...

ISSN: 2407-2095 - eJournal IAIN Jember

by user

on
Category: Documents
12

views

Report

Comments

Transcript

ISSN: 2407-2095 - eJournal IAIN Jember
ISSN: 2407-2095
PENDIDIKAN GLOBAL-RELIGIUS DI MADRASAH:
MEWUJUDKAN GENERASI YANG BERILMU PENGETAHUAN GLOBAL DAN BERKARAKTER ISLAM
Heru Kurniawan dan Feny Nida Fitriyani
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut
Agama Islam Negeri Purwokerto
[email protected], hp : 081564777990
Abstrak
Pendidikan global religius merupakan pendidikan
yang berbasis pada pengetahuan global berkarakter
religius Islam. Pendidikan global-religius penting
direalisasikan di madrasah sebagai upaya menyikapi era
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pendidikan globalreligius ini akan mewujudkan anak-anak didik yang
kreatif dan inovatif dalam pengembangan ilmu
pengetahuan untuk mampu bersaing dalam MEA.
Pendidikan global-religius ini menciptakan generasigenerasi yang berwawasan global dan masih memegang
teguh prinsip-prinsip religius Islam. Dengan berbagai
kegiatan-kegiatan pendidikan yang berbasis pendidikan
global-religius inigenerasi bangsa akan semakin
memahami peran dan tanggung jawabnya dalam
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN dan akan lebih
membuka mata terhadap dunia yang terus berproses.
Kata Kunci: pendidikan global-religius, berilmu pengetahuan
global, dan berkarakter Islam.
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
Pendahuluan
Pendidikan adalah suatu alat yang digunakan oleh
manusia untuk mengubah dan mempersiapkan kehidupan yang
lebih “manusia”, yang sering disebut: “memanusiakan manusia.”
Pendidikan akan mengajarkan setiap manusia untuk selalu bisa
mempertahankan diri dan menghadapi setiap tantangan, baik
oleh perubahan lingkungan atau perubahan zaman. Hal ini terjadi
karena zaman akan terus berganti seiring dengan waktu yang
terus berjalan.
Perubahan waktu ini akan menyebabkan setiap situasi
dan kondisi zaman akan selalu berbeda. Perbedaan ini bisa
tampak dari perubahan-perubahan budaya dan masyarakat yang
terus berkesinambungan. Perubahan inilah yang menuntut
perubahan individu, dimana setiap individu harus berani
berubah dalam melakukan penyesuaian diri dengan
lingkungannya. Proses perubahan inilah yang akan membawa
dampak pada proses belajar karena belajar akan membuat
individu bisa melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Oleh karena itu, cara setiap individu belajar untuk menyesuaikan
diri dalam setiap zamanpun berbeda. Di sinilah, pendidikan
diperlukan untuk membekali kesiapan individu dalam
menghadapi perubahan zaman dalam ekosistem kehidupannya.
Dalam posisi ini, manusia sebagai individu hadir di
tengah ekosistem budaya dan masyarakat yang selalu berubah
karena manusia sendiri yang mengubahnya. Sebagai individu,
manusia secara otomatis dituntut untuk belajar terhadap
ekosistem budaya tersebut. Hasil belajar inilah yang kemudian
akan digunakan manusia untuk melakukan penyesuaian diri
dengan perubahan lingkungan. Di sini tampak hubungan
dialektis antara manusia dengan lingungkan dalam proses belajar.
Di satu sisi, manusia belajar untuk mengembangkan ekosistem
budaya dan masyarakat, di sisi lain perubahan ekosistem budaya
masyarakat menuntuk manusia sebagai individu untuk belajar
2|
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
juga. Hasilnya, dalam dialektika inilah, manusia harus terus
belajar dalam proses penyesuaian diri dengan perubahan
ekosistem budaya dan masyarakat.
Hal ini dapat dilustrasikan, dahulu, ketika Indonesia
masih dalam jajahan Belanda dan Jepang. Saat ekosistem budaya
kita dikuasai oleh imperialisme, maka pendidikan tentang
nasionalisme dan kemerdekaan sangatlah penting. Sebabnya,
melalui kesadaran nasionalisme itulah rakyat Indonesia bisa
disatukan dalam aksi mewujudkan kemerdekaan. Dengan
kemerdekaan ini masyarakat bisa menentukan arah kemajuan
bangsanya sendiri. Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang
didirikan saat itu, intens mendidik anak-anak dalam
menanamkan kesadaran nasionalisme. Semangat nasionalisme
sebagai buah pendidikan pun berhasil tertanam di seluruh rakyat
Indonesia. Masyarakat pun sadar tentang betapa pentingnya
nasionalisme dan kemerdekaan bagi suatu bangsa. Kemerdekaan
pun akhirnya bisa teraih. Pendidikan telah berhasil mewujudkan
kemanusiaan yang lebih baik di negeri tercinta ini.
