...

PENGARUH SOLAR DISTILLATION BERTINGKAT TERHADAP

by user

on
Category: Documents
71

views

Report

Comments

Transcript

PENGARUH SOLAR DISTILLATION BERTINGKAT TERHADAP
Nova Risdiyanto Ismail, Dadang Hermawan, (2012), PROTON, Vol. 4 No. 1/Hal. 33 – 38
PENGARUH SOLAR DISTILLATION BERTINGKAT TERHADAP PRODUKTIFITAS AIR
TAWAR DAN KUALITAS GARAM
Nova Risdiyanto Ismail1), Dadang Hermawan2)
ABSTRAK
Berbagai teknologi distilasi telah dikembangkan, namun teknologi distilasi dengan sumber energi matahari yang
menghasilkan air kondensat dan garam belum banyak mengalami kajian, sehingga diperlukan teknologi dan
penelitian lanjutan. Dalam rangka mengembangkan teknologi tersebut, maka dilakukan penelitian dengan tujuan
untuk mengetahui pengaruh solar distillation bertingkat terhadap produktifitas air tawar dan kualitas garam.
Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimen, yaitu membandingkan satu, dua, tiga dan empat tingkat
solar distillation. Penelitian dilakukan langsung dibawah sinar matahari.
Penelitian menghasilkan; produksi air kondensat (tawar) dan garam meningkat seiring dengan jumlah tingkat
solar distillation. Efisiensi solar still cenderung menurun seiring dengan jumlah tingkat solar distillation. Kualitas air
yang dihasilkan, mempunyai keasaman (pH) rata-rata 7 dan cenderung netral, sehingga layak untuk dimanfaatkan
manusia. Kandungan garam (Nacl) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan garam grasak hasil petani garam.
.
Kata kunci: solar still, pelat penyerap gelombang, reflektor.
PENDAHULUAN
Lempoy (2003), melakukan riset pilot proyek
basin tipe solar still dipesisir Kab. Probolinggo; dimana
masyarakat membutuhkan air bersih terutama didaerah
pesisir pantai dan kepulauan di daerah Kab.
Probolinggo. Daerah tersebut banyak memanfaatkan air
hujan dan air payau untuk dikonsumsi, sehingga
kualitas air rendah dan dapat membahayakan kesehatan.
Kondisi demikian diperlukan air tawar yang berkualitas
sesuai SNI.
Departemen perindustrian dan perdagangan
(2004), Garam merupakan makanan dengan
kandungannya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
manusia, sehingga kekurangan dan kualitas garam
rendah dapat menyebabkan berbagai penyakit. Di
beberapa daerah sentra penghasil garam mengalami
permasalahan terhadap kualitas garam dan waktu
produksi yang berlangsung hanya tiga sampai empat
bulan dalam setahun.
Letak geografi; Indonesia merupakan negara yang
terletak pada lintasan garis katulistiwa, kondisi
demikian
sangat
menguntungkan
dalam
hal
ketersediaan energi matahari. Di Indonesia terutama
didaerah pantai menerima energi matahari sepanjang
tahun, kondisi demikian sangatlah tepat untuk proses
distilasi air laut menjadi air tawar dan produksi garam
dengan memanfaatkan energi matahari yang
mempunyai keuntungan antara lain: jumlahnya cukup
besar, ketersediaanya kontinyu dan berada disemua
tempat.
Tujuan khusus penelitian ini adalah:
1. Meningkatkan produksi dan kualitas air tawar, dan
efisiensi solar distillation dengan solar distillation
bertingkat menggunakan principle of capillary film.
2. Meningkatkan produksi dan kualitas garam dengan
solar distillation bertingkat menggunakan principle
of capillary film.
Penelitian Terdahulu
Penelitian yang telah dilakukan peneliti, masingmasing mempunyai karakteristik dan tujuan yang
berbeda. Beberapa diantaranya digunakan sebagai dasar
untuk mendukung pelaksanaan penelitian ini.
