...

SKENARIO “SUKSES DAN GAGAL”

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

SKENARIO “SUKSES DAN GAGAL”
SKENARIO “SUKSES DAN GAGAL”
MEMOTRET TINGKAT KECEMASAN PELAJAR SMA MENJELANG UJIAN
NASIONAL 2008
Asep Sufyan Ramadhy & Khusnul Aini
Pendahuluan
Robert Holden (2007) mengatakan “kurikulum sekolah dipenuhi dengan semakin banyak ujian
masuk, ujian pada selang waktu tertentu, dan ujian akhir. Pada akhirnya, sulit untuk diperkirakan
siapakah yang diuntungkan dari fokus “lulus atau gagal” yang ketat ini – selain dari sekolahsekolah yang mendapatkan dana yang lebih banyak. Kita menyekolahkan anak untuk menjadi
para pemenang, tetapi pemenang dalam hal apa, kita masih belum bisa memastikannya….” Lebih
lanjut dalam bukunya Success Intelligence, ia mengatakan bahwa ketika satu-satunya strategi
seseorang untuk meraih sukses adalah dengan bersaing, mereka sering menghalangi semua jenis
peluang untuk saling mendukung, potensi untuk saling belajar, dan kemungkinan untuk
berkolaborasi secara kreatif.
Kompetisi pada tingkat tertingginya merupakan sebentuk seni. Kompetisi membutuhkan visi yang
hebat (melihat peluang), dan inteligensi (mengenal pasar). Kompetisi juga membutuhkan
kepercayaan yang tinggi (yakin pada prinsip Anda), strategi (bertindak berdasarkan kekuatan
Anda), dan keberanian (mendedikasikan diri sepenuh hati). Dalam cara itulah, kompetisi itu
menjadi mulia. Kompetisi akan mendorong kita untuk mengupayakan yang terbaik dari diri kita.
Kontroversi Ujian Nasional
Pelaksanaan Ujian Nasional merupakan konsekuensi logis dari lahirnya PP No. 19 Tahun 2006
tentang Standar Nasional Pendidikan. Atas nama “standarisasi” pemerintah, melalui Depdiknas
mewajibkan pelaksanaan Ujian Nasional yang awalnya hanya untuk SMP dan SMA dan kini akan
diperluas bagi pelajar SD. Standarisasi menjadi semacam obligasi atau kewajiban bagi mereka
yang percaya bahwa “pasar” hanya akan merespon segala sesuatu yang memenuhi standar,
termasuk dalam hal ini adalah pasar kerja. Logika pasar kemudian mewarnai sistem pendidikan
nasional kita yang akhirnya melahirkan kurikulum berbasis kompetensi yang mulai disosialisasikan
pada awal tahun 2004 dan kemudian mati suri dan bermetamorfosis menjadi Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP).
Implementasi KTSP pada kenyataannya masih jauh dari ideal karena memang mensyaratkan
berbagai hal termasuk kesiapan SDM dalam hal ini sebut saja guru dan tenaga kependidikan
lainnya yang kompeten. Tanpa kehadiran guru yang kompeten, maka menjadi mubazir sebagus
apapun bentuk dan formulasi suatu kurikulum, sebab di tangannya lah orchestra pembelajaran di
kelas ditentukan. Karena itu kelahiran UU Guru dan Dosen yang menyertai kelahiran PP 19/2006
menjadi semacam benang merah yang dapat menjawab logika sebab-akibat dari suatu fenomena
peristiwa yang namanya Ujian Nasional.
Berdasarkan pengamatan penulis, pelaksanaan Ujian Nasional yang sudah beberapa kali
dilaksanakan selama ini telah melahirkan berbagai kontroversi – antara yang pro dan kontra. Jika
seorang guru “tanpa embel-embel PNS” di belakangnya dimintai opininya (maksudnya guru yang
bukan pegawai pemerintah), maka bisa dipastikan muncul kecenderungan bahwa sebagian besar
guru swasta menolak pelaksanaan Ujian Nasional, karena dalam logika pemikiran mereka,
pelaksanaan Ujian Nasional telah mereduksi peran mereka dalam proses belajar-mengajar yang
telah mereka lakukan selama 3 tahun selama ini. Sekalipun pemerintah baru menetapkan standar
kelulusan yang amat minimal yaitu 4,5, namun tak sedikit kelompok masyarakat yang begitu
khawatir anak-anaknya yang mengikuti UN tidak dapat melewati standar minimal tersebut.
