...

TINJAUAN ARSITEKTUR EKLEKTIK PADA GEREJA KATOLIK DI

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

TINJAUAN ARSITEKTUR EKLEKTIK PADA GEREJA KATOLIK DI
TINJAUAN ARSITEKTUR EKLEKTIK PADA GEREJA KATOLIK DI BALI
DALAM KONTEKS GLOBALISASI, PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME
Penulis : I Made Marthana Yusa
[email protected]
ISI Denpasar
Jl. Nusa Indah Denpasar 80235
ABSTRACT
Globalization tends people to adopt similar cultural patterns into one
trend. That kind of trend cause resistances spawn from indigenous/local
people where the existence of their heritage are endangered. Since
that, dynamic people, as a social beings, tried to make many dialectical
approaches. Then the cultural substances that formed plurality change
naturally into multiculturalism. At this circumstances; cultural, economic
and industry sector involved to the changing process.
Eclectic means selecting what seems the best from various styles or ideas.
In this paper, I have explored and observed many Catholic Churches in Bali
that applied eclectic on their architectural custom. The eclectic form was
came from dialogue between Catholic custom visual sign and Balinese
traditional culture visual sign. The objects of study are Gereja Hati Kudus,
Palasari as the largest Catholic church in Bali; Gereja Katolik Kristus Raja,
Abianbase, Tangeb as the most visited church in Bali, more than Tuka
and Palasari; Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan, as the newly
formed and modern church; Gereja Punyan Poh (Mango tree), Belimbing
Sari, and Gereja St. Yoseph as complement case. I visited Gereja Katolik
Kristus Raja, Abianbase to collect all the informations as the primary data.
I collected theories related with cultural study, globalization, pluralism,
multiculturalism by literature study. I use Pierce’s and Saussure’s Semiotics
approaches to analize visual sign on the church buildings and use basic
design and culture theory to analize the cultural substances consist in.
My conclusion is that most of the Catholic churchs−observed as study
objects−use Eclectic Architectures. They are : Gereja Punyan Poh,
Belimbingsari; Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan; Gereja Katolik
Kristus Raja and Gereja Hati Kudus. The way they applied the eclectic on
the building was to assimilate their beliefs with local custom.
Keywords : eclectic, globalization, pluralism, multiculturalism, catholic
church, Bali
63
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
1. PENDAHULUAN
Fenomena dinamika kebudayaan tersebut dapat dilihat pada kondisi Bali
yang semakin plural.
Globalisasi kebudayaan akhir-akhir ini menunjukkan dua wajah yang
berbeda. Ibarat satu keping mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Di
satu sisi, globalisasi mengarahkan semua orang untuk mengadopsi pola
kebudayaan yang seragam. Di sisi lain, kecenderungan ini telah memicu
resistensi dari budaya-budaya lokal yang merasa eksistensinya terancam
seiring gelombang penyeragaman ini. Kecenderungan yang kedua tersebut
membuat kebudayaan kita menjadi semacam kontestasi bagi identitas
kebudayaan yang berbeda-beda untuk mengekspresikan diri. Budayabudaya dan berbagai nilai yang datang pun ketika bersentuhan dengan
nilai lokal mulai berasimilasi dengan berbagai motif. Menghindari terjadinya
alienasi adalah salah satunya, berbaur dengan damai dalam pluralitas adalah
hal lainnya. Terjadilah perubahan unsur-unsur kebudayaan secara alami
sebagai akibat dari adanya dinamika masyarakat pendukung kebudayaan,
yang mengalami interaksi sebagai tanggapan aktif manusia terhadap
lingkungannya.
Gambar kiri :
Adanya pelangkiran (sthana/tempat banten dan sesaji untuk manifestasi Tuhan) yang
berdampingan dengan PC (Personal Computer) pada Ruangan Warnet Kojing – Banjar
Beraban – Desa Beraban – Tabanan – Bali.
Gambar Tengah :
PC dengan sasap sebagai atribut upacara, sebagai simbol pemberkatan.
Gambar Kanan :
Sasap, simbol pemberkatan untuk instrumentasi bermaterial artifisial, bersudut tajam dan
bersifat keras (misal:logam).
