...

Info Artikel - Universitas Negeri Semarang

by user

on
Category: Documents
8

views

Report

Comments

Transcript

Info Artikel - Universitas Negeri Semarang
Indo. J. Chem. Sci. 2 (1) (2013)
Indonesian Journal of Chemical Science
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs
SINTESIS DAN KARAKTERISASI EDIBLE FILM KITOSAN TERMODIFIKASI PVA DAN
SORBITOL
Maghfiroh*), Woro Sumarni, dan Eko Budi Susatyo
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang
Gedung D6 Kampus Sekaran Gunungpati Telp. (024)8508112 Semarang 50229
Info Artikel
Sejarah Artikel:
Diterima Desember 2012
Disetujui Desember 2012
Dipublikasikan Mei 2013
Kata kunci:
edible film
kitosan
PVA
sorbitol
Abstrak
Penelitan ini bertujuan untuk menentukan komposisi optimum sintesis produk
kemasan makanan yang bersifat biodegradable dan dapat dimakan (edible film) serta
karakterisasinya, sehingga mampu menggantikan material sintetis polipropilen.
Edible film dapat disintesis dari bahan baku biopolimer kitosan. Penambahan
plasticizer PVA dan sorbitol dilakukan untuk memperbaiki karakter mekanik edible
film kitosan, sehingga memenuhi karakter mekanik polipropilen. Pengukuran
karakter mekanik edible film kitosan digunakan standar ASTM D 638-03. Hasil
karakterisasi sifat mekanik edible film kitosan termodifikasi PVA dan sorbitol
menunjukkan bahwa sorbitol lebih berpengaruh terhadap penambahan nilai
persen elongasi sedangkan PVA lebih berpengaruh terhadap nilai kuat tarik edible
film kitosan. Edible film kitosan yang memiliki nilai kuat tarik tertinggi, yaitu
54,79 MPa ditunjukkan oleh edible film kitosan dengan penambahan 0,75 gram
PVA dalam 50 mL larutan kitosan 3%. Sedangkan nilai persen elongasi tertinggi
yaitu 115,71% dimiliki oleh edible film kitosan dengan penambahan 0,75 gram
sorbitol. Karakter mekanik edible film kitosan tersebut relatif stabil pada masa
penyimpanan maksimum, yaitu 14 hari. Hasil FT-IR menunjukkan bahwa
plasticizer PVA dan sorbitol tidak banyak mengubah gugus fungsi dari edible film
kitosan.
Abstract
This study aims to determine the optimum composition of the synthesis of food
packaging products that are biodegradable and edible (edible films) as well as his
characterization, so as to replace the synthetic polypropylene material. Edible
films can be synthesized from raw materials biopolymer chitosan. The addition of
PVA and sorbitol plasticizer done to improve the mechanical character of
chitosan edible film, thus meeting the mechanical character of polypropylene.
Measurement of the mechanical character of chitosan edible film used standard
ASTM D 638-03. The results of the characterization of the mechanical properties
of chitosan edible film modified PVA and sorbitol showed that sorbitol is more
influential on the addition of PVA while the percent elongation is more
influential on the tensile strength of chitosan edible film. Chitosan edible film
that have the highest tensile strength values, ie 54.39 MPa shown by chitosan
edible film with the addition of 0.75 g PVA in 50 ml of 3% chitosan solution.
Whereas the highest percent elongation 113.33% owned by chitosan edible film
with the addition of 0.75 grams of sorbitol. Mechanical character of chitosan
edible film are relatively stable at the maximum storage period, ie 14 days. FT-IR
results showed that PVA plasticizer and sorbitol did not much alter the functional
groups of chitosan edible film.
 Alamat korespondensi:
E-mail: [email protected]
© 2013 Universitas Negeri Semarang
ISSN NO 2252-6951
Maghfiroh / Indonesian Journal of Chemical Science 2 (1) (2013)
Pendahuluan
Bahan makanan pada umumnya sangat
sensitif dan mudah mengalami penurunan
kualitas karena faktor lingkungan, kimia,
biokimia, dan mikrobiologi. Salah satu cara
untuk mencegah atau memperlambat fenomena
tersebut adalah dengan pengemasan yang tepat.
