...

studi kasus: komoditas nila di kabupa

by user

on
Category: Documents
10

views

Report

Comments

Transcript

studi kasus: komoditas nila di kabupa
PENGEMBANGAN SEKTOR PEMASARAN SEBAGAI DUKUNGAN
TERHADAP PROGRAM INDUSTRIALISASI PERIKANAN
(STUDI KASUS: KOMODITAS NILA DI KABUPATEN MUSI RAWAS,
PROVINSI SUMATRA SELATAN)
MARKETING SECTOR DEVELOPMENT AS SUPPORT FOR
FISHERIES INDUSTRIALIZATION (CASE STUDY:
TILAPIA FISH IN MUSI RAWAS DISTRICT, SOUTH SUMATRA)
Hertria Maharani
Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Jalan K.S. Tubun, Petamburan VI, Jakarta Pusat, 10260
Pos-el: [email protected]
ABSTRACT
Fisheries industrialization announced by the Ministry of Marine and Fisheries Affairs aims to increase
production, productivity, and value added of fishery products. However, increased production without increasing­
marketing efforts will make less successful impact for the program. This research examines the aquaculture, market, channel marketing, and trading of tilapia from Musi Rawas, South Sumatra. Field studies were conducted in
March–June 2012. Survey method was used as the main instrument of this study, with the help of questionnaires
and in-depth interviews with key informants. Respondents consisted of farmers, collectors, traders, and policy
makers related tilapia. Descriptive analysis was conducted for the method of analysis. Results of the study showed
that despite an increase in production experienced by farmers, commodities are marketed only to the local market.
Farmers are still the price takers which means they cannot increase the bargaining power. The structure of farmers
markets are perfectly competitive, while the structure is oligopsonistic merchant. So the prices at the level of farmers are controlling nature merchants. To improve the welfare of farmers aquaculture, should diminishing patron
client relationship and search for new marketing channels need to be done as the customer looking for a restaurant
or doing marketing tilapia up to another area.
Keywords: Marketing, Tilapia fish, Price taker, Oligopsony, Musi Rawas
ABSTRAK
Industrialisasi perikanan yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bertujuan meningkatkan produksi, produktivitas, dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan yang berdaya saing tinggi.
Namun tentu saja, peningkatan produksi tanpa disertai oleh upaya meningkatkan pemasaran akan berdampak pada
kurang berhasilnya program tersebut. Penelitian ini akan mengkaji usaha budi daya, pasar, saluran pemasaran,
dan perdagangan ikan nila yang berasal dari Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan. Studi lapangan
dilakukan pada Maret–Juni 2012. Instrumen utama penelitian ini menggunakan metode survei dengan bantuan
kuesioner dan wawancara mendalam dengan informan kunci. Responden terdiri dari pembudidaya, pengumpul,
pedagang, dan penentu kebijakan terkait ikan nila. Metode penelitian dilakukan secara analisis deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa walaupun terdapat peningkatan produksi yang dialami oleh pembudidaya, komo­
ditas hanya dipasarkan terbatas pada pasar lokal. Pihak pembudidaya masih menjadi price taker yang artinya
tidak dapat meningkatkan posisi tawar. Struktur pasar pembudidaya bersifat persaingan sempurna, sedangkan
pada sisi lain dengan struktur pedagang bersifat oligopsoni sehingga harga di tingkat pembudidaya berada dalam
| 13
pengendalian pedagang. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani budi daya, sebaiknya upaya menghilangkan
pola patron client­dalam pembiayaan usaha dan mencari jalur pemasaran baru perlu dilakukan, seperti dengan
mencari pelanggan untuk keperluan restoran ataupun melakukan pemasaran ikan nila hingga ke daerah lain.
Kata kunci: Pemasaran, Ikan nila, Price taker, Oligopsoni, Musi Rawas
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
pada 2011 telah mengeluarkan program industrialisasi perikanan yang salah satu tujuannya
adalah meningkatkan produksi, produktivitas, dan
nilai tambah produk kelautan dan perikanan yang
berdaya saing tinggi. Program ini sesuai dengan
visi KKP yang ingin menjadikan Indonesia
sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan
terbesar pada 2015.
Demi mewujudkan visi tersebut, Kemen­
terian Kelautan dan Perikanan saat ini menggenjot
sektor budi daya melalui industrialisasi perikanan
dengan mengusung ikan nila sebagai salah satu
komoditas unggulan. Nila menjadi komoditas
unggulan karena komoditas ini mengalami peningkatan permintaan dari tahun ke tahun, baik dari
pasar domestik maupun internasional. Setengah
dari impor nila di Amerika Serikat dipasok oleh
Cina, sedangkan sisanya oleh Taiwan, Thailand,
dan Indonesia.1 Produksi nila nasional pada 2001
sebesar 34.122 ton, kemudian meningkat menjadi
214.514 ton pada 2010.2 Peningkatan produksi
ini menjadikan Indonesia sebagai peringkat
keempat negara produsen nila terbesar di dunia
setelah Cina, Mesir, dan Filipina. Sampai dengan
saat ini sekitar 80% produksi nila masih diserap
pasar lokal.3
Selain permintaan yang tinggi, alasan kedua
ikan nila dijadikan sebagai komoditas unggulan
adalah resistensi ikan tersebut terhadap berbagai
virus karena nila memiliki daya tahan yang lebih
kuat terhadap penyakit. Keunggulan ini membuat
para pembudidaya bersemangat untuk memproduksi komoditas nila. Produksi nila yang terus
bertambah setiap tahun memberikan potensi dan
harapan yang cerah untuk terus dikembangkan.