(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Di samping itu, terjadinya hubungan dialektis antara sektor budaya, ekonomi
dan industri juga merupakan faktor penentu terjadinya perubahan tersebut
(Remawa, 1998).
64
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
Pengaruh-pengaruh agama dan kebudayaan Hindu, Kristen, Islam
dan pengaruh asing lainnya telah banyak memberikan perubahan
pada unsur-unsur kebudayaan Bali. Masyarakat Bali yang terkenal
kooperatif dan memiliki toleransi tinggi cenderung mudah menyerap
nilai-nilai baru.
Sebagian besar mampu bertindak bijaksana dengan tetap mempertahankan
nilai-nilai tradisi dan agama Hindu sebagai jalan hidup mereka, sebagian
menyerap mentah-mentah tanpa mengkognisi terlebih dahulu, sebagian
kecil lainnya mencoba berdialog dan memberikan ruang untuk berubah.
Maka muncullah berbagai tanda kebudayaan dan simbol keagamaan baru
di Pulau Dewata.
2. METODE PENELITIAN
Dalam makalah ini, penulis menganalisa arsitektur gereja Katolik di Bali
yang menerapkan langgam eklektik sebagai dialog antara agama Katolik
dengan arsitektur tradisional Bali yang merupakan bagian dari kebudayaan
tradisional Bali dalam diskursus pluralitas dan multikulturalisme. Objek
penelitian arsitektur Gereja yang dipilih adalah Gereja Hati Kudus, Palasari
sebagai gereja Katolik Terbesar di Bali, Gereja Katolik Kristus Raja,
Abianbase, Tangeb sebagai basis besar gereja Katolik di Bali setelah Tuka
dan Palasari, Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan, Bali sebagai gereja
yang mewakili semangat zaman, karena tampilan fisik yang baru setelah
renovasi, Gereja Punyan Poh (Pohon Mangga) di Belimbing Sari dan Gereja
St. Yoseph sebagai kajian pelengkap. Survei langsung dilakukan penulis ke
Gereja Katolik Kristus Raja, Abian Base, untuk mendapatkan data primer.
Studi literatur dan penelusuran melalui internet dilakukan untuk mendapat
data sekunder. Penulis menggunakan pendekatan Semiotika dari Pierce dan
Saussure untuk menganalisa tanda–tanda pada Gereja dan menganalisis
unsur kebudayaan dengan landasan teori desain dan kebudayaan.
3. SEJARAH GEREJA DI BALI
Almarhum Pastor Shadeg SVD dalam tulisannya, Sejarah Gereja Bali,
merujuk sebuah pernyataan raja Klungkung yang ditulis pada sebuah lontar
tahun 1635 tentang rasa toleransinya terhadap kedatangan misionaris Katolik
Portugis yaitu P. Mamul Carvalho S.J dan P. Azemado S.J. dari Malaka menuju
Klungkung – Bali. Sempat terhambat oleh pasal 177 mengenai perlindungan
agama Hindu di Bali dari konversi agama Kristen, dua misionaris tersebut,
atas permohonan Vilkaris Apostolik Batavia, berhasil memperoleh izin
Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tahun 1891 untuk menetap di Bali.
Mgr.Noyen yang menjabat Prefek Apostolik Sunda Kecil mendapatkan
65
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
kesempatan menjalankan misi-nya di Bali pada bulan Desember 1914 dan
1920 hingga meninggal pada tahun 1922. Penugasan kunjungan rohani Pastor
Van Der Heijden ke Bali dan Sumbawa menjadi titik awal masuknya gereja
Katolik ke Bali. Tanggal 14 Mei 1935 Van Der Heijden menetap di Mataram,
dan tgl 9 Juni 1935 Gereja Katolik pertama didirikan dan diresmikan di kota
Mataram. Hari ini dipandang sebagai hari masuknya karya gereja Katolik di
pulau Lombok. Tgl 11 September 1935, Pastor Van Der Heijden mengantar
pastor J. Kersten SVD ke Denpasar dan mulai menetap di Denpasar. Hari
tersebut dipandang sebagai tonggak perkembangan agama Katolik di Bali.
