...

Khristianto – UnMuh Purwokerto – Pergeseran Diksi

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

Khristianto – UnMuh Purwokerto – Pergeseran Diksi
PERGESERAN KOSAKATA DALAM KOMUNIKASI SOSIAL
MASYARAKAT BAGELEN
Khristianto, Yoginawan, Titin Suharso & Fatoni
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Pendahuluan
Pergeseran yang dimaksud dalam judul di atas adalah beralihnya pilihan kosakata
yang dituturkan oleh masyarakat penutur bahasa Jawa lokal di wilayah Bagelen, atau wilayah
bahasa Jawa ngapak, yang meliputi: Kebumen, Banyumas, Cilacap, Banjarnegara,
Purbalingga dan Pemalang. Proses ini berlangsung secara perlahan dan di luar kesadaran para
penutur itu sendiri, yang sangat mungkin juga dipengaruhi oleh generasi yang dominant di
masyarakat. Salah satu hal yang menjadi pemicu adalah hilangnya kebanggaan akan bahasa
yang mereka miliki, atau kesetiaan terhadap kata-kata asli yang khas dan menjadi ciri dari
bahasa mereka dari bahasa yang lebih dominan, bahasa Jawa Sentral (Solo, Yogyakarta)
selanjutnya disingkat JS, dan bahasa nasional (BI).
Kebanggan bahasa dan kesetiaan bahasa merupakan dua di antara tiga sikap bahasa
seperti diungkapkan oleh, by Mathiot via Chaer & Agustina (2004:145). Anderson, via Chaer
& Agustina (2004:151), menjelaskan bahwa sikap bahasa adalah keyakinan atau system
kognitif, yang berlangsung dalam jangka waktu yang relative lama, terhadap bahasa, dan
sikap ini menimbulkan reaksi berupa sikap tertentu seperti kehendak seorang subyek. Sikap
tersebut bisa berupa hal yang positif, atau sebaliknya, negatif. Sikap ini jelas memiliki
pengaruh terhadap kemampuan untuk menguasai bahasa; seorang yang menyukai tokoh
tertentu, misalnya seorang idola, cenderung akan lebih bersemangat dan lebih mudah
menguasai bahasa yang dituturkan oleh idolanya itu (Holmes, 1995:345). Artinya sikap
dalam hal ini menambah gairah dalam pembelajaran bahasa dan memicu individu untuk
menikmati proses pembelajaran itu.
Garvin dan Mathiot via Chaer & Agustina (2004:152) menerangkan jenis-jenis sikap
bahasa. Pertama, kesetiaan bahasa yang menjadikan komunitas penutur bahasa terdorong
untuk melestarikan bahasa mereka, dan melindunginya dari pengaruh negatif yang
mungkin datang dari bahasa lain. Sikap bahasa yang kedua adalah kebanggan bahasa yang
1
berpengaruh terhadap masyarakat bahasa itu untuk mengembangkan dan menggunakannya
secara terus menerus sebagai simbol kesatuan dan identitas komunitasnya. Terakhir,
kesadaran akan norma bahasa yang menuntut para individu untuk menggunakan bahasanya
secara baik dan benar.
Tiga kategori sikap ini merupakan satu garis kontinum yang memanjang dari yang
derajatnya paling rendah hingga paling tinggi. Makin tinggi skala pada ketiga sikap bahasa
itu, maka akan baik bagi bahasa itu, dan sebaliknya. Artinya, seorang bisa menjadi penutur
yang setia dan bangga sehingga di mana pun ia berada ia ingin menunjukkan bahasa dari
masyarakatnya. Misalnya, mahasiswa dari Purbalingga yang setia menuturkan dialek
lokalnya meskipun ia berada di lingkungan kota Solo; ia tidak peduli atau malu, meskipun
logat bicaranya menyulut tawa teman-temannya. Mungkin contoh ini adalah sample yang
kecil dari kenyataan bahwa dalam kasus seperti itu orang-orang penutur lokal cenderung
malu untuk menunjukkan bahasa aslinya, dengan kata lain memiliki derajat kesetiaan dan
kebanggan yang rendah terhadap bahasa aslinya, dan biasanya memilih bertutur dengan
bahasa Indonesia. Derajat kesetiaan yang rendah menjadikan seorang tidak hanya malu
akan bahasa itu, tetapi juga tidak memiliki kepedulian bahasa ibu mereka.
