...

Kebohongan Ibn Taimiyah Dalam Penisbatan Aqwal

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Kebohongan Ibn Taimiyah Dalam Penisbatan Aqwal
Kebohongan Ibn Taimiyah Dalam
Penisbatan Aqwal
Ibnu Taimiyah dalam karya-karyanya selalu
menisbatkan pendapatnya kepada para ulama
Salaf, ahli hadits, a-immah as-Sunnah secara
umum tanpa menyebut nama. Kadang ia
nisbatkan kepada para imam madzhab empat
atau sebagian ulama madzhab empat dengan
atau tanpa menyebut nama. Seringkali Ibnu
Taimiyah sengaja menyebutnya secara global
tanpa menyebut nama karena memang dia tidak
bisa membuktikan hal itu, dan sering dia menyebut beberapa
nama dan pada kenyataannya nama yang disebut tidak terbukti
berpendapat sama dengan Ibnu Taimiyah. Ini semua dilakukan
untuk propaganda, pengelabuan agar orang mengikuti
pendapatnya.
Sebagai contoh:
[1] Ibnu Taimiyah menyebutkan pendapatnya bahwa meyakini
adanya hawa-dits la awwala laha adalah pendapat para ahli
hadits dari kalangan ashhab asy-Syafi’i, Ahmad dan semua
kelompok tanpa menyebut nama
[2] Ibnu Taimiyah menyebutkan pendapatnya bahwa Allah
berbicara dan diam adalah pendapat a-immah as-Sunnah,
[3] Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya menyebutkan pendapat
mereka bahwa neraka akan punah adalah pendapat Umar bin al
Khaththab, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Sa’id dan lainnya.
Syekh Abdullah al Harari menegaskan:[4]
َ‫ﻓ َﺎﻧْﻈ ُﺮ ُوْا ﻛ َﻴ ْﻒَ اﻓ ْﺘَﺮ َى ﻛ َﻌَﺎدَﺗِﻪِ ﻫﺬِهِ اﻟْﻤَﻘُﻮْﻟَﺔ‬
ٌ‫ وَﻫـﺬ َا ﺷ َـﻰ ْء‬،ِ‫اﻟْﺨ َﺒِﻴ ْﺜَـﺔَ ﻋ َﻠَـﻰ أَﺋ ِﻤَّـﺔِ اﻟْﺤ َـﺪِﻳْﺚ‬
َ
،ِ‫اﻧْﻔَﺮ َدَ ﺑِﻪِ وَوَاﻓ َﻖَ ﺑِﻪِ ﻣُﺘَﺄ ﺧ ِّﺮ ِيْ اﻟﻔَﻼ َﺳ ِﻔَﺔ‬
َ
ِ‫ﻟﻜ ِﻨَّﻪُ ﺗَﻘَﻮَّلَ ﻋ َﻠَﻰ أ ﺋ ِﻤَّﺔِ اﻟْﺤ َﺪِﻳْﺚِ وَاﻟﻔُﻘَﻬ َﺎء‬
َ
َ
ْ‫ﻣِــﻦ ْ أ ﺻ ْــﺤ َﺎبِ اﻟﺸ َّــﺎﻓ ِﻌِﻲ ِّ وَأ ﺣ ْﻤَــﺪ َ وَﻏ َﻴ ْﺮ ِﻫ ِــﻢ‬
َ ‫ وَﻟَﻢْ ﻳَﻘُﻞ ْ أَﺣ َﺪ ٌ ﻣِﻨْﻬ ُﻢْ ذﻟِﻚ‬،ْ‫وَاﻓ ْﺘَﺮ َى ﻋ َﻠَﻴ ْﻬ ِﻢ‬
َ
َ
َ‫ـﺮ َاة‬
‫ــﻪُ اﻟْﻤُﻔْﺘَـ‬
‫ـﺮ َوِّجَ ﻋ َﻘِﻴ ْﺪ َﺗَـ‬
‫ـﻦ ْ أ ر َادَ أ نْ ﻳُـ‬
‫ﻟﻜ ِـ‬
ُ
َ
‫ وَﻳَﺮ ْﺑ َﺄ‬،ِ‫ﺑ َﻴ ْﻦ َ اﻟْﻤُﺴ ْﻠِﻤِﻴ ْﻦ َ ﻋ َﻠَﻰ ﺿ ِﻌَﺎفِ اﻷ ﻓ ْﻬ َﺎم‬
َ
‫ﺑِﻨَﻔْﺴ ِﻪِ ﻋ َﻦ ْ أ نْ ﻳُﻘَﺎلَ إِﻧَّﻪُ وَاﻓ َﻖَ اﻟﻔَﻼ َﺳ ِﻔَﺔَ ﻓ ِﻲ‬
ِ‫ﻫﺬِهِ اﻟﻌَﻘِﻴ ْﺪ َة‬.
