...

BAB II LANDASAN TEORITIS - IDR IAIN Antasari Banjarmasin

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

BAB II LANDASAN TEORITIS - IDR IAIN Antasari Banjarmasin
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Pengertian Evaluasi dalam Pembelajaran
1. Pengertian Evaluasi
Evaluasi dalam sistem pembelajaran di Indonesia ini sudah berlangsung sejak
lama, dalam sistem evaluasi terdahulu evaluasi bisa berbentuk tes, pengukuran, dan
penilaian. Nitko dan Brookhart mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses
penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja dan hasil karya siswa. Evaluasi
merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja atau
produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan programnya.1
Evaluasi menurut Griffin dan Nix adalah judgment terhadap nilai atau
implikasi dari hasil pengukuran. Menurut definisi ini kegiatan evaluasi selalu
didahului dengan kegiatan pengukuran dan penilaian.2
Ebel berpendapat bahwa evaluasi merupakan suatu kebutuhan dimana
evaluasi harus memberikan keputusan tentang informasi apa saja yang dibutuhkan,
bagaimana informasi tersebut dikumpulkan, serta bagaimana informasi tersebut
disentesiskan untuk mendukung hasil yang diharapkan.3
1
Harun Rasyid & Mansur, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung : CV Wacana Prima, 2007) cet.
Ke-1, h.2
2
Ibid
3
Harun Rasyid & Mansur, Penilaian Hasil Belajar, op.cit, h. 3
10
11
Evaluasi secara singkat didefinisikan sebagai proses mengumpulkan informasi
untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok.4 Hasil yang diharapkan
setelah pelaksanaan evaluasi adalah terciptanya pembelajaran yang lebih baik dari
pembelajaran sebelumnya. Evaluasi memberikan informasi untuk mengevaluasi
program pembelajaran harus meminimalisir kesalahan sekecil mungkin dan juga
melakukan pertimbangan terhadap hasil penilaian, maka kesalahan dalam penilaian
dan pengukuran dapat diminimalisir sekecil mungkin.
2. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran adalah suatu kegiatan penilaian dan pengukuran
keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik yang terencana dilakukan oleh
guru kepada siswa sesuai dengan prosedur dan langkah-langkah evaluasi yang telah
ada melalui proses dan jangka waktu yang ditentukan. Evaluasi pembelajaran fiqih
adalah kegiatan penilaian, pengukuran terhadap hasil belajar pada mata pelajaran
Fiqih yang diberikan guru Fiqih kepada peserta didiknya secara sistematis dan
terencana kearah tujuan-tujuan unit pelajaran Fiqih secara terbatas maupun
keseluruhan yang sudah diajarkan pada tahap waktu yang sudah ditentukan sekolah.
4
Ibid
12
B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran
1. Tujuan Evaluasi Pembelajaran
Setiap pembelajaran mempunyai tujuan yang harus dicapai dan untuk
mengetahui sampai sejauh mana pengajaran berhasil menghantarkan siswanya kepada
tujuan tersebut, oleh karena itu dalam pengajaran harus mengadakan evaluasi.
Sebagaimana diketahui bahwa evaluasi yang dilakukan baik dengan tes
maupun dengan non tes terutama ditujukan untuk dual hal. Pertama, untuk mengukur
prestasi atau kemajuan belajar siswa. Kedua, untuk memberikan umpan balik kepada
guru sebagai dasar untuk memperbaiki atau meningkatkan pembelajaran, baik yang
menyangkut kelemahan atau kekurangan siswa maupun guru dan pihak-pihak lain
yang terlibat dalam pembelajaran. Jadi tujuan dilaksanakannya evaluasi pembelajaran
Fiqih dimaksudkan agar dalam proses pembelajaran Fiqih dapat berjalan sesuai yang
diharapkan baik terhadap siswa maupun guru. Dalam pembelajaran, evaluasi tidak
hanya tertuju pada siswa semata namun juga pada guru-guru yang mengajar siswa
tersebut.
Meninjau kepada pendapat Cece Wijaya dan A.Tabrani Yusran tujuan
evaluasi adalah :
a. Untuk memperoleh gambaran tentang prestasi belajar siswa, tentang
pengetahuan sikap dan keterampilan dalam pembelajaran Fiqih.
b. Untuk memperoleh derajat kemajuan mengajar seorang guru dalam
pembelajaran Fiqih.
c. Untuk mengetahui keampuhan program yang dibuat guru dalam
pembelajaran Fiqih.5
5
Cece Wijaya dan A.Tabrani Yusran, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar
Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h. 153.