Potensi yang besar ini juga dimiliki oleh Provinsi
Sumatra Selatan. Provinsi Sumatra Selatan
merupakan sentra budi daya nila terbesar kedua
14 | Widyariset, Volume 18, Nomor 1, April 2015: 13–24
secara nasional. Pada 2010, produksi nila provinsi
ini mencapai 16,82% dari total produksi nasional.
Peningkatan produksi yang diprioritaskan
dalam program industrialisasi perikanan, tentu
juga harus diimbangi dengan kesiapan aspek
pemasaran. Sebelum melakukan usaha, seorang
pengusaha sebaiknya berpikir dan berorientasi
pada aspek pemasaran lebih dulu.4 Tanpa adanya­
saluran pemasaran yang baik, peningkatan
produksi justru dapat menjadi bumerang bagi
produsen dalam hal ini para pembudidaya.
Banyak contoh kasus di daerah, seperti yang
diungkapkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan
Provinsi Kalimantan Selatan bahwa Kabupaten
Banjar tahun ini sedang mengalami kelebihan
produksi sebanyak 2.000 ton untuk komoditas
patin. Patin yang sudah diproduksi tidak dapat
seluruhnya terserap oleh pasar dengan berbagai
alasan. Hal ini salah satunya ditengarai oleh
saluran pemasaran yang kurang baik sehingga
menyumbat rantai pasok dari komoditas itu.
Terdapat juga contoh kasus kelebihan produksi
yang mengakibatkan turunnya harga komoditas
secara drastis yang terjadi di Kabupaten Jambi
pada 2010. Saat itu, peningkatan produksi secara
bersamaaan tidak diimbangi dengan serapan pasar
sehingga banyak pembudidaya yang menjual hasil
budi daya mereka dengan harga yang rendah. Oleh
karena itu, aspek pemasaran merupakan bagian
yang penting untuk dikaji. Perumusan Masalah
Produksi yang terus meningkat di sektor hulu
akan menjadi lebih baik jika usaha budi daya nila
juga didukung dengan sistem pemasaran yang
baik pada sektor hilir. Hal ini selain diharapkan
bisa mempercepat tercapainya industrialisasi
perikanan, juga dapat meningkatkan pendapatan
pembudidaya sehingga kesejahteraan mereka
meningkat.
Sampai saat ini banyak komoditas nila
yang tidak dapat dipasarkan dengan baik karena
memiliki saluran pemasaran yang terbatas atau
rantai pemasaran yang cukup panjang sehingga
pembudidaya menerima sedikit sekali keuntungan
dari penjualan nila. Dengan demikian, cukup
penting kiranya untuk dilakukan kajian terhadap
sektor hilir dari komoditas ini. Berdasarkan hal
di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:
1. Bagaimana perkembangan usaha budi daya
ikan nila?
2. Bagaimana pola perdagangan komoditas nila?
3. Bagaimana saluran pemasaran komoditas nila
dan saluran manakah yang dapat memberikan
pendapatan yang lebih tinggi bagi pembudidaya?
Tujuan Penelitian:
1. Mengidentifikasi perkembangan usaha budi
daya komoditas nila.
2. Menganalisis pola perdagangan yang terjadi
pada komoditas nila.
3. Menganalisis saluran pemasaran yang efektif
dan paling menguntungkan bagi pembudidaya
nila.
Tinjauan Pustaka
Pemasaran adalah proses dalam masyarakat,
ketika struktur permintaan akan barang ekonomis
dan jasa-jasa diantisipasi, diluaskan, dan dipenuhi
melalui konsepsi, promosi, pertukaran, dan
distribusi fisik dari barang-barang dan jasa
tersebut. 5 Pemasaran merupakan aspek yang
sangat mendasar dalam mencapai keuntungan
suatu usaha. Jika produk yang dihasilkan tidak
memiliki sasaran pasar, produk tersebut tidak akan
terjual. Purcell dalam Kusnadi mendefinisikan
pemasaran, yakni adanya koordinasi dan merupakan suatu proses sistem yang menjembatani
atau menghubungkan gap antara apa yang
diproduksi produsen (what is produced) dan apa
yang diinginkan konsumen (what is demanded).
Sementara itu, menurut Kohls dan Uhls dalam
kusnadi, pemasaran didefinisikan sebagai keragaan dari semua aktivitas bisnis dalam aliran dari
produk-produk dan jasa-jasa dimulai dari tingkat
produksi sampai di tingkat konsumen akhir.6
Menurut Hanafiah dan Saefuddin, pemasaran hasil perikanan mempunyai sejumlah ciri, di
antaranya sebagai berikut.7
1. Produksinya musiman, berlangsung dalam
ukuran kecil-kecil (small scale) dan di daerah
terpencar-pencar serta spesialisasi.