Caddet (2001), pada ujicoba di universitas
Ryukyu Jepang meneliti menggunakan gabungan pada
basin still dengan multiple effect still dalam satu unit
kaca. Peralatan dengan nama aqua kids still dimana
total luasan adalah 4,5 m2 dapat menghasilkan air
bersih sebanyak 48 liter/hari (10 liter/m2.hari).
Elkader et al. (2001), mempelajari dampak
dari berbagai parameter, seperti ketebalan karet dan
grevel pada operasi dan keadaan yang sama. Percobaan
ini menunjukan bahwa, karet hitam dengan ketebalan
10 mm dapat meningkatkan produktifitas sebesar 20%
dengan volume air asin 60 liter/m2 dan kemiringan kaca
150. Dengan menggunakan gravel hitam dapat
ditingkatkan sebesar 19% dengan volume air asin 20
liter/m2 dan kemiringan 150.
Bouchekima et al. (2001) dalam penelitiannya
bertujuan untuk mengembangkan sistem distilasi
dengan cara membuat model simulasi dan eksperimen.
Pada model simulasi menghasilkan (1.3 kg.h 1.m2)
pada jam 11 am dan 12 am. Hasilnya sangat efisien,
konstruksi sederhana, peralatan ini dapat diterapkan
dan dapat memproduksi air bersih kurang dari 1 m3/d.
Srijanto dan Kamil (2003), penelitian
diarahkan untuk membuat garam rendah natrium
menggunakan bahan baku bittern dengan cara
mencampur butiran-butiran garam tersebut di dalam
alat pencampur dan diaduk hingga homogen. Hasilnya
Garam rendah natrium dapat diproduksi dengan bahan
baku bittern. Produk hasil proses yang melalui tahapan
pengendapan mempunyai kadar Na yang lebih tinggi
daripada produk hasil proses tanpa melalui tahapan
pengendapan. Hal ini dikarenakan pada proses yang
melalui tahapan pengendapan terjadi penambahan unsur
Na dari NaOH. Unsur Mg pada produk hasil proses
1) dan 2) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Widyagama Malang
33
Nova Risdiyanto Ismail, Dadang Hermawan, (2012), PROTON, Vol. 4 No. 1/Hal. 33 – 38
dengan pengendapan relatif lebih kecil jika
dibandingkan dengan unsur Mg pada produk hasil
proses tanpa pengendapan. Unsur K pada produk hasil
proses tanpa melalui pengendapan mempunyai
kandungan yang lebih tinggi daripada komposisi di
produk yang melalui tahapan pengendapan.
Monintja (2004), melakukan usaha-usaha
untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas solar
still dengan memberikan variasi pada pelat penyerap
yang menghasilkan produktivitas air kondensat dan
efisiensi menggunakan pelat penyerap dari coran beton
lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan pelat
penyerap dari tembaga, variasi kaca penutup yang
menghasilkan air kondensat dan efisiensi kaca penutup
dua sisi dengan orientasi timur-barat menghasilkan
lebih banyak dibandingkan dengan kaca penutup satu
sisi dengan orientasi utara, dan penambahan batu kerikil
dengan diameter 1 cm menghasilkan air kondensat
lebih banyak dibandingkan tanpa batu kerikil. Sudut
kaca penutup 170 terhadap bidang horizontal.
Ismail (Juli 2006), dalam penelitiannya
bertujuan untuk meningkatkan produksi air kondensat
pada sistim solar still dengan memanfaatkan panas
konduksi dan penambahan hingga tiga ruang heat
recovery. Produksi air kondensat yang diperoleh solar
still dengan memanfaatkan panas konduksi dan
penambahan tiga ruang heat recovery hasilnya lebih
meningkat.
Ismail (September 2006), penelitian diarahkan
untuk menguji dinding kondensasi jenis kuningan, jenis
kaca dan pengujian jarak dinding kondensasi pada
penambahan satu ruang heat recovery. Hasilnya
dinding kondensasi jenis kaca dan jarak dinding
kondensasi 30 cm menghasilkan produksi air kondensat
yang lebih tinggi dibandingkan jenis kuningan dan
penggunaan jarak dinding kondensasi 10 cm dan 20 cm.