13
Sedangkan menurut Anas Sudjiono, tujuan evaluasi dibedakan atas:
a) Tujuan Umum
Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua, yaitu:
1) Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan
sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang
dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses
pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2) Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran
yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka
waktu tertentu.
b) Tujuan Khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam
bidang pendidikan adalah:
1) Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program
pendidikan.
2) Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan
peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat
dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.6
Dalam buku Syaiful Bahri Djamarah dikatakan, tujuan evaluasi adalah untuk
memperbaiki cara belajar mengajar, mengadakan perbaikan dan pengayaan bagi anak
didik, serta menempatkan anak didik pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat
sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya. Tujuan lainnya adalah untuk
memperbaiki atau mendalami dan memperluas pelajaran dan yang terakhir adalah
untuk memberitahukan atau melaporkan kepada oaring tua/wali peserta didik
mengenai penentuan kenaikan kelas dan penentuan kelulusan peserta didik.7
Jadi tujuan evaluasi tersebut dalam pembelajaran adalah untuk melihat
perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai peserta didik dan untuk melihat
6
Anas Sudjiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005),
Ed. 1, Cet. 5. h. 16
7
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2010) h. 247
14
apakah program pembelajaran sudah berjalan dengan baik yang nantinya akan
dijadikan sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan dalam menentukan
langkah pembelajaran berikutnya.
2. Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Kepentingan evaluasi tidak hanya mempunyai makna bagi proses belajar
siswa, tetapi juga emberikan umpan balik terhadap program secara keseluruhan. Oleh
karena itu inti setiap evaluasi adalah pengadaan informasi bagi pihak pengelola
proses belajar mengajar untuk membuat berbagai macam keputusan.
Wayan Nurkancana, dkk merumuskan bahwa masalah fungsi ini menurut
mereka evaluasi dalam bidang pendidikan dan pembelajaran mempunyai beberapa
fungsi yaitu:
a. Untuk mengetahui taraf kesiapan anak didik untuk menempatkan suatu
pendidikan tertentu.
b. Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai pada proses
pendidikan yang telah dilaksanakan.
c. Untuk menempatkan bahan informasi dalam memberikan bimbingan
tentang jenis pendidikan atau jenis jabatan yang cocok untuk pendidikan
anak tersebut.
d. Untuk menempatkan bahan informasi yang menentukan apakah seorang
anak dapat dinaikkan kekelas yang lebih tinggi atau harus mengulang di
kelas semula.
e. Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai anak didik sesuai
dengan kapasitas atau belum.
f. Untuk menafsirkan apakah anak didik sudah cukup matang untuk
dilepaskan kedalam masyarakat atau untuk melanjutkan kelembaga
pendidikan yang lebih tinggi.
g. Untuk mengetahui taraf efesiensi metode yang dipergunakan dalam
lapangan pendidikan.8
8
Wayan Nurkancana dan PPN Sumartana, evaluasi pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional,
2000) h. 3-6.
15
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriono, evaluasi dalam kaitannya
dengan kegiatan pembelajaran mempunyai fungsi yang amat penting, yaitu:
a. Untuk memberikan umpan balik (feed back) kepada guru sebagai dasar
untuk memperbaiki proses belajar mengajar, serta mengadakan program
perbaikan bagi murid.
b. Untuk memberi angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar setiap
murid, antara lain digunakan dalam rangka pemberian laporan kemajuan
belajar murid kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas serta penentuan
lulus tidaknya seorang murid.
c. Untuk menentukan murid didalam situasi belajar mengajar yang tepat,
sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh murid.
d. Untuk mengenal latar belakang (psikologis, fisik dan lingkungan) murid
yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar, nantinya dapat dipergunakan
sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan-kesulitan belajar yang timbul.9
Dari uraian beberapa pendapat para ahli yang mengemukakan tentang fungsi
evaluasi, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa fungsi evaluasi
pembelajaran yang mendasar adalah untuk melihat kelemahan atau keberhasilan
siswa, sebagai sarana untuk memperbaiki program yang sudah ada, untuk
memberikan keterangan atau informasi, angka-angka keberhasilan pencapaian belajar
peserta didik dalam suatu periode, sehingga memudahkan guru untuk mengambil
berbagai keputusan pembelajaran berikutnya.
