...

Teknik Transmisi Tenaga Listrik(Jilid3).Edt.indd

by user

on
Category: Documents
76

views

Report

Comments

Transcript

Teknik Transmisi Tenaga Listrik(Jilid3).Edt.indd
3
28
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk
digunakan dalam Proses Pembelajaran.
22,946.00
3
Aslimeri dkk.
TEKNIK TRANSMISI
TENAGA LISTRIK
JILID 3
U
T
W
UR
I HAND
AY
A
N
I
T
SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
TEKNIK
TRANSMISI
TENAGA LISTRIK
JILID 3
Untuk SMK
Penulis
: Aslimeri
Ganefri
Zaedel Hamdi
Perancang Kulit
: Tim
Ukuran Buku
: 17,6 x 25 cm
ASL
t
ASLIMERI
Teknik Transmisi Tenaga Listrik Jilid 3 untuk SMK/oleh Aslimeri
—— Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
viii. 248 hlm
Daftar Pustaka : 462
ISBN
: 978-979-060-159-8
ISBN
: 978-979-060-162-8
Diperbanyak oleh:
PT. MACANAN JAYA CEMERLANG
Jalan Ki Hajar Dewantoro Klaten Utara,
Klaten 57438, PO Box 181
Telp. (0272) 322440, Fax. (0272) 322603
E-mail: [email protected]
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya,
Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan
Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari
kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena
buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional
Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi
syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis
yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan
Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan,
atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial
harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat
khususnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengakses dan memanfaatkannya sebagai
sumber belajar.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta
didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaikbaiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena
itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta, 17 Agustus 2008
Direktur Pembinaan SMK
iii
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya, buku teks ini dapat diselesaikan dengan baik. Buku teks ini
disajikan sebagai buku pegangan pendidik dan peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) dan lembaga diklat lainnya, yang membuka bidang keahlian Akomodasi
Perhotelan, yang mana struktur dan isi dari buku ini dapat memberikan gambaran kepada
pembaca tentang seluruh rangkaian aktivitas dan operasional yang ada di hotel untuk
memudahkan bagi pembaca memahami suatu sistem operasional hotel secara
menyeluruh/holistik.
Salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan dan pelatihan berba sis
kompetensi adalah tersedianya bahan ajar yang memadai baik dalam bentuk buku teks
atau modul yang dikembangkan dengan mengacu pada unit-unit kompetensi yang ada
di Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan tertuang dalam struktur
kurikulum, yang mana pada unit-unit kompetensi tersebut mengandung keahlian-keahlian
tertentu sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
Pada buku teks yang berjudul ”Akomodasi Perhotelan” ini menjelaskan Dasar
Kompetensi Kejuruan yang terdiri dari empat unit kompetensi yang dikenal juga dengan
kompetensi inti (comon core), kompetensi ini harus dimiliki setiap orang yang bekerja
pada bidang hospitality industri. Kompetensi kejuruan yang terdiri dari delapan unit
kompetensi yang tertuang dalam kelompok mata pelajaran pada kurikulum, sedangkan
muatan lokal dan pengembangan diri serta unit-unit tambahan lainnya (additional unit)
dijelaskan sebagai pemahaman tambahan bagi pembaca terutama
menyangkut sistem operasional hotel secara holistik.
Untuk memudahkan pembaca dalam mempelajari isi buku, maka buku Teknik
Transmisi Tenaga Listrik ini kami susun menjadi 3 (Tiga) jilid. Buku Teknik Transmisi
Tenaga Listrik Jilid 1 memuat 3 bab, yaitu Pemeliharaan Sumber Listrik DC;
Pengukuran Listrik; serta Transformator Tenaga. Adapun untuk buku Teknik Transmisi
Tenaga Listrik Jilid 2 memuat 3 bab, yaitu Saluran Udara Tegangan Tinggi; Gardu
Induk; Sistem Pentanahan Titik Netral; serta Konstruksi Kabel Tenaga. Sedangkan untuk
buku Teknik Transmisi Tenaga Listrik Jilid 3 memuat 2 bab, yaitu Pemeliharaan
Kabel Tegangan Tinggi; dan Pemeliharaan SUTT/SUTET Bebas Tegangan.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah berjasa dalam penyusunan buku ini kami
ucapkan terima kasih.
Penyusun
v
vi
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN
iii
KATA PENGANTAR
iv
DAFTAR ISI
v
BAB VIII PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI
8.1
Manajemen Pemeliharaan ....................................................... 463
8.2
Pengertian dan Tujuan Pemeliharan ........................................ 472
8.3
Jenis-Jenis Pemeliharaan ....................................................... 473
8.4
Pemeliharaan yang Dilakukan terhadap Kabel Laut
Tegangan Tinggi ...................................................................... 480
8.5
Prosedur Pemeliharaan .......................................................... 487
8.6
Dekumen Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) .................. 502
8.7
Pemeliharaan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Fillied ................ 505
8.8
Spare Kabel ............................................................................ 508
8.9
Termination ............................................................................. 510
8.10 Tank Chamber Umum............................................................. 513
8.11 Anticrossbonding Converting .................................................. 516
8.12 Cara Memeriksa Tekanan Minyak dengan Manometer .............. 524
8.13 Penggelaran Kabel .................................................................. 535
8.14 Regangan Maksimum yang Diizinkan pada Kabel .................... 537
8.15 Perhitungan Daya Tarik Horizontal ........................................... 539
8.16 Peralatan Pergelaran .............................................................. 544
8.17 Jadwal Pemeliharaan Saluran Kabel Tegangan Tinggi .............. 546
8.18 Kebocoran Minyak ................................................................... 548
8.19 Gangguan Kabel pada Lapisan Pelindung P.E.Oversheath ....... 556
8.20 Memperbaiki Kerusakan Kabel (Kerusakan Eksternal) ............. 565
8.21 Auxiliary Cable .................................................................. 574
vii
BAB IX
PROTEKSI SISTEM PENYALURAN
9.1
Perangkat Sistem Proteksi ...................................................... 579
9.2
Syarat-Syarat Relai Proteksi .................................................... 585
9.3
Penyebab Terjadinya Kegagalan Proteksi ................................ 587
9.4
Gangguan pada Sistem Penyaluran ......................................... 589
9.5
Proteksi Penghantar ................................................................ 591
9.6
Sistem Proteksi SUTET .......................................................... 594
9.7
Media Telekomunikasi ............................................................. 597
9.8
Relai Jarak (Distance Relai) .................................................... 597
9.9
Karakteristik Relai Jarak .......................................................... 605
9.10 Pola Proteksi .......................................................................... 610
9.11 Current Differential Relai ......................................................... 618
9.12 Proteksi Transformator Tenaga ................................................ 628
9.13 Relai Arus Lebih (Over Current Relay) .................................... 633
9.14 Proteksi Penyulang 20 KV ....................................................... 636
9.15 Disturbance Fault Recorder (DFR) .......................................... 637
9.16 Basic Operation ...................................................................... 640
9.17 Auto Recloser ......................................................................... 642
BAB X
PEMELIHARAAN SUTT/SUTET BEBAS TEGANGAN
10.1 Tujuan Pemeliharaan .............................................................. 655
10.2 Jenis-Jenis Pemeliharaan ....................................................... 656
10.3 Prosedur Pemeliharaan SUTT/SUTET .................................... 664
Daftar Pustaka ................................................................................................ 687
Simbol ............................................................................................................. 689
viii
BAB VIII
PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI
8.1 Manajemen
listrik (sebagai contoh: Jawa Barat,
Pemeliharaan
Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali)
Pada umumnya lokasi
diinterkoneksikan membentuk satu
primer
grup operasi. Peranan instalasi
konvensional tidak selalu dekat
penyaluran semakin penting,
dengan pusat beban sehingga
konfigurasi jaringan semakin
pusat pembangkit listrik dibangun
kompleks dan peralatan semakin
pada lokasi yang terpisah jauh
banyak, baik dari segi jumlah
dari
maupun ragamnya.
sumber
energi
pusat
beban
maka
penyaluran daya diselenggarakan
Peralatan
melalui instalasi penyaluran
utama
yang
(saluran transmisi dan gardu
terpasang di gardu induk dan
Induk). Instalasi penyaluran ini
saluran transmisi adalah:
melalui daerah perkotaan atau
–
Sebagaimana
peralatan
melalui laut. Untuk itu instalasi
pada umumnya, peralatan
penyaluran di daerah ini terpaksa
yang dioperasikan dalam
menggunakan kabel tenaga yang
instalasi penyaluran tenaga
berupa kabel tanah maupun kabel
listrik perlu dipelihara agar
laut.
unjuk
Perkembangan selanjut-
kerjanya
dapat
dipertahankan.
nya, beberapa sistem tenaga
463
Pemeliharaan peralatan
penyaluran
tenaga
listrik
Untuk
mempercepat
kerjaan
tersebut
diperlukan untuk memper-
diperlukan
tahankan unjuk kerjanya. Namun,
pemeliharaan.
pemaka
manajemen
di lain pihak sebagian besar
pemeliharaan itu memerlukan
8.1.1 Manajemen
pembebasan tegangan yang
Pemeliharaan Peralatan
berarti bahwa peralatan yang
Penyaluran
dipelihara harus dikeluarkan dari
operasi.
Suatu sistem tenaga listrik
mempunyai jumlah dan jenis
peralatan instalasi penyaluran
Keluarnya beberapa per-
yang
sangat
alatan dari operasi selama
dihubungkan
pemeliharaan
lainnya
nyebabkan
dapat
me-
berkurangnya
banyak
satu
membentuk
yang
dengan
suatu
sistem penyaluran.
keandalan penyaluran, berkurangnya kemampuan pe-
Peralatan dengan jumlah dan
nyaluran bahkan padamnya
jenis yang banyak itu harus
daerah yang dipasok oleh
dipelihara untuk mempertahan-
peralatan
kan unjuk kerjanya.
masalahan
tersebut.
Per-
tersebut
juga
dialami oleh pemeliharaan
kabel
tenaga
memelihara
menyebabkan
dengan
pemeliharaan peralatan sistem
tenaga
tenaga listrik, pada umumnya
pemadaman
membutuhkan dikeluarkannya
kabel
kabel tenaga tersebut.
464
Sehubungan
dengan
peralatan tersebut dari operasi
serta menyangkut jumlah yang
dilaksanakan untuk setiap peralatan
sangat
antara lain:
banyak,
maka
penanganannya perlu didasari
–
pemikiran manajemen yang
baik. Dalam hal ini perlu perencanaan
Setiap peralatan memerlukan
pemeliharaan.
–
(planning),
Petunjuk pabrik pembuat
peralatan pada umumnya
pengorganisasian
memberikan periode dan jenis
(organizing),
pemeliharaan untuk peralatan
penggerakan
(actuating) dan pengendalian
(controlling) dengan baik.
tersebut.
–
Dalam hal tidak ada petunjuk
dari pabrik maka pengalaman
8.1.2 Perencanaan
masa lalu (statistik kerusakan)
Perencanaan pemeliharaan
peralatan
tenaga
penyaluran
listrik
perencanaan jadwal dan jenis
meliputi
koordinasi antara kebutuhan
akan
dapat dipakai sebagai dasar
pemeliharaan
pemeliharaan.
–
Kondisi
lokal
dan
peralatan
kondisi (keandalan) sistem.
terpasang.
dimana
tersebut
Dalam hal ini diupayakan agar
kedua kebutuhan itu terpenuhi
sebaik mungkin.
Perlu
apakah
pemasokan
Hasil dari perencanaan ini
adalah
jadual
pekerjaan
dan
yang
dipertimbangkan,
ada
alternatif
menghindari
pemadaman selama peralatan
jenis
yang dipelihara dikeluarkan dari
akan
operasi.
465
–
Jenis penggunaan listrik
kemungkinan
yang dipasok.
menyebabkan menurunnya
Ada penggunaan listrik
keandalan atau terjadinya pe-
sebagai penggerak suatu
madaman,
proses yang tidak boleh
pemeliharaan.
terganggu.
Hasil perencanaan pemeliharaan
yang telah ditentukan.
Apabila tidak ada alternatif
pasokan
daya
selama
pelaksanaan
listrik
peralatan
instalasi
penyaluran ini adalah rencana
pemeliharaan yang mencakup:
–
Jenis pemeliharaan
maka
–
Jadwal pelaksanaan
diperlukan kompromi yang
–
Keterangan
pemeliharaan,
lain
berupa
dapat diperoleh dari hasil
perlu/ tidaknya peralatan
koordinasi.
dikeluarkan dari operasi
Hal Khusus
Ada
–
Efisiensi pemeliharaan
keadaan-keadaan
khusus yang menyangkut
Selama ini pedoman dasar
acara-acara kenegaraan
untuk melakukan pemeliharaan
yang
harus
peralatan instalasi listrik adalah
dipertimbangkan dalam
SE Direksi No.032/PST/1984
perencanaan
tanggal 23 Mei 1984 tentang
pemeliharaan. Dalam hal ini
Himpunan
diupayakan
untuk
Operasi
menghindari
segala
Peralatan Penyaluran Tenaga
yang
Listrik, di mana yang menjadi
sesuatu
466
termasuk
Prosesnya
hanya berhenti pada jadwal
–
dapat
Buku
dan
Petunjuk
Pemeliharaan
dasar utama untuk melakukan
perubahan siklus
pemeliharaan
pemeliharaan peralatan.
rekomendasi
manual
adalah
pabrik
serta
instruction
dari
masing-masing
peralatan
Hal yang sama diberlakukan
juga terhadap PMT.
instalasi listrik.
8.1.3 Pengorganisasian
Dengan
pengurangan
Rencana
pemeliharaan
siklus pemeliharaan ini dapat
sebagai
dipastikan akan memberikan
diatas merupakan dasar dalam
efisiensi
pengaturan orang, alat, tugas,
dalam
bidang
hasil
perencanaan
pemeliharaan, antara lain:
tanggungjawab, dan wewenang
–
Mengurangi biaya
untuk terlaksananya pekerjaan
pemeliharaan.
pemeliharaan.
–
Mengurangi kebutuhan
Pengorganisasian ini perlu
man-hours per-peralatan.
–
Mengurangi waktu
pemadaman.
–
daya yang ada atas pekerjaanpekerjaan yang diperlukan agar
Meningkatkan mutu
dapat
pelayanan dengan tingkat
efektif dan efisien.
keandalan dan kesiapan
peralatan yang lebih tinggi.
–
dalam mengalokasikan sumber
Berikut ini merupakan
langkah efisiensi yang
–
dimanfaatkan
secara
Rincian pekerjaan yang harus
dilaksanakan
Rincian ini perlu dibuat untuk
membantu
kelancaran
dilakukan berupa
467
pelaksanaan
sekaligus
pekerjaan terlaksana dengan
menghindari kesalahan.
baik atau tidak terjadi saling
Dalam hal ini tingkat rincian
mengelak di antara personil
yang diperlukan tergantung
untuk melaksanakan suatu
kesiapan
pekerjaan.
yang
akan
melaksanakan pekerjaan
itu.
–
Pengalokasian personil ini
Pembagian pekerjaan
Kegiatan-kegiatan
spesifik
yang
sejenis
dikelompokkan
dengan
Kemampuan masing-masing
personil.
•
Beban kerja yang menjadi
tanggung jawab
pelaksanaan.
masing personil.
pelaksanaan pekerjaan,
tidak ada seseroang yang
berbebani pekerjaan yang
terlalu berat yang atau yang
terlalu ringan serta tidak
ada
yang
pekerjaan
dibebani
diluar
kemampuannya.
468
•
memperhatikan kesamaan
Diupayakan agar dalam
–
harus mempertimbangkan:
•
masing-
Urutan tahapan pekerjaan.
Peralatan yang diperlukan
untuk tiap tahapan pekerjaan diinventarisir dengan jumlah yang
memadai.
Tidak lengkapnya peralatan,
selain mengakibatkan waktu
Mengalokasikan sumber
pelaksanaan lebih panjang juga
Daya
mutu
”Who does what ” disusun
rencah. Demikian juga halnya
agar
dengan material.
seluruh
tahapan
pekerjaan
yang
lebih
Dasar penyusunan yang
melakukan
proses
mem-
utama adalah pengalaman
pengaruhi kegiatan seseorang
dalam pelaksanaan yang lalu.
atau
–
Koordinasi pekerjaan
dalam
Mekanisme
rencana
koordinasi
•
usaha
kerja
melaksanakan
kerja
yang
telah
Meminimalisir tuntutan
Proses
waktu pelaksanaan.
•
kelompok
disusun.
harus jelas, mengingat;
•
suatu
ini
disebut
Menghindari
penggerakan. Pada tahap ini
kecelakaan tegangan
sumber daya manusia merupakan
listrik.
salah
Menghindari gangguan.
keberhasilan pencapaian sasaran
Kesalahan
koordinasi
dapat berakibat fatal pada
instalasi
bahkan
jiwa
satu
penentu
bagi
sehingga kepemimpinan, motivasi,
dan komunikasi.
–
Persiapan Personil
personil yang melaksana-
Kondisi personil harus dalam
kan pekerjaan.
keadaan baik, mental dan
jasmani. Kesiapan ini harus
dinyatakan saat sebelum
8.1.4 Penggerakan
Setelah ada rencana kerja,
kemudian pengalokasian sumber
daya, tibalah saatnya pada
pelaksanaan
pekerjaan
pemeliharaan. Untuk mencapai sasaran dengan baik
seorang
memulai
pekerjaan
masing-masing
menyatakan
dan
personil
kesiapannya
secara tertulis dalam blankoblanko
yang
sudah
disiapkan.
atasan/pimpinan
469
Kondisi yang tidak baik
pekerjaan diperlukan proses
(pusing, kurang tidur, letih,
mempengaruhi dan mengarah
dan
lain-lain)
dapat
pencapaian tujuan yaitu ter-
membahayakan
dirinya
laksananya pekerjaan pe-
serta
orang
lain.
Selanjutnya
diskusi
mengenai apa yang akan
–
berbagai
gaya
kepemimpinan
membantu pelaksanakan
umum dikenal namun sulit untuk
pekerjaan.
menyatakan satu gaya yang
Persiapan Peralatan
terbaik.
dan
yang
secara
kesiapan
peralatan perlu diperiksa
Pemimpin
yang
efektif
sebelum saat pelaksanaan,
menyesuaikan
terutama yang menyangkut
kepemimpinannya
keselamatan jiwa seperti
kebutuhan yang dipimpin dan
sabuk
lingkungannya. Dalam hal ini
pengaman,
pelindung tubuh, tangga,
perlu
alat uji tegangan, gas,
kedewasaan
cheker, blower, baju tahan
manusia
api dan lain-lain.
Ciptakanlah
Kepemimpinan dan
Motivasi
Dalam rangka pelaksanaan
pemeliharaan mulai dari
persiapan sampai akhir
470
Ada
dikerjakan akan sangat
Kondisi
–
meliharaan dengan baik.
tingkah
pada
diperhatikan
tingkat
serta
yang
memungkinkan
laku
perilaku
dipimpin.
situasi
yang
timbulnya
motivasi pada setiap personil
untuk berperilaku sesuai dengan
tujuan. Salah satu faktor
pengendalian agar penyimpang-
penting di sini adalah unsur
an
kewibawaan.
Penyimpangan
dapat
teridentifikasi.
dalam
pe-
laksanaan dapat saja terjadi
8.1.5 Pengendalian
oleh kemungkinan-kemungkinan
Dalam upaya tercapainya
sasaran
seperti
direncanakan,
atasan/
yang
berikut ini:
•
seorang
pimpinan
perlu
lingkungan;
•
melakukan pengendalian karena
pada
umumnya
perubahan
situasi
terjadi
Adanya perubahan karena
Terjadinya kesalahan karena
informasi kurang jelas;
•
dan
Terjadi kesalahan karena
kemampuan personil yang
lingkungan serta kesalahan
tidak
pada saat pelaksanaan.
pekerjaannya,
Melalui pengendalian ini,
penyimpangan yang terjadi
dapat teridentifikasi sehingga
tindakan koreksi dapat segera
dilakukan untuk memperbaiki
penyimpangan pelaksanaan
pekerjaan.
Ditemukan
diluar
dengan
masalah
yang
lain
sudah
direncanakan.
Untuk dapat melaksanakan
pengendalian
sasaran
diperlukan
pengendalian,
indikator-indikator dan standar
Dalam mencapai tujuan
sesuai
•
sesuai
dengan
direncanakan,
yang
diperlukan
yang jelas.
Pelaksanaan
pekerjaan
dievaluasi, hasil yang dicapai
471
dibandingkan
terhadap
mestinya sehingga dapat dicegah
standar dan melaksanakan
terjadinya
tindakan
menyebabkan kerusakan.
koreksi
bila
gangguan
yang
diperlukan. Unsur manusia
adalah hal yang paling utama
dalam
pengendalian
yang
Tujuan
pemeliharaan
peralatan listrik tegangan tinggi
menyangkut:
adalah
•
kelemahan (kesalahan,
keberlanjutan
kemalasan, ketidaktahuan),
tenaga listrik dan menjamin
•
kecurangan,
keandalan, antara lain:
•
perbedaan pemahaman/
•
untuk
menjamin
penyaluran
penafsiran atas sesuatu,
Untuk meningkatkan reliability,
keengganan
availability, dan effiency
sesuatu
yang
merubah
sudah
Faktor yang paling dominan
dianggap mapan (kebiasaan
dalam pemeliharaan peralatan
cara kerja).
listrik tegangan tinggi adalah
pada sistem isolasi. Isolasi di sini
8.2 Pengertian dan Tujuan
meliputi isolasi minyak, udara
Pemeliharaan
dan gas atau vacuum. Suatu
Pemeliharaan peralatan
peralatan akan sangat mahal
listrik tegangan tinggi adalah
bila isolasinya sangat bagus,
serangkaian tindakan atau
dari
proses
ditentukan
kegiatan
untuk
isolasi
inilah
dapat
sebagai
dasar
mempertahankan kondisi dan
pengoperasian
meyakinkan bahwa peralatan
dengan
dapat berfungsi sebagaimana
472
peralatan,
demikian,
isolasi
merupakan
bagian
terpenting
dan
menentukan
umur
yang
sistem check list atau catatan
sangat
saja. Sedangkan pemeliharaan
dari
harus dilaksanakan oleh regu
peralatan. Untuk itu, kita perlu
pemeliharaan.
memelihara sistem isolasi
sebaik mungkin, baik terhadap
8.3. Jenis-Jenis Pemeliharan
isolasinya maupun penyebab
Jenis-jenis pemeliharan pada
kerusakan isolasi.
kabel sebagai berikut.
Dalam
peralatan
pemeliharaan
listrik
tegangan
tinggi kita membedakan antara
pemeriksaan atau monitoring
(melihat, mencatat, meraba serta
mendengar) dalam keadaan
operasi
dan
memelihara
(kalibrasi/pengujian, koreksi/resetting) serta memperbaiki/
membersihkan)
dalam
keadaan padam.
Pemeriksaan
atau
monitoring dapat dilaksanakan
oleh operator atau petugas
patroli setiap hari dengan
473
1.
Pemeliharaan harian
Pemeliharaan harian seperti Tabel 8.1.
Tabel 8.1 Pemeliharaan Harian
JADWAL
: HARIAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
3
Manometer tekanan
Periksa tekanan minyak pada
minyak kabel
sealing end secara visual pada
manometernya.
2.
ROW
Periksa secara visual: rambu
(patokpatok), jembatan kabel,
tutup crosbonding dan box culvert
serta kegiatan pembangunan atau
kegiatan diatas/sekitar jalur SKTT.
3.
Terminasi kabel head (sealing
a.
end)
Periksa secara visual klem
terminasi kabel head dan
bagian yang bertegangan dari
benda asing.
b.
Periksa sistem pentanahan
sealing end (kabel head).
474
2.
Pemeliharan Mingguan
Pemeliharaan berupa monitoring Saluran Kabel Tanah Tegangan Tinggi
yang dilakukan oleh petugas patroli setiap mingguan serta dilaksanakan
dalam keadaan operasi, seperti Tabel 8.2.
Tabel 8.2 Pemeliharaan Mingguan
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
3
Manometer tekanan minyak
Periksa tekanan minyak pada
kabel
sealing end secara visual pada
manometernya.
2.
ROW
Periksa secara visual: rambu
(patok-patok), Jembatan kabel,
tutup crosbonding dan box
culvert
serta
kegiatan
pembangunan atau kegiatan
di atas/sekitar jalur SKTT.
3.
Terminasi kabel head
(sealing end)
a.
Periksa secara visual klem
terminasi kabel head dan
bagian yang bertegangan dari
benda asing.
475
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
2
3
b.
Periksa sistem pentanahan
sealing end (kabel head).
3.
Terminasi kabel head
Periksa secara visual dan catat
(sealing end)
tekanan
minyak
pada
manometer di setiap stop joint
yang dapat diperiksa.
476
3.
Pemeliharaan Semesteran
Pemeliharaan berupa monitoring Saluran Kabel Tanah
Tegangan Tinggi yang dilakukan oleh petugas patroli setiap
semester serta dilaksanakan dalam keadaan operasi seperti
Tabel 8.3.
Tabel 8.3 Pemeliharaan Semester
JADWAL
: SEMESTER
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
Minyak kabel
3
Periksa secara visual dan catat
tekanan minyak pada stop joint
dan sealing end (kabel head).
2.
Terminasi Sealing End
a.
Pengukuran noktah panas
(kabel head) dan bagian
pada klem sealing end (kabel
yang bertegangan
head) dan bagian berteganan
dengan infrared thermovision.
b.
Pengukuran partial discharge
pada sealing end (kabel
head) dengan alat uji partial
discharge.
477
4.
Pemeliharaan Tahunan
Pemeliharaan yang berupa pengukuran dan pengujian untuk
Kabel Tanah Tegangan Tinggi dan dilakukan oleh petugas
pemeliharaan setiap tahun dan dilaksanakan dalam keadaan padam,
seperti Tabel 8.4.
Tabel 8.4 Pemeliharaan Tahunan
JADWAL
: TAHUNAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : PADAM
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
Tahanan isolasi kabel
3
Pengukuran tahanan isolasi kabel
dengan Megger dan dengan
metode polarisasi indeks (PI).
2.
Cable Covering Protection
Pengukuran arus bocor pada
Unit (Non- Linier Resistor)
CCPU dan mengukur tahanan
isolasinya.
3.
Lead Sheath
Pengukuran arus bocor pada lead
(timah pelindung)
sheath dan mengukur tahanan
isolasinya.
478
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
4.
2
Manometer
3
Pengetesan fungsi penunjukan
tekanan minyak dan sistem
pengaman tekanan minyak kabel
(alarm dan tripping).
5.
Boks Cross bonding dan
Pemeriksaan dan pembersihan
Stop Join serta Oil Tank
terhadap manometer, tangki
Chamber maupun Oil Tank
minyak, instalasi pipa minyak,
Sunseal.
kandungan gas berbahaya maupun kelembaban.
6.
Kabel pilot
Pengukuran tahanan isolasi kabel
pilot.
7.
Pressure control cabinet
Pembersihan kabinet, seal pintu
(panel boks kontrol tekanan)
panel, pengukuran tahanan
variabel untuk mengatur tegangan
sistem pengaman (proteksi
tekanan minyak/supervisi).
479
8.4 Pemeliharaan yang Dilakukan terhadap Kabel Laut Tegangan
Tinggi
1.
Pemeliharaan Kabel Laut Harian
Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi yang
dilakukan oleh petugas patroli dan dilaksanakan secara harian dalam
keadaan operasi, seperti Tabel 8.5.
Tabel 8.5 Pemeliharaan Kabel Laut Harian
JADWAL
: HARIAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
R.O.W
3
Pantau lalu lintas kapal agar tidak
lego jangkar pada daerah koridor
kabel laut.
2.
Lampu suar
Pantau kedipan lampu rambu suar
apakah masih bekerja baik.