Dalam saran yang diberikan; air kondensat yang
diperoleh dari proses distilasi perlu dilakukan penelitian
lebih lanjut tentang komposisi kimia air kondensat yang
dihasilkan dan perlu dilakukan penelitian tentang
endapan air garam yang dalam beberapa hari sudah
menjadi kristal garam.
Wijaya A., Ovidhin V.A. dan Arrawi A.,
(PIMNAS 2007), penelitiannya bertujuan untuk
mengetahui pengaruh sudut dan media pendingin
dengan principle of capillary film terhadap produktifitas
dan efisiensi solar still. Hasil yang diperoleh
menggunakan sudut pelat penyerap 150 memperoleh
produksi air kondensat tertinggi sebesar 5.4
liter/hari/m2 dan efisiensi solar still sebesar 27.9 %
dibandingkan dengan sudut 300, 450 dan 600. Pada
pengujian pendingin air pada kaca penutup
menggunakan media pendingin air mempunyai
produksi dan efisiensi solar still lebih tinggi sebesar
5.60 liter/hari/m2 dan efisiensi solar still sebesar 51.1 %
dibandingkan tanpa pendingin.
Nurhidayati L (2007), Nilai komersial garam
ditentukan oleh kemurnian natrium klorida. Tujuan
penelitian ini adalah mendapatkan natrium klorida yang
murni dengan mengurangi kadar pencemarnya melalui
rekristalisasi bertingkat. Setelah garam dapur curah
direkristalisasi empat kali diperoleh natrium klorida
yang memenuhi persyaratan sebagai bahan baku
farmasetis.
Tetuko dkk (2009), meneliti heat transfer pada
sistem desalinasi tenaga surya dengan pelat penyerap
berbasis tembaga. Telah dilakukan pehitungan
perpindahan panas (heat transfer) pada sistem
desalinasi air laut menggunakan tenaga surya. Dari
hasil perhitungan panas untuk aplikasi Dari hasil
perhitungan panas untuk aplikasi desalinasi air laut
berbasis tenaga surya, didapatkan: heat flux radiasi
surya = 884.80 W/m2, kerugian panas radiasi =1.91
W/m2, heat flux konveksi = 162.19 W/m2, heat flux
konduksi = 68.40 W/m2, nilai heat flux evaporasi dan
kondensasi = 300.93 W/m2
La Aba
(2008), meneliti karakteristik
permukaan absorber radiasi matahari pada solar still
dan aplikasinya sebagai alat destilasi air laut menjadi
air tawar. penelitian menghasilkan pelat absorber
gelombang dan tebal paling efektif untuk meningkatkan
kinerja solar still.
Astawa, K (2008), Pengaruh Penggunaan Pipa
Kondensat sebagai Heat Recovery pada Basin Type
Solar Still terhadap efisiensi Pengaruh. Hasil yang
diperoleh dengan penambahan pipa kondensat sebesar
26.8 % dan terjadi peningkatan efisiensi sebesar 46.1
%.
Suyatno A., dan Ismail N. R., (2007), Pengaruh
jarak dan jumlah ruang penyerap terhadap produktifitas
dan efisiensi harian solar still. Penelitian menghasilkan
dengan jumlah ruang penyerap tiga buah dan dengan
penambahan pendingin air diperoleh produktifitas
sebesar 5.58 liter dan efisiensi solar still menjadi 78.71
%.
Fitriana R. (2000), Lokasi pembuatan garam
yang ideal adalah memenuhi persyaratan antara lain
lokasi landai, kedap air, air laut dapat naik ke lahan
tambak garam (dengan atau tanpa bantuan alat),
konsentrai air baku minimum 2,5 derajat Be. Lokasi
juga bersih dari sumber air tawar, dengan curah hujan
sedikit dan banyak sinar matahari untuk optimalnya
penguapan air laut.
Efisiensi Solar Still
Efisiensi solar still dapat di definisikan sebagai
perbandingan antara perpindahan panas pada alat
distilasi dengan evaporasi kondensasi terhadap
besarnya radiasi matahari, dinyatakan dengan
persamaan berikut:
ηi =
qe
G
…(Duffie 1980:645)
Untuk efisiensi harian yang dihasilkan oleh solar
still, sebagai berikut:
.
