...

Paradigma dalam Penelitian Sistem Informasi dan Implikasi Etisnya

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Paradigma dalam Penelitian Sistem Informasi dan Implikasi Etisnya
Paradigma dalam Penelitian Sistem Informasi dan Implikasi Etisnya:
Sebuah Tinjauan Literatur
Lucky E. Santoso
http://www.lesantoso.com/
Abstrak
Dalam penelitian yang dilakukannya, seorang peneliti perlu mengetahui paradigma yang dianut, yaitu pendekatan
yang bercirikan asumsi-asumsi filosofis—meliputi ontologi, epistemologi, dan metodologi—tertentu mengenai apa
yang menjadikan penelitian itu “sahih” dan metode-metode penelitian mana yang tepat. Dalam tulisan ini dibahas
paradigma-paradigma dalam penelitian sistem informasi sebagai hasil dari suatu tinjauan literatur, dengan fokus
kepada implikasi-implikasi etis yang melekat pada paradigma-paradigma tersebut. Terlihat adanya kesepakatan
umum bahwa penelitian-penelitian sistem informasi dapat dikelompokkan ke dalam tiga paradigma, yaitu positif,
interpretif, dan kritis. Dapat ditunjukkan pula bahwa masing-masing dari ketiga paradigma tersebut memiliki
implikasi etis. Implikasi etis dari paradigma kritis sangat mudah ditemukan karena paradigma ini memiliki sisi etis
yang melekat dalam dirinya: Dengan keinginan untuk melakukan perubahan terhadap kenyataan sosial, penelitian
kritis harus mengajukan saran-saran normatif mengenai arah yang harus ditempuh oleh perubahan-perubahan
tersebut. Etika juga melekat dalam paradigma interpretif: Interaksi yang akrab dengan subjek-subjek penelitian,
sebagaimana diperlukan dalam penelitian interpretif, tentunya memiliki konsekuensi-konsekuensi etis. Meskipun
paradigma positif kerap dicirikan sebagai bebas etika, dapat ditunjukkan bahwa ada beberapa titik di mana etika
memasuki dasar-dasar paradigma tersebut; seringkali implikasi-implikasi etis tersebut tersembunyikan, sehingga
para penganut paradigma positivisme, jika dibandingkan dengan para penganut paradigma lainnya, kurang melihat
perlunya mempertimbangkan pembenaran etis atas posisi mereka.
Kata Kunci: penelitian sistem informasi, filsafat ilmu, etika
I.
PENDAHULUAN
Semua penelitian didasarkan kepada asumsiasumsi mengenai apa yang menjadikan penelitian itu
“sahih” dan metode-metode penelitian mana yang
tepat. Karenanya, dalam melakukan penelitian adalah
penting untuk mengetahui apa sajakah asumsiasumsi—yang kadang tersembunyi—tersebut [1].
Suatu rangkaian asumsi filosofis—meliputi ontologi,
epistemologi, dan metodologi—yang mencirikan
suatu pendekatan tertentu dalam penelitian biasa
disebut sebagai “paradigma” [2]-[4].
Terdapatnya paradigma-paradigma yang berbeda
dapat
dimanfaatkan
guna
mengelompokkan
penelitian-penelitian. Namun perbedaan antar
paradigma tidak dapat dianggap sebagai perbedaan
“filosofis” semata. Secara implisit maupun eksplisit,
setiap paradigma memiliki implikasi-implikasi
praktis tersendiri terhadap dilakukannya penelitian,
termasuk di antaranya nilai-nilai dan etika [2].
Dalam tulisan ini akan dibahas paradigmaparadigma dalam penelitian sistem informasi sebagai
hasil dari suatu tinjauan literatur. Fokus akan
diberikan kepada pilihan-pilihan nilai atau asumsiasumsi etis yang melekat pada paradigma-paradigma
tersebut. Implikasi-implikasi etis ini barangkali
bermanfaat atau setidaknya cukup menarik untuk
diketahui oleh para peneliti sistem informasi.