3.
Pelampung suar
Periksa pelampung suar apakah
masih berada pada tempat yang
ditentukan.
480
2.
Pemeliharaan Kabel Laut Mingguan
Pemeliharaan berupa monitoring untuk Kabel Laut Tegangan Tinggi yang
dilakukan oleh petugas patroli dan dilaksanakan setiap mingguan dalam keadaan
operasi, seperti Tabel 8.6.
Tabel 8.6 Pemeliharaan Kabel Laut Mingguan
JADWAL
: MINGGUAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
3
Terminasi kabel head dan
Periksa terminsasi kabel head
bagian yang bertegangan.
dan bagian yang bertegangan
dari benda asing secara visual.
2.
Tegangan suplay AC/DC
Periksa tegangan suplay AC
untuk alat bantu.
maupun DC untuk alat bantu
apakah masih normal.
3.
Tekanan minyak.
Periksa tekanan minyak kabel.
4.
Terminasi.
Periksa terminasi kabel apakah
masih baik secara visual.
481
3.
Pemeliharaan Kabel Laut Semester
Pemeliharaan yang berupa monitoring untuk Kabel Tanah Tegangan
Tinggi dan dilakukan oleh petugas patroli setiap semester dan dilaksanakan
dalam keadaan operasi, seperti Tabel 8.7.
Tabel 8.7 Pemeliharaan Kabel Laut Semester
JADWAL
: SEMESTER
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : OPERASI
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
3
Terminasi kabel head dan
Pengukuran noktah panas pada
bagian yang bertegangan.
kabel head dan bagian
bertegangan dengan infrared
thermovision.
2.
Tegangan suplai AC/DC
Pengukuran Partial Discharge
untuk alat bantu.
pada kabel head dengan alat uji
Partial Discharge.
482
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
3.
2
3
Terminasi Kabel head dan
Pembersiahan bushing kabel
bagian yang bertegangan.
head terdapat kristal garam serta
pembersihan isolator string pada
gantry, dead end tower.
4.
5.
Terminasi Kabel head dan
Pembersiahan terminasi/sealing
bagian yang bertegangan.
end kabel.
Peralatan kontrol minyak dan
Periksa apakah peralatan kontrol
alat bantu khusus.
dan alat bantu khusus dapat
berfungsi dengan baik.
483
4.
Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan
Pemeliharaan yang berupa pengukuran dan pengujian untuk
Kabel
Tanah
Tegangan
Tinggi
dan
dilakukan
oleh
petugas pemeliharaan setiap tahun dan dilaksanakan dalam keadaan
padam, seperti Tabel 8.8.
Tabel 8.8 Pemeliharaan Kabel Laut Tahunan
JADWAL
: TAHUNAN
DILAKSANAKAN DALAM KEADAAN : PADAM
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
1.
2
Sistem pentanahan.
3
Pemeriksaan dan pengukuran
sistem pentanahan kabel laut
dengan Megger pentanahan.
2.
Tahanan isolasi kabel laut.
Ukur tahanan isolasi kabel laut
dengan Megger.
484
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
3.
2
Manometer.
3
Uji fungsi manometer apakah
masih bekerja baik.
4.
Boks cross bonding dan
Pemeriksaan dan pembersihan
stop join serta oil tank
terhadap manometer, tanki,
chamber maupun oil tank
gas berbahaya maupun
sunseal.
kelembaban dalam kondisi
operasi.
5.
Tahanan isolasi kabel pilot.
a.
Ukur tahanan isolasi dari
kabel pilot apakah masih
baik.
b.
Ukur tahanan kabel pilot
(Rdc).
7.
Rambu-rambu.
a.
Periksa kelengkapan ramburambu dan pelampung suar
seperti baterei, lampu dan
panel solar sel.
b.
Pelihara kelengkapan rambu-
485
NO.
PERALATAN/KOMPONEN
URAIAN PELAKSANAAN
YANG DIPERIKSA
1
2
3
rambu dan pelampung suar
penggantian elektroda anti
korosi setiap 5 tahun.
8.
ROW
Periksa ROW kabel dengan
Scan sonar apakah kabel
masih tetap pada posisinya
setiap 5 tahun.
486
8.5 Prosedur Pemeliharaan
Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut dapat dilihat pada tabel 8.9.
Tabel 8.9 Prosedur pemeliharaan kabel dan kabel laut
LATAR BELAKANG
Kesinambungan penyaluran energi listrik
yang dikelola oleh PLN UBS P3B salah
satunya ditentukan oleh kesiapan operasi
gardu induk dan saluran transmisi.
Kesiapan operasi gardu induk dan saluran
transmisi
harus
didukung
oleh
pemeliharaan peralatan secara aman, baik
dan benar. Di dalam pelaksanaannya, jika
terjadi
kesalahan
prosedur,
akan
mengakibatkan gangguan pada sistem
tenaga
listrik
dan
kerusakan
pada
peralatan bahkan dapat mengakibatkan
kecelakaan manusia.
Untuk lebih meningkatkan keamanan dan
keselamatan
dalam
melaksanakan
pekerjaan di instalasi listrik, maka perlu
dibuat prosedur pelaksanaan pekerjaan
pada instalasi listrik tegangan tinggi/
ekstra tinggi sebagai penyempurnaan dari
buku
”Manuver
Peralatan
Instalasi
Tegangan Tinggi & Ekstra Tinggi serta
Dokumen Keselamatan Kerja”.
487
Sesuai Surat Keputusan General Manager
PT. PLN (Persero) UBS P3B No. 005.K/
021/GM.UBS. P3B/2002, tanggal 07
Januari 2002, perihal ”Pembentukan Tim
Penyempurnaan Prosedur Operasi Sistem
dan Pemeliharaan PT. PLN (Persero) UBS
P3B”, maka diterbitkan buku ”Prosedur
Pelaksanaan Pekerjaan pada Instalasi
Listrik Tegangan Tinggi/Ekstra Tinggi”.
MAKSUD DAN TUJUAN
•
Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada
Instalasi Listrik Tegangan Tinggi/
Ekstra Tinggi ini adalah prosedur yang
harus ditaati dan dilaksanakan oleh
semua personil dalam melaksanakan
tugas pekerjaan pada instalasi listrik
tegangan tinggi/ekstra tinggi.
•
Dengan prosedur ini setiap pekerjaan
pada instalasi listrik tegangan tinggi/
ekstra tinggi dapat terlaksana dengan
aman dan lancar serta selamat (safety
process) sehingga tercapai Zero
Accident.
Ruang Lingkup
Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada
Instalasi Listrik Tegangan Tinggi/Ekstra
Tinggi ini berlaku untuk semua pekerjaan
488
pada instalasi listrik tegangan tinggi/
ekstra tinggi yang meliputi:
Manuver pembebasan tegangan.
Pelaksanaan pekerjaan pada instalasi dalam
keadaan tidak bertegangan.
Manuver pemberian tegangan.
1.
PENGORGANISASIAN KERJA
PENGORGANISASIAN
Dalam melaksanakan pekerjaan pada
KERJA
instalasi listrik tegangan tinggi/ekstra tinggi,
diperlukan pengorganisasian kerja yang
melibatkan unsur/personil sebagai
berikut.
•
Penanggung Jawab Pekerjaan
•
Pengawas K3
•
Pengawas Manuver
•
Pelaksana Manuver
•
Pengawas Pekerjaan
•
Pelaksana Pekerjaan
Pengawas Manuver, Pengawas Pekerjaan
dan Pengawas K3 tidak boleh dirangkap
dan harus berada di lokasi selama
pekerjaan berlangsung.
489
PERANAN PERSONIL
Peranan personil pada butir 2.1 sebagai
berikut.
PENANGGUNG JAWAB
Bertanggung jawab terhadap seluruh
PEKERJAAN
rangkaian pekerjaan yang akan dan
sedang dilaksanakan pada instalasi listrik
tegangan tinggi/ekstra tinggi.
Penanggung jawab pekerjaan adalah kuasa
pemilik aset yaitu manager UPT.
PENGAWAS K3
Bertugas sebagai pengawas Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) pada pekerjaan
instalasi listrik tegangan tinggi/ekstra
tinggi, sehingga keselamatan manusia dan
keselamatan instalasi listrik terjamin.
Personil yang ditunjuk sebagai pengawas K3
harus memiliki kualifikasi pengawas K3.
PENGAWAS MANUVER Bertugas sebagai pengawas terhadap proses
manuver (pembebasan/pengisian tegangan)
pada instalasi listrik tegangan tinggi/ekstra
tinggi, sehingga keselamatan peralatan dan
operasi sistem terjamin.
Personil yang ditunjuk sebagai pengawas
manuver harus memiliki kualifikasi keahlian
setingkat operator utama.
490
PELAKSANA
Bertindak selaku eksekutor manuver pada
MANUVER
instalasi tegangan tinggi/ekstra tinggi.
Pelaksana manuver adalah Operator
Gardu Induk/Dispatcher Region/
Dispatcher UBOS yang dinas pada saat
pekerjaan berlangsung.
PENGAWAS
Bertugas sebagai pengawas terhadap
PEKERJAAN
proses pekerjaan pada instalasi listrik
tegangan tinggi/ekstra tinggi.
Personil yang ditunjuk sebagai pengawas
pekerjaan harus memiliki kualifikasi minimal
setingkat juru utama
pemeliharaan.
PELAKSANA
Bertugas melaksanakan pekerjaan pada
PEKERJAAN
instalasi listrik tegangan tinggi/ekstra
tinggi.
Personil pelaksana pekerjaan ditunjuk oleh
Pengawas Pekerjaan.
TUGAS DAN
Tugas dan tanggung jawab masing-masing
TANGGUNG JAWAB
personil pada butir 2.2. sebagai
berikut.
491
PENANGGUNG JAWAB
•
PEKERJAAN
Mengelola seluruh kegiatan pekerjaan
yang meliputi: personil, peralatan kerja,
perlengkapan K3 dan material pekerjaan.
•
Melakukan koordinasi dengan Unit lain
yang terkait.
PENGAWAS K3
Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dengan
cara sebagai berikut.
•
Memeriksa kondisi personil sebelum
bekerja.
•
Mengawasi kondisi/tempat-tempat yang
berbahaya.
•
Mengawasi pemasangan dan pelepasan
taging, gembok, dan rambu pengaman.
•
Mengawasi tingkah laku/sikap personil
yang membahayakan diri sendiri atau
orang lain.
•
Mengawasi penggunaan perlengkapan
keselamatan kerja.
492
PENGAWAS
Menjaga keamanan instalasi dan
MANUVER
menghindari kesalahan manuver yang
dilakukan oleh operator gardu induk
dengan cara sebagai berikut.
•
Mengawasi pelaksanaan manuver.
•
Mengawasi pemasangan dan pelepasan
taging di panel kontrol serta rambu
pengaman/gembok di switch yard.
•
Mengawasi pemasangan dan pelepasan
sistem pentanahan.
PELAKSANA
•
MANUVER
Melakukan eksekusi manuver peralatan
instalasi listrik tegangan tinggi/ekstra
tinggi.
•
Melakukan pemasangan dan pelepasan
taging di panel kontrol serta rambu
pengaman/gembok di switch yard.
•
Melakukan penutupan dan pembukaan
PMS tanah.
•
Menunjuk personil pelaksana pekerjaan
sebagai pelaksana pengamanan
instalasi listrik untuk memasang dan
melepas taging, gembok, dan rambu
pengaman.
493
PELAKSANA
•
PEKERJAAN
Memasang dan melepas pentanahan
lokal.
•
Memasang dan melepas taging, gembok,
dan rambu pengaman.
•
Melaksanakan pekerjaan.
PENDELEGASIAN
Pendelegasian tugas dapat diberikan
TUGAS
kepada pejabat atau personil yang
mempunyai kemampuan (Formulir 8),
dalam hal:
•
Personil yang ditunjuk berhalangan
melaksanakan tugasnya.
•
Dalam satu pekerjaan diperlukan
beberapa pengawas.
Pelaksanaan pendelegasian dilaksanakan
sebagai berikut.
PENANGGUNG
Asisten manager pemeliharaan atau ahli
JAWAB PEKERJAAN
muda bidang terkait dengan catatan kedua
pejabat tersebut tidak sedang menjadi
pengawas lainnya (tidak merangkap).
PENGAWAS
Operator utama atau personil yang mem-
MANUVER
punyai pengalaman dan keahlian dalam
bidang manuver.
494
PENGAWAS
Personil yang mempunyai keterampilan,
PEKERJAAN
pengalaman dan keahlian dalam bidang
pemeliharaan.
PENGAWAS K3
Personil yang mempunyai pengalaman serta
keahlian dalam bidang K3.
495
2.
TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
Tahapan yang
Tahapan pelaksanaan prosedur pekerjaan pada
diperlukan
instalasi listrik tegangan tinggi/ekstra tinggi sebagai
berikut.
Persiapan
a.
Briefing tentang rencana kerja yang akan
dilaksanakan kepada seluruh personil yang terlibat
dalam pekerjaan dilaksanakan oleh:
Pengawas Pekerjaan
•
Memberikan penjelasan mengenai
pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan
baik dan aman.
•
Membagi tugas sesuai dengan
kemampuan dan keahlian personil
(Formulir 3).
Pengawas K3
•
Memberikan penjelasan mengenai
penggunaan alat pengaman kerja/
pelindung diri yang harus dipakai
(Formulir 1).
•
Memberikan penjelasan pengamanan
instalasi yang akan dikerjakan.
•
Menjelaskan tempat-tempat yang
berbahaya dan rawan kecelakaan terhadap
pelaksana pekerja.
496
Pengawas Manuver
•
Menyampaikan hasil koordinasi dengan
unit terkait.
•
Menjelaskan langkah-langkah untuk
manuver pembebasan dan pengisian
tegangan (Formulir 4 dan 7).
b.
Pengawas pekerjaan memeriksa alat kerja dan
material yang diperlukan.
c.
Pengawas
K3
keselamatan
memeriksa
kerja
yang
peralatan
diperlukan
(Formulir 1).
d.
Pengawas K3 memeriksa kesiapan jasmani/
rohani personil yang akan melaksanakan pekerjaan
(Formulir 2).
Izin
Dispatcher (UBOS/Region) memberi izin
pembebasan
pembebasan instalasi kepada pengawas
instalasi untuk
manuver.
dikerjakan
Pelaksanaan
Pelaksana Manuver melaksanakan:
manuver
a.
Pembebasan
tegangan
Memposisikan Switch Lokal/Remote ke
posisi Lokal.
b.
Manuver pembebasan tegangan, sesuai
rencana
manuver
yang
telah
dibuat
(Formulir 4).
497
c.
Pemasangan taging pada panel kontrol dan
memasang gembok pengaman pada box PMT,
PMS Line, PMS Rel, dan PMS Tanah.
Semua pekerjaan manuver tersebut di atas
diawasi oleh pengawas manuver dan pengawas
K3.
Apabila lokasi pekerjaan di luar jangkauan
pengamatan operator gardu induk, maka
pengawas manuver dan pengawas pekerjaan
agar menjalin komunikasi.
Pernyataan
Pengawas manuver membuat pernyataan bebas
Bebas
tegangan diserahkan kepada pengawas
Tegangan
pekerjaan disaksikan oleh pengawas K3.
Pelaksanaan
Pelaksana pekerjaan melaksanakan:
pekerjaan
a.
Pemeriksaan tegangan pada peralatan/
instalasi yang akan dikerjakan dengan
menggunakan tester tegangan.
b.
Pemasangan pentanahan lokal pada
peralatan/instalasi listrik yang akan
dikerjakan.
Perhatikan urutan pemasangan (kawat
pentanahan lokal dipasang pada sistem
498
grounding/arde terlebih dahulu, baru kemudian
dipasang pada bagian instalasi yang akan
dikerjakan), jangan terbalik urutannya.
c.
Pengaman tambahan (pengaman berlapis)
seperti: memasang gembok, lock-pin, dan
memblokir rangkaian kontrol dengan
membuka MCB/fuse/terminal.
d.
Pemasangan taging, gembok dan rambu
pengaman di switchyard pada daerah
berbahaya dan daerah aman.
e.
Pekerjaan dilaksanakan sesuai rencana.
Semua pekerjaan tersebut diatas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3. Jika
pekerjaan belum selesai dan akan diserahkan ke regu
yang lain.
Pekerjaan
Bila pekerjaan telah selesai pelaksana pekerjaan
Selesai
melaksanakan:
a.
Melepas pentanahan lokal.
Perhatikan urutan melepas (kawat
pentanahan lokal pada bagian instalasi
dilepas terlebih dahulu, kemudian kawat
pentanahan lokal pada bagian sistem
grounding / arde dilepas).
499
b.
Melepas pengaman tambahan seperti
gembok dan lock-pin, mengaktifkan rangkaian
kontrol dengan menutup MCB/Fuse/
terminal.
c.
Melepas taging, gembok, dan rambu pengaman
di switchyard.
d.
Merapikan peralatan kerja.
Semua pekerjaan tersebut di atas diawasi oleh
Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3.
Pernyataan
Pengawas pekerjaan membuat pernyataan
pekerjaan
pekerjaan selesai dan diserahkan kepada
selesai
pengawas manuver disaksikan oleh pengawas
K3.
Pernyataan
Pengawas manuver menyatakan kepada
instalasi siap
Dispatcher (UBOS/Region) bahwa instalasi
diberi
listrik siap diberi tegangan kembali.
tegangan
Pelaksanaan
Pelaksana manuver melaksanakan:
manuver
a.
pemberian
tegangan
Melepas gembok pengaman pada PMS Line dan
PMS Rel serta PMS Tanah.
b.
Membuka PMS Tanah.
c.
Melepas taging pada panel kontrol.
d.
Memposisikan switch Lokal/Remote pada posisi
Remote.
500
Jika remote kontrol Dispatcher gagal, maka
berdasarkan perintah Dispatcher, posisi switch
lokal/remote diposisikan lokal dan pelaksana
manuver melaksanakan manuver penutupan
PMT untuk pemberian tegangan.
Semua pekerjaan tersebut di atas diawasi oleh
pengawas pekerjaan dan pengawas K3.
501
8.6 Dokumen Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan (DP3)
Tabel 8.10 Dokumen Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan
1.
Daerah
Daerah berbahaya (danger area) adalah suatu
Berbahaya
tempat (daerah) di sekitar peralatan (bagian)
dan Daerah
bertegangan, yang batasnya (jaraknya) tidak
Aman
boleh dilanggar.
Batas (jarak) daerah berbahaya tergantung pada
besarnya tegangan nominal sistem.
Sedangkan jarak aman (safety distance) adalah
jarak di luar daerah bahaya, di mana orang dapat
bekerja dengan aman dari bahaya yang
ditimbulkan oleh peralatan (bagian) yang
bertegangan.
Untuk berjalan melintas di sekitar daerah
peralatan/instalasi yang bertegangan, harus
sangat berhati-hati. Pastikan bahwa peralatan
yang dibawa tidak mencuat/menonjol ke atas
ataupun ke samping, usahakan untuk tidak
dipanggul atau dibawa secara melintang.
502
Jarak aman minimum diperlihatkan pada tabel
berikut ini.
Sistem tegangan
Jarak aman* (cm)
(kV)
20
30
70
150
85
100
150
500
* mengacu pada Electrical Safety Advices (ESA)
dan PUIL 1987.
2.
Formulir
Formulir-formulir
DP3
menerapkan prosedur pelaksanaan pekerjaan
(Formulir
pada instalasi tegangan tinggi/ ekstra tinggi ini
Terlampir)
yang disebut DP3 terdiri dari:
•
yang
digunakan
untuk
Formulir 1
Prosedur pengamanan pada instalasi tegangan
tinggi/ekstra tinggi.
Lampiran formulir 1
Rencana pengamanan pekerjaan pada
instalasi tegangan tinggi/ekstra tinggi.
503
•
Formulir 2
Pemeriksaan kesiapan pelaksana sebelum
bekerja pada instalasi tegangan tinggi/ekstra
tinggi.
•
Formulir 3
Pembagian tugas dan penggunaan alat
keselamatan kerja.
•
Formulir 4
Manuver pembebasan tegangan instalasi
tegangan tinggi/ekstra tinggi.
•
Formulir 5
Pernyataan bebas tegangan.
•
Formulir 5 lanjutan
Serah terima pekerjaan.
•
Formulir 6
Pernyataan pekerjaan selesai.
•
Formulir 7
Manuver pemberian tegangan instalasi listrik
tegangan tinggi/ekstra tinggi.
•
Formulir 8
Surat pendelegasian tugas.
504
•
Formulir 9
Permintaan izin kerja, berlaku untuk pekerjaan
yang dilaksanakan oleh pihak di luar PT PLN
UBS P3B.
Jika ada pihak luar yang akan melaksanakan
suatu pekerjaan di Unit Pelayanan Transmisi,
maka harus mengisi formulir Permintaan Izin
Kerja sebelum mengisi formulir/dokumen K3
lainnya.
8.7 Pemeliharaan Instalasi
Kabel
akan
mengetahui
langkah-
langkah yang harus dilakukan
untuk memisahkan yang ada
masalah, periksa dan lakukan
Tanah Jenis Oil Filled
perbaikan
Operasi dan pemeliharaan
yang
baik
menghilangkan
kabel
akan
penyebab
beroperasi
secara
atau
pembetulan. Umumnya tanpa
membahayakan
harus
memadamkan
Walaupun
sistem
darurat. Operator yang baik
kabel
akan
pemeliharaan,
mengetahui
sistem
sistem
atau
kabel.
instalasi
sebenarnya
bebas
pentingnya
kabel, sehingga secara cepat
operasi yang tepat memerlukan
operator akan mengetahui
pemeriksaan
masalah yang timbul, operator
yang
pemeliharaan
hati-hati
daripada
505
memelihara
secara
rutin
seksi
perlu
diperiksa
peralatan. Apabila diperlukan
tekanannya setiap minggu untuk
pemeliharaan
tingkat
mengetahui kenaikan dan atau
pemeliharaan dan keahlian
penurunan masing-masing seksi
pelaksana harus mempunyai
tekanan.
kompetensi yang tinggi.
2.
1.
Pemeliharaan instalasi
kabel
Peralatan yang digunakan
Untuk melaksanakan
pemeliharaan tekanan minyak
Pemeliharaan kabel tanah
diperlukan peralatan kerja
secara periodik sebenarnya
sebagai berikut.
tidak diperlukan, tetapi karena
Alat kerja dan alat K3
kabel tersebut berisi minyak
1.
Kaki segitiga
selalu
2.
Helm
dipantau. Pemasok minyak
3.
Takel rantai
4.
Sepatu karet
5.
pompa lumpur/air
6.
sarung tangan
jumlah seksi pemasok minyak
7.
generator
akan bertambah, misalnya
8.
masker
9.
tangga aluminium/bambu
sebagai
tekanannya
isolasi
harus
maka
untuk mempertahankan sifat
isolasi kabel tetap kondisi
baik, maka bergantung pada
panjang rute kabel, makin
panjang instalasi kabel, maka
instalasi dengan satu seksi
tekanan minyak, dua seksi, dan
tiga seksi. Masing-masing
506
10. tabung oksigen
11. blower
1.
kabinet)
12. baju tahan api
13. lampu senter
3.
2.
Bersihkan manometer
3.
Catat penunjukan
Pelaksanaan pemeriksaan
Sebelum
pekerjaan
Bersihkan pcc (panel control
manometer
melakukan
pemeliharaan
tekanan minyak, jika tangki
4.
setting
5.
alarm
6.
tripping
berada di dalam ruang bawah
tanah maka yakinkan bahwa
tidak ada gas di dalam ruangan
bawah tanah.
507
4.
Daftar pemeriksaan tekanan minyak
SKTT
: ......................................
Joint /OTC : ......................................
UPT
: ......................................
No.
Tanggal
Tekanan Minyak
Keterangan
1.
2.
R
S
T
R
S
T
3.
4.
5
8.8 Spare Kabel
Kabel
merupakan
dan
cadangan
material
yang
dilengkapi
dengan
manometer.
Instalasi
kabel
tanah
harus tersedia di gudang.
tegangan tinggi 70 kV maupun
Umumnya
150 kV umumnya digunakan
material
ini
panjangnya kurang lebih 500 m
pada
saluran
dan terpasang pada haspel
tegangan
serta
dilengkapi
dengan
perkotaan. Jalur kabel untuk
tangki
tekanan
minyak.
menanam
tinggi
dan
transmisi
di
daerah
menggelar
Besarnya tekanan tangki tersebut
instalasi
antara 0,8 sampai 1,2 bar
pemukiman dan atau di sisi jalan
raya.
malalui
Adanya
pembangunan
508
yang
daerah
kegiatan
hampir
berlangsung tanpa koordinasi
1.
membuat
instalasi
Peralatan kerja
tegangan
tinggi
kabel
tersebut
terancam terkena gangguan.
Bedasarkan
kabel
mendapat
gangguan
pekerjaan
kegiatan
Tidak diperlukan peralatan kerja
untuk memeriksa tekanan minyak
pengalaman
instalasi
Peralatan yang digunakan
kabel cadangan.
sering
dari
2.
Peralatan K3
proyek
maupun
a.
Helm
rumah
tangga,
b.
Sepatu tahan benturan
pembuatan arde telkom, bor
c.
Kaca mata
sumur
d.
Lampu senter
e.
Tangga aluminium panjang
contohnya
warga
terkena
dan,
bor
terkena
begho.
Tujuan memelihara kabel
cadangan adalah untuk mengetahui
3m
f.
Jas hujan
kondisi kesiapan kabel cadangan
tersebut kapan diperlukan.
509
Daftar Hasil tekanan minyak kabel spare
Gudang/Upt : ....................................
Bulan/tahun : ....................................
No.
Tanggal
Merk/Type
8.9. Termination
Tekanan
Panjang (m)
Minyak (bar)
menggunakan
Sealing end atau terminasi
merupakan peralatan yang
digunakan
Keterangan
porselen.
Pemeliharaan terminasi sebagai
berikut.
untuk
mengeluarkan konduktor (inti
kabel)
Penampang/
dari
kabel
1.
Kondisi bertegangan
yang
Pada kondisi bertegangan
tertanam di bawah tanah, atau
pemeliharaan yang dilakukan
mengeluarkan konduktor yang
adalah memeriksa secara fisik
terpasang
bushing
di
dalam
tersebut
apakah
kompartemen GIS. Ada dua
kondisinya normal atau ada
jenis
gangguan.
sealing
end
pada
instalasi kabel yaitu indoor
sealing
end
dan
outdoor
2.
Kondisi tidak bertegangan
sealing end. Perbedaan fisik
Pada waktu pemeliharaan
yang nyata antara kedua
preventive bersamaan dengan
terminasi
pemeliharaan peralatan yang
tersebut
adalah
pada bagian luar terminasi
510
lain,
maka
yang
dilakukan
terhadap terminasi atau sealing
3.
Cara Pelaksanaan
end adalah membersihkan
pemeliharaan
porselin isolator.
Pemeliharaan bushing pada
a.
Peralatan dan material yang
waktu
digunakan:
pengecekan secara fisik apakah
1.
Tool kit
2.
Lap kain yang tidak
berserat
beroperasi
kondisinya
baik,
yaitu
dan
pada
kondisi tidak bertegangan ialah
dengan
cara
membersihkan
permukaan
bushing
3.
Sakapen
menggunakan
4.
Alkohol 90%
tangga atau sakapen.
5.
Semen remover
6.
Sabun rumah tangga
sabun
rumah
511
4.
Hasil pemeliharaan out door termination
SKTT 70/150 kV: ............................
Pelaksana
: ............................
UPT
: ............................
LOKASI GI
: ............................
Terminal Bushing Fasa
No.
Tanggal
Keterangan
Kabel I
R
5.
S
Kabel II
T
R
S
T
Hasil Pemeliharaan in door termination
SKTT 70/150 kV: ............................
Pelaksana
: ............................
UPT
: ............................