Tempat pembangunan gereja Katolik pertama adalah Banjar Tuka, Dalung.
Pada bulan November 1935, 2 pemuda Bali dari Banjar Tuka: I Made Bronong
(Pan Regig) dan I Wayan Diblug (Pan Rosa) datang ke Denpasar dan bertemu
dengan Pastor J. Kersten SVD. Konversi pertama terjadi. Pan Regig dan
Pan Rosa dipermandikan Katolik pada hari raya Pentakosta tgl 6 Juni 1936.
Sejarah penting selanjutnya adalah peletakan batu pertama gereja Katolik
Tuka tepatnya tgl 12 Juli 1936 oleh Pastor J. Kersten SVD yang dihadiri oleh
Pastor Van Der Heijden dan Pastor Conrad SVD. Gereja tersebut diresmikan
pada tanggal 14 Februari 1937 oleh Mgr. M. Abraham dengan nama Gereja
Tri Tunggal Maha Kudus. Pastor Simon Buis pada tanggal 15 September 1940
berhasil mengadakan eksodus dari Tuka dan sekitarnya ke ujung Barat pulau
Bali dan membuka desa ditengah-tengah hutan yang kini terkenal sebagai
desa Palasari. Selanjutnya mulai banyak gereja-gereja Katolik dibangun
seperti gereja Gumbrih yang diresmikan pada tahun 1939 disusul dengan
pendirian gereja di Padangtawang September 1940, di Tangeb pada tgl 8
Desember 1940, dan di Palasari tgl 19 Juni 1941. Imam Bali asli yang pertama
yang berhasil ditahbiskan adalah Pastor Servatius Nyoman Subhaga SVD
pada tgl 9 Juli 1969 di gereja paroki Roh Kudus Babakan.
Gambar 2.
Gereja Tri Tunggal Maha Kudus, Tuka, Bali merupakan Gereja Katolik pertama di Bali yang
diresmikan pada 14 Februari 1937 oleh Mgr. M. Abraham.
(Sumber : http://erna-sandy.blogspot.com/2008/01/bakti-sosial-di-desa-culik-karangasem.
html)
Satu langkah maju lagi dalam perkembangan gereja Katolik Bali ialah dengan
ditingkatkannya Profektur Apostolik Bali menjadi Keuskupan Denpasar
tanggal 3 Januari 1961 dengan uskup pertama Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden
SVD yang ditahbiskan menjadi uskup di Palasari tgl 3 Oktober 1961. Pada
masa ini karya Gereja Katolik Bali sudah meliputi bidang pendidikan melalui
persekolahan dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah
Menengah.
4. ARSITEKTUR GEREJA KATOLIK DI BALI
4.1 Gereja Hati Kudus, Palasari
Gereja Hati Kudus, Palasari berlokasi di jantung kota Kabupaten Jembrana
yang dikelilingi hutan dan kebun kelapa. Palasari bisa dicapai dari Denpasar
dalam waktu kurang lebih 3 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 120
km.
Gereja Hati Kudus, Palasari dides
ain oleh Bapa Ignatius A.M. de Vriese, yang dibantu oleh dua arsitek Bali
yaitu Ida Bagus Tugur dari Denpasar dan I Gusti Nyoman Rai dari Dalung,
Kuta.
Gambar 3. Gereja Hati Kudus, Palasari, Jembrana, Bali.
Sumber : http://blog.baliwww.com/destination-and-resort/1119/comment-page-1
Pembangunan dimulai dari tahun 1954 dan selesai pada 13 Desember 1958.
Arsitektur Gereja merupakan amalgamasi atau percampuran dari langgam
Gothic dengan arsitektur tradisional Bali sebagai simbol hubungan yang
harmonis antara agama Hindu dan Katolik di Bali (Sidarta Wijaya, 2007).
Penulis melihat penerapan langgam Gothic diterapkan pada gubahan bentuk
fasad pintu masuk Gereja yang monumental, simetris dan menerapkan
warna kontras (putih dan gelap). Penerapan langgam Gothic juga terlihat
pada jendela yang melengkung seperti yang terlihat pada Gambar 4.