II. PARADIGMA DALAM PENELITIAN
SISTEM INFORMASI
Terlihat adanya kesepakatan umum bahwa
penelitian-penelitian
sistem
informasi
dapat
dikelompokkan ke dalam tiga paradigma yang
diajukan oleh Orlikowski dan Baroudi, yaitu positif,
interpretif, dan kritis [5], [1], [4]. (Alternatif yang
diajukan Guba dan Lincoln berupa empat paradigma,
yaitu positivisme, pasca-positivisme, konstruktivisme, dan teori kritis [2], dapat dipetakan dengan
mudah ke tiga paradigma Orlikowski dan Baroudi
tersebut.) Penjelasan secara lebih terinci mengenai
masing-masing paradigma akan diberikan pada
bagian-bagian selanjutnya.
Meskipun memiliki dasar-dasar filosofis yang
berbeda, dalam praktek penelitian, ketiga paradigma
tersebut tidak selalu dapat dibedakan secara jelas.
Terdapat perdebatan mengenai apakah dasar-dasar
filosofis
dari
paradigma-paradigma
tersebut
bertentangan satu sama lain, dan apakah dipilihnya
satu paradigma dalam suatu penelitian akan
menyebabkan tidak dapat digunakannya paradigmaparadigma lainnya dalam penelitian tersebut [1].
Misalnya, dalam hal epistemologi dan
metodologi, sulit ditemukan perbedaan antara
penelitian interpretif dan kritis. Contoh yang lain,
bisa saja dibayangkan bahwa dalam suatu penelitian
kritis digunakan pendekatan-pendekatan positif [4].
Malahan terdapat juga peneliti-peneliti yang
mengusulkan kombinasi lebih dari satu paradigma
dalam suatu penelitian, seperti positif dan interpretif
[6], [7], [2]. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa
pilihan-pilihan yang tersedia bagi para peneliti
bukanlah hanya tiga paradigma tersebut saja, karena
ketiganya tidak mencakup semua pendekatan yang
mungkin terhadap penelitian: Misalnya, terdapat juga
pendekatan penelitian yang bersifat konseptual atau
filosofis [4].
Barangkali perlu diperjelas bahwa istilah
“positif” bukanlah sinonim bagi istilah “kuantitatif”,
dan istilah “interpretif” atau “kritis” bukanlah
sinonim bagi istilah “kualitatif”. Misalnya penelitian
kualitatif dapat bersifat positif, interpretif, ataupun
kritis, tergantung dari asumsi-asumsi filosofis yang
digunakan peneliti untuk mendasari penelitiannya. Ini
berarti juga bahwa pemilihan metode penelitian
tertentu tidaklah tergantung kepada paradigma yang
dianut. Misalnya penelitian studi kasus dapat bersifat
positif, interpretif, ataupun kritis, sama seperti
penelitian tindakan (action research) dapat bersifat
positif, interpretif, ataupun kritis [1]. Tulisan ini tidak
membahas pemilihan metode penelitian: Pembahasan
mengenai hal itu terdapat antara lain di artikel karya
Galliers dan Land [8].
III. PENELITIAN KRITIS
Paradigma kritis merupakan paradigma yang
paling jarang digunakan dalam penelitian sistem
informasi dan masih jarang ditemukan contoh-contoh
penggunaannya di dalam jurnal-jurnal sistem
informasi terkemuka. Orlikowski dan Baroudi telah
mempelajari
artikel-artikel
penelitian
sistem
informasi yang diterbitkan dari tahun 1983 hingga
tahun 1988, dan mereka tidak menemukan satupun
penelitian kritis [5]. Bahkan para peneliti yang
melanjutkan pekerjaan Orlikowski dan Baroudi
dengan mempelajari artikel-artikel terbitan dari tahun
1991 hingga tahun 2001, setelah mempertimbangkan
kenyataan tersebut, memutuskan untuk hanya
berfokus pada penelitian positif dan penelitian
interpretif saja [9]. Namun pengakuan terhadap
penelitian kritis sebagai jalur yang sahih dalam
melakukan penelitian sistem informasi kian terlihat,
misalnya dengan adanya tekad dari editor-editor
jurnal sistem informasi terkemuka MIS Quarterly
untuk menerbitkan lebih banyak penelitian-penelitian
internasional, kualitatif, interpretif, dan kritis [10].