Di sini tampak, kondisi budaya dan masyarakat imperalis
saat itu telah membuat masyarakat Indonesia saat itu belajar
tentang nasionalisme. Nasionalisme yang bisa membuat
masyarakat Indonesia bersatu dan merdeka. Saat itu, masyarakat
pun ramai-ramai belajar memahami nasionalisme. Hasilnya
masyarakat bisa belajar dengan tuntas, dan nasionalisme itu
mampu memerdekakan bangsa dan negara.
Namun pada saat ini, dalam masa sekarang, idealnya kita
mampu mengidentifikasi persoalan yang akan dihadapi bangsa.
Kenyataannya memang banyak persoalan yang harus diurai,
tetapi salah satu salah satu persoalan sosial yang perlu dipikirkan
bersama adalah kesiapan masyarakat dalam menghadapi era
Masyarakat Ekonomi Eropa [MEE]. Pada masa ini, Indonesia akan
berada pada era free trade antara Negara-negara ASEAN yang
telah dicanangkan oleh para petinggi ASEAN dalam KTT yang
Volume 02. November 2015 | 3
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
diadakan di Kuala Lumpur pada tahun 1997 menghasilkan
keputusan membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
MEA akan dilaksanakan pada akhir tahun 2015 ini. Era MEA ini
akan membuat masyarakat mengalami perubahan sosial baru.
Jika masyarakat tidak siap, maka MEA akan menjadi
persoalan sosial, tetapi, jika masyarakat siap, maka MEA akan
menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial yang tengah
dihadapi masyarakat. Dalam hal ini, bangsa kita memiliki
kecenderungan belum siap terhadap kedatangan MEA ini. Hal ini
terbukti dari pemahaman masyarakat yang belum tahu MEA itu
apa dan tingginya impor sebagai bentuk konsumerisme
masyarakat menandakan masyarakat kita memahamai MEA. Jika
ini tidak segera dicari penyelesaiannya, maka MEA bisa menjadi
bencana bagi masyarakat kita. Masyarakat kita bisa hanya
berposisi sebagai konsumen saja, yang jika hal ini diteruskan akan
membaw akehancuran pada bangsa dan negara.
Untuk itulah, dalamkonteks ini, kita harus mulai
menyadari arti penting pendidikan memiliki peran dalam
membekali individu [masyarakat] untuk bisa beradaptasi bahkan
memanfaatkan era MEA untuk meningkatkan harkat dan derajat
masyarakat. Melalui pendidikan yang baik inilah masyarakatakan
terbangun kesadarannya bahwa dalam era MEA ini, masyarakat
Indonesia tidak hanya bisa menjadi penonton [konsumen] saja,
melainkan pemain [produksi] yang harus ikut andil dalam
masyarakat ekonomi ASEAN (MEA).
Dari fakta ini, pendidikan memiliki peran penting dalam
menjadikan masyarakat Indonesia menjadi pemain dalam pasar
ASEAN ini. Masyarakat Indonesia harus menyiapkan generasi
muda yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing. Generasi ini
adalah generasi yang berwawasan global. Mereka yang akan
memahami tentang prospek global. Sehingga pendidikan global
sangatlah diperlukan oleh mereka.Namun pendidikan global saja
tidaklah cukup, karena idealnya globalisasi dapat diimbangi
4|
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
dengan pondasi karakter Islam. Karakter Islam ini sangat penting.
Karena kodrat manusia adalah tidak pernah lepas dari Dzat yang
menciptakannya. Sehingga kemanapun mereka melangkah,
mereka akan tetap memegang prinsip-prinsip agama.
Oleh karena itu, madrasah sebagai salah satu institusi
pendidikan Islami menjadi lembaga pendidikan yang tepat untuk
mengkonsepkan pendidikan yang tepat dalam menghadapi MEA
ini. Dalam hal ini, pendidikan global-religiusmenjadi solusi dan
dasar pemikiran dalam konseptualisasi pendidikan ideal dalam
menghadapi MEA. Persoalannya kemudian adalah terkait
konseptualisasi dan realisasi pendidikan global-religius sebagai
solusi dalam menghadapi MEA itu konkretisasinya seperti apa?