Perpaduan eklektik Katolik – Bali terlihat pada penerapan jendela lengkung,
66
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
67
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
gubahan bangunan fasad pintu masuk, dan salib (sebagai signifier) yang
mewakili nilai Katolik (sebagai signified-Saussure). Penerapan desain
arsitektural atap sebagai puncak fasad pintu masuk dan ornamen Bali
(sebagai signifier) mewakili seni dan arsitektur tradisional Bali (signified).
Penyandingan kedua langgam Gothic-Katolik dan Arsitektur Tradisional-Bali
dapat dilihat pada gambar 5. Kode warna Merah pada gambar mewakili Bali
dan kode warna Biru pada gambar mewakili Katolik.
Gambar 5. Tanda-tanda yang membentuk langgam Arsitektur Eklektik Gereja Palasari.
Merah mewakili nilai lokal Bali, Biru mewakili nilai Katolik
Gambar 4. Warna kuning menunjukkan bentuk jendela yang biasa
dipergunakan pada Arsitektur Gothic seperti pada Gereja San Francesco
4.2 Gereja Katolik Kristus Raja, Abianbase, Tangeb
(gambar sebelah kanan)
Keharmonisan antara Katolik – Hindu Bali tidak hanya nampak pada wujud
arsitektural gereja saja namun menjelajah hingga segi perikehidupan jemaat
di gereja dengan berbagai atribut gereja seperti pemasangan penjor pada
perayaan Natal atau hari raya keagamaan Katolik lainnya.
Jemaat pun tetap berpakaian daerah Bali dalam menjalankan aktivitas
ibadah di gereja. Jika ada pertunjukan di gereja, instrumen musik yang
digunakan adalah instrumen musik tradisional Bali. Nampak bahwa akulturasi
dan asimilasi berjalan dengan sinergi yang baik.
Gambar 6. Gereja Katolik Kristus Raja, Abianbase
(Sumber : Dokumentasi penulis)
Wakil Bupati Badung 2004-2009 Drs. I Ketut Sudikerta menyampaikan
beberapa hal penting dalam pesta emas pemberkatan Gereja Minggu 25
November 2007. Salah satunya adalah bagaimana para umat, pemuka agama
dan pemimpin adat setempat memaknai kehadiran gereja tersebut dalam
wacana bhinneka tunggal ika dalam wujud tri kerukunan beragama.
68
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
69
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
Gereja Katolik Kristus Raja Abianbase menerapkan arsitektur eklektik yang
memadukan unsur-unsur kebudayaan Bali dengan nilai-nilai Katolik. Unsurunsur kebudayaan dan nilai lokal Bali nampak pada tanda-tanda (signifier)
berupa : penerapan material, warna (kombinasi merah bata dan putih),
patung, tempelan ornamen ukiran, pemakaian pintu gereja dengan gaya
ukiran Bali, dan penggunaan atribut standar bangunan ibadah Tradisional
Bali seperti bale kul-kul dan papan pengumuman bergaya Bali.
Gambar 8. Bale Kul-kul. Memiliki fungsi yang sama dengan lonceng pada Gereja Katolik
Eropa yaitu sebagai pengumpul massa. Bale Kul-kul berkomunikasi dengan umat atau
penduduk sekitar dengan kode bunyi yang ditalukan oleh kul-kul (semacam kentongan
dengan ukuran besar)
Gambar 7. Façade Bangunan Gereja Katolik Kristus Raja, Abianbase
(Sumber : Dokumentasi penulis)
Gambar 9, 10, dan 11
Papan Pengumuman khas Bali yang biasanya ada di pura dan banjar adat atau
balai desa hadir di lapangan Gereja.
Patung malaikat dengan stil atau gaya ukir khas Tradisional Bali yang serupa
dengan Dewi Saraswati.
Sokasi (kiri) sebagai wadah sesaji atau banten terlihat di dekat patung. Sebagai
footprint atau jejak dan signifier bahwa jemaat menggunakan
sokasi juga dalam ibadahnya (signified)
70
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
71
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
Ada banyak terdapat peminjaman tanda-tanda kebudayaan tradisional Bali
pada Gereja Katolik Kristus Raja. Hal tersebut terkait juga strategi misionaris
yang ingin menyebarkan ajaran Katolik dengan damai.
