...

gaya bahasa dan citraan dalam album kumpulan lagu

by user

on
Category: Documents
94

views

Report

Comments

Transcript

gaya bahasa dan citraan dalam album kumpulan lagu
U N IV
E R S ITA
PEK
S IS L A M
R IA
U
AN B A R U
GAYA BAHASA DAN CITRAAN DALAM ALBUM
KUMPULAN LAGU-LAGU DAERAH RANTAU KUANTAN
SINGINGI TAKULUAK BAREMBAI OLEH HAMSIRMAN MS
SKRIPSI
Skripsi ini Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
ELYAWATI
NPM : 066210376
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahuwataala penulis ucapkan atas
segala kasih sayangNya sehingga penulis mendapatkan nikmat dariNya salah
satunya yaitu dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat kepada
junjungan alam Rasulullah SAW semoga rahmat dan karunia tercurah kepada
beliau.
Skripsi ini dibuat untuk dijadikan sebagai salah satu syarat untuk
memeroleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Islam Riau. Penulis menyadari bahwa bantuan, bimbingan
dan dorongan dari berbagai pihaklah maka penelitian ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya. Oleh karena itu penulis dengan kesungguhan hati mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Drs. Amir Amjad, M.Pd selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Islam Riau.
2. Dra. Erni, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.
3. Dr. Sudirman Shomary, M.A selaku Pembimbing I yang telah banyak
memberikan ilmu berupa kritik dan saran dalam penyelesaikan skripsi ini.
4. Drs. Darusman, M.Pd selaku Pembimbing II yang telah membimbing dan
mengarahkan dengan penuh kesabaran.
5. Bapak dan Ibu dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan jurusan
lainnya, staf dan karyawan tata usaha Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Islam Riau.
6. Kedua orang tua penulis Sapri B dan Rabi’ah yang telah mencurahkan
kasih sayang.
7. Adik-adik penulis, saudara dan sanak famili di Muara Petai dan Biak
Papua.
8. Sahabat dan rekan-rekan seperjuangan Apri, Joe, Arneng Zet, Darma
Yunita, Yuliza Wati, Ummiku Syeprida, Rani Candrawati, Riky Arizona
serta pihak-pihak yang membantu penyelesaian skripsi ini yang tak bisa
penulis sebutkan satu persatu.
Dalam penyelesaian skripsi ini penulis telah berusaha semaksimal
mungkin untuk mengurangi kekurangan dan kesalahan, namun penulis menyadari
bahwa dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Harapan penulis semoga skripsi
bermanfaat bagi pembaca.
Pekanbaru, Oktober 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................
i
DAFTAR ISI...........................................................................................
iii
DAFTAR TABEL...................................................................................
iv
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................
v
ABSTRAK ..............................................................................................
vi
Bab I PENDAHULUAN.........................................................................
1
1.1. Latar Belakang dan Masalah......................................................
1
1.1.1 Latar Belakang ................................................................
1
1.1.2 Masalah ...........................................................................
4
1.2. Tujuan Penelitian .......................................................................
5
1.3. Ruang Lingkup Penelitian..........................................................
5
1.3.1 Pembatasan Masalah .......................................................
6
1.3.2 Penjelasan Istilah.............................................................
6
1.4. Landasan Teoritis .......................................................................
7
1.4.1 Gaya Bahasa....................................................................
8
1.4.2 Citraan .............................................................................
13
1.5. Metodologi Penelitian ................................................................
15
1.5.1 Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian .......................
15
1.5.2 Sumber Data....................................................................
16
1.5.3 Teknik Penelitian ............................................................
16
Bab II PENGOLAHAN DATA ..............................................................
18
2.1. Pengenalan .................................................................................
18
2.2. Lirik Lagu Rantau Kuantan........................................................
18
2.3. Gaya Bahasa...............................................................................
25
2.3.1. Gaya Bahasa Perbandingan............................................
25
2.3.1.1. Gaya Bahasa Alegori...................................................
26
2.3.1.2. Simile ..........................................................................
29
2.3.1.3. Metafora ......................................................................
30
2.3.1.4. Metonimia ...................................................................
33
2.3.1.5. Litotes..........................................................................
35
2.3.1.6. Hiperbola.....................................................................
37
2.3.1.7. Personifikasi................................................................
38
2.3.1.8. Sinekdoks ....................................................................
40
2.3.2. Gaya Bahasa Pertentangan.............................................
42
2.3.3.1. Paradoks (Oksimoron) ................................................
42
2.3.3.2. Anakronisme ...............................................................
44
2.4. Citraan ........................................................................................
45
2.4.1. Citraan Penglihatan ........................................................
45
2.4.2. Citraan Pendengaran ......................................................
46
2.4.3. Citraan Perabaan ............................................................
47
2.4.4. Citraan Pencecapan ........................................................
48
Bab III KESIMPULAN ....................................................................
53
3.1. Kesimpulan ................................................................................
53
Bab IV HAMBATAN DAN SARAN...............................................
54
4.1. Hambatan ...................................................................................
54
4.2. Saran...........................................................................................
54
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................
55
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Gaya Bahasa dan Citraan dalam Albuh Kumpulan Lagu
Daerah Rantau Kuantan Takuluak Barembai oleh Hamsirman
MS ............................................................................................
49
ABSTRAK
Elyawati, 2010. Gaya Bahasa Dan Citraan Dalam Album Kumpulan LaguLagu Daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai
Oleh Hamsirman MS.
Album yang dipilih yaitu album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan
Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS. Penulis memilih judul tersebut
karena lirik lagu daerah Rantau Kuantan dapat diteliti dan dikaji struktur dan
unsur-unsurnya, mengingat bahwa lirik lagu itu sama dengan puisi yang
strukturnya tersusun dari berbagai macam unsur dan sarana kepuitisan. Penulis
tertarik dalam meneliti kumpulan lagu daerah ini karena dalam lagu-lagu daerah
ini terkandung gaya bahasa dan citraan yang patut dikaji. Kumpulan lagu-lagu
daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS adalah
lagu daerah yang menggambarkan kebiasaan masyarakat Rantau Kuantan yang
diangkat penulisnya untuk dijadikan sebuah lirik lagu dan menjadi pelipur lara
bagi orang yang mendengarkannya. Masalah dalam penelitian ini adalah 1)
apasajakah gaya bahasa yang terkandung dalam album kumpulan lagu-lagu
Daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS, 2)
apasajakah citraan yang terkandung dalam album kumpulan lagu-lagu Daerah
Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS? Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis gaya bahasa dan citraan yang terdapat dalam album
kumpulan lagu-lagu Daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh
Hamsirman MS. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan metode
deskriptif analitik, jenis penelitian pustaka, dan pendekatan kualitatif. Teori yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teori Keraf (2006 : 113), Badudu (1985 :
70-85), Tarigan (1985 : 26-34), Pradopo (2009 :79) dan Hamidy (2003 : 23).
Sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh lagu yang terdapat dalam album
kumpulan lagu-lagu Daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh
Hamsirman MS yang berjumlah 10 lagu yang ditulis oleh penerbit Pipin Record
dan diproduksi oleh Sari Pesona Record. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya
banyak gaya bahasa yang terkandung didalamnya yaitu gaya bahasa perbandingan
yakni alegori, simile, metafora, metonimia, litotes, hiperbola, personifikasi dan
sinekdoks. Sedangkan gaya bahasa pertentangan yakni paradoks (oksimoron) dan
anakronisme. Sedangkan citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan
perabaan, citraan penciuman, citraan pencecapan dan citraan gerak.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
Salah satu fungsi bahasa adalah fungsi tekstual. Fungsi tekstual berkaitan
dengan peranan bahasa untuk membentuk mata rantai kebahasaan dan mata rantai
unsur situasi yang memungkinkan digunakannya bahasa oleh pemakainya baik
secara lisan maupun tertulis (Sudaryanto dalam Sumarlam, 2003: 3). Salah satu
fungsi dari bahasa adalah fungsi imajinatif. Dalam hal ini bahasa berfungsi
sebagai pencipta sistem, gagasan, atau kisah yang imajinatif. Fungsi ini biasanya
untuk mengisahkan cerita-cerita, dongeng-dongeng, menuliskan cerita pendek dan
novel (Sumarlam, 2003: 3).
Sebuah kata yang tepat untuk menyatakan maksud tertentu perlu
diperhatikan kesesuaian dengan situasi yang dihadapi. Gaya bahasa merupakan
cara menggunakan bahasa dan bagian dari diksi bertalian dengan ungkapanungkapan yang individual atau karakteristik yang memiliki nilai artistik yang
tinggi (Keraf, 2006: 23). Dengan gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai
pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu.
Lirik lagu sebagai karya seni dapat dikaji dalam berbagai aspek seperti
struktur. Lirik lagu adalah struktur yang tersusun dari berbagai unsur dan sarat
kepuitisan. Lirik lagu dapat dikaji berdasarkan jenis atau ragamnya, mengingat
bahwa sepanjang sejarah dari waktu ke waktu lirik lagu selalu ditulis, diberi nada,
irama hingga akhirnya selalu dinyanyikan orang. Lirik lagu selalu mengalami
perubahan dan perkembangan dari segi penulisan serta kandungan bahasanya
yang indah. Hal ini dikarenakan hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi
ketegangan antara konvensi dan pembaharuan (inovasi).
Lagu atau musik itu sendiri tidak akan lepas dari kehidupan seseorang
karena mempunyai pengaruh yang sangat besar. Jadi jelaslah bahwa lagu daerah
bukan sekedar hiburan oleh masyarakat, namun sebenarnya dapat memberikan
pengajaran kepada pendengar dalam mengkaji dan memikirkan dirinya melalui
lirik-lirik lagunya, perlu ditegaskan bahwa di dunia Melayu terutama Rantau
Kuantan lirik lagu daerah merupakan suatu bentuk sastra yang digemari
masyarakat, terutama remaja, pelajar, dan mahasiswa maupun masyarakat pada
umumnya dengan tingkatan dan status sosial yang berbeda-beda.
Lirik lagu ini sukar dimengerti karena kompleksitas, pemadatan, kiasankiasan dan pemikirannya yang sukar. Karena lirik lagu merupakan bagian dari
pengalaman seseorang, maka hanya inti masalah yang dikemukakan. Untuk
mencapai hal itu butuh pemadatan yang bersifat implisit, sugesti dan ambigiustas.
Semua ini menyebabkan sukarnya untuk memahami lirik lagu atau sajak, karena
itu memerlukan pengkajian puisi untuk memahami lirik lagu atau sajak.
Menurut Nurgiantoro (2009: 272) apapun yang dikatakan pengarang
ditafsirkan oleh pembaca, harus bersangkutan dengan bahasa. Bagaimanapun
bentuk karya sastra itu selalu menggunakan bahasa sebagai alat penyampaiannya.
Bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sebuah gagasan atau pengalaman
harus mengandung kata-kata yang estetis.
Sebagai suatu kegiatan yang penting, yaitu konsep bahasa lirik lagu yang
sederhana dan mudah dimengerti, namun tetap mengedepankan kata-kata yang
romantis, menyentuh, dan penuh dengan nasehat. Apalagi bahasa lirik lagu daerah
Rantau Kuantan membuat kita tersentak dan tersadar atas segala nasehat dan
untuk mengetahui apa yang ada dalam masyarakat.
Album yang dipilih yaitu album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau
Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS. Penulis memilih
judul tersebut karena lirik lagu daerah Rantau Kuantan dapat diteliti dan dikaji
struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa lirik lagu itu sama dengan puisi
yang strukturnya tersusun dari berbagai macam unsur dan sarana kepuitisan.
Penulis lebih memilih lagu daerah Rantau Kuantan karena lirik-lirik lagunya
mengungkapkan pengalaman hidup baik yang mereka lihat atau yang dialami
sendiri oleh mereka atau masyarakat di daerah tersebut. Sama halnya dengan hasil
kebudayaan atau kebiasaan derah tersebut untuk itu perlu adanya analisis.
Pentingnya menghayati lirik lagu, telaah yang lebih mendalam ke struktur
yang lebih kecil meliputi pemilihan kata, citraan (gambaran pemikiran) dan gaya
bahasa. Ketiga unsur tersebut saling membutuhkan, untuk dapat memahami
analisis struktur lirik lagu ini dipilih teori bentuk atau struktur fisik yakni unsur
estetik yang membangun struktur luas dari lirik lagu tersebut.
Penelitian yang dilakukan penulis bukan untuk pengulangan penelitian
yang sebelumnya, objek penelitian ini hampir sama dengan penelitian sebelumnya
yaitu mengenali struktur puisi atau lirik lagu. Disini penulis memaparkan
beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini. Penulis
berpedoman atau mengambil gambaran pada penelitian Hidayat, Universitas Riau
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia tahun 2005 dengan judul skripsi ”Analisis lirik lagu dalam album
Melayang dan Surgamu karya Ungu Band” dengan kesimpulan terdapat beberapa
gaya bahasa dalam lirik lagu dan bentuk bahasa serta nilai yang terkandung dalam
lagu album Melayang dan Surgamu karya Ungu Band. Perbedaan pengkajian
penelitian ini adalah dari segi tinjauan unsur bahasa daerah Rantau Kuantan.
Hasil dari penelitian ini penulis mengharapkan supaya penelitian ini
memberikan manfaat, baik manfaat praktis maupun manfaat teoritis. Manfaat
praktis dari penelitian ini yaitu dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman
tentang gaya bahasa dalam album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan
Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS. Manfaat secara teoritis yaitu
dapat : (1) memberikan wawasan bagi perkembangan teori sastra, (2) dapat
dijadikan materi dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, (3) sebagai
pedoman bagi penelitian terhadap objek yang sama dengan permasalahan yang
berbeda.