ηi =
m
p
h
GAt
fg
(Duffie 1980:646)
34
Nova Risdiyanto Ismail, Dadang Hermawan, (2012), PROTON, Vol. 4 No. 1/Hal. 33 – 38
5.
dengan:
.
mp
hfg
G
A
Qe
T
=
Laju aliran masa produk destilasi persatuan
=
=
=
=
=
luas (kg/m2s)
Panas laten penguapan (J/kg)
Radiasi matahari ( W/m2)
Luasan dari basin (m2)
Panas yang dibutuhkan untuk evaporasi (J)
Interval waktu pengambilan data (s)
METODE PENELITIAN
Pengukuran Peubah
Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Variabel bebasnya adalah: satu tingkat, dua tingkat,
tiga
tingkat
dan
empat
tingkat
solar
still/distillation.
2. Variabel terikatnya adalah: Temperatur kaca
penutup (Tg), Temperatur air dalam basin (Tab),
Temperatur lingkungan (Ta), Radiasi total matahari
6.
Air tawar dan garam yang diperoleh, kemudian
dilakukan uji kualitas dan dibuat tabulasi
tersendiri.
Prosedur pengambilan data dua tingkat, tiga
tingkat, dan empat tingkat menggunakan prosedur
yang sama dengan pengujian satu tingkat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hubungan Jumlah Tingkat Solar Distillation
terhadap Produksi Air Kondensat (Tawar).
Selama pengujian diperoleh data dan
kemudian dibuat grafik sebagai berikut:
•
(Gt), Produksi air tawar ( m p ), Produksi garam
•
( m g ) dan Kualitas air tawar dan garam
Gambar 1. Hubungan jumlah tingkat solar distillation
terhadap prod. air kondensat
Model Peralatan
Air
laut
Kain
Tin
Kaca
Penutup
Air laut
Reservoar
Kondensasi
Tg1
Tg2
Saluran air
kondensat
Kaca
Penutup
Capilary film
TB1a
Evaporasi
15 cm
0
17
5 cm
Utara
10 cm
170
Saluran air
kondensat
TB2
Ta
Air laut
Kaca
Penutup
Air laut
Basin
100 cm
Isolator
Kondensasi
Tg3
Kaca
Penutup
Capilary film
Evaporasi
Saluran
air
kondens
at
Tg4
Pintu
15 cm
TB3
100 cm
Pelat
Penyerap
0
17
5 cm
0
17
10 cm
TB4
Saluran air kondensat
Basin
100 cm
Penggaraman
Isolator
Pyranometer
ADC
Data
logge
r
Komputer
PP
I
Berdasarkan gambar 1. diatas, dapat dilihat
trend produksi air kondensat pada satu tingkat
menghasilkan produksi air kondensat paling sedikit dan
cenderung naik produksi air kondensat seiring dengan
jumlah tingkat solar distillation yang di gunakan.
Kondisi demikian disebabkan oleh luasan pelat
penyerap meningkat sesuai dengan jumlah tingkat solar
distillation yang digunakan, selain itu luasan kaca
penutup yang berfungsi sebagai media atau tempat
kondensasi juga bertambah, sehingga dengan
peningkatan luasan pelat penyerap dan kaca penutup
dapat meningkatkan produktifitas air kondensat.
Powe
r
Gambar 1 Set Up Peralatan
Prosedur pengujian
Prosedur pengambilan data satu tingkat
Adapun prosedur pengambilan data penelitian
sebagai berikut :
1. Pengambilan data dimulai pukul 07.00 WIB
hingga 17.00 WIB.
2. Pengambilan data temperatur dan radiasi total
matahari dilakukan secara bersamaan dengan
durasi pengambilan data setiap 5 menit.
3. Pengambilan data volume air tawar yang
ditampung pada bak penampung dilakukan
pengukuran pada sore hari dan pagi hari pada hari
berikutnya.
4. Pengambilan data garam dilakukan sore hari pada
hari berikutnya.
2. Hubungan Jumlah Tingkat Solar Distillation
terhadap Efisiensi Solar Distillation.