2. Konsumsi hasil perikanan berupa bahan
makanan relatif stabil sepanjang tahun. Sifat
demikian ini dihubungkan dengan sifat
produksinya yang musiman dan jumlahnya
tidak berketentuan karena pengaruh cuaca,
menimbulkan masalah dalam penyimpanan,
dan pembiayaan.
3. Barang hasil perikanan berupa bahan makanan
mempunyai sifat cepat atau mudah rusak
(perishable).
4. Jumlah atau kualitas hasil perikanan dapat
berubah-ubah. Kenyataan menunjukkan
bahwa jumlah dan kualitas dari hasil perikanan tidak selalu tetap dari tahun ke tahun.
Dengan demikian, pemasaran dalam sistem
usaha perikanan lebih memiliki banyak tantang­
an dibandingkan komoditas lain. Tantangan
ini terutama terkait masalah distribusi dan
hubungan dengan para pelaku usaha lain dalam
rantai pemasaran. Terkait dengan distribusi, untuk
perikanan budi daya biasanya banyak dipengaruhi
oleh lokasi yang jauh dari pusat perdagangan,
barang yang bersifat tidak tahan lama atau
mudah busuk, dan hasil panen yang tidak dapat
diprediksi. Sedangkan terkait hubungan dengan
pelaku pemasaran lain, akibat keterbatasan
modal biasanya pelaku usaha budi daya masih
menggantungkan sumber pembiayaan kepada
para pedagang atau pengumpul. Untuk itu, dari
teori pemasaran yang ada, yang perlu diperhatikan
dalam usaha perikanan adalah saluran pemasaran
dan pola perdagangannya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Musi
Rawas, Provinsi Sumatra Selatan. Kegiatan
pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan
pada Maret–Juni 2012. Cara pengumpulan data
adalah dengan melakukan survei dan wawancara
mendalam dengan bantuan kuesioner. Wawancara
dilakukan terhadap 30 responden. Pengambilan
sampel dilakukan secara purposive yang terdiri
Pengembangan Sektor Pemasaran... | Hertria Maharani |
15
dari pelaku usaha budi daya, pengumpul, pedagang, dan penentu kebijakan terkait dengan nila
yang berada di sentra produksi nila di lokasi penelitian. Metode analisis dilakukan secara deskriptif.
Selanjutnya, guna menghitung margin pemasaran
maka digunakan formulasi berikut ini.8
M = Hp–Hb
Keterangan:
M = Margin pemasaran
(1)
Hp = Harga penjualan
Hb = Harga beli
Untuk menghitung keuntungan dari tiap-tiap
lembaga pemasaran digunakan rumus:
π= M − Bp
(2)
Keterangan:
π = Keuntungan pemasaran
M = Margin pemasaran
Bp = Biaya pemasaran
Sementara itu, menurut Dahl dan Hammond,
untuk mengetahui struktur pasar digunakan
analisis sistem pemasaran yang mengkaji struktur
pasar (structure), tingkah laku pasar (conduct),
dan keragaan pasar (performance).9
HASIL DAN PEMBAHASAN
Usaha Budi Daya
Di antara jenis ikan budi daya perairan tawar,
ikan nila merupakan salah satu komoditas andalan
yang dapat dikembangkan untuk pasar dalam
negeri ataupun ekspor. Jenis ikan ini bahkan dapat
dipelihara di perairan payau. Nila mempunyai ciriciri yang diinginkan untuk komoditas budi daya,
yaitu cepat dari segi pertumbuhan, sedikit tulang,
rasa daging yang enak, mudah berkembang biak,
pasar yang baik, dan mampu beradaptasi dengan
kisaran yang lebar dari kondisi lingkungan10.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, nila
dijadikan sebagai salah satu komoditas unggulan
yang masuk program industrialisasi perikanan
KKP.
Selain itu, peningkatan permintaan nila
sebagai salah satu pilihan sumber protein hewani
dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia,
serta permintaan di pasar internasional juga ikut
mendorong meningkatnya usaha budi daya nila.
Seperti yang telah dijelaskan, pemasok utama
komoditas ikan nila di Amerika adalah Cina,
Taiwan, Thailand, dan Indonesia. Jika dilihat
dari produksi, Indonesia juga merupakan negara
keempat penghasil nila di dunia setelah Cina,
Mesir, dan Filipina.
Keberhasilan budi daya nila ini tersebar di
semua daerah di Indonesia dan membentuk sentrasentra produksi nila. Lokasi atau sentra produksi
nila terbesar di Indonesia terletak di Provinsi
Jawa Barat. Selain Jawa Barat, sentra produksi
nila berada di Sumatra Selatan. Produksi nila di
Jawa Barat sebesar 106.889 ton sedangkan untuk
produksi nila di Sumatra Selatan sebesar 78.073
Tabel 1. Produksi Nila Berdasarkan Sentra Produksi Nila di Indonesia 201011
No.