Pada awalnya penelitian kritis diilhami oleh teori
kritis (critical theory) yang sering dihubungkan
dengan teori-teori yang diilhami oleh Marxisme dan
kebanyakan diajukan oleh para anggota mazhab
Frankfurt seperti Jürgen Habermas. Lama kelamaan,
penelitian kritis terilhami juga oleh sumber-sumber
teori lainnya di bawah payung pasca-modernisme.
Karena terdapatnya dua sumber teori yang bisa saling
bertentangan ini, lingkup penelitian kritis menjadi
cukup luas dan menjadi tidak mudah untuk
mengatakan apa sebenarnya yang dimaksud dengan
istilah “kritis” [11].
Meskipun demikian, penelitian kritis dapat
didefinisikan melalui setidaknya dua sifat [12]:
1) Pandangan agonistik mengenai masyarakat,
seringkali diilhami oleh Marx, yang menyatakan
bahwa hubungan antara individu-individu dan
kelompok-kelompok pada dasarnya sulit dan
mengakibatkan konflik. Meskipun Marx
menekankan perbedaan di antara kelas-kelas
sosial, para peneliti kritis modern memperluas
minat mereka dengan memasukkan konflik
misalnya antara negara berkembang dengan
negara maju dan antar jenis kelamin.
2) Niat kritis untuk mengubah status quo.
Berdasarkan pandangan yang berorientasi
konflik di atas, penelitian kritis berkeinginan untuk
mengubah status quo, membeberkan konflik, dan
memberikan arah menuju ke masyarakat yang lebih
baik.
Berkenaan dengan hubungan antara paradigma
penelitian dengan etika, mungkin penelitian kritis
merupakan paradigma yang termudah untuk
diklasifikasikan karena mempunyai sisi etis yang
jelas. Dengan meninggalkan jalur deskriptif yang
biasa ditempuh dalam penelitian tradisional, secara
tersirat penelitian kritis harus bersandar pada asumsiasumsi etis. Dengan keinginan untuk melakukan
perubahan terhadap kenyataan sosial, penelitian kritis
harus mengajukan saran-saran normatif mengenai
arah yang harus ditempuh oleh perubahan-perubahan
tersebut. Meskipun bukan berarti bahwa setiap
penelitian kritis harus didasarkan pada suatu visi
utopis, tetapi penelitian kritis perlu mempunyai
gagasan mengenai ke arah mana masyarakat harus
bergerak.
Dengan
menyarankan
perubahanperubahan, penelitian kritis harus mengacu kepada
gagasan-gagasan normatif yang bukan merupakan
bagian dari penelitian empiris [4].
Contohnya adalah gagasan pemberdayaan dan
pembebasan. Dalam tradisi Habermas, yang lazim
dianut dalam penelitian kritis sistem informasi,
penelitian kritis seharusnya membantu memberdayakan dan membebaskan orang-orang [13], walaupun
dalam kenyataannya penelitian-penelitian kritis
sistem informasi tidak dapat memenuhi sasaran ini
[14]. Tentunya pernyataan bahwa individu-individu
seharusnya diberdayakan dan dibebaskan tersebut
bukanlah pernyataan yang dibuat secara empiris,
melainkan merupakan pernyataan etis yang
dimasukkan ke dalam asumsi-asumsi dasar penelitian
kritis. Dengan demikian, kasus penelitian kritis
merupakan kasus yang jelas: Berdasarkan
definisinya, penelitian kritis merupakan penelitian
etis.
IV. PENELITIAN POSITIF
Paradigma positif merupakan paradigma
tradisional yang mendominasi penelitian sistem
informasi [5], [9]. Penelitian positif secara sekilas
tampak netral dalam hal implikasi-implikasi etis yang
dimilikinya sebagai suatu paradigma. Ini disebabkan
adanya asumsi dalam positivisme bahwa realitas
memiliki keberadaan yang objektif dan dapat
dijelaskan oleh sifat-sifat yang terukur, yang tidak
tergantung kepada pengamat dan instrumeninstrumen yang dipakainya [1].