Setelah mengetahui tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran Fiqih yang akan
dilaksanakannya terhadap siswa, maka seorang guru mata pelajaran Fiqih perlu pula
untuk menentukan teknik yang akan digunakan dalam pelaksanaan evaluasi
pembelajaran Fiqih tersebut, serta perlu memperhatikan langkah-langkah pelaksanaan
evaluasi yang seharusnya. Agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik
sebagaimana yang diharapkan.
9
Abu Ahmadi dan Widodo Supriono, Psikologi Belajar, (Jakarta:Rineka Cipta, 1991),h.189.
16
C. Teknik-Teknik
dan
Langkah-Langkah
dalam
Pelaksanaan
Evaluasi
Pembelajaran
1. Teknik-Teknik Pelaksanaan Evaluasi Pembelajaran
a.
Teknik Tes
1) Pengertian Tes
Secara harfiah kata ―tes‖ berasal dari bahasa Perancis Kuno: testum dengan
arti: ―piring untuk menyisihkan logam-logam mulia‖ (maksudnya dengan
menggunakan alat berupa piring itu akan dapat diperoleh jenis-jenis logam mulia
yang nilainya sangat tinggi) dalam bahasa inggris ditulis dengan test yang dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ―tes‖, ―ujian‖ atau ―percobaan‖.
Tes yaitu cara untuk mendapatkan hasil dari pengukuran atau perbandingan
kemampuan yang dimiliki antar dua orang atau lebih yang dilaksanakan secara
sistematis dan mempunyai standar objektif.
2) Fungsi Tes
Secara umum ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
a. Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik
b. Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui
tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program
pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.
17
3) Penggolongan Tes
a. Penggolongan Tes Berdasarkan Fungsinya Sebagai Alat Pengukur
Perkembangan/Kemajuan Belajar Peserta Didik dalam Pembelajaran
Fiqih
1) Tes Seleksi
Tes seleksi sering dikenal dengan istilah ―Ujian saringan‖ atau ―Ujian
masuk‖. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru,
dimana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong
paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes.
2) Tes Awal
Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana meteri atau bahan
pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Tes ini
dilakukan sebelum bahan pelajaran diberikan sehingga butir-butir soal dibuat
dengan mudah-mudah.
Setelah tes awal itu berakhir, maka sebagai tinjak lanjutnya adalah: (a)
jika dalam tes awal itu semua materi yang ditanyakan dalam tes sudah
dikuasai dengan baik oleh peserta didik, maka materi yang telah ditanyakan
dalam tes awal itu tidak akan diajarkan lagi, (b) jika materi yang dapat
dipahami oleh peserta didik baru sebagian saja, maka yang diajarkan adalah
materi pelajaran yang belum cukup dipahami oleh peserta didik tersebut.
18
3) Tes Akhir
Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran
yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh
peserta didik.
Isi atau materi tes akhir ini adalah bahan-bahan pelajaran yang
tergolong penting, yang telah diajarkan kepada peserta didik, dan biasanya
naskah tes akhir ini dibuat sama dengan naskah tes awal. Dengan cara
demikian maka akan dapat diketahui apakah hasil tes akhir lebih baik ataukah
lebih buruk daripada hasil tes awal. Jika hasil tes akhir itu lebih baik daripada
tes awal, maka dapat diartikan bahwa program pengajaran telah berjalan dan
berhasil dengan sebaik-baiknya.
4) Tes Diagnostik
Tes diagnostik (diagnostic test) adalah tes yang dilaksanakan untuk
menentukan secara tepat jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik
dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan diketahuinya jenis-jenis
kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik itu maka lebih lanjut akan dapat
dicarikan upaya berupa pengobatan yang tepat.
5) Tes Formatif
Tes formatif (formative test) adalah tes hasil belajar yang bertujuan
untuk mengetahui, sudah sejauh mana peserta didik ―telah terbentuk‖ (sesuai
19
dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti
proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
Tes formatif ini biasa dilaksanakan di tengah-tengah perjalanan
program pengajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan pelajaran atau
subpokok bahasan berakhir atau dapat diselesaikan. Di sekolah tes formatif ini
biasa dikenal dengan istilah ―ulangan harian‖.
Tindak lanjut yang perlu dilakukan setelah diketahuinya hasil tes
formatif adalah:
a. Jika materi yang diteskan itu telah dikuasai dangan baik, maka
pembelajaran dilanjutkan dengan pokok bahasan yang baru.
b. Jika ada bagian-bagian yang belum dikuasai, maka sebelum
dilanjutkan dengan pokok-pokok bahasan baru, terlebih dahulu
diulangi atau dijelaskan lagi bagian-bagian yang belum dikuasai
oleh peserta didik.