Selama pengujian diperoleh data dan kemudian
dilakukan perhitungan menggunakan persamaan yang
telah tersedia pada studi pustaka, dan hasilnya dapat
dibuat grafik sebagai berikut:
Gambar 2.. Hubungan jumlah tingkat solar distillation
terhadap efisiensi solar still
35
Nova Risdiyanto Ismail, Dadang Hermawan, (2012), PROTON, Vol. 4 No. 1/Hal. 33 – 38
Berdasarkan gambar 2. diatas, dapat dilihat trend
efisiensi solar still menurun, yaitu pada satu tingkat
menghasilkan efisiensi solar still rata-rata paling tinggi
dan cenderung turun seiring dengan jumlah tingkat
solar distillation yang di gunakan. Kondisi demikian
disebabkan oleh air laut yang ditampung pada bak
penampung mengalir kurang merata pada peralatan dua
tingkat dan empat tingkat, sehingga produksinya kurang
maksimal pada kedua tingkat tersebut. Selain itu
temperatur air diatas basin tinggi menjadi lebih tinggi,
sehingga nilai enthalpy penguapanya rendah.
3. Hubungan Jumlah Tingkat Solar Distillation
terhadap PH Air
Selama pengujian diperoleh data dan hasilnya
dibuat grafik sebagai berikut:
Keterangan:
1
= satu tingkat
5
= Air mineral (Club)
2
= dua tingkat
6
= Air PDAM
3
= tiga tingkat
7
= Air Laut
4
= empat tingkat
Gambar 3.. Hubungan jumlah tingkat solar distillation
terhadap efisiensi solar still
Berdasarkan gambar 3. diatas, dapat dilihat PH
terendah dimiliki oleh air mineral (Club) dan PH air
tertinggi terjadi pada air PDAM dan air laut. Pengujian
PH dimaksudkan untuk melihat nilai keasaman dari air
kondensat yang dihasilkan. Besaran pH berkisar dari 0
(sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis).
Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang
masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan
lingkungan yang basa (alkalin). Sedangkan pH = 7
disebut sebagai pH netral. Dari hasil pengujian
menggunakan solar distillation menghasilkan air
kondensat dengan nilai pH pada daerah netral, dan
menurut SNI pH air yang layak di minum mempunyai
pH diantara 6.5 sampai dengan 8.5, sehingga air
kondensat
hasil
pengujian
layak
digunakan/dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia.
4. Hubungan Jumlah Tingkat Solar Distillation
terhadap Produksi Garam
Selama pengujian diperoleh data dan hasilnya
dibuat grafik sebagai berikut:
Gambar 4. Hubungan jumlah tingkat solar distillation
terhadap produksi garam
Berdasarkan gambar 4. diatas, dapat dilihat
produksi garam meningkat seiring dengan peningkatan
jumlah tingkat solar distillation. Produksi garam juga
ditinjau dari jumlah air laut yang dimasukkan atau
diproses menjadi air kondensat dan garam. Produksi
garam tidak terjadi pada semua tingkat, namun hanya
terjadi pada satu tingkat dan tiga tingkat. Sedangkan
pada dua tingkat dan empat tingkat tidak digunakan
untuk produksi garam, melainkan untuk meningkatkan
produksi air kondensat dan mempercepat proses
penggaraman. Dengan demikian terdapat korelasi
antara jumlah air laut sebagai bahan baku dengan
produknya yaitu air kondensat dan garam, sehingga
semakin besar jumlah air laut dan semakin luas tempat
produksi dan luasan produksi garam akan
meningkatkan jumlah garam yang dihasilkan.
5. Hubungan Jumlah Tingkat Solar Distillation
terhadap Kualitas/Kandungan Garam
Selama pengujian diperoleh data dan hasilnya
dibuat grafik sebagai berikut:
Keterangan:
1
= satu tingkat
3
= tiga tingkat
5
= Garam Grasak
2
= dua tingkat
4
= empat tingkat
6
= Air Laut
Gambar 5. Hubungan jumlah tingkat solar distillation
terhadap kandungan garam (Nacl)
36
Nova Risdiyanto Ismail, Dadang Hermawan, (2012), PROTON, Vol. 4 No. 1/Hal. 33 – 38
Berdasarkan gambar 5.6 diatas, dapat dilihat
bahwa kandungan Nacl dalam garam hasil produksi
solar distillation bertingkat relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan dengan garam grasak. Dan dari
hasil penelitian garam yang dihasilkan dalam penelitian
terlihat lebih putih dibandingkan dengan garam grasak.
