...

KRITIK NALAR ISLAM SEBAGAI METODE IJTIHAD : MEMBAHAS

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

KRITIK NALAR ISLAM SEBAGAI METODE IJTIHAD : MEMBAHAS
JIA/Juni 2013/Th.XIV/Nomor 1/21-31
KRITIK NALAR ISLAM SEBAGAI METODE
IJTIHAD : MEMBAHAS PEMIKIRAN
MOHAMMED ARKOUN
all, all it is a human creation as well, and we are entitled to put
it on the table criticism.
Kata Kunci : Nalar Islam, Muhammed Arkoun
*
Oleh: Jamhari
Pendahuluan
Abstract : Rational criticism of Islam that developed Arkoun in
studying a problem or not text other is to get the "real
substance" which may be knocked out, forgotten, or even not at
all unthinkable, with the approach of linguistic, psychological,
historical, and social and cultural anthropology. By referring to
the style of thought Derrid, Paul Ricour, Michael Foucault,
Pierre Bordue, in the field of language, Arkoun reveal diversity
not previously seen and not said in the text. With the demolition
was he trying to find the meaning of which is lost or created by
the freezing process that afflicts thought Islam.Dengan
deconstruction allows the things that have not occurred or even
unthinkable to be revealed can be revealed. By restoring the
purity of the teachings in accordance with the objectives
desired by God (author). The primary objective reasoning
criticism of Islam is to free thought of all sorts of images and
imagery narrow, because it is not possible for Islamic reason to
think clearly for such images still lingering in their reasoning.
Rational criticism of Islam also aims to distinguish between
revelation and history, transcendent revelation to restore the
position of the original. This refund because they said there was
a reduction in the value it contains after experiencing
intermingling with human history (ideological, political, and
interests). Here we need the critical stance, against all kinds of
teologisme Islam (including all branches epistimologi like: fiqh,
tafsir, the science of kalam, Aqeedah, and so on). Because after
*
Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam IAIN Raden
Fatah Palembang
21
S ejauh
menyangkut pandangan para pemikir Islam
Kontemporer tentang tradisi dan modernitas,ada beberapa corak
pemikiran yang mewarnai wacana pemikiran Islam kontemporer.Dan
kajian “Pemikiran Islam” Model Muhammed Arkoun bebeda dengan
telaah pemikiran Islam yang selama ini ada.
Hal yang sangat mendasar dari pemikiran Arkoun adalah ia
melihat adanya universalisme dan fluralisme peradaban manusia yang
saling berinteraksi dan dalam pergumulan itu Islam sesunguhnya pernah
memiliki peran yang besar
dalam sejarah. Sekarang ini perlu
diaktualisasikan kembali sumbangan Islam dalam wacana peradaban
dunia dengan cara melakukan reinterpretasi terhadap tradisi yang ada
dan bersikap terbuka serta dialogis dengan budaya lain, tanpa harus
memutuskan diri dari prinsip-prinsip etika Al-Qur’an. Arkoun
menginginkan kehadiran kembali iklim wacana kenabian yang bersifat
terbuka dan dinamis yang kemudian menyempit dan menjadi pasif
dengan adanya pembakuan doktrin oleh para mujtahid agung pada
preode pasca sahabat(Komarudin Hidayat 1998:126).
Menurut Arkoun, pemikiran keislaman dibangun dan disusun
oleh generasi tertentu yang diingkari oleh tantangan sejarah tertentu, yang
kemudian diwarisi begitu saja oleh generasi berikutnya tanpa
mempertanyakan lebih lanjut bagaimana sebenarnya “situasi historis”
yang ikut menentukan corak sistematika keilmuan Islam saat itu.
Akibatnya, hampir semua pemikiran keislaman terlepas dari
pertimbangan kondisi sosio-historis yang melahirkannya pada saat “ilmuilmu” itu disusun, dan pada gilirannya, pemikiran Islam dianggap sudah
begitu baku dan sedemikian bakunya sehingga tidak perlu diperbaharui
baik dari segi isi, metodologi, maupun analisisnya. Oleh karena itu,
22
Kritik Nalar Islam…, Jamhari
JIA/Juni 2013/Th.XIV/Nomor 1/21-31
Arkoun ingin mencoba menelaah kenyataan itu lewat disiplin ilmu-ilmu
sosial “modern” untuk memperoleh gambaran dan kejelasan serta
sekaligus ingin mengungkap dan membedah realitas yang menyelimuti
ilmu-ilmu agama tersebut (Johan Hendrik Meuleman,1996:12)
Metode yang ia tawarkan adalah Kritik Epistimologi terhadap
“Nalar Islam” yang bertujuan membongkar bangunan dan kontruksi
keberagamaan Islam yang sudah jumud dan tidak relevan lagi dengan
semangat Al-Quran,usaha membongkar ini adalah untuk membuka
cakrawala dan wawasan keberagamaan Islam secara lebih terbuka,
demokratis dan inklusif (Muhammad Iqbal, 1986:148).