Dan bagaimana idealisasi pendidikan global-religius ini jika bisa
diimplementasikan dalam sistem pendidikan kita sekarang ini.
Relasi Pendidikan Global-Religius dengan MEA
Pendidikan adalah garda depan yang berperan dalam
memajukan suatu bangsa. Pada saat Jepang mengalami kekalahan
oleh sekutu karena Nagasaki dan Hiroshima dijatuhi bom atom
yang meluluhlantakan negeri sakura itu. Kaisar Jepang lebih
dahulu menanyakan, “Berapa jumlah guru yang tersisa?” Bukan
berapa kekayaan yang masih tersisa. Hal ini membuktikan bahwa
peran pendidikan sangat penting menjadi pondasi utama saat
negara mengalami perubahan drastis, bahkan krisis.
Pendidikanlah yang bisa menyelamatkan kehancuran suatu
bangsa. Pendidikan menjadi pondasi utama dalam beradaptasi
dan membangun bangsa.
Oleh karena, melalui pendidikan masyarakat akan
diinternalisasikan kesadaran, pengetahuan, nilai, dan sikap-sikap
yang dapat mengarahkan individu untuk bisa mengatasi
perubahan keadaan, bahkan krisis. Pendidikan membuat manusia
memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan mencarikan
solusi atas berbagai persoalan yang dialami. Hal ini terjadi karena
Volume 02. November 2015 | 5
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
pendidikan akan mengkondisikan individu untuk belajar
memahami kehidupan. Melalui pemahaman inilah, individuindividu terdidik ini kemudian akan merumuskan solusi dan aksi
terhadap persoalan yang dihadapi bangsanya.
Dalam kontek ini, MEA adalah suatu perubahan zaman
membawa perubahan budaya dan masyarakat, dan perubahan ini
harus disikapi secara bijak dalam sistem pendidikan. Pendidikan
harus mulai membangun kesadaran bersama mengenai MEA
yang akan membawa konsekuensi pada masyarakat. Hal ini
terjadi karena akan membawa masyarakat regional ASEAN untuk
berkompetisi secara bebas, baik dari sektor ekonomi, sosial,
budaya, dan pendidikan. Kompetisi ini akan ketat dan dinamis,
sehingga negara dan masyarakat yang tidak memiliki kompetensi
bagu akan kalah, dan pada gilirannya akan menjadi bangsa yang
tertinggal.
Di sinilah arti penting pendidikan dalam relasinya dengan
MEA. Artinya, dalam relasinya dengan MEA ini, pendidikan oleh
pemerintah harus diarahkan untuk bisa mendidik anak-anak
bangsa yang siap menjadi sumber daya manusia yang berdaya
saing tinggi. Untuk menuju ini, pendidikan harus bisa
menanamkan kesadaran global yang baik. Namun, sampai saat
ini, pendidikan kita masih belum mampu menanamkan
kesadaran global dalam menyambut MEA.
Sebagai satu contoh kecil: anak-anak [pelajar] di
Indonesia, jika ditanya mengenai MEA, maka bisa dipastikan
sangat sedikit yang paham dan mengerti tentang MEA. Padahal
kalau menilik negara tetangga, seperti Thailand dan Malaysia.
Anak-anak sejak dini [di bangku sekolah] sudah sangat familiar
dengan ASEAN dan MEA. Jadi ketika membicarakan MEA dan
ASEAN anak-anak sudah tidak kaku dan canggung lagi. Lain
kasus jika menilik anak-anak di Indonesia, untuk bisamengetahui
10 negara ASEAN sudah luar biasa, apalagi mengetahui MEA.
6|
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman global anakanak tentang MEA hampir tidak ada. Anak-anak tidak tahu
tentang perubahan budaya masyarakat yang akan terjadi.
Perubahan budaya dan masyarakat yang sebentar lagi
mengglobal di mana antar sesama negara ASEAN akan bisa
saling melakukan migrasi sosial, ekonomi, budaya, dan
pendidikan. Hal ini tentu harusnya diketahui oleh anak-anak
melalui berpikir global yang harus mulai diajarkan di sekolah,
yaitu berpikir tentang eksistensi negara Indonesia sebagai bagian
dari ASEAN, yang akan ditandai dengan perdagangan bebas
ASEAN.
