...

struktur kecepatan s antara gempa c081499a

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

struktur kecepatan s antara gempa c081499a
MAKARA, SAINS, VOL. 9, NO. 2, NOPEMBER 2005: 52-55
STRUKTUR KECEPATAN S ANTARA GEMPA C081499A,
SUMATERA SELATAN DAN STASIUN OBSERVASI RER
Bagus Jaya Santosa
Jurusan Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya 60111, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini menginvestigasi struktur kecepatan S di Lautan Hindia melalui fitting seismogram, akibat gempa
C081499A, Sumatra Selatan dan direkam di stasiun RER, Pulau Reunion, Perancis. seismogram observasi dibandingkan
dengan seismogram sintetik dalam domain waktu dan ketiga komponen kartesian secara simultan. Seismogram sintetik
dihitung dengan program GEMINI, dimana input awalnya adalah model bumi global Ocean dan PREMAN. Selain itu
pada kedua seismogram dikenakan low-pass filter dengan frekuensi corner pada 20 mHz. Analisis seismogram
menunjukkan penyimpangan yang sangat kuat pada pengamatan atas waktu tiba, jumlah osilasi dan tinggi amplitudo,
pada gelombang permukaan Love dan Rayleigh dan gelombang ruang S. Untuk menyelesaikan simpangan yang dijumpai
diperlukan koreksi atas struktur bumi meliputi ketebalan kulit bumi, gradien kecepatan bh dan besar koefisien-koefisien
untuk bh dan bv di upper mantle, dan sedikit perubahan pada kecepatan S di lapisan-lapisan bumi hingga kedalaman
400 km. Fitting seismogram diperoleh dengan baik pada waveform fase gelombang, baik waktu tempuh osilasi utama
dan jumlah osilasi. Hasil riset ini menunjukkan, bahwa daerah Lautan Hindia mempunyai koreksi atas struktur kecepatan
S dengan nilai positif terhadap model lautan. Hasil ini berbeda dengan hasil riset seismologi lainnya.
Abstract
The research investigated the S speed of earth structure under Indian Ocean using seismogram fitting, due to the
C081499A earthquake, South Sumatra and recorded in the observation station RER at Reunion Island, France. The
observed seismogram is compared to its synthetic in time domain and three cartension components simultaneously.
Synthetic seismogram is calculated with the GEMINI program, the initial inputs are the global earth models of Ocean
and PREMAN. Prior to seismogram comparison, a low-pass filter with corner frequency of 20 mHz is imposed. The
result of analysis shows a very strong deviation at the arrival time, oscillation amount and amplitude height of Love and
Rayleigh surface waves and S body wave. To overcome the found discrepancies a correction to the earth structure is
needed covering the earth crust thickness, speed gradient of bh and zero-order coefficient for the bh and bv in upper
mantle, and a little change in S speed in earth layers down to a depth of 400 km. Seismogram fitting is better obtained at
waveform of the wave phase, either the travel time or oscillation number of S wave and Love surface wave. The results
shows that the Indian Ocean has correction to the S speed structure, which is positive to standard earth model. This
result differs from other seismology research.
Keywords: seismogram analysis, S velocity model, Indian Ocean
1.
Pendahuluan
Gempa C081499A adalah gempa kuat, yang terjadi di Sumatera Selatan pada tanggal 14 Agustus 1999 sebesar 6.0 skala
Richter dengan kedalaman sumber gempa terletak di 100 km. Akibat gempa kuat ini seluruh isi bumi akan terguncang,
sehingga semua tempat di permukaan bumi dapat merasakan getaran tanah akibat gempa tersebut, walaupun amplitudo
pergerakan tanah dalam orde mm.
52
53
MAKARA, SAINS, VOL. 9, NO. 2, NOPEMBER 2005: 52-55
Getaran atau pergerakan tanah dapat diukur melalui seismometer di stasiun penerima. Seismometer mengubah kecepatan
atau percepatan pergerakan tanah dalam dimensi [mm/dt atau mm/dt2] menjadi dimensi tegangan listrik (mV), dan
direkam sebagai deret waktu berupa bilangan digital. Rekaman ini dapat disajikan kembali sebagai seismogram.
Seismogram adalah data runtun waktu yang tersusun atas fase-fase gelombang yang kompleks, berasal dari refleksi atau
refraksi yang terjadi di dalam bumi. Gelombang dalam perambatannya dari sumber gempa hingga stasiun penerima
menjumpai berbagai antarmuka, sehingga seismogram tersusun atas berbagai fase gelombang yang rumit.