Biografi Sepintas Muhammed Arkoun
Muhammed Arkoun lahir di Taorirt-Mimoun, Al-Jazair, pada
tanggal 1 Februari 1928. Pendidikan sekolah dasar ia selesaikan di Desa
asalnya, Kabilia. Kemudian melanjutkan sekolah menengah di kota
pelabuhan Oran. Setamat SMA Ia belajar bahasa dan sastra Arab di
Universitas Aljir (1950-1954) sambil mengajar bahasa arab pada sebuah
SMA di Al-Harrach, daerah pinggiran ibu kota al-Jazair.
Ditengah perang pembebasan al-Jazair dari pemerintah colonial
Perancis (1954-1962), Arkoun mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di
Paris. Sejak itulah ia menetap di Prancis. Pergaulannya dengan budaya
Perancis yang sudah dimulai ketika duduk disekolah dasar yang berpola
Perancis di Desa kelahirannya, kini berlanjut semakin insentif. Namun,
bidang utama studi dan penelitian (area of Concern) Arkoun tidak
berubah, yaitu bahasa dan sastra Arab. Pada perkembangannya kemudian,
ia semakin mempertinggi intensitas perhatiannya terhadap pemikiran
Islam. Usaha pemaduan kedua unsure tersebut merupakan cita-cita yang
melatar belakangi semua kegiatan dan karya-karya Arkoun(Johan
Hendrik Mauleman, 1993:93). Pendidikan formal terakhir diselesaikan
Arkoun dengan meraih gelar Doktor di bidang sastra pada tahun 1969 di
Universitas Sorbonne di Paris-tempat ia mengajar dengan disertai
tentang humanism dalam pemikiran etis Miskawaih (w 1030) seorang
pemikir Persia (Mauleman, 1996:16). Walaupun beberapa tahun yang
lalu telah pensiun dari jabatan Guru Besar Sejarah Pemikiran Islam di
Universitas Sorbonne, ia tetap membimbing berbagai karya penelitian di
23
Universitas tersebut. Selain itu ia meneruskan kegiatannya sebagai dosen
tamu dan penceramah sejumlah lembaga perguruan tinggi disekeliling
dunia. Beberapa tahun terakhir ia bertugas menjadi Guru besar tamu di
Universitas Amsterdam dan Isntitute of Ismaili Studies, London.
Karya Arkoun yang berusaha membuka cakrawala baru bagi
umat Islam melalui suatu kajian kritis dari tradisi pemikiran Islam telah
menimbulkan perhatian luas dan aneka reaksi, baik berupa penolakan
keras maupun sambutan bersemangat.
Perspektif Post Modernisme Dalam Pemikiran Arkoun
Arkoun tidak membedakan antara pemikiran modern dan
pemikiran post modern. Bagi Arkoun, pemikiran post modern lebih
merupakan tahap mutakhir dari proses perkembangan nalar modern yang
mulai beberapa abad yang lalu dan berlangsung tanpa henti.
Pembebasan nalar Islam dari kejumudan,keterbatasan, dan
ketertutupan, sehingga Islam kembali menjadi sarana emansipasi
manusia, menurut Arkoun hanya dapat dicapai jika pemikiran Islam
membuka diri dari berbagai perkembangan mutakhir dari pemikiran
“modern”. Dengan kata lain, Arkoun mencita-citakan suatu pengabungan
unsur paling berharga dari nalar Islam dan dari nalar modern(Arkoun
1994:119). Nalar modern menurut Arkoun dicirikan oleh sikap kritis dan
nasionalismenya, pada prinsipnya tidak ada yang terletak diluar
jangkauan kritik dan nalar-sebagai alat- menjadi sarana utama untuk
menemukan kebenaran. Perkembangan modern dari nalar modern telah
mengoyahkan keyakinan kepercayaan akan kedaulatan subyek sebagai
salah satu sifat utamanya dan membawa kesadaran semakin besar akan
keterkaitan antara pemikiran, bahasa dan sejarah(Mauleman 1996:122).