Ini
menunjukkan
krisis
minimnya
pemahaman
masyarakat Indonesia tentang MEA-ASEAN. Tentu saja hal ini
harus diatasi melaui pendidikan. Tujuannya agar masyarakat kita
memahami benar tentang MEA dan memiliki daya saing sumber
daya manusia yang tinggi. Pendidikan sebagai institusi sosial
harus digunakan untuk mengembangkan aspek-aspek emosional,
intelektual dan spiritual seseorang menjadi lebih baik, yang siap
menghadapi MEA. Di sinilah, pendidikan secara langsung
menjadi solusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia yang bisa bersaing dalam MEA.
Hal ini didasarkan pada konsepsi pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara (Abdul Latif, 2009:7). Dalam
memberikan solusi terhadap persoalan MEA ini, pendidikan
idealnya harus diorientasikan pada dua hal: menanamkan
pemahaman tentang global ke-ASEAN-an dan menanamkan
pemahaman lokal ke-Indonesia-an. Dalam konteks Indonesia ini,
religious Islam menjadi nilai karakter penting karena tipologis
Volume 02. November 2015 | 7
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
masyarakat Indonesia adalah religius yang berdasarkan
mayorisitas masyarakat yang beragama Islam.
Di sini, pendidikan global merupakan pendidikan yang
fokus pada pengembangan wawasan global untuk membekali
peserta didik memasuki era globalisasi MEA, sehingga siswa
mampu bertindak secara global. Di sisi lain, religius spiritual
merupakan pengetahuan dan sikap yang dilandasi semangat
lokal spiritual Islam. Dengan dua hal ini, pendidikan akan
membangun manusia yang dilandasi wawasan global [MEA]
dengan dasar sikap lokal religious Islam. Pendidikan ini akan
membentuk masyarakat yang mampu mengembangkan dan
memanfaatkan keunggulan lokal dan global dalam aspek
ekonomi, seni budaya, sumber daya manusia (SDM), bahasa,
teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain ke
dalam kurikulum pendidikan yang akhirnya bermanfaat bagi
pengembangan kompetensi peserta didik. Di sinilah, pendidikan
global akan bersandarkan pada pondasi Islam sebagai ciri utama
pendidikan Islam di madrasah.
Muhammad Fadhil Al-Jamali [2012: 10] memberikan
pengertian pendidikan Islam, yang merupakan basis pendidikan
religius, sebagai upaya mengembangkan, mendorong, serta
mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilainilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk
pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal,
perasaan, maupun perbuatan. Pendidikan Islam menjadi basis
dalam membangun kesadaran spiritual masyarakat, sehingga
pemahaman dan tindakan global masyarakat dibangun dalam
kesadaran keislaman yang kuat. Pendidikan ini akan membentuk
manusia Indonesia dalam kesadaran global dan spiritual Islam
yang padu. Pendidikan inilah yang bisa menjadi solusi terhadap
persoalan MEA yang akan menjadi era kompetisi di Indonesia ini.
Dengan demikian, pendidikan gobal-spiritual memiliki
relasi yang komprehensif terhadap problematika MEA.
8|
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
Pendidikan global-spiritual menjadi media utama dalam
membentuk kesadaran, pemahaman, dan kepribadian yang siap
berkompetisi dalam MEA. Pendidikan yang mendasarkan pada
pemahaman global dan religius Islam menjadi salah satu
alternatif untuk mengatasi persoalan ini. Pendidikan globalreligius ini adalah pendidikan yang membekali wawasan global
pada siswa memasuki era globalisasi sehingga siswa mampu
bertindak lokal dengan dilandasi wawasan global serta tetap
menjadi pribadi yang lebih sempurna baik berkaitan dengan akal,
perasaan maupun perbuatan agar mampu bersaing dengan dunia
global.
Konseptualisasi Pendidikan Global-religius untuk Menghadapi
MEA
Pendidikan itu untuk hidup. Hidup dalam setiap
dinamika sosial. Pendidikan menjadi pondasi setiap individu
dalam membangun kehidupan. Pendidikan adalah sarana untuk
beradaptasi dan mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Dalam
upaya ini, pendidikan harus membangun keseimbangan dalam
kehidupan, yaitu keseimbangan manusia sebagai makhluk sosial
dan keseimbangan manusia sebaga makhluk transendental.
Sebagai makhluk sosial pendidikan berpondasi pada keilmuan,
sedangkan dalam pondasi transendental pendidikan berpondasi
pada religiusitas. Untuk itu, pendidikan ideal adalah pendidikan
yang pondasinya berpijak pada orientasi ilmu duniawi dan
ukhrawi. Ilmu sebagai kebutuhan primer untuk menjawab
tantangan zaman yang begitu cepat berubah dari masa ke masa.