6) Tes Sumatif
Tes sumatif (summative test) adalah tes hasil belajar yang
dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai
diberikan. Di sekolah tes ini dikenal dengan istilah ―ulangan umum‖ atau
EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir), dimana hasilnya digunakan untuk
mengisi nilai rapor atau mengisi ijazah.
20
Yang menjadi tujuan utama tes sumatif adalah untuk menentukan nilai
yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh
proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, sehingga dapat ditentukan:
a) Kedudukan dari masing-masing peserta didik ditengah-tengah
kelompoknya.
b) Dapat atau tidaknya peserta didik untuk mengikuti program
pengajaran berikutnya.
c) Kemajuan peserta didik, untuk diinformasikan kepada pihak orang
tua, petugas bimbingan dan konselin, lembaga-lembaga pendidikan
lainnya atau pasaran kerja yang tetuang dalam bentuk rapor atau
ijazah.
b. Penggolongan Tes Berdasarkan Aspek Psikis
1) Tes Intelegensi (Intellegency Test), yakni tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan
seseorang.
2) Tes kemampuan (Apttitude Test), yaitu tes yang dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang
dimiliki oleh testee.
3) Tes sikap (Attitide Test), yakni salah satu jenis tes yang dipergunakan
untuk mengungkap predisposisi atau kecenderungan seseorang untuk
melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa
individu-individu maupun objek-objek tertentu.
21
4) Tes kepribadian (Personality Tes), yakni tes yang dilaksanakan dengan
tujuan mengungkap ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya
bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi
atau kesenangan, dan-lain-lain.
5) Tes hasil belajar, yang juga sering dikenal dengan istilah tes pencapaian
(achievement test), yakni tes yang biasa digunakan untuk mengungkap
tingkat pencapaian atau prestasi belajar.
c. Penggolongan Tes Berdasarkan Jenis Tes yang digunakan
1) Tes Tertulis
Tes tertulis merupakan alat penilaian yang dijawab oleh siswa
secara tertulis. Tes tersebut berupa : a) tes bentuk uraian, yaitu semua
bentuk tes yang pertanyaannya membutuhkan jawaban dalam bentuk
uraian. b) tes bentuk objektif, yaitu semua bentuk tes yang mengharuskan
siswa memilih diantara kemungkinan-kemungkinan jawaban yang telah
disediakan, memberi jawaban singkat, atau mengisis jawaban pada kolom
titik-titik yang disediakan.
2) Tes Lisan
Tes lisan merupakan alat penilaian yang pelaksanaannya
dilakukan dengan mengadakan Tanya jawab secara langsung untuk
mengetahui kemampuan-kemampuan berupa proses berpikir siswa dalam
memecahkan suatu masalah, mempertanggung jawabkan pendapat,
penggunaan bahasa dan pengusaan materi pelajaran.
22
3) Tes Perbuatan
Tes perbuatan adalah tes yang diberikan dalam bentuk tugastugas. Pelaksanaanya dalam bentuk penampilan atau perbuatan.
b. Teknik Nontes
1. Pengamatan (Observasi)
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan
keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan
secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran
pengamatan.
2. Wawancara (Interview)
Secara umum yang dimaksud wawancara adalah cara menghimpun bahanbahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab lisan secara
sepihak, berhadapan muka dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
3. Pemeriksaan Dokumen
Evaluasi mengenai kemajuan perkembangan atau keberhasilan belajar peserta
didik tanpa menguji juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan
pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen.
23
2. Langkah-Langkah dalam Pelaksanaan Evaluasi Pembelajaran
Berbicara tentang pelaksanaan evaluasi pembelajaran dalam proses belajar
mengajar, berarti tidak terlepas dari sistem atau cara pelaksanaannya itu sendiri. Agar
suatu pekerjaan evaluasi dapat terlaksana dengan baik dan memperoleh hasil yang
memuaskan hendaknya terlebih dahulu mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menetapkan perencanaan evaluasi
b. Menentukan pelaksanaan evaluasi
c. Menentukan Pemberian Nilai Evaluasi
d. Tindak Lanjut Terhadap Evaluasi
Untuk lebih jelasnya langkah-langkah pelaksanaan evaluasi tersebut, maka
akan penulis berikan uraian sebagai berikut:
a. Menetapkan Perencanaan Evaluasi
Perencanaan
adalah
langkah
penting
yang
harus
dilalui
dalam
melaksanakan evaluasi, supaya dalam pelaksanaannya ada kesesuaian antara
perencanaan dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dan disiapkan dalam membuat perencanaan tersebut, yaitu:
1) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. Perumusan tujuan
evaluasi sangat penting, sebab tanpa tujuan yang jelas maka evaluasi
akan berjalan tanpa arah dan jadi kehilangan arti dan fungsi.
