
Fe300
0,21
0,17
0,06
0,37
0,33
0,27
0,23
0,20
0,12
0,11
0,42
0,35
0,28
Rata-rata V pada K40
AB
A
A
C
BC
ABC
0,19
0,11
0,08
0,55
0,36
0,29
Rata-rata V
B
AB
A
D
C
C
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama pada kolom dan perlakuan yang
sama berarti tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan taraf kesalahan
5%.
Angka-angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama berarti
tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan taraf kesalahan 5%.
Fe2 = kandungan Fe 2 ppm Fe300 = kandungan Fe 300 ppm, K4 kandungan K 4
ppm, K40 = kandungan K 40 ppm, V1 = Cisadane, V2 = IR 64, V3 =
Memberamo, V4 = Batang Ombilin, V5 = Pucuk dan V6 = Mahsuri.
Tabel 6. Hasil analisis Laju Akumulasi Bahan Kering (umur 21-28 hari) enam varietas padi
pada kondisi Fe dan K media yang berbeda
Perlakuan
Fe2
Pada K4
Fe300
V1
V2
V3
V4
V5
V6
Rata-rata
0,16
0,11
0,09
0,91
0,32
0,25
0,31
0,24
0,16
0,15
0,45
0,27
0,33
0,26
0,20
0,14
0,12
0,68
0,29
0,29
Rata-rata V pada K4
A
A
A
B
A
A
Fe2
0,30
0,20
0,07
0,43
0,42
0,31
0,28
Pada K40
Fe300
0,19
0,13
0,09
0,33
0,30
0,25
0,21
0,24
0,16
0,08
0,38
0,36
0,28
Rata-rata V pada K40
A
A
A
B
A
A
0,22
0,15
0,10
0,53
0,33
0,285
Rata-rata V
ABC
AB
A
D
C
BC
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama pada kolom dan perlakuan yang
sama berarti tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan taraf kesalahan
5%.
Angka-angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama berarti
tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan taraf kesalahan 5%.
Fe2 = kandungan Fe 2 ppm Fe300 = kandungan Fe 300 ppm, K4 kandungan K 4
ppm, K40 = kandungan K 40 ppm, V1 = Cisadane, V2 = IR 64, V3 =
Memberamo, V4 = Batang Ombilin, V5 = Pucuk dan V6 = Mahsuri.
Tabel 4 menunjukkan bahwa respon
dilihat dari kandungan K jaringan daun.
fisiologis masing-masing varietas yang
Umumnya pada kondisi cekaman Fe, akan
dicoba terhadap cekaman Fe berbeda
menurunkan kandungan K daun, tetapi
195
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
untuk
varietas
Memberamo
Cisadane
(V4).
Sementara
itu,
pada
kondisi
kecukupan K, LABK varietas peka tetap
rendah.
tidak berbeda, tetapi untuk varietas toleran
Sementara pada kondisi K tinggi, apabila
terjadi perubahan menjadi tidak berbeda
terjadi
akibat LABK Batang Ombilin yang relatif
pada
justru
dan
meningkat
terutama
(V3)
(V1)
kondisi
cekaman
Fe
K
hampir
tidak
berpengaruh terhadap kandungan K daun,
menurun.
kecuali untuk varietas Pucuk (V5) dan
Bertambahnya
Mahsuri (V6) yang merupakan varietas
menyebabkan
toleran.
varietas
ditentukan oleh pemberian K. Pada umur
menunjukkan kandungan K yang berubah
antara 21-28 hari rata-rata LABK Batang
apabila kondisi K medianya berubah. Hal
Ombilin selalu paling tinggi dibanding
ini menunjukkan bahwa kandungan K
varietas yang lain. Hal ini menunjukkan
jaringan daun masing-masing varietas
bahwa Batang Ombilin merupakan varietas
tergantung kondisi K dan Fe media.
toleran Fe yang mempunyai ANR yang
Fenomena tersebut memberikan gambaran
paling tinggi dan kandungan khlorofil yang
bahwa varietas Cisadane dan Memberamo,
tinggi
walaupun merupakan varietas peka tetap
fotosintesis yang tingi pula. Kondisi ini
dapat diharapkan karena pada kondisi
menyebabkan LABK nya tinggi.
Masing-masing
Fenomena
ini
tidak
umur
perbedaan
sehingga
jelas.
tanaman
LABK
mempunyai
tidak
laju
tercekam dapat menyerap K lebih banyak.
Unsur K ini berfungsi dalam metabolisme
KESIMPULAN
karbohidrat dan sintesis protein, serta asam
1. Pada kondisi tercekam Fe, ANR semua
organik dan enzim (Marschner, 1986).
Laju
Akumulasi
Bahan
merupakan
karakter
fisiologi
dipengaruhi
oleh
lingkungan.
LABK
sifat
varietas turun dengan penurunan yang
Kering
berbeda dan akan meningkat kembali
yang
jika ditambah K yaitu pada varietas
genetik
dan
merupakan
laju
penambahan bahan kering per satuan
waktu (g/hari). Pada umur 14-21 hari
Batang Ombilin dan Cisadane.