Dalam konteks ini pendidikan harus berpijak pada setting
sosial. Di sini, Indonesia sebagai setting sosial harus dipahami
sebagai teritorial sosial yang masyarakatnya memiliki
karakteristik tersendiri, yaitu Indonesia merupakan negara
dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia, yang kualitas
manusianya dalam kategori rendah. Ini berarti bahwa generasi
Volume 02. November 2015 | 9
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
muda Indonesia sangat rentan dan terancam. Apalagi dengan
arus globalisasi yang semakin menekan dan menghimpit
kehidupan. Mau tidak mau Indonesia harus lebih introspeksi
dengan keadaan yang saat ini menerpa dan segera menemukan
problem solving-nya. Di sinilah, pendidikan sebagai institusi
pemerintah harus bisa membenahi generasi muda Indonesia.
Proses pembenahan ini bisa dilakukan dengan
memosisikan pendidikan tidak hanya sebagai wahana untuk
mengintelektualkan anak-anak, tetapi pendidikan sebagai jalan
memberikan pemecahan masalah atas persoalan yang dihadapi
oleh masyarakat. Di sini pendidikan harus mampu bergerak ke
dalam dan bergerak keluar. Artinya, pendidikan pada substansi
utamanya adalah pemahaman ilmu pengetahuan, namun dalam
gerak keluarnya, pendidikan harus mampu membuat masyarakat
beradaptasi dan memajukan lingkungan kenegaraannnya.
Problem kenegaraan dan masyarakat harus bisa diatasi melalui
pendidikan yang berorientasikan secara jelas, yaitu pendidikan
untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks ini, pendidikan dalam konteks keilmuan,
idealnya bergerak dalam tiga ranah: pemahaman-keilmuan, sikap,
dan keterampilan. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya,
pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek
pemahaman keilmuan. Hal ini bisa dilihat dari pandangan
masyarakat bahwa nilai prestasi anak yang tinggi itu sangat
penting. Sampai banyak anak yang ditekan oleh orang tuanya
untuk memperoleh nilai yang bagus. Karena bagi mereka nilai
yang akan menentukan masa depan anaknya kelak. Akan tetapi,
yang harus lebih dicermati adalah setiap anak punya kemampuan
yang berbeda dan passion yang berbeda pula. Di era globalisasi ini
anak sangat membutuhkan aspek sikap dan keterampilan.
Dalam konteks persoalan global ini, dengan adanya
kecenderungan perkembangan global akibat teknologi informasi
ini menimbulkan dua implikasi sekaligus, antara positif dan
10 |
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
negatif, tergantung pada siapa yang paling banyak menginstal
konsep, pemikiran, budaya, dan nilai kedalamnya (Ahmad Barizi,
2013). Ditambah lagi orang tua yang sudah semakin permisif
melihat anak-anak mereka bermain internet tanpa ada batasan.
Hal ini muncul karena kebutaan informasi tentang dampak yang
secara tidak langsung akan timbul kepada diri anak.
Dengan saluran inilah, globalisasi, yang selain membawa
kemajuan, jika memberikan persoalan, yaitu implikasi negatif.
Namun, globalisasi secara cara berpikir, bukan kebudayaan,
menjadi hal urgen yang harus dimiliki sekolah sebab melalui
pendidikan global anak-anak bisa mengidentifikasi pengaruh
buruk dari global, serta bisa bersaing secara intensi dengan
negara maju. Dari sinilah globalisasi sebagai suatu gerakan harus
mulai dipikirkan eksistensinya, yaitu harus diadopsi sebagai
sistem gagasan yang akan dikembangan oleh anak-anak. Artinya,
globalisasi akan menjadi suatu nilai khas yang akan menjadi
anak-anak dibangku sekolah sebagai sistem pengetahuan global
yang akan diajarkan pada anak-anak di madrasah.
Namun demikian, implikasi negatif perkembangan global,
yang memunculkan pribadi-pribadi yang miskin spiritual, akan
terus muncul membawa dampak yang merugkan masyarakat.
Jatuh dari makhluk spiritual ke lembah material-individualistik.
Dampak-dampak negatif yang dapat menjerumuskan anak inilah
yang akan sangat mengganggu perkembangan anak selanjutnya.