1.1.2 Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, penulis mengemukakan dua
permasalahan penelitian :
1) Gaya bahasa apasajakahyang terkandung dalam album kumpulan lagu-lagu
daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman. MS?
2) Citraan apasajakah yang terdapat dalam album kumpulan lagu-lagu daerah
Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman. MS?
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis
dan menginterpretasikan gaya bahasa dan citraan yang terdapat dalam album
kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh
Hamsirman. MS.
1) Untuk mengetahui dan menganalisis gaya bahasa yang terkandung dalam
album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak
Barembai oleh Hamsirman. MS;
2) Untuk mengetahui dan menganalisis citraan yang terdapat dalam album
kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh
Hamsirman. MS;
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian yang berjudul ”Gaya bahasa dan citaraan dalam album
kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh
Hamsirman. MS” termasuk dalam ruang lingkup kajian ilmu sastra karena
menggunakan teori sastra sebagai pedoman untuk menganalisisnya. Selain itu,
kajian ini membahas tentang gaya bahasa dan citraan yang terdapat dalam album
kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh
Hamsirman. MS.
Dalam kajian sastra, gaya bahasa meliputi : Gaya bahasa perbandingan,
terdiri dari: Metafora, personifikasi, asosiasi, alegori, parabel, metonomia, litotes,
sinekdopke (dibagi menjadi 2, pares pro toto dan totem pro tate), eufisme,
hiperbolisme, alusio, antonomasio, perifrasis, dan tropen. Gaya bahasa sindiran,
terdiri dari: Ironi, sinisme, sarkasme. Gaya
bahasa
penegasan,
terdiri
dari:
Pleonasme, repetisi, paralelisme, klimaks, anti-klimaks, inversi, elipsi, retoris,
koreksio, asindeton, polisindeton, interupsi, eksklamasio, enumerasio, preterito,
apofagis, pararima, aliterasi, tautologi. Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari:
Paradoks, antitesis, kontradiksio interminis, anakronisme. Sedangkan kajian
citraan meliputi : citraan penglihatan, citraan pendengaran citraan penciuman,
citraan perabaan, pencecapan dan gerak.
1.3.1 Pembatasan Masalah
Setiap penelitian yang dilakukan sebaiknya perlu ada pembatasan masalah,
agar terlihat pokok masalah yang akan diteliti. Pembatasan masalah bermanfaat
untuk mempermudah pemecahan masalah yang akan diteliti. Masalah yang
dikemukakan dalam penelitian ini terbatas pada gaya bahasa dikarenakan di dalam
lagu daerah lebih banyak digunakan bahasa kiasan, sehingga gaya bahasa yang
diteliti dibatasi yakni : (1) gaya bahasa perbandingan dan (2) gaya bahasa
pertentangan. Sedangkan citraan yakni (1) citraan penglihatan, (2) citraan
pendengaran,
(3) citraan perabaan dan (4) citraan pencecapan dalam album
kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh
Hamsirman. MS.
1.3.2 Penjelasan Istilah
Untuk memudahkan pembaca memahami orientasi penelitian ini, penulis
merasa perlu menjelaskan beberapa istilah yang relevan dengan masalah pokok
penelitian ini.
(1) Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan
dalam bentuk tulisan atau lisan. Kekhasan dari gaya bahasa ini terletak
pada pemilihan kata-katanya yang tidak secara langsung menyatakan
makna yang sebenarnya (Maulana, www.indoskrip.com). Gaya bahasa
perbandingan adalah perbandingan sesuatu hal dengan hal lainnya.
Sedangkan gaya bahasa pertentangan adalah arti kata yang berlawanan
padahal maksud sesungguhnya tidak karena objeknya berlainan.
(2) Citraan adalah untuk memberikan suatu gambaran dan dapat menimbulkan
suasana yang khusus, membuat gambaran dalam pikiran dan penginderaan
yang lebih hidup dan menarik perhatian. Seorang penulis lirik juga
menggunakan pikiran, angan disamping kepuitisan itu sendiri. Gambaran
angan yang dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, peraba,
pengecap, dan indera penciuman. Bahkan juga sebuah pemikiran yang
tercipta sendiri oleh pemikiran dan gerakan (Pradopo, 2009 : 79). Citraan
penglihatan adalah memberi rangsangan kepada indera penglihatan,
sehingga sering hal-hal yang tak terlihat jadi seolah-olah terlihat.
Sedangkan citraan pendengaran adalah dihasilkan dengan menyebutkan
atau menguraikan bunyi suara.
(3) Lagu daerah adalah salah satu jenis sastra lisan tradisional berbentuk puisi
yang mempunyai kekuatan untuk menarik orang lain mendengar dan
mengikuti.
(4) Kumpulan lagu-lagu daerah Takuluak Barembai adalah kumpulan lagu
daerah yang ditulis oleh Hamsirman. Ms dalam bahasa daerah Taluk
Kuantan.
1.4 Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan beberapa teori menurut beberapa ahli. Teori
Gorys Keraf (2006), J.S Badudu (1985), Hendri Guntur Tarigan (1985) dan
Pradopo (2009) menjadi landasan penulis dalam mengkaji album kumpulan lagulagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS
berupa gaya bahasa dan citraan.
1.4.1 Gaya Bahasa
Pengertian dari suatu gaya bahasa diungkapkan oleh Panuti Sujiman dalam
bukunya Kamus Istilah Sastra yaitu suatu ungkapan yang mengungkapkan makna
kiasan (1986 : 48). Dengan melihat pengertian di atas jelaslah diungkapkan bahwa
ungkapan yang disebut gaya bahasa ini yaitu semua jenis ungkapan yang
digunakan untuk mengungkapkan segala sesuatu dengan makna kias.
Bila kita berbicara mengenai bahasa, tidak terlepas dari gaya bahasa.
Gorys Keraf (2006 : 113) mengatakan gaya bahasa adalah, ”Cara mengungkapkan
pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian
penulis atau pemakai bahasa”. Berarti dengan demikian, kita dapat mengetahui
watak dan kepribadian seseorang ketika ia menggunakan bahasa.
Dengan melihat pengertian tersebut di atas kita dapat menarik kesimpulan
tentang ciri-ciri yang dikandung oleh suatu ungkapan yang disebut gaya bahasa
ini. Suatu gaya bahasa mempunyai ciri umum bahwa suatu gaya bahasa digunakan
untuk mengungkapkan sesuatu dengan makna kias. Selain itu suatu gaya bahasa
tentu saja harus berupa suatu ungkapan bahasa yang bergaya.
Menurut Hendri Guntur Tarigan (1985 : 26-34) pembagian gaya bahasa
adalah sebagai berikut :
(1). Gaya Bahasa Perbandingan
a. Metafora
Gaya bahasa perbandingan dengan membandingkan suatu benda dengan
benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
Misalnya : Raja siang telah pergi keperaduannya (Matahari)
Dewi malam telah keluar dari balik awan (Bulan)
Kupu-kupu malam (pelacur)
b. Personifikasi
Membandingkan benda mati atau tidak dapat bergerak seolah-olah bernyawa
dan dapat berperilaku seperti manusia.
Misalnya : Angin berbisik membelai gadis itu.
c. Asosiasi/simile
Gaya bahasa perbandingan dengan memperbandingan sesuatu dengan keadaan
lain yang sesuai dengan gambaran/keadaaan dan sifatnya.
Misalnya : Wajahnya muram bagaikan bulan kesiangan.
Semangatnya keras bagai baja.
d. Alegori
Gaya bahasa yang memperlihatkan perbandingan utuh, perbandingan itu
membentuk kesatuan menyeluruh.
Misalnya : Mendayung bahtera hidup (merupakan perbandingan yang utuh
dan menyeluruh bagi seseorang dalam rumah tangga, bahtera merupakan
perbandingan dari rumah tangga, sedang pengemudi dan awaknya merupakan
perbandingan dari suami istri).
e. Parabel
Gaya bahasa perbandingan dengan menggunakan perumpamaan dalam hidup,
gaya bahasa ini terkandung dalam seluruh isi karangan, dengan halus
tersimpul pedoman hidup.
f.
g.
h.
1.
j.
k.
l.
m.
Misalnya : Bhagawat geta, Mahabrata, Bayan budiman (mengandung gaya
bahasa ini)
Tropen
Gaya bahasa perbandingan dengan membandingkan suatu pekerjaan atau
perbuatan dengan kata-kata lain mengandung pengertian sejalan.
Misalnya : Ia mengubur dirinya saja, lalu tidak terdengar suaranya.
Kemarin Ia terbang menuju Timor – Timur.
Setiap malam Ia menjual suaranya untuk nafkah anak istrinya.
Metonimia
Gaya bahasa perbadingan yang mengemukakan merk dagangan atau nama
barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan atau dikerjakan sehingga
kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan.
Misalnya : Ia naik Honda setiap hari ke kantornya. (Naik motor merk Honda)
Litotes
Gaya bahasa perbandingan yang melukiskan keadaan sesuatu dengan katakata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna
merendahkan diri.
Misalnya : Datanglah ke gubuk orangtuaku.
Eufimisme
Gaya bahasa perbandingan yang mengganti suatu pengertian dengan kata lain
yang hampir sama artinya dengan maksud untuk menghindarkan pantang atau
sopan santun.
Misalnya : Rupanya anak saudara kurang pandai sehingga tidak naik kelas
(bodoh)
Berubah akal (gila), Datuk sudah berlalu ke hutan (Harimau)
Hiperbola
Gaya bahasa yang dipakai seseorang untuk melukiskan peristiwa atau keadaan
dengan cara berlebih-lebihan dari sesungguhnya.
Misalnya : Hatiku terbakar, darahku terasa mendidih mendengar berita itu.
Tangisnya menyayat hati orang lain.
Alusio
Gaya bahasa perbandingan dengan mempergunakan ungkapan atau peribahasa
yang sudah lazim digunakan.
Misalnya : Dari tadi engkau menggantang asap saja mana hasilnya.
Kakek itu tua – tua keladi, sudah tua makin menjadi.
Bergaul dengannya cukup makan hati.
Antonomasia
Gaya bahasa perbandingan dengan menyebutkan nama lain terhadap
seseorang yang sesuai dengan sifat orang tersebut.
Misalnya : Si Pincang telah tiada.
Perifrase
Gaya bahasa perbandingan dengan mengganti sebuah kata dengan beberapa
kata atau sebuah kalimat.
Misalnya : Kami baru sampai ke tempat itu sore hari, menjadi Kami sampai ke
tempat itu ketika matahari akan tenggelam di upuk barat.
(2) Gaya Bahasa Penegasan
a. Pleonasme
Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan sepatah kata yang sebenarnya
tidak perlu dikatakan lagi karena arti kata tersebut sudah terkandung dalam
kata yang diterangkan.
Misalnya : Lepas dari Selat Malaka, mulailah kami mengarungi Samudera
Luas.
Salju putih sudah mulai turun.
b. Repetisi
Gaya bahasa penegasan dengan mengulang sepatah kata berkali – kali dalam
kalimat yang lain dan biasanya digunakan oleh ahli pidato.
Misalnya : Cinta adalah keindahan, cinta adalah kebahagiaan, cinta adalah
pengorbanan.
c. Paralelisme
Gaya bahasa penegasan yang dipakai dalam puisi dengan mengulang kata–
kata.
Paralelisme terbagi dua :
1. Anapora :
Salah satu gaya bahasa paralelisme dengan menempatkan
kata atau kelompok kata (frase) yang sama di depan tiap-tiap larik dalam puisi
secara berulang-ulang.
Misalnya : Kalaulah diam malam yang kelam
Kalaulah tenang sawang yang lapang
Kalaulah lelap orang di lawang
2. Epipora : Gaya bahasa paralelisme dengan menempatkan kata atau
kelompok kata (frase) yang sama pada akhir larik dalam puisi secara berulangulang.
Misalnya : Kalau kau mau akan datang
Jika kau kukehendaki, aku akan datang
Bila kau mu, aku akan datang
d. Tautologi
Gaya bahasa penegasan dengan mengulang beberapa kata dalam sebuah
kalimat.
Misalnya : Disuruhnya aku bersabar, bersabar dan sekali lagi bersabar tetapi
kini aku tak tahan lagi.
e. Klimaks
Gaya bahasa penegasan dan menyatakan beberapa hal berturut-turut makin
lama makin menuncak.
Misalnya : Sejak menyemai benih, tumbuh, hingga menuainya aku sendiri
yang mengerjakan.
f. Anti klimaks
Gaya bahasa penegasan yang bertentangan dengan gaya bahasa klimaks,
makna tergantung dalam kata-kata diucapkan berturut-turut makin lama makin
menurun.
Misalnya : Jangankan seribu, seratus rupiah pun tak ada
Dari pejabat tinggi, menengah, sampai rendah turut merasakan
kebersamaan.
g. Retoris
Gaya bahasa penegasan dengan mempergunakan kalimat tanya yang
sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
Misalnya : Mana mungkin orang mati hidup kembali
h. Koreksio
Gaya bahasa penegasan berupa membetulkan (mengoreksi kembali kata-kata
yang salah atau sengaja salah diucapkan).
Misalnya : Hari ini dia sakit ingatan ……..e.. maaf sakit kepala maksudku.
i. Asindenton
Gaya bahasa penegasan dengan mengatakan beberapa benda, hal atau keadaan
secara berturut-turut tanpa memakai kata penghubung.
Misalnya : Kemeja, sepatu, kaus kaki, di belinya di toko itu.
j. Polisindenton
Gaya bahasa penegasan dengan menyebutkan beberapa hal, atau keadaan
secara berturut – turut dengan mempergunakan kata sambung.
Misalnya : Sebelum naik ke rumah maka ditanggalkannyasepatunya, karena
takut mengotori lantai.
l. Interupsi
Gaya bahasa penegasan dengan mempergunakan kata-kata atau bagian kalimat
yang disisipkan di antara kalimat pokok guna lebih menjelaskan dan
penekanan bagian kalimat sebelumnya.