2) Menetapkan aspek-aspek yang akan di evaluasi, misalnya aspek
kognitif, afektif maupun psikomotorik.
24
3) Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan dalam
pelaksanaan evaluasi, misalnya mempergunakan metode tes atau
metode non tes.
4) Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi belajar itu sendiri (kapan
dan berapa kali evaluasi itu dilaksanakan).10
Setelah guru membuat perencanaan tersebut dalam pelaksanaan evaluasi,
selanjutnya penyusunan soal tes yang akan diberikan kepada peserta didik.
Penyusunan soal tes tersebut harus sesuai dengan tujuan penilaian, bahan pengajaran
yang diberikan, metode apa yang digunakan dalam penilaian dan bentuk soal yang
disusun agar soal tes yang disusun dapat mengukur kemampuan anak secara tepat dan
objektif.
b. Menentukan Pelaksanaan Evaluasi
Setelah membuat perencanaan dalam pelaksanaan evaluasi maka langkah
selanjutnya adalah melaksanakan evaluasi tersebut, dalam pelaksanaannya dapat
digunakan tiga macam teknik tes, yaitu tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan.
Sebelum dilaksanakannya tes tertulis, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Soal telah ditulis sebelumnya.
Menentukan jumlah pertanyaan.
Pertanyaan mencakup seluruh bahan.
Kalimat pertanyaan harus jelas.
Ada kunci jawaban11
10
Anas Sudjiono, Op. cit, h. 59-60.
Roestiyah, NK., Masalah-Masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta: Bina Aksara, 1982), h. 94.
11
25
Untuk tes formatif pelaksanaannya tidak membutuhkan perencanaan dan
langkah yang kompleks, karena pelaksanaan dan penyusunan soal tes itu dilakukan
oleh guru mata pelajaran masing-masing. Tetapi untuk tes sumatif membutuhkan
perencanaan dan kerja sama dari semua staf sekolah. Sedangkan untuk tes lisan atau
perbuatan penilaiannya langsung dilakukan oleh guru mata pelajaran yang
bersangkutan, tes ini biasanya digunakan pada pre tes atau post tes.
c. Menentukan Pemberian Nilai Hasil Evaluasi
Setelah pelaksanaan evaluasi berakhir, maka langkah selanjutnya adalah
mengoreksi atau memberi nilai/angka pada setiap hasil tes siswa. Namun demikian
penetapan skor harus sudah dilakukan sebelum tes itu dilaksanakan, sehingga tinggal
membandingkan skor yang diperoleh siswa dengan skor yang secara keseluruhan.
Maka akan di peroleh hasil evaluasi tersebut.
Untuk pemberian nilai dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu bentuk tes
subjektif dan objektif.
1.
Cara Pemberian Nilai Tes Subjektif
Pemberian nilai tes subjektif dapat dilakukan dengan cara pemberian angka
tanpa bobot. Pada cara ini setiap butir soal diberi angka dengan rentangan 1-10
tanpa melihat derajat kedukran dari masing-masing butir soal, maka pemberian
nilainya dapat dilihat pada tabel berikut:
26
Tabel 2.2 PEMBERIAN NILAI TES SUBYEKTIF TANPA BOBOT
No
Angka maksimal
Angka yang diperoleh
1
2
3
4
5
6
10
10
10
10
10
10
8
7
8
6
7
7
7
10
6
8
10
8
9
10
7
10
10
7
100
71
Maka nilai yang diperoleh siswa adalah:
71
100
× 100 = 7,1
Dengan demikian, angka yang diperoleh dari perhitungan dalam pemberian
nilai tanpa bobot adalah 7,1.
2.
Cara Pemberian Nilai Tes Obyektif
Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam pemberian nilai:
a.
Tanpa menggunakan rumus tebakan (Non Quessing Formula) yaitu
dengan cara menghitung jumlah jawaban yang benar. Biasanya
digunakan bagi item yang belum diketahui tingkat kebaikannya. Setiap
jawaban yang benar diberi skor 1, dan jawaban yang salah diberi skor 0.
Jadi, skor = jumlah jawaban yang benar.
b.