Bahan pengemas yang dapat digunakan antara
lain plastik, kertas, logam, dan kaca (Wahyu,
2009).
Bahan pengemas dari plastik (material
sintetis)
banyak
digunakan
dengan
pertimbangan ekonomis dan memberikan
perlindungan yang baik dalam pengawetan.
Penggunaan
material
sintetis
tersebut
berdampak pada pencemaran lingkungan.
Plastik akan menjadi sampah yang sulit terurai.
“Plastik sintetis yang sering digunakan untuk
bahan pengemas makanan adalah produk non­
biodegrable sehingga sulit untuk diuraikan,”
pakar Ahli Teknologi Pangan dari Institut
Pertanian Bogor (IPB), Arif Hartoyo. Limbah
plastik baru bisa terurai setelah 1.000 tahun.
Dibandingkan dengan limbah kertas yang
membutuhkan waktu sebulan untuk terurai.
Oleh karena itu, saat ini dibutuhkan penelitian
mengenai bahan pengemas yang dapat
diuraikan (degradable). Salah satu produk
tergolong plastik biodegradable yang dewasa ini
banyak dikembangkan oleh para peneliti adalah
edible film.
Dalam bidang pangan, kitosan dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pembungkus
makanan yang dapat berbentuk lembaran
plastik yang dapat dimakan (edible film) dan
bersifat biodegradable (Purwanti, 2010). Seperti
halnya dengan bahan pengemas sintesis yang
terbuat dari bahan lain, edible film tersebut
diharapkan mempunyai karakter mekanik yang
baik sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung
makanan terhadap pengaruh mekanik dari
lingkungan. Beberapa karakter mekanik dari
bahan plastik sangat penting dalam penentuan
kualitas plastik khususnya edible film adalah nilai
kuat tarik dan persen elongasi. Sebagai bahan
kemasan makanan, edible film kitosan ini
dimaksudkan untuk dapat menggantikan
polipropilen (PP). Polipropilen merupakan
material sintetis yang umumnya digunakan
sebagai bahan pembuat plastik pembungkus
makanan yang tidak dapat diuraikan. Oleh
karena itu, karakter mekanik edible film kitosan
harus memenuhi kriteria polipropilen yang
ditunjukkan pada Tabel 1.
Menurut Yoshida et al. (2009), edible film
yang dibentuk dari polimer murni bersifat rapuh
sehingga perlu digunakan plasticizer untuk
meningkatkan fleksibilitasnya. Edible film
kitosan dengan penambahan bahan tambahan
plastisizer mempunyai sifat lebih fleksibel
daripada film tanpa plasticizer.
Tabel 1. Sifat mekanik dan fisik polipropilen
Sumber: boedeker plastics dalam Darni et al.
(2009)
Selama waktu penyimpanan maupun
pemakaiannya, edible film kitosan dapat
mengalami perubahan sifat, baik sifatnya
sebagai penahan transfer uap maupun sifat
mekaniknya. Penurunan kualitas edible film ini
terhadap waktu penyimpanan atau pemakaian
edible film diharapkan tidak terlalu cepat terjadi
sehingga memungkinkan penggunaan edible film
kitosan untuk pembungkus bahan makanan.
Sifat mekanik edible film ini dipengaruhi oleh
lama penyimpanan edible film (Purwanti, 2010).
Dalam penelitian ini dilakukan sintesis
edible film kitosan termodifikasi Poly Vinyl
Alcohol
(PVA)
dan
sorbitol
untuk
meningkatkan nilai kuat tarik dan persen
elongasi edible film. Plasticizer PVA dan sorbitol
dipilih karena keduanya kompatibel terhadap
kitosan. PVA dan sorbitol merupakan plasticizer
yang bersifat hidrofilik, sehingga cocok untuk
bahan pembentuk film yang bersifat hidrofobik
seperti kitosan (Canner et al., 1998). Dengan
penambahan plastisizer PVA dan sorbitol
diharapkan mampu dihasilkan edible film
kitosan yang memiliki nilai kuat tarik dan
persen elongasi optimal sebagai bahan kemasan
makanan.