Meskipun Arkon tidak pernah menunjukkan suatu keputusan
yang radikan antara pemikiran dan post modern, namun tidak dapat
diingkari bahwa Arkoun banyak dipengaruhi oleh sejumlah aspek
pemikiran yang sering disebut “post modern”. Pengaruh itu tampak
terutama dalam tekanan yang selalu diberikan Arkoun pada hubungan
yang erat antara sejarah, pemikiran dan bahasa dalam rangka itu
membantah kedaulatan subyek dalam proses pemikiran (Arkoun
1996:126).
24
Kritik Nalar Islam…, Jamhari
JIA/Juni 2013/Th.XIV/Nomor 1/21-31
Kecenderungan berfikir Arkoun banyak diwarnai oleh
strukturalisme,post strukturalisme bahkan dekonstruksionisme yang
memiliki gaya atau menitik beratkan pada analisis linguistic. Tentu saja
hal ini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan mutakhir dalam bidang
filsafat, ilmu bahasa dan ilmu pengetahuan sosial di dunia barat terutama
Perancis. Tidak mengherankan jika Leonard Binder menilai bahwa
Arkoun termasuk dalam kategori pemikir eklektis(Leonard Binder
1988:161). Dalam banyak karya ilmiahnya, Arkoun memang
menggunakan tiga paradikma di atas untuk membaca dan memahami
Islam dan juga yang lebih penting lagi, untuk meneruskan kembali Islam.
Diantara rujukan Arkoun yakni para filosuf Perancis diantaranya:
Paul Ricour,Michael Foucault, Jaques Derrida,Jack Goody dan
antropolog Perancis Pierre Bordue’, ahli bahasa Swiss Ferdinand de
saussune, ahli semiotika
Perancis Roland Barthes, dan ilmuan
kesusastraan Kanada Norhnop Frye.(Mauleman 1998:16).
Pengaruh besar Michael Foucault (1926-1984) terhadap karyakarya Arkoun, terutama dalam penggunaan istilah-istilah seperti
episteme,wacana, dan arkiologi. Demikian juga dalam pembagian jenjang
sejarah terbentuknya akal arab-Islam atas tiga tingkatan. Hal ini
mengingatkan pada klasifikasi yang dibuat Michael Foucault terhadap
empat abad terakhir sejarah pemikiran eropa. Faucault membagi tiga
macam episteme dalam rentang waktu tersebut yaitu: episteme abad
tengah,episteme abad klasik, dan episteme modern. Setiap penggalan
(Rupture) dari epistema-epitema itu memiliki sistim pemikiran tersendiri
yang berbeda satu sama lain, setidaknya dalam konsep dan metode.
Sedangkan tiga tingkatan yang disebut Arkoun yaitu: klasik, skolastik
dan modern. Tingkat pertama (klasik) menunjukkan sistim pemikiran
yang diwakili para pemula dan pembentuk peradaban Islam. Tingkat
kedua (Skolastik) ditandai dengan meluasnya medan taqlid dalam sistim
berfikir umat. Sedangkan yang terakhir (modern) apa yang dikenal
dengan istilah kebangkitan dan revolusi.
Maksud utama Arkoun dalam membagi episteme dalam sejarah
Islam dalam beberapa penggalan tersebut adalah untuk menjelaskan term
“yang terpikirkan” (thinkable) yang tak terpikirkan (unthinkable) dan
yang belum terpikirkan (Not Yet Thought) (Lutfi Assyaukanie 1994:
23).
25
Menurut Arkoun sebelum Syafi’i membuat sistematika konsep
sunnah dan pembakuan kajian ushul kepada standar tertentu, aspek-aspek
pemikiran Islam masih banyak yang “terpikirkan” (thinkable).