Nilai Katolik yang terlihat pada gereja Katolik Kristus Raja Abianbase nampak
pada tanda-tanda (signifier) berupa bangunan gereja yang memiliki unsur
langgam Gothic pada jendela, kolom, dan atribut gereja pada umumnya
seperti : salib dan patung malaikat.
Seperti Gereja Katolik Kristus Raja Abianbase dan Gereja Palasari,
Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan juga berasimilasi dengan
langgam arsitektur tradisional Bali. Seperti yang bisa dilihat pada
tanda-tanda yang relatif sama pada Gereja Katolik Kristus Raja
Abianbase. Misalnya, menghadirkan bale kul-kul dan desain atap
menara yang biasa hadir di Pura.
Gambar 14 Gereja Katolik Paroki Roh
Kudus Babakan, dari sudut pandang
jalan utama
Gambar 12. Desain pintu gereja penuh dengan ukiran
bergaya ukiran Tradisional Bali. Nilai Katolik yang terlihat
ada pada image kitab yang terbuka dengan bahasa Injil
dan image salib
4.3 Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan, Bali
Gambar 15 dan 16
Interior Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan. Tampak sebagian
besar jemaat gereja menghadiri ultah ke 40 Gereja dengan mengenakan
pakaian adat Bali. Nampak pada gambar sebelah pojok kiri bawah
sekumpulan pemusik tradisional Bali siap memainkan gamelan.
Zoning atau pembentuk ruang yang standar pada interior gereja di hampir
seluruh dunia. Dari aisle atau gang yang memisahkan dua zona jemaat di
Gambar 13 Gereja Katolik
kiri dan kanan, rangka kubah, hingga ruang utama khotbah atau altar.
Paroki Roh Kudus Babakan,
Bali
72
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
73
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
4.4 Gereja Punyan Poh (Pohon Mangga) di Belimbing Sari
Pada sebuah muktamar gereja yang penting tahun 1972, gereja-gereja
mendapatkan hal baru dari tradisi berpikir dan kepercayaan masyarakat
Hindu-Bali tentang inkarnasi Tuhan yang lahir pada tempat dan zaman
tertentu. Konsepsi Ketuhanan yang seperti itu membuat Gereja-gereja sadar
bahwa pesan Yesus Kristus bisa begitu adaptatif pada berbagai budaya.
Dalam hal ini, budaya dan kepercayaan masyarakat Hindu – Bali.
Gambar 18 dan 19
Altar gereja dan Entrance (Akses masuk) ke Gereja Belimbing
Simpulan
Gambar 17. Tampak Gereja Punyan Poh dari pinggir jalan
Gereja Punyan Poh, Belimbingsari seperti gereja-gereja Katolik lainnya di
Bali, menerapkan langgam arsitektur Eklektik yang merupakan perpaduan
nilai-nilai arsitektur tradisional Bali dengan nilai-nilai Katolik. Shrine atau kuil
pemujaan merupakan indeks dari gunung, tempat suci untuk pencerahan
rohani bagi masyarakat Bali. Di belakang altar terdapat tembok terbuka
yang menghadap kaja (ke arah Utara) dengan pemandangan gunung.
Tiga elemen utama air, api dan udara dihadirkan oleh tiga air mancur
yang muncul dari batu, berkas sinar matahari dan ruangan terbuka. Air
mancur tersebut sebagai signifier yang terkait cerita Nabi Musa sebagai
signified. Pihak Gereja Katolik dengan masyarakat Bali yang sudah dibaptis
menyelenggarakan penyebaran agama Katolik dengan akulturasi. Misalnya,
tarian Bali dibuat sebagai penyampai cerita-cerita Injil dan Pesan Kristus.