Metode Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu
massa PVA, massa sorbitol, waktu simpan dan
perubahan gugus fungsional edible film kitosan.
Variabel terikat yaitu variabel yang merupakan
akibat hasil tiap perlakuan secara konstan, yaitu
kuat tarik dan elongasi dari edible film kitosan.
Sedangkan variabel kendali yaitu alat dan bahan
yang digunakan, jenis kitosan, konsentrasi
larutan kitosan, kecepatan pengadukan, dan
ukuran cetakan edible film kitosan.
Alat dan bahan yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi: ayakan ukuran 250
2
Maghfiroh / Indonesian Journal of Chemical Science 2 (1) (2013)
mesh, neraca analitik merek Adventurer TM
Ohaus dengan ketelitian 0,0001 gram,
penyaring vakum, cetakan ukuran 18 cm x 13
cm, hotplate stirrer merek Daihan Lab Tech, alat
uji kuat tarik merek Pearson Panke Equipment
LTD, FT-IR merek Shimadzu, kitosan, Poly
Vinyl Alcohol (PVA), sorbitol, asam asetat
glasial, kertas saring Whatman 45, air
demineralisasi, etanol 96% buatan E Merck.
Dalam sintesis edible film kitosan, terlebih
dahulu dibuat larutan kitosan 3 % yaitu
sebanyak 7,5 gram kitosan dilarutkan dalam
larutan asam asetat 1 % sampai volumenya 250
mL dan diaduk menggunakan pengaduk
magnet selama 30 menit dengan kecepatan 80
rpm. Larutan kemudian disaring menggunakan
saringan vakum (Purwanti, 2010). Tahap
selanjutnya adalah
tahap penambahan
plasticizer. Sorbitol masing-masing dengan
variasi massa sebanyak 0,5; 1; 1,5; 2 dan 2,5
gram diletakkan dalam erlenmeyer. Larutan
kitosan 3 % ditambahkan sampai volume
larutan menjadi 50 mL. Campuran tersebut
diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan
kecepatan 80 rpm hingga terbentuk larutan yang
homogen dan bening (transparan). Selanjutnya
larutan tersebut dicetak pada sebuah cetakan
kemudian dikeringkan pada udara terbuka
hingga larutan kitosan membentuk lembaran
plastik tipis. Edible film yang dihasilkan di
analisis kuat tarik, persen elongasi, dan gugus
fungsi. Tahap variasi massa PVA dilakukan
dengan cara yang sama.
Hasil dan Pembahasan
Pada dasarnya, pembentukan edible film
merupakan proses pertumbuhan fragmen kecil
atau penggabungan polimer-polimer. Prinsip
pembentukan edible film adalah interaksi rantai
polimer menghasilkan agregat polimer yang
lebih besar dan stabil (Syamsir, 2008). Edible film
kitosan yang diperoleh dalam penelitian ini
berbentuk lembaran bening/transparan agak
kekuningan, mengkilap, tidak kaku, homogen,
dan tebal kira-kira 0,1 mm.
Sifat mekanis yang diuji dalam penelitian
ini meliputi uji kuat tarik dan persen elongasi.
Penentuan kekuatan tarik dilakukan dengan
pemberian beban tertentu pada spesimen
sehingga terjadi perubahan panjang (regangan)
sampai spesimen putus. Hasil dari pengujian
didapatkan harga gaya tarik (kg) dan panjang
spesimen (mm). Hasil ini diolah kembali untuk
mendapatkan nilai kekuatan tarik (Mpa), dan
persen elongasi (%).
Nilai kuat tarik dan persen elongasi edible
film kitosan diukur berdasarkan ukuran benda
uji. Dalam penelitian ini, digunakan standar
ASTM D 638-03. Standar ASTM yang diacu,
menunjukkan ukuran benda kerja yang akan
diuji. Secara detail, ukuran benda kerja
berdasarkan standar ASTM D 638-03 dapat
dilihat pada Gambar 1. Dalam penelitian ini,
benda uji yang digunakan memiliki ukuran
panjang awal 35 mm, lebar 3,75 mm dan tebal
0,1 mm (50 % dari Gambar 1.)