Analisis kuantitatif atas seismogram adalah mencatat waktu-waktu tiba fase gelombang utama, dan hubungan antara
kecepatan fase dengan perioda pada gelombang permukaan, yang disebut sebagai analisis dispersi. Informasi ini dapat
digunakan untuk mendapatkan parameter gempa bumi dan struktur bumi. Waktu tiba yang paling mudah diamati adalah
first break P. Dua metoda kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis seismogram di atas hanya mengevaluasi
sedikit informasi tertentu dalam sebuah deret waktu seismogram.
Dari catatan waktu tiba fase gelombang, struktur kecepatan perambatan gelombang P dan S dapat diinterpretasikan
melalui aplikasi atas teori inversi. Karena jumlah data waktu tempuh gelombang P jauh lebih banyak daripada jumlah
data waktu tempuh gelombang S, resolusi dari struktur kecepatan P juga lebih baik daripada struktur kecepatan S. Dari
himpunan data waktu tempuh yang diperoleh dengan mencatat waktu tiba yang direkam oleh stasiun-stasiun yang
tersebar di seantero permukaan bumi atas ribuan gempa dan dalam rentang waktu yang lama, sebuah model bumi global
seperti Ocean, PREM, PREMAN (versi vertikal anisotrop dari PREM) [1] dan IASPEI91 [2] dapat ditentukan.
Model bumi global dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendapatkan model bumi regional, melalui penggelaran
stasiun-stasiun observasi di sekitar daerah-daerah sumber gempa. Melalui aplikasi atas teori inversi pada data waktu
tempuh di stasiun-stasiun observasi di sekitar sumber gempa, didapatkan struktur bumi regional yang lebih detil di
bawah daerah yang diteliti. Riset-riset sebelumnya di daerah ini umumnya menggunakan metoda analisis dispersi,
dimana hubungan antara kecepatan fase terhadap perioda pada gelombang permukaan di masing-masing komponen
gerak menjadi data sekunder, untuk mendapatkan struktur anisotropi dan heterogenitas di bawah Lautan Hindia [3-4].
Pertanyaan yang hendak diselesaikan dalam riset ini adalah bagaimana model kulit bumi di daerah Lautan Hindia,
apakah dengan model kulit bumi lautan atau benua dan bagaimana reaksi waveform terhadap model-model kulit bumi ini
serta bagaimana struktur kecepatan S di bawah Lautan Hindia dengan memanfaatkan seismogram analisis.
2.
Metode Penelitian
Data seismogram diperoleh dari databank center IRIS (http://dmc.iris.washington.edu) yang dapat diakses melaui
internet. Setiap gempa menghasilkan pergerakan tanah, yang oleh sebuah stasiun akan direkam dalam arah ketiga
komponen kartesian (N-S, E-W dan vertikal Z, lokal pada kedudukan stasiun penerima, dikenal sebagai kanal dengan
akhiran -E -N dan -Z). Kedudukan sumber gempa adalah di Sumatera Selatan, dengan koordinat 5,890 Lintang Selatan
dan 104,710 Bujur Timur sedangkan stasiun observasi RER terletak di pulau Reunion, Perancis pada 21,160 Lintang
Selatan dan 55,750 Bujur Timur. Untuk memisahkan komponen pergerakan tanah dalam arah toroidal dan radial, bidang
horisontal yang dibentuk oleh garis N-S dan E-W lokal di stasiun observasi harus diputar, sedemikian hingga arah utara
lokal diarahkan pada arah busur kecil dari stasiun observasi RER ke arah episenter gempa (arah back-azimuth) (Gambar
1). Pengubahan arah diperlukan untuk memisahkan gelombang dalam ruang 3-dimensi menjadi komponen-komponen
penjalaran gelombang dalam mode gelombang P-SV dan SH.
Pertama dalam penelitian ini harus dijalankan program komputer untuk melaksanakan perhitungan atas waktu tempuh
sintetik fase-fase gelombang ruang utama, yaitu program TTIMES yang dibuat berdasarkan makalah dari Bulland dan
Chapman [5] yang didapat dari situs http://orfeus.knmi.nl. Untuk memproduksi seismogram sintetik dari gempa tersebut
di stasiun observasi digunakan program yang berbasis metoda GEMINI (Green's function of the Earth by MINor
Integration) [6-7].