Degradasi karakter anak yang semakin menjadi-jadi inilah yang
bisa menjerumuskan Indonesia jatuh ke keterpurukan. Jika
degradasi karakter ini tidak segera di atasi, maka dalam
menghadapi MEA ini kelak akan menjadi persoalan yang serius
dan krusial.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa perhelatan
pergantian tahun sudah di depan mata. Seakan berpacu dengan
waktu, pada tahun 2015 ini pula (tepatnya pada Desember 2015)
akan dihadapkan pada Masyarakat Ekonomi ASEAN / MEA
Volume 02. November 2015 | 11
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
(ASEAN Economic Communities). Suatu era yang menyatukan
negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi “satu basis
pasar dan produksi”. Di mana akan terjadi arus bebas produk,
jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal, yang semuanya bermuara
pada prinsip pasar terbuka bebas hambatan (Republika, 2014: 2).
Untuk itu, masyarakat Indonesia harus siap bersaing
dengan pasar ASEAN. Dengan komoditi-komoditi advance yang
ditawarkan. Hal ini yang seharusnya meningkatkan semangat
generasi muda yang siap berkompetisi di MEA. Suatu keadaan di
mana pasar sosial yang akan lebih bersifat materialistik dan
cenderung sekularistik, sehingga perlu berhati-hati (Anies
Baswedan, 2014: 5). Kondisi dilematis yang terjadi sekarang ini
merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi sistem
pendidikan Islam untuk berpartisipasi di dalam urun rembuk
pembangunan masa depan (Ahmad Barizi, 2013: 34).
Dalam konteks ini, pembangunan masyarakat negara kita
tercinta adalah dengan pendidikan yang berkualitas, salah
satunya pendidikan di lingkungan madrasah. Madrasah sebagai
institusi pendidikan Islam bisa menjadi basis dalam menyiapkan
gerasai anak-anak bangsa dalam menghadapi MEA. Hal ini
didasarkan fakta bahwa madrasah itu masih sama dengan
lingkungan Islam. Nilai Islam lah yang kemudian dianggkat
menjdi penanda konsiliasi penjajah dengan Indonesia.
Oleh karena itu, dalam konteks pendidikan ini, madrasah
merupakan pondasi pendidikan yang punya peran penting dalam
mengembangakan ilmu sebagai dasar wawasan global dan
internalisasi nilai Islam sebagai sumber pengembangan religius
manusia. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam menjadi
tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan
yang sangat dibutuhkan sebagai pengimbang ilmu pengetahuan.
Alasan-alasan tersebutlah yang mendorong lembaga pendidikan
untuk semakin memajukan anak bangsa. Pendidikan Indonesia
harus sama-sama bersinergi dengan masyarakat untuk mencetak
12 |
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
generasi gemilang, berwawasan global dan berkarakter Islam,
yaitu suatu generasi yang memiliki keilmuan global yang siap
berkompetisi dalam konstelasi MEA.
Hal inilah yang perlu menjadi pemikiran bersama bahwa
pendidikan madrasah yang secara konseptual berorientasikan
pada nilai religius Islam harus bisa mengembangkan
paradigmanya lagi, yaitu pendidikan yang berbasis global. Hal ini
tidak bisa dinafikan karena MEA yang sebentar lagi datang perlu
mendapat kesiapan yang matang. Pendidikan global menjadi
solusi karena dengan pengetahuan global anak-anak sebagai
generasi penerus Islam dan negara akan semakin memahami
dunia global. Dunia yang bisa diakrabi dan diadaptasi dengan
baik dengan masih memegang teguh keislaman. Dengan cara ini,
kelak MEA dalam perspektif pendidikan madrasah akan bisa
dihadapi dengan lahirnya generasi pendidikan yang global dan
islami.
Di sinilah tampak arti penting pendidikan global dan
religius. Pendidikan yang secara personal akan menjadikan
generasi islami yang bisa berhadapan dengan dunia global.
Dengan dua pondasi ini, maka MEA akan disikapi dengan tepat
oleh masyarakat karena pemahaman keilmuan masyarakat yang
sudah siap berkompetisi, dan pengaruh MEA dalam dinamika
sosial masyarakat ini, pengaruh negatifnya, akan dinetralisir oleh
pemahaman spiritual-religius Islam masyarakat. Hal ini akan
menjadikan MEA merupakan perubahan sosial masyarakat yang
positif karena pendidikan di Indonesia sudah memberikan dua
pondasi penting dalam menyikapi MEA ini. Di sinilah,
konseptualisasi pendidikan global dan religius ini menjadi konsep
solusi dalam mengatasi problematika sosial masyarakat.
Implementasi Pendidikan Global-religius untuk Anak-anak
Montessori (2013: 23) meyakini bahwa seorang anak
dikaruniai dengan potensi kemampuan yang luar biasa besar.