Fenomena ini sekaligus menjadi semacam bukti atau justifikasi (pembenaran), bahwa memang
1|S e m i n a r G O W K a b u p a t e n K u n i n g a n – R a b u , 3 0 J a n u a r i 2 0 0 8
pada hakikatnya masyarakat kita pada umumnya belum begitu siap dengan yang namanya
“standar”, dan sepengetahuan penulis justru masyarakat kita lebih senang dengan “standar
ganda” alias hipokrit (sebagaimana diungkapkan oleh Mochtar Lubis pada beberapa waktu lalu
sebagai ciri masyarakat Indonesia). Ingin bagus, namun cara yang ditempuh pun ingin
gampang.
Ekses atas mentalitas ini adalah hampir semua orang tua siswa pun mencoba mempertaruhkan
harga dirinya demi kelulusan anaknya dalam UN. Berbagai cara dilakukan termasuk upaya sekolah
jalan terus dan bimbingan belajar (bimbel) pun dilakukan, bahkan dengan harga yang lebih mahal
dari biaya SPP sekolah biasa. Inilah bukti standar ganda masyarakat kita. Saat sekolah menarik
uang untuk tambahan belajar, semua orang tua siswa ribut, namun pada saat bayaran bimbel
yang pasti relatif lebih mahal, mereka gak meributkan apapun. What’s wrong?
Tentu banyak alasan mengapa bimbel dijustifikasi sebagai kebutuhan, karena di sekolah kurang
intensif (1:40), sementara di bimbel rasio tutor dan siswanya bisa mencapai 1:15 (lebih ideal),
bahkan bagi mereka yang berduit bisa les privat khusus di rumah 1:1 atau bahkan ada yang 2
guru untuk 1 siswa. UN telah menyuburkan bisnis bimbel dan dalam satu sisi telah membuka
lapangan kerja baru bagi lulusan FKIP yang ber-IPK tinggi namun tak terserap lapangan kerja
sebagai guru PNS. Dengan demikian pada hakikatnya UN juga telah memberikan keuntungan
pada satu pihak. Alasan lain, di bimbel kadang diberikan kisi-kisi dan cara belajarnya dilatih
praktis (to the point) lewat latihan soal-soal (drilling), tanpa alur sistematika berpikir yang runtut,
sehingga lebih cepat terasa hasilnya daripada belajar biasa di sekolah yang memakan waktu
relatif lebih lama (terlalu banyak konsep/teori). Belum lagi faktor guru di bimbel, biasanya jauh
lebih bersemangat mengajarnya daripada di kelas sekolah biasa karena disinyalir mendapatkan
insentif yang lebih tinggi dibandingkan di sekolah (yang hanya dibayar jika ada kelebihan jam
mengajar), apalagi pasca peluncuran BOS yang sama sekali tidak diperbolehkan untuk
memberikan honorarium mengajar pada dosen PNS.
Terma “UJIAN” pada hakikatnya memiliki 2 tujuan, yaitu menilai (assessment) dan mengevaluasi
(evaluation). Dua istilah yang memberikan dampak yang berbeda, dimana keduanya merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari tugas seorang guru. Penilaian bertujuan untuk penelusuran
(keeping track), pengecekan (checking-up), pencarian (finding-out), dan penyimpulan (summingup). Ujian Nasional konon juga bertujuan untuk memetakan kondisi mutu penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia, sekolah mana yang tertinggal, sekolah mana yang sudah maju serta
daerah (kota/kabupaten/provinsi) mana yang tertinggal, daerah mana yang sudah maju. Dengan
demikian pemerintah pusat dalam hal ini Depdiknas maupun Pemerintah Daerah dapat
menentukan kebijakan pendidikan apa yang harus diformulasikan untuk mencapai standar yang
diharapkan. Konsep itu terkesan ideal, yang pada kenyataannya di lapangan masih saja terjadi
distorsi kebijakan, ada sekolah yang makin maju karena memperoleh berbagai bantuan atau dana
blockgrant, dan ada sekolah yang juga makin tertinggal karena selain memang kurang
potensinya, juga tidak pernah kebagian alokasi dana blockgrant.
Bagaimana Sikap Kita?