Ontologi realisme menjadi dasar dibangunnya
positivisme, dan sebagai implikasinya, pengamat
pada prinsipnya dapat mencapai kebenaran dengan
menjelaskan dunia sebagaimana adanya. Secara
epistemologis, peran pengamat dalam positivisme
adalah mengamati realitas tersebut dan menghindari
campur tangan terhadapnya. Penelitian positif secara
tegas dijaga agar tidak terpengaruh oleh nilai-nilai,
karena nilai-nilai dianggap merupakan variabelvariabel yang akan mengacaukan objektivitas
penelitian. Dan etika, meskipun merupakan
pertimbangan penting yang dianggap sangat serius
oleh peneliti positif, berada di luar proses penelitian
itu sendiri, sehingga perilaku etis dalam penelitian
dijaga secara formal oleh mekanisme-mekanisme
yang sifatnya eksternal, seperti standar-standar dan
komite-komite etis profesional. Karenanya, penelitian
positif dicirikan sebagai netral nilai dan bebas moral
[2].
Namun, Stahl menyatakan bahwa gagasan
mengenai netralitas nilai dan kebebasan moral dalam
penelitian positif ini menyesatkan, karena setidaknya
ada tiga titik di mana etika memasuki dasar-dasar
positivisme [4]:
1) Latar belakangnya. Positivisme mulai menonjol
pada abad ke-19 sebagai bagian dari gerakan
pencerahan yang ingin mengubah dunia dengan
cara-cara rasional guna memperbaiki kehidupan
perorangan dan masyarakat. Positivisme dan
pendekatan empirisisme yang terkait dengannya
merupakan bagian dari usaha untuk melawan
pembodohan publik dan ideologi reaksioner.
Dengan demikian, pada masanya sendiri,
positivisme merupakan pendekatan yang sangat
kritis.
2) Biaya kesempatan (opportunity cost). Penelitian
positif memerlukan pengambilan keputusan
tentang alokasi sumber daya, yang secara etis
tidaklah netral. Misalnya, jika seorang peneliti
sistem informasi yang menganut positivisme
memutuskan untuk meneliti bagaimana para CIO
dapat memperbaiki proses-proses pengambilan
keputusan mereka, maka dia secara tidak
langsung telah membuat keputusan untuk tidak
meneliti hal-hal lain seperti misalnya
kesenjangan digital yang merupakan isu yang
secara moral lebih relevan, padahal peneliti
tersebut menggunakan sumber daya yang bisa
saja didanai oleh pajak sehingga penggunaannya
membutuhkan pembenaran etis.
3) Konservatisme melekat. Penelitian positif
mempunyai sisi etis yang melekat dalam dirinya
dalam hal ia melihat dunia hanya apa adanya dan
membatasi diri kepada deskripsi saja, yang
berarti bahwa status quo lebih dianggap penting
daripada realitas-realitas alternatif. Pada
akhirnya hal ini mengarahkan penelitian positif
ke sikap yang pada dasarnya konservatif. Jika
penelitian kritis secara eksplisit menyatakan
keinginan untuk mengubah realitas, maka
positivisme menyiratkan anggapan bahwa
realitas yang ada sudah baik dan layak untuk
dipelajari. Dengan demikian kedua paradigma
tersebut mempunyai pandangan masing-masing
terhadap realitas, yang masing-masing dapat
mempunyai implikasi-implikasi moral dan
membutuhkan pembenaran etis.
Masalahnya adalah, dalam paradigma positif,
seringkali implikasi-implikasi moral tersebut
tersembunyikan oleh terlihat alaminya realitas yang
ada, sehingga para penganut positivisme, jika
dibandingkan dengan para peneliti kritis, kurang
melihat perlunya mempertimbangkan pembenaran
etis atas posisi mereka.
V. PENELITIAN INTERPRETIF
Paradigma
interpretif
tidak
sedominan
paradigma positif dalam penelitian sistem informasi.