5.2. Pembahasan
Dari data dan analisa grafik dapat dilakukan
pembahasan sebagai berikut:
1. Produksi air kondensat semakin meningkat seiring
dengan peningkatan jumlah tingkat solar
distillation. Kondisi demikian disebabkan oleh
luasan pelat penyerap meningkat sesuai dengan
jumlah tingkat solar distillation yang digunakan,
selain itu luasan kaca penutup yang berfungsi
sebagai media atau tempat kondensasi juga
bertambah, sehingga dengan peningkatan luasan
pelat penyerap
dan kaca penutup dapat
meningkatkan produktifitas air kondensat.
Peningkatan jumlah ini tidak merata, kondisi ini
disebabkan oleh air laut tidak mengalir secara
kontinyu pada dua tingkat dan empat tingkat. Air
kondensat yang telah dihasilkan masih pada area
dapat di konsumsi oleh manusia, jika di lihat dari
tingkat keasaman (pH).
2. Efisiensi solar still sangat bergantung pada radiasi
matahari, jumlah produksi air kondensat, enthalpy
penguapan, luasan pelat penyerap dan luasan kaca
penutup. Selain factor diatas, peralatan juga
mempunyai peranan yang penting dalam
menghasilkan produksi air kondensat dan efisiensi
solar still. Dalam persamaan efisiensi, luasan
berfungsi sebagai pembagi, sehingga semakin luas
pelat penyerap efisiensi solar still akan menurun
tentunya jika tidak diringi oleh kenaikan nilai
enthalpy dan jumlah produksi air kondensat. Pada
pengujian ini jumlah tingkat solar distillation akan
mempengaruhi luasan pelat penyerap, dimana
semakin tingi jumlah tingkat akan menurunkan
efisensi solar still, walaupun produktifitas air
kondensat meningkat.
Pada peralatan yang
digunakan terdapat kekurangan yaitu ketika air
pada tendon habis, maka pada peralatan dua
tingkat dan empat tingkat tidak ada aliran air
diatas pelat penyerap, sehingga produksi air
kondesat tidak optimal. Dengan demikian
penurunan efisiensi solar still karena jumlah
luasan pelat penyerap tidak dikuti oleh produksi
yang air kondensat.
3. Produksi garam meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah tingkat solar distillation.
Produksi garam juga ditinjau dari jumlah air laut
yang dimasukkan atau diproses menjadi air
kondensat dan garam. Produksi garam tidak terjadi
pada semua tingkat, namun hanya terjadi pada
satu tingkat dan tiga tingkat. Sedangkan pada dua
tingkat dan empat tingkat tidak digunakan untuk
produksi garam, melainkan untuk meningkatkan
4.
produksi air kondensat dan mempercepat proses
penggaraman. Dengan demikian terdapat korelasi
antara jumlah air laut sebagai bahan baku dengan
produknya yaitu air kondensat dan garam,
sehingga semakin besar jumlah air laut dan
semakin luas tempat produksi dan luasan produksi
garam akan meningkatkan jumlah garam yang
dihasilkan.
Kandungan Nacl dalam garam hasil produksi
solar distillation bertingkat relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan dengan garam grasak. Dan
dari hasil penelitian garam yang dihasilkan dalam
penelitian terlihat lebih putih dibandingkan
dengan garam grasak.
Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Produksi air kondensat (tawar) dan garam
meningkat seiring dengan jumlah tingkat solar
distillation.
2. Efisiensi solar still cenderung menurun seiring
dengan jumlah tingkat solar distillation.
3. Kualitas air yang dihasilkan, mempunyai
keasaman (pH) rata-rata 7 dan cenderung netral,
sehingga layak untuk dimanfaatkan manusia.