“Lihatlah bagaimana Ibnu Taimiyah berdusta seperti
kebiasaannya menisbatkan pendapat yang keji ini kepada para
ulama hadits, padahal pendapat ini (pendapatnya bahwa jenis
alam azali) adalah pendapat pribadinya dan dalam hal ini ia
sependapat dengan generasi akhir para filsuf, akan tetapi ia
menisbatkan itu kepada para ulama hadits dan fiqh
dari
kalangan ashhab asy-Syafi’i, Ahmad dan lainnya dan berdusta
terhadap mereka, padahal tidak ada seorang-pun di antara
mereka yang berpendapat seperti itu, tetapi Ibnu Taimiyah
ingin memasarkan akidahnya yang dusta itu di antara kaum
muslimin yang lemah pemahamannya dan enggan untuk disebut
bahwa ia menyamai para filsuf dalam akidah ini.”
Syekh Abdullah al Harari juga menegaskan:[5]
َ
“‫ ﻓ َﻼ َ ﻳَﻐْﺘَـﺮ َّ ﻣُﻄ َﺎﻟِﻊُ ﻛ ُﺘُﺒِﻪِ ﺑِﻨِﺴ ْـﺒَﺔِ ﻫﺬ َا‬: ُ‫أ ﻗ ُﻮْل‬
َ ‫اﻟﺮ َّأْيِ اﻟﻔَﺎﺳ ِﺪِ إِﻟَﻰ أَﺋ ِﻤَّﺔِ أَﻫْﻞ ِ اﻟﺴ ُّـﻨَّﺔِ وَذﻟِﻚ‬
ْ
َ
ْ
ُ ‫دَأ ﺑ ُـﻪُ أ نْ ﻳَﻨْﺴ ِﺐ َ ر َأ ﻳَـﻪُ اﻟَّﺬِيْ ﻳَﺮ َاه ُ وَﻳَﻬ ْﻮَاه‬
‫َ‬
‫َ‬
‫إِﻟَﻰ أ ﺋ ِﻤَّﺔِ أ ﻫْﻞ ِ اﻟﺴ ُّـﻨَّﺔِ‪ ،‬وَﻟْﻴَﻌْﻠَﻢِ اﻟﻨَّﺎﻇ ِﺮ ُ‬
‫َ‬
‫ﻓ ِﻲ ﻣُﺆَﻟَّﻔَﺎﺗِـﻪِ أ نَّ ﻫﺬ َا ﺗَﻠْﺒِﻴ ْﺲ ٌ وَﺗَﻤْﻮ ِﻳْﻪٌ ﻣَﺤ ْﺾ ٌ‬
‫َ‬
‫ﻳُﺮ ِﻳْــﺪ ُ أ نْ ﻳُﺮ َوِّﺟ َــﻪُ ﻋ َﻠَــﻰ ﺿ ُﻌَﻔَــﺎءِ اﻟﻌُﻘُــﻮْل ِ‬
‫”‪.‬اﻟَّﺬِﻳْﻦ َ ﻻ َ ﻳُﻮَﻓ ِّﻘُﻮْنَ ﺑ َﻴ ْﻦ َ اﻟﻌَﻘْﻞ ِ وَاﻟﻨَّﻘْﻞ ِ‬
‫‪“Saya berkata: Janganlah pembaca buku-buku Ibnu Taimiyah‬‬
‫‪terperdaya dengan penisbatan pendapat yang batil ini kepada‬‬
‫‪para imam di kalangan Ahlussunnah, karena sudah menjadi‬‬
‫‪kebiasaan Ibnu Taimiyah menisbatkan pendapat yang dia‬‬
‫‪gandrungi kepada para ulama Ahlussunnah, dan hendaklah‬‬