LOKASI GI
: ............................
Terminal Bushing Fasa
No.
Tanggal
Keterangan
Tekanan
Tekanan
Minyak Kabel I
Minyak Kabel II
R
512
S
T
R
S
T
8.10 Tank Chamber Umum
Instalasi
kabel
tanah
kemungkinan
Tangki
terendam
minyak
ini
air.
tertentu
jenis
jumlahnya, bergantung pada
minyak
profile kabel, makin rendah kabel
dilengkapi dengan instalasi
tersebut ditanam, maka tangki
pemasok
yang
minyak yang harus disediakan
berfungsi menjaga kondisi
bertambah dan karakteristiknya
tekanan di dalam kabel selalu
pun berbeda. Untuk menjaga
positip.
minyak
peralatan ini bekerja dengan
menggunakan tangki-tangki
baik dan andal serta terjaga
yang
kondisinya maka perlu dilakukan
tegangan
tinggi
menggunakan
minyak
Pemasok
bertekanan,
yang
akan memberikan tekanan
pemeliharaannya.
pada kondisi kabel bebannya
juga
Baik yang dipasang di atas
berfungsi untuk menampung
maupun di bawah tanah harus
kelebihan tekanan pada waktu
selalu
kabel tersebut dibebani.
pemeliharaannya, namun untuk
rendah
dan
tangki
dilakukan
tangki yang dipasang di bawah
Fungsi tangki minyak pada
tanah lebih sering diperiksa
instalasi kabel tegangan tinggi
khususnya pada musim hujan.
terisi minyak sangat penting.
Untuk melakukan pemeliharaan
Umumnya pemasangan tangki
tangki-tangki tersebut dapat
berada ruangan di bawah
dilakukan
tanah, sehingga secara fisik
ionstalai
tangki minyak berada pada
bertegangan yaitu dapat dipakai
tempat yang lembab dan
tangki
dengan
dalam
cadangan,
kondisi
keadaan
untuk
513
mengganti tangki yang dilakukan
c.
Oksigen
pemeliharaan.
d.
Sepatu kerja
e.
Obat-obatan
f.
Senter
disediakan
3.
Prosedur pemeliharaan
peralatan-peralatan sebagai
a.
Tangki di atas tanah
b.
Lakukan pembersihan fisik
1.
Peralatan kerja
Untuk
melaksanakan
pekerjaan pemeliharaan tangki
minyak
perlu
berikut.
a.
Kaki tiga 3 ton
b.
Blower dan slang
c.
Tangga aluminium
tangki dan karat
c.
Lakukan pengecatan (jika
perlu)
panjang 3 m
d.
Generator 5 kw
4.
Di bawah tanah
e.
Takel rantai
a.
Buka tutup ruangan tangki
f.
Tool set
b.
Pasang pompa air
g.
Pompa lumpur
c.
Sedot air dalam ruangan
tangki
d.
2.
Peralatan K3
a.
Baju tahan api
b.
Helm
514
Pasang blower dan
kelengkapannya
e.
Lakukan evakuasi ruangan
f.
Petugas masuk ke
i.
ruangan tangki
(jika perlu)
menggunakan peralatan
K3 lengkap
g.
5.
j.
Membersihkan
pipa-pipa
minyak dari lumpur dan
Membersihkan ruang dan
tangki
h.
Mengganti tangki minyak
karat
k.
Membersihkan
pipa-pipa
Mengecat tangki (jika
minyak dari lumpur dan
perlu)
karat.
Hasil pemeliharaan
SKTT 70/150 kV: ............................
UPT
: ............................
LOKASI GI
: ............................
Pelaksana
: ............................
No.
Tanggal
TANK Type
A..........
B..........
C..........
515
sistem
8.11 Anticrossbonding
Converting
Anti corrosion covering
transposisi
dan
crossbonding,
yaitu
sistem
pemasangan
instalasi
kabel
merupakan perangkat srtuktur
yang
diharapkan
dapat
kabel yang penting fungsinya,
menghilangkan
yaitu sebagai pelindung karat
mengurangi rugi-rugi transmisi
susunan kabel dan sebagai
menggunakan kabel.
atau
jalan balik arus gangguan ke
tanah
apabila
terjadi
Pada
kondisi
kabel
kebocoran arus konduktor
bertegangan maka akan timbul
utama ke tanah. Logam yang
tegangan
digunakan untuk kebutuhan
corrosion covering. Besarnya
struktur
tegangan induksi pada ketiga
susunan
kabel
tersebut adalah logam yang
kabel
sesuai,
formation
karena
material
induksi
dengan
tidak
pada
susunan
sama,
anti
flat
yaitu
tersebut akan terkena medan
kabel yang berada ditengah
magnet dan medan listrik jika
akan lebih tinggi dibandingkan
kabel bertegangan.
dua kabel sebelahnya maka
pemasangannya
Penampangnya disesuai-
dilakukan
transposisi.
kan dengan besarnya arus
gangguan satu fasa ke tanah
Anticorrosion covering perlu
sistem di mana kabel tersebut
dilakukan pengujiannya, karena
dipasang.
Pemasangan
material ini sesuai fungsinya
instalasi kabel tanah 150 kV
dalam sistem crossbonding harus
single
dalam
516
core
menggunakan
kondisi
selalu
mengambang
tidak
d.
Generator 5 Kw
terkena tanah dalam satu
e.
Takel rantai
f.
Tool set
ini kondisinya baik, maka
g.
Pompa lumpur
pengujian menggunakan HV
h.
Meger 5000 volt
i.
Alat uji HV test 0-30 kV,10 A
j.
Alat uji tahanan tanah
2.
Peralatan K3
major
yaitu
section.
Untuk
mengetahui apakah material
test
dilakukan
setiap
6 bulan, yaitu untuk mengetahui
apakah sistem crossbonding
yang
digunakan
memenuhi
masih
syarat
serta
instalasi dilakukan pengujian
a.
Baju tahan api
b.
Helm
c.
Oksigen
d.
Sepatu kerja
e.
Obat-obatan
pekerjaan pengujian anticorrosion
f.
Senter
covering diperlukan peralatan
g.
Tenda
h.
Tandu
i.
Masker
j.
Alat Pemadam Api
dalam
keadaan
tidak
bertegangan.
1.
Peralatan yang digunakan
Untuk
melaksanakan
peralatan sebagai berikut.
a.
Kaki tiga 3 ton
b.
Blower dan slang
c.
Tangga aluminium panjang
3m
517
3.
Material
•
(kedua boks yang diuji).
a.
Kain Majun
b.
Nitrogen
c.
Antikarat
d.
Paking karet
e.
kompon
f.
Gas LPG + blender
g.
Amplas
Untuk
(untuk boks pentanahan buka
link dan pentanahan, untuk boks
tahanan crossbonding, buka
link, dan CCPU)
•
ini, dapat dilakukan satu sistem
joint 3) dan jika tidak dapat
yang
pendek
seksi
•
Buka
(ditanahkan sesuai kebutuhan).
518
pada
boks
dua
•
Pasang pentanahan lokal jika
perlu
•
buka
pisau-pisau
crossbonding (r,s,t).
•
Lakukan
uji
per
fasa
(misal fasa R).
Instalasi kondisi off
Pasang
yang diuji.
(jika
sisi yang diuji.
sebagai berikut.
pengaman
tutupnya
crossbonding
(minor
section, joint 0 sampai joint 1)
•
keluar
Periksa tekanan N2.
(major section, joint 0 sampai
diuji
air
•
pekerjaan pengujian peralatan
maka
Pompa
ada).
melaksanakan
dilakukan
Buka tutup crossbonding
antara
•
Pasang HV test
•
kabel
tegangan
tinggi
pagar
pada konduktor acc dan
lokasi
kabel yang lain ke tanah.
•
•
Atur
tegangan
sampai
dengan link bar crossbonding.
5 kV.
Masing–masing fasa sebelum
Catat arus bocornya.
selubung logam dihubungkan ke
tanah pada boks crosbonding
•
Lakukan selama satu menit
terlebih dahulu dihubungkan
•
(jika
dengan CCPU.
tidak
dapat
dilakukan
berarti
•
pengujian
ada
kebocoran
Karakteristik CCPU adalah
sejenis
arrester
yaitu
ke tanah)
menggunakan prinsip tahanan
Setelah selesai pasang
tak linier, pada kondisi tegangan
link bar
normal maka berfungsi sebagai
(sebelum memasang tutupnya uji
dahulu CCPU seperti par 7)
isolator dan pada kondisi ada
tegangan
lebih
surja
atau
sejenis maka bersifat sebagai
konduktor.
Pemeliharaan CCPU
Cable covering protection
unit (CCPU) adalah peralatan
instalasi kabel menggunakan
4.
Tujuan pemeliharaan
Pemeliharaan
CCPU
sistem crossbonding yang
dilakukan bersamaan dengan
berfungsi
pengujian acc karena kedua-
mengamankan
selubung logam (acc) dari
duanya
tegangan
instalasi. Kondisi CCPU yang
lebih
akibat
perlu
tegangan surja. Pemasangan-
baik
nya
mengamankan
didalam
crossbonding
boks
bersamaan
memadamkan
akan
berfungsi
kabel
dari
tekanan tegangan lebih yang
dapat
merusak
sistem
519
crossbonding. Pemeliharaan
i.
CCPU tidak hanya dilakukan
pada waktu pemeliharaan kabel
Alat uji Hv test 0-30 kV,
10 A
j.
Alat uji tahanan tanah
dilaksanakan namun perlu
dilakukan pemeriksaan apabila
instalasi kabel mengalami
4 . Peralatan K3
gangguan yang berat.
Peralatan yang
digunakan
Untuk
melaksanakan
pekerjaan
pengujian
anti
corrosion
covering
diperlukan peralatan peralatan
a.
Baju tahan api
b.
Helm
c.
Oksigen
d.
Sepatu kerja
e.
Obat-obatan
f.
Gas LPG + blender
g.
Amplas
sebagai berikut.
a.
Kaki tiga 3 ton
b.
Blower dan slang
a.
Kain Majun
c.
Tangga aluminium panjang
b.
Nitrogen
c.
Anti karat
d.
paking karet
e.
Kompon
f.
Senter
g.
Tenda
3m
d.
Generator 5 kw
e.
Takel rantai
f.
Tool set
g.
Pompa lumpur
h.
Megeer 5000 volt
520
5.
Metarial yang digunakan
h.
6.
Tandu
Cara pemeliharaan
Bersamaan
dengan
pekerjaan pemeliharaan dan
pengujian
covering
anticorrosion
(ACC)
sebagai
berikut.
a.
Buka CCPU dari dudukannya
b.
Lakukan pengujian per buah
(satu fasa).
c.
Lakukan pengukuran
tahanan isolasi dengan
megger 1.000 volt antara
konduktor dengan tanah.
d.
Pasangkan HV test antara
konduktor dengan tanah
(ujung-ujungnya).
e.
Atur tegangan dari 0
sampai 2 kV*.
f.
Catat arus bocornya
g.
Jika selesai pasang kembali.
* Ref kabel produksi China
521
VOLTAGE TEST
ONCORROSION COVERING AND CCPU
SKTT ( LINK)
: ........................................................
Tanggal/Bln. /Th.
: ............... / .................. / ..................
Pelaksana/P. Jawab : ........................................................
UPT
: ........................................................
A. Anti Corossion Covering
I.
Tahanan Isolasi
Peralatan
Merah
Kuning
Biru
(M Ω)
(M Ω)
(M Ω )
MEGGER
Merek:
II.
Tegangan Tinggi (5 kV DC)
Peralatan
BICCO Test 103
522
Merah
Kuning
Biru
(M mA)
(M mA)
(M mA)
Keterangan
B. Uji CCPU
1.
Uji Tegangan Tinggi
Tegangan uji
Fasa
3,5 kV*
6 kV*
Keterangan
dan arus (mA)
*)
R
S
T
Harga yang
I < 0,1
I>1
diharapkan
(mA)
*) Periksa manual book Kabel
2.
MEGGER CCPU 1000 Volt
Isolasi CCPU harus lebih besar 10 MΩ
Peralatan
FASA R (M Ω )
FASA S (M Ω )
FASA T (M Ω )
Megger
1000 volt
* Ref. Kabel STK
523
8.12 Cara Memeriksa
angka yang terpasang secara
Tekanan Minyak
paralel dengan garis aliran dan
dengan Manometer
tidak
terganggu
pada
saat
pembukaan. Jika manometer
berisi cairan pada suatu bejana
8.12.1 Manometer biasa
berhubungan
Manometer biasa adalah
tabung
yang
gambar
seperti
8.1(d)
pada
sehingga
dipasangkan
diperlukan bejana yang cukup
pada suatu bejana, pipa atau
panjang (tinggi) jika tekanannya
kanal
tinggi
untuk
mengukur
tekanan.
Persamaan
maka
manometer
dibuat
suatu
dengan
bentuk
dilengkapi
jarum
hydrostatic digunakan untuk
khusus
menentukan
tekanannya.
penunjuk yang bebas bergerak
Sehingga dari manometer ini
sesuai dengan tekanan dari
dapat
benda cair yang diukur.
diketahui
tekanan
besarnya
bahkan
dapat
digunakan untuk mengetahui
Tekanan minyak ditunjukan
tekanan dari benda cair yang
nilainya
mengalir.
manometer yang mempunyai
oleh
jarum
pada
prinsip kerja berdasarkan tekanan
Untuk
menjamin
minyak
dan
pegas
yang
terhadap pembacaan tekanan
porosnya dipasangkan jarum
karena akselerasi/percepatan
penunjuk, di mana pada kondisi
pada manometer diperlukan
seimbang
suatu
ditunjukan
tabung
yang
pada
dindingnya diberi skala dan
524
angka
yang
sebagai
tekanan
yang sebenarnya dari minyak
kabel. Gambar 8.2(c). Dengan
absolute (referensinya 0 bars)
teknologi maka manometer ini
berarti vakum disini adalah nilai
dilengkapi dengan saklar yang
tekanan ruang dibawah nilai 1 bar
difungsikan
dari
sebagai
alat
tekanan
atmosfer.
pemutus atau penyambung
Satuannya
seperseribu
bar
arus dan dihubungkan dengan
atau millibars. Walaupun tidak
indikator atau rele proteksi
ada ruang hampa yang mutlak
sehingga manometer akan
kosong/hampa atau vakum.
berbungsi sebagai alat bantu
mengindikasikan
Tujuan mevacuum suatu
tekanan alarm dan trip atau
peralatan seperti kabel TT, trafo
tekanan berlebih.
dan alat-alat lain adalah untuk
untuk
mengupayakan setelah kondisi
adalah
vacuum atau kondisi tidak ada
penunjukan atau nilai tekanan
benda asing berada di dalam
yang berbasis pada tekanan
ruang tersebut sehingga pada saat
nol
umumnya
diisi dengan minyak atau gas
menunjukan
isolasi (sf6) akan dapat mengisi
Nilai
absolute
bar,
pada
manometer
nilainya berdasarkan tekanan
ruang-ruang
hingga
terkecil
udara 1 bar sebagai tekanan
maka didapat pengisian yang
atsmosfer.
baik tanpa ada ruang yang
berisi udara atau terdapat udara
terjebak yang sering berakibat
8.12.2 Manometer
Manometer Vacuum adalah
manometer
menunujukan
yang
dapat
kevacuman
suatu ruangan yang secara
panas
dan
terjadi
flash
over/gangguan yang cukup fatal
serta
kerusakan
breakdown
isolasi peralatan.
525
Gambar 8.1 Dasar manometer
526
Gambar 8.2 Dasar Manometer tekanan minyak
527
tertanam dekat dengan kabel
8.12.3 Pemeliharaan pilot
kabel dan
power sehingga memungkinkan
manometer
terkena
induksi,
memerlukan
Pada instalasi kabel tanah
khusus.
untuk
desain
itu
yang
Desain
khusus
tegangan tinggi selain kabel
dimaksud adalah kabel pilot
power yang tertanam di bawah
dilengkapi dengan isolasi yang
tanah, juga memerlukan kabel
mampu
lain dalam satu saluran, yaitu
tinggi lebih dari 15 kV.
kabel
pilot.
merupakan
digunakan
terhadap
tegangan
Kabel
pilot
instalasi
yang
Kabel pilot secara khusus
kabel-
tidak memerlukan pemeliharaan,
sebagai
kabel pengaman yaitu: kabel
namun
7 pair untuk mengamankan
perubahan akibat umur dan
tekanan minyak baik tekanan
lokasi sekitar, sehingga kabel
yang
pilot
memberikan
maupun
alarm
mentripkan
dengan
perlu
adanya
dilakukan
pemeliharaan. Sebagai contoh
kabel, kabel 19 pair merupakan
bahwa
kabel penghubung pengaman
konduktor berubah, sehingga
kabel
akan
terhadap
gangguan
listrik yaitu sebagai pemasok
nilai
dari
tahanan
mempengaruhi
kinerja
proteksi.
power ke proteksi diferential
kabel dan kabel 28 pair
Agar
perubahan
nilai
digunakan sebagai fasilitas
tahanan dan tahanan isolasi kabel
untuk komunikasi data dan
pilot
suara.
kabel tersebut perlu dilakukan
528
Kabel
tersebut
dapat
diketahui
maka
pengukuran dan pengujian
dengan waktu tertentu.
1.
Peralatan kerja dan K3
Untuk memelihara kabel
3.
Cara Pemeliharaan
Manometer
Manometer
sebagai
pengindera
tekanan
sepanjang
waktu
minyak
harus
pilot diperlukan peralatan sebagai
mempunyai kinerja yang benar,
berikut.
karena
a.
Meger 0 sampai
manometer dapat menyebabkan
5000 volt
salah kerja yang mengakibatkan
b.
Meger 0 sampai
1000 volt
c.
Pompa air
d.
Pompa lumpur
e.
Alat kaki tiga
f.
Takel rantai
ketidakakuratan
kerugian atau dapat mengurangi
keandalan sistem operasi kabel
tanah tegangan tinggi.
Manometer
mempunyai
dimaksud
jarum
penunjuk
yang berfungsi menjalankan
alarm (tingkat 1) dan tripping
(tingkat 2). Kedua posisi jarum
2.
Material
tersebut
harus
a.
Contact cleaner
penunjukkannya,
b.
Anti karat
berkaitan
c.
Majun Pembersih
tekanan
sepanjang
minyak
karena
dengan
turunnya
kabel.
akan
akurat
naik
dan
minyak
Tekanan
mengembang
pada saat beban kabel tinggi
529
dan akan turun pada waktu beban
•
turun/rendah atau suhu luar
rendah.
berwarna
merah,
yang
berfungsi untuk mengetahui
tekanan tertinggi yang pernah
dicapai sepanjang operasi kabel.
Dari pengalaman di lapangan
diketahui beberapa manometer
tidak berfungsi dengan baik yang
menyebabkan gangguan dan
kerusakkan kabel.
8.12.4 Pemeliharaan yang
dilakukan pada
manometer adalah:
•
Pengujian terhadap
kinerja jarum penunjuk.
•
Pengujian setting
tekanan normal.
530
setting tekanan alarm.
•
Jarum yang lain adalah jarum
Pengujian terhadap
Pengujian setting tripout
Hasil pemeliharaan Manometer
SKTT 70/150 kV: ............................
UPT
: ............................
UJT
: ............................
Pelaksana
: ............................
No.
Tanggal
Tekanan (bar,
Manometer Fasa
Keterangan
Kpa, Kg/cm,
psi, mmbar)
R
S
T
R
S
T
*)
Normal
Alarm
Tripping
Tertinggi pernah
dicapai
531
1.
Pilot Kabel
sunshilled
Seperti kabel instalasi
kontrol. Semua terminal klem
tank
atau
yang lain, apalagi kabel pilot
tersebut
tertanam dengan kedalaman
kelembaban atau bersentuhan/
kurang
berhubungan dengan peralatan
lebih
2,5
meter
mempunyai
panel
di bawah tanah dengan suhu
yang
tanah yang panas maka akan
menyebabkan kondisi isolasi
terpengaruh
kondisi
kabel pilot menurun atau nol
sekitarnya.
sama sekali. Untuk mengetahui
oleh
lingkungan
di
Khususnya
pada
lain
yang
risiko
dapat
terminal
perubahan kinerja kabel pilot
kabel pada panel control
harus dilakukan pengukuran-
cabinet yang ada di dalam
pengukurannya.
underground tank chamber
maupun
532
yang
ada
di
2.
HASIL PEMELIHARAAN KABEL PILOT
SKTT 70/150 kV: ............................
UPT
: ............................
UJT
: ............................
Pelaksana
: ............................
1.
Kabel pilot 7 pair
No.
Tanggal
Cable Pair
Karakteristik
Keterangan
P
P
P
P
P
P
P
1
2
3
4
5
6
7
*)
1. Tahanan
isolasi
2. Tahanan
DC
*)
Menggunakan meger 5000 V
533
2.
No.
Kabel pilot 19 pair
Tanggal
Karakteristik
Cable Pair
1
2
3
4
5
6
7
8
9
. . . – 19
7
8
9
. . . – 28
1. Tahanan
isolasi
2. Tahanan
DC
3.
No.
Kabel pilot 28 pair
Tanggal
Karakteristik
Cable Pair
1
1. Tahanan
isolasi
2. Tahanan
DC
534
2
3
4
5
6
8.13 Penggelaran Kabel
dengan menggunakan struktur yang
8.13.1 Penggelaran kabel
penarikan dengan
diperlihatkan pada kertas lampiran no.
2272/78/A.
mesin winch
Penarikan
kabel
yang
Belokan
ditempatkan
biasa dilaksanakan dimaksud
terutama pada salah satu ujung
adalah menggunakan tenaga
sambungan
mesin Winch (mesin bensin
umumnya dapat dipilh pada
atau motor listrik) dengan
waktu
menempatkan ”roler kabel”
drums”
sepanjang rute dengan jarak
dimaksudkan melewati daerah
antara 2 + 3 M pada porsi
belokan-belokan
ini
kelurusan dengan titik belok
pengurangan
peregangan
maks 0,4 m.
langsung.
yang
penempatan
pada
pada
”cable
ujung,
ini
dengan
Pembuatan belokan biasa
”Cable drum” ini dapat diatur
dilakukan dengan menyesuai-
di dua sisi arah secara bertahap
kan roler yang umum yang
dan berlanjut. Kekencangan
diatur baik secara horizontal
penerikan harus secara terus-
maupun
menerus
vertikal
(sesuai
dikontrol
dengan
kebutuhan); secara teknik
menggunakan sebuah dynamo-
adalah penyelesaian yang
meter. Karena kekencangan ini
lebih andal, karena dapat
ditimbulkan oleh konduktor kabel,
menekan
keregangan
di mana mata (titik) tarikan
langsung antara kabel dan
dikaitkan hal ini kadang kadang
rolernya,
dapat
bisa
didapatkan
menjadi
gangguan
535
terhadap komponen kabel yang
mengikuti
lain sebagaimana terlihat pada
alternative yang lain dan di sini
tabel
akan diuraikan.
(mengindikasikan
sistem
penarikan
keregangan maksimum yang
diizinkan
untuk
berbagai
8.13.2 Penarikan dengan roler
bertenaga
komponen kabel).
Ini bisa jadi mengadopsi
Dari semua kasus antara
titik (mata) tarikan kabel dan
tambang (tali) penarikan, harus
digunakan sebuah alat khusus
yang bernama ”swivel”, alat ini
mempunyai
fungsi
ganda
dapat meringankan kenaikan
kedua
bagian-bagian
diandalkan
menekan
mesin
yang
dengan
tujuan
regangan
tarikan
Winch,
dan
sebagai
bagian andalan, apabila diatur
sesuai dengan keadaan parit
(galian).
torsi tarikan tambang dan
memudahkan dalam melewati
1.
Metoda ikat berlanjut
Regangan
roler-rolel.
diakibatkan
tarikan
oleh
yg
sebuah
tambang baja di mana kabel
Pada
yang
diikatkan pada jarak 2 m tali
penggelaran berbelok-belok
penarik yang dibuat supaya
dan penghitungan regangan
kabel bergerak.
tarikan
angka
rute
mungkin
melebihi
reganganya
ini
diindikasikan pada poin 3.0
berikut yang perlu diikuti,
kemudian ini perlu juga untuk
536
Hal
ini
perlu
untuk
mempersiapkan tambang yang
sesuai dengan belokan-belokan
keregangan
dan
kabel lainnya.
jalan-jalan
raya
dan
componen
persimpangan. Dengan tujuan
untuk melaksanakan tipe ini,
8.14.2 Tarikan ujung, dengan
gelaran tambang panjangnya dua
mata tarikan diikatkan
kali lipat terhadap rute yang
pada konduktor
dikehendaki.
–
Kabel pole tunggal tembaga
6 kg/mm2 Cu. section
2.
Peralatan gelar
Peralatan
gelar
–
yang
diperlukan dalam penarikan
section
–
kawat adalah katrol, meter, dan
lain-lain.
yang Diizinkan pada
Kabel
Kabel tiga pole tembaga
5 kg/mm2 total Cu section
–
8.14 Regangan Maksimum
Alminium 3 kg/mm2 Al.
Aluminium 3 kg/mm2 total Al
section
Nilai peregangan ini adalah
sesuai
untuk
koduktor
berpenguat, pada conductor
8.14.1 Porsi lurus
berpenguat
dimungkinkan
Ini adalah aturan yg baik
menerima regangan yg lebih
dalam menggunakan regang-
tinggi (14 kg/ mm 2 Cu. dan
an tarikan untuk konduktor,
8 kg/mm2 untuk Al.)
dimana secara umum adalah
bagian yg paling rawan. Dia
kadang baik dan cocok untuk
menggunakan
ukuran
537
8.14.3 Tarikan ujung
2.
dengan mata tarik
Porsi belok
Aturan umum radius belok tidak
diikatkan pada
boleh lebih kecil dari 30 kali dari
Armouring
lingkaran luar kabel.
Tarikan ujung dengan mata
tarik diikatkan pada Armouring
dilakukan pada kawat tipe kawat
lempengan baja 8 kg/mm2 total
section dari amouring tersebut.
3.
Belokan dilengkapi dengan
roler Tekanan paksa antara
kabel dengan roler tak boleh
melebihi:
•
1.
Kabel berbungkus alu-
Ujung tarikan dengan
minium:
bungkus baja
200 kg.
–
Digunakan tarikan ujung
•
50 kg.
dengan pembungkus
baja pada kabel ber-
•
–
Digunakan pada kabel
ber ”lead sheathed”:
Kabel tanpa bunkus metal:
50 kg.
bungkus alumunium:
3 kg/mm2 sheat section.
Kabel ber ”lead sheathed”:
•
Tekanan paksa harus
dihitung dengan rumus
berikut.
1 kg/mm2 sheath section.
F0 =
Td
R
(kg)
Dimana:
F0 = Tekanan paksa antara
kabel dan roler (m)
538
T = Kekencangan tarik
8.15 Perhitungan Daya Tarik
setelah belokan (m)
Horizontal)
R = Radius belok kabel (m)
1.
Porsi lurus
d = Jarak antar roler(m)
Daya tariknya adalah:
F = l · p · f (kg)
4.
Belokan-belokan dengan
penyangga bersambung
Dimana:
(peluncur dan pipa-pipa)
F = regangan tarik
Tekanan paksa antara
l = panjang gelaran porsi
kabel
dengan
penyangga
tidak
boleh
melebihi:
–
kabel ber”lead sheath”:
500 kg/m,
–
p = berat kabel per meter
f = koefisien gesek (ab. 0.1)
kabel bungkus aluminium:
2.000 kg/m,
–
lurus
permukaan
kabel tanpa pembungkus
metal: 400 kg/m.
2.
Porsi belok
Dengan rumus berikut ini
kita bisa melakukan evaluasi
panjang rute lefel equifalen
dengan sempurna, bersamaan
dengan ketegangan tarikan yang
sama yang akan terjadi, apabila
penggelaran
menggunakan
roler:
539
R
L2 = L1 cos hk ∂ + V1 + K sin hk ∂
L1
Rumus
hitungan
sebagai
berikut.