Kajian ini merupakan perluasan dari makalah yang ditulis pada tahun 2005,
mengenai tersingkirnya kosa-kata bahasa vernakuler oleh bahasa nasional. Kajian ini
mencoba memperluas wilayah untuk menggali fakta bahasa yang lebih dalam dan luas,
dengan melibatkan para informan yang dianggap mewakili wilayah-wilayah tersebut.
Wilayah yang dimaksud meliputi wilayah Bagelen, dari Kebumen, Banyumas, Banjarnegara,
Purbalingga dan Pemalang. Para informan tersebut adalah subyek yang memiliki memori
kata-kata yang sudah mulai hilang dalam percakapan sehari-hari. Selain wilayah yang lebih
luas, kajian ini akan mencoba menemukan beberapa faktor yang dicurigai menjadi pemicu
tergesernya kosakata-kosakata itu.
Bahasa Nasional, Bahasa Daerah dan Dialek Lokal
Penetapan bahasa nasional, bahasa Indonesia, dari bahasa Melayu merupakan satu cara
terbaik untuk memecahkan berbagai hambatan dan permasalahan dalam berbagai aspek
kehidupan nasional, salah satunya di bidang pendidikan. Tidak terbayangkan bagaimana
tugas mendidik dan mengajar menjadi sangat sulit dan komplikatif, bila kita tidak memiliki
2
bahasa Indonesia sebagai lingua franca. Kondisinya mungkin sangat kacau ketika guru dari
Jawa harus mengajar di sekolah di Kalimantan atau seorang guru dari Jawa Tengah harus
mengajar di Sumedang, misalnya. Belum lagi, permasalahan biaya yang tentu akan sangat
besar bila pemerintah harus menyediakan buku ajar dalam berbagai versi bahasa-bahasa yang
dituturkan di Indonesia (Lauder, 2004:12). Bukan hanya soal biaya, tetapi juga berapa besar
kerja dan tenaga yang harus ditempuh untuk menuangkan konsep-konsep materi itu dalam
setiap bahasa yang khas itu.
Namun, kita juga tidak boleh menutup mata dari fakta bahwa langkah strategis tersebut
juga meminta biaya yang cukup mahal, yakni pengorbanan akan kekayaan bahasa. Diakui
atau tidak pengangkatan bahasa nasional telah menjadi pemicu apa yang disebut oleh
Skutnabb-Kangas via Lauder (2004:12) sebagai linguistic genocide in education,
pembantaian bahasa dalam dunia pendidikan. Dalam proses pendidikan itu, anak-anak, dan
juga orang dewasa, secara sistematis terkondisikan untuk melupakan bahasa ibunya. Mereka
kemudian lebih suka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, ketimbang bahasa daerahnya.
Kecenderungan semacam ini akan diwarisi oleh generasi berikutnya. Hal ini sangat mungkin
akan berakibat pada hilangnya bahasa lokal, karena bahasa itu sudah tidak lagi diturukan oleh
komunitas asli, dan ditinggalkan sama sekali oleh para pemiliknya tersebut. Kebijakan bahasa
nasional tersebut bisa dikatakan telah mengkhianati fakta multilingualisme di Indonesia.
Padahal sudah jelas amanat dari konstitusi negara yang menggariskan pentingnya bahasa
daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya. Salah satu hal yang menjadikan bahasa lokal
menjadi anak tiri adalah makin hilangnya fungsi sosial dari bahasa itu, selain sebagai bahasa
sehari-hari. Kondisi ini menjadikan lingkup pemakaian dan kegunaan bahasa lokal menjadi
sangat sempit, menjadikannya tidak berkembang dan malah makin terpinggirkan, dengan
kehilangan maknanya bagi penutur aslinya.
Keberagaman bahasa masyarakat Indonesaia dapat terlihat dengan jelas dari diglosia
pemakaian bahasa. Dalam komunikasi sehari-hari, masyarakat dengan bahasa tertentu
mengandalkan bahasa lokalnya sebagai perangkat komunikasi, tetapi dalam situasi yang lebih
formal, mereka cenderung mengadopsi bahasa Indonesia. Praktis, bahasa lokal memang
hanya digunakan dalam komunikasi sosial harian. Sementara situasi komunikasi yang lain,
masyarakat lebih mengandalkan bahasa Indonesia. Begitu juga dengan ragam tulis yang
diakui atau tidak sebagian besar dari masyarakat kesulitan untuk menuangkannya dengan
3
bahasa lokal. Kondisi semacam ini menciptakan posisi yang begitu senjang di antara dua
bahasa itu. Poedjosoedarmo (2002:14) menjelaskan dua alur yang berlawanan dari bahasa
nasional dan bahasa daerah. Bahasa nasional, di satu sisi, makin tumbuh dan makin kaya.