54
MAKARA, SAINS, VOL. 9, NO. 2, NOPEMBER 2005: 52-55
Gambar 1. Jalan Gelombang dari Episenter hingga Stasiun Observasi RER
Program GEMINI menghitung minor dari fungsi-fungsi Greens atas suatu model bumi dengan suatu kedalaman sumber
gempa tertentu. di mana fungsi-fungsi Greens diekspansikan untuk memenuhi kondisi syarat batas di titik terdalam
penjalaran gelombang, titik kedalaman sumber dan permukaan bumi. Ekspansi dituliskan dalam frekuensi kompleks,
dengan memasukkan trick damping untuk menghindari time aliasing. Seismogram sintetik ditransformasikan dari
domain frekuensi kompleks ke domain waktu, dimana sebelumnya dikenakan filter lolos rendah Butterworth dan
RESPONSE file dari sistim peralatan seismometer di stasiun penerima, yaitu deskripsi tentang perubahan fase dan
amplifikasi dari sistim peralatan ketika mengubah input dalam kecepatan atau percepatan pergerakan tanah menjadi
output tegangan [mV], sehingga seismogram sintetik dan seismogram riil dibandingkan dalam dimensi yang sama.
Ketika program ini dijalankan, haruslah sebuah model bumi diberikan sebagai input awal, yaitu model bumi Ocean dan
PREMAN. Sebagai model bumi masukan, data harus mengandung parameter elastik secara lengkap, yaitu meliputi
kecepatan penjalaran gelombang kompresi dan shear dari batuan penyusun struktur bumi.
Jumlah data dalam komparasi seismogram pada tiga komponen adalah ribuan, sehingga perubahan ketebalan kulit bumi,
gradient kecepatan, dan besar koefisien awal fungsi polinomial kecepatan di tiap lapisan bumi dilakukan melalui metode
trial and error.
3.
Hasil dan Pembahasan
Dalam penelitian ditampilkan analisis sebuah gempa Sumatra Selatan, 14 Agustus 1999, yang gelombangnya ditangkap
oleh stasiun observasi seismologi RER di Pulau Reunion, Perancis.
Pertama akan disajikan analisis seimogram antara seismogram terukur dengan sintetik-sintetiknya, yang masing-masing
dihitung dari model bumi standar Ocean yang vertikal anisotropi (3 trace atas) dan PREMAN yang juga vertikal
anisotrop (3 trace bawah).
Pada Gambar 2 dapat dilihat, perbedaan antara seismogram riil dengan sintetiknya yang terjadi baik pada travel time
atau bentuk waveform secara keseluruhan, yaitu tinggi amplitudo dan jumlah osilasi. Jarak episentral stasiun RER adalah
49,50, sehingga gelombang-gelombang S dan repetisinya terpisah cukup jauh dari gelombang permukaan Love yang
memiliki amplitudo besar. Dapat dilihat bahwa ada problem pada solusi CMT [8], bahwa tinggi amplitudo pada ketiga
komponen mempunyai perbedaan dengan besaran yang berbeda-beda. Seandainya besar energi yang dilepaskan oleh
sumber gempa diperkecil dengan upaya membuat
55
MAKARA, SAINS, VOL. 9, NO. 2, NOPEMBER 2005: 52-55
Gambar 2.
Perbandingan seismogram terukur dengan sintetik-sintetiknya di stasiun RER
fitting pada komponen t, tinggi gelombang Rayleigh sintetik menjadi lebih rendah dari gelombang Rayleigh riil. Model
bumi bumi Ocean yang vertikal anisotrop memberikan gelombang Love sintetik yang sefase dengan gelombang Love
riil, namun memiliki amplitudo yang lebih besar pada minimum pertama. Pengamatan pada komponen yang lain, yaitu z
dan r, dimana kita dapat mengamati gelombang permukaan Rayleigh, menunjukkan bahwa Rayleigh sintetik memiliki
amplitudo yang lebih rendah daripada gelombang Rayleigh riil dan waktu tiba yang lebih awal hingga 19 detik daripada
gelombang Rayleigh riil. Model bumi PREMAN memberikan seismogram sintetik yang lebih buruk lagi, baik untuk
gelombang permukaan Love ataupun gelombang Rayleigh di kedua komponen z dan r. Gelombang Love sintetik
memiliki waktu tiba yang lebih lama dan amplitudo yang meluruh lebih lama, sehingga jumlah osilasi akan lebih
panjang. Pengamatan pada gelombang Rayleigh sintetik menunjukkan keterlambatan pada waktu tiba sebesar 21 detik.