Dimana:
Ft = L2 · p · f (kg)
L1 = panjang equifalen inlet
Yang mana arti simbol-simbol telah
K = koifisien gesek (ab.O.1)
kita ketahui.
∂ = sudut belok (radiant)
L 2 = panjang equifalen outlet
3.
Panjang equifalen dikalikan
dengan
berat
kabel
dan
Gelaran di dalam Saluran
Atau Pipa
Permukaan
koifisien gesek, dengan cara
harus
ini
bendolan.
besar
tarikan
setelah
belokan dapat didapat.
pipa/saluran
halus/licin
tanpa
Karena alasan ini maka
plastic saluran/pipa tadi harus
Hal ini perlu lebih jauh
untuk
menentukan
jumlah
roler yang dihitung yang ada,
dengan
tujuan
untuk
menghindari tekanan kabel
terhadap roler melebihi nilai
yang terindikasi.
540
dipilih.
Bagaimanapun
juga
kita
berikan koifisien gesek yang
berbeda untuk tipe permukaan
pipa-saluran.
Tabel 8.9 Bahan Pipa Saluran Bahan Pipa Saluran Gesek
Bahan Pipa Saluran
Pembungkus Luar Label
Koefisien
PVC
Lead
0,25
PVC
Polyethlene
0,25
Asbestos-cement
Lead
0,45
Asbestos-cement
Polyethlene
0,33
Beton
Jute
0,80
Beton
Lead
0,50
Benton
Polyethylene
0,40
Gesek
Untuk menurunkan koefisien
Diameter dalam dari pipa
gesek bisa digunakan pelumas,
saluran harus paling tidak 1,5
seperti:
kali dari diameter luar cabel.
–
Air dengan bubuk grafit.
Aturan yang baik adalah hanya
–
Sabun bubuk dengan air dan
grafit.
diizinkan 1 kabel di dalam
1 saluran. Radius belok yang
diizinkan untuk pipa/saluran
Dengan pelumasan seperti
tergantung pada jumlah posisi
ini penurunan koifisien gesek
belokan sepanjang rute dan
sampai 30% dapat dicapai.
541
peregangan bertahap terjadi
F1 = l · p · f . cos ω ± 1 · p · h
antara kabel dan pipa saluran.
l = panjang porsi pada posisi mirRadius belokan pipa harus
tidak pernah lebih kecil dari
40 kali diameter lingkaran luar
kabel.
ing
p = berat kabel per meter
f = koefisien gesek
h = perbedaan level
4.
± = sebagai fungsi arah tarikan
Porsi lurus
Regangan tarik adalah:
apabila sudut ω kecil, cos ω = 1,
kemudian, F1 = l · p · f ± p · h (kg)
F = l · p · f (kg)
Di mana simbol-simbol mempunyai arti yang sama dengan
rumus pada perhitungan kuat tarik
pada posisi miring.
Dimana:
Gambar 8.2 Kuat tarik pada posisi miring
542
5.
Porsi belok
Jadi,
Regangan tarik setelah
belokan-belokan
dipertimbangkan sebagai ”titik-titik
belokan dievaluasi kurang lebih
perubahan
kecenderungan”,
seperti rumus berikut.
karena alasan inilah panjangnya
dari porsi lurus antara dua
F2 = F1 · e f ∂ ( kg)
Dimana:
harus
sesuai
dengan
panjangnya
F1 = kuat tarik pada inlet (masuk)
f
belokan
diperpanjang
dua
sisi
terhadap
belokannya.
= koifisien gesek
∂ = sudut perubahan arah
(dalam radius)
Setelah itu, perlu dicek
bahwa regangan bertabah
dalam
batas
maksimum.
Apabila kasusnya berlawanan
hal ini perlu membesarkan radius
belokan.
543
8.16 Peralatan Pergelaran
Peralatan pergelaran dapat dilihat pada Tabel 8.10.
Tabel 8.10 Peralatan Pergelaran
Jumlah
1
Uraian
Kawat penarik ”winch” 10 H.P
keterangan
Kecepatan tarik 17 dan
23 meter/menit
Kekuatan 3000 kg
1
Dram besi tambang baja
JUMLAH ISI
± 15 m3
1
Frame untuk said winch
Jumlah berat
± 5.5000 kg
1
Pasang trestles penyangga
dram
300
Pasang trestless lengkap
(shaft dan hidrolik) jack untuk
mengangkat dram dengan
kemampuan diatas 20 ton
1
Dinamometer 3 ton dan
timbangan
544
Jumlah
Uraian
2
Roler kabel
3
Claher roler swivel
1
Gripn (pemegang) penarik pasang walkie-
keterangan
talkie Jack pengangkat
545
8.17 Jadwal Pemeliharan Saluran Kabel Tegangan Tinggi
Jadwal pemeliharan saluran kabel tegangan tinggi seperti Tabel 8.11.
Tabel 8.11 Jadwal Pemeliharan Saluran Kabel Tegangan Tinggi
No.
Nama Alat
Pemeliharaan
Periode
1.
Kabel minyak
tekanan minyak
1 minggu
2.
Kabel minyak
tekanan minyak
1 minggu
visual inspeksi
3 bulan
pembersihan isolator
1 tahun
visual inspeksi
3 bulan
pembersihan dan
1 tahun
cadangan
3
Terminal Sealing
End
4
Tank
Chamber
pengecatan
5
Sistem
HV DC test pada
crossbonding
pelindung anti
korosi
546
6 bulan
HV DC Test pada
6 bulan
CCPU
Pembersihan
1 tahun
crossbonding
6
Sistem Alarm
pemeriksaan lampu
1 minggu
indicaktor pada panal
kontrol
pemeriksaan kontak
6 bulan
signal manometer
547
8.18 Kebocoran Minyak
Bila alarm tentang kebocoran minyak terjadi maka proses
penanggulangan dapat dilakukan seperti flowchart berikut.
Start
Alarm terjadi dan
diketahui operator
Catatan tekanan
sebelumnya
Periksa dan analisa
besarnya perubahan
tekanan minyak
Perubahan tekanan
minyak tidak dapat
diperiksa/dianalisis
dalam periode
beberapa jam
Kebocoran minyak kecil
Jika perubahan tekanan
< 1,00 kPa/hari
Jika perubahan tekanan
minyak sangat besar
atau tekanan minyak
sudah menunjuk ke trip
(switch out)
Kebocoran minyak besar
Jika perubahan tekanan
Gambar alir 8.3 Langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel
548
Kebocoran minyak kecil jika
perbedaan
tekanan
2.
Kebocoran minyak kecil
pada
Bila terjadi kebocoran minyak
ketiga fasa pada seksi yang
kecil dari pengalaman disebabkan
sama. Pemeriksaan dimulai
karena paking, konektor, dan pada
jika perbedaan tekanannya
saat pembersihan permukaan kabel
adalah 30 kPa.
dengan benda tajam.
Nilai perubahan tekanan
dinyatakan
jika
dan segera tidak diperlukan, hasil
meng-
pemantauan selama satu minggu
tekanan
baru dilakukan tindakan jika sudah
berubah antara 1,0 kPa/hari <
diketahui lokasi kebocorannya.
P < 10,0 kPa/hari.
Tekanan minyak selalu dicatat setiap
kebocoran
medium
Tindakan yang paling penting
minyak
akibatkan
jam sampai perbaikan selesai.
1.
Kebocoran Kecil
Tindak lanjut yang lebih detail
diperlukan untuk setiap terjadi
kebocoran yang dijelaskan
sebagai berikut.
549
3.
Bagan Alir tindakan untuk kebocoran kecil
Kebocoran minyak kecil
jika perubahan tekanan <
1,00 kPa/hari.
Apakah kebocoran
di antara katup.
Sambungan sementara
untuk pasokan minyak.
Dilokalisir dan perbaikan
kebocoran. Reset rangkaian
minyak.
Sambungan sementara
untuk pasokan minyak.
Perbaikan kebocoran. Reset
rangkaian minyak.
Gambar alir 8.4 Langkah awal bila terjadi kebocoran minyak kabel
4.
Kebocoran Besar
Pada masalah ini penyebab utama kejadian ini harus diketahui
terutama penyebab kerusakan dari luar (eksternal). Kecepatan
tindakan sangat diperlukan untuk itu dapat dilakukan tindakan sesuai
bagan alir berikut ini.
550
Bagan alir kebocoran besar
Kebocoran minyak besar.
Jika perubahan tekanan >
10,00 kPa/hari.
Apakah kebocoran minyak
di antara pipa pemasok
minyak antara tangki bertekanan dan katup serta
manometer pada panel?
Apakah
tekanan
minyak di
bawah level
Apakah
kabel
harus
Apakah
tekanan
minyak di
bawah level
alarm?
Kabel
operasi
Kabel
operasi
Diproses
dengan operasi
Apakah
kabel
harus
Diproses dengan
operasi katup A
Cari lokasi
Lanjutkan
pasokan minyak
sementara
Apakah kabel harus
Pencegahan
kebocoran
1
551
1
Perbaikan pemanen atau mengganti kabel
yang rusak atau accesoris kabelnya
Mengembalikan setting pengaman dari
sitem minyak
Pengoperasian kembali kabel
Selesai
Gambar 8.5 Langkah bila terjadi kebocoran minyak kabel cukup besar
552
5.
Memperbaiki kabel minyak yang bocor
Setelah diketemukan lokasi kebocoran maka segera dilakukan perbaikan
dengan urutan sebagai berikut.
Lokasi Kebocoran
Perbaikan
Perbaikan
Minyak
Sementara
Permanen
Sealing end
pada Gas
a. Flange tembaga bagian
bawah tabung
b. Kebocoran pada
Periksa kekencangan
Ganti gasketnya.
baut-bautnya.
•
permukaan kabel
Dengan menggunakan
Instalasi kembali
palu untuk memukul
permukaan sehingga
menutup kebocoran
tersebut.
•
Melapisi permukaan
dengan plastik
tape.
c. Konektor pipa
pemasok
Periksa kekencangan
Instalasi kembali
baut-bautnya.
minyak
d. Isolator penghubung
Periksa kekencangan
Ganti penghubung
baut-bautnya.
isolator dengan
yang baru.
553
Lokasi Kebocoran
Perbaikan
Perbaikan
Minyak
Sementara
Permanen
Tangki Tekanan
a. Katup
Bungkus dengan
Ganti katupnya.
isolasi/plastik
tape.
b. Konektor
Periksa kekencangan
Instalasi kembali.
baut-bautnya.
Pipa Pemasok Minyak
a. Konektor
Periksa kekencangan
Ganti dengan
baut-bautnya.
yang baru
atau instalasi
kembali.
Kabel Tenaga
a. Pelindung kabel
(lead sheath)
•
Dengan menggunakan
Ganti bagian
palu atau memukul
kabel yang
permukaan sehingga
bocor.
menutup kebocoran
tersebut.
554
Lokasi Kebocoran
Perbaikan
Perbaikan
Minyak
Sementara
Permanen
•
Melapisi permukaan
dengan plastik
tape.
Yang paling penting untuk
tekanan
tinggi
perbaikan kabel dan alat
diperlukan
karena
bantunya (accesories) adalah
minyak maka kehati-hatian dan
tekanan yang agak sedikit
konsentrasi
rendah dari pada tekanan
sangat
normal dan dipertahankan
prosedurnya sebagai berikut.
pada
sangat
tekanan
masalah
diperlukan.
Adapun
setiap saat sebagai usaha
untuk
menjaga
agar
Pengoperasian katup (valve).
yang
Sebagai contoh adalah minyak
lembab masuk ke dalam sistem
tekanan tinggi pada salah satu
kabel.
fasa maka:
kandungan
udara
1.
6.
Tindakan yang dilakukan
untuk minyak dengan
tekanan tinggi
minyak
tertutup dengan baik.
2.
Pipa
penghubung
untuk
pengeluaran minyak dari
Prosedur pada kejadian
gangguan
Katup nomor 4 harus selalu
dengan
tangki dihubungkan dengan
”chek
conector”
yang
555
ditempatkan pada meter
diketahui terjadi kerusakan lapisan
tekanan dan ”valve panel”.
pelindung kabel maka perlu
ditindaklanjuti dengan mencari
3.
Katup nomor 4 dibuka.
4.
Alrian minyak tekanan tinggi
lokasi
kerusakan
lapisan pelindung kabel.
dari tangki akan terlihat
pada
meter
”valvepanel”
5.
dan
Untuk mengatasi kerusakan
sehingga
lapisan pelindung perlu mencari
penunjukan meter tekanan
lokasi
berada di bawah batas dari
pengukuran, sehingga kabel tersebut
tekanan minyak tertinggi
harus tidak dioperasikan (bebas
yang perbolehkan.
tegangan). Digunakan bermacam-
Perbaikan
sehingga
macam metoda untuk mencari lokasi
rangkaian menjadi seperti
kerusakan lapisan pelindung dari
semula.
yang sederhana hingga yang paling
untuk
itu
diperlukan
modern dan cukup canggih. Di sini
8.19 Gangguan Kabel pada
Lapisan
Pelindung
P.E.Oversheath
akan dijelaskan cara sederhana
yang mana sebenarnya awal dari
sederhana ini berkembang menjadi
seperti kondisi sekarang.
8.19.1 Metode mencari lokasi
gangguan pada lapisan
pelindung kabel
Sebagai
pemeriksaan
lapisan
556
hasil
rutine
pelindung
pada
kabel
8.19.2 Metode Murray
konduktornya
Metode ini diketemukan
dan
lapisan
pelindung dan di ujung yang lain
Murray
yang
dipasangkan sumber tegangan
dari
cara
DC lengkap dengan saklarnya
pengukuran tahanan dengan
dan tahanan geser yang center
metode jembatan Weatstone.
tapnya
oleh
Jhon
berprinsip
disambungkan
ke
galvanometer.
Prinsip kerjanya dengan
menghubungkan salah satu
ujung
kabel
antara
Gambar 8.6 Mencari lokasi kerusakan P.E.oversheath dengan jembatan Murray
557
Jika
galvanometer
menunjuk
setelah
center
angka
mengatur
pada
posisi
tingkat dari 0–100, yang akan
dibaca
dan
menjadi
acuan
tahanan
perhitungan prosentase jarak
geser maka akan diperoleh
untuk menentukan jarak dari titik
persamaan
ukur ke lokasi gangguan pada
pada
tap
nol
Tahanan geser mempunyai
seperti
sistem
rumus
jembatan
Weatstone:
R1
2L - X
=
R2
X
lapisan pelindung kabel.
1.
Cara pengukuran
a.
Mengisolasi kabel gangguan
dengan cara melepas plat
penghubung di antara kedua
R2 × 2 L
X = R +R
1
2
sisi pada links boxes.
b.
Hubungkan
alat
ukur
Dimana;
jembatan Murray ke terminal
R1 dan R2 = tahanan geser di
dari lead sheath dari kabel
antara c.
yang rusak. Seperti gambar
L = panjang kabel (2L karena
berikut ini.
rangkaian tertutup).
X = Jarak lokasi kerusakan dari
titik ukur.
558
Gambar 8.7 Mencari lokasi kerusakan P.E.oversheath dengan jembatan Murray
•
Sambungkan
kabel
biarkan beberapa menit untuk
pelindung
(P.E.
pemanasan alat.
oversheath)
pada
Masukan saklar ”S” dari
terminal” + ” dan konduktor
baterei eksternal dan atur
utama
nilai R 1 dan R 2 sehingga
disambungkan
pada terminal ” – ” pada alat
•
•
galvanometer menunjuk nilai
ukur Murray. Hubungkan
”0”. Dan akan diperoleh
baterei sehingga menjadi
prosentase jarak lapisan
rangkaian tertutup sistem
pelindung
Murray seperti pada gambar.
mengalami kerusakan.
Nyalakan
alat
kabel
yang
dengan
menekan saklar on dan
559
c.
Mendeteksi lokasi gangguan
arah
jarum
dan
besarnya
P.E. oversheath di kabel
tegangan (polarity) dan menjadi
dengan sistem elektrode.
petunjuk perbedaan (arah dari
arus bocor) arus DC antara
2.
konduktor dan lapisan pelindung
Prinsip kerja
Metode ini menggunakan
sifat karakteristik dari potensial
listrik
di
permukaan
dalam
tanah
di
luar
yang
disebabkan oleh mengalirnya
arus ke dalam dan keluar dari
titik gangguan, arus yang secara
tiba-tiba
menjadi
besar
atau maksimum maka arus
sebagai indikasi yang berupa
560
dan
dari
tanah.
Perbedaan
potensial tersebut di atas terjadi
di atas permukaan jalur kabel
sehingga dengan menggunakan
voltmeter atau galvanometer
yang
dilengkapi
dengan
elektrode sebagai penghantar
dan
pendeteksi
gangguan.
lokasi
Gambar 8.8 Mencari lokasi kerusakan PE
3.
Metoda pengukuran
•
Kabel
diisolir
yang
•
gangguan
dengan
cara
Sambungkan sumber DC
(generator DC tegangan tinggi)
ke
terminal
yang
pada
link
melepas plat penghubung di
boxes
tersambung
antara kedua ujung link
dengan lapisan pelindung
boxes.
(leadsheath) dari kabel yang
gangguan.
561
•
•
Alirkan arus DC dengan
satu elektrode dan pointer pada
bentuk pulsa ke kabel
galvanometer akan membuat
yang gangguan.
arah penyimpangan semakin
Masukan batang elektroda di
besar
atas permukaan tanah di
dengan lokasi gangguan dan
mana kabel yang gangguan.
akan
berarti
sudah
berbalik
jika
dekat
lokasi
gangguan terlewati).
Tentukan arah arus dilihat
dari arah penunjukan jarum
dari
voltmeter
atau
galvanometer sehingga dapat
•
Persempit elektroda pada
lokasi
mana
penyimpangan jarum paling
besar.
diketahui lokasi gangguan.
(ketika tegangan sumber DC
”+” tersambung pada salah
Gambar 8.9 Metode pengukuran
562
di
Gambar 8.10 Metode pengukuran
4.
Memperbaiki P.E.
bahwa
oversheath pada kabel
dioperasikan
Jika P.E.oversheath pada
kabel mengalami kerusakan,
dan telah dibuktikan maka
prioritas selanjutnya adalah
perbaikan. Setelah diperbaiki
maka
untuk
membuktikan
kabel
sudah
layak
maka
perlu
dilakukan pengujian-pengujian
untuk menjamin bahwa kabel
laik
untuk
dioperasikan.
Jaminannya hasil pekerjaan yang
benar yaitu langkah-langkah
perbaikan yang baik dan benar
seperti berikut.
563
Kerusakan
pada
P.E.over- sheath dari
suatu kabel.
A
X
Pelapisan pelindung
dengan resin/glass
tape
B
X
atau
heat
shrinkcabel tube.
Anticorrosion tape
(polyethylene)
X
P.E.Adhesive tape.
C
Adhesive tape Water
X
proof tape.
D
Gambar 8.11 Metode pengukuran
564
Metode perbaikan P.E. & PVC
8.20 Memperbaiki Kerusakan
oversheath.
Kabel (Kerusakan
3.1. Pertama
bagian
Eksternal)
yang
rusak pada P.E. atau PVC
over
sheath
berupa
8.20.1 Memperbaiki kerusakan
serabut kawat atau sejenis
tape
yang
lead sheath kabel
berserabut
dibersihkan.
Perbaikan dapat dilaksanakan
jika telah diketemukan lokasi
3.2. Bersihkan dengan sikat
kerusakan pada sheath dan
dan bersihkan seluruh
dilakukan setelah memenuhi
permukaan.
petunjuk yang dijelaskan dibawah ini.
3.3. Lakukan separuh (½) dari
•
tegangan.
lapisan epoxy resin dan glass
tape.
Kabel harus bebas
•
Kasus A: Kerusakan
diperkiraan tidak dari luar
3.4. Gunakan pelindung dari
heatshrink tube atau PVC
adhesive tape dan ½ lapis
anticorrosive tape (polyethylene).
kabel.
•
Kasus B: Terdapat lubang
atau keretakan pada lead
sheath.
3.5. Gunakan dua ½ lapis dari
waterproof tape dan dua
½ lap lapisan P.E. dan PVC
adhesive tape.
565
Kerusakan
Jika kabel dengan kondisi
diperkirakan tidak dari luar
dapat diperbaiki maka perbaikan
kabel
sesuai
Pada kasus ini kabel harus
tetapi jika tidak dapat maka
dipadamkan segera (tidak
kabel baru digunakan untuk
dioperasikan).
menyambung yang rusak.
1.
Kasus
A:
dengan
kondisinya,
Lakukan pemeriksaan sebagai
berikut.
a.
Perubahan yang terjadi
pada bentuk lead sheath.
b.
Kerusakan pada screen/
lapisan pelindung.
c.
2.
Kasus B
Terdapat
lubang
atau
keretakan pada lead sheath.
Setelah penggalian tanah di atas
kabel selesai maka P.E. over
sheath dan serat pelindung
Kerusakan pada isolasi
maka
kabel.
dilaksanakan dengan langkah-
d.
Air didalam kabel.
langkah sebagai berikut.
e.
Benda asing yang
mengakibatkan
kontaminasi.
f.
Gas yang sudah
terkontaminasi pada kabel.
a.
perbaikan
dapat
Jika kondisi terjadi kebocoran
kecil karena tertusuk benda
runcing atau karena retak kecil
maka.
1)
Sumbat lubang bocor dan
dengan menggunakan
Berdasarkan penjelasan
palu serta pemukulan
tersebut di atas ketentuan
yang tidak terlalu keras
yang harus dilakukan dapat
sehingga lubang tertutup.
diputuskan.
Sama
566
caranya
untuk
menutup
2)
keretakan
digunakan palu dan
maka
lubang
1)
keretakan
Setelah mengupas P.E.
ditutup dahulu kemudian
oversheath, fibrous tape
dapat digunakan cara
dan
plumbing
yang
diperlukan penguat dengan
disapukan di sekitar
cara menyolder pada
lokasi yang retak.
daerah yang mengalami
Gunakan fibrous tape
kerusakan.
dan reinforcement tape
3)
kebocoran yang lebih besar
2)
re-inforcement,
Gunakan 6 lapisan tape
untuk melapisi lead
yang tahan minyak dari pita
sheath pada lokasi
plastik
kerusakan serta
daerah yg mengalami
Perbaikan oversheath
kerusakan.
dari kabel tersebut.
3)
pada
pada
Kemudian gunakan 4
lapisan tape epoxy resin
Langkah tersebut di atas
sudah
mencukupi
impregnated glass di atas
untuk
semua permukaan lapisan
mengatasi kebocoran karena
lubang atau retak pada lead
sheath sehingga tidak terjadi kebocoran.
b.
4)
Gunakan 4 lapis lembaran
dari F-CO tape (anticorrosive tape/polyenthylene)
Jika kondisi tersebut di atas,
walaupun sedikit kebocoran
tetapi
tahan minyak.
mempunyai
dan
ditambah
2 lapisan lembaran BALCO
(waterproof tape) dan 2
kecenderungan menjadi
567
lapisan lembaran P.E.
8.20.2 Mengganti kabel yang
rusak
adhesive tape.
Multymetal
melapisi
Jika kerusakan terjadi pada
P.E.oversheath, fibrous
kabelnya sendiri, tetapi jika
tape dan reinforcement,
screen dan insulation paper tidak
dilakukan pembersihan
rusak
di
dioperasikan dalam waktu yang
Setelah
tempat
terjadi
5) Tutup valve dikedua sisi
pengisian minyak kabel
dan gunakan campuran
untuk
P.E.
mengalami kerusakan.
Lakukan langkah seperti
pada kasus 2) – (3 – 4).
568
dapat
oversheath
pembersihan/filter
dan
minyak
isolasi telah dilakukan pada
kabel tersebut.
Kabel yang telah mengalami
melapisi di daerah yang
6)
kabel
cukup lama setelah lead sheath,
kerusakan.
multymetal
maka
kerusakan maka kabel dipotong
dan
tidak
digunakan
lagi
sehingga perlu kabel baru sebagai
pengganti.
Gambar 8.12 Metoda pengukuran
Panjang kabel pengganti
1.
Testing
setelah
sangat tergantung dengan
diperbaiki
kondisi
Pelaksanaan
kerusakan
seperti
kabel
testing
kandungan air pada isolasi,
dilakukan oleh petugas yang
tingkat kontaminasi minyak
berkompetensi enginir untuk
kabel dan kondisi di sekitar
menjamin
kelayakan
kabel
permukaan tanah dari jalur
tersebut
apakah
dapat
kabel tersebut.
dioperasikan apa tidak setelah
diperbaiki.
Semua
hasil
pengujian dicatat dan dianalisa
569
untuk menentukan kelayakan
pada 20°C adalah 0.0754 Ω/Km
kabel tersebut.
(maks) pada kabel minyak
ukuran
240
Pengukuran
a.
Kabel minyak
1)
Pengujian tahanan
dilakukan
Jenis
yang
kedua
setelah
kabel
selesai disambung.
isolasi kabel
3)
Pengukuran
mm².
isolasi
Pengujian oversheath
Pengujian
dilakukan
dengan
setelah surge diverters dilepas
mengukur tahanan isolasi di
agar pada saat pengujian tidak
antara konduktor terhadap
mengakibatkan kerusakan
pentanahan menggunakan
akibat tegangan uji. Semua
alat yang bertegangan
instalasi yang menjadi ketentuan
1.000
hasil
seperti sheats insulatios, exter-
ukurnya harus lebih besar
nal joint insulation, terminal
100
Pengukuran
base insulation pada bonding
ini pertama kali dilakukan
leads dan link boxes, insulation
setelah
sections pada pipa minyak
dilaksanakan
volt
MΩ.
DC,
kabel
selesai
disambung.
serta yang lainnya. Kabel yang
diganti X. Lokasi gangguan
kabel baru, kabel lama,
2)
Tahanan DC dari
konduktor
570
sambungan kabel dari kabel
yang perbaiki akan menjadi
Pengukuran tahanan DC
subjek pengujian tahanan
sambungan konduktor yang
dengan memberikan tegangan
setelah diperbaiki, hasil
DC 10 kV selama 5 menit. Jenis
pengukuran tahanan DC
pengukuran
yang
ketiga
dilakukan setelah kabel
c.
Pengujian aliran minyak
selesai disambung dan telah
(oil flow test)
teriisi minyak kembali.
Setelah perbaikan, setiap
seksi minyaknya harus diukur
b.
alirannya, hal tersebut untuk
Test tegangan tinggi
Perbaikan sirkit kabel yang
rusak
setelah
selesai
perbaikan tekanan minyak
telah normal harus dilakukan
pengujian dengan tegangan
tinggi DC antara konduktor dan
sheats
selama
15
menit.
Pengujian ini semua seksi dari
kabel
harus
disambung
walaupun secara temporary.
Arus tegangan searah akan
menjamin tidak ada ketidaknormalan aliran minyak pada
saluran kabel minyak tersebut.
Pengukuran dilaksanakan
dengan menuangkan/mengalirkan
minyak bertekanan keluar sebagai
salah satu mengukur aliran minyak
bertekanan.
Teori drop tekanan dengan
rumus sebagai berikut.
mengalir pada kabel melalui alat
test uang disambung pada
ujung kabel (sealing end) baik
yang
sf6
maupun
konvensional
yang
yang
telah
P=QbL
Dimana:
P = perbedaan tekanan pada seksi
dilepas dengan sambungan ke
kabel tersebut.
GIS atau peralatan lain.
(tergantung route dan profil dan
satuannya (KN/m²))
Q = nilai aliran (liter per detik)
571
L = panjang seksi kabel (m)
Dimana:
b = koefisien gesekan minyak
P = perbedaan tekanan pada
pada kabel (MN/m6 )
Atau pipa bulat adalah:
seksi
kabel
tersebut.