Di tengah „kontroversi‟ ini, sudah barang tentu kita harus menunjukkan sikap agar semua pihak
dapat mempersiapkannya sebaik mungkin.
Pertama, bagi pelajar SMA, lulus UN bukan merupakan jaminan sukses dalam proses belajar
selanjutnya, bahkan realitanya adalah mereka yang lulus UN belum tentu diterima sebagai
mahasiswa di PTN (UI, UGM, ITB, IPB, UNDIP, UNAIR, UNPAD, dll). Namun bagi mereka yang tidak
lulus UN pun otomatis tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, hanya mereka bisa ikut ujian
persamaan Paket C dari jalur pendidikan luar sekolah. Dengan demikian kedudukan UN memang
ambiguous. Sikap kita jelas tidak mungkin menolak UN, karena UN sudah merupakan bagian dari
sistem pendidikan nasional kita. Yang jelas, mari kita mempersiapkan sebaik mungkin untuk
2|S e m i n a r G O W K a b u p a t e n K u n i n g a n – R a b u , 3 0 J a n u a r i 2 0 0 8
menghadapi UN dengan target realistis, yang penting mencapai nilai lebih dari 4,5 untuk mata
pelajaran yang diujikan. Nilai 10 di UN tidak seprestisius jika kita mencapai nilai 10 untuk UMPTN,
karena tidak menjamin masuk ke PTN selanjutnya.
Namun agak berbeda bagi pelajar SMP, lulus UN dengan nilai tinggi merupakan jaminan untuk
memasuki SMA Favorit, tapi tidak menjamin akan tetap demikian saat sudah menjadi pelajar
SMA. Sudah hal yang lumrah biasanya di SMA Favorit biasanya biaya pendidikannya relatif lebih
mahal dibandingkan dengan SMA yang tidak favorit, apalagi SMA di pelosok daerah misalnya.
Namun kesimpulan umum dari semua itu adalah, lulus dan tidak lulus UN bukanlah jaminan
untuk meraih kesuksesan apalagi kebahagiaan hidup. Yakinlah, bahwa setiap orang sudah
memiliki jalan hidupnya (blueprint kehidupan) masing-masing, sehingga saat seseorang kebetulan
tidak lulus UN saat semua usaha sudah dikerahkan, itu merupakan bagian dari ujian hidup
sebenarnya. Tak perlu putus asa apalagi nekad. Dan sebaliknya, kita pun tidak perlu melakukan
berbagai cara dengan menghalalkan segala cara hanya gara-gara supaya lulus UN, termasuk
cara-cara yang illegal dan tidak terpuji.
Kedua, menghadapi suatu ujian seyogyanya semua orang baik orang tua siswa maupun siswa
menyusun 2 (dua) skenario, yaitu skenario keberhasilan (lulus) dan skenario kegagalan (tidak
lulus). Planning menjadi penting peranannya untuk mempersiapkan dua skenario tersebut.
Skenario keberhasilan dirancang sedemikian rupa sehingga semua upaya dikerahkan secara
maksimal. Dimulai dari strategi membangkitkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik pada anak, mindfocus (visual imagery) tentang keberhasilan, belajar lebih teratur, intensif, terpola/terarah dan
sistematis, menciptakan lingkungan belajar baik di sekolah maupun di rumah (learning climate
and society), pola hubungan orang tua dan anak yang lebih suportif dan mutualistis, dukungan
moral sahabat dan orang-orang terdekat lainnya, dan yang jauh lebih penting dari semua itu
adalah usaha transendental (doa, dzikir, dan shalat) agar dimudahkan Allah SWT dalam semua
urusan. Penulis berkeyakinan jika semua upaya itu telah dilakukan, Insya Allah untuk dapat lulus
minimal itu sangat bisa.
Seperti dikutip di pendahuluan, kompetisi yang mulia membutuhkan visi yang hebat (melihat
peluang), dan inteligensi (mengenal pasar). Kompetisi juga membutuhkan kepercayaan
yang tinggi (yakin pada prinsip Anda), strategi (bertindak berdasarkan kekuatan Anda),
dan keberanian (mendedikasikan diri sepenuh hati). Pun demikian dengan UN sebagai event
kompetisi belajar. Agar sukses melewatinya, pelajar membutuhkan visi yang hebat dengan
melihat berbagai peluang dan kesempatan yang ada, kesiapan materi yang ditunjukkan dengan
kemampuan penguasaan materi ujian, membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi dengan
meyakini pada visi dan potensi yang dimiliki, serta keberanian untuk menghadapi setiap masalah
dan mengelola risiko yang ada.