2. Kandungan Klorofil a dan b berkurang
jika mengalami cekaman Fe.
3. Skor
toleransi
menunjukan
bahwa
terjadi perbedaan pada LABK diantara
varietas Batang Ombilin paling toleran.
varietas pada kondisi K yang berbeda.
4. Kandungan Fe dan K jaringan daun
Pada keadaan K rendah, tidak terjadi
masing-masing varietas ditentukan oleh
perbedaan LABK di antara varietas peka,
cekaman Fe dan K, sementara tidak
sedangkan untuk varietas toleran LABK
untuk LABK.
tertinggi dicapai oleh Batang Ombilin
196
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
5. Varietas Batang Ombilin dan Cisadane
merupakan varietas yang memberikan
harapan ditanam pada lahan dengan Fe
tinggi asalkan ditambah K yang cukup.
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2005. Statistik Pertanian Indonesia.
Badan Pusat Statistik. Jakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pierce, R.L. Mitchell.
1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
UI Press, Jakarta. 428 hal.
IRRI. 2002. International Rice Testing
Program. Standar Evaluation System
for Rice. Edition November 2002.
Inger Genetic Resources Center
IRRI. Philippines. 39 hal.
Ismunadji, M., L.N. Hakim, I. Zulkarnaini,
and F. Yazawa. 1983. Physiological
disease
of
rice
in
Cihea.
Contr.Centr.Res.Inst.Agri, 4: 10p.
Ismunadji, M. dan W.S. Ardjasa. 1988.
Pengaruh fosfat dan hara lain
terhadap keracunan Fe pada padi
sawah. Balai Penelitian Tanaman
Pangan. Bogor.
Ismunadji, M., W.S. Ardjasa, H.R. von
Uexkull.
1991.
Increasing
productivityof lowland rice grown on
iron toxic soils. In: P. Deturk and
F.N. Ponnamperuma (Eds) Rice
Production on acid soils of the
tropics. P: 191-196. Institute of
Fundamental
Studies,
kandy,
Srilanka.
Jayawardhena, S.D.G. 1989. Occurrence of
iron toxicity in rice in the inland
valley of the low country wet zone of
Srilanka.
In:
International
Symposium on Rice Production on
acid Soils of The Tropics. Kandy,
Srilanka. 26-30 June 1989.
Makarim, A.K., O. Sudarman dan H.
Supriadi. 1989. Status hara tanaman
padi berkeracunan Fe di daerah
Batumarta,
Sumatera
Selatan.
Penelitian
Pertanian.
Balai
Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.
9(4): 166-170.
Marschner,
Horst.
1986.
Mineral
Nutrification of Higher Plant.
Academic Press Inc. San Diego. 195206.
Ottow, J.C.D., G. Benckiser, and I.
Watanabe. 1982. Iron toxicity of rice
as a multiple nutritional soil stress.
Trop.Agric.Res.Ser.No.15.
Prade, K., J.C.D. Ottow and V Jacq. 1988.
Exessive iron uptake (irontoxicity)
by wetland rice (Oriza sativa L.) on
an
acid
sulphate
soils
in
casamanca/Senegal. In : Dost, H.
1988. Selected paper of The Dakar
Symposium on Acid Sulphate Soils.
ILRI Publ. No. 44, Wageningan. The
Netherlands.
Rosmini, H. dan M. Hamda. 2000. Iron
toxicity tolerance or rice cultivars in
acid sulphate soils of Indonesia.
Intern.Rice res. Newsletter 15(6).
Sarwani, M., A. Jumberi, dan A. Noor.
1992. Pengendalian keracunan besi
pada padi sawah tadah hujan
Kalimantan Selatan. Dalam : M.
Syam, Hermanto, Arif M., dan
Sunihardi (Penyunting). Prosiding
Simposium Penelitian Tanaman
Pangan III. Puslitbang Tanaman
Pangan. Balitbang. Bogor. 460-476.
Sarwani,
M.,
Hairunsyah,
dan
Chatimmatun N. 1999. Keracunan Fe
: Kasus Penyakit Fisiologis (penyakit
habang) pada tanaman padi di daerah
Hulu Sungai Kalimantan Selatan.
Kalimantan Scientiae 19: 45-55.
Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995.
Analisis Pertumbuhan Tanaman.
Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. 412 hal.
Sulaiman, S. 1993. Aksi gen dalam
pengendalian toleransi terhadap
keracunan besi pada padi sawah.
197
ISSN: 1411-8297
Agronomika Vol. 11, No. 2, Juli 2011
Buletin Penelitian Kindai. Balai
Penelitian
Tanaman
Pangan
Banjarbaru. 4(1) : 7-15.
198
Taher dan Misran. 1994. Keracunan Fe
pada
sawah
bukaan
baru.
Pemberitaan Penelitian Sukarami. P :
4-6.
Fly UP