(tergantung route dan profil
dan satuannya (KN/m²)
b=
2,54 n × 10 3
r
4
Q = nilai aliran (liter per detik)
L = panjang seksi kabel (m)
Dimana:
n = viskositas dari minyak 9 cen-
b = koefisien gesekan minyak pada
kabel (MN S/m6 )
tipoise) pada temperatur
pengujian
r = radius bagian dalam (mm)
dan atau kabel diukur bagian
dalam (r = 7 mm)
Jika Kabelnya single core
maka secara teori tekanannya
Untuk kabel atau pipa bulat
adalah:
b=
2,54 n × 10 3
r4
Dimana:
n = viskositas dari minyak 9 centi-
aliran minyak akan memberikan
poise)
tekanan pada setiap kabel
pengujian
sebagai berikut.
pada
temperatur
r = radius bagian dalam (mm) dari
pipa atau kabel diukur bagian
P = Q b L × 10–2
dalam (r = 7 mm)
Perbandingan aliran yang
diperoleh dari kabel yang baru
selesai dipasang harus diingatkan
bahwa
572
hal
tersebut
sudah
termasuk semua sambungan
minyak
pada seksi kabel tersebut dan hal
menyebabkan
tersebut hanya menjadi gambaran
tekanan yang telah diketahui.
dalam
Koefisien
pemeliharaan
dan
yang
tarikannya
penurunan
impregnasi
K
petunjuk. Perhitungan itu tidak
didifinisikan sebagai berikut.
menunjukkan gangguan tak
Tidak boleh leibih besar dari
semestinya dari sistem kabel
4,5 × 10–4:
tersebut.
d.
K=
Test koefisien
dV
V
1
× dP
impregnasi
Setelah selesai secara
lengkap penggelaran kabel
dan penyambungannya, setiap
seksi
minyaknya
diperiksa
harus
dengan
Dimana:
d V = volume minyak yang tersisa (liter)
d P = dropnya tekanan (mmHg).
tujuan
V = volume minyak di dalam seksi
efisiensi dari minyak impregnasi
kabel (liter) termasuk isolasi
dengan cara sebagai berikut.
penghubung tangki.
Manometer air raksa (mercury)
dihubungkan
mana
ke
sistem
minyaknya
kabel
di
instalasi
ditutup
dan
sisakan sedikit minyak, biarkan
Ketika kondisi kabel dalam
keadaan
alat
monitornya
terpasang, setiap kabel akan
diuji secara terpisah.
beberapa menit agar stabil,
kemudian diukur jumlahnya
573
1
1
kg
cm 2
kg
cm 2
8.21 Auxiliary Cable
= 7,35559 × 10 (mmHg)
2
1.
Continyuity Test
Setelah kabel digelar maka
= 98,067 KN/m
2
sebelum
disambung
diperlukan
1 Bar = 1,02 kg/cm2
kontinuitas
konduktor
periksa
dari
semua
sebagai
konfirmasi.
Dalam membandingkan
aliran yang diperoleh pada
kabel
yang
sehat,
harus
2.
Test tegangan pada lapisan
diingat bahwa semua joint
antikarat (anti corrosion
akan ikut terukur dan secara
sheath)
gambaran
teoritis
beberapa
saja
hanya
Panjang kabel kabel akan
yang
tetap setelah digelar dan
kondisinya baik dan dijadikan
sebelum
disambung
referensi.
tegangan DC 4 kV per mm
dari tebalnya lapisan (seperti
Hasil pengujian menunjuk-
yang tertulis pada spesifikasi
kan tak semestinya tidak ada
teknik dari kabel tersebut)
gangguan
sistem.
digunakan untuk menguji
Testing ini akan dikerjakan
ketahanan lapisan terhadap
setelah penggantian kabel
armour dan permukaan luar
atau isolasi sambungan.
untuk beberapa menit.
574
pada
3.
Tes tahanan isolasi
4.
Tes ketahanan tegangan
Setelah kabel digelar
Setelah lengkap me-
maka sebelum disambung
masang kabel maka kabel
harus diukur tahanan isolasi
tersebut harus diuji ketahanan
secara individu di antara
terhadap tegangan. Ketahanan
setiap kabel serta terhadap
Tegangan
armour.
konduktor dan konduktor
kabel
antara
Menggunakan alat ukur
lainnya dan terhadap armournya
tahanan dengan tegangan
yang terhubung ke tanah.
operasi
DC
Tegangan dinaikan secara
untuk satu menit dan
bertahap dan dipertahankan
jangan menggunakan alat
selama
dengan tegangan 5.000 V
Beberapa hal yang harus di-
dan
20°C.
perhatikan yaitu kabel tipe
Pengukuran tahanan isolasi
15 kV. Maka digunakan
dilanjutkan lagi setiap kabel
tegangan 15 kV DC antara
telah tersambung dengan
konduktor dan armour. Jika
kabel yang lain dan hasil
kabel telah dihubungan dengan
tidak boleh lebih kecil
beban yang mungkin ber-
dari 50 MΩ/km dan lebih
bentuk koil maka spesifikasi
kecil 90 % jika hasil
koil dan beban lain sangat
pengukuran lebih besar dari
diperhatikan dan jika perlu
1.000 MΩ/km.
didiskusikan terlebih dulu
500
Volt
temperatur
1
(satu)
menit.
575
5.
dengan engineer yang lebih
boleh lebih jelek lagi dari nilai
ahli.
74 dB pada frekuensi 1.300 Hz
Cross Talk
Cross talk antara urat
(pair) kabel diukur dan tidak
576
dan
kondisi
kabel
keadaan seimbang.
pada
CATATAN
577
CATATAN
578
BAB IX
PROTEKSI SISTEM PENYALURAN
gangguan yang selanjutnya
Relai adalah suatu alat yang
bekerja secara otomatis untuk
memberi
mengatur/memasukan suatu
kepada pemutus tenaga
rangkaian listrik (rangkaian trip
(PMT).
atau alarm) akibat adanya
2.
perubahan lain.
perintah
trip
Trafo arus dan/atau trafo
tegangan sebagai alat yang
mentransfer besaran listrik
primer dari sistem yang
9.1 Perangkat Sistem
diamankan ke relai (besaran
Proteksi
Proteksi
terdiri
listrik sekunder)
dari
seperangkat peralatan yang
3.
Pemutus tenaga (PMT)
merupakan sistem yang terdiri
untuk memisahkan bagian
dari
sistem yang terganggu.
komponen-komponen
berikut.
1.
4.
Baterai beserta alat pengisi
Relai, sebagai alat perasa
(bateray charger) sebagai
untuk mendeteksi adanya
sumber
tenaga
untuk
579
bekerjanya relai, peralatan
5.
Secara garis besar bagian
bantu triping.
dari Relai proteksi terdiri dari
Pengawatan (wiring) yang
tiga bagian utama, seperti pada
terdiri dari sirkit sekunder
blok diagram (Gambar 9.1)
(arus dan/atau tegangan),
di bawah ini.
sirkit
triping
dan
sirkit
peralatan bantu.
Gambar 9.1 Blok diagram relai proteksi
580
Masing-masing elemen/bagian
Pada bagian ini besaran
mempunyai fungsi sebagai
yang masuk akan dirasakan
berikut.
keadaannya, apakah keadaan
yang
9.1.1 Elemen pengindera
diproteksi
itu
mendapatkan gangguan atau
Elemen ini berfungsi untuk
dalam keadaan normal, untuk
merasakan besaran-besaran
selanjutnya besaran tersebut
listrik, seperti arus, tegangan,
dikirimkan
frekuensi,
pembanding.
dan
tergantung
sebagainya
relai
ke
elemen
yang
dipergunakan.
581
Relai
CT
Saklar
Rangkaian Trip
Gambar 9.2 Rangkaian relai proteksi sekunder.
9.1.2 Elemen pembanding
Elemen
menerima
ini
berfungsi
besaran
setelah
terlebih dahulu besaran itu
diterima oleh elemen pengindera
untuk membandingkan besaran
listrik pada saat keadaan normal
dengan besaran arus kerja
relai.
9.1.3 Elemen
pengukur/penentu
Elemen ini berfungsi untuk
mengadakan
secara cepat pada besaran
ukurnya
582
perubahan
dan
akan
segera
memberikan
isyarat
untuk
Apabila besaran tersebut
membuka PMT atau memberikan
tidak setimbang atau melebihi
sinyal.
besar arus penyetelannya, maka
proteksi
kumparan relai akan bekerja
menggunakan relai proteksi
menarik kontak dengan cepat atau
sekunder seperti Gambar 9.2.
dengan
Pada
sistem
waktu
tunda
dan
memberikan perintah pada
Transformator arus (CT)
berfungsi
sebagai
alat
kumparan penjatuh (trip-coil)
untuk bekerja melepas PMT.
pengindera yang merasakan
apakah
keadaan
yang
diproteksi dalam keadaan normal
atau mendapat gangguan.
Sebagai sumber energi/
penggerak sumber arus searah
atau baterai.
Sebagai alat pembanding
sekaligus alat pengukur adalah
relai, yang bekerja setelah
mendapatkan besaran dari alat
9.1.4 Fungsi dan peranan
relai proteksi
Maksud
dan
tujuan
relai
proteksi
pengindera dan membandingkan
pemasangan
dengan besar arus penyetelan
adalah untuk mengidentifikasi
dari kerja relai.
gangguan dan memisahkan
583
bagian jaringan yang terganggu
arus
dari bagian lain yang masih
dihindari
sehat
sekaligus
seminimum mungkin dan
mengamankan bagian yang
bagian sistem lainnya tetap
masih sehat dari kerusakan
dapat beroperasi.
serta
atau kerugian yang lebih besar,
3.
gangguan
atau
dapat
dibatasi
Memberikan pengamanan
dengan cara:
cadangan bagi instalasi
1.
lainnya.
Mendeteksi adanya gangguan
atau keadaan abnormal
lainnya
yang
4.
dapat
2.
baik kepada konsumen.
5.
Mengamankan
manusia
Melepaskan (memisahkan)
terhadap
bagian sistem yang terganggu
ditimbulkan oleh listrik.
atau
yang
mengalami
keadaan abnormal lainnya
secepat mungkin sehingga
kerusakan instalasi yang
terganggu atau yang dilalui
584
pelayanan
keandalan dan mutu listrik yang
membahayakan peralatan
atau sistem.
Memberikan
bahaya
yang
9.2 Syarat-Syarat Relai
di daerah pengamanannya dan
Proteksi
harus cukup sensitif untuk
Dalam perencanaan sistem
mendeteksi gangguan tersebut
proteksi
maka
untuk
dengan rangsangan minimum
mendapatkan suatu sistem
dan
bila
perlu
proteksi yang baik diperlu-
mentripkan pemutus tenaga
kan persyaratan-persyaratan
(PMT)
sebagai berikut.
bagian sistem yang terganggu,
untuk
hanya
memisahkan
sedangkan bagian sistem yang
sehat dalam hal ini tidak boleh
9.2.1 Sensitif
terbuka.
Suatu relai proteksi bertugas
9.2.2 Selektif
mengamankan suatu alat atau
suatu bagian tertentu dari suatu
sistem tenaga listrik, alat,
atau
bagian
sistem
yang
termasuk dalam jangkauan
pengamanannya.
Selektivitas dari relai proteksi
adalah suatu kualitas kecermatan
pemilihan dalam mengadakan
pengamanan. Bagian yang terbuka
dari suatu sistem oleh karena
terjadinya gangguan harus sekecil
Relai proteksi mendeteksi
mungkin,
sehingga
daerah
adanya gangguan yang terjadi
585
yang terputus menjadi lebih
kecil.
9.2.4 Andal
Dalam keadaan normal atau
Relai proteksi hanya akan
sistem
yang
tidak
pernah
bekerja selama kondisi tidak
terganggu relai proteksi tidak
normal atau gangguan yang terjadi
bekerja selama berbulan-bulan
di daerah pengamanannya dan
mungkin bertahun-tahun, tetapi
tidak akan bekerja pada kondisi
relai proteksi bila diperlukan
normal atau pada keadaan
harus dan pasti dapat bekerja,
gangguan yang terjadi di luar
sebab
daerah pengamanannya.
bekerja dapat mengakibatkan
apabila
relai
gagal
kerusakan yang lebih parah
pada peralatan yang diamankan
9.2.3 Cepat
Makin cepat relai proteksi
atau mengakibatkan bekerjanya
bekerja, tidak hanya dapat
relai lain sehingga daerah
memperkecil kemungkinan akibat
itu mengalami pemadaman
gangguan,
dapat
yang lebih luas. Untuk tetap
kemungkinan
menjaga keandalannya, maka
memperkecil
meluasnya
tetapi
akibat
ditimbulkan oleh gangguan.
586
yang
relai proteksi harus dilakukan
pengujian secara periodik.
9.2.5 Ekonomis
Dengan
atau
biaya
yang
kalau
disebabkan
gangguan
karena
itu
sudah
sekecil-kecilnya
diharapkan
adanya kerusakan (insulation
relai
mempunyai
break
proteksi
down
di
dalam
kemampuan pengamanan yang
peralatan), maka kerusakan itu
sebesar-besarnya.
dapat dibatasi sekecilnya.
Proteksi yang benar harus
dapat bekerja cukup cepat,
9.2.6 Sederhana
Perangkat relai proteksi
disyaratkan mempunyai bentuk
yang sederhana dan fleksibel.
selektif dan andal sehingga
kerusakan
peralatan
yang
mungkin timbul akibat busur
gangguan atau pada bagian
sistem/peralatan yang dilalui
9.3 Penyebab
Terjadinya
Kegagalan Poteksi
Jika
proteksi
dan kestabilan sistem dapat
bekerja
sebagaimana mestinya, maka
kerusakan yang parah akibat
gangguan
mestinya
arus gangguan dapat dihindari
dapat
dihindari/dicegah sama sekali,
terjaga.
Sebaliknya jika proteksi
gagal bekerja atau terlalu
lambat bekerja, maka arus
gangguan ini berlangsung lebih
587
lama, sehingga panas yang
ditimbulkannya
dapat
Kegagalan atau kelambatan
kerja
proteksi
dapat
mengakibatkan kebakaran yang
disebabkan antara lain oleh:
hebat, kerusakan yang parah
–
pada
peralatan
instalasi
dan ketidakstabilan sistem.
konsisten bekerjanya.
–
Setelan (setting) relainya tidak
benar (kurang sensitif atau
Tangki trafo daya yang meng-
kurang cepat).
gelembung atau jebol akibat
gangguan biasanya karena
Relainya telah rusak atau tidak
–
Baterainya
lemah
atau
kegagalan kerja atau kelambatan
kegagalan sistem DC suply
kerja proteksi. Kegagalan atau
sehingga
kelambatan kerja proteksi juga
mengetripkan PMT-nya.
akan mengakibatkan bekerjanya
–
tidak
mampu
Hubungan kotak kurang baik
proteksi lain disebelah hulunya
pada sirkit tripping atau
(sebagai remote back up)
terputus.
sehingga dapat mengakibatkan
–
Kemacetan
mekanisme
pemadaman yang lebih luas atau
tripping
bahkan
karena kotor, karat, patah,
(collapse).
588
runtuhnya
sistem
pada
atau meleset.
PMT-nya
–
Kegagalan
PMT
dalam
memutuskan arus gangguan
Penyaluran
yang bisa disebabkan oleh
Jaringan tenaga listrik yang
arus gangguanya terlalu besar
terganggu harus dapat segera
melampaui
kemampuan
diketahui dan dipisahkan dari
pemutusan
(interupting
bagian jaringan lainnya secepat
capability),
atau
mungkin dengan maksud agar
kemampuan pemutusannya
kerugian yang lebih besar
telah menurun, atau karena
dapat dihindarkan.
ada kerusakan.
–
Kekurang
Gangguan pada jaringan
sempurnaan
tenaga listrik dapat terjadi di
rangkaian sistem proteksi
antaranya pada pembangkit,
antara
jaringan transmisi, atau di
lain
hubungan
adanya
kontak
yang
kurang baik.
–
Kegagalan
jaringan distribusi. Penyebab
gangguan tersebut tersebut
saluran
komunikasi tele proteksi.
–
9.4 Gangguan Pada Sistem
Trafo arus terlalu jenuh.
dapat
diakibatkan
oleh
gangguan sistem dan nonsistem.
589
9.4.1 Gangguan Sistem
manual atau otomatis dengan
Gangguan sistem adalah
gangguan
yang
terjadi
di
Autorecloser.
Gangguan
permanen
sistem tenaga listrik seperti
adalah gangguan yang tidak
pada generator, trafo, SUTT,
hilang
SKTT, dan lain sebagainya.
sedangkan untuk pemulihan
Gangguan
diperlukan perbaikan, misalnya
sistem
dikelompokkan
gangguan
dapat
sebagai
permanen
dengan
sendirinya,
kawat SUTT putus.
dan
gangguan temporer. Gangguan
9.4.2 Gangguan Nonsistem
temporer adalah gangguan
PMT terbuka tidak selalu
yang hilang dengan sendirinya
disebabkan oleh terjadinya
bila PMT terbuka, misalnya
gangguan pada sistem, dapat
sambaran
yang
saja PMT terbuka oleh karena
menyebabkan flash over pada
relai yang bekerja sendiri atau
isolator SUTT. Pada keadaan
kabel kontrol yang terluka atau
ini
segera
oleh sebab interferensi dan
dimasukan kembali, secara
lain sebagainya. Gangguan
590
PMT
petir
dapat
seperti ini disebut gangguan
•
kerusakan komponen relai,
bukan pada sistem, selanjutnya
•
kabel kontrol terhubung
disebut gangguan nonsistem.
Jenis gangguan nonsistem
antara lain:
singkat,
•
interferensi/induksi pada
kabel kontrol.
591
9.5 Proteksi Penghantar
transmisi (gardu induk dan
listrik
saluran transmisi) dan jaringan
secara garis besar terdiri dari
distribusi, seperti diperlihatkan
pusat pembangkit,
pada Gambar 9.3.
Jaringan
tenaga
jaringan
Gambar 9.3 Jaringan sistem tenaga listrik
592
Dalam
usaha
meningkatkan
penyediaan
kebutuhan
untuk
Blok diagram sistem proteksi
keandalan
penghantar diperlihatkan pada
energi
sistem
listrik,
Gambar 9. 4.
proteksi
yang memadai tidak dapat
dihindarkan.
Gambar 9.4 Blok diagram sistem proteksi penghantar
593
Proteksi Cadangan sebagai
Sistem proteksi jaringan
(SUTT dan SUTET) terdiri dari
berikut.
proteksi utama dan proteksi
•
Sistem
proteksi
cadangan. Relai untuk proteksi
cadangan lokal: OCR dan
utama yang dikenal saat ini.
GFR
a)
b)
c)
594
Distance Relai
•
Sistem
proteksi
•
Basic atau Step
cadangan jauh: Zone 2 GI
•
PUTT
remote
•
POTT
•
Blocking
Differential Relai
•
Pilot
•
Current
•
Phase
9.6 Sistem Proteksi SUTET
Pada dasarnya, hanya ada
satu pola pengaman SUTET yang
dipakai pada sistem transmisi
500 kV di pulau Jawa, yaitu suatu
Directional Comparison
pola yang menggunakan dua
Relai
Line Protection (LP) berupa
•
Impedance
Distance Relai (Z) + Tele
•
Current
Proteksi (TP) yang identik,
•
Super imposed
disebut LP(a) dan LP(b). Pada
Distance Relai tanpa Tele
setiap LP terdapat Directional
Proteksi,
Earth
Fault
Relai
(DEF)
sebagai komplemennya.
ii)
LP(b) berupa distance Relai +
DEF dengan Tele Proteksi,
Pola ini selanjutnya dilengkapi
yang dibackup oleh sebuah
dengan Reclosing Relai untuk me-
Distance Relai tanpa Tele
lakukan SPAR. Pola ini dipakai di
Proteksi. Pola ini hanya
hampir seluruh SUTET PLN di
digunakan pada SUTET
Jawa dan untuk selanjutnya akan
Saguling-Cirata 1.
disebut sebagai pola standar.
Pola
nonstandar
yang
Namun demikian, di samping
kedua
mempunyai
LP(a)
pola yang standar terdapat
berupa
Phase
dua pola lain yang nonstandar.
yang di backup oleh distance
Comparison
yang
Relai tanpa Tele Proteksi, dan
pertama mempunyai dua LP,
LP(b) berupa distance Relai +
yaitu:
DEF dengan Tele Proteksi
i)
LP(a) berupa Directional
yang dibackup oleh distance
Comparison (DC) dari jenis
relai tanpa Tele Proteksi. Pola
Nonimpedance Relai, yang
ini hanya digunakan pada
di-backup
SUTET Saguling-Cirata 2.
Pola
nonstandar
oleh
sebuah
595
Tabel 9.1 Pola Standar
Pola
LPa
Main
LPb
Backup
Main
Backup
Pola standar
Z + DEF + TP
Z
Z + DEF + TP
Z
Pola
DC
Z
Z + DEF + TP
Z
PC
Z
Z + TP
Z
non standar I
Pola
non standar II
596
9.7 Media Telekomunikasi
Media PLC dapat digunakan
9.8 Relai Jarak (Distance Relai)
Relai
jarak
digunakan
untuk Distance Relai, Comparison
sebagai
Directional Relai, dan Comparison
(main
Phase Relai. Media Fibre Optic
SUTT/SUTET
dapat digunakan untuk Distance
backup untuk seksi di depan. Relai
Relai,
jarak bekerja dengan mengukur
relai
comparison,
directional
relai
phase
pengaman
utama
protection)
pada
dan
sebagai
besaran impedansi (Z) transmisi
comparison, dan relai current
dibagi
differential.
daerah
menjadi
cakupan
beberapa
yaitu
Media Micro Wave dapat
Zone-1, Zone-2, Zone-3, serta
digunakan untuk distance Relai,
dilengkapi juga dengan tele
relai directional comparison, relai
proteksi (TP) sebagai upaya agar
phase comparison, dan relai cur-
proteksi bekerja selalu cepat dan
rent differential. Kabel pilot dapat
selektif
digunakan untuk relai pilot
pengamanannya.
di
dalam
daerah
differential.
597
Gambar .9.5 Daerah pengamanan relai jarak
9.8.1 Prinsip Kerja Relai
Jarak
Relai
impedansi dapat dihitung
menggunakan rumus sebagai
jarak
mengukur
tegangan pada titik relai dan
arus gangguan yang terlihat
dari relai, dengan membagi
besaran tegangan dan arus
berikut.
Vf
Zf = I
f
Di mana:
Z f = Impedansi (ohm)
maka impedansi sampai titik
terjadinya gangguan dapat
ditentukan.
598
Perhitungan
V f = Tegangan (volt)
If = Arus gangguan
Relai jarak akan bekerja
•
Bila
harga
impedansi
dengan cara membandingkan
gangguan lebih besar dari
impedansi
pada impedansi seting relai
terukur
gangguan
dengan
yang
impedansi
seting, dengan ketentuan:
•
Bila
harga
Gambar 9.6 merupakan block
impedansi
ganguan lebih kecil dari pada
impedansi
seting
maka relai akan tidak trip.
diagram relai jarak yang terpasang
di instalasi yang terdiri dari:
relai
maka relai akan trip.
599
Gambar 9.6 Block diagram relai jarak
600
1.
Peralatan tegangan tinggi
(HV apparatus)
2.
•
PMT
•
PMS
•
CT
•
PT Line dan Bus
Marshalling Kios
•
MCB PT
•
MCB sumber AC/DC
•
Terminal rangkaian arus
4.
Panel PLC
•
Sinyal Kirim (carrier
send)
•
Sinyal terima (carrier
reciept)
•
Sinyal CIS
9.8.2 Pengukuran impedansi
gangguan oleh relai
jarak
Menurut jenis gangguan
(CT) dan tegangan (PT).
pada sistem tenaga listrik,
•
Terminal limit switch PMT
terdiri dari gangguan hubung
dan PMS
singkat tiga fasa, dua fasa, dua
•
Terminal rangkaian trip
fasa ke tanah, dan satu fasa ke
dan reclose
tanah. Relai jarak sebagai
3.
Panel Relai
•
MCB AC dan DC
•
Relai Jarak
•
Relai Lock Out
•
Aux. Relai
pengaman utama harus dapat
mendeteksi
gangguan
memisahkan
semua
dan
jenis
kemudian
sistem
yang
601
terganggu dengan sistem yang
Dimana:
tidak terganggu.
ZR = impedansi terbaca oleh relai
V R = tegangan fasa ke netral
IR = arus fasa
9.8.3 Gangguan hubung
singkat tiga fasa
Pada saat terjadi gangguan
tiga fasa yang simetris maka
amplitudo
tegangan
tetap 120 derajat. Impedansi
yang diukur relai jarak pada saat
gangguan
singkat
tiga
sebagai berikut.
fasa
hubung
singkat dua fasa
fasa
VR,VS,VT turun dan beda fasa
terjadi
9.8.4 Gangguan
hubung
adalah
Untuk mengukur impedansi
pada saat terjadi gangguan
hubung
singkat
tegangan
komparator
yang
dua
fasa,
masuk
relai
ke
adalah
tegangan fasa yang terganggu,
sedangkan arusnya adalah
Vrelai = V R
Irelai = IR
VR
ZR = I
R
602
selisih (secara vektoris) arusarus yang terganggu. Maka
pengukuran impedansi untuk
Sehingga,
hubung singkat antara fasa S
ZR = I - I
S
T
VS - VT
dan T adalah sebagai berikut.
Vrelai = VS – VT
Irelai = IS – IT
Tabel 9.2 Tegangan dan Arus Masukan Relai untuk Gangguan
Hubung Singkat Dua Fasa
Fasa yang terganggu
Tegangan
Arus
R–S
VR – Vs
IR – Is
S–T
VS – VT
IS – IT
T–R
VT – VR
IR – IT
603
9.8.5. Gangguan hubung
sedangkan arus fasa terganggu
singkat satu fasa ke
di tambah arus sisa dikali factor
tanah
kompensasi. Misalnya terjadi
gangguan hubung singkat satu
Untuk mengukur impedansi
fasa R ke tanah, maka pengukuran
pada saat hubung singkat satu
impedansi dilakukan dengan
fasa ke tanah, tegangan yang
cara sebagai berikut.
dimasukkan ke relai adalah
tegangan
yang
terganggu,
Tegangan pada relai
:
Vrelai = VR
Arus pada relai
:
Irelai = IR + K0 In
Arus netral
:
In = IR + IS + IT
Kompensasi urutan nol:
604
1
Z
K0 = 3 (Z0 – 1 )
Z2
Tabel 9.3 Tegangan dan arus masukan relai untuk gangguan hubung singkat
satu fasa ke tanah
Fasa yang terganggu
Tegangan
Arus
R–N
VR
IR + K0 In
S–N
VST
IS + K0 In
T–N
VT
IS + K0 In
Impedansi urutan nol akan
timbul pada gangguan tanah.
Adanya
K0
adalah
mengkompensasi
untuk
9.9 Karakteristik Relai Jarak
Karakteristik relai jarak
merupakan
penerapan
adanya
langsung dari prinsip dasar
impedansi urutan nol tersebut.
relai jarak, karakteristik ini
Sehingga
biasa di gambarkan di dalam
impedansi
terukur menjadi benar.
yang
diagram R–X.
605
9.9.1 Karakteristik impedansi
•
mengantisipasi gangguan
Ciri-cirinya:
•
Mempunyai keterbatasan
Merupakan
tanah high resistance.
lingkaran
dengan titik pusatnya di
•
Karakteristik impedan sensi-
tengah-tengah, sehingga
tive oleh perubahan beban,
mempunyai
non-
terutama untuk SUTT yang
Untuk
panjang sehingga jangkauan
sebagai
lingkaran impedansi dekat
sifat
directional.
diaplikasikan
pengaman
SUTT
ditambahkan
perlu
dengan daerah beban.
relai
directional.