Gambar 1. Standart ASTM D 638-03
Kuat tarik adalah gaya tarik maksimum
yang dapat ditahan oleh sebuah film sedangkan
persen elongasi merupakan perubahan panjang
maksimum pada saat terjadi peregangan hingga
sampel film terputus. Pada umumnya
keberadaan plasticizer dalam proporsi lebih besar
akan membuat nilai persen elongasi suatu film
meningkat (Huda, 2009).
Plasticizer merupakan bahan organik
dengan berat molekul rendah yang ditambahkan
dengan maksud untuk memperlemah kekakuan
dari polimer (Gontard et al., 1993). Penambahan
plasticizer sorbitol pada larutan kitosan 3%
dimaksudkan untuk meningkatkan nilai kuat
tarik dan fleksibilitas edible film kitosan. Kedua
parameter inilah yang menentukan sifat
mekanik dan kualitas edible film kitosan sebagai
bahan pengemas makanan.
3
Gambar 2. Kurva nilai kuat tarik (a) dan persen
elongasi (b) plastik kitosan dengan plasticizer
sorbitol
Gambar 2 menunjukkan data uji kuat tarik
untuk edible film kitosan dengan variasi massa
platicizer sorbitol. Ternyata massa optimum
plasticizer sorbitol yang dapat digunakan untuk
membuat edible film kitosan dengan kualitas
optimum adalah 0,75 gram dalam 50 mL
larutan kitosan 3 %. Sesuai yang diungkapkan
oleh Purwanti (2010), pada komposisi tersebut,
Maghfiroh / Indonesian Journal of Chemical Science 2 (1) (2013)
mengubah polimer dalam bentuk cairan ke
bentuk solid dimana hal ini suatu proses yang
sering digunakan pada setting bahan cetak
(Nisa, 2005).
reaksi pengikatan sorbitol oleh kitosan berada
pada titik jenuh sehingga molekul-molekul
sorbitol (plasticizer) terdispersi merata dan
berinteraksi di antara struktur rantai polimer
dan menyebabkan rantai-rantai polimer lebih
sulit bergerak karena halangan sterik. Hal inilah
yang menyebabkan kekuatan tarik meningkat di
samping karena adanya gaya intermolekuler
antar rantai pada campuran tersebut. Halangan
sterik juga menyebabkan ikatan hidrogen
intermolekuler polimer kitosan berkurang,
sehingga plastik tidak kaku dan memiliki persen
elongasi maksimum.
Bila kadar sorbitol ditingkatkan akan
mengakibatkan kekuatan tarik dan persen
elongasi menjadi menurun. Hal ini disebabkan
pada komposisi optimum, semua kitosan tepat
bereaksi dengan sorbitol. Kitosan yang ada
sudah tidak mampu lagi untuk mengikat
sorbitol, sehingga jika sobitol ditambahkan lagi
maka molekul-molekul sorbitol yang berlebih
berada dalam fase tersendiri di luar fase
polimer. Kondisi ini akan menurunkan gaya
intermolekuler antar rantai polimer pada
kitosan.
Massa PVA optimum untuk menghasilkan
edible film kitosan dengan kuat tarik maksimum
adalah sebesar 0,75 gram. Hampir sama dengan
sorbitol, pada komposisi tersebut, campuran
PVA-kitosan berada dalam kondisi jenuh.
Gambar 4. Cross­linking PVA-kitosan (Nisa,
2005)
Penambahan massa plasticizer PVA yang
melebihi kadar optimum akan menurunkan
nilai kuat tarik dan persen elongasi edible film
kitosan. Molekul PVA yang berlebih akan
berada pada fase tersendiri dari fase polimer.
Molekul PVA yang tidak berikatan cross­linking
dengan kitosan ini akan menghalangi ikatan
antar molekul dalam polimer, sehingga
kekuatan ikatannya menjadi berkurang, yang
akhirnya berdampak pada nilai kuat tarik dan
persen elongasi yang berkurang. Semakin
banyak molekul PVA yang ditambahkan lagi,
maka semakin banyak pula molekul yang
menghalangi ikatan cross­linking PVA-kitosan.