Dalam bukunya The Paradox of Excellence, Mosby dan Weissman (2007) menekankan bahwa kini
bukan merupakan suatu jaminan performa yang luar biasa akan memberikan kontribusi
besar pada kesuksesan bisnis. Mereka menyimpulkan bahwa banyak sekali kejadian performa
yang luar biasa justru akan membunuh bisnis karena ekspektasi yang terus meningkat dari
pelanggan sementara daya dukung potensi terus mengalami entropi atau penyusutan sebagai
suatu hukum alam. Dalam konteks ini, penulis ingin menjelaskan bahwa bukan jaminan bagi siswa
yang prestasi akademik sehari-harinya biasa-biasa saja, merasa sulit untuk dapat melewati setiap
ujian – justru bagi mereka (pelajar) yang memiliki prestasi akademik harian bagus, UN kadang
menjadi beban tersendiri, sehingga pada saat pelaksanaannya justru bukannya mendapatkan
hasil terbaik (peak performance), namun justru antiklimaks. Dengan demikian, hadapilah UN
biasa-biasa saja, tak perlu dibesar-besarkan dan juga tidak boleh disepelekan.
3|S e m i n a r G O W K a b u p a t e n K u n i n g a n – R a b u , 3 0 J a n u a r i 2 0 0 8
Anthony Robbins dalam bukunya Awaken the Giant Within mengungkapkan “there’s always a
way to turn things around if we’re committed”. Selalu saja ada jalan untuk melakukan sesuatu
bila kita sudah berkomitmen, demikian katanya. Dengan demikian, bagi mereka yang kebetulan
tidak lulus UN, tidak harus menghentikan usaha kita untuk terus belajar. Jika kita membentur
tembok, jangan berbalik dan menyerah. Carilah cara untuk mendakinya, menembusnya, atau
memutarnya. Dengan demikian kualitas kehidupan seseorang berbanding lurus dengan
komitmennya untuk memberikan yang terbaik, apa pun bidang usaha yang mereka pilih.
Adalah manusiawi jika sebagian besar orang tua merasa khawatir atau takut bila putra putrinya
tidak lulus UN. Orang tua dan sebagian masyarakat kita bangga bila anaknya diukur dan
disbanding-bandingkan. Namun, mereka tidak menyadari bahwa alat ukur dan alat pembanding
yang digunakan sekolah saat ini adalah alat yang sungguh-sungguh mreduksi potensi
kemanusiaan anak didik. Si anak dikatakan pintar bila hasil alat ukur menunjukkan nilai 9 atau 10
dan dikatakan bodoh bila mendapatkan nilai 5 atau di bawahnya (dulu menulisnya pakai ballpoint
warna merah). Coba Anda bayangkan, bagaimana seseorang anak yang baru berusia 5 – 6 tahun
(usia penentu bagi pertumbuhan fisik dan mental) sudah diajarkan bahwa kepintaran dan
kebodohan seseorang ditentukan oleh hasil dari alat ukur dan pembanding tersebut. Akhirnya
tidak mengherankan bila si anak duduk di meja belajar untuk belajar bagaimana memperoleh
grade setinggi-tingginya daripada ia belajar untuk mengembangkan potensi multikecerdasan dan
kemampuan yang terpendam dalam dirinya
Anthony Gunn (2007), seorang psikolog spesialis rasa takut dalam bukunya Fear is Power
mengungkapkan bahwa jika kita merasa takut berarti bukti bahwa kita waras. Rasa takut
merupakan pelindung yang diciptakan untuk meningkatkan kekuatan dan kewaspadaan. Pakar
rasa takut itu memberi suatu tips bahwa ada baiknya kita memikirkan skenario terburuk, namun
bukan berarti kita berpikir bahwa hal itu akan terjadi. Mereka yang pesimis mengeluhkan hujan,
mereka yang optimis berharap hujan akan berhenti, dan mereka yang pesimis positif akan
membawa payung. Jadi peribahasa sederhana “sedia payung sebelum hujan” sangat tepat untuk
dikontekstualisasikan sebagai sikap kita dalam rangka menghadapi UN.