Gambar 9.7 Karakteristik Impedansi
606
9.9.2. Karakteristik Mho
•
untuk
Ciri-cirinya:
•
mengantisipasi
gangguan
Titik pusatnya bergeser
tanah
high
resistance.
sehingga mempunyai sifat
directional.
Mempunyai keterbatasan
•
Untuk SUTT yang panjang
dipilih
Zone-3
dengan
karakteristik Mho lensa
geser.
Gambar 9.8 Karakteristik Mho
Z1, Z2 parsial Cross-polarise Mho, Z3 Lensa geser
607
9.9.3 Karakteristik Reaktance
SUTT perlu ditambah relai
Ciri-cirinya:
directional.
•
Karateristik
mempunyai
reaktance
sifat
non-
directional. Untuk aplikasi di
•
Dengan seting jangkauan
resistif cukup besar maka relai
reactance
dapat
mengantisipasi gangguan
tanah dengan tahanan tinggi.
Gambar 9. 10 Karakteristik reaktance dengan starting Mho
608
9.9.4 Karakteristik Quadrilateral
•
resistif cukup besar maka
Ciri-cirinya:
•
Dengan seting jangkauan
karakteristik relai
Karateristik quadrilateral
quadrilateral dapat
merupakan kombinasi dari 3
mengantisipasi gangguan
macam komponen yaitu:
tanah dengan tahanan
reactance, berarah, dan
tinggi.
resistif.
•
Umumnya kecepatan relai
lebih lambat dari jenis Mho.
Gambar 9.11 Karakteristik quadrilateral
609
9.10 Pola Proteksi
Agar gangguan sepanjang
SUTT dapat ditripkan dengan
9.10.1 Pola Dasar
Ciri-ciri Pola dasar:
•
seketika pada kedua sisi ujung
saluran, maka relai jarak perlu
dilengkapi fasilitas teleproteksi.
Tidak ada fasilitas sinyal
PLC
•
Untuk
lokasi
antara 80 – 100% relai akan
bekerja
waktunya
(tertunda).
Gambar 9. 12 Rangkaian logic basic scheme
Keterangan:
Z2 = Timer zone 2
T23 = Timer zone 3
610
gangguan
zone-2
lebih
yang
lambat
9.10.2 Pola PUTT
relai jarak zone-2 bekerja
(Permissive
disertai dengan menerima
Underreach Transfer
sinyal (carrier receipt).
Trip)
•
PLC maka relai jarak
Prinsip Kerja dari pola PUTT:
•
•
Dapat menggunakan
berbeda type dan relai
jarak zone-1.
•
kembali ke pola dasar.
Pengiriman sinyal trip
(carrier send) oleh relai
Bila terjadi kegagalan sinyal
Trip seketika oleh
jarak.
teleproteksi akan terjadi bila
Gambar 9. 13 Rangkaian logic pola PUTT
Keterangan:
CS = sinyal kirim
CR = sinyal terima
Z2
= trip zone 2
TZ2 = waktu trip zone 2
611
9.10.3 Permissive Overreach
relai jarak zone-2 bekerja
Transfer Trip (POTT)
disertai dengan menerima
sinyal (carrier receipt).
Prinsip Kerja dari pola POTT:
•
•
Pengiriman
sinyal
trip
•
Bila terjadi kegagalan sinyal
(carrier send) oleh relai
PLC
jarak zone-2.
kembali ke pola dasar.
Trip
seketika
oleh
teleproteksi akan terjadi bila
•
maka
Dapat
Gambar 9.14 Rangkaian logic Pola POTT
CR = sinyal terima
tZ2 = waktu trip zone-2
612
jarak
menggunakan
berbeda type dan relai
jarak.
Keterangan:
relai
9.10.4 Pola Blocking
disertai dengan tidak ada
(Blocking Scheme)
penerimaan sinyal block
(carrier receipt).
Prinsip kerja dari pola
•
Blocking:
•
jarak zone-3 reverse.
•
PLC maka relai jarak akan
Pengiriman sinyal block
(carrier send) oleh relai
Trip
seketika
Bila terjadi kegagalan sinyal
mengalami mala kerja.
•
Membutuhkan sinyal PLC
cukup half duplex.
oleh
teleproteksi akan terjadi bila
•
Relai jarak yang dibutuhkan
merek dan tipenya sejenis.
relai jarak zone-2 bekerja
Gambar 9. 15 Ranglaian logic blocking scheme
613
9.10.5 Penyetelan Daerah Jangkauan pada Relai Jarak
Gambar 9.16 Daerah penyetelan relai jarak tiga tingkat
Relai jarak pada dasarnya
antara jarak dan waktu kerja
bekerja mengukur impadansi
relai. Penyetelan relai jarak
saluran, apabila impedansi
terdiri
yang terukur/dirasakan relai
pengamanan,
lebih kecil impedansi tertentu
zone-1 dengan waktu kerja
akibat gangguan (Z set < Z F )
relai t 1, zone-2 dengan waktu
maka relai akan bekerja.
kerja relai t2, dan zone-3 waktu
Prinsip ini dapat memberikan
selektivitas
pengamanan,
yaitu dengan mengatur hubungan
614
dari
kerja relai t3.
tiga
daerah
Penyetelan
9.10.6. Penyetelan Zone-1
Dengan mempertimbangkan
adanya kesalahan-kesalahan
dari data saluran, CT, PT, dan
ZL1 = Impedansi saluran berikutnya
yang terpendek (Ω)
Waktu kerja relai t2= 0,4 sampai
dengan 0,8 detik.
peralatan penunjang lain sebesar
10%–20%, zone-1 relai disetel
80 % dari panjang saluran yang
diamankan.
Zone-1 = 0,8 · Z L1 (Saluran)
Waktu kerja relai seketika, (t1= 0)
tidak dilakukan penyetelan waktu.
9.10.7 Penyetelan Zone-2
9.10.8 Penyetelan Zone-3
Prinsip penyetelan zone-3
adalah berdasarkan pertimbangan
pertimbangan sebagai berikut.
Zone-3min = 1,2 (ZL1 + 0,8 · ZL2)
Zone-3mak1 = 0,8 (ZL1 + 1,2.ZL2)
Zone-3mak2 = 0,8 ( ZL1 + k · ZTR )
Prinsip peyetelan Zone-2
adalah berdasarkan pertimbangan
pertimbangan sebagai berikut.
Zone-2mak = 0,8 (ZL1 + 0,8. ZL2)
Dimana:
ZL1 = Impedansi saluran yang
Dimana:
L1 = Impedansi saluran yang
diamankan
ZL2 = Impedansi saluran berikutnya
yang terpanjang
diamankan.
615
Waktu kerja relai t3= 1,2 sampai
2.
dengan 1,6 detik.
Menentukan jenis gangguan
dan memilih fasa yang
terganggu.
9.10.9 Peyetelan Zone-3 Reverse
Prinsip penyetelan starting
dibagi 2, yaitu:
Fungsi penyetelan zone-3 reverse adalah digunakan pada
1.
I fasa-fasa = 1.2 CCC atau ct
saat pemilihan teleproteksi pola
blocking.
Dasar
I fasa-netral = 0.1. CCC
peyetelan
atau ct
zone-3 reverse ada dua jenis
•
Bila Z3 rev memberi sinyal trip.
2.
Starting impedansi:
Zsmin = 1,25 × Zone-3 Zsmax
= 0.5 x kV/(CCC
Zone-3 rev = 1.5 Z2 – ZL1
•
Starting arus lebih :
atau Ct × √3)
Bila Z3 rev tidak memberi
sinyal trip. Zone-3 rev = 2 Z2 –
ZL1
9.10.11 Penyetelan Resistif
Reach
9.10.10 Penyetelan Starting
Fungsi starting relai jarak
adalah:
1.
Mendeteksi adanya
gangguan.
Fungsi penyetelan resistif
reach adalah mengamankan
gangguan yang bersifat high resistance.
Prinsip
resistif
reach
penyetelan
(R b )
tidak
melebihi dari kreteria setengah
beban (
•
1
2
Z beban ).
Untuk system 70 kV:
Rb = 15 × Zone-1 × k0 × 2.
616
•
Untuk system 150 dan 500 kV:
arah gangguan, jika kedua relai
Rb = 8 × Zone-1 × k0 × 2
pada penghantar merasakan
gangguan di depannya maka relai
akan bekerja. Cara kerjanya ada
9.10.12 Directional
yang menggunakan directional
Comparison Relai
Relai
penghantar
yang
prinsip kerjanya membandingkan
impedans, directional current,
dan superimposed.
Gambar 9.17 Directional comparison relai
617
9.11 Current Differential
•
Relai
Relai sejenis pada setiap ujung
saluran.
Prinsip kerja pengaman
Karena ujung-ujung saluran
differensial arus saluran transmisi
transmisi dipisahkan oleh jarak
mengadaptasi prinsip kerja
yang jauh maka masing-masing
diferensial
sisi dihubungkan dengan:
arus,
yang
membedakannya adalah daerah
•
kabel pilot
yang
•
saluran telekomunikasi: micro-
diamankan
cukup
panjang sehingga diperlukan:
•
wave, fiber optic.
Sarana komunikasi antara
ujung-ujung saluran.
Gambar 9.18 Relai arus differensial transmisi
–
Tanpa gangguan atau gangguan eksternal
IA +IB = 0
–
Keadaan gangguan internal
IA +IB ≠ 0 (= IF)
618
9.11.1 Pilot Relai
Gambar 9. 19 Balanced Voltage
Gambar 9. 20 Circulating Current
Umumnya diterapkan untuk
Prinsip
mengatasi kesulitan koordinasi
diferensial
dengan relai arus lebih pada
transmisi yaitu relai diferensial
jaringan yang kompleks atau
dengan circulating current atau
sangat pendek dan kesulitan
relai
koordinasi dengan relai jarak untuk
balanced voltage seperti pada
jaringan yang sangat pendek. Pada
Gambar 9.21.
kerja
arus
diferensial
relai
saluran
dengan
saluran udara faktor pembatas dari
relai ini adalah panjang dari
rangkaian pilot, sedangkan pada
saluran kabel adalah arus charging
kabel dan sistem pentanahan.
9.11.2 Phase Comparison Relai
Prinsip kerja membandingkan sudut fasa antara arus
619
arus
Untuk gangguan di depan:
yang keluar daerah pengaman.
∆Vr ∠–ø rep dan ∆ir mempunyai
Prinsip kerja diperlihatkan pada
polaritas
Gambar 9.21, di mana pada
sedangkan untuk gangguan di
saat gangguan internal output
belakang: ∆Vr ∠–ø rep dan ∆ir
dari comparator memberikan
mempunyai polaritas yang sama
nilai 1.
arah ditentukan dari persamaan:
yang
masuk
dengan
yang
berlawanan
∆op = |∆Vr ∠ –ø rep – ∆ir | – |∆Vr ∠
9.11.3 Superimposed Direc-
–ø rep + ∆ir |
tional Relai
Elemen directional menggunakan sinyal superimposed.
Superimposed = faulted – unfaulted
Selama gangguan tegangan dan
arus berubah sebesar ∆Vr dan ∆ir,
perubahan ini dikenal sebagai
besaran superimposed.
620
Dop positip untuk gangguan
arah depan dan Dop negatip
untuk gangguan arah belakang.
9. 21 Gelombang sudut fasa pada Phase Comparison Relai
621
Gambar 9. 22 Prinsip pengukuran superimposed tegangan dan arus
Gambar 9. 23 Rangkaian pengukuran relai tanah selektif
622
9.11.4 Relai tanah selektif (selection ground Relai)
dirasakan 67G penghantar 1 > 67G
penghantar 2. Apabila salah satu
tanah
pmt penghantar lepas relai 50 G
selektif (50G) dihubungkan seperti
tidak akan bekerja. Setting waktu
pada gambar. Jika ada gangguan
relai 50G umumnya < setting waktu
satu
67G.
Rangkaian
fasa
ke
relai
tanah
pada
penghantar 1 maka relai 50G akan
Relai ini dipasang pada
merasakan gangguan demikian
penghantar dengan sirkit ganda
juga relai directional ground (67G).
dan tidak dapat dioperasikan jika
Penghantar 1 akan trip karena
ada
50G kerja dan arus yang
penghantar tersebut (single phi
pencabangan
dalam
atau single T).
9.11.5 Relai tanah terarah (directional ground relai)
Gambar 9. 24 Rangkaian open delta trafo tegangan
623
Relai arah hubung tanah
a.
Sistem proteksi cadangan
memerlukan operating signal
lokal
dan polarising signal. Operating
protection system).
signal diperoleh dari arus
Proteksi cadangan lokal
residual melalui rangkaian trafo
adalah proteksi yang dicadangkan
arus penghantar (Iop = 3Io)
bekerja bilamana proteksi utama
sedangkan polarising signal
yang sama gagal bekerja.
diperoleh
Contohnya : penggunaan OCR
dari
tegangan
residual. Tegangan residual
dapat diperoleh dari rangkaian
sekunder open delta trafo
tegangan seperti pada Gambar
9.25.
(local
back
up
atau GFR.
b.
Sistem proteksi cadangan
jauh
(remote
back
up
protection system)
Proteksi cadangan jauh
VRES = VAG + VBG + VCG = 3Vo
adalah
proteksi
yang
dicadangkan bekerja bilamana
proteksi utama di tempat lain
gagal
9.11.6 Relai cadangan
(back up protection)
Diperlukan apabila proteksi
utama tidak dapat bekerja atau
terjadi gangguan pada sistem
proteksi utama itu sendiri. Pada
dasarnya
sistem
proteksi
cadangan dapat dibagi menjadi
dua katagori, yaitu:
624
bekerja.
cadangan
lokal
diusahakan
waktunya
Proteksi
dan
jauh
koordinasi
dengan
proteksi
utama di tempat berikutnya.
Koordinasi
waktu
dibuat
sedemikian hingga proteksi
cadangan dari jauh bekerja
lebih
dahulu
dari
proteksi
cadangan lokal. Hal ini berarti
tenaga (circuit breaker) dan
bahwa kemungkinan sekali
waktu kirim sinyal teleproteksi.
bahwa proteksi cadangan dari jauh
Fault clearing time menurut SPLN
akan bekerja lebih efektif dari
52-1 1984 untuk sistem 150 kV
proteksi cadangan lokal.
sebesar 120 ms dan untuk sistem
Dengan penjelasan di atas
berarti
70 kV sebesar 150 ms.
bahwa
waktu
Besaran fault clearing time
bagi
proteksi
berhubungan dengan mutu
cadangan lokal cukup lama
tenaga listrik di sisi konsumen,
sehingga
sekali
batasan Kedip menurut SE
mengorbankan
kemantapan
Direksi PT PLN (PERSERO)
sistem
keselamatan
No. 12.E/012/DIR/2000 adalah
penundaan
mungkin
demi
peralatan. Dengan demikian
140
ms
untuk
bekerjanya
berarti pula bahwa proteksi
proteksi utama sistem 150 kV
cadangan lokal hanya sekedar
dan 170 ms untuk bekerjanya
proteksi cadangan terakhir
proteksi utama di sistem 70 kV,
demi keselamatan peralatan.
sedangkan
untuk
proteksi
cadangan maksimum sebesar
9.11.7 Operating time dan fault
clearing time
Kecepatan
500 ms.
Fault clearing time proteksi
pemutusan
cadangan sebesar 500 ms
gangguan (fault clearing time)
dapat
terdiri dari kecepatan kerja
memanfaatkan
(operating
Relai,
cadangan zone 2 distance
pemutus
Relai dari GI remote. Dari
kecepatan
time)
buka
dicapai
dengan
proteksi
625
kedua hal di atas maka untuk
dan reach setting 80% sebesar
PLN UBS P3B fault clearing
≤ 50 ms.
time di sistem 150 kV adalah
120 ms untuk bekerja proteksi
utama dan 500 ms untuk
9.11.8 Relai Proteksi Busbar
Sebagai proteksi utama
bekerja proteksi cadangan,
sedangkan di sistem 70 kV
adalah 150 ms untuk bekerja
proteksi utama dan 500 ms
untuk
bekerja
proteksi
memenuhi
fault
clearing time di atas maka
perlu
ditetapkan
operating
itu
sendiri.
yang berfungsi mengamankan
pada busbar tersebut terhadap
gangguan
yang
terjadi
di
busbar itu sendiri.
cadangan.
Untuk
Busbar adalah relai differensial,
time
batasan
dari
Dengan
pertimbangkan
Konfigurasi
1.
3
Busbar
tunggal
(Single
ganda
(Double
Busbar).
2.
Busbar
Busbar).
waktu
kerja pmt dan waktu yang
ada
macam:
relai
mem-
Busbar
3.
Busbar 1,5 PMT.
diperlukan teleproteksi maka
operating time relai proteksi
Gangguan pada busbar relatif
utama di sistem 150 kV adalah
jarang (kurang lebih 7% )
tipikal ≤ 30 ms dan pada SIR
dibandingkan
10 dan reach setting 80%
gangguan pada penghantar
sebesar ≤ 40 ms, sedangkan di
(kurang
sistem 70 kV adalah
keseluruhan gangguan
tipikal
≤ 35 ms dan pada SIR 10
626
lebih
dengan
60%)
[1]
dari
tetapi
dampaknya akan jauh lebih
besar
dibandingkan
gangguan
pada
penghantar,
terutama jika pasokan yang
terhubung
1.
ke
pembangkit
(pada basic time).
2.
yang
dapat
3.
4.
seksi yang terganggu.
a.
kerusakan instalasi,
b.
timbulnya masalah stabilitas
dimungkinkan OCR dan
GFR di sistem bekerja
sehingga
pemutusan
menyebar.
Imune terhadap mala kerja,
banyak PMT.
Jenis/pola
busbar
banyak
proteksi
ragamnya,
tetapi yang akan di bahas di sini
Persyaratan
busbar adalah:
5.
karena proteksi ini mentripkan
transient,
diperlukan
Selektif, hanya mentripkan
PMT-PMT yang terhubung ke
diputuskan antara lain:
c.
Tidak bekerja untuk gangguan
di luar daerah proteksinya.
ditimbulkan oleh gangguan di
bus jika gangguan tidak segera
Bekerja untuk gangguan di
daerah proteksinya.
tersebut cukup besar.
Dampak
Waktu pemutusan yang cepat
untuk
yang
proteksi
adalah
proteksi
busbar
diferensial dengan jenis low
impedans dan high impedans.
627
Gambar 9.25 Wiring diagram sistem proteksi untuk konfigurasi double busbar
9. 12 Proteksi Transformator
transformator
hanya
me-
Tenaga
lokalisasi
Proteksi transrmator daya
terjadi di dalam petak/bay
terutama
mencegah
bertugas
untuk
gangguan
yang
transformator saja.
kerusakan
transformator sebagai akibat
9.12.1 Tujuan pemasangan
adanya gangguan yang terjadi
Relai proteksi Trafo
dalam petak/bay transformator,
Tenaga
di samping itu diharapkan juga
Maksud
agar pengaman transformator
pemasangan
dapat
pada
berpartisipasi
dalam
penyelenggaraan selektifitas
sistem, sehingga pengamanan
628
dan
tujuan
relai
proteksi
transformator
daya
adalah untuk mengamankan
peralatan/sistem
sehingga
dihindari atau dibatasi se-
gangguan
minimum mungkin dan bagian
dapat dihindari atau dikurangi
sistem lainnya tetap dapat
menjadi
beroperasi.
kerugian
akibat
sekecil
mungkin
dengan cara:
1.
4.
Mencegah
kerusakan
cadangan bagi instalasi
transformator akibat adanya
gangguan/ketidak normalan
yang
terjadi
pada
transformator
gangguan
adanya
gangguan atau keadaan
dapat
lainnya
yang
membahayakan
peralatan atau sistem.
Memberikan
pelayanan
keandalan dan mutu listrik yang
terbaik kepada konsumen.
6.
Mendeteksi
abnormal
5.
bay
transformator.
2.
lainnya.
atau
pada
Memberikan pengamanan
Mengamankan
terhadap
manusia
bahaya
ditimbulkan oleh listrik.
9.12.2 Gangguan pada trafo
tenaga
Gangguan
3.
yang
pada
Melepaskan (memisahkan)
transformator daya tidak dapat
bagian
yang
kita hindari, namun akibat dari
yang
gangguan
sistem
terganggu
mengalami
atau
keadaan
abnormal lainnya secepat
mungkin
sehingga
kerusakan instalasi yang
terganggu atau yang dilalui
arus
gangguan
tersebut
diupayakan
harus
seminimal
mungkin dampaknya.
Ada dua jenis penyebab
gangguan pada transformator,
dapat
629
yaitu gangguan eksternal dan
–
gangguan internal.
1.
Ganggauan eksternal
kerusakan bushing,
–
terkontaminasi,
gangguannya berasal dari luar
transformator,
kebocoran minyak
atau minyak,
Gangguan eksternal sumber
pengamanan
gangguan tap changer
–
suhu lebih.
tetapi dampaknya dirasakan
oleh transformator tersebut,
9.12.3 Sistem pentanahan titik
di antaranya
–
Netral trafo tenaga
gangguan hubung singkat
Adapun tujuan pentanahan titik
pada jaringan
netral transformator daya sebagai
–
beban lebih
berikut.
–
surja petir.
1.
2.
Gangguan internal
Gangguan internal adalah
busur api pada suatu sistem.
2.
yang sehat).
transformator, diantaranya:
3.
fasa terhadap ground
antar Belitan transformator,
–
gangguan pada inti
transformator,
630
Meningkatkan keandalan
(realibility) pelayanan dalam
belitan,
–
tegangan-
tidak terganggu (pada fasa
daerah pengamanan/petak bay
gangguan antar fasa pada
Membatasi
tegangan pada fasa yang
gangguan yang bersumber dari
–
Menghilangkan gejala-gejala
penyaluran tenaga listrik.
4.
Mengurangi/membatasi
tegangan lebih transient
yang
disebabkan
oleh
penyalaan bunga api yang
berulang-ulang
e.
yang impedansinya dapat
(restrike
berubah-ubah (resonant
ground fault).
5.
Memudahkan
Pentanahan melalui reaktor
grounding) atau
dalam
menentukan sistem proteksi
pentanahan dengan
serta memudahkan dalam
kumparan Petersen
menentukan
(Petersen Coil).
lokasi
gangguan.
9.12.5 Jenis proteksi trafo
tenaga
9.12.4 Metoda pentanahan titik
Trafo tenaga diamankan
netral trafo tenaga
Metoda pentanahan titik
netral
transformator
daya
adalah sebagai berikut.
a.
Pentanahan mengambang
(floating grounding).
b.
c.
d.
dari
berbagai
macam
gangguan, di antaranya dengan
peralatan
SPLN
proteksi
52-1:1983
(sesuai
Bagian
Satu, C):
•
Relai arus lebih
tahanan (resistance
•
Relai arus hubung tanah
grounding).
•
Relai beban lebih
Pentanahan melalui reaktor
•
Relai tangki tanah relai
Pentanahan melalui
(reactor grounding).
gangguan tanah terbatas (Re-
Pentanahan langsung
stricted Earth Fault)
(effective grounding).
•
Relai suhu
•
Relai Bucholz
•
Relai Jansen
631
•
Relai tekanan lebih
•
Lightning arrester
•
Relai suhu
•
Relle differensial
Gambar 9. 26 Blok diagram proteksi trafo tenaga
632
9.13. Relai Arus Lebih (Over
9.13.1 Relai gangguan
tanah terbatas
Current Relay)
(restricted earth fault
Relai ini berfungsi untuk
relay)
mengamankan transformator
terhadap gangguan hubung
Mengamankan transformator
singkat antarfasa di dalam
terhadap tanah di dalam daerah
maupun
pengaman
di
pengaman
seperti
luar
daerah
transformator,
terlihat
pada
foto
transformator
khususnya untuk gangguan
di
dekat
titik
netral
yang
tidak dapat dirasakan oleh
di bawah ini.
Relai differensial.
9.13.2 Relai arus lebih berarah
Directional over current
Relai atau yang lebih dikenal
dengan Relai arus lebih yang
mempunyai
Gambar 9.27 Relai arus lebih
Juga diharapkan relai ini
mempunyai sifat komplementer
dengan relai beban lebih. Relai
ini berfungsi pula sebagai
pengaman
cadangan
bagian instalasi lainnya.
bagi
arah
tertentu
merupakan relai pengaman
yang bekerja karena adanya
besaran arus dan tegangan
yang dapat membedakan arah
arus
gangguan.
terpasang
tegangan
menengah
Relai
ini
pada
jaringan
tinggi,
tegangan
juga
pada
633
pengaman
transformator
rangkaian Open-Delta, tetapi
tenaga dan berfungsi untuk
tidak menutup kemungkinan
mengamankan peralatan listrik
ada
akibat
koneksi langsung 3 Phasa.
adanya
gangguan
yang
phasa-phasa maupun phasa
Untuk
ke tanah.
tersebut
Relai ini mempunyai 2 buah
parameter ukur yaitu tegangan
dan arus yang masuk ke dalam
relai untuk membedakan arah
arus ke depan atau arah arus
phasa
menggunakan
membedakan
maka
dari
arah
salah
arus
dibandingakan
satu
harus
dengan
Tegangan pada phasa yang
lain.
•
Relai connections
Adalah sudut perbedaan
ke belakang.
antara
Pada pentanahan titik netral
arus
dengan
tegangan masukan relai
trafo dengan menggunakan
pada power faktor satu.
tahanan, relai ini dipasang
pada
penyulang
Bekerjanya
20
relai
KV.
ini
•
Relai maximum torque angle
Adalah perbedaan sudut
berdasarkan adanya sumber
antara
arus dari ZCT (Zero Current
tegangan pada relai yang
Transformer)
menghasilkan
dan
sumber
tegangan dari PT (Potential
Transformers).
Sumber
umumnya
634
tegangan
PT
menggunakan
maksimum.
arus
dengan
torsi
Gambar 9.28 Diagram phasor Torsi
9.13.3
Relai gangguan
sedangkan polarising signal
hubung tanah
diperoleh
dari
tegangan
Relai ini berfungsi untuk
residual. Tegangan residual
mengamankan transformator
dapat diperoleh dari rangkaian
gangguan
sekunder open delta trafo
hubung
tanah,
di dalam dan di luar daerah
tegangan
pengaman transformator. Relai
Gambar 9.24.
arah
hubung
tanah
memerlukan operating signal
dan
polarising
seperti
pada
VRES = VAG + VBG + VCG = 3Vo
signal.
Operating signal diperoleh dari
arus
residual
rangkaian
penghantar
melalui
trafo
(Iop
arus
=
3Io)
635
9.14 Proteksi Penyulang 20 KV
9.14.3 Relai hubung tanah
(ground fault relay)
Jenis Relai proteksi yang
terdapat pada penyulang 20 kV
sebagai berikut.
Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM atau SKTM
dari gangguan tanah. Relai
beban lebih (Over Load Relai)
9.14.1 Relai arus lebih (over
current relai)
Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM terhadap
dipasang
yang
pada
SKTM
berfungsi
untuk
memproteksi SKTM dari kondisi
beban lebih.
gangguan antarfasa atau tiga
fasa.
9.14.4 Relai penutup balik
(reclosing relay)
9.14.2 Relai arus lebih berarah
(directional OCR)
Relai ini berfungsi untuk
memproteksi SUTM terhadap
gangguan antarfasa atau tiga
Relai ini berfungsi untuk
fasa dan hanya bekerja pada
memproteksi SUTM terhadap
satu arah saja. Karena Relai ini
gangguan antarfasa atau tiga
dapat membedakan arah arus
fasa dan hanya bekerja pada
gangguan.
satu arah saja. Karena Relai ini
dapat membedakan arah arus
gangguan.