Penurunan nilai kuat tarik dan persen
elongasi seperti yang terlihat pada Gambar 3.
sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan
oleh Lai et al dalam Purwanti (2010) yang
menyatakan bahwa penambahan plasticizer lebih
dari jumlah tertentu akan menghasilkan film
dengan kuat tarik yang lebih rendah.
Bila Gambar 2 dan Gambar 3 diamati
maka, dapat digeneralisasikan bahwa plasticizer
sorbitol
lebih
berpengaruh
terhadap
penambahan nilai persen elongasi sedangkan
PVA lebih berpengaruh terhadap nilai kuat tarik
edible film kitosan. Oleh karena itu, dalam
penelitian ini, dicoba memadukan kedua
plasticizer tersebut, yaitu 0,375 gram PVA dan
0,375 gram sorbitol dalam 50 mL larutan
kitosan 3%, dengan asumsi massa maksimal
dari platicizer yang digunakan adalah 0,75 gram.
Jika massa plasticizer yang ditambahkan
melebihi
jumlah
maksimal
tersebut,
dikhawatirkan akan terjadi penurunan sifat
Gambar 3. Kurva nilai kuat tarik (a) dan persen
elongasi (b) plastik kitosan dengan plasticizer
sorbitol
Kitosan memiliki gugus hidroksil dan
amin yang dapat memberi jembatan hidrogen
secara intermolekuler atau intramolekuler,
sedangkan PVA juga memilki gugus -OH,
sehingga antara PVA dan kitosan dapat terjadi
ikatan hidrogen. PVA merupakan suatu polimer
linear. Antar polimer dapat mengalami suatu
tautan/ikatan.
Kitosan
juga
merupakan
polimer. Jika kedua polimer tersebut terlibat
dalam suatu sistem, kitosan dan PVA dapat
saling berikatan. Apabila rantai-rantai polimer
digabungkan oleh ikatan kimia maka polimer
tersebut dikatakan telah mengalami proses cross­
link. Lebih penting lagi, cross­linking bisa
4
Maghfiroh / Indonesian Journal of Chemical Science 2 (1) (2013)
mekanik edible film kitosan.
Hasilnya, diperoleh edible film kitosan
dengan nilai kuat tarik sebesar 40,35 Mpa dan
nilai persen elongasi sebesar 87, 62%. Nilai ini
terletak diantara rentang nilai kuat tarik dan
persen elongasi maksimum dari masing-masing
penambahan plasticizer sorbitol dan PVA
(Gambar 2 dan Gambar 3).
Sama halnya dengan bahan pengemas
sintesis yang terbuat dari bahan lain, edible film
tersebut diharapkan mempunyai kemampuan
untuk melindungi makanan dengan baik, yaitu
dapat berfungsi sebagai pelindung makanan
terhadap pengaruh mekanik dari lingkungan.
Sebagai bahan kemasan makanan pengganti
material sintetis polipropilen, karakter mekanik
edible film kitosan harus memenuhi kriteria
karakter mekanik dari polipropilen yaitu kuat
tarik sebesar 24,7-302 MPa dan persen elongasi
21-220% (Tabel 1). Berdasarkan hasil yang
diperoleh, PVA dan sorbitol dapat berperan
sebagai
bahan
plasticizer
yang
dapat
meningkatkan nilai kuat tarik dan persen
elongasi edible film kitosan sehingga memenuhi
karakter mekanik standar polipropilen dan
layak digunakan. Karakter mekanik edible film
kitosan termodifikasi PVA dan sorbitol hasil
penelitian ini lebih baik dari pada edible film
yang dihasilkan oleh Purwanti (2010). Edible
film dari Purwanti (2010) yang terbuat 0,5-2,0
gram sorbitol dalam larutan kitosan 1%
memiliki nilai kuat tarik dibawah kriteria
karakter mekanik standar polipropilen.