1
Provinsi
Jawa Barat
Produksi Nila
Volume (ton)
Persentase (%)
106.889
23,03
2
Sumatra Selatan
78.073
16,82
3
Sumatra Utara
60.852
13,11
4
Sumatra Barat
42.572
9,17
5
Jawa Tengah
28.715
6,19
6
Kalimantan Selatan
24.834
5,35
7
Jawa Timur
23.211
5,00
8
Sulawesi Utara
16.253
3,50
9
Jambi
12.267
2,64
10
Bengkulu
10.103
2,18
Sumber: Peta Sentra Budi Daya, Direktorat Jenderal Budi Daya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2010
16 | Widyariset, Volume 18, Nomor 1, April 2015: 13–24
Gambar 1. Produksi Ikan Nila di Provinsi Sumatra Selatan (ton) 2010
Sumber: Laporan Tahunan Budi Daya, Dinas Provinsi Sumatra Selatan, 2010
Tabel 2. Jaringan Irigasi di Musi Rawas, Sumatra Selatan13
No.
Nama Jaringan Irigasi
Kemampuan Pengairan (Ha)
Kelingi
Tugumulyo
36.000
1
Selangit Terawas
15.000
2
Kali Deres Babat
5.000
3
Jaya Loka
3.000
4
Pagar Sari (Megang Tikip)
5
2.000
Sumber: Profil Perikanan Budi Daya 2011, Dinas Kelautan dan Perikanan, Provinsi Sumatra Selatan
Tabel 3. Karakteristik Responden di Kabupaten Musi Rawas, 2012
No.
Karakteristik
Pengalaman usaha (1–5 tahun)
1
Umur (30–39 tahun)
2
Suku (Jawa)
3
Pekerjaan sampingan (buruh)
4
Pendidikan (SD)
5
Sumber: Data yang Diolah, 2012
ton. Produksi nila berdasarkan sentra produksi di
Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Provinsi Sumatra Selatan, yang menjadi
lokasi penelitian, merupakan produsen nila
terbesar kedua di Indonesia. Produksi nila di
Sumatra Selatan menggunakan sistem budi daya
kolam air deras dan diharapkan terus meningkat.
Jumlah produksi nila pada 2010 sebesar 48.056
ton. Jumlah ini menguasai 16,82% produksi
nasional komoditas nila. Berikut ini adalah grafik
yang menampilkan jumlah produksi nila Provinsi
Sumatra Selatan pada 2001–2010.12
Jumlah (%)
42,9
57,1
85,7
57,1
39,5
Di Sumatra Selatan, intensifikasi budi daya
nila berlangsung cepat sehingga nila tidak hanya
dipelihara di kolam seperti yang umum dilakukan,
tetapi banyak juga yang menggunakan Keramba
Jaring Apung (KJA) di waduk atau danau, sawah,
kolam air deras, bahkan tambak air payau. Di Kabupaten Musi Rawas, pengembangan budi daya
nila didukung oleh sarana jaringan irigasi yang
menyediakan sumber air tawar sepanjang tahun.
Adanya jaringan irigasi ini merupakan peluang
untuk dapat meningkatkan produktivitas budi
daya nila di Sumatra Selatan. Adapun jaringan
irigasi yang tersedia dapat dilihat pada Tabel 2.
Pengembangan Sektor Pemasaran... | Hertria Maharani |
17
Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi
Rawas, merupakan kecamatan terbesar penghasil
nila, yaitu sekitar 6.125 ton pada 2011 dengan
mengandalkan jaringan irigasi yang ada. Dalam
penelitian ini, lokasi yang dipilih adalah Kecamatan Muara Beliti (Kelurahan Priok, Ketuan
Jaya, Air Satan), Kecamatan Tugu Mulyo (Tegal
Redjo, Ketuan I), dan Kecamatan Purwodadi
(Mardihardjo). Hal ini disebabkan kecamatankecamatan tersebut merupakan penghasil nila
dengan jumlah yang besar sekabupaten.
Berdasarkan hasil karakteristik responden,
usaha budi daya nila ini telah lama menjadi
mata pencaharian masyarakat di Musi Rawas.
Pembudidaya yang ada di Kabupaten Musi Rawas
mayoritas memiliki pengalaman usaha 1–5 tahun.
Karakteristik pembudidaya di Musi Rawas terlihat
pada Tabel 3.
Sebagian besar pembudidaya, yakni sebanyak 57,1% berada di kelompok kisaran
umur produktif, yaitu umur 19 hingga 49 tahun.
Usia produktif akan memudahkan pengenalan
terhadap inovasi dan teknologi bagi kelompok
pembudidaya. Terlebih lagi sebanyak 39,5%
pembudidaya minimal tamatan SD yang artinya
dapat membaca dan menulis. Berdasarkan kesukuan, sebanyak 85,7% pembudidaya di Musi
Rawas adalah transmigran dari Jawa. Secara aspek
sosiologis, program-program yang dilakukan oleh
pemerintah seharusnya dapat diimplementasikan
dengan baik karena sifat dari transmigran yang
memiliki tingkat keuletan yang tinggi untuk
memperbaiki hidupnya. Sekitar 39,5% pembudidaya mempunyai pekerjaan sampingan lain,
yaitu menjadi buruh. Hal ini menandakan masih
kurangnya pendapatan yang mereka hasilkan
sebagai pembudidaya ikan nila. Karakteristik responden tersebut dapat
menjadi acuan bagi pemerintah untuk mengembangkan program-program usaha budi daya
sekaligus mengenalkan berbagai diseminasi
teknologi untuk kelompok budi daya. Perhatian
dari pemerintah diharapkan dapat memperluas
peluang usaha budi daya, baik dari sisi produksi
maupun strategi pemasarannya.