Bahasa itu menjadi makin baku, tambah efisien, dan semakin konsisten. Sementara bahasa
daerah, sebaliknya, makin tidak jelas, tidak efisien dan tidak konsisten.
Senada dengan pernyataan di atas, Supardo (2000) melalui kajiannya mengungkapkan
keprihatinan serupa mengenai hubungan bahasa nasional dan bahasa daerah. Bahasa yang
dominan cenderung menjadi model, dan bahasa lokal makin tidak memiliki ruang untuk
mengembangkan diri. Para penutur bahasa lokal secara tidak sadar telah menutup pintu rapatrapat bagi perkembangan bahasa ibunya. Fenomena ini tampak jelas dalam relasi antara
bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, dengan sebagian besar bahasa daerah. Alwasilah
(2007) dalam satu wacananya mencoba mengingatkan pentingnya permasalahan ini, dan
mendorong pemerintah daerah melalui wewenang otonominya untuk memberikan perhatian
terhadap perkembangan bahasa daerah. Ia sangat khawatir bila langkah kebijakan yang
membela budaya daerah, termasuk bahasa, maka kekayaan itu tidak bisa terselamatkan lagi.
Dialek lokal adalah ragam yang paling terjepit oleh bahasa nasional dan juga oleh
bahasa daerah. Dalam komunitas Jawa, terdapat berbagai macam dialek yang memiliki
kekhasan baik dari aksen maupun diksinya. Para penutur ini memahami dua bahasa yang
lebih dominan tersebut, tetapi mereka juga memiliki pilihan-pilihan berbahasa yang tidak
terdapat dalam bahasa yang lebih dominan. Sayangnya, fungsi sosial yang semakin sempit
dari dialek lokal menjadikan keberadaannya bukan sebagai pilihan. Penutur dialek lokal
merasa lebih nyaman untuk mengadopsi segala yang berbau dominan. Artinya kekayaan
dialek lokal bisa dikatakan terancam. Padahal, dialek lokal memiliki peluang yang lebih
sedikit untuk terekam dalam bentuk bahasa tulis. Artinya bila dialek lokal itu tidak lagi
dituturkan, khususnya kosakata yang khas dialek itu, maka akan betul-betul hilang tanpa
bekas.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil penggalian informasi dari masing-masing informan, diperoleh daftar lebih dari 150
kata, yang dicurigai telah ditinggalkan oleh penuturnya. Artinya, kata-kata itu sudah jarang
sekali/tidak pernah digunakan dalam komunikasi sehari-hari dalam konteks komunikasi
4
masyarakat Jawa. Fungsi dari kata-kata itu telah tergantikan oleh kata lain yang bisa berasal
dari bahasa Indonesia atau bahasa Jawa Sentral. Masyarakat penutur Bahasa Jawa dari
masing-masing dialek di lima wilayah yang menjadi kajian memang para bilingual sempurna;
mereka memahami hampir seluruh kosa kata dari bahasa Indonesia, bahasa Jawa Sentral, dan
bahasa Jawa Periperal (Lokal). Dalam kontaks satu atau dua dekade sebelumnya, mereka
memahami makna kosa-kata dari bahasa Jawa Sentral dan kadang menuturkannya dalam
komunikasi harian, hanya saja porsinya masih kecil. Artinya, ujaran-ujaran dalam konteks
keseharian lebih sering mengaplikasikan kosakata lokal. Sebagai contoh:
Bapak : Dul, kae lawange tegi! ( Dul, pintunya ditutup ).
Perintah seorang Bapak pada si Dul, anaknya, untuk menutup pintu itu, kini telah berubah. Si
Dul, yang sekarang telah jadi seorang bapak, meminta anaknya dengan ujaran berikut.