Misalnya : Aku yang bekerja sepuluh tahun di sini belum pernah dinaikan
pangkat.
m. Praterio
Gaya bahasa penegasan dengan menyembunyikan sesuatu serta seolah-olah
menyeluruh, pembaca harus menerka apa yang disembunyikan itu, guna
menjelaskan bagian kalimat sebelumnya.
Misalnya : Kehiruk pikukan masyarakat Yogyakarta dalam menyambut
gerhana matahari total yang langka ini tidak usah saya ceritakan lagi.
n. Enumerasio
Gaya bahasa penegasan dengan melukiskan satu peristiwa agar keseluruhan
maksud kalimat lebih jelas dan tegas.
Misalnya : Angin berhembus, laut tenang, bulan memancar lagi.
o. Inversi
Gaya bahasa yang berupa susunan kalimat terbalik dari subjek predikat
menjadi predilat – subjek. Inversi disebut juga susun balik.
Misalnya : a. Indah benar pemandangannya.
b. Luas sekali halaman rumahnya
p. Elipsis
Gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips (kalimat tidak lengkap).
Kalimat elips ialah kalimat yang subjek atau predikatnya dilesapkan.
Misalnya : Diam ! (maksudnya: Anak – anak diam !)
q. Eksklamasio
Gaya bahasa yang menggunakan kata seru yang termasuk kata seru
diantaranya, yaitu ah, aduh, amboi, astaga, awas, oh, wah.
Misalnya : Awas, ada anjing galak !
(3) Gaya Bahasa Pertentangan
a. Paradoks
Gaya bahasa pertentangan yang hanya kelihatan pada arti kata yang
berlawanan padahal maksud sesungguhnya tidak karena objeknya berlainan.
Misalnya : Hatinya sunyi di kota Jakarta yang ramai ini.
b. Anitesis
Gaya bahasa pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan
artinya.
Misalnya : Cantik atau tidak, kaya atau miskin bukanlah ukuran bagi seorang
wanita.
c. Okupasi
Gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan tetapi kemudian diberi
penjelasannya.
Misalnya : Candu merusak kehidupan. Itu sebabnya pemerintah mengawasi
dengan keras, tetapi si pecandu tetap tidak dapat menghentikan kebiasaannya.
d. Kotradiksio Interminis
Gaya bahasa pertentangan yang memeperlihatkan pertentang an dengan
penjelasan semula.
Misalnya : Semua murid ini hadir, kecuali si Hasan yang sedang ikut Jambore.
e. Anakronisme
Gaya bahasa yang pernyataannya tidak sesuai dengan peristiwa.
Misalnya : a.Pangeran Diponegoro menembaki tentara Belanda dengan rudal
anti pesawat.
b.Candi Prambanan dibuat pada zaman dinasti Syailendra dengan
teknologi cakar ayam.
(4) Gaya Bahasa Sindiran
a. Ironi
Gaya bahasa sindiran yang menyatakan sebaliknya dengan maksud menyindir.
Misalnya : Merdu benar suaramu terbangun aku
b. Sinisme
Gaya bahasa sindiran dengan mempergunakan kata-kata yang sebaliknya
seperti ironi tetapi lebih kasar.
Misalnya : Pukullah aku kalau berani
Muntah aku melihat mukamu
c. Sarkasme
Gaya bahasa sindiran yang paling kasar dengan mempergunakan kata-kata
yang dianggap tidak sopan.
Misalnya : He…..anjing…..pergi dari sini.
d. Antifrasis
Gaya bahasa ironi dengan kata atau kelompok kata yang maknanya
berlawanan.
Misalnya : a. “ Lihatlah si gendut ini,” ketika si kurus datang.
b. “Itu dia, si miskin sudah datang,” kata ibu ketika paman yang
kaya itu datang ke rumah.
e. Inuedo
Gaya bahasa sindiran yang mengecilkan kenyataan sebenarnya.
Misalnya : a. Jangan heran bahwa ia menjadi kaya karena pelit.
b.Wajar saja ia menjadi orang kaya karena melakukan sedikit
korupsi
1.4.2 Citraan
Citraan
ialah
gambar-gambar
dalam
pikiran
dan
bahasa
yang
menggambarkannya, sedangkan setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji
(image). Gambaran-gambaran angan itu ada bermacam-macam, dihasilkan oleh
indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan dan penciuman. Bahkan
juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan.
Menurut Pradopo (2000 : 79) Citraan yang timbul oleh penglihatan disebut
citra penglihatan (visual imagery), yang ditimbulkan oleh pendengaran disebut
citra pendengaran (auditory imagery) dan sebagainya. Gambaran-gambaran angan
yang bermacam-macam itu tidak dipergunakan secara terpisah-pisah oleh penyair
dalam sajaknya, melainkan dipergunakan bersama-sama, saling memperkuat dan
saling menambah kepuitisannya.
Citra penglihatan adalah jenis yang paling sering dipergunakan oleh
penyair dibandingkan dengan citraan yang lain. Citra penglihatan memberi
rangsangan kepada inderaan penglihatan, hingga sering hal-hal yang tak terlihat
jadi seolah-olah terlihat.
Contoh : Puisi Amir Hamzah
Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Citra pendengaran (auditory imagery), juga sangat sering dipergunakan
oleh penyair. Citraan itu dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi
suara. (Pradopo, 2009 : 79 – 86)
Contoh : Puisi Sebab Dikau oleh Amir Hamzah
Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang
Citraan perabaan banyak dipakai para penyair. Misalnya kita dapati dalam
sajak-sajak Subagio Sastrowardojo dan W.S Rendra.
Contoh : W.S Rendra dalam Ada Tilgram Tiba Senja
Kapuk randu, Kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermekaran
Citraan penciuman
Contoh : W.S Rendra dalam Nyanyian Suto untuk Fatima
Dua puluh tiga matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
Citraan pencecapan.
Contoh : Subagio Sastrowardjojo dalam Pembicaraan
Hari mekar dan bercahaya
Yang ada hanya sorga. Neraka
Adalah rasa pahit di mulut
Waktu bangun pagi
Citraan
gerak atau
imageryi
ini
menggambarkan
sesuatu
yang
sesungguhny tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai bergerak, ataupun
gambaran gerak pada umumnya. Citraan gerak ini membuat hidup dan gambaran
jadi dinamis.
Contoh : Abdulhadi dalam Sarangan
Pohon-pohon cemara di kaki gunung
Pohon-pohon cemara
Menyerbu kampung-kampung
Bulan di atasnya
Menceburkan dirinya kedalam kolam
Membasuh luka-lukanya
Dan selusin dua sejoli
Mengajaknya tidur
Sebuah lagu biasanya mengandung makna dan arti yang diinginkan
penulisnya, dan mudah dimengerti, dipahami dan diingat. Dengan begitu sebuah
lagu mampu menghipnotis pendengarnya untuk ikut larut bersama-sama
bernyanyi lagu yang dibawakannya.
1.5 Metodologi Penelitian
1.5.1 Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian
(1) Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang memperhatikan segi-segi
kualitas seperti sifat dan keadaan (Hamidy, 2003 : 23). Dalam hal ini yang akan
dibahas adalah gaya bahasa dan citraan dalam penelitian ini bagaimana gaya
bahasa dan citraan yang terdapat dalam album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau
Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS.
(2) Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam proposal ini adalah penelitian
kepustakaan (Library Research). Maksudnya, penulis memperoleh data dari
perpustakaan dengan mengumpulkan buku-buku yang ada hubungan dengan
masalah yang diteliti. Buku sastra seperti dokumentasi dan teori sastra.
(3) Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik yaitu penelitian
yang hasilnya diketahui melalui gambaran dari data yang dianalisis sehingga
memberikan gambaran yang sebenarnya seperti apa yang terjadi dilapangan.
Kemudian diungkapkan secara objektif dan dianalisis berdasarkan teori dan
pendapat yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian.
1.5.2 Sumber Data
Kajian ini bersumber dari album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau
Kuantan Singingi Takuluak Barembai oleh Hamsirman MS yang terbit tahun
1999. Lagu ini ditulis oleh penerbit Pipin Record dan diproduksi oleh Sari Pesona
Record terdiri dari 10 (Sepuluh) buah lagu, yakni 1) Takuluak Barembai, 2)
Makan Gaji, 3) Mangayam, 4) Kuantan Singingi, 5) Kuantan Sagalo Ado, 6)
Musim Pacu Jaluar, 7) Sarak Tunangan, 8) Nosib Tukang Canang, 9) Bajudi, dan
10) Batobo.
1.5.3 Teknik Penelitian
(1) Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh informasi dan data penelitian, peneliti menggunakan
teknik dokumentasi dan hermeneutik. Teknik ini dioperasionalkan dengan data
yang relevan dan masalah pokok penelitian ini. Semua bahan dipahami dan
ditelaah secara cermat sehingga diperoleh data.
a) Teknik Hermeneutik
Teknik hermeneutik adalah suatu teknik untuk mengkaji karya sastra
dengan membaca, mencatat dan simpul. Teknik ini biasanya dipakai untuk kajian
sastra yang mempelajari naskah (Hamidy, 2003 : 24). Teknik hermeneutik penulis
gunakan dalam penelitian ini adalah untuk dapat mengumpulkan data tentang
album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak Barembai
oleh Hamsirman. MS dengan cara dibaca secara berulang-ulang, mencatat dan
menyimpulkannya.
(2) Teknik Analisis Data
Teknik yang penulis gunakan untuk menganalisis data penelitian adalah
sebagai berikut :
a) Data yang terkumpul atau dikelompokkan diolah dengan menggunakan teoriteori yang tercantum dalam kerangka teoretis penelitian ini.
b) Data yang sudah diolah dikelompokkan dan disajikan sesuai dengan
permasalahan penelitian.
BAB II PENGOLAHAN DATA
2.1 Pengenalan
Lirik lagu daerah Rantau Kuantan merupakan salah satu lirik lagu yang
menggunakan Melayu daerah Rantau Kuantan dijadikan sebagai kekuatan bahasa
agar lebih dekat dengan pendengar dan juga penikmat lagu tersebut. Di dalam
lagu tersebut terdapat beberapa gaya bahasa dan citraan yang bisa ditelaah secara
teoritis, sehingga akan memberikan suatu gambaran tersendiri mengenai lirik lagu
tersebut. Beberapa lirik lagu ini ditulis dan dinyanyikan oleh Hamsirman, dimana
lirik lagu tersebut banyak mengungkapkan aktivitas sehari-hari masyarakat
Rantau Kuantan dan kondisi alam daerah tersebut.
Setelah penulis membaca, memahami, dan menelaah setiap lirik lagu yang
terdapat pada lagu daerah Rantau Kuantan terdapat beberapa jenis gaya bahasa
yang dalam lagu tersebut.