636
9.14.5 Relai frekwensi kurang
DFR akan bekerja secara
(under freqwency relay)
real time untuk memonitor
Relai ini berfungsi untuk
kondisi listrik dan peralatan
melepas SUTM atau SKTM bila
terkait lainnya pada saat terjadi
terjadi penurunan frekwensi
gangguan, karena menggunakan
system.
sistem digital maka semua data
dikonversikan ke bentuk digital
dan disimpan di memori, hasil
9.15 Disturbance Fault
monitor tersebut akan tersimpan
Recorder (DFR)
Disturbance Fault Recorder
(DFR) suatu alat yang dapat
secara
permanen
bentuk
hasil
dan frekuensi (Hz) pada saat
sebelum, selama dan setelah
sudah
merupakan
kebutuhan,
yang
Recorder (DFR ).
•
gangguan.
akhirnya
yang
membantu
Mengetahui lamanya
dapat
time).
sistem proteksi serta peralatan
lainnya
•
gangguan (fault clearing
sistem tenaga listrik termasuk
terkait
Mendeteksi penyebab
suatu
membantu merekam data dari
pada
dalam
di
Manfaat Disturbance Fault
gangguan Disturbance Fault
Recorder (DFR) yang saat ini
cetakan
kertas dan data memori.
mengukur dan merekam besaran
listrik seperti arus (A), tegangan (V)
dalam
•
Mengetahui besaran listrik
seperti Arus (A),
Tegangan (V) dan
Frekuensi (F).
analisa dan memastikan bahwa
sistem telah bekerja dengan
baik.
637
•
•
Mengetahui unjuk kerja
•
Time Synchronizing (GPS).
sistem proteksi terpasang.
•
Master Station.
Melihat harmonik dari sistem
•
Monitoring Frekuensi.
•
DC Monitoring
tenaga Listrik.
•
Melihat apakah CT normal/
tidak (jenuh).
•
•
Bagian dari DFR (Distur-
Memastikan bahwa PMT
bance Fault Recorder):
bekerja dengan baik.
DAU (Data Acquisition Unit), AC/
Dokumentasi Pengembangan
DFR
DC Power Supply
Communication Channel, Sistem
Alarm.
Gambar 9.29 Disturbance fault recorder
638
Mencetak/print out ulang
menggunakan tombol panah
Record gangguan yang pernah
direkam:
•
•
ke atas/ke bawah.
•
Apabila nomor record yang
DFR II harus dalam kondisi
akan
dicetak
Manual Mode.
diperagakan,
sudah
maka
kita cukup menekan tombol
Tekan tombol Record Select
Enter.
display akan tampil Record
Select.
•
Tekan kunci panah ke bawah,
Mencetak Setup Parameter
•
display tampil:
Manual Mode.
Rec No.
•
Setelah ini tekan / masukkan
•
Tekan tombol Print Setup.
nomor
•
Tekan tombol panah ke
yang
diinginkan
kemudian tekan tombol Enter.
bawah kemudian printer akan
Printer akan bekerja, dan layar
bekerja.
akan terbaca Printing.
•
•
Tekan
sampai
selesai
Tunggu sampai selesai
mencetak, atau Cancel untuk
mencetak, atau cancel untuk
membatalkan
membatalkan.
•
DFR II harus dalam kondisi
•
Jangan lupa kembali ke Auto
Jangan lupa kembali ke Auto
setelah selesai, dengan
setelah selesai, dengan
tombol Auto.
tombol Auto.
•
Kita dapat juga memilih
nomor
record
dengan
639
9.16 Basic Operation
yang menyala, maka lihat
Switch on: Menyalakan DFR
petunjuk
Pertama kali dinyalakan
DFR
II
akan
trouble
shooting.
memeriksa
keadaan di dalam rangkaian
elektroniknya dan menghitung
9.16.1 Automatic Mode:
Posisi DFR
memorinya sampai 4096 KB.
Setelah
bagian
semuanya
siap/otomatis
dalam
kondisi baik, maka secara
Pada
kondisi
jam
dan
otomatis display/peragaan di
nomor record tampil dilayar,
DFR II akan menampilkan jam
dan Status Indicator Led Auto
dan nomor record yang ada di
menyala, kondisi ini disebut
dalam DFR.
Automatic Mode. Dalam kondisi
Apabila kita ingin mem-
ini semua key kecuali Manual
percepat pemeriksaan dan test
Mode dan Reset Alarm dan
memory,
tombol
Sensor Target tidak dapat
panah ke bawah dan display
difungsikan. Pada posisi ini
akan menampilkan Jam dan
DFR dalam keadaan siap akan
Rec No.
merekam data gangguan/fault
Misalnya:
secara otomatis.
JJ : MM : SS REC . . . .
Catatan:
tekan
15 : 06:32 REC 041
Dalam kondisi ini Lampu
Setelah itu tekan tombol
Status Indicator yang menyala
reset alarm indicator, maka
adalah: Auto dan Data Memory
seluruh lampu alarm indicator
(kalau
harus padam/tidak menyala.
Lampu Status Indicator lain ada
Apabila ada alarm indicator
640
ada
data).
Apabila
Dari kondisi Automatic kita
yang menyala, berarti ada
gangguan
di
dalam
DFR,
contoh lampu Off Line, artinya
dapat merubah ke kondisi
manual dengan cara:
DFR dalam keadaan tidak siap
merkam. Lihat bagian Trouble
Shooting.
Tekan
pada
tombol
display
Manual,
akan
tampil
Manual Mode. Berarti kita
sudah ada pada posisi Manual
9.16.2 Manual mode:
posisi manual
dan Lampu Status Manual
akan menyala.
operation
Merubah ke kondisi manual
9.16.4. Kembali
ke
posisi/
dirubah/dioperasikan
kondisi automatic mode
oleh operator/manusia. Pada
Untuk kembali ke posisi
untuk
posisi ini kita dapat:
•
Merubah Parameter dari
DFR.
•
•
automatic mode, setelah kita
selesai dengan posisi manual
mode, kita harus kembali ke
tampilan layar manual mode,
Melakukan pengetesan/
yaitu dengan menekan tombol
pemeriksaan komponen
cancel
elektronis.
(tergantung
Meminta rekaman data,
kita sedang berada). Lalu tekan
ataupun memanipulasikan
tombol Auto, maka pada layar
data rekaman.
akan tampil JAM dan Record
No
beberapa
untuk
diposisi
kali
mana
mempercepat
641
peragaan, tekan tombol panah ke
diikuti dengan perubahan
bawah atau cancel.
status input digital.
5.
Cara menganalisa:
1.
Pada kondisi normal, arus
dapat dilihat status PMT
dan
sebagai input digital yang
tegangan
akan
berubah.
menggambarkan sinusoidal
6.
(50 Hz) yang sempurna.
2.
Setiap
trigger
karena
Besaran arus dan tegangan
perubahan status input
tersebut
digital,
dapat
diukur
DFR
akan
memperhatikan
menggambarkannya pada
skala rekaman, serta ratio
bagian digital, di mana
CT dan PT.
garisnya
dengan
3.
Bila PMT juga bekerja, maka
Setiap
trigger
karena
akan
berubah
menjadi terputus.
besaran analog yang diluar
normal,
DFR
akan
menggambarkan
pada
bagian
4.
sensor
digital,
9.17 Auto Recloser
Saluran udara tegangan tinggi
(SUTT/SUTET)
serta bentuk sinusoidal
salah satu bagian sistem yang
arus/tegangan akan berubah
paling
menjadi lebih besar atau
gangguan, sebagian besar dari
Lebih kecil.
sumber gangguan tersebut
Apabila perubahan besaran
(sekitar
analog ini diikuti dengan
temporer [2] yang akan segera
bekerjanya proteksi maka
hilang setelah pemutus tenaga
(PMT)
642
merupakan
sering
80%)
trip.
mengalami
bersifat
Agar
pelayanan/
tidak tepat dapat menimbulkan
suplai energi listrik tetap terjaga
kerusakan pada peralatan,
serta batas stabilitas tetap
sehingga dapat menimbulkan
terpelihara maka PMT dicoba
dampak pemadaman meluas
masuk kembali sesaat setelah
serta waktu pemulihan yang
kejadian trip diatas. Dengan
lebih lama.
kesinambungan
memasukan kembali PMT ini
diharapkan dampak gangguan
yang bersifat temporer tersebut
dapat
dikurangi.
9.17.1 Kaidah penyetelan A/R
penentuan dead time
Untuk
Penentuan dead time harus
mengurangi dampak gangguan
tersebut terhadap keandalan
penyediaan
tenaga
listrik,
mempertimbangkan hal berikut.
a.
khususnya pada saat terjadi
gangguan
temporer,
maka
pada SUTT/SUTET tersebut
sistem
•
recloser
meningkatkan
dan
frekuensi)
konsumen
terjadi padam dapat dikurangi.
Namun
sebaliknya,
operasian
satu sumber (pembangkit
availability
hal ini berarti peluang (lama
A/R
tetapi
yang memiliki lebih dari
dapat
(ketersediaan) SUTT/SUTET,
radial
berpengaruh pada jaringan
auto-
diharapkan
Tidak berpengaruh pada
jaringan
dipasang auto recloser (A/R).
Pengoperasian
Stabilitas dan sinkronisasi
atau IBT).
•
Dead time dipilih sesuai
dengan kebutuhan sistem dan
keamanan peralatan.
pengsecara
643
b.
Karakteristik PMT
•
Waktu de-ionisasi udara
seperti Tabel 9.4.
Waktu yang diperlukan oleh
PMT untuk trip dan reclose
harus
diperhitungkan,
khususnya untuk A/R cepat.
Tabel 9.4 Waktu De-ionisasi Udara
Tegangan Sistem (kV)
Waktu De-ionisasi (detik)
66
0,1
110
0,15
132
0,17
220
0,28
275
0,3
400
0,5
644
•
•
Operating time PMT
proteksi, namun untuk basic
(0.05 - 0.1 detik).
time
Waktu reset mekanik PMT
pertimbangan
(0.2 detik).
diperlukan.
2)
Selain
itu
pengaruh
(instanteneous)
Reclaim
ini
time
tidak
harus
memperhitungkan waktu
penurunan kemampuan PMT
yang
karena
harus
mekanisme closing PMT
dalam
agar PMT tersebut siap
umur
dipertimbangkan
diperlukan
oleh
menentukan pola dan waktu
untuk
operasi (lambat atau cepat)
Umumnya untuk sistem
A/R.
hidraulik memerlukan waktu
reclose
kembali.
10 detik.
c.
Karakteristik peralatan
proteksi
Harus
diperhitungkan
waktu yang dibutuhkan untuk
reset peralatan proteksi.
e.
Kriteria setting untuk SPAR
1)
Dead time
–
lebih kecil dari setting
discrepancy dan setting
d.
Penentuan reclaim time
1)
Reclaim time harus lebih
lama dari waktu kerja relai
GFR.
–
Lebih
besar
operating
PMT,
waktu
dari
time
reset
645
mekanik PMT, dan waktu
2)
pemadaman busur api
kedua sisi
+ waktu deionisasi udara.
–
Seting berbeda untuk
–
Tipikal set 0,5 – 1 detik.
Untuk sumber di kedua
sisi maka sisi dengan
fault level rendah reclose
2)
terlebih dahulu baru
Reclaim time
–
kemudian sisi lawannya.
Memberi kesempatan
–
PMT untuk kesiapan
Untuk sumber di satu sisi
(radial double sirkit) bila
siklus O-C-O berikutnya.
tidak terdapat S/C untuk
–
Tipikal 40 detik.
operasi manual yang
terpisah dari S/C untuk A/
R maka untuk keperluan
f.
Kriteria seting untuk TPAR
1)
Dead time
–
manuver operasi, reclose
pertama dapat dilakukan
dari sisi sumber.
Lebih besar dari operating
time PMT, waktu reset
mekanik PMT, dan waktu
pemadaman busur api +
waktu de-ionisasi udara.
3)
SUTT yang tersambung ke
pembangkit
–
A/R untuk SUTT yang
kedua sisi tersambung ke
–
646
Tipikal set 5 – 60 detik.
pembangkit maka pola
yang
dipilih
(inisiate
TPAR
a.
gangguan
atau beberapa saat setelah
1 fasa) dengan setting
dead time lebih lama.
–
PMT ditutup secara manual.
b.
Failure (CBF) atau Direct
sisi
Transfer Trip (DTT).
yang
tersambung
ke
dipilih
TPAR
c.
pembangkit disetting
d.
DL/DB out.
Reclaim time
PMT trip oleh Switch On To
Fault (SOTF).
e.
Bila relai proteksi SUTT tidak
dilengkapi dengan fungsi
Memberi kesempatan
SOTF,
PMT untuk kesiapan
maka
ditambahkan
siklus O-C-O berikutnya.
–
PMT trip oleh pengaman
cadangan (Z2, Z3, OCR/GFR).
dengan pola S/C di sisi
–
PMT trip oleh Circuit Breaker
SUTT yang hanya satu
pembangkit maka pola
4)
PMT dibuka secara manual
perlu
sirkit
A/R blok untuk menunda fungsi
Tipikal 40 detik.
A/R setelah PMT dimasukan
secara manual. Lama waktu
g.
Faktor teknis dalam
tunda sirkit A/R blok akan
pengoperasian auto
ditentukan kemudian.
reclose (A/R)
f.
Auto recloser tidak boleh
bekerja pada kondisi, sebagai
berikut.
PMT trip oleh out of step protection.
g.
Terjadi
ketidaknormalan
peralatan teleproteksi di sisi
terima.
647
Auto Recloser tidak boleh
h.
Faktor yang mempengaruhi
dioperasikan pada:
pola
–
SKTT
Auto Recloser Pemilihan
–
SUTT yang tersambung ke
trafo dengan sambungan T.
Mempertimbangkan dampak
pola
single
phase
auto
reclosing (SPAR) atau three
phase auto reclosing (TPAR)
dengan waktu reclose cepat
terhadap kerusakan peralatan
atau
pada saat gangguan permanen
mempertimbangkan
maka A/R dioperasikan hanya
stabilitas sistem, karaktesitik
dengan single shot.
PMT dan peralatan proteksi
Pola
A/R
yang
dapat
lambat
harus
batas
yang digunakan. Pertimbangan
ini menyangkut besarnya nilai
diterapkan adalah:
setelan untuk dead time dan
–
Auto Recloser cepat untuk 1
reclaim time.
(satu) fasa, 3 (tiga) fasa dan 1
Pemilihan pola single phase
+ 3 (satu atau tiga) fasa.
auto reclosing (SPAR) atau
–
Auto Recloser lambat untuk
three phase auto reclosing
3 (tiga) fasa
(TPAR) dengan waktu reclose
Pemilihan
dengan
pola
mempertimbangkan
batasan-batasan
dijelaskan di bawah ini.
648
diatas
yang
cepat
atau
lambat
harus
mempertimbangkan konfigurasi
jaringan seperti berikut.
a.
Jaringan radial sirkit tunggal.
b.
Jaringan radial sirkit ganda.
c.
Jaringan looping sirkit tunggal.
d.
Jaringan looping sirkit ganda.
i.
Pengoperasian high
speed auto recloser
Pengoperasian A/R cepat
dapat
Pemilihan pola A/R dengan
waktu
reclose
cepat
atau
lambat harus mempertimbangkan persyaratan pada kedua ujung
persyaratan
Kemungkinan reclose pada
gangguan permanen.
b.
a.
c.
d.
bawah
ini
Siklus kerja (duty cycle) dari
PMT sesuai untuk operasi
dengan A/R cepat.
b.
Sistem proteksi di semua
ujung saluran bekerja pada
Kemungkinan gagal sinkron
pada saat reclose.
di
bila
dipenuhi, sebagai berikut.
saluran antara lain:
a.
diterapkan
basic time/ instantenous.
c.
Kemampuan poros turbin
Salah satu sisi tersambung ke
(terutama yang berporos
unit pembangkit.
panjang) dan belitan stator
Penutupan dua PMT yang
generator perlu diperhatikan,
tidak serentak.
sehingga pengoperasian high
speed A/R 3 fasa pada
SUTT/SUTET
di
GI
pembangkit atau yang dekat
pembangkit
dilakukan
setelah
kepastian
ada
bahwa operasi high speed
A/R
3
fasa
tidak
649
membahayakan turbin dan
generator.
d.
Operasi high speed A/R 3
(tiga) fasa khususnya pada
sistem 500 KV (SUTET)
Penerapan A/R cepat 3
(tiga) fasa Dapat diterapkan
pada konfigurasi atau sistem
berikut.
•
tidak boleh diterapkan bila
hasil studi menunjukan
bahwa high speed reclosing
tunggal atau ganda.
•
SUTT jaringan looping sirkit
tunggal atau ganda.
akan dapat menimbulkan
tegangan lebih transien
SUTT jaringan radial sirkit
•
Pengoperasian high speed
yang melebihi nilai desain
A/R 3 fasa, di samping
yang diizinkan.
memberikan keuntungan
pada
Penerapan A/R cepat 1(satu)
sistem
memperbaiki
fasa Dapat diterapkan pada
margin,
konfigurasi atau sistem berikut.
terjadinya
yaitu
stability
mengurangi
pembebanan
kritis akibat gangguan pada
a.
SUTET
b.
SUTT jaringan radial sirkit
saluran interkoneksi, juga
tunggal atau ganda.
memberikan risiko berupa
c.
SUTT jaringan looping sirkit
tunggal atau ganda.
SUTT/SUTET maupun pada
kemungkian
terjadinya
gangguan yang lebih parah
bila operasi A/R pada saat
ada gangguan permanen.
Dengan demikian maka
pengoperasian high speed
650
A/R 3 (tiga) fasa harus
memberikan manfaat yang
didahului dengan keyakinan
besar dengan resiko yang
(berupa hasil studi) bahwa
kecil.
pengoperasian A/R akan
651
CATATAN
652
CATATAN
653
CATATAN
654
BAB X
PEMELIHARAAN SUTT/SUTET BEBAS TEGANGAN
Pengertian Pemeliharaan
Saluran Udara Tegangan
Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara
adalah kegiatan yang meliputi:
Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET)
–
Perawatan/pemeriksaan
adalah sarana instalasi tenaga
–
Perbaikan
listrik di atas tanah untuk
–
Penggantian
menyalurkan tenaga listrik dari
–
Pengujian
pusat pembangkit ke Gardu Induk
(GI) atau dari GI ke GI lainnya
10.1 Tujuan Pemeliharaan
(antar-GI).
–
kemampuan kerja peralatan.
SUTT/SUTET merupakan
peralatan
buatan
manusia.
–
baik
karena
salah
–
maupun
telah
melampaui masa kerjanya (life
Menghilangkan, mengurangi
risiko kerusakan.
pengoperasian, kesalahan saat
konstruksi
Memperpanjang live time
peralatan.
Peralatan ini pada dasarnya bisa
rusak
Mempertahankan
–
Mengembalikan
kemampuan kerja peralatan.
time).
655
–
–
Mengurangi kerugian secara
peralatan (condition base
ekonomis.
maintenance/CBM)
Memberi
keyakinan
keandalan operasinya.
10.2.1 Pemeliharaan rutin
Pemeliharaan rutin merupakan
10.2 Jenis-Jenis Pemeliharaan
Banyak metoda pemeliharaan
kegiatan/usaha yang secara
periodik
dilakukan
untuk
yang dilakukan mulai dari yang pal-
mempertahankan
ing sederhana hingga yang rumit.
jaringan agar selalu dalam
Beberapa jenis pemeliharaan
keadaan
antara lain:
keandalan dan daya guna yang
–
optimal.
Pemeliharaan rutin
(preventive maintenance)
–
–
pelaksanaannya
pemeliharaan rutin terdiri dari:
(corrective Maintenance)
–
Pemeliharaan tahunan
Pemeliharaan darurat
–
Pemeliharaan lima tahunan
Pemeliharaan yang
berdasar kondisi/karakter
656
dengan
Pemeliharaan Korektif
(emergency maintenance)
–
Dalam
baik
kondisi
10.2.2 Pemeriksaan rutin
10.2.2.1 Ground patrol
Ground patrol adalah jenis
Pemeriksaan rutin merupakan
pemeriksaan secara visual
pekerjaan
pemantauan/
(inspeksi):
pemeriksaan harian terhadap jalur
–
Ground patrol
transmisi tanpa memanjat tower
–
Climb up inspection
dilakukan oleh Line walker secara
terjadwal. Objek yang diperiksa
Hasil
pemeriksaan
adalah:
merupakan data yang dapat
–
Kawat penghantar
dipakai:
–
Ground wire
–
–
Ruang bebas (Right of Way/
Evaluasi/perencanaan/
ROW)
pengembangan.
–
–
Penanggulangan dan
–
Tower dan halamannya
pencegahan perbaikan/
Lingkungan dan aktivitas
perubahan/modifikasi.
masyarakat sekitarnya
Penggantian.
10.2.2.2 Climb up inspection
Climb up inspection adalah
jenis pekerjaan pemeriksaan
657
terhadap
tower
perlengkapannya
berikut
Melalui pemeriksaan ini
dilakukan
diharapkan secara dini dapat
oleh Climber dengan cara
ditemukan
memanjat
kelainan-kelainan yang dapat
SUTT/SUTET
tower
yang
pada
dalam
keadaan bertegangan.
–
–
menimbulkan
atau
gangguan.
Sehingga kerusakan dapat
Objek yang diperiksa adalah:
segera
Besi
pada
tower
abnormaly
dan
ditanggulangi
akhirnya
yang
keandalan
kelengkapannya
penyaluran tenaga listrik tetap
Kawat penghantar sekitar
terjaga dengan baik.
tower
–
Ground wire sekitar tower
–
Klem pemegang kawat dan
asesorisnya
–
Isolator dan asesorisnya
–
Benda asing yang terdapat
pada tower, isolator, dan
kawat
10.2.3
Pemeriksaan
sistematis
Pemeriksaan
sistematis
adalah pekerjaan pengujian yang
dimaksudkan untuk menemukan kerusakan atau gejala
kerusakan yang tidak dapat
ditemukan atau diketahui pada
saat inspeksi untuk kemudian
658
disusun saran-saran perbaikannya.
Beberapa
hal
yang
mempengaruhi
Pelaksanaan pemeriksaan
sistematis ini lebih luas dan lebih
pola
pemeliharaan rutin antara lain:
–
Kondisi alam setempat
teliti dari pada pemeriksaan
polutif alami, polutif industri,
rutin. Untuk memperoleh tingkat
gempa, kondisi normal,
ketelitian yang tinggi dipergunakan
pertumbuhan tanaman
peralatan bantu.
sepanjang jalur dan di
sekitar jalur, petir,
Contoh dari pemeriksaan ini
longsoran, dan lain
misalnya adalah pengujian
kemampuan
isolator
laboratorium,
pemeriksaan
sebagainya.
di
–
biasanya berdasarkan buku
kondisi sambungan dengan
menggunakan
Infrared
thermovision,
pemeriksaan
tegangan
tembus
Karakteristik kerja peralatan
petunjuk pabrik atau
pengalaman yang terjadi
selama ini isolator gelas
isolator
yang sering pecah.
dengan corona detector.
–
Sosial
kemasyarakatan
659
penggalian liar, pencurian
grounding–member tower,
dan lain sebagainya.
10.2.5 Pemeliharaan darurat
Pemeliharaan
darurat
dilakukan karena telah terjadi
kerusakan pada SUTT/SUTET
10.2.4 Pemeliharaan korektif
yang disebabkan oleh hal-hal
korektif
di luar rencana seperti: banjir,
maintenance)
gempa bumi, longsor, gunung
adalah pekerjaan pemeliharaan
meletus, kebakaran, tertabrak
yang
kendaraan,
Pemeliharaan
(corrective
dilakukan
peralatan
karena
mengalami
kerusakan atau memerlukan
penyempurnaan.
jarang
atau
lain
sebagainya.
Pemeliharaan
jenis
ini
sifatnya darurat dan memerlukorektif
kan penanganan ekstra serta
terjadi
karena
segera untuk mengatasinya.
tidak
pernah
Biayanya tentu saja tidak bisa
Pemeliharaan
kebanyakan
dan
dilakukan pemeriksaan rutin.
direncanakan dan mungkin
bisa
dimasukkan
dalam
katagori biaya tak terduga
karena memang kejadiannya
di luar kendali manusia. Salah
660
satu solusinya ialah memasang
Contoh yang dapat dilakukan
tower emergency.
CBM adalah:
10.2.6 Pemeliharaan
–
Pemeriksaan isolator dan
berdasarkan
asesoris isolator maupun
kondisi/karakter
clamp pada daerah yang
peralatan (CBM)
polusinya tinggi.
Pemeliharaan ini tidak lagi
berdasar
waktu,
berdasar
–
Pemeriksaan jarak tower
dan lendutan kawat pada
namun
kawasan luas yang
kondisi/karakter
peralatan. Dalam satu tahun
mengalami longsor secara
bisa saja dilakukan beberapa
perlahan.
kali
kunjungan
atau
–
Pemeriksaan kondisi
pemeriksaan tergantung tingkat
pondasi pada daerah
potensi gangguan.
longsoran.
Kerusakan yang terjadi
–
daerah yang sering
menjadi statistik dan dapat
disimpulkan
sebagai
tersambar petir.
trend
peralatan. Namun adakalanya
kerusakan akibat fenomena alam
Pemeriksaan isolator pada
–
Pengukuran nilai
pentanahan tower pada
yang tidak terlihat sewaktu patroli.
661
daerah pegunungan atau
f.
layang-layang.
musim kemarau.
10.2.7 Contoh pemeliharaan
SUTT/SUTET
g.
Ground patrol.
h.
Climb up inspection.
i.
Pemeriksaan stabilitas
pondasi tower (leveling,
Berbagai macam pemelihara-
retak).
an yang pernah terjadi di
jaringan SUTT/ SUTET antara
j.
Penggantian isolator pecah
batas tanah PLN, urugan
atau rusak lapisan
tanah tapak tower).
permukaannya.
b.
Pemeriksaan kelengkapan
tapak tower (patok tanda
lain:
a.
Pembersihan kawat dari
k.
pembumian.
Pembersihan isolator
karena polusi.
Pengecekan tahanan
l.
Pemeriksaan jarak bebas
c.
Perbaikan kawat rantas.
konduktor dengan benda di
d.
Perbaikan kawat putus.
sekitarnya.
e.
Pengencangan klem-klem
jumper.
m. Perbaikan tower yang
mengalami deformasi/
bengkok-bengkok akibat
662
tanah sekeliling pondasi
t.
konduktor.
longsor.
n.
Pondasi turun/amblas
u.
reposisi damper yang
pondasi mengalami
melorot ke tengah gawang.
v.
bawah tanah.
p.
Pengelasan baut-baut tower
yang mati/rusak.
w.
Penyambungan kembali
kawat yang putus atau rusak
Perbaikan spacer yang
berat.
x.
y.
tumbang ke arah konduktor
Perbaikan klem kawat
jumper yang putus.
Penebangan pohon atau
antena komunikasi yang
Penggantian asesoris/
klem yang karatan.
Penggantian pentanahan
tower/grounding.
r.
Penggantian lampu aviasi
untuk mencegah pencurian.
lepas dari konduktor.
q.
Pemasangan kembali/
karena tanah dasar
sliding/gelincir oleh arus air
o.
Penggantian tension clamp
z.
Pemasangan pengaman
halaman tower.
(diluar ROW).
s.
Penggantian besi tower
karena pencurian.
663
10.3 Prosedur
4.
Pemeliharaan
peralatan, metode
SUTT/SUTET
pengerjaan, material
pengganti maupun
Langkah kerja pemeliharaan
pendukung lainnya, dan
SUTT/SUTET adalah:
1.
organisasi kerja.
Adanya laporan dari petugas
lapangan maupun
5.
evaluasi data laporan yang
Melakukan persiapan
pekerjaan setelah adanya
Melakukan analisa
persetujuan.
dengan meninjau lapangan.