Si Dul : Lan, lawange tutupen ( Lan, pintunya ditutup )
Kata tegi -atau kadang juga dengan kata ineb- dulu lebih populer dan fimiliar di telinga
komunitas penutur lokal. Ketika itu pun, mereka juga memiliki kata tutup sebagai alternatif,
menjadi milik mereka yang merupakan bagian dari kosakata bahasa Jawa Sentral. Hanya
saja, mereka lebih nyaman dan lebih akrab serta luwes menggunakan kosakata lokal dalam
pembicaraan konteks lokal. Tampaknya, saat ini hal itu tidak berlaku lagi. Begitu halnya
dengan kata lawannya, blag, yang berarti buka. Masyarakat sekarang akan lebih akrab
untuk mendengar kata
buka
daripada kata blag. Mereka mungkin akan mengerenyit
keheranan dan berpikir ulang dalam mencerna blag, kata milik asli mereka yang terasing dari
tuannya.
Fenomena semacam ini dicurigai terjadi pada lebih dari 150 kata yang masuk dalam daftar.
Muncul asumsi bahwa daftar itu sangat mungkin bisa dikembangkan untuk menjaring daftar
yang lebih panjang. Informan yang menjadi sumber data adalah orang-orang yang masuk
golongan muda, dan mereka diminta berefleksi, menggali memori masa kecil mengenai cara
komunitas tempat mereka dibesarkan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Usia
mereka kurang lebihnya di antara 18-30 tahun. Maka bila jangka usia dari informan diperluas
ke atas untuk merangkum generasi yang lebih tua, mungkin saja akan menghasilkan kata-kata
yang lebih banyak lagi.
Bila kita perhatikan, ada dua macam mekanisme hilangnya kosakata bahasa lokal: hilang
tergantikan dan hilang sama sekali. Hilang tergantikan maksudnya kosa kata lokal hilang, dan
5
fungsinya tergantikan oleh kata dari JS. Kata JS yang menggantikan biasanya merupakan
kata-kata JS yang diadopsi menjadi BI, sebagaimana dari contoh kata-kata di atas. Contoh
lainnya tersaji dalam tabel berikut disertai dengan kata yang menggantikannya. Kata-kata ini
tergantikan oleh kata-kata dengan konsep yang sama dari JS atau dari BI. Sebagian bahkan
merupakan serapan dari bahasa asing yang masuk menjadi bahasa Indonesia dan kemudian
diadopsi ke tingkat masyarakat penutur lokal, misalnya lipstik yang lebih sering terdengar
daripada kata benges , begitu juga dengan kata make up yang lebih akrab khususnya di
kalangan penutur muda dalam konteks lokal dibandingkan kata dandan.
Tabel 1.
Kata-Kata JL yang Hilang dan Tergantikan
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
Hilang/BL
arip
alum
Amben
andon
angot
Benges
blag
Blek
Banon
brengos
Brintik/brindil
Bebeh
Cengis
(ceng)kuwung
Cubuk
Cuwa
Dom
Gabug
Gendul
janganan
Jedhing/kolah
Kacu/gempo
kastok
Menggantikan
ngantuk
layu
ranjang
numpang
kumat
lipstik
buka (pintu)
kaleng
tembok
kumis
keriting
bete/ora mood
lombok/cabe
pelangi
cangkir
gela
jarum
mandul
botol
sayuran
kamar mandi
saputangan
hanger
Bahasa pengganti
JS
BI
BI
JS
JS
BI
JS
BI
BI
JS
BI
BI
JS
BI
BI
JS
BI
BI
JS
BI
BI
BI
BI/BA
6
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
keluron
kemul
lenga wangi
Lodhong
Longan
Macem
ndeleng
ngenyang
nggosok
olah-olah
pedangan
pesagen
pethetan
Plontos
powotan/brug
Senthong
Sinau
Suri/pethet
tegi/ineb
Teken
Udhud/ubluk
keguguran
selimut
parfum
toples
ngisor/kolong
pantes
nonton
tawa
nyeterika
masak
dapur
rak piring
hiasan
gundul
jembatan
kamar
belajar
sisir
tutup (pintu)
tongkat
motor
BI
BI
BI
BI
BI
JS
BI
JS
BI
BI
BI
BI
BI
JS
BI
BI
BI
JS
JS
BI
BI
45.
uwuh/runtah
sampah
BI
46.
47.
48.
Wandu
Wor
sewiwi/cewiwi
banci/bencong
campur
sayap
BI
JS
BI
Sebagian kata-kata di atas, yang bercetak tebal, adalah kata-kata yang hampir tidak pernah
lagi digunakan oleh penutur JL. Ketika, mereka ingin mengungkapkan konsep makna-makna
itu, mereka mengadopsi kata-kata yang sebenarnya berasal dari bahasa lain, JS atau BI.