2.2. Lirik Lagu Rantau Kuantan
2.2.1 Takuluak Barembai
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Ondek ai rancaknyo kawu
Gadi Toluak Kuntan
Mamakai pakai adat
Baju takuluak barembai
Aduhai cantiknya kamu
Gadis Taluk Kuantan
Memakai pakaian adat
Baju tengkolok berenda
Baju itam bacurak kuniang
Itu lambang Panghulu Rajo
Barangkai jo kaluang bungo
Saroto siriah carano
Baju hitam becorak kuning
Itulah lambang Penghulu Raja
Berangkai dari kalung bunga
Beserta sirih cerana
Baju takuluak barembai
Ditonun dek gadi Toluak
Baju beselendang berenda
Ditenun oleh gadis Taluk
Baragi baayiar omeh
Barambai kiri jo kanan
Dipakai menyambuik tamu
Bupati Gubonuor jo Mantari
Manjadi lah pagar ayu
Anak daro bujang jo gadi
Beragi seperti air emas
Melambai kiri dan kanan
Dipakai menyambut tamu
Bupati Gubernur dan Menteri
Menjadilah pagar ayu
Anak dara bujang dan gadis
2.2.2 Makan Gaji
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Ondek ai gadi nan rancak
Jangan tagoge….2x
Sandang parikek baladiang
Jo cabak godang.....2x
Ondek ai cabak godang
Kamano kawu diak gadi
Mamakan gaji
Batuduang pandan takopik
Lapiak mingkuang
Nasi baibek nan kan kito makan
Sambal karambial bapanggang
Kambuluayam...2x
Hai gadis yang cantik
Jangan tergesa-gesa
Bawa bakul dan parang
Beserta cangkul besar
Hai cangkul besar
Mau kemana kau anak gadis
Memamak gaji
Bertudung pandan terjepit
Bertikar anyaman pandan
Nasi dibungkus yang kita makan
Sambal kelapa dibakar
Bersama ayam
Ondek ai abang nan sayang
Jangan baetu....2x
Ambo kan poi kaladang
Mamakan gaji bang
Etin kadarek mangangsang
Kasungai lintang
Iyo kaladang urang
Kalau di bauah bang sayang
Ambo baladang
Batanam padi jo jaguang
Saroto kacang
Kombuik disandang singguluang
Kain sumbayang kok makan gaji
Patogua iman ke Tuhan
Hai abang sayang
Jangan begitu
Saya akan pergi keladang
Mencari uang bang
Kalau kedarat
Ke sungai lintang
Ya ke ladang orang
Kalau dibawah abang sayang
Saya berladang
Menanam padi dan jagung
Berserta kacang
Tas disandang digulung
Kain sholat untuk mencari uang
Perkuat iman pada Tuhan
Kalau disobuik diak gadi
Untuangnyo badan......2x
Indak untuang diak gadi
Nan untuang urang....2x
Ondek ai malang badan
Urang lai sonang diak gadi
Kalau dibilang adik gadis
Untungnya badan
Tidak serupa adik gadis
Yang untung orang
Hai malangnya badan
Orang yang senang adik gadis
Kawu nan malang
Mamakan gaji tadayuak
Diladang urang
Kamu yang malang
Mencari uang diupah
Diladang orang
Abang manakiak juo
Di kobun urang
Mamakan gaji manobe
Kobun duok somang
Abang memotong karet juga
Di kebun orang
Mencari uang menebas
Kebun ibu angkat
Jangan dietong bang sayang
Untuangnyo badan.....2x
Jauah taibo bang sayang
Ati ambo go...2x
Ondek ai malang ambo bang
Jangan disebutkan abang sayang
Untungnya badan
Jauh hiba abang sayang
Hati saya ni
Hai malangnya saya bang
Amualah kito samo-samo
Manenggang susah jo sonang kito
Rasokan nasi baibek nan kan kito
Makan sambal karambial
Bapanggang kambulu ayam
Marilah kita bersama-sama
Menanggung susah dan senang
Rasakan nasi dibungkus yang kita
Makan sambal kelapa
Dibakar bersama ayam
2.2.3. Manganyam
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Manganyam
Manganyam
Kan yo baitu....yorang Toluak
Kan yo baitu....yorang Toluak
Manganyam kito basamo-samo
Torang bulan bakilau-kilauan
Kami duduak bak cando ito
Koto Toluak malam torang bulan
Kan yo baitu yorang Toluak
Menganyam
Menganyam
Kan begitu.......ya orang Taluk
Kan begitu…...ya orang Taluk
Mengayam kita bersama-sama
Terang bulan berkilau-kilauan
Kami duduk bercanda ria
Kota Taluk malam terang bulan
Bukannya begitu orang Taluk
Jari nan aluih dipamainkan
Tikar kombuik kami karojokan
Calempong tingka
Sayuik kodongaran
Kan panghibur hati handai taulan
Bilo malam bulan mambori hiburan
Mangayam kami duolah baduo
Koto Toluak malam torang bulan
Kan yo......baitu
Yorang Toluak
Jari yang halus dipermainkan
Tikar kembut kami kerjakan
Calempong dimainkan
Sayup kedengaran
Jadi penghibur hati handai taulan
Bila malam bulan memberi hiburan
Menganyam kami dua berdua
Kota Taluk malam terang bulan
Bukannya begitu
Orang Taluk
2.2.4 Kuantan Singingi
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Toluak Kuantan tasobuik jo kota jaluar Taluk Kuantan terkenal dengan kota
jalur
Lubuak Jambi tasobuik jo kota lomang Lubuk Jambi terkenal dengan kota
lemang
Muaro Lombu tasobuik omeh jo batu
Muara Lembu terkenal emas dan batu
Kok Basora tasobuik jo buah ciku
Basrah terkenal dengan buah ciku
Kalau Caronti itu batehnyo
Bola kaulak Kuantan Singingi
Di situ banyak buah durian
Kalau Cerenti itu batasnya
Sebelah hulu Kuantan Singingi
Di situ banyak buah durian
Dalam wilayah Kuantan Singingi
Ponua dek adat budayo tradisi
Bapacu jaluar satahun sakali
Itu budayo kito nan paliang tenggi
Kabupaten Kuantan Singingi ………..
Ibu kotanyo Toluak Kuantan ………
Dalam wilayah Kuantan Singingi
Penuh dengan adat budaya tradisi
Berpacu jalur sekali setahun
Itu budaya yang paling tinggi
Kabupaten Kuantan Singingi
Ibu kotanya Taluk Kuantan
2.2.5 Kuantan Sagalo Ado
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Bukit Batabuah di Lubuk Jambi
Aiar Tangkuban jo Candi Kalilawar
Bukit Cokiak di Muaro Lombu
Jalan bakelok ka Koto Baro
Bukit Batabuah di Lubuk Jambi
Air Tangkuban dan Candi Kalilawar
Bukit Cokik di Muara Lembu
Jalan berliku ke Koto Baru
Gajah putiah lopo gadiang
Jambatan panjang kasubarang Benai
Jaluar patah di labuah lurih
Jalan menuju ka Patin Lowe
Gajah putih lupa gadingnya
Jembatan panjang keseberang Benai
Jalur patah di pelabuhan lurus
Jalan menuju ke Patin Lowe
Olang pulai iyo di Pangiean
Makam Bagindo Rajo nan di Basora
Elok rancaknyo batu
Dindiang Caronti
Tasobuik carito Ino Rubiah
Mancari kayu di Pulau Sipan
Dijual mondek ka Taluak Kuantan
Elang pulai di Pangian
Makam Baginda Raja di Basrah
Sangat bagus batu
Dinding Cerenti
Disebut cerita Ino Robiah
Mencari kayu di Pulau Sipan
Dijual ibu ke Taluk Kuantan
Kalau di Basora ado Pasir Usang
Kalau di Basrah ada Pasir Usang
Dari Koto Rajo kito manyubarang
Toluak Kuantan jo kisoh Limuno
Di Kari ado Danau Buayo
Rantau Kuantan nan daolunyo ……..
Tasobuik kao sagalo ado ………….
Dari Kota Raja kita menyeberang
Taluk Kuantan dengan kisah Limono
Di Kari ada danau buaya
Rantau Kuantan yang dahulunya
Terkenal semua ada
2.2.6 Musim Pacu Jaluar
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Pacu jaluar kini la tibo
Banyak urang manengoknyo
Godang kenek patah rantiang
Opolai nan mudo-mudo
Pacu jalur sekarang sudah datang
Banyak orang melihatnya
Besar kecil
Apalagi yang muda-muda
Ompek hari ompek malam
Pacu jaluar diadoan
Bujang jo gadi kini la lesek
Malam pacu jaluar mancari cewek
Empat hari empat malam
pacu jalur diadakan
Bujang gadis sekarang mulai berubah
nakal
Malam pacu jalur mencari pacar
Lomak dek nan mudo-mudo
Kok bahonda baduo-duo
Duik ado cewek tabao
Manonton randai nan di Limuno
Enak pada anak muda-muda
Memakai motor sudah berdua-dua
Uang ada cewek terbawa
Menonton randai di Limono
Kini iduik kamari bedo
Ari pangujan duik tak ado
Ilang poniong sakik kapalo
Kalau tak poi malu rasonyo
Sekarang hidup sudah berbeda
Hari penghujan uang tidak ada
Hilang pusing sakit kepala
Kalau tidak pergi malu rasanya
Buruak bonar nosib badan go
Kan di jual indak loh ado
Banyak duduok di kaki limo
Badan busuak...bacirik mato
Buruk benar nasib badan ini
Yang akan dijual pun tidak ada
Banyak duduk di kaki lima
Badan busuk...bertaik mata
2.2.7 Sarak Tunangan
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Liaaaaaniiiiii.......
Apo, bang.....
Nanti........dennnnn
Eeek......abang ge.....
Liani
Apa, bang
Nanti......saya
eh......abang ni
Ondek ai diak....
Batinggalan
Abang dek kawu
Dulu kito lah bajonji
Samo saiduik samati
Ambo sayang nan kek abang
Abang sayang nan kek ambo....
Aduh hai adik
Ditinggalkan
Kamu oleh abang
Dulu kita pernah berjanji
Bersama sehidup semati
Saya sayang pada abang
Abang sayang pada saya
Lah sudah tando baantar
Abang barangkek ke Malesia
Adiak tinggal nan dikampuang
Mananti jo tunangan
Mananti jo tunangan
Setelah tanda diantar
Abang berangkat ke Malaysia
Adik tinggal dikampung
Menanti tunangan
Menanti tunangan
Lah satauan abang di rantau
Obar indak barito indak
Ruponyo abang maungkai
Janji ninik mamak kito
Sudah setahun abang di rantau
Kabar tidak berita tidak
Rupanya abang mengingkar
Janji orang tua kita
Siriah carano dek ulu
Nan babungkui jo sapu tangan
Tapaso tando baambiak
Dari pado basakik ati
Abang rela kito bapisah
Biarlah kito sarak tunangan
Sirih cerana di hulu
Yang dibungkus disapu tangan
Terpaksa tanda dipulangkan
Dari pada sakit hati
Abang rela kita berpisah
Biarlah kita putus tunangan
Untuang bonar.....
Olun ado.....tak mungkin
Kito iduik basamo…
Untung benar
Belum ada….. tak mungkin
Kita hidup bersama
2.2.8 Tukang Canang
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Nosib.......tukang canang
Marongak.....di tonga malam
Maobaran parenta dari Pak Wali
Nasib tukang canang
Berteriak di tengah malam
Mengumumkan perintah dari Pak
Wali
Menyampaikan pesan-pesan di
negeri
manyampaian posan – posan di nagori
Tibo musim nyo kaladang
Gugua canangnyo Pak Wali
Batobo dengan mangaji
Sampai ka manimbang bayi
Tiba musimnya ke ladang
Pukul canangnya Pak Wali
Batobo dengan mengaji
Sampai menimbang bayi
Gugua canangnyo Pak Wali
Nosib tukang canang
Ampiar sado tukang canang
Bacanang indak babaju
Mangugua calempong surang
Marongak di simpang jalan
Ponek badan dek bajalan
Urang kampuang baimbauan
Onta dongar onta indak 2x
Calempong buruak bakundang juo
Pukul canangnya Pak Wali
Nasib tukang canang
Hampir semua tukang canang
Bacanang tidak berbaju
Memukul calempong sendiri
Berteriak disimpang jalan
Capek badan karena berjalan
Orang kampong dikasih tau
Entah dengar entah tidak 2x
Calempong jelek dibawa juga
2.2.9 Bajudi
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Banyak tajadi di zaman kinigo
Duduk bajudi di kaki limo
Mintak teh toluar kocok domino
Main barompek baduo-duo
Banyak terjadi dizaman sekarang
Duduk berjudi di kaki lima
Minta teh telur kocok domino
Main berempat berdua-dua
Kalau disobuik buruak balako
Itu karajo indak paguno
Kocok domino nan dari sonjo
Beko tanpantak kapukual tigo
Kalau lah kala paneh darahnyo
Tibo di rumah marabo-rabo
Kalau dibilang jelek semua
Itu kerja tidak berguna
Kocok domino mulai dari senja
Nanti sampai jam tiga
Kalah sudah kalah panas darahnya
Tiba di rumah marah-marah
Ondek ai abang.....
Ngapo co iko......
Duik tak ado bajudi juo
Iyolah bedo candu judi go
Anak jo bini bang……nan taniayo
Aduh hai abang
Mengapa jadi begini
Uang tak ada berjudi juga
Iyalah beda kalau sudah candu judi
Anak dan Istri bang..yang teraniaya
Kalau bajudi dipaturuik kan
Tak obe makan siang jo malam
Ambo baposan tolong dongaran
Kok main judi tolong jauhkan
Kalau berjudi diikutkan
Tak ingat makan siang dan malam
Saya berpesan tolong didengarkan
Bermain judi tolong jauhkan
2.2.10 Batobo
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Urang Kuantan.. urang Kuantan
Poi batobo
Orang Kuantan....orang Kuantan
Pergi batobo
Batobo rarak sayang
Basamo-samo
Jantan batino pai karojo
Nan dari pagi sayang
La sampai sonjo
Iyo tasobuik....Iyo tasobuik
Dari daolu
Botobo rarak sayang jantan batino
Bararak godang
Calempong onam
Iyo barandai sayang poi batobo
Batobo rarak sayang
Bersama-sama
Laki-laki wanita pergi kerja
Sejak dari pagi sayang
sampai senja
Ia tersebut
Dari dahulu
Batobo rarak sayang laki-laki wanita
Berarak besar
Calempong enam
Ia Berandai sayang pergi batobo
Tobo kito batobo
Batobo basamo
Batobo kito batobo
Itu budayo di kampuang kito
Tobo kita batobo
Batobo bersama
Batobo kita batobo
Itu budaya di kampung kita
Kalau batobo..Kalau batobo
Baganti ari
Indak lah lupo sayang
Mambaok konji
Sasudah karojo.....dibao bonti
Sambial bararak sayang
Randai bajadi
Kalau batobo….kalau batobo
Berganti hari
Tidaklah lupa sayang
Membawa konji
Sesudah kerja dibawa berhenti
Sambil berarak sayang
Randai berjalan
Kalau batobo 2x
Jantan batino
Baibek nasi saroto mangkanan
Bujang jo gadi bamain mato
Siang bajonji sayang malam basuo
Kalau batobo 2x
Laki-laki wanita
Membawa nasi serta makanan
Bujang dan gadis bermain mata
Siang berjanji sayang malam
bertemu
Tobo kito batobo
Batobo basamo-samo
Batobo kito batobo
Itu budayo di kampuang kito
Tobo kito batobo
Batobo bersama-sama
Batobo kita batobo
Itu budaya di kampong kita
2.3 Gaya Bahasa
Dalam penelitian ini akan di analisis beberapa gaya bahasa yang terdapat
di dalam album kumpulan lagu-lagu daerah Rantau Kuantan Singingi Takuluak
Barembai oleh Hamsirman MS. Gaya bahasa dalah bahasa yang digunakan untuk
menggambarkan, melukiskan, dan menegaskan ide dalam bentuk bahasa yang
menarik.
2.3.1 Gaya Bahasa Perbandingan
Dalam penelitian ini gaya bahasa perbandingan terdiri dari Metafora,
Personifikasi, Simile, Alegori, Alegori, Metonimia, Litotes, Hiperbola dan
Sinekdoks.
2.3.1.1 Metafora
Gaya bahasa metafora adalah gaya perbandingan dengan membandingkan
suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir
sama. Gaya bahasa ini digunakan penulis lirik lagu untuk memberi suatu
pembanding terhadap sesuatu sehingga akan lebih mudah untuk dipahami.