Dengan menggunakan rumus tebakan (quessing formula), Biasanya
rumus ini digunakan jika item-item tes itu sudah pernah diujicobakan
27
dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat kebenarannya.
Penggunaan rumus tebakan ini bukan karena kita sudah mengetahui
bahwa testee itu menebak, tetapi karena tes bentuk obyektif ini memang
sangat memungkinkan testee untuk menebak. Adapun rumus-rumus
tebakan tersebut adalah sebagai berikut:

Rumus untuk pilihan ganda (multiple choice)
S
W
N = B – —— - 1 atau S = R- —— -1
n
n
Keterangan:
N= Nilai yang diperoleh
B= Jumlah jawaban yang benar
S= Jumlah jawaban yang salah
n= Jumlah pilihan jawaban
S= Score
R= Right
W= Wrong

Rumus untuk ragam B-S (true false)
N=B-S atau S=R-W

Rumus untuk ragam menjodohkan
N=B
28

Rumus untuk isian (competion test)
N=B
Untuk pemberian nilai tes lisan, penilaiannya langsung pada saat tes
dilaksanakan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru agar penilaiannya bisa
obyektif, yaitu:
1.
Kebenaran jawaban yang diberikan, apakah sesuai dengan tes yang
disampaikan.
2.
Kelancaran dalam menemukan jawaban.
3.
Apakah waktu yang tersedia sudah habis dari masing-masing soal, atau
waktu masih panjang.
4.
Bagaimana kemampuan untuk mempertahankan pendapat.12
d. Tindak Lanjut Terhadap Evaluasi
Sebagai tindak lanjut terhadap hasil evaluasi yang telah dicapai siswa, ada dua
hal yang bisa dilakukan guru yaitu: program perbaikan dan program pengayaan.
Program perbaikan diadakan bagi siswa yang nilainya dianggap masih kurang,
sedangkan program pengayaan diadakan bagi siswa yang nilainya sudah baik. Kedua
hal tersebut dilakukan agar nilai yang diperoleh siswa akan maksimal, namun
demikian tingkat kepentingan berbeda. Kegiatan pengayaan tingkat kepentingannya
terletak pada para siswa yang tidak mengalami kesulitan belajar, sedangkan kegiatan
12
Sutomo, Teknik Penilaian Pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1985), h. 118.
29
perbaikan tingkat kepentingannya khususnya bagi para siswa yang mengalami
kesulitan belajar atau kegagalan belajar. Sehinnga apabila kedua tingkat kepentingan
ini dibandingkan, maka kegiatan perbaikan mempunyai kedudukan yang lebih
penting, karena menyangkut masa depan para siswa yang memerlukan bantuan baik
yang berupa bimbingan memecahkan kasus kesulitan/kegagalan belajar mereka.
Dengan demikian ―guru yang telah menyelenggarakan pengajaran pokok disertai
dengan kegiatan perbaikan dan pengayaan berarti menunaikan tugas sepenuhnya.13
a. Program Perbaikan
Program perbaikan adalah ―suatu bentuk pengajaran yang bermaksud untuk
menyembuhkan, membetulkan, dan membuat jadi lebih baik’’.14Kegiatan perbaikan
ini dapat dilaksanakan dengan lebih dahulu melihat hasil penilaian tes formatif bagi
siswa taraf penguasaannya terhadap bahan pengajaran kurang dari 70%. Tujuan
dilaksanakannya program perbaikan ini supaya mereka dapat secara tuntas menguasai
bahan pelajaran yang telah diajarkan. Dalam pembelajaran Fiqih, tentu saja program
perbaikan sangat perlu dilakukan, karena keterampilan-keterampilan yang ditekankan
dalam pembelajaran Fiqih tentu saja harus dikuasai oleh semua siswa agar tujuan
pembelajaran Fiqih tersebut dapat tercapai.
Adapun bentuk-bentuk kegiatan perbaikan antara lain:
1) Mengajarkan kembali: kegiatan perbaikan dilaksanakan dengan jalan
mengajarkan kembali bahan-bahan yang sama kepada para siswa yang
13
Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 199
14
Departemen Agama RI, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Dirjen Dinbaga, t. th), h. 27
30
memerlukan bantuan dengan cara penyajian yang berbeda dalam hal-hal
sebagai berikut:
a.
Mengajarkan belajar mengajar dalam situasi kelompok yang telah
dilakukan.
b.
Melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar.
c.
Memberikan dorongan (motivasi) kepada siswa pada kegiatan belajar.
2) Bimbingan individu/kelompok kecil.