Sebagian besar Arsitektur Gereja Katolik seperti Gereja Punyan Poh,
Belimbingsari, Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan, Gereja Katolik
Kristus Raja, Gereja Hati Kudus menggunakan langgam arsitektur Eklektik
sebagai bagian dari misi penyebaran ajaran agama Katolik di Bali. Hal
tersebut juga terkait sejarah awal kendala penyebaran agama Katolik terkait
pasal 177 mengenai penyelamatan agama Hindu dari pengkonversian Katolik
oleh Pemerintah Hindia Belanda dimana masyarakat Bali bersifat toleran
pada waktu itu. Ditunjang dengan kondisi masyarakat Bali yang miskin,
misionaris mendapat kemudahan dalam penyebaran agama Katolik. Avril
Hannah-Jones, pejabat gereja the Romsey, Lancefield, Riddells Creek and
Mount Macedon Uniting Churches menyebutkan bahwa kesalahan besar
Gereja Barat ketika menyampaikan ajaran Yesus Kristus adalah mereka
menyampaikan teologi, bangunan dan budaya. Seharusnya, terjadi proses
dialog dengan mencoba berasimilasi dengan budaya sekitar sebagai bagian
dari sebuah wacana multikulturalisme. Seperti apa yang disampaikan oleh
Alan Bullock tentang definisi Otherness :
“Is perceiving, conscious, meaning-conferring other person who helps, or
forces, the conscious subject to define his own world picture and his own
view of his place in it “
(Melihat dan mengerti, sadar, memberikan makna atau memaknai pribadi lain
yang membantu atau melawan, subyek yang sadar untuk mendefinisikan
dunianya sendiri dan pandangannya sendiri terhadap tempatnya bernaung).
74
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
75
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
REFERENSI
1. Altman, I. 1975.The Environmental and Social Behaviour. California:Brooks/
Cole Publishing Company
2. Broadbent, Geoffrey. 1980. Sign,Symbols and Architecture. The Pitman
Press, Bath
3. Eiseman Jr, Fred B. 1990. Bali : Sekala & Niskala. Periplus Edition
4. Ember, C.R. dan Ember,M. 1985. Anthropology. New Jersey:Prentice
Hall
6. Shadeg, SVD. Pastor. 2008. Sejarah Gereja Bali. http://gkpbkudussading.
wordpress.com/2008/12/23/sejarah-gereja-bali/. Update terakhir
: 23 Desember 2008, diakses : 29 Oktober 2011
17.Suasthawa, D I Made. 1990. Hubungan Adat dengan Agama dan
Kebudayaan. Denpasar : CV Kayumas
18.Wijaya, Sidarta. 2007. Palasari: A Tranquil Catholic Outpost in the Sea
of Hindu. http://blog.baliwww.com/destination-and-resort/1119/
comment-page-1. Update terakhir : 24 Desember 2007, diakses :
29 Oktober 2011
19.Yusuf,Y. 1991. Psikologi Antarbudaya. Bandung : Remaja Rosda-karya
5. Garna. Judistira K. 1993. Tradisi, Transformasi, Modernisasi dan Tantangan
Masa Depan di Nusantara. Bandung : Program Pasca Sarjana
Unpad
6. Geertz, Clefford. 1973. The Interpretation of Culture. Basic Inc
Publishers
7. Hannah-Jones, Avril. 2008. Go To Bali!!. http://avrilatromsey.wordpress.
com/ 2008/07/20/go-to-bali/. Update terakhir : 20 Juli 2008,
diakses : 29 Oktober 2011
8.Ihromi, T.O. 1994. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta :
Gramedia
9. Koentjaraningrat. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta :
Dian Rakyat
10.Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Ilmu Antropologi .Jilid I. Jakarta : Dian
Rakyat
11.Kusumawanta, Gusti Bagus ; Ratnatha, Y. Made ; Sani Naflalia. 2006.
Gereja Katolik di Bali. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusatama
12.Piliang, Yasraf A. 2009. Materi Perkuliahan Desain dan Kebudayaan II.
Bandung : Institut Teknologi Bandung
13.Pitana, I Gde. 1994. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. BP
14.Remawa, A.A.Rai. 1998. Standardisasi Bangunan Rumah Tinggal Sebagai
Pengembangan Tata Ruang Dalam (Interior) pada Arsitektur
Tradisional Bali. Bandung : Institut Teknologi Bandung
15.Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
1
76
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
77
Serat Rupa Vol. 1 Edisi I April 2013
Fly UP