Lagu Makan Gaji, metafora ditemui pada
Bahasa Daerah
Ondek ai gadi nan rancak
Jangan tagoge….2x
Sandang parikek baladiang
Jo cabak godang.....2x
Bahasa Indonesia
Hai gadis yang cantik
Jangan tergesa-gesa
Bawa bakul dan parang
Beserta cangkul besar
(Makan Gaji: Lirik 1,2,3,4)
Metafora dalam kutipan di atas memperlihatkan sebuah semangat dalam
bekerja dengan membawa peralatan kerja. Namun disini, yang bekerja dengan
membawa peralatan kerja adalah seorang wanita, dimana wanita tersebut bekerja
memperlihatkan disiplin dalam bekerja yakni pergi kerja lebih awal.
Lagu Musim Pacu Jaluar, metafora dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Ompek hari ompek malam
Pacu jaluar diadoan
Bahasa Indonesia
Empat hari empat malam
Pacu jalur diadakan
Lomak dek nan mudo-mudo
Kok bahonda baduo-duo
Enak pada anak remaja
Memakai motor sudah berdua
(Musim Pacu Jalur : Lirik 5,6,9,10).
Metafora dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan kebahagian.
Pada musim pacu jalur dilaksanakan empat hari empat malam, bagi remaja
dijadikan sebagai ajang untuk mencari jodoh. Karena sudah menjadi tradisi pada
musim pacu jalur harus ada pasangan untuk menonton pacu jalur. Sehingga ada
rasa minder apabila pada saat itu, ada yang tidak mendapat pasangan. Malahan
banyak pasangan setelah usai pacu jalur merupakan hasil karya masyarakat ang
memiliki ciri-ciri dan nilai tersendiri, masyarakat Rantau Kuantan mengenal pacu
jalur sejak tahun 1900 silam, yakni sejak zaman kolonial Belanda. Kegiatan ini
diselenggarakan untuk memeriahkan ulang tahun Ratu Wihelmina. Ketika itu
pacu jalur dikenal dengan nama Tambaru yaitu singkatan dari tahun baru, hingga
masih melekat dihati masyarakat Rantau Kuantan.
Lagu Tukang Canang, metafora dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Batobo dengan mangoji
Sampai manimbang bayi
Bahasa Indonesia
‘Batabo dengan mangoji’
‘Sampai menimbang bayi’
(Tukang Canang: lirik 7,8)
Metafora dalam kutipan di atas digunakan sebagai sebuah semangat.
Biasanya dalam batobo tidak hanya dalam pekerjaan atau sering disebut dengan
gotong royong. Tetapi juga dalam pembuatan konji (sejenis bubur dari tepung
pulut dengan santan yang agak kental rasanya manis). Kadang kala antara batobo
dan mangoji seiring. Melakukan batobo (gotong royong) bagi laki-laki dan
mangoji adalah perempuan. Mereka akan berkumpul pada saat beristirahat. Begitu
juga dengan menimbang bayi juga dengan bantuan pihak puskemas.
Lagu Kuantan Singingi, metafora dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Lubuk Jambi tasobuik jo Kota Lomang
Lemang’
Muaro Lombu tasobuik omeh jo batu
Kok Basorah tasobuik jo buah ciku
Kalau Caronti itu batehnyo
Bolah kaulak Kuantan Singingi
Disitu banyak buah durian
Bahasa Indonesia
‘Lubuk Jambi terkenal
dengan
Kota
‘Muara Lembu terkenal emas dan batu’
‘Basrah terkenal dengan buah ciku’
‘Kalau Cerenti itu batasnya’
‘Sebelah hulu Kuantan Singingi’
‘Disitu banyak buah durian’
(Kuantan Singingi:lirik 2,3,4,5,6,7)
Metafora dalam kutipan di atas digunakan untuk menggambarkan keadaan
alam dan tradisi. Hasil kebudayaan atau suatu kebiasaan, hasil alam di daerah
tersebut dijadikan aset dan nilai tambah bagi daerah tersebut. Walaupun dengan
segala perbedaan itu masyarakat diharapkan selalu hidup berdampingan. Lubuk
jambi dijuluki kota lemang, muara lembu banyak dijumpai emas dan batu. Basrah
dengan buah ciku, dan cerenti banyak buah durian. Tradisi melemang sering
dijumpai pada saat menyambut hari-hari besar agama dan musim durian tiba.
Hari-hari biasa ada juga tetapi sulit dijumpai.
Lagu Kuantan Sagalo Ado, metafora dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Olang pulai di Pangien
Makan bagindo rajo nan di Basora
Toluak Kuantan jo kisah limuno
Di Kari ado danau buayo
Bahasa Indonesia
‘Elang pulai di pangian’
‘Makam baginda raja di Basrah’
‘Taluk Kuantan dengan kisah limuno’
‘Di kari ada danau buaya’
(Kuantan
Kayo
Tradisi:
lirik
9,10,11,12)
Metafora dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan keragaman.
Keragaman dalam cerita rakyat. Walaupun dengan segala perbedaan itu
masyarakat diharapkan hidup perdampingan. Selain menambah khsanah budaya,
cerita rakyat pun dijadikan sebagai cerita anak-anak sebelum tidur. Diantaranya
Olang Pulai, Kisah Limuno, Danau Buaya dan lain-lain. Elang pulai merupakan
elang pembawa berita bagi masyarakat negeri itu. Karena kebaikan hatinya maka
elang pulai dijadikan tempat kepercayaan masyarakat dalam membawa berita dari
raja. Metafora yang terdapat pada lagu Bajudi sebagai berikut :
Bahasa Daerah
Kocok domino nan dari sonjo
Beko tanpantak kapukual tigo
Kalau lah kala paneh darahnyo
Tibo dirumah marabo-rabo
Bahasa Indonesia
Kocok domino mulai dari senja
Nanti sampai jam tiga
Kalah sudah kalah panas darahnya
Tiba dirumah marah-marah
(Bajudi : Lirik 7,8,9,10)
Dimana di dalam lagu Bajudi terdapat gaya bahasa Metafora yang
menggambarkan emosi yang tak tertahan setelah kalah bermain judi domino,
namun emosi tersebut dibawa kerumah dengan memarahi orang-orang yang ada
dirumah.
2.3.1.2 Personifikasi
Gaya bahasa personifikasi adalah Membandingkan benda mati atau tidak
dapat bergerak seolah-olah bernyawa dan dapat berperilaku seperti manusia. Gaya
bahasa ini dipergunakan penulis lirik lagu untuk membri kejelasan bayangan yang
kongkrit dalam kehidupan.
Lagu Musim Pacu Jaluar, personifikasi dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Kini iduik kamari bedo
Hari pangujan duik tak ado
Bahasa Indonesia
‘Sekarang hidup sudah berbeda’
‘Hari penghujan uang tidak ada’
(Musim pacu jaluar: lirik 13,14)
Personifikasi dalam kutipan digunakan untuk menggambarkan perasaan
dalam keadaan yang begitu sulit. Dimana keadaan yang begitu sulit, karena
keadaan alam yang tidak mendukung (penghujan) maka akan berdampak pada
masyarakat.
Bahasa Daerah
Buruak bonar nasib badan ko
Yang kan dijual pun tak ado
Bahasa Indonesia
‘Jelek benar nasib badan ko”
‘Yang akan di jual pun tidak ada”
(Musim pacu jaluar: lirik 17.18)
Personifikasi dalam kutipan di atas digunakan untuk menggambarkan
perasaan seseorang dalam keadaan yang begitu sulit. Di mana yang akan di jual
pun tidak ada. Mata pencariaan masyarakat rantau kuantan yang tergantung pada
alam. Kalau hari penghujan maka tidak lah dapat memotong karet (manakiek).
Bahasa Daerah
Banyak duduek di kaki limo
Badan busuek bacirik mato
Bahasa Indonesia
‘Banyak duduk di kedai kopi”
‘Badan bauk bertaik mata”
(Musim pacu Jaluar:lirik 19.20)
Personifikasi dalam kutipan di atas digunakan untuk menggambarkan
penderitaan yang selalu mengancam kehidupan seseorang dan perasaan sedih.
Sama halnya dengan orang yang hidup terlunta-lunta. Beban hidup yang terlalu
dipikirkan akhirnya menjadi penyakit dalam dirinya.
Lagu Mangganyam, personifikasi dapat dijumpai pada lirik lagu berikut :
Bahasa Daerah
Jari alui dipamainkan
Bahasa Indonesia
‘Jari halus dipermainkan’
(Mangganyam: lirik 10)
Personifikasi dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan
keindahan dan keromantisan, jemari tangan yang digunakan untuk menyulap
sebuah tikar atau yang lainnya begitu indah yang dilakukan pada malam hari yang
penuh dengan keromantisan.
Lagu Takuluak Barembai, personifikasi dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Baju itam bacurak kuniang
Baju Takuluak barembai
Bahasa Indonesia
‘Baju hitam bercurak kuning’
‘Baju Kerudung barenda’
(Takuluak Barembai: lirik 5,9)
Personifikasi dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan
kehidupan yang penuh dengan keindahan, takuluak barembai ini merupakan adat
kuantan singingi yang banyak menggunakan renda yang unik, bewarna dasar
hitam ditambah hiasan yang bewarna kuning keemasan (lambang kebesaran raja).
Warna hitam melambangkan kesaktian dan warna kuning melambangkan suatu
keagungan.
2.3.1.3 Simile
Gaya
bahasa
memperbandingan
simile
sesuatu
adalah
dengan
gaya
keadaan
bahasa
lain
perbandingan
dengan
yang
dengan
sesuai
gambaran/keadaaan dan sifatnya. Gaya bahasa ini digunakan penulis lirik lagu
menyamakan hal yang satu dengan yang lainnya menggunakan pembanding atau
perumpamaan dan tidak menyebutkan secara langsung objek yang dimaksudkan.
Lagu Takuluak Barembai, simile dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Baragi bak air ome
Menjadilah pagar ayu
Bahasa Indonesia
Barigi seperti air emas
Menjadilah pagar ayu
(Takuluak Barembai: lirik 11. 15)
Simile dalam kutipan di atas sebagai bentuk keindahan dan kecantikan.
Pakaian adat bewarna kuning keemasan dipakai oleh gadis Rantau Kuantan untuk
acara penyambutan orang penting atau tamu. Warna keemasan merupakan
lambang kebesaran, pagar ayu biasanya sepasang pemuda pemudi anak Rantau
Kuantan dalam sebuah penyambutan. Di Rantau Kuantan tradisi masih kental,
sehingga sampai saat ini masih dapat dilestarikan dan masih sering dijumpai. Pada
dasarnya masyarakat dalam penyambutan tamu, tamu dijadikan benar-benar
dalam keadaan seperti raja, sehingga ada persiapan yang matang, mulai dari
penyambutan dengan tarian persembahan yang sering kali memakai Takuluak
Barembai dengan warna keemasan. Bujang gadis inilah yang nantinya akan
menjadi pagar ayu.
Lagu Kuantan Sagalo Ado, simile dapat dijumpai
Bahasa Daerah
Elok rancaknyo batu
Dinding Caronti
Bahasa Indonesia
Sangat bagus batu
Dinding Cerenti
(Kuantan Sagalo Ado: lirik 11,12)
Simile dalam kutipan di atas adalah sebagai pembanding. Simile
digunakan untuk sebuah keindahan dan harapan untuk tetap bertahan, dimana
dinding yang dibuat begitu unik yang disusun dengan batu untuk sebuah
pertahanan dikala ada serangan pada masa dahulu. Sekarang dijadikan moto
dalam kehidupan masyarakat yaitu Basatu Nagori Maju. Dinding sebagai
pertahanan yang dapat memberikan kekuatan untuk sebuah kemenangan, namun
sayang pada saat sekarang dinding Cerenti itu tidaklah terurus lagi.
2.3.1.4 Gaya Bahasa Alegori
Gaya Bahasa Alegori adalah alegori adalah menyatakan sesuatu hal
dengan menggunakan ungkapan atau peribahasa. Gaya bahasa ini digunakan
penulis lirik lagu sebagai pembanding cerita kehidupan yang diperluas,
berkesinambungan, dan gagasannya diperlambangkan.
Lagu Batobo, alegori dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Baibek nasi saroto makanan Membawa nasi dan makanan
(Batobo: lirik 27)
Alegori dalam kutipan ini untuk melukiskan seseorang dalam menghadapi
kehidupan yang penuh dengan harapan dan kebahagiaan. Membawa nasi dan
penganan lain yang biasanya dibungkus dengan menggunakan daun pisang dan
dijumpai pada acara batobo. Baibek dalam batobo merupakan dalam bentuk
sedekah. Tradisi ini masih berkembang sampai pada saat sekarang. Daun pisang
yang agak mudah dilayukan dulu dengan menggunakan api yang agak kecil,
dengan maksud daun pisang yang digunakan tidaklah terbakar dan mudah untuk
membentuknya atau membungkus nasi yang akan dibawa. Selain itu baibek nasi
juga merupakan upah dalam batobo di Rantau Kuantan.
Lagu Musim Pacu Jalur, alegori dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bujang gadih kini la lesek
Bahasa Indonesia
Bujang gadis sekarang sudah berubah nakal
(Musim Pacu Jalur: lirik 7)
Alegori dalam kutipan di atas adalah lesek sebagai pembanding kehidupan
manusia. Ketidaktaatan pada aturan adat dan agama yang berlaku dalam
masyarakat. Sebahagian pemuda pemudi musim pacu jalur hilir mudik, tingkah
laku mereka bertolak belakang pada apa yang diharapkan sebelumnya. Nakal yang
masih bisa diatasi. Sudah menjadi kebiasaan, pada malam pacu jalur banyak
remaja berkeliaran dan bergadang sampai pagi. Memang tidak semua mempunyai
sifat seperti itu, pada dasarnya hanya sebagian pemuda.