Pola Perdagangan Komoditas Nila
Struktur pasar dan perilaku perdagangan ikan
nila konsumsi di Kabupaten Musi Rawas dapat
18 | Widyariset, Volume 18, Nomor 1, April 2015: 13–24
dikelompokkan menjadi lima pelaku, yaitu:
Pembudidaya
Pendatang baru pada tingkat pembudidaya
nila sangatlah terbuka luas. Hal ini disebabkan
teknologi budi daya cukup mudah dan modal
yang relatif sedikit untuk memulai usaha budi
daya. Pemasok benih pun saat ini sangat mudah
dijumpai. Pembeli dalam pasar juga cukup
banyak walaupun saat ini kebanyakan hanya
untuk konsumsi domestik. Dalam hal produk
pengganti, justru nila merupakan produk pengganti dari kakap merah yang berharga mahal.
Namun, dengan tidak adanya hambatan untuk
masuk usaha ini menimbulkan persaingan
dalam industri yang cukup ketat. Struktur pasar
nila hidup di tingkat pembudidaya mendekati
sifat persaingan sempurna. Hal ini berdasarkan
ciri-ciri dari pasar persaingan sempurna, yaitu (1)
jumlah produsen yang sangat banyak dan tidak
mempunyai kekuasaan secara individu untuk
menentukan harga (pembudidaya sebagai price
taker); (2) produk yang diperjualbelikan bersifat
homogen; (3) pelaku bebas keluar-masuk pasar;
(4) pembeli dan penjual mengetahui satu sama lain
dan mengetahui barang yang diperjualbelikan.
Perilaku pelaku pembudidaya biasanya mengejar
produksi sebanyak-banyaknya (kuantitas)14.
Agen luar kota
Struktur pasar yang terbentuk pada tingkat agen
adalah oligopsoni. Oligopsoni adalah keadaan
ketika dua atau lebih pelaku usaha menguasai
penerimaan pasokan atau menjadi pembeli
tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu
pasar komoditas15. Tiap-tiap penjual mempunyai
pengaruh terhadap harga tetapi tidak melakukan
perubahan harga yang mencolok. Di Pasar Jaka­
baring, Kota Palembang, terdapat beberapa agen
ikan nila. Agen tersebut yang menentukan harga
nila. Salah satu cara untuk menguasai pasar adalah
dengan memberikan kemudahan-kemudahan terhadap pembelinya dalam hal ini adalah pengecer
ikan di pasar. Kemudahan-kemudahan tersebut
seperti cara pembayaran yang ringan, yakni
pembeli boleh membayar produk yang diambil
setelah produk tersebut laku terjual. Hal ini selain
memperkuat agen dalam pasar juga membuat agen
semakin berdaya dalam menentukan harga.
Tabel 4. Struktur Pasar dan Kaitannya dengan Pembudidaya sebagai Produsen Nila di Musi Rawas, Sumatra
Selatan, 2012
Segmentasi
Jumlah Pelaku
Barrier to Entry
Diferensiasi
Produk
Struktur Pasar
Pembudidaya
Banyak
Rendah, teknologi mudah, dan modal
relatif kecil
Tidak ada
Persaingan
sempurna
Agen luar kota
Sedikit
Tinggi, modal yang besar
Tidak ada
Oligopsoni
Pedagang lokal
Sedikit
Tinggi, modal yang besar
Tidak ada
Oligopsoni
Pengecer
Agak banyak
Rendah
Tidak ada
Persaingan
monopolistik
Pengolah ikan asap
Sedikit
Cenderung rendah, tetapi pasar masih
terbatas
Tidak ada
Oligopsoni
Pengolah ikan asin
Hanya satu
Cenderung rendah, tetapi pasar masih
terbatas
Tidak ada
Monopsoni
Sumber: Data primer diolah, 2012
Tabel 5. Saluran Pemasaran dan Produk Akhir Komoditas Nila di Musi Rawas, Sumatra Selatan
Rantai 5
Produk
Akhir
Saluran
Rantai 1
Rantai 2
Rantai 3
Rantai 4
1
Pembudidaya
Pedagang
besar lokal
Pedagang pengecer
Konsumen akhir
2
Pembudidaya
Pedagang
besar lokal
Agen luar kota
Pedagang pengecer
3
Pembudidaya
Agen di luar
kota
Pedagang pengecer
Konsumen akhir
Ikan segar
4
Pembudidaya
Pedagang
pengecer
Pengecer restoran
Konsumen akhir
Masakan nila
5
Pembudidaya
Pengolah ikan
Pedagang pengecer
Konsumen akhir
Ikan asin
6
Pembudidaya
Pengolah ikan
Pedagang pengecer
Konsumen akhir
Ikan asap
Ikan segar
Konsumen
akhir
Ikan segar
Sumber: Data Primer Diolah, 2013
Pengepul/pedagang besar lokal
Pengecer
Sama halnya dengan agen, di tingkat pengepul
atau pedagang besar lokal juga terbentuk struktur
pasar oligopsoni karena jumlah pedagang banyak.