Berubahnya beberapa aspek tersebut menjadi “yang tak terfikirkan”
(Unthinkable) setelah menangnya teori Syafi’i. .(Mohammed
Arkoun,1994:13)Dominasi madzab dihampir semua negara muslim
merupakan salah satu unsur kelengahan umat Islam dalam memahami
masalah berpindahnya “agama yang benar” kepada “ortodoks idiologi”,
sehingga kemudian ketika agama telah benar-benar berubah menjadi
doktrin-doktrin mazhab dan dogma-dogma teologi, umat tidak lagi
mampu melihat segi-segi negative yang dilahirkan oleh dikotomi
semacam ini, seperti masalah perpecahan madzab, persaingan partai,
perselisihan jama’ah, bentrokan organisasi, dan lain sebagainya
(Mohammed Arkoun 1986:8-18).
Daerah yang “takterfikirkan” dalam tubuh umat Islam terus saja
melebar, terlebih ketika umat harus menghadapi tantangan dunia lain,
yakni modernitas barat yang kini menjadi hegemoni di dunia. Sehingga
tidak ada jalan lain kecuali menyetop sedini mungkin melebarnya hal-hal
yang tak terfikirkan.
Pengaruh Derrida (lahir 1930) juga jelas terlihat dalam pemikiran
Arkoun, meskipun ia tidak mengikuti seluruh teori yang dikembangkan
Derrida. Yang sering dirujuk Arkoun dari Derrida adalah “dekontruksi”
atau “pembongkaran”. Dekontruksi adalah suatu kritik dari dalam sebagai
upaya mengungkap aneka ragam atau sebelumnya tidak Nampak dan
tidak dikatakan dalam teks. Misalnya “yang tak terpikirkan” dan “yang
tak (belum) terpikirkan”. Dua yang terakhir ini bahkan sering menjadi
obyek analisis Arkoun. Dengan pembongkaran itu ia berusaha
menemukan kembali makna yang hilang atau tercipta karena sebagai
proses pembekuan yang menimpa pemikiran Islam. Karya Derrida yang
sering dirujuk Arkoun adalah De la Grammatologie,1967.
Kritik Nalar Islam Sebagai Metode Ijtihad
Dalam membahas masalah ijtihad, yang perlu diingat adalah
bahwa ijtihad tidak pernah dan kini tidak mungkin merupakan kegiatan
intelektual murni mengenai berbagai masalah teologis dan metodologis
26
Kritik Nalar Islam…, Jamhari
JIA/Juni 2013/Th.XIV/Nomor 1/21-31
abstrak, yang dilepaskan dari berbagai tuntunan Negara dan kendala
masyarakat.
Para ahli hukum tentu saja menerima kemungkinan untuk khilaf
dalam kegiatan ijtihad, namun konstruksi intelektual murni mengenai
berbagai masalah teologis dan metodologis abstrak yang dilepaskan dari
berbagai tuntutan Negara dan kendala masyarakat itu yang tidak bisa
dilepaskan begitu saja. Para ahli hukum tentu saja menerima
kemungkianan untuk khilaf dalam kegiatan ijtihad, namun kontruksi
intelektual ilmu ushul Al-din dan usul al-fiqh telah memperkokoh potensi
untuk keputusan hukum. Disinilah cikal bakal langgengnya apa yang
disebut ortodoksi.(Arkoun 1994:35).
Penjelasan mengenai ortodoksi Islam sangat besar maknanya,
karena tidak mungkin memahami Islam secara keseluruhan dengan benar,
baik Islam klasik ataupun Islam kontemporer, kecuali memahami
ortodoksisme dan latar belakang terbentuknya pertama kali di dunia
Islam, hingga meluas kesemua sistim pemikiran madzab Islam
Sunni,Syi’i, Khawarij, dan lain-lain. Ortodoksisme seperti; erat
hubungannya dengan bidang kajian khusus mengenai sejarah stagnasi
atau kemunduran umat, karena melalui terma ortodoksi kita dapat
mengetahui lebih dalam terbentunya pemikiran-pemikiran dalam Islam
menjadi dogmatis, kejumudan, dan pengulangan hermenetis atas teks-teks
agama dalam suatu format hingga sekarang.
Ortodoksi Islam merupakan “pengalan episteme” yang belum
berakhir hingga kini. Ia mempunyai banyak macam bentuk dan dapat
dijumpai dihampir semua medan epistimologis, seperti hadits, fiqh, tafsir,
ilmu kalam, dan lain-lain. Masalah ortodoksisme erat hubungannya
dengan problematika yang dihadapi umat, stagnasi, kejumudan, dan lainlain.