Dari artikel-artikel penelitian sistem informasi
terbitan 1983-1988 yang dipelajari oleh Orlikowski
dan Baroudi, hanya 3.2% yang bersifat interpretif [5].
Namun pada perkembangan selanjutnya, minat para
peneliti sistem informasi terhadap pendekatan
interpretif menunjukkan peningkatan yang berarti
[15], [3]. Para peneliti yang melanjutkan pekerjaan
Orlikowski dan Baroudi untuk periode 1991-2001
menemukan bahwa 19% studi bersifat interpretif [9].
Penelitian
interpretif
bertujuan
untuk
menghasilkan pemahaman terhadap konteks sistem
informasi dan proses di mana sistem informasi
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh konteksnya
[16]. Penelitian interpretif, dalam banyak hal,
tampaknya bisa ditempatkan di antara penelitian
kritis dan penelitian positif. Seperti halnya paradigma
kritis, paradigma interpretif ini skeptis terhadap
ontologi realisme, tetapi di pihak lain ia menganut
prinsip positivisme bahwa peneliti seharusnya
membatasi diri untuk tidak berusaha menilai secara
kritis atau mengubah realitas sosial yang diteliti [5].
Dengan demikian, dalam penelitian interpretif, etika
dapat memainkan peran yang dapat dijelaskan oleh
argumen-argumen penelitian positif di atas.
Selanjutnya
akan
dibahas
apakah
secara
epistemologis dan metodologis, penelitian interpretif
juga memiliki sifat dasar etis.
Terdapat dua mazhab dalam hal dasar
epistemologis penelitian interpretif. Salah satunya
menganggap bahwa penelitian interpretif bersandar
pada dua tradisi filsafat, yaitu fenomenologi dan
hermeneutika. Para peneliti sistem informasi pada
umumnya menjadikan karya-karya dari tradisi-tradisi
tersebut sebagai sumber dalam membangun kerangka
kerja penelitian, teori-teori, dan metode-metode di
bidang sistem informasi [17].
Fenomenologi merupakan doktrin filsafat
berdasarkan teori-teori Edmund Husserl bahwa usaha
perlu dilakukan untuk mengakses “inti” atau arti dari
objek-objek pengamatan. Namun fenomenologi tidak
membicarakan tentang realitas objektif seperti pada
realisme ontologis, melainkan beranjak dari gagasan
bahwa fenomena, yaitu manifestasi dari persepsi
pengamat, adalah hasil dari kegiatan yang disadari
dan disengaja oleh pengamat, dan bukannya sesuatu
yang berdiri sendiri. Gagasan tersebut telah
dikembangkan oleh Martin Heidegger dan yang
lainnya dengan menekankan pada dampak dari situasi
seseorang terhadap persepsi orang tersebut. Orang
tidak pernah dapat melakukan pengamatan secara
objektif dan tanpa keterlibatan, karena orang selalu
dikelilingi oleh “orang lain” yang mempengaruhi
“dunia-kehidupan”-nya. Dengan demikian, arti dari
fenomena bukanlah pengalaman yang sepenuhnya
khas untuk setiap orang, tetapi selalu terbangun
secara sosial, atau setidaknya dipengaruhi oleh
interaksi.
Untuk dapat mengetahui apa yang dipandang
oleh orang lain sebagai arti dari fenomena,
hermeneutika berperan sebagai seni pemahaman.
Pada mulanya hermeneutika ditujukan untuk
menentukan arti sesungguhnya dari teks-teks kuno.
Melalui pengaruh Martin Heidegger, Hans-Georg
Gadamer, dan yang lain, hermeneutika berkembang
hingga kini berfokus pada pembentukan arti secara
sosial oleh proses yang disebut sebagai lingkaran
hermeneutika. Dalam lingkaran hermeneutika, orang
hanya dapat menafsirkan teks—yang dibuat oleh
orang lain baik secara tertulis maupun oral—melalui
dialektika. Berbekal suatu pemahaman awal, yang
diistilahkan Gadamer sebagai “prasangka” [18],
orang dapat menafsirkan teks tersebut, dan
selanjutnya berdasarkan tafsiran itu pemahaman
dapat disesuaikan, demikian seterusnya.