Sebagian lain kadang masih terdengar digunakan oleh mereka. Artinya, kadang penutur JL
masih menggunakan kata
wor
sebagai alternatif kata campur, hanya saja frekuensi
kemunculannya sangat kecil. Tetapi ada sebagian kata yang sama sekali tidak digunakan,
misalnya kata teken ( tongkat ). Penutur lokal hampir-hampir tidak pernah menggunakan
kata itu, dan lebih memilih untuk menyebutkan kata tongkat . Meskipun, sangat mungkin
bahwa kata teken masih dituturkan oleh generasi lanjut usia. Hal ini dikarenakan ada
7
semacam perbedaan makna antara teken dengan tongkat. Teken tampaknya lebih mengacu
pada alat bantu untuk berjalan bagi orang yang sudah lanjut usia, sementara tongkat
merangkum makna yang lebih luas, termasuk alat yang digunakan di kegiatan pramuka, atau
alat bantu untuk bertarung.
Selain kelompok kata di atas, sebagian kata lain adalah kata-kata JL yang sama sekali hilang
dan tidak tergantikan. Kata-kata ini sebagian merupakan kata-kata benda yang sudah tidak
lagi digunakan oleh masyarakat, sehingga yang menjadi pemicu adalah perkembangan
teknologi. Peralatan sehari-hari yang dulunya merupakan benda-benda yang dibuat secara
tradisional dengan memanfaatkan lingkungan alam sekitar, kini tergantikan oleh alat-alat
yang dibuat oleh industri dengan bahan-bahan artifisial.
Dengan demikian, fungsi dari benda dengan nama lokal itu tergantikan oleh kemunculan
perangkat lain. Sesuatu akan ada dan bertahan bila memilki fungsional tertentu (AhimsaPutra, 2006:20). Dengan kata lain, fungsi sosial dari benda itu telah terpenuhi oleh benda
baru tersebut. Ungkapan fungsi sosial itu diungkapkan oleh Ahimsa-Putra untuk menjaring
segala unsur yang berlaku di masyarakat. Perpsepktif tersebut mencoba diterapkan secara
kilas balik dengan menyatakan bahwa segala sesuatu yang bertahan, karena memiliki fungsio
sosial. Ia menegaskan bahwa konflikpun, dilihat dari keberadaannya yang selalu muncul
dalam konteks masyarakat, pastilah memiliki fungsi sosial. Maka, sisi paradoksial hukum
tersebut bila diperlakukan dari fakta hilangnya sesuatu dari sekolompok masyarakat adalah
bahwa sesuatu itu sudah kehilangan fungsi sosialnya, atau perannya telah tergantikan oleh
sesuatu yang lain.
Tabel 2.
Kata-Kata JL yang Hilang dan Tidak Tergantikan
No
Kata yang hilang
Arti
1.
ndlepus
Membual
2.
ngirig
Menyaring pasir
3.
nglinthung
Pergi main
4.
ngringkel
Meringkuk
5.
6.
ngresula
mbrungkunung
Komplain
Temperamental
7.
atum
Bahan plastik
8
8.
diglitho
Dipukul pelan
9.
dithothok
Dipukul pelan
10.
dikenthak
Dipukul keras
11.
ditheot
Dicubit
12.
dicemol
13.
dijembel
Di cubit besar dan tidak
menyakitkan
Disentuh bagian kelamin
14.
dijomblang
Dibuka rok bawah
15.
nylimur
Mengalihkan perhatian
16.
17.
leneng
wangun
Serambi
Serambi
18.
19.
ndlenger
cemong
Tidak memperhatikan
Rantang kecil
20.
cemong(e/)
Kotor kena
21.
ngurup
22.
mrengut
Barter jajanan/bahan
makanan dengan padi
Ngambek
23.
mrekabak
24.
nggrendheng
Muka merah karena malu
atau marah
Ngomel di belakang
25.
ndlohom
Melongo
26.
menga
Membuka mulut
27.
mlesnong
Mengkilap matang
28.
mbluwek
Luka membuka
29.
mledhak
Lecet agak dalam
Hilangnya kosakata sebagian disebabkan berubahnya teknologi yang digunakan masyarakat,
seperti berbagai jenis barang seperti cemong (rantang kecil), padasan (pancuran dari bambu),
atau cubuk (mug kecil), wangun (tempat duduk di depan rumah terbuat dari batu-bata dan
semen) dan sebagainya yang hampir semuanya berujud benda. Benda-benda itu tergantikan
fungsinya oleh barang-barang baru seperti rantang, kran, mug dan kursi serambi. Ada juga
kata-kata yang mewakili ekspresi emosi, mrekabak (muka memerah karena marah atau
malu), yang tidak diketahui apakah penggantinya ketika para penutur mengungkapkan hal
serupa. Sangat mungkin, mereka menggunakan parafrase atau mendeskripsikannya secara
langsung, raine uabang ( mukanya memerah ).