3) Memberikan pekerjaan rumah.
4) Menyususn siswa mempelajari bahan yang sama dari buku-buku. pelajaran,
buku paket atau sumber-sumber bacaan yang lain.
5) Guru menggunakan alat bantu audio visual yang lebih banyak
Bimbingan: oleh wali kelas, guru bidang studi, guru BP, atau tutor.15
b. Program Pengayaan
Program pengayaan adalah kegiatan tambahan yang diberikan kepada siswa
yang telah mencapai ketentuan dalam belajar yang dimaksudkan untuk menambah
wawasan atau memperkuat pengetahuannya dalam materi yang telah dipelajari.16
Program pengayaan dapat berupa vertikal/horizontal, pengayaan yang bersifat
vertikal dimaksudkan agar siswa merasa lebih mantap dan lebih meyakini materi
15
Ischak SW dan Warji R, Program Remedial Dalam Proses Belajar Mengajar, (Yogyakarta:
Liberty, 1987), h. 42.
16
Uzwar Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993) cet. Ke 1, h. 108.
31
yang telah dipelajari.Dalam hal ini mata pelajaran yang diberikan lebih tinngi
daripada materi yang sudah dipelajari.
Program pengayaan ini diberikan kepada siswa yang taraf penguasaannya
terhadap materi pelajaran lebih dari 70% dan bagi siswa yang yang taraf
penguasaannya lebih dari 80% sudah bisa dikatakan berhasil dan bahan pelajaran
dapat dilanjutkan pada pembahasan materi berikutnya.
Bentuk pelaksanaan program pengayaan berupa:
1.
Membantu teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan belajar.
2.
Kegiatan perorangan berupa membaca, mempelajari bahan pelajaran,
menyelesaikan tugas atau mengerjakan pekerjaan rumah (PR).
3.
Mengulang lagi latihan-latihan yang sebelumnya pernah dikerjakan.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Evaluasi Pembelajaran
Berhasil atau tidaknya pelaksanaan evaluasi pembelajaran juga tidak terlepas dari
faktor-faktor tersebut meliputi faktor intern dan faktor ekstern.
1. Faktor Intern
Faktor intern yang mempengaruhi pelaksanaan evaluasi pembelajaran Fiqih
yang penulis maksud adalah tentang latar belakang pendidikan guru, pengalaman
mengajar guru dan pengetahuan teoritis tentang evaluasi pembelajaran Fiqih.
a. Faktor Latar Belakang Pendidikan Guru
Latar belakang pendidikan guru merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap keahlian guru dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
32
Sebab melalui pendidikan yang pernah ditekuni terkumpul sejumlah pengetahuan
teoritis yang bisa dijadikan pegangan dalam melaksanakan tugas keguruan.
Maka dari itu untuk memangku jabatan sebagai guru dituntut memiliki
kualitas dan memenuhi syarat formal, artinya guru tersebut harus mempunyai latar
belakang pendidikan yang sesuai dengan profesinya sebagai seorang guru. Apalagi
bagi guru yang memegang mata pelajaran Fiqih harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
1) Memiliki ijazah formal.
2) Sehat jasmani dan rohani
3) Berakhlak mulia, bagi guru agama ditambah dengan:
4) Memiliki pribadi mu’min, muslim dan muhsin.
5) Taat menjalankan perintah agama
6) Memiliki jiwa pendidikan dan rasa kasih sayang kepada anak didik
dan ikhlas jiwanya.
7) Mengetahui dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang keguruan.
8) Mengetahui ilmu pengetahuan agama.
Tidak memiliki cacat jasmanaiah dan rohaniah.17
Seorang guru yang telah menekuni pendidikan keguruan tentu memiliki
muatan ilmu yang lebih dari pada guru yang tidak pernah menekuni pendidikan
keguruan, dengan berbedanya latar belakang pendidikan bisa berbeda keahliannya
17
Abu Ahmadi, Metode Khusus Pendidikan Agama (MKPA), (Bandung: Armeco, 1986), h.
49.
33
dalam melaksanakan tugas evaluasi. Jadi dasar pengertahuan sangat menentukan pada
kualitas seseorang.
b. Faktor Pengalaman Mengajar
Faktor lain yang mempengaruhi terhadap pelaksanaan evaluasi pembelajaran
Fiqih adalah faktor pengalaman mengajar, karena pengalaman mengajar tentu akan
mempengaruhi cara guru dalam menghadapi masalah-masalah pendidikan. Semakin
lama seorang guru mendidik semakin banyak dinamika dan pengalaman yang
dialaminya sehingga semakin banyak pula peluang baginya untuk memperbaiki
keterampilannya sebagai seorang guru.