Pengepul mempunyai andil untuk menentukan
harga nila di tingkat pembudidaya te­ta­pi tidak
dapat menentukan harga yang terlalu berbeda
dengan harga pasar. Untuk mempertahankan
atau mengua­sai pasar, pengepul memberikan
bantuan kepada pembudidaya. Bantuan tersebut
seperti pemberian modal kerja (benih dan pakan)
sehingga terjalin ikatan patron-client antara
pengepul dan pembudidaya.
Di tingkat pengecer, struktur pasar yang terbentuk
adalah pasar persaingan monopolistik, yakni
jumlah penjual agak banyak tetapi masing-masing
mempunyai sedikit pengaruh terhadap pasar dan
produk yang diperjualbelikan tidak homogen.
Dalam hal ini, pengecer nila di pasar-pasar
yang menjadi lokasi penelitian berjumlah cukup
banyak. Walaupun produk yang diperjualbelikan
adalah nila, ada perbedaan lokasi tempat berjualan
sehingga tiap-tiap produk menjadi berbeda
antara pengecer satu dan yang lainnya. Pengecer
yang berada di dalam lokasi pasar akan menjual
produknya lebih murah dibandingkan harga yang
ditawarkan pengecer yang berlokasi di pintu masuk pasar. Hal ini sebagai upaya untuk menguasai
pasar dan menarik pembeli.
Pengembangan Sektor Pemasaran... | Hertria Maharani |
19
Pengolah
Tujuan pemasaran nila segar dan masakan
nila yang disalurkan oleh para pengecer tersebar
di daerah Provinsi Sumatra Selatan. Olahan ikan
asap yang dipasarkan langsung oleh pengolah
banyak dijual pada pasar-pasar lokal di Kabupaten­
Musi Rawas. Sementara itu, produk akhir be­rupa
olahan ikan asin biasanya dipasarkan oleh peng­
olah ke pasar di daerah Bogor, Jawa Barat.
Di tingkat pengolah nila, struktur pasar yang
terbentuk untuk pengolah ikan asin adalah pasar
monopsoni, yaitu jumlah pembeli hanya satu dan
dapat memberikan pengaruh terhadap harga pasar.
Sebaliknya, untuk pengolah ikan asap, struktur
yang terbentuk adalah oligopsoni, yakni terdapat
beberapa pembeli yang mampu memberikan
pengaruh terhadap harga pasar.
Dari rantai pasok tersebut dapat terdeteksi
bahwa untuk komoditas nila di Kabupaten Musi
Rawas sedikitnya memiliki enam saluran
pemasaran. Dari saluran pemasaran ini setidaknya
dapat dilihat margin pemasaran dan keuntungan
yang diperoleh pembudidaya. Jika margin
pemasarannya terlalu besar, dapat diduga saluran
pemasarannya tidak efektif. Selain komponen
Pemasaran Ikan Nila
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan,
di­peroleh informasi mengenai jenis produk akhir
komoditas nila yang diterima oleh konsumen dan
saluran pemasarannya. Untuk produk akhir, yang
dipasarkan adalah nila segar, ikan asap, ikan asin,
dan masakan nila.
Gambar 2. Rantai Pasok Pemasaran Ikan Nila di Kabupaten Musi Rawas 2012
Sumber: Data yang Diolah
Tabel 6. Harga Beli Awal Ikan Nila dan Margin Pemasaran Pedagang Besar Lokal, Agen Luar Kota, Pedagang
Pengecer di Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan, 2012
Saluran
Harga Beli
Ikan dari
Pembudidaya
(Rp/Kg)
Margin
Pemasaran
Pedagang Besar
Lokal
(Rp/Kg)
Margin
Pemasaran
Agen Luar Kota
(Rp/Kg)
Margin
Pemasaran
Pedagang
Pengecer
(Rp/Kg)
Total
Margin
Pemasaran
(Rp/Kg)
Keuntungan
Pembudidaya
dari Penjualan
(Rp/Kg)
1
16.500
2
16.500
2.250
-
5.250
7.500
4.843
2.250
2.250
4.000
8.500
4.843
3
18.000
-
3.000
4.000
7.000
6.343
4
21.000
-
-
3.000
3.000
9.343
5
13.000
-
-
-
-
1.343
6
16.500
-
-
-
-
4.843
Sumber: Data yang Diolah
20 | Widyariset, Volume 18, Nomor 1, April 2015: 13–24
biaya pemasaran, margin pemasaran juga sangat
ditentukan oleh harga beli para pelaku pasar
dari produsen terkait dengan komoditas yang
diperjualbelikan. Tabel 6 menggambarkan margin
pemasaran di setiap saluran pemasaran.
Untuk saluran 5 dan 6, pembudidaya menyalurkan langsung hasil panen nila ke tiap-tiap
pengolah, tidak dapat dilakukan penghitungan
terhadap margin pemasarannya karena sudah
terjadi proses perubahan bentuk dari ikan segar
menjadi produk olahan. Akan tetapi, bisa dilihat
keuntungannya sebesar Rp1.343,00 jika dijual ke
pengolah ikan asin dan sebesar Rp4.843,00 jika
dijual ke pengolah ikan asap. Penjualan ke pengolah ikan asin dihargai rendah karena biasa­nya
yang diambil adalah ikan-ikan berukuran kecil.