Lagu Manganyam, alegori dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Torang bulan bakilau-bakilauan
Kami duduak bacando iyo
Terang bulan berkilau-kilauan
Kami duduk bercanda ia
(Manganyam lirik: 6,7)
Alegori dalam kutipan ini digunakan untuk melukiskan keadaan suatu
daerah yang indah. Pada malam hari Koto Toluak (nama daerah) tampak begitu
indah dengan terang bulan dan juga dihiasi lampu-lampu yang bewarna-warni.
Kebiasaan masyarakat menunggu waktu yang tepat untuk mengganyam, artinya
pada saat terang bulan berkilau-kilauan akan menambah semangat, dan
menghasilkan pekerjaan yang diinginkan. Tidak hanya itu, tetapi juga menambah
keceriaan seseorang.
Bahasa Daerah
Jari alui dipamainkan
Calempong tingkah
Bahasa Indonesia
‘Jari halus dipermainkan’
‘Calempong yang dimainkan’
(Mangganyam: lirik 10,12)
Alegori dalam kutipan ini digunakan untuk melukiskan suasana hati dan
keadaan yang mendukung pada saat itu, untuk melakukan kegiatan. Jemari tangan
dimainkan untuk membuat tikar/anyaman lainnya, diiringi musik calempong
terdengar sayup sampai ketelinga. Calempong tingkah merupakan sejenis alat
musik yang dimainkan dengan ayunan tangan. Sehingga menghasilkan irama yang
indah, biasanya dalam semua kegiatan masyarakat mempercayai pada saat
mengganyam calempong tingkah akan menambah semangat, sehingga jari halus
seorang wanita akan lancar dalam melakukan kegiatan. Hal ini sangat
berhubungan dengan suasana hati dan keadaan.
Lagu Takuluak Barembai, alegori dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Baju takuluak barembai
Baju hitam bacurak kuniang
Itulah lambing Panghulu Rajo
Barangkai jo kaluang bungo
Bahasa Indonesia
Baju tengkolok berenda
Baju hitam bercurak kuning
Itulah lambang Penghulu Raja
Berangkai dari kalung bunga
(Takuluak Barembai: lirik 4,5,6,7)
Alegori dalam kutipan ini digunakan untuk melukiskan kehidupan yang
mewah dan indah. Baju Takuluak Barembai ini merupakan pakaian adat Kuantan
Singingi yang banyak menggunakan renda yang unik, bewarna dasar hitam
ditambah hiasan yang bewarna kuning keemasan (lambang kebesaran Raja).
Warna hitam melambangkan kesaktian dan warna kuning melambangkan suatu
keagungan. Sebenarnya tidak sembarang orang dapat memakai pakaian tersebut.
Di Rantau Kuantan biasanya diperuntukan untuk seseorang yang dapat dipercaya.
Lagu Kuantan Sagalo Ado, alegori dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Bukit Batabuah di Lubuk Jambi
Bukit Batabuah di Lubuk Jambi
Aiar Tangkuban jo Candi Kalilawar Air Tangkuban dan candi Kalilawar
(Kuantan Sagalo Ado: lirik 1, 2)
Alegori dalam kutipan ini digunakan untuk menyatakan keindahan alam
yang harus dilestarikan. Di daerah Rantau Kuantan tepatnya di Lubuk Jambi
dijumpai Bukit Batabuah, Air terjun, dan Candi Kalilawar merupakan bentuk hasil
alam yang harus dijaga kelestariannya. Dahulunya Bukit Batabuah merupakan
hutan yang diyakini memiliki kekuatan dan sebagai hutan lindung yang dapat
menghasilkan kayu yang bagus dalam pembuatan Jalur. Tidak sembarangan orang
bisa masuk dalam hutan itu, begitu juga Air Tangkuban yang dapat dijadikan
sebagai obat, tangkuban juga hutan yang masih murni, belum dijama oleh tangan
manusia. Sedangkan Candi Kelelawar sampai saat sekarang belum ditemukan,
tetapi candi itu akan muncul sendirinya. Tidak semua orang dapat melihat candi
tersebut, hanya orang yang diyakini memiliki ilmu yang dapat melihat candi
tersebut.
Alegori pada lagu Sarak Tunangan dapat ditemui pada,
Bahasa Daerah
Dulu kito lah bajonji
Samo saiduik samati
Bahasa Indonesia
Dulu kita pernah berjanji
Bersama sehidup semati
(Sarak Tunangan: lirik 8,9)
Alegori dalam kutipan di atas, memperlihat perjanjian dua orang laki-laki
dan perempuan untuk hidup dan mati bersama-sama. Ini menggambarkan
semangat yang sesaat tanpa tahu akan masa depannya.
2.3.1.5 Metonimia
Gaya Bahasa ini digunakan penulis lirik lagu untuk pembanding keadaan
dengan kata atau hal lain, karena mempunyai pertalian yang dekat.
Lagu Batobo, Metonimia dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Jantan batino abih karojo
Nan dari pagi sayang la sampai sonjo
Batobo rarak sayang jantan batino
Bahasa Indonesia
laki-laki wanita habis kerja
yang dari pagi sayang sampai senja
batobo rarak sayang laki-laki wanita
(Batobo: lirik 3,4,6)
Metonimia dalam kutipan di atas digunakan mengkiaskan suatu keindahan
saat kebersamaan dan tidak tampak adanya perbedaan. Laki-laki dan perempuan
bekerja dari pagi sampai senja adanya saling kebersamaan yang menjadikan
dambaan setiap manusia untuk saling menghargai. Dalam rarak randai tidak hanya
laki-laki tetapi perempuan pun dapat merasakan hal yang sama, karena nada-nada
yang diiringi dengan alat musik rarak akan memberikan semangat dalam
melakukan pekerjaan. Keadaan seperti ini dahulu sering dijumpai pada saat
batobo, namun sekarang sudah sangat susah kita jumpai.
Lagu Musim Pacu Jaluar, Metonimia dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Godang kenek tuo mudo mato rantiang
Apolai yang mudo-mudo
Bahasa Indonesia
‘Besar kecil tua muda mata ranting’
‘Apalgi yang muda-muda’
(Musim pacu jaluar: lirik 2,3)
Metonimia dalam kutipan di atas digunakan untuk menggambarkan
kekerabatan yang kuat. Kekuatan dimana anak-anak, remaja, dan orang tua
mempunyai tingkatan untuk dihargai dimana hubungan itu tidaklah dapat
dipisahkan. Setiap tingkatan adanya batasan, artinya bagaimana cara menghormati
yang lebih besar dan menyayangi yang lebih kecil, sehingga kita akan mengerti
menghadapi masing-masing baik itu orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Pacu
jalur di Rantau Kuantan merupakan keramaian rakyat yang sangat meriah dan
kegiatan ini diawali dengan acara sakral dan magis.
Lagu Tukang Canang, Metonimia dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Ponek badan dibajalan
Uranng kampuang baimbauan
Bahasa Indonesia
‘Penat badan karena berjalan’
‘Orang kampong dikasih tau’
(Tukang Canang: lirik 15.16)
Metonimia dalam kutipan di atas digunakan untuk keadaan yang
bertanggung jawab, hak dan kewajiban yang seimbang. Dimana tugas seorang
tukang canang untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat lewat media
canang dengan berjalan kaki walaupun badan sudah letih. Pemberitahuan
informasi atau berita lewat penyampaian suara yang dilantangkan keseluruh
pelosok kampung.
2.3.1.6 Litotes
Gaya bahasa litotes adalah Gaya bahasa perbandingan yang melukiskan
keadaan sesuatu dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan
yang sebenarnya guna merendahkan diri. Gaya bahasa ini digunakan penulis lirik
lagu untuk menyatakan pernyataan hiperbola yang negatif.
Lagu Musim Pacu Jaluar, litotes dapat dijumpai pada lirik
Bahasa Daerah
Bujang gadih kini la lesek
Malam pacu jaluar mancari cewek
Bahasa Indonesia
‘Bujang gadis sekarang mulai berubah/ nakal’
‘Malam pacu jalur mencari pacar’
(Musim pacu jaluar: lirik 7,8)
Litotes dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan harapan tetap
taat pada aturan adapt. Lesek bukan berarti nakal,tetapi hnaya berkeliaran,
bergadang dari malam sampai pagi. Malam pacu jaluar pemuda pemudi tidaklah
mencari hiburan seperti randai, tetapi dijadikan sebagai ajang mencari jodoh.
Sebagai ajang mencari jodoh ada hal unik dan menarik pada setiap
penyelenggaraan event pacu jalur digelar, pemuda dan pemudi dari pelosok
kampong mendapat kesempatan untuk keluar rumah. Setelah selama ini dilarang
oleh orang tua, mereka berbondong-bondong membantu kegiatan, disels-sela
kegiatan akan terjadi komunikasi antara bujang gadih. Setelah akrab tidak jarang
mereka berpacaran dan berjodoh hingga kepelaminan.
Lagu Tukang Canang, litotes dapat dijumpai pada lirik
Bahasa Daerah
Hampir sajo tukang canang
Bacanang indak babaju
Bahasa Indonesia
‘Hampir saja tukang canang’
‘Bercanang tidak berbaju’
(Tukang Canang: lirik 11,12)
Litotes dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan keadaan
diambang kemiskinan atau kehidupan yang sulit. Hampir semua tukang canang
saat bercanang tidak berbaju keringat waktu berjalan kesetiap sudut kampong
menyampaikan pesan dari pak wali.
Lagu Kuantan Sagalo Ado, litotes dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Gajah putiah lupo gadiang
Bahasa Indonesia
‘Gajah putih lupa gadingnya’
(Kuantan Sagalo Ado: lirik 5)
Litotes dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan sebuah
peringatan. Gajah putih melambangkan kesucian, setiap manusia tidak boleh lupa
akan asalnya.
Dalam lagu Sarak Tunangan, terdapat beberapa kata yang berkategori
gaya bahasa litotes.
Bahasa Daerah
Lah satauan abang di rantau
Obar indak barito indak
Bahasa Indonesia
Sudah setahun abang di rantau
Kabar tidak berita tidak
(Sarak Tunangan : Lirik 17,18)
Litotes yang terdapat dalam bait lagu di atas, memberitahukan tentang
seorang laki-laki tidak pernah memberi tahu keadaannya kepada tunangannya
yang ada di kampung halamannya.
2.3.1.7 Hiperbola
Gaya bahasa hiperbola adalah Gaya bahasa yang dipakai seseorang untuk
melukiskan
peristiwa
atau
keadaan
dengan
cara
berlebih-lebihan
dari
sesungguhnya. Gaya bahasa ini digunakan penulis lirik lagu untuk menegaskan
sesuatu yang diungkapkan dan menggunakan kata-kata yang berlebihan.
Lagu Musim Pacu Jaluar, hiperbola dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Godang kenek tuo mudo mato rantiang
Apolai nan mudo-mudo
Bahasa Indonesia
‘Besar kecil tua muda mata ranting apa’
‘Apalagi yang muda-muda
(Musim Pacu Jaluar: lirik 3)
Hiperbola dalam kutipan di atas digunakan untuk menggambarkan
kekerabatan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan lagi. Kekerabatan dimana anakanak, remaja, dan orang tua mempunyai tingkatan untuk dihargai dimana
hubungan itu tidaklah dapat dipisahkan.
Lagu Tukang Canang, hiperbola dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Manggugua calempong surang
Marongak disimpang jalan
Bahasa Indonesia
‘Memukul calempong sendiri’
‘Berteriak disimpang jalan’
(Tukang Canang: lirik 13.14)
Hiperbola dalam kutipan di atas adalah pembanding. Hiperbola digunakan
untuk menegaskan kelelahan yang dirasakan seseorang. Seorang canang
menyampaikan pesan lewat suara yang keras dan memberitahu tiap sudut
kampong.
Lagu Kuantan Singingi, hiperbola dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Itu budayo kito yang paliang tenggi ‘itu budaya yang paling tinggi’
(Kuantan Singingi: lirik 11)
Hiperbola dalam kutipan di atas digunakan untuk sebuah anggapan yang
besar terhadap sesuatu, menggambarkan sesuatu yang sangat dihargai. Budaya
yang sangat beragam hanya dijumpai pada Rantau Kuantan. Pacu jaluar dalam
wujudnya merupakan produk budaya dan kata seni tampilan yang unik perpaduan
unsure seni ukir, musik, tari, dan olahraga. Selain itu adanya muatan magis
lambing spiritual bagi masyarakat Rantau Kuantan.
Lagu Kuantan Sagalo Ado, hiperbola dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Rantau kuantan nan daulunyo
Tasobuik sagalo ado
Bahasa Indonesia
‘Rantau Kuantan yang dahulunya’
‘Terkenal segala ada’
(Kuantan Sagalo Ado: lirik 20,21)
Hiperbola dalam kutipan di atas adalah pembanding. Hiperbola digunakan
untuk harapan yang harus dipenuhi. Dimana suatu kehidupan (daerah) yang
memiliki semuanya baik itu hasil alam dan kebudayaan yang ada di Rantau
Kuantan.
2.3.1.8 Sinekdoks
Sinekdoks sesungguhnya kiasan yang mendramatisasi juga untuk melihat
kejadian langsung dari sumber yang menimbulkan peristiwa hingga gambaran
yang konkrit. Gaya bahasa ini digunakan penulis lirik lagu untuk mendramatisasi
kejadian langsung dari sumber yang menimbulkan peristiwa hingga gambaran
yang konkrit.
Lagu Batobo, sinekdoks dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Urang kuantan.. urang Kuantan
Poi batobo
Bahasa Indonesia
Orang kuantan....orang kuantan
Pergi batobo
Bujang jo gadi bamain mato
Siang bajonji sayang malam basuo
bertemu
Bujang dan gadis bermain mata
Siang berjanji sayang malam
(Batobo : lirik ; 1,28,29)
Sinekdoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan bahwa
selalu ada kesempatan untuk saling bersama dan harapan yang terwujud kebiasaan
masyarakat yang selalu bergotong royong. Sekalipun dalam masalah jodoh
masyarakat pun ikut bergotong royong dalam upacara perkawinan.