‫‪pembaca karya-karya Ibnu Taimiyah ketahui bahwa ini adalah‬‬
‫‪kelicikan dan tipuan belaka karena ia ingin memasarkan‬‬
‫‪pendapatnya kepada orang-orang yang lemah akalnya yang tidak‬‬
‫”‪bisa mengkompromikan antara akal dan dalil naql.‬‬
‫]‪Syekh Abdullah al Ghumari juga menjelaskan:[6‬‬
‫َ‬
‫ـﺔَ ﻻ َ‬
‫ـﻦ َ ﺗَﻴ ْﻤِﻴَـ‬
‫ـﻰ أ نَّ اﺑ ْـ‬
‫ـﺪ ُﻟُّﻚ َ ﻋ َﻠَـ‬
‫ـﺬ َا ﻳَـ‬
‫ـﻞ ُّ ﻫـ‬
‫وَﻛ ُـ‬
‫ﻳَﺴ ْـﻠُﻚ ُ ﻓ ِـﻲ ﺑ ُﺤ ُﻮْﺛِــﻪِ ﻣَﺴ ْـﻠَﻚ َ اﻟﻌَـﺎﻟِﻢِ اﻟْﻤُﻨْﺼ ِـﻒِ‬
‫َ‬
‫اﻟّّﺬِيْ ﻳَﺤ ْﻜ ِﻲ آر َاءَ ﻣُﺨ َﺎﻟِﻔِﻴ ْﻪِ ﺑِﻤُﻨْﺘَﻬ َﻰ اﻷ ﻣَﺎﻧَﺔِ‬
‫َ‬
‫وَاﻟﺪ ِّﻗ َّـﺔِ‪ ،‬ﺑ َﻞ ْ ﻳُﺤ َﺎوِلُ ﺑِﻤُﺨ ْﺘَﻠَﻒِ اﻷ َﺳَﺎﻟِﻴ ْﺐ ِ أ نْ‬
‫ﻳُﺆْﺛِّﺮ َ ﻓ ِﻲ ﻗ َﺎر ﺋ ِﻪِ وَﻳُﻮْﻫ ِﻤُﻪُ ﺑِﺄَنَّ ر َأْﻳَـﻪُ ﻓ َﻘَﻂ ْ‬
‫ِ‬
‫َ‬
‫ﻫُﻮَ اﻟﺼ َّﻮَابُ‪ ،‬وَأ ﻧَّـﻪُ ﻻ َ ﻳُﻌْﺮ َفُ ﺑ َﻴ ْﻦ َ اﻟﺼ َّﺤ َﺎﺑ َﺔِ‬
‫وَاﻟﺘَّـﺎﺑِﻌِﻴ ْﻦ َ وَﺳَـﻠَﻒِ اﻷ ُﻣَّـﺔِ ﻗ َـﻮْلٌ ﻳُﺨ َـﺎﻟِﻒُ ﻣَـﺎ‬
‫اﺧ ْﺘَﺎر َه ُ وَذ َﻫَﺐ َ إِﻟَﻴ ْﻪِ إِﻟَﻰ ءَاﺧ ِﺮ ِ اﻟﺘَّﻬ ْﻮ ِﻳْﻼ َتِ‬
‫ْ‬
‫اﻟَّﺘِﻲ اﻋ ْﺘَﺎدَﻫَﺎ ﻓ ِﻲ ﻛ َﻼ َﻣِﻪِ ﻟِﻠﺘَّﺄ ﺛِﻴ ْﺮ ِ ﺑِﻬ َﺎ ﻋ َﻠَﻰ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ﻗ ُﺮ َّاﺋ ِـﻪِ ﺑِﺤ َﻴ ْﺚُ ﻳُﺸ ْﻌِﺮ ُك َ أ نَّ ر َأ ﻳَـﻪُ إِﺟ ْﻤَﺎع ٌ‪،‬‬
‫َ‬
‫ﺛُـﻢَّ ﻻ َ ﻳَﻠْﺒَـﺚُ أ نْ ﻳَﻌْﺘَـﺮ ِفَ ﻓ ِـﻲ ﻏ ُﻀ ُـﻮْنِ ﻛ َﻼ َﻣِـﻪِ‬
‫ﺑِﺈِ ﺛ ْﺒَﺎتِ ﻣَﺎ ﻧَﻔَﺎه ُ وَﻫَﺪ ْمِ ﻣَﺎ ﺑ َﻨَﺎه ُ‪ ،‬وَﻣِﻦ ْ ﻫُﻨَﺎ‬
‫ﻛ َﺜُﺮ َ اﻟﺘَّﻨَﺎﻗ ُﺾ ُ ﻓ ِﻲ ﻛ ُﺘُﺐ ِ اﺑ ْﻦ ِ ﺗَﻴ ْﻤِﻴَﺔَ ﺑِﺸ َﻜ ْﻞ ٍ ﻟَﻢْ‬
‫ﻳُﻌْﻬ َــﺪ ْ ﻓ ِــﻲ ﻛ ُﺘُــﺐ ِ ﻏ َﻴ ْــﺮ ِهِ ﻣِــﻦ َ اﻟﻌُﻠَﻤَــﺎءِ‪ ،‬ﺑ َــﻞ ْ‬
‫ﻳَﺘَﻨَــﺎﻗ َﺾ ُ ﻓ ِــﻲ اﻟﻜ ِﺘَــﺎبِ اﻟﻮَاﺣ ِــﺪِ ﻋ ِــﺪَّةَ ﻣَــﺮ َّاتٍ‬
ُّ
ْ
ٍ ‫ﻓ َﻴُﺼ َﺤ ِّﺢُ اﻟ ﺤ َﺪِﻳْﺚَ ﻓ ِﻲ ﻣَﻮْﺿ ِﻊ ٍ وَﻳُﻌِﻠ ﻪُ ﻓ ِﻲ ﻣَﻮْﺿ ِﻊ‬
َ