9
Selain itu, kata-kata yang hilang juga berupa kata kerja yang mewakili aktivitas sosial yang
dulu pernah ada. Kata-kata yang masuk dalam kelas ini adalah ngurup, njomblang, dan
njembel. Ngurup adalah aktivitas transaksi jual beli yang dilakukan oleh masyarakat
tradisional dengan menggunakan sistem barter, atau pertukaran. Biasanya komiditi yang
biasa dipertukarkan dengan barang, biasanya adalah jajan atau makanan kecil, adalah padi,
yang sedang dikeringkan.
Anak : Mak, tuku gulali (Bu, beli gula-gula)
Ibu : kae nyerok gabah secemong nggo ngurup (Ya itu, ambil saja padi pake wadah terus
kamu tukar dengan jajan.)
Fenomena ini telah berubah dengan uang sebagai alat tukar tunggal dalam transaksi.
Sehingga aktivitas ngurup tidak lagi ada di masyarakat, dan tinggal transaksi dengan
menggunakan uang.
Begitu halnya dengan dua kata yang lain, njembel dan njomblang, yang hilang oleh
berubahnya budaya bermain anak-anak. Dua kata itu mewakili semacam tindak pelecehan
yang dilakukan oleh anak laki-laki terhadap teman perempuannya.
menyentuh kelamin
Njembel
artinya
dari luar dan bersifat sekenanya, sebagai bentuk lelucon. Dan
njomblang juga merupakan bentuk pelecehan dengan cara mengangkat rok anak perempuan,
sehingga anak-anak lain bisa melihat sekilas celana dalam yang ia kenakan. Jomblang ini
kadang juga memakan korban anak laki-laki dengan pelaku laki-laki. Bentuk dolanan
semacam ini sudah tidak lagi ada di masyarakat, sehingga terma yang digunakan sebagai alat
penyebutnya pun hilang.
Mekanisme Kolonialisasi Bahasa
Keberadaan bahasa yang lebih besar cakupannya seperti bahasa Jawa Sentral (JS) bagi bahasa
Jawa Lokal (JL), serta bahasa nasional (BI) bagi bahasa Jawa Sentral (JS), serta operasi
asosiatif diantara ketiganya dari yang paling kecil hingga yang terbesar kadang menjadi dua
mata pisau yang tidak imbang ketajamannya. Di satu sisi, bahasa besar memiliki peran yang
positif dalam melestarikan kosa kata dari bahasa yang lebih kecil, dengan demikian kosakata
itu akan makin populer dan dikenal luas oleh penutur bahasa yang lebih besar itu---dengan
10
kehilangan statusnya sebagai bagian dari bahasa lokal. Sisi ini adalah bagian yang tumpul
dari pisau itu. Artinya, masih patut dipertanyakan apakah fakta itu memang sesuatu yang
memang memiliki implikasi positif bagi bahasa kecil, atau hanyalah proses serupa untuk
meningkatkan efektifitasnya dalam memangku fungsi sosialnya.
Sisi tajam yang negatif dari perilaku bahasa besar adalah pesonanya bagi para penutur bahasa
kecil. Fungsi sosial yang disandangnya menyingkirkan bahasa kecil ke wilayah yang sangat
pinggir. Maka sebagaimana keprihatinan yang diungkapkan oleh Poedjosoedarmo (2002:14)
bahwa bahasa daerah menjadi semakin tidak konsisten, tidak jelas dan tidak efisien.