Lagu Musim Pacu Jaluar, sinekdoks dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Godang kenek patah rantiang
Opolai nan mudo-mudo
Duik ado cewek tabao
Bahasa Indonesia
Besar kecil
Apalagi yang muda-muda
Uang ada cewek terbawa
(Musim Pacu Jaluar: Lirik 3,4,11)
Sinekdoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan sebuah
perubahan besar pada musim pacu jalur harus ada pasangan. Kebiasaan
masyarakat jauh-jauh hari sudah ada tabungan satu tahun untuk menyambut pesta
rakyat yaitu pacu jalur yang diadakan setiap tahunnya, bahkan banyak pula cerita
dalam pesta rakyat ini bujang gadis tampaknya begitu mudah mencari jodoh selain
gadis yang cantik-cantik dan ramah pula. Jadi bagi anda yang selama ini masih
sial atau sulit mencari jodoh tidak salah datang ke Rantau Kuantan, siapa tahu
jodoh ada disana.
Lagu Takuluak Barembai, sinekdoks dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Ondek ai rancaknyo kawu
Gadi Toluak Kuntan
Mamakai pakai adat
Bahasa Indonesia
Aduhai cantiknya kamu
Gadis Taluk Kuantan
Memakai pakaian adat
(Takuluak Barembai : lirik 1,2,3)
Sinekdoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan kecantikan
dan keindahan yang tertanam dalam jiwa seseorang, kecantikan seseorang dapat
saja hilang apabila mempunyai sifat jelek. Sekalipun memakai baju yang mewah
tidak dapat menutupi sifatnya itu.
Lagu Kuantan Singingi, sinekdoks dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Kabupaten Kuantan Singingi ………..
Ibu kotanyo Toluak Kuantan …………
Bahasa Indonesia
Kabupaten Kuantan Singingi
Ibu kotanya Taluk Kuantan
(Kuantan Singingi : lirik 12,13)
Sinekdoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan kejayaan
dan semangat masyarakat Kuantan Singingi, semangat itu muncul dengan rasa
persamaan dan persaudaraan. Moto Rantau Kuantan Basatu Nagori Maju
Lagu Kuantan Sagalo Ado, sinekdoks dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Mancari kayu di Pulau Sipan
Di jual mondek ka Taluak Kuantan
Bahasa Indonesia
Mencari kayu di Pulau Sipan
Dijual ibu ke Taluk Kuantan
(Kuantan Sagalo Ado, lirik 14,15)
Sinekdoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan keadaan
kehidupan yang begitu sulit, tetapi masih ada sejuta harapan untuk maju.
Kekerasan hidup tidak harus dihadapi dengan sikap menyerah, tetapi dihadapi
dengan penuh keyakinan bahwa kebenaran akan datang dengan usaha yang halal
dan kita tinggal menunggu waktunya saja.
2.3.2 Gaya Bahasa Pertentangan
Dalam penelitian ini gaya bahasa pertentangan terdiri dari Paradoks
(oksimoron) dan Anakronisme.
2.3.2.1 Paradoks (Oksimoron)
Gaya bahasa paradoks adalah Gaya bahasa pertentangan yang hanya
kelihatan pada arti kata yang berlawanan padahal maksud sesungguhnya tidak
karena objeknya berlainan. Gaya bahasa ini digunakan penulis lirik lagu untuk
mempertentangkan sesuatu dan tidak harus dipikirkan.
Lagu Batobo, Paradoks (oksimoron) dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bararak godang calempong onam
Iyo la randai sayang poi batobo
Bahasa Indonesia
‘Berarak besar calempong enam’
‘Ia randai sayang pergi batobo’
(Batobo: lirik 7.8)
Paradoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan keberhasilan
yang dicapai haruslah dinikmati bersama-sama. Dahulu bararak godang salah
satu tradisi yang dilakukan masyarakat untuk menghadap Raja, memakai
calempong sebagai alat musik yang beriringan atau bersama-sama, tetapi sekarang
dipakai untuk upacara perkawinan. Pengantin jadi Raja sehari, pengantin pria
dalam menjemput pengantin wanita kerumah mertuanya dengan iringan musik
calempong, dari pihak laki-laki membawa kue atau penganan dijunjung dengan
baki atau tabak, biasanya mereka jalan kaki menuju kerumah mertuanya.
Lagu Kuantan Singingi, paradoks (oksimoron) dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia
Lubuak Jambi tasobuik jo kota lomang Lubuk Jambi terkenal dengan Kota
Lomang
Muara Lembu tasobuik ome jo batu
Muara Lembu terkenal emas dan batu’
Kok Basorah tasobuik jo buah ciku
Basrah terkenal dengan buah ciku’
(Kuantan Singingi: lirik 2,3,4)
Paradoks dalam kutipan di atas digunakan menyatakan bahwa dengan
perbedaan itu tidaklah kita saling menjauh, tetapi tetap pada satu tujuan dan
semangat dalam hidup untuk saling membantu. Setiap daerah di Rantau Kuantan
memiliki julukan diantaranya Lubuk Jambi dengan Kota Lomang, Muara Lembu
emas dan batu, dan Basrah dengan buah ciku. Hal ini menunjukkan bahwa Rantau
Kuantan kaya akan hasil budaya dan alamnya.
Bahasa Daerah
Kalau Caronti itu batehnyo
Bola kulak Kuantan Singingi
Disiut banyak buah durian
Bahasa Indonesia
Kalau Cerenti itu batasnya
Sebelah hulu Kuantan Singingi
Disitu banyak buah durian
(Kuantan Singingi: lirik 5,6,7)
Paradoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan bahwa
perbedaan itu tidaklah menghalangi kita untuk selalu hidup berdampingan. Rantau
Kuantan disebelah Hilir terdapat daerah yang diberi nama Cerenti yang terkenal
dengan buah durian, julukan tersebut masih berkembang di Rantau Kuantan
bahkan sudah diketahui oleh daerah lain.
Lagu Kuantan Sagalo Ado, paradoks (oksimoron) dapat dijumpai pada.
Bahasa Daerah
Olang pulai di Pangean
Makam bagindo Rajo nan di Basorah
Bahasa Indonesia
Elang pulai di Pangian
Makam baginda Raja di Basrah
(Kuantan Sagalo Ado: lirik 9.10)
Paradoks dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan indahnya
kebersamaan walaupun dengan perbedaan kebudayaan yang beragam. Selain
kebudayaan, Rantau Kuantan pun terkenal dengan olang pulai (elang atau sejenis
burung sebagai pembawa berita tersohor dengan suara yang unik), dan
peninggalan
makam
kepemimpinannya.
baginda
Raja
di
Basrah
yang
terkenal
dengan
2.3.2.2 Anakronisme
Gaya bahasa anakronisme adalah Gaya bahasa yang pernyataannya tidak
sesuai dengan peristiwa. Gaya bahasa ini digunakan penulis lirik lagu untuk
menyatakan ketidaksesuaian antara peristiwa dan waktu.
Lagu Tukang Canang, anakronisme dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Batobo dengan mangonji
Sampai Manimbang bayi
Bahasa Indonesia
Batobo dengan mengaji
Sampai menimbang bayi
(Tukang Canang: lirik 7,8)
Anakronisme dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan sesuatu
yang tidak ada kaitannya, seorang tukang canang atau jupen berkewajiban
menyampaikan pesan kepada masyarakat baik itu batobo (gotong royong),
menimbang bayi di Balai Desa, bahkan mangonji atau konji dalam jumlah yang
banyak. Biasanya mangonji dilakukan pada acara tertentu misalnya dalam upacara
adat, gotong royong, dan menyambut tamu.
Lagu Kuantan Sagalo Ado, anakronisme dapat dijumpai pada
Bahasa Daerah
Bukiak cokiak di Muara Lembu
Jalan bakelok ka Koto Baru
Jembatan panjang ka subarang Benai
Benai’
Bahasa Indonesia
‘Bukit cokiak di Muara Lembu’
‘Jalan berbelok ke Koto Baru’
‘Jembatan
panjang
keseberang
(Kuantan Sagalo Ado: lirik 3.4.6)
Anakronisme dalam kutipan di atas digunakan untuk menyatakan sesuatu
yang tidak ada kaitannya. Bukit cokiak merupakan tempat untuk acara mandi
balimau dalam menyambut bulan suci ramadhan dengan tujuan mensucikan diri,
selain itu kita akan menjumpai jalan berkelok menuju Koto Baru dan jembatan
panjang diseberang Benai.
2.4 Citraan
Citraan merupakan gambaran angan-angan yang ada dalam pikiran penulis
dan pembaca yang dikaitkan dengan penggunaan pencitraan dituangkan dalam
lirik lagu. Dimana pada penelitian ini citraan yang ingin dilihat adalah lirik lagu
Rantau Kuantan.
2.4.1. Citraan Penglihatan
Adapun citraan penglihatan yang terpapar dalam lirik lagu Rantau Kuantan
adalah :
Lirik lagu Takuluak Barembai (lirik 6,8,9):
Bahasa Daerah
Baju itam bacurak kuniang
Itu lambang Panghulu Rajo
Barangkai jo kaluang bungo
Saroto siriah carano
Bahasa Indonesia
Baju hitam becorak kuning
Itulah lambang Penghulu Raja
Berangkai dari kalung bunga
Beserta sirih cerana
Disini terlihat bahwa lambang Penghulu Raja, yang berarti baju tersebut
merupakan pakaian yang digunakan oleh Ketua Adat yang masa lalu disebut
dengan Penghulu Raja. Pakaian tersebut merupakan pakaian adat yang digunakan
pada hari-hari besar, perkawinan, dan lainnya, pakaian adat telah menjadi simbol
tata berpakaian masyarakat Rantau Kuantan yang berwarna hitam dan bercorak
kuning yang menggambarkan menjunjung tinggi kebersamaan.
Lagu Musim Pacu Jaluar (lirik 13,14), terdapat beberapa lirik lagu yang
mengandung citraan penglihatan:
Bahasa Daerah
Kini iduik kamari bedo
Ari pangujan duik tak ado
Bahasa Indonesia
Sekarang hidup sudah berbeda
Hari penghujan uang tidak ada
Ilang poniong sakik kapalo Hilang pusing sakit kepala
Kalau tak poi malu rasonyo Kalau tidak pergi malu rasanya
Terlihat bahwa hidup yang susah, sedangkan keadaan cuaca sering hujan
untuk
menjalankan
aktivitas
kerja
jadi
susah,
sehingga
sakit
kepala
memikirkannya. Dari bait lagu di atas terlihat masyarakat Rantau Kuantan
menggantungkan nasibnya dengan bekerja sebagai petani karet dan ladang, yang
mana kedua jenis pekerjaan ini tidak bisa dilakukan apabila disaat musim
penghujan.
Salah satu gambaran citraaan penglihatan terdapat pada lirik lagu
Manganyam (Lirik 10) :
Bahasa Daerah
Jari nan aluih dipamainkan
Tikar kombuik kami karojokan
Bahasa Indonesia
Jari halus dipermainkan
Tikar kembut kami kerjakan
Dalam menganyam tikar memerlukan keahlian khusus, terutama pada jarijari tangan yang senantiasa bergerak membentuk tikar sedikit demi sedikit,
sehingga jari jari seperti menari diatas tikar yang dikerjakan.
2.4.2 Citraan Pendengaran
Citraan pendengaran menggambarkan pemikiran penulis lirik yang
tertuang di dalam lagu. Salah satu gambaran pendengaran yang terdapat pada lirik
lagu Manganyam (Lirik 11-14) :
Bahasa Daerah
Calempong tingka
Sayuik kodongaran
Kan panghibur hati handai taulan
Bilo malam bulan mambori hiburan
Bahasa Indonesia
Calempong dimainkan
Sayup terdengar
Jadi penghibur hati saudara
Bila malam bulan memberi hiburan
Dibaris lirik lagu di atas terdapat beberapa kata yang menggambarkan
pendengaran Calempong dimainkan, bila malam bulan memberi hiburan. Bait di
atas menggambarkan aktivitas masyarakat Rantau Kuantan yang sedang
menganyam tikar disaaat malam hari, sedangkan sebagian warga yang senang
dengan musik selalu mendendangkan lagu-lagu sebagai penghibur diri dan orang
lain.
Sedangkan lirik lagu lainnya yang menggambarkan citraan pendengaran
adalah lirik lagu Tukang Canang (lirik 1-4)
Bahasa Daerah
Nosib.......tukang canang
Marongak.....di tonga malam
Maobaran parenta dari Pak Wali
Bahasa Indonesia
Nasib tukang canang
Berteriak ditengah malam
Mengumumkan perintah dari Pak
Wali
manyampaian posan-posan di nagoriMenyampaikan pesan-pesan di
negeri
Berteriak di tengah malam, melambangkan citra pendengaran. Dimana
berteriak mengeluarkan suara yang cukup kuat sehingga orang-orang yang ada
disekitar mendengar apa yang diteriakan tersebut. Di Rantau Kuantan dalam
menjalani roda pemerintahan seorang kepala desa atau di Rantau Kuantan disebut
dengan
Pak
wali
memiliki
seorang
pesuruh
yang
dipekerjaan
untuk
menyampaikan pesan atau pengumuman kepada masyarakat dilingkungannya.