Memberikan beban kepada anak secara berlebihan kepada anak bukanlah hal yang tepat saat
mereka sendiri juga tengah mengarahkan kompas pribadinya masing-masing untuk memikirkan
mau kemana setelah lulus SMP atau SMA? Tindakan biasanya sangat tergantung pada visi pribadi
masing-masing, atau menurut bahasa agama “sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung
niatnya”. Karena itu, apa yang dilakukan anak-anak kita sangat tergantung pada visi apa yang
telah mereka tetapkan. Sebagian besar remaja kita hidup (tumbuh dan berkembang) tanpa visi
yang jelas, dan karena itulah mereka menjadi liar atau nakal.
Kenapa sebagian remaja kita tidak punya visi? Penulis berkeyakinan bahwa inilah bukti nyata
kegagalan pengasuhan orang tua di rumah (pola relasi dan komunikasi orang tua dan anak) dan
ketidakmampuan sekolah mengkondisikan untuk tumbuhnya visi tersebut. Realitanya adalah
masih sedikit sekali guru yang dapat menjadi inspirator bagi siswa-siswanya di sekolah, sehingga
mereka bisa terjaga komitmen dan visinya untuk meraih masa depan. Karena itulah wajar jika
Andreas Harefa (2003) dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar mengatakan bahwa
menempatkan bangunan sekolah sebagai lokasi yang paling ideal bagi proses pembelajaran
merupakan suatu kekeliruan yang berakibat fatal. Karena itu penulis sependapat dengan Richard
Berenden dalam bukunya Creating The Future bahwa „ruang kelas terbaik di negara manapun
bukanlah di sekolah atau universitas, tapi berada di sekitar meja makan di rumah‟. Bahkan
Zamroni (2001) menyindir bahwa keadaan sekolah menjadi bertambah buruk karena guru oleh
4|S e m i n a r G O W K a b u p a t e n K u n i n g a n – R a b u , 3 0 J a n u a r i 2 0 0 8
birokrat kantoran dianggap hanya sebagai pelaksana kurikulum, penjaga peserta didik, tidak
memiliki inspirasi, kreativiatas dan kemandirian sebagai seorang individu. Para guru diperlakukan
layaknya sebagai robot. Padahal pekerjaan guru memerlukan kemampuan intelektual dan
kecerdasan emosional bahkan spiritual (ESQ).
Skenario Kegagalan
Albert Einstein pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang tersisa setelah
seseorang melupakan semua yang telah dipelajarinya di sekolah. Karena itu Peter Evans dan
Geoff Deehan dalam bukunya The Descent of Mind menambahkan bahwa seperti yang telah
diketahui oleh para guru kreatif, masalah pendidikan dewasa ini adalah terlalu banyak
pengajaran, namun sedikit belajar. Sehingga penting bagi kita me-refresh pikiran kita untuk apa
atau mengapa kita harus belajar? Kita belajar agar mampu mempersiapkan diri untuk menerima
tanggung jawab atas hidup kita, atas pilihan-pilihan kita (being responsible). Kita belajar agar kita
mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita (being
adaptable). Kita juga belajar agar kita menginsyafi segala kesalahan, bertobat, dan mengakui
keterbatasan dan berharap hanya kepada Sang Khaliq semata (being faithfull). Kita juga belajar
agar kita dapat membentuk karakter pribadi sebagai anak manusia yang unik, autentik, dan tak
terbandingkan (being ourselves). Kita belajar juga agar kita dapat melayani sesama manusia yang
memerlukan kita (being servant). Kita belajar agar kita dapat menciptakan ulang masa depan kita
(being re-creator). Kita belajar agar kita menjadi lebih manusiawi (being human).
Atas dasar itu, jangan heran jika kita saat ini banyak menyaksikan ada banyak orang sukses dalam
hidupnya sehingga memberikan banyak manfaat bagi orang lain, tanpa embel-embel gelar dan
ijazah. Sebut saja Andri Wongso Sang Pembelajar ia adalah SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat)
namun kini ia dinobatkan sebagai Motivator Nomor Wahid di Indonesia, Andreas Harefa yang
menyebut dirinya sebagai Manusia Pembelajar yang sudah berhasil menulis sekitar 30 buku di
bidang leadership dan entrepreneurship, Ary Ginanjar yang dinobatkan sebagai Tokoh Perubahan
oleh Republika Tahun 2003 sebagai penggagas sistem pelatihan manajemen melalui ESQ-nya dan
baru saja pada akhir tahun 2007 kemarin mendapatkan gelar Honoris Causa-nya dari Universitas
Negeri Yogyakarta atas prestasinya di bidang spiritualisme, Larry page dan Sergey Brin, mereka
sukses besar dan meraih kebahagiaan masa depannya setelah meninggalkan sekolah dan serius
di proyek pembuatan search engine Google yang kini terkenal itu, dan masih banyak lagi tokoh
lainnya yang tak mungkin disebutkan satu per satu. Kesimpulannya: happiness doesn’t depend
upon who you are or what you have; it depends solely upon what you feel and what you think.