Dengan demikian, orang lain merupakan suatu
konsep yang dapat menjelaskan penelitian interpretif
secara ontologis, epistemologis, dan bahkan juga
metodologis. Metode-metode yang dipakai dalam
penelitian interpretif biasanya bersifat kualitatif and
memerlukan interaksi langsung, seperti wawancara
semi-terstruktur dan tak-terstruktur, pengamatan
terlibat (participant observation), dan etnografi. Ini
dapat dimengerti dengan mengingat terdapatnya
asumsi bahwa pembentukan arti yang menimbulkan
pemahaman hanya dapat terjadi lewat interaksi dan
keterlibatan serius dengan orang lain.
Interaksi dengan subjek-subjek penelitian,
sebagaimana diperlukan dalam penelitian interpretif,
jelas memiliki konsekuensi-konsekuensi etis. Dengan
mencoba memahami arti yang dihasilkan oleh
subjek-subjek penelitian, secara otomatis peneliti
interpretif memasuki hubungan yang tidak netral
dengan mereka, karena peneliti secara tersirat
mengakui subjek-subjek penelitiannya sebagai
sesama dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban
yang setara dengan yang dimiliki oleh peneliti [19].
Sebagai contoh, seorang peneliti dapat menghadapi
dilema etis mengenai sebatas mana dia dapat
mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada
“subjek-subjek penelitian”-nya, sejalan dengan makin
akrabnya dia dengan mereka [20].
Untuk memahami sifat-sifat etis dari penelitian
interpretif
secara
lebih
mendalam,
Stahl
menggunakan teori-teori yang diajukan oleh Paul
Ricoeur, seorang ahli filsafat Prancis [19]. Ricoeur
dihargai atas usahanya memperluas pemahaman
hermeneutik dari teks ke bentuk-bentuk komunikasi
lain dan juga ke tindakan, namun dia juga
mengembangkan teori etis yang melekat dengan
pemikiran-pemikirannya
tentang
hermeneutika.
Baginya, orang lain adalah dasar dari etika:
Meskipun berada di luar diri, orang lain itulah yang
merupakan pembentuk kewajiban etis dan
memungkinkan adanya pelekatan tanggung jawab.
Singkatnya, etika merupakan bagian tak terpisahkan
dari penelitian interpretif.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
M. D. Myers and D. Avison, “An introduction
to qualitative research in information systems,”
Qualitative Research in Information Systems: A
Reader, M. D. Myers and D. Avison, Eds.
London: Sage, 2002, pp. 3-12.
[2]
E. G. Guba and Y. S. Lincoln, “Competing
paradigms in qualitative research,” in
Handbook of Qualitative Research, N. K.
Denzin and Y. S. Lincoln, Eds. Thousand Oaks,
CA: Sage, 1994, pp. 105-117.
[3]
J. Mingers, “Combining IS research methods:
Towards a pluralist methodology,” Information
Systems Research, vol. 12, no. 3, pp. 240-259,
2001.
[4]
B. C. Stahl, “Editorial preface: Ethics and
research
on
information
technology,”
International Journal of Technology and
Human Interaction, vol. 1, no. 2, pp. i-viii,
2005.
[5]
W. J. Orlikowski and J. J. Baroudi, “Studying
information technology in organizations:
Research approaches and assumptions,”
Information Systems Research, vol. 2, no. 1, pp.
1-28, 1991.
[6]
B. Kaplan and D. Duchon, “Combining
qualitative and quantitative methods in
information systems research: A case study,”
MIS Quarterly, vol. 12, no. 4, pp. 571-586,
1988.
[7]
A. S. Lee, “Integrating positivist and
interpretive approaches to organizational
research,” Organization Science, vol. 2, no. 4,
pp. 342-365, 1991.