2.4.3 Citra Perabaan
Citraan perabaan menggambarkan pemikiran penulis lirik yang tertuang di
dalam lagu. Salah satu gambaran perabaan yang terdapat pada lirik lagu
Manganyam (Lirik 10-19) :
Bahasa Daerah
Baju takuluak barembai
Bahasa Indonesia
Baju beselendang berenda
Ditonun dek gadi Toluak
Ditenun oleh gadis Taluk
(Mangayam, Lirik : 10-19)
Dari lirik lagu di atas menggambarkan citra perabaan yakni ditenun oleh
gadis Taluk, dimana pakaian adat yang indah dipandang seolah-olah mewakili
gadis-gadis
Rantau
Kuantan
yang
menawan
bagi
setiap
orang
yang
memandangnya.
Bahasa Daerah
Kalau disobuik buruak balako
Itu karajo indak paguno
Kocok domino nan dari sonjo
Beko tanpantak kapukual tigo
Bahasa Indonesia
Kalau dibilang jelek semua
Itu kerja tidak berguna
Kocok domino mulai dari senja
Nanti sampai jam tiga
(Bajudi, Lirik : 5-8)
Lirik lagu di atas menggambarkan perilaku orang yang senang berjudi,
kalau berjudi dijadikan panutan dalam menjalani hidup tentunya kehidupan akan
berantakan. Selain daripada itu, kebiasaan masyarakat Rantau Kuantan ini
memberi dampak yang kurang baik bagi kehidupan pribadi dan juga dalam
bermasyarakat, oleh karena itu jangan sekali-sekali bermain judi.
Bahasa Daerah
Batobo kito batobo
Itu budayo dikampuang kito
Bahasa Indonesia
Batobo kita batobo
Itu budaya kampong kita
(Batobo, Lirik : 31,32)
Lirik di atas memberikan gambaran kepada semua orang bahwa dalam
kehidupan bermasyarakat perlu ditanam rasa kebersamaan sehingga dijadikan
budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Di Rantau Kuantan kebisaan gotong
royong
telah menjadi budaya masyarakat, sehingga dalam kehidupan
bermasyarakat selalu damai dan tenteram, sedangkan dengan gotong royong
pembangunan daerah akan terus berkembang dan maju.
2.4.4 Citraan Pencecapan
Citraan pencecapan menggambarkan pemikiran penulis lirik yang tertuang
di dalam lagu. Salah satu gambaran perabaan yang terdapat pada lirik lagu
Mamakan Gaji.
Bahasa Daerah
Batuduang pandan takopik
Lapiak mingkuang
Nasi baibek nan kan kito makan
Sambal karambial bapanggang
Kambuluayam...2x
Bahasa Indonesia
Bertudung pandan terjepit
Bertikar rumbia
Nasi dibungkus yang kita makan
Sambal kelapa dibakar
Bersama ayam
(Mamakan Gaji, Lirik : 8-12)
Lirik lagu di atas memberikan gambaran bahwa dalam hidup ini perlu
pengorbanan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Kebiasaan masyarakat
Rantau Kuantan dalam bekerja selalu membawa perbekalan untuk dimakan disaat
istirahat, ini memberikan kita pandangan kalau masyarakat Rantau Kuantan
merupakan masyarakat yang tekun dalam bekerja.
Bahasa Daerah
Kalau bajudi dipaturuikkan
Tak obe makan siang jo malam
Ambo baposan tolong dongaran
Kok main judi tolong jauhkan
Bahasa Indonesia
Kalau berjudi diikutkan
Tak ingat makan siang dan malam
Saya berpesan tolong didengarkan
Bermain judi tolong jauhkan
(Bajudi, Lirik : 16-19)
Lirik lagu di atas memberikan pandangan bahwa apabila judi dijadikan
hobi atau kebiasaan akan membuat hidup tidak terarah, untuk itu bermain judi
haruslah dihindari atau dijauhkan dari diri sendiri.
Dari hasil pengenalan dan analisis data mengenai gaya bahasa dan citraan
dalam lirik lagu album Takuluak Barembai, maka dapat dilakukan rekapitulasi
data mengenai album kumpulan lagu daerah Rantau Kuantan Takuluak Barembai
yang terdapat gaya bahasa dan citraan. Dimana gaya bahasa yang diteliti terbagi
dalam dua yakni gaya bahasa perbandingan dan gaya bahasa pertentangan. Dari
kedua gaya bahasa tersebut, gaya bahasa yang paling banyak terdapat dalam
kumpulan lagu daerah Rantau Kuantan Takuluak Barembai adalah gaya bahasa
perbandingan, sepuluh lagu yang diteliti semuanya terdapat gaya bahasa
perbandingan. Sedangkan gaya bahasa pertentangan hanya terdapat pada lagu 1)
Kuantan Singingi, 2) Kuantan Sagalo Ado, 3) Tukang Canang, 4) Batobo.
Tabel 1 :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Gaya Bahasa dan Citraan Dalam Album Kumpulan Lagu Daerah
Rantau Kuantan Takuluak Barembai Oleh Hamsirman MS
Judul Lagu
Gaya Bahasa
Citraan
Takuluak Barembai
1. Gaya bahasa Perbandingan
Citraan penglihatan
(Alegori, Simile, Sinekdoks)
Makan Gaji
1. Gaya bahasa Perbandingan
Citraan pencecapan
(Metafora)
Manganyam
1. Gaya bahasa Perbandingan
Citraan pendengaran
(Alegori)
Citraan Perabaan
Kuantan Singingi
1. Gaya bahasa Perbandingan
(Metafora, Hiperbola,
Sinekdoks)
2. Gaya bahasa Pertentangan
(Paradoks)
Kuantan Sagalo Ado 1. Gaya bahasa Perbandingan
(Alegori, Simile, Metafora,
Litotes, Hiperbola,
Sinekdoks)
2. Gaya bahasa Pertentangan
(Paradoks, Anakronisme)
Musim Pacu Jaluar
1. Gaya bahasa Perbandingan
Citraan penglihatan
(Alegori, Metafora,
Metonimia, Litotes,
Hiperbola, Personifikasi,
Sinekdoks)
7.
Sarak Tunangan
8.
Tukang Canang
1. Gaya bahasa Perbandingan
(Alegori, Metonimia,
Litotes)
1. Gaya bahasa Perbandingan
(Metafora, Litotes,
Hiperbola)
2. Gaya bahasa Pertentangan
(Anakronisme)
Citraan pendengaran
9.
Bajudi
10.
Batobo
1. Gaya bahasa Perbandingan
(Metafora)
1. Gaya bahasa Perbandingan
(Alegori, Metonimia,
Sinekdoks)
2. Gaya bahasa Pertentangan
(Paradoks)
Citraan perabaan
Citraan pencecapan
Citraan perabaan
Dari semua lirik lagu dalam kumpulan lagu daerah Rantau Kuantan
Takuluak Barembai gaya bahasa yang paling banyak ditemui adalah gaya bahasa
alegori. Alegori adalah gaya perbandingan dengan membandingkan suatu benda
dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama. Dalam
kehidupan orang Melayu Rantau Kuantan yang bersifat simbolis, sehingga tutur
kata dan bahasa yang digunakan sangat halus dalam penyampaian dan dalam
pengartiannya. Hasil yang telah dipaparkan sebelumnya menggambarkan bahwa
masyarakat Rantau Kuantan sangat senang dengan bahasa kiasan atau
menggunakan kalimat tidak langsung kepada tujuan yang dimaksud, dimana
dengan gaya bahasa alegori masyarakat menyampaikan segala sesuatunya secara
tersirat tetapi dengan maksud yang bisa dimengerti. Gaya bahasa ini menujukkan
bahwa betapa halusnya tutur bahasa masyarakat Rantau Kuantan dalam
menyampaikan sesuatu, sehingga orang yang mendengarkannya tidak merasa
tersinggung ataupun marah dan dengan begitu pergaualan bermasyarakat dengan
rasa kekeluargaan.
Dari tabel 1 di atas mengenai gaya bahasa dan citraan, maka dapat diambil
persetase dari masing-masing gaya bahasa yang terdapat pada album kumpulan
lagu-lagu Daerah Rantau Kuantan Takuluak Barembai. a. Gaya bahasa alegori
dengan frekuensi 7 (19,44%), b. Gaya bahasa metafora dengan frekuensi 6
(16,67%), c. Gaya bahasa sinekdok dengan frekuensi 5 (13,89%), d. Gaya bahasa
hiperbola dengan frekuensi 4 (11,11%), e. Gaya bahasa paradoks dengan
frekuensi 3 (8,33%), f. Gaya bahasa litotes dengan frekuensi 3 (8,33%), g. Gaya
bahasa metonomia dengan frekuensi 3 (8,33%), h. Gaya bahasa anakronisme
dengan frekuensi 2 (5,56%), i. Gaya bahasa simile dengan frekuensi 2 (5,56%), j.
Gaya bahasa personifikasi dengan frekuensi 1(2,78%).
Tutur kata yang halus dan lembut yang disampaikan mengandung makna
yang tersirat dan mengandung arti yang sangat luas, tetapi bisa dimengerti
sehingga kehidupan bermasyarakat sangat hangat dan rasa kebersamaan sangat
tinggi. Dengan begitu, dalam lirik lagu ini telah menggambarkan kebiasaan,
kehidupan, semangat, gelar dan lainnya yang menunjukkan karakter dari
masyarakat Rantau Kuantan yang sesungguhnya.
Kemudian citraan yang diteliti, yakni : citraan pendengaran, citraan
penglihatan, citraan perabaan dan citraan pencecapan. Dimana kumpulan lagu
daerah Rantau Kuantan terdapat citraan Takuluak Barembai, Makan Gaji,
Manganyam, Musim Pacu Jaluar, Tukang Canang, Bajudi dan Batobo.
Dari tabel 1 di atas mengenai gaya bahasa dan citraan, maka dapat diambil
persetase dari masing-masing citraan yang terdapat pada album kumpulan lagulagu Daerah Rantau Kuantan Takuluak Barembai. a. Citraan Perabaan dengan
frekuensi 3 (33,33%), b. Citraan Pendengaran dengan frekuensi 2 (22,22%), c.
Citraan penglihatan dengan frekuensi 2 (22,22%), d. Citraan pencecapan dengan
frekuensi 2 (22,22%).
BAB III KESIMPULAN
3.1 Simpulan
Di dalam lirik lagu daerah Rantau Kuantan yang berjudul Takuluak
Barembai karya Hamsirman MS, terdapat berbagai jenis gaya bahasa.
Keseluruhan gaya bahasa yang digunakan penulis lirik lagu saling mendukung
sehingga penggambaran makna semakin memperjelas maksud dari penulis lirik
lagu tersebut. Penulis lagu juga melakukan beberapa pengulangan-pengulangan
pola kalimat untuk mempertegas, membandingkan, mempertentangkan suatu
keadaan atau peristiwa baik sebagian atau seluruhnya. Dalam lirik juga ditemukan
penggulangan bunyi vokal yang sama atau asonansi untuk mempertegas keadaan.
Dari lirik lagu Rantau Kuantan yang dijadikan bahan pada penelitian ini,
penulis menemukan beberapa gaya bahasa dan citraan:
1. Gaya bahasa lirik lagu Rantau Kuantan adalah gaya bahasa perbandingan
yakni alegori, simile, metafora, metonimia, litotes, hiperbola, personifasi
serta sinekdoks. Sedangkan gaya bahasa pertentangan yakni paradoks
(oksimoron), Anakronisme yang hampir semua lagu terdapat gaya bahasa
tersebut.
2. Citraan yang terdapat di dalam lirik lagu Rantau Kuantan adalah citraan
penglihatan, pendengaran, perabaan dan pencecapan pada beberapa lirik
lagu dijumpai dalam lirik lagu Takuluak Barembai, Makan Gaji,
Manganyam, Tukang Canang, Bajudi dan Batobo.
BAB IV HAMBATAN DAN SARAN
4.1 Hambatan
Dalam penelitian tentang gaya bahasa dan citraan yang diteliti pada lirik
lagu Takuluak Barembai, penulis mendapat kesulitan dalam beberapa hal
sehingga memakan waktu yang lama. Dimana dalam pengumpulan data yakni
lirik lagu, penulis membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan lirik tersebut
dan pada akhirnya penulis menemui kaset dan liriknya yang diperoleh dari
penyanyi dan penulis lirik tersebut. Sedangkan dalam pengolahan data penulis
mendapat kesulitan mengartikan bahasa daerah yang jarang digunakan lagi,
sedangkan dalam analisis penulis menghadapi kendala dalam bentuk pemisahan
gaya bahasa.
4.2 Saran
Sehubungan penelitian yang dilakukan, penulis menyarankan agar lirik
lagu Rantau Kuantan dapat dijadikan sebagai media atau bahan penelitian puisi,
karena pada dasarnya teks lirik lagu merupakan teks puisi yang bernilai sastra,
hanya saja pada lirik lagu diberi not-not dan nada untuk dinyanyikan pembaca.
Penelitian ini tidak mengkaji tentang musikalitas, tetapi gaya bahasa yang
digunakan penulis lirik lagu, mengetahui latar penciptaan lirik lagu. Maka
disarankan peneliti-peneliti selanjudnya untuk memasukkan atau mengkaji unsurunsur tersebut apabila ingin meneliti hal yang sama pada lirik lagu lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Badudu, J.S. 1985. Sari Kesusasteraan Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik ”Perkenalan Awal”.
Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi
Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Hamidy, UU. 1993. Pembahasan Karya Fiksi dan Puisi. Pekanbaru: Bumi
Pustaka.
Hamidy, UU dan Edi Yusrianto. 2003. Metodologi Penelitian ”Disiplin Ilmu-ilmu
Sosial dan Budaya”. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press.
Hamsirman, 1997. Kumpulan Lagu-lagu Daerah Kuantan Singingi. Taluk
Kuantan : Ririn Record.
Hidayat, 2005.”Analisis lirik lagu dalam album Melayang dan Surgamu karya
Ungu Band. Skripsi. Pekanbaru : FKIP Universitas Riau.
Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Maulana. www.indoskrip.com
Moeleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Nurgiantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Sumarlam, 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.
Fly UP