4. Kandungan garam (Nacl) relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan garam grasak hasil petani
garam.
DAFTAR PUSTAKA
Abd Elkader M., et.al., (April 2001), Solar productivity
enhancement, International Journal Of
Renewable Energy Enggeneering, Vol. 3, No. 1
Bouchekima B., et. al. (2001). “Brackish water
desalination with heat recovery”. Algeria.
Desalination vol 138. 147–155.
www.elsevier.com./locate/desal.
Caddet, (2001), ”A simple, low cost solar desalination
still”. Http://www.cadet.co.uk/html/contjapa.htm
Catur W. T. (2002). “ Perencanaan thermal dan uji
laboratorium terhadap solar still untuk
distilasi air”. Skripsi. Malang: Jurusan Teknik
Mesin FT Unibraw Malang.
Dini Purbani (2006), Proses pembentukan kristalisasi
garam, Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Nonhayati, Badan Riset Kelautan
dan Perikanan, Departemen Kelautan dan
Perikanan. http://www.oocities.org
Duffie J.A. dan Beckman W.A. (1980). Solar
Engineering Of Thermal Processes. New York
: John Willey & Sons.
Fitriana, R. (April 2000), Memperbaiki kualitas
garam produksi lokal. Bisnis Indonesia. 11.
37
Nova Risdiyanto Ismail, Dadang Hermawan, (2012), PROTON, Vol. 4 No. 1/Hal. 33 – 38
Ismail N. R. (Juli 2006), Pemanfaatan panas
konduksi untuk meningkatkan produktifitas
dan efisiensi solar still, PDM DIKTI
menjadi Air Tawar.
journal.lib.unair.ac.id/index.php/sgm
Ismail N. R. (September 2006), Studi eksperimen
pengaruh jenis dan jarak dinding kondensasi
terhadap efisiensi dan produktifitas solar still,
Thesis. Malang: Program Pascasarjana Jurusan
Teknik Mesin Unibraw Malang.
Jackson R. D and Van Bavel C. H. M., (1965 ). “Solar
distillation of water from soil and plant
material, a simple desert survival technique”,
science, 149,1377-1379.
Kreider. F. Jan and Kreith F. “Solar heating and
cooling active and passive desing”. New York :
McGraw-Hill.
Lermpoy K.A. (2003), “Pilot proyek basin tipe solar
still dipesisir Probolinggo”, Tesis. Malang.
Program Pascasarjana Teknik Mesin Univ.
Brawijaya Malang.
Monintja N. C. (2004). “Usaha-usaha untuk
meningkatkan efisiensi dan produktifitas
solar still”. Thesis. Malang: Program
Pascasarjana Jurusan Teknik Mesin Unibraw
Malang.
Subarkah Rahmad, (2001), “Penelitian absorber solar
still untuk distilasi air laut”, Skripsi, Malang:
Jurusan Teknik Mesin FT Unibarw Malang
Solar Water Purification Project (2000) “Solar water
distillation-still” http://www.epsea.org/still.html
Nurhidayati L (2007), Tujuan penelitian ini adalah
mendapatkan natrium klorida yang murni
dengan mengurangi kadar pencemarnya melalui
rekristalisasi bertingkat.
www.chem.ui.ac.id/seminarsnk2007/Abstrak/30_160507_Liliek
T.etuko A.P, Khaerudini D.S., Muljadi dan Sebayang
P., (2009), Heat Transfer pada Sistem Desalinasi
Tenaga Surya dengan Pelat Penyerap berbasis
Tembaga, http://fisika.brawijaya.ac.id/bssub/proceeding
Astawa, K (2008), Pengaruh Penggunaan Pipa
Kondensat sebagai Heat Recovery pada Basin
Type Solar Still terhadap efisiensi, Jurnal Ilmiah
Teknik Mesin CAKRAM, Vol. 2, No.1, 34-41.
La Aba (2008), Karakteristik Permukaan Absorber
Radiasi Matahari pada Solar Still dan
Aplikasinya Sebagai Alat Destilasi Air Laut
38
Fly UP