َّ‫ وَﻳَﻨْﻔِﻲ وُﺟ ُﻮْدَ اﻟْﺨ ِﻼ َفِ ﻓ ِﻲ ﻣَﺴ ْﺄ ﻟَﺔٍ ﺛُﻢ‬،َ ‫ءَاﺧ َﺮ‬
ْ
ُ‫ وَﻣَﺎ ﻫﺬ َا ﺷ َﺄ ن‬،‫ وَﻫﻜ َﺬ َا‬،َ ‫ﻳَﺤ ْﻜ ِﻴ ْﻪِ ﻓ ِﻴ ْﻬ َﺎ ﺑ َﻌْﺪ َ ذﻟِﻚ‬
ُ‫ وَﺑِﺎﻟﻠﻪِ اﻟﺘَّﻮْﻓ ِﻴ ْﻖ‬،َ ‫اﻟﻌُﻠَﻤَﺎءِ اﻟْﻤُﻨْﺼ ِﻔِﻴ ْﻦ‬.
“Ini semua menunjukkan kepada anda bahwa Ibnu Taimiyah dalam
penelitian dan kajian-kajiannya tidak bersikap seperti
layaknya seorang ulama yang obyektif yang menyebutkan
pendapat-pendapat para ulama yang berbeda dengannya dengan
penuh amanah dan ketelitian, sebaliknya dengan berbagai cara
ia berusaha mempengaruhi pembacanya dan mengesankan kepadanya
bahwa pendapatnya sajalah yang benar, tidak diketahui ada
pendapat di kalangan para sahabat, tabi’in dan ulama salaf
yang menyalahi apa yang dia pilih dan dia ikuti, dan demikian
seterusnya gaya-gaya pembenaran yang biasa dia gunakan dalam
perkataannya untuk mempengaruhi para pembacanya, sehingga ia
mengesankan bahwa pendapatnya adalah ijma’, kemudian tidak
lama setelah itu di sela-sela perkataannya ia menetapkan apa
yang sebelumnya ia nafikan dan ia robohkan apa yang
sebelumnya ia bangun. Dari sini, banyak kontradiksi dalam
buku-bukunya dengan prosentase yang belum pernah ada pada
ulama lain, bahkan dalam satu buku yang sama Ibnu Taimiyah
bisa bertolak belakang perkataan-perkataannya beberapa kali,
ia sahihkan hadits di suatu tempat lalu ia cacat di bagian
lain, dia nafikan adanya perbedaan pendapat di suatu masalah
kemudian setelah itu ia sebutkan khilaf dalam masalah
tersebut, dan demikian seterusnya, ini bukanlah perangai para
ulama yang obyektif dan kepada Allah-lah kita memohon
taufiq.”