Membahas hasil AKP dan
rencana tindak lanjut yang
diperlukan.
664
6.
masuk.
keselamatan Pekerjaan
3.
Menjadwalkan pekerjaan
dan persetujuannya.
masyarakat atau hasil
2.
Mempersiapkan: SDM,
7.
Melaksanakan pekerjaan.
8.
Melakukan evaluasi.
9.
Membuat laporan kerja.
10.3.1 Peralatan yang dipelihara
Peralatan yang dipelihara pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran
udara tegangan ekstra tinggi seperti Tabel 10.1 berikut ini.
Tabel 10.1
Peralatan yang Dipelihara pada Saluran Udara Tegangan Tinggi dan
Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi
I
Ruang Bebas/Lingkungan
1
Jarak pepohonan terhadap kawat fasa
2
Jarak bangunan terhadap kawat fasa
3
Jarak pohon terhadap kawat fasa bila tumbang ke arah kawat
4
Jarak bangunan terhadap kawat fasa bila roboh ke arah kawat
5
Jarak jaring pengaman terhadap kawat
6
Jarak kawat ke tanah
7
Jarak kawat ke tiang perahu/kapal bila air pasang
665
I
Ruang Bebas/Lingkungan
8
Kegiatan layang-layang
9
Struktur tanah dekat tiang
II
Tiang/Menara/Tower
1
Konstruksi tiang
2
Batang rangka besi
3
Tangga/baut panjat
4
Penghalang panjat (ACD)
5
Plat rambu bahaya
6
Plat nomor/pht/tanda fasa
7
Baut sambungan rangka
8
Indicator lamp (air traffict light)
9
Cat/galvanis badan tiang
10
Klem kawat grounding
666
II
Ruang Bebas/Lingkungan
11
Kawat grounding
12
Batang penangkal petir
13
Alat penangkal petir lainnya
III
Isolator
1
Piringan isolator
2
Arcing horn sisi tiang
3
Arcing horn sisi kawat pht.
4
Assesories isolator (pin dan lain-lain)
5
Suspension clamp
6
Tension clamp
7
Ikatan isolator
8
Armour rod
9
Posisi rencengan isolator
667
IV
Ruang Bebas/Lingkungan
IV
Pondasi dan Halaman Tiang
1
Pondasi/chimney
2
Kaki tiang/stub
3
Tumbuhan di halaman tiang
4
Pagar pengaman halaman tiang
5
Patok batas halaman tiang
6
Stabilitas tanah sekitar halamanan tiang
7
Talud pengaman
8
Kegiatan pihak lain di halaman tiang
V
Kawat Penghantar
1
Kawat fasa
2
Peredam getaran (Vibr. damper)
668
V
Ruang Bebas/Lingkungan
3
Spacer
4
Midspan compression joint
5
Repair sleeve
6
Jumper wire
7
Sagging
8
Armour rod
9
Jarak antarkawat fasa
10
Indicator lamp (induction)
VI
Kawat Petir dan Kawat Optik
1
Kawat petir
2
Peredam getaran (Vibr. damper)
3
Midspan compression joint
669
No.
Ruang Bebas/Lingkungan
4
Repair sleeve
5
Tension clamp
6
Suspension clamp
7
Jumper wire
8
Sagging
9
Armour rod
10
Sign ball (bola pengaman)
11
Klem sambungan ke grounding
12
Kotak sambungan kawat optik
13
Kawat yang turun ke kotak kawat optik
10.3.1.1 Jenis-jenis kelainan
Jenis-jenis kelainan pada saluran udara tegangan tinggi dan saluran
udara tegangan ekstra tinggi seperti Tabel 10.2.
670
Tabel 10.2
Jenis-Jenis Kelainan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi dan
Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi
No.
Jenis Kelainan
1
Amblas
2
Andongan rendah
3
Bahaya I
4
Bahaya II
5
Bahaya III
6
Bengkok
7
Benda asing
8
Cat pudar
9
Dekat jalan
10
Erosi
11
Hilang
12
Karatan
671
No.
Jenis Kelainan
13
Kendor
14
Kotor
15
Kritis
16
Longsor
17
Mekar/rantas
18
Melorod
19
Miring
20
Pecah/retak
21
Putus
22
Rusak
23
Semak belukar
24
Tertimbun
672
No.
Jenis Kelainan
25
Tergenang
26
Tidak seimbang
10.3.1.2 Jenis-jenis penanggulangan
Jenis-jenis penanggulangan pada saluran udara tegangan tinggi dan
saluran udara tegangan ekstra tinggi, seperti Tabel 10.3.
Tabel 10.3
Jenis-Jenis Penanggulangan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi
dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi
No.
Jenis Penanggulangan
1
Ditinggikan chimneynya
2
Dinaikkan kawatnya
3
Dibongkar
4
Ditebang/dipangkas
5
Diluruskan
6
Dibersihkan
673
No.
Jenis Penanggulangan
7
Digalvanis/dicat ulang
8
Ditanggul
9
Diganti
10
Dikencangkan
11
Dibabat
12
Dipasang patok
13
Dinormalkan
14
Diarmor rod/dipress
15
Disambung
16
Diposisikan kembali seperti semula
17
Diperbaiki
18
Diperiksa
19
Diseimbangkan
674
10.3.1.3 Contoh abnormality peralatan
1.
Kerusakan pada isolator
Kerusakan pada isolator dapat dilihat pada Gambar 10.1.
Gambar 10.1 Kerusakan pada isolator
675
2.
Kerusakan pada menara
Kerusakan pada menara dapat dilihat pada Gambar 10.2.
Gambar 10.2 Kerusakan pada menara
676
3.
Kerusakan pada isolator gantung
Kerusakan pada isolator gantung dapat dilihat pada Gambar 10.3.
Gambar 10.3 Kerusakan pada isolator gantung
677
4.
Kerusakan pada kawat pentanahan
Kerusakan pada kawat pentanahan dapat dilihat pada Gambar 10.4.
Gambar 10.4 Kerusakan pada kawat pentanahan
678
10.3.2 Peralatan kerja
–
Tambang
10.3.2.1 Peralatan kerja
–
Kunci ring-pas
pemeliharaan
–
Angle level
Transportasi peralatan ke
–
Parang
atas/ bawah: tali, katrol, dan
–
Tang kombinasi
lain-lain
–
Ranging meter
–
Lever hoist
–
Obeng minus besar
–
Sling
–
Stopmeter (5 meter)
–
Karpet
–
Klinometer
–
Pengait pin isolator
–
Palu godam 5 kilogram
–
Palu plastik
–
Theodolit
–
Kunci-kunci ( Inggris dan
–
Waterpas
pas/ring)
–
Gimpole/tiang pengangkat
–
Came along (tiang tension)
–
Sling mata itik
–
Conductor lifter (tiang
–
Shackle 5/8"
suspension)
–
Alat ukur pentanahan
–
(tahanan kaki tiang)
–
Shackle
–
Peralatan bantu
–
Gergaji besi
–
BV lier
–
Corona detector
–
Sling panjang
–
Mesin press hidrolik
679
–
Infrared thermovision
10.3.2.2. Peralatan K3
–
Kikir plat besar
–
Grounding dan stick
–
Rol meter
–
Voltage detector
–
Chain saw
–
Alat komunikasi/HT
–
Teropong
–
Buku working permit
–
Pakaian kerja
–
APD:
–
HT bagi koordinator dan
•
Topi pengaman
pengendali mutu pekerjaan
•
Kacamata UV
–
Mesin potong
•
Pakaian kerja
–
Mesin bor
•
Sabuk pengaman
–
Mesin las
•
Lanyard
–
Tir for
•
Sepatu pengaman
–
Capstan winch
•
Sarung tangan
–
Capstan hoist
–
Rambu-rambu peringatan
–
Kunci ring
–
Rambu K3
–
Kunci sok
–
Kotak P3K
–
Tandu
–
Jas hujan
–
Lampu penerangan
680
1.
TOPI PENGAMAN
2.
KACAMATA
ULTRAVIOLET (UV)
3.
PAKAIAN KERJA
(WERK PACK)
4.
LANYARD
5.
SABUK PENGAMAN
6.
SARUNG TANGAN
7.
SEPATU PANJAT
8.
HANDY TALKY (HT)
Gambar 10.5 Peralatan kerja pemeliharaan jaringan
681
10.3.2.3 Meterial
10.3.3 Petunjuk
pemeliharaan
pemeliharaan
1
peralatan
Material pengganti existing:
isolator; besi diagonal, kawat
penghantar, ground wire, dan
10.3.3.1 Pemeliharaan
lain sebagainya
2.
Repair sleeve
3.
Mid span joint
4.
Armor rod
5.
BBM mesin
alat kerja
1.
Setiap peralatan kerja yang
berupa mesin maupun alat
ukur wajib mengikuti buku
instruksi yang dikeluarkan
oleh pabrikan.
6.
Minyak hydraulic
2.
7.
Sakapen
8.
Majun
9.
Minyak WD4
Setiap alat kerja wajib
diketahui Safe Working
Loadnya (SWL).
3.
Setiap beban yang akan
ditanggung oleh alat kerja
wajib diketahui besarannya.
682
4.
5.
Setiap
petugas
wajib
Instruksi kerja peralatan transmisi
mengetahui Safety factor
antara lain:
(SF).
1.
Pemeliharaan isolator
2.
Pemeliharaan
Setiap
petugas
wajib
mengetahui tanda-tanda
kerusakan pada alat kerja.
6.
Setiap alat kerja tidak boleh
kawat
penghantar
3.
Pemeliharaan ground wire
4.
Pemeliharaan rangka tower
5.
Pemeliharaan halaman tower
6.
Pemeliharaan ruang bebas
digunakan kecuali sebagai
fungsinya.
10.3.3.2 Pemeliharaan
peralatan transmisi
Pemeliharaan
transmisi
prosedur
wajib
peralatan
meliharan
mengikuti
kerjanya
atau
instruksi kerja, agar tercapai
satu
10.3.4 Pelaporan pekerjan pe-
kesepakatan
untuk
meyelesaikan pekerjaan secara
runtut/bertahap, tertib, lancar,
Pekerjaan pemeliharaan yang
telah diselesaikan harus dilaporkan
ke pemberi tugas yang memuat:
–
Proses persiapan
–
Tanggal, hari, jam pelaksanaan
–
Personel yang terlibat
dan aman.
683
–
Organisasi kerjanya
–
Peralatan yang dipakai
–
Material yang digunakan
–
Tata laksana kerja
–
Kendala yang dihadapi
–
Kesimpulan
Manfaat laporan pekerjaan:
1.
Data
2.
Bahan analisa untuk pebaikan
dan pengembangan
–
Solusi yang telah diterapkan
–
Pelaksanaan/penerapan K3
–
Masalah lingkungan
–
Biaya yang telah dikeluarkan
–
Saran dan usulan untuk
perbaikan
684
3.
Penilaian unjuk kerja
4.
Lain-lain
CATATAN
685
CATATAN
686
LAMPIRAN A
DAFTAR PUSTAKA
Bernad Grad. (2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New-York
David E Johnson. (2006) Basic Electric Circuit Analisis John Wiley & Sons. Inc
New-York
Diklat PLN Padang. (2007) Transmisi Tenaga Listrik Padang
Diklat PLN Pusat. (2005) Transmisi Tenaga Listrik Jakarta
Fabio Saccomanno (2003) Electric Power System and Control John Wiley & Sons.
Inc New-York
John D. McDonald (2003) Electric Power Substation Engginering CRC Press
London
Jemes A.Momoh (2003) Electric Power System CRC Press London
Luces. M . (1996) Electric Power Distribution and Transmision Prantice Hall NewYork
Oswald (2000) Electric Cables for Pewer Transmision John Wiley & Sons.Inc
New-York
Paul M Anderson (2000) Analisis of Faulted Power System John Wiley & Sons.Inc
New-York
Panagin.R.P (2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New-York
Stan Stawart (2004) Distributet Swichgear John Wiley & Sons.Inc New- York
Stepen L. Herman (2005) Electrical Transformer John Wiley & Sons.Inc
New-York
Hutauruk (2000)Tranmisi Daya Listrik Erlangga Jakarta.
687
688
LAMPIRAN B
Simbol-Simbol Gambar Listrik
a. Lambang Huruf untuk Instrumen Ukur
Lambang Huruf untuk Instrumen Ukur
No.
Lambang
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
A
V
VA
Var
W
Wh
Vah
varh
Ω
Hz
h
min
s
n
cos ϕ
ϕ
λ
f
t
t°
z
Keterangan
ampere
volt
voltampere
var
watt
watt-jam
voltampere-jam
var-jam
ohm
hertz
jam
menit
detik
jumlah putaran permenit
faktor daya
sudut fase
panjang gelombang
frekuensi
waktu
suhu
impedans
Awal Pada Satuan SI
No.
Lambang
1
2
3
4
5
6
7
8
T
G
M
K
m
µ
n
p
Keterangan
tera
giga
mega
kilo
mili
mikro
nano
piko
= 1012
= 109
= 106
= 103
= 103
= 106
= 109
= 1012
689
Contoh Penggunaan Awalan Pada Satuan SI
690
No.
Lambang
1
2
3
4
5
6
7
8
TΩ
GW
MW
kW
mV
µA
nF
pF
Keterangan
1 teraohm
1 gigawatt
1 megawatt
1 kilowatt
1 milivolt
1 mikroampere
1 nanofarad
1 pikofarad
= 1012 ohm
= 109 W
= 106 W
= 103 W
= 103 V
= 106 A
= 109 farad
= 1012 farad
b. Lambang Gambar untuk Diagram
Lambang Gambar untuk Diagram Saluran Arus Kuat
No.
Lambang
Keterangan
1
atau
Arus searah
Catatan:
Tegangan dapat ditunjukkan di sebelah
kanan lambang dan jenis sistem di
sebelah kiri.
2
2M _____ 220/110V
Contoh: Arus searah, tiga penghantar
termasuk kawat tengah, 220V (110V
antara setiap penghantar sisi dan kawat
tengah). 2 M dapat diganti dengan 2 + M.
3
~
Arus bolak-balik
Catatan:
a) Nilai frekuensi dapat ditambahkan
di sebelah kanan lambang.
b) Tegangan dapat juga ditunjukan di
sebelah kanan lambang.
c) Jumlah fase dan adanya netral dapat
ditunjukan sebelah kiri lambang.
4
~50 Hz
5
3 N~ 50Hz 400/230 V
Contoh:
Arus bolak balik, 50 Hz.
Arus bolak balik, fase tiga, dengan
netral, 50Hz, 400V (230V tegangan
antara fase dengan netral) 3N dapat
diganti dengan 3 + N.
691
No.
Lambang
Keterangan
6
3 N~ 50Hz / TN-S
Arus bolak-balik, fase tiga, 50 Hz sistem
mempunyai satu titik dibumikan langsung
dan netral serta penghantar pengaman
terpisah sepanjang jaringan.
7
Penghantar
Kelompok Penghantar
Saluran
Kabel
Sirkit
8
Catatan:
a) Jika sebuah garis melambangkan
sekelompok penghantar, maka
jumlah penghantarnya ditunjukan
dengan menambah garis-garis
pendekatau dengan satu garis
pendek dan sebuah bilangan.
Contoh:
Tiga penghantar (No.8 dan No.9)
3
9
110 V
10.
2 × 50 mm2 A1
11
2N
110 V
2 × 50 mm2 + 1 × 25 mm2
12
3 N ~ 50 Hz 400 V
3 × 120 mm2 + 1 × 50 mm2
692
b) Penjelasan tambahan dapat
ditunjukan sebagai berikut:
1) Di atas garis: jenis arus, sistem
distribusi, frekuensi dan
tegangan.
2) Di bawah garis: jumlah penghantar sirkit diikuti dengan tanda
kali dan luas penampang setiap
penghantar.
Contoh:
Sirkit arus searah, 110 V, dua penghantar
alumunium ver penampang 120 mm2.
Sirkit arus searah, 220 V (antara penghantar sisi dan kawat tengah 110 V), dua
penghantar sisi berpenampang 50 mm2
dan kawat tengah 25 mm2.
Sirkit fase tiga, 50 Hz, 400 V, tiga
penghantar berpenampang 120 mm2,
dengan netral berpenampang 50 mm2.
No.
Lambang
Keterangan
13
Penghantar fleksibel.
14
Penghantar pilin diperlihatkan dua
penghantar.
15
Penghantar dalam suatu kabel:
a) Tiga penghantar dalam suatu kabel.
b) Dua dari lima penghantar dalam
suatu kabel.
(a)
(b)
16
a) Ujung penghantar atau kabel tidak
dihubungkan.
b) Ujung penghantar atau kabel tidak
dihubungkan dan diisolasi khusus.
(a)
(b)
17
a) Percabangan penghantar.
b) Dua percabangan penghantar.
(a)
(b)
18
Saluran bawah tanah.
19
Saluran dalam laut.
20
Saluran udara.
693
No.
Lambang
21
6
Saluran dalam jalur atau pipa.
Catatan:
Jumlah pipa, luas penampang dan
keterangan lainnya dapat diperlihatkan
di atas saluran yang menggambarkan
lintas pipa.
Contoh: Saluran dalam jalur dengan
enam jurusan
22
Saluran masuk orang (manhole)
23
Saluran dengan titik sambung/hubung
tertanam.
24
Saluran dengan penahan gas atau
minyak
25
Titik sadap pada saluran sebagai
penyulang konsumen.
26
Sadap sistem
27
Sadapan hubung seri
28
Unit daya saluran, yang diperlihatkan
jenis arus bolak balik.
~
694
Keterangan
No.
Lambang
Keterangan
29
Penahan daya pada penyulang
distribusi.
30
Titik injeksi penyulang daya.
31
Kotak ujung kabel; mof ujung
a) satu kabel berinti tiga
b) tiga kabel berinti satu
(a)
(b)
32
Kotak sambung lurus, mof sambung
lurus, tiga penghantar.
a) Dinyatakan dengan garis ganda.
b) Dinyatakan dengan garis tunggal.
(a)
(b)
33
3
3
Kotak sambung cabang tiga.
3
34
3
3
3
Kotak sambung cabang empat.
3
35
Penghantar netral
36
Penghantar pengaman
695
No.
37
696
Lambang
Keterangan
Penghantar pengaman dan penghantar
netral di gabung.
Contoh: Saluran fase tiga dengan penghantar pengaman dan penghantar netral
c. Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Pusat dan Gardu Listrik
No.
Lambang
Keterangan
1
a) Sakelar penghubung
b) Sakelar pemutus
c) Sakelar berselungkup; sakelar
bersekat pelindung
(a)
(b)
(c)
2
Sakelar dengan pemutusan:
a) Secara termis
b) Secara eektromagnetis
(a)
(b)
3
Sakelar dengan pelayanan
a) Relai termal
b) Relai elektromagnetik
(a)
(b)
4
a) Sakelar, lambang umum
b) Sakelar kutub tiga
(a)
(b)
697
No.
Lambang
5
a) Sakelar pengubah aliran
b) Sakelar pengubah aliran dengan
kedudukan netral
(a)
(b)
6
Pemutus sirkit / CB (Circuit Breaker)
7
Pemisah
DS (Disconnecting Switch)
(a)
(b)
8
Pemutus daya
LBS (Load Break Switch)
9
NFB (No Fuse Beaker)
CB yang tak berwujud fuse
10
a) Pengaman lebur
b) Sakelar pemisah dengan pengaman
lebur
(a)
11
698
Keterangan
(b)
Pengaman lebur dengan sirkit alarm
terpisah
No.
Lambang
Keterangan
12
Kotak kontak
13
Tusuk Kontak
14
Kontak tusuk
15
a) Lampu; lambang umum lampu
isyarat
b) Lampu kedip; indikator
(b)
(a)
16
a) Klakson
b) Sirene
c) Peluit yang bekerja secara listrik
(a)
(b)
(c)
17
Bel
18
Pendengung
19
11
12 13
14
15 16
Jalur terminal; blok terminal
20
Perangkat hubung bagi dan kendali
21
Bumi; pembumian
699
No.
Lambang
38
Pusat listrik panas bumi
39
Pusat listrik tenaga matahari
40
Pusat listrik tenaga angin
41
Pusat listrik plasma MHD (magnetohydrodynamic)
42
Gardu listrik konversi arus searah ke
a.b.b
~
700
Keterangan
d. Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Bangunan
No.
Lambang
Keterangan
1
Pengawatan (lambang) Catatan - Untuk
maksud tertentu, ”garis” dapat diganti
dengan ”garis putus-putus”
2
Pengawatan tampak (di permukaan)
3
Pengawatan tidak tampak (di bawah
permukaan)
4
Pengawatan dalam pipa
Catatan: Jenis pipa dapat diyatakan, jika
perlu
701
No.
Lambang
▼
5
▼
a)
b)
6
Keterangan
a) Pengawatan menuju ke atas
b) Pengawatan menuju ke bawah
Catatan: Lambang 5 & 6
1) pernyataan ”ke atas” dan ”ke
bawah” hanya berlaku jika
gambar dibaca dalam posisi
yang benar
2) Panah pada garis miring
menyatakan arah aliran daya
3) Pengawatan berpangkal pada
lingkaran atau titik hitam
Pengawatan melalui ruangan secara
tegak lurus
▼
▼
7
Kotak, lambang umum
8
Saluran dari bawah
▼
9
Saluran dari atas
▼
702
10
Kotak sambung atau kotak hubung
11
Kotak cabang tiga
No.
Lambang
Keterangan
12
Kotak-saluran masuk utama
13
Perangkat hubung bagi dan kendali
dengan lima pipa
14
a) Lampu; titik sadap lampu dengan
pengawatannya
b) Lampu dipasang tetap pada dinding
dengan pengawatannya
a)
b)
15
Kelompok dari tiga buah lampu 40 W
3 × 40 W
16
17
Perangkat lampu dengan sakelar sendiri
a) Lampu darurat
b) Armatur penerangan darurat
a)
b)
18
a)
b)
a) Lampu floresen, lambang umum
b) Kelompok dari tiga buah lampu
floresen 40 W
3 × 40 W
703
No.
Lambang
Proyektor, lambang umum
20
Lampu sorot
▼▼
19
Lampu sebar
▼ ▼
21
Lengkapan tambahan untuk lampu luar
Catatan: Hanya digunakan jika
lengkapan tambahan tidak termasuk
dalam armartur penerangan
23
Peranti listrik
Catatan: Jika perlu untuk lebih jelas
dapat diberikan nama
24
Alat pemanas listrik
Pemanas air listrik
25
Kipas dengan pengawatannya
26
Jam hadir (time clock)
27
Kunci listrik
28
Instrumen interkom
▼
22
▼
704
Keterangan
No.
Lambang
Keterangan
29
Sakelar, lambang umum
30
Sakelar dengan lampu pandu
31
Sakelar pembatas waktu, kutub tunggal
t
32
Sakelar satu arah
a) Kutub tunggal
b) Kutub dua
c) Kutub tiga
a)
33
b)
c)
a) Sakelar tarik kutub tunggal
b) Fungsi dari sakelar 30 a) dan 31a)
▼
a)
b)
34
a) Sakelar dengan posisi ganda untuk
bermacam-macam tingkat penerangan
b) Fungsi dari sakelar a)
a)
b)
35
a) Sakelar kelompok
b) Fungsi dari sakelar
a)
b)
705
No.
Lambang
36
Keterangan
a) Sakelar dua arah
b) Fungsi dari dua buah sakelar a)
yang digabung
a)
b)
------
37
a) Sakelar Silang
b) Fungsi dari sakelar a)
38
Sakelar dim
39
Tombol tekan
40
Tombol tekan dengan lampu indikator
41
Tombol tekan dengan pencapaian
terbatas (tertutup gelas, dsb)
42
Perlengkapan pembatas waktu
t
43
44
706
––
Sakelar waktu
Sakelar berkunci gawai sistem jaga
No.
Lambang
Keterangan
45
46
Kotak kontak
3
Kotak kontak ganda, misalnya untuk 3 buah
tusuk kontak
47
Kotak kontak dengan kontak pengaman,
misalnya kontak pembumian
48
Kotak kontak bertutup
49
Kotak kontak dengan sakelar tunggal
50
Kotak kontak dengan sakelar interlok
51
Kotak kontak dengan transformator pemisah
misalnya untuk alat cukur
52
Kotak kontak untuk peranti elektronik misalnya
untuk telepon, teleks dan sebagainya.
e. Nomenklatur Kabel
Code
Lambang
A
Selubung atau lapisan perlindungan luar
bahan serat (misalnya goni/jute)
NKRA, NAKBA
Selubung atau lapisan perlindungan luar
dua lapis dari bahan serat (jute)
NAHKZAA,NKZAA
AA
Contoh
707
Code
B
Contoh
Perisai dari pita baja ganda
NYBY, NEKBA
Selubung dari timah hitam
NYBUY
Penghantar konsentris tembaga
NYCY
Selubung penghantar di bawah selubung luar
NHSSHCou
CE
Penghantar konsentris pada masingmasing inti, dalam hal kabel berinti banyak
NYCEY
CW
Penghantar konsentris pada masingmasing inti, yang dipasang secara
berlawanan arah untuk kabel tegangan
nominal 0,6/1 kV (1,2 kV)
NYCWY
C
708
Lambang
D
Spiral anti tekanan
Pita penguat non-magnetis
E
Kabel dengan masing-masing intinya
berselubung logam
NEKBA
F
Perisai kawat baja pipih
NYFGbY
G
Spiral dari kawat baja pipih
NYKRG
G
Isolasi karet/EPR
NGA
Selubung isolasi dari karet
NGG
2G
Isolasi karet butil dengan daya tahan lebih
tinggi terhadap panas
N2GAU
Gb
Spiral pita baja (mengikuti F atau R)
NYRGbY, N2XSEYFGbY
H
Lapisan penghantar di atas isolasi, untuk
membatasi medan listrik
NHKBA, NHKRA
K
Selubung timbal
NKBA, NAKBY
Code
KL
Lambang
Contoh
Selubung aluminium
NKLY, NAHKLY
Selubung dari pita tembaga yang
terpasang dan dilas memanjang
NKWKZY
L
Perisai dari jalinan-kawat-baja-bulat (braid)
NTRLA
MK
Kabel dengan selubung timah hitam untuk
pemasangan dalam kapal laut
MK
Kabel standar penghantar tembaga
NYA, NYY
NA
Kabel standar penghantar aluminium
NAYFGbY, NAKBA
NF
Kabel udara berisolasi dipilin
NF2X, NFAY
NI
Kabel bertekanan gas
NIKLDEY
NO
Kabel bertekanan minyak
NOKDEFOA
NP
Kabel dalam pipa bertekanan gas
NPKDvFSt2Y
O
Perisai-terbuka dari kawat-kawat baja
NKROA
Kabel berpenampang oval
NYM-O
Kabel tanpa inti berwarna hijau kuning
NYFGbY-O
Jalinan (brid) dari kawat-kawat baja
berselubung seng
NYKQ
Perisai dari kawat-kawat baja bulat
NYRGbY
Dua lapisan perisai dari kawat-kawat
baja bulat
NKRRGbY
- perisai dari tembaga
- pelindung listrik dari pita tembaga yang
dibulatkan pada semua inti kabel
bersama-sama
N2XSY
KWK
N
Q
R
RR
S
709
710
Code
Lambang
SE
Pelindung listrik dari pita tembaga yang
menyelubungi masing-masing inti kabel
Contoh
N2XSEY
T
Tali penggantung dari baja
2X
Selubung isolasi dari XLPE
NF2X, N2XSY
Y
Selubung isolasi dari PVC
NYA
2Y
Selubung isolasi dari polythylene
Z
Perisai dari kawat-kawat baja yang
masing-masing mempunyai bentuk ”Z”
NKZAA
Z
Penghantar berisolasi dengan beban tarik
NYMZ
Selubung logam dari pita seng
NYRUZY
3
28
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk
digunakan dalam Proses Pembelajaran.
22,946.00
3
Fly UP