Volume 02. November 2015 | 13
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
Akan tetapi, banyak orang tua dan guru yang tidak mengetahui
kemampuan yang sangat mengagumkan ini. Kurangnya
memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Padahal ini adalah
aset yang begitu berharga yang terkadang banyak terlupakan oleh
para pendidik yang notabene harus lebih paham mengenai dunia
anak.
Anak-anak Indonesia terbiasa dijejali dengan begitu
banyak pelajaran yang diberikan sekolah. Anak hanya terfokus
materi yang diberikan sekolah. Akan tetapi, itu semua belum
lengkap tanpa membuka jendela wawasan baru dalam era yang
baru. Pendidikan harus selalu disesuaikan dengan waktu dan
dinamika sosial yang melingkupinya. Tujuannya agar anak
mudah mengaplikasikan apa yang didapat dari sekolah dan akan
sangat berguna bagi masa depannya kelak. Dalam kedudukan ini,
anak pun bisa merasakan secara langsung konseptual ilmu dalam
kehidupan masyarakat.
Di sinilah letak arti penting pendidikan bahwa dalam
dinamikan masyarakat yang sebentar alam mengalami kebebasan
karena MEA, maka pendidikan harus bisa mewujudkan generasi
yang pemahaman konseptual globalnya bagus serta mampu
mengimplementasikan dalam basis nilai religius Islam.
Pendidikan mampu memecahkan persoalan yang dihadapi
masayarakat dengan adanya MEA dengan basis pengetahuannya,
serta mampu menjaga moral-etika-keislaman melalui religius
Islamnya. Untuk itu, kesiapan implementasi pendidikan globalreligius sudah urgen dilaksanakan karena negara-negara
tetangga, seperti Malaysia dan Thailand, Mereka sudah banyak
merespon dan bersiap-siap menghadapi MEA sejak awal. Dan itu
terbukti saat sekolah-sekolah dari jenjang pendidikan dasar
sampai tinggi sangat gencar melakukan sosialisasi tentang MEA
dan ke-ASEAN-an. Ketika masuk ke setiap sekolah di Malaysia
dan Thailand akan sangat terasa terhadap pembiasaan anak-anak
terhadap ASEAN. Oleh karena itu, ASEAN sudah sangat-sangat
14 |
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
masuk kedalam jiwa anak. Mereka begitu familiar dengan
ASEAN. Mereka tidak buta dengan informasi MEA 2015. Mereka
sangat menunggu datangnya MEA. Hal ini akan berbeda dengan
Indonesia, ketika Indonesia baru sibuk dengan sosialisasi MEA.
Mereka sudah banyak mengetahui dan paham tentang MEA.
ASEAN itu selalu masuk dalam setiap kegiatan yang masyarakat
lakukan.
Tidak ada kata terlambat, begitu juga dengan pendidikan
di Indonesia. Implementasi pendidikan global-religiusini bisa di
lakukan dengan berbagai cara. Salah satunyadengan memberikan
mata pelajaran ke-ASEAN-an, sehingga anak-anak akan menjadi
familiar dengan ASEAN seperti halnya yang dilakukan lembaga
pendidikan di Thailand. Atribut-atribut ASEANpun perlu
dipasang di setiap sekolah, buku-buku tentang ASEAN ataupun
bisa melalui seni lukis yang berbau ASEAN.
Selain itu, kompetisi-kompetisi yang berhubungan
dengan ASEAN juga sangat baik untuk implementasi pendidikan
global. Selain belajar, anak pun akan belajar berkompetisi untuk
menaikan kemampuan-kemampuan anak. Misalnya, lomba
pidato bahasa Inggris mengenai ASEAN, lomba artikel, lomba
menyanyi Mars ASEAN, English Camp yang beritmekan ASEAN.
Hal ini akan sangat membantu anak untuk mendapatkan
wawasan-wawasan danketerampilan global.
Untuk menghindari ketimpangan terpenuhinya wawasan
global. Anak pun memerlukan pondasi dalam diri mereka.
Membangun karakter yang kuat sejak dini. Ini adalah bekal yang
sangat penting untuk membentuk pribadi yang berkarakter Islam
yang kokoh. Hal ini sangat bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga
Islam. Implementasi religius Islam ini dapat dilakukan dengan
pembiasaan-pembiasaan keagamaan yang kontinu. menanamkan
nilai-nilai dan karakter keislaman dalam praktik-praktik realisasi
islam yang hakiki.