Bagi seorang guru, pengalaman mengajar merupakan pengalaman yang sangat
berharga, sebab seorang guru tidak bisa hanya dilandasi pengetahuan teoritis semata.
Tetapi juga perlu ada pengalaman di lapangankhususnya dalam praktik mengajar,
sebab mengajar memerlukan pembiasaan.
Keterampilan seorang guru dalam melaksanaan dan menindaklanjuti evaluasi
dipengaruhi oleh pengalamannya bertugas sebagai guru. Pengalaman mengajar di
lapangan mengajarkan banyak hal yang terkadang tidak pernah ditemui dalam
pendidikan di sekolah.Situasi nyata tdak selalu persis dengan teori, pengalaman
mengajar merupakan modal yang sangat berguna.
Semakin lama guru menjalani tugasnya dalam mengajar, semakin banyak
peluang baginya untuk mengumpulkan pengalaman. Dan semakin banyak tempat
mengajar yang ditemui seorang guru maka semakin bervariasi dan banyak pula
pengalamannya.
34
c. Faktor Pengetahuan Teoritis Tentang Evaluasi Pembelajaran
Disamping latar belakang pendidikan seorang guru, faktor pengetahuan guru
juga sangat menentukan keberhasilannya dalam melaksanakan pengajaran, dalam hal
ini khususnya berkenaan dengan pengetahuan teoritis guru tentang evaluasi
pembelajaran Fiqih yang diterapkannya dalam proses penilaian dari hasil belajar.
Keahlian yang dimiliki seorang guru tidak akan berkembang dengan
sendirinya tanpa ada usaha untuk mengembangkannya lagi, semua itu tergantung
pada usaha yang dilakukan oleh guru.
2. Faktor Ekstern
a. Jumlah Kelas yang Ditangani Serta Banyaknya Mata Pelajaran yang
Diajarkan
Banyaknya jumlah kelas yang ditangani serta banyaknya mata pelajaran yang
diajarkan oleh guru juga dapat berpengaruh dalam melaksanakan tugas keguruan,
termasuk juga tugas dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran. Faktor tersebut
berhubungan dengan kesempatan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya.
Menangani siswa dalam jumlah yang banyak tentu akan menyita waktu,
tenaga dan biaya yang lebih banyak dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran,
ditambah lagi dengan mata pelajaran yang dipegang oleh guru tidak cuma satu, maka
hal yang demikian itu akan lebih banyak
menyita waktu dan perhatian guru.
Sehingga untuk melaksanakan evaluasi pembelajaran dengan baik akan mendapat
sedikit hambatan.
35
b. Motivasi dari Kepala Sekolah
Motivasidari kepala sekolah juga mempengaruhi pelaksanaan evaluasi
pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Sebagai seorang atasan, saran dan anjuran
kepala sekolah akan banyak diperhatikan oleh guru-guru.
Kepala sekolah sebagai supervisor memiliki tugas membantu guru dalam
mengembangkan dan melaksanakan tugas-tugas keguruannya, salah satunya adalah
membantu guru-guru dalam mengevaluasi program pembelajaran dan hasil belajar
murid. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hendiyat Soetopo sebagai berikut:
Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah bertanggung jawab
untuk pertumbuhan guru-guru secara kuntinu, dengan praktik demokratis
ia harus mampu membantu guru-guru untuk mengenal kebutuhan
masyarakat sehingga tujuan pendidikan memenuhi hal itu. Ia harus
membantu guru-guru membina kurikulum sesuai dengan minat.
Kemampuan dan kebutuhan anak, ia harus mampu membantu guru-guru
mengevaluasi program pendidikan dan hasil belajar murid.18
Motivasi dari kepala sekolah bisa berupa dorongan, arahan, instruksi maupun
bimbingan kepada guru untuk melaksanakan evaluasi pembelajaran terutama dalam
pembelajaran Fiqih. Motivasi tersebut sebaiknya sering-sering diberikan sebab
semakin sering kepala sekolah memberikan motivasi kepada guru untuk
melaksanakan evaluasi pembelajaran, akan semakin banyak perhatian guru
untukmelaksanakannya.
18
Hendiyat Soetopo dan Wastey Soemanto, Kepemimpinan Dan Suvervisi Pendidikan,
(Jakarta: Bina Aksara, 1988), h.20
Fly UP