Dari tabel di atas, dapat dilihat pula rantai
pemasaran terpendek dengan margin paling­
rendah hanya sebesar Rp3.000,00 adalah saluran­
4. Saluran yang menghubungkan antara pembudidaya dan konsumen lembaga/restoran
juga ternyata memberikan keuntungan terbesar
bagi pembudidaya, yaitu sebesar Rp9.343,00.
Namun, persyaratan nila yang dapat dijual untuk
kebutuhan restoran tidaklah mudah. Ukuran nila
yang diminta di atas 400 gram, sedangkan dalam
jangka waktu empat bulan pemeliharaan biasanya
ukuran ikan yang dihasilkan sebanyak 3–6 ekor/
kg atau paling besar 350 gram. Pembudidaya
tentu harus meningkatkan usaha agar bisa menghasilkan ikan yang ukurannya sesuai, baik dengan
pemberian pakan yang ditingkatkan maupun
waktu panen yang lebih lama. Jika pembudidaya
berani mengklasifikasikan segmentasi usahanya
untuk tiap-tiap kebutuhan pasar, usaha ikan nila
ini akan sangat menjanjikan.
Permintaan untuk kebutuhan restoran yang
masih sedikit dan persyaratan ukuran yang
diinginkan membuat pembudidaya harus menjual
hasil panennya ke pelaku pemasaran lain. Dari
tabel dapat terlihat bahwa saluran 3 memiliki
margin pemasaran terkecil dan keuntungan
terbesar jika dibandingkan saluran 1 dan 2. Pada
saluran 3, pembudidaya langsung memasarkan
hasil panennya melalui agen luar kota. Namun,
pada implementasinya, menjual ikan ke agen
luar kota merupakan pilihan jika ikan hasil panen
pembudidaya tidak habis dibeli oleh pedagang
besar lokal. Di lain pihak, pedagang besar lokal
membeli dengan harga yang rendah yaitu sebesar
Rp16.500,00 saja. Hal ini disebabkan terdapat
hubungan patron-client antara pedagang besar
lokal dan pembudidaya terkait permodalan usaha.
Banyak pembudidaya yang meminjam uang ke
pedagang besar lokal dengan perjanjian harus
menjual hasil panennya ke mereka dengan harga
yang ditentukan pedagang. Dengan demikian,
pembudidaya selalu menjadi price taker tanpa
ada posisi tawar dengan pedagang.
Untuk mengatasi masalah pembudidaya
sebagai price taker, hubungan patron-client
harus dapat diputus. Pembudidaya harus dapat
mandiri mengenai modalnya atau setidaknya
bergantung pada pihak yang tidak akan memengaruhi keputusan harga jual beli ikan, misalnya
bank atau lembaga keuangan lainnya. Jika
pembudidaya tidak memiliki hubungan patronclient terkait permodalan dengan pedagang besar
lokal, pembudidaya memiliki pilihan pasar yang
lebih luas dan pedagang pasar lokal akan secara
alami mengikuti harga yang diberikan oleh agen
luar kota. Perluasan pasar juga akan sangat berarti
untuk mengatasi terjadi lonjakan produksi akibat
panen secara bersamaan.
KESIMPULAN
Dari pengamatan usaha budi daya, produksi di
Kabupaten Musi Rawas masih dapat ditingkatkan.
Hal ini disebabkan oleh mayoritas pembudidaya
sebanyak 57,9% berumur produktif dengan tingkat
pendidikan minimal SD. Hal ini memungkinkan
terus dilakukannya peningkatan produksi melalui
pengenalan teknologi. Selain itu, peningkatan ini
juga didukung sumber pengairan yang banyak di
sepanjang Kabupaten Musi Rawas. Karakteristik
pembudidaya di Musi Rawas juga termasuk
mudah untuk menerima pengenalan teknologi
yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran,
seperti informasi pasar.
Dilihat dari struktur industri, peluang juga
masih terbuka lebar bagi yang ingin berusaha di
bidang pengolahan ikan nila, mengingat jumlah
pelaku yang masih sedikit dan peluang untuk
usaha budi daya nila masih terbuka lebar karena
teknologi budi daya yang cukup mudah dan modal
yang relatif sedikit. Akan tetapi, sistem pemasaran
yang ada belum memberikan keuntungan optimal
bagi petani budi daya. Banyak pembudidaya yang
Pengembangan Sektor Pemasaran... | Hertria Maharani |
21
dirugikan akibat lemahnya posisi tawar mereka.
Selain itu, kesempatan usaha juga masih terbuka
untuk pelaku pasar karena jumlah pelaku pasar
lebih sedikit dibandingkan pasokan ikan.
akses permodalan atau membantu untuk
menguatkan kelembagaan finansial kelom-
Dilihat dari tujuan pemasaran, pasar masih
terbatas pada daerah sekitar (lokal), belum ada
aktivitas ekspor. Tujuan pemasaran untuk nila
hidup, masakan nila, dan ikan asap adalah di
sekitar Kabupaten Prabumulih, Kota Linggau,
Kabupaten Muara Enim, Kota Palembang, dan
ada pula yang didistribusikan ke Provinsi Jambi.
Sementara itu, untuk ikan asin nila dipasarkan
hingga ke Bogor, Jawa Barat.