Persoalan lain adalah masalah Islam klasik , Islam seperti ini juga
bisa dikatakan sebagai Islam skolastik. Bentuk Islam skolastik ini tidak
ubahnya skolastisisme Kristen abad tengah, yang hampir mustahil
memisahkan ajaran agama dengan doktrins Aristotelian. Mengkritik
Aristoteles berarti mengkritik agama, begitu juga halnya dengan Islam
skolastik, mengkritik syafi’i berarti mengkritik Islam. Atau
mempermasalahkan Asy’ari, berarti menghujat Islam. Pembauran antara
wahyu dan non wahyu begitu juga kentalnya hingga sangat sulit
27
membedakan keduanya-antara bagian Illahi dan bagian yang dihasilkan
sejarah( Assyaukani 1994:25).
Untuk menghadapi
berbagai tantangan
kemodernan
intelektual,budaya, dan material yang dimasukkan oleh Barat sejak abad
XIX, para ulama telah “membuka kembali pintu ijtihad”. Namun, “neoijtihad “ serba pragmatis belum membuka diri pada kemodernan
pemikiran yang sebenarnya. Islamologi barat di lain pihak, dengan Ignaz
Goldzher, Joseph Schacht, Gautier H.A. J. Powers dengan berdiri di luar
obyek studi dan kritik persial mereka, hanya meninggalkan reruntuhan.
Karena itu dikemukakan Arkoun, ijtihad yang dibatasi pada bidang
teologis-yuridis perlu dilampaui menjadi “kritik nalar Islam”. Lebih jauh,
dengan rumusan yang sedikit berbeda, Arkoun menjalaskan bahwa
dengan mengusulkan “kritik nalar Islam”, ia berusaha melaupaui kedua
pendirian yang bertolak belakang dan saling menolak dari Islamologi
yang hanya memperhatikan hal yang positif dan penganut agama Islam
yang mendekati agama atas dasar kepercayaan langsung dan tanpa kritik.
Kritik nalar Islam, ditambahkannya memindahkan orientasi analisis ke
arah lingustik, psikologis historis, dan antropologi sosial dan
budaya.(Arkoun 1994: 35).
Secara sederhana dapat dijelaskan, bahwa untuk mencapai
keterbukaan pemikiran Islam dipanggung nasionalisme modern adalah
dekontruksi episteme dogmatism dan ontodogsisme dalam tubuh umat
Islam. Selama sistem berfikir tersebut masih dibiarkan hidup, umat Islam
akan terus hidup dalam atmosfir abad pertengahan atau dalam udara
skolastik yang tidak sehat dan ketinggalan zaman. Namun diingat bahwa
dekontruksi tidak mungkin dilakukan tanpa persiapan pengetahuan akan
sejarah baik menyangkut tradisi Islam yang masih tersembunyi ataupun
tradisi yang sudah tercemar unsur-unsur luar. Karena tradisi atau warisan
budaya adalah ibarat geologi pada bumi, yang mempunyai tingkatan
kejelasan menurut lama atau tidaknya rentang waktu yang
menyelimutinya. Disini tugas ahli sejarah pemikiran (arkiolog pemikiran)
menurut bahasa Foucault, adalah mengenali sejarah melalui metode yang
biasa dipakai arkiologi dalam menyingkap benda purbakala hingga pada
tingkat geologi yang paling dalam(Mohammed Arkoun 1987:10). Dengan
pembongkaran dari segala tradisi keagamaan, akhirnya tidak sampai ke
suatu nihilism, pertanyaan ini secara eksplisit diajukan oleh Hasyim Salih
28
Kritik Nalar Islam…, Jamhari
JIA/Juni 2013/Th.XIV/Nomor 1/21-31
kepada Arkoun (Arkoun 1986:293). Arkoun dengan tegas menjawab
“tidak”, karena ia telah menemukan suatu ketenangan rohani yang
diarahkan menuju penyingkapan, menuju tambahan pengetahuan, dan
menuju tambahan kesempurnaan dan kelengkapan (Arkoun 1987: 299).
Dalam proses pembongkaran itu Arkoun berusaha menemukan
kembali makna yang tersingkir atau terlupa karena sekian banyak proses
penutupan dan pembukuan yang dialami pemikiran Islam. Lebih lanjut
Arkoun menjelaskan bahwa “Dekontruksi” mesti disertai “Rekontruksi”
(pembangunan kembali) suatu wacana atau kesadaran yang meninggalkan
keterbatasan, pembekuan dan penyelewengan wacana sebelumnya.