Volume 02. November 2015 | 15
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
Keberhasilan perkembangan tahap-tahap awal akan
menentukan keberhasilan tahap-tahap selanjutnya Montessori
(2013). Madrasah yang akan menjadi batu loncatan untuk anak
dalam mencapai keberhasilan perkembangan seorang anak.
Nantinya diharapkan, anak-anak akan menjadi karakter yang baik
yang siap membangun bangsanya dan siap bersaing dengan sehat
untuk menghadapi pangsa pasar ASEAN.
“Education must become one of the most important
priorities of muslim governments, and non-governments
institutions both at national and international levels. Since
it is only through education citizens will be able to
improve the quality of their lives” [Azyumardi Azra,
2013].
Implikasi pendidikan global-religius ini akan memberikan
banyak sekali keuntungan bagi masyarakat Indonesia khususnya
generasi muda Indonesia dalam menyambut MEA 2015. Dengan
pembekalan wawasan global akan banyak menciptakan generasi
muda yang aktif, kreatif dan berilmu pengetahuan luas. Dengan
terbiasanya memahami para pesaing di pasar ASEAN, maka
generasi muda akan menciptakan sifat berani bersaing di MEA
ini. Produk-produk yang bervariatif dan SDM berkualitas yang
melimpah. Ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan jati
diri Indonesia yang sebenarnya.
Pendidikan religius Islam yang akan mengokohkan
pendirian anak-anak Indonesia untuk bersaing secara sportif
dengan ciri khas ketimuran yang sopan tetapi berwawasan luas.
Sehingga tidak terjadi kepincangan diri yang akan membawa
kepada masa depan yang gemilang sebagai realisasi dari alinea
pembukaan UUD 1945 tercantum konsep “bangsa yang cerdas”,
yaitu cerdas dunia dan cerdas ukhrawinya.
Penutup
16 |
Heru Kurniawan & Feny Nida Fitriyani
Pendidikan yang berorientasi global dan religius Islam
sangat tepat sekali di implementasikan pada madrasah. Sehingga
anak-anak sejak dini mulai dikenalkan dengan wawasanwawasan global dan juga pembentukan karakter islami yang
kokoh.
Implementasi pendidikan global-religius dapat dilakukan
melalui berbagai cara. Misalnya memberikan mata pelajaran keASEAN-an. Melalui kompetisi-kompetisi dengan bahan dan
materi ASEAN. Sehingga anak akan terbiasa dengan suasana
ASEAN, anak tidak akan canggung lagi membahas ASEAN dan
paham mengenai seluk beluk ASEAN. Selain itu juga diimbangi
dengan pembiasaan-pembiasaan ajaran agama dalam keseharian
anak. Agar anak selalu ingat akan kodratnya sebagai makhluk
Tuhan.Dengan semakin gencarnya sosialisasi dan praktik-praktik
pengajaran berwawasan global religius Islam. Anak-anak akan
semakin menghayati dan memahami apa-apa yang harus
dipersiapakan untuk bersaing secara sehat dan supportif dalam era
MEA 2015.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. 2013. Developing Global Welfare : Improving The
Education of The Ummah. Purwokerto: International
Seminar.
Barizi, Ahmad. 2013. Pendidikan Integratif (Akar Tradisi dan Integrasi
Keilmuan Pendidikan Islam). Malang : UIN Maliki Press.
Latif, Abdul. 2009. Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan.
Bandung: PT Refika Aditama.
Mappalotteng, Abdul Muis. 2011. Paradigma Pendidikan
Berwawasan Global dan Tantangannya di Masa Depan. Jurnal
MEDTEK, Volume 3, Nomer 2.
Volume 02. November 2015 | 17
Pendidikan Global-religius di Madrasah:
Mewujudkan Generasi yang Berilmu Pengetahuan Global dan Berkarakter Islam
Montessori, Maria. 2013. The Absorbent Mind. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Syukur, Yanuardi. 2014. Anies Baswedan Mendidik Indonesia.
Yogyakarta: Giga Pustaka.
Detiknews.com. 2013. Diunduh pada tanggal 5 Mei 2015 pada
pukul 08.30 WIB.
Republika.com. 2013. Diunduh pada tanggal 5 Mei 2015 pada
pukul 08.46 WIB.
http://materi-paksyaf.blogspot.com/2013/05/pendidikan-globaldan-multikultural-30.html. Diunduh pada tanggal 5 Mei
2015 pada pukul 09.32 WIB.
https://bambumoeda.wordpress.com/2012/06/11/pengertianpendidikan-islam/ diunduh pada tanggal 5 Mei 2015 pada
pukul 10.15 WIB.
18 |
Fly UP