Model bumi PREMAN dan Ocean mempunyai perbedaan ketebalan kulit bumi sebesar 20 km (25 km dan 5 km), dan
perbedaan ketebalan ini diperjelas dengan waveform gelombang Love. Walaupun panjang gelombang adalah sekitar 150
km, perbandingan waveform menunjukkan bagaimana kepekaan waveform terhadap struktur elastik dalam bumi. Untuk
selanjutnya,
56
MAKARA, SAINS, VOL. 9, NO. 2, NOPEMBER 2005: 52-55
Gambar 3.
Perbandingan seismogram terukur dengan sintetik dikoreksi untuk jendela waktu gelombang S hingga Love di
stasiun RER, frek. sudut 20 mHz
perbandingan seismogram didasarkan pada seismogram sintetik yang dibangun dari model bumi Ocean dan model bumi
dikoreksi.
Gambar 3 menunjukkan fitting seismogram pada gelombang permukaan Love yang terjadi baik pada travel time ataupun
jumlah osilasi. Amplitudo awal dari gelombang Love dapat disimulasikan dengan sangat baik. Fitting ini diperoleh
dengan mengubah ketebalan kulit bumi seperti pada model kulit bumi Ocean dan gradien struktur kecepatan bh menjadi
positif di lapisan upper mantle [9]. Untuk mendapatkan fitting pada gelombang SH dan SV, dimana SH dan SV sintetik
dari model Ocean mempunyai keterlambatan waktu tiba sebesar 6 detik, maka nilai kecepatan pada lapisan-lapisan di
bawah upper mantle hingga kedalaman CMB (core mantle boundary) juga diperbesar, dimana perubahan kecepatan
yang paling besar dikenakan pada lapisan-lapisan langsung di bawah upper mantle. Sedangkan perbaikan pada
gelombang Rayleigh dilaksanakan dengan koreksi yang juga bernilai positif pada lapisan-lapisan dalam bumi di bawah
upper mantle.
4. Kesimpulan
Perbandingan seismogram antara seismogram terukur dengan sintetik-sintetiknya dari dua model bumi standard Ocean
dan PREMAN, menunjukkan deviasi yang nyata pada waveform gelombang ruang S hingga gelombang permukaan Love.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan ketebalan kulit bumi diperjelas oleh waveform gelombang Love, walaupun
orde dari panjang gelombangnya 7,5 kali lebih besar daripada beda ketebalan kulit bumi. Hal ini menjadi keunggulan
dari metoda analisis waveform dalam dimensi waktu dan ketiga komponen ruang secara simultan. Untuk menyelesaikan
diskrepansi yang dijumpai, digunakan ketebalan kulit bumi seperti pada model bumi Ocean dan perubahan pada gradien
kecepatan bh di upper mantle untuk mendapatkan fitting pada gelombang permukaan Love, dan koreksi negatif pada
koefisien bv di upper mantle. Sedangkan untuk fitting pada gelombang S dilaksanakan perubahan lebih lanjut pada
nilai-nilai kecepatan di lapisan-lapisan bawah upper mantle hingga kedalaman CMB, dengan koreksi positif.
57
MAKARA, SAINS, VOL. 9, NO. 2, NOPEMBER 2005: 52-55
Daftar Acuan
[1] A.M. Dziewonski, D. L. Anderson, Phys. of the Earth and Plan. Int. 25 (1981) 297.
[2] B. L. N. Kennett, , IASPEI 1991 Seismological Tables, Research School of Earths Sciences Australian National
University, Canberra, 1991.
[3] J. J. Lėvēque, , E. Debayle, V. Maupin, Geophys. J. Int. 133 (1998) 529.
[4] E. Debayle, J. J. Lėvēque, Geoph. Res. Lett. 24 (1997) 245.
[5] R. Bulland, C. Chapman, BSSA, 73 (1983) 1271.
[6] J. Dalkolmo, Diplomarbeit, Inst. fuer Geophysik, Uni. Stuttgart, Germany, 1993.
[7] W. Friederich, J. Dalkolmo, Geophys. J. Int. 122 (1995) 537.
[8] D. S. Dreger, Time-Domain Moment Tensor INVerse Code (TDMT_INVC), The Berkeley Seismological
Laboratory (BSL), Report Number 8511, 2002.
Fly UP