2. Pembudidaya harus dilengkapi dengan
informasi pasar yang baik untuk pengem­
bangan jaringan pasar sehingga pembudidaya
dihadapkan pada banyak opsi pembeli.
Analisis menunjukkan bahwa saluran
pemasaran terbagi menjadi enam saluran.
Saluran ini mengalirkan produk dengan pelaku
pasar: pedagang besar lokal, agen besar luar
kota, pengecer, dan pengolah. Walaupun jumlah
saluran pemasarannya banyak, pemain yang ada
di dalamnya terutama pada pedagang lokal dan
luar kota sangatlah sedikit. Begitu pun dengan
jumlah pengolah. Ditambah lagi dengan adanya
hubungan patron-client antara pedagang besar
lokal dan pembudidaya sehingga pembudidaya
tidak leluasa memasarkan produknya ke saluran
lain sebelum ditawarkan lebih dulu ke pedagang
lokal. Hal ini dikhawatirkan akan menyumbat
saluran pemasaran dan pembudidaya terus berada
di posisi tawar yang lemah.
Sementara itu, saluran pemasaran yang
paling menguntungkan adalah jika pembudidaya
menjual produknya ke pedagang pengecer untuk
kebutuhan restoran. Harga yang akan didapatkan
tinggi tetapi biasanya jumlah yang dibeli tidak
terlalu banyak sesuai dengan perkembangan
permintaan dari sektor restoran dan ukuran ikan
yang lebih besar. Dalam jumlah besar, pembudidaya dapat memasarkan hasil panennya ke agen
luar kota dengan margin pemasaran terendah dan
untung tertinggi jika dibandingkan menjual hasil
ke pedagang besar lokal.
REKOMENDASI
1. Untuk mengatasi kelemahan posisi dari
pembudidaya, khususnya dalam hal harga,
hubungan patron-client antara pembudidaya dan pedagang besar lokal harus dapat
dihilangkan. Pemerintah dapat memberikan
22 | Widyariset, Volume 18, Nomor 1, April 2015: 13–24
pok untuk melepas pola ketergantungan
pembudidaya kepada pedagang besar.
3. Pembudidaya sebaiknya melakukan segmentasi produk sehingga dapat dipasarkan
pada tiap-tiap pelaku pasar sesuai dengan
persyaratan yang diinginkan.
4. Karena keuntungan yang diperoleh dari
saluran pemasaran untuk tujuan konsumen
lembaga (restoran) cukup tinggi, dapat
diciptakan bentuk-bentuk market creativity
untuk membuat masyarakat menyukai nila.
Ikan nila dapat diperkenalkan tidak hanya
untuk kebutuhan restoran, tetapi juga menu di
hotel ataupun katering sehingga permintaan
terhadap nila akan terus meningkat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih ditujukan kepada Dr.
Maxensius Tri Sambodo yang telah berkenan
membimbing dalam penulisan KTI ini dan
segenap tim penelitian daya saing komoditas
perikanan tahun 2012 yang telah bekerja sama
dengan baik dalam pelaksanaan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat
Perbenihan. 2012. Statistik perikanan budi daya
Indonesia 2011. Jakarta.
2
Khairuman dan Amri. 2011. 2,5 Bulan panen ikan
nila. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
3
Agrina. 2009. Kapan menjadi pemasok utama.
(http://www.agrina-online.com/redesign2.
php?rid=7&aid=1994, diunduh pada tanggal
7 januari 2013).
4
Dardiani dan R.S. Intan. 2010. Mata diklat 7
manajemen pemasaran. Pusat Pengembangan
dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pertanian.
5
Kotler, P. 2005. Manajemen pemasaran edisi
kesebelas jilid 1. Jakarta: PT Indeks Kelompok
Gramedia.
1
Kusnadi, N. 2009. Bunga rampai agribisnis: seri
pemasaran. Bogor: IPB Press.
7
Hanafiah dan Saefuddin. 1983. Tata niaga hasil
perikanan. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.
8
Anwar, I.M. 1994. Dasar-dasar marketing. Bandung:
Penerbit Alumni.
9
Dahl, D.C. dan J.W. Hammond. 1977. Market and
price analysis: agricultural industries. New
York: McGraw Hill Book Company.
10
E-petani. 2010. Budi daya Ikan Nila. (http://epetani.
deptan.go.id/budidaya/budidaya-ikan-nila-98,
diunduh pada tanggal 22 Oktober 2013).
11
Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat
Jenderal Perikanan Budi Daya. 2011. Statistik
perikanan budi daya Indonesia 2010. Jakarta.
6
Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatra
Selatan. 2010. Profil perikanan budi daya 2009.
Sumatra Selatan.
13
Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatra
Selatan. 2011. Profil perikanan budi daya 2011.
Sumatra Selatan.
14
Arianto, E. 2008. Mengukur struktur industri (Pasar).
(http://strategika.wordpress.com/ 2008/08/04/
mengukur-struktur-industri, diunduh pada
tanggal 25 Februari 2013).
15
Oentoro, Deliyanti. 2010. Manajemen pemasaran
modern. Yogyakarta: Laksbang Pressindo.
12
Pengembangan Sektor Pemasaran... | Hertria Maharani |
23
Fly UP