Sungguh, kebahagiaan itu tidak tergantung siapa kita dan apa yang kita miliki, namun justru
terletak pada kejernihan pikiran dan ketulusan niat.
Kegagalan (keadaan yang tidak berpihak), merupakan saat yang tepat untuk melatih pikiran
emosional positif, melihat keindahan bunga mawar, dengan fokus keindahan dan keharumannya
– bukan mengomeli durinya yang tajam dan akan melukai siapapun yang tak berhati-hati
memetiknya. Melihat kotoran ayam sebagai pupuk. Mensyukuri dan menikmati hujan sebagai
rahmat, bukan sebaliknya.
“Memimpikan apapun yang Anda inginkan, itulah keindahan pikiran manusia. Melakukan apapun
yang kita inginkan, itulah kekuatan keinginan manusia. Mempercayai diri sendiri, menguji ambang
batas diri, itulah keberanian untuk sukses”.
5|S e m i n a r G O W K a b u p a t e n K u n i n g a n – R a b u , 3 0 J a n u a r i 2 0 0 8
Karena itu agar kita menjadi orang senantiasa adaptif terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi di sekeliling kita, maka paling tidak kita harus memiliki 4 (empat) learning spirit, yaitu:
(1) cinta belajar, cinta ilmu pengetahuan. Hal ini penting karena cinta adalah energi belajar tanpa
batas
(2) menerima tanggung jawab bahwa diri seseorang menjadi penentu utama kemajuannya.
Dalam hal belajar, kita harus berkata “I am the captain of my soul, I am the master of my fate”
(3) bersedia menunda kesenangan, tahan menderita, tidak mengumbar kesenangan dalam
proses berburu pengetahuan itu. Hal itu akan lebih mudah dilakukan bila cinta belajar di atas
sudah ada.
(4) bersedia untuk selalu tunduk pada kenyataan, tidak merasa paling tahu, tidak memutlakan
apa yang diketahui, dan tidak bersikap dogmatis pada apa yang diyakininya.
Berbagai riset telah membuktikan bahwa determinan kesuksesan seseorang tidak mutlak
ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ) saja, namun masih banyak wilayah kecerdasan lainnya
yang berkontribusi pada kesuksesan hidupnya di masa depan. Karena itu yang lebih penting
adalah mencari definisi yang tepat terhadap apa arti sukses itu sendiri. Mari kita definisikan
sukses sebagai kemampuan untuk menentukan dan mencapai sasaran pribadi dan pekerjaan,
apapun bentuknya.
Riset Thomas Stanley yang dituangkan dalam bukunya The Millonaire Mind (The New York Times
Best-Seller) mengungkapkan bahwa dari 733 multimilyuner di seluruh Amerika Serikat yang
diminta untuk mengurutkan beberapa faktor yang dianggap paling berperan dalam
kesuksesan/keberhasilan mereka, lima faktor teratas adalah: (1) jujur kepada semua orang; (2)
menerapkan disiplin; (3) bergaul baik dengan orang lain; (4) memiliki suami/istri yang
mendukung; dan (5) bekerja lebih giat daripada kebanyakan orang. Kelima faktor tersebut
merupakan cerminan dari suatu bentuk kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional (EQ).
Sementara itu memiliki IQ tinggi menempati urutan ke-21, dapat lulus/kuliah di universitas
ternama/favorit peringkat ke-22, dan bahkan lulus dengan IPK tinggi menempati urutan terakhir
yaitu ke-30.