[8]
R. D. Galliers and F. F. Land, “Choosing
appropriate information systems research
methodologies,” Communications of the ACM,
vol. 30, no. 11, pp. 901-902, 1987.
[9]
W. Chen and R. Hirschheim, “A paradigmatic
and methodological examination of information
systems research from 1991 to 2001,”
Information Systems Journal, vol. 14, pp. 197235, 2004.
VI. KESIMPULAN
Terlihat adanya kesepakatan umum bahwa
penelitian-penelitian
sistem
informasi
dapat
dikelompokkan ke dalam tiga paradigma, yaitu
positif, interpretif, dan kritis. Dapat ditunjukkan pula
bahwa masing-masing dari ketiga paradigma tersebut
memiliki implikasi etis.
Implikasi etis dari paradigma kritis sangat mudah
ditemukan karena paradigma ini memiliki sisi etis
yang melekat dalam dirinya. Dengan keinginan untuk
melakukan perubahan terhadap kenyataan sosial,
penelitian kritis harus mengajukan saran-saran
normatif mengenai arah yang harus ditempuh oleh
perubahan-perubahan tersebut.
Etika juga melekat dalam paradigma interpretif.
Interaksi yang akrab dengan subjek-subjek penelitian,
sebagaimana diperlukan dalam penelitian interpretif,
tentunya memiliki konsekuensi-konsekuensi etis.
Meskipun paradigma positif kerap dicirikan
sebagai bebas etika, dapat ditunjukkan bahwa ada
beberapa titik di mana etika memasuki dasar-dasar
paradigma tersebut. Seringkali implikasi-implikasi
etis tersebut tersembunyikan, sehingga para penganut
paradigma positivisme, jika dibandingkan dengan
para penganut paradigma lainnya, kurang melihat
perlunya mempertimbangkan pembenaran etis atas
posisi mereka.
[10] R. D. Galliers, “A discipline for a stage? A
Shakespearean reflection on the research plot
and performance of the information systems
field,” European Journal of Information
Systems, vol. 17, pp. 330-335, 2008.
[11] C. Brooke, “Critical perspectives on
information systems: An impression of the
research landscape,” Journal of Information
Technology, vol. 17, pp. 271-283, 2002.
[12] B. C. Stahl, “The ethical nature of critical
research in information systems,” Information
Systems Journal, vol. 18, no. 2, pp. 137–163,
2008.
[13] D. Cecez-Kecmanovic, “Doing critical IS
research: The question of methodology,” in
Qualitative Research in IS: Issues and Trends,
E. M. Trauth, Ed. Hershey, PA: Idea Group,
2001, pp. 141-162.
[14] R. McLean and B. C. Stahl, “Cooking up
critical research in IS: Some thoughts on theory,
practice and success criteria,” in Proceedings of
the Fifth International Critical Management
Studies Conference, 2007. [Online]. Available:
http://www.mngt.waikato.ac.nz/ejrot/
cmsconference/2007/proceedings/
theopenstream/mclean.pdf [Accessed: Nov. 24,
2009].
[15] G. Walsham, “The emergence of interpretivism
in IS research,” Information Systems Research,
vol. 6, no. 4, pp. 376–394, 1995.
[16] G. Walsham, Interpreting Information Systems
in Organizations, Chichester: Wiley, 1993.
[17] H. K. Klein and M. D. Myers, “A classification
scheme for interpretive research in information
systems,” in Qualitative Research in IS: Issues
and Trends, E. M. Trauth, Ed. Hershey, PA:
Idea Group, 2001, pp. 218-239.
[18] V. Dusek, Philosophy of Technology: An
Introduction. Malden, MA: Blackwell, 2006.
[19] B. C. Stahl, “A critical view of the ethical
nature of interpretive research: Paul Ricoeur
and the other,” in Proceedings of the Thirteenth
European Conference on Information Systems,
2005, pp. 25-36.
[20] E. M. Trauth, “Choosing qualitative methods in
IS research: Lessons learned,” in Qualitative
Research in IS: Issues and Trends, E. M.
Trauth, Ed. Hershey, PA: Idea Group, 2001, pp.
271-287.
Fly UP