Pada penelitian ini, uji simpan hanya
dilakukan pada edible film kitosan dengan
penambahan plasticizer optimum, yaitu edible
film yang dibentuk dari penambahan 0,75 gram
sorbitol atau PVA dalam 50 mL larutan kitosan
3%. Edible film tersebut disimpan dalam suatu
ruangan tertutup dengan suhu dan kelembaban
kamar. Selama penyimpanan dengan waktu
dari hari ke-0 sampai dengan hari ke-28 (4
minggu), parameter sifat kuat tarik dan persen
elongasi edible film kitosan ditunjukkan pada
Gambar 6. Edible film yang dibuat dari kitosan
dapat mengalami penuaan yang disebabkan
oleh beberapa hal antara lain karena peristiwa
fisis yang terjadi di dalamnya maupun
pengaruh dari lingkungan, misalnya karena
adanya pengaruh uap air dalam lingkungan
penyimpanan.
Gambar 5. menunjukkan bahwa selama
masa penyimpanan edible film kitosan dengan
plasticizer sorbitol mengalami penurunan nilai
kuat tarik dan nilai persen elongasi. Pada hari
ke-0 sampai hari ke-14, penurunan sifat
mekanik edible film kitosan tidak terlalu besar
atau dapat dikatakan sifat mekanik edible film
kitosan relatif stabil. Kestabilan sifat mekanik
edible film kitosan ditunjang oleh sifat hidrofil
dari PVA dan sorbitol. Molekul plasticizer
tersebut akan mengikat molekul air yang ada
pada membran bakteri, sehingga bakteri akan
mengalami lisis sehingga terjadi kebocoran
protein dan komponen penyusun intraseluler
dari dalam sel bakteri. Sesuai pernyataan
Brenan dan Davidson dalam Cahyaning (2008)
mekanisme aktivitas penghambatan antibakteri
dapat melalui beberapa faktor, salah satunya
yaitu mengganggu komponen penyusun dinding
sel dan bereaksi dengan membran sel sehingga
mengakibatkan peningkatan permeabilitas dan
menyebabkan kehilangan komponen penyusun
sel.
Gambar 5. Nilai kuat tarik dan persen elongasi
edible film kitosan termodifikasi sorbitol pada
berbagai masa simpan
Gambar 6. Nilai kuat tarik (a) dan persen
elongasi (b) edible film kitosan dengan plasticizer
PVA selama penyimpanan
Pada masa penyimpanan yang lebih lama,
edible film kitosan mengalami degradasi sifat
mekanik yang cukup signifikan, seperti yang
terlihat pada Gambar 5 Pada hari ke-21 sampai
hari ke-28, penurunan nilai kuat tarik dan
persen elongasi edible film kitosan sangat besar.
Hal ini dapat terjadi karena adanya adsorpsi
uap air pada edible film kitosan selama
penyimpanan. Penyimpanan yang terlalu lama
menyebabkan perubahan warna pada edible film
kitosan, yang semula berwarna bening
transparan menjadi kuning. Pada kondisi ini,
edible film kitosan tidak layak lagi untuk
digunakan. Gejala yang sama terjadi pula pada
5
Maghfiroh / Indonesian Journal of Chemical Science 2 (1) (2013)
Songkhala. (on line) Available at : http://
vishnu.sut.ac.th / iat/ food_innovation/
up/ rice%20strach%20film.doc
Cahyaning, Beti Atuti. 2008. Pengembangan
Edible Film Kitosan dengan Penambahan
Asam Lemak dan Esensial Oil : Upaya
Perbaikan Sifat Barrier dan aktivitas
Antimikroba.
Fakultas
Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Canner, C., Vergano, P.J., and Wiles, J.L. 1998.
Chitosan
Film
Mechanical
and
Permeation
Properties as Affected by Acid, Plasticizer, and
Storage. Journal of Food Science, Vol. 63,
No. 6, 1049-1053.
Darni, Yuli, Herti Utami, dan Siti Nur Asriah.
2009. Peningkatan Hidrofobisitas dan Sifat
Fisik Plastik Biodegradable Pati Tapioka
dengan Penambahan Selulosa Residu
Rumput Laut Euchema spinossum.
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Lampung.