Berdasarkan konsep penilaian yang sudah berlaku umum di manajemen atau di dunia kerja, telah
diidentifikasi terdapat 23 softskills atau softcompetency yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan
dalam karir, di antaranya personal effectiveness, flexibility, managerial skill, creativity/innovation,
futuristic thinking, leadership, persuasion, goal orientation, continous learning, decision-making,
negotiation, written communication, employee development/coaching, problem solving, teamwork,
presenting, diplomacy, conflict management, empathy, customer service, planning/organizing,
interpersonal skills, dan self-management (personal management). Dan kesemua softskills tersebut
takkan mungkin dibekalkan sepenuhnya melalui institusi yang namanya sekolah. Andreas Harefa
menyebutkan bahwa lingkungan yang dapat membekalkan hal-hal tersebut adalah Universitas
Kehidupan. Bahkan hebatnya Purdi Chandra, bos Primagama Group berani mendirikan
Universitas Entrepreneur di Yogyakarta yang memiliki misi untuk melahirkan wirausahawanwirausahawan unggul di masa depan.
Penutup
Ujian Nasional bukan segalanya dan bukan yang terpenting dalam hidup. Dia hadir dan terlahir
sebagai bagian dari ujian dalam kehidupan seorang anak. Semua pihak hendaknya memberikan
persepsi yang sama terhadap hal tersebut, jangan dibesar-besarkan dan jangan pula terlampau
disepelekan atau diremehkan. Berteriak-teriak menolak UN bukanlah solusi yang tepat untuk saat
ini, lebih baik justru mempersiapkannya dan menghadapinya dengan penuh keyakinan dan
kepercayaan diri serta persiapan material dan mental yang proporsional. Tak perlu mengada-ada
untuk mempersiapkannya sehingga menjadi beban tambahan bagi anak. Yang diperlukan justru
6|S e m i n a r G O W K a b u p a t e n K u n i n g a n – R a b u , 3 0 J a n u a r i 2 0 0 8
saling memberi dorongan dan dukungan dalam pola relasi saling percaya dan berbagi
kebahagiaan dengan mereka. Orang tua hendaknya menjadi mitra bagi siswa untuk menyusun
skenario keberhasilan dan kegagalan agar apapun hasil yang diperolehnya kelak, tetap dalam
bingkai kesadaran bahwa sukses dalam hidup tak hanya ditentukan oleh lulus tidaknya Ujian
Nasional.
Teruslah untuk berperasaan dan berpikir positif dalam menghadapi UN, Insya Allah jika hal itu
konsisten dilaksanakan akan mengarahkan pada munculnya perilaku dan kebiasaan yang positif.
Kepustakaan:
Dawam, A., 2003, Emoh Sekolah, Yogyakarta: Inspeal Ahimsakarya Press
Evans, P., Deehan, G., 1988, The Keys to Creativity: Unlocking the Secrets of the Creative Mind, London:
Grafton Books
Gunn, A., 2007, Fear is Power, Bandung: Penerbit Hikmah
Harefa, A., 2003, Mengasah Paradigma Pembelajar, Jakarta: PT Gradien
Holden, R., 2007, Success Intelligence, Bandung: Penerbit Kaifa
Londen, I.M., 2007, Orang Bodoh Lebih Cepat Sukses, Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Mosby, D., Weissman, M., 2007, The Paradox of Excellence, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer
Pora, Y., 2007, Selamat Tinggal Sekolah, Yogyakarta: Media Pressindo
Robbins, A., 1992, Awaken the Giant Within, London: Simon & Schuster
Ronnie, D., 2006, The Power of Emotional and Adversity Quotient for Teachers, Bandung: Penerbit Hikmah
(Mizan Publika)
Rose, C., Nicholl, M.J., 2002, Accelerated Learning for the 21st Century, Bandung: Penerbit Nuansa
Sentanu, E., 2007, Quantum Ikhlas: Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati, Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Sinamo, J., 2000, Strategi Adaptif Abad ke-21, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Stanley, T., 2001, The Millionaire Mind, Missouri: Andrews McMeel Publishing
Stein, S.J., Book, H.E., 2002, Ledakan EQ: 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, Bandung:
Penerbit Kaifa
Winarto, P., 2003, First Step to be an Entrepreneur, Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Wongso, L., 2007, Andri Wongso Sang Pembelajar, Jakarta: AW Publishing
Zamroni, 2001, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: BIGRAF Publishing
7|S e m i n a r G O W K a b u p a t e n K u n i n g a n – R a b u , 3 0 J a n u a r i 2 0 0 8
Fly UP