Penuturnya mengalami kesulitan untuk menyampaikan konsep-konsep dalam bahasa mereka
sendiri. Tidak heran, seorang penceramah di masjid desa gelagapan untuk menyampaikan apa
yang ingin disampaikannya dalam bahasa lokalnya, dan beralih menggunakan bahasa
Indonesia. Efek lainnya adalah pemilihan kata-kata yang berasal dari bahasa yang lebih besar,
lebih popular dan lebih dikenal. Proses ini makin terfasilitasi dengan baik oleh media yang
hampir semuanya menggunakan BI sebagai bahasa pengantarnya dalam berbagai acara
apapun. Bahasa local muncul hanya sekedar selingan dalam satu lawakan dengan tujuan
untuk memperolok-olok, dan menegaskan bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang lucu, dan
hanya digunakan untuk menciptakan situasi jenaka.
Secara grafis mekanisme marjinalisasi itu dapat digambarkan dalam diagram berikut: Bahasa
yang besar mendesak bahasa yang lebih kecil, dan seterusnya.
BI
JS
JL
Maka yang besar akan makin bertambah besar dan kuat, sementara yang kecil akan makin
kecil, menuju titik hitam kehilangan. Di belakang BI, sebenarnya masih ada bahasa asing,
bahasa Inggris (BA), yang memiliki posisi paling atas dalam satu figure piramida terbalik
dari konstelasi antar bahasa-bahasa yang hidup di Indonesia.
Tentu terlalu dini untuk mengatakan soal hilangnya bahasa Jawa. Tetapi, proses pemiskinan
pada beberapa kosakata dapat dijadikan sebagai sebuah peringatan untuk kita semua
11
mengenai bagaimana sebuah bahasa mengalami proses degradasi yang mestinya tidak perlu
terjadi. Seharusnya ada kebijakan bahasa nasional, yang didukung secara nyata oleh
pemerintah daerah untuk memperhatikan perkembangan bahasa local agar keutuhan dan
pelestariannya dapat kita jaga.
Penutup
Tidak ada yang paling menonjol dari tulisan ini selain suara keprihatinan. Apa yang
tertuang di sana hanyalah sekelumit kecil dari sekian banyak permasalahan bahasa di
Indonesia. Bahasa Indonesia pun mengalami krisis loyalitas dan krisis kebanggaan
dalam derajatnya sendiri. Sekolah-sekolah yang lebih merasa bergengsi mengajarkan
muridnya dengan bahasa Inggris adalah wujud nyata dari krisis itu. Sudah seharusnya
bahasa yang ada dalam budaya kita semuanya tetap lestari. Bahasa daerah dan dialek
lokal harus menjadi bahasa ibu yang terus dituturkan oleh anak bangsa, dan didukung
oleh kurikulum di sekolah. Kemampuan ini menjadi fondasi bagi pemupukan bahasa
nasional, yang menjadi fondasi kedua bagi pengasahan ketrampilan berbahasa asing.
Mungkin dengan demikian, bahasa-bahasa itu tidak seperti dipertentangkan dan
diperdebatkan, melainkan menjadi rangkaian yang kait-mengakit dan saling
mendukung untuk memacu pembangunan bangsa, tanpa mengorbankan kekayaan
budaya yang sudah kita miliki.
Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra, Sri Heddy. 2006. Esai-Esai Antropologi. Yogyakarta: Keppel Press.
Alwasilah, Chaedar A.1990. Sosiologi Bahasa. 1990. Bandung: Angkasa
__________________.2007. Filsafat Bahasa dan Pengajaran Bahasa. Bandung :
Rosdakarya & UPI Press.
Chaer, Abdul & Agustina, Leonie.2004. Sosiolonguistik: Perkenalan Awal. Jakarta:
Rineka Cipta.
12
Holmes, Janet. 1995. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Longman
Publishing.
Khristianto. 2005. The Marginalization of Vernacular s Vocabulary (TEFLIN 53).
Yogyakarta: UAD.
Lauder, Multamia R.M.T. 2004. Optimalisasi Bahasa Indonesia Berbasis Korpus
Lingusitik. Makalah Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia XXVI, di
Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Mahsun, M.S. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Poedjosoedarmo, Soepomo. 2002. The Behavior of Languages Used in a Bilingual
Society: The Case of Javanese and Indonesia in Java. Journal: Phenomena
vol.6-No.1 June 2002. Yogyakarta: Department of English Letters, Faculty of
Letters, Sanata Dharma University.
Prawiroatmodjo, S. 1989. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta: Haji Masagung.
Supardo, Susilo. 2000. Status dan Akomodasi Bahasa di Sepanjang Batas Linguistik
Jawa-Sunda di Kabupaten Cilacap. Journal: Humaniora. Yogyakarta:
Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada.
13
Fly UP