Gontard,N., Guilbert,S., Cuq.J.L.,1993. Water
and Glyserol as plasticizer Affect
Mechanical and Water Barrier Properties
at an Edible Wheat Gluten Film. J. Food
Science. 58 (1): 206-211
Huda, Mahfudz Al. 2009. Sifat Mekanik Bahan
(Mechanical Properties). Program Studi
Teknik Industri, Fakultas Teknologi
Industri, Universitas Mercu Buana.
Nisa, Khoirun. 2005. Karakteristik Fluks
Membran Kitosan Termodifikasi Poli
(Vinil Alkohol) dengan Variasi Poli
(Etilena
Glikol)
sebagai
Porogen.
Departemen Kimia, Fakultas matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Pertanian Bogor.
Purwanti, Ani .2010. Analisis Kuat Tarik dan
Elongasi Plastik Kitosan Terplastisasi
Sorbitol. Jurusan Teknik Kimia, Institut
Sains dan Teknologi. Jurnal Teknologi,
Volume 3 Nomor 2, 99-106.
Syamsir, Elvira. 2008. Mengenal Edible film.
http://id.shvoong.com/exactsciences/.
Diakses 1 Mei 2012.
Wahyu,
Maulana
Karnawidjaja.
2009.
Pemanfaatan Pati Singkong sebagai Bahan
Baku Edible Film. Jurusan Teknologi
Industri Pangan, Fakultas Teknologi
Industri Pertanian, Universitas Padjajaran.
Yoshida, C.M.P., Junior, E.N.O., and Franco,
T.T. 2009. Chitosan Tailor-Made Films :
The Effects of Additives on Bamer and
Mechanical Properties. Journal Packaging
Technology and Science, 22, 161 – 170.
edible film kitosan dengan plasticizer PVA.
Berdasarkan data nilai kuat tarik dan persen
elongasi edible film kitosan pada Gambar 5. dan
Gambar 6. dapat diketahui bahwa waktu
simpan maksimum edible film kitosan sekitar 14
hari.
Pengujian gugus fungsional dilakukan
dengan spektrofotometer Infra Merah (FT-IR).
Analisa ini bertujuan untuk mengetahui
perubahan gugus fungsi dari suatu bahan atau
matriks yang dihasilkan. Pengujian ini
dilakukan pada sampel edible film kitosan tanpa
penambahan plasticizer, edible film kitosan
dengan penambahan 0,75 gram PVA dan edible
film kitosan dengan penambahan 0,75 gram
sorbitol dalam 50 mL larutan kitosan 3%.
Spektrum FT-IR menunjukkan bahwa kitosan
mengandung gugus O-H; C-H alifatik; N-H
amina, C-N amina alifatik; dan C-O. Ketiga
spesimen yang diuji menunjukkan tidak adanya
gugus fungsi baru yang dihasilkan.
Simpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa
Modifikasi sorbitol dan PVA sebagai plasticizer
terhadap kitosan memperbaiki sifat mekanik
edible film kitosan sebagai bahan kemasan
makanan. PVA berpengaruh besar dalam
meningkatkan nilai kuat tarik edible film kitosan
menjadi 2,5 kali, sedangkan sorbitol lebih
berpengaruh untuk meningkatkan persen
elongasi edible film kitosan menjadi 7,5 kali nilai
awal. Edible film kitosan tersebut memiliki nilai
kuat tarik dan persen elongasi yang memenuhi
kriteria standar polipropilen. Selama masa
penyimpanan, edible film kitosan termodifikasi
PVA dan sorbitol mengalami penurunan sifat
mekanik baik nilai kuat tarik maupun persen
elongasinya. Pada masa penyimpanan kurang
dari 14 hari, sifat mekanik edible film kitosan
relatif stabil karena sifat hidrofil dari PVA dan
sorbitol. Plasticizer PVA dan sorbitol tidak
banyak mengubah gugus fungsi pada edible film
kitosan.
Ucapan Terima kasih
Ucapan terima kasih penulis sampaikan
kepada Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti)
atas dana yang diberikan pada Program
Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan semua pihak
yang membantu dalam penelitian ini.
Daftar Pustaka
Bourtoom, T. 2007. Effect of Some Process
Parameters on The Properties of Edible
Film Prepared From Strach. Department
of
Material
Product
Technology,
6
Fly UP