Syekh Ibnu Hajar al Haytami juga menegaskan:[7]
َ
ْ‫ﻣَﻦ ْ ﻫُﻮَ اﺑ ْﻦ ُ ﺗَﻴ ْﻤِﻴَﺔَ ﺣ َﺘَّﻰ ﻳُﻨْﻈ َﺮ َ إِﻟَﻴ ْﻪِ أ و‬
ُ
!‫ﻳُﻌَﻮَّلَ ﻓ ِﻲ ﺷ َﻰ ْءٍ ﻣِﻦ ْ أ ﻣُﻮْرِ اﻟﺪ ِّﻳْﻦ ِ ﻋ َﻠَﻴ ْﻪِ ؟‬
َ
ِ‫وَﻫَـﻞ ْ ﻫُـﻮَ إِﻻ َّ ﻛ َﻤَـﺎ ﻗ َـﺎلَ ﺟ َﻤَﺎﻋ َـﺔٌ ﻣِـﻦ َ اﻷ ﺋ ِﻤَّـﺔ‬
ُ‫اﻟَّﺬِﻳْﻦ َ ﺗَﻌَﻘَّﺒُﻮْا ﻛ َﻠِﻤَﺎﺗِﻪِ اﻟﻔَﺎﺳ ِﺪَةَ وَﺣ ُﺠ َﺠ َﻪ‬
َ‫اﻟﻜ َﺎﺳ ِﺪَةَ ﺣ َﺘَّﻰ أَﻇ ْﻬ َﺮ ُوْا ﻋ ُﻮَار َ ﺳَﻘَﻄ َﺎﺗِﻪِ وَﻗ َﺒَﺎﺋ ِﺢ‬
ٌ ‫ ﻋ َﺒْﺪ‬:َ‫أَوْﻫَﺎﻣِﻪِ وَﻏ َﻠَﻄ َﺎﺗِﻪِ ﻛ َﺎﻟﻌِﺰ ِّ ﺑﻦ ِ ﺟ َﻤَﺎﻋ َﺔ‬
َ‫أَﺿ َﻠَّـﻪُ اﻟﻠـﻪُ ﺗَﻌَـﺎﻟَﻰ وَأَﻏ ْـﻮَاه ُ وَأَﻟْﺒَﺴ َـﻪُ رِدَاء‬
َ
َ
ِ‫ وَﺑ َﻮَّأ ه ُ ﻣِﻦ ْ ﻗ ُﻮَّةِ اﻻﻓ ْﺘِﺮ َاء‬،ُ ‫اﻟْﺨ ِﺰ ْيِ وَأ ر ْدَاه‬
َ
َ
ُ‫وَاﻟﻜ َــﺬِبِ ﻣَــﺎ أ ﻋ ْﻘَﺒَــﻪُ اﻟْﻬ َــﻮَانَ وَأ وْﺟ َــﺐ َ ﻟَــﻪ‬
َ‫اﻟْﺤ ِﺮ ْﻣَﺎن‬.
“Siapakah Ibnu Taimiyah sehinggu perlu dilihat atau dirujuk
pendapatnya dalam urusan-urusan agama ?! Bukankah Ibnu
Taimiyah tiada lain hanya seperti yang dikatakan oleh
sekelompok para ulama yang mengkritisi perkataan-perkataannya
yang menyimpang dan hujjah-hujjahnya yang lemah sehingga
mereka singkap kesalahan-kesalahan, keburukan-keburukan
pemahamannya seperti al ‘Izz ibn Jama’ah: Ibnu Taimiyah
adalah seorang hamba yang disesatkan dan disimpangkan oleh
Allah, Allah berikan kepadanya selendang kerendahan dan
kehinaan, Allah berikan kepadanya kekuatan dan kelihaian
untuk berbohong dan berdusta yang mengantarkannya kepada
kehinaan dan mengakibatkannya terhalang.”
Referensi:
[1]
Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, jilid I, hal.224.
[2]
Majmu’ah Tafsir Sitt Suwar, hal.311.
[3] Ibnu Taimiyah, ar-Radd ‘ala Man Qala bi Fana’ al Jannah Wa
an-Nar, hal.52, Ibnu Abi al ‘Izz, Syarh al ‘Aqidah athThahawiyyah, hal.429.
[4]
Al Harari, al Maqaalaat as-Sunniyyah, hal.73.
[5]
Al Harari, al Maqaalaat as-Sunniyyah, hal.100.
[6] Al Ghumari, Mishbah az-Zujajah fi Fawa-id Sholat al Hajah, hal.61-62.
[7] Al Haytami, al Jawhar al Munazhzham fi Ziyarah al Qabr annabawiyy al Mukarram, hal.27-28.
Fly UP