Dalam konteks inilah Mohammed Arkoun menganggap, strategi kritik
nalar Islam tidak lain adalah perluasan terhadap makna ijtihad klasik.
Pemindahan dari ijtihad klasik menuju kritik nalar Islam adalah usaha
mematangkan dan memantapkan posisi ijtihad sendiri (Muhammed
Arkoun 1993:20).
Dari pemikiran Arkoun di atas jelas bahwa kritik nalar Islam
yang digunakan Arkoun adalah untuk mendapatkan “hakekat yang
sebenarnya” yang mungkin tersingkir, terlupakan, atau bahkan belum
terfikirkan sama sekali, dengan pendekatan lingustik, psikologis historis,
dan antropologi sosial dan budaya. Dengan merujuk gaya pemikiran
Derrida (dekontruksi/pembongkaran), Arkoun mengungkap aneka ragam
yang sebelumnya tidak nampak dan tidak dikatakan dalam teks. Dengan
pembongkaran itu ia berusaha menemukan kembali makna yang hilang
atau tercipta karena sebagai proses pembekuan yang menimpa pemikiran
Islam.
Penutup
Pemikiran post modern, bagi sebagian pemikir muslim, termasuk
Arkoun, bisa dijadikan sarana untuk memahami dengan lebih baik
mengapa pemikiran Islam telah sampai pada kekuatan dan ketertutupan
dan bagaimana keterbatasan itu dapat ditiadakan. Hal inilah yang
kemudian memunculkan sebuah metode baru dalam pemikiran Islam
yaitu metode kritik nalar Islam.
29
Tujuan yang paling utama kritik nalar Islam adalah
membebaskan pemikiran dari segala macam citra dan gambaran yang
sempit, karena tidak mungkin bagi nalar Islam berfikir jernih selama
citra-citra semacam ini masih melekat dalam nalar mereka. Kritik nalar
Islam juga bertujuan untuk membedakan antara wahyu dan sejarah,
mengembalikan posisi wahyu transenden kepada tempat semula.
Pengembalian ini dilakukan kerena adanya reduksi dalam beberapa nilai
yang yang dikandungnya setelah mengalami pembauran dengan sejarah
manusia (idiologi, politik serta kepentingannya). Disinilah diperlukan
sikap kritis tersebut, terhadap semua jenis teologisme Islam (termasuk
semua cabang epistimologi seperti: fiqh, tafsir,ilmu kalam, aqidah dan
sebagainya). Karena bagaimanapun, semua itu adalah ciptaan manusia
juga, dan kita berhak meletakkannya di atas meja kritisme.
REFERENSI
Arkoun, Al-Fikr al-Isla: Qiraat Ilmiah , Beirut,Markaz al-inma al-Arabi,
1987
_______, Min al-Ijtihad Illa Naqd al- Aql al-Islami, Beirut: Dar Al Saqi,
1993
_______, Rethinking Islam:Common Question, Uncomon answers,
Oxford: Westview Press, 1994
_______, Tarikhiyyah Al-Fikr Al- Arobi Al-Islami, Beirut: Markaz AlImna’ al-Qaumy, 1986
Assyaukanie, Luthfi, Islam Dalam Kontek Pemikiran Pasca modernism:
Pendekatan menuju Kritik Akal Islam,UQ,1994
Binder, Leonard, Islamic Liberalism, A Criticque of Development
Idiologies, Chicago: University Of Chicago Press, 1988
D.Lee, Robert, Overcoming Tradition and Modernity, The Search for
Islamic Authenticity, Colorado : Westview Press,1997
30
Kritik Nalar Islam…, Jamhari
Hidayat, Komaruddin, Tragedi Raja Midas, Moralitas Agama dan Krisis
Modernisasi, Jakarta: Paradikma,1998
Iqbal, Muhammad, The Reconstruction of Relegious Thought in
Islam,Lahore,Muhammad ashrak, 1986
Meuleman, John Hendrik, Tradisi Kemodernan dan metamodernisme;
Memperbincangkan Pemikiran Muhammad Arkoun, Yogyakarta:
LKIS, 1996
Mohammmad Arkoun, Nalar Islam dan Nalar Modern: Berbagai
Tantangan dan Jalan Baru, Ter. Rahayu S Hidayat, Jakarta: 1994
Putro, Suadi, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, Jakarta:
Paradikma, 1998
*****
31
Fly UP